Docstoc

guru buku dan mutu

Document Sample
guru buku dan mutu Powered By Docstoc
					Guru adalah sebuah profesi yang sangat mulia, kehadiran guru bagi peserta didik ibarat sebuah lilin yang
menjadi penerang tanpa batas juga tanpa membedakan siapa yang diterangi nya demikian pula
terhadap peserta didik. Tetapi, dalam mengemban amanah sebagai seorang guru, perlu kiranya tampil
sebagai sosok profesional. Sosok yang memiliki ilmu pengetahuan dan wawasan, sosok yang dapat
memberi contoh teladan dan sosok yang selalu berusaha untuk maju, terdepan dan mengembangkan
diri untuk mendapatkan inovasi yang bermanfaat sebagai bahan pengajaran kepada anak didiknya.



Guru selalu dihadapkan dengan aktifitas mengajar dan mendidik, proses pembelajaran merupakan inti
dari proses pendidikan. Proses pembelajaran berhasil dan mutu pendidikan dapat meningkat apabila
guru mampu memahami dan menghayati profesinya dan dan tentunya guru yang memiliki wawasan
pengetahuan dan keterampilan sehingga membuat proses pembelajaran aktif, guru mampu
menciptakan suasana pembelajaran inovatif, kreatif, dan menyenangkan.



Guru dalam melaksanakan tugas profesinya dihadapkan pada berbagai pilihan, seperti cara bertindak
bagaimana yang paling tepat, bahan belajar apa yang paling sesuai, metode penyajian bagaimana yang
paling efektif, alat bantu apa yang paling cocok, langkah-langkah apa yang paling efisien, sumber belajar
mana yang paling lengkap, sistem evaluasi apa yang paling tepat, dan sebagainya.



Kualitas guru yang terkadang kurang mampu memenuhi kualifikasi guru profesional, acap kali membuat
produk suatu institusi pendidikan “tidak terpakai”. Alasannya sangatlah jelas, kurang berkualitas.



Hal tersebut kiranya ada beberapa penyebab. Pertama, orientasi nilai pada guru ketika menempuh studi
kuliah, kebanyakan kuliah di Fakultas Keguruan adalah sebagai pelarian semata, karena tidak lulus di
fakultas-fakultas lain yang lebih bonafit menurut mereka, seperti fakultas kedokteran, fakultas teknik
dan lain-lain. Hal ini yang mengakibatkan bahan pengetahuan, pengajaran dan skill hanya diukur
berdasar nilai yang didapat. Sehingga, terkadang semasa menjadi mahasiswa, pendalaman pada
penguasaan materi kurang dikuasai.



Kedua, guru kurang memperluas pengetahuan lewat buku. Singkatnya, ada kecenderungan malas
membaca buku. Dan tampaknya gejala malas membaca buku perlu menjadi sorotan. Sebagai guru,
sudah menjadi kewajiban untuk berlaku dan berpikir cerdas. Membiasakan aktifitas yang bersifat
pengayaan intelektual, seperti diskusi, membaca buku, dan seminar, adalah kebutuhan pokok. Malas
membaca menyebabkan kualitas guru kurang matang. Kerap kala waktu menjadi mahasiswa
bersentuhan dengan buku hanya untuk urusan tugas semata. Selebihnya, menjadi sesuatu yang sulit
untuk direalisasikan.
Membaca, pada dasarnya adalah proses penciptaan generasi intelektual. Dengan kebiasaan membaca,
tentunya secara tidak sadar, kita dilatih untuk berpikir analisis, serta semakin melatih pemikiran yang
bersifat kritis. Ada ungkapan yang sering dikaitkan untuk memahami kecerdasan seseorang. Kecerdasan
seseorang adalah apa yang dibacanya. Dan kebebasan membaca buku sekarang sudah tidak lagi ada
pembatasan. Kita bebas membaca buku apa saja. Semua tersedia, tidak dilarang pula. Berbeda pada
zaman Orde Lama, untuk membaca buku tertentu, seperti buku beraliran kiri dan karya sastra serupa,
sangatlah dilarang, bahkan sampai pada penangkapan. Hanya karena membaca buku.



Kualitas guru dan buku akan meningkatkat peningkatan mutu peserta didik, memang guru dan buku
selalu berkaitan dengan proses peningkatan mutu pendidikan, bukan hanya itu ketiganya sering kali
dijadikan sebagai moto di dunia pendidikan. Mengapa tidak belajar tanpa guru sangat bisa terlaksana
asalkan peserta didik mempunyai keinginan untuk mendapatkan dan membeli serta membacanya.
Sangat mungkin terjadi bahwa seorang murid akan lebih banyak tau dari pada guru. Karena muridnya
lebih aktif menggali informasi-informasi teraktual lewat buku maupun tulisan-tulisan yang tersebar
dijejaring dunia maya. Terlebih zaman sekarang dimana informasi dan teknologi merajai dunia
pendidikan. Oleh sebab itu, sebagai seorang yang harus lebih pintar dan lebih pandai dari anak didik nya,
mau tak mau harus lebih banyak membaca buku dan selalu mengupdate informasi terbaru agar selalu
lebih tau dari pada siswanya. Bila tidak guru tersebut akan merasa tersindir akibat ketidaktahuannya.



Ketiga, tunjangan sertifikasi guru yang menuntut seorang guru tersebut harus profesional bukanlah hal
yang paling efektif dalam menunjang kemajuan mutu pendidikan. Akan tetapi tunjangan itu diberikan
semata-mata hanya untuk menambah kelayakan hidup seorang guru, bukan menjadi jaminan bahwa
pendidikan akan menjadi bermutu. Memang dalam mendapat tunjangan sertifikasi akan menambah
gairah guru dalam mengajar, akan tetapi kualitas seorang guru juga perlu dipertanyakan. Sangat banyak
profesi yang sangat mulia ini dijadikan sebagai alternatif atau pelampiasan (jalan keluar untuk mencari
nafkah) saja. Hal tersebut akan terasa sangat mengerikan dan paling berbahaya, mengapa tidak walau
ditambah tunjangan sertifikasi yang tinggi pun pasti guru tersebut tidak mampu membentuk karakter
kecerdasan anak didiknya.



Sangat banyak terjadi sekarang ini seorang murid tidak lagi menghormati gurunya. Proses belajar
mengajar semata-mata bukan lagi menjadi hal yang wajib dilakukan oleh seorang guru akan tetapi sudah
menjadi suatu bagian dari sunat. Kenapa ? apakah semua ini terjadi karena guru tidak lagi menjadi yang
lebih tau dari siswanya ? atau siswanya menganggap bahwa guru itu tidak lagi diperlukan, yang
diperlukan hanyalah bagaimana jika mereka nantinya menghadapi Ujian Nasional dapat lulus dengan
dibantu oleh pihak sekolah, karena kalau tidak dibantu, sekolah dan daerah yang akan tersudutkan, dan
menggagap proses belajar mengajar adalah suatu formalitas belaka. Tingkat kelulusan pun selalu dipuja
dan diagungkan untuk mencari gengsi dan pujian serta kebanggaan oleh pihak terkait.
Wallahua’lam.(03)

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:5
posted:5/4/2012
language:
pages:3