Docstoc

Laporan Kimia Lemak

Document Sample
Laporan Kimia Lemak Powered By Docstoc
					                                                                               1

I.   PENDAHULUAN
     Lemak atau minyak merupakan asam karboksilat atau asam alkanoat jenuh
     alifatis (tidak terdapat ikatan rangkap C=C dalam rantai alkilnya, rantai
     lurus, panjang tak bercabang) dengan gugus utama –COOH dalam bentuk
     ester atau gliserida. (Riawan, 1990)


     Lemak atau minyak adalah suatu trigliserida atau ester dari asam lemak dan
     gliserol. Lemak atau minyak merupakan salah satu kelompok yang tergolong
     dalam lipida. Salah satu sifat khas yang mencirikan golongan lipida adalah
     daya larutnya dalam pelarut non polar dan ketidaklarutannya dalam pelarut
     polar. (Kristiani, 2010)


     Ada dua macam trigliserida, yaitu trigliserida sederhana dan trigliserida
     campuran. Trigliserida sederhana mengandung asam-asam lemak yang sama
     sebagai penyusunnya, sedangkan trigliserida campuran mengandung dua
     atau tiga jenis asam lemak yang berbeda. Pada umumnya, trigliserida yang
     mengandung asam lemak tidak jenuh bersifat cairan pada suhu kamar,
     disebut minyak, sedangkan trigliserida yang mengandung asam lemak jenuh
     bersifat padat yang sering disebut lemak. (Simanjuntak, 2003)


     Kebanyakan gliserida dalam hewan adalah lemak, sedangkan gliserida dalam
     tumbuhan berupa minyak, oleh karena itu biasa terdengar ungkapan lemak
     hewani dan minyak nabati (minyak jagung, minyak bunga matahari).
     Kebanyakan lemak dan minyak yang terdapat dalam alam merupakan
     trigliserida campuran. Asam karboksilat yang diperoleh dari hidrolisis suatu
     lemak atau minyak, disebut asam lemak. (Fessenden, 1984)


     Molekul asam lemak memiliki daerah hidrofobik dan daerah hidrofilik
     sekaligus. Dua sifat yang saling bertolak belakang dalam satu molekul inilah
     yang umumnya mendasari berbagai fungsi biologis lipid. Ekor hidrokarbon
     asam lemak cenderung saling berkumpul sedemikian rupa sehingga hanya
     sedikit saja berhubungan dengan air. Sebaliknya, gugus karboksilnya, karena
     bersifat polar, cenderung untuk berhubungan dengan lingkungan sekitar
     yang terutama terdiri atas air. (Gilvery dan Goldstein, 1996)
                                                                             2

       Berdasarkan ikatan yang ada dalam R, lemak atau minyak terdiri dari atas
       lemak jenuh dan tak jenuh, digolongkan asam jenuh jika dalam R tidak
       terdapat ikatan rangkap, sedangkan digolongkan asam lemak tak jenuh jika
       terdapat ikatan rangkap. (Kristiani, 2010)


II.    TUJUAN
            1. Mahasiswa dapat terampil dalam melakukan uji kelarutan dan
               ketidakjenuhan lemak atau minyak
            2. Mahasiswa mampu memahami sifat kelarutan dan ketidakjenuhan
               lemak atau minyak
            3. Mahasiswa mampu membedakan antara minyak dengan lemak


III.   ALAT DAN BAHAN
       A.     ALAT
                 1. Tabung reaksi
                 2. Rak tabung reaksi
                 3. Pipet tetes
       B.     BAHAN
                 1. Minyak kelapa sawit
                 2. Minyak kelapa
                 3. Minyak jagung
                 4. Minyak bekas pakai
                 5. Kloroform
                 6. Eter (petroleum benzena)
                 7. Akuades
                 8. Ethanol panas
                 9. Ethanol suhu ruang
                 10. Larutan Na2CO3
                 11. HCl
                 12. Reagen Iod
                                                                              3

IV.   CARA KERJA
      A. Uji Kelarutan
            1. Siapkan 7 tabung reaksi, isi setiap tabung reaksi dengan 2 tetes
               berbagai sampel larutan yang berbeda. (Pada percobaan ini,
               sampel yang digunakan adalah minyak kelapa sawit, minyak
               kelapa, minyak jagung, dan minyak bekas pakai).
            2. Tambahkan 10 tetes larutan kloroform kedalam setiap tabung
               reaksi.
            3. Diamkan selama beberapa menit dan amati kelarutan yang terjadi.
               Catat hasilnya pada data pengamatan.
            4. Ulangi langkah pertama, tambahkan dengan 10 tetes eter ke
               dalam setiap tabung reaksi (untuk langkah selanjutnya, ganti 10
               tetes eter dengan 10 tetes akuades / ethanol panas / ethanol suhu
               ruang / Na2CO3 / HCl).
            5. Diamkan selama beberapa menit dan amati kelarutan yang terjadi.
               Catat hasilnya pada data pengamatan.


      B. Uji Ketidakjenuhan
            1. Siapkan 4 tabung reaksi, isi setiap tabung reaksi dengan 2 tetes
               berbagai sampel larutan yang berbeda. (Pada percobaan ini,
               sampel yang digunakan adalah minyak kelapa sawit, minyak
               kelapa, minyak jagung, dan minyak bekas pakai).
            2. Tambahkan 5 tetes kloroform dan 3 tetes reagen Iod pada setiap
               tabung reaksi.
            3. Amati perubahan warna yang terjadi, catat hasilnya pada data
               pengamatan.
                                                                                       4

V.   HASIL PENGAMATAN
     A. UJI KELARUTAN
                                  Minyak                               Minyak
                                             Minyak        Minyak
     No        Uji Kelarutan      Kelapa                               Bekas
                                             Kelapa        Jagung
                                  Sawit                                Pakai

     1         Kloroform          Larut      Larut         Larut       Larut

     2         Eter               Larut      Larut         Larut       Larut

                                  Tidak                    Tidak       Tidak
     3         Akuades                       Tidak larut
                                  Larut                    Larut       Larut
                                             Tidak                     Tidak
     4         Ethanol Panas      Larut                    Emulsi
                                             Larut                     Larut
               Ethanol     suhu              Tidak                     Tidak
     5                            Larut                    Emulsi
               ruang                         Larut                     Larut
               Larutan                                     Tidak
     6                            Emulsi     Emulsi                    Emulsi
               Na2CO3                                      Larut
                                  Tidak      Tidak                     Tidak
     7         HCl                                         Larut
                                  larut      Larut                     Larut


     B. UJI KETIDAKJENUHAN (amati perubahan warna nya)
          a.    2 tetes minyak kelapa sawit + 5 tetes kloroform + 3 tetes reagen Iod
                       Merah pucat, Jenuh
          b.    2 tetes minyak kelapa + 5 tetes kloroform + 3 tetes reagen Iod
                       Merah pucat, Jenuh
          c.    2 tetes minyak jagung + 5 tetes kloroform + 3 tetes reagen Iod
                       Merah pucat, Tak jenuh
          d.    2 tetes minyak bekas pakai + 5 tetes kloroform + 3 tetes reagen Iod
                       Merah pucat, Jenuh
                                                                              5

VI.   PEMBAHASAN
      UJI KELARUTAN

      Minyak mempunyai sifat khas yaitu larut dalam pelarut non polar dan tidak
      larut dalam pelarut polar. Pada percobaan ini, sampel yang digunakan
      adalah minyak kelapa sawit, minyak kelapa, minyak jagung, dan minyak
      bekas pakai, sedangkan pelarut yang dipakai adalah kloroform, eter,
      akuades, ethanol panas, ethanol suhu ruang, Na2CO3 dan HCl.

      Berdasarkan hasil pengamatan, Kloroform dan Eter merupakan pelarut non
      polar, karena dapat melarutkan semua sampel minyak. Minyak dapat larut
      dalam kloroform dan eter karena memiliki polaritas yang sama dengan
      pelarutnya, sedangkan akuades merupakan pelarut polar, karena tidak dapat
      melarutkan semua jenis sampel minyak. Minyak tidak dapat larut dalam
      akuades karena memiliki sifat polaritas yang berbeda.

      Ethanol panas dan ethanol suhu ruang termasuk dalam pelarut semi
      polar, karena dapat melarutkan atau tidak melarutkan sampel minyak
      tertentu. Pada percobaan kali ini, sampel minyak yang larut oleh ethanol
      panas dan ethanol suhu ruang adalah minyak kelapa sawit. Sampel minyak
      yang tidak larut oleh ethanol panas dan ethanol suhu ruang adalah minyak
      kelapa dan minyak bekas pakai.

      Pada minyak jagung, saat dilarutkan dalam pelarut ethanol panas dan
      ethanol suhu ruang, maka akan membentuk emulsi. Emulsi berupa dispersi
      minyak dalam air atau dispersi air dalam minyak. Zat yang dapat mengalami
      emulsi adalah senyawa organik yang memiliki gugus polar dan non polar.
      Bagian non polar akan berinteraksi atau mengelilingi partikel dengan
      minyak, sedangkan bagian polar akan bereaksi dengan air. Jika bagian polar
      ini terionisasi menjadi bermuatan negatif. Muatan negatif ini menyebabkan
      partikel-partikel minyak saling tolak-menolak, sehingga terjadi emulsi.
      (atau dengan kata lain, emulsi disebabkan karena adanya kelarutan selektif
      dari bagian molekul minyak, ada bagian yang bersifat mudah larut dalam
      air [hidrofil] dan ada bagian mudah larut dalam minyak [lifofil])


      Minyak kelapa sawit, minyak kelapa dan minyak bekas pakai saat
      direaksikan dengan basa (pada percobaan ini memakai Na2CO3), akan
                                                                           6

menghasilkan emulsi. Sedangkan minyak jagung tidak larut dalam
Na2CO3.


Minyak kelapa sawit, minyak kelapa, dan minyak bekas pakai tidak larut
saat direaksikan dengan asam (pada percobaan ini memakai HCl),
sedangkan minyak jagung larut.


UJI KETIDAKJENUHAN
Asam lemak jenuh merupakan asam lemak yang mengandung ikatan tunggal
pada rantai hidrokarbonnya, sedangkan asam lemak tak jenuh memiliki satu
ikatan rangkap. Dalam suhu ruang, asam lemak jenuh berada dalam keadaan
padat dan asam lemak tak jenuh berada dalam keadaan cair.


Uji ketidakjenuhan dapat dilakukan dengan cara menambahkan pelarut non
polar dan reagen iod dalam sampel minyak, karena minyak dapat melakukan
reaksi hidrogenisasi, yaitu reaksi adisi dengan senyawa-senyawa halogen
dari golongan VII A, misalnya dengan Br2 dan I2. Ketika I2 direaksikan
dengan sampel minyak, I2 memecah ikatan rangkap yang ada pada lemak tak
jenuh dan ditandai dengan perubahan warna campuran yang semula menjadi
merah muda menjadi merah pucat sampai cokelat.


Pada percobaan ini, semua sampel minyak berubah warna menjadi merah
pucat, tetapi minyak jagung menghasilkan warna yang lebih muda daripada
sampel lainnya, dengan kata lain minyak jagung termasuk lemak tak jenuh.


Percobaan ini dirasa kurang berhasil karena kurang sesuai dengan panduan
yang digunakan, pada hasil percobaan tidak ditemukan konsistensi atau
dasar perubahan warna yang tepat untuk menentukan apakah minyak
tersebut jenuh atau tidak jenuh. Ketidakberhasilan percobaan ini mungkin
dikarenakan karena adanya kontaminan misalnya air, tetesan tidak sama, dan
mungkin kurang homogen saat melakukan homogenasi.
                                                                              7

VII.   KESIMPULAN
       Dari percobaan kali ini, dapat disimpulkan bahwa minyak terbukti
       mempunyai sifat khas yaitu larut dalam pelarut non polar dan tidak larut
       dalam pelarut polar. Minyak dapat larut jika memiliki polaritas yang sama
       dengan pelarutnya.


       Sedangkan untuk pengujian ketidakjenuhan minyak, dapat menggunakan
       pelarut non polar dan reagen Iod, karena minyak dapat melakukan reaksi
       hidrogenisasi, yaitu reaksi adisi dengan senyawa-senyawa halogen dari
       golongan VII A sepeti I2. Ketika I2 direaksikan dengan sampel minyak, I2
       memecah ikatan rangkap yang ada pada lemak tak jenuh dan ditandai dengan
       perubahan warna campuran yang semula menjadi merah muda menjadi
       merah pucat sampai cokelat.


VIII. DAFTAR PUSTAKA
       1.   Fessenden, Ralph. 1884. Kimia Organik 2. Jakarta: Erlangga.
       2.   Gilvery, Goldstein. 1996. Biokimia Suatu Pendekatan Fungsional 3.
            Surabaya : Airlangga University Press.
       3.   Kristiani, Elisabeth BE. 2010. Petunjuk Praktikum Kimia. Salatiga:
            Fakultas Biologi Universitas Kristen Satya Wacana.
       4.   Riawan, S. 1990. Kimia Organik 1. Jakarta: Binarupa Aksara.
       5.   Simanjuntak, M.T. 2003. Penuntun Praktikum Biokimia. Sumatera
            Utara: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas
            Sumatera Utara.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:714
posted:5/8/2012
language:Malay
pages:7