Ustadz Menjawab bersama Ust. H. Ahmad Sarwat_ Lc

					                                                                                                                         1




Ustadz Menjawab bersama Ust. H. Ahmad Sarwat, Lc.


Apakah Rasulullah Pernah Melarang Penulisan
Hadits?
Minggu, 1 Jun 08 04:17 WIB

Assalamu'alaikum wr. wb.

Ustadz, saya mau bertanya, apakah benar Rasulullah pernah melarang penulisan hadist? Terima kasih atas
jawabannya.

Roni Imron Rosadi
ronirosadi

                                                        Jawaban

                                                                                     ‫ال س الم ع ل ي كم ورحمة هللا وب رك ات ه‬
                                          ‫ب سم هللا ال رحمن ال رح يم ال حمد هلل وال ص الة وال س الم ع لى ر سول هللا ، وب عد‬

Di masa awal turunnya Al-Quran Al-Kariem, Rasulullah SAW memang pernah melarang para shahabat
untuk menulis hadits-hadits beliau selain Al-Quran. Larangan ini sifatnya umum, namun dengan
pengecualian beberapa orang shahabat yang dibolehkan bahkan diperintahkan untuk menulis hadits.

Di antara latar belakangnya adalah karena dikhawatirkan para shahabat akan mengalami kerancuan dan
tidak bisa membedakan mana yang ayat Al-Quran dan mana yang hadits nabi SAW. Sehingga kebijakan
yang diambil saat itu, bahwa para shahabat hanya dibolehkan menuliskan ayat-ayat Al-Quran saja,
sedangkan hadits nabi SAW cukup diingat-ingat dan dihafal.

Apalagi mengingat tingkat kepentingannya belum terlalu mendesak. Bukankah hadits itu adalah perkataan,
perbuatan dan taqrir nabi SAW? Lantas buat apa ditulis apabila nabi SAW masih ada bersama mereka?
Kalau ada hal-hal yang mereka tidak tahu, mereka bisa langsung bertanya kepada beliau, bukan?

Namun sebagian orang memang secara khusus diperintahkan oleh beliau SAW untuk menulis hadits. Di
masa Rasulullah SAW masih hidup, tidak kurang ada 52 orang shahabat yang kerjanya menulis dan
mencatat hadits-hadits beliau. Sedangkan di kalangan tabi`in ada 247 orang yang melakukan hal serupa.

Pernyataan bahwa Rasulullah SAW melarang para shahabat untuk menulis hadits seringkali dimanfaatkan
secara jahat oleh para orientalis untuk menafikan hadits-hadits nabawi serta menuduh bahwa hadits itu
tidak bisa dipertanggung-jawabkan keasliannya. Mereka seringkali menyebutkanbahwa hadits baru ditulis
seratus tahun lebih setelah Rasulullah SAW wafat. Sehingga sangat besar kemungkinan terjadinya
pemalsuan.Tuduhan ini pun seringkali mengecoh orang awam untuk membenarkan tasykik (menyusupkan
keragu-raguan).

Jadi memang benar Rasulullah SAW pernah melarang penulisan hadits di zamannya, namun tidak benar
bahwa hadits ditulis ratusan tahun setelahnya. Yang benar adalah bahwa secara umum ada pelarangan
untuk menulis hadits, namun secara khusus dan kepada orang-orang tertentu, Rasulullah SAW justru
memerintahkan penulisan hadits.

‫وهللا أع لم ب ال صواب وال س الم ع ل ي كم ورحمة هللا وب رك ات ه‬

Ahmad Sarwat, Lc.


Bagaimana Kita Memahami Sunnah?
Jumat, 18 Apr 08 03:42 WIB

Asssalamu alaikum
Saya pernah membaca sebuah buku, yang mengatakan (menurut ingatan saya) tidak semua kelakuan nabi
shallallahu 'alaihi wasallam itu sunnah/ pantas untuk diikuti umatnya, sebenarnya sunnah itu yang
bagaimana!?
                                                                                                           2

Karena, menurut pelajaran sekolah sunnah itu, adalah segala ucapan dan tingkah laku nabi shallalahu 'alahi
wasallam, dasn bagaimana pula hukumnya jika kita tau suatu hal adalah sunnah, namun kita tidak
melakukannya, syukran

A Bu Arkaan

                                            Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sebenarnya yang terjadi memang agak lucu, karena ternyata istilah sunnah itu dipakai oleh banyak
kalangan, namun dengan pengertian masing-masing. Sehingga ketika mereka saling berkomunikasi dengan
cara yang tidak komunikatif, terjadilah kesalah-pahaman itu.

Sebelum kami jelaskan lebih lanjut di mana letak titik masalah, kami ingin menceritakan sebuah kisah
pengalaman lucu. Mungkin bisa membantu menjelaskannya.

Pada suatu hari datang seorang tamu istimewa ke rumah kami. Beliau bernama Tuan Ismail, berasal dari
negeri jiran, Malaysia. Beliau berkantor di dekat kediaman kami, Kedutaan Besar Malaysia dan menjabat
sebagai Atase Agama di Kedutaan itu.

Ceritanya, beliau bertamu ingin mengundang kami menghadiri malam tahun baru Islam, 1 Muharram yang
diselenggarakan oleh pemerintah Malaysia di Indonesai. "Kami akan menjemput ustadz untuk menghadiri
acara tersebut, " begitu perkataan beliau.

Kami agak ragu dengan ucapannya, maka sambil sedikit berpikir kami bertanya menegaskan kepada Tuan
Ismail, "Maaf tuan Ismail, saya minta penjelasan, apakah yang Tuan maksud dengan ingin 'menjemput'
saya? Apakah Tuan ingin mengirim sopir dengan membawa mobil ke rumahsaya?
Apakahsaya diminta naik mobil tuan menghadiri acara itu di Kedutaan Malaysia, yang letaknya hanya 100-
an meter dari rumah saya?", begitu kami tanyakan.

Tuan Ismail agak kaget sebentar, tetapi kemudian wajahnya merah karena rasa malu. Buru buru beliau
menjelaskan, "Mohon maaf ustadz, yang kami maksud dengan 'menjemput' ustadz memang bukan
menjemput pakai mobil. Menjemput itu maksudnya adalah kami mengundang ustadz untuk hadir di
Kedutaan kami."

"Wah, untung saya tanya dulu, coba seandainya tidak, bisa jadi nanti saya duduk seharian menunggu
jemputan yang tidak akan pernah datang", begitu saja mencandainya. Tuan Ismail tergelak mendengarnya.

Ternyata kata 'menjemput' dalam bahasa Malaysia artinya dalam bahasaIndonesia adalah mengundang.
"Tuan Ismail, jangan-jangan negara Tuan dan negara kami sering hampir jatuh ke kancah peperangan
hanya gara-gara salah pengertian dalam penggunaan istilah, ya, " begitu canda kami. Beliau pun terkekeh-
kekeh mendengarnya sambil mengiayakan. "Benar tu ustadz, kita nisering silap dan salah paham, karena
bahasa kite berbeza."

Istilah sunnah memang punya banyak pengertian. Sayangnya, masing-masing pengertian itu jauh berbeda
maknanya. Sehingga sering kali orang keliru memahami konteks istilah sunnah yang digunakan.

Perbedaan Makna Sunnah dari Berbagai Sudut Pandang

1. Makna Sunnah dari Segi Bahasa
Makna kata 'sunnah' secara bahasa punya banyak arti, di antaranya adalah:
     At-Thariqah (metode)
     Al-'Aadah (kebiasaan)
     As-Sirah (sejarah/riwayat/kehidupan)

Maka jangan mudah salah paham dulu kalau mendengar ungkapan bahwa menikah adalah sunnah para
nabi. Maksudnya adalah bahwa para nabi itu punya kebiasaan atau kehidupan dengan cara menikah dengan
wanita, tidak hidup membujang seperti yang dipahami oleh saudara kita yang Kristiani.
Para nabi punya sunnah menikah, artinya mereka semua menikah dan hidup berumah tangga, beranak dan
punya keturunan.

Dan bukan berarti menikah itu hukumnya sunnah, seperti istilah yang digunakan oleh para ahli fiqih. Sebab
hukum menikah menurut para ahli fiqih bukan hanya sunnah, melainkan ada lima hukumnya.
Menikah itu hukumnya bisa wajib, bisa sunnah, bisa mubah, bisa makruh dan bisa juga haram. Itu adalah
hukum menikah dalam pandangan para ulama fiqih yang memang kapasitasnya sebagai ahli hukum.

2. Sunnah Menurut Ahli Fiqih
Para ahli fiqih punya istilah sunnah yang mereka definisikan dengan beberapa batasan.
Sebagian ahli fiqih mengatakan bahwa sunnah itu adalah sebuah perbuatan yang bila dikerjakan akan
mendatangkan pahala dan bila tidak dikerjakan tidak mendatangkan dosa bagi pelakunya.

Lihat kitab Al-Fatawa Al-Hindiyah jilid 1 halaman 67, juga kitab Ibnu Abidin jilid 1 halaman 70.
                                                                                                            3

Sementara sebagian ahli fiqih lainnya membuat batasan bahwa sunnah adalah perbuatan yang selalu
dikerjakan oleh Nabi Muhammad SAW, namun tidak sampai menjadi kewajiban karena tidak ada dalil
yang menunjukkan atas kewajibannya.

Bisa kita baca dalam kitab Ibnu Abidin jilid 1 halaman 80 dan 404. Juga kitab Jawahirul Iklil jilid 1
halaman 73.

Ulama lain mendefinisikan sebagai metode dalam beragam yang tidak sampai difardhukan atau diwajibkan.
Lihat kitab Kasyful Asrar oleh Al-Bazdawi jilid-jilid halaman 302.

3. Sunnah Menurut Ilmu Ushul (Ushuliyyin)
Yang dimaksud dengan sunnah adalah salah satu sumber hukum Islam. Kedudukannya setelah Al-Quran.
Sering juga disebut dengan istilah sunnah nabi atau sunnah nabawiyah.

Pengertiannya adalah segala yang dinisbahkan kepadaNabi Muhammad SAW baik berupa perbuatan,
perkataan dan taqrir. Sehingga kita mengenal ada sunnah fi'liyah, sunnah qauliyah dan sunnah taqririyah.

Dalam pengertian ini, sunnah itu merupakan muradif (sinonim) dari istilah hadits nabawi. Jelas berbeda
dengan pengertian sunnah menurut para fuqaha ilmu fiqih.

Para ulama fiqih menyebut sunnah dalam kapasitas sifat atas suatu hukum. Misalnya hukumnya puasa
Senin Kamis itu sunnah. Sedangkan menurut ulama ushul, sunnah itu adalah benda, yaitu kitab hadits yang
berisi perkataan, perbuatan dan taqrir dari nabi Muhammad SAW.

Titik Temu Antara Semuanya
Kalau ada ungkapan bahwa kita harus berpegang teguh kepada sunnah Rasulullah SAW, maka ungkapan
ini harus kita pahami sebagai hadits nabi SAW, yang merupakan sumber dari sumber-sumber syariah Islam.
Maka ungkapan ini menjadi benar, tentu saja. Sebab kita memang harus menjadi hadits nabi SAW sebagai
sumber dalam menjalankan agama Islam.

Namun pengertianya akan menjadi tidak selalu tepat kalau ditempatkan bukan pada tempatnya. Misalnya,
ada orang yang mengatakan bahwa shalat qabilyah dan ba'diyah itu harus kita pegang teguh, bahkan wajib
dilaksanakan. Sebab nabi Muhammad SAW selalu mengerjakannya.

Nah, di sini akan terlihat jelas bedanya. Shalat qabliyah dan ba'diyah itu memang selalu dikerjakan oleh
Nabi Muhammad SAW, namun bukan berarti hukumnya wajib. Para ulama tidak pernah menghukumi
kedua jenis shalat itu sebagai kewajiban, meski merupakan pekerjaan yang tidak pernah ditinggalkan oleh
nabi SAW.

Mengapa demikian?

Kita tahu bahwa ternyata tidak semua pekerjaan yang dilakukanoleh nabi SAW, hukumnya menjadiwajib.
Ada yang hukumnya memang wajib, tapi ada juga yang hukumnya sunnah, bahkan ada yang hukumnya
mubah, makruh hingga sampai ke haram.

Lho sunnah nabi kok haram?

Ya, bisa saja sunnah nabi menjadi haram. Sebab sunnah nabi itu maksudnya adalah perbuatan nabi. Dan
ada beberapa perbuatan nabi yang hukumnya haram dikerjakan oleh umatnya.

Misalnya berpuasa wishal, yaitu puasa yang bersambung terus beberapa hari tanpa berbuka. Nabi
Muhammad SAW diriwayatkan secara shahih telah melakukannya, namun beliau melarang umatnya untuk
melakukannya.

Contoh lain adalah beristeri lebih dari empat wanita secara bersamaan. Beliau diriwayatkan beristerikan 9
orang, atau ada yang bilang 11 orang. Jelas sekali riwayat itu sampai kepada kita dan kita semua sepakat
membenarkannya.

Namun jelas juga hukumnya bagi umat Islam tentang keharaman beristri lebih dari 4 orang wanita. Walau
pun nabi Muhammad SAW malah beristeri lebih dari empat orang.

Selain itu ada juga perbuatan yang menjadi wajib bagi nabi Muhammad SAW, namun bagi ummatnya
malah tidak wajib. Misalnya shalat witir di malam hari (tahajjud). Sebagai umatnya, kita tidak diwajibkan
untuk melakukannya, hukumnya buat kita hanya sunnah. Sedangkan buat nabi Muhammad SAW,
hukumnya wajib.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
______________________________________________________________________________________


Cara Menjelaskan Masalah Bid'ah?
Selasa, 22 Agu 06 12:05 WIB
                                                                                                         4

Assalamu'alaikum, Ustadz.

Mohon maaf sebelumnya, saya membaca jawaban ustadz tentang ucapan ushalli sebelum shalat. Intinya
ustadz menjelaskan bahwa mengatakan bid'ah kepada sesama muslim yang masih melakukan hal itu adalah
tidak baik. Yang saya tanyakan, walaupun kita tahu masalah ini adalah khilaf para ulama sejak dahulu
namun apakah tidak boleh bila seseorang yang meyakini dengan ilmu mencoba memberikan nasehat yang
baik kepada saudaranya (walaupun saudaranya tersebut awam) bahwa ucapan ushalli itu bid'ah sesuai yang
dia yakini? Apakah dikarenakan saudaranya masih melakukan hal itu kita jadi tidak menasihatinya karena
takut memecah belah umat? Bukankah kita wajib meluruskan saudara kita sesuai dengan kemampuan kita?

Kemudian yang saya herankan pada sebagian saudara kita, bila ada sesama saudaranya menasihatinya
bahwa dia telah melakukan perbuatan bid'ah atau hal buruk lainnya kemudian dia menganjurkan
saudaranya tersebut untuk bisa bersikap toleran dan mengakui perbedaan pendapat dan tidak menuduhnya
telah berbuat bid'ah. Bukankah dia juga seharusnya bersikap toleran terhadap saudaranya yang telah
menuduhnya bid'ah tersebut karena yang saudaranya yakini adalah seperti itu? Bukankah kita juga
dianjurkan untuk bersikap toleran kepada saudara kita yang berbeda pendapat walaupun pendapatnya
mungkin menyakiti kita? Mohon penjelasan ustadz. Terima kasih.

Ricky Aditya
alfarisi

                                                Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Menjelaskan duduk permasalahan suatu perbedaan pendapat dari sebuah hukum, tentu saja baik dan bahkan
perlu dilakukan. Akan tetapi hal itu sangat berbeda dengan 'main tuduh' atau 'asal tuding'.

Misalnya dalam masalah 'ushalli' yang anda contohkan. Kalau seorang ustadz berceramah dan mengatakan
bahwa masalah itu merupakan khilaf di kalangan ulama, ada yang menganjurkan tapi juga ada yang
melarangnya, dengan masing-masing dilengkapi dengan landasannya, tentu saja hal itu sangat positif.
Karena dengan keterangan seperti itu, masyarakat jadi tahu kedudukan sebenarnya masalah khilaf itu.

Bahwa ustadz itu kemudian lebih cenderung memilih salah satu pendapat, juga tidak mengapa. Asalkan
beliau tidak sambil memaki, mengejek, menghina atau melecehkan pendapat lainnya.

Gambaran cara penjelasan yang tidak simpatik adalah seorang ustadz yang sejak awal sudah memaki-maki,
melecehkan bahkan langsung main tuduh bahwa siapa pun yang melakukan perbuatan ini, pasti sesat, ahli
bid'ah, pasti masuk neraka dan seterusnya. Padahal masalah itu masih menjadi polemik (khilaf) di kalangan
para ulama. Artinya dengan demikian, pak ustadz ini langsung menggiring audience-nya untuk berpihak
kepada pendapatnya, sekaligus menebarkan rasa kebencian kepada pendapat yang berbeda dengannya.

Bahkan tidak jarang, cara-cara yang seperti ini cenderung menghadirkan kebingungan di kalangan umat.
Apalagi bila kebetulan umumnya para pendengar termasuk kalangan yang berbeda pedapat dengan pak
ustadz tersebut. Akhirnya, makin besarlah rasa perbedaan yang diiringi dengan kebencian di kalangan
umat.

Menjelaskan Masalah Bid'ah

Tidak ada yang salah ketika kita menjelaskan masalah bid'ah kepada umat ini. Justru penjelasanitu menjadi
wajib untuk disampaikan, mengingat besarnya bahaya bid'ah.

Akan tetapi yang mutlak tidak boleh dilupakan adalah bahwa masalah vonis bid'ah ini tidak pernah sepi
dari perbedaan pendapat. Hal ini menunjukkan bahwa tiap ulama punya ijtihad dan hujjah masing-masing,
di mana sangat mungkinkan bahwa suatu perkara dianggap bid'ah oleh ulama A, tapi tidak dianggap bid'ah
oleh ulama B. Atau boleh jadi penggunaan istilah bid'ah itu sendiri punya pengertian dan cakupan yang
saling berbeda antara satu ulama dengan ulama lain.

Maka menjadi sangat tidak mungkin bagi kita untuk menggeneralisir begitu saja semua masalah bid'ah
menjadi satu versi saja. Sebab yang namanya ulama itu bukan hanya ada satu saja di dunia ini. Sehingga
kehati-hatian, ketelitian serta kematangan pemahaman akan masalah bid'ah dan pengertiannya ini menjadi
krusial bagi seorang penceramah.

Bila sebuah masalah sudah disepakati kebid'ahannya oleh semua lapisan ulama baik salaf maupun khalaf,
tentu saja kita wajib menyampaikannya kepada khalayak. Sebab kita wajib melindungi umat dari bahaya
bid'ah.

Akan tapi kalau masih ada perbedaan di dalam suatu masalah, Apakah termasuk bid'ah atau bukan, di mana
para ulama sendiri masih berpolemik, maka yang lebih bijak untuk kita lakukan adalah berpegang kepada
kejujuran ilmiyah. Katakan bahwa sebagian ulama membid'ahkannya tapi sebagian lainnya tidak sampai
demikian. Tidak ada ruginya menjalankan kejujuran, bahkan kejujuran adalah bagian dari ketinggian ilmu
                                                                                                          5

seorang ustadz. Dan tidak perlu malu mengatakan hal demikian, toh kewajiban kita hanya menyampaikan
saja.

Kita tidak diminta Allah menjadi orang yang paling bertanggung-jawab atas tersebarnya masalah bid'ah di
tengah umat. Sehingga kita tidak perlu berkeluh-kesah atas masih bertaburannya bid'ah. Yang diminta oleh
Allah kepada kita hanyalah menyampaikan dengan lemah lembut, penuh rasa kasih, serta dengan mengajak
secara baik-baik.

Allah SWT tidak meminta kita untuk memerangi orang yang masih melakukan bid'ah dengan cara memaki,
mencaci, mencela, melecehkan atau menyakiti hati mereka. Apalagi dengan cara memboikot, menelikung,
mengucilkan, tidak bertegur sapa, atau cara-cara kasar lainnya. Semua itu tidak akan pernah menyelesaikan
masalah, justru akan membuat umat semakin membenci dan berlari dari kita.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,


Perbuatan Nabi yang Tidak Harus Diikuti
Rabu, 25 Jul 07 09:49 WIB

Assalaamu'alaikum ustadz

Saya membaca jawaban ustadz mengenai ayat-ayat Al-quran yang bertolak belakang, di sana ustadz
mengatakan bahwa ada dari Nabi yang wajib, sunnah, bahkan haram kita ikuti/teladani,

Yang saya tanyakan, bagaimana hubungannya dengan wajibnya kita mengikuti sunnah beliau?

Terimakasih atas,

Wassalam

Shaliha

                                                 Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Pada dasarnya seroang nabi pnya peran sebagai panutan buat umatnya. Sehingga umatnya wajib
menjadikan diri seorang nabi sebagai suri tauladan dalam hidupnya.

Namun perlu juga diketahui bahwa tidak semua perbuatan nabi menjadi ajaran yang wajib untuk diikuti.
Memang betul bahwa para prinsipnya perbuatan nabi itu harus dijadikan tuntunan dan panutan dalam
kehidupan. Akan tetapi kalau kita sudah sampai detail masalah, ternyata tetap ada yang menjadi wilayah
khushushiyah beliau.

Ada beberapa amal yang boleh dikerjakan oleh nabi tetapi haram buat umatnya. Di sisi lain ada amal yang
wajib buat nabi tapibuat umatnya hanya menjadi sunnah. Lalu ada juga yang haram dikerjakan oleh nabi
tetapi justru boleh bagi umatnya.

Marilah kita telaah lebih lanjut masalah ini dengan contoh-contoh langsung agar lebih jelas.

I. Boleh Buat Nabi Haram Bagi Umatnya

Ada beberapa perbuatan hanya boleh dikerjakan oleh Rasulullah SAW, sebagai sebuah pengecualian.
Namun buat kita sebagai umatnya justru haram hukumnya bila dikerjakan. Contohnya antara lain:

1. Berpuasa Wishal

Puasa wishal adalah puasa yang tidak berbuka saat Maghrib, hingga puasa itu bersambung terus sampai
esok harinya. Nabi Muhammad SAW berpuasa wishal dan hukumnya boleh buat beliau, sementara
umatnya justru haram bila melakukannya.

2. Boleh Beristri Lebih Dari 4 WAnita

Contoh lainnya adalah masalah kebolehan poligami lebih dari 4 isteri dalam waktu yang bersamaan.
Kebolehan ini hanya berlaku buat Rasulullah SAW seorang, sedangkan umatnya justru diharamkan bila
melakukannya.
                                                                                                         6

II. Yang Wajib bagi Nabi Sunnah bagi Ummatnya

Sedangkan dari sisi kewajiban, ada beberapa amal yang hukumnya wajib dikerjakan oleh Rasulullah SAW,
namun hukumnya hanya sunnah bagi umatnya.

1. Shalat Dhuha'

Shalat dhuha' yang hukumnya sunnah bagi kita, namun buat nabi hukumnya wajib.

2. Qiyamullail

Demikian juga dengan shalat malam (qiyamullaih) dan dua rakaat fajar. Hukumnya sunnah buat kita tapi
wajib bagi Rasulullah SAW.

3. Bersiwak

Selain itu juga ada kewajiban bagi beliau untuk bersiwak, padahal buat umatnya hukumnya hanya sunnah
saja.

4. Bermusyawarah

Hukumnya wajib bagi nabi SAW namun sunnah buat umatnya

5. Menyembelih kurban (udhhiyah)

Hukumnya wajib bagi nabi SAW namun sunnah buat umatnya.

6. Mushabarah

Mushabarah boleh dipahai sebagai bertahan dan sabar ketika menghadapi lawan,

7. Mencegah kemungkaran dalam setiap keadaan

Dan tentunya masih banyak lagi yang tidak disebutkan di sini.

III. Yang Haram Buat Nabi tapi Boleh buat Ummatnya

Sekarang kita bahas apa saja perbuatan yang hukumnya haram buat nabi, sedangkan buat umatnya malah
dibolehkan. Di antaranya adalah:

1. Menerima Harta Zakat

Semiskin apapun seorang nabi, namun beliau diharamka menerima harta zakat. Demikian juga hal yang
sama berlaku buat keluarga beliau (ahlul bait).

2. Makan Makanan Yang Berbau

Segala jenis makanan yang berbau kurang sedang hukumnya haram buat beliau, seperti bawang dan
sejenisnya. Hal itu karena menyebabkan tidak mau datangnya malakat kepadanya untuk membawa wahyu.

Sedangkan buat umatnya, hukumnya halal, setidaknya hukumnya makruh. Maka jengkol, petai dan
makanan sejenisnya, masih halal dan tidak berdosa bila dimakan oleh umat Muhammad SAW.

3. Haram Menikahi Wanita Ahlulkitab

Karena isteri nabi berarti umahat muslim, ibunda orang-orang muslim. Kalau isteri nabi beragam nasrani
atau yahudi, maka bagaimana mungkin bisa terjadi.

Sedangkan buat umatnya dihalalkan menikahi wanita ahli kitab, sebagaimana telah dihalalkan oleh Allah
SWT di dalam Al-Quran surat Al-Maidah ayat 3.

4. Menikahi Wanita Yang Tidak Hijrah ke Madinah

5. Melepas Pakaian Perang bila Telah Dikenakan hingga selesai Perang

Semua contoh di atas merupakan hasil istimbath hukum para ulama dengan cara memeriksa semua dalil
baik yang ada di dalam Al-Quran maupun yang ada di dalam sunnah nabi SAW.
                                                                                                            7

Kajian tentang ini tentu menarik untuk disimak, agar kita bisa lebih paham dan lebih mengerti syariah
Islam, serta tahu bagaimana cara kita menjadi umat Muhammad SAW. Ternyata kalau kita dalami, ada
banyak masalah yang perlu kita ketahui terkait dengan hubungan kita dengan beliau SAW sebagai panutan
dan suri tauladan kita.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,


Khilafiyah, Bukankah Kebenaran Hanya Satu?
Minggu, 20 Mei 07 05:16 WIB

Ustadz yang dirahmati ALLOH,

Bagaimana kita harus memandang masalah khilafiyyah, bukankah kebenaran itu hanya satu?, maksud ana,
kalaupun di antara hal yang menjadi khilaf itu -katakanlah semua benar- bukankah di antaranya keduanya
ada nash yang paling kuat, ambil contoh isbal di mana Ibnu Hajar dan Syaikh Bin Baz berselisih, dengan
contoh tersebut bukankah ada nash paling kuat?, dan kewajiban kita mengikuti nash yang paling kuat itu.

Mohon penjelasannya.

JazakumuLLOH,

Mas Wiryo

Jawaban

Assalamu 'alaikum waramatullahi wabarakatuh,

Kalau kita bicara pada konteks aqidah Islam yang bersifat asasi dan fundamental, maka prinsipnya
kebenaran memang hanya ada satu. Pada masalah fiqhiyah yang bersifat qathi'i dan menjadi ijma' para
ulama, kebenaran memang hanya ada satu.

Namun ketika kita memasuki wilayah furu' (cabang), kebenaran bisa menjadi banyak, karena pengaruh bias
dalil yang ada. Boleh jadi nash atau dalil teks yang digunakan sama, namun cara mengambil kesimpulannya
berbeda. Seperti dalam masalah quru', yaitu masa iddah seorang wanita yang ditalak suaminya. Bahkan
terkadang ada beberapa nash dalil yang keshahihannya diperselisihkan, seperti masalah shalat tasbih.

Nash Yang Paling Kuat Tidak Selalu Sama Dengan Kebenaran

Mungkin anda heran dan kaget dengan pernyataan di atas. Tetapi ketahuilah bahwa tolok ukur kebenaran
bukan semata-mata kekuatan nash. Bukan hanya karena suatu hadits dianggap shahih, lantas apa yang
dipahami dari hadits itu adalah pasti kebenaran. Tidak demikian saudaraku.

Sebab boleh jadi suatu hadits itu sudah muttafaqun 'alaihi, tidak ada yang berselisih tentang keshahihannya.
Namun tetap saja masih mungkin terjadi beda pendapat dalam menerapkan hadits itu dalam kasus hukum.

Adakah hadits yang lebih shahih dari ayat Al-Quran? Jawabnya pasti tidak ada. Al-Quran adalah hadits
yang mutawatir dengan beberapa kelebihan. Tetapi tetap saja ulama berbeda pendapat tentang pengertian
hukum dan kesimpulan aplikatif suatu ayat. Dan jumlah ayat ahkam yang diperselisihkan sejumlah ayah
ahkam itu sendiri. Padahal semuanya shahih bahkan mutawatir, tetapi tetap saja ada khilaf di dalamnya.

Apalagi mengingat bahwa keshahihan suatu hadits ternyata bukan hal yang qath'i. Buktinya tidak semua
hadits dalam shahih bukhari dikatakan shahih oleh Albani. Meski hal itu dikritik oleh para muhaddits lain.
Bahkan Albani sendiri sering bersikap mendua ketika menyatakan status hukum suatu hadits. Di dalam satu
kitab beliau mengatakan A dan di kitab lain beliau bilang B, untuk satu hadits yang sama.

Apa yang dibilang sebagai hadits palsu oleh Ibnul Jauzi ternyata dishahihkan oleh Al-Bukhari dan Albani.
Misalnya tentang hadits shalat tasbih.

Maka, kebenaran bukan ditentukan oleh semata shahih atau tidaknya suatu nash. Bahkan keshahihan itu
adalah semata produk ijtihad manusiawi.

Khilaf Sudah Ada Sejak Masa Nabi SAW

Di masa nabi sendiri, khilaf bukan tidak pernah terjadi. Bahkan khilaf terjadi di depan hidung Rasulullah
SAW sendiri. Ingat peristiwa shalat Ashar di perkampungan bani Quraidhah?
                                                                                                         8

Para shahabat terpecah dua, sebagian shalat Ashar di perkampungan Bani Quraidhah, meski telah lewat
Maghrib, karena pesan nabi adalah, "Janganlah kalian shalat Ashar kecuali di perkampungan Bani
Quraidhah." Namun sebagian yang lain tidak shalat di sana, tetapi di tengah jalan namun pada waktunya.

Lalu apa komentar nabi, adakah beliau membela salah satu pendapat. Jawabnya tidak. Beliau tidak
menyalahkan kelompok mana pun karena keduanya telah melakuka ijtihad dan taat kepada perintah. Hanya
saja, ada perbedaan dalam memahami teks sabda beliau. Jadi, khilaf di masa kenabian sudah terjadi dan
tetap menjadi khilaf.

Khilaf Perang Badar

Terkadang khilaf bukan terjadi hanya di antara shahabat nabi saja, namun terjadi juga antara nabi SAW
dengan para shahabatnya.

Dalam kasus penempatan pasukan perang di medan Badar, terjadi perbedaan pendapat antara Rasulullah
SAW dengan seorang shahabat. Menurut shahabat yang ahli perang ini, pendapat Rasulullah SAW yang
bukan berdasarkan wahyu kurang tepat. Setelah beliau menjelaskan pikirannya, ternyata Rasulullah SAW
kagum atas strategi shahabatnya itu dan bersedia memindahkan posisi pasukan ke tempat yang lebih
strategis.

Di sini, nabi SAW bahkan menyerah dan kalah dalam berpendapat dengan seorang shahabatnya. Namun
beliau tetap menghargai pendapat itu. Toh, pendapat beliau SAW sendiri tidak berdasarkan wahyu.

Ketika perang nyaris berakhir, muncul keinginan di dalam diri beliau untuk menghentikan peperangan dan
menjadikan lawan sebagai tawanan perang. Tindakan itu didasari oleh banyak pertimbangan selain karena
saat itu belum ada ketentuan dari langit. Maka nabi SAW bermusyawarah dengan para shahabatnya dan
diambil keputusan untuk menawan dan meminta tebusan saja.

Saat itu hanya satu orang yang berbeda pendapat, yaitu Umar bin Al-Khattab ra. Beliau tidak sepakat untuk
menghentikan perang dan meminta agar nabi SAW meneruskan perang hingga musuh mati semua. Tidak
layak kita menghentikan perang begitu saja karena mengharapkan kekayaan dan kasihan.

Tentu saja pendapat seperti ini tidak diterima forum musyarawah dan Rasulullah SAW serta para shahabat
lain tetap pada keputusan semula, hentikan perang.

Tidak lama kemudian turun wahyu yang membuat Rasulullah SAW gemetar ketakutan, karena ayat itu
justru membenarkan pendapat Umar ra dan menyalahkan semua pendapat yang ada.

Tidak patut bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka
bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki akhirat. Dan Allah
Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(QS. Al-Anfal: 68)

Khilaf di Antara Para Nabi

Kalau para shahabat nabi Muhammad SAW sering berbeda pendapat, maka ternyata para nabi pun sering
berbeda pendapat.

Lihat bagaimana nabi Musa as berselisih dengan saudaranya, nabi Harun as. Bahkan sampai menarik
kepalanya dengan marah dan kecewa.

Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati berkatalah dia, "Alangkah
buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji
Tuhanmu? Dan Musa pun melemparkan luh-luh itu dan memegang kepala saudaranya sambil menariknya
ke arahnya, Harun berkata, "Hai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan
hampir-hampir mereka membunuhku, sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira
melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zalim"(Q. Al-A'raf:
150)

Konon Musa as kecewa dengan sikap Harus as yang dianggapnya terlalu lemah dan tidak bisa bersikap
tegas di hadapan kedegilan kaum mereka, kaum yahudi. Padahal keduanya nabi dan sama-sama dapat
wahyu dari Allah SWT. Tetapi urusan berbeda pendapat dan pendekatan, adalah urusan yang bersifat
manusiawi. Sangat mungkin ikhtilaf terjadi di kalangan para nabi 'alaihimussalam.

Bukankah kisah Musa as dengan nabi Khidhir as juga demikian? Keduanya selalu berselisih dan beda
pendapat dalam perjalanan. Musa as selalu mempertanyakan semua tindakan shahabatnya itu, meski pada
akhirnya beliau selalu harus dibuat mengerti. Tetapi intinya, beda pemahaman itu adalah sesuatu yang
wajar dan mungkin terjadi, bahkan di kalangan sesama para nabi. Dan tidak ada kebenaran tunggal dalam
hal ini.

Para Malaikat Berikhtilaf
                                                                                                            9

Bahkan sesama malaikat yang mulia dan tanpa hawa nafsu sekali pun tetap terjadi beda pendapat.

Masih ingat kisah seorang yang taubat karena telah membunuh 99 dan 1 nyawa?

Dalam perjalanan menuju taubatnya, Allah mencabut nyawanya. Maka berikhtilaflah dua malaikat tentang
nasibnya. Malaikat kasih sayang ingin membawanya ke surga lantaran kematiannya didahului dengan
taubat nashuha. Namun rekannya yang juga malaikat tetapi job-nya mengurusi orang pendosa ingin
membawanya ke neraka, lantaran masih banyak urusan dosa yang belum diselesaikanya terkait dengan
hutang nyawa.

Bayangkan, bahkan dua malaikat yang tidak punya kepentingan hewani, tidak punya perasaan, tidak punya
kepentingan terpendam, tetap saja ditaqdirkan Allah SWT untuk berbeda pendapat.

Walhasil, ihtilaf itu adalah sesuatu yang melekat pada semua makhluq Allah, danbukan hal yang selalu
jelek atau hina. Ikhtilaf di kalangan umat Islam adalah sesuatu yang nyaris tidak mungkin hilang, apalagi di
zaman sekarang ini.

Ikhtilaf Yang Diharamkan

Namun ada jenis-jenis ikhtilaf yang diharamkan dan kita wajib menghindari diri dari sifat dan sikap itu.

Pertama, apabila sudah ada nash yang bersifat qath'i dan tidak ada multi tafsir. Bahkan para ulama telah
berijma' di dalamnya. Mengingkari ijma' adalah kufur.

Seperti mengatakan bahwa semua agama sama, jelas bukan bagian dari ikhtilaf yang dibenarkan, karena
tidak ada satu pun ulama yang membenarkan agama selain Islam.

Kedua, ikhtilaf yang diteruskan dengan kerasa kepala, sombong, takabbur, merasa benar sendiri dan semua
orang yang tidak sama pendapatnya dengan dirinya dianggap salah, bodoh, ahli bid'ah, ahli neraka, murtad,
keluar dari manhaj salaf, melawan sunnah, bahkan kafir. Naudzu billah min zalik.

Sikap merasa diri paling benar dan paling mendapat hidayah dari Allah adalah sikap seorang yang kurang
ilmu dan kurang sifat tawadhu'. Dia merasa hanya dirinya saja yang punya kebenaran, sementara pendapat
siapa pun yang dianggapnya bertentangan dengan pendapat dirinya, harus dilukai dengan kata-kata tajam
yang merendahkan, menghinakan, melecekan, kalau perlu dengan memboikotnya seolah orang lain itu
musuh agama.

Ketiga, ikhtilaf yang tidak pakai ilmu tetapi mengandalkan taqlid dari seseorang tokoh, padahal jauh dari
disiplin ilmu yang benar. Berbeda pendapat bahkan berdebat sementara dirinya bukan ahli di bidang itu. Ini
tentu kesalahan maha fatal dan kekonyolan maha konyol.

Kalau ada ribuan ahli astronomi sepanjang masa berijma'bahwa pusat edar tata surya adalah matahari dan
bumi mengelilinginya, tentu kita lebih percaya. Sementara kalau adaseorangkiyai yang mengatakan bahwa
bumi itu rata seperti meja dan pusat edar tata surya adalah bumi dan matahari mengelilingi bumi, boleh jadi
bukan ayatnya yang salah, tetapi ilmu pengetahuan si kiyaiitu yang out of date alias ketinggalan zaman.

Setidaknya, si kiyai itu harus mawas diri karena ilmu yang dikuasainya bukan ilmu falak dan bukan
astronomi. Beliau tidak punya teropong, tidak punya teleskop, tidak pernah naik wahana luar angkasa, tidak
pernah membayangkan sebuah satelit yang mengorbit bumi.

Dan kasus seperti ini, sayangnya, sering terjadi lantaran fanatisme buta dan taqlid bukan pada tempatnya.
Kalau kiyai bilang langit itu hijau, maka santrinya akan bilang hijau, walau pun langit itu biru. Maka taqlid
tidak karuan kepada kiyai adalah sebuah kesalahan dalam berikhitlaf.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,


Perbedaan Tentang Batasan Bid'ah
Selasa, 27 Mei 08 06:49 WIB

Assalamu'alaikum

Ustadz, saya mau tanya batasan amalan bid'ah.

Mohon penjelasan, karena saya banyak mendengar ada ustadz yang menyatakan semua bid'ah itu sesat di
dalam urusan ibadah dan ada yang mengatakan bid'ah ada yang hasan, dan semuanya mengemukakan
alasan atau dasarnya.
                                                                                                       10

Yang masih menjadi pertanyaan saya bid'ah dalam ibadah, bukankah apabila kita bekerja kalau diniatkan
karena mendapatkan ridho dari Allah juga d catat sebagai amal ibadah, atau dalam berkhutbah Rasullulah
selalu menggunakan bahasa Arab, bagaimana dengan di luar Arab? Mohon penjelasan.

Syukron

Agung Swasono
irsyad

Jawaban

Assalamu `alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Para ulama memang berbeda pendapat ketika mendefinisikan bid'ah. Definisi yang disodorkan oleh para
ulama tentang isitlah ini ada sekian banyak versi.

Hal itu lantaran persepsi mereka atas bid'ah itu memang berbeda-beda. Sebagian mereka ada yang
meluaskan pengertiannya hingga mencakup apapun jenis perbuatan yang baru atau diada-adakan,
sedangkan yang lainnya menyempitkan batasannya.

Dalam kitab Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah (Ensiklopedi Fiqih) jilid 8 keluaran Kementrian
Wakaf dan Urusan Ke-Islaman Kuwait halaman 21 disebutkan bahwa secara umum ada dua kecenderungan
orang dalam mendefinisikan bid'ah.

Pertama, kecenderungan yang menganggap bahwa ibadah yang tidak terdapat di masa Rasulullah SAW
sebagai bid'ah, namun hukumnya tidak selalu sesat atau haram.

Kedua adalah kecenderungan untuk mengatakan bahwa semua bid'ah adalah sesat.

Tapi kalau kita tarik garis umum, paling tidak ada dua kecenderungan ulama dalam masalah ini.

Kelompok Pertama

Mereka yang meluaskan batasan bid'ah itu mengatakan bahwa bid'ah adalah segala yang baru diada-adakan
yang tidak ada dalam kitab dan sunnah. Baik dalam perkara ibadah ataupun adat. Baik pada masalah yang
baik atau yang buruk.

a. Tokoh

Di antara para ulama yang mewakili kalangan ini antara lain adalah Al-Imam Asy-Syafi'i dan pengikutnya
seperti Al-'Izz ibn Abdis Salam, An-Nawawi, Abu Syaamah.

Sedangkan dari kalangan Al-Malikiyah ada Al-Qarafi dan Az-Zarqani.

Dari kalangan Hanafiyah seperti Ibnul Abidin dan dari kalangan Al-Hanabilah adalah Al-Jauzi serta Ibnu
Hazm dari kalangan Dzahiri.

Bisa kita nukil pendapat Al-Izz bin Abdis Salam yang mengatakan bahwa bid`ah perbuatan yang tidak
terjadi pada masa Rasulullah SAW, yang terbagi menjadi lima hukum. Yaitu bid'ah wajib, bid'ah haram,
bid'ah mandub (sunnah), bid'ah makruh dan bid'ah mubah.

b. Contoh

Ada beberapa contoh yang bisa ditampilkan dalam masalah ini, antara lain:

          Contoh bid'ah wajib misalnya belajar ilmu nahwu yang sangat vital untuk memahami kitabullah
           dan sunnah rasulnya.
          Contoh bid'ah haram misalnya pemikiran dan fikrah yang sesat seperti Qadariyah, Jabariyah,
           Murjiah dan Khawarij.
          Contoh bid'ah mandub (sunnah) misalnya mendirikan madrasah, membangun jembatan dan juga
           shalat tarawih berjamaah di satu masjid.
          Contoh bid'ah makruh misalnya menghias masjid atau mushaf Al-Quran. Sedangkan contoh bid'ah
           mubah misalnya bersalaman setelah shalat.

c. Dalil

Pendapat bahwa bid'ah terbagi menjadi lima kategori hukum didasarkan kepada dalil-dalil berikut:
                                                                                                         11

Perkataan Umar bin Al-Khattab radhiyallahu anhu tentang shalat tarawih berjamaah di masjid bulan
Ramadhan yaitu:

Sebaik-baik bid'ah adalah hal ini.

Ibnu Umar juga menyebut shalat dhuha' berjamaah di masjid sebagai bid'ah yaitu jenis bid'ah hasanah atau
bid'ah yang baik.

Hadits-hadits yang membagi bid'ah menjadi bid'ah hasanah dan bid'ah dhalalah seperti hadits berikut:

Siapa yang mensunnahkan sunnah hasanah maka dia mendapat ganjarannya dan ganjaran orang yang
mengamalkannya hingga hari qiyamat. Siapa yang mensunnahkan sunnah sayyi'ah (kejelekan), maka dia
mendapatkan ganjaran dan ganjaran orang yang mengamalkannya hingga hari qiyamat.

Kelompok Kedua

Kalangan lain dari ulama mendefinisikan bahwa yang disebut bid'ah itu semuanya adalah sesat, baik yang
dalam ibadah maupun adat.

Di antara mereka ada yang mendifiniskan bid'ah itu sebagai sebuah jalan (thariqah) dalam agama yang
baru atau tidak ada sebelumnya yang bersifat syar`i dan diniatkan sebagai thariqah syar'iyah.

a. Tokoh

Di antara mereka yang berpendapat demikian antara lain adalah At-Thurthusy, Asy-Syathibi, Imam Asy-
Syumunni dan Al-Aini dari kalangan Al-Hanafiyah. Juga ada Al-Baihaqi, Ibnu Hajar Al-`Asqallany serta
Ibnu Hajar Al-Haitami dari kalangan Asy-Syafi'iyah. Dan kalangan Al-Hanabilah diwakili oleh Ibnu Rajab
dan Ibnu Taymiyah.

b. Contoh

Contohnya adalah orang yang bernazar untuk puasa sambil berdiri di bawah sinar matahari atau tidak
memakan jenis makanan tertentu yang halal tanpa sebab yang jelas (seperti vegetarian dan sebangsanya).

Perbuatan seperti itu bid'ah, karena pada hakikatnya menciptakan sebuah ritual agama yang baru, yang
tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW.

c. Dalil

Dalil yang mereka gunakan adalah:

Bahwa Allah SWT telah menurunkan syariat dengan lengkap di antaranya adalah fiman Allah SWT:

... Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni'mat-Ku,
dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu...(QS. Al-Maidah: 3)

Juga ayat berikut:

dan bahwa adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan,
karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar
kamu bertakwa. (QS. Al-An`am: 153)

Setiap ada hadits Rasulullah SAW yang berbicara tentang bid'ah, maka selalu konotasinya adalah
keburukan. Misalnya hadits berikut:

Klasifikasi Lain

Selain pembagian di atas maka sebagian ulama juga ada yang membuat klasifikasi yang sedikit berbeda,
oleh para ulama bid’ah terbagi dua:

a. Bidah dalam adat kebiasaan (di luar masalah agama) seperti banyaknya penemuan-penemuan baru di
bidang tekhnologi, hal tersebut dibolehkan karena asal dalam adat adalah kebolehan (al-ibahah)

b. Bid’ah dalam agama, mengada-ada hal yang baru dalam agama. Hukumnya haram, karena asal dalam
beragama adalah at-tauqief (menunggu dalil).

Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang mengerjakan suatu perbuatan yang tidak ada perintahnya
dari kami maka amalan tersebut akan tertolak” (HR Muslim 1817)
                                                                                                       12

Namun dalam kaitannya dengan bid’ah dalam agama, para ulama ternyata juga masih memilah lagi menjadi
dua bagian:

Pertama: Bid’ah Perkataan

Bid'ah ini berkaitan dengan masalah I’tiqod, seperti perkataan Jahmiyah, Mu’tazilah, Rafidhah dan sekte-
sekte sesat lainnya. Misalnya pendapat Mu’tazilah yang menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk
Alloh dan bukan firman-Nya.

Kedua: Bid’ah dalam beribadah

Bid'ah ini misalnya melaksanakan suatu ritual ibadah yang tidak ada dalil syar’inya. Bid’ah dalam ibadah
ini terbagai beberapa macam:

       Bid’ah yang terjadi pada asal ibadah, dengan cara mengadakan suatu ritual ibadah baru yang tidak
        pernah disyariatkan sebelumnya, contohnya adalah melaksanakan shaum seperti yang anaa
        sebutkan, dengan tujuan agar dapat menguasai ilmu-ilmu tertentu
       Bid’ah dalam hal menambah Ibadah yang disyariatkan, seperti menambah rakaat sholat shubuh
        menjadi tiga.
       Bid’ah dalam bentuk pelaksanaan ibadah yang diwujudkan dengan melaksanakannya di luar
        aturan yang disyariatkan, contohnya melaksanakan dzikir sambil melakukan gerakan-gerakan
        tertentu.
       Bid’ah dengan mengkhususkan waktu tertentu untuk melaksanakan ibadah masyru’. Seperti
        mengkhususkan pertengahan bulan Sya’ban dengan shaum dan sholat. Karena shaum dan sholat
        pada asalnya disyari’atkan akan tetapi pengkhususan pelaksanaan ibadah-ibadah tersebut di
        waktu-waktu tertentu haruslah berdararkan nash (dalil-dali) dari Allah dan rasul-Nya.

Kesimpulannya, kalau kita lihat banyak kalangan saling menuduh bid'ah kepada saudaranya sendiri,
ketahuilah bahwa salah satu penyebabnya adalah kekurang-pahaman terhadap definisi bid'ah yang beragam.

Dan urusan vonis memvonis sebagai pelaku bid'ah ini akan sedikit berkurang seandainya di dalam diri tiap
kita muncul kearifan serta keluasan wawasan. Setidaknya, kalau pun tetap diyakini sebagai bid'ah, maka
cara yang digunakan untuk memberantas 'bid'ah' itu tidak boleh dengan cara yang bid'ah juga.

Saling mencaci dan memaki, apalagi sampai melakukan pemboikotan kepada saudara sendiri, tentu sangat
bertentangan dengan apa yang pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Mana pernah beliau SAW memaki orang lantaran dianggap sebagai pelaku bid'ah? Mana pernah beliau
memboikot seseorang lantaran dituduh-tuduh sebagai pelaku bid'ah? Dan mana pernah Rasulullah SAW
mengharamkan diri untuk menshalati jenazah seseorang karena dianggap pelaku bid'ah?

Yang haram dishalati di masa nabi SAW adalah orang yang kafir dan murtad. Bukan orang yang dituduh-
tuduh sebagai pelaku bid'ah, dengan tolok ukur yang subjektif dan seenak selera sendiri.

Semoga Allah SWT menurukan ilmu, kearifan dan kesantunan pada diri kita semua dalam
memperjuangkan syariatnya. Amien

Wallahu a`lam bishshawab, wassalamu `alaikum warahmatullahi wabarakatuh,


Wudhu
Senin, 17 Sep 07 11:02 WIB

Assalamualikum ustadz

Mohon penjelasan cara wudhu rasulallah saw.

Terima kasih sebelumnya atas penjelasan ustadz

Wassalamulaikum warohmatullah

Almeo

                                                 Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
                                                                                                             13

Wudhu' adalah sebuah ibadah ritual untuk mensucikan diri dari hadats kecil dengan menggunakan media
air. Yaitu dengan cara membasuh atau mengusap beberapa bagian anggota tubuh menggunakan air sambil
berniat di dalam hati dan dilakukan sebagai sebuah ritual khas atau peribadatan.

Bukan sekedar bertujuan untuk membersihkan secara pisik atas kotoran, melainkan sebuah pola ibadah
yang telah ditetapkan tata aturannya lewat wahyu dari langit dari Allah SWT.

Ada banyak riwayat yang menyebutkan tentang tata cara wudhu' Rasulullah SAW, salah satu di antaranya
adalah riwayat hadits berikut ini:

                                                                           (
     )


Dari Humran ra bahwa Utsman ra meminta dibawakan seember air, kemudian beliau mencuci kedua tapak
tangannya tiga kali, kemudian berkumur-kumur, kemudian memasukkan air ke hidung, kemudian
mengeluarkannya. Lalu beliau membasuh wajahnya tiga kali, kemudian membasuh tangannya yang kanan
hingga siku tiga kali, kemudian tangan yang kiri demikian juga, kemudian mengusap kepalanya, kemudian
mencuci kaki kanannya hingga mata kaki tiga kali, kemudian kaki kiri sedemikian juga, kemudian beliau
berkata, "Aku telah melihat Rasulullah SAW berwudhu sebagaimana wudhu'-ku ini. (HR Muttafaq 'alaihi)

Hadits ini menjelaskan tata urutan wudhu' Utsman bin Affan yang kemudian dikatakan bahwa begitulah
Rasulullah SAW bila berwudhu'. Namun hadits ini tidak merinci mana yang merupakan rukun, wajib dan
sunnnah wudhu'.

Batas membasuh tangan saat wudhu adalah hingga siku, dengan lafadz "ila" yang bermakna bahw siku ikut
juga dibasuh. Ini berbeda dengan batas aurat laki-laki yang antara pusat dan lutut, sehingga lutut dan
pusatnya sendiri bukan termasuk aurat.

Hadits ini juga menjelaskan bahwa sunnah membasuh tangan dan kaki tiga kali, dengan cara tangan atau
kaki kanan dibasuh tiga kali lebih dulu, baru kemudian tangan atau kaki kiri dibasuh tiga kali setelahnya.


Cara Bersuci setelah Terkena Tinta, Tip-ex, atau Cat
Rabu, 8 Nov 06 05:43 WIB

Assalamu'aikum warohmatullohiwabarokatuhu

Saya bekerja di kantor perpustakaan daerah. Sering selesai bekerja tangan saya terkena tipe-ex, tinta printer
dan cat poster. Sebelum wudlu kadang sulit dibersihkan sampai tuntas. Bagaimana cara bersuci saya?

Air yang saya pakai kadang terciprat air cucian orang lain, apakah air tersebut termasuk musta'mal,
bagaimana definisi air musta'mal itu?

Wassalamu'alaikum warohmatullohiwabarokatuhu

Nur Chafidah
nurchafidah

Jawaban

Assalamu a'alikum warahmatulahi wabarakatuh,

Masalah tangan anda yang terkena tip-ex, tinta printer atau cat poster, bisa kami jelaskan dengan mengenal
dua prinsip.

Pertama, kita harus pastikan bahwa zat-zat itu bukan najis. Kedua, zat itu tidak membentuk lapisan yang
menghalangi sampainya air ke kulit kita.

Tip-ex, tinta printer, atau cat poster sudah jelas bukan benda najis, sehingga tidak merusak kesujian dan
wudhu' kita bisa masih ada sisanya menempel.

Namun untuk masalah yang kedua, yaitu sejauh mana zat-zat tersebut menghalangi sampainya air ke kulit
kita, perlu kita kenali lebih jauh.

Intinya jangan sampai semua zat itu menghalangi air dari membasahi kulit yang menjadi anggota wudhu'.
Anggota wudhu yang menjadi rukun adalah wajah, kedua tangan hingga siku, sebagian kepala termasuk
rambut) serta kedua kaki hingga mata kaki. Sebagaimana firman Allah SWT:
                                                                                                          14




Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah mukamu dan
tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata
kaki. (QS. Al-Maidah: 6)

Semua bagian di atas harus basah saat kita berwudhu. Selebihnya adalah anggota wudhu yang sifatnya
sunnah, sehingga meski tidak sampai dibasuh dan basah, tidak merusak wudhu'.

Bila ada zat-zat yang menempel dengan membuat lapisan tertentu pada anggota wudhu' yang wajib di atas,
hingga menghalangi air untuk membasahi, maka wudhu' itu menjadi tidak sah. Sehingga seharusnya
sebelum berwudhu' harus dihilangkan terlebih dahulu.

Tip-ex biasanya akan membuat lapisan yang menutupi kulit dan membuat kulit anggota wudhu' tidak
basah. Maka bila tangan anda masih belepotan dengan zat seperti ini, termasuk lem karet dan sejenisnya,
harus dikelupas terlebih dahulu. Atau dihilangkan dengan menggunakan cairan tiner.

Sedangkan tinta printer biasanya hanya mengotori tapi tidak membentuk lapisan penghambat air. Dan juga
bukan benda najis, sehingga tidak mengapa bila tangan masih berlumur tinta setelah berwudhu'.

Adapun cat yang dicairkan dengan air umumnya tidak membuat lapisan dan langsung hilang bila terkena
air wudhu. Berbeda dengan cat minyak yang biasanya membentuk lapisan anti air. Cat ini harus
dihilangkan dulu karena sifatnya menghalangi sampainya air.

Air Musta'mal?

Sebagian ulama memang seringkali menggunakan istilah air musta'mal. Artinya adalah air yang telah
digunakan untuk bersuci secara ritual. Misalnya sudah digunakan untuk berwudhu, mandi janabah atau
membersihkan najis. Dan jumlahnya kurang dari 2 qullah atau 270 liter.

Menurut sebagian ulama seperti para ulama mazhab Al-Hanafiyah dan Asy-Syafi'iyah, air yang sudah
pernah digunakan untuk berwudhu' oleh seseorang tidak boleh lagi digunakan untuk wudhu' bagi orang
lain. Demikian juga dengan air yang sudah digunakan untuk mandi janabah, baik yang wajib maupun yang
sunnah, sudah tidak sah bila digunakan untuk mandi janabah buat orang lain.

Namun menurut sebagain ulama lainnya bahwa air musta'mal tidak berubah hukum. Dia tetap boleh
digunakan untuk wudhu', mandi janabah dan lainnya.

Di tengah-tengahnya ada pendapat Mazhab Maliki yang memakruhkan berwudhu dengan air musta'mal.
Tapi bila tidak ada air mutlaq yang bisa digunakan untuk berwudhu', yang ada hanya air musta'mal, boleh
digunakan air musta'mal itu. Mereka mengatakan belumboleh bertayammum dengan tanah selama masih
ada air musta'mal.

Penjelasan di atas bisa anda rujuk pada Kitab Bidayatul Mujtahid Wa Nihayatul Muqtashid karya Ibnu
Rusyd Al-Hafid, jilid 1 halaman 79 Terbitan Maktabah Ibnu Taimiyah Cairo Cetakan I tahun 1415 H.

Adapun air bekas cucian baju, pada dasarnya tidak bisa disebut sebagai air musta'mal. Sebab tidak
diguakan untuk pensucian secara ritual. Maka bila anda terciprat air bekas cucian, tidak ada hubungannnya
dengan air musta'mal. Wudhu' anda tidak batal selama air bekas cucian itu bukan air najis dan jumlahnya
sedikit.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu a'alikum warahmatulahi wabarakatuh,_______________________


Mengapa Tatacara Sholat Begitu Memusingkan?
Selasa, 25 Mar 08 16:43 WIB

Ustadzt,

Saya adalah orang Islam dan Insya Allah tidak akan mati dalam keadaan bukan Islam. Saya memang awam
agama, tapi saya punya keyakinan bahwa Islam adalah Agama yang paling baik dan satu-satunya.

Terus terang, mengenai sholat, saya sholat sebagaimana orang orang yang sholat bersama saat itu
(Menyesuaikan lingkungan, asalkan tidak terlalu menyimpang dari ukuran saya sendiri), karena hati yang
dalam saya mengatakan, Allah Maha Tahu dan Maha Bijaksana.

Sepengetahuan saya, tata cara (rukun) sholat tidak diatur begitu rinci di Al-Qur'an sebagaimana hukum
Warisan (Saya juga tidak tahu mengapa dan apa rahasia di balik itu).
                                                                                                         15

Yang saya ketahui selama ini, hanya terdapat dalam Hadist dan itupun tidak secara rinci langsung diuraikan
olehNabi Muhammmad SAW(saya juga tidak tahu mengapa demikian dan apa rahasia di balik itu).

Beliau hanya bersabda kira-kira begini "Sholatlah sebagaimana aku Sholat." Orang-orang yang pernah
melihat atau mengalami sholat bersama Nabi, baru menceritakan bagaimana Beliau sholat.

Hal yang terjadi kemudian adalah, bahwa banyak sekali perbedaan yang ada selama ini (mulai gerakan
secara pisik maupun bacaan-bacaannya apakah diucapkan atau tidak, dikeraskan atau tidak, dan
sebagainya).

Jika Nabi Sholat bersama umatnya hanya sekali atau dua kali saja, mungkin terjadinya perbedaan-
perbedaan dapat segera dimaklumi. Tapi nyatanya khan tidak begitu. Yang menjadi lebih aneh lagi adalah
kenyataan bahwa Islam dikenal sebagai Agama yang paling lengkap dalam perunutan hukum-hukumnya
(Penulisan Hadist dan menjaga kemurnian Al-Qur'an). "Mencontoh sholat yang dikerjakan Nabi sebanyak
puluhan ribu kali kok masih ada perbedaannya."

Yang jelas, saya yakin betul bahwa bagaimana Nabi Sholat adalah konsisten.

Bagaimana keterangan Ustazd.

NB. Ini adalah sebagian dari pertanyaan-pertanyaan saya ke pada Ustazd, yang mana sebagian besar belum
terjawab.

Susilo.poromarto@yahoo.com
susilo.poromarto@yahoo.com

                                                Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Kami mohon maaf bilaAndaselama ini telah mengirimkan pertanyaan, namun belum mendapatkan
jawaban. Kami tetap merasa bersalah bilabelum dapat memenuhi apa yang menjadi kebutuhan para
pembaca.

Untuk itu kami sedang memikirkan metode yang sekiranya dapat membantu menyelesaikan masalah seperti
ini ke depan. Doakan agar kami menemukan metode itu dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Mengenai apa yang anda tanyakan saat ini, memang kami setuju sekali. Seharusnya tata cara shalat itu
simple, praktis dan sederhana. Tidak harus menguras otak, apalagi harus sampai menimbulkan silang
sengketa, saling caci maki, bahkan ada yang sampai merasa harus memboikot saudaranya, hanya lantaran
urusan beda tempat meletakkan tangan saat shalat.

Beberapa Faktor Penyebab

Kalau coba kita renungkan mengapa seolah shalat itu jadi urusan yang berbelit, barangkali ada benarnya
beberapa hal berikut ini:

1. Ada Perbedaan Dari Sumber

Banyak dari kita yang masih berpikir seharusnya shalat nabi SAW itu merupakan sesuatu yang konsisten,
termasuk dalam hal ini anda. Dalam bagian akhir pertanyaan anda itu, jelas sekali anda menyebutkan,
"Yang jelas, saya yakin betul bahwa bagaimana Nabi Sholat adalah konsisten."

Padahal boleh jadi Rasulullah SAW tidak melakukan apa yang anda katakan sebagai 'kekonsistenan' itu.
Dalam kitab Sifat Shalat Nabi tulisan SyeikhAl-Albani, seringkali menyebutkan istilah "kadang-kadang."
Kadang-kadang Nabi SAW melakukan ini dan kadang kala lainnya beliau melakukan itu. Itu artinya beliau
tidak selalu konsisten seperti yang anda duga.

Jadi boleh dibilang bahwa beliau SAW sendiri sebagai sumber rujukan shalat tidak selalu konsisten dengan
gerakan atau bacaan tertentu. Sebaliknya, beliau seringkali bergonta-ganti gerakan dan juga bacaan. Dan
nyatanya memang tidak ada dalil dari beliau SAWsendiri, yang menegaskan keharusan untuk konsisten
dalam gerakan dan bacaan shalat.

Sekedar untuk perbandingan saja, dahulu di masa khalifah Utsman bin Al-Affan radhiyallahu 'anhu, pernah
terjadi perselisihan antara beberapa qari' atau pembaca Al-Quran.Titik pangkal masalahnya adalah
karenamasing-masing merasa bacaannya adalah bacaan yang benar dan bersikeras untuk menyalahkan
bacaan saudaranya, yang dianggapnya salah dan bid'ah (mengada-ada).

Setelah dikumpulkan oleh para shahat yang senior, menjadi jelaslah titik pangkalnya. Ternyata Al-Quran
itu sendiri dahulu turun dengan lughah (dialek) yang berbeda. Bahkan kita mengenal ada qiraah sab'ah. Di
                                                                                                          16

mana bacaan yang satu boleh jadi sangat berbeda dengan bacaan yang lain. Padahal semuanya adalah ayat
Al-Quran, semua turun dari Malaikat Jibril 'alaihissalam serta diriwayatkan secara mutawatir kepada kita.

Maka kalau dalam shalat Rasulullah SW ada'ketidak-konsistenan', sangat logis dan masuk akal. Memang
jarang di antara kita yang pernah mendengar qiraat yang berbeda. Cobalah sesekali belajar qiraat dengan
metode talaqgi kepada ustadz atau qari' yang punya sanad sampai ke Rasulullah SAW, maka kita akan tahu
bahwa ternyata bacaan Quran itu begitu banyak versinya.

2. Perbedaan Interpretasi Shahabat Yang Melihat Rasulullah SAW Shalat

Ada beberapa riwayat yang kelihatan sepintas berbeda, namun ternyata kejadiannya sama. Kenapa jadi
berbeda? Ternyata beberapa shahabat memiliki interpratasi atau penafsiran yang berbeda atas suatu
kejadian.

Ambil contoh yang paling sering kali sebutkan, tentang shalat Ashar di Perkampungan Bani Quraidhazh.
Rasulullah SAW berpesan kepada para shahabat untuk tidak shalat Ashar kecuali di perkampungan yang
berisi orang yahudi itu.

Namun ketika matahari hampir tenggelam dan mereka belum shalat Ashar, sebagian dari mereka turun dari
kuda dan melakukan shalat Ashar di jalan, tanpa mempedulikan pesan nabi untuk tidak shalat Ashar kecuali
setelah sampai.

Sementara kelompok shahabat yang lainnya, meneruskan perjalanan tanpa shalat Ashar, meski sudah
masuk waktu Maghrib. Maka pendapat para shahabat nabi yang mendengar langsung pesan itu tetap
terpecah dua.

Ketika akhirnya dikonfrontir kepada Rasulullah SAW, hasilnya ajaib!!!. Ternyata beliau SAW tidak
menyalahkan salah satu pihak. Keduanya dianggap benar dan tidak ada yang salah.

Danketika ada riwayat menyebutkan bahwa ketika duduk tasyahhud Rasulullah SAW menggerakkan
jarinya, ada yang menilainya itu merupakan bagian dari ritual ibadah shalat. Tapi ada juga yang
mengatakan gerakan jari itu semata-mata karena suasana sangat dingin, sehingga telunjuk nabi sampai
bergetar.

Perbedaan itu pasti terjadi, bahkan sejak dari level shahabat ketika meriwayatkan sudah muncul perbedaan.

3. Faktor Perbedaan Logika

Masih ingat hadits tentang mana duluan yang harus menyentuh tanah ketika sujud, apakah tangan dulu atau
lutut lebih dahulu?

Di dalam masalah itu para ulama berbeda pendapat tanpa ada habisnya. Yang satu bilang tangan dulu. Yang
lain bilang lutut dulu. Dan ternyata keduanya punya dalil masing-masing. Dan anehnya, kedua belah pihak
memakai hadits yang itu-itu juga.

Yang satu bilang bahwa hadits itu mengatakan jangan seperti unta mau duduk. Dan disebutkan bahwa kalau
unta mau duduk, ternyata yang menyentuh tanah kaki belakangnya terlebih dahulu.

Yang satu tidak mau kalah, mereka bilang bahwa pendapat itu tidak benar. Yang benar adalahkalau unta
mau duduk, yang lebih dahulu menyentuh tanah adalah kedua kaki depannya terlebih dahulu.

Maka perbedaan pendapat itu bukan pada haditsnya, tapi pada cara kita memahaminya. Ada yang mengira
bahwa kalau unta mau duduk, yang menyentuh tanah terlebih dahulu adalah kedua kaki belakangnya, dan
ada yang berpendapat sebaliknya.

Jadi mana yang benar?

Yah, mari kita tanya kepada si unta yang tidak berdosa itu."Pak Unta, mohon maaf nih, kami mau tanya.
Ente kalau duduk, duluan mana kaki depan apa kaki belakang?" Untanya bingung ditanya begitu, terus dia
jawab, "Emang gue pikirin."

4. Faktor Mental

Tapi yang paling mengenaskan dari apa yang anda alami sebagai kecemasan, sebenarnya bukan karena
faktor-faktor di atas, melainkan justru faktornya ada pada diri kita sendiri sebagai umat Islam. Banyak dari
kita sering memaksakan kehendak dan pendapatnya sendiri dalam masalah furu'iyah dan ritual shalat.

Faktor ini kami rasakan merupakan faktor yang paling dominan untuk membuat umat semakin bingung.
Mohon maaf kalau kami katakan banyak ustadz yang sambil mengajar, sambil memenangkan satu pendapat
                                                                                                          17

saja. Dan sayangnya beliau-beliau yang terhormat dan jadi panutan umat itu terjebak untuk melecehkan
pendapat yang lain. Sengaja atau tidak sengaja.

Terkadang kita harus mengurut dada, karena yang kita saksikan bukan sekedar melecehkan, tapi sampai
menuduh sesat, bid'ah, khurafat bahkan sampai di bilang tidak akan masuk surga. Laa haula wala quwwaa
illa billah.

Kayaknya surga itu milik bapak moyangnya sendiri, orang lain tidak boleh masuk kecuali bila jadi
muridnya dulu.

Padahal urusannya cuma antara jari telunjuk bergoyang atau tidak bergoyang. Bayangkan, urusan goyang-
goyang bisa jadi masuk neraka. Pantas saja umat pada bingung, sudah mereka jarang ngaji, eh begitu ngaji,
langsung diberi kisah-kisah 'horor' yang menakutkan. Akhirnya, muncul pertanyaan prihatin kayak anda ini,
kok mau shalat saja susah sekali ya, sampai pakai masuk neraka segala?

Mungkin kalau kami kutipkan bahwa ada ulama yang tega-teganya memvonis orang yang shalat tarawih
lebih dari 11 rakaat sebagai pelaku bid'ah dan masuk neraka, boleh jadi rambut anda akan berdiri semua,
saking kagetnya. Iki piye tho, lha wong tidak shalat tarawih saja tidak apa-apa, kok orang sudah shalat
malah dibilang masuk neraka? Aneh bin ajaib.

Padahal kalau kita pinjam argumentasi teman-teman yang shalat tarawihnya 20 rakaat, mereka akan bilang,
"Justrudi zaman shahabat, belum pernah ada yang shalat tarawih hanya 11 rakaat, semua shalat tarawih 20
rakaat."

Atau ada yang nyeletuk, "Opo sampeyan mau bilang kanjeng sayyidina Umar, Utsman dan Ali serta semua
shahabat nabi SAW itu ahli bid'ah dan semuanya masuk neraka? Kesahalahannya hanya karena mereka
shalat tarawih 20 rakaat?

Dan akhirnya semua ribut lagi, masing-masing datang dengan argumentasinya, dan tidak selesai-selesai.

Padahal sebenarnya kalau setiap perbedaan pendapat itu kalau disikapi dengan elegan, dewasa, wawasan
luas dan beretika santun, tidak harus menimbulkan kecemasan seperti yang anda alami.

Intinya, alangkah indahnya kalau para ustadz yang selalu dijadikan sebagai sumber rujukan agama itu tidak
terlalu mudah mengeluarkan vonis mematikan. Sehingga terkesan muncul anggapan bahwa beliaumau
menangnya sendiri. Kenapa tidak dikatakan bahwa ada begitu banyak pendapat dalam suatu masalah,
silahkan pilih yang mana, asalkan masih ada jejak ijtihad yag dilakukan oleh seorang yang punya kapasitas
sebagai mutahid.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz ketika mengetahui bahwa para shahabat nabi radhiyallahu 'anhum banyak
berbeda pendapat, justru beliau bersyukur dan berterima kasih. Bukannya malah sempit hati dan marah-
marah. Karena dengan begitu banyaknya pendapat, agama ini menjadi luas sekaligus luwes. Mana saja
yang mau kita pakai, ada rujukannya dari para shahabat nabi SAW yang telah Allah SWT ridhai.

Terakhir, mari kita belajar agama ini dari berbagai sumber, sekiranya bisa dari berbagai kalangan ulama,
maka akan semakin baik, karena wawasan kita akan semakin kaya. Dan tidak mudah menyalahkan orang
lain.

Tapi kalau tidak mampu belajar perbandingan mazhab, bisanya cuma dari satu ustadz saja, tidak apa-apa
juga. Asalkan jangan mudah menyalahkan ijtihad orang lain. Sebab pendapat yang kita pakai itu
sebenarnya juga hanya ijtihad, tidak lebih.

Maka sesama ijtihad dilarang saling mendahului, pinjam istilah bus kota.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,


Bacaan Basmallah di Timur Tengah Ada yang
Dikeraskan dan Ada Juga yang Tidak
Kamis, 22 Mei 08 10:09 WIB

Pak Ustadz yang terhormat,

Assalamu alaikum wrm wbr.

Ini surat yang ketiga hanya mengulang pertanyaan surat yang pertama, sedangkan surat saya yang kedua
pun masih dalam proses. Mudah2-an Pak Ustadz bisa secepatnya untuk memberikan jawaban.
                                                                                                        18

Langsung saja, Saya mau menanyakan mengapa para imam masjid di negara timur tengah tidak
mengeraskan bacaan bismillahirrahmanirrahim pada surat Alfatihah ataupun surat yang lainnya pada waktu
shalat Shubuh, Maghrib dan Isya.

Kebetulan saya sudah 6 tahuntinggal di UAE dan Oman, tapi belum menemukan dalilnya yang shahih.

Mohon pak Ustadz menjelaskan dasar hukumnya, juga sekalian dimohon menjelaskan dalilnya bagi yang
mengeraskan bacaan basmallah tersebut.

Terima kasih

Wassalamualaikum Wrm Wbr.

Abdurrahman Kosasih Asmita
koko_K90@yahoo.com

                                                  Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Apa yang anda tanyakan sebenarnya memang masalah khilafiyah di kalangan para ulama.

Ada yang mengatakan bahwa bacaan basmalah itu harus dibaca keras, persis seperti yang kebanyakan
dibaca di negeri kita oleh para imam shalat.

Tapi ada juga yang mengatakan tidak perlu dibaca keras, cukup dibaca lirih saja. Bahkan ada juga yang
sama sekali tidak membaca, karena basmalah itu dianggapnya bukan bagian surat Al-Fatihah.

Mengapa kok bisa khilafiyah? Memangnya tidak ada hadits?

Jawabnya bisa saja. Sedangkan hadits juga ada. Tapi masalahnya hadits-hadits yang ada malah saling
bertentangan. Karena itulah para ulama yang membaca hadits-hadits yang bertentangan itu juga akhirnya
ikut-ikutan juga bertentangan.

Di antara hadits-hadits yang bertentangan itu antara lain:

Dari Aisyah ra berkata, "Nabi SAW memulai sholat dengan takbir dan (memulai) bacaan dengan
Alhamdulillahi rabbil 'alamin.(HR Bukhari dan Muslim)

Dari Anas bin Malik ra berkata bahwasanya Nabi SAW dan Abu Bakar dan Umar, mereka memulai shalat
dengan Alhamdulillahi rabbil 'alamin." (HR Bukhari-Muslim)

Juga ada hadits lainnya yang justru menerangkan sebaliknya, yaitu yang benar justru yang mengeraskan
bacaan basmalah. Misalnya hadits ini:

Dari Nuaim berkata, “Aku melaksanakan salat di belakang Abu Hurairah. Ia membaca
bismillahirrahmanirrahim lalu membaca ummul quran (al-Fatihah). Di akhir hadits tersebut ia berkata,
‘Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya salatku paling mirip dengan yang dilakukan oleh Rasulullah
saw.’”(HR al-Nasa’I, Ibn Khuzaymah, dan Ibn Hibban)

Menurut al-Hafidz Ibn Hajar, “Ini adalah riwayat yang paling valid yang berbicara tentang basmalah.”

Karena tiap ulama yang mujtahid itu ternyata punya dalil masing-masing yang sama-sama kuat tentang
hukum mengeraskan bacaan basmalah dalam shalat. Dan karena dalil masing-masing cukup kuat, akhirnya
sulit untuk mendapatkan kata akhir yang mutlak.

Maka kita sebut masalah ini khilafiyah. Mungkin buat sebagian saudara kita yang sejak belajar Islam tidak
diperkenalkan dengan isitlah khilafiyah, agak terasa aneh. Mungkin dalam hati mereka bertanya, "Sedikit
sedikit khilafiyah, sedikit sedikit khilafiyah... khilafiyah kok cuma sedikit?"

Khilafiyah dalam Mengeraskan Bacaan Basmalah

1. Mazhab As-Syafi'i

Menurut mazhab As-Syafi`iyah, lafaz basmalah (bismillahirrahmanirrahim) adalah bagian dari surat Al-
Fatihah. Sehingga wajib dibaca dengan jahr (dikeraskan) oleh imam shalat dalam shalat jahriyah. Dalilnya
adalah hadits berikut ini:
                                                                                                          19

Hadits yang senada juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dengan isnad yang shahih dari Ummi
Salamah.

Dan dalam kitab Al-Majmu` ada 6 orang shahabat yang meriwayatkan hadits tentang basmalah adalah
bagian dari surat Al-Fatihah. (lihat kitab Al-Majmu` jilid 3 halaman 302)

2. Mazhab Al-Malikiyah

Sedangkan pandangan mazhab Al-Malikiyah, basmalah bukan bagian dari surat Al-Fatihah. Sehingga tidak
boleh dibaca dalam shalat baik shalat wajib maupun shalat sunnah. Dan juga baik dalam shaalt jahriyah
maupun sirriyah.

3. Mazhab Al-Hanabilah

Sedangkan dalam pandangan Al-Hanabilah, basmalah adalah bagian dari surat Al-Fatihah, namun tidak
dibaca secara keras (jahr), cukup dibaca pelan saja (sirr).

Bila anda perhatikan imam masjidil al-haram di Makkah, tidak terdengar membaca basmalah, namun
mereka membacanya umumnya orang-orang di sana bermazhab Hanbali.

Demikianlah perbedaan pandangan tiga mazhab yang mewakili tentang hukum mengeraskan bacaan
basmalah dalam shalat. Tentu masing-masing yakin dengan kebenaran pandangannya. Dan boleh jadi anda
termasuk yang memilih salah satunya.

Dan mungkin saja pilihan anda itu tidak sama dengan pilihan teman anda sendiri. Lalu apakah kita harus
memerangi teman anda yang memiliki pandangan tidak sama dengan pandangan kita?

Tentu saja tidak, bukan?

Kewajiban kita adalah menghormati dan memberikan toleransi atas perbedaan pendapat itu. Kita boleh saja
berpegang tegus atas apa yang kita yakini kebenarannya. Tapi bukan berarti keyakinan itu membolehkan
kita menzalimi saudara kita sendiri.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,


Shalat dengan Mahdzab yang Mana yang Paling Sesuai
dengan Nabi?
Jumat, 16 Mei 08 05:12 WIB

Assamualaikum wb. Wr

Yang kami hormati dan yang kami tauladani, Ust H Ahmad.

Saya mau tanya tentang tata cara sholat dan gerakan sholat menurut Imam As-Syafi'i, Imam Hanafi, Imam
Hambali dan Imam Maliki. Saya minta tolong supaya Bapak Ustadz menjelaskannya secara gamblang
(sejelas mungkin).

Soalnya tata cara sholat atau gerakan sholat 4 imam tersebut pasti ada perbedaan. Di sinilah pertanyaan
saya, di antara 4 imam tersebut gerakan sholat yang mana yang benar benar dari tutunan Nabi
Mmuhammad SAW?

Soalnya semua gerakan itu menurut hadis nabi, kan tidak mungkin Nabi Muhammad itu gerakannya selalu
berbeda beda dalam sholatnya.

Sebelumnya terima kasih ya pak atas jawabannya

Wasamualaikum wb. Wr.

Bayu_romadhon
bayu_romadhon

                                                 Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabaraktuh,

Pertanyaan anda ini sangat menarik dan tentunya juga mewakili sekian banyak saudara kita yang punya
                                                                                                            20

pertanyaan yang sama. Dan memang masalah ini seringkali menggelitik rasa ingin tahu kita. Sebab agak
jarang dijelaskan secara utuh.

Karena itu mohon maaf kalau penjelasan ini dirasa agak bertele-tele dan membosankan. Namun kami
maksudkan agar dapat menjawab rasa ingin tahu Anda.

Mana Yang Benar?

Kita agak kesulitan untuk menjawab pertanyaan polos ini. Mengapa kesulitan? Karena seandainya
kebenaran itu jelas dan tegas, tentu tidak akan muncul beberapa versi. Pasti akan muncul satu versi saja.

Quran dan Hadits: Belum Rinci dan Sistematis Membahas Shalat

Munculnya beberapa versi teknik shalat yang ada di beberapa mazhab justru sebenarnya berangkat dari
ketidak-jelasan dalil Quran dan Sunnah itu sendiri. Bukan berarti kami mengatakan bahwa keduanya tidak
lengkap, tetapi masih membutuhkan pola tertentu untuk mengeluarkan hukumnya.

Seandainya di dalam Al-Quran ada petunjuk detail, lengkap, padat, rinci, sempurna dan siap pakai tentang
teknis gerakan dan bacaan shalat, tentu tidak akan ada banyak variasi gerakan shalat. Demikian juga,
seandainya ada satu kitab hadits yang sudah dipastikan seluruhnya shahih, lalu di dalamnya dijelaskan
semua detail teknis shalat tanpa adanya dua atau beberapa hadits yang saling bertentangan isinya, maka
masalahnya pasti sudah selesai.

Namun kenyataannya, semua itu tidak terjadi. Al-Quran bukanlah kitab petunjuk detail tentang shalat,
begitu juga semua kitab hadits.

Beda Pendapat Untuk Menshahihkan

Bahkan hadits-hadits itu sebagian besarnya masih harus dikritisi tentang keshahihannya. Yang dishahihkan
oleh Imam Al-Bukhari baru 4 ribuan hadits saja dari jutaan hadits. Sebanarnya jumlah hadits dalam kitab
itu ada 7 ribuan, tapi sebagian besarnya terulang-ulang. Kalau diringkas tanpa diulang, ternyata hanya ada
sekitar 4 ribuan saja.

Hadits-hadits selebihnya tidak dishahihkan oleh beliau, namun dishahihkan oleh imam yang lain. Sehingga
muncul perbedaan pendapat, karena terkadang sebuah hadits dishahihkan oleh seorang muhaddits, namun
muhaddits lainnya menolak keshahihannya.

Sayangnya lagi, justru yang kasusnya seperti ini sangat besar dan banyak jumlahnya. Jauh melebihih hadits
yang sudah disepakati keshahihannya oleh Al-Bukhari dan Imam Muslim.

Shahih Tapi Satu Dengan Yang Lain Masih Mungkin Bertentangan

Dan yang sudah dishahihkan itu pun ternyata bukan semuanya tentang shalat. Kalau ada sebagiannya
tentang shalat, ternyata isinya juga seringkali saling bertentangan.

Maksud bertentangan adalah seperti yang anda katakan tadi. Misalnya ada hadits yang shahih menyebutkan
bahwa nabi SAW shalat tangannya diletakkan di dada. Lalu ada lagi hadits shahih lainnya yang justru
menyebutkan tangannya di perut, atau di bawah perut dan begitulah seterusnya.

Semua kenyataan di atas telah memustahilkan keseragaman dalam aturan shalat. Semua dalil yang kita
miliki telah membawa kita kepada perbedaan bentuk teknis shalat. Meski setiap kita telah bertekad untuk
mengikuti tata cara shalat nabi SAW. Tetapi hasilnya tidak pernah ada yang bisa dipastikan 100%
kebenarannya. Dan sebaliknya, kita juga tidak bisa memvonis bahwa yang berbeda dengannya pasti 100%
salah. Semua masuk dalam kerangka ihtimal.

Perbedaan Teknis Shalat dalam 4 Mazhab: Sebuah Keniscayaan

Dengan demikian, bila kita dapati ada 4 mazhab yang berbeda tata cara shalatnya, kita bisa maklum.
Bahkan di dalam satu mazhab pun sangat besar kemungkinan terjadinya perbedaan. Boleh dibilang bahwa
perbedaan itu sudah merupakan kemestian yang tidak mungkin dihindarkan.

Untuk itu pertanyaan semisal, "Mana yangbenar atau mana yang salah?", menjadi kurang relevan. Mungkin
yang lebih tepat adalah, "Mana yang paling rajih (lebih kuat) istidlalnya? Dan menurut siapa?"

Boleh jadi menurut kalangan mazhab A, tata cara shalat mereka adalah yang paling shahih dan paling
sesuai dengan Rasulullah SAW. Namun bisa saja menurut mazhab B, versi merekalah yang paling sesuai
dengan Rasulullah SAW.

Yang menarik, meski saling berbeda, dahulu para imam mazhab sama sekali tidak pernah saling
bermusuhan. Apalagi saling menjelekkan, saling tuding atau saling berghibah. Mereka adalah ulama yang
                                                                                                      21

sangat tidak mungkin berakhlaq serendah itu. Kedalaman ilmu mereka telah mencegah mereka terjebak ke
dalam gaya arogan yang nista.

Sifat mereka jauh berbeda dengan orang zaman sekarang yang sering mengklaim diri sebagai pengikut
ulama, namun perilakunya justru bertentangan dengan sifat para ulama itu sendiri.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabaraktuh,


Bersalaman Setelah Sholat Berjama'ah
Jumat, 30 Mei 08 07:42 WIB

Assalamu'alaikum

Ustadz, semoga Allah selalu melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua, Amin.

Begini Ustadz seperti sudah menjadi kebiasaan, selepas sholat berjamaah banyak dari jama'ah maupun
imam saling berjabat tangan dengan jama'ah yang ada di sebelah kiri dan kanan dst.

Apakah kebiasaan ini pernah dicontohkan pada zaman Rasullullah atau pada masa para sahabat? Apakah
saudara-saudara muslim kita dinegara lain melakukan hal yang sama? Mohon penjelasannya Ustadz.

Terima kasih.

Wassalamu'alaikum.

Sangaji

Sangaji

                                               Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Bersalaman adalah bagian syariat Islam. Perbuatan itu memang disunnahkan dalam agama Islam, bahkan
banyak sekali hadits yang menyebutkan keutamaannya.

Hadits-hadits Keutamaan Bersalaman

Dari Anas Radhiyallahu anhu dan Asy-Sya'bi rahimahullah berkata."Adalah para sahabat Nabi
Shallallahu alaihi wa sallam apabila berjumpa mereka saling bersalaman, dan apabila mereka kembali
dari bepergian, mereka berpelukan".(HR Bukhari dan Muslim)

Tidaklah dua orang muslim berjumpa lalu bersalaman, kecuali akan berguguranlah dosa-dosa keduanya
sebagaimana bergugurannya dedaunan dari pohonnya" (HR Abu Daud)

Dari Al-Barra’ bin Azib radhiyallahu anhu, Rasulullah SAW bersabda bahwa dua orang yang bertemu dan
bersalaman akan diampuni dosa mereka sebelum berpisah. (HR Ibnu Majah)

Bersalaman Setelah Shalat

Namun lepas dari keutamaan bersalaman, lalu bagaimana hukumnya kalau bersalaman itu dilakukan setiap
selesai shalat?

Sepanjang yang kami ketahui, entah benar atau tidak, kami belum pernah mendapatkan dalil tentang
isyarat, perintah atau contoh dari Rasulullah SAW, atau pun dari para shahabat yang mulia tentang
bersalaman setelah shalat.

Kami tidak tahu kalau seandainya ada riwayat yang menyebutkan hal itu. Tapi sampai saat ini kami belum
menemukannya.

Sehingga bersalaman sesudah shalat -sementara ini- kami katakan tidak ada tuntunan atau pensyariatanya.
Setidaknya, itulah yang kami ketahui.

Kalau memang demikian, lalu kenapa kita masih saja melihat orang-orang bersalaman setelah shalat?
Terkadang bersalaman dilakukan setelah selesai salam, terkadang dilakukan setelah dzikir bersama-sama,
lalu mereka membuat barisan antrian untuk saling bersalaman satu dengan yang lain.
                                                                                                          22

Kira-kira apa hujjah mereka yang melakukan itu? Dan apakah yang mereka lakukan itu melanggar
ketentuan tentang shalat yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW?

Syeikh Abdullah bin Baz ketika ditanya tentang masalah ini hanya mengatakan bahwa disunnahkan
bersalaman setelah shalat di masjid, apabila sebelumnya belum sempat bersalaman. Perhatikan kutipan
fatwa beliau:

        Disukai bersalaman ketika berjumpa di masjid atau di dalam barisan. Jika keduanya belum
        bersalaman sebelum shalat, maka bersalaman setelahnya.

        Hal ini sebagai pelaksanaan sunnah yang agung itu di samping karena hal ini bisa menguatkan dan
        menghilangkan permusuhan.

        Kemudian jika belum sempat bersalaman sebelum shalat fardhu, disyariatkan untuk bersalaman
        setelahnya, yaitu setelah dzikir yang masyru'.

        Sedangkan yang dilakukan oleh sebagian orang, yaitu langsung bersalaman setelah shalat fardu,
        tepat setelah salam kedua, saya tidak tahu dasarnya.

        Yang tampak malah itu makruh karena tidak adanya dalil, lagi pula yang disyariatkan bagi orang
        yang shalat pada saat tersebut adalah langsung berdzikir, sebagaimana yang biasa dilakukan oleh
        Nabi Shallallahu alaihi wa sallam setelah shalat fardhu.

        Adapun shalat sunnah, maka disyariatkan bersalaman setelah salam jika sebelumnya belum
        sempat bersalaman, karena jika telah ersalaman sebelumnya maka itu sudah cukup.

        [Fatawa Muhimmah Tatallqu Bish Shalah, hal. 50-52, Syaikh Ibnu Baz]

Pendapat Al-Imam An-Nawawi

Sedangkan Al-Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan bahwa bersalaman sangat baik dilakukan.
Ketika ditanyakan tentang hukum bersalaman yang dilakukan usai shalat, beliau mengatakan bahwa
bersalaman usai shalat adalah bid’ah mubahah dengan rincian hukum sebagai berikut:

Jika dua orang yang bersalaman sudah bertemu sebelum shalat maka hukum bersalamannya mubah saja,
dianjurkan saja, namun jika keduanya belum bertemu sebelum shalat berjamaah hukum bersalamannya
menjadi sunnah, sangat dianjurkan. (Lihat Fatawa al-Imam an-Nawawi)

Dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin disebutkan bahwa bersalaman disunnahkan setelah shalat karena
orang yang sholat itu sama saja dengan orang yang ghaib alias tidak ada di tempat karena bepergian atau
lainnya.Setelah sholat, seakan-akan dia baru datang dan bertemu dengan saudaranya. Maka ketika itu
dianjurkan untuk berjabat tangan.

Dalam halaman yang lainnya dari kitab yang sama disebutkan:

                                            ,                                                .
                                                     .                      .

Berjabatan tangan yang biasa dilakukan setelah salat subuh dan salat ashar adalah sama sekali tidak ada
dasarnya. Ibn Abdis Salam menyebutkan bahwa jabatan tangan tersebut adalah termasuk bid'ah yang
diperbolehkan atau yang dianggap bagus oleh Imam Nawawi. Sepatutnya diperinci di antara orang yang
beserta dia sebelum salat, maka jabatan tangan di antara keduanya sesudah salat tersebut adalah mubah;
dan orang yang tidak beserta dia sebelum salat, maka hukumnya sunnah. Karena jabatan tangan itu
adalah disunahkan secara ijma' (kesepakatan para ulama) pada waktu bertemu.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,


Apakah Sujud Tilawah Itu?
Selasa, 17 Jun 08 08:00 WIB

Assalamualaikum pak ustad

Ada pengalaman waktu sholat berjamaah waktu membaca surat tiba tiba imam melakukan sujud kemudian
berdiri dan meneruskan membaca surat lagi, seakan akan jumlah rekaatnya bertambah. Saya tanyakan pada
ma'mum lainnya katanya itu sujud tilawah. mohon dijelaskan:

1. Apa yang dimaksud sujud tilawah
                                                                                                            23

2. Waktu membaca surat apa kita melakukan sujud tilawah

3. Hukum sujud tilawah

Sekian terima kasih

Wassalam

Khairul Hidayat
kha_rel

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sujud tilawah adalah sujud yang dilakukan karena kita melakukan tilawah. Yang dimaksud dengan tilawah
adalah membaca Al-Quran.

Di dalam Al-Quran Al-Kariem ada beberapa ayat yang disebut dengan ayat sajdah. Setiap kali membaca
ayat itu, kita disunnahkan untuk melakukan sujud. Dan nama sujud itu adalah sujud tilawah.

Yang menarik, sujud ini bisa saja dilakukan saat kita sedang shalat dan kebetulan membaca ayat-ayat sujud
tilawah. Namun bisa juga dilakukan di luar shalat, yaitu saat membaca Al-Quran dan membaca ayat-ayat
tersebut.

Dasar Masyru'iyah Sujud Tilawah

Ada bberapa dalil yang bisa dijadikan sebagai landasan dasar sujud tilawah. Antara lain ayat berikut ini:




Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al-Quran dibacakan kepada
mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata, "Maha Suci Tuhan
kami; sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi." Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil
menangis dan mereka bertambah khusyuk.(QS. Al-Isra': 107-109)

Selain itu juga ada dalil lainnya, yaitu sabda Rasulullah SAW;

                         ‫ط‬                                         -            -         -


Dari Abi Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Apabila seorang anak Adam
membaca ayat sajdah kemudian dia bersujud, setan kecewa dan menangis seraya berkata, "Aduh, anak
Adam diperintahkan sujud lalu dia sujud maka dia mendapat surga, sedangkan aku diperintahkan sujud
namun aku membangkang, maka aku mendapat neraka."(HR Muslim)

                                                           ‫ص‬

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Rasulullah SAW
membacakan kami suatu surat, kemudian beliau bersujud dan kami pun bersujud (HR Bukhari dan
Muslim)

Hukum Mengerjakan Sujud Tilawah

Berdasarkan dari dalil-dalil di atas dan banyak lagi dalil lainnya, para ulama umumnya mengatakan bahwa
sujud tilawah hukumnya sunnah. Namun kalau kita perdalam lagi, sebenarnya ada sedikit variasi hukum
yang mereka kemukakan.

1. Pendapat mazhab Asy-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah

Mereka sepakat mengatakan bahwa hukum sujud tilawah adalah sunnah muakkadah. Dalam pandangan
mereka, sujud tilawah ini tidak menjadi wajib, karena Rasulullah SAW pernah juga tidak melakukan sujud
tatkala membaca atau dibacakan ayat sajdah, yaitu sebagaimana disebutkan di dalam riwayat berikut ini:

Dari Zaid bin Tsabit berkata, "Aku membaca surat An-Najm di depan Nabi SAW namun beliau tidak
melakukan sujud. (HR Bukhari dan Muslim)
                                                                                                      24

2. Pendapat mahzab Al-Hanafiyah

Cukup menarik kalau kita pelajari mazhab ini khususnya dalam hal sujud tilawah. Sebab mereka lah satu-
satunya mazhab yang mengatakan bahwa hukum sujud tilawah itu wajib. Keterangan seperti itu bisa kita
telusuri di dalam kitab Fathul Qadir jilid 1 halaman 382.

Untuk itu di antara dalil yang mereka gunakan adalah sabda Nabi Muhammad SAW:

Sujud itu wajib bagi mereka yang mendengarnya (ayat sajdah)

Namun hadits ini menurut Az-Zayla'i adalah hadits yang gharib, sebagaimana kita baca dalam kitab
Nashburrayah jilid 2 halaman 178.

Namun para ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah tentu saja tidak hanya bergantung pada satu hadits ini
saja. Ternyata mereka juga menggunakan hadits tentang syetan yang menangis melihat anak Adam
bersujud. Di atas tadi kami sudah tuliskan haditsnya.

3. Pendapat mazhab Al-Malikiyah

Kalau kita baca dalam kitab Jawahirul Iklil jidil 1 halaman 71, kita akan dapati ternyata para ulama di
dalam mazhab ini agak kurang kompak. Sebagain bilang bahwa sujud tilawah itu hukumnya sunnah yang
bukan muakkadah. Sebagian lainnya mengatakan hukumnya fadhilah (keutamaan).

Yang bilang hukumnya sunnah ghairu muakkadah adalah Ibnu 'Athaillah dan Al-Fakihani Sedangkan yang
mengatakan hukumnya fadhilah adalah Al-Baji dan Ibnu Katib.

 Ayat-ayat Sajdah

Ada 15 ayat yang telah disepakati para ulama sebagai ayat sajdah. Lengkapnya ayt-ayat itu adalah sebagai
berikut:

‫ص‬                   –                 -(
                        ) (‫ح‬        ‫– سح‬
      (                        ‫إل‬

1. Surat Al-A'raf:206

‫ب‬

Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada di sisi Tuhanmu tidaklah merasa enggan menyembah Allah dan
mereka mentasbihkan-Nya dan hanya kepada-Nya lah mereka bersujud
2. Surat Ar-Ra'd: 15

    ‫ض‬                                      ‫هلل‬

Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri
atau pun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari

3. Surat An-Nahl: 49

              ‫هلل‬                                   ‫ض‬

Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di
bumi dan (juga) para malaikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri

4. Surat Al-Isra': 107



Katakanlah: “Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya
orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka
menyungkur atas muka mereka sambil bersujud

5. Surat Maryam: 58



Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur
dengan bersujud dan menangis
                                                                                                   25

6. Surat Al-Hajj: 18

‫ب‬                                             ‫ض‬
                                               ‫ب‬

Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari,
bulan, bintang, gunung, pohon- pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada
manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barang siapa yang
dihinakan Allah maka tidak seorang pun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia
kehendaki

7. Surat Al-Hajj: 77



Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah
kebaikan, supaya kamu mendapat kemenangan

8. Surat Al-Furqan: 60

                                 ‫ز‬

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Sujudlah kamu sekalian kepada Yang Maha Penyayang”, mereka
menjawab: “Siapakah yang Maha Penyayang itu? Apakah kami akan sujud kepada Tuhan Yang kamu
perintahkan kami (bersujud kepada-Nya)?”, dan (perintah sujud itu) menambah mereka jauh (dari iman)

9. Surat An-Naml: 25

                                 ‫ض‬              ‫ب‬                ‫هلل‬

agar mereka tidak menyembah Allah Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan
Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan

10. Surat As-Sajdah: 15



Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, adalah orang-orang yang apabila
diperingatkan dengan ayat-ayat (Kami), mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Tuhannya,
sedang mereka tidak menyombongkan diri

11. Surat Shaad: 24

                                     ‫ب‬

Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu
menyungkur sujud dan bertobat

12. Surat Fushshilat: 37

                           ‫هلل‬


Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah
bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang
menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah

13. Surat An-Najm: 62

         ‫هلل‬

Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)

14. Surat Al-Insyiqaq: 21



Dan apabila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud

15. Surat Al-'Alq: 19

‫ب‬
                                                                                                          26

sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada
Tuhan)

Tata Cara Sujud Tilawah

Sujud tilawah dilakukan hanya sekali saja, baik di dalam shalat maupun di luar shalat. Di dalam shalat,
begitu selesai membaca ayat sajdah, kita disunnahkan untuk langsung sujud, tanpa ruku' atau i'tidal.
Sujudnya hanya sekali dan langsung berdiri kembali untuk meneruskan bacaan yang tadi sempat terjeda
untuk sujud.

Sujud tilawah di dalam atau di luar shalat dilakukan di tengah dua takbir. Maksudnya, sujud itu dimulai
dengan takbir lalu sujud lalu bangun dari sujud dengan takbir juga.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh


Terlambat Shalat Jumat, Harus Bagaimana?
Jumat, 23 Peb 07 15:09 WIB

Assalamu’alaikum warahmatuLlahi wabarakatuh,

Saya mohon dijelaskan tentang apa yang harus saya lakukan kalau saya terlambat shalat jumat? Apakah
saya shalat Jumat sendirian atau saya shalat Dzhuhur saja?

Dan sekalian juga mohon dijelaskan tentang batasan terlambat, apakah bila tidak ikut mendengarkan
khutbah atau memang tidak ikut shalat, atau pada rakaat berapa?

Demikian pertanyaan saya dan terima kasih sebelumnya atas kesediaan ustadz menjawabnya.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Abu Abu
namauser

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Para ulama telah bersepakat bahwa siapa yang tertinggal ikut jamaah shalat jumat, maka harus shalat empat
rakaat yaitu shalat zhuhur. Sedangkan batas apakah seseorang itu bisa dikatakan masih ikut shalat jumat
atau tidak adalah bila minimal masih mendapat satu rakaat bersama imam dalam shalat jumat.

Misal, pada shalat jumat ada seorang yang terlambat. Lalu dia ikut shalat bersama imam, sedangkan saat itu
imam sudah berada pada rakaat kedua tapi belum lagi bangun dari ruku'. Maka bila makmum itu masih
sempat ruku' bersama imam, berarti dia telah mendapat satu rakaat bersama imam. Dalam hal ini, dia
mendapatkan shalat jumat karena minimal ikut satu rakaat. Jadi bila imam mengucapkan salam, maka dia
berdiri lagi untuk menyelesaikan satu rakaat lagi.

Tapi bila dia tidak sempat bersama imam pada saat ruku' di rakaat kedua, maka dia tidak mendapat minimal
satu rakaat bersama imam. Yang harus dilakukannya adalah tetap ikut dalam jamaah itu, tapi berniat untuk
shalat zhuhur.

Bila seseorang masuk masjid untuk shalat jumat, tetapi imam sudah i'tidal (bangun dari ruku') pada rakaat
kedua, maka saat itu dia harus takbiratul ihram dan langsung ikut shalat berjamaah bersama imam tapi
niatnya adalah shalat zhuhur. Bila imam mengucapkan salam, maka dia berdiri lagi untuk shalat zhuhur
sebanyak 4 rakaat. Ketentuan ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW:




Dari Abi Hurairah ra.“Siapa yang mendapatkan satu rakaat bersama imam, maka dia terhitung
(mendapat) shalat itu”. (Hadits Muttafaq Alaihi: Bukhari no. 580, Muslim 607).




Dari Abdullah bin Umar ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang mendapatkan satu rakaat pada
shalat Jumat atau shalat lainnya, maka dia terhitung (mendapat) shalat itu”.

Selain kedua dalil ini adalah beberapa hadits lain yang senada yang diriwayatkan oleh An-Nasai, Ad-
Daruquhtuni dan lainnya.
                                                                                                       27

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,


Shalat Jumat Bagi Wanita
Senin, 31 Mar 08 07:39 WIB

Assalamualaikum wr.wb

Ustadz yang saya hormati, saya mau bertanya bagaimana menjawab pertanyaan kepada orang yang tidak
percaya hadist mengenai sunahnya perempuan melakukan sholat Jumat.

Karena orang yang bertanya ke saya selalu mengaitkan kepada surat Jumat ayat 9 "Hai orang-orang yang
beriman...." tidak menyebutkan suatu gender perempuan atau laki-laki, sedang yang saya tau perempuan
disunnahkan tidak melakukan sholat Jumat adalah di Hadist.

Mohon petunjuknya, terima kasih

W_w

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Seorang wanita pada dasarnya tidak diwajibkan untuk menghadiri shalat Jumat.Yang wajib bagi mereka
untuk dikerjakan adalah shalat Dzhuhur.

Pernyataan seperti ini langsung disebutkan oleh Rasulullah SAWpada salah satu hadits beliau:

Dari Thariq bin Syihab ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Shalat Jumat itu adalah kewajiban bagi
setiap muslim dengan berjamaah, kecuali (tidak diwajibkan) atas 4 orang. [1] Budak, [2] Wanita, [3] Anak
kecil dan [4] Orang sakit." (HR Abu Daud)

Al-Imam An-Nawawi berkata bahwa isnad hadits inishahih sesuai dengan syarat dari Bukhari. Ibnu Hajar
mengatakan bahwa yang menshahihkan hadits itu bukan hanya satu orang.

Namun apabila seorang wanita tetap ikut melakukan shalat Jumat, maka shalatnya itu telah menggugurkan
kewajiban shalat Jumat atasnya. Sehingga dia tidak perlu lagi mengulanginya dengan shalat Jumat.

Adapun adanya dalil yang Al-Quran di dalam surat Al-Jumu'ah tentang khitab kepada orang-orang beriman
yang mencakup laki-laki dan perempuan, memang ayat itu tidak salah. Pada dasarnya memang kalau Allah
SWT memanggil dengan panggilan "Wahai orang-orang yang beriman", memang tidak membedakan antara
laki-laki dan perempuan.




Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, maka bersegeralah kalian
kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu
mengetahui.(QS. Al-Jumu’ah 9)

Namun karena ada hadits di atas yang menjadi muqarin (pembanding) dari keumuman ayat Al-Quran itu,
maka kita harus menggabungkannya. Sehingga menjadi pengertian bahwa shalat Jumat itu tidak wajib bagi
wanita, hanya wajib bagi laki-laki. Namun bila seorang wanita ikut shalat Jumat, maka tetap sah dan cukup
baginya shalat Jumat itu tanpa perlu lagi melakukan shalat Dzhuhur.

Dalam metologi fiqih, bila ada dua dalil yang sama-sama shahih, harus dicarikan titik temu antara
keduanya. Bukan dengan sistem gugur, di mana salah satunya harus kalah.

Ayat Al-Quran tidak boleh ditabrakkan begitu saja dengan hadits nabawi. Tidak dibenarkan menggugurkan
sebuah hadits nabawi yang shaih dan menganggapnya tidak berlaku, hanya karena alasan ada ayat Quran
yang tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan ketika memerintahkan shalat Jumat.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh_______________________


Bacaan Al-Fatihah Makmum Saat Shalat Berjamaah
Kamis, 11 Okt 07 09:36 WIB

Saya langsung saja ke pertanyaan Pak Ustadz.
                                                                                                          28

Saat shalat berjamaah pada 2 rakaat pertama, kapankah makmum membaca Al-Fatihah? Apakah setelah
imam membaca Al-Fatihah (Saat imam membaca ayat al-guran) atau mengikuti bacaan imam saat imam
membaca Al-Fatihah?

Hamba Allah

Jawaban

Assalamu 'alaikum wrahmatullahi wabarakatuh,

Apa yang anda tanyakan sesugguhnya tetap masih menjadi polemik di kalangan ahli ijtihad yang tertinggi,
yaitu di kalangan empat mazhab. Secara rinci berikut ini kami sampaikan bagaimana perbedaan pendapat di
tengah mereka, apa yang menyebabkannya tanpa kami mengharuskan anda memilih sesuai dengan selera
kami.

Sebab pendapat mereka masing-masing ada benarnya dan sulit untu disalahkan, sehingga kalau ada teman
kita yang kebetulan punya pendapat yang tidak sama dengan pendapat kita, setidaknya kita bisa lebih arif
dan bijaksana dalam bersikap, toh mereka juga punya dalil.

a. Mazhab Asy-Syafi'i

Mazhab As-syafi`iyah mewajibkan makmum dalam shalat jamaah untuk membaca surat Al-Fatihah sendiri
meski dalam shalat jahriyah (yang dikeraskan bacaan imamnya). Tidak cukup hanya mendengarkan bacaan
imam saja.

Karena itu mereka menyebutkan bahwa ketika imam membaca surat Al-Fatihah, makmum harus
mendengarkannya, namun begitu selesai mengucapkan, masing-masing makmum membaca sendiri-sendiri
surat Al-Fatihah secara sirr (tidak terdengar).

Namun dalam pandangan mazhab ini, kewajiban membaca surat Al-Fatihah gugur dalam kasus seorang
makmum yang tertinggal dan mendapati imam sedang ruku`. Maka saat itu yang bersangkutan ikut ruku`
bersama imam dan sudah terhitung mendapat satu rakaat. Rujuk kitab Al-Majmu, karya Al-Imam An-
Nawawi rahimahullah jilid 3 halaman 344 s/d 350.

b. Mazhab Al-Malikiyah dan Al-Hanabilah

Mazhab Al-Malikiyah dan Al-Hanabilah mengatakan bahwa seorang makmum dalam shalat jamaah yang
jahriyah (yang bacaan imamnya keras) untuk tidak membaca apapun kecuali mendengarkan bacaan imam.
Sebab bacaan imam sudah dianggap menjadi bacaan makmum.

c. Mazhab Al-Hanafiyah

Sedangkan mazhab Al-Hanafiyah yang mengatakan bahwa Al-Fatihah itu bukan rukun shalat, cukup
membaca ayat Al-Quran saja pun sudah boleh. Sebab yang dimaksud dengan `rukun` menurut pandangan
mazhab ini adalah semua hal yang wajib dikerjakan baik oleh imam maupun makmum, juga wajib
dikerjakan dalam shalat wajib maupun shalat sunnah.

Sehingga dalam tolok ukur mereka, membaca surat Al-Fatihah tidak termasuk rukun shalat, sebab seorang
makmum yang tertinggal tidak membaca Al-Fatihah tapi syah shalatnya. Bahkan makmum shalat
dimakruhkan untuk membaca Al-Fatihah karena makmum harus mendengarkan saja apa yang diucapkan
imam.

Selain itu mereka berpendapat bahwa di dalam Al-Quran diperintahkan membaca ayat Quran yang mudah.
Sebagaimana ayat berikut ini:

QS. Al-Muzzamil: 20)

Dan sabda Rasulullah SAW:

Dari Abi Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidak syah shalat itu kecuali dengan
membaca al-Quran."(HR Muslim)

Dalam mazhab ini, minimal yang bisa dianggap sebagai bacaan Al-Quran adalah sekadar 6 huruf dari
sepenggal ayat. Seperti mengucapkan tsumma nazhar, di mana di dalam lafaz ayat itu ada huruf tsa, mim,
mim, nun, dha` dan ra`. Namun ulama mazhab ini yaitu Abu yusuf dan Muhammad mengatakan minimal
harus membaca tiga ayat yang pendek, atau satu ayat yang panjangnya kira-kira sama dengan tiga ayat yang
pendek.

Silahkan lihat pada kitab Addur Al-Mukhtar jilid 1 halaman 415, kitab Fathul Qadir jilid 1 halaman 193-
205322, kitab Al-Badai` jilid 1 halaman 110 dan kitab Tabyinul Haqaiq jilid 1 halaman 104)
                                                                                                           29

Wallahu alam bishshawab, wassalam 'alaikum warahatullahi wabarakatuh,_________________________


Bagaimana Caranya untuk Mendapatkan Sholat
Khusyu'
Selasa, 20 Nov 07 06:42 WIB

Assalamu 'alaikum Ustadz, apa kabar?

Saya Ijal dari Medan. Saya ingin bertanya kepada ustadz, bagaimana caranya agar kita dapat khusu' di
dalam melaksanakan ibadah shalat?

Yang kedua, saya kadang rajin sholat namun rajin juga melanggar perintah agama, bagaimana caranya agar
shalat yang saya lakukan dapat mencegah perbuatan saya yang dilarang oleh Allah SWT.

Terimakasih atas jawabannya............

Wassalam,

Syah Rijal Munthe

Syah Rijal Munthe
munthebrothers@yahoo.com

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Shalat dengan khusyu' itu tidak bisa kita definisikan secara akal-akalan, apalagi menggunakan perkiraan
berdasarkan pengalaman rohani seseorang. Sebab shalat itu ibadah ritual, di mana kita sama sekali tidak
punya ruang untuk melakukan improvisasi sendiri.

Maka konsep shalat khusyu' haruslah turun dari langit, yaitu dari yang memerintahkan shalat itu sendiri.
Kita tidak diberi peluang untuk membuat-buat aturan tentang kekhusyu'an ritual shalat.

Maka alangkah baiknya bilakonsep khusyu' itu sendiri yang perlu kita tetapkan terlebih dahulu. Jangan
sampai kita hanya mengarang sendiri. Untunglah kita ini umat nabi Muhammad SAW, sehingga tidak ada
masalah untuk mencariguidedalam urusan kekhusyu'an shalat. Guide kitaadalah Rasulullah SAW dalam
urusan ini. Kalau mau tahu seperti apa shalat khusyu', maka lihatlah tata cara shalat beliau.

Khusyu Bukan Kontemplasi

Kalau kita sudah sepakat bahwa orang yang paling berhak untuk menetapkan kekhusyuan dalam shalat
adalah Rasululah SAW, maka insya Allah kita sudah mendapatkan separuh dari jawaban masalah khusyu'
ini. Lain halnya kalau ada di antara kita yang masih berpikir bahwa ada sosok lain yang lebih perlu kita
ikuti dari sosok Rasulullah SAW.

Maka sekilas kita dapat melihat bagaimana praktek shalat Rasulullah SAW yang disebut dengan khusyu'.
Adakah beliau pada saat shalat melakukan beragam ritual kontemplasi sehingga tidak ingat apa-apa?
Adakah saat shalat beliau menutup diri dari kejadian di sekitarnya? Adakah saat shalat beliau lupa ingatan
dan hanya membangun hubungan dengan Allah saja tanpa mempedulikan orang lain?

Ternyata tidak demikian. Justru Rasululah SAW ketika shalat sangat peduli lingkungan. Bukankah beliau
mempercepat shalatnya kalau sedang menjadi imam dan mendengar ada bayi yang menangis dari shaf para
wanita? Bukankah beliau memerintahkan kita yang sedang shalat untuk menghalangai orang yang akan
lewat di depan kita? Bukankah beliau memerintahkan kita yang sedang shalat untuk membunuh ular?

Kalau shalat khusyu' dimaknai sebagai memtuskan diri dari semua yang ada selain Allah saja, maka
bagaimana bisa Rasulullah SAW mempercepat shalatnya saat bayi menangis? Bagaiman bisa beliau
meminta kita menghalangi orang yang mau lewat atau membunuh ular?

Pernah suatu ketika saat beliau sujud, kedua cucunya naik ke atas bahu beliau. Maka beliau pun
memperlama sujudnya, seolah memberi kesempatan kepada kedua cucunya itu untuk puas bermain naik ke
atas bahunya.

Nah, inilah bentuk shalat khusyu' yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Dan jelas sekali tidak ada
kekhususan dalam hal ini. Rasulullah SAW adalah suri tauladan kita. Beliau yang mengatakan, "Shalatlah
kamu sebagaimaan kalian melihat aku melakukan shalat."
                                                                                                          30

Khusyu' = Konsentrasi

Maka kalau kita timbang-timbang, agaknya yang dimaksud dengan khusyu' bukan semata-mata tidak ingat
apa-apa kecuali Allah, melainkan merupakan sebuah konsentrasi untuk menjalankan shalat dengan baik,
sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Dan shalatnya Rasulullah SAW adalah shalat
yang 'Peduli Lingkungan'.

Beliaulah yang mengajarkan kepada kita untuk menjawab salam saat shalat dengan isyarat. Dan itulah
shalat yang khusyu'. Beliau pula yang mengajarkan bagaimana makmum berkewajiban membenarkan
gerakan atau bacaan imam, bahkan shat yang paling belakang, yaitu shaf para wanita, juga diberikan hak
untuk membenarkan iman, dengan cara bertepuk.

Kalau shalat khusyu' dimaknai sebagai tidak ingat apa-apa yang ada di sekelilingnya, bagaimana mungkin
makmum membenarkan imam?

Maka yang paling mudah dalam memahami konsep khusyu' adalah bahwa seseorang melakukan shalat dan
dia konsentrasi terhadap apa yang sendang dilakukannya. Kalau dia membaca ayat Al-Quran, maka dia
memahami apa yang dibacanya dan benar-benar konsentrasi terhadap bacaan serta maknya yang
dikandungnya.

Ketika dia mengucapkan takbir, maka dia meresapi bahwa hanya Allah saja yang Maha Besar, yang selain
Allah tidak ada apa-apanya. Ketika dia membaca doa istiftah, maka dia benar-benar meresapi makna yang
terkandung di dalamnya.

Kalau dia menjadi makmum atau imam, maka dia tahu bagaimana mengatur komposisi gerakan bersama
jamaah yang lain. Dan yang lebih penting, dia ingat hitungan bilangan rakaatnya, tidak lupa atau rancu.

Jadi intinya, shalat yang khusyu' itu bukan semata-mata kontemplasi tidak ingat apa-apa, tetapi shalat
khusyu' adalah shalat yang memenuhi semua syarat, rukun, kewajiban dan tahu makna dari tiap gerakan
dan bacaannya, yang dilakukan sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Kiat Meninggalkan Larangan Agama

Untuk bisa meninggalkan larangan agama, ada beberapa kita yang bisa dijadikan shok tetapi, mungkin
berguna bagi sebagian orang, tapi belum tentu buat sebagian yang lain.

1. Pergaulan

Kalau anda punya teman bergaul orang-orang yang takut melakukan maksiat, setidaknya ketika anda ingin
melakukan maksiat, anda akan merasa malu dan tidak enak hati.

Sebaliknya, kalau teman pergaulan anda adalah orang-orang yang hobi melakukannya, maka setidaknya
ketika anda melakukan maksiat, tidak ada yang mengingatkan.

2. Ingat Mati

Kalau anda sering ikut shalat jenazah dan mengantarkan mayat ke kuburannya dan anda benar-benar
membayangkan kalau yang sedang digotong beramai-ramai itu adalah diri anda sendiri, kemungkinan anda
akan berpikir ulang setiap ingin maksiat.

Dan kalau anda sadar bahwa kematian itu tidak pernah pilih-pilih usia, maka anda akan sedikit tahu diri
untuk tidak sembarangan melakukan maksiat. Data statistik menunjukkan bahwa ternyata kasus mati muda
cukup besar. Baik karena faktor penyakit maupun faktor nasib.

Pastikan jangan sampai ketika melakukan maksiat, Allah SWT mengirim Izrail untuk mencabut nyawa.

3. Sering Mengingat Hari Akhir

Kalau anda sering mengkaji dan menelaah kabar tentang nasih seseorang nanti di alam barzakh, yaumil
hisab dan surga serta neraka, maka setidaknya anda sudah tahu resiko apa yang akan anda ambil manakala
anda ingin melakukan maksiat.

4. Doa

Maka sering-seringlah berdoa dan minta kepada Allah SWT agar hati kita dikuatkan di dalam iman.

Wahai yang Maha membolak-balik hati, tetapkanlah hati-hati kami ini dalam agamamu dan keimanan.

Semoga Allah SWT selalu menjaga kita dari jatuh ke dalam hal-hal yang diharamkan-Nya, Amien
                                                                                                        31

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh_______________________


Sikap yang Terbaik Masalah Perbedaan Qunut
Senin, 26 Peb 07 07:19 WIB

Assalamu'alaikum Wr Wb.

Pak Ustadz, beberapa waktu lalu pak Ustadz pernah mengangkat masalah perbedaan pandangan tentang
Qunut. Tambahan pertanyaan dibenak saya adalah: Bagaimana seharusnya kita bersikap pada saat kita
sholat berjamaah di mana imam dan sebagian besar jamaah lainnya memiliki prinsip yang berbeda dalam
hal ini. Apakah kita tetap melakukan seperti apa yang kita yakini atau kita perlu ikut iman dan sebagian
besar jamaah di masjid tersebut.

Contoh konkritnya adalah pada saat imam dan sebagian besar jamaah qunut, apakah kita yang tidak mau
qunut, mengikuti saja melakukan hal tersebut atau kita cukup berdiri i'tidal tanpa qunut?

Begitu pula untuk kasus sebaliknya bagi jamaah yang mau qunut tapi imamnya tidak qunut.

Terima kasih dan Wassalamu'alaikum Wr WB.

Hamba Allah

Jawaban

Sebagaimana sudah dijelaskan, qunut pada shalat shubuh itu hukumnya menjadi khilaf di antara para ulama
senior. Ada ulama yang mengatakannya bid'ah, namun ada yang sebaliknya, hukumnya sunnah muakkadah.
Tentu kita tidak mungkin menuduh sesat seorang ulama yang berada pada level mujtahid mutlak, semacam
Asy=syafi'i dan Imam Malik rahimahumallah.

Mereka adalah para begawan ilmu fiqih. Kepada mereka lah seluruh ulama di dunia Islam sepanjang masa
berkiblat. Kita tidak mungkin menyalahkan salah satu dari keduanya.

Maka bila kita cenderung kepada pendapat yang mengatakan bahwa qunut pada shalat shubuh itu bid'ah
misalnya, maka kita tetap bisa dan wajib shalat bersama mereka yang mengatakan bahwa hukumnya
sunnah muakkadah.

Caranya bagaimana?

1. Kemungkinan Pertama

Seandainya kita termasuk kalangan yang meyakini bahwa qunut itu bid'ah, lalu kebetulan kita yang jadi
imam, maka begitu bangun dari ruku' dan i'tidal pada rakaat terakhir shalat shubuh, janganlah kita langsung
bersujud. Berilah kesempatan kepada para makmum untuk membaca qunut sendiri-sendiri. Tunggulah
beberapa saat sehingga doa qunut dari pada makmum selesai dikerjakan.

Disni akan kentara bahwa meski kita berpandangan bahwa qunut itu bid'ah, namun sebagai imam yang
baik, kita tetap mengakui adanya perbedaan pendapat. Kita beri kesempatan kepada saudara kita dari
mazhab lain untuk mengerjakan apa yang telah menjadi keyakinan mereka.

Namun apabila kita yang jadi makmum dan imamnya baca qunut, maka kita boleh diam saja saat itu. Tidak
diwajibkan untuk mengamini qunutnya imam.

2. Kemungkinan Kedua

Seandainya kita termasuk yang mendukung qunut dan hukumnya sunnah muakkadah. Lalu kebetulan kita
menjadi imam buat makmum yang meyakini bid'ahnya qunut. Maka yang bisa kita lakukan adalah berqunut
biasa, namun bila tidak terdengar suara makmum mengamini doa qunut yang kita baca, jangan marah dan
gusar. Kita harus hargai bahwa ada orang yang pendapatnya tidak sama dengan kita.

Dan seandainya kita yang jadi makmum, namun imamnya tidak memberikan kesempatan untuk qunut,
maka kita tidak boleh melakukan qunut sendiri. Agar kita tidak kehabisan waktu di belakang imam.

Kalau setelah shalat mau sujud sahwi sendiri, silahkan saja. Sebab dalam pandangan mazhan ini, bila
seseorang tidak membaca qunut saat shubuh, maka hendaklah dia melakukan sujud sahwi.

Kesimpulan
                                                                                                        32

Meski ada dua pendapat yang saling bertentangan dalam hukum qunut, namun shalat berjamaah tetap bisa
dilakukan.

Meski beda keyakinan hukumnya, namun kerjasama antara pemeluk mazhab berbeda harus tetap terbangun
secara berkesinambungan. amien.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,______________________


Tarawih Berjama'ah Cepat v.s. Munfarid Khusyu'
Senin, 9 Okt 06 08:42 WIB

Assalamu'alaikum,

Saya adalah pengikut shalat tarawih 20 rakaat. Di lingkungan saya tinggal tarawih juga dilakukan 20 rakaat,
tapi hampir semuanya melaksanakan tarawih dengan cara yang cepat, sehingga saya sebagai makmum tidak
dapat tenang dalam shalat apalagi khusyu'. Sedangkan saya lebih suka jika sholat itu dilakukan dengan
tenang sehingga bisa paling tidak mendekati khusyu'.

bagaimana seharusnya pak ustadz, apakah saya sebaiknya mengutamakan tarawih yang berjamaah tapi
hanya mengejar sahnya saja ataukah tarawih munfarid tetapi bisa mengupayakan kekhusyukan shalat saya?

Hery
bagong

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sebenarnya kalau anda mau, Anda bisa melakukan keduanya sekaligus. Pertama, anda ikut tarawih
berjamaah yang 'cepat', lalu kedua anda shalat sendirian yang menurut anda lebih khusyu'.

Mengapa kami anjurkan anda ikut tawawih yang cepat? Ada beberapa alasan. Antara lain meski pun
tarawih itu cepat, biar bagaimana pun tetap berpahala. Selain juga dapat pahala berjamaah, silaturrahim dan
menghidupkan atau mensyiarkan Ramadhan dengan tarawih berjamaah. Dan umumnya para ulama
mengatakan yang lebih afdhal dilakukan dengan berjamaah di masjid bersama-sama dengan satu imam
yang baik bacaannya.

Itulah shalat tarawih yang dilaksanakan di masa khalifah Umar bin Al-Khattab dan menjadi ijma' para
shahabat.

Namun anda bisa tetap shalat dengan khusyu' dengan cara shalat sendirian setelah tarawih yang 'cepat' itu,
boleh dengan niat tarawih atau tahajjud. Kalau anda lakukan sebelum tidur, maka shalat itu disebut tarawih.
Kalau dilakukan setelah bangun tidur, namanya tahajjud.

Anda tidak perlu risau dengan jumlah rakaatnya, sebab di masa Umar bin Abdul Aziz, kaum muslimin di
Madinah melakukan shalat tarawih sebanyak 36 rakaat.

Menurut para ulama, tidak menjadi masalah dengan jumlah rakaat dan biasanya diseimbangkan antara
kualitas dan kuantitas. Kalau rakaatnya panjang, maka jumlahnya lebih sedikit. Tetapi kalau rakaatnya
pendek-pendek, maka jumlahnya diperbanyak. Jadi 8 rakaat, atau 20 rakaat atau 36 rakaat, tidak jadi
masalah. Semua ada dalilnya, tinggal para ulama berbeda pendapat mana yang jadi pilihan mereka.

Kalau anda niatkan untuk shalat tahajjud, juga boleh-boleh saja. Sebab haditsnya juga menyebutkan bahwa
Rasulullah SAW selalu melaksanakan shalat tahajjud di bulan Ramadhan dan juga di luar Ramadhan.

Memang ada sementara kalangan ulama yang berpandangan bahwa tarawih itu adalah tahajjudnya
Ramadhan. Namun umumnya para ulama umumnya tetap membedakan keduanya. Artinya, shalat tarawih
dan tahajjud adalah dua ibadah yang terpisah, berbeda dan masing-masing berdiri sendiri.

Wallahu 'alam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,______________________


Mengapa Penetapan 1 Syawal Berbeda
Sabtu, 20 Okt 07 11:50 WIB

Asslamu alaikum wr. Wb
                                                                                                       33

Pak ustadz, saya sebagai orang awam binggung karena di sekitar tempat tinggal saya mayoritas orang
Muhammadiyah. Otomatis lebaran tahun ini beda lagi, kita masih puasa tetangga sebelah sudah berlebaran.
Bagaimana menurut pak ustad?

Kalau bisa tahu, tahun kemarin pak ustad ikut yang mana?

Terimah kasih atas jawabanya mohon maaf jika ada kata yang tidak memuaskan.

Seti

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabrakatuh

Perbedaan dalam menetapkan hari jatuhnya lebaran memang sudah bisa diprediksi. Kejadian itu sudah
berlangsung sejak lama dan akan selalu terus berulang setiap tahun.

Tahun 2007 ini umat Islam di Indonesia sekali lagi akan mengalami perbedaan penetapan hari Raya Idul
Fithri. KarenaMuhammadiyah menetapkan 1 Syawal 1428 H jatuh pada 12 Oktober 2007. Penetapan
Muhammadiyah tersebut diterbitkan dalam bentuk maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah No:
03/MLM/1.0/ E/2007.

Jauh-jauh hari PP Muhammadiyah memang telah menetapkan jatuhnya lebaran yang berbeda. Tentu saja
semua itu diputuskan lewat mekanisme yang sudah ada sejak dahulu.

Untuk menetapkan 1 Syawal, Muhammadiyahmenggunakan pendekatan wujudul hilal.Artinya, tidak hanya
menggunakan mata kepala, tapi menggunakan ilmu pengetahuan yang disebut dengan ilmu hisab.

Dengan dasar tersebut, yang dinamakan bulan baru adalah bila matahari terbenam hilal masih di atas ufuk.
Pada 11 Oktober nanti, hilal masih di atas ufuk.

Penyebab Berbeda-beda

Sebenarnya di rubrik ini sudah seringkali kami bahas tentang penyebab perbedaan penetapan. Singkatnya,
karena ada beberapa dalil yang berbeda, atau satu dalil namun ditafsirkan secara berbeda. Sehingga umat
mengenal setidaknya dua sistem, yaitu rukyatul hilal dan hisab.

Kedua metode ini seringkali melahirkan hasil yang berbeda dalam penetapan tanggal. Tapi yang lebih
menarik, bahkan meski sama-sama menggunakan rukyatul hilal, hasilnya belum tentu sama. Demikian
juga, meski sama-sama pakai hisab, hasil seringkali juga berbeda.

PerbedaanAntar Negara

Sudahsering terjadi bahwa umat Islamyang hidup di bawah berbagai macam pemerintahan, seringkali
berbeda dalam penetapan awal Ramadhan dan Syawwal.

Kewajaran itu lantaranmasing-masing pemerintahan punya hak untuk menetapkannya, karena mereka
memang berdiri sendiri dan tidak saling terikat. Sehingga amat wajar independensi otoritas penetapan
jadwal puasa pun dilakukan sendiri-sendiri oleh masing-masing pemerintahan.

Maka wajar bila Mesir dan Saudi Arabia saling berbeda dalam menetapkan jadwal puasa dan lebaran.

Tetapi di dalam negeri masing-masing, umat Islam umumnya kompak. Sesama rakyat Mesir tidak pernah
terjadi perbedaan. Demikian juga, sesama rakyat Saudi tidak pernah terjadi perbedaan.

Cuma Indonesia

Tetapi khusus untuk rakyat Indonesia, rupanya masing-masing elemen umat teramat kreatif. Cerita orang
lebaran berbeda-beda tanggalnya memang hanya terjadi di dalam masyarakat kita saja. Entah apa sebabnya,
mungkin karena kebanyakan jumlah rakyatnya, atau kebanyakanormasnya, atau mungkin juga kelebihan
pe-de nya.

Yang jelas, kita selalu menyaksikan masing-masing ormas seolah merasa punya hak otoritas menetapkan
tanggal 1 Ramadhan dan tanggal 1 Syawal. Setidaknya untuk konstituen mereka sendiri. Sesuatu yang tidak
pernah terjadi di berbagai negeri Islam lainnya. Di sana, urusan penetapan seperti itu 100% diserahkan
pemerintah. Masing-masing ormas tidak pernah merasa berhak untuk menetapkan sendiri.

Jadi cerita seperti ini memang lebih khas Indonesia.
                                                                                                          34

Dan lebih lucu lagi, bukan hanya ormas yang sering tidak kompak dengan pemerintah, tetapi di dalam satu
ormas pun terkadang sering terjadi tidak kompak juga. Misalnya, ketika DPP ormas tertentu mengatakan A,
belum tentu DPW atau DPD dan DPC-nya bilang A. Masing-masing sturktur ke bawah kadang-kadang
masih merasa lebih pintar untuk menetapkan sendiri jadwal puasa.

Selain itu, juga ada ormas yang selalu menginduk ke jadwal puasa di Saudi Arabia. Mau lebaran hari apa
pun, pokoknya ikut Saudi.

Bahkan mungkin karena saking semangat untuk ijtihad, ada ormas yang sampai menasehati pemerintah
untuk tidak usah mencampuri masalah ini.

Semua pemandangan ini hanya terjadi di Indonesia, ya, sangat khas Indonesia. Dan ceritanya dari zaman
nenek moyang sampai abad internet sekarang ini masih yang itu-itu juga. Pokoknya, Indonesia banget deh.

Kita Ikut Siapa Dong?

Sebenarnya apa pun yang dikatakan baik oleh NU, Muhammadiyah, Persis dan lainnya, semua tidak lepas
dari ijtihad. Karena tidak ada nash baik Quran maupun hadits yang menyebutkan bahwa lebaran tahun 1428
hijriyah jatuh tanggal sekian.

Dan sebagai muslim, kita wajib menghormati berbagai ijtihad yang dilakukan oleh para ahlinya. Lepas dari
apakah kita setuju dengan hasil ijtihad itu atau tidak.

Dan karena kita bukan ahli ru'yat, juga bukan ahli hisab, kita juga tidak punya ilmu apa-apa tentang
masalah seperti itu, maka yang bisa kita lakukan adalah bertaqlid atau setidaknya berittiba' kepada ahlinya.

Kalau para ahlinya berbeda pendapat, 100% kita punya hak untuk memilih. Tidak ada satu pun ulama yang
berhak untuk memaksakan kehendaknya, apalagi menyalahkan pendapat yang tidak sesuai dengan hasil
ijtihadnya. TOh kalau ijtihad itu benar, ulama itu akan dapat pahala. Sebaliknya kalau salah, beliau tidak
berdosa, bahkan tetap dapat satu pahala.

Bersama Umat Islam

Salah satu hadits menyebutkan sebagai berikut:

                       ‫ط‬       ‫ط‬

Waktu shaum itu di hari kalian (umat Islam) bershaum, (waktu) berbuka adalah pada saat kalian berbuka,
dan (waktu) berkurban/Iedul Adha di hari kalian berkurban.

Hadits rasanya agak cocok buat keadaan kita yang bukan ulama, bukan ahli ru'yat atau ahli hisab. Kita
adalah para muqaalid dan muttabi'. Maka jadwal puasa kita mengikuti umat Islam umumnya di suatu
negeri.

Kalau di Indonesia umumnya atau mayoritasnya lebaran hari Sabtu, ya kita tidak salah kalau ikut lebaran
hari Sabtu, meski tetap menghormati mereka yang lebaran hari Jumat. Sebab lebaran di hari di mana
umumnya umat Islam lebaran adalahhal paling mudah danjuga ada dalilnya serta tidak membebani.

Tapi kalau ternyata 50% ulama mengatakan lebaran jatuh hari Jumat dan 50% lagi mengatakan hari Sabtu,
lalu mana yang kita pilih?

Jawabnya bahwa dalam hal ini syariah Islam memberikan kewenangan dan hak untuk menengahi
perbedaan pendapat di kalangan umat. Sebagaimana pemerintah berhak untuk menjadi wali atas wanita
yang tidak punya wali untuk menikah.

Bersama Pemerintah Islam

Jadi pemerinah resmi yang berkuasa diberikan wewenang dan otoritas untuk menetapkan jatuhnya puasa
dan lebaran, di tengah perbedaan pendapat dari para ahli ilmu, ahli hisab dan ahli falak.

Kewenangan seperti ini bukan tanpa dalil, justru kita menemukan begitu banyak dalil yang menegaskan hal
itu. Bahkan para ulama sejak dulu telah menyatakan bahwa urusan seperti ini serahkan saja kepada
pemerintah yang sah. Kalau pun pemerintah itu salah secara sengaja dan berbohong misalnya, maka
dosanya kan mereka yang tanggung.

Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata “Seseorang (hendaknya) bershaum bersama penguasa dan jamaah
(mayoritas) umat Islam, baik ketika cuaca cerah ataupun mendung.”

Beliau juga berkata mengutip hadits nabi SAW “Tangan Allah SAW bersama Al-Jama’ah."
                                                                                                       35

Apa yang dikatakan oleh Imam Ahmad bin Hanbal kemudian diamini oleh para ulama hingga sekarang ini.
Salah satunya adalah arahan dan petunjuk dari Al-'AllamahSyeikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah.

Beliau berkata, “Setiap muslim hendaknya bershaum dan berbuka bersama (pemerintah)
negerinya masing-masing."__________________________________________________

Jumlah Ayat Quran Bukan 6666 Ayat?
Minggu, 4 Nov 07 09:19 WIB

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Ustazd yang saya muliakan, Semoga selalu dalam naungan Allah

Langsung saja saya ingin menanyakan jumlah keseluruhan ayat Al-Quran, kenapa dalam perhitungan ayat
Al-Qur'an juga terjadi Khilafiyah ada yang mengatakan jumlah ayat Al-Qur'an 6666 ayat tapi ada juga yang
berpendapat kurang dari pada 6666 ayat, Mohon diberikan penjelasan titik perbedaan tersebut.

Terimakasih. Wajazakumullahu Khaira

Wassalamu'alaikum Waramahmatullahi Wabarakatuh

Abdullah

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Kami sendiri sampai hari ini masih belum menemukan sumber asli yang mengatakan bahwa jumlah ayat
Al-Quran itu benar-benar 6.666 ayat. Yang kami dapati adalah ragam pendapat yang mengatakan
jumlahnya kurang dari itu.

Para ulama sepakat mengatakan bahwa jumlah ayat Al-Quran lebih dari 6.200 ayat. Namun berapa ayat
lebihnya, mereka masih berselisih pendapat.

Menurut Nafi' yang merupakan ulama Madinah, jumlah tepatnya adalah 6.217 ayat. Sedangkan Syaibah
yang juga ulama Madinah, jumlah tepatnya 6214 ayat. Lain lagi dengan pendapat Abu Ja'far, meski juga
merupakan ulama Madinah, beliau mengatakan bahwa jumlah tepatnya6.210 ayat.

Menurut Ibnu Katsir, ulama Makkah mengatakan jumlahnya 6.220 ayat. Lalu 'Ashim yang merupakan
ulamaBashrah mengatakan bahwa jumlahnya jumlah ayat al-Quran ialah., 205 ayat.

Hamzah yangmerupakan ulama Kufah sebagaimana yang diriwayatkan mengatakan bahwa jumlahnya
6.236 ayat.

Dan pendapat ulama Syria sebagaimana yang diriwayatkan oleh Yahya Ibn al-Harits mengatakan
bahwajumlahnya 6.226 ayat.

Mengapa Berbeda?

Sebenarnya tidak ada yang beda di dalam ayat Al-Quran. Semua pendapat di atas berangkat dari ayat-ayat
Al-quran yang sama.

Yang berbeda adalah ketika menghitung jumlahnya dan menetapkan apakah suatu potongan kalimat itu
menjadi satu ayat atau dua ayat.

Ada orang yang menghitung dua ayat menjadi satu. Dan sebaliknya juga ada yang menghitung satu ayat
jadi dua.

Padahal kalau dibaca semua lafadz Quran itu, semuanya sama dan itu itu juga. Tidak ada yang berbeda.

Lalu mengapa menjadi beda dalam menentukan apakah satu lafadz itu satu ayat atau dua ayat?

Jawabnya adalah dahulu Rasulullah SAW terkadang diriwayatkan berhenti membaca dan menarik nafas.
Pada saat itu timbul asumsi pada sebagian orang bahwa ketika Nabi menarik nafas, di situlah ayat itu
berhenti dan habis. Sementara yang lain berpandangan bahwa nabi SAW hanya sekedar berhenti menarik
nafas dan tidak ada kaitannya dengan berhentinya suatu ayat.
                                                                                                       36

Lagian, nabi SAW saat itu juga tidak menjelaskan kenapa beliau menarik nafas dan berhenti. Dan tidak
dijelaskan juga apakah berhentinya itu menunjukkan penggalan ayat, atau hanya semata-mata menarik
nafas karena ayatnya panjang.

Perbedaan dalam menghitung jumlah ayat ini sama sekali tidak menodai Al-Quran. Kasusnya sama dengan
perbedaan jumlah halaman mushaf dari berbagai versi percetakan. Ada mushfah yang tipis dan sedikit
mengandung halaman, tapi juga ada mushfah yang tebal dan mengandung banyak halaman.

Yang membedakanya adalah ukuran font, jenis dan tata letak (lay out) halaman mushaf. Tidak ada
ketetapan dari Nabi SAW bahwa Al-Quran itu harus dicetak dengan jumlah halaman tertentu.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh_______________________


Hukum Software Bajakan
Senin, 20 Nov 06 10:43 WIB

Assalamu alaikum wr. wb.

Ustadz Sarwat rahimakumullah, pada saat ini kita melihat banyak sekali pembajakan program komputer, di
mana Indonesia adalah negara pembajak software nomor 3 di dunia.

Pertanyaan saya:

1. Bagaimana hukumnya memakai software bajakan menurut kaca mata Islam, saya yakin hampir semua
ma'had-ma'had Islam memakainya?

2. Bagaimana hukumnya menjual software bajakan tersebut menurut hukum Islam, karena software-
software tersebut telah dipakai oleh kaum kafirin sebagai hak monopoli dagang?

Atas jawaban ustadz, saya sampaikan jazakumullah katsiro.

Wassalamu alaikum wr. wb.

Ibnu Hanif
ayyub

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Secara umum, hak atas suatu karya ilmiyah, hak atas merek dagang dan logo dagang merupakan hak milik
yang keabsahaannya dilindungi oleh syariat Islam. Dan merupakan kekayaan yang menghasilkan
pemasukan bagi pemiliknya.

Dan khususunya di masa kini, hak ini merupakan `urf yang diakui sebagai jenis dari suatu kekayaan di
mana pemiliknya berhak atas semua itu. Boleh diperjual-belikan dan merupakan komoditi. Llihat Qarar
Majma` Al-Fiqh Al-Islami no.5 pada Muktamar kelima 10-15 Desember 1988 di Kuwait.

Namun khususnya dalam beberapa kasus tertentu, misalnya seseorang terpaksa menggunakan program
khusus dan tidak atau belum ada pilihan lain karena harganya tidak terjangkau sementara manfaatnya
sangat vital dan menjadi hajat hidup orang banyak, maka banyak ulama yang memberikan keringanan.

Namun bila seseorang membeli mesin pengcopy massal lalu `membajak` program tersebut secara massal di
mana anda akan mendapatkan keuntungan, di situlah letak keharamannya secara mutlak.
Hukum Islam sendiri pada hari ini mengakui ada hak cipta sebagai hak milik atau kekayan yang harus
dijaga dan dilindungi. Dan membajak atau menjiplak hasil karya orang lain termasuk bagian dari pencurian
atau tindakan yang merugikan hak orang lain.

Hukum Islam memungkinkan dijatuhkannya vonis bersalah atas orang yang melakukan hal itu dan
menjatuhinya dengan hukuman yang berlaku di suatu sistem hukum.

Namun memang patut disayangkan bahwa sebagian umat Islam masih belum terlalu sadar benar masalah
hak cipta ini, sehingga justru di negeri yang paling banyak jumlah muslimnya ini, kasus-kasus pembajakan
hak cipta sangat tinggi angkanya. Barangkali karena masalah hak cipta ini memang masih dianggap terlalu
baru dan kurang banyak dibahas pada kitab-kitab fiqih masa lampau.
                                                                                                         37

Mengembangkan Produk Sendiri

Satu hal yang patut dicatat dari dominasi Microsoft adalah masih engganya banyak pihak untuk bekerja
ekstra keras. Kalau ternyata menggunakan produk perusahaan itu terlalu memberatkan, bukan berarti kita
boleh membajaknya.

Mengapa kita semua tidak berpikir alternatif yang lain, misalnya menggalakkan software open source.
Selama ini yang gencar meneriakkan open souce hanya terbatas pada kelompok kecil saja, bahkan hanya di
kalangan programer tertentu.

Rasanya belum ada satu pun ormas, orsospol, jamaah, komunitas bahkan yayasan serta berbagai macam
organisasi milik umat Islam yang serius memikirkan hal ini. Jangan-jangan semua komputer di kantor-
kantor lembaga ke-Islaman itu pun masih bajakan, alias curian.

Seharusnya sudah waktunya untuk lebih serius memberikan perhatian di bidang ini, ketimbang setiap hari
hanya meributkan hal-hal yang terlalu besar.

Para ulama, dosen, aktifis, ustadz, guru ngaji, kiyai, tokoh masyarakat serta mahasiswa mestinya ikut
memikirkan solusi untuk mengembangkan dan mengenalkan open source ini. Agar umat Islam tidak mejadi
donatur tetap perusahaan asing karena membeli software secara legal, atau menjadi donatur buat para
pembajak karena membeli software bajakan. Tetapi menggunakan software hasil buatan sendiri yang kalau
mau ditindak-lanjuti secara serius, pasti tidak akan kalah kualitas dan kenyamanannya dengan produk
perusahaan asing itu.

Semoga suatu hari mimpi itu bisa jadi kenyataan._______________________________________________


Perbedaan Islam Suni dan Islam Syi'ah
Selasa, 7 Agu 07 11:25 WIB

Assalamu'alakum ustadz...

Saya bingung melihat permusuhan antara kaum sunni dengan syi'ah. Sebenarnya apa perbedaan Islam sunni
dengan Islam syi'ah? Apakah salah satu dari aliran tersebut sesat?

Apakah Islam di indonesia seperti salah satu aliran tersebut? Menurut ustadz manakah yang paling benar
dari kedua aliran tersebut.

Atas jawabannya terima kasih banyak...

Wassalamualaikum..

Putra

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Barangkali ungkapan yang paling moderat dalam masalah konflik sunni syiah adalah masalah salah paham
saja awalnya. Ada kelompok dari kalangan umat Islam yang punya pandangan politik yang berbeda pada
awalnya. Dan perbedaan ini sesungguhnya masalah yang manusiawi sekali dan mustahil dihindarkan.

Namun masalahnya berkembang menjadi serius ketika perbedaan itu berkembang ke wilayah aqidah dan
syariah. Lalu masing-masing pihak saling mengkafirkan dan menuduh saudaranya sesat bahkan murtad.
Inilah yang sebenarnya dikhawatirkan sejak dahulu.

Memang benar bahwa ada sebagian dari akidah syiah yang sudah tidak bisa ditolelir lagi, bukan hanya oleh
kalangan ahli sunnah, tetapi oleh sesama penganut syiah pun dianggap sudah sesat. Dan kita harus tegas
dalam hal ini, kalau memang sesat kita katakan sesat.

Misalnya mereka yang tidak percaya kepada Al-Quran mushaf Utsmani, dan menggunakan mushaf yang
konon susunan yang 100% berbeda. Kalau memang ada yang begitu, tentu kelompok ini sudah keluar dari
agama Islam secara muttafaqun 'alihi.

Atau misalnya ada yang mengkafirkan Abu Bakar Ash-Shiddiq ra, maka jelaslah sikap ini tidak pernah bisa
dibenarkan. Apalagi kelompok sempalan syiah yang menyatakan malaikat Jibril salah menurunkan wahyu,
seharusnya kepada Ali bin Abi Thalib dan bukan kepada Muhammad SAW. Astaghfirullahal-'adzhim.
Tentu sempalan yang sudah sampai keluar batas ini sudah tidak bisa ditolelir lagi secara aqidah.
                                                                                                         38

Tetapi kita tetap tidak bisa menggenalisir bahwa semua lapisan umat Islam yang ada aroma syiahnya pasti
sesat, kafir atau murtad. Rasanya sikap itu kurang bijaksana. Mengapa?

Sebab di berbagai belahan dunia Islam, katakanlah seperti di Iraq sana, ada banyak komunitas yang secara
tradisional menjadi penganut syiah secara keturunan. Kakek moyang yang melahirkan keturunan itu bukan
orang jahat yang beniat busuk kepada agama Islam. Mereka menjadi syiah karena keturunan dan tidak tahu
menahu tentang urusan koflik syiah dan sunnah.

Lalu apakah kita akan memvonis mereka sebagai non muslim, hanya karena mereka tanpa sengaja lahir dari
keluarga syiah? Rasanya tidak begitu sikap kita.

Yang barangkali perlu diwaspadai adalah orang-orang jahat betulan yang berusaha menghancurkan agama
Islam dari dalam dan menjadi pemeluk syiah sesat. Mereka inilah yang menggulirkan ajaran sesat di dalam
syiah sehingga akhirnya muncul ajaran yang aneh-aneh seperti di atas.

Oleh karena itu kita harus tegas tapi tidak boleh asal tebas. Ada kalangan syiah yang memang sesat dan
tidak berhak lagi menyandang status muslim. Tetapi kita juga harus dewasa, bahwa ada kalangan yang
dianggap berbau syiah atau kesyiah-syiahan, tetapi sesungguhnya masih bisa ditolelir kekeliruannya.

Mengapa kita perlu bijak dalam masalah ini?

Karena kita tahu bahwa musuh-musuh Islam bergembira ria melihat umat Islam di Irak berbunuh-bunuhan,
hanya karena urusan syiah dan sunnah. Jangan sampai isu negatif perbedaan syiah sunnah terbawa-bawa ke
negeri kita juga. Sudah terlalu banyak pe-er umat Islam, maka sebaiknya kita jangan memancing di air
keruh. Jangan sampai kita memancing yang tidak dapat ikannya tapi airnya jadi keruh. Sudah tidak dapat
ikan, kotor pula.

Karena itu dialog antara sesama tokoh dari kalangan syiah dan sunnah ada baiknya untuk dirintis. Tentu
untuk sama-sama menuju kepada kerukunan, bukan untuk cari gara-gara. Rasanya masih banyak ruang
persamaan di antara keduanya, ketimbang kisi-kisi perbedaannya.

Semoga Allah SWT memberikan kelapangan di dalam hati kita untuk menata hati ini menjadi hamba-
hamba-Nya yang shalih dan melakukan ishlah. Amien

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh______________________,


Syahadat Haruskah Diulang Seorang Muslim?
Sabtu, 27 Okt 07 22:23 WIB

Assalamualaikum Ust.

Langsung saja ustadj saya saat ini sedang bingung tentang perkara syahadat. patutkah syahadat itu
diikrarkan kembali di depan pimpinan misalkan saja pimpinan majelis, walaupun sejak lahir ia merupakan
keturunan muslim dan belum pernah murtad dari Islam?

Ustadj saat ini saya masuk dalam sebuah majelis yang mengharuskan mensyahadatkan kembali keIslaman
saya dan ber-Baiat dalam kelompok majelis. Sebenarnya setelah bersyahadat kembali saya merasa tenang.
namun saya berpikir bagaimana dengan keluarga saya jika mereka tidak bersyahadat kembali mungkinkan
mereka digolongkan kelompok kafir.

Jazakillah atas jawaban ustadj.

Wassalamualaikum

Safira

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Kelompok yang berpaham bahwa seseorang menjadi kafir bila tidak atau belum bersyahadat di depan
imamnya adalah kelompok yang sesat dan dan menyesatkan serta telah keluar dari syariah Islam yang
diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Selain itu, logika yang digunakan tidak bisa diterima akal. Logikanya adalah bahwa orang yang belum
bersyahadat di hadapan imam kelompok itu dianggap belum beragama Islam.
                                                                                                         39

Berarti dalam pandangan mereka 1, 5 milyard muslimin sedunia otomatis menjadi kafir. Dan 3 juta jamaah
haji tiap tahun di padang Arafah pun dianggap bukan muslim pula.

Yang beragama Islam dalam pandangan mereka hanyalah imam mereka dan siapa saja yang bersyahadat di
depannya.

Kelemahan logika ini adalah ketika harus menjawab beberapa pertanyaan yang palling mendasar. Misalnya,
sejak kapan imamnya itu menjadi muslim dan punya hak untuk menerima persaksian syahadat. Siapa yang
memberikan hak itu? Adakah si imam menerima wahyu dari Allah SWT?

Dan pertanyaannya menjadi lebih sulit dijawab kalau diteruskan lagi. Misalnya sebelum si imam lahir di
muka bumi, apakah orang-orang sudah dianggap muslim atau belum?

Kalau jawabannya belum, maka berarti umat Islam sepanjang sejarah pun dianggap bukan muslim.

Syahadat Tidak Perlu Saksi

Padahal yang namanya syahadat sebenarnya tidak mensyaratkan saksi. Syahadat tidak seperti akad nikah
yang harus dilakukan oleh dua orang plus dua orang lagi. Sehingga minimal ada 4 orang yang terlibat.

Sedangkan dalam syahadat untuk masuk Islam, yang terlibat hanya satu orang saja, yaitu yang
bersangkutan yang mau masuk Islam. Cukup antara dirinya saja dengan Allah.

Bukankah begitu banyak para shahabat nabi yang dahulu ketika masuk Islam, mereka merahasiakan
keIslamannya? Apakah sebelum mereka bersaksi di hadapan nabi SAW, mereka dianggap belum muslim?

Jawabannya tentu tidak. Rasulullah SAW tidak pernah menjadikan keberadan dirinya sebagai syarat untuk
resminya seseorang memeluk agama Islam.

Kelompok Sesat Dan Menyesatkan

Keberadaan kelompok sesat semacam ini sebenarnya bukan barang baru lagi. Khususnya di Indonesia,
gerakan sempalan semacam ini lumayan rutin terbit, meski dengan nama yang bergonta-ganti.

Sayangnya, tiap saat tetap saja ada umat Islam yang terpedaya dan akhirnya terperosok masuk ke lembah
kekufuran.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,______________________


Pernikahan Rasulullah Saw dengan Aisyah Ra
Rabu, 31 Okt 07 09:48 WIB

Assalamualaikum....

Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulluah saw, kepada keluarganya dan sahabat-sahabatnya.

Pak ustad yang dirahmati Allah, saya mau tanya soal pernikahan Rasul saw. Dengan A'isyah ra. Menurut
hadist bukhori klo ga salah baca, beliau menikahi Aisyah ra. Ketika berusia 6 th dan mulai, menggaulinya
ketika berumur 9 th.

Dengan menggunakan dasar hadist tersebut, para musuh Islam mengeluarkan hinaan-hinaan kepada
Rasulullah saw. Yang kebetulan saya baca di situs faithfreedom. Org

Pada situs itu banyak sekali hinaan hinaan yang ditujukan kepada Islam.

Ketika saya membacanya timbul keinginan untuk melawannya tapi saya baru tahu klo ilmu saya masih
sangat cetek banget, untuk itu saya mohon pelajarannya dari ustad.

Kepada ustad, saya mo tanya bagaimana sebenarnya hal tersebut?

Atas penjelasannya saya ucapkan terimakasih banyak.

Wassalamualaikum..

Erik
                                                                                                             40

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Musuh musuh Islam memang tidak akan pernah kekurangan bahan untuk menyebarkan tasykik (keraguan).
Selalu ada saja akalnya dan selalu saja ada jatuh kurban di kalangan umat Islam. Anehnya, juga selalu ada
yang terperosok ikut membaca situs-situs yang isinya pikiran syetan.

Sebenarnya agar pikiran aneh seperti itu tidak semakin melebar ke mana-mana, kita pun harus melakukan
filter. Kita sepakat tidak menyebarkan isi pikiran nyeleneh seperti itu kecuali dilengkapi dengan
bantahannya yang bersifat muqni'.

Memang kita tidak boleh menganggap sepi tikaman tajam dari musuh Islam, akan tetapi bukan berarti kita
menghabiskan semua energi untuk mengurusi masalah yang itu-itu juga. Harus ada sebagian dari ilmuwan
muslim yang mengkhususkan diri melakukan konter dan mementahkan argumentasi mereka. Agar
pemikiran nyeleneh itu bisa dijawab dengan baik dan menjadi bekal buat sesama muslim untuk bersikap.

Aisyah Menikah Masih Muda
Benar bahwa Rasulullah SAW menikahi Aisyah radhiyallahu 'anha selagi masih muda. Dan kalau itu
dianggap mengganggu, kita bisa bilang apa urusan anda meributkannya. Toh Aisyah bukan diperkosa,
bukan juga dipaksa. Beliau dinikahi secara sah oleh Rasulullah SAW, meski saat itu terbilang masih belia.

Tetapi riwayat yang kuat menyebutkan bahwa meski sudah sah menjadi isteri Rasulullah SAW, namun
beliau belum lagi berkumpul satu rumah, kecuali setelah beberapa lama kemudian, yaitu saat berusia 9
tahun.

Kalau ukuran tubuh wanitaIndonesia, jangankan 9 tahun, yang usianya 25 tahun pun terkadang tubuhnya
kecil seperti anak kecil. Tetapi coba perhatikan anak wanita usia 9 tahun untuk ras lainnya, seperti orang
arab atau eropa. boleh jadi tubuhnya sudah sangat besar dan secara biologis sudah mengalami haidh.

Jangan bandingkan ukuran tubuh wanita bangsa Indonesia yang umumnya memang irit dan mungil dengan
tubuh wanita arab atau eropa. Karena itu kebeliaan Aisyah jangan diukur dari usianya. Untuk ukuran wanita
arab, sama sekali tidak bisa dibilang sebuah ketidak-nomalan, justru beliau saat itu sudah besar dan
berkemang secara biologis.

Selain itu kita juga harus tahu bahwabudaya tiap masyarakat dalam usia pernikahan bisa sangat berbeda.
Salah seorang dosen kami yang berasal dari Yaman bercerita bahwa beliau sendiri menikah pertama kali di
usia 10 tahun. Sementara isteri beliau saat itu berusia 8 tahun. Dan menurut beliau, usia yang menurut
hitungan budaya zaman sekarang ini dianggap terlalu beliau, justru menurut budaya di negeri beliau
merupakan sebuah hal yang biasa, wajar dan tidak menjadi masalah.

Sementara mungkin budaya di Mesir lain lagi. Di sana kebiasaan yang berlaku adalah ke balikannya. Para
lelaki umumnya menikah di usia 40 tahun ke atas. Sehingga seorang Sayyid Qutub ketika wafat belum
berstatus menikah, karena di sana memang demikian budayanya. Menikah hanya dilakukan pada saat
seseorang sudah mapan dari segi finansial, pendidikan dan kemandirian lainnya. Dan hal itu terjadi setelah
usianya di atas 40 tahun.

Di belahan muka bumi yang lain, ada budaya yang sama sekali tidak mengenal pernikahan. Sampai mati
tidak pernah menikah dan berkeluarga. Tentunya masyarakat yang seperti ini adalah masyarakat yang tidak
Islami. Dan buktinya, meski tidak mau menikah seumur hidupnya, mereka toh tetap melakukan hubungan
seksual dengan ribuan orang yang berbeda.

Asal suka sama suka, tidak pandang apakah dia isteri tetangga, pembantu rumah tangga, rekan kerja, atasan
bawahan, satpam, sopir bus, pengantar pizza, bahkan pekerja seks profesional, pokoknya mereka tetap
melakukan kontak seksual.

Dan parahnya, seks bebas itu sudah mereka jalankan sejak mereka masih usia sangat dini, yaitu sejak
sekolah dasar. Di Amerika, Eropa dan negeri sekuler lainnya, para peneliti mengeluarkan data yang
mencengangkan dari angket di level murid-murid SD. Bahkan nyaris dalam prosentasi yang sangat besar
anak-anak sejak usia SD sudah melakukan hubungan seksual layaknya suami isteri.

Yang lebih mencengangkan, pola itu kemudian menyebar ke negeri timur, seperti Jepang, Korea, China dan
Indonesia. Para peneliti anak mengeluarkan hasil angket yang membuat bulu roma berdiri. Bahkan sebagian
besar anak usia SD di Jakarta sudah terbiasa melakukan kegiatan seksual baik dari yang paling ringan
sampai yang benar-benar hubungan suami isteri. Tidak terbilang hp mereka yang terkena razia dan ternyata
berisi potongan klip atau jpg gambar porno.

Maka kalau orang-orang sekuler itu menghina nabi Muhammad SAW dengan tuduhan melakukan
pelecehan seksual kepada anak kecil, naudzubillahi min zalik, sebenarnya masyarakat sekulier yang
menuduh itu justru sudah melakukannya secara sah, lewat penyimpangan seksual di level anak-anak.
                                                                                                         41

Dr. Said Hawwa dalam kitabnya, Al-Islam, menyebutkan bagaimana para anak sekolah yang masih beliau
di Jerman dan Perancis merasa malu kalau masih punya selaput dara yang utuh, belum dirobek oleh teman
laki-lakinya yang sama-sama masih kecil. Siswi sekolah itu akan terkucilkan dari pergaulan lantaran
dianggap tidak hidup di alam nyata.

Adalah jauh lebih bermoral Rasulullah SAW ketika menikahi Aisyah radhiyallahu 'anha di usia dini, namun
beliau belum langsung berkumpul dengannya. Karena ikatan nikah itu adalah ikatan yang suci,
bertanggung-jawab, bermoral dan berperadaban.

Sedangkan orang barat dengan segala seks bebasnya di tengah anak-anak ingusan justru tidak bermoral,
biadab, dan laknat.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,______________________


Hukum Laki-Laki Memakai Cincin Nikah
Selasa, 4 Jul 06 16:57 WIB

Assalamu'alaikum

Saya mau tanya, apakah laki-laki boleh memakai cincin nikah? Setahu saya laki-laki yang memakai cincin
emas hukumnya haram. Misalkan cincinnya tersebut campuran dari emas dan perak, perak 60% dan sisanya
emas, itu hukumnya bagaimana? Kalau misalnya masih tidak boleh, maka solusinya bagaimana, ya? Saya
mohon penjelasannya.
Jazakumullah.

Wassalamu'alaikum

Rifda Almasyndra
r_almasyndra

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Para ulama semua sepakat untuk mengharamkan laki-laki memakai emas dan perak, seperti dalam bentuk
cincin, kalung, anting, gelang, jam atau pun asesoris yang menempel pada pakaian.

Nyaris tidak ada perbedaan pendapat dalam hal ini untuk keharamannya. Hal itu lantaran dalil-dalilnya
memang sangat jelas dan tegas. Di antaranya adalah:

                                  ‫إل‬      ‫ب‬        ,               .        ,       ,

Dari Abi Musa ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Telah diharamkan memakai sutera dan emas bagi
laki-laki dari umatku dan dihalalkan bagi wanitanya.” (HR Turmuzi dengan sanad hasan shahih)

Ali bin Abu Thalib berkata, ”Aku melihat Rasulullah SAW memegang sutera di tangan kanan dan emas di
tangan kiri seraya bersabda,”Keduanya ini haram bagi laki-laki dari umatku.” (HR Abu Daud dengan
sanad hasan).

Umumnya para ulama tidak membedakan apakah kadar emas itu 24 karat atau kurang dari itu. Sebab nama
emas tetap saja lekat meski kadarnya berkurang.

Namun benda yang dicat dengan warna emas, tidak bisa dikatakan sebagai emas. Sehingga tidak menjadi
masalah bila seorang laki-laki menggunakan pakaian atau perlengkapan imitasi emas. Hukumnya tidak
haram, sebab kenyataannya memang bukan emas, melainkan hanya rupa dan warnya saja. Yang haram
adalah emasnya, bukan kemiripannya.

Cincin Kawin dalam Pandangan Syariah

Kalau kita runut dan telusuri dengan teliti, rupanay budaya pemakaian cincin kawin tidak dikenal dalam
Islam, meski cincin itu bukan dari emas. Ini lebih merupakan produk budaya kelompok masyarakat
tertentu. Sebagian ulama mengatakan bahwa cincin kawin itu berasal dari budaya barat.

Karena itulah ada sementara pendapat yang mengharamkan penggunaan cincin kawin karena dianggap
menyerupai dengan orang kafir. Dengan dalil sabda Rasulullah SAW, "Siapa yang menyerupai orang kafir,
maka dia termasuk bagian dari mereka."
                                                                                                         42

Meski demikian, masih perlu dipelajari lebih lanjut apakah memang tukar cincin itu sendiri merupakan
bagian dari agama mereka atau sekedar kebiasaan yang telah menjadi ‘urf dan bebas nilai.

Dalam hasdits Nabawi disebutkan bahwa salah satu bentuk mahar adalah cincin meskipun hanya terbuat
dari besi. Rasulullah SAW bersabda, ”Berikanlah mahar meski hanya berbentuk cincin dari besi”.

Namun hadits ini tidak menyiratkan adanya bentuk tukar cincin antar kedua mempelai, tapi lebih
merupakan anjuran untuk memberi mahar meski hanya sekedar cincin dari besi. Jadi bukan cincin kawin
yang dimaksud. Dan cincin dari besi itu diberikan pihak laki-laki sebagai mahar kepada pihak isteri.
Sedangkan pihak isteri tidak memberi cincin itu kepada laki-laki.

Kesimpulannya adalah pemakaian cincin emas haram hukumnya dengan dalil yang tegas, ada pun cincin
selain emas masih ada perbedaan pendapat, karena keharamannya hanya disebutkan oleh sebagian ulama
dengan ijtihad. Dan tidak ada dalil yang tegas untuk mengharamkannya.

Oleh karena itu bila kondisi memaksa harus pakai cincin, buatlah imitasinya, agar anda tidak melakukan
sesuatu yang diharamkan Allah SWT. Cincin imitasi sekilas sangat mirip dari emas asli bahkan bisa lebih
bagus.

Wallahu a'lam bishshawab wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,_______________________


Nikah Mut'ah
Jumat, 2 Peb 07 06:05 WIB

Ass. Pa Ustad yang dirahmati Allah SWT

Apakah Rosul pernah memerintahkan untuk kawin mut'ah? Saya dapat keterangan bahwa kalau orang tidak
melaksanakan kawin mut'ah maka tidak akan masuk surga. Kalau memang ada dijaman Rosulullah adakah
dalilnya. Wassalamualaikum

Dhh

Jawaban

Asalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ada beberapa hadits nabawi yang menjelaskan bahwa dahulu memang pernah untuk sementara
diberlakukan nikah mut'ah. Namun sifatnya darurat dan sementara. Kemudian dilarang untuk selama-
lamanya. Itu pun hanya terjadi selama nabi Muhammad SAW masih hidup.

Setelah wafatnya beliau, nikah mut'ah tidak pernah diperbolehkan lagi, meski alasannya sementara dan
darurat. Karena wahyu dari langit sudah selesai turun, masa tasyri' sudah selesai. Tidak akan ada lagi
perubabahan syariah Islam.

Dalil hadits yang mengaramkan nikah mut'ah antara lain adalah:

Dari Ibnu Majah bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Wahai manusia, dahulu aku mengizinkan kamu nikah
mut'ah. Ketahuilah bahwa Allah SWT telah mengharamkannya sampai hari kiamat." (HR Muslim, Ahmad
dan Ibnu Majah).

Saudara-saudara kita dari kalangan syiah yang seringkali mengkultuskan Ali bin Abi Thalib termasuk di
antara kalangan yang menjalankan nikah mut'ah. Namun ternyata ada hadits yang diriwayatkan oleh beliau
yang sensinya justrumengharamkan nikah mut'ah

Dari Ali bin Abi Thalib bahwa Rasulullah SAW telah mengharamkan nikah mut'ah dengan wanita pada
perang Khaibar dan makan himar ahliyah. (HR Bukhari dan Muslim).

Hadits ini diriwayatkan oleh dua tokoh besar dalam dunia hadits, yaitu Al-Bukhari dan Muslim. Mereka
yang mengingkari keshahihahn riwayat dua tokoh ini tentu harus berhadapan dengan seluruh umat Islam.

Bahkan sanad pertamanya langsung dari Ali bin Abi Thalib sendiri. Sehingga kalau ada kelompok yang
mengaku menjadi pengikut Ali ra tapi menghalalkan nikah mut'ah, maka dia telah menginjak-injak hadits
Ali bin Abi Thalib.

Al-Baihaqi menukil riwayat dari Ja'far bin Muhammad bahwa beliau ditanya tentang nikah mut'ah.
Jawabannya adalah bahwa nikah mut'ah itu adalah zina.
                                                                                                             43

Keterangan yang anda dapatkan bahwa siapa yang tidak menikah dengan cara mut'ah maka tidak masuk
surga, tentu jauh bertentangan dengan dalil-dalil di atas. Dan bertentangan juga dengan nilai luhur tujuan
pernikahan. Tujuan nikah mut'ahbukan membangun rumah tangga sakinah, melainkan semata-mata
mengumbar hawa nafsu dengan imbalan uang.

Apalagi bila dikaitkan bahwa tujuan pernikahan adalah untuk mendapatkan keturunan yang shalih dan
shalihat. Semua itu jelas tidak akan tercapai lantararan nikah mut'ah memang tidak pernah bertujuan untuk
mendapatkan keturunan. Tetapi untuk sekedar kenikmatan seksual sesaat.

Tidak pernah terbersit dalam benak pelaku nikah mut'ah untuk nantinya punya keturunan daripernikahan
seperti itu. Bahkan ketika dahulu sempat dihalalkan di masa Nabi yang kemudian segera diharamkan, para
shahabat pun tidak pernah berniat membentuk rumah tangga dari nikah mut'ah itu.

Nikah Mut'ah = Zina

Ungkapan bahwa nikah mut'ah itu adalah zina dibenarkan oleh Ibnu Umar. Dan sebagai sebuah
kemungkaran, pelaku nikah mut'ah diancam dengan hukum rajam, karena tidak ada bedanya dengan zina.

Ibnu Umar telah berkata bahwa Rasulullah SAW memberi izin untuk nikah mut'ah selama tiga hari lalu
beliau mengharamkannya. Lebih lanjut tentang pelaku nikah mut'ah ini, fuqaha dari kalangan shahabat
yang agung itu berkata,

"Demi Allah, takkan kutemui seorang pun yang menikah mut’ah padahal dia muhshan kecuali aku
merajamnya."

Nikah Mut'ah Identik Dengan Penyakit Kelamin Yang Memalukan
Dan dampak negatif dari nikah mut’h ini seperti yang banyak didapati kasusnya adalah beredarnya penyakit
kelamin semacam spilis, raja singa dan sejenisnya di kalangan mereka yang menghalalkannya. Karena pada
hakikatnya nikah mu? Tah itu memang zina.

Sungguh amat memalukan ada wanita yang rapi berjilbab, menutup aurat dan mengesankan dirinya sebagai
wanita baik-baik, tetapi datang ke dokter spesialis gara-gara terkena penyakit khas para pelacur. Nauzu
billahi min zallik!!!

Maka kalaupun dihalalkan dengan segala macam dalih yang dibuat-buat, tetap saja nikah mut'ah itu
terkutuk secara nilai kemanusiaan dan nilai kewanitaan. Sebab tidak ada agama dan tata sosial masyarakat
dalam sejarah peradaban manusia yang menghalalkan pelacuran.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
                                                                                                       44


                         Sejarah Singkat Imam Malik
Dalam sebuah kunjungan ke kota Madinah, Khalifah Bani Abbasiyyah, Harun Al Rasyid (penguasa saat
itu), tertarik mengikuti ceramah al muwatta' (himpunan hadits) yang diadakan Imam Malik. Untuk hal ini,
khalifah mengutus orang memanggil Imam. Namun Imam Malik memberikan nasihat kepada Khalifah
Harun, ''Rasyid, leluhur Anda selalu melindungi pelajaran hadits. Mereka amat menghormatinya. Bila
sebagai khalifah Anda tidak menghormatinya, tak seorang pun akan menaruh hormat lagi. Manusia yang
mencari ilmu, sementara ilmu tidak akan mencari manusia.''

Sedianya, khalifah ingin agar para jamaah meninggalkan ruangan tempat ceramah itu diadakan. Namun,
permintaan itu tak dikabulkan Imam Malik. ''Saya tidak dapat mengorbankan kepentingan umum hanya
untuk kepentingan seorang pribadi.'' Sang khalifah pun akhirnya mengikuti ceramah bersama dua putranya
dan duduk berdampingan dengan rakyat kecil.

Imam Malik yang bernama lengkap Abu Abdullah Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir bin Amr bin
Haris bin Gaiman bin Kutail bin Amr bin Haris al Asbahi, lahir di Madinah pada tahun 712 M dan wafat
tahun 796 M. Berasal dari keluarga Arab terhormat, berstatus sosial tinggi, baik sebelum maupun sesudah
datangnya Islam. Tanah asal leluhurnya adalah Yaman, namun setelah nenek moyangnya menganut Islam,
mereka pindah ke Madinah. Kakeknya, Abu Amir, adalah anggota keluarga pertama yang memeluk agama
Islam pada tahun 2 H. Saat itu, Madinah adalah kota ilmu yang sangat terkenal.

Kakek dan ayahnya termasuk kelompok ulama hadits terpandang di Madinah. Karenanya, sejak kecil Imam
Malik tak berniat meninggalkan Madinah untuk mencari ilmu. Ia merasa Madinah adalah kota dengan
sumber ilmu yang berlimpah lewat kehadiran ulama-ulama besarnya.

Kendati demikian, dalam mencari ilmu Imam Malik rela mengorbankan apa saja. Menurut satu riwayat,
sang imam sampai harus menjual tiang rumahnya hanya untuk membayar biaya pendidikannya.
Menurutnya, tak layak seorang yang mencapai derajat intelektual tertinggi sebelum berhasil mengatasi
kemiskinan. Kemiskinan, katanya, adalah ujian hakiki seorang manusia.

Karena keluarganya ulama ahli hadits, maka Imam Malik pun menekuni pelajaran hadits kepada ayah dan
paman-pamannya. Kendati demikian, ia pernah berguru pada ulama-ulama terkenal seperti Nafi' bin Abi
Nuaim, Ibnu Syihab az Zuhri, Abul Zinad, Hasyim bin Urwa, Yahya bin Said al Anshari, dan Muhammad
bin Munkadir. Gurunya yang lain adalah Abdurrahman bin Hurmuz, tabi'in ahli hadits, fikih, fatwa dan
ilmu berdebat; juga Imam Jafar Shadiq dan Rabi Rayi.

Dalam usia muda, Imam Malik telah menguasai banyak ilmu. Kecintaannya kepada ilmu menjadikan
hampir seluruh hidupnya diabdikan dalam dunia pendidikan. Tidak kurang empat khalifah, mulai dari Al
Mansur, Al Mahdi, Hadi Harun, dan Al Ma'mun, pernah jadi murid Imam Malik. Ulama besar, Imam Abu
Hanifah dan Imam Syafi'i pun pernah menimba ilmu dari Imam Malik. Belum lagi ilmuwan dan para ahli
lainnya. Menurut sebuah riwayat disebutkan murid terkenal Imam Malik mencapai 1.300 orang.

Ciri pengajaran Imam Malik adalah disiplin, ketentraman, dan rasa hormat murid kepada gurunya. Prinsip
ini dijunjung tinggi olehnya sehingga tak segan-segan ia menegur keras murid-muridnya yang melanggar
prinsip tersebut. Pernah suatu kali Khalifah Mansur membahas sebuah hadits dengan nada agak keras. Sang
imam marah dan berkata, ''Jangan melengking bila sedang membahas hadits Nabi.''

Ketegasan sikap Imam Malik bukan sekali saja. Berulangkali, manakala dihadapkan pada keinginan
penguasa yang tak sejalan dengan aqidah Islamiyah, Imam Malik menentang tanpa takut risiko yang
dihadapinya. Salah satunya dengan Ja'far, gubernur Madinah. Suatu ketika, gubernur yang masih
keponakan Khalifah Abbasiyah, Al Mansur, meminta seluruh penduduk Madinah melakukan bai'at (janji
setia) kepada khalifah. Namun, Imam Malik yang saat itu baru berusia 25 tahun merasa tak mungkin
penduduk Madinah melakukan bai'at kepada khalifah yang mereka tak sukai.

Ia pun mengingatkan gubernur tentang tak berlakunya bai'at tanpa keikhlasan seperti tidak sahnya
perceraian paksa. Ja'far meminta Imam Malik tak menyebarluaskan pandangannya tersebut, tapi ditolaknya.
Gubernur Ja'far merasa terhina sekali. Ia pun memerintahkan pengawalnya menghukum dera Imam Malik
sebanyak 70 kali. Dalam kondisi berlumuran darah, sang imam diarak keliling Madinah dengan untanya.
Dengan hal itu, Ja'far seakan mengingatkan orang banyak, ulama yang mereka hormati tak dapat
menghalangi kehendak sang penguasa.

Namun, ternyata Khalifah Mansur tidak berkenan dengan kelakuan keponakannya itu. Mendengar kabar
penyiksaan itu, khalifah segera mengirim utusan untuk menghukum keponakannya dan memerintahkan
untuk meminta maaf kepada sang imam. Untuk menebus kesalahan itu, khalifah meminta Imam Malik
bermukim di ibukota Baghdad dan menjadi salah seorang penasihatnya. Khalifah mengirimkan uang 3.000
dinar untuk keperluan perjalanan sang imam. Namun, undangan itu pun ditolaknya. Imam Malik lebih suka
tidak meninggalkan kota Madinah. Hingga akhir hayatnya, ia tak pernah pergi keluar Madinah kecuali
untuk berhaji.

Pengendalian diri dan kesabaran Imam Malik membuat ia ternama di seantero dunia Islam. Pernah semua
orang panik lari ketika segerombolan Kharijis bersenjatakan pedang memasuki masjid Kuffah. Tetapi,
Imam Malik yang sedang shalat tanpa cemas tidak beranjak dari tempatnya. Mencium tangan khalifah
apabila menghadap di baliurang sudah menjadi adat kebiasaan, namun Imam Malik tidak pernah tunduk
                                                                                                      45

pada penghinaan seperti itu. Sebaliknya, ia sangat hormat pada para cendekiawan, sehingga pernah ia
menawarkan tempat duduknya sendiri kepada Imam Abu Hanifah yang mengunjunginya.

Dari Al Muwatta' Hingga Madzhab Maliki
Al Muwatta' adalah kitab fikih berdasarkan himpunan hadits-hadits pilihan. Santri mana yang tak kenal
kitab yang satu ini. Ia menjadi rujukan penting, khususnya di kalangan pesantren dan ulama kontemporer.
Karya terbesar Imam Malik ini dinilai memiliki banyak keistimewaan. Ia disusun berdasarkan klasifikasi
fikih dengan memperinci kaidah fikih yang diambil dari hadits dan fatwa sahabat.

Menurut beberapa riwayat, sesungguhnya Al Muwatta' tak akan lahir bila Imam Malik tidak 'dipaksa'
Khalifah Mansur. Setelah penolakan untuk ke Baghdad, Khalifah Al Mansur meminta Imam Malik
mengumpulkan hadits dan membukukannya. Awalnya, Imam Malik enggan melakukan itu. Namun, karena
dipandang tak ada salahnya melakukan hal tersebut, akhirnya lahirlah Al Muwatta'. Ditulis di masa Al
Mansur (754-775 M) dan baru selesai di masa Al Mahdi (775-785 M).

Dunia Islam mengakui Al Muwatta' sebagai karya pilihan yang tak ada duanya. Menurut Syah Walilullah,
kitab ini merupakan himpunan hadits paling shahih dan terpilih. Imam Malik memang menekankan betul
terujinya para perawi. Semula, kitab ini memuat 10 ribu hadits. Namun, lewat penelitian ulang, Imam
Malik hanya memasukkan 1.720 hadits. Kitab ini telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa dengan 16
edisi yang berlainan. Selain Al Muwatta', Imam Malik juga menyusun kitab Al Mudawwanah al Kubra,
yang berisi fatwa-fatwa dan jawaban Imam Malik atas berbagai persoalan.

Imam Malik tak hanya meninggalkan warisan buku. Ia juga mewariskan mazhab fikih di kalangan Islam
Sunni, yang disebut sebagai Mazhab Maliki. Selain fatwa-fatwa Imam Malik dan Al Muwatta', kitab-kitab
seperti Al Mudawwanah al Kubra, Bidayatul Mujtahid wa Nihaayatul Muqtashid (karya Ibnu Rusyd),
Matan ar Risalah fi al Fiqh al Maliki (karya Abu Muhammad Abdullah bin Zaid), Asl al Madarik Syarh
Irsyad al Masalik fi Fiqh al Imam Malik (karya Shihabuddin al Baghdadi), dan Bulgah as Salik li Aqrab al
Masalik (karya Syeikh Ahmad as Sawi), menjadi rujukan utama mazhab Maliki.

Di samping sangat konsisten memegang teguh hadits, mazhab ini juga dikenal amat mengedepankan aspek
kemaslahatan dalam menetapkan hukum. Secara berurutan, sumber hukum yang dikembangkan dalam
Mazhab Maliki adalah Al-Qur'an, Sunnah Rasulullah SAW, amalan sahabat, tradisi masyarakat Madinah
(amal ahli al Madinah), qiyas (analogi), dan al maslahah al mursalah (kemaslahatan yang tidak didukung
atau dilarang oleh dalil tertentu).

Mazhab Maliki pernah menjadi mazhab resmi di Mekah, Madinah, Irak, Mesir, Aljazair, Tunisia, Andalusia
(kini Spanyol), Marokko, dan Sudan. Kecuali di tiga negara yang disebut terakhir, jumlah pengikut mazhab
Maliki kini menyusut. Mayoritas penduduk Mekah dan Madinah saat ini mengikuti Mazhab Hanbali. Di
Iran dan Mesir, jumlah pengikut Mazhab Maliki juga tidak banyak. Hanya Marokko saat ini satu-satunya
negara yang secara resmi menganut Mazhab Maliki.

Sumber: http://www.kotasantri.com/galeria.php?aksi=DetailArtikel&artid=170


                        Sejarah Singkat Imam Hanafi
Imam Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsabit al-Kufiy merupakan orang yang faqih di negeri Irak, salah satu
imam dari kaum muslimin, pemimpin orang-orang alim, salah seorang yang mulia dari kalangan ulama dan
salah satu imam dari empat imam yang memiliki madzhab. Di kalangan umat Islam, beliau lebih dikenal
dengan nama Imam Hanafi.

Nasab dan Kelahirannya bin Tsabit bin Zuthi (ada yang mengatakan Zutha) At-Taimi Al-Kufi
Beliau adalah Abu Hanifah An-Nu’man Taimillah bin Tsa’labah. Beliau berasal dari keturunan bangsa
persi. Beliau dilahirkan pada tahun 80 H pada masa shigharus shahabah dan para ulama berselisih pendapat
tentang tempat kelahiran Abu Hanifah, menurut penuturan anaknya Hamad bin Abu Hadifah bahwa Zuthi
berasal dari kota Kabul dan dia terlahir dalam keadaan Islam. Adapula yang mengatakan dari Anbar, yang
lainnya mengatakan dari Turmudz dan yang lainnya lagi mengatakan dari Babilonia.

Perkembangannya
Ismail bin Hamad bin Abu Hanifah cucunya menuturkan bahwa dahulu Tsabit ayah Abu Hanifah pergi
mengunjungi Ali Bin Abi Thalib, lantas Ali mendoakan keberkahan kepadanya pada dirinya dan
keluarganya, sedangkan dia pada waktu itu masih kecil, dan kami berharap Allah subhanahu wa ta’ala
mengabulkan doa Ali tersebut untuk kami. Dan Abu Hanifah At-Taimi biasa ikut rombongan pedagang
minyak dan kain sutera, bahkan dia punya toko untuk berdagang kain yang berada di rumah Amr bin
Harits.

Abu Hanifah itu tinggi badannya sedang, memiliki postur tubuh yang bagus, jelas dalam berbicara,
suaranya bagus dan enak didengar, bagus wajahnya, bagus pakaiannya dan selalu memakai minyak wangi,
bagus dalam bermajelis, sangat kasih sayang, bagus dalam pergaulan bersama rekan-rekannya, disegani dan
tidak membicarakan hal-hal yang tidak berguna.
                                                                                                         46

Beliau disibukkan dengan mencari atsar/hadits dan juga melakukan rihlah untuk mencari hal itu. Dan beliau
ahli dalam bidang fiqih, mempunyai kecermatan dalam berpendapat, dan dalam permasalahan-
permasalahan yang samar/sulit maka kepada beliau akhir penyelesaiannya.

Beliau sempat bertemu dengan Anas bin Malik tatkala datang ke Kufah dan belajar kepadanya, beliau juga
belajar dan meriwayat dari ulama lain seperti Atha’ bin Abi Rabbah yang merupakan syaikh besarnya, Asy-
Sya’bi, Adi bin Tsabit, Abdurrahman bin Hurmuj al-A’raj, Amru bin Dinar, Thalhah bin Nafi’, Nafi’ Maula
Ibnu Umar, Qotadah bin Di’amah, Qois bin Muslim, Abdullah bin Dinar, Hamad bin Abi Sulaiman guru
fiqihnya, Abu Ja’far Al-Baqir, Ibnu Syihab Az-Zuhri, Muhammad bin Munkandar, dan masih banyak lagi.
Dan ada yang meriwayatkan bahwa beliau sempat bertemu dengan 7 sahabat.

Beliau pernah bercerita, tatkala pergi ke kota Bashrah, saya optimis kalau ada orang yang bertanya
kepadaku tentang sesuatu apapun saya akan menjawabnya, maka tatkala diantara mereka ada yang bertanya
kepadaku tentang suatu masalah lantas saya tidak mempunyai jawabannya, maka aku memutuskan untuk
tidak berpisah dengan Hamad sampai dia meninggal, maka saya bersamanya selama 10 tahun.

Pada masa pemerintahan Marwan salah seorang raja dari Bani Umayyah di Kufah, beliau didatangi
Hubairoh salah satu anak buah raja Marwan meminta Abu Hanifah agar menjadi Qodhi (hakim) di Kufah
akan tetapi beliau menolak permintaan tersebut, maka beliau dihukum cambuk sebanyak 110 kali (setiap
harinya dicambuk 10 kali), tatkala dia mengetahui keteguhan Abu Hanifah maka dia melepaskannya.

Adapun orang-orang yang belajar kepadanya dan meriwayatkan darinya diantaranya adalah sebagaimana
yang disebutkan oleh Syaikh Abul Hajaj di dalam Tahdzibnya berdasarkan abjad diantaranya Ibrahin bin
Thahman seorang alim dari Khurasan, Abyadh bin Al-Aghar bin Ash-Shabah, Ishaq al-Azroq, Asar bin
Amru Al-Bajali, Ismail bin Yahya Al-Sirafi, Al-Harits bin Nahban, Al-Hasan bin Ziyad, Hafsh binn
Abdurrahman al-Qadhi, Hamad bin Abu Hanifah, Hamzah temannya penjual minyak wangi, Dawud Ath-
Thai, Sulaiman bin Amr An-Nakhai, Su’aib bin Ishaq, Abdullah ibnul Mubarok, Abdul Aziz bin Khalid at-
Turmudzi, Abdul karim bin Muhammad al-Jurjani, Abdullah bin Zubair al-Qurasy, Ali bin Zhibyan al-
Qodhi, Ali bin Ashim, Isa bin Yunus, Abu Nu’aim, Al-Fadhl bin Musa, Muhammad bin Bisyr, Muhammad
bin Hasan Assaibani, Muhammad bin Abdullah al-Anshari, Muhammad bin Qoshim al-Asadi, Nu’man bin
Abdus Salam al-Asbahani, Waki’ bin Al-Jarah, Yahya bin Ayub Al-Mishri, Yazid bin Harun, Abu Syihab
Al-Hanath Assamaqondi, Al-Qodhi Abu Yusuf, dan lain-lain.

Penilaian para ulama terhadap Abu Hanifah
Berikut ini beberapa penilaian para ulama tentang Abu Hanifah, diantaranya:

1. Yahya bin Ma’in berkata, “Abu Hanifah adalah orang yang tsiqoh, dia tidak membicarakan hadits
kecuali yang dia hafal dan tidak membicarakan apa-apa yang tidak hafal”. Dan dalam waktu yang lain
beliau berkata, “Abu Hanifah adalah orang yang tsiqoh di dalam hadits”. Dan dia juga berkata, “Abu
hanifah laa ba’sa bih, dia tidak berdusta, orang yang jujur, tidak tertuduh dengan berdusta, …”.

2. Abdullah ibnul Mubarok berkata, “Kalaulah Allah subhanahu wa ta’ala tidak menolong saya melalui
Abu Hanifah dan Sufyan Ats-Tsauri maka saya hanya akan seperti orang biasa”. Dan beliau juga berkata,
“Abu Hanifah adalah orang yang paling faqih”. Dan beliau juga pernah berkata, “Aku berkata kepada
Sufyan Ats-Tsauri, ‘Wahai Abu Abdillah, orang yang paling jauh dari perbuatan ghibah adalah Abu
Hanifah, saya tidak pernah mendengar beliau berbuat ghibah meskipun kepada musuhnya’ kemudian beliau
menimpali ‘Demi Allah, dia adalah orang yang paling berakal, dia tidak menghilangkan kebaikannya
dengan perbuatan ghibah’.” Beliau juga berkata, “Aku datang ke kota Kufah, aku bertanya siapakah orang
yang paling wara’ di kota Kufah? Maka mereka penduduk Kufah menjawab Abu Hanifah”. Beliau juga
berkata, “Apabila atsar telah diketahui, dan masih membutuhkan pendapat, kemudian imam Malik
berpendapat, Sufyan berpendapat dan Abu Hanifah berpendapat maka yang paling bagus pendapatnya
adalah Abu Hanifah … dan dia orang yang paling faqih dari ketiganya”.

3. Al-Qodhi Abu Yusuf berkata, “Abu Hanifah berkata, tidak selayaknya bagi seseorang berbicara tentang
hadits kecuali apa-apa yang dia hafal sebagaimana dia mendengarnya”. Beliau juga berkata, “Saya tidak
melihat seseorang yang lebih tahu tentang tafsir hadits dan tempat-tempat pengambilan fiqih hadits dari
Abu Hanifah”.

4. Imam Syafii berkata, “Barangsiapa ingin mutabahir (memiliki ilmu seluas lautan) dalam masalah fiqih
hendaklah dia belajar kepada Abu Hanifah”

5. Fudhail bin Iyadh berkata, “Abu Hanifah adalah seorang yang faqih, terkenal dengan wara’-nya,
termasuk salah seorang hartawan, sabar dalam belajar dan mengajarkan ilmu, sedikit bicara, menunjukkan
kebenaran dengan cara yang baik, menghindari dari harta penguasa”. Qois bin Rabi’ juga mengatakan hal
serupa dengan perkataan Fudhail bin Iyadh.

6. Yahya bin Sa’id al-Qothan berkata, “Kami tidak mendustakan Allah swt, tidaklah kami mendengar
pendapat yang lebih baik dari pendapat Abu Hanifah, dan sungguh banyak mengambil pendapatnya”.

7. Hafsh bin Ghiyats berkata, “Pendapat Abu Hanifah di dalam masalah fiqih lebih mendalam dari pada
syair, dan tidaklah mencelanya melainkan dia itu orang yang jahil tentangnya”.
                                                                                                           47

8. Al-Khuroibi berkata, “Tidaklah orang itu mensela Abu Hanifah melainkan dia itu orang yang pendengki
atau orang yang jahil”.

9. Sufyan bin Uyainah berkata, “Semoga Allah merahmati Abu Hanifah karena dia adalah termasuk orang
yang menjaga shalatnya (banyak melakukan shalat)”.

Beberapa penilaian negatif yang ditujukan kepada Abu Hanifah
Abu Hanifah selain dia mendapatkan penilaian yang baik dan pujian dari beberapa ulama, juga
mendapatkan penilaian negatif dan celaan yang ditujukan kepada beliau, diantaranya :

1. Imam Muslim bin Hajaj berkata, “Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit shahibur ro’yi mudhtharib dalam
hadits, tidak banyak hadits shahihnya”.

2. Abdul Karim bin Muhammad bin Syu’aib An-Nasai berkata, “Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit tidak
kuat hafalan haditsnya”.

3. Abdullah ibnul Mubarok berkata, “Abu Hanifah orang yang miskin di dalam hadits”.

4. Sebagian ahlul ilmi memberikan tuduhan bahwa Abu Hanifah adalah murji’ah dalam memahi masalah
iman. Yaitu penyataan bahwa iman itu keyakinan yang ada dalam hati dan diucapkan dengan lisan, dan
mengeluarkan amal dari hakikat iman.

Dan telah dinukil dari Abu Hanifah bahwasanya amal-amal itu tidak termasuk dari hakekat imam, akan
tetapi dia termasuk dari sya’air iman, dan yang berpendapat seperti ini adalah Jumhur Asy’ariyyah, Abu
Manshur Al-Maturidi … dan menyelisihi pendapat ini adalah Ahlu Hadits … dan telah dinukil pula dari
Abu Hanifah bahwa iman itu adalah pembenaran di dalam hati dan penetapan dengan lesan tidak bertambah
dan tidak berkurang. Dan yang dimaksudkan dengan “tidak bertambah dan berkurang” adalah jumlah dan
ukurannya itu tidak bertingkat-tingkat, dak hal ini tidak menafikan adanya iman itu bertingkat-tingkat dari
segi kaifiyyah, seperti ada yang kuat dan ada yang lemah, ada yang jelas dan yang samar, dan yang
semisalnya …

Dan dinukil pula oleh para sahabatnya, mereka menyebutkan bahwa Abu Hanifah berkata, ‘Orang yang
terjerumus dalam dosa besar maka urusannya diserahkan kepada Allah’, sebagaimana yang termaktub
dalam kitab “Fiqhul Akbar” karya Abu Hanifah, “Kami tidak mengatakan bahwa orang yang beriman itu
tidak membahayakan dosa-dosanya terhadap keimanannya, dan kami juga tidak mengatakan pelaku dosa
besar itu masuk neraka dan kekal di neraka meskipun dia itu orang yang fasiq, … akan tetapi kami
mengatakan bahwa barangsiapa beramal kebaikan dengan memenuhi syarat-syaratnya dan tidak melakukan
hal-hal yang merusaknya, tidak membatalakannya dengan kekufuran dan murtad sampai dia meninggal
maka Allah tidak akan menyia-nyiakan amalannya, bahklan -insya Allah- akan menerimanya; dan orang
yang berbuat kemaksiatan selain syirik dan kekufuran meskipun dia belum bertaubat sampai dia meninggal
dalam keadaan beriman, maka di berasa dibawah kehendak Allah, kalau Dia menghendaki maka akan
mengadzabnya dan kalau tidak maka akan mengampuninya.”

5. Sebagian ahlul ilmi yang lainnya memberikan tuduhan kepada Abu Hanifah, bahwa beliau berpendapat
Al-Qur’an itu makhluq.
Padahahal telah dinukil dari beliau bahwa Al-Qur’an itu adalah kalamullah dan pengucapan kita dengan Al-
Qur’an adalah makhluq. Dan ini merupakan pendapat ahlul haq …,coba lihatlah ke kitab beliau Fiqhul
Akbar dan Aqidah Thahawiyah …, dan penisbatan pendapat Al-Qur’an itu dalah makhluq kepada Abu
Hanifah merupakan kedustaan”.

Dan di sana masih banyak lagi bentuk-bentuk penilaian negatif dan celaan yang diberikan kepada beliau,
hal ini bisa dibaca dalam kitab Tarikh Baghdad juz 13 dan juga kitab al-Jarh wa at-Ta’dil Juz 8 hal 450.

Dan kalian akan mengetahui riwayat-riwayat yang banyak tentang cacian yang ditujukan kepada Abiu
Hanifah -dalam Tarikh Baghdad- dan sungguh kami telah meneliti semua riwayat-riwayat tersebut, ternyata
riwayat-riwayat tersebut lemah dalam sanadnya dan mudhtharib dalam maknanya. Tidak diragukan lagi
bahwa merupakan cela, aib untuk ber-ashabiyyah madzhabiyyah, … dan betapa banyak dari para imam
yang agung, alim yang cerdas mereka bersikap inshaf (pertengahan ) secara haqiqi. Dan apabila kalian
menghendaki untuk mengetahui kedudukan riwayat-riwayat yang berkenaan dengan celaan terhadap Abu
Hanifah maka bacalah kitab al-Intiqo’ karya Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr, Jami’ul Masanid karya al-
Khawaruzumi dan Tadzkiratul Hufazh karya Imam Adz-Dzahabi. Ibnu Abdil Barr berkata, “Banyak dari
Ahlul Hadits – yakni yang menukil tentang Abu Hanifah dari al-Khatib (Tarikh baghdad) – melampaui
batas dalam mencela Abu Hanifah, maka hal seperti itu sungguh dia menolak banyak pengkhabaran tentang
Abu Hanifah dari orang-orang yang adil”

Beberapa nasehat Imam Abu Hanifah
Beliau adalah termasuk imam yang pertama-tama berpendapat wajibnya mengikuti Sunnah dan
meninggalkan pendapat-pendapatnya yang menyelisihi sunnah. dan sungguh telah diriwayatkan dari Abu
Hanifah oleh para sahabatnya pendapat-pendapat yang jitu dan dengan ibarat yang berbeda-beda, yang
semuanya itu menunjukkan pada sesuatu yang satu, yaitu wajibnya mengambil hadits dan meninggalkan
taqlid terhadap pendapat para imam yang menyelisihi hadits. Diantara nasehat-nasehat beliau adalah:
                                                                                                      48

a. Apabila telah shahih sebuah hadits maka hadits tersebut menjadi madzhabku
Berkata Syaikh Nashirudin Al-Albani, “Ini merupakan kesempurnaan ilmu dan ketaqwaan para imam. Dan
para imam telah memberi isyarat bahwa mereka tidak mampu untuk menguasai, meliput sunnah/hadits
secara keseluruhan”. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh imam Syafii, “maka terkadang diantara para
imam ada yang menyelisihi sunnah yang belum atau tidak sampai kepada mereka, maka mereka
memerintahkan kepada kita untuk berpegang teguh dengan sunnah dan menjadikan sunah tersebut termasuk
madzhab mereka semuanya”.

b. Tidak halal bagi seseorang untuk mengambil/memakai pendapat kami selama dia tidak mengetahui dari
dalil mana kami mengambil pendapat tersebut. dalam riwayat lain, haram bagi orang yang tidak
mengetahui dalilku, dia berfatwa dengan pendapatku. Dan dalam riawyat lain, sesungguhnya kami adalah
manusia biasa, kami berpendapat pada hari ini, dan kami ruju’ (membatalkan) pendapat tersebut pada pagi
harinya. Dan dalam riwayat lain, Celaka engkau wahai Ya’qub (Abu Yusuf), janganlah engakau catat
semua apa-apa yang kamu dengar dariku, maka sesungguhnya aku berpendapat pada hari ini denga suatu
pendapat dan aku tinggalkan pendapat itu besok, besok aku berpendapat dengan suatu pendapat dan aku
tinggalkan pendapat tersebut hari berikutnya.

Syaikh Al-Albani berkata, “Maka apabila demikian perkataan para imam terhadap orang yang tidak
mengetahui dalil mereka. maka ketahuilah! Apakah perkataan mereka terhadap orang yang mengetahui
dalil yang menyelisihi pendapat mereka, kemudian dia berfatwa dengan pendapat yang menyelisishi dalil
tersebut? maka camkanlah kalimat ini! Dan perkataan ini saja cukup untuk memusnahkan taqlid buta, untuk
itulah sebaigan orang dari para masyayikh yang diikuti mengingkari penisbahan kepada Abu Hanifah
tatkala mereka mengingkari fatwanya dengan berkata “Abu Hanifah tidak tahu dalil”!.

Berkata Asy-sya’roni dalam kitabnya Al-Mizan 1/62 yang ringkasnya sebagai berikut, “Keyakinan kami
dan keyakinan setiap orang yang pertengahan (tidak memihak) terhadap Abu Hanifah, bahwa seandainya
dia hidup sampai dengan dituliskannya ilmu Syariat, setelah para penghafal hadits mengumpulkan hadits-
haditsnya dari seluruh pelosok penjuru dunia maka Abu Hanifah akan mengambil hadits-hadits tersebut dan
meninggalkan semua pendapatnya dengan cara qiyas, itupun hanya sedikit dalam madzhabnya sebagaimana
hal itu juga sedikit pada madzhab-madzhab lainnya dengan penisbahan kepadanya. Akan tetapi dalil-dalil
syari terpisah-pesah pada zamannya dan juga pada zaman tabi’in dan atbaut tabiin masih terpencar-pencar
disana-sini. Maka banyak terjadi qiyas pada madzhabnya secara darurat kalaudibanding dengan para ulama
lainnya, karena tidak ada nash dalam permasalahan-permasalahan yang diqiyaskan tersebut. berbeda
dengan para imam yang lainnya, …”. Kemudian syaikh Al-Albani mengomentari pernyataan tersebut
dengan perkataannya, “Maka apabila demikian halnya, hal itu merupakan udzur bagi Abu Hanifah tatkala
dia menyelisihi hadits-hadits yang shahih tanpa dia sengaja – dan ini merupakan udzur yang diterima,
karena Allah tidak membebani manusia yang tidak dimampuinya -, maka tidak boleh mencela padanya
sebagaimana yang dilakukan sebagian orang jahil, bahkan wajib beradab dengannya karena dia merupakan
salah satu imam dari imam-imam kaum muslimin yang dengan mereka terjaga agama ini. …”.

c. Apabila saya mengatakan sebuah pendapat yang menyelisihi kitab Allah dan hadits Rasulullah yang
shahih, maka tinggalkan perkataanku.

Wafatnya
Pada zaman kerajaan Bani Abbasiyah tepatnya pada masa pemerintahan Abu Ja’far Al-Manshur yaitu raja
yang ke-2, Abu Hanifah dipanggil kehadapannya untuk diminta menjadi qodhi (hakim), akan tetapi beliau
menolak permintaan raja tersebut – karena Abu Hanifah hendak menjauhi harta dan kedudukan dari sultan
(raja) – maka dia ditangkap dan dijebloskan kedalam penjara dan wafat dalam penjara.

Dan beliau wafat pada bulan Rajab pada tahun 150 H dengan usia 70 tahun, dan dia dishalatkan banyak
orang bahkan ada yang meriwayatkan dishalatkan sampai 6 kloter.

(diambil dari majalah Fatawa)

Daftar Pustaka:
1. Tarikhul Baghdad karya Abu Bakar Ahmad Al-Khatib Al-Baghdadi cetakan Dar al-Kutub Ilmiyah Beirut
2. Siyarul A’lamin Nubala’ karya Al-Imam Syamsudin Muhammad bin Ahmad bin Utsman Adz-Dzahabi
cetakan ke - 7 terbitan Dar ar-Risalah Beirut
3. Tadzkiratul Hufazh karya Al-Imam Syamsudin Muhammad bin Ahmad bin Utsman Adz-Dzahabi terbitan
Dar al-Kutub Ilmiyah Beirut
4. Al-Bidayah wa an-Nihayah karya Ibnu Katsir cetakan Maktabah Darul Baz Beirut
5. Kitabul Jarhi wat Ta’dil karya Abu Mumahhan Abdurrahman bin Abi Hatim bin Muhammad Ar-Razi
terbitan Dar al-Kutub Ilmiyah Beirut
6. Shifatu Shalatin Nabi karya Syaikh Nashirudin Al-Albani cetakan Maktabah Al-Ma’arif Riyadh

Sumber: http://muslim.or.id/?p=58


                        Sejarah Singkat Imam Syafi'i
Nama dan Nasab

Beliau bernama Muhammad dengan kun-yah Abu Abdillah. Nasab beliau secara lengkap adalah
Muhammad bin Idris bin al-‘Abbas bin ‘Utsman bin Syafi‘ bin as-Saib bin ‘Ubayd bin ‘Abdu Zayd bin
                                                                                                        49

Hasyim bin al-Muththalib bin ‘Abdu Manaf bin Qushay. Nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah
pada diri ‘Abdu Manaf bin Qushay. Dengan begitu, beliau masih termasuk sanak kandung Rasulullah
karena masih terhitung keturunan paman-jauh beliau , yaitu Hasyim bin al-Muththalib.

Bapak beliau, Idris, berasal dari daerah Tibalah (Sebuah daerah di wilayah Tihamah di jalan menuju ke
Yaman). Dia seorang yang tidak berpunya. Awalnya dia tinggal di Madinah lalu berpindah dan menetap di
‘Asqalan (Kota tepi pantai di wilayah Palestina) dan akhirnya meninggal dalam keadaan masih muda di
sana. Syafi‘, kakek dari kakek beliau, -yang namanya menjadi sumber penisbatan beliau (Syafi‘i)- menurut
sebagian ulama adalah seorang sahabat shigar (yunior) Nabi. As-Saib, bapak Syafi‘, sendiri termasuk
sahabat kibar (senior) yang memiliki kemiripan fisik dengan Rasulullah saw. Dia termasuk dalam barisan
tokoh musyrikin Quraysy dalam Perang Badar. Ketika itu dia tertawan lalu menebus sendiri dirinya dan
menyatakan masuk Islam.

Para ahli sejarah dan ulama nasab serta ahli hadits bersepakat bahwa Imam Syafi‘i berasal dari keturunan
Arab murni. Imam Bukhari dan Imam Muslim telah memberi kesaksian mereka akan kevalidan nasabnya
tersebut dan ketersambungannya dengan nasab Nabi, kemudian mereka membantah pendapat-pendapat
sekelompok orang dari kalangan Malikiyah dan Hanafiyah yang menyatakan bahwa Imam Syafi‘i bukanlah
asli keturunan Quraysy secara nasab, tetapi hanya keturunan secara wala’ saja.

Adapun ibu beliau, terdapat perbedaan pendapat tentang jati dirinya. Beberapa pendapat mengatakan dia
masih keturunan al-Hasan bin ‘Ali bin Abu Thalib, sedangkan yang lain menyebutkan seorang wanita dari
kabilah Azadiyah yang memiliki kun-yah Ummu Habibah. Imam an-Nawawi menegaskan bahwa ibu Imam
Syafi‘i adalah seorang wanita yang tekun beribadah dan memiliki kecerdasan yang tinggi. Dia seorang yang
faqih dalam urusan agama dan memiliki kemampuan melakukan istinbath.

Waktu dan Tempat Kelahirannya

Beliau dilahirkan pada tahun 150H. Pada tahun itu pula, Abu Hanifah wafat sehingga dikomentari oleh al-
Hakim sebagai isyarat bahwa beliau adalah pengganti Abu Hanifah dalam bidang yang ditekuninya.

Tentang tempat kelahirannya, banyak riwayat yang menyebutkan beberapa tempat yang berbeda. Akan
tetapi, yang termasyhur dan disepakati oleh ahli sejarah adalah kota Ghazzah (Sebuah kota yang terletak di
perbatasan wilayah Syam ke arah Mesir. Tepatnya di sebelah Selatan Palestina. Jaraknya dengan kota
Asqalan sekitar dua farsakh). Tempat lain yang disebut-sebut adalah kota Asqalan dan Yaman.

Ibnu Hajar memberikan penjelasan bahwa riwayat-riwayat tersebut dapat digabungkan dengan dikatakan
bahwa beliau dilahirkan di sebuah tempat bernama Ghazzah di wilayah Asqalan. Ketika berumur dua
tahun, beliau dibawa ibunya ke negeri Hijaz dan berbaur dengan penduduk negeri itu yang keturunan
Yaman karena sang ibu berasal dari kabilah Azdiyah (dari Yaman). Lalu ketika berumur 10 tahun, beliau
dibawa ke Mekkah, karena sang ibu khawatir nasabnya yang mulia lenyap dan terlupakan.

Pertumbuhannya dan Pengembaraannya Mencari Ilmu

Di Mekkah, Imam Syafi ‘i dan ibunya tinggal di dekat Syi‘bu al-Khaif. Di sana, sang ibu mengirimnya
belajar kepada seorang guru. Sebenarnya ibunya tidak mampu untuk membiayainya, tetapi sang guru
ternyata rela tidak dibayar setelah melihat kecerdasan dan kecepatannya dalam menghafal. Imam Syafi‘i
bercerita, “Di al-Kuttab (sekolah tempat menghafal Alquran), saya melihat guru yang mengajar di situ
membacakan murid-muridnya ayat Alquran, maka aku ikut menghafalnya. Sampai ketika saya menghafal
semua yang dia diktekan, dia berkata kepadaku, “Tidak halal bagiku mengambil upah sedikitpun darimu.”
Dan ternyata kemudian dengan segera guru itu mengangkatnya sebagai penggantinya (mengawasi murid-
murid lain) jika dia tidak ada. Demikianlah, belum lagi menginjak usia baligh, beliau telah berubah menjadi
seorang guru.

Setelah rampung menghafal Alquran di al-Kuttab, beliau kemudian beralih ke Masjidil Haram untuk
menghadiri majelis-majelis ilmu di sana. Sekalipun hidup dalam kemiskinan, beliau tidak berputus asa
dalam menimba ilmu. Beliau mengumpulkan pecahan tembikar, potongan kulit, pelepah kurma, dan tulang
unta untuk dipakai menulis. Sampai-sampai tempayan-tempayan milik ibunya penuh dengan tulang-tulang,
pecahan tembikar, dan pelepah kurma yang telah bertuliskan hadits-hadits Nabi. Dan itu terjadi pada saat
beliau belum lagi berusia baligh. Sampai dikatakan bahwa beliau telah menghafal Alquran pada saat
berusia 7 tahun, lalu membaca dan menghafal kitab Al-Muwaththa’ karya Imam Malik pada usia 12 tahun
sebelum beliau berjumpa langsung dengan Imam Malik di Madinah.

Beliau juga tertarik mempelajari ilmu bahasa Arab dan syair-syairnya. Beliau memutuskan untuk tinggal di
daerah pedalaman bersama suku Hudzail yang telah terkenal kefasihan dan kemurnian bahasanya, serta
syair-syair mereka. Hasilnya, sekembalinya dari sana beliau telah berhasil menguasai kefasihan mereka dan
menghafal seluruh syair mereka, serta mengetahui nasab orang-orang Arab, suatu hal yang kemudian
banyak dipuji oleh ahli-ahli bahasa Arab yang pernah berjumpa dengannya dan yang hidup sesudahnya.
Namun, takdir Allah telah menentukan jalan lain baginya. Setelah mendapatkan nasehat dari dua orang
ulama, yaitu Muslim bin Khalid az-Zanji -mufti kota Mekkah-, dan al-Husain bin ‘Ali bin Yazid agar
mendalami ilmu fiqih, maka beliau pun tersentuh untuk mendalaminya dan mulailah beliau melakukan
pengembaraannya mencari ilmu.
                                                                                                     50

Beliau mengawalinya dengan menimbanya dari ulama-ulama kotanya, Mekkah, seperti Muslim bin Khalid,
Dawud bin Abdurrahman al-‘Athar, Muhammad bin Ali bin Syafi’ –yang masih terhitung paman jauhnya-,
Sufyan bin ‘Uyainah –ahli hadits Mekkah-, Abdurrahman bin Abu Bakar al-Maliki, Sa’id bin Salim,
Fudhail bin ‘Iyadh, dan lain-lain. Di Mekkah ini, beliau mempelajari ilmu fiqih, hadits, lughoh, dan
Muwaththa’ Imam Malik. Di samping itu beliau juga mempelajari keterampilan memanah dan menunggang
kuda sampai menjadi mahir sebagai realisasi pemahamannya terhadap ayat 60 surat Al-Anfal. Bahkan
dikatakan bahwa dari 10 panah yang dilepasnya, 9 di antaranya pasti mengena sasaran.

Setelah mendapat izin dari para syaikh-nya untuk berfatwa, timbul keinginannya untuk mengembara ke
Madinah, Dar as-Sunnah, untuk mengambil ilmu dari para ulamanya. Terlebih lagi di sana ada Imam Malik
bin Anas, penyusun al-Muwaththa’. Maka berangkatlah beliau ke sana menemui sang Imam. Di hadapan
Imam Malik, beliau membaca al-Muwaththa’ yang telah dihafalnya di Mekkah, dan hafalannya itu
membuat Imam Malik kagum kepadanya. Beliau menjalani mulazamah kepada Imam Malik demi
mengambil ilmu darinya sampai sang Imam wafat pada tahun 179. Di samping Imam Malik, beliau juga
mengambil ilmu dari ulama Madinah lainnya seperti Ibrahim bin Abu Yahya, ‘Abdul ‘Aziz ad-Darawardi,
Athaf bin Khalid, Isma‘il bin Ja‘far, Ibrahim bin Sa‘d dan masih banyak lagi.

Setelah kembali ke Mekkah, beliau kemudian melanjutkan mencari ilmu ke Yaman. Di sana beliau
mengambil ilmu dari Mutharrif bin Mazin dan Hisyam bin Yusuf al-Qadhi, serta yang lain. Namun,
berawal dari Yaman inilah beliau mendapat cobaan –satu hal yang selalu dihadapi oleh para ulama,
sebelum maupun sesudah beliau-. Di Yaman, nama beliau menjadi tenar karena sejumlah kegiatan dan
kegigihannya menegakkan keadilan, dan ketenarannya itu sampai juga ke telinga penduduk Mekkah. Lalu,
orang-orang yang tidak senang kepadanya akibat kegiatannya tadi mengadukannya kepada Khalifah Harun
ar-Rasyid, Mereka menuduhnya hendak mengobarkan pemberontakan bersama orang-orang dari kalangan
Alawiyah.

Sebagaimana dalam sejarah, Imam Syafi‘i hidup pada masa-masa awal pemerintahan Bani ‘Abbasiyah
yang berhasil merebut kekuasaan dari Bani Umayyah. Pada masa itu, setiap khalifah dari Bani ‘Abbasiyah
hampir selalu menghadapi pemberontakan orang-orang dari kalangan ‘Alawiyah. Kenyataan ini membuat
mereka bersikap sangat kejam dalam memadamkan pemberontakan orang-orang ‘Alawiyah yang
sebenarnya masih saudara mereka sebagai sesama Bani Hasyim. Dan hal itu menggoreskan rasa sedih yang
mendalam pada kaum muslimin secara umum dan pada diri Imam Syafi‘i secara khusus. Dia melihat orang-
orang dari Ahlu Bait Nabi menghadapi musibah yang mengenaskan dari penguasa. Maka berbeda dengan
sikap ahli fiqih selainnya, beliau pun menampakkan secara terang-terangan rasa cintanya kepada mereka
tanpa rasa takut sedikitpun, suatu sikap yang saat itu akan membuat pemiliknya merasakan kehidupan yang
sangat sulit.

Sikapnya itu membuatnya dituduh sebagai orang yang bersikap tasyayyu‘, padahal sikapnya sama sekali
berbeda dengan tasysyu’ model orang-orang syi‘ah. Bahkan Imam Syafi‘i menolak keras sikap tasysyu’
model mereka itu yang meyakini ketidakabsahan keimaman Abu Bakar, Umar, serta ‘Utsman , dan hanya
meyakini keimaman Ali, serta meyakini kemaksuman para imam mereka. Sedangkan kecintaan beliau
kepada Ahlu Bait adalah kecintaan yang didasari oleh perintah-perintah yang terdapat dalam Alquran
maupun hadits-hadits shahih. Dan kecintaan beliau itu ternyata tidaklah lantas membuatnya dianggap oleh
orang-orang syiah sebagai ahli fiqih madzhab mereka.

Tuduhan dusta yang diarahkan kepadanya bahwa dia hendak mengobarkan pemberontakan, membuatnya
ditangkap, lalu digelandang ke Baghdad dalam keadaan dibelenggu dengan rantai bersama sejumlah orang-
orang ‘Alawiyah. Beliau bersama orang-orang ‘Alawiyah itu dihadapkan ke hadapan Khalifah Harun ar-
Rasyid. Khalifah menyuruh bawahannya menyiapkan pedang dan hamparan kulit. Setelah memeriksa
mereka seorang demi seorang, ia menyuruh pegawainya memenggal kepala mereka. Ketika sampai pada
gilirannya, Imam Syafi‘i berusaha memberikan penjelasan kepada Khalifah. Dengan kecerdasan dan
ketenangannya serta pembelaan dari Muhammad bin al-Hasan -ahli fiqih Irak-, beliau berhasil meyakinkan
Khalifah tentang ketidakbenaran apa yang dituduhkan kepadanya. Akhirnya beliau meninggalkan majelis
Harun ar-Rasyid dalam keadaan bersih dari tuduhan bersekongkol dengan ‘Alawiyah dan mendapatkan
kesempatan untuk tinggal di Baghdad.

Di Baghdad, beliau kembali pada kegiatan asalnya, mencari ilmu. Beliau meneliti dan mendalami madzhab
Ahlu Ra’yu. Untuk itu beliau berguru dengan mulazamah kepada Muhammad bin al-Hassan. Selain itu,
kepada Isma‘il bin ‘Ulayyah dan Abdul Wahhab ats-Tsaqafiy dan lain-lain. Setelah meraih ilmu dari para
ulama Irak itu, beliau kembali ke Mekkah pada saat namanya mulai dikenal. Maka mulailah ia mengajar di
tempat dahulu ia belajar. Ketika musim haji tiba, ribuan jamaah haji berdatangan ke Mekkah. Mereka yang
telah mendengar nama beliau dan ilmunya yang mengagumkan, bersemangat mengikuti pengajarannya
sampai akhirnya nama beliau makin dikenal luas. Salah satu di antara mereka adalah Imam Ahmad bin
Hanbal.

Ketika kamasyhurannya sampai ke kota Baghdad, Imam Abdurrahman bin Mahdi mengirim surat kepada
Imam Syafi‘i memintanya untuk menulis sebuah kitab yang berisi khabar-khabar yang maqbul, penjelasan
tentang nasikh dan mansukh dari ayat-ayat Alquran dan lain-lain. Maka beliau pun menulis kitabnya yang
terkenal, Ar-Risalah.

Setelah lebih dari 9 tahun mengajar di Mekkah, beliau kembali melakukan perjalanan ke Irak untuk kedua
kalinya dalam rangka menolong madzhab Ash-habul Hadits di sana. Beliau mendapat sambutan meriah di
Baghdad karena para ulama besar di sana telah menyebut-nyebut namanya. Dengan kedatangannya,
                                                                                                         51

kelompok Ash-habul Hadits merasa mendapat angin segar karena sebelumnya mereka merasa didominasi
oleh Ahlu Ra’yi. Sampai-sampai dikatakan bahwa ketika beliau datang ke Baghdad, di Masjid Jami ‘ al-
Gharbi terdapat sekitar 20 halaqah Ahlu Ra ‘yu. Tetapi ketika hari Jumat tiba, yang tersisa hanya 2 atau 3
halaqah saja.

Beliau menetap di Irak selama dua tahun, kemudian pada tahun 197 beliau balik ke Mekkah. Di sana beliau
mulai menyebar madzhabnya sendiri. Maka datanglah para penuntut ilmu kepadanya meneguk dari lautan
ilmunya. Tetapi beliau hanya berada setahun di Mekkah.

Tahun 198, beliau berangkat lagi ke Irak. Namun, beliau hanya beberapa bulan saja di sana karena telah
terjadi perubahan politik. Khalifah al-Makmun telah dikuasai oleh para ulama ahli kalam, dan terjebak
dalam pembahasan-pembahasan tentang ilmu kalam. Sementara Imam Syafi‘i adalah orang yang paham
betul tentang ilmu kalam. Beliau tahu bagaimana pertentangan ilmu ini dengan manhaj as-salaf ash-shaleh
–yang selama ini dipegangnya- di dalam memahami masalah-masalah syariat. Hal itu karena orang-orang
ahli kalam menjadikan akal sebagai patokan utama dalam menghadapi setiap masalah, menjadikannya
rujukan dalam memahami syariat padahal mereka tahu bahwa akal juga memiliki keterbatasan-
keterbatasan. Beliau tahu betul kebencian meraka kepada ulama ahlu hadits. Karena itulah beliau menolak
madzhab mereka.

Dan begitulah kenyataannya. Provokasi mereka membuat Khalifah mendatangkan banyak musibah kepada
para ulama ahlu hadits. Salah satunya adalah yang dikenal sebagai Yaumul Mihnah, ketika dia
mengumpulkan para ulama untuk menguji dan memaksa mereka menerima paham Alquran itu makhluk.
Akibatnya, banyak ulama yang masuk penjara, bila tidak dibunuh. Salah satu di antaranya adalah Imam
Ahmad bin Hanbal. Karena perubahan itulah, Imam Syafi‘i kemudian memutuskan pergi ke Mesir.
Sebenarnya hati kecilnya menolak pergi ke sana, tetapi akhirnya ia menyerahkan dirinya kepada kehendak
Allah. Di Mesir, beliau mendapat sambutan masyarakatnya. Di sana beliau berdakwah, menebar ilmunya,
dan menulis sejumlah kitab, termasuk merevisi kitabnya ar-Risalah, sampai akhirnya beliau menemui akhir
kehidupannya di sana.

Keteguhannya Membela Sunnah

Sebagai seorang yang mengikuti manhaj Ash-habul Hadits, beliau dalam menetapkan suatu masalah
terutama masalah aqidah selalu menjadikan Alquran dan Sunnah Nabi sebagai landasan dan sumber
hukumnya. Beliau selalu menyebutkan dalil-dalil dari keduanya dan menjadikannya hujjah dalam
menghadapi penentangnya, terutama dari kalangan ahli kalam. Beliau berkata, “Jika kalian telah
mendapatkan Sunnah Nabi, maka ikutilah dan janganlah kalian berpaling mengambil pendapat yang lain.”
Karena komitmennya mengikuti sunnah dan membelanya itu, beliau mendapat gelar Nashir as-Sunnah wa
al-Hadits.

Terdapat banyak atsar tentang ketidaksukaan beliau kepada Ahli Ilmu Kalam, mengingat perbedaan manhaj
beliau dengan mereka. Beliau berkata, “Setiap orang yang berbicara (mutakallim) dengan bersumber dari
Alquran dan sunnah, maka ucapannya adalah benar, tetapi jika dari selain keduanya, maka ucapannya
hanyalah igauan belaka.” Imam Ahmad berkata, “Bagi Syafi‘i jika telah yakin dengan keshahihan sebuah
hadits, maka dia akan menyampaikannya. Dan prilaku yang terbaik adalah dia tidak tertarik sama sekali
dengan ilmu kalam, dan lebih tertarik kepada fiqih.” Imam Syafi ‘i berkata, “Tidak ada yang lebih aku
benci daripada ilmu kalam dan ahlinya” Al-Mazani berkata, “Merupakan madzhab Imam Syafi‘i
membenci kesibukan dalam ilmu kalam. Beliau melarang kami sibuk dalam ilmu kalam.”

Ketidaksukaan beliau sampai pada tingkat memberi fatwa bahwa hukum bagi ahli ilmu kalam adalah
dipukul dengan pelepah kurma, lalu dinaikkan ke atas punggung unta dan digiring berkeliling di antara
kabilah-kabilah dengan mengumumkan bahwa itu adalah hukuman bagi orang yang meninggalkan Alquran
dan Sunnah dan memilih ilmu kalam.

Wafatnya

Karena kesibukannya berdakwah dan menebar ilmu, beliau menderita penyakit bawasir yang selalu
mengeluarkan darah. Makin lama penyakitnya itu bertambah parah hingga akhirnya beliau wafat
karenanya. Beliau wafat pada malam Jumat setelah shalat Isya’ hari terakhir bulan Rajab permulaan tahun
204 dalam usia 54 tahun. Semoga Allah memberikan kepadanya rahmat-Nya yang luas.

Ar-Rabi menyampaikan bahwa dia bermimpi melihat Imam Syafi‘i, sesudah wafatnya. Dia berkata kepada
beliau, “Apa yang telah diperbuat Allah kepadamu, wahai Abu Abdillah ?” Beliau menjawab, “Allah
mendudukkan aku di atas sebuah kursi emas dan menaburkan pada diriku mutiara-mutiara yang halus”

Karangan-Karangannya

Sekalipun beliau hanya hidup selama setengah abad dan kesibukannya melakukan perjalanan jauh untuk
mencari ilmu, hal itu tidaklah menghalanginya untuk menulis banyak kitab. Jumlahnya menurut Ibnu Zulaq
mencapai 200 bagian, sedangkan menurut al-Marwaziy mencapai 113 kitab tentang tafsir, fiqih, adab dan
lain-lain. Yaqut al-Hamawi mengatakan jumlahnya mencapai 174 kitab yang judul-judulnya disebutkan
oleh Ibnu an-Nadim dalam al-Fahrasat.
Yang paling terkenal di antara kitab-kitabnya adalah al-Umm, yang terdiri dari 4 jilid berisi 128 masalah,
                                                                                                        52

dan ar-Risalah al-Jadidah (yang telah direvisinya) mengenai Alquran dan As-Sunnah serta kedudukannya
dalam syariat.
 Sumber :
1. Al-Umm, bagian muqoddimah hal 3-33.
2. Siyar A‘lam an-Nubala’
3. Manhaj Aqidah Imam asy-Syafi‘, terjemah kitab Manhaj al-Imam Asy-Syafi ‘i fi Itsbat al-‘Aqidah karya
DR. Muhammad AW al-Aql terbitan Pustaka Imam Asy-Syafi‘i, Cirebon.

Sumber: http://muslim.or.id/?p=9



                       Sejarah Singkat Imam Hanbali
                                           (Dari muslim.or.id)


Nasab dan Kelahirannya
Beliau adalah Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad bin Idris bin Abdullah
bin Hayyan bin Abdullah bin Anas bin ‘Auf bin Qasith bin Mazin bin Syaiban bin Dzuhl bin Tsa‘labah
adz-Dzuhli asy-Syaibaniy. Nasab beliau bertemu dengan nasab Nabi pada diri Nizar bin Ma‘d bin ‘Adnan.
Yang berarti bertemu nasab pula dengan nabi Ibrahim.

Ketika beliau masih dalam kandungan, orang tua beliau pindah dari kota Marwa, tempat tinggal sang ayah,
ke kota Baghdad. Di kota itu beliau dilahirkan, tepatnya pada bulan Rabi‘ul Awwal -menurut pendapat
yang paling masyhur- tahun 164 H.

Ayah beliau, Muhammad, meninggal dalam usia muda, 30 tahun, ketika beliau baru berumur tiga tahun.
Kakek beliau, Hanbal, berpindah ke wilayah Kharasan dan menjadi wali kota Sarkhas pada masa
pemeritahan Bani Umawiyyah, kemudian bergabung ke dalam barisan pendukung Bani ‘Abbasiyah dan
karenanya ikut merasakan penyiksaan dari Bani Umawiyyah. Disebutkan bahwa dia dahulunya adalah
seorang panglima.

Masa Menuntut Ilmu
Imam Ahmad tumbuh dewasa sebagai seorang anak yatim. Ibunya, Shafiyyah binti Maimunah binti ‘Abdul
Malik asy-Syaibaniy, berperan penuh dalam mendidik dan membesarkan beliau. Untungnya, sang ayah
meninggalkan untuk mereka dua buah rumah di kota Baghdad. Yang sebuah mereka tempati sendiri,
sedangkan yang sebuah lagi mereka sewakan dengan harga yang sangat murah. Dalam hal ini, keadaan
beliau sama dengan keadaan syaikhnya, Imam Syafi‘i, yang yatim dan miskin, tetapi tetap mempunyai
semangat yang tinggi. Keduanya juga memiliki ibu yang mampu mengantar mereka kepada kemajuan dan
kemuliaan.

Beliau mendapatkan pendidikannya yang pertama di kota Baghdad. Saat itu, kota Bagdad telah menjadi
pusat peradaban dunia Islam, yang penuh dengan manusia yang berbeda asalnya dan beragam
kebudayaannya, serta penuh dengan beragam jenis ilmu pengetahuan. Di sana tinggal para qari’, ahli hadits,
para sufi, ahli bahasa, filosof, dan sebagainya.

Setamatnya menghafal Alquran dan mempelajari ilmu-ilmu bahasa Arab di al-Kuttab saat berumur 14
tahun, beliau melanjutkan pendidikannya ke ad-Diwan. Beliau terus menuntut ilmu dengan penuh azzam
yang tinggi dan tidak mudah goyah. Sang ibu banyak membimbing dan memberi beliau dorongan
semangat. Tidak lupa dia mengingatkan beliau agar tetap memperhatikan keadaan diri sendiri, terutama
dalam masalah kesehatan. Tentang hal itu beliau pernah bercerita, “Terkadang aku ingin segera pergi pagi-
pagi sekali mengambil (periwayatan) hadits, tetapi Ibu segera mengambil pakaianku dan berkata,
‘Bersabarlah dulu. Tunggu sampai adzan berkumandang atau setelah orang-orang selesai shalat subuh.’”

Perhatian beliau saat itu memang tengah tertuju kepada keinginan mengambil hadits dari para perawinya.
Beliau mengatakan bahwa orang pertama yang darinya beliau mengambil hadits adalah al-Qadhi Abu
Yusuf, murid/rekan Imam Abu Hanifah.

Imam Ahmad tertarik untuk menulis hadits pada tahun 179 saat berumur 16 tahun. Beliau terus berada di
kota Baghdad mengambil hadits dari syaikh-syaikh hadits kota itu hingga tahun 186. Beliau melakukan
mulazamah kepada syaikhnya, Hasyim bin Basyir bin Abu Hazim al-Wasithiy hingga syaikhnya tersebut
wafat tahun 183. Disebutkan oleh putra beliau bahwa beliau mengambil hadits dari Hasyim sekitar tiga
ratus ribu hadits lebih.

Pada tahun 186, beliau mulai melakukan perjalanan (mencari hadits) ke Bashrah lalu ke negeri Hijaz,
Yaman, dan selainnya. Tokoh yang paling menonjol yang beliau temui dan mengambil ilmu darinya selama
perjalanannya ke Hijaz dan selama tinggal di sana adalah Imam Syafi‘i. Beliau banyak mengambil hadits
dan faedah ilmu darinya. Imam Syafi‘i sendiri amat memuliakan diri beliau dan terkadang menjadikan
beliau rujukan dalam mengenal keshahihan sebuah hadits. Ulama lain yang menjadi sumber beliau
mengambil ilmu adalah Sufyan bin ‘Uyainah, Ismail bin ‘Ulayyah, Waki‘ bin al-Jarrah, Yahya al-Qaththan,
Yazid bin Harun, dan lain-lain. Beliau berkata, “Saya tidak sempat bertemu dengan Imam Malik, tetapi
Allah menggantikannya untukku dengan Sufyan bin ‘Uyainah. Dan saya tidak sempat pula bertemu dengan
Hammad bin Zaid, tetapi Allah menggantikannya dengan Ismail bin ‘Ulayyah.”
                                                                                                        53

Demikianlah, beliau amat menekuni pencatatan hadits, dan ketekunannya itu menyibukkannya dari hal-hal
lain sampai-sampai dalam hal berumah tangga. Beliau baru menikah setelah berumur 40 tahun. Ada orang
yang berkata kepada beliau, “Wahai Abu Abdillah, Anda telah mencapai semua ini. Anda telah menjadi
imam kaum muslimin.” Beliau menjawab, “Bersama mahbarah (tempat tinta) hingga ke maqbarah
(kubur). Aku akan tetap menuntut ilmu sampai aku masuk liang kubur.” Dan memang senantiasa seperti
itulah keadaan beliau: menekuni hadits, memberi fatwa, dan kegiatan-kegiatan lain yang memberi manfaat
kepada kaum muslimin. Sementara itu, murid-murid beliau berkumpul di sekitarnya, mengambil darinya
(ilmu) hadits, fiqih, dan lainnya. Ada banyak ulama yang pernah mengambil ilmu dari beliau, di antaranya
kedua putra beliau, Abdullah dan Shalih, Abu Zur ‘ah, Bukhari, Muslim, Abu Dawud, al-Atsram, dan lain-
lain.

Beliau menyusun kitabnya yang terkenal, al-Musnad, dalam jangka waktu sekitar enam puluh tahun dan
itu sudah dimulainya sejak tahun tahun 180 saat pertama kali beliau mencari hadits. Beliau juga menyusun
kitab tentang tafsir, tentang an-nasikh dan al-mansukh, tentang tarikh, tentang yang muqaddam dan
muakhkhar dalam Alquran, tentang jawaban-jawaban dalam Alquran. Beliau juga menyusun kitab al-
manasik ash-shagir dan al-kabir, kitab az-Zuhud, kitab ar-radd ‘ala al-Jahmiyah wa az-
zindiqah(Bantahan kepada Jahmiyah dan Zindiqah), kitab as-Shalah, kitab as-Sunnah, kitab al-Wara ‘
wa al-Iman, kitab al-‘Ilal wa ar-Rijal, kitab al-Asyribah, satu juz tentang Ushul as-Sittah, Fadha’il ash-
Shahabah.

Pujian dan Penghormatan Ulama Lain Kepadanya
Imam Syafi‘i pernah mengusulkan kepada Khalifah Harun ar-Rasyid, pada hari-hari akhir hidup khalifah
tersebut, agar mengangkat Imam Ahmad menjadi qadhi di Yaman, tetapi Imam Ahmad menolaknya dan
berkata kepada Imam Syafi‘i, “Saya datang kepada Anda untuk mengambil ilmu dari Anda, tetapi Anda
malah menyuruh saya menjadi qadhi untuk mereka.” Setelah itu pada tahun 195, Imam Syafi‘i
mengusulkan hal yang sama kepada Khalifah al-Amin, tetapi lagi-lagi Imam Ahmad menolaknya.

Suatu hari, Imam Syafi‘i masuk menemui Imam Ahmad dan berkata, “Engkau lebih tahu tentang hadits
dan perawi-perawinya. Jika ada hadits shahih (yang engkau tahu), maka beri tahulah aku. Insya Allah,
jika (perawinya) dari Kufah atau Syam, aku akan pergi mendatanginya jika memang shahih.” Ini
menunjukkan kesempurnaan agama dan akal Imam Syafi‘i karena mau mengembalikan ilmu kepada
ahlinya.
Imam Syafi‘i juga berkata, “Aku keluar (meninggalkan) Bagdad, sementara itu tidak aku tinggalkan di
kota tersebut orang yang lebih wara’, lebih faqih, dan lebih bertakwa daripada Ahmad bin Hanbal.”
Abdul Wahhab al-Warraq berkata, “Aku tidak pernah melihat orang yang seperti Ahmad bin Hanbal”.
Orang-orang bertanya kepadanya, “Dalam hal apakah dari ilmu dan keutamaannya yang engkau pandang
dia melebihi yang lain?” Al-Warraq menjawab, “Dia seorang yang jika ditanya tentang 60.000 masalah,
dia akan menjawabnya dengan berkata, ‘Telah dikabarkan kepada kami,’ atau, “Telah disampaikan hadits
kepada kami’.”Ahmad bin Syaiban berkata, “Aku tidak pernah melihat Yazid bin Harun memberi
penghormatan kepada seseorang yang lebih besar daripada kepada Ahmad bin Hanbal. Dia akan
mendudukkan beliau di sisinya jika menyampaikan hadits kepada kami. Dia sangat menghormati beliau,
tidak mau berkelakar dengannya”. Demikianlah, padahal seperti diketahui bahwa Harun bin Yazid adalah
salah seorang guru beliau dan terkenal sebagai salah seorang imam huffazh.

Keteguhan di Masa Penuh Cobaan
Telah menjadi keniscayaan bahwa kehidupan seorang mukmin tidak akan lepas dari ujian dan cobaan,
terlebih lagi seorang alim yang berjalan di atas jejak para nabi dan rasul. Dan Imam Ahmad termasuk di
antaranya. Beliau mendapatkan cobaan dari tiga orang khalifah Bani Abbasiyah selama rentang waktu 16
tahun.

Pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah, dengan jelas tampak kecondongan khalifah yang berkuasa
menjadikan unsur-unsur asing (non-Arab) sebagai kekuatan penunjang kekuasaan mereka. Khalifah al-
Makmun menjadikan orang-orang Persia sebagai kekuatan pendukungnya, sedangkan al-Mu‘tashim
memilih orang-orang Turki. Akibatnya, justru sedikit demi sedikit kelemahan menggerogoti kekuasaan
mereka. Pada masa itu dimulai penerjemahan ke dalam bahasa Arab buku-buku falsafah dari Yunani,
Rumania, Persia, dan India dengan sokongan dana dari penguasa. Akibatnya, dengan cepat berbagai bentuk
bid‘ah merasuk menyebar ke dalam akidah dan ibadah kaum muslimin. Berbagai macam kelompok yang
sesat menyebar di tengah-tengah mereka, seperti Qadhariyah, Jahmyah, Asy‘ariyah, Rafidhah, Mu‘tashilah,
dan lain-lain.

Kelompok Mu‘tashilah, secara khusus, mendapat sokongan dari penguasa, terutama dari Khalifah al-
Makmun. Mereka, di bawah pimpinan Ibnu Abi Duad, mampu mempengaruhi al-Makmun untuk
membenarkan dan menyebarkan pendapat-pendapat mereka, di antaranya pendapat yang mengingkari sifat-
sifat Allah, termasuk sifat kalam (berbicara). Berangkat dari pengingkaran itulah, pada tahun 212, Khalifah
al-Makmun kemudian memaksa kaum muslimin, khususnya ulama mereka, untuk meyakini kemakhlukan
Alquran.

Sebenarnya Harun ar-Rasyid, khalifah sebelum al-Makmun, telah menindak tegas pendapat tentang
kemakhlukan Alquran. Selama hidupnya, tidak ada seorang pun yang berani menyatakan pendapat itu
sebagaimana dikisahkan oleh Muhammad bin Nuh, “Aku pernah mendengar Harun ar-Rasyid berkata,
‘Telah sampai berita kepadaku bahwa Bisyr al-Muraisiy mengatakan bahwa Alquran itu makhluk.
Merupakan kewajibanku, jika Allah menguasakan orang itu kepadaku, niscaya akan aku hukum bunuh dia
dengan cara yang tidak pernah dilakukan oleh seorang pun’”. Tatkala Khalifah ar-Rasyid wafat dan
                                                                                                      54

kekuasaan beralih ke tangan al-Amin, kelompok Mu‘tazilah berusaha menggiring al-Amin ke dalam
kelompok mereka, tetapi al-Amin menolaknya. Baru kemudian ketika kekhalifahan berpindah ke tangan al-
Makmun, mereka mampu melakukannya.

Untuk memaksa kaum muslimin menerima pendapat kemakhlukan Alquran, al-Makmun sampai
mengadakan ujian kepada mereka. Selama masa pengujian tersebut, tidak terhitung orang yang telah
dipenjara, disiksa, dan bahkan dibunuhnya. Ujian itu sendiri telah menyibukkan pemerintah dan warganya
baik yang umum maupun yang khusus. Ia telah menjadi bahan pembicaraan mereka, baik di kota-kota
maupun di desa-desa di negeri Irak dan selainnya. Telah terjadi perdebatan yang sengit di kalangan ulama
tentang hal itu. Tidak terhitung dari mereka yang menolak pendapat kemakhlukan Alquran, termasuk di
antaranya Imam Ahmad. Beliau tetap konsisten memegang pendapat yang hak, bahwa Alquran itu
kalamullah, bukan makhluk.

Al-Makmun bahkan sempat memerintahkan bawahannya agar membawa Imam Ahmad dan Muhammad
bin Nuh ke hadapannya di kota Thursus. Kedua ulama itu pun akhirnya digiring ke Thursus dalam keadaan
terbelenggu. Muhammad bin Nuh meninggal dalam perjalanan sebelum sampai ke Thursus, sedangkan
Imam Ahmad dibawa kembali ke Bagdad dan dipenjara di sana karena telah sampai kabar tentang kematian
al-Makmun (tahun 218). Disebutkan bahwa Imam Ahmad tetap mendoakan al-Makmun.

Sepeninggal al-Makmun, kekhalifahan berpindah ke tangan putranya, al-Mu‘tashim. Dia telah mendapat
wasiat dari al-Makmun agar meneruskan pendapat kemakhlukan Alquran dan menguji orang-orang dalam
hal tersebut; dan dia pun melaksanakannya. Imam Ahmad dikeluarkannya dari penjara lalu dipertemukan
dengan Ibnu Abi Duad dan konco-konconya. Mereka mendebat beliau tentang kemakhlukan Alquran, tetapi
beliau mampu membantahnya dengan bantahan yang tidak dapat mereka bantah. Akhirnya beliau dicambuk
sampai tidak sadarkan diri lalu dimasukkan kembali ke dalam penjara dan mendekam di sana selama sekitar
28 bulan –atau 30-an bulan menurut yang lain-. Selama itu beliau shalat dan tidur dalam keadaan kaki
terbelenggu.
Selama itu pula, setiap harinya al-Mu‘tashim mengutus orang untuk mendebat beliau, tetapi jawaban beliau
tetap sama, tidak berubah. Akibatnya, bertambah kemarahan al-Mu‘tashim kepada beliau. Dia mengancam
dan memaki-maki beliau, dan menyuruh bawahannya mencambuk lebih keras dan menambah belenggu di
kaki beliau. Semua itu, diterima Imam Ahmad dengan penuh kesabaran dan keteguhan bak gunung yang
menjulang dengan kokohnya.

Sakit dan Wafatnya
Pada akhirnya, beliau dibebaskan dari penjara. Beliau dikembalikan ke rumah dalam keadaan tidak mampu
berjalan. Setelah luka-lukanya sembuh dan badannya telah kuat, beliau kembali menyampaikan pelajaran-
pelajarannya di masjid sampai al-Mu‘tashim wafat.

Selanjutnya, al-Watsiq diangkat menjadi khalifah. Tidak berbeda dengan ayahnya, al-Mu‘tashim, al-Watsiq
pun melanjutkan ujian yang dilakukan ayah dan kakeknya. dia pun masih menjalin kedekatan dengan Ibnu
Abi Duad dan konco-konconya. Akibatnya, penduduk Bagdad merasakan cobaan yang kian keras. Al-
Watsiq melarang Imam Ahmad keluar berkumpul bersama orang-orang. Akhirnya, Imam Ahmad
bersembunyi di rumahnya, tidak keluar darinya bahkan untuk keluar mengajar atau menghadiri shalat
jamaah. Dan itu dijalaninya selama kurang lebih lima tahun, yaitu sampai al-Watsiq meninggal tahun 232.

Sesudah al-Watsiq wafat, al-Mutawakkil naik menggantikannya. Selama dua tahun masa pemerintahannya,
ujian tentang kemakhlukan Alquran masih dilangsungkan. Kemudian pada tahun 234, dia menghentikan
ujian tersebut. Dia mengumumkan ke seluruh wilayah kerajaannya larangan atas pendapat tentang
kemakhlukan Alquran dan ancaman hukuman mati bagi yang melibatkan diri dalam hal itu. Dia juga
memerintahkan kepada para ahli hadits untuk menyampaikan hadits-hadits tentang sifat-sifat Allah. Maka
demikianlah, orang-orang pun bergembira pun dengan adanya pengumuman itu. Mereka memuji-muji
khalifah atas keputusannya itu dan melupakan kejelekan-kejelekannya. Di mana-mana terdengar doa
untuknya dan namanya disebut-sebut bersama nama Abu Bakar, Umar bin al-Khaththab, dan Umar bin
Abdul Aziz.

Menjelang wafatnya, beliau jatuh sakit selama sembilan hari. Mendengar sakitnya, orang-orang pun
berdatangan ingin menjenguknya. Mereka berdesak-desakan di depan pintu rumahnya, sampai-sampai
sultan menempatkan orang untuk berjaga di depan pintu. Akhirnya, pada permulaan hari Jumat tanggal 12
Rabi‘ul Awwal tahun 241, beliau menghadap kepada rabbnya menjemput ajal yang telah dientukan
kepadanya. Kaum muslimin bersedih dengan kepergian beliau. Tak sedikit mereka yang turut mengantar
jenazah beliau sampai beratusan ribu orang. Ada yang mengatakan 700 ribu orang, ada pula yang
mengatakan 800 ribu orang, bahkan ada yang mengatakan sampai satu juta lebih orang yang
menghadirinya. Semuanya menunjukkan bahwa sangat banyaknya mereka yang hadir pada saat itu demi
menunjukkan penghormatan dan kecintaan mereka kepada beliau. Beliau pernah berkata ketika masih
sehat, “Katakan kepada ahlu bid‘ah bahwa perbedaan antara kami dan kalian adalah (tampak pada) hari
kematian kami”.

Demikianlah gambaran ringkas ujian yang dilalui oleh Imam Ahmad. Terlihat bagaimana sikap agung
beliau yang tidak akan diambil kecuali oleh orang-orang yang penuh keteguhan lagi ikhlas. Beliau bersikap
seperti itu justru ketika sebagian ulama lain berpaling dari kebenaran. Dan dengan keteguhan di atas
kebenaran yang Allah berikan kepadanya itu, maka madzhab Ahlussunnah pun dinisbatkan kepada dirinya
karena beliau sabar dan teguh dalam membelanya. Ali bin al-Madiniy berkata menggambarkan keteguhan
Imam Ahmad, “Allah telah mengokohkan agama ini lewat dua orang laki-laki, tidak ada yang ketiganya.
                                                                                                          55

Yaitu, Abu Bakar as-Shiddiq pada Yaumur Riddah (saat orang-orang banyak yang murtad pada awal-awal
pemerintahannya), dan Ahmad bin Hanbal pada Yaumul Mihnah”.

Sumber: http://muslim.or.id/?p=43


                        Sejarah Singkat Imam Bukhari
Kelahiran dan Masa Kecil Imam Bukhari

Imam Bukhari (semoga Allah merahmatinya) lahir di Bukhara, Uzbekistan, Asia Tengah. Nama
lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Badrdizbah Al-
Ju'fiy Al Bukhari, namun beliau lebih dikenal dengan nama Bukhari. Beliau lahir pada hari Jumat, tepatnya
pada tanggal 13 Syawal 194 H (21 Juli 810 M). Kakeknya bernama Bardizbeh, turunan Persi yang masih
beragama Zoroaster. Tapi orangtuanya, Mughoerah, telah memeluk Islam di bawah asuhan Al-Yaman el-
Ja’fiy. Sebenarnya masa kecil Imam Bukhari penuh dengan keprihatinan. Di samping menjadi anak yatim,
juga tidak dapat melihat karena buta (tidak lama setelah lahir, beliau kehilangan penglihatannya tersebut).
Ibunya senantiasa berusaha dan berdo'a untuk kesembuhan beliau. Alhamdulillah, dengan izin dan karunia
Allah, menjelang usia 10 tahun matanya sembuh secara total.

Imam Bukhari adalah ahli hadits yang termasyhur diantara para ahli hadits sejak dulu hingga kini bersama
dengan Imam Ahmad, Imam Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasai, dan Ibnu Majah. Bahkan dalam
kitab-kitab fiqih dan hadits, hadits-hadits beliau memiliki derajat yang tinggi. Sebagian menyebutnya
dengan julukan Amirul Mukminin fil Hadits (Pemimpin kaum mukmin dalam hal Ilmu Hadits). Dalam
bidang ini, hampir semua ulama di dunia merujuk kepadanya.

Tempat beliau lahir kini termasuk wilayah Rusia, yang waktu itu memang menjadi pusat kebudayaan ilmu
pengetahuan Islam sesudah Madinah, Damaskus dan Bagdad. Daerah itu pula yang telah melahirkan
filosof-filosof besar seperti al-Farabi dan Ibnu Sina. Bahkan ulama-ulama besar seperti Zamachsari, al-
Durdjani, al-Bairuni dan lain-lain, juga dilahirkan di Asia Tengah. Sekalipun daerah tersebut telah jatuh di
bawah kekuasaan Uni Sovyet (Rusia), namun menurut Alexandre Benningsen dan Chantal Lemercier
Quelquejay dalam bukunya "Islam in the Sivyet Union" (New York, 1967), pemeluk Islamnya masih
berjumlah 30 milliun. Jadi merupakan daerah yang pemeluk Islam-nya nomor lima besarnya di dunia
setelah Indonesia, Pakistan, India dan Cina.

Keluarga dan Guru Imam Bukhari

Bukhari dididik dalam keluarga ulama yang taat beragama. Dalam kitab As-Siqat, Ibnu Hibban menulis
bahwa ayahnya dikenal sebagai orang yang wara' dalam arti berhati-hati terhadap hal-hal yang hukumnya
bersifat syubhat (ragu-ragu), terlebih lebih terhadap hal-hal yang sifatnya haram. Ayahnya adalah seorang
ulama bermadzhab Maliki dan merupakan mudir dari Imam Malik, seorang ulama besar dan ahli fikih.
Ayahnya wafat ketika Bukhari masih kecil.

Perhatiannya kepada ilmu hadits yang sulit dan rumit itu sudah tumbuh sejak usia 10 tahun, hingga dalam
usia 16 tahun beliau sudah hafal dan menguasai buku-buku seperti "al-Mubarak" dan "al-Waki". Bukhari
berguru kepada Syekh Ad-Dakhili, ulama ahli hadits yang masyhur di Bukhara. Pada usia 16 tahun bersama
keluarganya, ia mengunjungi kota suci Mekkah dan Madinah, dimana di kedua kota suci itu beliau
mengikuti kuliah para guru-guru besar ahli hadits. Pada usia 18 tahun beliau menerbitkan kitab pertamanya
"Qudhaya as Shahabah wat Tabi’ien" (Peristiwa-peristiwa Hukum di zaman Sahabat dan Tabi’ien).

Bersama gurunya Syekh Ishaq, beliau menghimpun hadits-hadits shahih dalam satu kitab, dimana dari satu
juta hadits yang diriwayatkan oleh 80.000 perawi disaring lagi menjadi 7275 hadits. Diantara guru-guru
beliau dalam memperoleh hadits dan ilmu hadits antara lain adalah Ali bin Al Madini, Ahmad bin Hanbali,
Yahya bin Ma'in, Muhammad bin Yusuf Al Faryabi, Maki bin Ibrahim Al Bakhi, Muhammad bin Yusuf al
Baykandi dan Ibnu Rahwahih. Selain itu ada 289 ahli hadits yang haditsnya dikutip dalam kitab Shahih-
nya.

Kejeniusan Imam Bukhari

Bukhari diakui memiliki daya hapal tinggi, yang diakui oleh kakaknya Rasyid bin Ismail. Kakak sang
Imam ini menuturkan, pernah Bukhari muda dan beberapa murid lainnya mengikuti kuliah dan ceramah
cendekiawan Balkh. Tidak seperti murid lainnya, Bukhari tidak pernah membuat catatan kuliah. Ia sering
dicela membuang waktu karena tidak mencatat, namun Bukhari diam tak menjawab. Suatu hari, karena
merasa kesal terhadap celaan itu, Bukhari meminta kawan-kawannya membawa catatan mereka, kemudian
beliau membacakan secara tepat apa yang pernah disampaikan selama dalam kuliah dan ceramah tersebut.
Tercenganglah mereka semua, lantaran Bukhari ternyata hafal di luar kepala 15.000 hadits, lengkap dengan
keterangan yang tidak sempat mereka catat.

Ketika sedang berada di Bagdad, Imam Bukhari pernah didatangi oleh 10 orang ahli hadits yang ingin
menguji ketinggian ilmu beliau. Dalam pertemuan itu, 10 ulama tersebut mengajukan 100 buah hadits yang
sengaja "diputar-balikkan" untuk menguji hafalan Imam Bukhari. Ternyata hasilnya mengagumkan. Imam
Bukhari mengulang kembali secara tepat masing-masing hadits yang salah tersebut, lalu mengoreksi
kesalahannya, kemudian membacakan hadits yang benarnya. Ia menyebutkan seluruh hadits yang salah
tersebut di luar kepala, secara urut, sesuai dengan urutan penanya dan urutan hadits yang ditanyakan,
                                                                                                         56

kemudian membetulkannya. Inilah yang sangat luar biasa dari sang Imam, karena beliau mampu menghafal
hanya dalam waktu satu kali dengar.

Selain terkenal sebagai seorang ahli hadits, Imam Bukhari ternyata tidak melupakan kegiatan lain, yakni
olahraga. Ia misalnya sering belajar memanah sampai mahir, sehingga dikatakan sepanjang hidupnya, sang
Imam tidak pernah luput dalam memanah kecuali hanya dua kali. Keadaan itu timbul sebagai pengamalan
sunnah Rasul yang mendorong dan menganjurkan kaum Muslimin belajar menggunakan anak panah dan
alat-alat perang lainnya.

Karya-karya Imam Bukhari

Karyanya yang pertama berjudul "Qudhaya as Shahabah wat Tabi’ien" (Peristiwa-peristiwa Hukum di
zaman Sahabat dan Tabi’ien). Kitab ini ditulisnya ketika masih berusia 18 tahun. Ketika menginjak usia 22
tahun, Imam Bukhari menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci bersama-sama dengan ibu dan kakaknya yang
bernama Ahmad. Di sanalah beliau menulis kitab "At-Tarikh" (sejarah) yang terkenal itu. Beliau pernah
berkata, "Saya menulis buku "At-Tarikh" di atas makam Nabi Muhammad SAW di waktu malam bulan
purnama".

Karya Imam Bukhari lainnya antara lain adalah kitab Al-Jami' ash Shahih, Al-Adab al Mufrad, At Tharikh
as Shaghir, At Tarikh Al Awsat, At Tarikh al Kabir, At Tafsir Al Kabir, Al Musnad al Kabir, Kitab al 'Ilal,
Raf'ul Yadain fis Salah, Birrul Walidain, Kitab Ad Du'afa, Asami As Sahabah dan Al Hibah. Diantara
semua karyanya tersebut, yang paling monumental adalah kitab Al-Jami' as-Shahih yang lebih dikenal
dengan nama Shahih Bukhari.

Dalam sebuah riwayat diceritakan, Imam Bukhari berkata: "Aku bermimpi melihat Rasulullah saw., seolah-
olah aku berdiri di hadapannya, sambil memegang kipas yang kupergunakan untuk menjaganya. Kemudian
aku tanyakan mimpi itu kepada sebagian ahli ta'bir, ia menjelaskan bahwa aku akan menghancurkan dan
mengikis habis kebohongan dari hadits-hadits Rasulullah saw. Mimpi inilah, antara lain, yang
mendorongku untuk melahirkan kitab Al-Jami' As-Sahih."

Dalam menghimpun hadits-hadits shahih dalam kitabnya tersebut, Imam Bukhari menggunakan kaidah-
kaidah penelitian secara ilmiah dan sah yang menyebabkan keshahihan hadits-haditsnya dapat
dipertanggungjawabkan. Ia berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meneliti dan menyelidiki keadaan
para perawi, serta memperoleh secara pasti kesahihan hadits-hadits yang diriwayatkannya.

Imam Bukhari senantiasa membandingkan hadits-hadits yang diriwayatkan, satu dengan lainnya,
menyaringnya dan memilih mana yang menurutnya paling shahih. Sehingga kitabnya merupakan batu uji
dan penyaring bagi hadits-hadits tersebut. Hal ini tercermin dari perkataannya: "Aku susun kitab Al Jami'
ini yang dipilih dari 600.000 hadits selama 16 tahun."

Banyak para ahli hadits yang berguru kepadanya, diantaranya adalah Syekh Abu Zahrah, Abu Hatim
Tirmidzi, Muhammad Ibn Nasr dan Imam Muslim bin Al Hajjaj (pengarang kitab Shahih Muslim). Imam
Muslim menceritakan : "Ketika Muhammad bin Ismail (Imam Bukhari) datang ke Naisabur, aku tidak
pernah melihat seorang kepala daerah, para ulama dan penduduk Naisabur yang memberikan sambutan
seperti apa yang mereka berikan kepadanya." Mereka menyambut kedatangannya dari luar kota sejauh dua
atau tiga marhalah (100 km), sampai-sampai Muhammad bin Yahya Az Zihli (guru Imam Bukhari) berkata
: "Barang siapa hendak menyambut kedatangan Muhammad bin Ismail besok pagi, lakukanlah, sebab aku
sendiri akan ikut menyambutnya."

Penelitian Hadits

Untuk mengumpulkan dan menyeleksi hadits shahih, Bukhari menghabiskan waktu selama 16 tahun untuk
mengunjungi berbagai kota guna menemui para perawi hadits, mengumpulkan dan menyeleksi haditsnya.
Diantara kota-kota yang disinggahinya antara lain Bashrah, Mesir, Hijaz (Mekkah, Madinah), Kufah,
Baghdad sampai ke Asia Barat. Di Baghdad, Bukhari sering bertemu dan berdiskusi dengan ulama besar
Imam Ahmad bin Hanbali. Dari sejumlah kota-kota itu, ia bertemu dengan 80.000 perawi. Dari merekalah
beliau mengumpulkan dan menghafal satu juta hadits.

Namun tidak semua hadits yang ia hapal kemudian diriwayatkan, melainkan terlebih dahulu diseleksi
dengan seleksi yang sangat ketat, diantaranya apakah sanad (riwayat) dari hadits tersebut bersambung dan
apakah perawi (periwayat / pembawa) hadits itu terpercaya dan tsiqqah (kuat). Menurut Ibnu Hajar Al
Asqalani, akhirnya Bukhari menuliskan sebanyak 9082 hadis dalam karya monumentalnya Al Jami' as-
Shahih yang dikenal sebagai Shahih Bukhari.

Dalam meneliti dan menyeleksi hadits dan diskusi dengan para perawi tersebut, Imam Bukhari sangat
sopan. Kritik-kritik yang ia lontarkan kepada para perawi juga cukup halus namun tajam. Kepada para
perawi yang sudah jelas kebohongannya ia berkata, "perlu dipertimbangkan, para ulama meninggalkannya
atau para ulama berdiam dari hal itu" sementara kepada para perawi yang haditsnya tidak jelas ia
menyatakan "Haditsnya diingkari". Bahkan banyak meninggalkan perawi yang diragukan kejujurannya.
Beliau berkata "Saya meninggalkan 10.000 hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang perlu
dipertimbangkan dan meninggalkan hadits-hadits dengan jumlah yang sama atau lebih, yang diriwayatan
oleh perawi yang dalam pandanganku perlu dipertimbangkan".

Banyak para ulama atau perawi yang ditemui sehingga Bukhari banyak mencatat jati diri dan sikap mereka
secara teliti dan akurat. Untuk mendapatkan keterangan yang lengkap mengenai sebuah hadits, mencek
                                                                                                              57

keakuratan sebuah hadits ia berkali-kali mendatangi ulama atau perawi meskipun berada di kota-kota atau
negeri yang jauh seperti Baghdad, Kufah, Mesir, Syam, Hijaz seperti yang dikatakan beliau "Saya telah
mengunjungi Syam, Mesir dan Jazirah masing-masing dua kali, ke Basrah empat kali menetap di Hijaz
selama enam tahun dan tidak dapat dihitung berapa kali saya mengunjungi Kufah dan Baghdad untuk
menemui ulama-ulama ahli hadits."

Disela-sela kesibukannya sebagai sebagai ulama, pakar hadits, ia juga dikenal sebagai ulama dan ahli fiqih,
bahkan tidak lupa dengan kegiatan kegiatan olahraga dan rekreatif seperti belajar memanah sampai mahir,
bahkan menurut suatu riwayat, Imam Bukhari tidak pernah luput memanah kecuali dua kali.

Metode Imam Bukhari dalam Menulis Kitab Hadits

Sebagai intelektual muslim yang berdisiplin tinggi, Imam Bukhari dikenal sebagai pengarang kitab yang
produktif. Karya-karyanya tidak hanya dalam disiplin ilmu hadits, tapi juga ilmu-ilmu lain, seperti tafsir,
fikih, dan tarikh. Fatwa-fatwanya selalu menjadi pegangan umat sehingga ia menduduki derajat sebagai
mujtahid mustaqil (ulama yang ijtihadnya independen), tidak terikat pada mazhab tertentu, sehingga
mempunyai otoritas tersendiri dalam berpendapat dalam hal hukum.

Pendapat-pendapatnya terkadang sejalan dengan Imam Abu Hanifah (Imam Hanafi, pendiri mazhab
Hanafi), tetapi terkadang bisa berbeda dengan beliau. Sebagai pemikir bebas yang menguasai ribuan hadits
shahih, suatu saat beliau bisa sejalan dengan Ibnu Abbas, Atha ataupun Mujahid dan bisa juga berbeda
pendapat dengan mereka.

Diantara puluhan kitabnya, yang paling masyhur ialah kumpulan hadits shahih yang berjudul Al-Jami' as-
Shahih, yang belakangan lebih populer dengan sebutan Shahih Bukhari. Ada kisah unik tentang
penyusunan kitab ini. Suatu malam Imam Bukhari bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad saw.,
seolah-olah Nabi Muhammad saw. berdiri dihadapannya. Imam Bukhari lalu menanyakan makna mimpi itu
kepada ahli mimpi. Jawabannya adalah beliau (Imam Bukhari) akan menghancurkan dan mengikis habis
kebohongan yang disertakan orang dalam sejumlah hadits Rasulullah saw. Mimpi inilah, antara lain yang
mendorong beliau untuk menulis kitab "Al-Jami 'as-Shahih".

Dalam menyusun kitab tersebut, Imam Bukhari sangat berhati-hati. Menurut Al-Firbari, salah seorang
muridnya, ia mendengar Imam Bukhari berkata. "Saya susun kitab Al-Jami' as-Shahih ini di Masjidil
Haram, Mekkah dan saya tidak mencantumkan sebuah hadits pun kecuali sesudah shalat istikharah dua
rakaat memohon pertolongan kepada Allah, dan sesudah meyakini betul bahwa hadits itu benar-benar
shahih". Di Masjidil Haram-lah ia menyusun dasar pemikiran dan bab-babnya secara sistematis.

Setelah itu ia menulis mukaddimah dan pokok pokok bahasannya di Rawdah Al-Jannah, sebuah tempat
antara makam Rasulullah dan mimbar di Masjid Nabawi di Madinah. Barulah setelah itu ia mengumpulkan
sejumlah hadits dan menempatkannya dalam bab-bab yang sesuai. Proses penyusunan kitab ini dilakukan di
dua kota suci tersebut dengan cermat dan tekun selama 16 tahun. Ia menggunakan kaidah penelitian secara
ilmiah dan cukup modern sehingga hadits haditsnya dapat dipertanggung-jawabkan.

Dengan bersungguh-sungguh ia meneliti dan menyelidiki kredibilitas para perawi sehingga benar-benar
memperoleh kepastian akan keshahihan hadits yang diriwayatkan. Ia juga selalu membandingkan hadits
satu dengan yang lainnya, memilih dan menyaring, mana yang menurut pertimbangannya secara nalar
paling shahih. Dengan demikian, kitab hadits susunan Imam Bukhari benar-benar menjadi batu uji dan
penyaring bagi sejumlah hadits lainnya. "Saya tidak memuat sebuah hadits pun dalam kitab ini kecuali
hadits-hadits shahih", katanya suatu saat.

Di belakang hari, para ulama hadits menyatakan, dalam menyusun kitab Al-Jami' as-Shahih, Imam Bukhari
selalu berpegang teguh pada tingkat keshahihan paling tinggi dan tidak akan turun dari tingkat tersebut,
kecuali terhadap beberapa hadits yang bukan merupakan materi pokok dari sebuah bab.

Menurut Ibnu Shalah, dalam kitab Muqaddimah, kitab Shahih Bukhari itu memuat 7275 hadits. Selain itu
ada hadits-hadits yang dimuat secara berulang, dan ada 4000 hadits yang dimuat secara utuh tanpa
pengulangan. Penghitungan itu juga dilakukan oleh Syekh Muhyiddin An Nawawi dalam kitab At-Taqrib.
Dalam hal itu, Ibnu Hajar Al-Atsqalani dalam kata pendahuluannya untuk kitab Fathul Bari (yakni syarah
atau penjelasan atas kitab Shahih Bukhari) menulis, semua hadits shahih yang dimuat dalam Shahih
Bukhari (setelah dikurangi dengan hadits yang dimuat secara berulang) sebanyak 2.602 buah. Sedangkan
hadits yang mu'allaq (ada kaitan satu dengan yang lain, bersambung) namun marfu (diragukan) ada 159
buah. Adapun jumlah semua hadits shahih termasuk yang dimuat berulang sebanyak 7397 buah.
Perhitungan berbeda diantara para ahli hadits tersebut dalam mengomentari kitab Shahih Bukhari semata-
mata karena perbedaan pandangan mereka dalam ilmu hadits.

Terjadinya Fitnah

Muhammad bin Yahya Az-Zihli berpesan kepada para penduduk agar menghadiri dan mengikuti pengajian
yang diberikannya. Ia berkata: "Pergilah kalian kepada orang alim dan saleh itu, ikuti dan dengarkan
pengajiannya." Namun tak lama kemudian ia mendapat fitnah dari orang-orang yang dengki. Mereka
menuduh sang Imam sebagai orang yang berpendapat bahwa "Al-Qur'an adalah makhluk".

Hal inilah yang menimbulkan kebencian dan kemarahan gurunya, Az-Zihli kepadanya. Kata Az-Zihli :
"Barang siapa berpendapat bahwa lafadz-lafadz Al-Qur'an adalah makhluk, maka ia adalah ahli bid'ah. Ia
tidak boleh diajak bicara dan majelisnya tidak boleh didatangi. Dan barang siapa masih mengunjungi
                                                                                                          58

majelisnya, curigailah dia." Setelah adanya ultimatum tersebut, orang-orang mulai menjauhinya.

Sebenarnya, Imam Bukhari terlepas dari fitnah yang dituduhkan kepadanya itu. Diceritakan, seseorang
berdiri dan mengajukan pertanyaan kepadanya: "Bagaimana pendapat Anda tentang lafadz-lafadz Al-
Qur'an, makhluk ataukah bukan?" Bukhari berpaling dari orang itu dan tidak mau menjawab kendati
pertanyaan itu diajukan sampai tiga kali.

Tetapi orang itu terus mendesak. Ia pun menjawab: "Al-Qur'an adalah kalam Allah, bukan makhluk,
sedangkan perbuatan manusia adalah makhluk dan fitnah merupakan bid'ah." Pendapat yang dikemukakan
Imam Bukhari ini, yakni dengan membedakan antara yang dibaca dengan bacaan, adalah pendapat yang
menjadi pegangan para ulama ahli tahqiq (pengambil kebijakan) dan ulama salaf. Tetapi dengki dan iri
adalah buta dan tuli. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Bukhari pernah berkata : "Iman adalah
perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan bisa berkurang. Al-Quran adalah kalam Allah, bukan
makhluk. Sahabat Rasulullah SAW, yang paling utama adalah Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali. Dengan
berpegang pada keimanan inilah aku hidup, aku mati dan dibangkitkan di akhirat kelak, insya Allah." Di
lain kesempatan, ia berkata: "Barang siapa menuduhku berpendapat bahwa lafadz-lafadz Al-Qur'an adalah
makhluk, ia adalah pendusta."

Wafatnya Imam Bukhari

Suatu ketika penduduk Samarkand mengirim surat kepada Imam Bukhari. Isinya, meminta dirinya agar
menetap di negeri itu (Samarkand). Ia pun pergi memenuhi permohonan mereka. Ketika perjalanannya
sampai di Khartand, sebuah desa kecil terletak dua farsakh (sekitar 10 Km) sebelum Samarkand, ia singgah
terlebih dahulu untuk mengunjungi beberapa familinya. Namun disana beliau jatuh sakit selama beberapa
hari. Dan Akhirnya meninggal pada tanggal 31 Agustus 870 M (256 H) pada malam Idul Fitri dalam usia
62 tahun kurang 13 hari. Beliau dimakamkan selepas Shalat Dzuhur pada Hari Raya Idul Fitri. Sebelum
meninggal dunia, ia berpesan bahwa jika meninggal nanti jenazahnya agar dikafani tiga helai kain, tanpa
baju dalam dan tidak memakai sorban. Pesan itu dilaksanakan dengan baik oleh masyarakat setempat.
Beliau meninggal tanpa meninggalkan seorang anakpun.

Sumber:    - http://id.wikipedia.org/wiki/Imam_Bukhari
          - http://id.wikipedia.org/wiki/Cara_Imam_Bukhari_dalam_menulis_kitab_hadits
          - http://www.kotasantri.com/galeria.php?aksi=DetailArtikel&artid=173
          - http://www.almuhajir.net/article.php?fn=seribukhari1
          - http://www.indomedia.com/bpost/012000/28/opini/opini3.htm


                        Sejarah Singkat Imam Muslim
Imam Muslim dilahirkan di Naisabur pada tahun 202 H atau 817 M. Imam Muslim bernama lengkap Imam
Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim bin Kausyaz al Qusyairi an Naisaburi. Naisabur, yang
sekarang ini termasuk wilayah Rusia, dalam sejarah Islam kala itu termasuk dalam sebutan Maa Wara'a an
Nahr, artinya daerah-daerah yang terletak di sekitar Sungai Jihun di Uzbekistan, Asia Tengah. Pada masa
Dinasti Samanid, Naisabur menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan selama lebih kurang 150 tahun.
Seperti halnya Baghdad di abad pertengahan, Naisabur, juga Bukhara (kota kelahiran Imam Bukhari)
sebagai salah satu kota ilmu dan pusat peradaban di kawasan Asia Tengah. Di sini pula bermukim banyak
ulama besar.

Perhatian dan minat Imam Muslim terhadap ilmu hadits memang luar biasa. Sejak usia dini, beliau telah
berkonsentrasi mempelajari hadits. Pada tahun 218 H, beliau mulai belajar hadits, ketika usianya kurang
dari lima belas tahun. Beruntung, beliau dianugerahi kelebihan berupa ketajaman berfikir dan ingatan
hafalan. Ketika berusia sepuluh tahun, Imam Muslim sering datang dan berguru pada seorang ahli hadits,
yaitu Imam Ad Dakhili. Setahun kemudian, beliau mulai menghafal hadits Nabi SAW, dan mulai berani
mengoreksi kesalahan dari gurunya yang salah menyebutkan periwayatan hadits.

Selain kepada Ad Dakhili, Imam Muslim pun tak segan-segan bertanya kepada banyak ulama di berbagai
tempat dan negara. Berpetualang menjadi aktivitas rutin bagi dirinya untuk mencari silsilah dan urutan yang
benar sebuah hadits. Beliau, misalnya pergi ke Hijaz, Irak, Syam, Mesir dan negara-negara lainnya. Dalam
lawatannya itu, Imam Muslim banyak bertemu dan mengunjungi ulama-ulama kenamaan untuk berguru
hadits kepada mereka. Di Khurasan, beliau berguru kepada Yahya bin Yahya dan Ishak bin Rahawaih; di
Ray beliau berguru kepada Muhammad bin Mahran dan Abu 'Ansan. Di Irak beliau belajar hadits kepada
Ahmad bin Hanbal dan Abdullah bin Maslamah; di Hijaz beliau belajar kepada Sa'id bin Mansur dan Abu
Mas 'Abuzar; di Mesir beliau berguru kepada 'Amr bin Sawad dan Harmalah bin Yahya, dan ulama ahli
hadits lainnya.

Bagi Imam Muslim, Baghdad memiliki arti tersendiri. Di kota inilah beliau berkali-kali berkunjung untuk
belajar kepada ulama-ulama ahli hadits. Kunjungannya yang terakhir beliau lakukan pada tahun 259 H.
Ketika Imam Bukhari datang ke Naisabur, Imam Muslim sering mendatanginya untuk bertukar pikiran
sekaligus berguru padanya. Saat itu, Imam Bukhari yang memang lebih senior, lebih menguasai ilmu hadits
ketimbang dirinya.

Ketika terjadi fitnah atau kesenjangan antara Bukhari dan Az Zihli, beliau bergabung kepada Bukhari.
Sayang, hal ini kemudian menjadi sebab terputusnya hubungan dirinya dengan Imam Az Zihli. Yang lebih
menyedihkan, hubungan tak baik itu merembet ke masalah ilmu, yakni dalam hal penghimpunan dan
periwayatan hadits-hadits Nabi SAW.
                                                                                                        59


Imam Muslim dalam kitab shahihnya maupun kitab-kitab lainnya tidak memasukkan hadits-hadits yang
diterima dari Az Zihli, padahal beliau adalah gurunya. Hal serupa juga beliau lakukan terhadap Bukhari.
Tampaknya bagi Imam Muslim tak ada pilihan lain kecuali tidak memasukkan ke dalam Kitab Shahihnya
hadits-hadits yang diterima dari kedua gurunya itu. Kendatipun demikian, dirinya tetap mengakui mereka
sebagai gurunya.

Imam Muslim yang dikenal sangat tawadhu' dan wara' dalam ilmu itu telah meriwayatkan puluhan ribu
hadits. Menurut Muhammad Ajaj Al Khatib, guru besar hadits pada Universitas Damaskus, Syria, hadits
yang tercantum dalam karya besar Imam Muslim, Shahih Muslim, berjumlah 3.030 hadits tanpa
pengulangan. Bila dihitung dengan pengulangan, katanya, berjumlah sekitar 10.000 hadits. Sementara
menurut Imam Al Khuli, ulama besar asal Mesir, hadits yang terdapat dalam karya Muslim tersebut
berjumlah 4.000 hadits tanpa pengulangan, dan 7.275 dengan pengulangan. Jumlah hadits yang beliau tulis
dalam Shahih Muslim itu diambil dan disaring dari sekitar 300.000 hadits yang beliau ketahui. Untuk
menyaring hadits-hadits tersebut, Imam Muslim membutuhkan waktu 15 tahun.

Mengenai metode penyusunan hadits, Imam Muslim menerapkan prinsip-prinsip ilmu jarh, dan ta'dil,
yakni suatu ilmu yang digunakan untuk menilai cacat tidaknya suatu hadits. Beliau juga menggunakan
sighat at tahammul (metode-metode penerimaan riwayat), seperti haddasani (menyampaikan kepada saya),
haddasana (menyampaikan kepada kami), akhbarana (mengabarkan kepada saya), akhabarana
(mengabarkan kepada kami), dan qaalaa (ia berkata).

Imam Muslim menjadi orang kedua terbaik dalam masalah ilmu hadits (sanad, matan, kritik, dan
seleksinya) setelah Imam Bukhari. "Di dunia ini orang yang benar-benar ahli di bidang hadits hanya empat
orang; salah satu di antaranya adalah Imam Muslim," komentar ulama besar Abu Quraisy Al Hafizh.
Maksud ungkapan itu tak lain adalah ahli-ahli hadits terkemuka yang hidup di masa Abu Quraisy.

Reputasinya mengikuti gurunya Imam Bukhari

Dalam khazanah ilmu-ilmu Islam, khususnya dalam bidang ilmu hadits, nama Imam Muslim begitu
monumental, setara dengan gurunya, Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhary al-Ju’fy atau lebih
dikenal dengan nama Imam Bukhari. Sejarah Islam sangat berhutang jasa kepadanya, karena prestasinya di
bidang ilmu hadits, serta karya ilmiahnya yang luar biasa sebagai rujukan ajaran Islam, setelah al-Qur’an.
Dua kitab hadits shahih karya Bukhari dan Muslim sangat berperan dalam standarisasi bagi akurasi akidah,
syariah dan tasawwuf dalam dunia Islam.

Melalui karyanya yang sangat berharga, al-Musnad ash-Shahih, atau al-Jami’ ash-Shahih, selain menempati
urutan kedua setelah Shahih Bukhari, kitab tersebut memenuhi khazanah pustaka dunia Islam, dan di
Indonesia, khususnya di pesantren-pesantren menjadi kurikulum wajib bagi para santri dan mahasiswa.

Pengembaraan (rihlah) dalam pencarian hadits merupakan kekuatan tersendiri, dan amat penting bagi
perkembangan intelektualnya. Dalam pengembaraan ini (tahun 220 H), Imam Muslim bertemu dengan
guru-gurunya, dimana pertama kali bertemu dengan Qa’nabi dan yang lainnya, ketika menuju kota Makkah
dalam rangka perjalanan haji. Perjalanan intelektual lebih serius, barangkali dilakukan tahun 230 H. Dari
satu wilayah ke wilayah lainnya, misalnya menuju ke Irak, Syria, Hijaz dan Mesir.

Waktu yang cukup lama dihabiskan bersama gurunya al-Bukhari. Kepada guru besarnya ini, Imam Muslim
menaruh hormat yang luar biasa. "Biarkan aku mencium kakimu, hai Imam Muhadditsin dan dokter
hadits," pintanya, ketika di sebuah pertemuan antara Bukhari dan Muslim.

Disamping itu, Imam Muslim memang dikenal sebagai tokoh yang sangat ramah, sebagaimana al-Bukhari
yang memiliki kehalusan budi bahasa, Imam Muslim juga memiliki reputasi, yang kemudian populer
namanya — sebagaimana disebut oleh Adz-Dzahabi — dengan sebutan muhsin dari Naisabur.

Maslamah bin Qasim menegaskan, "Muslim adalah tsaqqat, agung derajatnya dan merupakan salah seorang
pemuka (Imam)." Senada pula, ungkapan ahli hadits dan fuqaha’ besar, Imam An-Nawawi, "Para ulama
sepakat atas kebesarannya, keimanan, ketinggian martabat, kecerdasan dan kepeloporannya dalam dunia
hadits."

Kitab Shahih Muslim

Imam Muslim memiliki jumlah karya yang cukup penting dan banyak. Namun yang paling utama adalah
karyanya, Shahih Muslim. Dibanding kitab-kitab hadits shahih lainnya, kitab Shahih Muslim memiliki
karakteristik tersendiri, dimana Imam Muslim banyak memberikan perhatian pada ekstraksi yang resmi.
Beliau bahkan tidak mencantumkan judul-judul setiap akhir dari satu pokok bahasan. Disamping itu,
perhatiannya lebih diarahkan pada mutaba’at dan syawahid.

Walaupun dia memiliki nilai beda dalam metode penyusunan kitab hadits, Imam Muslim sekali-kali tidak
bermaksud mengungkap fiqih hadits, namun mengemukakan ilmu-ilmu yang bersanad. Karena beliau
meriwayatkan setiap hadits di tempat yang paling layak dengan menghimpun jalur-jalur sanadnya di tempat
tersebut. Sementara al-Bukhari memotong-motong suatu hadits di beberapa tempat dan pada setiap tempat
beliau sebutkan lagi sanadnya. Sebagai murid yang shalih, beliau sangat menghormati gurunya itu,
sehingga beliau menghindari orang-orang yang berselisih pendapat dengan al-Bukhari.

Kitab Shahih Muslim memang dinilai kalangan muhaditsun berada setingkat di bawah al-Bukhari. Namun
                                                                                                         60

ada sejumlah ulama yang menilai bahwa kitab Imam Muslim lebih unggul ketimbang kitabnya al-Bukhari.

Sebenarnya kitab Shahih Muslim dipublikasikan untuk Abu Zur’ah, salah seorang kritikus hadits terbesar,
yang biasanya memberikan sejumlah catatan mengenai cacatnya hadits. Lantas, Imam Muslim kemudian
mengoreksi cacat tersebut dengan membuangnya tanpa argumentasi. Karena Imam Muslim tidak pernah
mau membukukan hadits-hadits yang hanya berdasarkan kriteria pribadi semata, dan hanya meriwayatkan
hadits yang diterima oleh kalangan ulama. Sehingga hadits-hadits Muslim terasa sangat populis.

Berdasarkan hitungan Muhammad Fuad Abdul Baqi, kitab Shahih Muslim memuat 3.033 hadits. Metode
penghitungan ini tidak didasarkan pada sistem isnad sebagaimana dilakukan ahli hadits, namun beliau
mendasarkannya pada subyek-subyek. Artinya jika didasarkan isnad, jumlahnya bisa berlipat ganda.

Antara al-Bukhari dan Muslim

Imam Muslim, sebagaimana dikatakan oleh Prof. Mustafa ‘Adzami dalam bukunya Studies in Hadith
Methodology and Literature, mengambil keuntungan dari Shahih Bukhari, kemudian menyusun karyanya
sendiri, yang tentu saja secara metodologis dipengaruhi karya al-Bukhari.

Antara al-Bukhari dan Muslim, dalam dunia hadits memiliki kesetaraan dalam keshahihan hadits, walaupun
hadits al-Bukhari dinilai memiliki keunggulan setingkat. Namun, kedua kitab hadits tersebut mendapatkan
gelar sebagai as-Shahihain.

Sebenarnya para ulama berbeda pendapat mana yang lebih unggul antara Shahih Muslim dengan Shahih
Bukhari. Jumhur Muhadditsun berpendapat, Shahihul Bukhari lebih unggul, sedangkan sejumlah ulama
Marokko dan yang lain lebih mengunggulkan Shahih Muslim. Hal ini menunjukkan, sebenarnya
perbedaannya sangatlah sedikit, dan walaupun itu terjadi, hanyalah pada sistematika penulisannya saja,
serta perbandingan antara tema dan isinya.

Al-Hafizh Ibnu Hajar mengulas kelebihan Shahih Bukhari atas Shahih Muslim, antara lain, karena Al-
Bukhari mensyaratkan kepastian bertemunya dua perawi yang secara struktural sebagai guru dan murid
dalam hadits Mu’an’an; agar dapat dihukumi bahwa sanadnya bersambung. Sementara Muslim
menganggap cukup dengan "kemungkinan" bertemunya kedua rawi tersebut dengan tidak adanya tadlis.

Al-Bukhari mentakhrij hadits yang diterima para perawi tsaqqat derajat utama dari segi hafalan dan
keteguhannya. Walaupun juga mengeluarkan hadits dari rawi derajat berikutnya dengan sangat selektif.
Sementara Muslim, lebih banyak pada rawi derajat kedua dibanding Bukhari. Disamping itu kritik yang
ditujukan kepada perawi jalur Muslim lebih banyak dibanding kepada al-Bukhari.

Sementara pendapat yang berpihak pada keunggulan Shahih Muslim beralasan — sebagaimana dijelaskan
Ibnu Hajar —, bahwa Muslim lebih berhati-hati dalam menyusun kata-kata dan redaksinya, karena
menyusunnya di negeri sendiri dengan berbagai sumber di masa kehidupan guru-gurunya. Beliau juga tidak
membuat kesimpulan dengan memberi judul bab sebagaimana Bukhari lakukan. Dan sejumlah alasan
lainnya.

Namun prinsipnya, tidak semua hadits Bukhari lebih shahih ketimbang hadits Muslim dan sebaliknya.
Hanya pada umumnya keshahihan hadits riwayat Bukhari itu lebih tinggi derajatnya daripada keshahihan
hadits dalam Shahih Muslim.

Karya-karya Imam Muslim

Imam Muslim berhasil menghimpun karya-karyanya, antara lain seperti: 1) Al-Asma’ wal-Kuna, 2) Irfadus
Syamiyyin, 3) Al-Arqaam, 4) Al-Intifa bi Juludis Siba’, 5) Auhamul Muhadditsin, 7)At-Tarikh, 8) At-
Tamyiz, 9) Al-Jami’, 10) Hadits Amr bin Syu’aib, 11) Rijalul ‘Urwah, 12)Sawalatuh Ahmad bin Hanbal,
13) Thabaqat, 14) Al-I’lal, 15) Al-Mukhadhramin, 16) Al-Musnad al-Kabir, 17) Masyayikh ats-Tsawri, 18)
Masyayikh Syu’bah, 19) Masyayikh Malik, 20) Al-Wuhdan, 21) As-Shahih al-Masnad.

Kitab-kitab nomor 6, 20, dan 21 telah dicetak, sementara nomor 1, 11, dan 13 masih dalam bentuk
manuskrip. Sedangkan karyanya yang monumental adalah Shahih dari judul singkatnya, yang sebenarnya
berjudul, Al-Musnad as-Shahih, al-Mukhtashar minas Sunan, bin-Naqli al-’Adl ‘anil ‘Adl ‘an Rasulillah.


Wafatnya Imam Muslim

Imam Muslim wafat pada Ahad sore, pada tanggal 24 Rajab 261 H. Semoga Allah SWT merahmatinya,
mengampuni segala kesalahannya, serta menggolongkannya ke dalam golongan orang-orang yang sholeh.
Amiin.

Sumber:    - http://members.tripod.com/fitrah_online/thema/des98/1298muslim.htm
          - http://www.kotasantri.com/galeria.php?aksi=DetailArtikel&artid=171

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:280
posted:5/8/2012
language:Malay
pages:60