Docstoc

makalah filsafat pendidikan

Document Sample
makalah filsafat pendidikan Powered By Docstoc
					                                    BAB I

                               PENDAHULUAN

A.   LATAR BELAKANG MASALAH
          Manusia sebagai objek kajiab didalam fisafat memiliki beberapa aspek
     dalam hakikat sebagai manusia, diantaran hakikat tersebut adalah manusia
     sebagai makhluk Tuhan, manusia sebagai kesatuan badan-ruh, manusia
     sebagai individu, sebagai makhluk sosial dan sebagai makhluk beragagama.
          Dalam kaitan itu pula, Pendidikan sebagai wahana perkembangan
     karakter manusia. Pendidikan pula dikatakan fase memanusiakan manusia.
     Begitu besarnya pengaruh pendidikan bagi manusia di muka bumi ini
     layaklah kajian mengenai hakikat manusia dan pendidikan dikaji sebagai
     salah satu pembahasan penting di dalam filsafat pendidikan. Lebih jelas lagi
     tentang Hakikat Manusia dan Pendidikan ini akan diurai pada bab
     selanjutnya.


B.   RUMUSAN MASALAH
     1. Bagaimanakah hakikat manusia sebagai makhluk Tuhan?
     2. Bagaimanakah peran manusia sebagai hakikatnya sebagai makhluk
        individu dan sosial.


C.   TUJUAN PENULISAN
          Untuk mengetahui dan memahami :
     1. Hakikat Manusia dari berbagai aspek
     2. Pendidikan serta pentingya pendidikan bagi manusia


D.   MANFAAT PENULISAN
     a. Teoritis : sebagai bahan ajar dan media diskusi dan wawasan tambahan
        bagi mahasiswa dan pembaca dalam mata kuliah filsafat pendidikan




                                                                               1
b. Praktis : Bagi mahasiswa sebagai tugas untuk memperoleh Nilai pada
   Mata Kuliah Filsafat pendidikan. Dan sebagai wahana memberikan nilai
   bagi dosen pengasuh.




                                                                     2
                                         BAB II

     HAKIKAT MANUSIA DAN PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF
                   FILSAFAT PENDIDIKAN

A.    HAKIKAT MANUSIA
      1. Pengertian Hakikat Manusia
                Hakikat Manusia adalah seperangkat gagasan atau konsep yang
            mendasar tentang manusia dan makna eksistensi manusia di dunia.
            Pengertian hakikat manusia berkenaan dengan “prinsip adanya”
            (Principle de’etre) manusia. Dengan kata lain, pengertian hakikat
            manusia adalah seperangkat gagasan tentang “sesuatu yang olehnya”
            manusia memiliki karakteristik yang khas, “sesuatu yang olehnya”ia
            merupakan nilai yang unik, yang memiliki suatu martabat khusus.
            (Louius Leahly, 1985).1


      2. Aspek – Aspek Hakikat Manusia
            a. Manusia Sebagai Makhluk Tuhan
                      Manusia      adalah     subjek     yang     memiliki      kesadaran
               (consciousness) dan penyadaran diri (self-awarness). Karena itu,
               manusia adalah subjek yang menyadari keberadaanya, ia mampu
               membedakan dirinya dengan segala sesuatu yang ada di luar dirinya
               (objek); selain itu manusia bukan saja mampu berfikir tentang diri
               dan alam sekitarnya, tetapi sekaligus sadar tentang pemikiranya.
               Namun, sekalipun manusia menyadari perbedaanya dengan alam
               bahwa dalam        konteks keseluruhan alam            semesta manusia
               merupakan bagian daripadanya. Sebab itu, selain mempertanyakan




        1
           Dinn Wahyudin, dkk. Pengantar Pendidikan. Penerbit Universitas Terbuka. Jakarta:
2010, Hal. 1.4

                                                                                         3
      asal usul alam semesra di mana ia berada, manusia pun
      mempertanyakan asal usul keberadaan dirinya sendiri.2
              Terdapat dua pandangan filsafat yang berbeda tentang asal
      usul alam semesta, yakni Evolusionisme dan Kreasionisme.
      Menurut pandangan Evolusionisme alam semesta ada bukan karena
      diciptakan oleh sang pencipta melainkan ada dengan sendiriny,
      alam semesta berkembang dan alam itu sendiri hasil evolusi.
      Sedangkan kreasionisme menyatakan bahwa alam semesta adalah
      sebagai hasil ciptaan suatu creative cause atau pesonality yang kita
      sebut sebagai Tuhan YME.
              Berkenaan dengan masalah diatas, secara umum ada dua
      pandangan yang berbeda tentang asal usul manusia. Menurut
      Evolusionisme beradanya manusia di muka bumi adalah hasil dari
      evolusi. Hal ini dianut oleh Herbert Spencer dan konosuke
      matsushita. Sebaliknya kreasionisme menyatakan bahwa beradanya
      manusia di alam semesta sebagai makhluk (ciptaan) Tuhan. Filsuf
      yang berpandangan seperti ini misalnya Thomas Aquinas dan Al-
      Ghazali.
              Evolusionisme dalam hal ini banyak mendapatkan tentangan,
      sebgai umat beragama hal tersebut juga di luar pandangan yang ada,
      bahkan di dalam metafisika khususnya dalam kosmologi paham
      evolusionisme bertentangan dengan argumen kosmologi yang
      menyatakan bahwa segala sesuatu yang ada nesti mempunyai sebab.
      Adanya alam semesta yang termasuk di dalamnya manusia adalah
      sebab dari sebuah sebab, pasti ada sebab pertama dari sebab lainya.
      Dan sebab pertama itu adalah sang Khalik
              Manusia dalam hal ini berkedudukan sebagai makhluk tuhan
      YME, Fenomena kemakhlukan antara lain berupa perbedaan kodrat


2
Dinn Wahyudin, dkk. Pengantar Pendidikan ..... halaman 1.6

                                                                        4
               dan martabat manusia daripada Tuhanya. Manusia merasa begitu
               kecil di hadapan Tuhan yang Maha Besar. Manusia memiliki
               keterbatasan dan ketidakberdayaan dibanding Tuhanya yang Maha
               Kuasa. Seperti itulah penggambaran hakikat manusia sebagai
               makhluk.


            b. Manusia Sebagai Kesatuan Badan – Roh
                      Berkaitan dengan struktur metafisikan manusia, aspek apakah
               esensial pada diri manusia itu ada empat paham mengenai jawaban
               kesatuan Badan – Roh manusia. Paham tersebut adalah :
                Materialisme (Serba Materi)
                        Gagasan para penganut materialisme Julien de La Mettrie
                   dan Ludwig Feurbach bertolak dari realita sebagaimana dapat
                   diketahui melalui pengalaman diri atau observasi. Karena itu,
                   alam semesta merupakan atau realitas ini adalah serba materi,
                   serba zat atau serba benda.3
                        Aliran serba zat mengatakan          bahwa yang sungguh –
                   sungguh ada itu hanyalah zat atau materi. Zat atau materi itulah
                   hakikat dari sesuatu. alam ini adalah zat atau materi, dan
                   manusia adalah unsur dari alam. Maka dari itu hakikat dari
                   manusia itu adalah zat atau materi 4


                Idealisme (Serba Ruh)
                        Bertolak    belakang    dengan     pandangan      Materialisme,
                   menurut penganut Idealisme bahwa esensi diri manusia adalah
                   jiwanya atau spiritnya atau rohaninya. Hal ini sebagaimana
                   dianut oleh Plato, sekalipun Plato tidak begitu saja mengingkari


        3
           Dinn Wahyudin, dkk. Pengantar Pendidikan........ Halaman 1.8
        4
           Zuhairini, dkk. Filsafat Pendidikan Islam. Penerbit Bumi Aksara Jakarta dengan
Direktorat Pendidikan Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama. Jakarta: 1984,
Hlm. 71
                                                                                       5
               aspek badan, namun menurut dia, jiwa memiliki kedudukan
               lebih tinggi daripada badan. Dalam hubunganya dengan badan,
               jiwa berperan sebagai pemimpin badan. 5
                    Aliran serba ruh berpendapat bahwa segala hakikat sesuatu
               yang ada di dunia ini adalah ruh. Juga hakikat manusia adalah
               ruh, adapun zat itu adalah manifestasi daripada ruh diatas dunia
               ini. Dasar pemikiran aliran ini adalah bahwa ruh lebih berharga,
               lebih tinggi nilainya daripada materi. 6


            Dualisime (Badan dan Jiwa)
                     Materialisme dan Idealisme terlihat dua pandangan yang
               saling bertentangan. Van Peursen mengemukakan faham lain
               dengan tegas bersifat dualistik yakni pandangan dari rene
               descartes, menurut rene descartes esensi diri manusia terdiri
               atas dua substansi yang berbeda (badan dan jiwa) maka antara
               keduanya tidak terdapat hubungan saling mempengaruhi,
               namun demikian setiap peristiwa kejiwaan selalu pararel
               dengan peristiwa badaniah atau senaliknya. Contohnya, jika
               sedih maka secara pararel badan pun tampak murung atau
               menangis.
                     Aliran dualisme menyatakan tubuh tidak berasal dari ruh
               juga sebaliknya ruh tidak berasal dari badan. Hanya dalam
               perwujudanya manusia itu serba dua, jasad dan ruh, yang
               keduanya terintegrasi membentuk yang disebut manusia.
               Antara badan dan ruh terjalin hubungan yang bersifat kausal,
               sebab akibat.




5
    Dinn Wahyudin, dkk. Pengantar Pendidikan ......... dkk Halaman 1.8
6        6
    Ibid, Zuhairini, dkk Hal 72
                                                                             6
        Eksistensialisme
              Aliran ini memikirkan bagaimana hakikat manusia secara
              menyeluruh, tidak berupa ruh, tidak berupa jasad tidak pula
              dualisme namun eksistensi manusia itu sendiri. Yakni cara
              beradanya manusia itu sendiri di dunia ini.


3. Manusia Sebagai Makhluk Individu
          Sebagai, manusia adalah satu kesatuan yang tak dapat dibagi,
   memiliki perbedaan dengan manusia lainya sehingga manusia itu
   bersifat unik dan merupakan subjek yang otonom.
          Manusia mempunyai dunianya sendiri,                tujuan, hidupnya
   sendiri.     Masing-masing      secara     sadar    berupaya     menunjukan
   eksistensinya, ingin menjadi dirinya sendiri atau bebas bercita-cita
   untuk menjadi seorang tertentu dan masing-masing mampu menyatakan
   “inilah aku” di tengah-tengah yang ada. Setiap manusia mampu
   mengambil distansi, menempati posisi, berhadapan, menghadapi,
   memasuki, memikirkan, bebas mengambil sikap, dan bebas mengambil
   tidnakan atas tanggung jawabnya sendiri (otonom).


4. Manusia Sebagai Makhluk Sosial
          Manusia adalah individual, namun demikia n ia tak dapat hidup
   sendirian, tak mungkin hidup sendirian, dan tak pula hidup hanya untuk
   sendiri saha. Manusia hidup dalam keterpautan dengan sesamanya.
   Dalam hidup bersama dengan (bermasyarakat) setipa individu
   menempati kedudukan (status tertentu). Di samping itu, setipa individu
   mempunyai dunia dan tujuan hidupnya masing-masing, mereka juga
   mempunyai dunia bersama dan tujuan hidup bersama dengan
   sesamanya. Selain adanya kesadaran diri.
          Terdapat      hubungan     timbal    balik    antara    individu   dan
   masyrakatnya. Ernest Cassier menyatakan manusia takkan menemukan


                                                                               7
   diri, manusia takkan menyadari individualitasnya, kecuali melalui
   perantaraan pergaulan sosial.
           Hubungan sosial dalam masyarakat bukan merupakan hubungan
   antara subjek dengan objek melainkan subjek dengan subjek lainya.
   Karena hubungan dengan masyarakat adalah mengukuhkan eksistensiya
   masing-masing     maka    hendaknya     terdapat      keseimbangan   antara
   individualitas dan sosialitas pada setiap manusia.


5. Manusia Sebagai Makhluk Berbudaya
           Manusia memiliki inisiatif dan kreatif dalam menciptakan
   kebudayaan, hidup berbudaya dan membudaya. Kebudayaan bukan
   sesuatu yang ada di luar manusia bahkan hakikatnya meliputi perbuatan
   manusia itu sendiri. Kebudayaan bertautan dengan kehidupan manusia
   sepenuhnya, kebudayaan menyangkut sesuatu yang nampak dalam
   bidang eksistensi setiap manusia. Manusia tidak terlepas dari
   kebudayaan bahkan manusia itu baru menjadi manusia karena bersama
   kebudayaananya (van peurson).
           Kebudayaan     memiliki    fungsi   positif     bagi   kemungkinan
   eksistensi manusia, namu demikian apabila manusia kurang bijaksana
   dalam mengembangkanya, kebudayaan pun dapat menimbulkan
   kekuatan-kekuatan yang mengancam eksistensi manusia. Contoh : Abad
   lalu disinyalir telah telah menimbulkan krisis antropologis. Martin
   Buber, antara lain mengemukakan keterhukuman manusia oleh karyanya
   sendiri. Manusia menciptakan mesin untuk melayani dirinya.


6. Manusia Sebagai Makhluk Susila
           Kita ketahui manusia sadar akan lingkunganya, mempunyai
   potensi dan kemampuan untuk berfikir, berkehendak bebas, betanggung
   jawab, serta punya potensi untuk berbuat baik. Karena itulah eksisensi
   manusia memiliki aspek kesusilaan. Menurut Immanueal kant, manusia
   memiliki aspek kesusilaan karena pada manusia terdapt rasio praktis
                                                                            8
   yang memberikan peritah mutlak (categorize imperative). Contoh : jika
   kita meminjam barang milik orang lain maka ada perintah yang
   mewajibkan untuk mengembalikan barang pinjaman tersebut.
          Sebagai makhluk yang otonom atau memiliki kebebasan,
   manusia selalu dihadapkan pada suatu alternatif tindakan yang harus
   dipilihnya. Adapun kebebasan berbuat ini juga selalu berhubungan
   dengan norma-norma moral dan nilai moral yang harus dipilihnya.
   Karena manusia mempunyai kebebasan memilij dan menentukan
   perbuatanya secara otonom maka selalau ada penilaian moral atau
   tuntutan pertanggungjawaban atas perbuatanya.


7. Manusia Sebagai Makhluk Beragama
          Aspek keberagamaan merupakan salah satu karakteristik
  esensial eksistensi manusia yang terungkap dalam bentuk pengakuan
  atau keyakinan akan kebenaran suatu agama yang diwujudkan dalam
  sikap dan prilaku. Hal ini terdapat pada manusia dimanapun.
          Agama adalah satu sistem credo (tata keimanan atau keyakinan)
  atas adanya sesuatu yang mutlak di luar diri manusia, satu sistem ritus
  (tata peribadatan) manusia kepada yang dainggapnya mutlak itu, dan
  satu sistem norma (tata kaidah) yang mengatur hubungan manusia
  dengan manusia dan alam lainya sesuai dan sejalan dengan tata
  keimanan dan tata peribadatan termaksud diatas.
          Manusia hidup beragama karena menyangkut masalah-maslah
  yang bersifat mutlak maka pelaksanaan keberagamaan akan tampak
  dalam kehidupan sesuai dengan agama yang di anit masing-masing
  individu. Hal ini baik berkenaan dengan pelaksanaan tata kaidah yang
  mengatur hubungan manusia dengan alam. Dalam keberagamaan ini
  manusia akan merasakah hidupnya menjadi bermakna. Ia memperoleh
  kejelasan tentang dasar hidupnya, tata cara hidup dalam berbagai aspek
  kehidupanya, dan menjadi jelas pula apa yang menjadi tujuan hidupnya.


                                                                       9
B.   PENDIDIKAN
             Pendidikan berasal dari kata didik, artinya bina, mendapat awalan
     pen-, akhiran a-an, yang maknanya sifat dari perbuatan membina atau
     melatih, atau mengajar dan mendidik itu sendiri. Oleh karena itu pendidikan
     merupakan pembinaan, pelatihan, pengajaran dan semua hal yang
     merupakan bagian dari usaha manusia untuk meningkatkan kecerdasan dan
     keterampilanya.
             Pendidikan secara terminologis dapat diartikan sebagai pembinaan,
     pembentukan, pengarahan, pencerdasarm pelatihan yang ditujukan kepada
     semua anak didik secara formal maupun nonformal dengan tujuan
     membentuk anak didik yang cerdas, berketerampilan atau keahlian tertentu
     sebagai bekal dalam kehidupanya di masyarakat. 7


     a. Hakikat Pendidikan
                 Pendidikan pada hakikatnya menjagkau 4 hal yang sangat
            mendasar, yaitu :
            1. Proses pembinaan akal manusia yang merupakan potensi utama dari
                manusia sebagai makhluk berfikir.
            2. Pelatihan      keterampilan       setelah    manusia       memperoleh        ilmu
                pengetahuan yang memadai dari hasil olah pikiranya.
            3. Pendidikan dilakukan di lembaga pendidikan formal dan nonformal,
                sebagaimana dilaksanakan di sekolah, keluarga dan lingkungan
                masyarakat.
            4. Pendidikan bertujuan mewujudkan masyarakat yang memiliki
                kebudayaan dan peradaban yang tinggi dengan indikator utama
                adanya peningkatan intelektual masyarakat.




      7
          Drs. Hasan Basri, M.Ag. Filsafat Pendidikan Islam. Pustaka Setia. Bandung:2009. Hal. 53
                                                                                              10
b. Filsafat dan Teori Pendidikan
          Hubungan fungsional antara filsafat dan teori pendidikan
   tersebut, secara lebih rinci dapat diuraikan sebagai berikut:
   1. Filsafat, dalam arti analisa filsafat adalah merupakan salah satu
       pendekatan yang digunakan oleh para ahli pendidikan dalam
       memecahkan      problematika    pendidikan    dan   menyusun   teori
       pendidikanya, disamping menggunakan teori ilmiah lainya.
   2. Filsafat juga berfungsi memberikan arah agar teori pendidikan yang
       telah dikembangkan oleh para ahlinya, yang berdasarkan dan
       menurut pandangan dan aliran filsafat tertentu, mempunyai
       relevansi dengan kehidupan nyata.
   3. Filsafat, termasuk juga filsafat pendidikan, juga mempunyai fungsi
       untuk memberikan petunjuk dan arah dalam pengembangan teori
       pendidikan.




                                                                        11
                                    BAB III
                                   PENUTUP


A.   Kesimpulan
     Hakikat Manusia adalah seperangkat gagasan atau konsep yang mendasar
     tentang manusia dan makna eksistensi manusia di dunia. Pengertian hakikat
     manusia berkenaan dengan “prinsip adanya” (Principle de’etre) manusia.
     Dengan kata lain, pengertian hakikat manusia adalah seperangkat gagasan
     tentang “sesuatu yang olehnya” manusia memiliki karakteristik yang khas,
     “sesuatu yang olehnya”ia merupakan nilai yang unik, yang memiliki suatu
     martabat khusus. (Louius Leahly, 1985).


B.   Saran
     Diharapkan agar memahami hakikat manusia dengan sebaik-baiknya.




                                                                           12
                               DAFTAR PUSTAKA


        Dinn Wahyudin, dkk. Pengantar Pendidikan. Penerbit Universitas
Terbuka. Jakarta: 2010


        Zuhairini, dkk. Filsafat Pendidikan Islam. Penerbit Bumi Aksara Jakarta dengan
Direktorat Pendidikan Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama.
Jakarta: 1984..


        Drs. Hasan Basri, M.Ag. Filsafat Pendidikan Islam. Pustaka Setia. Bandung:2009




                                                                                     13

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:797
posted:5/4/2012
language:Malay
pages:13