Docstoc

pendidikan ideal

Document Sample
pendidikan ideal Powered By Docstoc
					Konon katanya, sebagaimana yang tertulis dalam pedoman mengenai KTSP (secara teoritis):

“pengembangan diri dalam KTSP bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk
mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, minat setiap peserta didik
sesuai dengan kondisi sekolah. Kegiatannya difasilitasi (dibimbing dan dinilai) oleh konselor, guru, atau
tenaga kependidikan yang diberi tugas.

Kegiatan pengembangan diri dapat dilaksanakan antara lain melalui kegiatan pelayanan konseling
berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial, belajar, dan pengembangan karir peserta
didik serta kegiatan pengembangan kreativitas peserta didik baik melalui kegiatan ekstra kurikuler
dalam bentuk aktivitas seperti kepramukaan, KIR, keolahragaan, kesehatan, dll.

Aspek yang dinilai dalam kegiatan pengembangan diri lebih dominan pada aspek apektif peserta didik,
yang difokuskan pada pencapaian prestasi dan perubahan sikap atau perilaku peserta didik setelah
mengikuti kegiatan pengembangan diri yang diselenggarakan oleh sekolah.”

Akan tetapi fakta memang seringkali lain dengan idealisme, terlebih lain jika idealisme yang dibuat
sekedar untuk idealisme-idealismean, tidak berdasarkan itikad baik, tetapi sebagai basa-basi semata,
agar pantas dibaca.

Apabila dengan adanya dana bos, yang notabene adalah penggratisan pendidikan, malah mengancam
kualitas dunia pendidikan itu sendiri, maka sebaiknya pemerintah mempertimbangkan dengan masak-
masak setiap kebijakan yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Pelaksanaan program BOS dan
sekolah gratis tidaklah semudah dan sesederhana yang seperti diiklankan di TV oleh depdiknas, masih
banyak kendala social budaya yang menghalanginya, sebagai contoh masih adanya pungutan sukarela
tapi wajib bagi para orang tua murid.

Jangan sampai masyarakat terlena dalam jangka pendek dengan adanya pendidikan gratis, tetapi dalam
jangka panjang ternyata anak-anaklah yang menjadi korbannya. Konsep pendidikan “gratis” dengan
adanya dana bos yang sepertinya hanya “mengejar” dana pendidikan yang luar biasa besarnya itu segera
habis tak bersisa dalam satu tahun anggaran, sepertinya belum saatnya dilaksanakan sekarang ini, meski
pemerintahlah yang memutuskan. Paling tidak, konsep pendidikan murah atau paling tidak masih
melibatkan orang tua dalam pertanggungan dana operasional sekolah dan melalukna penurunan
jumlahnya setiap tahun meskipun dalam jumlah yang terbatas akan mempunyai efek yang lebih baik
daripada proses penggratisan yang terlalu cepat, karena masyarakat belum siapa secara mental dan
psikologis untuk menerimnya, meskipun nampaknya mereka menyambutnya dengan gembira karena
keterbatasan informasi dan pengetahuan.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:11
posted:4/30/2012
language:Indonesian
pages:1