Docstoc

Narkoba dan cara pencegahannya

Document Sample
Narkoba dan cara pencegahannya Powered By Docstoc
					Narkoba dan cara pencegahannya




Nama kelompok:
 1. Dewi yunita
 2. Dian puspitasari
 3. Dini setiyani
 4. Diyan fitasari
 5. Erwin setyawan

                        Kelas: 8g
                       Tugas fiqih


   Jl.banyumas km.04 wonosobo
DAFTAR ISI:


 1.Pendahuluan
 2.Pembahasan
  A.Pendidikan agama
   B.Organisasi
 3. Isi
 4. Penutup
   A.Kesimpulan
   B.Saran-Saran
 5. Daftar Pustaka
Upaya Pencegahan Narkoba
10 Februari 2009 at 4:44 34 komentar



oleh: Muhammad Imam Taqwin*)

1. Pendahuluan

      Dewasa ini kasus narkoba (narkotika dan obat-obatan terlarang) telah merebak di
negara kita, baik sebagai pengedar, pemakai, penjual, bahkan sebagi sebagai bandar.
Kalangan pengonsumsi narkoba mulai dari orang-orang tua sampai pada generasi muda dan
anak-anak. Jenisnya macam-macam, antara lain: ganja, morfin, ekstasi (ineks), lem aibon,
atau shabu-shabu.

     Pemakaian narkoba sangat dilarang di Indonesia (kecuali untuk kepentingan dunia
kedokteran atau pengobatan). Bagi yang kedapatan membawa, menjual, memakai, bahkan
memperjualbelikan narkoba akan dikenakan sanksi pidana karena telah melanggar Undang-
Undang Psikotropika.

     Meskipun orang yang terlibat dalam narkoba diberi sanksi hukum, tapi tidak membuat
peredaran dan pemakainya jera dan terhenti. Secara nasional hampir setiap tahun kasus ini
meningkat jumlahnya. Tahun 1998 pihak kepolisian mencatat 958 kasus, tahun 1999
meningkat menjadi 1.833, tahun 2000 menjadi 3.478, dan tahun 2001 bertambah lagi menjadi
3.617 (Data Polri tahun 1998-2001).

      Menyikapi banyaknya kasus yang tercatat di pihak kepolisian di atas, kita sebagai
generasi muda harus mawas diri jangan sampai ikut terlibat di dalamnya. Untuk itu
diperlukan berbagai upaya pencegahannya. Dalam makalah ini akan dijelaskan upaya
pencegahan narkoba yang barangkali bermanfaat sekali bagi generasi muda.

2. Pembahasan

      Mencegah lebih baik daripada mengobati. Pepatah ini masih berlaku bagi kita generasi
muda yang belum terjamah narkoba. Pencegahan terhadap keterlibatan narkoba dapat
dilakukan dengan dua pendekatan, yaitu: (1) melalui pendidikan agama; (2) organisasi.

2.1 Pendidikan Agama

     Sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945 yang sudah diamandemen pasal 29 ayat (1)
dan (2) dan Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara Republik Indonesia, maka
pendidikan agama merupakan segi pendidikan yang utama yang mendasari semua segi
pendidikan lainnya.

     Pentingnya Pendidikan Agama Islam berguna bagi siswa untuk menempatkan dirinya
dalam pergaulan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga (rumah), di lingkungan masyarakat,
maupun di lingkungan sekolah.
      Menurut Purwanto (2000:158), “Pendidikan agama harus dimulai sedini mungkin sejak
masih kecil”. Pendidikan agama ini harus dimulai dari lingkungan keluarga. Orang tua atau
ayah sebagai kepala keluarga merupakan orang yang bertanggung jawab dalam menanamkan
nilai-nilai dan norma-norma Agama Islam kepada anaknya. Penanaman nilai-nilai agama
Islam dapat berguna bagi anak dalam mempertebal iman dan taqwa. Dengan bekal iman dan
taqwa ini akan membentengi anak dalam menghadapi pengaruh-pengaruhi negatif yang
berkembang di masyarakat.

      Pendidikan Agama Islam termasuk salah satu mata pelajaran yang telah ditetapkan oleh
pemerintah dan memiliki fungsi bagi siswa. Fungsi Pendidikan Agama Islam sebagai salah
satu mata pelajaran yang diberikan di sekolah adalah sebagai pengembangan, penyaluran,
perbaikan, pencegahan, penyesuaian, sumber nilai, dan pengajaran (Depdikbud, 1993:1-2).
Berikut ini diuraikan satu persatu fungsi Pendidikan Agama Islam sebagai mata pelajaran
wajib yang diberikan di sekolah adalah:

a. Pengembangan

      Pendidikan Agama Islam berfungsi sebagai pengembangan yaitu mampu meningkatkan
keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT yang telah ditanamkan dalam lingkungan
keluarga. Menanamkan keimanan dan ketaqwaan ini merupakan kewajiban bagi orang tua
dalam keluarga, sedangkan sekolah hanya berfungsi untuk menumbuhkembangkan diri siswa
dengan melalui bimbingan. Pengajaran, dan pelatihan agar keimanan dan ketaqwaan tersebut
dapat berkembang secara optimal sesuai dengan tingkat perkembangannya.

b. Penyaluran

      Pendidikan Agama Islam berfungsi sebagai penyaluran artinya menyalurkan siswa yang
ingin mendalami bidang agama agar mereka dapat berkembang secara optimal.

c. Perbaikan

      Pendidikan Agama Islam berfungsi sebagai perbaikan artinya dengan Pendidikan
Agama, siswa dapat memperbaiki kesalahannya, kekurangan-kekurangan, kelemahan-
kelemahan yang terjadi dalam meyakini dan memahami ajaran Islam pada kehidupan sehari-
hari.

d. Pencegahan

     Pendidikan Agama Islam dapat mampu menangkal hal-hal yang bersifat negatif dari
lingkungannya atau dari budaya asing yang dapat membahayakan dan menghambat
perkembangan diri siswa menuju manusia Indonesia seutuhnya.

e. Penyesuaian

       Pendidikan Agama Islam memberikan penyesuaian dalam membentuk siswa agar
mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan baik lingkungan fisik maupun lingkungan
sosial dan dapat mengubah lingkungannya sesuai dengan ajaran Agama Islam.
f. Sumber Nilai

     Pendidikan Agama Islam dapat memberikan pedoman hidup untuk mencapai
kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

g. Pengajaran

     Pendidikan Agama Islam dapat berfungsi menyampaikan pengetahuan dan pengajaran
secara fungsional di lembaga-lembaga pendidikan formal, mulai dari SD, SLTP, SMU/SMK,
sampai dengan Perguruan Tinggi. Tujuannya adalah untuk memberikan bekal tentang
pengetahuan keagamaan. Dengan harapan siswa dapat mengkaji lebih mendalam hal-hal
yang berhubungan dengan nilai-nilai keagamaan.

      Dalam praktik sehari-hari terdapat hal-hal yang turut serta mempengaruhi Pendidikan
Agama Islam terhadap siswa. Hal-hal yang mempengaruhi Pendidikan Agama Islam terhadap
perkembangan siswa menyangkut tiga aspek (Depag RI, 2001:42-43). Ketiga aspek itu antara
lain:

a. Aspek keyakinan (Aqidah)

Yang disebut keyakinan (aqidah) adalah sesuatu yang berkenaan dengan keimanan terhadap
Allah SWT dan semua yang telah difirmankan untuk diyakini. Keyakinan seseorang mudah
sekali goyah dan terpengaruh. Hal tersebut sebagai akibat dari lemahnya nilai-nilai keimanan
dan ketaqwaan yang ada dalam diri seseorang.

b. Aspek norma atau hukum (syari’ah)

Yang dimaksud norma atau hukum (syari’ah) adalah aturan-aturan atau ketentuan yang telah
ditentukan oleh Allah SWT yang mengatur tentang hubungan manusia dengan Allah,
manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam semesta. Aspek ini sering
disalahgunakan dalam praktik sehari-hari. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pemahaman
seseorang terhadap norma atau hukum yang mengatur tentang tata hubungan seseorang
berdasarkan nilai-nilai keagamaan.

c. Aspek Perilaku (akhlak)

Yang dimaksud dengan perilaku (akhlak) ialah sikap-sikap atau perilaku yang tampak dari
pelaksanaan aqidah dan syariah. Persoalan akhlak menyangkut perkembangan kepribadian
seseorang. Seseorang akan mempunyai akhlak yang mulia apabila ia telah memiliki dasar-
dasar keimanan dan ketaqwaan. Tetapi, bila dasar keimanan dan ketaqwaan seseorang
rendah, maka rendah pula akhlak dan moral seseorang. Mereka akan berbuat apa saja yang
menurut pikiran dan perasaan walaupun bertentangan dengan ajaran Agam Islam.



     Upaya pencegahan narkoba melalui pendidikan agama dapat dilakukan dengan jalan
mendekatkan diri kepada Allah SWT, yaitu dengan jalan salat. Dalam Al-quran dijelaskan
bahwa “Inna sholata tanha Anil fasyai wal munkar”. Artinya: sesungguh salat itu mencegah
perbuatan keji dan munkar. Dengan salat kita akan terhindar dari segala perbuatan yang akan
merusak kehidupan kita.
      Gunawan (2000:98) menambahkan bahwa meningkatkan keimanan dan ketakwaan
terhadap Tuhan Yang Maha Esa dengan mengikutsertakan dalam kegiatan-kegiatan
keagamaan atau pengajian, agar tidak mudah goyah terhadap berbagai godaan serta cobaan
hidup. Meningkatkan toleransi, bertepa diri, asih terhadap sesama, sadar hukum, dan
meyakini kebenaran hukum karma (barang siapa yang menanam jagung pasti akan
menuainya secara berlipat ganda).

2.2 Organisasi

      Pada dasarnya atau sesuai kodratnya, manusia adalah makhluk sosial/bermasyarakat,
yang menurut Aristoteles disebut “Zoon Politicon”, sehingga pada dasarnya pula manusia itu
tidak dapat hidup wajar dengan menyendiri. Hampir sebagian besar tujuannya ternyata dapat
terpenuhi, apabila manusia itu berhubungan dengan keterbatasan sifat kodrat manusia sendiri,
serta adanya pembatasan-pembatasan yang dihadapi manusia di dunia dalam usaha mencapai
tujuannya.

      Dalam usahanya untuk bermasyarakat itu, maka manusia berkelompok atau memasuki
sesuatu kelompok atau organisasi, juga demi mencapai sesuatu kepuasan lahir/batin serta
peningkatan diri. Kelompok atau organisasi itu kemudian menjadi himpunan manusia dengan
berbagai kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

     Organisasi menurut pengertiannya adalah suatu perkumpulan yang terdiri dari orang-
orang yang memiliki satu tujuan (Moeliono, 1999:2335). Gunawan (2000:123)
menambahkan bahwa dalam organisasi terdapat kerja sama kelompok demi mencapai tujuan
bersama.

      Seseorang memasuki organisasi karena terdorong untuk mencari suatu kepuasan, baik
kepuasan fisik, maupun kepuasan non fisik. Kepuasan fisik menyangkut unsur kebendaan,
seperti ingin mendapatkan uang/imbalan, barang, makanan, dan perumaham. Sedangkan
kepuasan batin berkiatan dengan kepuasan rohani, seperti ingin mendapatkan pujian,
kepuasan, penghargaan, status sosial, dll.

     Seseorang yang bergabung dalam organisasi memiliki fungsi dan tujuan. Menurut
Gunawan (2000:124), fungsi dan tujuan orang yang bergabung dalam organisasi antara lain
sebagai berikut:

           1. Untuk memecahkan masalah kesepian/kebingunan jiwanya. Orang tersebut
              sebaiknya memasuki organisasi, seperti pengajian yang bersifat spritual.
           2. Untuk memecahkan masalah kesulitan belajar misalnya kesulitan belajar
              matematika/Bahasa Inggris, maka ia memakai organisasi/kelompok belajar
              Matematika/Bahasa Inggris.

      Sesungguhnya organisasi itu ada yang bersifat positif dan negatif. Organisasi bersifat
negatif muncul dengan sendiri tanpa ada perintah atau komando yang tidak jelas arah dan
tujuannya, seperti; ganster, kelompok anak mabuk-mabukan, dan kelompok narkoba,
sedangkan organisasi yang bersifat positif memiliki arah dan tujuan yang jelas dan positif,
yaitu untuk mengembangkan dan menyalurkan bakat dan minat. Pada organisasi yangbersifat
positif memiliki Anggaran Dasar dan Rumah Tangga dan aturan-aturan organisasi yang harus
diikuti.
      Banyak organisasi yang bersifat positif yang dapat diikuti kalangan siswa, seperti OSIS
(Organisasi Siswa Intra Sekolah), Sanggar Seni, Pramuka, Kelompok Pencinta Alam, PMR
(Palang Merah Remaja), dll. Semua organisasi yang disediakan itu dapat diikuti oleh siswa
sesuai dengan bakat dan minatnya.

     Bagi siswa sepatutnya dapat memilih organisasi yang bertujuan positif agar terhindar
dari keterlibatannya terhadap narkoba sehingga mereka akan lebih mudah merencakan
kehidupan yang lebih baik.

3. Penutup

3.1 Kesimpulan

       Berdasarkan uraian di atas dapat penulis simpulkan bahwa narkoba (narkotika dan obat-
obatan terlarang) telah melanda di lingkungan sekeliling kita. Jumlah pemakainya meningkat
dari tahun ke tahun. Pemakai narkoba tidak hanya terbatas pada generasai tua saja, tetapi juga
dikonsumsi oleh kalangan generasi muda. Narkoba dapat dihindari dan dicegah dengan dua
pendekatan, antara lain: (1) melalui pendidikan agama; (2) organisasi. Pendekatan Pendidikan
Agama dilakukan untuk meningkatkan ketaqwaan tehadap Allah SWT, yaitu dengan cara
mengerjakan salat lima waktu sehari semalam, dan mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan
(spritual). Pendekatan organisasi dapat dilakukan dengan cara mengikuti organisasi
(perkumpulan) yang memiliki arah dan tujuan yang jelas atau positif. Organisasi yang dapat
diikuti oleh siswa antara lain: OSIS, Karang Taruna, Kelompok Belajar, Pramuka, PMR,
Sanggar Seni, dan lain-lain.

3.2 Saran-saran

     Berikut ini penulis memberikan saran-saran sebagai berikut:

   1. Pencandu narkoba telah nyata-nyata merusak masa depan seseorang, untuk itu perlu
      dihindari.
   2. Hendaknya siswa dapat mengisi hari-harinya dengan mendekatkan kepada Allah
      SWT dan kegiatan-kegiatan lain yang bersifat positif.
   3. Pada orang tua, guru, dan masyarakat sebaiknya selalu memberikan arahan-arahan
      yang berisfat positif untuk menghindari bahaya narkoba bagi generasi muda.
*) Muhammad Iman Taqwin, Siswa Kelas VIII SMP Negeri 43 Palembang, tahun pelajaran
2008/2009.

DAFTAR PUSTAKA

Depag. 2001. Pendidikan Agam Islam bagi Peserta Didik. Jakarta.

Depdikbud. 1993. Proyek Peningkatan Mutu SD, TK, dan SLB. Jakarta: Dirjen Dikdasmen

Gunawan. 2000. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Rinek Cipta.

Moeliono, Anton (Penyunting). 1999. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Depdikbu.

Purwanto, M. Ngalim. 2000. Ilmu Pendidikan Teoretis dan Praktis. Bandung: PT Remaja
          Rosdakarya.
Narkoba Menurut Pandangan Agama
By sahabatnet on August 8th, 2010

       Narkotika dan minuman keras telah lama dikenal umat manusia. Tapi sebenarnya
lebih banyak madharatnya daripada manfaatnya. Untuk itu, hampir semua agama besar
melarang umat manusia untuk mengkonsumsi narkotika dan minuman keras (dalam bentuk
yang lebih luas lagi adalah narkoba)
       Dalam wacana Islam, ada beberapa ayat al-Qur’an dan hadits yang melarang manusia
untuk mengkonsumsi minuman keras dan hal-hal yang memabukkan. Pada orde yang lebih
mutakhir, minuman keras dan hal-hal yang memabukkan bisa juga dianalogikan sebagai
narkoba. Waktu Islam lahir dari terikpadang pasir lewat Nabi Muhammad, zat berbahaya
yang paling populer memang baru minuman keras (khamar). Dalam perkembangan dunia
Islam, khamar kemudian bergesekan, bermetamorfosa dan beranak pinak dalam bentuk yang
makin canggih, yang kemudian lazim disebut narkotika atau lebih luas lagi narkoba.
       Untuk itu, dalam analoginya, larangan mengonsumsi minuman keras dan hal-hal yang
memabukkan, adalah sama dengan larangan mengonsumsi narkoba. Ada dua surat al-Qur’an
dan dua hadits yang coba dilansir disini, yang terjemahannya kira-kira begini :
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban
untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka
jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan“. (QS Al-Maidah :
90)
        Kemudian ayat yang kedua:
“Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di
antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari
mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan
itu)“.(QS Al-Maidah : 91)
        Perbuatan setan adalah hal-hal yang mengarah pada keburukan, kegelapan, dan sisi-
sisi destruktif manusia. Ini semua bisa dipicu dari khamar (narkoba) dan judi karena bisa
membius nalar yang sehat dan jernih. Khamar (narkoba) dan judi sangat dekat dengan dunia
kejahatan dan kekerasan, maka menurut al-Qur’an khamar (narkoba) dan judi potensial
memicu permusuhan dan kebencian antar sesama manusia. Khamar dan judi juga bisa
memalingkan seseorang dari Allah dan shalat.
         Jelas dari hadits di atas, khamar (narkoba) bisa memerosokkan seseorang ke derajat
yang rendah dan hina karena dapat memabukkan dan melemahkan. Untuk itu, khamar (dalam
bentuk yang lebih luas adalah narkoba) dilarang dan diharamkan. Sementara itu, orang yang
terlibat dalam penyalahgunaan khamar (narkoba) dilaknat oleh Allah, entah itu pembuatnya,
pemakainya, penjualnya, pembelinya, penyuguhnya, dan orang yang mau disuguhi.
         Bukan hanya agama Islam, beberapa agama lain juga mewanti-wanti (memberi
peringatan yang sungguh-sungguh) kepada para pemeluknya atau secara lebih umum umat
manusia, untuk menjauhi narkoba.

Incoming search terms:

      Narkoba menurut islam
      narkoba menurut agama beserta ayat al quran tentag larangan narkoba
      Narkoba menurut agama islam
      hadist narkoba
      narkoba menurut pandangan islam
      ayat alquran ttg minuman keras
      minuman keras dan larangan dalam agama
      narkoba menurut agama beserta ayat al quran tentang larangan narkoba
      ayat al-qur`an yang menjelas kan tentang narkoba
      narkoba menurut agama

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:315
posted:5/5/2012
language:Malay
pages:14