; Laporan Kimia pH dan Buffer
Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out
Your Federal Quarterly Tax Payments are due April 15th Get Help Now >>

Laporan Kimia pH dan Buffer

VIEWS: 958 PAGES: 11

  • pg 1
									                                                                               1

I.   PENDAHULUAN
     Berkaitan dengan sifat larutan, larutan dapat dikelompokan kedalam tiga
     golongan, yaitu bersifat asam, netral, atau basa. Untuk menjelaskan sifat
     asam dan basa, sejarah perkembangan ilmu kimia mencatat berbagai teori.
     Pada tahun 1777, Antonie Laurent Lavosier (1743-1794) mengemukakan
     bahwa asam mengandung unsur oksigen, unsur itu dianggap bertanggung
     jawab atas sifat asam. Namun pada tahun 1810, Sir Humphry Davy (1778-
     1829) menemukan bahwa asam hidrogen klorida tidak mengandung oksigen,
     Davy kemudian menyimpulkan bahwa unsur hidrogenlah, dan bukan unsur
     oksigen yang merupakan unsur dasar dari setiap asam. Kemudian pada tahun
     1814, Joseph Louis Gay-Lussac (1778-1850) menyimpulkan bahwa asam
     adalah zat yang hanya dapat menetralkan alkali dan kedua golongan senyawa
     itu hanya dapat didefinisikan dalam kaitan satu dengan yang lain. (Purba.
     2007)


     Konsep yang cukup memuaskan tentang asam dan basa, dan yang tetap
     diterima hingga sekarang, dikemukakan oleh Svante August Arrhenius pada
     tahun 1884. Menurut Arrhenius, asam adalah zat yang dalam air melepaskan
     ion H+. Dengan kata lain, pembawa sifat asam adalah ion H+. Sedangkan
     basa adalah senyawa yang dalam air dapat menghasilkan ion OH-, jadi
     pembawa sifat basa adalah ion OH-. (Goenawan. 1988)


     Tingkat keasaman suatu larutan biasa dinyatakan dalan istilah pH (power of
     hidrogen). pH menyatakan suatu derajat keasaman yang merupakan nilai dari
     - log konsentrasi ion H+ dalam larutan, semakin kecil nilai pH, maka larutan
     semakin bersifat asam. (Kristiani. 2010)


     Ada beberapa cara untuk menunjukan sifat asam, netral, atau basa suatu
     larutan , yaitu dengan menggunakan indikator asam basa. Indikator asam-
     basa adalah zat-zat warna yang mampu menunjukan warna berbeda dalam
     larutan asam dan basa, setiap indikator memiliki tingkat ketelitiannya
     masing-masing. (Purba. 2007)


     Indikator larutan dapat berupa larutan (BFB, BCP, PP, Metil Merah, dan
     sebagainya), dan juga dapat berupa kertas antara lain kertas lakmus (merah
                                                                                          2

            dan biru) dan pH strip (jika dicelupkan pada suatu larutan, warnanya akan
            berubah sesuai dengan kisaran pH yang lebih akurat, sehingga nilai pH dapat
            diperkirakan lebih pasti). (Purba. 2007)

II.    TUJUAN

       1.     Mahasiswa dapat memahami konsep dasar dalam pengukuran pH suatu
              larutan.
       2.     Mahasiswa terampil dalam menguji dan menentukan pH suatu larutan
              dengan berbagai indikator.

III.   ALAT DAN BAHAN

       A.     ALAT
              1.    Tabung reaksi
              2.    Rak tabung reaksi
              3.    Pipet tetes
              4.    Cawan petri


       B.     BAHAN
              1.    Larutan dengan pH 1,2,3,4,5,6,7,8,12 dan 13
              2.    Larutan CH3COONa
              3.    Larutan NH4Cl
              4.    Larutan NH4OAC
              5.    Larutan indikator BCP, BFB, dan PP
              6.    Kertas lakmus merah dan lakmus biru
              7.    pH strip

IV.    CARA KERJA

       A.    Perubahan warna larutan indikator pada berbagai tingkat pH larutan
              1.    Siapkan semua alat dan bahan pada meja praktikum.
              2.    Teteskan larutan dengan pH 1 – 13 ke dalam tabung reaksi yang
                    berbeda sebanyak 5 tetes.
              3.    Teteskan 3 tetes larutan indikator BCP pada tabung reaksi tersebut.
              4.    Amati dan catat perubahan yang terjadi pada data pengamatan.
              5.    Ulangi langkah ke 2, dan ganti larutan indikator dengan BFB.
              6.    Amati dan catat perubahan yang terjadi pada data pengamatan.
                                                                             3

     7.   Ulangi langkah ke 2, dan ganti larutan indikator dengan PP.
     8.   Amati dan catat perubahan yang terjadi pada data pengamatan.


B.   Penentuan pH larutan dengan menggunakan kertas lakmus
     1.   Siapkan semua alat dan bahan pada meja praktikum.
     2.   Taruhlah 3 potong kertas lakmus merah dan biru pada cawan petri.
     3.   Teteskan larutan CH3COONa, NH4Cl, dan NH4OAC dengan pipet
          tetes pada masing masing kertas lakmus merah dan biru.
     4.   Amati perubahan setiap warna kertas lakmus setelah penetesan
          setiap larutan, catat pada data pengamatan.


C.   Penentuan pH larutan dengan menggunakan larutan indikator
     1.   Siapkan semua alat dan bahan pada meja praktikum.
     2.   Masukkan 5 tetes larutan CH3COONa, NH4Cl, dan NH4OAC ke
          dalam tabung reaksi yang berbeda.
     3.   Uji larutan dengan larutan indikator BFB, amati dan catat perubahan
          warna pada larutan tersebut pada data pengamatan.
     4.   Ulangi langkah ke 2, uji larutan dengan larutan indikator BCP, amati
          dan catat perubahan warna pada larutan tersebut pada data
          pengamatan.
     5.   Ulangi langkah ke 2, uji larutan dengan larutan indikator PP, amati
          dan catat perubahan warna pada larutan tersebut pada data
          pengamatan.


D.   Penentuan pH larutan dengan menggunakan pH strip
     1.   Siapkan larutan CH3COONa, NH4Cl, dan NH4OAC.
     2.   Celupkan pH strip pada masing-masing larutan tersebut.
     3.   Amati perubahan warna yang terjadi.
     4.   Tentukan pH nya dengan membandingkan dengan standar pada
          kemasan.
     5.   Catat data tersebut pada data pengamatan.
                                                                         4

V.      HASIL PENGAMATAN

     1. Perubahan warna indikator pada berbagai tingkat pH


        LARUTAN               BCP             BFB              PP

        Larutan pH 1         Kuning          Kuning           Putih

        Larutan pH 2         Kuning          Kuning           Putih

        Larutan pH 3         Kuning          Kuning           Putih

        Larutan pH 4         Kuning          Merah            Putih

        Larutan pH 5         Kuning           Ungu            Putih

        Larutan pH 6         Merah            Ungu            Putih

        Larutan pH 7          Ungu            Ungu            Putih

        Larutan pH 8          Ungu            Ungu            Putih

       Larutan pH 12          Ungu            Ungu            Merah

       Larutan pH 13          Ungu            Ungu            Merah



     2. MENGGUNAKAN BERBAGAI INDIKATOR
              a) Penentuan pH larutan dengan menggunakan kertas lakmus

         No       LARUTAN       LAKMUS MERAH          LAKMUS BIRU

          1     CH3COONa       Biru                   Biru

          2     NH4Cl          Merah                  Merah

          3     NH4OAC         Merah                  Merah
                                                                                         5

              b) Penentuan pH larutan dengan menggunakan larutan indikator

         No       LARUTAN           BCP             BFB              PP

          1     CH3COONa            Ungu           Ungu            Putih

          2     NH4Cl               Merah          Ungu            Putih

          3     NH4OAC              Ungu           Ungu            Putih



Trayek pH

CH3COONa diuji dengan larutan indikator BFB, berubah warna menjadi ungu
(pH > 4,6), diuji dengan larutan indikator BCP, berubah warna menjadi ungu (pH >
6,8), diuji dengan larutan indikator fenolftalin (PP), tidak terjadi perubahan warna (tidak
berwarna) atau ( pH < 8,0). Maka, trayek pH dari CH3COONa adalah 6,8 – 8,0.




NH4Cl diuji dengan larutan indikator BFB, berubah warna menjadi ungu (pH > 4,6),
saat diuji dengan larutan indikator BCP, berubah warna menjadi merah (pH berada
pada trayek 5,2 – 6,8), dan diuji dengan larutan indikator fenolftalin (PP), tidak terjadi
perubahan warna (tidak berwarna) atau ( pH < 8,0). Maka, trayek pH dari NH4Cl
adalah 5,2 – 8,0.
                                                                               6




NH4OAC diuji dengan larutan indikator BFB, berubah warna menjadi ungu (pH > 4,6),
diuji dengan larutan indikator BCP, berubah warna menjadi ungu (pH > 6,8), diuji
dengan larutan indikator fenolftalin (PP), tidak terjadi perubahan warna (tidak
berwarna) atau ( pH < 8,0). Maka, trayek pH dari NH4OAC adalah 6,8 – 8,0.




             c) Penentuan pH dengan menggunakan pH strip

        No      LARUTAN       NILAI pH

         1     CH3COONa            7

         2     NH4Cl               6

         3     NH4OAC              8
                                                                                        7

VI.    PEMBAHASAN

       Perubahan warna indikator pada berbagai tingkat pH
       Larutan indikator adalah larutan yang biasanya merupakan suatu senyawa asam
       atau basa organik kompleks yang menunjukan warna berlainan dalam keadaan
       terionisasi dan tidak terionisasi. Setiap jenis larutan indikator dapat memberikan
       perubahan warna yang berbeda untuk tiap tingkatan pH. Nilai pH dapat
       bervariasi kisarannya dengan membandingkan efek dari beberapa larutan
       indikator pada jenis larutan yang sama. Beberapa contoh larutan indikator pH :


       No     Indikator                  Trayek pH       Perubahan Warna

       1      Biru Timol                   1,2 – 2,8     Merah – Kuning

              Bromo       Fenol   Biru
       2                                   3,0 – 4,6     Kuning – Biru
              (BFB)

       3      Metil Jingga                 3,1 – 4,4     Merah – Kuning

       4      Bromo Kresol Hijau           3,8 – 5,4     Kuning – Biru

       5      Metil Merah                  4,2 – 6,2     Merah – Kuning

       6      Bromo Kresol Ungu            5,2 – 6,8     Kuning – Ungu

       7      Bromo Timol Biru             6,0 – 7,6     Kuning – Biru

       8      Fenol Merah                  6,8 – 8,4     Kuning – Merah

       9      Fenolftalin (PP)             8,0 – 9,6     Tidak Berwarna - Merah



      Pada percobaan kali ini, indikator yang digunakan adalah Bromo Fenol Biru
      (BFB), Bromo Kresol Ungu (BCP), dan Fenolftalin (PP). Berdasarkan hasil
      pengamatan, dapat dilihat bahwa larutan yang memiliki pH 1 sampai 3 jika diuji
      dengan menggunakan larutan indikator BCP akan menghasilkan perubahan warna
      menjadi kuning (terbukti bahwa pH larutan tersebut < 5,2) , sedangkan bila diuji
      dengan larutan indikator BFB akan menghasilkan perubahan warna menjadi
      kuning (terbukti bahwa pH larutan tersebut ≤ 3,0), dan bila diuji dengan larutan
                                                                                   8

indikator Fenolftalin (PP), akan tetap atau tidak berwarna (terbukti bahwa pH
larutan tersebut < 8,0)

Pada larutan yang memilki pH = 4, jika diuji dengan menggunakan larutan
indikator BCP, akan menghasilkan perubahan warna menjadi kuning (terbukti
bahwa pH larutan tersebut < 5,2), dan bila diuji dengan larutan indikator
Fenolftalin (PP), akan tetap atau tidak berwarna (terbukti bahwa pH larutan
tersebut < 8,0). Tetapi jika diuji dengan larutan indikator BFB, maka akan
menghasilkan perubahan warna menjadi merah . Hal ini terjadi karena pada pH
kurang dari 3,0, larutan indikator BFB akan menghasilkan perubahan warna
menjadi kuning, dan pada pH > 4,6, akan menghasilkan perubahan warna menjadi
biru, tetapi pada trayek pH tertentu atau trayek yang tepat diantara (3,0 - 4,6) akan
menghasilkan warna transisi.

Pada larutan yang memiliki pH = 5, jika diuji dengan menggunakan larutan
indikator BCP, akan menghasilkan perubahan warna menjadi kuning (terbukti
bahwa pH larutan < 5,2), sedangkan bila diuji dengan larutan indikator BFB akan
menghasilkan perubahan warna menjadi ungu (terbukti bahwa pH larutan tersebut
lebih dari 4,6), dan bila diuji dengan larutan indikator Fenolftalin (PP), akan tetap
atau tidak berwarna (terbukti bahwa pH larutan < 8,0).

Pada larutan yang memiliki pH = 6, jika diuji dengan menggunakan larutan
indikator BCP, akan menghasilkan perubahan warna menjadi merah. Hal ini
terjadi karena pada pH < 5,2, larutan indikator BCP             akan menghasilkan
perubahan warna menjadi kuning, dan pada pH > 6,8, akan menghasilkan
perubahan warna menjadi ungu, tetapi pada trayek pH tertentu atau pada trayek
tepat diantara (5,2 – 6,8) akan menghasilkan warna transisi. sedangkan bila diuji
dengan larutan indikator BFB akan menghasilkan perubahan warna menjadi ungu
(terbukti bahwa pH larutan tersebut > 4,6), dan bila diuji dengan larutan indikator
Fenolftalin (PP), akan tetap atau tidak berwarna (terbukti bahwa pH larutan
tersebut < 8,0).

Pada larutan yang memiliki pH 7 dan 8, jika diuji dengan menggunakan larutan
indikator BCP akan menghasilkan perubahan warna menjadi ungu (terbukti
bahwa pH larutan > 6,8) , sedangkan bila diuji dengan larutan indikator BFB akan
menghasilkan perubahan warna menjadi ungu (terbukti bahwa pH larutan tersebut
                                                                                   9

lebih dari 4,6), dan bila diuji dengan larutan indikator Fenolftalin (PP), akan tetap
atau tidak berwarna (terbukti bahwa pH larutan tersebut ≤ 8,0).

Pada larutan yang memiliki pH 12 dan 13, jika diuji dengan menggunakan larutan
indikator BCP akan menghasilkan perubahan warna menjadi ungu (terbukti
bahwa pH larutan tersebut > 6,8) , sedangkan bila diuji dengan larutan indikator
BFB akan menghasilkan perubahan warna menjadi ungu (terbukti bahwa pH
larutan tersebut > 4,6), dan bila diuji dengan larutan indikator Fenolftalin (PP),
akan menghasilkan perubahan warna menjadi merah (terbukti bahwa pH larutan
tersebut > 9,6).

Penentuan pH larutan dengan menggunakan kertas lakmus

Kertas lakmus merah atau biru merupakan salah satu indikator asam dan basa.
Larutan asam (pH < 7) bila diteteskan diatas kertas lakmus merah, tidak akan
terjadi perubahan warna (tetap), sedangkan jika diteteskan diatas kertas lakmus
biru, akan terjadi perubahan warna menjadi merah (larutan asam dapat
memerahkan lakmus biru). Larutan basa (pH > 7) bila diteteskan diatas kertas
lakmus merah, akan terjadi perubahan warna menjadi biru (larutan basa dapat
membirukan lakmus merah), sedangkan jika diteteskan diatas kertas lakmus biru,
tidak akan terjadi perubahan warna (tetap).

Pada percobaan kali ini, larutan yang diuji adalah CH3COONa, NH4Cl, dan
NH4OAC. Larutan CH3COONa jika ditetesi diatas kertas lakmus merah dan biru,
akan menghasilkan perubahan warna menjadi biru (membuktikan bahwa
CH3COONa bersifat basa (pH > 7). Larutan NH4Cl dan NH4OAC jika ditetesi
diatas kertas lakmus merah dan biru , akan menghasilkan perubahan warna
menjadi merah (membuktikan bahwa NH4Cl dan NH4OAC bersifat asam (pH <
7).

Penentuan pH larutan dengan menggunakan larutan indikator

Pada percobaan kali ini, larutan yang diuji adalah CH3COONa, NH4Cl, dan
NH4OAC dengan menggunakan larutan indikator BFB, BCP dan PP.

Larutan CH3COONa jika diuji dengan larutan indikator BFB akan menghasilkan
perubahan warna menjadi ungu (membuktikan pH CH3COONa > 4,6), dan jika
diuji dengan larutan indikator BCP, akan menghasilkan perubahan warna menjadi
                                                                            10

ungu (membuktikan pH CH3COONa > 6,8), dan jika diuji dengan larutan
indikator PP, tidak menghasilkan perubahan warna (tetap) (membuktikan pH
CH3COONa < 8,0)

Larutan NH4Cl jika diuji dengan larutan indikator BCP akan menghasilkan
perubahan warna menjadi merah (membuktikan pH NH4Cl berada diantara 5,2 –
6,8 ), dan jika diuji dengan larutan indikator BFB, akan menghasilkan perubahan
warna menjadi ungu (membuktikan pH NH4Cl > 4,6), dan jika diuji dengan
larutan indikator PP, tidak menghasilkan perubahan warna (tetap) (membuktikan
pH NH4Cl < 8,0)

Larutan NH4OAC jika diuji dengan larutan indikator BFB akan menghasilkan
perubahan warna menjadi ungu (membuktikan pH NH4OAC > 4,6), dan jika diuji
dengan larutan indikator BCP, akan menghasilkan perubahan warna menjadi ungu
(membuktikan pH NH4OAC > 6,8), dan jika diuji dengan larutan indikator PP,
tidak menghasilkan perubahan warna (tetap) (membuktikan pH NH4OAC < 8,0).

Penentuan pH dengan menggunakan pH strip

pH strip yang dicelupkan pada suatu larutan akan berubah warnanya sesuai
dengan kisarah pH yang lebih akurat, sehingga nilai pH dapat diperkirakan
dengan lebih pasti. Cara penggunaan pH strip adalah dengan cara mencelupkan
pH strip kedalam larutan yang akan diuji, dan menentukan pH nya dengan
membandingkannya perubahan warna pada pH strip sesuai tabel perubahan warna
yang ada pada kemasan Pada percobaan kali ini, larutan yang diuji dengan pH
strip antara lain CH3COONa, NH4Cl, dan NH4OAC. Larutan CH3COONa
menunjukan pH = 7, larutan NH4Cl menunjukan pH = 6, dan larutan NH4OAC
menunjukan pH = 8.
                                                                                   11

VII    KESIMPULAN DAN SARAN

       Indikator asam dan basa dalam bentuk larutan indikator, kertas lakmus maupun
       pH strip memiliki tingkat ketelitian yang berbeda. Setiap indikator mempunyai
       batas-batas pengukuran pH yang bervariasi atau yang sering disebut dengan
       trayek perubahan warna, hal ini yang mengakibatkan berubahnya warna
       dalam pengujian larutan. Pemilihan indikator juga harus tepat sesuai dengan
       tujuan. Sebagai contoh, jika hanya ingin menentukan apakah larutan tersebut
       bersifat asam atau basa, akan lebih efisien dan cepat menggunakan kertas
       lakmus, tetapi jika ingin mengetahui pH secara akurat, gunakanlah pH strip.
       Penggunaan indikator dalam bentuk larutan perlu dipahami secara serius, karena
       setiap larutan indikator memiliki trayek pH yang berbeda tipis, jika tidak
       memilih indikator yang tepat maka akan menghasilkan warna transisi. Oleh
       karena itu diperlukan pengetahuan atau keterampilan untuk menentukan
       indikator apa yang harus dipakai dalam menguji tingkat asam ataupun basa suatu
       larutan.




VIII   DAFTAR PUSTAKA

       1.    Anonim. 2004. pH and Alkalinity.
             http://www.uri.edu/ce/wq/ww/Publications/pH&alkalinity.pdf .
             Diunduh pada tanggal 18 Oktober 2011.
       2.    Depdikbud. 1979. Kimia untuk SMA Jilid II. Jakarta: Balai Pustaka
       3.    Depdikbud. 1981. Petunjuk Praktikum Ilmu Kimia. Jakarta: Depdikbud.
       4.    Goenawan. 1988. Kimia Larutan. Jakarta: Depdikbud.
       5.    Kohlmann, Frederick J . 2003. What is pH, and how is it measured?.
             http://downloads.vertmarkets.com/files/downloads/39bb8430-1c02-4576-
             bfe8-73475a36ca56/whatisph_wol.pdf
             Diunduh pada tanggal 18 Oktober 2011.
       6.    Kristiani, Elisabeth BE. 2010. Petunjuk Praktikum Kimia. Salatiga:
             Fakultas Biologi Universitas Kristen Satya Wacana.
       7.    Purba, Michael. 2007. Kimia untuk SMA Kelas XI. Jakarta:Erlangga.

								
To top