Docstoc

Mewaspadai Gerakan Wahabi Salafi

Document Sample
Mewaspadai Gerakan Wahabi Salafi Powered By Docstoc
					Mewaspadai Gerakan Wahabi Salafi
Oleh A. Fatih Syuhud
Website: www.fatihsyuhud.com

         Dalam sebuah tulisan di harian Republika edisi 3 Oktober 2011, KH. Agil Siradj
menulis sebuah artikel menarik berjudul Radikalisme, Hukum dan Dakwah. Dalam
tulisan tersebut ketua PBNU ini mengingatkan bahaya laten dari gerakan Islam radikal di
Indonesia. Ciri khas gerakan Islam ekstrim, masih menurut Agil Siradj, adalah “orang
Islam yang berpikiran sempit, kaku dalam memahami Islam, serta bersifat eksklusif.” 1
Muslim radikal muncul sejak awal Islam. Yakni, sejak era para Sahabat. Saat itu,
kelompok radikal dikenal dengan sebutan kaum khawarij.
         Adalah khalifah ke-3 Utsman bin Affan sendiri yang menjadi korban pertama
keganasan gerakan ekstrim ini. Beliau terbunuh pada tahun ke-35 hijriah. Peristiwa ini
kemudian terulang pada masa Khalifah Ali ibn Abi Thalib yang juga terbunuh oleh
kalangan ekstrem dari umat Islam. Komunitas ekstrem tersebut, sungguh pun pada
mulanya bernuansa politik, tetapi perkembangan selanjutnya dirajut dalam sebuah
ideologi yang dikenal dengan faham Khawarij.2 Nama gerakan yang bernama Khawarij
saat ini sudah tidak ada. Akan tetapi gerakan Islam yang mirip dengan gerakan Khawarij
saat ini tidak saja eksis, tapi juga sedang giat-giatnya mengampanyekan ideologinya
melalui berbagai sarana yang tersedia. Sudah bukan rahasia lagi, bahwa Khawarij abad
ke-21 ini menjelma dalam gerakan yang dikenal dengan Wahabi Salafi.

Sejarah Wahabi dan Faktor Suksesnya Penyebaran Paham Wahabi

        Gerakan Wahabi didirikan pada abad ke-18 oleh Muhammad bin Abdul Wahhab
(1703-1792) dari Najd, Arab Saudi. Ibnu Abdul Wahhab mengampanyekan usaha
memberantas praktik-praktik yang dilakukan umat Islam yang dianggapnya bid’ah.
Gerakan Wahabi atau Salafi berpusat di Arab Saudi. Dan didanai oleh pemerintah Arab
Saudi. Gerakan Wahabi berkembang ke luar Arab Saudi karena dibawa oleh para sarjana
lulusan sejumlah perguruan tinggi di Arab Saudi atau universitas di luar Arab Saudi yang
mendapat bantuan finansial dan/atau tenaga pengajari dari Arab Saudi seperti LIPIA
(Lembaga Ilmu Pendidikan Islam dan Bahasa Arab) yang merupakan cabang dari
Universitas Muhammad Ibnu Su'ud yang berada di Riyadh Arab Saud.
        Seluruh biaya operasional peguruan tinggi negeri di Arab Saudi dan di luar Arab
Saudi yang berafiliasi ke universitas negara petrodolar ini disubsidi 100% oleh negara.
Dan 100% mahasiswanya mendapatkan beasiswa. Oleh karena itu, tidak hersn kalau
banyak pemuda Indonesia yang bermimpi untuk dapat kuliah di salah satu perguruan
tinggi di Arab Saudi. Selain gratis, mendapat beasiswa penuh juga mendapat tiket pulang
gratis setiap tahun. Kalau tidak dapat kuliah di Arab Saudi, minimal dapat belajar di
LIPIA Jakarta yang juga memberikan beasiswa penuh. Bahkan tidak jarang ada
mahasiswa UIN Syahid yang juga kuliah di LIPIA hanya untuk mendapatkan beasiswa.
        Arab Saudi rela mendanai ribuan mahasiswa lokal dan internasional secara cuma-
cuma tentunya dengan tujuan khusus: dalam rangka menyebarkan misi Wahabi Salafi ke
seluruh dunia. Umumnya, sarjana lulusan universitas Arab Saudi sudah terkena “cuci

1
    Agil Siradj, “Radikalisme, Hukum dan Dakwah”, Republika, 3 Oktober 2011
2
    Ibid,.
otak”. Indikasi paling mudah adalah kecaman mereka terhadap tahlil, peringatan maulid
Nabi, ziarah qubur, dan semacamnya.
        Bantuan finansial tidak hanya sampai di sini. Ketika para sarjana itu pulang ke
negara masing-masing, mereka masih akan tetap dapat kucuran dana dari kerajaan
melalui berbagai lembaga atau organisasi binaan negara, seperti Rabithah Alam Islamy,
WAMY (World Association of Muslim Youth), dan lain-lain. Bantuan finansial diberikan
khususnya pada para alumnus atau non-alumni perguruan tinggi kerajaan Arab Saudi
yang mendirikan lembaga pendidikan seperti sekolah atau pesantren dan membangun
masjid.
        Tentu, tidak ada salahnya menerima bantuan dari manapun. Apalagi kalau dari
sesama muslim. Namun, yang menjadi kekhawatiran banyak kalangan adalah adanya
pemaksaan—baik langsung atau tidak langsung—terhadap lembaga yang mendapat
bantuan untuk ikut menyebarkan paham Wahabi. Ada beberapa kasus di mana kyai-kyai
non-Wahabi yang ingin mendapat bantuan dari kerajaan Arab Saudi terpaksa tidak
melaksanakan kebiasaan rutin ala pesantren seperti tahlil, atau qunut shalat Subuh saat
ada peninjauan dari utusan Arab Saudi yang hendak memberi bantuan.
        Gencarnya aliran dana bantuan finansial untuk lembaga-lembaga pendidikan dan
masjid itu menjadi faktor utama mengapa gerakan paham Wahabi Salafi berkembang
cukup pesat di Indonesia. Dan itu juga menjadi kunci jawaban mengapa kalangan aktivis
Wahabi Salafi begitu bersemangat untuk menyebarkan ideologi Salafi-nya ke mana-
mana.

Mengapa Takut Wahabi Salafi?

        Saat ada suatu gerakan Islam seperti Wahabi Salafi yang penuh semangat dan
mendapat bantuan finansial tak terbatas berkembang pesat, mengapa umat Islam harus
resah? Tidakkah itu patut disyukuri? Jawaban singkatnya adalah radikalisme Wahabi
Salafi sangat mengancam tidak saja NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), tapi
juga kerukunan hidup antar-umat Islam dan kerukunan hidup antar-umat beragama.3
        Dalam perspektif keamanan, apabila gerakan Salafi menjadi dominan
dikhawatirkan terorisme akan semakin merajalela. Umat Islam yang masih ingin melihat
Indonesia aman dan tentram tentu tidak ingin melihat negara ini seperti Pakistan yang
pembunuhan antar golongan agama terjadi hampir setiap hari. 4
        Ideologi takfîr (pengkafiran), tasyrîk (pemusyrikan), tabdî` (pembid`ahan) dan
tasykîk (upaya menanamkan keraguan) terhadap para ulama dan muslim dari kalangan
yang tidak sepaham merupakan langkah pertama ketidakharmonisan umat. Anggapan
golongan Wahabi Salafi bahwa golongan Islam lain sebagai bid’ah dan kufr akan
berujung pada penghalalan darah (untuk dibunuh). Tak heran, sejak berdirinya gerakan
ini, tangan mereka banyak bersimbah darah saudaranya sesama muslim.5 Tentu mudah



3
  Natana J. Delong-Bas, Wahhabi Islam: from revival and reform to global jihad, 2007
4
  Khaled Ahmed, Sectarian War: Pakistan's Sunni-Shia Violence and its links to the Middle East, Oxford
University Press, USA, 2011
5
  Charles Allen, God's Terrorists: The Wahhabi Cult and the Hidden Roots of Modern Jihad, Da Capo
Press 2007.
ditebak, apa yang akan terjadi pada penganut agama lain apabila kelompok ini sampai
mendominasi Indonesia kelak.6
       Oleh karena itu, kalangan umat Islam ahlussunnah wal jamaah pecinta damai
hendaknya mewaspadai gerak gerik kelompok ini. Jangan biarkan mereka menguasai
masjid-masjid. Jangan biarkan mempercayakan anak-anak kita untuk dididik di lembaga
pendidikan yang mereka bina. Jangan korbankan masa depan putra-putri kita pada
ideologi yang tidak mengenal kebenaran kecuali dalam dirinya sendiri. Jangan tergoda
mendapat beasiswa gratis dengan resiko cuci otak.[]




6
    John Thayer Sidel, Riots, Pogroms, Jihad: Religious Violence in Indonesia, Cornell Univerity, 2006

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:76
posted:5/13/2012
language:English
pages:3
Description: Mewaspadai Gerakan Wahabi Salafi yang ada di Indonesia