Docstoc

askep vertigo

Document Sample
askep vertigo Powered By Docstoc
					ASUHAN KEPERAWATAN VERTIGO

A. Pengertian

Perkataan vertigo berasal dari bahasa Yunani vertere yang artinya memutar. Pengertian
vertigo adalah : sensasi gerakan atau rasa gerak dari tubuh atau lingkungan sekitarnya, dapat
disertai gejala lain, terutama dari jaringan otonomik akibat gangguan alat keseimbangan
tubuh Vertigo mungkin bukan hanya terdiri dari satu gejala pusing saja, melainkan kumpulan
gejala atau sindrom yang terdiri dari gejala somatik (nistagmus, unstable), otonomik (pucat,
peluh dingin, mual, muntah) dan pusing. Dari (http://www.kalbefarma.com).

B. Etiologi

Menurut (Burton, 1990 : 170) yaitu :

   1. Lesi vestibular :
         o Fisiologik
         o Labirinitis
         o Menière
         o Obat ; misalnya quinine, salisilat.
         o Otitis media
         o “Motion sickness”
         o “Benign post-traumatic positional vertigo”
   2. Lesi saraf vestibularis
         o Neuroma akustik
         o Obat ; misalnya streptomycin
         o Neuronitis
         o vestibular
   3. Lesi batang otak, serebelum atau lobus temporal
         o Infark atau perdarahan pons
         o Insufisiensi vertebro-basilar
         o Migraine arteri basilaris
         o Sklerosi diseminata
         o Tumor
         o Siringobulbia
         o Epilepsy lobus temporal

Menurut (http://www.kalbefarma.com)

   1. Penyakit Sistem Vestibuler Perifer :
         o Telinga bagian luar : serumen, benda asing.
         o Telinga bagian tengah: retraksi membran timpani, otitis media purulenta
            akuta, otitis media dengan efusi, labirintitis, kolesteatoma, rudapaksa dengan
            perdarahan.
         o Telinga bagian dalam: labirintitis akuta toksika, trauma, serangan vaskular,
            alergi, hidrops labirin (morbus Meniere ), mabuk gerakan, vertigo postural.
         o Nervus VIII. : infeksi, trauma, tumor.
         o Inti Vestibularis: infeksi, trauma, perdarahan, trombosis arteria serebeli
            posterior inferior, tumor, sklerosis multipleks.
   2. Penyakit SSP :
           o   Hipoksia Iskemia otak. : Hipertensi kronis, arterios-klerosis, anemia,
               hipertensi kardiovaskular, fibrilasi atrium paroksismal, stenosis dan
               insufisiensi aorta, sindrom sinus karotis, sinkop, hipotensi ortostatik, blok
               jantung.
            o Infeksi : meningitis, ensefalitis, abses, lues.
            o Trauma kepala/ labirin.
            o Tumor.
            o Migren.
            o Epilepsi.
   3.   Kelainan endokrin: hipotiroid, hipoglikemi, hipoparatiroid, tumor medula adrenal,
        keadaan menstruasi-hamil-menopause.
   4.   Kelainan psikiatrik: depresi, neurosa cemas, sindrom hiperventilasi, fobia.
   5.   Kelainan mata: kelainan proprioseptik.
   6.   Intoksikasi.


C. Patofisiologi

Vertigo timbul jika terdapat ketidakcocokan informasi aferen yang disampaikan ke pusat
kesadaran. Susunan aferen yang terpenting dalam sistem ini adalah susunan vestibuler atau
keseimbangan, yang secara terus menerus menyampaikan impulsnya ke pusat keseimbangan.
Susunan lain yang berperan ialah sistem optik dan pro-prioseptik, jaras-jaras yang
menghubungkan nuklei vestibularis dengan nuklei N. III, IV dan VI, susunan
vestibuloretikularis, dan vestibulospinalis.
Informasi yang berguna untuk keseimbangan tubuh akan ditangkap oleh reseptor vestibuler,
visual, dan proprioseptik; reseptor vestibuler memberikan kontribusi paling besar, yaitu lebih
dari 50 % disusul kemudian reseptor visual dan yang paling kecil kontribusinya adalah
proprioseptik.
Dalam kondisi fisiologis/normal, informasi yang tiba di pusat integrasi alat keseimbangan
tubuh berasal dari reseptor vestibuler, visual dan proprioseptik kanan dan kiri akan
diperbandingkan, jika semuanya dalam keadaan sinkron dan wajar, akan diproses lebih lanjut.
Respons yang muncul berupa penyesuaian otot-otot mata dan penggerak tubuh dalam
keadaan bergerak. Di samping itu orang menyadari posisi kepala dan tubuhnya terhadap
lingkungan sekitar. Jika fungsi alat keseimbangan tubuh di perifer atau sentral dalam kondisi
tidak normal/ tidak fisiologis, atau ada rangsang gerakan yang aneh atau berlebihan, maka
proses pengolahan informasi akan terganggu, akibatnya muncul gejala vertigo dan gejala
otonom; di samping itu, respons penyesuaian otot menjadi tidak adekuat sehingga muncul
gerakan abnormal yang dapat berupa nistagmus, unsteadiness, ataksia saat berdiri/ berjalan
dan gejala lainnya (http://www.kalbefarma.com).
D. Klasifikasi Vertigo

Berdasarkan gejala klinisnya, vertigo dapat dibagi atas beberapa kelompok :

   1. Vertigo paroksismal
      Yaitu vertigo yang serangannya datang mendadak, berlangsung beberapa menit atau
      hari, kemudian menghilang sempurna; tetapi suatu ketika serangan tersebut dapat
      muncul lagi. Di antara serangan, penderita sama sekali bebas keluhan. Vertigo jenis
      ini dibedakan menjadi :
          o Yang disertai keluhan telinga :
              Termasuk kelompok ini adalah : Morbus Meniere, Arakhnoiditis
              pontoserebelaris, Sindrom Lermoyes, Sindrom Cogan, tumor fossa cranii
              posterior, kelainan gigi/ odontogen.
          o Yang tanpa disertai keluhan telinga :
              Termasuk di sini adalah : Serangan iskemi sepintas arteria vertebrobasilaris,
              Epilepsi, Migren ekuivalen, Vertigo pada anak (Vertigo de L’enfance), Labirin
              picu (trigger labyrinth).
          o Yang timbulnya dipengaruhi oleh perubahan posisi :
              Termasuk di sini adalah : Vertigo posisional paroksismal laten, Vertigo
              posisional paroksismal benigna.
   2. Vertigo kronis
      Yaitu vertigo yang menetap, keluhannya konstan tanpa (Cermin Dunia Kedokteran
      No. 144, 2004: 47) serangan akut, dibedakan menjadi:
          o Yang disertai keluhan telinga : Otitis media kronika, meningitis Tb, labirintitis
              kronis, Lues serebri, lesi labirin akibat bahan ototoksik, tumor serebelopontin.
           o Tanpa keluhan telinga : Kontusio serebri, ensefalitis pontis, sindrom pasca
             komosio, pelagra, siringobulbi, hipoglikemi, sklerosis multipel, kelainan
             okuler, intoksikasi obat, kelainan psikis, kelainan kardiovaskuler, kelainan
             endokrin.
          o Vertigo yang dipengaruhi posisi : Hipotensi ortostatik, Vertigo servikalis.
   3. Vertigo yang serangannya mendadak/akut, kemudian berangsur-angsur mengurang,
      dibedakan menjadi :
          o Disertai keluhan telinga : Trauma labirin, herpes zoster otikus, labirintitis
             akuta, perdarahan labirin, neuritis n.VIII, cedera pada auditiva interna/arteria
             vestibulokoklearis.
          o Tanpa keluhan telinga : Neuronitis vestibularis, sindrom arteria vestibularis
             anterior, ensefalitis vestibularis, vertigo epidemika, sklerosis multipleks,
             hematobulbi, sumbatan arteria serebeli inferior posterior.

Ada pula yang membagi vertigo menjadi :

   1. Vertigo Vestibuler: akibat kelainan sistem vestibuler.
   2. Vertigo Non Vestibuler: akibat kelainan sistem somatosensorik dan visual.


D. Manifestasi klinik

Perasaan berputar yang kadang-kadang disertai gejala sehubungan dengan reak dan lembab
yaitu mual, muntah, rasa kepala berat, nafsu makan turun, lelah, lidah pucat dengan selaput
putih lengket, nadi lemah, puyeng (dizziness), nyeri kepala, penglihatan kabur, tinitus, mulut
pahit, mata merah, mudah tersinggung, gelisah, lidah merah dengan selaput tipis.

E. Pemerikasaan Penunjang

   1. Pemeriksaan fisik :
         o Pemeriksaan mata
         o Pemeriksaan alat keseimbangan tubuh
         o Pemeriksaan neurologik
         o Pemeriksaan otologik
         o Pemeriksaan fisik umum.
   2. Pemeriksaan khusus :
         o ENG
         o Audiometri dan BAEP
         o Psikiatrik
   3. Pemeriksaan tambahan :
         o Laboratorium
         o Radiologik dan Imaging
         o EEG, EMG, dan EKG.



F. Penatalaksanaan Medis

Terapi menurut (Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004: 48) :
Terdiri dari :
   1. Terapi kausal
   2. Terapi simtomatik
   3. Terapi rehabilitatif.



ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN VERTIGO

A. Pengkajian

   1. Aktivitas / Istirahat
          o Letih, lemah, malaise
          o Keterbatasan gerak
          o Ketegangan mata, kesulitan membaca
          o Insomnia, bangun pada pagi hari dengan disertai nyeri kepala.
          o Sakit kepala yang hebat saat perubahan postur tubuh, aktivitas (kerja) atau
              karena perubahan cuaca.
   2. Sirkulasi
          o Riwayat hypertensi
          o Denyutan vaskuler, misal daerah temporal.
          o Pucat, wajah tampak kemerahan.
   3. Integritas Ego
          o Faktor-faktor stress emosional/lingkungan tertentu
          o Perubahan ketidakmampuan, keputusasaan, ketidakberdayaan depresi
          o Kekhawatiran, ansietas, peka rangsangan selama sakit kepala
          o Mekanisme refresif/dekensif (sakit kepala kronik).
   4. Makanan dan cairan
          o Makanan yang tinggi vasorektiknya misalnya kafein, coklat, bawang, keju,
              alkohol, anggur, daging, tomat, makan berlemak, jeruk, saus, hotdog, MSG
              (pada migrain).
          o Mual/muntah, anoreksia (selama nyeri)
          o Penurunan berat badan
   5. Neurosensoris
          o Pening, disorientasi (selama sakit kepala)
          o Riwayat kejang, cedera kepala yang baru terjadi, trauma, stroke.
          o Aura ; fasialis, olfaktorius, tinitus.
          o Perubahan visual, sensitif terhadap cahaya/suara yang keras, epitaksis.
          o Parastesia, kelemahan progresif/paralysis satu sisi tempore
          o Perubahan pada pola bicara/pola pikir
          o Mudah terangsang, peka terhadap stimulus.
          o Penurunan refleks tendon dalam
          o Papiledema.
   6. Nyeri/ kenyamanan
          o Karakteristik nyeri tergantung pada jenis sakit kepala, misal migrain,
              ketegangan otot, cluster, tumor otak, pascatrauma, sinusitis.
          o Nyeri, kemerahan, pucat pada daerah wajah.
          o Fokus menyempit
          o Fokus pada diri sendiri
          o Respon emosional / perilaku tak terarah seperti menangis, gelisah.
          o Otot-otot daerah leher juga menegang, frigiditas vokal.
   7. Keamanan
          o Riwayat alergi atau reaksi alergi
          o Demam (sakit kepala)
          o Gangguan cara berjalan, parastesia, paralisis
          o Drainase nasal purulent (sakit kepala pada gangguan sinus).
   8. Interaksi sosial
          o Perubahan dalam tanggung jawab/peran interaksi sosial yang berhubungan
             dengan penyakit.
   9. Penyuluhan / pembelajaran
          o Riwayat hypertensi, migrain, stroke, penyakit pada keluarga
          o Penggunaan alcohol/obat lain termasuk kafein. Kontrasepsi oral/hormone,
             menopause.


B. Diagnosa Keperawatan (Doengoes, 1999:2021)

   1. Nyeri (akut/kronis) berhubungan dengan stress dan ketegangan, iritasi/ tekanan
      syaraf, vasospressor, peningkatan intrakranial ditandai dengan menyatakan nyeri yang
      dipengaruhi oleh faktor misal, perubahan posisi, perubahan pola tidur, gelisah.
   2. Koping individual tak efektif berhubungan dengan ketidak-adekuatan relaksasi,
      metode koping tidak adekuat, kelebihan beban kerja.
   3. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi dan kebutuhan
      pengobatan berhubungan dengan keterbatasan kognitif, tidak mengenal informasi dan
      kurang mengingat ditandai oleh memintanya informasi, ketidak-adekuatannya
      mengikuti instruksi.


C. Intervensi

Diagnosa Keperawatan 1. :
Nyeri (akut/kronis) berhubungan dengan stress dan ketegangan, iritasi/ tekanan syaraf,
vasospasme, peningkatan intrakranial ditandai dengan menyatakan nyeri yang dipengaruhi
oleh faktor misal, perubahan posisi, perubahan pola tidur, gelisah.
Tujuan : Nyeri hilang atau berkurang
Kriteria Hasil :

      Klien mengungkapkan rasa nyeri berkurang
      Tanda-tanda vital normal
      pasien tampak tenang dan rileks.

Intervensi :

      Pantau tanda-tanda vital, intensitas/skala nyeri.
       Rasional : Mengenal dan memudahkan dalam melakukan tindakan keperawatan.
      Anjurkan klien istirahat ditempat tidur.
       Rasional : istirahat untuk mengurangi intesitas nyeri.
      Atur posisi pasien senyaman mungkin
       Rasional : posisi yang tepat mengurangi penekanan dan mencegah ketegangan otot
       serta mengurangi nyeri.
      Ajarkan teknik relaksasi dan napas dalam
       Rasional : relaksasi mengurangi ketegangan dan membuat perasaan lebih nyaman.
      Kolaborasi untuk pemberian analgetik.
       Rasional : analgetik berguna untuk mengurangi nyeri sehingga pasien menjadi lebih
       nyaman.


Diagnosa Keperawatan 2. :
Koping individual tak efektif berhubungan dengan ketidak-adekuatan relaksasi, metode
koping tidak adekuat, kelebihan beban kerja.
Tujuan : koping individu menjadi lebih adekuat
Kriteria Hasil :

      Mengidentifikasi prilaku yang tidak efektif
      Mengungkapkan kesadaran tentang kemampuan koping yang di miliki.
      Mengkaji situasi saat ini yang akurat
      Menunjukkan perubahan gaya hidup yang diperlukan atau situasi yang tepat.

Intervensi :

      Kaji kapasitas fisiologis yang bersifat umum.
       Rasional : Mengenal sejauh dan mengidentifikasi penyimpangan fungsi fisiologis
       tubuh dan memudahkan dalam melakukan tindakan keperawatan.
      Sarankan klien untuk mengekspresikan perasaannya.
       Rasional : klien akan merasakan kelegaan setelah mengungkapkan segala perasaannya
       dan menjadi lebih tenang.
      Berikan informasi mengenai penyebab sakit kepala, penenangan dan hasil yang
       diharapkan.
       Rasional : agar klien mengetahui kondisi dan pengobatan yang diterimanya, dan
       memberikan klien harapan dan semangat untuk pulih.
      Dekati pasien dengan ramah dan penuh perhatian, ambil keuntungan dari kegiatan
       yang dapat diajarkan.
       Rasional : membuat klien merasa lebih berarti dan dihargai.


Diagnosa Keperawatan 3. :
Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan
berhubungan dengan keterbatasan kognitif, tidak mengenal informasi dan kurang mengingat
ditandai oleh memintanya informasi, ketidak-adekuatannya mengikuti instruksi.
Tujuan : pasien mengutarakan pemahaman tentang kondisi, efek prosedur dan proses
pengobatan.
Kriteria Hasil :

      Melakukan prosedur yang diperlukan dan menjelaskan alasan dari suatu tindakan.
      Memulai perubahan gaya hidup yang diperlukan dan ikut serta dalam regimen
       perawatan.

Intervensi :
      Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya.
       Rasional : megetahui seberapa jauh pengalaman dan pengetahuan klien dan keluarga
       tentang penyakitnya.
      Berikan penjelasan pada klien tentang penyakitnya dan kondisinya sekarang.
       Rasional : dengan mengetahui penyakit dan kondisinya sekarang, klien dan
       keluarganya akan merasa tenang dan mengurangi rasa cemas.
      Diskusikan penyebab individual dari sakit kepala bila diketahui.
       Rasional : untuk mengurangi kecemasan klien serta menambah pengetahuan klien
       tetang penyakitnya.
      Minta klien dan keluarga mengulangi kembali tentang materi yang telah diberikan.
       Rasional : mengetahui seberapa jauh pemahaman klien dan keluarga serta menilai
       keberhasilan dari tindakan yang dilakukan.
      Diskusikan mengenai pentingnya posisi atau letak tubuh yang normal
       Rasional : agar klien mampu melakukan dan merubah posisi/letak tubuh yang kurang
       baik.
      Anjurkan pasien untuk selalu memperhatikan sakit kepala yang dialaminya dan
       faktor-faktor yang berhubungan.
       Rasional : dengan memperhatikan faktor yang berhubungan klien dapat mengurangi
       sakit kepala sendiri dengan tindakan sederhana, seperti berbaring, beristirahat pada
       saat serangan.


C. Evaluasi

Evaluasi adalah perbandingan yang sistemik atau terencana tentang kesehatan pasien dengan
tujuan yang telah ditetapkan, dilakukan dengan cara berkesinambungan, dengan melibatkan
pasien, keluarga dan tenaga kesehatan lainnya. (Carpenito, 1999:28)
Tujuan Pemulangan pada vertigo adalah :

   1. Nyeri dapat dihilangkan atau diatasi.
   2. Perubahan gaya hidup atau perilaku untuk mengontrol atau mencegah kekambuhan.
   3. Memahami kebutuhan atau kondisi proses penyakit dan kebutuhan terapeutik.




DAFTAR PUSTAKA

Lynda Juall carpernito, Rencana Asuhan keperawatan dan dokumentasi keperawatan,
Diagnosis Keperawatan dan Masalah Kolaboratif, ed. 2, EGC, Jakarta, 1999.
Marilynn E. Doenges, Rencana Asuhan Keperawatan pedoman untuk perencanaan dan
pendokumentasian pasien, ed.3, EGC, Jakarta, 1999.
http://www.kalbefarma.com/files/cdk/files/14415 Terapi Akupunktur untuk
Vertigo.pdf/144_15TerapiAkupunkturuntukVertigo.html
Kang L S,. Pengobatan Vertigo dengan Akupunktur, Cermin Dunia Kedokteran No. 144,
Jakarta, 2004.
VERTIGO
2.1. PengertianPerkataan vertigo berasal dari bahasa Yunani vertere yang
artinya memutar. Pengertian vertigo adalah : sensasi gerakan atau rasa gerak
dari tubuh atau lingkungan sekitarnya, dapat disertai gejala lain, terutama dari
jaringan otonomik akibat gangguan alat keseimbangan tubuh Vertigo mungkin
bukan hanya terdiri dari satu gejala pusing saja, melainkan kumpulan gejala
atau sindrom yang terdiri dari gejala somatik (nistagmus, unstable), otonomik
(pucat, peluh dingin, mual, muntah) dan pusing. Dari
(http://www.kalbefarma.com).
2.2. EtiologiMenurut (Burton, 1990 : 170) yaitu :a) Lesi vestibular Fisiologikv
Labirinitisv Menièrev Obat ; misalnyav quinine, salisilat. Otitis mediav “Motion
sickness”v “Benignv post-traumatic positional vertigo”b) Lesi saraf vestibularis
Neuromav akustik Obat ; misalnya streptomycinv Neuronitis vestibularvc) Lesi
batang otak, serebelum atau lobus temporal Infark atau perdarahan ponsvv
Insufisiensi vertebro-basilar Migraine arteri basilarisv Sklerosiv diseminata
Tumorv Siringobulbiav Epilepsy lobusv
temporalMenurut(http://www.kalbefarma.com)1. Penyakit Sistem Vestibuler
Perifer :a. Telinga bagian luar : serumen, benda asing.b. Telinga bagian tengah:
retraksi membran timpani, otitis media purulenta akuta, otitis media dengan
efusi, labirintitis, kolesteatoma, rudapaksa dengan perdarahan.c. Telinga bagian
dalam: labirintitis akuta toksika, trauma, serangan vaskular, alergi, hidrops
labirin (morbus Meniere ), mabuk gerakan, vertigo postural.d. Nervus VIII. :
infeksi, trauma, tumor.e. IntiVestibularis: infeksi, trauma, perdarahan,
trombosis arteria serebeli posterior inferior, tumor, sklerosis multipleks.2.
Penyakit SSP :a. Hipoksia Iskemia otak. : Hipertensi kronis, arterios-klerosis,
anemia, hipertensi kardiovaskular, fibrilasi atrium paroksismal, stenosis dan
insufisiensi aorta, sindrom sinus karotis, sinkop, hipotensi ortostatik, blok
jantung.b. Infeksi : meningitis, ensefalitis, abses, lues.c. Trauma kepala/
labirin.d. Tumor.e. Migren.f. Epilepsi.3. Kelainan endokrin: hipotiroid,
hipoglikemi, hipoparatiroid, tumor medula adrenal, keadaan menstruasi-hamil-
menopause.4. Kelainan psikiatrik: depresi, neurosa cemas, sindrom
hiperventilasi, fobia.5. Kelainan mata: kelainan proprioseptik.6. Intoksikasi.
2.3. PatofisiologiVertigo timbul jika terdapat ketidakcocokan informasi aferen
yang disampaikan ke pusat kesadaran. Susunan aferen yang terpenting dalam
sistem ini adalah susunan vestibuler atau keseimbangan, yang secara terus
menerus menyampaikan impulsnya ke pusat keseimbangan. Susunan lain yang
berperan ialah sistem optik dan pro-prioseptik, jaras-jaras yang
menghubungkan nuklei vestibularis dengan nuklei N. III, IV dan VI, susunan
vestibuloretikularis, dan vestibulospinalis.Informasi yang berguna untuk
keseimbangan tubuh akan ditangkap oleh reseptor vestibuler, visual, dan
proprioseptik; reseptor vestibuler memberikan kontribusi paling besar, yaitu
lebih dari 50 % disusul kemudian reseptor visual dan yang paling kecil
kontribusinya adalah proprioseptik.Dalam kondisi fisiologis/normal, informasi
yang tiba di pusat integrasi alat keseimbangan tubuh berasal dari reseptor
vestibuler, visual dan proprioseptik kanan dan kiri akan diperbandingkan, jika
semuanya dalam keadaan sinkron dan wajar, akan diproses lebih lanjut.
Respons yang muncul berupa penyesuaian otot-otot mata dan penggerak tubuh
dalamkeadaan bergerak. Di samping itu orang menyadari posisi kepala dan
tubuhnya terhadap lingkungan sekitar. Jika fungsi alat keseimbangan tubuh di
perifer atau sentral dalam kondisi tidak normal/ tidak fisiologis, atau ada
rangsang gerakan yang aneh atau berlebihan, maka proses pengolahan
informasi akan terganggu, akibatnya muncul gejala vertigo dan gejala otonom;
di samping itu, respons penyesuaian otot menjadi tidak adekuat sehingga
muncul gerakan abnormal yang dapat berupa nistagmus, unsteadiness, ataksia
saat berdiri/ berjalan dan gejala lainnya (http://www.kalbefarma.com).
2.4. Klasifikasi VertigoBerdasarkan gejala klinisnya, vertigo dapat dibagi atas
beberapa kelompok :1. Vertigo paroksismalYaitu vertigo yang serangannya
datang mendadak, berlangsung beberapa menit atau hari, kemudian menghilang
sempurna; tetapi suatu ketika serangan tersebut dapat muncul lagi. Di antara
serangan, penderita sama sekali bebas keluhan. Vertigo jenis ini dibedakan
menjadi :1) Yang disertai keluhan telinga :Termasuk kelompok ini adalah :
Morbus Meniere, Arakhnoiditis pontoserebelaris, Sindrom Lermoyes, Sindrom
Cogan, tumor fossa cranii posterior, kelainan gigi/ odontogen.2) Yang tanpa
disertai keluhan telinga; termasuk di sini adalah : Serangan iskemi sepintas
arteria vertebrobasilaris, Epilepsi, Migren ekuivalen, Vertigo pada anak (Vertigo
de L’enfance), Labirin picu (trigger labyrinth).3) Yang timbulnya dipengaruhi
oleh perubahan posisi, termasuk di sini adalah : Vertigo posisional paroksismal
laten, Vertigo posisional paroksismal benigna.2. Vertigo kronisYaitu vertigo yang
menetap, keluhannya konstan tanpa (Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004:
47) serangan akut, dibedakan menjadi:1) Yang disertai keluhan telinga : Otitis
media kronika, meningitis Tb, labirintitis kronis, Lues serebri, lesi labirin akibat
bahan ototoksik, tumor serebelopontin.2) Tanpa keluhan telinga : Kontusio
serebri, ensefalitis pontis, sindrom pasca komosio, pelagra, siringobulbi,
hipoglikemi, sklerosis multipel, kelainan okuler, intoksikasi obat, kelainan psikis,
kelainan kardiovaskuler, kelainan endokrin.3) Vertigo yang dipengaruhi posisi :
Hipotensi ortostatik, Vertigo servikalis.3. Vertigo yang serangannya
mendadak/akut, kemudian berangsur-angsur mengurang, dibedakan menjadi
:1) Disertai keluhan telinga : Trauma labirin, herpes zoster otikus, labirintitis
akuta, perdarahan labirin, neuritis n.VIII, cedera pada auditiva interna/arteria
vestibulokoklearis.2) Tanpa keluhan telinga : Neuronitis vestibularis, sindrom
arteria vestibularis anterior, ensefalitis vestibularis, vertigo epidemika, sklerosis
multipleks, hematobulbi, sumbatan arteria serebeli inferior posterior.Ada pula
yang membagi vertigo menjadi :1. Vertigo Vestibuler: akibat kelainan sistem
vestibuler.2. Vertigo Non Vestibuler: akibat kelainan sistem somatosensorik dan
visual.
2.5. Manifestasi klinikPerasaan berputar yang kadang-kadang disertai gejala
sehubungan dengan reak dan lembab yaitu mual, muntah, rasa kepala berat,
nafsu makan turun, lelah, lidah pucat dengan selaput putih lengket, nadi lemah,
puyeng (dizziness), nyeri kepala, penglihatan kabur, tinitus, mulut pahit, mata
merah, mudah tersinggung, gelisah, lidah merah dengan selaput tipis.
2.6. Pemerikasaan Penunjang1) Pemeriksaan fisik : PemeriksaanØ mata
Pemeriksaan alat keseimbangan tubuhØ Pemeriksaan neurologikØØ
Pemeriksaan otologik Pemeriksaan fisik umum.Ø2) Pemeriksaan khusus : ENGØ
Audiometri dan BAEPØ PsikiatrikØ3) Pemeriksaan tambahan : LaboratoriumØ
Radiologik dan ImagingØ EEG, EMG, dan EKG.Ø
2.7. Penatalaksanaan medis.Terapi menurut (Cermin Dunia Kedokteran No. 144,
2004: 48) :Terdiri dari :1. Terapi kausal2. Terapi simtomatik3. Terapi
rehabilitatif
2.8. Manajemen Keperawatan2.8.1. Pengkajiana. Aktivitas / Istirahat• Letih,
lemah, malaise• Keterbatasan gerak• Ketegangan mata, kesulitan membaca•
Insomnia, bangun pada pagi hari dengan disertai nyeri kepala• Sakit kepala
yang hebat saat perubahan postur tubuh, aktivitas (kerja) atau karena
perubahan cuaca.b. Sirkulasi• Riwayat hypertensi• Denyutan vaskuler, misal
daerah temporal• Pucat, wajah tampak kemerahan.c. Integritas Ego• Faktor-
faktor stress emosional/lingkungan tertentu• Perubahan ketidakmampuan,
keputusasaan, ketidakberdayaan depresi• Kekhawatiran, ansietas, peka
rangsangan selama sakit kepala• Mekanisme refresif/dekensif (sakit kepala
kronik)d. Makanan dan cairan• Makanan yang tinggi vasorektiknya misalnya
kafein, coklat, bawang, keju, alkohol, anggur, daging, tomat, makan berlemak,
jeruk, saus, hotdog, MSG (pada migrain).• Mual/muntah, anoreksia (selama
nyeri)• Penurunan berat badane. Neurosensoris• Pening, disorientasi (selama
sakit kepala)• Riwayat kejang, cedera kepala yang baru terjadi, trauma, stroke.•
Aura ; fasialis, olfaktorius, tinitus.• Perubahan visual, sensitif terhadap
cahaya/suara yang keras, epitaksis.• Parastesia, kelemahan progresif/paralysis
satu sisi tempore• Perubahan pada pola bicara/pola pikir• Mudah terangsang,
peka terhadap stimulus.• Penurunan refleks tendon dalam• Papiledema.f. Nyeri/
kenyamanan• Karakteristik nyeri tergantung pada jenis sakit kepala, misal
migrain, ketegangan otot, cluster, tumor otak, pascatrauma, sinusitis.• Nyeri,
kemerahan, pucat pada daerah wajah• Fokus menyempit• Fokus pada diri
sndiri• Respon emosional / perilaku tak terarah seperti menangis, gelisah.• Otot-
otot daerah leher juga menegang, frigiditas vokal.g. Keamanan• Riwayat alergi
atau reaksi alergi• Demam (sakit kepala)• Gangguan cara berjalan, parastesia,
paralisis• Drainase nasal purulent (sakit kepala pada gangguan sinus)h.
Interaksi sosial• Perubahan dalam tanggung jawab/peran interaksi sosial yang
berhubungan dengan penyakit.i. Penyuluhan / pembelajaran• Riwayat
hypertensi, migrain, stroke, penyakit pada keluarga• Penggunaan alcohol/obat
lain termasuk kafein. Kontrasepsi oral/hormone, menopause.2.8.2. Diagnosa
Keperawatan (Doengoes, 1999:2021)1) Nyeri (akut/kronis) berhubungan
dengan stress dan ketegangan, iritasi/ tekanan syaraf, vasospressor,
peningkatan intrakranial ditandai dengan menyatakan nyeri yang dipengaruhi
oleh faktor misal, perubahan posisi, perubahan pola tidur, gelisah.2) Koping
individual tak efektif berhubungan dengan ketidak-adekuatan relaksasi, metode
koping tidak adekuat, kelebihan beban kerja.3) Kurang pengetahuan (kebutuhan
belajar) mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan
keterbatasan kognitif, tidak mengenal informasi dan kurang mengingat ditandai
oleh memintanya informasi, ketidak-adekuatannya mengikuti instruksi.
2.8.3. Intervensi Keperawatana) Nyeri (akut/kronis) berhubungan dengan stress
dan ketegangan, iritasi/ tekanan syaraf, vasospasme, peningkatan intrakranial
ditandai dengan menyatakan nyeri yang dipengaruhi oleh faktor misal,
perubahan posisi, perubahan pola tidur, gelisah.Tujuan : Nyeri hilang atau
berkurangKriteria hasil : - klien mengungkapkan rasa nyeri berkurang- tanda-
tanda vital normal- pasien tampak tenang dan rileksIntervensi/Implementasi
Pantau tanda-tanda vital,Ø intensitas/skala nyeriRasional : Mengenal dan
memudahkan dalam melakukan tindakan keperawatan. Anjurkan klien istirahat
ditempat tidurØRasional : istirahat untuk mengurangi intesitas nyeri Atur posisi
pasien senyamanØ mungkinRasional : posisi yang tepat mengurangi penekanan
dan mencegah ketegangan otot serta mengurangi nyeri.
Ajarkan teknik relaksasi dan napas dalamØRasional : relaksasi mengurangi
ketegangan dan membuat perasaan lebih nyaman Kolaborasi untuk pemberianØ
analgetik.Rasional : analgetik berguna untuk mengurangi nyeri sehingga pasien
menjadi lebih nyaman.
b) Koping individual tak efektif berhubungan dengan ketidak-adekuatan
relaksasi, metode koping tidak adekuat, kelebihan beban kerja.Tujuan : koping
individu menjadi lebih adekuatKriteria Hasil : - mengidentifikasi prilaku yang
tidak efektif- mengungkapkan kesadaran tentang kemampuan koping yang di
miliki- megkaji situasi saat ini yang akurat- menunjukkan perubahan gaya hidup
yang diperlukan atau situasi yang tepat.Intervensi/Implementasi Kaji kapasitas
fisiologis yang bersifatØ umum.Rasional : Mengenal sejauh dan mengidentifikasi
penyimpangan fungsi fisiologis tubuh dan memudahkan dalam melakukan
tindakan keperawatanØ Sarankan klien untuk mengekspresikan
perasaannya.Rasional : klien akan merasakan kelegaan setelah mengungkapkan
segala perasaannya dan menjadi lebih tenang Berikan informasi mengenai
penyebab sakit kepala, penenangan danØ hasil yang diharapkan.Rasional : agar
klien mengetahui kondisi dan pengobatan yang diterimanya, dan memberikan
klien harapan dan semangat untuk pulih.
Dekati pasien dengan ramah dan penuh perhatian, ambil keuntungan dariØ
kegiatan yang dapat diajarkan.Rasional : membuat klien merasa lebih berarti
dan dihargai.
a) Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi dan kebutuhan
pengobatan berhubungan dengan keterbatasan kognitif, tidak mengenal
informasi dan kurang mengingat ditandai oleh memintanya informasi, ketidak-
adekuatannya mengikuti instruksi.Tujuan : pasien mengutarakan pemahaman
tentang kondisi, efek prosedur dan proses pengobatan.Kriteria Hasil : -
melakukan prosedur yang diperlukan dan menjelaskan alasan dari suatu
tindakan.- memulai perubahan gaya hidup yang diperlukan dan ikut serta dalam
regimen perawatan.Intervensi / Implementasi : Kaji tingkat pengetahuan klienØ
dan keluarga tentang penyakitnya.Rasional : megetahui seberapa jauh
pengalaman dan pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya. BerikanØ
penjelasan pada klien tentang penyakitnya dan kondisinya sekarang.Rasional :
dengan mengetahui penyakit dan kondisinya sekarang, klien dan keluarganya
akan merasa tenang dan mengurangi rasa cemas. Diskusikan penyebab
individualØ dari sakit kepala bila diketahui.Rasional : untuk mengurangi
kecemasan klien serta menambah pengetahuan klien tetang penyakitnya. Minta
klien danØ keluarga mengulangi kembali tentang materi yang telah
diberikan.Rasional : mengetahui seberapa jauh pemahaman klien dan keluarga
serta menilai keberhasilan dari tindakan yang dilakukan.
Diskusikan mengenai pentingnya posisi atau letak tubuh yangØ normalRasional :
agar klien mampu melakukan dan merubah posisi/letak tubuh yang kurang baik.
Anjurkan pasien untuk selalu memperhatikan sakit kepalaØ yang dialaminya dan
faktor-faktor yang berhubungan.Rasional : dengan memperhatikan faktor yang
berhubungan klien dapat mengurangi sakit kepala sendiri dengan tindakan
sederhana, seperti berbaring, beristirahat pada saat serangan.
2.8.4. EvaluasiEvaluasi adalah perbandingan yang sistemik atau terencana
tentang kesehatan pasien dengan tujuan yang telah ditetapkan, dilakukan
dengan cara berkesinambungan, dengan melibatkan pasien, keluarga dan
tenaga kesehatan lainnya. (Carpenito, 1999:28)Tujuan Pemulangan pada vertigo
adalah :a. Nyeri dapat dihilangkan atau diatasi.b. Perubahan gaya hidup atau
perilaku untuk mengontrol atau mencegah kekambuhan.c. Memahami
kebutuhan atau kondisi proses penyakit dan kebutuhan terapeutik.
DAFTAR PUSTAKA
1. Lynda Juall carpernito, Rencana Asuhan keperawatan dan dokumentasi
keperawatan, Diagnosis Keperawatan dan Masalah Kolaboratif, ed. 2, EGC,
Jakarta, 1999.2. Marilynn E. Doenges, Rencana Asuhan Keperawatan pedoman
untuk perencanaan dan pendokumentasian pasien, ed.3, EGC, Jakarta, 1999.3.
http://www.kalbefarma.com/files/cdk/files/14415TerapiAkupunkturuntukVertigo.
pdf/144_15TerapiAkupunkturuntukVertigo.html4. Kang L S,. Pengobatan Vertigo
dengan Akupunktur, Cermin Dunia Kedokteran No. 144, Jakarta, 2004.
VERTIGO



A. Landasan Teoritis.
1.Pengertian.
Vertigo adalah perasaan yang abnormal, mengenai adanya gerakan penderita sekitarnya atau
sekitarnya terhadap penderita; tiba-tiba semuanya serasa berputar atau bergerak naik turun
dihadapannya. Keadaan ini sering disusul dengan muntah-muntah, bekringat, dan kolaps. Tetapi
tidak pernah kehilangan kesadaran. Sering kali disertai gejala-gejala penyakit telinga lainnya.

2.Tanda dan Gejala.
Jenis vertigo ini merupakan sindrom vestibular yang paling sering dijumpai dalam praktek klinis.
Pasien dengan kelainan ini tidak mengalami vertigo bila duduk atau berdiri diam tapi serangann
timbul bila terjadi perubahan posisi ( misalnya sedang tidur terlentang ke depan dan ke belakang
kemudian miring ke posisi yang terganggu ). Atau gerakan kepala atau badan, umumnya gerakan
kedepan dan ke belakang yang memicu vertigo, vertigo biasanya hanya berlangsung beberapa detik.
Perubahan posisi kepala menghebat vertigo dan helitonitis vestibulans dan beberapa vertigo lain
yaitu perifer atau sentra, tetapi pada gejala ini hanya timbul setelah gerakan kepala tertentu.

3.Patofisiologi.
Penyebab penyakit ini belum diketahui, kemungkinan karena pemasukan cairan dan garam yang
 berlebihan, bekerja terlalu berat dan pengaruh emosi.
Pada penyakit ini ditemukan pelebaran labirin membran mukosa disertai rusaknya sel saraf sensori
pada ampula dan koklea. Biasanya yang terkena saraf telinga lainnya.
Penyakit ini lazim terdapat pada penderita setengah tua, tiba-tiba mendapat serangan vertigo berat
diikuti mual dan muntah. Serangan timbul beberapa jam, tetapi penderita memerlukan istirahat di
tempat tidur selama dua – tiga hari. Diperlukan beberapa waktu untuk dapat bekerja kembali sebab
penderita masih belum bisa berjalan sempurna serta kurang percaya akan diri sendiri. Penderita
dapat sembuh setelah beberapa hari, tetapi dapat juga sampai beberapa bulan. Selama serangan
penderita menjadi tuli namun pulih kembali bila penyakit telah sembuh. Keluhan tinitus pada teling
yang terkena sering memburuk sebelum atau selam serangan. Sayangnya banyak penderita yang
makin lama makin tuli selama penyakit berjalan.

4.Komplikasi.
Komplikasi penyakit vertigo ini biasanya adalah penyakit meniere, trauma telinga dan labirimitis,
epidemic atau akibat otitis media kronika. Vertigo juga dapat disebabkan karena penyakit pada saraf
akustikus serebelum atau sistem kardiovaskuler.

5.Penatalaksanaan.
Pada fase akut penderita harus dibaringkan dan diberi Avoming 25 mg tiap 6 jam. Kalau muntah dan
vertigo hebat penderita perlu dirawat di Rumah Sakit. Promethazine 25 mg dan Chlorpromazine 1,25
mg melalui IM tiap 6jam selama 24 jam akan mengurangi muntah dan vertigo yang hebat.
Pada fase tenang penderita dianjurkan untuk :
a)Mengurangi minum hanya sampai tiga gelas sehari.
b)Pantang garam.
Sebagian besar penderita sembuh dengan cara tersebut diatas. Hanya sebagian kecil saja vertigonya
kambuh yang memerlukan operasi pada teling yang terkena.
Bilamana pendengaran masih baik dianjurkan operasi untuk menghilangkan vertigo sambil
mempertahankan pendengarannya seperti :
a)Miringotomi dan pemasangan gromet dapat mengurangi vertigo.
b)Dekomprese sakus endolimfatikus untuk mengurangi tekanan di dalam labirin mukosa dapat
menghilangkan vertigo.
c)Perusakan dengan ultra sonik terhadap labirin untuk mempertahankan koklea telah dicoba pula
tetapi cara ini sudah banyak ditinggalkan oleh ahli THT.
d)Bilamana satu telinga tuli besar dan menyebabkan kambuhnya vertigo perusakan labirin
membranosa perlu dilakukan dengan cara operasi ini penderita dibebaskan sama sekali dari vertigo
sedangkan hilangnya pendengaran tidak merisaukan penderita.

B.Asuhan Keperawatan.
1.Pengkajian.
☻Aktifitas / Istirahat.
Letih, lelah, malaise, keterbatasan akibat keadaan, ketegangan mata, insomnia.
☻Makanan / Cairan.
Mual / muntah, anoreksia ( selama nyeri ), penurunan berat badan.
☻Neurosensori.
Pening, disorientasi ( selama sakit kepala ), tidak mampu berkonsentrasi, riwayat kejang, cedera
kepala yang baru terjadi, trauma, stroke, infeksi intra kranial, kraniotomi, aura; visual, olfaktorius
tinitus, perubahan visual, sensitif terhadap cahaya / suara yang keras, epistaksis, parestesia,
kelemahan progresif / paralisis satu sisi temporer.
☻Nyeri / kenyamanan.
Nyeri, kemerahan, pucat pada daerah wajah, fokus menyempit, fokus pada diri sendiri, respon
emosional / prilaku tak terarah, seperti menangis, gelisah, otot-otot daerah leher menegang,
rigiditas nukal.

2.Data Fokus.
☻Inspeksi.
Letih, lelah, ketegangan mata, mual dan muntah, penurunan berat badan, nyeri, kemerahan, pucat
pada daerah wajah

☻Auskultasi.
Hipertensi ( peningkatan tekanan darah ).
☻Palpasi.
☻Perkusi.

3.Diagnosa Keperawatan.
1)Nyeri akut / kronis B.D stres dan ketegangan, iritasi / tekanan saraf, vasospasme, peningkatan
tekanan intra kranial.
2)Resiko tinggi tidak efektifnya koping individual B.D situasi krisis, kerentanan personal, sistem
pendukung tidak adekuat, kelebihan beban kerja / kurang hiburan, ketidak adekuatan relaksasi,
metode koping tidak ade kuat, nyeri berat, ancaman berlebihan pada diri sendiri.
3)Kurang pengetahuan ( kebutuhan belajar ) mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan B.D
kurang pemajanan / kurang mengingat, tidak mengenal informasi, keterbatasan kognitif.
Intervensi Keperawatan.
☻Diagnosa 1.
1)Teliti keluhan nyeri, catat intensitasnya ( skala 0 – 4 ), karakteristik  ( misal; berat,
berdenyut, konstan ), lokasi, lamanya, faktor yang memperburuk, atau meredakan.
2)Observasi adanya tanda-tanda nyeri non verbal, seperti; ekspresi wajah, posisi tubuh, gelisah,
menangis / meringis, menarik diri, diaforesis, perubahan frekuensi jantung / pernafasan, tekanan
darah.
3)Catat adanya pengaruh nyeri, misalnya; hilangnya perhatian pada hidup, penurunan aktifitas,
penurunan berat badan.
☻Diagnosa 2.
1)Diskusikan mengenai metode koping, seperti pemakaian alkohol, kebiasaan merokok, pola makan,
strategi relaksasi mental / fisik.
2)Bantu pasien dalam memahami perubahan pada konsep citra tubuh.
3)Berikan informasi mengenai penyebab sakit kepala, penanganan dan hasil yang diharapkan.
☻Diagnosa 3.
1)Diskusikan etiologi individual dari sakit kepala bila diketahui.
2)Bantu pasien dalam mengidentifikasi kemungkinan faktor predisposisi, seperti stres emosi, suhu
yang berlebihan, alergi terhadap makanan / lingkungan tertentu.
3)Anjurkan pasien untuk selalu memperhatikan sakit kepala yang dialaminya dan faktor-faktor yang
berhubungan atau faktor presipitasinya.

5.Implementasi dan Rasionalisasi Keperawatan.
☻Diagnosa 1.
1)Meneliti keluhan nyeri, mencatat intensitasnya ( skala 0 – 4 ), karakteristik     ( misal; berat,
berdenyut, konstan ), lokasi, lamanya, faktor yang memperburuk, atau meredakan.
Rasional:
Nyeri merupakan pengalaman subjektif dan harus dijelaskan oleh pasien. Mengidentifikasi
karakteristik nyeri dan faktor yang berhubungan merupakan suatu hal yang amat penting untuk
memilih intervensi yang cocok dan untuk mengevaluasi keefektifan dari terapi yang diberikan.
2)Mengobservasi adanya tanda-tanda nyeri non verbal, seperti; ekspresi wajah, posisi tubuh, gelisah,
menangis / meringis, menarik diri, diaforesis, perubahan frekuensi jantung / pernafasan, tekanan
darah.
Rasional:
Merupakan indikator / derajat nyeri yang tidak langsung yang dialami. Sakit kepala mungkin bersifat
akut atau kronis, jadi manifestasi fisiologis bisa muncul / tidak.
3)Mencatat adanya pengaruh nyeri, misalnya; hilangnya perhatian pada hidup, penurunan aktifitas,
penurunan berat badan.



Rasional:
Nyeri dapat mempengaruhi kehidupan sampai pada suatu keadaan yang cukup serius dan mungkin
berkembang kearah depresi.
☻Diagnosa 2.
1)Mendiskusikan mengenai metode koping, seperti pemakaian alkohol, kebiasaan merokok, pola
makan, strategi relaksasi mental / fisik.
Rasional:
Tingkat laku maladaptif mungkin digunakan untuk mengatasi nyeri yang menetap atau mungkin
berperan dalam berlanjutnya nyeri tersebut.
2)Membantu pasien dalam memahami perubahan pada konsep citra tubuh.
Rasional:
Pasien mungkin menganggap dirinya sebagai seseorang yang mengalami sakit kepala dan mulai
melihat dirinya sebagai seorang yang tidak mengalami sakit kepala.
3)Memberikan informasi mengenai penyebab sakit kepala, penanganan dan hasil yang diharapkan.
Rasional:
Pemahaman terhadap informasi ini dapat membantu pasien dalam menentukan pilihan, belajar
mengatasi masalah dan mendapatkan satu sensasi dari pengendalian atas keadaan yang
meningkatkan harga diri.
☻Diagnosa 3.
1)Mendiskusikan etiologi individual dari sakit kepala bila diketahui.
Rasional:
Mempengaruhi pemilihan terhadap penanganan dan berkembang kearah proses penyembuhan.
2)Membantu pasien dalam mengidentifikasi kemungkinan faktor predisposisi, seperti stres emosi,
suhu yang berlebihan, alergi terhadap makanan / lingkungan tertentu.
Rasional:
Menghindari / membatasi faktor-faktor ini seringkali dapat mencegah berulangnya / kambuhnya
serangan.
3)Menganjurkan pasien untuk selalu memperhatikan sakit kepala yang dialaminya dan faktor-faktor
yang berhubungan atau faktor presipitasinya.
Rasional:
Memberikan kesempatan untuk mengidentifikasi / mengendalikan faktor yang mungkin menjadi
pencetus sakit kepala tersebut.

6.Daftar Pustaka.
Doengos, Marily E. 1998. Rencana Asuhan Keperawatan, Pedoman Untuk Perencanaan dan
Pendokumentasian. Edisi 3 EGC; Jakarta.
Mansjoer Arif, dkk. 1999. Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Media Aesculapius FKUI, EGC; Jakarta.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:1044
posted:4/30/2012
language:Indonesian
pages:18