Docstoc

Farmakologi vitamin, mineral, dan nutrisi parenteral

Document Sample
Farmakologi vitamin, mineral, dan nutrisi parenteral Powered By Docstoc
					                                                 DAFTAR ISI



KATA PENGANTAR                         ............................................I
DAFTAR ISI                             . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .II
1. BAB 1 PENDAHULUAN
   1.1. Latar Belakang                 ............................................1
   1.2. Rumusan Masalah                ............................................2
   1.3. Tujuan Penulisan               ............................................2
   1.4. Sistematika Penulisan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 3
2. BAB 2 PEMBAHASAN
   2.1. Vitamin Larut Air              ............................................4
        2.1.1. Vitamin B               ............................................4
        2.1.2. Vitamin C               ............................................5
   2.2. Vitamin Larut Lemak                       ......................................6
        2.2.1. Vitamin A               ............................................7
        2.2.2. Vitamin D               ............................................8
        2.2.3. Vitamin E               ............................................9
        2.2.4. Vitamin K               . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .10
   2.3. Mineral dalam Jumlah Relatif Banyak                               . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .11
        2.3.1. Kalsium                 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .12
        2.3.2. Fosfor                  . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .13
        2.3.3. Magnesium               . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .14
        2.3.4. Kalium                  . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .15
        2.3.5. Natrium                 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .16
        2.3.6. Klorida                 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .17
        2.3.7. Sulfur                  . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .18
   2.4. Nutrisi Parenteral             . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .22
3. BAB 3 PENUTUP
   3.1. Kesimpulan                     . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .23
4. Daftar Pustaka                      . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .24
                                         BAB I
                                 PENDUHULUAN


1.1 Latar Belakang
       Vitamin dan beberapa mineral penting untuk metabolisme. Vitamin merupakan
senyawa organik yang diperlukan tubuh dalam jumlah kecil untuk mempertahankan
kesehatan dan seringkali bekerja sebagai kofaktor untuk enzim metabolisme. Vitamin
yang terdapat dalam lebih dari satu bentuk kimia (misalnya piridoksin, piridoksal,
piridoksamin) atau terdapat sebagai suatu prekursor (misalnya karoten untuk vitamin A)
kadang-kadang dinamakan vitamer.
       Mineral merupakan senyawa anorganik yang merupakan agian penting dari
enzim, mengatur berbagai fungsi fisiologis, dan dibutuhkan untuk pertumbuhan dan
pemeliharaan jaringan termasuk tulang. Sumber vitamin dan mineral yang paling baik
ialah makanan sehingga orang sehat yang makanannya bermutu baik, sudah mendapat
jumlah vitamin dan mineral yang cukup. Akan tetapi individu dengan diet rendah kalori
(kurang dari 1200 kalori/hari) seringkali asupan vitaminnya kurang dan memerlukan
tambahan. Selain terdapat dalam makanan, vitamin juga dapat diberikan dalam bentuk
murni sebagai sebagai sediaan tunggal atau kombinasi. Sediaan untuk tujuan profilaktik
harus dibedakan dari sediaan untuk tujuan pengobatan defisiensi.
       Vitamin dibagi menjadi 2 golongan, yaitu vitamin larut lemak: vitamin A,D,E,
dan K; dan vitamin larut air: Vitamin B dan C. Vitamin larut air berperan sebagai
kofaktor untuk enzim tertentu, sedangakan vitamin A dan D mempunyai sifat lebih
menyerupai hormon dan mengadakan interaksi dengan reseptor spesifik intraseluler pada
jaringan target.
1.2 Rumusan Masalah
   Dalam makalah ini terdapat beberapa rumusan, yaitu :
       1) Apa sajakah vitamin yang dapat larut dalam air ?
       2) Apa sajakah vitamin yang dapat larut dalam lemak ?
       3) Mineral apa sajakah yang dibutuhkan tubuh kita?
       4) Berapakah jumlah relatif mineral yang dibutuhkan tubuh kita ?
       5) Apa yang dimaksud dengan nutrisi parenteral ?
       6) Apakah guna penambahan nutrisi parenteral dalam kesehatan ?


1.3 Tujuan Penulisan
   Adapun tujuan dari makalah ini, yaitu :
       1) Menjelaskan berbagai vitamin yang larut dalam air.
       2) Menjelaskan berbagai vitamin yang larut dalam lemak.
       3) Menjelaskan kebutuhan mineral dengan jumlah yang relatif.
       4) Menjelaskan pengertian dan kegunaan nutrisi parenteral.


1.4 Sistematika Penulisan
       KATA PENGANTAR
       1. BAB 1 PENDAHULUAN
          1.1. Latar Belakang
          1.2. Rumusan Masalah
          1.3. Tujuan Penulisan
       2. BAB 2 PEMBAHASAN
          2.1. Vitamin Larut Air
              2.1.1. Vitamin B
              2.1.2. Vitamin C
          2.2. Vitamin Larut Lemak
              2.2.1. Vitamin A
              2.2.2. Vitamin D
              2.2.3. Vitamin E
      2.2.4. Vitamin K
   2.3. Mineral dalam Jumlah Relatif Banyak
      2.3.1. Kalsium
      2.3.2. Fosfor
      2.3.3. Magnesium
      2.3.4. Kalium
      2.3.5. Natrium
      2.3.6. Klorida
      2.3.7. Sulfur
   2.4. Nutrisi Parenteral
3. BAB 3 PENUTUP
   3.1. Kesimpulan
   3.2. Saran
4. Daftar Pustaka
                                        BAB II
                                  PEMBAHASAN


2.1 Vitamin Larut Air
       Dalam penggolongannya vitamin dibagi menjadi 2 golongan, yaitu vitamin yang
larut pada air dan vitamin yang larut pada lemak. Vitamin- vitamin yang larut dalam air
diantaranya : vitamin B dan C, sedangkan vitamin yang larut dalam lemak yaitu :
Vitamin A, D, E, dan K.
       Vitamin B kompleks mencakup sejumlah vitamin dengan rumus kimia dan efek
biologik yang sangat berbeda yang digolongkan bersama karena dapat diperoleh dari
sumber yang sama, antara lain hati dan ragi. Yang termasuk dalm golongan ini ialah :
Tiamin (Vitamin B1), Riboflavin (Vitamin B2), asam nikotinat (niasin), piridoksin
(Vitamin B6), asam pantotenat, biotin, kolin, inositol, asam-para-amino benzoat, asam
folat dan sianokobalamin (Vitamin B12). Vitamin C (asam askorbat) terutama didapatkan
pada buah jeruk.
   2.1.1 Vitamin B
       A. Tiamin (B1)
              Sumber yang mengandung tiamin yaitu pada padi-padian, roti, sereal,
       daging dan produk olahannya, ginjal, hati, makanan laut (kerang, kepiting, ikan
       dan lain-lain), unggas, telur, tempe dan susu. Manfaatnya mendorong nafsu
       makan, berperan dalam sistem saraf dan otot, selain menjaga tingkat kesehatan
       dan memproduksi energi. Bila kekurangan: rentan terserang beri-beri, mengalami
       penurunan daya tahan tubuh hingga mudah terancam berbagai penyakit infeksi.
       Bila kelebihan: jarang terjadi dan kalaupun kelebihan, vitamin ini akan dibuang
       keluar tubuh bersama urin. Namun, jika terjadi “kesalahan prosedur” hingga tak
       bisa dibuang, kemungkinannya akan terjadi gagal ginjal.
       B. Riboflavin (B2)
              Riboflavin terdapat pada makanan jamur, brokoli, kacang almon,susu,
       keju, telur, serta yoghurt. Manfaat Riboflavin sendiri yaitu : memperbaiki kulit,
       mata, dan membantu produksi energi. Bila kekurangan vitamin ini kepekaan
terhadap cahaya berkurang, sudut bibir pecah-pecah, muncul gangguan kulit di
sekitar hidung dan bibir.
C. Niasin (B3)
       Sumber yang mengandung Niasin diantaranya : sereal, beras, susu,
sayur,kacang-kacangan, maupun produk olahan nabati dan hewani. Manfaat
Niasin yaitu : menetralisir zat racun dan berperan dalam sintesa lemak,
meningkatkan nafsu makan, membantu sistem pencernaan, memperbaiki kulit dan
saraf. Bila kekurangan: kulit gampang rusak, lidah jadi licin, mudah terserang
diare, jadi temperamental (mudah marah), atau sering bingung. Bila kelebihan:
jarang terjadi, sama seperti vitamin B lainnya.
D. Piridoksin (B6)
       Sumber yang mengandung Pridoksin diantaranya: ikan, daging, telur,
susu, hati, padi-padian, kacang merah dan polong-polongan. Manfaat Pridoksin
yaitu membantu metabolisme protein, membantu pembentukan antibodi dan saraf,
mengatur penggunaan protein, lemak, karbohidrat, disamping berperan dalam
regenerasi/pembaruan sel darah merah. Bila kekurangan: kulit rusak, dermatitis,
sudut bibir pecah-pecah, lidah licin, sariawan, mual, pening, anemia, muncul batu
ginjal, letih, lemah, lesu, nafsu makan turun, rentan terhadap infeksi dan kejang-
kejang, rasa sakit pada pergelangan tangan, gampang depresi. Bila kelebihan:
meski jarang terjadi, dalam jangka panjang dapat menimbulkan kerusakan saraf.
E. Kobalamin (B12)
       Sumber yang mengandung Kobalamin yaitu daging beserta produk
olahannya, ginjal, hati, kerang, ketam, kepiting, ikan (salmon dan tuna), ragam
makanan laut lainnya, unggas, telur, susu dan produk olahannya, produk
fermentasi kedelai (tauco dan tempe yang diolah secara tradisional), susu kedelai
yang diperkaya dengan vitamin dan mineral, sereal. Manfaatnya membantu
pembentukan sel darah merah, mengatur sistem saraf, berperan dalam sintesa
DNA yang mengontrol pembentukan sel-sel baru, mencegah kerusakan sistem
saraf, meningkatkan nafsu makan, mencegah anemia, menjaga kesehatan jantung
dan kekebalan tubuh, berperan dalam metabolisme protein, memicu produksi
hormon untuk kesehatan kulit dan rambut. Bila kekurangan: dapat mengganggu
   sistem saraf, menurunkan daya ingat, mudah bingung dan murung, gampang
   mengalami delusi (berkhayal), lelah, hilang keseimbangan, refleks menurun, mati
   rasa, menimbulkan gangguan pendengaran, menyebabkan gejala anemia yang
   meliputi kelelahan, hilang nafsu makan, diare, menimbulkan gangguan
   pembentukan sel saraf, mengakibatkan kerusakan sistem saraf. Bila kelebihan:
   sama seperti vitamin B lainnya, jarang terjadi.


2.1.1 Vitamin C
       Vitamin C atau asam askorbat merupakan vitamin yang larut dalam air.
Vitamin C bekerja sebagai suatu koenzim dan pada keadaan tertentu merupakan
reduktor dan antioksidan. Vitamin ini dapat secara langsung atau tidak langsung
memberikan elektron ke enzim yang membutuhkan ion-ion logam tereduksi dan
bekerja sebagai kofaktor untuk prolil dan lisil hidroksilase dalam biosintesis kolagen.
Zat ini berbentuk kristal dan bubuk putih kekuningan, stabil pada keadaan kering
(Dewoto 2007). Vitamin ini dapat ditemukan di buah citrus, tomat, sayuran berwarna
hijau, dan kentang. vitamin ini digunakan dalam metabolisme karbohidrat dan sintesis
protein, lipid, dan kolagen. Vitamin C juga dibutuhkan oleh endotel kapiler dan
perbaikan jaringan. vitamin C bermanfaat dalam absorpsi zat besi dan metabolisme
asam folat. Tidak seperti vitamin yang larut lemak, vitamin C tidak disimpan dalam
tubuh dan diekskresikan di urine. Namun, serum level vitamin C yang tinggi
merupakan hasil dari dosis yang berlebihan dan diekskresi tanpa mengubah
apapun(Kamiensky, Keogh 2006). Kebutuhan vitamin C berdasarkan U.S. RDA
antara lain untuk pria dan wanita sebanyak 60 mg/hari, bayi sebanyak 35 mg/hari, ibu
hamil sebanyak 70 mg/hari, dan ibu menyusui sebanyak 95 mg/hari. Kebutuhan
vitamin C meningkat 300-500% pada penyakit infeksi, TB, tukak peptik, penyakit
neoplasma, pasca bedah atau trauma, hipertiroid, kehamilan, dan laktasi (Kamiensky,
Keogh 2006).
   2.1.1.1 Farmakodinamik Obat
           Vitamin C berperan sebagai kofaktor dalam sejumlah reaksi hidroksilasi
   dan amidasi dengan memindahkan electron ke enzim yang ion logamnya harus
   berada dalam keadaan tereduksi; dan dalam keadaan tertentu bersifat sebagai
antioksidan. Vitamin C dibutuhkan untuk mempercepat perubahan residu prolin
dan lisin pada prokolagen menjadi hidroksiprolin dan hidroksilisin pada sintesis
kolagen. Perubahan asam folat menjadi asam folinat, metabolisme obat oleh
mikrosom dan hidroksilasi dopamine menjadi norepinefrin juga membutuhkan
vitamin C. Asam askorbat meningkatkkan aktivitas enzim amidase yang berperan
dalam pembentukan hormon oksitosin dan hormon diuretik. Vitamin C juga
meningkatkan absorpsi besi dengan mereduksi ion feri menjadi fero di
lambung.Peran vitamin C juga didapatkan dalam pembentukan steroid adrenal
(Kamiensky, Keogh 2006; Dewoto 2007). Fungsi utama vitamin C pada jaringan
adalah dalam sintesis kolagen, proteoglikan zat organik matriks antarsel lain
misalnya pada tulang, gigi, dan endotel kapiler. Peran vitamin C dalam sintesis
kolagen selain pada hidroksilasi prolin juga berperan pada stimulasi langsung
sintesis peptide kolagen. Gangguan sintesis kolagen terjadi pada pasien skorbut.
Hal ini tampak pada kesulitan dalam penyembuhan luka, gangguan pembentukan
gigi, dan pecahnya kapiler yang mengakibatkan petechiae dan echimosis.
Perdarahan tersebut disebabkan oleh kebocoran kapiler akibat adhesi sel-sel
endotel yang kurang baik dan mungkin juga karena gangguan pada jaringan ikat
perikapiler sehingga kapiler mudah pecah oleh penekanan (Kamiensky, Keogh
2006; Dewoto 2007). Pemberian vitamin C pada keadaan normal tidak
menunjukkan efek farmakodinamik yang jelas. Namun pada keadaan defisiensi,
pemberian vitamin C akan menghilangkan gejala penyakit dengan cepat.
2.1.1.2 Farmakokinetik Obat
       Vitamin C mudah diabsorpsi melalui saluran cerna.pada keadaan normal
tampak kenaikan kadar vitamin C dalam darah setelah diabsorpsi. Kadar dalam
lekosit dan trombosit lebih besar daripada dalam plasma dan eritrosit.
Distribusinya luas ke seluruh tubuh dengan kadar tertinggi dalam kelenjar dan
terendah dalam otot dan jaringan lemak. Ekskresi melalui urin dalam bentuk utuh
dan bentuk garam sulfatnya terjadi jika kadar dalam darah melewati ambang
rangsang ginjal yaitu 1,4 mg% (Dewoto 2007). Beberapa obat diduga dapat
mempercepat ekskresi vitamin C misalnya tetrasiklin, fenobarbital, dan salisilat.
Vitamin C dosis besar dapat memberikan hasil false negative pada uji glikosuria
    (enzymedip test) dan uji adanya darah pada feses pasien karsinoma kolon. Hasil
    false positive dapat terjadi pada clinitest dan tes glikosuria dengan larutan
    Benedict.
    2.1.1.3 Indikasi
           Vitamin C diindikasikan untuk pencegahan dan pengobatan skorbut.
    Selain itu, vitamin C juga digunakan untuk berbagai penyakit yang tidak ada
    hubungannya dengan defisiensi vitamin C dan seringkali digunakan dengan dosis
    besar. Namun, efektivitasnya belum terbukti. Vitamin C yang mempunyai sifat
    reduktor digunakan untuk mengatasi methemoglobinemia idiopatik meskipun
    kurang efektif dibandingakan dengan metilen blue. Vitamin C tidak mengurangi
    insidens common cold tetapi dapat mengurangi berat sakit dan lama masa sakit
    (Dewoto 2007).
    2.1.1.4 Posologi
           Vitamin C terdapat dalam berbagai preparat baik dalam bentuk tablet yang
    mengandung 50-1500 mg maupun dalam bentuk larutan. Kebanyakan sediaan
    multivitamin mengandung vitamin C. Sediaan suntik mengandung vitamin C
    sebanyak 100-500 mg dalam larutan. Air jeruk mengandung vitamin C yang
    tinggi sehingga dapat digunakan untuk terapi menggantikan sediaan vitamin C
    (Kamiensky, Keogh 2006; Dewoto 2007). Kalsium askorbat dan natrium askorbat
    didapatkan dalam bentuk tablet dan bubuk unutk penggunaan per oral.


2.2 Vitamin Larut Lemak
       Vitamin larut lemak (Vitamin A, D, E dan K) diabsorpsi dengan cara yang
    kompleks dan sejalan dengan absospsi lemak. Dengan demikian keadaan-keadaan
    yang menyebabkan gangguan absorpsi lemak seperti defisiensi asam empedu,
    ikterus dan enteritis dapat mengakibatkan defisiensi satu atau mungkin semua
    vitamin golongan ini. Vitamin larut lemak mempengaruhi permeabilitas atau
    transport pada berbagai membran sel dan bekerja sebagai oksidator atau reduktor,
    koenzim atau inhibitor enzim. Vitamin A dan D mempunyai aktivitas mirip
    hormon. Vitamin-vitamin ini disimpan terutama di hati dan diekskresi melalui
   feses. Karena metabolismenya sangat lambat, dosis yang berlebihan dapat
   menimbulkan efek toksik.
2.2.1 Vitamin A
   Vitamin A merupakan salah satu jenis vitamin yang larut lemak. Vitamin A
(Acon, Aquasol) membantu menjaga pertumbuhan jaringan epitel, mata, rambut, dan
tulang. Selain itu juga digunakan untuk pengobatan kelainan kulit seperti acne.
Vitamin mempunyai efek toksik jika digunakan secara berlebihan. Contohnya, defek
lahir dapat terjadi jika pasien mengkonsumsi lebih dari 6000 IU selama kehamilan.
Hal ini penting untuk diingat bahwa vitamin disimpan di liver sampai lebih dari dua
tahun, dimana dapat mengakibatkan toksisitas jika pasien mengkonsumsi dengan
dosis yang besar (Kamiensky, Keogh 2006). Vitamin A didapat dalam 2 bentuk yaitu
preformed vitamin A (vitamin A, retinoid, retinol, dan derivatnya) dan provitamin A
(karotenoid/ karoten dan senyawa sejenis) (Dewoto 2007). Sumber makanan yang
mengandung vitamin A antara lain semua jenis susu, mentega, telur, sayuran dengan
daun berwarna hijau dan kuning, buah-buahan, dan liver. Menurut U.S
Recommended Dietary Allowance (RDA) kebutuhan vitamin A pada pria dewasa
sebanyak 1000 µg atau 5000 IU, wanita dewasa 800 µg atau 4000 IU,
pada kehamilan membutuhkan sebanyak 1000 µg atau 5000 IU, dan pada ibu
menyusui 1200 µg atau setara dengan 6000 IU (Kamiensky, Keogh 2006).
   2.2.1.1 Farmakodinamik Obat
           Pada fibroblast atau jaringan epitel terisolasi, retinoid dapat meningkatkan
   sintesis beberapa jenis protein seperti fibronektin dan mengurangi sintesis protein
   seperti kolagenase dan keratin. Hal ini disebabkan karena adanya perubahan
   transkripsi pada inti dan asam retinoat lebih kuat dalam menyebabkan perubahan
   tersebut. Asam retinoat mempengaruhi ekspresi gen dengan bergabung pada
   reseptor yang berada di inti sel. Terdapat dua kelompok reseptor, yaitu Retinoid
   Acid Receptors (RARs) dan Retinoid X Receptors (RXRs). Reseptor retinoid
   segolongan dengan reseptor steroid, hormone tiroid, dan kalsitriol (Dewoto 2007).
   Retinoid dapat mempengaruhi ekspresi reseptor hormon dan faktor pertumbuhan
   sehingga dapat mempengaruhi pertumbuhan, diferensiasi, dan fungsi sel target.
   Selain itu juga diperlukan untuk pertumbuhan tulang, alat reproduksi, dan
   perkembangan embrio (Dewoto 2007).
   2.2.1.2 Farmakokinetik Obat
          Vitamin ini diabsorpsi sempurna melalui usus halus dan kadarnya dalam
   plasma mencapai puncak setelah empat jam tetapi absorpsi dosis besar vitamin A
   kurang efisien karena sebagian akan keluar melalui feses. Gangguan absorpsi
   lemak akan menyebabkan gangguan absorpsi vitamin A, maka pada keadaan ini
   dapat digunakan sediaan vitamin A yang larut dalam air. Absorpsi vitamin A
   berkurang bila diet kurang mengandung protein atau pada penyakit infeksi
   tertentu dan pada penyakit hati seperti hepatitis, sirosis hepatis atau obstruksi
   biliaris. Berkurangnya absorpsi vitamin A pada penyakit hati berbanding lurus
   dengan derajat insufisiensi hati (Dewoto 2007).
   2.2.1.3 Indikasi
          Vitamin A diindikasikan untuk pencegahan dan pengobatan defisiensi
   vitamin A.
   2.2.1.4 Posologi
          Jenis sediaan untuk vitamin A antara lain oral, suntikan, dan topical.
   Penggunaan oral terdapat bentuk tablet, kapsul, atau larutan/sirup. Sediaan
   vitamin A dalam larutan air paling cepat diabsorpsi dan memberikan kadar
   plasma lebih tinggi dibandingkan sediaan minyak. Vitamin A kapsul mengandung
   3-15 mg retinol (10.000-15.000 IU) per kapsul. Sediaan suntikan dalam bentuk
   larutan mengandung 50.000 IU vitamin A/ml dapat diberikan secara IM untuk
   pasien malabsorpsi, mual, muntah, dan gangguan mata berat. Dosis lebih dari
   25.000 IU/hari hanya dapat diberikan pada pasien defisiensi berat. Penggunaan
   oral lebih baik daripada parenteral (Dewoto 2007).


2.2.2 Vitamin D
   Vitamin D adalah senyawa yang larut dalam lemak, terbukti berguna untuk
mencegah dan mengobati rakhitis yaitu penyakit yang banyak terdapat pada anak,
terutama di daerah yang kurang mendapat sinar matahari. Pada tahun 1920 Mellanby
dan Huldschinksy mendapatkan bahwa rakitis apat dicegah ataupun diobati dengan
minyak ikan atau sinar matahari yang cukup. Ternyata sterol yang terdapat pda hewan
ataupun tumbuh-tumbuhan merupakan provitamin D yang dengan penyinaran
ultraviolet akan diubah menjadi vitamin D.
   Provitamin yang terutama didapatkan pada jaringan hewan, ialah 7-
dehidrokolesterol yang akan diubah menajadi vitamin D3 (kolekalsiferol). Provitamin
D yang terdapat pada ragi dan jamur ialah ergosterol yang akan diubah menjadi
vitamin D2 (kalsiferol). Selain itu, 7-dehidrokolesterol juga disintesis pada kulit.
Potensi vitamin D2 dan D3 pada manusia praktis tiddak berbeda.
 2.2.2.1 Farmakodinamik Obat
         Vitamin D mempunyai 2 fungsi fisiologi sebagai pengatur homeostatik
   kalsium plasma. Pengaturan ini diperlukan untuk mempertahankan kadar kalsium
   dan fosfat plasma yang penting untuk mineralisasi tulang dan untuk
   mempertahankan fungsi normal neuromuskular serta fungsi lain yang bergantung
   pada kalsium.
         Vitamin D berefek meningkatkan absorpsi kalsium dan fosfat melalui usus
   halus, sehingga menjamin kebutuhan kalsium dan fosfat yang cukup untuk tulang.
   Selain itu, vitamin D memperlihatkan efek mobilisasi kalsium tulan dari tulang
   tua ke dalam plasma (resorpsi tulang) untuk selanjutnya mungkin digunakan pada
   ineralisasi tulang baru.
 2.2.2.2 Farmakokinetik Obat
         Absorbsi vitamin D melalui saluran cerna cukup baik. Vitamin D3
   diabsorpsi lebih cepat dan lebih sempurna. Gangguan fungsi hati, kandung
   empedu dan saluran cerna seperti steatore akan mengganggu absorpsi vitamin D.
   Dalam sirkulasi vitamin D diikat oleh α- globulin yang khusus dan selanjutnya
   disimpan pada lemak tubuh untuk waktu lama dengan masa paruh 19-25 jam.
         Ekskresi vitamin D terutama melalui empedu dan dalam jumlah kecil
   ditemukan dalam urin. Pada pasien yang mendapat antikonvulasi misalnya
   fenitoin dan fenobarbital untuk jangka lama didapatkan insidens rakitis dan
   osteoamalasia yang tinggi meskipun kadar 1,25 DHCC pada pasien yang
   mengalaminya tetap normal. Selanjutnya beberapa peneliti mendapatkan bahwa
   terapi antikonvulsi enyebabkan target organ menjadi lebih resisten terhadap
   vitamin D sehingga absorbsi kalsium melalui usus halus dan resorpsi tulang
   berkurang. Hal inilah yang menjadi penyebab terjadinya rakitis dan osteomalasia
   pada pasien.
 2.2.2.3 Indikasi
         Vitamin D untuk pencegahan dan pengobatan rakitis, selain itu vitamin D
   juga digunakan untuk osteomalasia, hipoparatiroidisme, dan tetani infatil, dan
   untuk keadaan lain dengan alasan penggunaan yang belum atau tidak iketahui
   miasalnya pada psoriasis, artritis dan hay-fever. Vitamin D juga digunakan untuk
   hipofosfatemia pada pasien sindrom fanconi dan pasien osteoporosis. Pemberian
   dosis besar vitamin D untuk pasien osteoporosis masih diragukan dan hasilnya
   dapat berbahaya.
 2.2.2.4 Posologi
         Vitamin D terdapat dalam beberapa macam bentuk sediaan, misalnya dalam
   minyak ikan yang biasanya juga mengandung vitamin A, dan sediaan
   multivitamin, dalam sediaan yang mengandung campuran dengan kalsium dan
   sediaan yang hanya mengandung vitamin saja.


2.2.3 Vitamin E
   Vitamin E adalah vitamin yang larut dalam lemak dan dapat melindungi jantung,
arteri, dan komponen selular untuk tetap melakukan oksidasi dan mencegah lisis sel
darah merah. Jika terdapat ketidakseimbangan garam, sekresi pancreas, dan lemak,
vitamin E diabsorpsi di saluran pencernaan dan disimpan di seluruh jaringan,
terutama liver, otot, dan jaringan lemak. Tujuh puluh lima persen dari jumlah vitamin
E diekskresi di empedu dan sisanya melalui urin (Kamiensky, Keogh 2006). Delapan
jenis tokoferol alam mempunyai aktivias vitamin E. RRR-α-tokoferol (dahulu
disebut d-α-tokoferol) merupakan bentuk paling penting karena merupakan
90% dari tokoferol yang berasal dari hewan dengan aktivitas biologik paling besar
(Dewoto 2007). Sumber makanan yang banyak mengandung vitamin E antara lain
sereal gandum utuh, minyak sayuran, daun bawang, biji bunga matahari. Kebutuhan
vitamin E per hari menurut U.S RDA yaitu pada pria sebanyak 10 mg/hari; 15 IU,
wanita sebanyak 8 mg/hari; 12 IU, pada kehamilan dibutuhkan sebanyak 10-12
mg/hari. Kebutuhan vitamin A pada orang Indonesia belum diketahui akan tetapi
diperkirakan sama dengan rekomendasi U.S RDA (Kamiensky, Keogh 2006; Dewoto
2007).
   2.2.3.1 Farmakodinamik Obat
          Vitamin E berperan sebagai antioksidan dan dapat melindungi kerusakan
   membrane biologis akibat radikal bebas. Vitamin E melindungi asam lemak tak
   jenuh pada membrane fosfolipid. Radikal peroksil bereaksi 1000 kali lebih cepat
   dengan vitamin E daripada dengan asam lemak tak jenuh dan membentuk radikal
   tokoferoksil. Radikal ini selanjutnya berinteraksi dengan antioksidan yang lain
   seperti vitamin C yang akan membentuk kembali tokoferol. Vitamin E juga
   penting untuk melindungi membrane sel darah merah yang kaya asam lemak tak
   jenuh ganda dari kerusakan akibat oksidasi. Vitamin ini berperan dalam
   melindungi lipoprotein dari LDL teroksidasi dalam sirkulasi. LDL teroksidasi ini
   memegang peranan penting dalam menyebabkan aterosklerosis. Selain efek
   antioksidan, vitamin E juga berperan mengatur proliferasi sel otot polos pembuluh
   darah, menyebabkan vasodilatasi dan menghambat baik aktivasi trombosit
   maupun adhesi lekosit. Vitamin E juga melindungi β-karoten dari oksidasi
   (Dewoto 2007).
   2.2.3.2 Farmakokinetik Obat
          Vitamin E diabsorpsi baik melalui saluran pencernaan. Beta-lipoprotein
   mengikat vitamin E dalam darah dan mendistribusikan ke semua jaringan. Kadar
   plasma sangat bervariasi diantara individu normal, dan berfluktuasi tergantung
   kadar lipid. Rasio vitamin E terhadap lipid total dalam plasma digunakan untuk
   memperkirakan status vitamin E. Nilai di bawah 0,8 mg/g menunjukkan keadaan
   defisiensi. Pada umumnya kadar tokoferol plasma lebih berhubungan dengan
   asupan dan gangguan absorpsi lemak pada usus halus daripada ada tidaknya
   penyakit. Vitamin E sukar melalui sawar plasenta sehingga bayi baru lahir hanya
   mempunyai kadar tokoferol plasma kurang lebih seperlima dari kadar tokoferol
   plasma ibunya. ASI mengandung α-tokoferol yang cukup bagi bayi.
   Ekskresi vitamin sebagian besar dilakukan dalam empedu secara lambat dan
   sisanya diekskresi melalui urin sebagai glukoronida dari asam tokoferonat atau
   metabolit lain (Kamiensky, Keogh 2006; Dewoto 2007).
   2.2.3.3 Indikasi
          Pemberian vitamin E hanya diindikasikan pada keadaan defisiensi yang
   dapat terlihat sari kadar serum yang rendah dan atau peningkatan fragilitas
   eritrosit terhadap hydrogen peroksida. Hal ini dapat terjadi pada bayi premature,
   pada pasien dengan sindrom malabsorpsi dan steatore, dan penyakit dengan
   gangguan absorpsi lemak. Penggunaan vitamin E untuk penyakit yang mirip
   dengan keadaan yang timbul akibat defisiensi vitamin E seperti distrofia otot,
   abortus habitualis, sterilitas, dan toxemia gravidarum hasilnya mengecewakan
   (Dewoto 2007).
   2.2.3.4 Posologi
          Vitamin E tersedia dalam sediaan per oral dan parenteral


2.2.4 Vitamin K
   Tahun 1929 Dam mendapatkan pendarahan spontan pada ayam dengan diet yang
tidak sempurna. Selanjutnya ternyata pda pendarahan tersebut dapat diatasi dengan
memberikan suatu zat yang larut dalam lemak yang diberi nama vitamin K
(Koagulation vitamin).
   Dikenal 2 jenis vitamin K alam, yaitu vitamin K1 (filokuinon=fitonadion) dan
vitamin K2 (senyawa menakuinon), dan 1 jenis vitamin K sintetik. Vitamin K1, yang
digunakan untuk pengobatan, teradpat pada kloroplas sayuran berwarna hijau dan
buah-buahan. Vitamin K2 disintesis oleh bakteri Garam-posotif. Vitamin K sintetik
yaitu vitamin K3 (menadion) merupakan derivat naftokuinon, dengan aktivitas yang
mendekati vitamin K alam. Derivatnya yang larut dalam air, menadion natrium
difosfat, di dalam tubuh diubah menjadi menadion.
 2.2.4.1 Farmakodinamik Obat
         Pada orang normal vitamin K tidak mempunyai aktivitas farmakodinamik,
 tetapi pada penderita defisiensi vitamin K, vitamin ini berguna untuk meningkatkan
 beberapa faktor pembekuan darah yaitu protombin, faktor VII (prokonvertin), faktor
IX (faktor Christmas), dan faktor X (faktor Stuart) yang berlangsung dihati.
Mekanisme kerja vitamin K ini masih belum diketahui dengan pasti.
2.2.4.2 Farmkokinetik Obat
       Absorbsi vitamin K melalui usus sangat tergantung dari kelarutannya.
Absorbsi filokuinon dan menakuinon hanya berlangsung baik bila terdapat garam-
garam empedu, sedangkan mendion dan derivatnya yang larut air dapat diarbsobsi
walaupun tidak ada empedu. Berbeda dengan filokuinon dan menakuinon yang
harus melalui saluran limfe lebih dahulu, menadion dan derivatnya yang larut air
dapat langsung masuk ke sirkulasi darah. Vitamin K alam dan sintetik diabsorbsi
dengan mudah setelah penyuntikan IM. Bila terdapat gangguan absorbsi vitamin K
akan terjadi hipoprotombinemia setelah beberapa minggu, sebab persediaan vitamin
K di dalam tubuh hanya sedikit.
2.2.4.3 Indikasi
       Vitamin K berguna untuk mencegah atau mengatasi pendarahan akibat
defisiensi vitamin K. Defisiensi vitamin K dapat terjadi akibat gangguan absorbsi,
berkurangnya bakteri yang mensintesis vitamin K pada usus dan pemakaian anti
koagulan tertentu yang dapat mempengaruhi aktivitas vitamin K.
       Defisiensi vitamin K akibat asupan yang tidak mencukupi jarang terjadi,
karena vitamin K terdapat pada banyak jenis makanan dan juga disintesis oleh
bakteri usus. Gangguan absorbsi vitamin K dapat terjadi pada obstruksi biliaris dan
gangguan usus seperti sariawan, enteritis, enterokolitis dan reseksi usus. Pemakaian
obat seperti antibiotik dan sulfonamid untuk waktu lama dapat mengurangi bakteri
yang mensintesis vitamin K di usus.
2.2.4.4 Posologi
       Tablet fitoadion (vitamin K1) 5 mg. Emulsi fitonadion yang mengandung 2
atau 10 mg/ml, untuk parenteral. Tablet menadion 2,5; dan 10 mg. Larutan
menadion dalam minyak yang mengndung 2, 10, dan 25 mg/ml, untuk pemakain
IM. Tablet menadion bisulfit 5 mg. Larutan menadion natrium bisulfit yang
mengandung 5 dan 10mg/ml, utnuk pemakaian parenteral. Tablet menadiol natrium
difosfat 5 mg. Larutan menadiol natrium difosfat 5 dan 10 mg/ml, untuk pemakaian
parenteral.
2.3 Mineral dalam Jumlah Relatif Banyak
 2.3.1   Kalsium
            Kalsium merupakan mineral yang paling banyak didapatkan di dalam
         tubuh. Untuk absorpsinya diperlukan vitamin D. Kebutuhan kalsium
         meningkat pada masa pertumbuhan, selama laktasi dan pada wanita
         pascamenopause. Bayi yang mendapat susu buatan memerlukan tambahan
         kalsium. Selain itu asupan kalsium juga perlu ditingkatkan bila makanan
         banyak mengandung protein atau fosfor. Banyak peneliti yang menganjurkan
         asupan sekitar 1,2 g/hari untuk pasien alkoholik, sindrom malbsorbsi dan
         pasien yang mendapat kortikosteroid, isoniazid, tetrasiklin atau antasid yang
         mengandung aluminium.
 2.3.2   Fosfor
            Mineral ini terlibat dalam penggunaan vitamin B kompleks di dalam
         tubuh. Fosfor terdapat pada semua jaringan tubuh dan di dalam tulang dan
         gigi didapatkan dalam jumlah yang hampir sama dengan kalsium. Fosfor
         sangat penting sebagai bufer cairan tubuh. Lemak, protein, karbohidrat, dan
         berbagai enzim yang berperan dalam transfer energi mengandung mineral ini.
         Makanan dengan komposisi yang baik sudah mengandung fosfor yang cukup.
         Perbandingan kandungan kalsium dan fosfor dalam makanan dianjurkan 1:1.
         pada orang dewasa defisiensi umumnya tidak terjadi kecuali pada
         alkoholisme, pengguanaan antasid yang tidak dapat diabsorbsi utnuk jangka
         lama, muntah berkepanjangan, pasien penyakit hati atau hiperparatiroidisme.
 2.3.3   Magnesium
            Magnesium mengaktivasi banyak sistem enzim (misalnya alkali fosfatase,
         leusin aminopeptidase) dan merupakan kofaktor yang penting pda fosforilasi
         oksidatif, pengaturan suhu tubuh, kontraktilitas otot dan kepekaan saraf. Pada
         orang sehat dengan makanan yang bervariasi defisiensi magnesium tergantung
         pada jumlah protein, kalsium, dan fosfor yang dimakan.
            Hipomagnesemia meningkatkan kepekaan saraf dan transmisi
         neuromuskuler. Pada keadaan defisiensi berat mengakibatkan tetani dan
        konvulsi. Hipomagnesemia dapat terjadi padapasien alkoholik, kwashiorkor,
        tetani infantil, diabetes, penyakit ginjal, selama terapi diuretik, pada pasien
        yang hanya mendapat makanan secara parenteral, pasca bedah.
           Hipermagnesemia menyebabkan vasodilatasi perifer dan hilangnya refleks
        tendon, mempunyai efek seperti kurare pada sambungan saraf-otot dan
        menghambat pelepasan katekolamin dari kelenjar adrenal. Kegagalan
        pernapasan dan henti jantung dapat terjadi setelah dosis sangat besar.
2.3.4   Kalium
           Perbedaan kadar kalium (kation utama dalam cairan intrasel) dan natrium
        (kation utama dalam cairan ekstrasel) mengatur kepekaan sel, konduksi
        impuls saraf dan keseimbangan dan volume cairan tubuh.
        Meskipun defisiensi jarang terjadi pada individu yang mendapat makanan
        yang cukup, hipokalemia dapat terjadi pada anak-anak yang makananya tidak
        mengandung protein. Penyebab hipokalemia yang paling sering adalah terapi
        diuretik terutama tiazid. Lain penyebab hipokalemia adalah diare yang
        berkepanjangan terutama pada anak, hiperaldosterinisme, terapi cairan
        parenteral yang tidak tepat atau tidak mencukupi, penggunaan kortikosteroid
        atau laksan jangka lama. Aritmia jantung dan gangguan neuromuskular
        merupakan akibat hipokalemia yang paling berbahaya.
           Hiperkalemia sering disebabkan gangguan ekskresi kalium oleh ginjal
        yang dapat terjadi pada pasien dengan insufisiensi korteks adrenal, gagal
        ginjal akut, gagal ginjal kronik terminal, sumplementasi vitamin K yang tidak
        sesuai dosis atau indikasinya, atau penggunaan antagonis aldosteron. Aritmia
        jantung dan gangguan konduksi merupakan gejala sisa yang paling berbahaya.
        Lain manifestasi hiperkalemia termasuk kelemahan parestesia.
2.3.5   Natrium
           Natrium penting untuk membantu mempertahankan volume dan
        keseimbangan cairan tubuh. Kadarnya dalam cairan tubuh diatur oeh
        mekanisme homeostatik. Banyak ndividu mengkonsumsi natrium melebihi
        dari yang dibutuhkan. Pembatasan natrium seringkali dianjurkan pada pasien
        gagal jantung kongestif, sirosis hati dan hipertensi. Asupan yang kurang dari
         normal yang dimulai sejak masa kanak-kanak dan berlanjut sampai dewasa
         dapat membantu pencegahan hipertensi pada individu tertentu. Akan tetapi
         pembatasan natrium pada wanita sehat selama kehamian tidak dianjurkan.
             Hipernatremia jarang ditemui pada individu sehat tetapi dapat terjadi
         setelah diare atau muntah yang lama terutama pada bayi, pada gangguan
         ginjal, fibrosis kistik atau insufisiensi korteks adrenal, atau pada penggunaan
         diuretik tiazid. Keringat yang berlebihan dapat mengakibatkan kehilangan
         natrium yang banyak dan perlu diganti dalam bentuk air dan NaCl.
 2.3.6   Klorida
             Klorida merupakan anion yang paing penting dalam mempertahankan
         keseimbangan elektrolit. Alkalosis metabolik hipokloremik dapat terjadi
         setelah muntah yang lama atau penggunaan diuretik berlebihan. Kehilangan
         klorida berlebihan dapat menyertai kehilangan natrium berlebih.
         Kemungkinan terjadinya hiperkalemia perlu dipertimbangkan bila terpaksa
         menggunakan KCl sebagai pengganti klorida yang hilang.
 2.3.7   Sulfur
             Beberapa asam amino, tiamin dan biotin mengandung sulfur. Meskipun
         sulfur esensial untuk manusia fungsinya yang tepat selain sebagai komponen
         tersebut diatas tidak diketahui. Demikian pula sampai saat ini belum diketahui
         kebutuhannya perhari.
2.4 Nutrisi Parenteral
     Nutrisi seperti halnya oksigen dan cairan senantiasa dibutuhkan oleh tubuh.
Penderita yang tidak dapat makan atau tidak boleh makan harus tetap mendapat
masukan nutrisi melalui cara enteral (pipa nasogastrik) atau cara parentral (intravena).
Nutrisi parenteral tidak menggantikan fungsi alamiah usus, karena itu hanya merupakan
jalan pintas sementara sampai usus berfungsi normal kembali 1. Tehnik nutrisi
parenteral memang tidak mudah dan penuh liku-liku masaalah biokimia dan fisiologi.
Juga harga relatif mahal tetapi jika digunakan dengan benar pada penderita yang tepat,
pada akhirnya akan dapat dihemat lebih banyak biaya yang semestinya keluar untuk
antibiotik dan waktu tinggal dirumah sakit .Contoh kesalahan yang masih banyak
ditemukan di rumah sakit yaitu Pemberian protein tanpa kalori karbohidrat yang cukup
 dan Pemberian cairan melalui vena perifer dimana osmolaritas cairan tersebut lebih dari
 900 m Osmol yang seharusnya melalui vena sentral.1,2 Jika krisis katabolisme kecil
 sedang tubuh mempunyai cukup cadangan tidak timbul masalah apapun. Penderita
 dewasa mudah sehat dengan status gisi yang baik, dapat menjalani pembedahan, puasa

 5 - 7 hari setelah operasi sembuh dan pulang dengan selamat hanya dengan kerugian

 penurunana berat badan. Tetapi pada kenyataannya lebih banyak penderita yang kondisi
 awalnya sudah jelek ( berat bdan kurang, kadar albumin < 3,5 gr/dl), untuk penderita ini

 puasa puasa pasca bedah / pasca trauma 5 - 7 hari hanya mendapat infus elektrolit

 sudah cukup untuk mencetuskan hipoalbuminemia, hambatan penyenbuhan luka,
 penurunan daya tahan tubuh sehingga infeksi mudah menyebar. Sehingga banyak
 diantara penderita pasca bedah laparotomi karena perforasi ileum ( typhus abdominalis
 ) , invaginasi , volvulus, atau hernia inkarserata kemudian mengalami kebocoran jahitan
 usus yang menyebabkan peritonitis atau enterofistula ke kulit . Dengan bantuan nutrisi
 yang baik penyulit-penyulit fatal ini dapat dihindari. 1,3,3,4,5
~ KEBUTUHAN CAIRAN
       Kebutuhan cairan penderita dewasa pada umumnya sekitar 30-50ml / KgBB /

hari, apabila oligouria cairan yang diperlukan 500 - 600 ml ditambah produksi urine

perhari.untuk orang dewasa ( Berat badan 60 kg ) 5,6.
~ KEBUTUHAN ENERGI
       Energi expanditure harus dihitung agar keseimbangan nitrogen yang lebih baik
dapat dicapai dan dipertahankan. Metode yang digunakan untuk menghitung kebutuhan
energi ada dua cara yaitu dengan rumus Harris-Benedict dan indirect-calorimetry dengan
expired gas analysis 2,5,6,7.
       Harris-Benedict mengkalkulasikan kebutuhan energy seseorang dalam keadaan
istirahat, nonstres, setelah puasa overnigt. Pada keadaan metabolic-stress, maka harus
dikalikan stress faktor.

Rumus Harris - Benedict.

Pr. BEE = 665 + 9,6 BB + 1,7 TB - 4,7 U
Lk BEE = 66 + 13,7 BB + 5 TB - 6,6 U

BEE = K cal/ hari BB: kg TB: cm U ; Thn
Perhitungan diatas mungkin sulit diaplikasikan maka untuk penggunaan klinis sehari-hari

nilai BEE = 25 - 30 k cal/Kg/hari tidak jauh berbeda dengan nlai yang didapat bila kita

menggunakan rumus Harris Benedict 1,5,6,7,8..
Indirect-calorimetry.
Walaupun memberi hasil yang lebih akurat tetapi oleh karena membutuhkan pemeriksaan
laboratorium, teknologi dan mahal maka jarang digunakan untuk perhitungan sehari-hari.


~ KARBOHIDRAT SEBAGAI SUMBER ENERGI
       Beberapa jenis karbohidrat yang lazim menjadi sumber energi dengan perbedaan
jalur metabolismenya adalah : glukosa, fruktosa, sorbitokl, maltose, xylitol 3,4,7.
       Tidak seperti glukosa maka, bahwa maltosa ,fruktosa ,sarbitol dan xylitol untuk
menembus dinding sel tidak memerlukan insulin. Maltosa meskipun tidak memerlukan
insulin untuk masuk sel , tetapi proses intraselluler mutlak masih memerlukannya
sehingga maltose masih memerlukan insulin untuk proses intrasel. Demikian pula
pemberian fruktosa yang berlebihan akan berakibat kurang baik.
Oleh karena itu perlu diketahui dosis aman dari masing-masing karbohidrat :
- Glikosa ( Dektrose ) : 6 gram / KgBB /Hari.
- Fruktosa / Sarbitol : 3 gram / Kg BB/hari.
- Xylitol / maltose : 1,5 gram ?kgBB /hari.
Campuran GFX ( Glukosa ,Gfruktosa, Xylitol ) yang ideal secara metabolik adalah
dengan perbandingan GEX = 4:2:1 3,4,10,11,12.


~ KONSEP YANG PERLU DISAMAKAN PADA PARENTERAL NUTRISI
1.Menggunakan vena perifer untuk cairan pekat.
       Osmolritas plasma 300 mOsmol . Vena perifer dapat menerima sampai maksimal
900 mOsmol . Makin tinggi osmolaritas (makin hipertonis) maka makin mudah terjadi

tromphlebitis, bahkan tromboembli. Untuk cairan > 900 - 1000 mOsm, seharusnya
digunakan vena setrral (vena cava, subclavia, jugularis) dimana aliran darah besar dan
cepat dapat mengencerkan tetesan cairan NPE yang pekat hingga tidak dapat sempat
merusak dinding vena. Jika tidak tersedia kanula vena sentral maka sebaiknya dipilih
dosis rendah (larutan encer) lewat vena perifer, dengan demikian sebaiknya sebelum
memberikan cairan NPE harus memeriksa tekanan osmolaritas cairan tersebut ( tercatat
disetiap botol cairan ) Vena kaki tidak boleh dipakai karena sangat mudah deep vein
trombosis dengan resiko teromboemboli yang tinggi.
2. Memberikan protein tanpa kalori karbohidrat yang cukup.
       Sumber kalori yang utama dan harus selalu ada adalah dektrose. Otak dan eritrosit
mutlak memerlukan glukosa setiap saat. Jika tidak tersedia terjadi gluneogenesis dari
subtrat lain. Kalori mutlak dicukupi lebih dulu. Diperlukan deksrose 6 gram /kg.hari (300
gr) untuk kebutuhan energi basal 25 kcal/kg. Asam amino dibutuhkan untuk regenerasi
sel, sintesis ensim dan viseral protein. Tetapi pemberian asam amino harus dilindungi
kalori, agar asam amino tersebut tidak dibakar menjadi energi (glukoneogenesis) Tiap
gram Nitrogen harus dilindungi 150 kcal berupa karbohidrat. Satu gram Nitrogen setara
6,25 gram protetin. Protein 50 gr memerlukan ( 50 : 6,25 ) x 150 k cal = 1200 kcal atau
300 gram karbohidrat. Kalori dari asam amino itu sendiri tidak ikut dalam perhitungan
kebutuhan kalori .1

- Jangan memberikan asam amino jika kebutuhan kalori belum dipenuhi - 4,5,6,7,8.

3.Tidak melakukan perawatan aseptik.
       Penyulit trombplebitis karena iritasi vena sering diikuti radang/ infeksi. Prevalensi
infeksi berkisar antara 2-30 % Kuman sering ditemukan adalah flora kulit yang terbawa
masuk pada penyulit atau ganti penutup luka infus 1,6,7,8,.


~ PENGHENTIAN NUTRISI PARENTERAL
       Penghentian nutrisi parentral harus dilakukan dengan cara bertahap untuk
mencegah terjadinya rebound hipoglkemia. Cara yang kami anjurkan adalah melangkah
mundur menuju regimen hari pertama. Sementrara nutrisi enteral dinaikkan kandungan
subtratnya. Sesudah tercapai nutrisi enteral yang adekuat (2/3 dari jumlah kebutuhan
energi total) nutrisi enteral baru dapat dihentikan.6,7,8,9,10.
                                    BAB III
                                  PENUTUP
3.1. Kesimpulan
       Bukan cuma kekurangan yang bisa menimbulkan dampak negatif, tetapi
kelebihan vitamin dan mineral juga tak baik bagi tumbuh-kembang tubuh.
Terdapat 2 macam golongan vitamin dalam dunia kesehatan yaitu vitamin yang
dapat larut dalam air dan vitamin yang dapat larut dalam lemak. Disamping hal
tersebut mineral juga berperan penting dalam tubuh kita. Mineral merupakan
suatu zat yang berguna untuk tubuh kita.
       Nutrisi parenteral tidak bertujuan menggantikan kedudukan nutrisi enteral
lewat usus yang normal. Segera jika usus sudah berfungsi kembali, perlu segera
dimulai nasogastric feeding, dengan sediaan nutrisi enteral yang mudah dicerna.
Nutrisi parenteral dapat diberikan dengan aman jika megikuti pedoman diatas.
Karena tubuh penderita perlu waktu adapatasi terhadap perubahan mekanisme

baru maka selama penyesuaian tersebut jangan memberi beban yang berlebihan: -

START SLOW GO SLOW- OBSERVE CAREFULLY, TREAT

IMMEDIATELY-

       Perbaikan dari komposisi subtrat nutrisi, perbaikan tehnik, pengetahuan,
skala prioritas dalam support metabolik dan bedside monitor, dibutuhkan untuk
mencapai recovery yang maksimal.
Saat ini ditemukan immunonutrition yang bertujuan untuk meningkatkan immune
respons pada pasien-pasien critical ill agar supaya outcome klinis dapat diperbaiki
dan lama rawat rumah sakit dapat diturunkan seperti arginine, glutamine, glycine,
(golongan asam amino),fatty acids, nucleotide.
                             DAFTAR PUSTAKA




1. Rahardjo. E : Dukungan Kombinasi Nutrisi Enteral-Parenteral, 2nd Symposium Life
Support & Critical Care on Trauma & Emergency Patients. Surabaya. 2002.
2. http://www.bigseekpro.com/search/Vitamin-dan-
mineral.html/14.30/selasa
3. Mardjono Mahar: Farmakologi dan Terapi. edisi 4. Gaya Baru, Jakarta.
1998.
4. http://artikel-kesehatan.blogspot.com/konsep-dasar-nutrisi-
parenteral.html.

				
DOCUMENT INFO
Stats:
views:2456
posted:5/9/2012
language:Malay
pages:24