Pembahasan Hewan Langka AJAG by triplesobries_bryan

VIEWS: 156 PAGES: 3

									                     Ajag, Anjing Hutan Asli Indonesia
Ajag (Cuon alpinus) adalah anjing hutan yang hidup di dataran Asia. Banyak yang
beranggapan ajag sama dengan serigala (Canis lupus) , padahal meskipun hampir mirip,
keduanya merupakan spesies yang telah berbeda pada tingkat genus. Bahkan dua subspesies
ajag yakni Cuon alpinus javanicus dan Cuon alpinus sumatrensis merupakan anjing hutan asli
(endemik) Indonesia yang mendiami pulau Sumatera dan Jawa.
Ajag termasuk salah satu binatang langka di Indonesia yang populasinya semakin menurun
dan terancam kepunahan. Oleh IUCN Redlist, anjing hutan asli Indonesia ini dikategorikan
dalam status konservasi endangered (Terancam Punah).
Ajag sering pula disebut ajak mempunyai nama ilmiah Cuon alpinus. Di dalam bahasa Inggris
anjing hutan ini disebut sebagai “Dhole”, Asiatic Wild Dog, India Wild Dog, dan Red Dog.
Ciri-ciri dan Perilaku. Ajag (Cuon alpinus) mempunyai panjang tubuh sekitar 90 cm dengan
tinggi badan sekitar 50 cm. Anjing hutan ini mempunyai berat badan antara 12-20 kg. Ajag
memiliki ekor yang panjang sekitar 40-45 cm.
Binatang langka dan terancam kepunahan asli Indonesia ini memiliki bulu berwarna coklat
kemerahan kecuali pada bagian bawah dagu, leher hingga ujung perut yang berwarna putih
dan ekornya yang berwarna kehitaman.

Ajag biasa hidup berkelompok yang terdiri atas 5-12 ekor, bahkan hingga 30 ekor. Namun
pada situasi tertentu, anjing hutan yang langka ini dapat hidup soliter (menyendiri) seperti
yang ditemukan di Taman Nasional Gunung Leuser. Ajag melakukan perburuan mangsa
secara bersama-sama yaitu dengan mengejar
mangsanya yang lebih besar seperti babi hutan,
kijang, rusa, banteng, dan kerbau. Tikus, kelinci,
kancil dan binatang kecil lainnya juga menjadi
makanan kesukaan binatang langka ini.
Ajag dapat mempunyai anak 6 ekor dalam sekali
masa kehamilan, dengan lama buntingan sekitar 2,5
bulan. Dalam waktu satu tahun, anjing hutan ini
dapat beranak sampai 2 kali. Anak ajag akan
mencapai dewasa pada umur satu tahun.
Hewan ini termasuk hewan yang lebih aktif di malam hari (nokturnal), walaupun tidak
sepenuhnya aktifitasnya dilakukan di malam hari. Suara lolongnya terdengar jelas dan keras
sedang suara salakannya terdengar lembut, seperti mendengking pendek berulang-ulang
Habitat dan Populasi. Ajag (Cuon alpinus) mendiami kawasan pegunungan dan hutan.
Binatang langka ini biasa membuat sarang di gua-gua dan liang yang tersedia. Anjing hutan
yang berbeda dengan serigala ini tersebar di kawasan Asia mulai dari Bangladesh, Bhutan,
Kamboja, China, India, Indonesia, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Laos, Malaysia, Mongolia,
Myanmar, Nepal, Russia, Tajikistan, Thailand, dan Vietnam. Di Indonesia ajag dapat
ditemukan di pulau Sumatera dan Jawa.
Populasi ajag mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Populasinya di seluruh dunia
diperkirakan sekitar 2.500 ekor. Karena penurunan populasi ini, ajag kemudian dikategorikan
dalam status konservasi endangered (Terancam Punah) oleh IUCN Redlist sejak 2004. Selain
itu CITES juga memasukkan dalam daftar Apendix II.
Penurunan populasi ini terutama disebabkan oleh rusaknya hutan sebagai habitat ajag,
berkurangnya hewan buruan (mangsa) ajag, dan perburuan liar. Di beberapa wilayah, ada pula
yang kelebihan populasi ajag sebagai akibat dari tidak adanya predator pesaing yang membuat
ajag sebagai predator tertinggi dalam ekosistem tersebut seperti yang terjadi di Taman
Nasional Baluran.
Klasifikasi ilmiah: Kerajaan: Animalia; Filum: Chordata; Kelas: Mamalia; Ordo: Karnivora;
Famili: Canidae; Genus: Cuon; Spesies: Cuon alpinus. Nama Indonesia: Ajag
Tanggapan
Ajag merupakan salah satu hewan di Indonesia yang hidup di hutan Sumatera dan Jawa
dengan nama ilmiah Cuon alpines ini telah dicap sebagai hewan yang terancam punah. Bukan
tidak mungkin Ajag punah karenakan jumlahnya yang terus menerus turun dari tahun ke
tahun di dunia. Turunnya jumlah populasi ini dikarenakan oleh maraknya penebangan hutan
secara illegal yang menyebabkan ketidak stabilan ekosistem di habitat Ajag, sehingga dari
menurunnya jumlah mangsa, jumlah Ajag sendiripun akan mengalami penurunan pula karena
persaingan yang ketat. Namun ada pula daerah dimana populasi Ajag “membludak”
dikarenakan sedikitnya predator yang memangsa Ajag, sehingga Ajag dapat leluasa mencari
makan dan bereproduksi, seperti di Taman Nasional Baluran. Dampak bila Ajag punah adalah
bertambahnya ketidak stabilan ekosistem, terjadi ledakan populasi mangsa Ajag yang dapat
reproduksi dengan bebas karena predatornya punah, berkurangnya cadangan Plasma Nutfah di
dunia dan berkurangnya Biodiversitas.
Demi menciptakan kembali kestabilan ekosistem sehingga dapat memperbanyak populasi
Ajag, supaya Ajag tidak punah Pemerintah hendaknya memberantas oknum penebang liar dan
melakukan reboisasi, supaya habitat asli Ajag dapat kembali ada. Atau dengan cara member
penyuluhan atas dampak dari penebangan liar atau perburuan liar yang dapat menyebabkan
penyerangan oleh makhluk buas tersebut. Disamping itu, dijelaskan pula akan terjadi ketidak
stabilan dari ekosistem sehingga akan merusak tatanan kehidupan yang telah berjalan lancar.
Cara pencegahan lainnya adalah dengan membuat penangkaran bagi Ajag atau dapat dibuat
pembiakan in situ maupun ek situ.
Tugas Biologi Artikel Hewan Langka
          Ajag (Cuon alpines)




                   Penyusun
           Izzuddien Sobri      (20)
                   Kelas X.1




                SMA 2 Bantul
Jalan R.A Kartini, Trirenggo, Bantul, Yogyakarta

								
To top