Docstoc

LAPORAN HASIL DISKUSI

Document Sample
LAPORAN HASIL DISKUSI Powered By Docstoc
					          LAPORAN HASIL DISKUSI
                   Blok CLINIC
      SKENARIO “KNOW HIV  AIDS”
                   Minggu ke-4
    Tanggal 9 Maret s.d 15 Maret 2012




         Penyusun / kelompok : A


   Desi Silvia I                 0910730005
   Dheby Cinthia P               0910730007
   Zainabul Kubro                0910730019
   Putririma Nur’aisyah          0910730025
   Lina Dwi Mawarni              0910730060
   Regina                        0910730067
   Ni Luh Ayu Megasari           0910733008
   Agita Timora H                0910733016




Jurusan Gizi Kesehatan Fakultas Kedokteran
            Universitas Brawijaya
                     Malang
                      2012




                                              1
                                                                               DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL....................................................................................................................................................1
DAFTAR ISI..............................................................................................................................................................2
ISI............................................................................................................................................................................3
      A.      Kompetensi yang Akan Dicapai...............................................................................................................3
      B.      Skenario ..................................................................................................................................................3
      C.      Daftar Unclear Term ...............................................................................................................................3
      D.      Daftar Cues .............................................................................................................................................4
      E.      Daftar Problem Identification .................................................................................................................4
      F.      Hasil Brainstorming ................................................................................................................................4
      G.      Hipotesis ...............................................................................................................................................20
      H.      Learning Issues .....................................................................................................................................21
      I.      Pembahasan Learning Issues ................................................................................................................21
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI .......................................................................................................................34
REFERENSI / DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................................35
TIM PENYUSUN ....................................................................................................................................................37




                                                                                      ISI


A. KOMPETENSI YANG AKAN DICAPAI
                                          CADE                                                                                GO



                                                                                                                                                                              2
    CD. 33 Mahasiswa mampu merancang dan 33.A.3 Mampu melaksanakan perencanaan
    melakukan asuhan gizi pada pasien berdasarkan intervensi gizi.
    status gizi pasien.
    CD. 8        Mampu menyelenggarakan suatu 8.B Mampu mendesain suatu bahan / alat bantu
    pendidikan gizi dibawah supervise.                  yang akan digunakan untuk suatu pendidikan
                                                        gizi.


B. SKENARIO
                                          “kNOw HIV  AIDS”
          RSUB dalam satu tahun terakhir banyak menangani pasien HIV/AIDS. Dari data RS diketahui
   pasien HIV/AIDS saat MRS sering dalam keadaan malnutrition. Dari situasi tersebut, ahli gizi RS perlu
   mengetahui segala hal terkait HIV/AIDS termasuk mekanisme perubahan system imunn sehingga
   dapat menyusun rencana intervensi gizi secara tepat dengan memperhatikan kebutuhan zat gizi
   serta mampu merekomendasikan diet yang tepat pada kondisi HIV positif maupun AIDS.


C. UNCLEAR TERM
   No.           ISTILAH                                        PENGERTIAN
   1.     Sistem Imun          Kemampuan        dari   suatu     organisme   untuk   melindungi    atau
                               mengeliminasi organisme atau benda asing atau sel abnormal yang
                               berpotensi membahayakan tubuh (Borchers, 2005).
   2.     HIV                  Human Immuno Deficiency Virus, yaitu suatu retrovirus yang
                               menyerang dan merusak pertahanan alami tubuh terhadap penyakit
                               dan infeksi. HIV merupakan slow acting virus yang membutuhkan waktu
                               bertahun-tahun untuk menimbulkan gejala. (Food and Nutrition
                               Technical Assistance Peroject, 2004).
   3.                           Suatu sindrom / kumpulan gejala penyakit yang disebabkan retrovirus
                                 yang menyerang sistem kekebalan atau pertahanan tubuh (Siregar,
                                 2004).
          AIDS                  Stase akhir dari infeksi HIV, di mana seseorang pada stase ini terusak
                                 imun sistemnya yang masuk ke dalam oportunistik infection (tanpa
                                 nama, 2011).
   4.     Malnutrition         Keadaan gizi kurang atau lebih karena asupan diatas atau dibawah
                               kisaran asupan yang dianjurkan dalam waktu yg lama (kamus gizi).


D. CUES




                                                                                                           3
       Ahli gizi mampu mengetahui segala hal terkait HIV/AIDS termasuk perubahan system imun, sehingga
  dapat menyusun rencana intervensi gizi dan merekomendasikan diet yang tepat pada kondisi HIV positif
  maupun AIDS.


E. PROBLEM INDENTIFICATION
  1.   Apa saja perbedaan antara HIV Positif dengan AIDS?
  2.   Bagaimana mekanisme perubahan sistem imun pada HIV positif dan AIDS?
  3.   Jelaskan gambaran umum dari masing-masing HIV positif dan AIDS (meliputi Pengertian, penyebab,
       tanda gejala, faktor resiko, Patofisiologi)!
  4.   Apakah HIV positif dan AIDS bisa sembuh total?
  5.   Apakah pasien HIV positif dan AIDS pasti malnutrition? Bila iya, bagaimana mekanisme /
       keterkaitannya?
  6.   Apa saja hal-hal yang perlu diperhatikan untuk memberikan intervensi? Intervensi yang cocok untuk
       pasien HIV positif dan AIDS ?Apakah ada perlakuan khusus dari masing-masing intervensi?
  7.   Apa diet yang cocok untuk pasien HIV positif dan AIDS, beserta tatalaksananya?
  8.   Sebutkan kegunaan zat gizi spesifik terhadap HIV positif dan AIDS, disesuaikan dengan kelompok
       umur!
  9.   Obat-obatapa saja yang bisa mempengaruhi penyerapan zat gizi untuk pasien HIV positif dan AIDS?
  10. Apa saja kendala dan solusi pada intervensi pasien HIV positif dan AIDS?
  11. Bagaimana monev untuk intervensi pasien HIV positif dan AIDS


F. HASIL BRAINSTORMING
  a.   DK 1
       1.   Bagaimana mekanisme perubahan sistem imun pada HIV ?
            Limfosit T diserang HIV – kerja aktivitas limfosit T berkurang - sistem imun tubuh menurun.
       2.   Jelaskan gambaran umum HIV/AIDS ( Penyebab, tanda gejala, Faktor Resiko, Patofisiologi)!
            a. Penyebab
                Sistem Imun yang menurun karena rusaknya limfosit T.
            b. Tanda & Gejala
                Seperti orang biasa / tidak sakit, bila tidak terobati bisa terkena kanker, antibodi makin turun,
                kakeksia, nafsu makan menurun.
            c. Faktor resiko
                Free sex tnpa pengaman, pemakaian jarum suntik bergantian, transfusi darah, cairan dalam
                tubuh (alat vital, darah), bila terjadi pada ibu hamil maka bayinya juga beresiko terkena HIV
                yakni melalui darah yang keluar dari proses kelahiran secara normal dan melalui ASI.
            d. Patofisiologi



                                                                                                               4
         Infeksi HIV  mempengaruhi sistem imum  sistem imun menurun  tubuh lemah dan
         cepat sakit  AIDS  Butuh obat untuk limfosit T.
3.   Apakah HIV/AIDS bisa sembuh ?
     HIV tdak bisa sembuh, karena obat yang digunakan untuk pasien dengan HIV bersifat hanya untuk
     menekan virus agar tidak berkembang biak semakin banyak.
4.   Apakah pasien HIV pasti malnutrition? Bagaimana hubungan mekanisme HIV dengan
     malnutrition?
     Kebanyakan pasien HIV mengalami malnutrisi, karena sistem imun diserang sehingga
     membutuhkan obat-obatan untuk meningkatkan sistem pertahanan tubuh  obat berefek mulut
     terasa pahit  nafsu mankan pasien menurun dan paseien tidak berusaha memaksakan diri
     untuk makan, sehingga secara otomatis asupan makanan menurun drastis  malnutrisi. Untuk
     mencapai kondisi malnutrisi, tidak secara langsung pasien HIV mengalami malnutrisi, melainkan
     ada step by step nya atau perlahan tapi pasti.
5.   Apa saja intervensi yang cocok untuk pasien HIV/AIDS ? Adakah perlakuan khusus?
     Intervensi yang dapat diberikan untuk pasien dengan HIV yakni diet yang terencana seperti TKTP.
     Selain itu bisa juga diberikan edukasi yang mana sasarannya adalah ODHA, orang terdekat dari
     ODHA seperti keluarga, pendamping ODHA, dan masyarakat sekitar ODHA. Ada perlakuan dalam
     memberikan edukasi yakni konselor harus lebih sensitif ketika memberikan konseling yakni
     dengan berusaha menahan emosi ODHA.
6.   Apa diet yang cocok untuk pasien HIV/AIDS dan tatalaksananya?
     Ada diet tersendiri untuk pasien HIV namun biasanya juga bisa diberikan diet TKTP, diet
     antioksidan. Prinsipnya tinggi energi, tinggi protein, dan kaya antioksidan. Tujuan diet HIV/TKTP
     yakni mempertahankan status gizi si pasien agar tidak terjadi malnutrisi. Hal-hal yang perlu
     diperhatikan seperti pemilihan bahan makanannya disesuaikan dengan penggunaan obatnya, agar
     zat gizi makanan tidak mempengaruhi penyerapan atau kerja obat, misalnya dalam memilih
     bahan makanan sumber lemak, lebih memilih BM yang kaya akan MUFA, PUFA, dll.
7.   Bagaimana monev untuk intervensi pasien HIV/AIDS?
     Dapat dilihat dari perkembangan status gizinya yakni sudah mencapai status gizi normal, dari segi
     psikis dilihat tingkat emosinya sudah menurun, hasil laboratorium mengalami perkembangan
     yang baik, gaya hidupnya sudah berangsur-angsur baik, nafsu makan membaik dilihat dari plate
     waste, dll.
8.   Bagaimana penyelenggaraan pendidikan gizi yang tepat untuk pasien HIV/AIDS, media apa saja
     yang bisa digunakan dan yang tepat ?
     Hal-hal yang perlu diperhatikan, seperti :
     -   Mengerti tujuan dari pemberian edukasi.




                                                                                                    5
        -   Materi yang akan disampaikan disesuaikan dengan kondisi pasien, misalnya berisi tentang :
            gambaran umum penyakit HIV/AIDS, motivasi untuk hidup yang lebih baik, pentingnya asupan
            zat gizi untuk perkembangan kesehatan, dll.
        -   Motivasi dari si pasien untuk mengikuti kegiatan edukasi.
        -   Lebih baik yang memberikan pendidikan adalah orang yang lebih berpengalaman atau
            mantan ODHA.
        Media yang bisa digunakan :
        Leaflet, pamflet, poster, brosur, dll.
   9.   Sebutkan kegunaan suatu zat gizi spesifik terhadap HIV/AIDS!
        -   Vitamin A, C, E
            sumber antioksidan yang mana meningkatkan pertahanan tubuh, mengurangi radikal bebas.
        -   Protein
            Membangun sel-sel tubuh yang rusak akibat infeksi HIV.
        -   Tinggi kalori
            Menyediakan cadangan energi agar tidak lemas.
        -   PUFA
            Sebagai proteksi terhadap virus.
   10. Apa saja obat-obatan yang dapat mempengaruhi penyerapan zat gizi pada pasien HIV/AIDS?
        -----(Skip)-----
   12. Apa saja kendala dan solusi untuk intervensi pasien HIV/AIDS?
        -   Kendala :
            Emosi pasien yang tinggi, nafsu makan kurang, motivasi hidup kurang, sering dikucilkan, diri
            tertutup
        -   Solusi
            Berbaur dengan pasien, mengetahui makanan kesukaan pasien tapi tetap sesuai anjuran,
            Edukasi dalam bentuk konseling gizi agar lebih akrab dan timbul rasa empati, dan focus group
            discussion.


b. DK 3
   1.   Apa saja perbedaan antara HIV Positif dengan AIDS?
        a. Dillihat dari arti masing-masing huruf penyusun kata HIV dan AIDS




                                                                                                      6
    HIV adalah virus penyebab AIDS                    AIDS
    H       :   karena   virus   ini   hanya   dapat A : karena itu kondisi seseorang harus
    menginfeksi manusia                               terinfeksi, bukan sesuatu yang tularkan
    I : karena efek dari virus ini adalah melalui gen
    membuat kegagalan dari system kekebalan I            :    karena     mempengaruhi        system
    tubuh                                             kekebalan   tubuh,      bagian   tubuh    ini
    V : karena organism ini adalah virus yang biasanya bekerja untuk melawan kuman
    berarti salah satu karakteristiknya adalah seperti bakteri dan virus
    bahwa ia tidak mampu memproduksi D : karena membuat system kekebalan
    dengan sendirinya                                 tubuh kurang
                                                      S : karena seseorang dengan AIDS dapat
                                                      mengalami        berbagai   penyakit     yang
                                                      berbeda dan infeksi oportunistik

   (from Aids.org)
b. Dilihat dari tahapan perkembangan HIV menjadi AIDS
   Fase 1
     Pada fase ini individu sudah terpapar dan terinfeksi, tetapi ciri-ciri infeksi belum terlihat
     meskipun dilakukan tes darah, namun bisa juga mengalami gejala ringan, seperti flu
     (biasanya 2-3 hari dan sembuh sendiri). Umur infeksi 3 – 6 bulan.
   Fase 2
     Umur infeksi 3 – 10 tahun setelah terinfeksi HIV. Pada fase ini individu sudah positif HIV,
     tapi belum menampakkan gejala sakit (atau bisa saja menampakkan gejala ringan, misalnya
     flu 2 – 3 hari dan sembuh sendiri) dan sudah dapat menularkan kepada orang lain.
   Fase 3
     Gejala-gejala penyakit mulai muncul, antara lain keringat yang berlebihan di malam hari,
     diare terus-menerus, pembengkakan kelenjar getah bening, flu yang tidak sembuh-sembuh,
     nafsu makan berkurang dan badan menjadi lemah, serta berat badan terus berkurang, dan
     sistem kekebalan tubuh mulai berkurang. Pada fase ini belum disebut sebagai gejala AIDS.
   Fase 4
     Sudah masuk pada fase AIDS, dan timbul infeksi-infeksi oportunistik. Ada gejala utama dan
     gejala minor. Jika seseorang memiliki minimal dua dari tiga gejala utama dan satu dari lima
     gejala minor, maka dapat disimpulkan menderita AIDS.
   Gejala utama yaitu :
               Demam berkepanjangan lebih dari tiga bulan,
               Diare kronis lebih dari satu bulan (berulang maupun terus-menerus),
               penurunan berat badan lebih dari 10% dalam tiga bulan.
   Gejala minor yaitu :

                                                                                                      7
               Batuk kronis lebih dari satu bulan
               Infeksi pada mulut dan tenggorokan yang disebabkan oleh Candida albicans
               Pembengkakan kelenjar getah bening yang menetap di seluruh tubuh
               Munculnya Herpes Zoster yang berulang
               Adanya bercak-bercak gatal di seluruh tubuh
        (Widiyanto, 2008)
     c. Dilihat dari mekanisme terjadinya AIDS
         Virus HIV masuk ke tubuh  menyebar keseluruh tubuh  menyerang CD4  sistem imun
           merespon  HIV menang dan menyerang CNS dan GIT  stage infeksi oleh virus
           HIVAcute HIV infection (Acute retroviral syndrome) (2-4 minggu setelah infeksi, periode
           replikasi cepat).
           Gejala: Fever, fatigue, rash, headache, generalized lympadenopathy, pharyngitis, myalgia,
           nausea,/vomiting, diarrhea, night sweats, adenopathy, oral ulcers, genital ulcers,
           neurological symptoms, malaise, anorexia, weight loss, wasting syndrome
         Seroconversion (pengembangan antibodi HfV)
         HIV Positive Test HIV rapid tests; ELISA test, Western blot; PCR test
         Asymptomatic HIV infection
           Gejala: Abnormal metabolism, change of body composition (body cell mass loss
           with/without weight loss, lipoatrophy, lipohypertrophy), vitamin B'                  deficiency,
           susceptibility to pathogens
         Symptomatic HIV infection
           Gejala: Weight loss, thrush, fever, loss of LBM with/without weight loss, diarrhea, oral hairy
           leukoplakia, herpes zoster, peripheral neuropathy, idiopathic thrombocytopenic purpura,
           pelvic inflammatory disease
         Symptomatic AIDS (AIDS defined conditions)
           Gejala:   CD4 cell count <200/mm3, opportunistic infectious disease (pneumocystitis
           jirovecii, pneumonia, others), Kaposi's sarcoma/ lymphoma, HIV associated dementia, HIV
           associated wasting, vitamins/minerals def icienci.
           (Krause’s, 2008)


2.   Bagaimana mekanisme perubahan sistem imun pada HIV positif dan AIDS?
     Proses infeksi virus ke dalam sel limfosit T atau sel T4 atau sel CD4 adalah sebagai berikut :




                                                                                                         8
3.   Jelaskan gambaran umum dari masing-masing HIV positif dan AIDS ( Meliputi Pengertian,
     penyebab, tanda gejala, faktor resiko, Patofisiologi)! Apakah HIV positif dan AIDS bisa sembuh
     total?
     a. Transmisi HIV/AIDS
        1) Transmisi Seksual
                    Terjadi ketika ada kontak antara sekresi cairan vagina atau cairan preseminal
              seseorang dengan rektum, alat kelamin, atau membran mukosa mulut pasangannya. Ada
              beberapa cara seks yang dapat meningkatkan resiko HIV :
              - Ano-genital        : disebabkan karena tipisnya mukosa rektum sehingga mudah sekali
                 mengalami perlukaan saat berhubungan.
              - Oro-genital        : menelan semen dari mitra seksual pengidap HIV.
              - Genito-genital     : disebut juga hetero seksual, terjadi pada hubungan suami istri yang
                 salah seorang telah mengidap HIV.
        2) Transmisi Non Seksual
              - Penggunaan jarum suntik dan alat tusuk lainnya seperti alat tindik yang terkontaminasi
                 HIV.
              - Melalui donor/transfusi darah yang terjangkit HIV, resiko tertular melalui cara ini >90%.
              - Transmisi HIV dari ibu ke anak, dapat terjadi melalui rahim (in utero) selama masa
                 perinatal, yaitu minggu-minggu terakhir kehamilan dan saat persalinan.


                                                                                                            9
      - Melalui ASI dari Ibu ke Bayi.
      (USU ; aidsinfo, 2011)
b. Tanda dan Gejala
   1) Pada orang dewasa, 3 tanda utama AIDS adalah:
      a) Kehilangan berat badan 10% lebih dari satu bulan tanpa penyebab
      b) Diare lebih dari satu bulan
      c) Demam yang berlangsung selama lebih dari satu bulan baik konstan atau datang dan
         pergi
   2) Pada orang dewasa, 5 tanda minor AIDS adalah:
      a) Batuk kering yang tidak sembuh-sembuh
      b) Kulit gatal di seluruh tubuh
      c) Herpes zoster (mirip cacar air, atau disebabkan virus yang juga mengakibatkan cacar air,
         virus herpes) yang tak kunjung sembuh
      d) Candidiasis, yang putih, mengangkat ruam pada mulut, lidah, atau tenggorokan
      e) Pembengkakan kelenjar (di leher, keriak, atau selangkangan) dengan atau tanpa infeksi
         aktif
   3) Pada anak-anak, 3 tanda utama AIDS adalah:
      a) Kehilangan berat badan dan pertumbuhan terhambat
      b) Diare berat selama lebih dari 14 hari
      c) Demam yang berlangsung selama lebih dari satu bulan
   4) Pada anak-anak, 5 tanda minor AIDS adalah:
      a) Kulit gatal seluruh tubuh
      b) Pembengkakan kelenjar
      c) Candidiasis (bintik putih) di dalam mulut, lidah, atau tenggorokan
      d) Infeksi pada telinga, tenggorokan, dan infeksi lainnya
      e) Batuk yang tidak sembuh-sembuh
      (Hana,2011; Ruanghati,2011)
c. Manifestasi klinis AIDS
   1) Manifestasi tumor:
      a) Sarkoma kaposi
                 Kanker pada semua bagian kulit dan organ tubuh. Frekuensi kejadiannya 36-50%,
         biasanya terjadi pada kelompok homoseksual dan jarang terjadi pada pasangan
         heteroseksual serta jarang menjadi penyebab kematian primer.
      b) Limfoma ganas
                 Terjadi setelah sarkoma kaposi dan menyerang saraf dan bertahan kurang lebih 1
         tahun.
   2) Manifestasi oportunistik


                                                                                              10
           a) Manifestasi pada paru-paru
               - Pneumonia Pneumocytis (PCP)
               - Cytomelago Virus (CMV)
               - Mycobacterium Avilum
               - Mycobacterium Tuberculosis
           b) Manifestasi gastrointestinal
               Tidak ada nafsu makan, diare kronis, berat badan turun lebih dari 10% perbulan.
        3) Manifestasi neurologis
                  Sekitar 10% kasus AIDS menunjukkan manifestasi neurologis yang biasanya timbul
           pada fase akhir penyakit. Kelainan saraf yang umum ensefalitis, meningitis, demensia,
           mielopati, dan neuropati perifer.
           (Siregar, 2004)


4.   Apakah HIV/AIDS dapat disembuhkan?
      Peniliti Jerman melakukan stem sel CD4 mengalami kesembuhan tp transplantasi stem sel
        masih percobaan saja dalam lingkup studi kasus (Keith, 2010).
      Pasien dengan HIV Seorang pasien dengan HIV yang juga menderita leukimia akut dianggap
        sembuh dari HIV oleh dokter setelah memperoleh transplantasi sel punca pada tahun 2007
        (Kompas,2011).
      HIV/AIDS tidak ada pengobatannya, akan tetapi hidup berdampingan dengan keduanya
        menjadi dapat diatur seperti pola makan (FHI).
      Seperti halnya penyakit diabetes miletus, asma dan hipertensi, AIDS/HIV belum dapat
        disembuhkan tetapi dapat dikontrol dengan cara menekan jumlah virus serendah-rendahnya
        (Hana, 2011).
              Dari hasil diskusi di kelompok A didapat berbagai jawaban seperti di atas. Sehingga masih
     terjadi kerancuan mengenai kesembuhan dari HIV/AIDS, namun kami menyimpulkan bahwa AIDS
     bisa disembuhkan, namun HIV hanya bisa di minimalisasi tingkat keparahannya yaitu dengan
     menyeimbangkan pola makan dan memperbaiki pola hidup, serta konsumsi obat retroviral,
     sehingga pasien dengan HIV masih bisa hidup sehat walaupun di dalam tubuhnya ada HIV.


5.   Apakah     pasien   HIV    positif   dan   AIDS   pasti   malnutrition?   Bila   iya,   bagaimana
     mekanisme/keterkaitannya?
     a. Mekanisme




                                                                                                    11
                                 (image from ECSA-HC, FANTA, adn LINKAGES;2008)



              Gambar di atas dapat diibaratkan sebagai lingkaran setan yang berisi keterkaitan antara
        penurunan sistem imun dengan kebutuhan intake energi dan zat gizi. Dijelaskan bahwa bila
        sistem imun menurun, maka dapat memperbesar resiko tubuh untuk terkena infeksi, sehingga
        membutuhkan intake zat gizi yang bertambah pula. Bila intake zat gizi tidak dipenuhi secara
        cukup, maka keadaan status gizi buruk akan terjadi. Kondisi inilah yang mungkin terjadi pada
        tubuh seorang penderita HIV/AIDS yang mengalami malnutrition.
     b. Penyebab Malnutrition pada HIV/AIDS
        1) Penurunan intake makanan
        2) Gangguan absorpsi (WHO, 2002).
        3) Perubahan metabolisme
        4) Infeksi dan penyakit kronis (Food and Nutrition Technical Assistance, 2001).


6.   Apa saja hal-hal yang perlu diperhatikan untuk memberikan intervensi? intervensi yang cocok
     untuk pasien HIV positif dan AIDS ? Apakah ada perlakuan khusus dari masing-masing
     ingtervensi?
     Tatalaksana Gizi Terapi pada Penderita HIV/AIDS
             Status gizi ODHA sangat dipengaruhi oleh kebutuhan dan asupan zat gizi. Asupan zat gizi
     yang tidak memenuhi kebutuhan dapat menyebabkan kekurangan gizi yang bersifat kronis dan
     pada stadium AIDS terjadi keadaan kurang gizi yang kronis dan drastis yang mengakibatkan
     penurunan resistensi terhadap infeksi lainnya. Adapun tujuan dari asuhan gizi bagi ODHA secara
     umum yaitu mempertahankan kesehatan dan status gizi serta meningkatkan kekebalan tubuh
     sehingga kualitas hidup akan lebih baik. Paket asuhan gizi bagi ODHA dilakukan dalam 3 rangkaian
     kegiatan, yaitu:



                                                                                                  12
     a. Pemantauan Asuhan Gizi
        Pemantauan dilakukan dengan assessment secara ABCD.
     b. Intervensi Gizi
              Dilakukan secara komprehensif meliputi upaya promotif, preventif, kuratif, dan
        rehabilitatif, bekerjasama dengan profesi lain yang terkait dengan pelayanan ODHA.
     c. Konseling Gizi
        1) Tujuan
           Agar ODHA mendapatkan jaminan kebutuhan gizi yang sesuai dengan kondisi kesehatan
           dan kemampuan / daya beli keluarga, pendamping ODHA, dan masyarakat.
        2) Sasaran
           Keluarga/pendamping ODHA, dan masyarakat lingkungannya, serta petugas kesehatan agar
           ODHA mendapat asuhan gizi yang cukup, aman, dan terjangkau.
        3) Materi
            Penyuluhan tentang HIV/AIDS dan pengaruh infeksi HIV pada status gizi (Depkes, 2003).
            Rekomendasi diet
            Interaksi obat dan makanan yang dapat terjadi
            Manajemen masalah terkait oral dan saluran cerna dan gejal lain yang mempengaruhi
              kaonsumsi dan utilisasi makanan
            Llife style education:
              a) Hygiene (makanan, air, sanitasi, personal hygiene)
              b) Kebiasaan hidup (merokok, alkohol, penyalahgunaan obat)
              c) Pentingnya aktivitas fisik
              d) Pentingnya cukup tidur
              e) Pentingnya sex yang aman
              f) Psycological support  dapat menurunkan depresi dan stress dari pasien
              (World Bank, 2007)


7.   Apa diet yang cocok untuk pasien HIV positif dan AIDS, beserta tatalaksananya?
           Secara umum, diet yang diberikan kepada pasien dengan HIV/AIDS adalah TETP dengan
     berbagai modifikasi dalam pemberian sumber vitamin dan mineralnya. Lebih baik jika kita juga
     mempertimbangkan antioksidan dalam pemberian diet, agar berfungsi untuk melawan radikal
     bebas serta meningkatkan sistem imun pada tubuh.
     a. Tujuan diet secara umum :
        1) Meningkatkan status gizi dan daya tahan tubuh.
        2) Mencapai dan mempertahankan beratbadan normal.
        3) Memberi asupan zat gizi makro dan mikro sesuai dengan kebutuhan.
        4) Meningkatkankualitas hidup.

                                                                                                13
   5) Menjaga interaksi obat dan makanan agar penyerapan obat lebih optimal (Depkes,2003).
b. Prinsip pemberian diet :
   1) Makan makanan yang mudah dicerna
   2) Konsumsi makanan dalam porsi kecil sepanjang hari
   3) Makan secara perlahan
   4) Tunggu setidaknya ½ jam setelah makan sebelum minum
   5) Konsumsi tepung yang mudah dicerna, seperti pasta, kentang, nasi, oatmeal, roti, buah dan
      jus buah
c. Makanan yang dihindari :
   1) Minum banyak air atau kola diet
   2) Kopi, teh, atau air seltzer
   3) Gorengan berlemak
   4) Makanan berbumbu
   5) Kafein (Williams, 2007).
Adapun syarat, prinsip dan tujuan diet untuk beberapa kelompok :
a. Dewasa
    Energi.
      - Fase asimtomatik : E + 10%
      - Fase simtomatik  E + 20-30%
    Pada orang dewasa disertai dengan wasting bisa diberikan energy 40-50 kcal/kg BBA dan
      protein 1,6-1,8 kg/BBA.
    Protein
      - Menurut WHO, kebutuhan protein pada penderita HIV sama dengan kebutuhan orang
         normal sehat 0,8-1gr/kgBB.
    Lemak
      - Untuk asupan lemak, dipilih MCT karena dapat mengurangi lemak dan nitrogen feses
         dan mengurangi pergerakan saluran pembuangan.
d. Bumil dan Buteki
    Energi bumil
      - Fase asimtomatik: E + 10% + 285 kal
      - Fase simtomatik: E + 20-30% + 285 kal
    Energi buteki
      - Fase asimtomatik: E + 10% + 500 kal
      - Fase simtomatik: E + 20-30% + 500 kal
    Protein
      - Menurut WHO, kebutuhan protein pada penderita HIV sama dengan kebutuhan orang
         normal sehat 0,8-1gr/kgBB, Untuk ibu hamil dan menyusui 1,1 gr/kgBB.

                                                                                             14
           - 1-1,4 gr/kgBB (untuk pemeliharaan) dan 1,5-2 gr/kgBB (untuk repletion lean body mass)
         Lemak cukup 20-30% dari kebutuhan energy total. Bila terdapat malabsorpsi lemak
           gunakan MCT. Dapat pula diberikan omega 3 yang diberikan bersama MCT yang berfungsi
           meningkatkan fungsi kekebalan.
         Zat Besi. Wanita hamil beresiko mengalami anemia karena defisiensi besi. WHO
           merekomendasikan suplementasi besi dan asam folat harian (400 ug folat dan 60 mg besi)
           untuk minimal 6 bulan kehamilan untuk mencegah anemia, dan 2 kalisuplementasi harian
           untuk menanggulangi severe anemia (Hb < 70 g/l). Untuk meningkatkan intake dan absorpsi
           besi, tingkatkan makanan kaya besi yang bioavailibilitasnya tinggi seperti: daging, atau
           konsumsi makanan tinggi vitamin C bersamaan dengan konsumsi bahan makanan sumber
           besi non-daging
         Vitamin A. utamakan konsumsi makanan kaya vitamin A selama masa kehamilan, karena
           suplementasi vitamin A dapat meningkatkan resiko transmisi HIV
         Iodine. Direkomendasikan untuk mengkonsumsi garam terfortifikasi iodine
         Pada masa laktasi, penambahan 500 kal/hari untuk 6 bulan pertama dan kedua. Jika dalam
           keadaan undernourished saat hamil, maka butuh penambahan 700 kal/hari.
     e. Infant dan Children
         Tujuan        :
                  Mencegah malnutrisi, meningkatkan status gizi bayi dan anak, mengurangi transmisi
           HIV dari ibu ke anak setelah kelahiran, meningkatkan bayi-bayi HIV-free survival
         Energi anak
           Fase asimtomatik: E + 10%
           Fase simtomatik tanpa diare: E + 20-30%
           Fase simtomatik desertai diare: E + 50-100%
         Pada pasien anak yang menderita HIV, pemberian makan tube feeding melalui gastrostomy
           terbukti dapat meningkatkan berat badan dan fat mass pada anak (Mahan dan Escott-
           Stump, 2008). Total Energi + 50-100% (Total Energi) pada anak-anak yang mengalami
           weight loss (WHO, 2003).


8.   Bagaimana monev untuk intervensi pasien HIV positif dan AIDS?
     Monitoring
     a. Monitoring klinis
              Adalah suatu kegiatan, dimana ODHA diperiksa secara teratur dan diminta untuk
        memberitahukan setiap gejala klinis (anemia, gangguan pencernaan, dll) dan tanda yang ada
        hubungannya dengan penyakitnya atau pengobatannya, termasuk monitoring berat badan.
        Indikator keberhasilan :



                                                                                                15
   Pada anak : kenaikan BB 5gr/ kg BB/ hari atau 50 gr/ kgBB/minggu.
   Pada dewasa : mempertahankan BB pada saat didiagnosa tidak turun > 5%
b. Monitoring laboratorium
  Pemeriksaan laborotarium yang berkaitan dengan gizi adalah sebagai berikut :
   Hemoglobin
           Pemeriksaan ini penting sekali untuk memeriksa anemia. Anemi paling sering terjadi
     pada penggunaan zidovudine (ZDV), yang biasanya terjadi pada minggu pertama, akan
     tetapi dapat terjadi secara perlahan-lahan beberapa bulan kemudian. Jika Hb < 7 g/ dl,
     pertimbangkan untuk mengganti obat dan intervensi dan konseling gizi untuk
     meningkatkan kadar hemoglobin.
   Hematokrit
           Apabila hasil pemeriksaan hematokritnya tinggi meningkat ≥ 20%, berarti ada indikasi
     dehidrasi.
   Hiperglikemia dan resistensi insulin
           Kadar gula darah yang tinggi akibat resistensi insulin dapat menyebabkan diabetes,
     dengan prevalensi 3-17%. Rata-rata 5% kasus terjadi setelah pengobatan 5 tahun,
     walaupun pernah dilaporkan terjadi setelah 2 bulan pengobatan.
   Gangguan fungsi liver
           Peningkatan SGPT, SGOT dan keluhan hepatitis (ikterus, anorexia, kencing berwarna
     teh tua) dapat terjadi pada penggunaan semua ARV dan paling sering terjadi jika terdapat
     koinfeksi hepatitis B atau hepatitis C. Pemeriksaan tes fungsi hati ini untuk melihat tanda
     dini kerusakan hati, yaitu melalui adanya enzim dalam darah yang dilepaskan oleh hati.
     Dikatakan hepatotoksisitas jika terdapat :
     Peningkatan SGOT atau SGPT 3 X dari nilai normal tertinggi dan ada gejala atau peningkatan
     SGOT dan SGPT 5 X dari nilai normal tertinggi
     - Untuk mengetahui status nutrisi dapat dilakukan pemeriksaan albumin darah.
     - Gangguan fungsi ginjal
              Obat jenis protease inhibitor menyebabkan gangguan ginjal yang dalam beberapa
        keadaan dapat dicegah dengan minum air yang banyak sepanjang hari. Pemeriksaan
        fungsi ginjal yang dilakukan adalah ureum dan kreatinin.
     - Dislipidemia
              Protease inhibitor paling sering menyebabkan dislipidemia, yaitu peningkatan
        kadar kolesterol dan trigliserida dalam darah. Kelainan tersebut biasanya timbul setelah
        lebih dari 6 bulan penaan obat ARV.
c. Monitoring Asupan Makanan
        Monitoring asupan makan mencakup: jumlah, jadual dan jenis makanan menggunakan
  anamnesa diet dan analisis diet. Anamnesa diet terdiri dari recall 24 jam dan catatan pola

                                                                                             16
        makan untuk mengetahui jumlah dan komposisi makanan, pola makan sehingga dapat
        dilakukan analisis untuk peningkatan kualitas dan kuantitas diet ODHA. Asupan makanan,
        minimal 80% dari kebutuhan /orang/ hari. Asupan dikatakan baik bila dapat menghabiskan >
        80 %, kurang 51-80% dan buruk bila < 51%. Pada ODHA dengan masalah asupan makanan
        monitoring dilakukan setiap hari, yang meliputi jumlah makanan yang dikonsumsi dan daya
        terima terhadapa makanan yang diberikan (Kemenkes, 2010).
     Evaluasi
                Hasil edukasi maupun konseling dapat dievaluasi melalui outcome atau hasil langsung
     dan impact atau hasil tidak langsung. Edukasi gizi diharapkan dapat menghasilkan outcome
     berupa peningkatan knowledge atau pengetahuan, sementara konseling diharapkan dapat
     meningkatkan motivasi untuk praktek hidup sehat. Dengan adanya improvement pada knowledge
     dan pactice, diharapkan akan terjadi peningkatan status gizi dan kesehatan, yang dapat dinilai
     melalui antropometri, perubahan klinis, dan perubahan fungsional. Berikut diagram
     keterkaitannya :




     (Castleman, 2008)


9.   Sebutkan kegunaan zat gizi spesifik      terhadap HIV positif dan AIDS, disesuaikan dengan
     kelompok umur!
     --Lampiran 1--


10. Obat-obat apa saja yang bisa mempengaruhi penyerapan zat gizi untuk pasien HIV positif dan
     AIDS?
     a. Makanan / Zat Gizi yang dapat menghambat kerja Obat


                                                                                                17
       1) Inhibitor protease
           Amprenavir makanan tinggi lemak menurunkan absorpsi obat
           Indinavirsemua makanan, terutama yang tinggi lemak, tinggi protein, sangat
             mengurangi penyerapan obat
       2) Nucleoside reverse trancriptase inhibitor
          a) Didanosin semua makanan sangat menurunkan absorpsi obat
          b) Zalsitabin semua makanan sangat menurunkan absorpsi obat
          c) Zidovudinmakanan dapat memberikan berbagai efek terhadap absorpsi obat
       3) Inhibitor fusi
          a) Enfuvirtiddiberikan secara parenteral
       4) Non-nucleoside reverse transcriptase inhibitor
          a) Efavirenzmakanan tinggi lemak mengurangi absorpsi obat
       (Williams, 2007)
    b. Obat yang dapat mempengaruhi kerja makanan
       1) Obat-obatan yang menghambat absorbs nutrient dan metabolism
          a) soniazid maka harus ditambahkan vitamin B6
          b) Rifampin maka harus ditambahkan vitamin D
       2) Efek samping obat yang menimbulkan efek pada asupan makanan
          a) perubahan dalam rasa, mual, dan anoreksia
          b) bloating, heartbun, dan konstipasi
          c) muntah dan diare
       3) Efek samping obat yang menimbulkan efek pada penyerapan nutrient
                 ODHA yang memakai obat untuk menghambat protease maka akan menyebabkan
          osteoporosis atau bone disorders maka konsumsi makanannya yang tinggi kalsium (Cogill,
          2009).
    c. Beberapa interaksi obat dan makanan pada medikasi HIV/AIDS beserta penyakit atau infeksi
       penyertanya :
       --Lampiran 2--


11. Apa saja kendala dan solusi pada intervensi pasien HIV positif dan AIDS?
    a. Sakit pada mulut atau tenggorokan
       Solusi : makanan lunak, hindari pedas dan asam, makanan dalam suhu ruang, makanan pada
       energi.
    b. Xerostomia (mulut kering)
       Solusi : moist food, konsumsi cairan saat makan atau antar waktu makan, meningkatkan
       kebersihan mulut (mis. dengan sikat gigi), gunakan flouride gel atau mouthwash, kunyah
       permen karet rendah gula atau mints.

                                                                                             18
c. Diare
   Solusi : penggantian cairan dan elektrolit, meningkatkan konsumsi serat larut, ada gunanya jika
   laktosa dikurangi, penurunan konsumsi lemak (dapat diindikasikan), hindari makanan bergas
   dan kafein, minum obat setelah makan.
d. Konstipasi
   Solusi: meningkatkan konsumsi cairan, meningkatkan konsumsi serat
e. Fatigue/lelah
   Solusi :
   - tidur, relaksasi dan olah raga cukup,
   - makanan tinggi vitamin B12, A, C, folat, karoten, Zn
   - hindari kafein, alkohol, rokok, penyalahgunaan obat
   - hindari stress dan manajemen kecemasan dan depresi
   - identifikasi dan manajemen kemungkinan anemia karena pengobatan (AZT, bactrim,
      dapsone, granciclovir) atau lainnya (alkohol, perdarahan, tuberculosis, infeksi jamur)
      (Mahan, 2008).
f. Kehilangan nafsu makan
   - makan sedikit dan sering
   - makan-makanan favorit dan makanan kaya energy
   - gunakan multivitamin jika mungkin (PLWHA, 2008).




                                                                                               19
 G. HIPOTESIS



                                                               Pasien MRS



                                                               Infeksi HIV




F. Seroconversion                   F. Asymptomatic                          F. Symptomatic                                      AIDS
                                      (Tidak ada gejala yang           (Seseorang mulai merasa kurang sehat       (stasa akhir dari HIV yang mana terusak
(Pasien sudah terinfeksi HIV,
                                    nampak, tetapi HIV dalam                dan mengalami infeksi-infeksi          imun sistemnya yang masuk ke dalam
namun beum menyadarinya)
                                        tubuh tetap aktif)                 opportunistik yang bukan HIV)                  opportunistik infection)




                                        HIV Positif



                                                                                 Assessment
                                                                                     (A, B, C, D)




                                                                                  Intervensi



                                Tatalaksana                                                              Pendidikan
                                    Diet                                                                    Gizi




                                                   Syarat &                                                              Penyuluhan
                      IOM                                                         Konseling Gizi
                                                  Prinsip Diet                                                              Gizi




                                                                      MONEV




                                                                                                                                               20
H. LEARNING ISSUES
  1.   Gambaran umum HIV/AIDS secara keseluruhan
  2.   Intervensi Gizi untuk pasien HIV / AIDS
  3.   Monitoring dan Evaluasi dari Intervensi untuk pasien HIV / AIDS


I. PEMBAHASAN LEARNING ISSUES
  1.   Gambaran Umum HIV / AIDS
       a. Pengertian
                    HIV merupakan singkatan dari Human Immuno Deficiency Virus, yaitu suatu retrovirus yang
          menyerang dan merusak pertahanan alami tubuh terhadap penyakit dan infeksi. HIV merupakan
          slow acting virus yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menimbulkan gejala. (Food and
          Nutrition Technical Assistance Peroject, 2004).
                    AIDS yang memiliki kepanjangan Acquired Imuno Deficiency Syndrome, adalah suatu
          sindrom / kumpulan gejala penyakit yang disebabkan retrovirus yang menyerang sistem kekebalan
          atau pertahanan tubuh (Siregar, 2004). Selain itu, AIDS merupakan stase akhir dari infeksi HIV, di
          mana seseorang pada stase ini terusak imun sistemnya yang masuk ke dalam oportunistik infection
          (tanpa nama, 2011).
                    Sehingga dapat disimpulkan bahwa HIV dan AIDS, merupakan suatu hal yang berbeda.
          Karena HIV adalah virus yang menyebabkan terjadinya AIDS itu sendiri. Namun, seseorang yang
          terinfeksi HIV belum tentu terkena AIDS. Dalam keadaan ini pasien disebut terjangkit HIV positif,
          yang berarti dalam darah / tubuh seseorang ditemukan adanya Hiv namun, masih dalam stase
          terinfeksi atau belum parah, karena HIV belum menimbulkan komplikasi penyakit. Hal ini bisa
          dicegah dengan terus mempertahankan sistem kekebalan tubuh seseorang dengan menjaga
          asupan zat gizi dan gaya / pola hidupnya, sehingga status gizinya tetap normal, sehingga tubuh
          masih bisa untuk terus memberikan terhadap virus HIV agar tidak cepat berkembang menjadi stase
          yang lebih parah / AIDS.


       b. Tanda dan Gejala
          1) HIV
             Fever,    fatigue,   rash,   headache,   generalized   lympadenopathy,   pharyngitis,   myalgia,
             nausea,/vomiting, diarrhea, night sweats, adenopathy, oral ulcers, genital ulcers, neurological
             symptoms, malaise, anorexia, weight loss, wasting syndrome (Krause’s, 2008).
          2) AIDS
             a) Pada orang dewasa, 3 tanda utama AIDS adalah:
                - Kehilangan berat badan 10% lebih dari satu bulan tanpa penyebab.
                - Diare lebih dari satu bulan.
                - Demam yang berlangsung selama lebih dari satu bulan baik konstan atau datang dan pergi.


                                                                                                          21
      b) Pada orang dewasa, 5 tanda minor AIDS adalah:
         - Batuk kering yang tidak sembuh-sembuh.
         - Kulit gatal di seluruh tubuh.
         - Herpes zoster (mirip cacar air, atau disebabkan virus yang juga mengakibatkan cacar air,
          virus herpes) yang tak kunjung sembuh
         - Candidiasis, yang putih, mengangkat ruam pada mulut, lidah, atau tenggorokan
         - Pembengkakan kelenjar (di leher, keriak, atau selangkangan) dengan atau tanpa infeksi
          aktif
      c) Pada anak-anak, 3 tanda utama AIDS adalah:
         - Kehilangan berat badan dan pertumbuhan terhambat
         - Diare berat selama lebih dari 14 hari
         - Demam yang berlangsung selama lebih dari satu bulan
      d) Pada anak-anak, 5 tanda minor AIDS adalah:
         - Kulit gatal seluruh tubuh
         - Pembengkakan kelenjar
         - Candidiasis (bintik putih) di dalam mulut, lidah, atau tenggorokan
         - Infeksi pada telinga, tenggorokan, dan infeksi lainnya
         - Batuk yang tidak sembuh-sembuh
         (Hana,2011; Ruanghati,2011)


c. Transmisi HIV /AIDS
   1) Transmisi HIV/AIDS
              Transmisi HIV/AIDS terjadi melalui cairan tubuh yang mengandung virus HIV yaitu
      melalui hubungan seksual, baik homoseksual maupun heteroseksual, jarum suntik pada
      pengguna narkotika, transfusi komponen darah dan dari ibu yang terinfeksi HIV ke bayi yang
      dilahirkannya. Oleh karena itu kelompok risiko tinggi terhadap HIV/AIDS dapat diketahui,
      misalnya pengguna narkotika, pekerja seks komersial dan pelanggannya, serta narapidana.
      a) Transmisi Seksual
              Terjadi ketika ada kontak antara sekresi cairan vagina atau cairan preseminal seseorang
         dengan rektum, alat kelamin, atau membran mukosa mulut pasangannya. Ada beberapa cara
         seks yang dapat meningkatkan resiko HIV :
         - Ano-genital: disebabkan karena tipisnya mukosa rektum sehingga mudah sekali
            mengalami perlukaan saat berhubungan.
         - Oro-genital : menelan semen dari mitra seksual pengidap HIV.
         - Genito-genital        : disebut juga hetero seksual, terjadi pada hubungan suami istri yang
            salah seorang telah mengidap HIV.
      b) Transmisi Non Seksual


                                                                                                   22
         - Penggunaan jarum suntik dan alat tusuk lainnya seperti alat tindik yang terkontaminasi
             HIV.
         - Melalui donor/transfusi darah yang terjangkit HIV, resiko tertular melalui cara ini >90%.
         - Transmisi HIV dari ibu ke anak, dapat terjadi melalui rahim (in utero) selama masa
             perinatal, yaitu minggu-minggu terakhir kehamilan dan saat persalinan.
         - Melalui ASI dari Ibu ke Bayi.
         (USU ; aidsinfo, 2011)
              Transmisi HIV / AIDS melalui air liur, sekedar berjabat tangan, sentuhan kulit dengan
      penderita, dapat dinyatakan tidak benar. Karena belum ada penelitian yang mengatakan bahwa
      transmisi HIV / AIDS melalui cairan selain darah dan cairan intravaginal atau sperma dapat
      menularkan HIV / AIDS.


d. Patofisiologi
   Proses infeksi virus ke dalam sel limfosit T atau sel T4 atau sel CD4 adalah sebagai berikut :




   1) Binding and Fusion
      Glikoprotein GP120 pada HIV berikatan dengan reseptor CD4 dan co-reseptor CCR5 atau CXCR4
      pada sel limfosit T. HIV akan berfusi dengan sel host, kemudian melepaskan materi genetic
      (RNA) ke dalam sel host.
   2) Reverse Transcription (Transkripsi terbalik)


                                                                                                       23
   Enzim reverse transcriptase mengubah single stranded RNA HIV menjadi double stranded DNA
   HIV.
3) Integration
   DNA HIV memasuki nucleus host. Enzim HIV bernama integrase akan mengintegrasikan
   (menyembunyikan) DNA HIV ke DNA sel host. DNA yang telah terintegrasi disebut sebagai
   provirus, yang dapat bertahan selama bertahun-tahun dalam inti sel host dalam bentuk inaktik,
   untuk memproduksi beberapa copy HIV, atau tidak memproduksi sama sekali.
4) Transcription
   Ketika sel host melakukan transkripsi DNAnya, maka provirus akan turut melakukan transkripsi
   dengan bantuan RNA polymerase untuk membentuk RNA (copy materi genomic) dan mRNA
   yang berfungsi sebagai blueprint untuk membentuk protein long chain HIV.
5) Assembly
   Enzim HIV yang bernama protease akan memotong protein HIV rantai panjang untuk
   membentuk protein individual yang lebih pendek, yang akan disatukan dengan RNA HIV yang
   baru, sehingga terbentuk partikel HIV baru.
6) Budding
   HIV baru akan keluar dari sel host dengan cara budding (seperti bertunas). Ketika budding,
   bagian amplop akan terbentuk, disertai dengan pembentukan tonjolan-tonjolan paku
   glikoprotein, sehingga virus yang baru juga dapat menginfeksi sel host lain, seperti halnya virus
   induknya.




 Sedangkan pengaruhnya terhadap sistem imun adalah sebagai berikut;
          Pada awal infeksi, HIV bereplikasi secara cepat dan melepaskan jutaan partikel viral baru
 selama beberapa minggu. Populasi partikel viral pada darah dapat mencapai 10.000.000/mL. Pada
 awal infeksi inilah seorang penderita HIV berisiko tinggi menularkan HIV karena konsentrasi virus
 dalam darah yang sangat tinggi, serta tidak timbulnya awareness karena ketiadaan gejala yang
 berarti (asymptomatic infection stage). Pada stage ini, seiring dengan bertambahnya jumlah virus


                                                                                                 24
    dalam tubuh, jumlah sel TH akan berkurang dengan cepat. Penurunan sel TH tersebut diakibatkan
    oleh perusakan oleh virus, regenerasi yang menurun, dan usaha kelenjar limfe untuk menahan
    aktivitas limfosit tetap berada di pembuluh limfe sehingga tidak terus menyebar ke sirkulasi
    darah.
                  Dengan adanya penurunan sel TH, tubuh akan membuat antibody terhadap HIV,
    sehingga      jumlah HIV menurun, sementara tubuh akan memasuki pengaktifan sistem yang
    bersifat exceptional (hanya terjadi pada kondisi tertentu, yang dalam hal ini adalah kondisi infeksi
    HIV), dimana sel TH baik dalam bentuk CD4 maupun CD8 akan meningkat untuk menekan
    pertumbuhan virus. Pada saat tersebut, DNA HIV pada sel TH yang telah terinfeksi akan
    menghentikan aktivitas selama beberapa saat. Ketika sistem imun tubuh mengalami kegagalan,
    jumlah virus akan meningkat. Kegagalan sistem imun tubuh biasanya dalam bentuk disfungsi
    limfosit T (terutama CD4), yang ditandai oleh perubahan TH1 mnjadi TH2, munculnya antigen yang
    menandakan disfungsi sel, penurunan produksi interleukin-2, dan hilangnya respon imun
    terhadap reaksi antigen. Kegagalan tersebut akan mengakibatkan tubuh host akan rentan
    terhadap infeksi.
                  Tanpa adanya pengobatan, dalam sehari dapat diproduksi 100 miliar partikel HIV baru
    pada jaringan limpa, yang akan terus menerus diserang oleh makrofag dan antibody. Dalam sehari
    juga akan diproduksi 2 juta sel T sebagai bentuk respon pertumbuhan virus yang besar. Ketika sel
    T tidak dapat mengatasi serangan HIV, maka tubuh tidak akan dapat memproduksi sel T kembali
    untuk dapat menekan pertumbuhan virus. Jika CD4 count mencapai <200/mm3, maka host divonis
    mengalami AIDS.
    (Seiter, 2011; Li, 2005)


e. Manifestasi klinis AIDS
   1) Manifestasi tumor:
      a) Sarkoma kaposi
                Kanker pada semua bagian kulit dan organ tubuh. Frekuensi kejadiannya 36-50%,
         biasanya terjadi pada kelompok homoseksual dan jarang terjadi pada pasangan
         heteroseksual serta jarang menjadi penyebab kematian primer.
      b) Limfoma ganas
                Terjadi setelah sarkoma kaposi dan menyerang saraf dan bertahan kurang lebih 1
         tahun.
   2) Manifestasi oportunistik
      a) Manifestasi pada paru-paru
         - Pneumonia Pneumocytis (PCP)
         - Cytomelago Virus (CMV)
         - Mycobacterium Avilum


                                                                                                     25
              - Mycobacterium Tuberculosis
           b) Manifestasi gastrointestinal
              Tidak ada nafsu makan, diare kronis, berat badan turun lebih dari 10% perbulan.
           c) Manifestasi neurologis
                     Sekitar 10% kasus AIDS menunjukkan manifestasi neurologis yang biasanya timbul
              pada fase akhir penyakit. Kelainan saraf yang umum ensefalitis, meningitis, demensia,
              mielopati, dan neuropati perifer (Siregar, 2004).


2.   Intervensi untuk Pasien HIV / AIDS
     a. Status Gizi Pasien HIV / AIDS




                                        (image from ECSA-HC, FANTA, adn LINKAGES;2008)



              Gambar di atas dapat diibaratkan sebagai lingkaran setan yang berisi keterkaitan antara
        penurunan sistem imun dengan kebutuhan intake energi dan zat gizi. Dijelaskan bahwa bila sistem
        imun menurun, maka dapat memperbesar resiko tubuh untuk terkena infeksi, sehingga
        membutuhkan intake zat gizi yang bertambah pula. Bila intake zat gizi tidak dipenuhi secara cukup,
        maka keadaan status gizi buruk akan terjadi. Kondisi inilah yang mungkin terjadi pada tubuh
        seorang penderita HIV/AIDS yang mengalami malnutrition.
              Adapun beberapa penyebab kondisi tubuh / status gizi pasien HIV / AIDS mengalami
        malnutrition, diantaranya :
        1) Penurunan intake makanan
                 Adanya kehilangan nafsu makan (appetite loss) akibat anorexia, kesulitan makan (eating
           difficulty) akibat infeksi seperti nyeri mulut dan demam, adanya efek samping medikasi, serta
           adanya rasa depresi akibat social stigma dan ketidakmampuan psikologis dalam menghadapi
           kondisi sakit dapat menyebabkan penurunan intake makanan seorang penderita HIV. Penurunan



                                                                                                       26
      intake berakibat pada tidak tercukupinya kebutuhan zat gizi tubuh, sehingga dapat timbul
      malnutrisi.
   2) Gangguan absorpsi
            HIV dapat menyebabkan kerusakan sel intestinal sehingga penyerapan zat gizi terutama
      KH dan lemak akan terhambat, yang berakibat pada malabsorpsi vitamin-vitamin larut lemak.
      Adanya diare juga menyebabkan gangguan penyerapan dan banyaknya nutrient loss (WHO,
      2002).
   3) Perubahan metabolisme
            Dengan adanya gangguan absorpsi, maka terjadi perubahan pola metabolisme, dimana
      kekurangan intake dikompensasi dengan pembongkaran cadangan. Menipisnya cadangan akan
      menyebabkan muscle wasting.
   4) Infeksi dan penyakit kronis
            Infeksi dan penyakit kronis menyebabkan peningkatan kebutuhan energi dan zat gizi.
      Tetapi infeksi cenderung menyebabkan penurunan nafsu makan yang berakibat pada rendahnya
      intake sehingga menyebabkan weight loss, penurunan muscle/lean mass, dan peningkatan
      kerusakan imun tubuh (Food and Nutrition Technical Assistance, 2001).


b. Tatalaksana Gizi Terapi pada Penderita HIV/AIDS
               Status gizi ODHA sangat dipengaruhi oleh kebutuhan dan asupan zat gizi. Asupan zat gizi
    yang tidak memenuhi kebutuhan dapat menyebabkan kekurangan gizi yang bersifat kronis dan
    pada stadium AIDS terjadi keadaan kurang gizi yang kronis dan drastis yang mengakibatkan
    penurunan resistensi terhadap infeksi lainnya. Adapun tujuan dari asuhan gizi bagi ODHA secara
    umum yaitu mempertahankan kesehatan dan status gizi serta meningkatkan kekebalan tubuh
    sehingga kualitas hidup akan lebih baik. Paket asuhan gizi bagi ODHA dilakukan dalam 3 rangkaian
    kegiatan, yaitu:
   1) Pemantauan Asuhan Gizi
      Pemantauan dilakukan dengan assessment secara ABCD.
   2) Intervensi Gizi
            Dilakukan secara komprehensif meliputi upaya promotif, preventif, kuratif, dan
      rehabilitatif, bekerjasama dengan profesi lain yang terkait dengan pelayanan ODHA.
   3) Konseling Gizi
      a) Tujuan
         Agar ODHA mendapatkan jaminan kebutuhan gizi yang sesuai dengan kondisi kesehatan dan
         kemampuan / daya beli keluarga, pendamping ODHA, dan masyarakat.
      b) Sasaran
         Keluarga/pendamping ODHA, dan masyarakat lingkungannya, serta petugas kesehatan agar
         ODHA mendapat asuhan gizi yang cukup, aman, dan terjangkau.


                                                                                                   27
      c) Materi
          Penyuluhan tentang HIV/AIDS dan pengaruh infeksi HIV pada status gizi (Depkes, 2003).
          Rekomendasi diet
          Interaksi obat dan makanan yang dapat terjadi
          Manajemen masalah terkait oral dan saluran cerna dan gejal lain yang mempengaruhi
            kaonsumsi dan utilisasi makanan
          Llife style education:
            - Hygiene (makanan, air, sanitasi, personal hygiene)
            - Kebiasaan hidup (merokok, alkohol, penyalahgunaan obat)
            - Pentingnya aktivitas fisik
            - Pentingnya cukup tidur
            - Pentingnya sex yang aman
            - Psycological support  dapat menurunkan depresi dan stress dari pasien
            (World Bank, 2007)
c. Tatalaksana Diet
         Secara umum, diet yang diberikan kepada pasien dengan HIV/AIDS adalah TETP dengan
   berbagai modifikasi dalam pemberian sumber vitamin dan mineralnya. Lebih baik jika kita juga
   mempertimbangkan antioksidan dalam pemberian diet, agar berfungsi untuk melawan radikal
   bebas serta meningkatkan sistem imun pada tubuh.
   1) Tujuan diet secara umum :
      a) Meningkatkan status gizi dan daya tahan tubuh.
      b) Mencapai dan mempertahankan beratbadan normal.
      c) Memberi asupan zat gizi makro dan mikro sesuai dengan kebutuhan.
      d) Meningkatkankualitas hidup.
      e) Menjaga interaksi obat dan makanan agar penyerapan obat lebih optimal (Depkes,2003).
   2) Prinsip pemberian diet :
      a) Makan makanan yang mudah dicerna
      b) Konsumsi makanan dalam porsi kecil sepanjang hari
      c) Makan secara perlahan
      d) Tunggu setidaknya ½ jam setelah makan sebelum minum
      e) Konsumsi tepung yang mudah dicerna, seperti pasta, kentang, nasi, oatmeal, roti, buah dan
         jus buah
   3) Makanan yang dihindari :
      a) Minum banyak air atau kola diet
      b) Kopi, teh, atau air seltzer
      c) Gorengan berlemak
      d) Makanan berbumbu

                                                                                                   28
   e) Kafein (Williams, 2007).
Adapun syarat, prinsip dan tujuan diet untuk beberapa kelompok :
1) Dewasa
     Energi.
       - Fase asimtomatik : E + 10%
       - Fase simtomatik  E + 20-30%
     Pada orang dewasa disertai dengan wasting bisa diberikan energy 40-50 kcal/kg BBA dan
       protein 1,6-1,8 kg/BBA.
     Protein
       - Menurut WHO, kebutuhan protein pada penderita HIV sama dengan kebutuhan orang
            normal sehat 0,8-1gr/kgBB.
     Lemak
       - Untuk asupan lemak, dipilih MCT karena dapat mengurangi lemak dan nitrogen feses
            dan mengurangi pergerakan saluran pembuangan.
2) Bumil dan Buteki
     Energi bumil
       - Fase asimtomatik: E + 10% + 285 kal
       - Fase simtomatik: E + 20-30% + 285 kal
     Energi buteki
       - Fase asimtomatik: E + 10% + 500 kal
       - Fase simtomatik: E + 20-30% + 500 kal
     Protein
       - Menurut WHO, kebutuhan protein pada penderita HIV sama dengan kebutuhan orang
            normal sehat 0,8-1gr/kgBB, Untuk ibu hamil dan menyusui 1,1 gr/kgBB.
       - 1-1,4 gr/kgBB (untuk pemeliharaan) dan 1,5-2 gr/kgBB (untuk repletion lean body mass)
     Lemak cukup 20-30% dari kebutuhan energy total. Bila terdapat malabsorpsi lemak
       gunakan MCT. Dapat pula diberikan omega 3 yang diberikan bersama MCT yang berfungsi
       meningkatkan fungsi kekebalan.
     Zat Besi. Wanita hamil beresiko mengalami anemia karena defisiensi besi. WHO
       merekomendasikan suplementasi besi dan asam folat harian (400 ug folat dan 60 mg besi)
       untuk minimal 6 bulan kehamilan untuk mencegah anemia, dan 2 kalisuplementasi harian
       untuk menanggulangi severe anemia (Hb < 70 g/l). Untuk meningkatkan intake dan absorpsi
       besi, tingkatkan makanan kaya besi yang bioavailibilitasnya tinggi seperti: daging, atau
       konsumsi makanan tinggi vitamin C bersamaan dengan konsumsi bahan makanan sumber
       besi non-daging




                                                                                            29
        Vitamin A. utamakan konsumsi makanan kaya vitamin A selama masa kehamilan, karena
          suplementasi vitamin A dapat meningkatkan resiko transmisi HIV
        Iodine. Direkomendasikan untuk mengkonsumsi garam terfortifikasi iodine
        Pada masa laktasi, penambahan 500 kal/hari untuk 6 bulan pertama dan kedua. Jika dalam
          keadaan undernourished saat hamil, maka butuh penambahan 700 kal/hari.
  3) Infant dan Children
        Tujuan          :
                Mencegah malnutrisi, meningkatkan status gizi bayi dan anak, mengurangi transmisi
          HIV dari ibu ke anak setelah kelahiran, meningkatkan bayi-bayi HIV-free survival
        Energi anak
          Fase asimtomatik: E + 10%
          Fase simtomatik tanpa diare: E + 20-30%
          Fase simtomatik desertai diare: E + 50-100%
        Pada pasien anak yang menderita HIV, pemberian makan tube feeding melalui gastrostomy
          terbukti dapat meningkatkan berat badan dan fat mass pada anak (Mahan dan Escott-
          Stump, 2008). Total Energi + 50-100% (Total Energi) pada anak-anak yang mengalami
          weight loss (WHO, 2003).
d. Interaksi Obat dan Makanan
  1) Makanan / Zat Gizi yang dapat menghambat kerja Obat
     a) Inhibitor protease
         Amprenavir makanan tinggi lemak menurunkan absorpsi obat
         Indinavirsemua makanan, terutama yang tinggi lemak, tinggi protein, sangat
           mengurangi penyerapan obat
     b) Nucleoside reverse trancriptase inhibitor
         Didanosin semua makanan sangat menurunkan absorpsi obat
         Zalsitabin semua makanan sangat menurunkan absorpsi obat
         Zidovudinmakanan dapat memberikan berbagai efek terhadap absorpsi obat
     c) Inhibitor fusi
         Enfuvirtiddiberikan secara parenteral
     d) Non-nucleoside reverse transcriptase inhibitor
         Efavirenzmakanan tinggi lemak mengurangi absorpsi obat
       (Williams, 2007)
  2) Obat yang dapat mempengaruhi kerja makanan
     a) Obat-obatan yang menghambat absorbs nutrient dan metabolism
         soniazid maka harus ditambahkan vitamin B6
         Rifampin maka harus ditambahkan vitamin D



                                                                                              30
           b) Efek samping obat yang menimbulkan efek pada asupan makanan
               perubahan dalam rasa, mual, dan anoreksia
               bloating, heartbun, dan konstipasi
               muntah dan diare
           c) Efek samping obat yang menimbulkan efek pada penyerapan nutrient
                        ODHA yang memakai obat untuk menghambat protease maka akan menyebabkan
              osteoporosis atau bone disorders maka konsumsi makanannya yang tinggi kalsium (Cogill,
              2009).
        3) Beberapa interaksi obat dan makanan pada medikasi HIV/AIDS beserta penyakit atau infeksi
           penyertanya :
           --Lampiran 2--


3.   Monitoring dan Evaluasi dari Intervensi HIV / AIDS
     Monitoring
     a. Monitoring klinis
              Adalah suatu kegiatan, dimana ODHA diperiksa secara teratur dan diminta untuk
        memberitahukan setiap gejala klinis (anemia, gangguan pencernaan, dll) dan tanda yang ada
        hubungannya dengan penyakitnya atau pengobatannya, termasuk monitoring berat badan.
        Indikator keberhasilan :
         Pada anak : kenaikan BB 5gr/ kg BB/ hari atau 50 gr/ kgBB/minggu.
         Pada dewasa : mempertahankan BB pada saat didiagnosa tidak turun > 5%
     b. Monitoring laboratorium
        Pemeriksaan laborotarium yang berkaitan dengan gizi adalah sebagai berikut :
         Hemoglobin
                  Pemeriksaan ini penting sekali untuk memeriksa anemia. Anemi paling sering terjadi pada
           penggunaan zidovudine (ZDV), yang biasanya terjadi pada minggu pertama, akan tetapi dapat
           terjadi secara perlahan-lahan beberapa bulan kemudian. Jika Hb < 7 g/ dl, pertimbangkan untuk
           mengganti obat dan intervensi dan konseling gizi untuk meningkatkan kadar hemoglobin.
         Hematokrit
                  Apabila hasil pemeriksaan hematokritnya tinggi meningkat ≥ 20%, berarti ada indikasi
           dehidrasi.
         Hiperglikemia dan resistensi insulin
                  Kadar gula darah yang tinggi akibat resistensi insulin dapat menyebabkan diabetes,
           dengan prevalensi 3-17%. Rata-rata 5% kasus terjadi setelah pengobatan 5 tahun, walaupun
           pernah dilaporkan terjadi setelah 2 bulan pengobatan.
         Gangguan fungsi liver



                                                                                                      31
              Peningkatan SGPT, SGOT dan keluhan hepatitis (ikterus, anorexia, kencing berwarna teh
      tua) dapat terjadi pada penggunaan semua ARV dan paling sering terjadi jika terdapat koinfeksi
      hepatitis B atau hepatitis C. Pemeriksaan tes fungsi hati ini untuk melihat tanda dini kerusakan
      hati, yaitu melalui adanya enzim dalam darah yang dilepaskan oleh hati. Dikatakan
      hepatotoksisitas jika terdapat :
      Peningkatan SGOT atau SGPT 3 X dari nilai normal tertinggi dan ada gejala atau peningkatan
      SGOT dan SGPT 5 X dari nilai normal tertinggi
      - Untuk mengetahui status nutrisi dapat dilakukan pemeriksaan albumin darah.
      - Gangguan fungsi ginjal
                 Obat jenis protease inhibitor menyebabkan gangguan ginjal yang dalam beberapa
           keadaan dapat dicegah dengan minum air yang banyak sepanjang hari. Pemeriksaan fungsi
           ginjal yang dilakukan adalah ureum dan kreatinin.
      - Dislipidemia
              Protease inhibitor paling sering menyebabkan dislipidemia, yaitu peningkatan kadar
      kolesterol dan trigliserida dalam darah. Kelainan tersebut biasanya timbul setelah lebih dari 6
      bulan penaan obat ARV.
c. Monitoring Asupan Makanan
           Monitoring asupan makan mencakup: jumlah, jadual dan jenis makanan menggunakan
   anamnesa diet dan analisis diet. Anamnesa diet terdiri dari recall 24 jam dan catatan pola makan
   untuk mengetahui jumlah dan komposisi makanan, pola makan sehingga dapat dilakukan analisis
   untuk peningkatan kualitas dan kuantitas diet ODHA. Asupan makanan, minimal 80% dari
   kebutuhan /orang/ hari. Asupan dikatakan baik bila dapat menghabiskan > 80 %, kurang 51-80%
   dan buruk bila < 51%. Pada ODHA dengan masalah asupan makanan monitoring dilakukan setiap
   hari, yang meliputi jumlah makanan yang dikonsumsi dan daya terima terhadapa makanan yang
   diberikan (Kemenkes, 2010).
Evaluasi
           Hasil edukasi maupun konseling dapat dievaluasi melalui outcome atau hasil langsung dan
impact atau hasil tidak langsung. Edukasi gizi diharapkan dapat menghasilkan outcome berupa
peningkatan knowledge atau pengetahuan, sementara konseling diharapkan dapat meningkatkan
motivasi untuk praktek hidup sehat. Dengan adanya improvement pada knowledge dan pactice,
diharapkan akan terjadi peningkatan status gizi dan kesehatan, yang dapat dinilai melalui
antropometri, perubahan klinis, dan perubahan fungsional. Berikut diagram keterkaitannya :




                                                                                                   32
(Castleman, 2008)




                    33
                                      KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
KESIMPULAN
        Dapat disimpulkan bahwa HIV dan AIDS, merupakan suatu hal yang berbeda. Karena HIV adalah virus
yang menyebabkan terjadinya AIDS itu sendiri. Namun, seseorang yang terinfeksi HIV belum tentu terkena
AIDS. Dalam keadaan ini pasien disebut terjangkit HIV positif, yang berarti dalam darah / tubuh seseorang
ditemukan adanya Hiv namun, masih dalam stase terinfeksi atau belum parah, karena HIV belum
menimbulkan komplikasi penyakit. Hal ini bisa dicegah dengan terus mempertahankan sistem kekebalan tubuh
seseorang dengan menjaga asupan zat gizi dan gaya / pola hidupnya, sehingga status gizinya tetap normal,
sehingga tubuh masih bisa untuk terus memberikan terhadap virus HIV agar tidak cepat berkembang menjadi
stase yang lebih parah / AIDS.


REKOMENDASI
        Sebaiknya mahasiswa dikasih keleluasaan lagi untuk mengetahui intervensi terhadap pasien HIV / AIDS
secara keseluruhan, tidak hanya terbatas pasa intervensi gizi saja.




                                                                                                        34
                                               DAFTAR PUSTAKA


Alcorn, keith. 2010. Stem Cell Transplant Has Cured HIV Infection in “Berlin Patient”. [online]
        http://www.aidsmap.com
Almatsier, Sunita. 2006. Penuntun Diet Edisi Baru. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Anonim.        2011.        HIV         and       Its        Treatment.U.S.        AIDS           Info.    Dalam
        http://www.aidsinfo.nih.gov/ContentFiles/HIVandItsTreatment_cbrochure_en.pdf. Diakses pada Senin
        12 Maret 2012 Pukul 15.35 WIB.
Anonim. 2011. Whats is HIV/AIDS?. [online] http://aids.gov

Anonim.       BAB       2     TINJAUAN         PUSTAKA.       Universitas      Sumatera           Utara.   Dalam
        http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/23458/4/Chapter%20II.pdf. Diakses pada Senin 12
        Maret 2012 Pukul 14.05 WIB.
Borchers, AT., Keen, C L., Gershwin, M E. 2005. Encyclopedia of Human Nutrition. Second Edition. Elsevier
        Academic Press
Castleman, Tony, Megan Deitchler, dan Alison Tumilowicz. 2008. Monitoring and Evaluation of Nutrition
        Assessment, Education and Counseling of People Living with HIV. Washington DC: Food and Nutrition
        Technical Assistance Project.
Cogill, bruce. 2009. Management of Food and Drug Interactions in HIV/AIDS Therapy

Depkes RI. 2003. Pedoman Nasional Perawatan, Dukungan dan Pengobatan bagiOdha: Buku pedoman untuk
        petugas kesehatan dan petugas lainnya. DirektoratJenderal Pemberantasa Penyakit Menular &
        Penyehatan Lingkungan. Dalam http://www.scribd.com/doc/51896899/TATA-LAKSANA-GIZI-THERAPI-
        PADA-PENDERITA-HIV. Diakses pada Senin 12 Maret 2012 Pukul 17.41 WIB.
Depkes Uganda. Comprehensive Nutrition Care for People Living with HIV/AIDS, Fik acility Based for Health
        Care Manual. www.health.go.ug/nutrition/.../hiv/Nutrition_HIV_Facilitators_Trainers_Manual.pdf

Direktorat Bina Gizi Masyarakat, Ditjen Bina Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan Ri. 2010.
        Pedoman Pelayanan Gizi Bagi ODHA. http://gizi.depkes.go.id/wp-content/uploads/2011/01/buku-
        odha-rev5.pdf
East Central and Southern African Health Community Secretariat (ECSA-HC), the Food and Nutrition
Family Health International. Tanpa tahun. Apa Itu HIV/AIDS?. http://www.kswann.com/WhatisHIVAIDS.pdf

FAO. 2006. Nutritional Care and Support for People Living With HIV/AIDS

Food and Nutrition Technical Assistance Project. 2001. HIV/AIDS: A Guide for Nutrition, Care and Support.
        Washington DC: Food and Nutrition Technical Assistance Project.
Food and Nutrition Technical Assistance Project. 2004. HIV/AIDS: A Guide For Nutritional Care and Support 2nd
        Edition. Washington DC: Food and Nutrition Technical Assistance Project.


                                                                                                              35
Food and Nutrition Technical Assistance. 2004. HIV/AIDS : A Guide for Nutritional Care and Support
Hana, abu. 2011. Dalam Tanya Jawab seputar HIV/AIDS bersama ODHA

Info HIV & AIDS | Komisi Penanggulangan AIDS Nasional. http://www.aidsindonesia.or.id/dasar-hiv-aids
Kementerian Kesehatan RI. 2010. Pedoman Pelayanan Gizi bagi ODHA.
Li, Tai-sheng. 2005. Guidelines for diagnosis and treatment of HIV/AIDS in China. Chinese Medical Journal
        2006; 119 (19):1589-1608
Makis, Nurkhalis. 2010. Gizi Bagi Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA).[online] http://pkvhi.org

PLWHA. 2008. Nutritional Care for PLWHA. Training Manual for Community and Homebased Care Providers

Pria Ini Sembuh Total dari HIV/AIDS. http://unik.kompasiana.com/2011/01/21/pria-ini-sembuh-total-dari-
        hivaids/.

Seiter, Julie, Marion Fass, Ethel Stanley, and Margaret Waterman. (2011). HIV/AIDS: Biology and Treatment.
        Biology International Vol. 49 pp: 86-95.
Siregar, Fazidah A. 2004. Pengenalan Dan Pencegahan AIDS. [online] http://respitory.usu.ac.id)
Siregar, Fazidah A. 2004. Pengenalan dan Pencegahan AIDS. FKM Universitas Sumatera Utara
Syafar, Nurpudji A. Taslim, Rusdi Razak. 2009. Pengaruh Konseling Gizi Pada Anak Penderita HIV/AIDS Untuk
        Perubahan Perilaku Makan dan Status Gizi di RSUP dr Wahidin Sudirohusodo Makassar.
Technical Assistance (FANTA) ans LINKAGES. 2008. Nutrition and HIV/AIDS: A Training Manual for Nurses and
        Midwives. http://www.pronutrition.org/files/NHANM_Training_Manual_Complete.pdf
The World Bank. 2007. HIV/AIDS, Nutrition, And Food Security : What We Can Do. A Synthesis of International
        Guidance
WHO. 2002. Living Well with HIV/AIDS

WHO. 2003. Nutrients Requirements for People Living With HIV/AIDS

WHO. 2006. Palliative Care for People Living with HIV/AIDS; Clinical Protocol for the WHO European Region.
        Copenhagen: WHO Regional Office for Europe.
Widiyanto, S. Gunawan. 2008. Faktor – Faktor yang Berhubungan dengan Praktik Wanita Pekerja Seksual
        (WPS) dalam VCT Ulang di Lokalisasi Sunan Kuning Semarang. Tesis. Universitas Diponegoro
Williams, Lippicort. 2007. Ilmu Gizi Menjadi Sangat Mudah Ed2. Jakarta: EGC




                                                                                                             36
                                             TIM PENYUSUN


Ketua           : Regina
Sekretaris      : Zainabul Kubro
                   Putririma Nur’aisyah
Anggota         : Lina Dwi Mawarni
                   Dheby Cinthia P
                   Ni Luh Ayu Megasari
                   Agita Timora H
                   Desi Silvia I
                   Frila Dana Mitta
                   Etriana Wijayanti
Fasilitator     : Kiswatul
Proses diskusi :
Secara umum, proses diskusi berjalan lancar, karena jawaban-jawaban untuk tiap problem dapat terselesaikan
dan pada akhirnya dapat ditarik kesimpulan. Pada DK1, hampir semua PI terjawab secara brainstorming,
hingga dapat dilakukan pembuatan hipotesis sementara. Pada DK3, semua PI terjawab dengan menggunakan
literature.
Fasilitator mampu mengarahkan diskusi agar tidak terlalu luas dan tidak fokus, sehingga PI yang diharapkan
mampu tercapai dan terbahas. Fasilitator juga memberi masukan-masukan agar diskusi dapat berjalan menjadi
lebih lancar dan mengalir.




                                                                                                       37

				
DOCUMENT INFO
Categories:
Tags:
Stats:
views:254
posted:4/28/2012
language:
pages:37