Docstoc

penanganan pasca panen

Document Sample
penanganan pasca panen Powered By Docstoc
					                  PENANGANAN PASCA PANEN

       Sasaran pembangunan pasca panen diarahkan kepada tiga hal, yaitu
penurunan kehilangan hasil hasil pasca panen, peningkatan mutu hasil dan daya
saing, dan peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani. Tujuan utama dari
peningkatan penanganan pascapanen hasil pertanian adalah mengurangi kehilangan
hasil. Menurunnya kehilangan hasil baik yang disebabkan kehilangan fisik maupun
penyusutan, penurunan kualitas sangat berpengaruh terhadap ketersediaan pakan
bahan baku industri. Lebih lanjut, bagi produk tanaman pangan, kehilangan hasil
berarti ancaman terhadap ketersediaan pangan. Panen yang optimal akan mendorong
peningkatan pendapatan petani dan terpenuhinya kebutuhan industri.
       Penyelamatan hasil saat panen dan pascapanen meningkat dengan
meningkatnya perbaikan penanganan pascapanen, kesadaran petani, peran serta
masyarakat, penggunaan teknologi serta keterpaduan program. Diharapkan dan
penanganan pascpanen hasil pertanian ini dapat menyelamatkan hasil sampel taraf
yang lebih meningkat sekitar 2 – 5%.
       Mutu hasil pertanian diharapkan akan lebih meningkat sehingga daya tahan
dan harga jual akan lebih baik. Disamping itu peningkatan mutu diharapkan sesuai
dengan standart mutu internasional. Penanganan pascapanen yang baik diharapkan
selain peningkatan mutu dan kuantitas hasil panen juga diharapkan meningkatkan
pendapatan petani serta sekaligus hendaknya meningkatkan kesejahteraannya.
       Mutu hasil pertanian hingga saat ini masih sangat bervariasi, mulai dari yang
bermutu sangat baik sangat buruk. Namun demikian jumlah hasil bermutu kurang
baik sangat banyak. Berbagai kasus ditolaknya produk pertanian indonesia diluar
negeri disebabkan rendahnya mutu hasil. Disamping itu, rendahnya mutu akan
menyebabkan daya saing produk lokal dengan impor akan melemah.
       Peningkatan mutu agar sesuai dengan standar mutu internasional adalah
tantangan paling besar dalam pascapanen. Persoalan mutu menyangkut aspek yang
sangat luas yang dimulai dari varietas, lahan, teknologi budidaya, perlindungan
tanaman hingga cara panen dan perlakuan pascapanen berikutnya.
       Diversifikasi hasil pertanian sangat diperlukan untuk paling tidak dua hal,
yakni meningkatkan pendapatan dan mencegah terbuangnya dengan sia-sia hasil
pertanian, baik hasil utama maupun sampingan. Upaya penganekaragaman hasil
harus dilakukan mengingat selain selama ini tidak seluruh hasil pertanian dapat
diserap oleh pasar juga akan membuka pasar baru bagi komoditas tersebut.




                                         1
       Upaya penganekaragaman hasil diharapkan tumbuh dari inisiatif dan
kreativitas petani, memanfaatkan kemampuan setempat dengan harapan akan
menumbuhkan keterkaitan erat dengan penanganan pascapanen komoditas.
       Diharapkan penggunaan teknologi panen dan pascapanen akan semakin
meningkat. Negara-negara pesaing indonesia terutama negara-negara maju telah
menggunakan teknologi tinggi dalam proses panen dan pascapanen, apabila kita
tidak menggunakan teknologi yang tepat maka dapat dipastikan akan semakin.
       Disadari bahwa keterbatasan aksesibilitas petani pada teknologi pascapanen
sangat diperlukan. Disamping itu keterlibatan swasta sebagai produsen sarana dan
teknologi pascapanen juga sangat diharapkan.

Masalah yang dihadapi

       Kelembagaan dalam pengertian perilaku, aturan dan organisasi panen dan
pascapanen ditingkat petani belum berkembang. Pengetahuan dan kesadaran petani
sebagai produsen dan juga sebagai salah satu pelaku pasar masih kurang. Pada
umumnya mereka masih memperlakukan hasil produksinya secara apa adanya.
Beberapa masalah kelembagaan dalam pascapanen hasil pertanian yang dapat
diinventarisasi antara lain : Sistem panen, Panen seringkali dilakukan dengan sistem
kelompok dan individual dimana terjadi proses untuk mengedepankan kecepatan
panen. Hal ini menyebabkan kurang diperhatikannya hasil panen. Sistem panen
beregu/ kelompok perlu dipertimbangkan untuk dikelompokkan.
       Dalam pemanenan      hasil pertanian pada umumnya aktivitas panen tidak
dilakukan petani sendiri, pemanenan yang berperilaku buruk seringkali berbuat
curang, mencuri dan menyembunyikan hasil.
       Umur panen sangat mempengaruhi besarnya kehilangan hasil dan
menurunnya mutu. Panen pada usia hasil yang relatif muda menyebabkan penurunan
mutu yang sangat signifikan. Faktor sosial lainnya. Munculnya pengasag, penjarah
juga masalah yang perlu mendapat perhatian secara lebih seksama. Disamping itu
perubahan perilaku dalam penyerapan teknologi anjuran memerlukan bimbingan
yang terus menerus.
       Sementara itu lokasi usahatani yang terpencar-pencar dengan luasan yang
sempit serta jauh dari lokasi agroindustri yang mengolah, menyebabkan melemahnya
penanganan pascapanen hasil pertanian. Perusahaan agroindustri pada umumnya
tidak mempunyai lahan budidaya sendiri tetapi sangat tergantung pada pasokan
bahan baku dari petani sekitarnya. Keadaan ini mengandung kesulitan manajemen
yang tinggi karena beragamnya masing-masing usaha dan lemahnya kemitraan akibat




                                         2
kurangnya pemahaman pihak petani dan pengusaha agroindustri dalam pengolahan
yang baik.
         Mutu produk olahan sangat terkait dengan aspek penetapan teknologi
pengolahan. Pengolahan hasil pertanian sebagian masih menggunakan teknologi
yang sederhana serta peralatan pengolahan yang belum memadai. Rendahnya
pengguna teknologi ini diakibatkan oleh tingkat kuallitas sumber daya manusia
pelaku masih rendah dan kurang tersedianya teknologi dan peralatan pengolahan
yang ditingkat pedesaan. Lemahnya pembinaan dan penerapan jaminan mutu
mempunyai andil terhadap rendahnya mutu produk yang dihasilkan agroindustri.
Rendahnya kesadaran akan pangan yang bermutu dan aman sebagaimana kalangan
konsumen, sangat berpengaruh terhadap upaya-upaya peningkatan mutu hasil
pertanian.
         Teknologi pascapanen yang telah ada tidak dimanfaatkan oleh petani.
Rendahnya pemanfaatan dini disebabkan :
(a)    Tidak tersedianya alsin ditingkat petani
(b)    Kalupun tersedia manajemen pengelolaannya masih sangat lemah
(c)    Alsin panen dan pascapanen masih sangat mahal
(d)    Adanya masalah sosiologis menyangkut penggunaan teknologi dan tenaga kerja
       manusia. Secara keseluruhan hal ini menyebabkan penggunaan sarana dan
       teknologi panen dan pascapanen menjadi sangat kurang.

Strategi Penanganan di Masa Datang

         Faktor-faktor kunci yang perlu diperhatikan dalam penanganan pascapanen di
masa yang akan datang antara lain :
1. Aspek kebijakan
             Keberpihakan pada kegiatan pascapanen dibandingkan dengan kegiatan
      pra panen lebih diupayakan proporsional. Oleh karena itu perlu partisipasi dari
      semua pihak untuk menangani masalah pascapanen secara menyeluruh dan
      berkesenambungan.

2. Koordinasi Lintas Sektoral
             Pengembangan penanganan pascapanen kedepan dilakukan melalui
      pendekatan koordinasi antar kelembagaan terkait baik ditingkat pusat, daerah
      dan dilembaga penyuluh. Koordinasi tersebut dimaksudkan antara lain untuk
      mensinkronkan program dan pelaksanaan perbaikan penanganan pascapanen agar
      dapat memberikan hasil/dampak yang maksimal.




                                            3
3. Aspek Teknologi Pascapanen,
            meliputi 5 hal :
   a) Meningkatkan peran teknologi pascapanen melalui penambahan jumlah alat
      dan     mesin    pascapanen.   Dalam   penambahan    alsin   tersebut   perlu
      memperhatikan jenis alat dan mencari alat yang secara teknis dan ekonomi
      layak untuk dikembangkan serta kondisi sosial memungkinkan. Dalam
      pengembangan alsin tersebut penyediaan fasilitas kredit alsin dengan tingkat
      suku bunga rendah dan persyaratan lunak perlu dilakukan.
   b) Pengkajian/uji terap alat dan mesin pascapanen. Inovasi baru teknologi
      pascapanen perlu terus dikaji terap dilapangan dan disosialisasi kepada
      pengguna jasa alsin.
   c) Pengkajian kebutuhan riil alsin pascapanen secara spesifikasi dimasing-
      masing daerah dan identifikasi kebutuhan riil alsin pascapanen pada suatu
      wilayah sentra produksi.
   d) Pemasyarakatan penggunaan alsin panen dan pascapanen melalui kampanye
      dan demonstrasi.
   e) Mendorong industri kecil atau usaha perbengkelan / pengrajin alsin
      pascapanen, pengusaha jasa alsin pascapanen dan petani untuk untuk dapat
      bekerjasama dan saling melakukan kemitraan. Mutu produk alsitan
      seyogyanya betul-betul teramin karena itu Good Manufacturing Practices
      harus diterapkan memproduksi alsintan baik pabrik maupun bengkel
      pengrajin. Hal yang juga penting dalam memproduksi alsin pascapnen adalah
      harga jual hendaknya dapat       terjangkau oleh masyarakat, hal ini dapat
      diupayakan melalui peningkatan efisien usaha juga melakukan produksi
      massal. Disamping itu jaminan purna jual dan produsen alsintan harus
      ditepati agar pengguna alsintan tidak mendapat kesulitan apabila memerlukan
      suatu suku cadang alsintan dimaksud.

4. Aspek Kelembagaan
            Pelaku Pascapanen (petani/kelompok tani), usaha yang bergerak dalam
   pascapanen dan industri pengolahan hasil primer, perlu diperkuat agar mereka
   mampu meraih nilai tambah.

5. Aspek Sumber Daya Manusia
            Peningkatan mutu SDM dilakukan melalui pelatihan/kursus, kerjasama
   dengan lembaga pelatihan seperti perguruan tinggi, magang di perusahaan yang




                                        4
   telah maju. Sedangkan pelatihan dilakukan baik kepada petugas maupun para
   pengelola alsintan dan petani.


6. Aspek Permodalan,
           perlu diupayakan adanya skim khusus untuk alsin pascapanen dengan
   persyaratan yang mudah, suku bunga rendah dan dapat dijangkau oleh petani /
   kelompok tani atau kelompok UPJA yang membutuhkan.


Fokus Kebijakan Operasional

       Kebijakan penanganan pascapanen didukung oleh aspek legal dalam bentuk
Keputusan Presiden No.47 Tahun 1986 tentang Peningkatan Penanganan Pascapanen
dan Hasil Pertanian dan Undang-Undang No. 12 Tahun 1992 tentang Sistem
Budidaya Tanaman. Kebijaksanaan operasional penanganan pascapanen secara
terfokus diarahkan pada 2 hal yaitu :
1. Upaya     Penyelamatan    Hasil.     Kebijakan   yang   ditempuh   adalah   upaya
   penyelamatan hasil dan kehilangan dan kerusakan waktu panen dan pasca panen.
   Hal ini mengingat bagwa tingkat kehilangan hasil terutama pada tanaman padi
   tertinggi terjadi pada tahap panen, perontokan, pengeringan dan penggilingan.
   Maka kebijaksanaan operasional penyelamatan hasil lebih dititik beratkan pada
   tahapan panen, perontokan, pengeringan dan di penggilingan. Pada tanaman
   hortikultura, upaya penyelamatan kehilangan hasil dan kerusakan waktu panen
   dan pascapanen dititik beratkan pada tahapan panen, sortasi, pengangkutan dan
   penyimpanan. Sedangkan pada peternakan difokuskan kepada pemanenan,
   penyimpanan dan pengangkutan.
2. Upaya peningkatan mutu. Peningkatan mutu hasil terus diupayakan agar petani
   medapatkan nilai tambah dalam mengelola usaha taninya dan tidak hanya
   menjual hasilnya sebagaimana biasanya. Peningkatan mutu dapat dilakukan
   melalui peningkatan perbaikan pengolahan pascapanen. Untuk mencapai mutu
   hasil yang baik diperlukan adanya standarisasi dan penerapannya dilapangan
   sehingga jaminan mutu hasil dapat dilakukan secara objektif dan ada jaminan
   untuk konsumen untuk memperoleh hal yang benar-benar bermutu. Peran serta
   produsen dan pedagang / eksportir sangat diperlukan dalam pelaksanaan
   standarisasi ini sesuai fungsinya masing-masing.




                                           5
Program Penanganan Panen dan Pasca Panen

       Program penanganan panen dan pascapanen hasil pertanian yang secara
mendasar mempu memperbaiki kondisi yang telah diuraikan sebelumnya, harus
merupakan program meliputi keseluruhan sistem panen dan pascapanen dan
menyangkut seluruh aspek yang terkait yang mulai dari aspek sumberdaya manusia,
budidaya hingga revitalisasi peralatan. Untuk mencapai apa yang diharapkan
terutama turunnya kehilangan hasil dan meningkatkan mutu hasil maka diperlukan
program yang terencana dan berbasis kepada pelaku utama yakni petani.
       Dalam rangka mendukung ketahanan pangan nasional serta meningkatkan
pendapatan petani, salah satu kegiatan yang ditempuh adalah menekan kehilangan
hasil terutama pada saat panen, pengangkutan dan proses pengolahan hasil. Bentuk
kegiatan yang dapat dilakukan dalam rangka penyelamatan hasil : a). Peningkatan
kesadaran akan pentingnya penanganan panen dan pascapanen melalui gerakan
penanganan panen dan pascapanen; b). Pengembangan demostrasi, kampanye dan
latihan pascapanen; c). Pembentukan kelompok kerja pascapanen di tingkat pusat
maupun daerah; d). Pembentukan kelompok panen dan pascapanen di tingkat petani;
e). Pengembangan introduksi teknologi panen dan pascapanen ditingkat petani; f).
Pengembangan unit pelayanan jasa alat dan mesin panen dan pascapanen.
       Peningkatan mutu komoditas pertanian terus diupayakan agar petani
mendapatkan nilai tambah dalam mengelola usaha taninya dan tidak hanya menjual
hasil sebagaimana biasanya. Peningkatan mutu hasil pertanian sejalan dengan era
pasar-pasar bebas yang menuntut jaminan mutu yang baik dan aman untuk
dikonsumsi. Peningkatan mutu dapat dilakukan dengan peningkatan perbaikan
pengolahan pascapanen.
       Untuk mencapai mutu hasil yang baik diperlukan adanya standarisasi dan
penerapannya dilapangan sehingga jaminan mutu hasil dapat dilakukan secara
obyektif dan ada jaminan bagi konsumen untuk memperoleh hasil benar-benar yang
bermutu. Peran serta produsen dan pedagang / eksportir sangat diperlukan dalam
pelaksanaan standarisasi ini sesuai fungsinya masing-masing.
       Perbaikan mutu hasil dimulai sejak prapanen, panen, pascapanen serta
pemasaran. Oleh kerana itu perlu adanya sistem jaminan mutu dalam penerapan
proses produksi dan proses penanganan pascapanen yang konsisten. Dalam rangka
pembinaan mutu hasil pertanian dan olahannya, maka kegiatan yang akan dilakukan
berupa : a). Bimbingan teknis penerapan jaminan mutu; b). Apresiasi SNI dan
standard internasional produk olahan; c). Pemantauan, analisa dan evaluasi mutu




                                         6
produk olahan; d). Pembinaan dan fasilitasi sistem jaminan mutu produk segar dan
olahan.
          Dalam rangka penanganan kegiatan pascapanen dan pengolahan hasil
pertanian kegiatan yang akan dilakukan dibidang pengembangan sarana pertanian
antara lain : a). Mengembangkan peralatan pengering dan lumbung pangan; b).
Bimbingan manajemen pengembangan sarana alat mesin pengolahan hasil
pertanianbaik secara sosial, teknis maupun ekonomis; c). Menjalin kerjasam dengan
peneliti, perekayasa, pelaku usaha pengolahan, petani dan pengusaha alat nesin
pertanian dalam pengembangan sarana pengolahannya; d). Bimbingan teknis dan
pembinaan kelompok usaha pengolahan hasil pertanian dan pembinaan pemanfaatan
UPJA dan lain-lain; e). Bimbingan teknis pemanfaatan modal baik dari skim kredit
PUKK atau dan dari BLM; f). Persewaan bengkel dan persewaan alat dan mesin
pascapanen di tingkat lokalita; g). Peningkatan kemampuan sumberdaya manusia
(pelatihan) dalam bidang pengembangan sarana pengolahan hasil pertanian di
pedesaan.
          Dalam rangka melibatkan pelaku agroindustri besar terutama untuk
memperbaiki penanganan pascapanen usaha tani / ternak, maka program yang
dilakukan antara lain adalah : a). Mendorong terciptanya hubungan usaha yang
berkelanjutan antara pelaku agribisnis petani penghasil produksi dari sektor on farm
sebagai penyedia bahan baku dengan pengusaha besar yang memerlukan bahan baku;
b). Mendorong terciptanya rantai kegiatan off farm antara pelaku industri skala
rumah tangga / kecil sebagai bahan baku untuk industri lanjutan yang dikelola oleg
pelaku agroindustri skala besar. Dengan kedua program tersebut diharapkan sebagai
upaya untuk menjembatani kesenjangan kegiatan on farm dan off farm dapat diatasi,
sekaligus sebagai learning process bagi masyarakat pedesaan untuk beradaptasi ke
dalam era industri pedesaan; c). Merevitalisasi agroindustri yang sudah ada, terutama
pemenuhan kapasitas terpasang bagi agroindustri yang selama ini under capacity; d).
Mendorong tumbuhnya agroindustri baru terutama yang bersifat pada modal dan atau
teknologi tinggi yang berintegrasi dengan produksi petani, pekebun dan peternak
(Agromedia, 2006).


PENGUMPULAN SIMPLISIA

          Pembuatan ialah seluruh rangkaian kegiatan yang meliputi pengadaan bahan
(termasuk penyiapan bahan baku), pengolahan, pengemasan, pengawasan mutu
sampai diperoleh produk jadi yang siap untuk didistribusikan. Jadi penyiapan bahan
baku merupakan tahapan yang awal dan tidak boleh diabaikan, karena akan sangat




                                         7
menentukan mutu produk jadi obat tradisional. Dalam makalah ini kami hanya akan
menjelaskan tentang cara pengumpulan simplisia, yaitu mengenai penyiapan
simplisia, waktu    pemanenan,     cara panen         dan penanganan pasca panen.
Simplisia adalah Bahan alamiah yang digunakan sebagai obat yang belum
mengalami penggolahan apapun juga. Kecuali dinyatakan lain,berupa bahan yang
telah dikeringkan. Bahan simplisia dipenoleh dan “pengepul”. Dalam hal ini ada
yang berbentuk segar atau sudah merupakan simplisia. Untuk itu perlu penanganan
yang khusus tergantung dari bentuknya tadi. Sayang sampai saat ini belum ada
pengolah simplisia yang dapat diandalkan sehingga industri jamu dapat memperoleh
simplisia yang bermutu dari pengolah tersebut.
       Dibagi menjadi beberapa tahap :
 Waktu Panen.
 Cara Panen.
 Penanganan Pasca Panen

1. WAKTU PANEN
    Waktu       pemanenan     yang    tepat   akan    menghasilkan   simplisia   yang
       mengandung bahan berkhasiat yang optimal.
       (a)   Biji (semen) dipanen pada saat buah sudah tua atau buah mengering,
             misalnya biji kedawung.
       (b)   Buah (fructus) dikumpulkan pada saat buah sudah masak atau sudah tua
             tetapi belum masak, misalnya Iada (misalnya pada pemanenan lada,
             kalau dilakukan pada saat buah sudah tua tetapi belum masak akan
             dihasilkan lada hitam (Piperis nigri Fructus); tetapi kalau sudah masak
             akan dihasilkan lada putih (Piperis aIbi Fructus).
       (c)   Daun (folia) dikumpulkan pada saat tumbuhan menjelang berbunga atau
             sedang berbunga tetapi belum berbuah.
       (d)   Bunga (flores/flos) dipanen pada saat masih kuncup (misalnya cengkeh
             atau melati) atau tepat mekar (misalnya bunga mawar, bunga srigading).
       (e)   Kulit batang (cortex) diambil dari tanaman atau tumbuhan yang telah
             tua atau umun yang tepat, sebaiknya pada musim kemarau sehingga
             kulit kayu mudah dikelupas.
       (f)   Umbi Iapis (bulbus) dipanen pada waktu umbi mencapai besar
             optimum, yaitu pada waktu bagian atas tanaman sudah mulai mengering
             (misalnya bawang putih dan bawang merah).




                                           8
      (g)    Rimpang atau “empon-empon (rhizomad) dipanen pada waktu
             pertumbuhan maksimal dan bagian di atas tanah sudah mulai
             mengering, yaitu pada permulaan musim kemarau

2. CARA PANEN
   Pada waktu panen peralatan dan tempat yang digunakan harus bersih dan
      bebas dari cemarandan dalam keadaan kering. Alat yang digunakan dipilih
      dengan tepat untuk mengurangi terbawanya bahan atau tanahyang tidak
      diperlukan. Seperti rimpang, alat untuk panen dapat menggunakan garpu atau
      cangkul
   Bahan yang rusakatau busuk harus segera dibuang atau dipisahkan.
      Penempatan dalam wadah (keran-jang, kantong, karung dan lainlain)tidak
      boleh terlalu penuh sehingga bahan tidak menumpuk dan tidak rusak.
   Selanjutnya dalam waktu pengangkutandiusahakan supaya bahan tidak
      terkena panas yang berlebihan, karena dapat menyebab-kan terjadinya proses
      fermentasi/ busuk.
   Bahan juga harus dijaga dari gang-guan hama (hama gudang, tikus dan
      binatang peliharaan).


3. PENANGANAN PASCA PANEN

            Pasca panen merupakan kelanjut-an dari proses panen terhadap tanaman
  budidaya atau hasil dari penambangan alam yang fungsinya antara lain untuk
  membuat bahan hasil panen tidak mudah rusak dan memiliki kualitas yang baik
  serta mudah disimpan untuk diproses selanjutnya. Untuk memulai proses pasca
  panen perlu diperhatikan cara dan tenggang waktu pengumpulan bahan tanaman
  yang ideal setelah dilakukan proses panen tanaman tersebut. Selama proses pasca
  panen sangat penting diperhatikan keber-sihan dari alat-alat dan bahan yang
  digunakan, juga bagi pelaksananya perlu memperhatikan perlengkapan seperti
  masker dan sarung tangan. Tujuan dari pasca panen ini untuk menghasilkan
  simplisia tanaman obat yang bermutu, efek terapinya tinggi sehingga memiliki
  nilai jual yang tinggi.




                                        9

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:649
posted:5/3/2012
language:
pages:9