Docstoc

Laporan Kimia Gugus Fungsi

Document Sample
Laporan Kimia Gugus Fungsi Powered By Docstoc
					                                                                                       1

I.         PENDAHULUAN


           Suatu senyawa organik adalah senyawa yang utamanya terdiri dari
           kombinasi atom C,H,O, dan N. Atom atom tersebut berikatan dalam suatu
           kombinasi unik dan membentuk berbagai senyawa yang memiliki sifat dan
           fungsi khusus. Sifat suatu zat merupakan suatu hal yang sangat penting dan
           berkaitan erat dengan penggunaannya. (Kristiani, 2010)


           Sifat suatu zat biasanya ditentukan oleh suatu struktur khusus pada molekul
           zat tersebut yang dikenal dengan gugus fungsional. Suatu zat yang memiliki
           gugus fungsional yang berbeda dapat memiliki sifat yang berbeda meskipun
           molekul lain yang mengikat gugus fungsionalnya identik. (Kristiani, 2010)


           Beberapa contoh gugus fungsional yang sering ditemui pada senyawa
           organik antara lain –OH (alkohol), -O- (eter), -CHO (aldehid), -CO (keton),
           –COOH (asam karboksilat),              -COO- (ester) dan benzena. Beberapa
           diantaranya dapat menghasilkan turunan senyawa seperti Fenol, Amina ,
           Amida, dan sebagainya. (Feseden, 1994)


           Benzena merupakan senyawa aromatik tersederhana. Nama “aromatik” itu
           diberikan karena golongan ini memiliki aroma yang berbeda-beda disetiap
           hasil reaksinya. Beberapa turunan benzena yang umum ditemukan di
           lingkungan adalah Toluena, Stirena, Anilina, Fenol, Benzaldehida, Asam
           Benzoat, Benzil Alkohol, dan sebagainya. (Purba, 2007)


           Setiap gugus yang memiliki sifat berbeda tentunya akan mempunyai reaksi
           yang berbeda pada suatu indikator. Oleh karena itu zat tertentu dapat
           digunakan sebagai indikator untuk menunjukkan adanya suatu gugus fungsi
           secara kualitatif. (Kristiani, 2010)


II.        TUJUAN


      1.     Mahasiswa dapat memahami konsep dasar dalam pengujian gugus
             fungsional tertentu.
      2.     Mahasiswa terampil dalam menguji suatu gugus fungsional tertentu.
                                                                                        2

III.   ALAT DAN BAHAN
       A.        ALAT
                 1.    Tabung reaksi
                 2.    Rak tabung reaksi
                 3.    Pipet tetes
                 4.    Batang pengaduk
                 5.    Bunsen
                 6.    Panci


       B.        BAHAN
                 1.    Larutan K2Cr2O7               14.   Larutan Formaldehid
                 2.    Larutan H2SO4                 15.   Larutan AgNO3
                 3.    Larutan Etanol                16.   Larutan NH4OH
                 4.    Larutan KMnO4                 17.   Reagen Schiff
                 5.    Larutan Asam Formiat          18.   Akuades
                 6.    Larutan H2SO4 pekat           19.   Larutan NaOH 5%
                 7.    Asam Salisilat (padat)        20.   Reagen I2
                 8.    Larutan Metanol               21.   Larutan NaOH 1 M
                 9.    Larutan Fenol                 22.   Larutan HCl 1 M
                 10. Larutan FeCl3                   23.   Larutan Anilin
                 11. Larutan Br2                     24.   Urea (padat)
                 12. Reagen d.n.p                    25.   Larutan NaOH 40%
                 13. Larutan Aseton                  26.   Kertas lakmus merah




IV.    CARA KERJA


       1. Alkohol
            A.        Reaksi Oksidasi
                      1.   Siapkan tabung reaksi, isi dengan 3 tetes larutan K2Cr2O7
                      2.   Tambahkan 2 tetes larutan H2SO4 dan 5 tetes larutan etanol
                      3.   Panaskan
                      4.   Amati perubahan warna yang terjadi
                      5.   Ulangi percobaan dengan mengganti larutan K2Cr2O7 dengan
                           larutan KMnO4
                                                                              3

       6.     Catat perubahan yang terjadi pada data pengamatan


  B.   Reaksi pembentukan ester (esterifikasi)
       1.     Siapkan 2 tabung reaksi
       2.     Pada tabung 1, masukkan 5 tetes asam formiat, 5 tetes etanol
              dan 5 tetes H2SO4 pekat
       3.     Pada tabung 2, masukkan 1 ujung sendok asam salisilat, 5 tetes
              metanol dan 5 tetes H2SO4 pekat
       4.     Panaskan kedua tabung reaksi tersebut
       5.     Cium aroma yang timbul, catat hasilnya pada data pengamatan


2. Fenol
  A.   Pengujian dengan larutan FeCl3
       1.     Siapkan tabung reaksi, isi dengan 5 tetes fenol
       2.     Tambahkan 3 tetes larutan FeCl3
       3.     Amati perubahan warna yang terjadi, catat hasilnya pada data
              pengamatan


  B.   Pengujian dengan larutan Br2
       1.     Siapkan tabung reaksi, isi dengan 5 tetes fenol
       2.     Tambahkan tetes demi tetes larutan Br2, hingga warna Br2
              pudar
       3.     Amati perubahan warna yang terjadi, catat hasilnya pada data
              pengamatan


3. Karbonil
  A.   Reaksi dengan Reagen 2,4-dinitrofenilhidrogina (d.n.p)
       1.     Siapkan tabung reaksi, isi dengan reagen d.n.p
       2.     Tambahkan 1 tetes aseton
       3.     Amati perubahan warna yang terjadi.
       4.     Ulangi   percobaan     dengan     mengganti       aseton   dengan
              formaldehid.
       5.     Catat perubahan yang terjadi pada data pengamatan.
                                                                           4

B.   Oksidasi aldehid dengan pengoksidasi kuat (K2Cr2O7)
     1.   Siapkan tabung reaksi, isi dengan 3 tetes larutan K2Cr2O7
     2.   Tambahkan 3 tetes formaldehid
     3.   Amati perubahan warna yang terjadi dan catat pada data
          pengamatan


C.   Oksidasi aldehid dengan reagen Tollens
     1.   Siapkan sebuah tabung reaksi, dan isi dengan 5 tetes reagen
          tollens (dapat dibuat dengan cara mencampurkan 3 tetes
          AgNO3 dengan NH4OH setetes demi setetes hingga tidak ada
          endapan)
     2.   Tambahkan 3 tetes formaldehida
     3.   Panaskan
     4.   Amati perubahan warna yang terjadi, dan catat pada data
          pengamatan apakah terbentuk cermin perak atau tidak


D.   Oksidasi aldehid dengan reagen Schiff
     1.   Siapkan sebuah tabung reaksi, isi dengan 5 tetes reagen schiff
     2.   Tambahkan 2 tetes formaldehid
     3.   Amati perubahan warna yang terjadi, dan catat pada data
          pengamatan.


E.   Uji iodoform
     1.   Siapkan sebuah tabung reaksi, isi dengan 5 tetes akuades.
     2.   Tambahkan 2 tetes aseton dan 5 tetes NaOH 5%.
     3.   Amati perubahan warna yang terjadi.
     4.   Tambahkan tetes demi tetes reagen I2, sampai warna iodium
          tidak hilang.
     5.   Diamkan selama 2-3 menit, amati pembentukan kristal
          iodoform.
     6.   Jika tidak terbentuk kristal, tambahkan tetes demi tetes reagen
          I2, 3 tetes NaOH dan 3 tetes akuades, kemudian panaskan.
     7.   Diamkan selama 10 menit, amati perubahan yang terjadi, dan
          catat hasilnya pada data pengamatan.
                                                                            5

4. Asam karboksilat
  A.    Reaksi pembentukan ester (esterifikasi)
        1.   Siapkan sebuah tabung reaksi, isi dengan 1 ujung sendok asam
             salisilat.
        2.   Tambahkan 5 tetes etanol dan 5 tetes H2SO4
        3.   Panaskan, dan cium aroma yang timbul
        4.   Catat hasilnya pada data pengamatan


5. Amina
  A.    Daya larut
        1.   Siapkan sebuah tabung reaksi, isi dengan 3 tetes HCl 0,1 M
        2.   Tambahkan 1 tetes anilin, amati perubahan yang terjadi
        3.   Tambahkan beberapa tetes NaOH 1 M, amati apakah larut atau
             tidak. Catat hasilnya pada data pengamatan


  B.    Uji dengan larutan Br2
        1.   Siapkan sebuah tabung reaksi, isi dengan 5 tetes etanol
        2.   Tambahkan 3 tetes anilin
        3.   Amati perubahan warna yang terjadi, dan catat hasilnya pada
             data pengamatan


   6.   Anida
        1.   Siapkan sebuah tabung reaksi, isi dengan 1 ujung sendok urea
        2.   Tambahkan 5 tetes NaOH 40% dan panaskan
        3.   Amati perubahan warna yang terjadi.
        4.   Tempelkan lakmus merah yang telah dibasahi air pada batang
             pengaduk
        5.   Dekatkan kertas lakmus merah ke uap yang terbentuk
        6.   Amati perubahan warna pada kertas lakmus, catat hasilnya
             pada data pengamatan
                                                                                   6

V.   HASIL PENGAMATAN

     ALKOHOL

     A. Oksidasi
       1.     3 tetes larutan K2Cr2O7 + 2 tetes larutan H2SO4 + 5 tetes larutan
              etanol        Bening ( warna K2Cr2O7 pudar )
       2.     3 tetes larutan KMnO4 + 2 tetes larutan H2SO4 + 5 tetes larutan
              etanol        Bening ( warna KMnO4 pudar )


     B. Esterifikasi
       1.     5 tetes larutan asam formiat + 5 tetes larutan etanol + 5 tetes larutan
              H2SO4 pekat         Aroma Rhum
       2.     Asam salisilat (padat) + 5 tetes larutan metanol + 5 tetes larutan
              H2SO4         Aroma Balsam



     FENOL

     A. 5 tetes fenol + 3 tetes FeCl3       Ungu tua
     B. 5 tetes fenol + larutan Br2 tetes demi tetes           Warna Brom luntur
         (kuning)



     KARBONIL

     A. Reaksi dengan reagen d.n.p
         1.   3 tetes reagen d.n.p + 1 tetes aseton      endapan kuning cokelat
         2.   3 tetes reagen d.n.p + 1 tetes formaldehid            endapan kuning
              cokelat


     B. Oksidasi Aldehid
         1.   3 tetes larutan K2Cr2O7 + 3 tetes formaldehid        kuning
         2.   5 tetes reagen tollens [(Ag[NH3]2)] + 3 tetes formaldehida
                    Terbentuk cermin perak
         3.   5 tetes reagen Shiff + 2 tetes formaldehida       ungu
                                                                                 7

      C. Uji Iodoform
          5 tetes akuades + 2 tetes aseton + 5 tetes NaOH 5% + reagen I2 tetes
          demi tetes        bening + reagen I2 tetes demi tetes + 3 tetes NaOH + 3
          tetes akuades          (diamkan 10 menit)       Aroma karbol (ciri khas
          aroma I2)



      ASAM KARBOKSILAT

      Asam salisilat + 5 tetes etanol + 5 tetes H2SO4     Aroma Rhum




      AMINA

          A. Daya Larut
               3 tetes HCl 1 M + 1 tetes anilin     tidak larut + NaOH 1 M
                       Tidak larut


          B. Uji dengan Brom (Br2)
               5 tetes etanol + 3 tetes anilin          larut dan berwarna merah
               kecoklatan




      AMIDA

      Urea + 5 tetes NaOH            bening + lakmus merah         biru (reaksi ini
      menghasilkan gas NH3 yang bersifat basa)




VI.   PEMBAHASAN
      UJI GUGUS ALKOHOL
      Sebelum membahas reaksi-reaksi alkohol, perlu diketahui penggolongan
      alkohol ke dalam alkohol primer, sekunder dan tersier. Atom karbon primer
      ialah atom karbon yang terikat langsung pada satu atom karbon yang lain,
      atom karbon sekunder terikat langsung pada dua atom karbon yang lain, dan
      seterusnya.
                                                                             8

Oksidasi Alkohol
Alkohol primer dan sekunder dapat dioksidasi relatif mudah dalam kondisi
biasa, berbeda dengan alkohol tersier yang sangat sulit dioksidasi. Alkohol
primer akan dioksidasi menjadi senyawa aldehid kemudian dapat teroksidasi
lebih lanjut membentuk asam karboksilat, sedangkan alkohol sekunder akan
dioksidasi menjadi senyawa keton. Oksidator yang biasa digunakan adalah
ion di kromat dan permanganat dalam keadaan asam. Pemanasan seringkali
dibutuhkan untuk mempercepat proses oksidasi.


Pada percobaan kali ini, yang menjadi oksidator adalah senyawa K2Cr2O7
dan KMnO4. Etanol (C2H5OH) bila direaksikan dengan H2SO4 dan (K2Cr2O7
atau KMnO4), maka akan memudarkan warna dari K2Cr2O7 atau KMnO4.


Reaksi pembentukan ester
Alkohol bereaksi dengan asam karboksilat menghasilkan senyawa ester.
Esterifikasi biasanya memerlukan katalisator berupa asam mineral.
Keberadaan ester dapat diidentifikasi dari aromanya.
Reaksi dasar esterifikasi :




Pada percobaan kali ini, asam mineral yang digunakan adalah asam formiat
dan asam salisilat. Etanol (C2H5OH) bila direaksikan dengan asam formiat
dan H2SO4 dan kemudian dipanaskan, akan menghasilkan aroma Rhum.
Sedangkan Metanol, bila direaksikan dengan asam salisilat dan H2SO4 dan
kemudian dipanaskan, akan menghasilkan aroma balsam.


UJI GUGUS FENOL
Fenol merupakan asam lemah, menandung cicin benzena dan gugus
fungsional   alkohol.   Keberadaan   Fenol   dapat     diidentifikasi   dengan
memanfaatkan senyawa FeCl3 dan Br2.
                                                                         9

Pada percobaan kali ini, larutan fenol yang ditetesi larutan FeCl3 dan Br2,
pada hasil reaksinya akan membuat warna kuning pada larutan FeCl3 dan Br2
pudar. Warna kuning pada larutan FeCl3 dan Br2 hilang karena bereaksi
dengan fenol membentuk kompleks fenol, sehingga ion Fe+ tereduksi dan
kehilangan warnanya.


UJI GUGUS KARBONIL

Reaksi dengan d.n.p (2,4 – dinitrofenilhidrogina)

Senyawa yang memiliki gugus karbonil akan bereaksi dengan d.n.p
membentuk endapan dengan warna kuning hingga kemerahan. Pada
percobaan kali ini, karbonil yang digunakan adalah aseton dan formaldehid.
Reaksi antara d.n.p dengan aseton atau formaldehid menghasilkan endapan
berwarna kuning kecoklatan.

Oksidasi Aldehid

Senyawa karbon yang dapat dengan mudah dioksidasi adalah senyawa
aldehid, karena aldehid merupakan reduktor kuat. Hasil oksidasi aldehid
berupa asam karboksilat. Oksidator yang digunakan dapat berupa ion
dikromat, reagen Tollens, dan reagen Schiff.

Reaksi positif terhadap reagen Tollens ditunjukkan dengan terbentuknya
cermin perak pada dasar tabung. Reagen Tollens dapat dibuat dengan cara
mencampurkan 3 tetes AgNO3 dengan 3 tetes NH4OH setetes demi setetes
hingga tidak ada endapan. Reaksi positif terhadap reagen Schiff ditunjukkan
dengan terbentuknya warna keunguan.

Pada percobaan kali ini, saat aldehid dioksidasi dengan pengoksidasi kuat
K2Cr2O7, reaksi ini menghasilkan senyawa yang berwarna kuning. Saat
aldehid dioksidasi dengan reagen Tollens kemudian dipanaskan, reagen
Tollens akan direduksi oleh aldehid sehingga menghasilkan cermin perak,
yaitu endapan perak membentuk cermin pada dinding tabung reaksi. Saat
aldehid dioksidasi dengan reagen Schiff, reaksi ini menghasilkan senyawa
berwarna ungu.
                                                                        10

Uji Iodoform

Uji dengan iodoform merupakan uji yang sangat khas untuk mengetahui
adanya gugus fungsional asetil. Gugus asetil akan menghasilkan iodoform
apabila direaksikan dengan iodine serta adanya ion hidroksida. Iodoform
dalam suhu ruang merupakan padatan dengan warna kuning dengan bau
khas rumah sakit.

Pada percobaan kali ini, akuades yang ditambahkan dengan NaOH 5% dan
ditambahkan gugus fungsional asetil berupa aseton, dan diteteskan reagen I2
tetes demi tetes, akan menghasilkan senyawa bening (tak berwarna). Setelah
ditambahkan NaOH dan diteteskan kembali reagen I2 tetes demi 2 tetes
kemudian dipanaskan dan didiamkan selama 10 menit, akan menghasilkan
aroma karbol yang merupakan ciri khas aroma I2.




UJI GUGUS KARBOKSIL

Reaksi pementukan ester

Senyawa yang mengandung gugus karboksil akan membentuk senyawa ester
apabila direaksikan dengan alkohol. Pada percobaan kali ini, asalm
karboksilat yang digunakan adalah asam salisilat. Asam salisilat yang
direaksikan dengan etanol dan H2SO4 akan menghasilkan aroma Rhum.




UJI GUGUS AMINA

Amina adalah suatu senyawa turunan amonia yang satu atau beberapa atom
H-nya digantikan oleh alkil atatu gugus aromatik. Salah satu contoh senyawa
amina primer adalah anilin (C6H5NH2). Dengan kata lain, anilin dapat juga
dianggap senyawa turunan bernzena dan dan amonia. Anilin bersifat basa
lemah, merupakan bahan dasar untuk zat-zat warna. Keberadaan anilin dapat
diidentifikasi dengan menguji daya larutnya pada asam dan basa serta
dengan uji menggunakan larutan Br2 (brom).
                                                                      11

Daya Larut

Senyawa amina bersifat basa lemah sehingga larut dalam senyawa asam.
Pada percobaan kali ini, Anilin yang direaksikan dengan HCl (asam kuat)
ketika diamati tidak larut, dan saat direaksikan dengan NaOH (basa kuat),
tidak larut.

Uji dengan Brom

Suatu senyawa mengandung gugus amina akan berubah menjadi berwarna
kecokelatan apabila direaksikan dengan larutan Br2, karena akan terbentuk
kompleks anilin dan brom yang berwarna cokelat. Pada percobaan kali ini,
anilin yang direaksikan dengan etanol akan larut dan menghasilkan senyawa
berwarna merah kecokelatan.




UJI GUGUS AMIDA

Amida adalah suatu senyawa yang dianggap sebagai turunan asam
karboksilat dan amonia. Salah satu contoh amida primer adalah urea
(CO(NH2)2). Urea merupakan jenis diamida primer karena atom C-nya
mengikat NH2 secara langsung.

Keberadaan gugus amina (-NH2) sebagai turunan amonia dapat dijadikan
suatu indikator keberadaan amida dengan cara mengamati sifatnya yang
dapat membentuk senyawa basa. Secara teori, larutan amida yang ditambah
dengan basa kuat serta dipanaskan akan mengalami proses hidrolisis yang
menghasilkan garam dari asam karboksilat dan amonium hidroksida.

Pada percobaan kali ini, urea yang direaksikan dengan basa kuat berupa
NaOH 40% dan dipanaskan, akan menghasilkan gas NH3 yang bersifat basa.
Dibuktikan dengan mendekatkan kertas lakmus merah ke uap yang
terbentuk, kertas lakmus merah akan berubah menjadi biru.
                                                                                  12

VII.   KESIMPULAN DAN SARAN
       Gugus fungsi merupakan gugusan atom atau kelompok atom dalam senyawa
       karbon atau senyawa organik yang paling menentukan sifat khas dari
       senyawa tersebut. Gugus fungsi merupakan ciri khas dari suatu homolog dan
       merupakan pusat reaktivitas molekul.


       Setiap senyawa yang memiliki susunan gugus fungsi yang berbeda, sudah
       dapat dipastikan akan memiliki sifat berbeda dan mempunyai reaksi yang
       berbeda pada suatu indikator. Oleh karena itu, zat tertentu dapat digunakan
       sebagai indikator untuk menunjukkan adanya suatu gugus fungsi secara
       kualitatif. Penting untuk memahami konsep-konsep dasar dalam pengujian
       gugus fungsional, supaya dapat membedakan gugus fungsi yang satu dengan
       yang lainnya dan mengetahui hasil reaksinya dengan suatu indikator
       (pereaksi).


VIII. DAFTAR PUSTAKA


       1.   Depdikbud. 1979. Kimia untuk SMA Jilid II. Jakarta: Balai Pustaka
       2.   Depdikbud. 1981. Petunjuk Praktikum Ilmu Kimia. Jakarta: Depdikbud.
       3.   Feseden,   Raplh   J.   1994.     Kimia   Organik.   Terjemahan     A.H.
            Pudjaatmaka. Jakarta:Erlangga.
       4.   Green, Linda. 2004. Organic Chemistry.
            http://www.uri.edu/ce/wq/ww/Publications/organichemist.pdf .
            Diunduh pada tanggal 26 Oktober 2011.
       5.   Kholmann, Frederick. 2003. What is organic chemistry.
            http://downloads.vertmarkets.com/files/downloads/39bb8430-1c02-
            4576-bfe8-73475a36ca56/whatiochswol.pdf
       6.   Kristiani, Elisabeth BE. 2010. Petunjuk Praktikum Kimia. Salatiga:
            Fakultas Biologi Universitas Kristen Satya Wacana
       7.   Purba, Michael. 2007. Kimia untuk SMA Kelas XII. Jakarta:Erlangga.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:4512
posted:5/8/2012
language:Indonesian
pages:12