Docstoc

TAFSIR AL

Document Sample
TAFSIR AL Powered By Docstoc
					TAFSIR AL – BAQOROH AYAT 1-5

1. Alif laam miin

Penjelasan Kalimat
Alif laam miin ini adalah rangkaian huruf hujaiyah dan surat-surat Al-Qur’an yang diawali
dengan huruf seperti ini berjumlah 29 surat.
Umumnya para mufasir (pakar tafsir) tidak menjelaskan maksud huruf-huruf ini dan cukup
mengatakan, “Hanya Allah yang mengetahui maksudnya (Allahu A’lamu bimurodihi).
Hal itu disebabkan tidak ada sama sekali berita valid dari Nabi Saw mengenai maksudnya.
Bahkan Abu Bakar dan Ali bin Thalib menyebutkan bahwa tidak perlu mencari tafsiran huruf-
huruf itu karena bagian dari ayat mutasyabihat (ayat yang sulit dijelaskan dan hanya Allah saja
yang mengetahuinya), dan cukup menyakini saja bahwa itu bagian dari Al-Qur’an.
Dengan kata lain sebagian pakar tafsir menyerahkan pengertiannya kepada Allah karena
dipandang Termasuk ayat-ayat mutasyabihat dan tidak perlu dikaji lebih lanjut, karena seperti
komentar as-Sa’di, pakar tafsir kontemporer;
“ Tidak perlu dibahas lebih lanjut karena tidak adanya berita valid dengan menyakinkan bahwa
Allah tidak mungkin bergurau dan pasti ada hikmah di balik itu.”
Namun banyak pula pakar tafsir menafsirkan huruf-huruf itu karena memang nalar akan selalu
mencari rahasia atau bahkan hikmah di balik huruf-huruf itu, Meskipun terkadang pandangan
mereka berlainan, terkadang disepakati oleh pakar lainnya dan sebagainya. Dan tampaknya tidak
salah jika ada beberapa pakar tafsir tradisional yang mencoba mengukapkan makna huruf-huruf
itu.

Beberapa Pandangan Tafsiran Alif Lam Mim
A. Bahwa Allah memerintahkan untuk tadabbur sekaligus memahami Al-Qur’an dan tidak
mungkin ada kata dalam Al-Qur’an yang tidak bisa ditafsirkan karena AL-Qur’an sendiri selalu
memerintahkannya seperti anjuran beberapa ayat:

“Sesungguhnya Kami menjadikan Al-Qur’an dalam bahasa Arab supaya kalian berfikir.”(QS.
Az-Zukhruf:3)

“ (Al-Qur’an) diturunkan dengan (menggunakan) bahasa arab yang jelas.” (QS. Asy-Syu’ara:
195)

Bagi sebagian pakar tafsir yang menyetujui pandangan ini munculah beberapa penafsiran tentang
huruf-huruf ini antara lain:

1. Huruf-huruf ini biasa digunakan masyarakat arab di dalam sajak/syair/prosa sebagai penganti
kalimat-kalimat. Namun pandangan ini dibantah karena ketidak tahuan mana kalimat yang
dibuang dan juga tidak ada satupun sumber yang valid baik dari Nabi, maupun atsar sahabat,
mana kalimat yang dibuang tersebut dan apa bentuknya.

2. Huruf- huruf dimaksudkan sebagai kalimat yang menyuarakan tantangan bagi yang
meragukan Al-Qur’an. Seakan-akan ada tantangan untuk membuat bandingan Al-Qur’an. Dan
maknanya seperti ini:
“ Huruf Alif Lam Mim ini bukanlah huruf –huruf yang asing bagi kalian yang kalian gunakan
sehari-hari, kalian sendiri menganggap diri kalian ahli balaghah dan fushah (ahlibahasa; ahli
dalam syair/prosa). Kami lah yang menciptakan Al-Qur’an ini, dan cobalah kalian menciptakan
bandingan Al-Qur’an itu, dan pastinya kalian tidak akan mampu meskipun hanya satu ayat.”

3. Bahwa huruf-huruf ini merupakan rumus yang biasa digunakan oleh masyarakat arab waktu
itu. Alif itu tanda atau rumus dari kalimat Allah, huruf Lam tanda dari Jibril, dan Mim tanda dari
kalimat Muhammad.

B. Sebagian menafsirkanAlif menunjukan kata ana (saya/Allah). Lam menunjukan kata Allah,
dan Mim menunjukan lebih tahu (A’lamu). Jadi artinya,” Saya (Allah) lebih mengetahui
maknanya. “

C. Ada yang menyebutkan bahwa huruf-huruf itu hanyalah nama dari surat yang bersangkutan.
Seperti yang dikemukan oleh pakar tafsir legendaris Az-Zamaksyari dan disetujui oleh banyak
pakar tafsir lainnya. Argumen yang mereka kemukakan adalah sebuah hadist:

“ Sesungguhnya Rasulullah Saw pernah membaca di shalat subuh di hari jum’at Alif Lam Mim
(surat) Sajdah dan (surat) Hal Ata ‘alal Insan.” (HR. Bukhari Muslim)

D. Sebagian menfasirkan sebagai huruf sumpah (Qasam), yaitu kalimat sumpah yang digunakan
untuk menunjukan Ke maha kemualiaan dan keagungan Allah Swt.
Jadi huruf-huruf ini jika diartikan:
“Demi Allah. Kitab ini tidak ada keraguan sedikitpun di dalamnya,”

Huruf laa sendiri (dari kalimat Laa Raiba Fih) adalah jawaban kalimat sumpah (Qasam).
Penafsiran ini berpedoman pada riwayat Ikrimah (seorang tabi’in, murid Ibnu Abbas) dari
riwayat Ibnu Abi Hatim dan diriwayatkan pula oleh ath-Thabari dengan sanad yang sahih yang
menyebutkan bahwa Alif Lam Mim adalah huruf sumpah.

E. Jika memukingkan mengabungkan semua pandangan yang ada, artinya bisa diartikan bahwa
Alif Lam Mim ini adalah nama lain dari surat itu, karena terkadang satu kata dalam Al-Qur’an
bisa diartikan dengan banyak arti. Dan bisa juga diartikan bahwa huruf-huruf itu bisa berarti
salah satu dari sifat-sifat Allah.

Kesimpulan
1. Sebagian pakar yang tidak menfasirkan huruf-huruf ini karena tidak ada satupun keterangan
yang sahih yang valid mengenai arti dari huruf-huruf dan meyerahkan sepenuhnya pengertiannya
pada Allah Swt.
2. Sebagian lain mencoba menafsirkan huruf-huruf tersebut karena Al-Qur’an sendiri selalu
memerintahkan bagi para peneliti dan pengkaji Al-Qur’an untuk tadabbur dan merenungi
maknanya. Jika ada sebagian ayat yang tidak bisa ditafsirkan bagaimana mungkin bisa tadabbur
dan merenungkan hikmah dibaliknya.
3. Sekalipun banyak tafsiran tentang huruf-huruf itu, namun jangan dipastikan bahwa itu adalah
tafsiran yang tepat atau sebuah kebenaran. Karena tafsiran ini masih dalam kategori zhani (hanya
prasangka belaka) artinya bisa mengandung kebenaran atau salah. Namun salah disini bukan
berarti dosa, tapi bisa jadi terbantah oleh pandangan-pandangan berikutnya.
4. Ada pandangan menarik dari pakar tafsir kontemporer, Mutawali asy-Sya’rawi, bahwa kita
tidak wajib mencari jawaban huruf-huruf seperti ini, karena hal ini diluar perintah dasar, yaitu
membaca, taddabur dan akhirnya merngamalkannya.


2. “ Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.”

Arti Kata
( ) Kata benda ini (isim Isyaroh) meskipun berarti sesuatu yang jauh, namun diartikan ini (‫) ه‬
yaitu sesuatu yang dekat. Ini menunjukan mulia dan agungnya Al-Qur’an ini.
      Al-Qur’an
(      ) Tidak ada keraguaan bahwa Al-Qur’an berasal dari Allah Swt yang diwahyukan kepada
  abi Saw. Huruf ( ) adalah Laa naïf li jinsi dan khabarnya wajib dibuang.
(        ) Petunjuk menuju kebahagiaan , kesuksesan dunia akhirat
(      ) Bagi yang bertakwa, takwa adalah takut dari azab Allah kemudian manifestasi ketakutan
itu diaplikasikan dalam bentuk banyak melakukan taat dan menjauhkan semua larangannya.

Arti Ayat
Allah Saw memberi pernyataan bahwa Al-Qur’an itu adalah kitab milik-Nya yang diurunkan
kepada abi Saw. Isi Qur’an ini tidak ada sedikitpun kepalsuan apalagi kebohongan bahwa
Qur’an ini bukan dari Allah. Sebaliknya Al-Qur’an ini merupakan kunci sukses, sumber hidayah,
petunjuk bagi orang yang beriman dan dan bertakwa untuk memperoleh kebahagiaan dunia
akhirat.

Kesimpulan Ayat
1. Menguatkan Iman kepada Allah Swt itu dengan cara mempelajari Al-Qur’an dan mempelajari
sunnah Nabi Saw
2. Hidayat atau meminta petunjuk itu dengan cara mempelajari Al-Qur’an itu sendiri.
3. Ayat ini menjelaskan kemuliaan orang yang bertakwa, jadi orang yang takwa itu pasti banyak
membaca, mempelajari, dan mengkaji Al-Qur’an. Adapun aplikasi wejangan Al-Qur’an itu
pastilah akan dimiliko oleh seseorang yang disebut dengan manusia Takwa.


2. “(Yaitu) mereka yang berimankepada yang ghaibyang mendirikan shalatdan menafkahkan
sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.”

Arti Ayat
1. Orang yang takwa itu adalah orang-orang yang mempercayai semua ajaran yang dibawa oelh
Nabi Saw. Baik itu tentang masalah ghaib seperti adanya surga, neraka, hari kiamat dll. Atau
tentang sejarah generasi sebelumnya, generasi akan datang apapun kebaikan atau keburukan
mereka.
2. Orang takwa itu juga suka mengerjakan shalat, dan tidak cukup hanya mengerjakan saja,
namun harus diperhatikan pula syarat wajib, atau etika shalat itu sendiri, ternasuk anjuran untuk
khusuk. Dengan demikina shalat itu nantinya akan menolak semua keburukan dan kekejina bagi
yang melaksanakannya.
3. Orang takwa itu juga menunaikan kewajiban zakat, sering memberi sedekah, ringan tangan
membantu kesulitan orang lain, atau sering melakukan kebajikan lainnya. Perintah mengeluarkan
zakat dan sedekah inipun hanya sebagian kecil saja dan bukan seluruh harta karena rizeki itu
dasarnya milik Allah, jadi jangan pelit karena ia bukan milik kita.


3. “Dan mereka yang beriman kepada kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan
Kitab-Kitab yang telah diturunkan sebelummu[, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan)
akhirat”

Arti Ayat
Orang Mukmin itu mempercayai seluruhnya apa yang dibawa oleh Nabi Saw, begitu pula
beriman ada kitab-kitab lainnya yang diturunkan sebelum Al-Qur’an. Orang takwa itu beriman
kepada semua Nabi tanpa terkecuali, dan tidak disebut mukmin jika hanya mempercayai
sebagian dari para Nabi itu.


5. “Mereka Itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang
yang beruntung.”

Arti Ayat
Mereka inilah yang akan mendapat kebahagiaan karena mereka mau menjalankan semua
perintah Allah Swt dan mau menjauhi semua larangan-Nya. Mereka akan akan menjadi manusia
sukses, manusia paling berbahagia baik di dunia maupun di akhirat.

Daftar Pustaka
1. Abu Zakariyya, Ayusarul Tafasir, hal. 16/I
2. Abdurahman As-Sa’di, Taysirul Karim ar-Rahman, hal. 26
3. Mustapha al-Adawi, At-Tashil li Ta’wil At-Tanzil, hal 146- 149
4. Az-Zamakhsyari, Al-Kasyaf
5. Ibnu Jarir ath-Thabari, Tafsir Thabari Jami’ Al-Bayan ‘an Ta’wil Ayi Al-Qur’an
6. Syeikh Muatawali Asy-Sya’rawi, Tafsir asy-Sya’rawi
7. Prof. Dr. Wahbah Zuhayli, Tafsir al-Wasith
8. Prof. Dr. Quraish Shihab, Tafsir Misbah Vol. I
9. Dr. Hikmat Ibn Yasin, Tafsir as-Sahih
10. Dr. Muhammad Thayib Ibrahim, I’rabul Qur’an
Tafsir Surat Al
Ikhlas
Friday, 27 April 2007 00:49
Tafsir Surat al-Ikhlas (sumber: Tafsir Fi Zhilalil-Qur†™an) Dengan menyebut nama Allah
Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. †œKatakanlah, Dialah Allah Yang Maha Esa.
Allah adalah tuhan yang bergantung kepada-nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula
diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan dia†• Surah yang kecil ini
nilainya sebanding dengan sepertiga Al-Qur†™an, sebagaimana disebutkan dalam beberapa
riwayat yang shahih. Imam Bukhari meriwayatkan bahwa telah diceritakan kepadanya oleh
Ismail, dari Malik, dari Abdur Rahman bin Abdullah bin Abdur Rahman bin Abu
Sha†™            ah,
          sha†™ dari ayahnya, dari abu Sa†™d, bahwa seorang laki-laki lain membaca
†œQulhuwallahu ahad†• berulang-ulang. Pada keesokan harinya ia datang kepada Nabi saw.
Melaporkan hal itu, seakan-akan ia mempersoalkannya, kemudian Nabi bersabda, †œDemi
Allah yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, sesungguhnya surah ini sebanding dengan
sepertiga Al-Qur†™    an.†• Tafsir Surat al-Ikhlas (sumber: Tafsir Fi Zhilalil-Qur†™an)
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. †œKatakanlah,
Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah tuhan yang bergantung kepada-nya segala sesuatu.
Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan
dia†• Surah yang kecil ini nilainya sebanding dengan sepertiga Al-Qur†™an, sebagaimana
disebutkan dalam beberapa riwayat yang shahih. Imam Bukhari meriwayatkan bahwa telah
diceritakan kepadanya oleh Ismail, dari Malik, dari Abdur Rahman bin Abdullah bin Abdur
Rahman bin Abu Sha†™                 ah,
                             sha†™ dari ayahnya, dari abu Sa†™d, bahwa seorang laki-laki
lain membaca †œQulhuwallahu ahad†• berulang-ulang. Pada keesokan harinya ia datang
kepada Nabi saw. Melaporkan hal itu, seakan-akan ia mempersoalkannya, kemudian Nabi
bersabda, †œDemi Allah yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, sesungguhnya surah ini
sebanding dengan sepertiga Al-Qur†™an.†• Ini bukanlah suatu hal yang aneh. Karena
keesaan yang Rasulullah perintahkan untuk memproklamirkannya, †œQulhuwallahu
ahad†•, Dialah Allah Yang Maha Esa, adalah aqidah bagi hati, penafsiran bagi wujud semesta,
dan manhaj bagi kehidupan. Karena itu, surah ini mengandung garis-garis pokok yang sangat
luas mengenai hakikat Islam yang besar. †œQulhuwallahu ahad†• adalah lafal yang lebih
halus dan lebih lembut daripada kata †œAhad†•, karena ia menyandarkan kepada makna
†œWahid†• bahwa tidak ada sesuatupun selain Dia bersama Dia dan bahwa tidak ada
sesuatupun yang sama dengan-Nya. Ini adalah ahadiyyatul-wujud, keesaan wujud. Karena itu,
tidak ada hakikat kecuali hakikat-Nya dan tidak ada wujud yang hakiki kecuali wujud-Nya.
Segala maujud yang lain hanyalah berkembang atau muncul dari wujud yang hakiki itu dan
berkembang dari wujud Dzatiyah itu. Oleh karena itu, ia adalah keesaan pelaku. Tidak ada selain
Dia sebagai pelaku yang hakiki terhadap sesuatu, di alam wujud ini. Inilah aqidah di dalam hati
sekaligus penafsiran terhadapwujud semesta. Apabila penafsiran ini telah mantap dan tashawwur
ini telah jelas, bersihlah hati dari semua penutup dan kotoran. Yakni, bersih dari ketergantungan
kepada selain Zat yang Esa dan Tunggal dengan hakikat wujud dan hakikat pelaku. Bersih dari
ketergantungan kepada sesuatu selain wujud Tuhan jika ia tidak lepas sama sekali dari perasaan
tentang adanya sesuatu. Karena tidak ada hakikat bagi suatu wujud selain wujud Ilahi itu; dan
tidak ada hakikat bagi suatu tindakan kecuali tindakan kehendak Ilahi. Maka, untuk apa hati
bergantung kepada sesuatu yang tidak ada hakikatnya bagi wujud dan tindakannya? Ketika hati
sudah bersih dari perasaan terhadap hakikat selain hakikat ini, maka pada saat itu bebaslah segala
ikatan, lepas dari segala belenggu, bebas dari ambisi yang merupakan pokok segala ikatan yang
banyak, dan bebas dari ketakutan yang juga menjadi pokok ikatan-ikatan yang banyak. Karena,
untuk apa ia berambisi sedangkan ia tidak kehilangan sesuatu pun bila sudah bertemu Allah?
Dan untuk apa ia takut, sedangkan tidak ada wujud begi si pelaku kecuali kepunyaan Allah.
Apabila sudah mantap tashawwur yang tidak melihat di alam wujud selain hakikat Allah,
tashawwur ini akan disertai dengan melihat hakikat itu pada semua wujud lain yang bersumber
dari hakikat ini. Ini adalah tingkatan di mana hati melihat kekuasaan Allah berada pada segala
sesuatu yang dilihatnya. Di balik itu terdapat tingkatan di mana ia tidak melihat suatu hakikat di
sana kecuali hakikat Allah. Hal ini akan diiringi dengan meniadakan efektivitas sebab-sebab.
Kemudian mengembalikan segala sesuatu, segala kejadian, dan semua gerak kepada sebab
pertama yang menjadi sumber semuanya dan memberi bekas kepada semuanya. Inilah hakikat
yang mendapat perhatian yang besar dari Al-Qur†™an untuk dimantapkannya di dalam
tashawwur imani. Karena itu, Al-Qur†™an menjauhkan sebab-sebab lahir dan menghubungkan
semua urusan secara langsung kepada kehendak Allah. †œDan (yang sebenarnya) bukan kamu
yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allahlah yang melempar.†• (Al-Anfaal: 17)
†œTiada pertolongan kecuali dari sisi Allah.†• (Ali Imran: 126) †œKami tidak dapat
menghendaki (menempuh jalan ini) kecuali apabila dikehendaki Allah.†• (At-Takwiir: 29)
Dengan menjauhkan semua sebab lahiriah dan mengembalikan segala urusan kepada kehendak
Allah, maka akan tercurahlah ketenteraman di dalam hati. Tahulah ia arah dan tujuan satu-
satunya untuk mendapatkan apa yang diinginkan di sisi-Nya dan untuk menjauhkan apa yang
ditakuti. Juga untuk menenangkan dan memantapkan hati di dalam menghadapi dampak-
dampak, pengaruh-pengaruh, dan sebab-sebab lahiriah yang tidak ada hakikat dan wujudnya.
Inilah tanjakan-tanjakan jalan yang hendak dicoba oleh para ahli tasawuf, tetapi justru menyeret
mereka ke tempat yang jauh. Hal ini disebabkan Islam menghendaki agar manusia menempuh
jalan menuju hakikat ini, dengan tetap menempuh kehidupan nyata dengan kekhususannya,
menempuh kehidupan layaknya manusia, dan mengelola bumi dengan segenap unsurnya. Tetapi
tetap dengan menyadari dan merasakan di samping semua itu bahwa tidak ada hekikat kecuali
wujud Allah, tidak ada efektivitas kecuali efektivitas Allah. Islam tidak menghendaki suatu jalan
hidup kecuali jalan ini. *** Dari sini lahirlah manhaj kehidupan yang sempurna, yang ditegakkan
di atas penafsiran itu dengan segala pengaruh yang ditimbulkannya di dalam jiwa yang berupa
tashawwur, perasaan, dan arahan-arahan. Manhaj kehidupan ini meliputi manhaj-manhaj sebagai
berikut. 1. Manhaj untuk beribadah kepada Allah saja, yang tidak ada hakikat bagi suatu wujud
kecuali wujud-Nya, tidak ada hakikat bagi keefektivan sesuatu kecuali keefektivan-Nya, dan
tidak ada pengaruh bagi suatu kehendak kecuali kehendak-Nya. 2. Manhaj untuk mengarah dan
menuju kepada Allah saja di dalam berharap dan takut, kesenangan dan kesulitan, kebahagiaan
dan penderitaan. Kalau tidak begitu, apa gunanya menghadap kepada suatu maujud yang tidak
hakiki dan kepada selain yang bertindak efektiv di alam wujud ini? 3. Manhaj untuk menerima
sesuatu dari Allah saja. Yaitu, menerima aqidah, tashawwur †˜ pandangan hidup†™, tata
nilai, norma-norma, syariat, undang-undang, peraturan, adab, dan tradisi. Maka, penerimaan
semua ini tidak bisa terjadi melainkan dari Wujud Yang Satu dan Hakikat Yang Satu dalam
kenyataan dan dalam hati. 4. Manhaj untuk bergerak dan beramal karena Allah semat. Yaitu,
untuk mendekat kepada hakikat yang sebenarnya, dan untuk melepaskan diri dari tabir-tabir yang
menghalangi dan noda-noda yang menyesatkan, baik di dalam lubuk jiwa sendiri maupun pada
segala sesuatu di sekitarnya. Di antara tabir-tabir penghalang itu ialah diri-diri sendiri dan
keterikatannya pada keinginan dan rasa takutnya terhadap sesuatu di alam wujud ini. 5. Di
samping itu adalah sebagai manhaj yang menghubungkan antara hati manusia dengan segala
yang maujud dengan hubungan cinta, kasih saying, lemah lembut, dan saling merespons. Maka,
keterbebasan dari ikatan-ikatannya itu bukan berarti saling membenci, saling menjauh, dan
saling menghindar. Karena semuanya keluar dari tangan Allah, dan semuanya mendapatkan
pancaran dari sinar hakikat ini. Karena itu, semuanya dicintai karena semuanya adalah hadiah
dari Yang Maha Tercinta. Manhaj kehidupan yang demikian adalah manhaj yang tinggi. Dalam
manhaj ini, bumi terasa kecil, kehidupan dunia adalah singkat, kesenangan kehidupan dunia
tidak berarti, dan keterbatasan dari halangan-halangan dan tirai-tirai ini adalah menjadi tujuan
dan cita-cita. Akan tetapi, kebebasan menurut islam bukan berarti menjauhkan diri dari
mengabaikan semua itu, bukan pula membenci dan menjauhinya. Namun, yang dimaksud adalah
terus melakukan usaha-usaha yang istiqamah dan perjuangan yang terus-menerus untuk
meningkatkan kemanusiaan secara keseluruhan dan membabaskan seluruh kehidupan manusia.
Dengan demikian, kehidupan manusia menurut Islam adalah khilafah dan kepemimpinan dengan
segala tugasnya. Juga disertai dengan kebebasan dan kemerdekaan dengan segala penopangnya,
sebagaimana sudah kami terangkan di muka. Membebaskan diri dari kehidupan dunia dengan
jalan bertapa itu mudah, tetapi Islam tidak menghendaki yang demikian. Karena khilafah di bumi
dan kepemimpinan terhadap manusia merupakan bagian dari manhaj Islam untuk pembebasan.
Ini merupakan jalan yang sulit, tetapi inilah yang dapat mengaktualisasikan kemanusiaan
manusia. Artinya, mewujudkan keberhasilan peniupan ruh yang tinggi di dalam eksistensinya,
yakni kebebasan ruh untuk berhubungan dengan sumber Ilahinya dan mengaktualisasikan
hakikatnya yang tinggi, untuk bekerja di lapangannya yang telah dipilihnya oleh Penciptanya
Yang Maha Bijaksana. Karena itu semua, maka dakwah Islam yang pertama terbatas pada
penetapan aqidah tauhid dengan tashawwur-nya ke dalam hati. Karena tauhid dalam bentuknya
yang seperti ini adalah aqidah bagi hati, penafsiran bagi alam wujud, dan manhaj bagi
kehidupan. Ia bukan hanya ucapan pada lisan atau gambaran dalam hati, tetapi ia adalah urusan
totalitas, agama secara total. Penjelasan-penjelasan dan perincian-perincian sesudah itu tidak
lebih dari sebagai buah alamiah untuk memantapkan hakikat itu dalam bentuknya di dalam hati.
Penyimpangan-penyimpangan yang menimpa kaum Ahli Kitab sebelumnya dan yang merusak
aqidah, pola pikir, dan kehidupan mereka, sebab utamanya adalah karena telah buramnya gambar
tauhid yang murni. Keburaman ini kemudian diikuti dengan penyimpangan-penyimpangan
tersebut. Nah, keistimewaan bentuk tauhid dalam aqidah Islam ialah kedalamannya untuk
menjadi fondasi kehidupan secara total. Juga ditegakkan kehidupan di atasnya sebagai
fondasinya dan sebagai kaidah (landasan) bagi manhaj amali†™ aturan kerja/aktivitas yang
nyata di dalam kehidupan, yang tampak bekas-bekasnya baik di dalam syariat maupun di dalam
kepercayaan. Adapun bekas pertama yang tampak ialah bahwa hanya syariat Allah saja yang
mengatur kehidupan. Apabila dampaknya tidak demikian, aqidah tauhidnya berarti tidak tegak.
Karena, apabila aqidah tauhidnya tegak, tentu akan diiringi dengan bekas-bekasnya seperti di
dalam setiap sendi kehidupan. *** Makna bahwa Allah Maha Esa bahwa Allah adalah Tuhan
yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan
tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia. Akan tetapi, Al-Qur†™an menyebutkan
perincian-perincian ini adalah untuk menambah kemantapan dan kejelasan. Allahush-shamad.
Makna ash-shamad menurut bahasa berarti tuan yang dituju yang suatu perkara tidak terlaksana
kecuali dengan ijinnya. Allah SWT adalah Tuhan (Majikan) yang tidak ada tuan (majikan) yang
sebenarnya selain Dia. Allah adalah maha Esa di dalam uluhiyah-Nya dan segala sesuatu adalah
hamba bagi-Nya. Hanya Dialah satu-satunya yang dituju untuk memenuhi segala hajat makhluk.
Hanya Dia satu-satunya yang dapat mengabulkan kebutuhan orang-orang yang berkebutuhan.
Dialah yang memutuskan segala sesuatu dengan ijin-Nya, dan tidak ada seorangpun yang dapat
memutuskan bersama Dia. Sifat ini aktualisasi dari keberadaan-Nya Yang Mahatunggal dan
Maha Esa. Lamyalid walamyuulad. †œDia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan†•.
Maka, hakikat Allah itu tetap, abadi, dan azali. Ia tidak berubah-ubah menyesuaikan dengan
situasi dan kondisi. Sifatnya adalah sempurna dan mutlak dalam semua keadaan. Kelahiran
adalah suatu kemunculan dan pengembangan, wujud tambahan setelah kekurangan atau tiada.
Hal yang demikian ini mustahil bagi Allah. Kelahiran itu juga sebelumnya memerlukan
perkawinan dengan yang sejenis dengannya. Hal ini juga mustahil bagi Allah. Oleh karena itu,
sifat †œAhad†• mengandung penafian terhadap orang tua dan anak, yakni Allah itu tidak
berorangtua dan tidak beranak. Walamyakullahu kufuwan ahad. †œDan tidak ada seorangpun
yang setara dengan Dia.†• Yakni, tidak ada yang sebanding dan setara dengan Dia, baik dalam
hakikat wujudnya maupun dalam hakikat efektivitasnya, dan tidak juga dalam sifat dzatiyah
manapun. Ia juga merupakan aktualisasi bahwa Dia adalah †œAhad, Maha Esa†•. Akan
tetapi, ini merupakan penegasan dan penjabaran. Sifat ini meniadakan aqidah tsunaiyah
†˜ dualisme†™ yang mengatakan bahwa Allah adalah Tuhan kebaikan, sedang bagi
kejahatan terdapat tuhan yang lain lagi sebagai lawan Allah, dengan tindakan-tindakannya
menentang perbuatan-perbuatan yang baik dan menyebarkan kerusakan di muka bumi. Adapun
aqidah tsunaiyah yang paling populer adalah ialah aqidah kaum Persia mengenai Tuhan Cahaya
dan Tuhan Kegelapan. Aqidah ini juga popular di kawasan selatan Jazirah Arab karena dikuasai
Persia. *** Surat ini untuk menetapkan dan memantapkan aqidah tauhid Islam, sebagaimana
surah †œAl-Kaafiruun†• meniadakan bentuk keserupaan dan pertemuaan manapun antara
aqidah tauhid dan aqidah syirik. Masing-masing surah ini memecahkan persoalan hakikat tauhid
dari satu segi. Rasulullah saw biasa membuka hari barunya dengan melakukan shalat fajar
(qabliah subuh) dengan membaca kedua surah ini (Al-Kaafiruun dan Al-Ikhlas). Pembukaan hari
ini dengan bacaan tersebut memiliki makna dan tujuan tertentu.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:73
posted:5/2/2012
language:Malay
pages:9