Docstoc

Ringkasan mikrofinance

Document Sample
Ringkasan mikrofinance Powered By Docstoc
					   Ringkasan Bab 3 : Produk Dan Jasa

   Produk dan jasa merupakan pilihan yang ditawarkan oleh bank kepada nasabahnya. Disini kita
   akan melihat produk dan jasa yang mungkin ditawarkan oleh LKM,dengan memperhitungkan
   analisis penawaran dan permintaan. Berhubung sifat pelanggan LKM merupakan wanita dan pria
   miskin tanpa asset yang dapat diraih,yang sering kali tinggal di daerah terpencil dan besar
   kemungkinan buta huruf,LKM tidak dapat beroperasi sesuai dengan lembaga keuangan formal
   lainnya. Ini berarti bahwa pria dan wanita berpendapatan rendah menghadapi rintangan yang
   cukup hebat unuk mengakses perbankan,dikarenakan banyaknya keterbatasan yang mereka
   punya. Lembaga keuangan formal lainnya kurang memperhatikan atau bahkan tidak
   memperhatikan masyarakat miskin yang tinggal di daerah terpencil. Ini menyebabkan
   masyarakat miskin tidak mempunyai kesempatan untuk merasakan produk dan jasa yang di
   tawarkan oleh bank–bank formal. Disinilah peran LKM untuk dapat membantu masyarakat
   miskin yang berpendapatan rendah tersebut. LKM menyediakan jasa pengembangan usaha
   seperti pelatihan keterampilan dan pelatihan dasar bisnis (pembukuan,pemasaran dan produksi)
   atau layanan sosial seperti pemeliharaan kesehatan,pendidikan,dan pelatihan buta huruf. Semua
   jasa/layanan ini dapat meningkatkan kemampuan pria dan wanita berpendapatan rendah untuk
   dapat menjalankan usaha mikro baik langsung ataupun tidak langsung.

   Kerangka Kerja Sistem

   Penyediaan jasa LKM bagi para masyarakat miskin merupakan proses yang rumit yang
   membutuhkan berbagai jenis keterampilan dan fungsi yang berbeda. Didalam kerangka kerja
   sistem ada 4 kategori jasa yang dapat disediakan untuk para pelanggan LKM yaitu: intermediasi
   financial atau penyediaan produk dan jasa keuangan seperti tabungan dll,intermediasi sosial atau
   proses pengembangan modal manusia dan sosial yang dibutuhkan oleh intermediasi
   financial,jasa pengembangan usaha atau jasa non keuangan yang membantu pengusaha
   mikro,dan yang terakhir adalah layanan sosial atau jasa bukan keuangan yang memusatkan
   perhatian pada kesejahteraan pengusaha mikro.

   Intermediasi Finansial

   Intermediasi financial meliputi pemindahan modal atau likuiditas dari mereka yang kelebihan
   pada satu waktu tertentu kepada mereka yang kekurangan pada waktu yang sama. Berikut ini
   penjelasan singkat berbagai produk yang ditawarkan LKM untuk para pelanggannya.

Kredit

           Kredit adalah dana yang dipinjamkan oleh lembaga keuangan dengan menyertakan
   agunan serta persyaratan pembayaran kembali secara khusus. Pada umumnya metode pemberian
   kredit dapat dibagi dalam 2 kategori,yaitu: pemberian kredit individu dan pemberian kredit
   berdasarkan kelompok.

   Pemberian kredit individu merupakan penggabungan antara pemberian kredit formal sebagai
   lembaga keuangan tradisional,dengan pemberian kredit non formal seperti yang dilakukan para
   rentenir. Sedangkan pemberian kredit berdasarkan kelompok meliputi pembentukan kelompok
   orang yang mempunyai keinginan bersama untuk mengakses jasa keuangan. Keuntungan dari
   pemberian kredit kelompok adalah biaya transaksi kelembagaan tertentu bisa dikurangi. Dengan
   demikian pembentukan kelompok merupakan komponen yang sangat penting dari keberhasilan
   pemberian kredit kelompok.

Tabungan

          Tabungan merupakan simpanan pihak ketiga (masyarakat) yang penarikannya dapat
   dilakukan setiap saat dengan menggunakan slip penarikan maupun ATM. Tabungan terbagi 2:

- Tabungan Wajib,yaitu dana yang harus di setorkan oleh peminjam sebagai syarat untuk
    memperoleh pinjaman.

- Tabungan Sukarela,yaitu dana yang tidak wajib di setorkan untuk memperoleh pinjaman dari
    lembaga keuangan.

Asuransi

           Asuransi merupakan produk yang kemungkinan besar akan ditawarkkan dengan lebih
   luas oleh LKM di kemudian hari,karena ada permintaan yang sedang tumbuh diantara para
   pelanggan mereka untuk asuransi kesehatan atau kredit dalam hal kematian atau kehilangan
   harta. Untuk dapat bergabung dengan asuransi,kita wajib menyetorkan sejumlah uang sesuai
   permintaan untuk pilihan asuransi yang akan kita pilih.

Kartu Kredit dan Kartu Pintar

           Kartu kredit memungkinkan peminjam untuk mengakses kredit jika dan bilamana mereka
   membutuhkannya. Kartu kredit digunakan pada saat melakukan pembelian . Dibidang keuangan
   mikro,penggunaan kartu kredit masih sangat baru. Kartu ini hanya dapat digunakan kalau
   infrastruktur sektor keuangan formal sudah cukup memadai.

   Sedangkan kartu pintar,ia serupa dengan kartu kredit tetapi tidak dapat digunakan di setiap gerai
   pengecer. Kartu pintar berisikan memory chip yang memuat informasi mengenai fasilitas kredit
   pada lembaga pemberi pinjaman yang tersedia bagi pelanggan.

Jasa Pembayaran

          Jasa pembayaran meliputi hak istimewa penguangan cek dan pembukuan cek bagi
   nasabah yang menempatkan simpanan. Disamping hak istimewa penguangan cek dan
   pembukuan cek,jasa pembayaran meliputi pemindahan dan pengiriman dana dari satu wilayah ke
   wilayah yang lain.

   Intermediasi Sosial

   Intermediasi sosial mempersiapkan kelompok yang terpinggirkan atau individu untuk masuk ke
   dalam hubungan bisnis yang kokoh dengan LKM. Dengan demikian intermediasi sosial
dipahami sebagai proses pembangunan modal manusia dan sosial yang di butuhkan untuk
intermediasi financial berkelanjutan dengan masyarakat miskin. LKM yang menyediakan jasa
intermediasi sosial sering kali melakukannya melalui kelompok,namun sebagian juga
bekerjasama dengan perseorangan.

Jasa Pengembangan Usaha

LKM yang menempuh pendekatan utuh seringkali menyediakan jasa pengembangan usaha.
Kalau jasa ini tidak ditawarkan langsung oleh LKM,mungkin ada lembaga lainnya yang
menyediakan jasa pengembangan usaha di dalam kerangka kerja system dimana para pelanggan
LKM memiliki akses.

Perbedaan jasa langsung dan tidak langsung yaitu: Jasa langsung adalah yang membawa
pelanggan untuk dapat berhubungan dengan penyedia,sedangkan jasa tidak langsung adalah yang
bermanfaat bagi pelanggan tanpa hubungan langsung seperti itu. Tujuan dari jasa pengembangan
usaha adalah untuk meningkatkan kinerja bisnis yang ada,yang sebaliknya meningkatkan kondisi
keuangan pemilik atau penyelenggara.

Layanan Sosial

Sebagaimana halnya dengan jasa pengembangan usaha,penyelenggaraan layanan sosial harus
dibedakan sejelas mungkin dengan penyelenggaraan dan pengelolaan jasa pengembangan usaha.
Ini tidak berarti bahwa layanan sosial tidak dapat disediakan selama pertemuan kelompok,namun
mereka harus ditentukan secara jelas sebagai terpisah dari layanan kredit dan tabungan. Layanan
sosial ini meliputi layanan kesehatan,pendidikan yang di selenggarakan oleh LKM.

Lampiran 1. Beberapa Pendekatan Keuangan Mikro

Beberapa pendekatan mikro yang paling terkenal yaitu:

   - Pemberian Kredit Individu

       Pemberian kredit individu diartikan sebagai penyediaan kredit kepada perseorangan yang
       bukan anggota kelompok yang sama-sama bertanggung jawab untuk pembayaran
       kembali kredit. Pemberian kredit ini dapat berjalan apabila pihak LKM memiliki
       hubungan yang erat dengan masyarakat,sehingga mengetahui apa yang sedang mereka
       butuhkan sekarang.

   - Pemberian Kredit Kelompok Solidaritas Grameen

       Model kredit ini dilakukan untuk melayani wanita pedesaan yang tidak memiliki tanah
       yang ingin membiayai kegiatan yang menghasilkan pendapatan. Disini pihak LKM akan
       memberikan pinjaman untuk mewujudkan impian rakyat miski yang mempunyai
       keinginan yang besar untuk mensejahterakan kehidupannya.

   - Pemberian Kredit Kelompok Solidaritas Amerika Latin
       Model kredit ini memberikan pinjaman kredit ke perseorangan anggota kelompok dari 4
       sampai dengan 7 orang. Ini dilakukan sebagai pengganti agunan tradisional. Kredit ini
       umumnya diberikan kepada penjaja pasar sebagai modal kerja jangka pendek dalam
       jumlah yang sangat kecil.

   - Perbankan Desa

       Bank desa merupakan asosiasi kredit dan tabungan yang dikelola komunitas untuk
       menyediakan akses keuangan di pedesaan. Ini dilakukan untuk mengembangkan potensi
       yang dimiliki oleh banyak orang di pedesaan. disini LKM mempunyai peranan yang
       sangat penting untuk mengsukseskan perbankan desa.

   - Bank Desa Mandiri

       Sejumlah bank desa yang mandiri didirikan dan dikelola oleh masyarakat desa. Bank
       desa mandiri menyediakan semua kebutuhan desa secara menyeluruh,tidak hanya
       kelompok dari 30 sampai 50 orang. Pelanggan bank desa meliputi wanita dan pria yang
       berpendapatan rendah yang mempunyai keinginan untuk menabung.

Lampiran 2. Mencocokkan Jasa Pengembangan Usaha Dengan Permintaan

Menyusun jasa pengembangan usaha perlu pengembangan akan banyak system. ini dilakukan
untuk mengetahui apakah system yang dijalankan telah berada pada porsi yang tepat atau sitem
itu dapat mengganggu bisnis mereka. Konteks ini dapat digambarkan dalam bentuk lingkaran
konsentris,dimana penyelenggara bisnis berada di tengah-tengah.

Lingkaran 1. Penyelenggara Bisnis

Ini merupakan pihak yang menentukan jalannya suatu bisnis,karena pihak inilah yang
mempunyai wewenang untuk menyukseskan bisnis yang di jalankan dengan keperluan usahanya
sendiri.

Lingkaran 2. Bisnis Itu Sendiri

Disinilah segala sesuatu dilakukan untuk menjalankan usaha yang telah di rencanakan. Disini
penyedia jasa harus memahami betul produk dan jasa apa saja yang dibutuhkan oleh masyarakat
jika bisnis itu mempunyai harapan untuk berkembang.

Lingkaran 3. Sub Sektor

Maksud dari sub sector disini adalah uraian dari semua bisnis yang terkait dengan produk akhir
dan meliputi jasa keuangan dan bukan keuangan. Ini meliputi susunan lengkap dari pembuatan
suatu produk dan jasa hingga penjualan produk dan jasa tersebut.

Lingkaran 4. Di Luar Lokasi Pasar Setempat
Ini merupakan urutan terakhir dalam lingkaran konsentris. Disini memang terdapat kendala yang
sangat besar terhadap usaha yang di jalankan.Ini dikarenakan lingkaran konsentris di sekeliling
pengusaha mikro perseorangan adalah yang paling luas dan yang paling jauh jaraknya dari
sebuah usaha yang di jalankan.

                           MENYUSUN PRODUK KREDIT




POLA KAS, JANGKA WAKTU KREDIT, DAN FREKWENSI PEMBAYARAN




Pola Kas Pelanggan dan Jumlah Kredit

Pola Kas adalah penting sepanjang mereka mempengaruhi pola kemampuan hutang para
peminjam. Para pemberi kredit harus memastikan bahwa para peminjam mempunyai cukup arus
kas masuk untuk menutup pembayaran kredit bilamana mereka jatuh tempo.

Ketepatan jumlah kredit tergantung pada maksud dari kredit dan kemampuan pelanggan untuk
membayar kembali kredit (yaitu kemampuan hutang)




Bagaimana Jangka Waktu Kredit Mempengaruhi Kemampuan Peminjam Untuk
Membayar Kembali?

Jangka waktu adalah periode waktu didalam mana seluruh kredit harus dibayar kembali. Jangka
waktu kredit mempengaruhi jandwal pembayaran kembali, pendapatan untuk LKM, biaya
pembiayaan untuk pelanggan, dan akhirnya ketepatan penggunaan kredit.
   Frekwensi Pembayaran Kredit

   Pembayaran kredit dapat dilakukan secara angsuran (mingguan, dua mingguan, bulanan) atau
   sekaligus pada akhir jangka waktu kredit, tergantung pola kas peminjam.




   Modal Kerja dan Kredit Aktiva Tetap

   Pada umunya ada dua jenis kredit yaitu: Kredit modal kerja dan Kredit aktiva tetap




   AGUNAN KREDIT

   LKM dalam mengurangi risiko berbagai cara inovativ telah dikembangkan , termasuk

1. Agunan pengganti

                Garansi kelompok


                Meminjamkan berdasarkan watak


                Frekwensi kunjungan kebisnis oleh pejabat kredit


                Risiko malu dimuka umum


                Risiko masuk penjara atau gugatan hukum

2. Agunan alterlkatif.
           Tabungan wajib


           Aktiva yang diagunkan kurang dari nilai kredit


           Jaminan pribadi.




PENETAPAN HARGA KREDIT

Ada dua metode yang paling umum digunakan yaitu; Metode saldo dan Metode flat




Bagaimana Provisi atau Biaya Pelayanan Mempengaruhi Peminjam dan LKM?

Provisi atau biaya pelayanan meningkatkan biaya finansila kredit untuk meminjam dan
pendapatan untuk LKM. Provisi seringkali dibebankan sebagi cara meningkatkan hasil untuk
pemberi kredit dari pada membebani suku bunga nominal yang lebih tinggi.




Kredit Subsidi Silang

Beberapa LKM memilih untuk memberikan subsidi kepada beberapa produk tertentu dengan
pendapatan yang dihasilkan oleh beberapa produk lainnya yang lebih menguntungkan.




MENGHITUNG SUKU BUNGA EFEKTIF
Memperkirakan Suku Bunga Efektif

Biaya Efektif= jumlah pembayaran dalam bunga dan provisi

Pokok rata-rata yang belum dilunaskan




Menghitung Suku Bunga Efektif dengan Tabungan Wajib atau Variabel Kredit Lainnya.

Untuk menetapkan suku bunga efektif dengan memperhitungakan seluruh biaya financial kredit,
termasuk nilai waktu dari uang, tabungan wajib dan konstribusi dana-dana lainnya, maka metode
internal rate of return digunakan.




Menghitung Suku Bunga Efektif dengan bermacam-macam Arus Kas.

Juga dimungkinkan menghitung suku bunga efektif dengan menggunakan metode Internal rate of
return dan memperhitungkan arus kas yang berubah-ubah sepanjang waktu kredit.




Bagaimana Biaya Efektif untuk Peminjam Berbeda dari Hasil Efektif untuk Pemberi
Kredit?

Hasil efektif untuk pemberi kredit berbeda dengan biaya efektif untuk peminjam karena ada dua
alasan yaitu:
1. Apabila ada beberapa komponen penetapan harga kredit, seperti tabungan wajib atau sumbangan
   dana, yang tidak disimpan oleh bank karena itu menghasilkan pendapatan untuk pembelian
   kredit .

2. Hasil yang diharapkan untuk pemberi kredit berbeda karena biaya untuk peminjam ditetapkan atas
   jumlah kredit awal, sedangkan hasil untuk pemberi kredit harus didasarkan pada portofolio yang
   belum di lunaskan rata-rata.




   Pusat Pengembangan Keuangan Mikro (PPKM)
   Kelompok Usaha Bersama (KUB) yang telah dibentuk sejak jaman IPP dan kemudian lebih
   sering disebut sebagai Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) melaksanakan kegiatan utama
   simpan pinjam.

   Mengapa kegiatan ini yang didorong? Hal ini dikarenakan dua hal, yaitu Bina Swadaya melihat
   uang adalah alat pendidikan yang efektif untuk masyarakat terutama yang miskin; Simpan
   pinjam adalah alternatif pembiayaan bagi orang miskin mengingat lembaga keuangan formal
   pada umumnya tidak bisa melayani mereka. Kegiatan simpan pinjam yang dilakukan kelompok
   dikembangkan sehingga menjadi usaha bersama yang umumnya berskala mikro. Pengalaman
   mendampingi usaha mikro ternyata memperlihatkan bahwa kebutuhan utama mereka adalah
   pelayanan keuangan. Ketika persoalan akses terhadap pelayanan keuangan dapat terselesaikan,
   berbagai jenis pelayanan lain menjadi kebutuhan, seperti bahan baku dan pemasaran. Untuk itu,
   sejak awal Bina Swadaya terus menerus mengembangkan berbagai metode pembiayaan alternatif
   bagi kelompok. Setidaknya terdapat tiga model pembiayaan yang pernah dicoba oleh Bina
   Swadaya, yaitu:

   * pembiayaan dari dan oleh orang miskin,

   * pembiayaan untuk orang miskin,

   * pembiayaan dengan orang miskin.

   Pembiayaan dari dan oleh orang miskin:
   pada dasarnya adalah pengembangan dari tradisi masyarakat seperti arisan dimana berbagai
   kelompok masyarakat didorong untuk mengembangkan sendiri lembaga keuangan. Bina
   Swadaya mendampingi dalam aspek manajemen dan bantuan teknis sehingga lembaga keuangan
   yang dimiliki masyarakat dan pelayanan oleh masyarakat sendiri dapat berkembang. Pada
   beberapa wilayah kelompok yang didampingi telah memiliki dana senilai ratusan juta rupiah dan
   bahkan dapat memberikan pelayanan keuangan diluar anggotanya.

   Pembiayaan untuk orang miskin:
   dilakukan oleh Bina Swadaya baik dalam bentuk bank maupun non bank. Dalam bentuk bank,
Bina Swadaya memanfaatkan Keputusan Presiden (Kepres) No. 38/Oktober 1998 yang
memungkinkan bagi sebuah yayasan untuk mendirikan bank. Bina Swadaya menerapkan
pelayanannya melalui Bank Perkreditan Rakyat (BPR) yang diharapkan dapat memberikan
pelayanan keuangan kepada orang miskin. Harapan tersebut ternyata salah. BPR yang
diwajibkan memenuhi aturan Bank Indonesia tidak dapat menjangkau orang miskin. Yang dapat
mereka jangkau adalah pengusaha kecil dan menengah. Dalam bentuk non bank, Bina Swadaya
mencoba mengembangkan lembaga keuangan mikro (LKM) untuk melayani kelompok. Hal ini
ternyata tidak mudah mengingat kegiatan "mengelola" keuangan dan "memberdayakan" LKM
memerlukan kompetensi yang berbeda. Saat ini Bina Swadaya sedang mencoba mengembangkan
pendekatan ini dengan mempelajari sistem ASA (Bangladesh).

Pembiayaan dengan orang miskin:
oleh Pusat Pengembangan Keuangan Mikro (PPKM) yang merupakan nama baru dari Lembaga
Pengembangan Usaha Mikro (LPUM) setelah sebelumnya mengganti LPUB. PPKM
membawahi wilayah Bina Swadaya yang disebut "gugus wilayah" yang tersebar di 25 lokasi di
seluruh Indonesia. Kegiatan Guswil tersebut adalah memberikan pelayanan keuangan mikro
melalui kelompok-kelompok swadaya masyarakat dan memberikan pendampingan bagi
pengembangan kelompok tersebut. Pelayanan keuangan ini dilaksanakan dalam kerja sama
dengan lembaga keuangan formal setempat seperti BPR, bank umum maupun koperasi.

Mekanisme yang terjadi dalam kegiatan dibidang pengembangan keuangan mikro ini juga
melibatkan unsur penciptaan laba yang didasarkan pada perhitungan ekonomi yang saling
menghidupi satu sama lain. Prosesnya terjadi manakala kelompok swadaya masyarakat
membayar angsuran pengembalian disertai bunga yang telah ditetapkan. Sekian persen dari
bunga yang dibayarkan akan dialokasikan bagi uang jasa pelayanan yang dilakukan oleh Guswil
melalui pendamping- pendampingnya. Dengan mekanisme ini diharapkan Guswil dapat
mendanai kegiatan operasionalnya sendiri, disamping berhak melakukan usaha-usaha mandiri
lainnya guna menunjang keberlanjutan pendanaan.

Ringkasan kiprah pelayanan keuangan mikro yang dilakukan oleh Bina Swadaya

      Aktivitas menabung dan kredit oleh KSM.
      Tabungan dan Kredit Setiakawan.
      Pola Hubungan Bank dan KSM (1987-2001).
      Bank Perkreditan Rakyat (1994).
      Koperasi Bina Masyarakat Mandiri (1998).
      Gerakan Bersama Pengembangan Keuangan Mikro Indonesia (2000).
      Replikasi pelayanan keuangan mikro model ASA (2003).
      PT. Dana Mitra Swadaya (2008).


RINGKASAN

Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah provinsi dengan tingkat kemiskinan yang tergolong tinggi di
Indonesia. Oleh karena itu, banyak program penanggulangan kemiskinan yang dilaksanakan di
daerah ini, termasuk pelayanan keuangan mikro. Penelitian ini bertujuan melihat dinamika
penawaran dan kebutuhan pelayanan keuangan mikro dalam kaitan dengan upaya
penanggulangan kemiskinan di NTT. Pendekatan kualitatif untuk memahami dinamika tersebut
dilakukan dengan mengumpulkan data primer dan sekunder tentang pengaturan dan pelayanan
keuangan mikro, khususnya di Kabupaten Kupang dan Kabupaten Manggarai. Efektivitas
pengaturan dan pelayanan itu diungkap melalui wawancara dengan sampel nasabah dan non
nasabah keuangan mikro.

Pelayanan keuangan mikro dibatasi oleh kebijakan, dana, dan tenaga, sementara kebutuhan
golongan miskin atas pelayanan keuangan bervariasi. Variasi kebutuhan itu antara lain
dipengaruhi oleh jenis usaha dan kondisi lingkungannya. Dalam hal kredit, misalnya, usaha
golongan miskin tidak selalu membutuhkan tambahan modal. Mereka seringkali memerlukan
kredit untuk menutup berbagai pengeluaran nonusaha yang kadang-kadang tidak terduga. Bagi
golongan miskin, cara penggunaan kredit seperti ini diperlukan agar pengeluaran nonusaha tidak
mengganggu kepemilikan aset dan keberlangsungan usahanya.

Salah satu penyedia layanan keuangan adalah lembaga perbankan. Lembaga ini secara ketat
berorientasi komersial. Perbankan di NTT, misalnya, tidak mempunyai skema pelayanan
keuangan khusus bagi golongan miskin. Dengan demikian golongan miskin di NTT sukar
memperoleh akses layanan perbankan, karena kondisi dan kebutuhan mereka umumnya tidak
sesuai dengan kebijakan yang berlaku dalam dunia perbankan. Akses golongan miskin yang
tinggal di perdesaan lebih terbatas lagi, karena pelayanan perbankan berada jauh di perkotaan.

Di luar perbankan, golongan miskin dapat memperoleh layanan keuangan dari lembaga
nonperbankan, lembaga nonformal, dan unit usaha keuangan mikro sebagai komponen program
pembangunan pemerintah. Pelayanan utama yang disediakan lembaga-lembaga ini adalah kredit.
Persoalannya adalah, kecuali pada pegadaian, adanya kecenderungan bahwa hanya golongan
miskin yang memiliki usaha nonpertanian yang memiliki kemudahan mengakses kredit, karena
usaha nonpertanian dinilai lebih berpotensi mengembalikan pinjaman.

Pelayanan lembaga-lembaga tersebut kebanyakan disalurkan melalui kelompok masyarakat, baik
kelompok yang sudah ada atas prakarsa masyarakat sendiri, maupun yang dibentuk untuk
memenuhi persyaratan program pelayanan. Persoalan yang dihadapi suatu kelompok masyarakat
adalah keberlangsungan kelompok. Seringkali kelompok, terutama yang dibentuk karena adanya
program, akhirnya bubar setelah dana kreditnya digulirkan ke kelompok lain, atau programnya
selesai. Kelompok dapat bertahan dan berkembang jika tersedia bantuan fasilitasi teknis yang
memadai dalam pengelolaan kelompok dan usaha anggotanya. Kelompok seperti ini biasanya
mengembangkan kegiatan menabung sebagai kekuatan pendukung keberlangsungan pelayanan
kredit.

Selain itu, secara tradisional golongan miskin memenuhi kebutuhan pelayanan keuangan melalui
kegiatan arisan atau dalam keadaan terpaksa meminjam pada tetangga atau pelepas uang untuk
keberlangsungan hidup atau usahanya. Di daerah yang operasi lembaga keuangannya terbatas,
banyak ditemukan kegiatan arisan. Berbagai kelompok arisan mengembangkan kegiatan
menabung sebagai sumber penyediaan pelayanan kredit bagi anggotanya. Bagi golongan miskin
kebutuhan akan kredit, tabungan, dan asuransi, pada dasarnya seharusnya telah menyatu dalam
keseharian hidup mereka. Usaha pemeliharaan ternak dan penyimpanan hasil panen di lumbung
pangan, misalnya, merupakan kegiatan menabung sekaligus mengasuransi kehidupan mereka.
Lumbung pangan mengamankan mereka di musim paceklik, sementara ternak menjadi sumber
dana untuk kebutuhan mendesak.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:45
posted:5/9/2012
language:Malay
pages:12