Docstoc

Hakekat Psikologi Islam

Document Sample
Hakekat Psikologi Islam Powered By Docstoc
					Hakekat Psikologi Islam

Oleh: Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta

( http://www.psikologiums.net/modules.php?name=News&file=article&sid=31 )

Sejak pertengahan abad XIX, yang didakwahkan sebagai abad kelahiran psikologi kontemporer di dunia
Barat, terdapat banyak pengertian mengenai “psikologi” yang ditawarkan oleh para psikolog. Masing-masing
pengertian memiliki keunikan, seiring dengan kecenderungan, asumsi dan aliran yang dianut oleh
penciptanya. Meskipun demikian, perumusan pengertian psikologi dapat disederhanakan dalam tiga
pengertian. Pertama, Psikologi adalah studi tentang jiwa (psyche), seperti studi yang dilakukan Plato (427-
347 SM.) dan Aristoteles (384-322 SM.) tentang kesadaran dan proses mental yang berkaitan dengan jiwa.
Kedua, Psikologi adalah ilmu pengetahuan tentang kehidupan mental, seperti pikiran, perhatian, persepsi,
intelegensi, kemauan, dan ingatan. Definisi ini dipelopori oleh Wilhelm Wundt. Ketiga, Psikologi adalah ilmu
pengetahuan tentang perilaku organisme, seperti perilaku kucing terhadap tikus, perilaku manusia terhadap
sesamanya, dan sebagainya. Definisi yang terakhir ini dipelopori oleh John Watson.[1]

Pengertian pertama lebih bernuansa filosofis, sebab penekanannya pada konsep jiwa. Psikolog di sini
berperan untuk merumuskan hakekat jiwa yang proses penggaliannya didasarkan atas pendekatan
spekulatif. Kelebihan pengertian pertama ini dapat mencerminkan hakekat psikologi yang sesungguhnya,
sebab ia dapat mengungkap hakekat jiwa yang menjadi objek utama kajian psikologi. Kelemahannya adalah
bahwa pengertian ini belum mampu membedakan antara disiplin filsafat yang bersifat spekulatif dengan
psikologi yang bersifat empiris. Psikologi seakan-akan masih menjadi bagian dari disiplin filsafat, yang salah
satu kajiannya membahas hakekat jiwa.

Pengertian kedua mencoba memisahkan antara disiplin filsafat dengan psikologi, sehingga fokus kajiannya
pada kehidupan mental, seperti pikiran, perhatian, persepsi, intelegensi, kemauan, dan ingatan. Namun
pemisahan ini belum sempurna, sehingga antara disiplin filsafat dengan psikologi masih berbaur. Pengertian
psikologi yang lazim dipakai dalam wacana Psikologi Kontemporer adalah pengertian ketiga, karena dalam
pengertian ketiga ini mencerminkan psikologi sebagai disiplin ilmu yang mandiri yang terpisah dari disiplin
filsafat. Pada pengertian ketiga ini, fokus kajian psikologi tidak lagi hakekat jiwa, melainkaan gejala-gejala
jiwa yang diketahui melalui penelaahan perilaku organisme. Manusia merupakan mahluk hidup yang
memiliki jiwa, namun secara empirik hakekat jiwa tersebut tidak dapat diketahui, sehingga psikologi hanya
membahas mengenai proses, fungsi-fungsi, dan kondisi kejiwaan. Bagi psikolog tertentu, khususnya dari
kalangan Psiko-behavioristik, tidak begitu tertarik dengan membicarakan hakekat jiwa. Mereka bahkan tidak
memperdulikan perbedaan jiwa manusia dengan jiwa binatang. Yang terpenting bagi mereka adalah
bagaimana memberi rangsangan atau stimulus pada jiwa tersebut agar ia mampu meresponsnya dalam
bentuk perilaku.

Pengertian psikologi yang dimaksud dalam buku ini lebih cenderung pada pengertian pertama. Ada
beberapa alasan mengapa pengertian pertama yang dipilih: Pertama, Psikologi Islam sebagai disiplin ilmu
yang mandiri baru memasuki proses awal. Pendekatan yang digunakan lebih mengarah pada pendekatan
spekulatif, yang membicarakan hakekat mental dan kehidupannya. Sumber data yang digunakan berasal
dari proses deduktif, yang digali dari nash (al-Qur`an dan al-Sunnah) dan hasil pemikiran para filosof atau
sufi abad klasik, dan belum memasuki wilayah empiris-eksperimental; Kedua, Psikologi Kontemporer Barat
dalam perkembangannya mengalami distorsi yang fundamental. Psikologi seharusnya membicarakan
tentang konsep jiwa, namun justru ia mengabaikan bahkan tidak tahu-menahu tentang hakekat jiwa,
sehingga ia mempelajari “ilmu jiwa tanpa konsep jiwa.”[2] Ketiga, karena alasan ke dua di atas, psikologi
kontemporer mempelajari manusia yang tidak berjiwa. Atau, menyamakan gejala kejiwaan manusia dengan
gejala kejiwaan hewan, sehingga temuan-temuan dari perilaku hewan digunakan untuk memahami perilaku
manusia. Atas dasar ketiga alasan di atas, penulis lebih cenderung menggunakan pengertian pertama.
Pemilihan ini tidak berarti menafikan keberadaan pengertian psikologi yang lain, tetapi penulis berharap
agar ada perimbangan atau bandingan dalam memilih model pengembangan disiplin psikologi. Untuk
beberapa tahun mendatang, barangkali Psikologi Islam dapat mengembangkan pengertian yang ketiga,
setelah kerangka konseptualnya telah mapan dan diakui secara objektif dalam perbendaharaan Psikologi
Kontemporer.

Psikologi secara etimologi memiliki arti “ilmu tentang jiwa”. Dalam Islam, istilah “jiwa” dapat disamakan
istilah al-nafs, namun ada pula yang menyamakan dengan istilah al-ruh, meskipun istilah al-nafs lebih
populer penggunaannya daripada istilah al-nafs. Psikologi dapat diterjamahkan ke dalam bahasa Arab
menjadi ilmu al-nafs atau ilmu al-ruh. Penggunaan masing-masing kedua istilah ini memiliki asumsi yang
berbeda.

Istilah ‘Ilm al-Nafs banyak dipakai dalam literatur Psikologi Islam. Bahkan Sukanto Mulyomartono lebih
khusus menyebutnya dengan “Nafsiologi.”[3] Penggunaan istilah ini disebabakan objek kajian psikologi
Islam adalah al-nafs, yaitu aspek psikopisik pada diri manusia. Term al-nafs tidak dapat disamakan dengan
term soul atau psyche dalam psikologi kontemporer Barat, sebab al-nafs merupakan gabungan antara
substansi jasmani dan substansi ruhani, sedangkan soul atau psyche hanya berkaitan dengan aspek psikis
manusia. Menurut kelompok ini, penggunaan term al-nafs dalam tataran ilmiah tidak bertentangan dengan
doktrin ajaran Islam, sebab tidak ada satupun nash yang melarang untuk membahasnya. Tentunya hal itu
berbeda dengan penggunaan istilah al-ruh yang secara jelas dilarang mempertanyakannya (perhatikan Q.S.
al-Isra` ayat 85).

Penggunaan istilah ‘Ilm al-Ruh ditemukan dalam karya ‘psikolog’ Zuardin Azzaino. Istilah itu kemudian
dijadikan dasar untuk membangun ‘Psikologi Ilahiah’,[4] yaitu psikologi yang dibangun dari kerangka
konseptual al-ruh yang berasal dari Tuhan. Boleh jadi Azzaino tidak mengikuti perkembangan literatur
Psikologi Islam, sebab literatur yang digunakan dalam bukunya tidak satupun yang bersumber dari ’Ilm al-
Nafs fi al-Islam (Psikologi Islam). Tetapi yang menarik dari tawaran Azzaino tersebut adalah bahwa ruh
yang menjadi objek kajian psikologi Islam memiliki ciri unik, yang tidak akan ditemukan dalam Psikologi
Kontemporer Barat. Objek kajian Psikologi Islam adalah ruh yang memiliki dimensi ilahiah (teosentris),
sedangkan objek kajian Psikologi Kontemporer Barat berdimensi insaniah (antroposentris). Karena
perbedaan yang mendasar inilah maka Azzaino terpaksa menggunakan term khusus untuk menentukan ciri
unik Psikologi Islam.

Menanggapi kedua polemik ini, penulis lebih cenderung menggunakan istilah ‘Ilm al-Nafs. Selain istilah itu
lebih populer dan masuk dalam perbendaharaan literatur psikologi, secara ideologis pembahasan objek al-
nafs tidak bertentangan dengan nash. Hanya saja yang patut dipertimbangkan adalah kritikan Malik B. Badri
bahwa Psikologi Islam kini nyaris masuk dalam liang Biawak, yang sulit keluar darinya. Kritikan itu
nampaknya dapat ‘ditangkap’ dengan cermat oleh Azzaino, sehingga ia mencoba mencari alternatif
peristilahan baru. Dengan demikian, kebolehan menggunakan istilah ‘Ilm al-Nafs dengan catatan tidak
menyalahi kerangka filosofis Psikologi Islam.

Hakekat psikologi Islam dapat dirumuskan sebagai berikut: “kajian Islam yang berhubungan dengan aspek-
aspek dan perilaku kejiwaan manusia, agar secara sadar ia dapat membentuk kualitas diri yang lebih
sempurna dan mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.”

Hakekat definisi tersebut mengandung tiga unsur pokok; Pertama, bahwa psikologi Islam merupakan salah
satu dari kajian masalah-masalah keislaman. Ia memiliki kedudukan yang sama dengan disiplin ilmu
keislaman yang lain, seperti Ekonomi Islam, Sosiologi Islam, Politik Islam, Kebudayaan Islam, dan
sebagaianya. Penempatan kata “Islam” di sini memiliki arti corak, cara pandang, pola pikir, paradigma, atau
aliran. Artinya, psikologi yang dibangun bercorak atau memilili pola pikir sebagaimana yang berlaku pada
tradisi keilmuan dalam Islam, sehingga dapat membentuk aliran tersendiri yang unik dan berbeda dengan
psikologi kontemporer pada umumnya.[5] Tentunya hal itu tidak terlepas dari kerangka ontologi (hakekat
jiwa), epistimologi (bagaimana cara mempelajari jiwa), dan aksiologi (tujuan mempelajari jiwa) dalam Islam.
Melalui kerangka ini maka akan tercipta beberapa bagian psikologi dalam Islam, seperti Psikopatologi Islam,
Psikoterapi Islam, Psikologi Agama Islam, Psikologi Perkembangan Islam, Psikologi Sosial Islam, dan
sebagainya.

Kedua, bahwa Psikologi Islam membicarakan aspek-aspek dan perilaku kejiwaan manusia. Aspek-aspek
kejiwaan dalam Islam berupa al-ruh, al-nafs, al-kalb, al-`aql, al-dhamir, al-lubb, al-fu’ad, al-sirr, al-fithrah,
dan sebagainya.[6] Masing-masing aspek tersebut memiliki eksistensi, dinamisme, proses, fungsi, dan
perilaku yang perlu dikaji melalui al-Qur’an, al-Sunnah, serta dari khazanah pemikiran Islam. Psikologi Islam
tidak hanya menekankan perilaku kejiwaan, melainkan juga apa hakekat jiwa sesungguhnya. Sebagai satu
organisasi permanen, jiwa manusia bersifat potensial yang aktualisasinya dalam bentuk perilaku sangat
tergantung pada daya upaya (ikhtiyar)-nya. Dari sini nampak bahwa psikologi Islam mengakui adanya
kesadaran dan kebebasan manusia untuk berkreasi, berpikir, berkehendak, dan bersikap secara sadar,
walaupun dalam kebebasan tersebut tetap dalam koredor sunnah-sunnah Allah Swt.

Ketiga, bahwa Psikologi Islam bukan netral etik, melainkan sarat akan nilai etik. Dikatakan demikian sebab
Psikologi Islam memiliki tujuan yang hakiki, yaitu merangsang kesadaran diri agar mampu membentuk
kualitas diri yang lebih sempurna untuk mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Manusia
dilahirkan dalam kondisi tidak mengetahui apa-apa, lalu ia tumbuh dan berkembang untuk mencapai
kualitas hidup. Psikologi Islam merupakan salah satu disiplin yang membantu seseorang untuk memahami
ekspresi diri, aktualisasi diri, realisasi diri, konsep diri, citra diri, harga diri, kesadaran diri, kontrol diri, dan
evaluasi diri, baik untuk diri sendiri atau diri orang lain. Jika dalam pemahaman diri tersebut ditemukan
adanya penyimpangan perilaku maka Psikologi Islam berusaha menawarkan berbagai konsep yang
bernuasa ilahiyah, agar dapat mengarahkan kualitas hidup yang lebih baik, yang pada gilirannya dapat
menikmati kebahagiaan hidup di segala zaman. Walhasil, mempelajari psikologi Islam dapat berimplikasi
membahagiakan diri sendiri dan orang lain, bukan menambah masalah baru seperti hidup dalam
keterasiangan, kegersangan, dan kegelisahan.

Psikologi Islam sudah sepatutnya menjadi wacana sains yang objektif, bahkan boleh dikatakan telah
mencapai derajat supra ilmiah. Anggapan bahwa Psikologi Islam masih bertaraf pseudo-ilmiah adalah tidak
benar, sebab Psikologi Islam telah melampaui batas-batas ilmiah. Objektifitas suatu ilmu hanyalah
persoalan kesepakatan, yang kreterianya bukan hanya kuantitatif melainkan juga kualitatif. Psikologi
Kontemporer telah mendapatkan kesepakatan dari kalangannya sendiri. Demikian juga Psikologi Islam telah
mendapatkan kesepakatan dari kalangan kaum muslimin. Jika orang lain berani mengedepankan pemikiran
psikologi melalui pola pikirnya sendiri, serta mengklaim keabsahan dan objektifitasnya, lalu mengapa kita
tidak berani melakukan hal yang sama, yaitu mengedepankan pemikiran Psikologi Islam berdasarkan pola
pikir Islam.

Hall dan Lindzey menyatakan bahwa tokoh besar seperti Freud, Jung dan McDougall tidak hanya berijazah
dalam ilmu kedokteran, tetapi juga berpraktek sebagai ahli psikoterapi. Hal ini menunjukkan bahwa
pengembangan psikologi bersumber dari profesi dan lingkungan praktek kedokteran dan bukan berasal dari
penelitian akademik. Banyak di antara metode dan teknik yang dikembangkan justru menyalahi dan
memberontak terhadap masalah-masalah normatif yang sudah mapan di lingkungan akademik. Problem
seperti ini bukan menjadikan psikologi kepribadan dilupakan, tetapi malah memiliki implikasi penting dalam
pengembangan diskursus-diskursus lain.[7] Kondisi ini menunjukkan bahwa Psikologi Kontemporer Barat
pada mulanya tidak mengikuti aturan-aturan ilmiah yang berlaku di dunia akademik, tetapi setelah teori-teori
mereka teruji secara empirik dan bermanfaat bagi kehidupan umat manusia, maka pemikiran mereka diakui
sebagai disiplin yang objektif.

Para pemerhati, analis dan peneliti disiplin psikologi akhir-kahir ini telah membukan jendela untuk
‘mengintip’ wacana yang berkembang di dalam khazanah Islam.[8] Mereka sadar bahwa Psikologi Barat
Kontemporer baru berusia dua abad, padahal upaya-upaya pengungkapan fenomena kejiwaan dalam Islam
telah lama berkembang. Mereka mengetahui kedalaman materinya, lalu mereka masuk ke dalamnya dan
mencoba mempopulerkannya. Hall dan Lindzey telah menulis satu bab khusus untuk ‘Psikologi Timur’.
Menurutnya, salah satu sumber yang sangat kaya dari psikologi yang dirumuskan dengan baik adalah
agama-agama Timur. Dalam dunia Islam, para sufi (pengamal ajaran tasawwuf) telah bertindak sebagai
para psikolog terapan.[9] Tasawwuf merupakan dimensi esoteris (batiniah) dalam Islam, yang
membicarakan struktur jiwa, dinamika proses dan perkembangannya, penyakit jiwa dan terapinya, proses
penempaan diri di dunia spiritual (suluk), proses penyucian jiwa (tazkiyah al-nafs) dan cara-cara menjaga
kesehatan mental, dan sebagainya. Aspek-aspek ini dalam sains modern masuk ke dalam wilayah
psikologi.
[1]Frank. J. Bruno, Kamus Istilah Kunci Psikologi, terj. Cecilia G. Samekto, judul asli, "Dictionary of Key in
Psychology",(Yogyakarta: Kanisius, 1989), h. 236-237

[2]Misalnya yang terjadi pada aliran Behaviorisme John Dollard, Neal E. Miller, B.F. Skinner dari Psiko-
operan yang tidak begitu tertarik dengan persoalan struktur kejiwaan manusia yang menetap dan relatif
stabil. Mereka lebih berminat mempelajari kebiasaan-kebiasaan yang dapat mengakibatkan respons-
respons tertentu yang pada gilirannya membangkitkan stimulus-stimulus yang memiliki sifat pendorong.
Atau berminat pada tingkah laku yang dapat diubah. Lihat!, Calvin Hall dan Gardner Lindzey, Teori-Teori
Sifat dan Psikobehavioristik, diterjmahkan oleh Yustinus, judul asli; “Theories of Personality”, (Yogyakarta:
Kanisius, 1993), hh. 320-221,326

[3]Lihat! “Nafsiologi; Suatu Pendekatan Alternatif atas Psikologi” (1986) karya Sukanto Mulyomartono,
kemudian disempurnakan bersama A. Dardiri Hasyim dengan judul “Nafsiologi; Sebuah Kajian Analitik”
(1995); (2) “Nahw 'Ilm al-Nafs al-Islâmiy” (1979) karya Hasan Muhammad al-Syarqawiy; (3) “‘Ilm al-Nafs al-
Ma’âshir fi Dhaw'i al-Islâm” (1983) karya Muhammad Mahmud Mahmud; (4) “’Ilm al-Nafs al-Islamiy” (1989)
karya Ma’ruf Zarif; dan (5) “al-Qur’an wa ‘Ilm al-Nafs” (1982) karya Muhammad Usman Najati.

[4]Asas-asas Psikologi Ilahiah; Sistema Mekanisme Hubungan antara Roh dan Jasad (1990)” karya H.S.
Zuardin Azzaino.

[5]Maksud keunikan di sini terutama menyangkut masalah-masalah yang mendasar (kerangka filosofis) dan
bukan masalah-masalah teknis-operasional. Psikologi Islam tidak akan mentolerir masalah-masalah yang
fundamenatal, sebab jika hal itu diabaikan maka mengakibatkan pengkaburan antara hakekat Psikologi
Islam dengan Psikologi Kontemporer Barat. Sedangkan masalah-masalah teknik-operasional, Islam tidak
banyak menyinggungnya, sehingga tidak ada salahnya jika mengadopsi dari yang lain. Misalnya dalam
pembagian struktur manusia, Islam tidak menerima teori Sigmund Freud yang membagi struktur jiwa
manusia dengan id, ego, dan super ego. Pembagian ini menafikan alam supra sadar, sehingga
kepercayaan akan Tuhan atau agama dinyatakan sebagai delusi atau ilusi. Islam mempercayai adanya
struktur al-ruh yang berdimensi ilahiyah dan bersentuhan dengan alam supra sadar, sehingga orang yang
beragama merupakan bentuk tertinggi dari aktualisasi diri kepribadian manusia. Demikian juga masalah
mimpi. Freud dan para psikolog lainnya menyatakan bahwa mimpi hanyalah produk psikis, sedangkan
dalam Islam, mimpi boleh jadi berasal dari produk psikis, dan boleh jadi dari dunia eksternal seperti dari
Tuhan dan syetan. Jika seseorang tidak percaya adanya mimpi dari dunia eksternal berarti ia tidak
mempercayai sebagian wahyu, sebab sebagian wahyu ada yang diterima oleh Nabi melalui mimpi. Namun
jika persoalan mimpi berkaitan dengan teknik analisis untuk keperluan terapi, maka tidak ada salahnya jika
hal itu diadopsi dari teori Freud atau psikolog yang lain.

[6]Penjelasan masing-masing term tersebut dapat dilihat dalam pembahasan struktur dan dinamikanya.

[7]Calvin S. Hall dan Gardner Lindzey, Teori-Teori Psikodinamik (Klinis), terj. Yustinus, judul asli, "Theories
of Personality", (Yogyakarta: Kanisius, 1993), hh. 20-21

[8]Di antaranya: (1) Shafii, Freedom from the Self: Sufism, Meditation, and Psychotherapy, (1985); (2)
Hoesen Nasr (ed.), Islamic Spirituality: Foundation, (1989); dan (3) Ronald Alan Nicholson, Fi al-Tashawwuf
al-Islami wa Tarihihi, terj. Abu al-‘ala al-Afifi (1969).

[9]Calvin S. Hall dan Gardner Lindzey, Teori-Teori Holistik (Organismik-Fenomenologis), terj. Yustinus, judul
asli, “Theories of Personality”, (Yogyakarta: Kanisius, 1993), h. 222

Posted in Psikologi printer friendly version | 3937 reads
Submitted by webmaster on May 5, 2006 - 17:51.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:37
posted:5/11/2012
language:Indonesian
pages:4