Daging Anjing Tidak Haram_ Benarkah by puttterbin

VIEWS: 4 PAGES: 4

									Daging Anjing Tidak Haram, Benarkah?

Jumat, 27 Jan 06 18:21 WIB


Pak Ustadz, saya mendengar dari temen saya yang mengaji di salah satu kelompok pengajian

yang mengatakan, menurut kelompok tersebut daging anjing halal untuk dimakan. Alasan

yang dikemukakan adalah yang diharamkan menurut Al-Quran hanyalah daging babi, darah

dan sembelihan yang tidak atas nama Allah. Kemudian saya menyanggahnya dengan

mengatakan di hadis shahih daging tersebut haram. Namun temen saya berbalik bertanya ke

saya, mana yang lebih kuat Al-Quran apa Hadis? Kalau ada hadis yang tidak sesuai dengan Al-

Quran maka harus merujuk ke Al-Quran. Demikian juga daging lainnya seperti katak dan
binatang buas juga halal.




Saya jadi bingung, mohon dijelaskan karena kelompok tersebut di tempat saya cukup besar
baik secara organisasi maupun keanggotaan.


Amara Tifani amara


Jawaban

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,


Sebelum menjawab pertanyaan anda, perlu ditegaskan bahwa ada dua hal yang terkait

hewan. Pertama, masalah kenajisannya. Kedua, masalah kehalalannya untuk dimakan.

Penjelasannya, bahwa semua hewan yang ditetapkan kenajisannya, maka otomatis haram
dimakan. Sebab semua barang najis itu memang tidak boleh dimakan. Bahkan jangankan

dimakan, disentuhpun membatalkan wudhu. Namun tidak semua yang disebutkan haram
dimakan itu pasti najis. Racun itu haram dimakan, tetapi racun tidak najis.


Bahwa ada pendapat yang tidak menajiskan anjing, kita akui memang ada. Di antaranya
adalah kalangan mazhab Malik yang dipelopori oleh pendirinya, al-Imam Malik rahimahullah.


Kemungkinan kelompok yang anda sebutkan itu mengacu -secara disadari atau tidak- kepada

apa yang disimpulkan oleh mazhab Malik sejak 1.400-an tahun yang lalu. Pendapat itu bukan
ijtihad kemarin sore.
Khusus dalam masalah kenajisan dan kehalalan hewan, mazhab ini boleh dibilang paling

eksentrik. Sebab selain tidak menajiskan anjing, mereka pun tidak menajiskan babi. Tentu

saja mereka punya segudang dalil dari Al-Quran dan As-sunnah yang rasanya sulit kita
nafikan begitu saja. Meski kita tetap berhak untuk tidak sepakat.


Maksudnya, pendapat itu bukan mengada-ada atau asal-asalan. Tetapi lahir dari hasil ijtihad

panjang para ulama sekaliber Imam Malik. Asal tahu saja, Imam Malik itu adalah guru Imam

As-Syafi'i. Beliau adalah imam ulama Madinah, kota yang dahulu Rasulullah SAW pernah
tinggal beserta dengan para shahabatnya.


Akan tetapi memang demikian dunia ilmu fiqih, meski pernah belajar kepada Imam Malik,

namun Imam Asy-Syafi'i tidak merasa harus mengekor kepada semua pendapat gurunya itu.

Dan kapasitas beliau sendiri memang sangat layak untuk berijtihad secara mutlak,

sebagaimana sang guru. Dan hal itu diakui sendiri oleh sang guru, bahkan sang guru justru

sangat bangga punya anak didik yang bisa menjadi mujtahid mutlak serta mendirikan mazhab
sendiri. Di mana tidak semua pendapat gurunya itu ditelan mentah-mentah.


Mazhab As-Syafi'i sendiri justru 180 derajat berbeda pandangan dalam masalah anjing dan

babi. Buat mereka, anjing dan juga babi adalah hewan yang haram dimakan, sekaligus najis

berat (mughalladhzah). Yang najis bukan hanya moncongnya saja (su'ru) sebagaimana bunyi
teks hadits, melainkan semua bagian tubuhnya. Dalilnya adalah hadits berikut ini:


Dari Abi Hurairah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Bila seekor anjing minum dari wadah
milik kalian, maka cucilah 7 kali." (HR Bukhari 172, Muslim 279, 90).


(‫هللا ر سول أن هري رة أب ي عن‬   ‫هللا ص لى‬   ‫م ت فق .} س ب عا ف ل ي غ س له أحدك م إن اء ف ي ال ك لب شرب إذا { :ق ال و س لم ع ل يه‬
‫.) } ب ال تراب أوالهن مرات س بع ي غ س له أن ال ك لب ف يه ول غ إذا أحدك م إن اء طهور { :وم س لم وألح مد ,ع ل يه‬


Dari Abi Hurairah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sucinya wadah kalian yang dimasuki

mulut anjing adalah dengan mencucinya 7 kali salah satunya dengan tanah." (HR Muslim 279,
91, Ahmad 2/427)


Dalam pandangan mazhab ini, meski hadits Rasulullah SAW hanya menyebutkan najisnya
wadah air bila diminum anjing, namun kesimpulannya menjadi panjang.


Logika mereka demikian, kalau hadits menyebutkan bahwa wadah menjadi najis lantaran
anjing meminum airnya, berarti karena air itu tercampur dengan air liur anjing. Maka buat
mereka, najis dihasilkan oleh air liurnya. Jadi air liur anjing itu najis. Sementara air liur itu

sendiri dihasilkan dari dalam perut anjing. Berarti isi perut anjing itu juga najis. Dan secara

nalar, apapun yang keluar dari dalam perut atau tubuh anjing itu najis. Seperti air kencing,
kotoran bahkan termasuk keringatnya.


Nalar seperti ini kalau dipikir-pikir benar juga. Sebab kalau air yang tadinya suci lalu diminum

anjing bisa menjadi najis karena terkena air liur anjing, tidak logis kalau justru sumber
najisnya (tubuh anjing) malah dikatakan tidak najis. Betul, kan?


Jadi meski hadits itu tidak mengatakan bahwa tubuh anjing itu najis, tetapi logika dan nalar
mengantarkan kita kepada kesimpulan bahwa tubuh anjing itu seharusnya sumber kenajisan.


Adapun sanggahan teman anda bahwa hadits ini bertentangan dengan ayat Al-Quran,

sebenarnya tidak demikian keadaannya. Hadits tentang najisnya anjing tidak bertentangan

dengan satu pun ayat di dalam Al-Quran. Sebab tidak satupun ayat Al-Quran yang

menyebutkan bahwa anjing itu tidak najis. Silahkan telusuri dari surat Al-Fatihah hingga surat
An-Naas, tidak akan anda temukan satu pun ayat yang bunyinya bahwa anjing itu tidak najis.


Jadi hadits dan ayat Quran tidak bertentangan, sehingga tidak perlu meninggalkan hadits

najisnya anjing. Bahkan Imam Malik sendiri pun tidak pernah menafikan hadits tentang
najisnya air yang diminum anjing itu.


Hanya bedanya antara pendapat beliau dengan pendapat As-Syafi'yah adalah bahwa yang

najis itu adalah air yang diminum anjing. Adapun anjingnya sendiiri tidak najis, sebab hadits

itu secara zahir tidak mengatakan bahwa anjing itu najis. Dan memang hadits itu sama sekali

tidak menyebut bahwa anjing itu najis, yang secara tegas disebut najis adalah wadah air yang
diminum anjing.


Logika Imam Malik inilah yang dikritisi oleh Asy-syafiiyah, yaitu mana mungkin airnya jadi
najis kalau sumbernya tidak najis. Itu saja.


Kesimpulan


Akan tetapi baik pendapat yang menajiskan atau yang tidak, keduanya lahir dari sebuah

proses ijtihad para begawan syariah kelas dunia. Kita boleh memilih mana yang menurut kita

lebih masuk akal atau yang lebih membuat kita tenteram. Tanpa harus menyalahkan atau
mencaci maki saudara kita yang kebetulan tidak sama pilihannya dengan pilihan kita.
Biarlah perbedaan pendapat ini menghiasi khazanah syariah Islam. Siapa tahu di balik

perbedaan pendapat ini Allah SWT memang berkenan memberikan hikmah yang tidak kita

duga sebelumnya. Sangat picik bila perbedaan pendapat ini malah disikapi dengan cara

kekanak-kanakan, seperti saling menyakiti, saling cela, saling hina, saling tuduh. Sungguh

dahulu   kedua   imam   besar   itu   bermesraan   dan   saling   menghormati,   bahkan   saling

menyanjung. Lalu mengapa kita yang tidak ada seujung kuku mereka, malah merasa diri
paling benar sendiri sambil menuding orang lain salah semua?


Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,


Ahmad Sarwat, Lc.

								
To top