BAB II

Document Sample
BAB II Powered By Docstoc
					                                     BAB II



             LANDASAN TEORI DAN KERANGKA BERPIKIR




A. Landasan Teori



        Landasan teori pada bab ini akan mendeskripsikan teori-teori atau

   pendapat para ahli sebagai dasar dalam penelitian ini yang membahas

   mengenai penyajian penokohan dalam novel Pet Sematary karya Stephen

   King. Adapun landasan teori yang diuraikan oleh penulis adalah yang

   berhubungan dengan fiksi seperti hakikat fiksi, hakikat novel, hakikat

   penokohan, pembentukan tokoh dan teknik penulisan tokoh.



   1.      Hakikat Fiksi



              Istilah fiksi (fiction) dalam pengertian ini berarti cerita rekaan atau

           cerita khayalan. Hal itu disebabkan fiksi merupakan karya naratif yang

           isinya tidak menyaran kepada kebenaran sejarah (Abhrams, 1981 : 61).

           Dengan demikian karya fiksi menyaran pada suatu karya rekaan,

           khayalan, sesuatu yang tidak ada dan terjadi sungguh-sungguh

           sehingga tidak perlu dicari kebenarannya di dunia nyata.
   Sebuah karya imajiner, fiksi menawarkan berbagi permasalahan

manusia dan kemanusiaan, hidup dan kehidupan. Pengarang

menghayati    berbagai       permasalahan     tersebut   dengan    penuh

kesungguhan dan kemudian diungkapkan nya kembali melalui sarana

fiksi sesuai dengan pandangannya.



   Berikut ini adalah pendapat Croft dan Cross (2000 : 45) yang

mengatakan : “A novel is fictious prose narrative or tale presenting a

picture of life, especially of the emotional crises in the life history of

the man and women potrayed”

   Dan tanggapan Kennedy (1996 : 3) mengenai fiksi yaitu : “Fiction

(from the latin fictio, a shaping a counter feiting) is a name for stores

not enterly factual, but at last partially shapped, made up, imagined.

Its true that in some fiction, such as historical novel, unline that in

history book, is of secondary importance”.



   Bagaimanapun fiksi merupakan sebuah cerita khayal dan

terkandung juga di dalamnya tujuan untuk memberikan hiburan kepada

para pembaca disamping ada tujuan estetik. Membaca sebuah karya

fiksi berarti menikmati sebuah cerita, menghibur diri untuk

memperoleh kepuasan batin dalam mengisi waktu luang.

   Mengingat bahwa analisis fiksi dengan pendekatan struktural

membutuhkan pengetahuan yang mendalam tentang pengertian peran,
     fungsi dan segala sesuatu yang berkaitan dengan unsur-unsur tersebut,

     setiap peneliti fiksi wajib memahami segala hal yang berkaitan dengan

     unsur-unsur pembangunan struktur, yang menurut Santon (2002 : 56)

     terdiri atas tema, fakta cerita dan sarana sastra. Fakta cerita meliputi

     alur, penokohan dan latar, sedangkan sarana sastra biasanya terdiri atas

     sudut pandang, gaya bahasa, suasana, simbol-simbol, imajinasi-

     imajinasi, dan juga cara-cara pemilihan judul. Dalam lingkup fiksi,

     fakta cerita berfungsi mengungkapkan tema, sedangkan sarana sastra

     membantu mengungkapkan tema dengan cara memadukan fakta cerita

     dengan tema sehingga makna fiksi tersebut dipahami dengan jelas.

     Pendekatan struktural sering diperkaya dengan mengikutsertakan

     pengetahuan lain sebagai referensi. Referensi yang lazim digunakan

     mencakup latar belakang sejarah dan sosial budaya masyarakat, latar

     belakang hidup pengarang, maupun karya-karya lain oleh pengarang

     yang sama.



2.   Hakikat Novel

        Novel adalah sebuah karya fiksi prosa yang terlaris dan naratif

     yang biasanya dalam bentuk cerita. Penulis sebuah novel disebut

     novelis. Kata novel berasal dari bahasa Italia Novella yang berarti

     “sebuah kisah, sepotong berita”. Pengertian novel menurut Kennedy

     (1966 : 233) dalam bukunya literature “the novels is a picture of real

     life and manner and of the time in which it was written”.
   Novel berasal dari bahasa Italia, novella. Secara harfiah novella

berarti “sebuah barang baru yang kecil” dan kemudian diartikan

sebagai cerita pendek yang berbentuk prosa. (Abhrams, dalam

Nurgiyantoro : 9). Istilah novella memiliki arti yang sama dengan

istilah Indonesia, novelette. Yang diartikan sebagai sebuah karya prosa

fiksi yang panjangnya tidak terlalu pendek.



   Menurut Kennedy (1996 : 231) “A novel is a book length story in

prose, whose author tries to create the sense that, while we read, we

experience actual life”. Sebuah novel dapat menampilkan gambaran

kehidupan, dan kehidupan itu sendiri adalah kenyataan sosial

persoalan kehidupan manusia. Novel juga merupakan bentuk karya

sastra yang sekaligus disebut fiksi seperti yang dikemukakan M.H.

Abhrams dalam buku “A glossary of literary term”(1985 : 147) bahwa

: “Novel is characterized as the fictional attempt to give the affect of

realism by representing complex characters with mixed motives who

are rooted in a social class operated in a highly develop social

structure, interact with many other characters and undergo plausible

and made of experience”.



   Novel berfungsi sebagai dulce et utile, yaitu sebagai penghibur

sekaligus berguna. Dari pengertian dipahami bahwa peranan novel

bukan sekedar menghibur tapi juga mengajarkan sesuatu. Kedudukan
   novel sama dengan ilmu pengetahuan yang lain, yaitu sesuatu yang

   penting bagi kemajuan masyrakat. Dengan karya novel pengarang bisa

   menanamkan nilai-nilai moral dan pesan-pesan tertentu kepada

   masyarakat pembacanya. Subjektifitas yang disampaikan pengarang

   melalui karya novel mampu memberikan motivasi atau dorongan bagi

   suatu perubahan baik secara individu maupun kolektif (masyarakat).



      Novel juga merupakan jenis karya sastra yang beragam prosa

   bersifat fiktif. Tokoh, penokohan, symbol, dan latar merupakan hasil

   imajinasi pengarang. Walaupun hanya sebuah fiksi, novel sebenarnya

   merupakan suatu imitasi dari kehidupan nyata yang kemudian di olah

   sedemikian rupa oleh pengarang sehingga menghasilkan suatu karya

   sastra yang baik. Menurut Sudjiman (1992 : 15), Novel juga dapat

   membuat kita lebih memahami hidup yang sebenarnya tetapi juga

   tidak sama dengan hidup ini. Karena kepiawaian sang pengarang

   menirukan kehidupan nyata dan mengolahnya dengan baik kedalam

   suatu karya sastra, maka yang yang kita peroleh setelah membaca

   sebuah novel adalah kenikmatan dan pemahaman.

3. Hakikat Penokohan

      Istilah “tokoh” menunjuk pada orangnya, pelaku cerita, misalnya

   dari sebuah pengertian novel tertentu kita bias menentukan siapa tokoh

   utama, tokoh antagonis, tokoh protagonis serta jumlah pelaku dalam

   novel tersebut. Watak, perwatakan dan karakter, menunjuk pada
kualitas pribadi seorang tokoh dengan watak tertentu dalam sebuah

cerita. Jones (1968 : 33), penokohan adalah pelukisan gambaran yang

jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita.

   Character adalah tokoh yang ditampilkan dalam suatu karya

naratif, atau drama, yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas

moral dan kecenderungan tertentu seperti yang di ekspresikan dalam

ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan (Abrams 1981 : 20).

   Menurut Stanton (1965 : 17) penggunaan istilah “karakter” sendiri

dalam berbagai literatur Bahasa Inggris menyaran pada dua pengertian

yang berbeda, yaitu sebagai tokoh cerita yang ditampilkan, dan sebagai

sikap, ketertarikan, keinginan, emosi dan prinsip moral yang dimiliki

tokoh-tokoh tersebut. Dengan demikian karakter dapat berarti ”pelaku

cerita” dan dapat pula berarti “perwatakan”. Seorang tokoh dan dengan

perwatakan yang dimilikinya adalah merupakan suatu kepaduan utuh.

   Dengan demikian, istilah “penokohan” lebih luas pengertiannya

dari pada “tokoh” dan “perwatakan” sebab ia sekaligus mencakup

masalah siapa tokoh cerita, bagaimana perwatakan, dan bagaimana

penempatan dan pelukisannya dalam sebuah cerita sehingga sanggup

memberikan gambaran yang jelas kepada pembaca.

   Dalam sebuah karya novel penokohan harus berjalan harmonis dan

saling melengkapi dengan berbagai unsur lain, misalnya dengan unsur

plot dan tema, sudut pandang, latar, gaya amanat, dan lain-lain.
   Pemplotan dan penokohan adalah dua unsur cerita yang saling

mempengaruhi dan menggantungkan. Plot adalah apa yang dilakukan

tokoh dan apa yang menimpanya. Dalam kaitan ini plot merupakan

sarana untuk memahami perjalanan kehidupan tokoh atau menunjukan

jati diri kehidupan tokoh. Adanya kejadian demi kejadian, ketegangan,

konflik, dan sampai ke klimaks yang semuanya merupakan hal-hal

essensial dalam plot yang hanya terjadi jika ada pelakunya. Menurut

Henry James (Abrams, 1981 : 137) mengatakan : “What is character

but determination of incident? What is incident but illustration of

character?”

   Jadi jati diri seorang tokoh ditentukan oleh peristiwa-peristiwa

yang menyertainya, dan sebaliknya peristiwa-peristiwa itu sendiri

merupakan pelukisan tokoh.

   Tema merupakan dasar cerita, gagasan sentral atau makna cerita

yang bersifat mengikat dan menyatukan keseluruhan unsur fiksi

tersebut. Sebagai unsur utama fiksi, penokohan erat hubungannya

dengan tema. Penafsiran tema haruslah di lacak dari apa yang

dilakukan, dipikirkan, dirasakan dan apa yang ditimpakan kepada

tokoh. Dengan demikina penafsiran tema akan selalu mengacu kepada

tokoh.

   Dipandang dari segi peran atau tingkat pentingnya tokoh dalam

sebuah cerita, terdapat tokoh utama cerita (central character, main

character) dan tokoh tambahan (peripheral character). Menurut
pendapat Nurgiyantoro (2007 : 176) tokoh utama adalah tokoh yang di

utamakan penceritaannya dalam novel yang bersangkutan. Ia

merupakan tokoh yang paling banyak di ceritakan, baik sebagai pelaku

kejadian maupun yang dikenai kejadian dan konflik dan selalu

berhubungan dengan tokoh-tokoh lain. Ia sangat mempengaruhi

perkembangan plot secara keseluruhan.

    Ditinjau dari fungsi penampilan, tokoh dapat dibedakan kedalam

tokoh protagonis dan tokoh antagonis. Tokoh protagonis adalah tokoh

yang kita kagumi yang salah satu jenisnya secara popular yang biasa

disebut hero atau tokoh yang bertindak sesuai dengan norma-norma,

nila-nilai, yang ideal bagi kita (Altenbernd dan Lewis, 1966 : 59).

Sementara tokoh penyebab terjadinya konflik disebut tokoh antagonis,

yang bertindak melawan atau bertentangan dengan norma-norma atau

nilai-nilai. Tokoh antagonis beroposisi dengan tokoh protagonis, baik

secara langsung maupun tidak, baik fisik maupun batin. Konflik yang

dialami oleh tokoh protagonis tidak harus hanya yang disebabkan oleh

tokoh antagonis seorang atau beberapa orang individu yang ditunjuk

secara jelas misalnya bencana alam, kecelakaan, atau kerusakan yang

lebih tinggi.

    Menurut pendapat Foster (1970 : 75) berdasarkan perwatakannya,

tokoh cerita dapat dibedakan kedalam tokoh sederhana (simple atau

flat character) dan tokoh kompleks atau tokoh bulat (complex atau

round character).
   Tokoh sederhana merupakan tokoh yang hanya memiliki satu sifat

watak atau satu kualitas pribadi tertentu saja, yang tidak di ungkapkan

berbagai kemungkinan sisi kehidupannya. Sifat dan tingkah laku tokoh

sederhana bersifat datar, monoton, hanya mencerminkan satu watak

tertentu sehingga pembaca dengan mudah memahami dan menganalisa

watak tokoh tersebut. Tokoh yang bersifat familiar, sudah biasa atau

stereotip, memang dapat digolongkan kedalam tokoh sederhana

(Kenny, 1996 : 28).

   Dibandingkan dengan tokoh sederhana, tokoh bulat lebih

menyerupai kehidupan manusia yang sesungguhnya, karena disamping

memiliki berbagai kemungkinan sikap dan tindakan, ia juga sering

memberikan kejutan (Abrams, 1981 : 20-1). Tokoh bulat lebih

menyerupai kehidupan manusia karena manusia pasti memiliki dua sisi

sifat yang baik dan buruk. Biasanya ada satu sifat yang menonjol dari

manusia, akan tetapi karena adanya dinamika kehidupan ada kalanya

dua sifat tersebut muncul bergantian dan mendominasi. Namun walau

dapat menampilkan watak dan tingkah laku yang bermacam-macam

yang bahkan mungkin bertentangan dan sulit di duga kejutan yang

ditampilkan haruslah dapat dipertanggung jawabkan. Dengan kata lain

harus logis sesuai dengan tuntutan kohersi cerita yang mengharuskan

adanya pertautan logika sebab akibat.

   Pembedaan     penokohan     berdasarkan    kriteria   perkembangan

perwatakan terbagi kedalam tokoh berkembang dan tidak berkembang.
Tokoh berkembang (developing character) adalah tokoh yang

mengalami perubahan atau perkembangan perwatakan sejalan dengan

perubahan peristiwa dan plot yang dikisahkan. Dengan kata lain tokoh

tersebut berinteraksi secara aktif dengan lingkunganya sehingga dapat

mempengaruhi watak, sifat dan tingkah lakunya.

   Berbeda dengan tokoh yang berkembang, tokoh tak berkembang

(static character) adalah tokoh yang secara essensial tidak mengalami

perubahan dan atau perkembangan perwatakan sebagai akibat adanya

peristiwa-peristiwa yang terjadi (Altenbernd & Lewis, 1966 : 66).

Tokoh statis memiliki sifat dan watak yang relatif       tetap, tidak

berkembang dari awal sampai akhir cerita.

   Dalam menyajikan dan menentukan karakter (watak) para tokoh

pada umumnya pengarang menggunakan dua teknik dalam karyanya

yaitu teknik langsung (telling) dan teknik tidak langsung (showing).

Teknik telling mencakup karakterisasi melalui penggunaan nama

tokoh, penampilan tokoh, dan penuturan pengarang. Sementara teknik

showing mencakup dialog dan tingkah laku.

   Karakterisasi melalui penggunaan nama tokoh (characterization

through the use of name),nama tokoh dalam suatu karya sastra sering

kali digunakan untuk menumbuhkan gagasan memperjelas serta

mempertajam perwatakan tokoh. Sebuah nama diberikan kepada tokoh

adalah   yang   dapat   melukiskan    kualitas   karakteristik   yang

membedakannya dengan tokoh yang lain. Nama-nama yang digunakan
mengacu pada karakteristik dominan si tokoh, dapat pula mengandung

kiasan (allusion) sastra atau historis dalam bentuk asosiasi, serta

penggunaan nama secara ironis yang di karakterisasikan melalui

kebalikannya (inversion).

   Karakterisasi melalui penampilan tokoh (characterization through

appearance) faktor penampilan tokoh dalam karya sastra memegang

peranan penting dalam suatu karya sastra sehubungan dengan telaah

karakterisasi. Metode ini memberikan kebebasan kepada pengarang

untuk mengekspresikan persepsi dan sudut pandangnya.

   Karakterisasi melalui tuturan pengarang (characterization by the

author) memberikan tempat yang luas dan bebas kepada pengarang

atau narator dalam menentukan kisahnya. Pengarang berkomentar

tentang watak dan kepribadian para tokoh hingga menembus kedalam

pikiran, perasaan dan gejolak batin sang tokoh. Dengan demikian,

pengarang terus-menerus mengawasi karakterisasi tokoh. Pengarang

tidak sekedar mengiringi perhatian pembaca terhadap komentarnya

tentang watak tokoh tetapa juga mencoba membentuk persepsi

pembaca tentang tokoh yang dikisahkannya.
B. Kerangka Berpikir

             Berdasarkan landasan teori yang telah dijabarkan diatas, maka

          tersusunlah kerangka berpikir sebagai berikut :



             Dalam sebuah novel berisi unsur-unsur pokok yang saling

          berkaitan dan membentuk sebuah kesatuan sehingga tercipta sebuah

          karya sastra. Unsur-unsur tersebut diantaranya adalah tokoh dan

          penokohan, tema, alur, plot, dan setting.

             Tokoh dan penokohan merupakan salah satu aspek penting dalam

          novel karena menunjuk pada subjek tertentu sebagai tokoh cerita dan

          penggerak    alur   cerita.   Sedangkan     penokohan   merujuk   pada

          penenmpatan tokoh-tokoh tertentu dengan watak-watak nya sehingga

          suatu cerita dapat menggambarkan kehidupan di dunia nyata dalam

          sebuah karya novel secara utuh. Dengan tujuan agar dapat

          mengapresiasi dan memahami pesan-pesan yang disampaikan dalam

          novel tersebut maka terlebih dahulu harus dapat memahami dan

          mengenal tokoh-tokoh nya dengan cara mengidentifikasi karakternya.

             Berdasakan deskripsi berbagai teori maka ditentukan kerangka

          berpikir penelitian ini. Penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan

          pemahaman mendalam pad novel “Pet Sematary” karya Stephen King.

          Sedangkan yang menjadi objek kajian penelitian ini dibatasi pada

          karakter tokoh utama dan bawahan dalam novel ini.

				
DOCUMENT INFO
Categories:
Tags:
Stats:
views:149
posted:5/5/2012
language:Malay
pages:13