Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

limbah elektronik

VIEWS: 165 PAGES: 10

									                          LIMBAH ELEKTRONIK




         Großansicht des Bildes mit der Bildunterschrift: Di Mumbay, daur ulang
limbang elektronik sudah dimulai
         Sampah elektronik meningkat sebanyak 40 juta ton per tahun. Demikian
laporan yang dikeluarkan Badan Perserikatan Bangsa-bangsa untuk Program
Lingkungan UNEP.
         UNEP juga menyebutkan angka penjualan produk elektronik di negara-
negara seperti China, India, maupun di Afrika dan Amerika Latin naik tajam
hingga 10 tahun terakhir. Di Bali, kini berlangsung Konferensi Lanjutan Istimewa
Pihak Konvensi Basel, Rotterdam, dan Stockholm (ExCOP), untuk mensinergikan
tiga konvensi tersebut. Salah satu yang terpenting untuk dicapai adalah
kesepakatan dalam penanganan limbah kimia atau elektronik.


Limbah Elektronik Mengganggu Kesehatan
         Limbah dari telefon genggam, komputer dan barang elektronik lainnya
merupakan ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Demikian pernyataan
organisasi untuk Program Lingkungan PBB – UNEP, dalam sebuah laporan
berjudul “ Daur Ulang dari Limbah Elektronik ke Sumber Daya.“ Laporan
tersebut dirilis dalam Konferensi Lanjutan Istimewa Para Pihak Konvensi Basel,
Rotterdam, dan Stockholm (ExCOP) yang kini berlangsung di Bali. Laporan ini
mengambil data 11 negara berkembang, untuk memperkirakan besarnya sampah
elektronik masa sekarang dan masa mendatang. Misalnya yang berasal dari




                                       1
telefon genggam, printer, komputer, laptop, kamera digital, kulkas, mainan,
televisi dan lain sebagainya.
         Bildunterschrift: Großansicht des Bildes mit der Bildunterschrift: Di
China, Limbah elektronik menempati posiis kedua terbanyak di dunia setelah AS


Lonjakan Limbah Elektronik
         Pada tahun 2020, sampah berupa komputer bekas di Afrika Selatan dan
China melonjak dari 200 persen ke 400 persen, dari tahun 2007. Di India bahkan
melambung hingga 500 persen. AS Tertinggi, Disusul China
         Berdasarkan data UNEP, Amerika Serikat tercatat sebagai produsen
limbah elektronik terbanyak, mencapai 3 juta ton. Sedangkan posisi kedua
diduduki China dengan jumlah 2,3 juta ton.




         Bildunterschrift: Großansicht des Bildes mit der Bildunterschrift: Daur
Ulang telefon genggam di AS


Keterbatasan Dana
         Direktur eksekutif United Nations Environment Programme (UNEP)
atau lembaga PBB untuk program lingkungan Achim Steiner dalam pidato
pembukaan menyatakan penanganan limbah elektronik bukan sekedar hal penting,
melainkan sudah menjadi kebutuhan mendesak. Namun Achim Steiner
mengingatkan perlunya efisiensi pendanaan di tengah keterbatasan bantuan dari
pihak donor:
         „Ini bukan tentang pemotongan biaya, dalam krisis finansial kita harus
menghemat uang. Saya rasa anda semua sudah memahami bahwa ini masalahnya




                                       2
bukan pengurangan dana bantuan melainkan penghematan untuk dimanfaatkan
bagi   pengembangan       sumber     daya    yang   tersedia,   dalam    rangka
mengimplementasikan pembangunan kapasitas di kawasan.“
         Ia menambahkan peningkatan daur ulang sampah elektronik di negara-
negara berkembang dapat juga membuka lapangan kerja yang layak, memotong
emisi gas rumah kaca dan juga memulihkan berbagai logal berharga seperti
perak, emas, nikel, tembaga dan lain-lain.




         Bildunterschrift: Großansicht des Bildes mit der Bildunterschrift: Di
Indonesia, segala sampah tercampur baur, bahkan dengan sampah elektronik
         Indonesia Rentan Akan Masuknya Limbah Elektronik. Menteri
Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta memaparkan Indonesia merupakan
wilayah yang sangat rentan terhadap perdagangan illegal bahan berbahaya, seperti
sampah elektronik. Dimana terdapat 2000 lokasi potensi pintu masuk untuk
perdagangan illegal bahan beracun dan berbahaya. „karena itu kami sangat
percaya bahwa kerjasama internasional dan perjanjian-perjanian pada tingkat
global dan regional merupakan hal yang sangat krusial untuk dapat menangani
masalah-masalah tersebut.“
         Seperti diketahui, Konvensi Basel mengatur pengendalian perlintasan
dan perpindahan limbah berbahaya dan turunannya. Konvensi Rotterdam
mengatur prosedur perdagangan internasional substansi kimiawi berbahaya dan
pestisida sedangkan Konvensi Stockholm mengatur masalah polutan organik yang
mampu bertahan lama di alam.




                                         3
Tips kurangi bahaya limbah elektronik
         Setelah UFD (USB Flash Disk) menjadi jauh lebih murah, disket seolah
tak dilirik lagi menjadi media penyimpanan berkas digital. Dibuang kemanakah
gerangan disket-disket itu, yang selama bertahun-tahun pernah menjadi ”barang
wajib” banyak pengguna komputer? Kemana juga perginya ponsel dan perniknya,
CD, DVD, kabel-kabel, papan kunci “keyboard”, tetikus “mouse”, speaker active,
printer, monitor hingga unit system (chasing dan segala isinya) yang rusak atau
tidak terpakai lagi. Kemanakah gerangan semua itu dibuang?
         Di era konvergensi teknologi informasi dan komunikasi ini, barang-
barang itu cepat beredar dan mendapatkan pasar yang makin luas. Di tingkat
dunia, seperti diberitakan detikINET (27/02/2006), perusahaan periset pasar
iSuppli melansir laporannya bahwa pengapalan hard disk naik 8,3 persen. Tercatat
jumlah pengapalan hard disk menanjak dari 95,4 juta pada kuartal ketiga 2005
menjadi 103,4 juta unit pada kuartal keempat 2005. Dibandingkan tahun
sebelumnya, pengapalan tersebut naik 20,9 persen. Tercatat hanya 85,5 juta unit
hard disk yang dikapalkan di penghujung kuartal 2004. Selain itu, Apple
computer juga berperan meningkatkan penjualan di sektor tersebut. Menurut
iSuppli, kehadiran iPod video dengan hard drive berukuran 1,8 inci turut
mempercepat penjualan perangkat tersebut. Sedangkan laporan Inform, kelompok
periset lingkungan non profit yang bergerak dalam kampanye lingkungan yang
bersih, pernah memperkirakan bahwa di Amerika Serikat saja, pada tahun 2005,
akan terdapat lebih dari 500 juta ponsel bekas (KCM, 09/05/2002).
         Sedangkan di tanah air, Apkomindo (Asosiasi Pengusaha Komputer
Indonesia) dengan optimis menargetkan kenaikan penjualan komputer sebesar 30
persen untuk 2006. Angka itu mengacu pada tingkat kenaikan per tahun atau year
on year (YoY) (detikINET, 08/03/2006). Besaran total penjualan PC di Indonesia
sebagaimana dikutip dari lembaga riset IDC diperkirakan sebesar 1 juta unit pada
2005 dan 1,3 juta unit pada 2006. Dari jumlah ini, PC bermerek lokal menguasai
pangsa pasar sebesar 65 persen. PC luar branded atau built up, hanya meraih 35
persen. (KCM, 22/09/2006). Bagi saya yang pernah melihat langsung tukang sol
sepatu menenteng handphone sambil keliling dan mendengar langsung radio



                                       4
komunitas lokal mengenalkan iPod, laporan iSuppli dan Inform yang disebut di
atas cukup ”valid” bila diproyeksikan untuk menilai pasar Indonesia.
         Ir. Sri Wahyono, MSc, Peneliti Masalah Persampahan di P3TL-BPPT
menulis (Kompas, 14/05/2006) bahwa sebuah studi di AS menunjukkan pada
2004 terdapat sekitar 315 juta komputer yang tidak terpakai lagi alias menjadi
sampah. Nasib akhir dari rongsokan tersebut adalah ditumpuk di gudang, dibuang
di TPA, dibakar di insinerator, atau diekspor ke negara lain. Hanya sekitar 6
persen yang didaur ulang . Di Indonesia, menurutnya, sejauh ini belum ada data
seberapa banyak sampah elektronik yang diproduksinya, tapi diperkirakan
produksinya akan terus meningkat seiring dengan kemajuan zaman.
         Setelah rusak atau tak terpakai lagi, barang elektronik dan piranti keras
telematika itu menjadi limbah. Limbah ialah masalah. Tahukah Anda status
sampah dari rongsokan elektronik dan tingkat bahayanya? Ir. Sri Wahyono, MSc
menguraikan bahwa rongsokan atau sampah elektronik mengandung sekitar 1.000
material, sebagian besar dikategorikan sebagai bahan beracun dan berbahaya (B3)
karena merupakan unsur berbahaya dan beracun seperti logam berat (merkuri,
timbal, kromiun, kadmium, arsenik, dan sebagainya.), PVC, dan brominated
flame-retardants. Merujuk PP Nomor 18 Tahun 1990 jo PP No 85/1999 tentang
Pengelolaan Limbah B3, maka limbah tersebut tergolong limbah B3 berkarakter
racun.
         Sedangkan usaha daur ulang sampah elektronik, masih menurut Sri
Wahyono, juga menghadapi masalah karena dalam prosesnya sulit dan berisiko
tinggi terhadap para pekerja, serta menghasilkan produk-produk sekunder yang
beracun. Pernah dengar kisah Asif? Asif yang bekerja di unit daur ulang limbah
elektronik menghabiskan waktunya seharian mengais rezeki di tempat sampah ini.
Sepanjang waktu itu pula ia menghirup jelaga yang keluar dari pembakaran
limbah komputer. Bergumul dengan sampah ini, kulitnya pun sampai bersisik dan
mengelupas. Namun, pekerjaan ini tidak mungkin ditinggalkan karena tuntutan
kebutuhan untuk hidup yang lebih mendesaknya.
         Kisah Asif ini telah didokumentasikan dan ditayangkan dalam CMS
Vatavaran Environment Film Festival dan diputar kembali sebagai pendahuluan



                                        5
dari simposium tentang “Pengelolaan limbah Elektronik”, Oktober 2006 di
Bangalore, India (KCM, 22/12/2006). Ini seolah menjadi potret gelap dunia
telematika India yang tersohor karena pendidikan dan SDM-nya serta
sumbangsihnya dalam menaikkan taraf kesejahteraan masyarakat.
         Masalah terkait yang pernah menjadi wacana hangat di blog (Direktif)
dan milist (Telematika & Asosasi Warnet) ialah seputar impor komputer bekas.
Pro-kontra bergelut pada dampak lingkungan hidup yang dihasilkan dari
komputer bekas (pihak yang kontra banyak menyebutnya sebagai komputer
sampah) dan keuntungan (termasuk keterjangkauan harga) yang bisa dirasakan
masyarakat Indonesia. Ide menarik muncul dengan mempersyaratkan pembolehan
impor komputer bekas asalkan sudah ada sarana prasarana daur ulang yang siap
menangani dampaknya (sebuah usulan yang sepertinya sulit mengingat masalah
sampah rumah tangga saja masih tertangani dengan sangat buruk). Sementara itu,
di Hongkong, sebagaimana dipubikasikan situs International Telecommunication
Union (ITU), bergulir program Digital Solidarity Fund (DSF) yang salah satu
agendanya meliputi program computer recycling untuk keluarga berpendapatan
rendah (low income families). Salah satu sponsornya yaitu Microsoft, perusahaan
besar yang banyak mendapat ”perlawanan” di berbagai negara dan belakangan
memancing kontroversi dalam penandatanganan MoU dengan pemerintah.
         Asosiasi Pengusaha Komputer Layak Pakai Nasional (Apkomlapan)
pernah menegaskan, komputer impor bekas tidak selamanya merupakan limbah
elektronik (Investor Daily, 28/10/05). Sebab menurutnya, meski bekas, pada
dasarnya proses produksi dan teknologi yang digunakan telah mengikuti
perkembangan terkini. Penelitian tentang keberadaan komputer bekas, baik dari
sisi sosial dan lingkungan belum dilakukan di Indonesia. Apalagi, lanjut dia, para
peneliti dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) juga mengakui
sejauh ini belum ada kajian tentang sampah komputer di Indonesia (sebuah
argumen yang jelas mulai terjawab dengan paparan peneliti BPPT di atas). Masih
dari sumber yang sama, penolakan datang seperti diwakili oleh pengamat
telematika dari Universitas Indonesia (UI) Edmon Makarim. Ia mengatakan, apa
pun alasanya dia tidak setuju kran impor komputer bekas dibuka lagi.



                                        6
         Menurutnya, komputer impor bekas tersebut lebih banyak mudhorot dari
pada manfaatnya. Alasannya ialah mulai dari tidak adanya jaminan akan
mengurangi kesenjangan digital, ketinggalan dalam teknologi, kemampuan
prosesor yang sudah berkurang, hingga persoalan daur ulang dan purna jual juga
patut dipertanyakan.
         Menurut Richard Mengko, Staf Ahli Bidang Teknologi Informasi
Kementrian Negara Riset dan Teknologi (KNRT), di Hong Kong ada ada
perusahaan yang bisa kaya berkat bisnis pengolahan limbah barang elektronik
(Sinar Harapan, 10/10/2005). Sebuah penilaian pasar dengan judul Business
Opportunities in Asia for the North Carolina Recycling Industry yang
dipublikasikan tahun 1996 di Amerika menyatakan bahwa pasar untuk teknologi
lingkungan berkembang cepat, tetapi pasar untuk perlengkapan dan layanan daur
ulang di Indonesia masih immature. Kepekaan lingkungan (environmental
awareness) masih rendah dikarenakan angka pertumbuhan ekonomi yang
mengesankan (ingat, ini ditulis sebelum krisis moneter), di mana telah
menyebabkan kemunculan kelas menengah ke atas dalam jumlah besar dengan
tingkat konsumsi yang lebih kuat. Laporan itu juga memberi catatan atas masalah
manajemen limbah padat (solid waste management problems) yang akut, salah
satunya pada dunia elektronik. Sayang, keadaan sepertinya tak jauh berubah
setelah sekian tahun. Penanganan limbah elektronik telematika Indonesia masih
saja menjadi PR besar. Adapun isu impor komputer bekas sendiri tampaknya
luput dari perhatian.
         Singkat kata, dalam konteks Indonesia, perlu ada antisipasi sejak dini
sebelum masalah semakin membesar dan sulit terkendali. Kebiasaan lama,
meributkan masalah ketika sudah sangat parah, semestinya perlahan ditinggalkan.
Dunia industri dan pemerintah memegang porsi besar dalam mengupayakan
langkah-langkah solutif.
         Industri seharusnya menjadi pihak yang pertama kali diminta inisiatifnya
untuk memikirkan solusi. Bisa dianggap, itulah bagian dari tanggungjawab
industri terhadap aspek kelestarian lingkungan hidup. Apalagi untuk produk
telematika biasanya sudah terbangun jalur distribusi yang kuat dari masing-



                                       7
masing merek dagang. Konkritnya, salah satu usaha untuk meminimalisir sampah
elektronik-telematika ini adalah dengan menerapkan program extended producer
responsibility (EPR), suatu program di mana produsen bertanggung jawab
mengambil kembali (take back) produk-produk yang tidak terpakai lagi
(Wahyono, Kompas, 14/05/2006). Tujuan dari EPR adalah untuk mendorong
produsen meminimalisir pencemaran dan mereduksi penggunaan sumber daya
alam dan energi dari setiap tahap siklus hidup produk melalui rekayasa desain
produk dan teknologi proses. Produsen harus bertanggung jawab terhadap semua
hal, termasuk akibat dari pemilihan material, proses manufaktur, pemakaian
produk, dan pembuangannya. Sehingga sangat memungkinkan bagi industri untuk
menerapkan kebijakan penampungan kembali barang rusak limbah melalui
distributornya. Selain sebagai bentuk tanggung jawab sosial, mekanisme itu harus
diintegrasikan dengan sustem pelayanannya. Timbal baliknya, apresiasi konsumen
terhadap industri bersangkutan pun dapat meningkat. Yang terakhir ini lebih
terkait ke usaha mengedukasi konsumen agar memilih produk ramah lingkungan.
         Pemerintah dan DPR juga semestinya ambil bagian untuk merumuskan
kebijakan   yang   menaungi     terkelolanya   limbah   telematika   itu   secara
bertanggungjawab. Bentuk-bentuk rewards and punishments harus diperjelas agar
industri elektronik telematika ikut terpacu untuk menaati aturan. Tentu kebijakan
itu mesti diselaraskan dan dipadukan dengan kebijakan lain yang terkait, seperti
UU Lingkungan Hidup.
Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar pernah meminta kalangan
industri mengumpulkan baterai bekas pakai yang tidak terpakai lagi guna
menekan pencemaran dan menciptakan lingkungan bersih. Menteri mengusulkan
dilakukannya pelibatan masyarakat yakni dengan memberi insentif, misalnya
untuk setiap 100 baterai kosong diganti buat makan bakso (TempoInteraktif,
21/05/ 2006). Tapi tentu saja, ”permintaan” (bukan perintah!) Menteri yang
dituturkan pada salah satu seremoni penghargaan lingkungan hidup kepada salah
satu perusahaan elektronik itu, pastinya sangat jauh dari memadai untuk
menyelesaikan persoalan lingkungan hidup yang mungkin ditimbulkan dari
limbah elektronik dan telematika.



                                       8
Di dunia internasional, event 2006 IEEE International Symposium on Electronics
and the Environment & the IAER Electronics Recycling Summit (8-11 Mei 2006,
San Fransisco) jelas menggambarkan perhatian besar terhadap permasalahan ini.
Lebih konkrit lagi, usaha Masayarakat Eropa yang telah menyusun draf Undang-
undang (UU) sampah elektronik berdasarkan konsep EPR patut diteladani. Dari
kalangan industri, inisiatif Dell (http://www.dell.com/earth) dengan program
seperti Recovery & Recycling dan Plant a Tree for Me layak diacungi jempol.
Tulisan ini sekedar alarm pengingat yang berbunyi di waktu ke sekian kalinya,
sebelum suatu saat kita tiba-tiba kelabakan dengan pasokan melimpah ruah dari
limbah yang lebih gagah perkasa dalam aspek bahaya. Sekarang saja kita hampir
kalap dan terus dirundung duka dengan terpaan musibah banjir, longsor, luapan
lumpur, dan kebakaran hutan. Banyak dari kejadian itu untuk tidak mengatakan
semuanya jelas-jelas karena ulah brutal kita terhadap alam. Jangan sampai
persoalan limbah elektronika - telematika ini kita sepelekan dan abaikan sehingga
kita lagi-lagi hanya bisa terkejut dan saling menyalahkan ketia ia mencapai titik
nadirnya. Gerak terpadu segera dari pemerintah, DPR, swasta, dan komunitas
sangat diperlukan, untuk menjernihkan aliran keruh dari banyak anak sungai
persoalan elektronika -telematika di tanah air ini.




Setiap tahun, antara 20-50 juta ton limbah elektronik (e-waste) dibuang tanpa
diproses dengan cara yang ramah lingkungan, menurut data PBB. E-waste bisa
menjadi ancaman serius bagi lingkungan dan manusia karena ia adalah sumber




                                          9
toksin, termasuk zat karsinogenik. Setelah dibuang, zat dari e-waste masuk ke
tanah, kemudian ke air, dan akhirnya dapat mencemari rumah kita melalui keran
air.
Ingat robot lucu di film Wall-E? Di film tersebut, manusia sudah pindah dari
dunia ke luar angkasa untuk menghindari sampah yang sudah mengancam
kehidupan seluruh dunia. Jangan-jangan hal itu akan menjadi kenyataan!
Apa yang kita bisa lakukan untuk menghindari ancaman e-waste?
      Mengurangi pembelian alat elektronik yang tidak menjadi prioritas.
      Beli produk yang dapat di-upgrade dengan mudah.
      Kalau tidak rusak, jangan beli HP baru dong! Emang berapa banyak HP yang
       dibutuhkan?
      Pilih baterai yang bisa diisi ulang (rechargeable). Walaupun sedikit lebih
       mahal, tapi bisa dipakai ulang.
      Olah e-waste kamu secara ramah lingkungan. Baterai dan CD bekas bisa
       diantar untuk didaur ulang




                                          10

								
To top