Docstoc

Laporan Kimia Protein

Document Sample
Laporan Kimia Protein Powered By Docstoc
					                                                                                  1

I.   PENDAHULUAN
     Protein termasuk dalam kelompok senyawaan yang terpenting dalam
     organisme. Sesuai dengan peranan ini, kata protein berasal dari bahasa
     Yunani proteios, yang artinya “pertama”. Protein adalah poliamida, dan
     hidrolisis protein menghasilkan asam-asam amino. (Fessenden, 1984)


     Ditinjau dari komposisi kimia nya, protein merupakan polimer dari sekitar
     20 jenis asam α-amino. Unsur utama penyusun protein adalah C,H,O dan N.
     Banyak juga protein yang mengandung belerang (S) dan dalam jumlah yang
     lebih sedikit, fosforus (P). Beberapa protein mengandung besi, mangan,
     tembaga, dan iodin. (Poedjiadi, 1994)


     Struktur protein dapat dibedakan ke dalam empat tingkatan, yaitu primer,
     sekunder, tersier dan kuartener. Struktur primer adalah urutan asam amino
     dalam rantai polipeptida yang menyusun protein. Struktur sekunder
     berkaitan dengan bentuk dari suatu rantai polipeptida. Oleh karena adanya
     ikatan hidrogen antara atom hidrogen dari gugus amino dengan atom
     oksigen dari gugus karboksil dalam satu rantai, suatu rantai polipeptida dapat
     menggulung seperti spriral (alfa helix), atau seperti lembaran kertas (beta-
     pleated-sheet), atau bentuk triple helix. Struktur kuartener adalah susunan
     dari masing-masing rantai (sub-unit) dalam protein oligomer (protein yang
     mengandung dua atau lebih rantai polipeptida). (Santoso, 2008)


     Berdasarkan bentuk molekunya, protein terbagi menjadi dua, yaitu protein
     fibrosa, adalah protein yang bentuknya memanjang, misalnya kolagen
     myosin, keratin dan fibrin; dan protein globuler, yaitu protein yang rantai
     polipeptidanya melingkar sehingga bentuk molekulnya membulat, misalnya
     albumin, globulin, protein, enzim dan protein hormon. (Kristiani, 2010)


     Berdasarkan elemen penyusunnya, protein terbagi menjadi dua, yaitu protein
     sederhana,   adalah   protein   yang    bila   dihidrolisis   sempurna    akan
     menghasilkan α-amino saja; dan protein majemuk, adalah protein yang
     mengandung gugus prostetik didalamnya. (Kristiani, 2010)
                                                                                  2

       Uji kualitatif protein dapat dilakukan berdasarkan uji warna atau melalui uji
       pengendapan. Uji warna meliputi ninhidrin, biuret, reduksi sulfur,
       xantoprotein, dan millon nasse. Sedangkan untuk uji pengendapan biasanya
       menggunakan garam logam. (Kristiani, 2010)


II.    TUJUAN
            1. Mahasiswa dapat memahami dan terampil dalam melakukan uji
               kualitatif untuk mengetahui jenis suatu protein dengan spesifikasi
               tertentu.
            2. Mahasiswa mampu menerapkan berbagai uji kualitatif terhadap
               sampel protein.


III.   ALAT DAN BAHAN
       A.     ALAT
                 1. Tabung reaksi
                 2. Rak tabung reaksi
                 3. Pipet tetes
                 4. Bunsen
                 5. Panci
       B.     BAHAN
                 1. Albumin
                 2. Metionin
                 3. Triptofan
                 4. Cystein
                 5. Reagen Ninhidrin
                 6. Reagen Biuret
                 7. Larutan NaOH 40%
                 8. Larutan Pbasetat
                 9. Larutan HNO3 Pekat
                 10. Larutan NH4OH
                 11. Reagen Milon Nasse
                 12. Larutan NaNO2 1%
                 13. Larutan K3 Fe (CN)6
                 14. Larutan CH3COOH
                 15. Larutan HgCl2
                                                                                 3

IV.   CARA KERJA

      Uji Ninhidrin

         1. Siapkan 4 tabung reaksi, isi setiap tabung reaksi dengan 5 tetes
             larutan sampel protein yang berbeda (pada percobaan ini, sampel
             yang digunakan adalah albumin, metionin, triptofan, dan cystein).
         2. Tambahkan 3 tetes reagen ninhidrin pada setiap tabung reaksi.
         3. Panaskan setiap tabung reaksi tersebut selama 2-3 menit.
         4. Amati perubahan warna yang terjadi, catat hasilnya pada data
             pengamatan.

      Uji Biuret

         1. Siapkan 4 tabung reaksi, isi setiap tabung reaksi dengan 5 tetes
             larutan sampel protein yang berbeda (pada percobaan ini, sampel
             yang digunakan adalah albumin, metionin, triptofan, dan cystein).
         2. Tambahkan 5 tetes NaOH 40% dan 3 tetes reagen biuret pada setiap
             tabung reaksi.
         3. Amati perubahan warna yang terjadi, catat hasilnya pada data
             pengamatan.

      Uji reduksi sulfur

         1. Siapkan 4 tabung reaksi, isi setiap tabung reaksi dengan 5 tetes
             larutan sampel protein yang berbeda (pada percobaan ini, sampel
             yang digunakan adalah albumin, metionin, triptofan, dan cystein).
         2. Tambahkan 3 tetes NaOH 40% pada setiap tabung reaksi, kemudian
             panaskan selama 2-3 menit.
         3. Tambahkan 5 tetes Pbasetat pada setiap tabung reaksi, amati adanya
             endapan dan perubahan warna yang terjadi, catat hasilnya pada data
             pengamatan.

      Uji Xantoprotein

         1. Siapkan 4 tabung reaksi, isi setiap tabung reaksi dengan 5 tetes
             larutan sampel protein yang berbeda (pada percobaan ini, sampel
             yang digunakan adalah albumin, metionin, triptofan, dan cystein).
                                                                          4

   2. Tambahkan 5 tetes HNO3 pekat pada setiap tabung reaksi, kemudian
      panaskan selama 2-3 menit.
   3. Tambahkan NH4OH setetes demi setetes, amati perubahan warna
      yang terjadi dan catat hasilnya pada data pengamatan.

Uji Milon Nasse

   1. Siapkan 4 tabung reaksi, isi setiap tabung reaksi dengan 5 tetes
      larutan sampel protein yang berbeda (pada percobaan ini, sampel
      yang digunakan adalah albumin, metionin, triptofan, dan cystein).
   2. Tambahkan 5 tetes reagen Milon Nasse pada setiap tabung reaksi,
      kemudian panaskan selama 2-3 menit.
   3. Tambahkan 5 tetes NaNO2 1% pada setiap tabung reaksi, panaskan
      kembali.
   4. Amati adanya endapan dan perubahan warna yang terjadi, catat
      hasilnya pada data pengamatan.

Uji Pengendapan

   1. Siapkan 4 tabung reaksi, isi setiap tabung reaksi dengan 5 tetes
      larutan sampel protein yang berbeda (pada percobaan ini, sampel
      yang digunakan adalah albumin, metionin, triptofan, dan cystein).
   2. Tambahkan 3 tetes K3 Fe (CN)6 dan 3 tetes CH3COOH pada setiap
      tabung reaksi, kemudian panaskan selama 2-3 menit.
   3. Amati adanya endapan dan perubahan warna yang terjadi, catat
      hasilnya pada data pengamatan.

Uji pengendapan oleh logam

   1. Siapkan 4 tabung reaksi, isi setiap tabung reaksi dengan 5 tetes
      larutan sampel protein yang berbeda (pada percobaan ini, sampel
      yang digunakan adalah albumin, metionin, triptofan, dan cystein).
   2. Tambahkan 5 tetes HgCl2 pada setiap tabung reaksi.
   3. Amati adanya endapan dan perubahan warna yang terjadi, catat
      hasilnya pada data pengamatan.
                                                                                  5

V.   HASIL PENGAMATAN

     Uji Ninhidrin (amati perubahan warna)

     a) 5 tetes albumin + 3 tetes reagen ninhidrin        Biru keunguan
     b) 5 tetes metionin + 3 tetes reagen ninhidrin       Bening
     c) 5 tetes triptofan + 3 tetes reagen ninhidrin      Kuning
     d) 5 tetes cystein   + 3 tetes reagen ninhidrin      Merah muda


     Uji Biuret (amati perubahan warna)
     a) 5 tetes albumin + 5 tetes NaoH 40% + 3 tetes reagen biuret         Ungu
     b) 5 tetes metionin + 5 tetes NaoH 40% + 3 tetes reagen biuret         Tidak
        berwarna
     c) 5 tetes triptofan + 5 tetes NaoH 40% + 3 tetes reagen biuret        Tidak
        berwarna
     d) 5 tetes cystein + 5 tetes NaoH 40% + 3 tetes reagen biuret         Kuning


     Uji reduksi sulfur (amati warna dan endapan)
     a) 5 tetes albumin + 3 tetes NaOH 40%             5 tetes Pbasestat
        Merah kehitaman, ada endapan
     b) 5 tetes metionin + 3 tetes NaOH 40%            5 tetes Pbasestat
        Tidak berwarna, tidak ada endapan
     c) 5 tetes triptofan + 3 tetes NaOH 40%           5 tetes Pbasestat
        Tidak berwarna, tidak ada endapan
     d) 5 tetes cystein   + 3 tetes NaOH 40%           5 tetes Pbasestat
        Kuning kehitaman, ada endapan


     Uji Xantoprotein (amati perubahan warna)
     a) 5 tetes albumin + 5 tetes HNO3             NH4OH (seteses demi setetes)
              Kuning, ada endapan
     b) 5 tetes metionin + 5 tetes HNO3            NH4OH (seteses demi setetes)
              Kuning pucat, tidak ada endapan
     c) 5 tetes triptofan + 5 tetes HNO3           NH4OH (seteses demi setetes)
              Jingga, tidak ada endapan
     d) 5 tetes cystein   + 5 tetes HNO3           NH4OH (seteses demi setetes)
              Bening, tidak ada endapan
                                                                            6

      Uji Milon Nasse (amati perubahan warna dan endapan)

      a) 5 tetes albumin + 5 tetes reagen Milon Nasse        5 tetes NaNO2 1%
               Bening, tidak ada endapan
      b) 5 tetes metionin + 5 tetes reagen Milon Nasse       5 tetes NaNO2 1%
               Bening, tidak ada endapan
      c) 5 tetes triptofan + 5 tetes reagen Milon Nasse      5 tetes NaNO2 1%
               Merah kecoklatan, ada endapan
      d) 5 tetes cystein   + 5 tetes reagen Milon Nasse      5 tetes NaNO2 1%
               Bening, tidak ada endapan


      Uji pengendapan (amati perubahan warna dan endapan)
      a) 3 tetes K3 Fe (CN)6 + 3 tetes CH3COOH + 5 tetes albumin
         Hijau tua, ada endapan
      b) 3 tetes K3 Fe (CN)6 + 3 tetes CH3COOH + 5 tetes metionin
         Hijau tua, tidak ada endapan
      c) 3 tetes K3 Fe (CN)6 + 3 tetes CH3COOH + 5 tetes triptofan
         Hijau tua, tidak ada endapan
      d) 3 tetes K3 Fe (CN)6 + 3 tetes CH3COOH + 5 tetes cystein
         Hijau tua, tidak ada endapan

      Uji Pengendapan oleh logam (amati perubahan warna dan endapan)

      a) 5 tetes metionin + 5 tetes HgCl2      Putih keruh, ada endapan
      b) 5 tetes albumin + 5 tetes HgCl2       Bening, tidak ada endapan
      c) 5 tetes triptofan + 5 tetes HgCl2     Bening, tidak ada endapan
      d) 5 tetes cystein + 5 tetes HgCl2       Bening, tidak ada endapan




VI.   PEMBAHASAN
      UJI NINHIDRIN
      Uji ninhidrin adalah uji umum untuk protein dan asam amino. Ninhidrin
      dapat mengubah asam amino menjadi suatu aldehida. Semua asam amino
      dan peptida yang mengandung gugus α-amino bebas memberikan reaksi
      ninhidrin yang positif. Asam amino dan peptida ini bereaksi dengan
      ninhidrin (triketonhidrindenahidrat) menghasilkan CO2, NH3, dan aldehid
                                                                           7

beratom C kurang dari satu dari jumlah semula, ditandai dengan
terbentuknya warna biru sampai ungu.


Uji ninhidrin dilakukan dengan menambahkan beberapa tetes reagen
ninhidrin yang tidak berwarna kedalam sampel, lalu dipanaskan beberapa
menit. Adanya protein atau asam amino ditunjukan oleh terbentuknya warna
ungu.

Asam amino bebas adalah asam amino dimana gugus aminonya tidak
terikat. Pada praktikum ini, albumin membentuk warna ungu karena dapat
bereaksi dengan Ninhidrin. Hal ini menandakan zat uji tersebut mempunyai
gugus asam amino bebas.

Sebaliknya, pada metionin, triptofan dan cystein tidak diperoleh indikasi
terbentuk atau adanya asam amino bebas, karena saat direaksikan dengan
ninhidrin tidak mengalami perubahan.

Semakin banyak ninhidrin pada zat uji yang dapat bereaksi, semakin pekat
warnanya. Hal ini juga mendasari bahwa uji Ninhidrin dapat digunakan
untuk menentukan asam amino secara kuantitatif.

UJI BIURET

Uji biuret adalah uji umum untuk protein (ikatan peptida) tetapi tidak dapat
menunjukkan asam amino bebas. Zat yang akan diteliti mula-mula ditetesi
NaOH, kemudian ditambahkan reagen biuret. Jika terbentuk warna ungu,
berarti zat tersebut mengandung protein, semakin panjang rantai peptida,
maka akan menghasilkan perubahan warna yang semakin merah muda atau
ungu.


Pada percobaan kali ini, albumin menghasilkan warna ungu, karena secara
positif dapat bereaksi dengan biuret. (terbukti bahwa albumin merupakan
protein yang memiliki lebih dari dua buah ikatan peptida). Sedangkan
metionin, triptofan dan sistein bereaksi negatif terhadap biuret karena tidak
menghasilkan warna ungu (terbukti bahwa metionin, triptofan, dan sistein
merupakan asam amino yang hanya memiliki dua ikatan peptida)
                                                                        8



UJI XANTOPROTEIN
Uji xantoprotein adalah uji terhadap protein yang mengandung gugus fenil
(cincin benzena). Apabila protein yang mengandung cincin benzena
dipanaskan dengan asam nitrat pekat (HNO3), maka akan terbentuk warna
kuning yang kemudian menjadi jingga bila dibuat alkalis (basa) dengan
penambahan larutan NH4OH. Warna yang terbentuk dalam uji ini
disebabkan oleh nitrasi inti benzena oleh asam nitrat pekat.


Pada percobaan ini, albumin, metionin, dan triptofan bereaksi positif saat
pengujian xantoprotein (terbukti bahwa ketiga sampel protein tersebut
mengandung cincin benzena). Sedangkan cystein tidak menghasilkan
perubahan warna (membuktikan bahwa cystein bereaksi negatif terhadap
pengujian xantoprotein karena tidak memiliki cincin benzena)


UJI REDUKSI SULFUR
Uji ini dilakukan untuk mengetahui adanya protein yang mengandung asam
amino dengan atom S. Pada uji ini, dalam suasana basa, Pb asetat akan
bereaksi dengan S dari asam amino membentuk garam PbS berwarna hitam.
(reaksi positif ditandai dengan terbentuknya endapan berwarna hitam atau
cokelat).


Pada percobaan ini, dapat terlihat bahwa cystein dan albumin merupakan
asam amino yang mengandung atom S pada molekulnya. Reaksi Pb asetat
dengan asam-asam amino tersebut akan membentuk endapan berwarna
merah kecoklatan, yaitu garam PbS (membuktikan bahwa kedua sampel
protein tersebut mengandung atom S).


Penambahan NaOH dalam hal ini adalah untuk mendenaturasikan protein
sehingga ikatan yang menghubungkan atom S dapat terputus oleh Pb asetat
membentuk PbS. Sedangkan metionin dan triptofan tidak mengalami
perubahan warna (terbukti bahwa kedua sampel protein tersebut tidak
mengandung atom S)
                                                                         9

UJI MILON NASSE
Uji ini untuk mengetahui adanya protein yang mengandung asam amino
tirosin. Prinsip dari uji millon adalah pembentukan garam merkuri dari
tirosin yang ternitrasi. Tirosin merupakan asam amino yang mempunyai
molekul fenol pada gugus R-nya, yang akan membentuk garam merkuri
dengan pereaksi millon. Uji Millo Nasse tidak terlalu spesifik karena fenol
juga memberikan hasil uji positif. Reaksi positif dari uji millo nasse
ditunjukan dengan terbentuknya endapan atau larutan berwarna merah.


Dari hasil percobaan, diketahui bahwa triptofan mengandung tirosin sebagai
salah asam amino penyusunnya (ditunjukkan dari terbentuknya endapan dan
perubahan warna menjadi merah kecoklatan), sedangkan albumin,
metionin dan cystein tidak mengandung tirosin karena memberikan reaksi
negatif terhadap pengujian millo nasse.


UJI PENGENDAPAN
Garam logam seperti Ag, Pb, dan Hg akan membentuk endapan logam
proteinat. Ikatan yang terbentuk amat kuat dan akan memutuskan jembatan
garam, sehingga protein mengalami denaturasi. Kelarutan protein akan
berkurang bila kedalam larutan protein ditambahkan garam-garam organik,.
Pengendapan terus terjadi karena kemampuan ion garam untuk menghidrasi
sehingga terjadi kompetisi antara garam anorganik dengan molekul protein
untuk mengikat air.


Pada pengujian pengendapan dengan menggunakan larutan K3 Fe (CN)6 dan
CH3COOH,      metionin,    triptofan,     dan   cystein   mengendap   serta
menghasilkan warna hijau tua, sedangkan albumin hanya mengalami
perubahan warna hijau tua tanpa endapan.


Pada pengujian pengendapan dengan menggunakan HgCl2, metionin
mengalami pengendapan dan perubahan warna menjadi putih keruh,
sedangkan albumin, triptofan, dan cystein tidak bereaksi (tidak terjadi
perubahan warna dan tidak ada endapan.)
                                                                                   10

VII.   KESIMPULAN
       Pada berbagai uji kualitatif antara lain uji ninhidrin, biuret, reduksi sulfur,
       xantoprotein, millon nasse dan pengujian pengendapan yang dilakukan
       terhadap beberapa macam protein , semuanya mengacu pada reaksi yang
       terjadi antara pereaksi dan komponen protein, yaitu asam amino tentunya.


       Beberapa asam amino mempunyai reaksi yang spesifik pada gugus R-nya,
       sehingga dari reaksi tersebut dapat diketahui komponen asam amino suatu
       protein, seperti adanya atom S, cincin benzena, ikatan peptidan dan
       sebagainya. Protein dan asam amino memberikan reaksi yang bersifat khas,
       bukan hanya bagi gugus amino dan gugus karboksil bebas, tetapi juga bagi
       gugus R yang terkandung di dalamnya. Protein dapat mengendap atau
       terdenaturasi oleh logam berat dan garam-garam anorganik.


VIII. DAFTAR PUSTAKA
       1. Kristiani, Elisabeth BE. 2010. Petunjuk Praktikum Kimia. Salatiga:
          Fakultas Biologi Universitas Kristen Satya Wacana.
       2. Poedjiadi, A. 1994. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta: Universitas
          Indonesia Press.
       3. Santoso, H. 2008. Protein dan Enzim.
          http://www.heruswn.teachnology.com
          Diunduh pada tanggal 10 November 2011
       4. Page, D.S. 1997. Prinsip-prinsip Biokimia. Jakarta: Erlangga.
       5. Depdikbud. 1981. Petunjuk Praktikum Ilmu Kimia. Jakarta: Depdikbud.
       6. Fesseden, Raplh J. 1984. Kimia Organik. Terjemahan A.H. Pudjaatmaka.
          Jakarta:Erlangga.
       7. Green, Linda. 2004. Organic Chemistry.
          http://www.uri.edu/ce/wq/ww/Publications/organichemist.pdf
          Diunduh pada tanggal 26 Oktober 2011.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:1393
posted:5/8/2012
language:Malay
pages:10