hubungan debit dan kehilangan air by pemulabanget

VIEWS: 87 PAGES: 11

ANALISIS HUBUNGAN DEBIT DAN KEHILANGAN AIR PADA SALURAN IRIGASI TERSIER DI DAERAH IRIGASI PUNGGUR UTARA RANTING DINAS PENGAIRAN PUNGGUR LAMPUNG TENGAH

More Info
									      ANALISIS HUBUNGAN DEBIT DAN KEHILANGAN AIR
 PADA SALURAN IRIGASI TERSIER DI DAERAH IRIGASI PUNGGUR
        UTARA RANTING DINAS PENGAIRAN PUNGGUR
                   LAMPUNG TENGAH

                             Sri Wigati1), Ridwan Zahab2)
           Jurusan Teknik Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Lampung


ABSTRAK

Dalam upaya peningkatan efisiensi penggunaan air irigasi, telah dilaksanakan
penelitian kehilangan air pada saluran irigasi tersier di Daerah lrigasi Punggur
Utara Ranting Dinas Pengairan Punggur Lampung Tengah.

Penelitian bertujuan untuk mengetahui besarnya kehilangan air pada saluran
tersier serta menentukan besarnya nilai faktor tersier berdasarkan kisaran debit
yang dialirkan pada saluran. Dengan diketahuinya nilai faktor tersier (Ft) maka
diharapkan penjatahan air irigasi dapat ditentukan, dan dapat disusun rencana
tata tanam lebih baik.

Pengukuran kehilangan air di saluran dilaksanakan dengan metode inflow -
outflow antara dua bangunan bagi dengan tiga kali ulangan. Perhitungan
dilakukan dengan cara mengkalikan kecepatan aliran dengan nilai koefisien
sebesar 0,85 untuk kedalaman air kurang dari 70 cm dan 0,88 untuk kedalaman
air lebih dari 70 cm untuk menghindari perubahan - perubahan yang terjadi
perhitungan debit akibat kecepatan angin dan juga kondisi fisik dari saluran.

Pengukuran pada saluran irigasi tersier dihasilkan nilai faktor tersier, rata -
rata dari scmua pengukuran debit saluran tersier (Ft) sebesar 1,20. Semakinjauh
bangunan bagi tersier dari bangunan bagi sekunder (hulu) maka suplai air pada
bagian hilir akan semakinsedikit. Untuk mengimbangi kehilangan air pada
saluran tersier, maka faktor tersier bagian hulu saluran sebesar (FtI) 1,12 pada
bagian tengah (Ft2) sebesar 1,22 dan bagian hilir (Ft]) sebesar 1,27.

Hasil penelitian mcmberikan model pendugaan besarnya kehilangan air di
saluran yaitu WL = -0,038 + 2,505.10-5 SP - 0,021W + 0,071 V + 0,226R
dengan koefisien korelasi sebesar 83,6 %



1)
     Alumni Jurusan Teknik Pertanian Fakultas Pertanian Unila
2)
     Dosen Jurusan Teknik Pertanian Fakultas Pertanian Unila
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang dan Ruasalah

Peningkatan produksi pangan menuntut adanya peningkatan unsur - unsur
penunjangnya, baik secara kualiatas maupun kuantitas. Areal persawahan
merupakan lahan pertanian utama penghasil beras sebagai bahan pokok pangan,
sehingga diperlukan usaha - usaha secara intensif dan ektensif untuk peningkatan
produksinya, salah satunya adalah dengan mengatur pcmberian air
(Syarnadi,1985).

Besarnya kehilangan air pada saluran selain dipengaruhi oleh musim, jenis tanah,
keadaan dan panjang saluran juga dipengaruhi oleh karateristik saluran. Sistem
penyaluran air ke areal persawahan menggunakan saluran tanah, dan
mengakibatkan rendahnya efesiensi pengairan. Pendugaan besarnya kehilangan
air pada saluran merupakan langkah awal dalam usaha pcmanfaatan air secara
efisien. (Sarnadi, 1985).

Sampai saat ini dalam eksploitasi irigasi di daerah irigasi kehilangan air pada
saluran - saluran tersier ditetapkan dalam persen berdasarkan perkiraan dan
taksiran petugas irigasi yang bersangkutan, Penentuan faktor saluran tersier lebih
baik dalam pengaturan pcmberian air, faktor saluran tersier digunakan untuk
menentukan debit yang diperlukan dari saluran sekunder.

Dalam usaha peningkatan dan penycmpurnaan pengelolaan air irigasi (water
management), maka besarnya kehilangan air pada saluran tersier perlu diteliti
untuk mencegah terjadinya pcmborosan air.

1.2 Tujuan Penelitian

Penelitian kehilangan air pada saluran irigasi tersier di Daerah Irigasi Punggur
Utara Ranting Dinas Pengairan Punggur Lampung Tengah, bertujuan antara lain:
 1. Mengetahui besarnya kehilangan air di saluran tersier
 2. Mengetahui nilai faktor irigasi tersier.
 3. Mcmpelajari besarnya pengaruh kondisi saluran dan aliran terhadap
    kehilangan air pada saluran tiap luas bidang basah.
1.3 Manfaat Penelitian

Bedasarkan nilai faktor tersier yang ditentukan, diperoleh manfaat antara lain:
a) Penjatahan pcmberian air dari saluran tersier dapat dilakukan sesuai dengan
    kebutuhan tanaman.
b) Sebagai bahan ruasukan bagi UPTD Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah
    Way Seputih Sekampung, khususnya Ranting Dinas Pengairan Punggur
    Kabupaten Lampung Tengah dalam mcmbuat rencana tata tanam yang lebih
    baik.

1.4 Hipotesis

Dalam pelaksanaan penelitian ini disusun hipotesis sebagai berikut: Selain
dipengaruhi oleh keadaan aliran, kehilangan air pada saluran juga dipengaruhi
oleh karateristik saluran.


METODE PENELITIAN

2.1 Tcmpat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus 2005 di Daerah lrigasi Punggur
Utara Ranting Dinas Pengairan Punggur, Kabupaten Lampung Tengah, dengan
mengambil lokasi pada saluran tersier.

2.2 Peralatan yang digunakan

Dalam penelitian dugunakan peralatan antara lain sebagai berikut:
roll meter, stopwatch, pelampung botol, patok kayu untuk pengukuran debit air di
saluran irigasi tersier.

2.3 Metode Penelitian

2.3.1 Metoda pengukuran debit

Metode pengukuran yang dilakukan adalah Inflow - Outflow secara over all untuk
setiap saluran pengamatan dengan ruas pengukuran antara dua bangunan
bagi/sadap. Dengan alat yang digunakan adalah pelampung. Pengukuran
kecepatan air dilakukan 3 kali pengulangan. perhitungan dilakukan dengan
pelampung botol dengan mengkalikan kecepatan dengan koefisien sebesar 0.85
untuk kedalaman air kurang dari 70 cm atau 0.88 untuk kedalaman air lebih dari
70 cm untuk menghindari perubahan - perubahan yang terjadi perhitungan debit
akibat kecepatan angin dan juga kondisi fisik dari saluran.

2.3.2   Perhitungan Kehilangan Air pada Saluran Tersier

Kehilangan air (m3/dt) diperhitungkan sebagai selisih antara debit inflow dan
debit outflow untuk setiap ruas pengukuran (antar dua bangunan bagi).
- Outflow pada ruas pengukuran ke-n Jumlah kehilangan air pada saluran tersier
diperhitungkan dengan persamaan sebagai berikut:
               K = Σ (In -On)
 dimana:       K : jumlah kehilangan air pada saluran
               In : debit inflow pada ruas pengukuran ke-n
               On : debit

- Faktor saluran tersier (Ft) dihitung dengan persamaan sebagai berikut:
             O + ( I n − On )
        F=
                    O
               Σ( I n − O n )
 atau F = 1 +
                     O
               Σ kehilangan air
 atau F = 1 +
                        O
 dimana:     F : faktor saluran
              O: debit Outflow saluran pada pintu ruasukan berikutnya

2.5 Analisa Data

Data pengukuran luas penampang basah, kecepatan aliran dan debit aliran
dianalisis untuk mengetahui hubungan antara sifat aliran dengan kehilangan air
pada saluran dilakukan analisis regresi linier menggunakan program SPSS
(Statistical Product and Service Solution).

Penyusunan model kehilangan air ini dilakukan secara statistik antara kehilangan
air (WL) sebagai variable tak bebas, dengan karateristik saluran dan keadaan
aliran sebagai variable bebas dengan dua cara model pendekatan, yaitu: Model
analisis regresi linier berganda (multiple regression)
Model Persamaan
WL =          f(karateristik saluran dan keadaan aliran)
         f(W, V, SP, R)
         bo+b1W+b2V+b3SP+ b4R
dimana        W=     lebar permukaan aliran         V = kecepatan aliran
              SP=    panjang saluran                R = jari - jari hidrolik


HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Gambaran Umum Wilayah

Luas wilayah pertanian di Kabupaten Lampung Tengah sekitar 478.982 hektar
atau 13,57% terhadap total wilayah pertanian di Propinsi Lampung. Daerah
lrigasi Puggur Utara memiliki lahan irigasi 17.407,50 Ha, dengan luas panen
4.683 Ha dan rata - rata produksi tanamaan pangan sebesar 25.915 ton (BPS,
2004).

 Daerah lrigasi (D.I.) Punggur Utara Ranting Dinas Pengairan Punggur mengairi
 sawah fungsional seluas 3777,5 Ha dari luas baku sawah 5277 Ha. Secara
 administratif wilayah Ranting Dinas Pengairan (D.P.) Punggur terletak di
 Kabupaten Lampung Tengah. Lokasi Kantor Ranting D.P. Punggur terdapat di
 Desa Tanggul Angin Kecamatan Punggur.



3.2 Efisiensi Penyaluran Air

Berdasarkan data sekunder yang didapat dari Ranting D.P. Punggur, efisiensi
penyaluran air yang dilakukan dapat dilihat pada Tabel I.

Tabel l. Efisiensi Penyaluran Air lrigasi Ranting D.P. Punggur

 Saluran                       Efisiensi                    Satuan kebutuhan air
 Primer                        95%                          1.05 lt/dtIHa
 Sekunder                      80%                          1.25 lt/dt/Ha
 Tersier                       65%                          1.54 lt/dt/Ha

Sumber: Rencana Tata Tanam dan Pola Tanam Global di Sekampung dan
        Punggur Utara
Dari Tabel 1 pada saluran tersier, efisiensi penyaluran air irigasi sebesar 65%
artinya kehilangan air di saluran sebesar 35%, dengan angka tersebut menurut
Soeprapto (2002) kehilangan air di saluran tersier di Ranting D.P. Punggur cukup
besar.

3.3 Kehilangan air pada saluran Tersier

Kehilangan air pada saluran - saluran irigasi (conveyance loss) meliputi
komponen kehilangan air melalui evaporasi, perkolasi, perembesan (seepage) dan
bocoran (leakage). Pada saluran yang dilapisi bahan kedap, kehilangan air dapat
ditekan dan hanya melalui proses evaporasi yang relatif kecil. Pada saluran irigasi
yang ditumbuhi rumput (aquatic weed) seperti enceng gondok (Eichornia sp)
terjadi kehilangan melalui evapotranspirasi.

Tabel 2. Debit inflow dan jumlah kehilangan air (m3/dtk) pada saluran tersier
         di daerah pengairan Punggur Utara Ranting Punggur
  Rentang Pengukuran        Debit inflow       Kehilangan air      Faktor tersier (Ft)
 D4 Ki                         0,1477              0,0419                  1,39
 PU 12 Ki                      0,2933              0,0127                  1,05
 El Ka.l                       0,3119              0,0372                  1,14
 E2 Ka                         0,1949              0,0291                  1,18
 E3 Ka                         0,2012              0,0288                  1,17
 E3 Ki                         0,0903              0,0202                  1,14
 G1 Ka. 1                      0,1454              0,0408                  1,07
 G1 Ki                         0,2041              0,0128                  1,39
 Fl Ka                         0,2168              0,0434                  1,04
 FI Ki                         0,2405              0,0623                  1,06
 F2 Ka                         0,2026              0,0554                  1,35
 F2 Ki                         0,2651              0,0446                  1,20
 F3 Ki                         0,2341              0,0647                  1,39
 Total                         2,7469              0,4939
 Rata - rata                   0,2113              0,0379                  1,20

Pada tabel tersebut dapat dilihat bahwa pada tingkat rata - rata debit pada pintu
pemasukan (inflow) sebesar 0,2113 m3/dt terjadi kehilangan air sebesar 0,0379
m3/dt. Membandingkan nilai kehilangan air terhadap debit pada pintu pemasukan
pada tahap
Pengukuran pada Tabel 2 tidak menunjukkan suatu korelasi bahwa dengan makin
besarnya debit inflow kehilangan air akan semakin besar. Hal ini disebabkan
bervariasinya debit inflow pada tiap bentang pengukuran, yang besarnya
tergantung pada debit yang disalurkan oleh petugas pengairan sewaktu
pengukuran dilaksanakan.

Faktor saluran tersier merupakan perbandingan antara debit pada pintu
pemasukan dari saluran sekunder terhadap debit yang sampai (perlu tersedia)
pada pintu pemasukan tersier: Ft = 1 + KA/O. Berdasarkan nilai debit inflow dan
jumlah kehilangan air, maka dapat dihitung nilai Ft untuk daerah irigasi Punggur
Utara Ranting Dinas Pengairan Punggur. Dari data yang diperoleh, dihasilkan
faktor saluran tersier menurut bagian pada saluran tersier seperti pada Tabel 3, 4
dan 5

Tabel 3. Faktor saluran tersier pada bagian huIu saluran.
  Rentang pengukuran Debit inflow Kehilangan air Faktor tersier (Ft)
                                                   Hulu
  PU 12 Ki                  0,2933               0,0127                 1,05
  GI Ka. I                  0,1454               0,0408                 1,07
  G1 Ki                     0,2041               0,0128                 139
  FI Ka                     0,2168               0,0434                 1,04
  FI Ki                     0,2405               0,0623                 1,06
  Total                     11,001                0,172
  Rata - rata               0,2200               0,0344                 1,12

Air irigasi yang dialirkan pada saluran tersier semakin jauh dari bangunan bagi
sekunder maka akan terjadi kehilangan sepanjang saluran tersier tersebut, maka
faktor saluran tersier harus dicari perbagian saluran, mulai dari bagian hulu,
tengah dan hilir dan ini ditujukan untuk mengganti kehilangan air yang terjadi.
Dan dari Tabel 3 faktor saluran tersier untuk bagian hulu adalah sebesar 1,12.
Tabel 4. Faktor saluran tersier pada bagian tengah saluran
  Rentang pengukuran         Debit inflow     Kehilangan air Faktor tersier (Ft)
                                                 Tengah
  E2Ka                       0,1949           0,0291                    1,18
  EI Ka.1                    0,3119           0,0372                    1,14
  F2Ka                       0,2026           0,0554                    1,35
  F2 Ki                      0,2651           0,0446                    1,20
  Total                      0,9745           0,1664
  Rata - rata                0,2436           0,0416                    1,22

Faktor saluran tersier yang dihasilkan dari pengukuran bagian tengah saluran
sebesar 1,22.

Tabe1 5. Faktor saluran tersier pada bagian hilir saluran
  Rentang pengukuran         Debit inflow     Kehilangan air Faktor tersier (Ft)
                                                  Hilir
  D4Ki                       0,1477           0,0419                    1,39
  E3 Ka                      0,2012           0,0288                    1,17
  E3 Ki                      0,0903           0,0202                    1,14
  F3 Ki                      0,2341           0,0647                    1,39
  Total                      0,6733           0,1556
  Rata - rata                0,1683           0,0389                    1,27

Untuk faktor saluran tersier pada bagian hilir saluran sebesar 1,27 dan nilai ini
lebih besar dibandingkan bagian hulu dan tengah saluran.


3.4 Analisis Hubungan Keadaan Saluran Terhadap Kehilangan Air

Dalam penelitian dipelajari hubungan antara besarnya pengaruh keadaan aliran
terhadap kehilangan air yang terjadi disepanjang saluran. Analisis data yang
dilakukan dengan menggunakan SPSS (Statistical Product and Service Solution)
untuk regresi linier.

A. Model Persamaan 1
WL = -0,038 + 2,505.10-5 SP - 0, 021 W + 0,071V + 0,226R

B. Model Persamaan 2
WL = -0,022 - 0,022W + 0, 055 V + 0,231R
C. Model Persamaan 3
WL = -0,029- 0,025W + 0,153R

Berdasarkan nilai koefisien korelasi dari persamaan pendugaan kehilangan air
pada saluran tersier Model 1 dengan derajat ketepatan sebesar 83,6% pada Model
2 sebesar 79,2% dan pada Model 3 sebesar 0,752% karena pada Model l lebih
besar koefisien korelasinya maka persamaan WL = -0,038 + 2,505.10-5 SP -
0,021W + 0,071V + 0,226R yang dipakai untuk menduga kehilangan air disaluran
tersier pada saluran tersier Ranting Dinas Pengairan Punggur.

Kehilangan air yang disebabkan karateristik saluran mengakibatkan berkurangnya
jumlah air yang dapat dimanfaatkan bagi pertumbuhan tanaman dan rendahnya
efisiensi pengairan. Dalam usaha peningkatan efisiensi pengairan, penggunaan air
pengairan perlu dilakukan tindakan pencegahan terjadinya kerusakan saluran
secara periodik maupun dapat menggunakan bahan kedap air untuk pelapisan
dasar dinding saluran.

Maka untuk memperkecil kehilangan air dalam eksploitasi irigasi perlu
diusahakan agar nilai parameter saluran tersebut seminimal mugkin, debit air
tidak perlu terlalu besar, yang penting saluran yang perlu mendapat bagian air
dapat dibagi sesuai dengan debit yang diperlukan.



SIMPULAN

1. Pada saluran irigasi tersier daerah irigasi Pooggur Utara Ranting Dinas
   Pengairan Pooggur tin~at rata - rata debit pada pintu pemasukan atau debit
   inflow sebesar 0,2113 m /dt terjadi kehilangan air sebesar 0,0379 m3/dt
2. Pada saluran tersier bagian hulu didapat Faktor saluran tersier (Ft,) sebesar
   1,12, bagian tengah saluran (Ft2) sebesar 1,22 dan pada bagian hilir (Ft3)
   sebesar 1,27
3. Dari penelitian didapatkan model pendugaan kehilangan air: WL = -0,038 +
   2,505.10-5 SP - 0,021W + 0,071V + 0,226R dengan koefisien korelasi 83,6%
SARAN

Berdasarkan pembahasan dan simpulan yang telah dikemukakan dapat
disampaikan saran yaitu: Perlu dilakukan penelitian lanjutan, untuk mencari
faktor saluran primer dan faktor saluran sekunder sehingga dapat dihitung
kebutuhan air dari bendung.



DAFTAR PUSTAKA

BPS. 2004. Lampung Tengah Dalam Angka Tahun 2003. Bandar Lampung.

Chow. V. T. dan Rosalina E. V. 1992. Hidrolika Saluran Terbuka (Open
      Channel Hydraulics). Penerbit Erlangga. Jakarta.

Darmawijaya, Isa. M. 1992. Klasifikasi Tanah: Dasar Teori bagi Penelitian
     Tanah dan Pelaksanaan Pertanian di Indonesia. Fakultas Pertanian
     Universitas Gadjah Mada. Gadjah Mada University Press.

Direktorat Jendral Pendidikan Menengah Kejuruan. Departemen Pendidikan dan
       Kebudayaan. 1979. Ilmu Bangunan Air. Jakarta.

Direktorat Jendral Pengairan. Departement Pekerjaan Umum. 1986. Standar
       Perencanaan Irigasi, Kriteria Perencanaan Bagian Bangunan Utama KP-
       Ol. C.V. Galang Persada. Bandung.

Hansen, E, Vaughan. Israelsen, Orson W. Stringham, Glen E. Tachiyan, Pipin
       Endang dan Soetjipto. 1992. Dasar - Dasar dan Praktik lrigasi.
       Penerbit Erlangga. Jakarta.

FAO. 1999. lnvestasi Air, Hidup - Mati Pertanian. Sinar Tani. Edisi 16 -22
      Januari 2002 No. 2928 Tahun XXXII. hlm. 10, kol. 1

Linsley., B. K, J. B. Franzini dan Sasongko Djoko. 1991. Teknik Sumber Daya
       Air. Edisi Ke - 3. Penerbit Erlangga. Jakarta.

Nugroho, Syaban Mulya, Sutarya dan Achmadi Partowijoto. 1987. Penelitian
      Kehilangan Air Pada Saluran lrigasi Primer dan Sekunder di Daerah
      lrigasi Kelingi - Tugu Mulyo. Sumatra Selatan. Jurnal Penelitian
      Fakultas Pertanian UNILA.

Raju, Rangga K.G. 1986. Aliran Melalui Saluran Terbuka. Penerbit Erlangga.
       Jakarta.

Soenarto. R 1957. Pengairan. cetakan keempat. Penerbit P.T. Soerangan.
       Jakarta.
Sosrodarsono, Suyono dan Kansaku Takeda,. 1978. Hidrologi Untuk Pengairan
       Penerbit P.T. Pradnya Paramitha. Jakarta.

Supranto, J. 2001 Statistik Teori dan Aplikasi. Penerbit Erlangga. Jakarta.

Sulaiman. Wahid. 2004. Analisis Regresi Menggunakan SPSS, Contoh Kasus
      dan Pcmecahannya. Penerbit Andi Y ogyakarta. Yogyakarta

Soeprapto, Ato. 2002. Model Pengairan disesuaikan dengan Kondisi Daerah.
      Sinar Tani. Edisi 16 - 22 Januari 2002 No. 2928 Taboo XXXII.
      hlm. 10, kol. 2

Syarnadi, Akhmad. 1985. Penelitian Kehilangan Air dan Perembesan Air Pada
      Saluran Daerah Pengairan Wai Seputih, Lampung Tengah. Fakultas
      Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor (tidak diterbitkan).

Walpole, Ronald E. 1995. Pengantar Statistika. PT. Gramedia Pustaka Utama.
      Jakarta.

Wickham, T.H. dan Valera. A. 1979. Praktice and Accauntability for Policy and
      the Management of lrigation Systcm in Southeast Asia. Bangkok,
      Thailand.

								
To top