Pedoman Pelayanan Medik Infeksi Saluran Kemih

Document Sample
Pedoman Pelayanan Medik Infeksi Saluran Kemih Powered By Docstoc
					                     PEDOMAN PELAYANAN MEDIK
                       INFEKSI SALURAN KEMIH

BATASAN
Infeksi saluran kemih (ISK) adalah tumbuh dan berkembangbiaknya bakteri dalam
saluran kemih dalam jumlah yang bermakna. Jumlah kuman yang dianggap
bermakna yaitu:
    1. Pengambilan urin dari kateter atau pancar tengah : ≥ 100.000 bakteri/mL urin.
    2. Pengambilan urin dari aspirasi suprapubik : berapapun jumlah bakteri yang
        ditemukan per mL urin.

ETIOLOGI
ISK terjadi terutama disebabkan oleh kontaminasi saluran kemih oleh flora normal
perineum atau saluran pencernaan. ISK juga dapat terjadi karena penyebaran
bakteri secara hematogen, adanya kelainan obstruktif, dan vesicoureteric reflux.
Bakteri yang paling sering mengakibatkan ISK adalah Escherichia coli (80% kasus).
Sebagian kecil kasus ISK dapat disebabkan oleh Staphylococcus, Streptococcus,
Klebsiella, Proteus, dan Candida albicans.

GEJALA KLINIS
Gejala klinis bervariasi, dapat bersifat asimptomatik (asymptomatic bacteriua) dan
simptomatik. Gejala klinis tergantung pada usia pasien (tabel 1). Pada anak usia 2
bulan – 2 tahun dengan unexplained fever, ISK perlu dicurigai sebagai penyebab.
Tabel 1. Gejala klinis ISK menurut usia
Kelompok          Gejala klinis
Usia
Neonatus          Suhu tidak stabil, iritabel, muntah, diare, kembung, nafas tidak
                  teratur, sianosis, ikterus, urin berbau menyengat, sepsis.
Bayi, anak        Demam tanpa sebab yang jelas (unexplained fever), rewel, nafsu
kecil             makan berkurang, gangguan pertumbuhan, diare dan muntah, urin
                  berbau menyengat.
Anak besar        Demam, mengedan waktu berkemih, disuria, polakisuria, enuresis,
                  nyeri pinggang, nyeri perut bagian bawah.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
 Urinalisis: leukosituria (> 5 sel darah putih/LPB), hematuria, bakteriuria, leucosit
  esterase, atau nitrit. Spesimen: urin pancar tengah (anak besar), atau urin yang
  dikumpulkan melalui kantong steril (bayi/anak kecil).
 Darah perifer: leukositosis
 Kultur urin dan uji resistensi. Spesimen: suprapubic aspiration (SPA) atau
  transurethral catheterization.
 Pencitraan ginjal : untuk mencari kemungkinan kelainan anatomis maupun
  fungsional  USG (skrining) atau VCUG (voiding cystourethrography). Indikasi
  pencitraan ginjal: ISK pada anak laki-laki usia > 1 tahun, ISK berulang pada
  anak semua usia, dan ISK yang setelah evaluasi pemberian antibioitik selama 48
  jam tidak ada perbaikan klinis atau justru terjadi perburukan klinis.

DIAGNOSIS
Kriteria diagnostik :
 Ditemukan bakteri ≥ 105 cfu (coloni forming units) dari sampel urin pancar tengah
    atau kateter transuretral. Bila ditemukan kultur urin 103-104, perlu dikonfirmasi
    dengan pemeriksaan suprapubik atau pemeriksaan diulang.
 Atau, ditemukan bakteri (berapa pun jumlahnya) dari sampel urin suprapubik.
TATALAKSANA
Medikamentosa
 Antibiotik selama 7 – 14 hari. Pemilihan antibiotik: terapi empiris (antibiotik
   spektrum luas) sebagai terapi inisial sampai didapatkan hasil kultur dan uji
   resistensi kemudian antibiotik disesuaikan dengan hasil kultur dan uji resistensi.
 Antibiotik lini pertama : kotrimoksazole, ampisilin, amoksisilin, dan cefalexin.
   Kecuali bayi usia < 2 bulan, antibiotik lini pertama adalah gentamisin (7,5 mg/kg
   BB, IM, sekali sehari) hingga demam turun/tidak ada tanda infeksi sistemik,
   kemudian dapat dilanjutkan dengan antibiotik oral hingga 7-14 hari.
 Antibiotik lini kedua: gentamisin (7,5 mg/kg BB, IM, sekali sehari) + ampisilin (50
   mg/kg BB, IM/IV, tiap 6 jam) atau sefalosporin parenteral. Indikasi: respon
   terhadap antibiotik lini pertama kurang baik atau kondisi anak memburuk selama
   evaluasi 48 jam, alergi atau resisten terhadap antibiotik lini pertama.
 Jika kondisi anak terdapat tanda penyakit infeksi berat, dapat diberikan antibiotik
   intravena.
 Monitor ketat kondisi anak dan respon terhadap antibiotik.
 Indikasi kemoprofilaksis: anak usia < 5 tahun dengan vesicoureteral reflux atau
   kelainan anatomi lainnya, atau ISK berulang (3 kali dalam setahun). Antibiotik
   profilaksis : nitrofurantoin 1 – 2 mg/kg BB/hari atau kotrimoksazole (2 mg/kg BB/
   hari trimetoprim), selama 6 bulan atau lebih.
 Koreksi bedah bila terdapat kelainan anatomi saluran kemih (konsul spesialis
   bedah anak).
 Indikasi rawat inap :
   1. ISK simptomatik pada bayi < 2 bulan.
   2. Terdapat gejala penyakit sistemik berat: tampak sakit sedang-berat, demam
       tinggi, letargis, penurunan kesadaran, dehidrasi, tidak bisa diberikan intake
       oral, nyeri pinggang/perut hebat, atau sepsis.
   3. Tidak responsif setelah terapi antibiotik oral 48 jam.
   Tabel 2. Antibiotik dan dosisnya untuk terapi ISK
         Antibiotik                                Dosis harian
     Cotrimoxazole         TMP 6-12 mg/kg + SMX 30-60 mg/kg, oral, 2 dosis terbagi

     Amoxicillin        20-40 mg/kg, oral, 3 dosis terbagi
     Ampicillin         50-100 mg/kg, IV/IM, dosis terbagi tiap 6 jam
     Ceftriaxone        75 mg/kg, IV, tiap 24 jam
     Cefotaxime         150 mg/kg, IV, dosis terbagi tiap 6 jam
     Ceftazidime        150 mg/kg, IV, dosis terbagi tiap 6 jam
     Gentamicin         7,5 mg/kg, IV/IM, dosis terbagi tiap 8 jam

Edukasi Orang Tua
 Penjelasan kepada orang tua tentang penyakit dan tatalaksana yang akan
   diberikan.
 Asupan cairan yang cukup.
 Jangan menahan kemih.
 Menjaga kebersihan genitalia dan perineum. Untuk anak perempuan, ajarkan
   cara membilas genitalia dari arah depan ke belakang.
 Popok anak langsung diganti bila anak ngompol atau buang air besar.
 Mencegah dan mengobati konstipasi.
Referensi
   1. Amaerican Academy of Pediatrics. Committee on Quality Improvement.
      Subcommitte on Urinary Tract Infection. Practice parameter: Diagnosis,
      treatment, and evaluation of the initial urinary infection in febrile infants and
      young children. Pediatrics 1999;103:843-52.
   2. Who guideline. Pocket book of hospital care for children: Guideline for the
      management of common illnesses with limited resources. WHO 2005.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:197
posted:5/1/2012
language:Malay
pages:3