memburu dna tan malaka by W656u9JN

VIEWS: 25 PAGES: 3

									Memburu DNA Tan Malaka
HARIAN SINDO, Tuesday, 30 March 2010

Tanggal 8 Maret 2010 diumumkan laporan penyelidikan tes deoxyribose nucleic
acid(DNA) kerangka jenazah yang diduga Tan Malaka di Jakarta setelah tertunda sekian
lama.

Rencana semula kesimpulan akan diperoleh dua-tiga minggu sesudah penggalian makam di
desa Selopanggung, Kediri, 12 November 2009. Keterlambatan ini karena kesulitan
mendapatkan hasil di Jakarta sehingga sampelnya terpaksa diperiksa di Australia. Tim
Identifikasi Tan Malaka terdiri atas dua dokter spesialis forensik Djaja Surya Atmadja dan
Evi Untoro serta dokter gigi Nurtamy Soedarsono (ahli odontologi forensik).

Mereka menemukan pada kedalaman 2 meter sebuah kerangka,tanpa rambut,terbaring
dalam posisi miring menghadap ke barat,dengan kedua lengan bawah tersilang ke belakang.
Di sekitar leher, tungkai maupun lengan tidak didapatkan tali maupun bahan pengikat
lainnya.Kerangka dalam keadaan rapuh, sebagian besar tulang kecil sudah tidak ada lagi,
tulang-tulang panjang hanya ada bagian tengahnya, rapuh dan bagian sumsumnya berisi
akar dan tanah.

Sebelumnya,dari pihak keluarga diperoleh keterangan bahwa Tan Malaka tidak merokok,
mempunyai gigi geraham yang terbuat dari emas, tetapi tidak jelas geraham yang
mana.Tidak lama sebelum meninggal dia pernah ditembak tungkainya (tak jelas apakah
tungkai kanan atau kiri) sehingga Tan Malaka agak pincang.Dia juga mengidap penyakit
paru menahun, yang ditandai dengan adanya riwayat sesak napas.

Pemeriksaan antropologi forensik menunjukkan kerangka tersebut seorang laki-laki,ras
Mongoloid, tinggi badan 163-165 cm, dikubur secara Islam, tanda patah tulang tidak
jelas.Pemeriksaan odontologi forensik terhadap rahang dan gigi geligi menunjukkan
kerangka adalah seorang laki-laki, ras Mongoloid, usia 40-60 tahun, atrisi berat pada semua
permukaan gigi depan, dan ada riwayat pernah sakit gigi.

Pemeriksaan DNA yang dilakukan pada kasus ini adalah pemeriksaan Y-Short Tandem
Repeats (YSTR). Y-STR merupakan DNA inti (c-DNA) yang diturunkan secara total dari
seorang pria kepada semua anak laki-lakinya.Pada kasus ini, Y-STR diturunkan oleh ayah
Tan Malaka kepada Tan Malaka dan adik laki-lakinya. Adik lakilakinya kemudian
menurunkan DNA yang sama kepada anak lakilakinya, Zulfikar, yang sekarang masih
hidup.

Jika benar kerangka yang diperiksa adalah Tan Malaka, profil Y-STR dari kerangka
tersebut akan sama persis dengan profil Y-STR dari Zulfikar. Pemeriksaan terhadap sampel
gigi maupun tulang atap tengkorak tidak berhasil mendapatkan DNA manusia dari sampel-
sampel tersebut, sehingga tidak berhasil didapatkan profil Y-STR dari kerangka tersebut.

Pengulangan pemeriksaan Y-STR terhadap sampel-sampel tersebut pada beberapa lab
DNA lainnya,baik di dalam dan maupun di luar negeri, juga gagal mendapatkan DNA dan
profil Y-STR dari kerangka yang diduga Tan Malaka tersebut.Sampai saat ini tim
investigasi masih berusaha untuk mengekstraksi dan mencari profil Y-STR kerangka di lab
DNA lain yaitu di Korea Selatan dan RRC.

Penyebab terjadinya keadaan “kerangka tanpa DNA” seperti yang ditemukan pada kasus ini
dikenal sebagai kasus “bog body”, yang dapat terjadi akibat pengaruh lingkungan yang
lembab dan basah di sekitar kerangka,yang terkubur di daerah aliran sungai.

Jago Menghilang

Semasa penjajahan,tokoh antikolonialis yang sangat tinggi mobilitasnya tampaknya Tan
Malaka. Perjuangannya secara intensif “tanpa henti selama 30 tahun”tergambar dari kota
yang disinggahinya (di dalam negeri) dari Pandan Gadang (Suliki),Bukit Tinggi,Batavia,
Semarang, Yogyakarta, Bandung, Kediri, Surabaya, dan di luar negeri mulai dari
Amsterdam, Berlin, Moskow, Amoy, Shanghai, Kanton, Manila, Saigon, Bangkok,Hong
Kong,Singapura, Rangon sampai Penang.

Berselisih pendapat dengan PKI yang melakukan pemberontakan tahun 1926/1927,Tan
Malaka mendirikan Partai Republik Indonesia (Pari) di Bangkok,1 Juni 1927. Walaupun
bukan partai massa, organisasi ini dapat bertahan hidup selama sepuluh tahun, padahal pada
saat yang bersamaan partaipartai nasionalis di Tanah Air lahir dan mati.Pari dianggap
berbahaya oleh intelijen Belanda dan aktivisnya diburu-buru. Semasa perjuangan Tan
Malaka dianggap polisi penjajah sebagai “jago menghilang”.

Karena bertahun- tahun diburu intel,pemuda Minang ini selalu waspada, dia dalam setiap
kesempatan duduk atau berada di tempat yang bisa melihat orang masuk dari pintu depan
dan siap lari dari pintu belakang.Ketika diperiksa oleh polisi di Manila, Filipina dia
menggertak “di dalam kubur suaraku akan terdengar lebih keras”. Bukan hanya itu, rupanya
setelah meninggal pun kemampuan menghilang Tan Malaka tidak berkurang.

Bukan Penggalian Pertama

Penggalian makam seorang tokoh nasional ini bukan yang pertama. Tahun 1975 dengan
dipimpin langsung Sekretaris Jenderal Departemen Sosial Rusiah Sardjono dilakukan
penggalian di pertambangan Bayah,Banten untuk menemukan jenazah Supriyadi seorang
komandan PETA yang berontak terhadap Jepang. Pada tempat yang ditunjukkan saksi tidak
ditemukan apa-apa.

Kemudian dilanjutkan ke situs sekitar itu dan diperoleh kerangka seseorang yang kemudian
dibawa ke Yogyakarta untuk diperiksa tim forensik Fakultas Kedokteran UGM.Waktu itu
belum dilakukan tes DNA,tetapi berdasar pemeriksaan forensik tidak terdapat kecocokan
antara kerangka tersebut dan ciri-ciri yang disebutkan pihak keluarga.Walaupun hasilnya
nihil, pemerintah selanjutnya menetapkan Supriyadi sebagai pahlawan nasional.

Sejarawan Belanda,Harry Poeze, berdasarkan hasil penelitian selama bertahun-tahun
dengan riset kepustakaan dan serangkaian wawancara di Jawa Timur menyimpulkan, Tan
Malaka ditembak di desa Selopanggung di kaki gunung Wilis, Kediri. Dalam e-mail-nya
kepada saya,14 Maret 2010,Harry Poeze menegaskan keyakinannya bahwa Tan Malaka
dimakamkan di Selopanggung dan berharap agar pemeriksaan DNA Tan Malaka lebih
lanjut di Korea Selatan dan China berhasil.

Pencarian makam Supriyadi pada 1975 sepenuhnya atas prakarsa dan dana pemerintah
yang ingin mengangkatnya sebagai pahlawan nasional.Namun,penggalian makam Tan
Malaka pada 2009 atas inisiatif keluarga dengan sumbangan beberapa donatur seperti
Taufik Kiemas (sebelum menjadi Ketua MPR).

Sangat ironis bila Tan Malaka yang sudah diangkat sebagai pahlawan nasional pada 1963
itu tidak dipastikan makamnya, padahal lokasinya sudah diketahui. Seyogianya Presiden
Susilo Bambang Yudoyono menugaskan menteri sosial untuk menuntaskan kasus ini
dengan anggaran negara.(*)

Asvi Warman Adam
Sejarawan LIPI,
Penasihat Tim Penggalian
Makam Tan Malaka

								
To top