Tehnik Pemeliharaan

Document Sample
Tehnik Pemeliharaan Powered By Docstoc
					Tehnik Pemeliharaan
Budidaya Belut sebenarnya tidak sulit dan juga tidak mahal. Masyarakat yang memiliki lahan
sempitpun dapat memelihara belut. Secara Teknis Budidaya dan pemeliharaan belut (monopterus
albus) hanya memerlukan perhatian dalam memilih tempat/lokasi budidaya, pembuatan kolam, media
pemeliharaan, memilih benih, perkembangbiakan belut, penetasan, makanan dan kebiasaan makan
serta hama. Disisi lain kita juga memerlukan tata cara panen, pasca panen, pemasaran dan pencatatan
analisa usaha dalam melakukan Budidaya belut.



Pemilihan Bibit
Bibit belut yang paling bagus untuk di budidayakan adalah bibit yang di hasilkan dari hasil budidaya
(pembenihan sendiri), walau bibit hasil tangkapan masih tetap bisa hidup dan bisa di besarkan di air
besih. Tetapi jika dalam cara penangkapannya tidak benar, belut bisa lama jika dibesarkan karena
mengalami stres sehingga kita harus mengadaptasinya terlebih dahulu dengan waktu yang cukup lama
(tergantung tehnik perawatannya), kalau tehnik perawatannya salah, belut hasil tangkapan tersebut
bisa mengalami kematian.




sumber
http://belut.yolasite.com/budidaya-belut/teknik-pemeliharaan-budidaya-belut



Seperti contoh bibit belut yang di hasilkan dengan menggunakan setrum : cara penangkapannya
dengan Voltase terlalu tinggi, untuk pengadaptasianya bisa mencapai 1 bulan bahkan bisa lebih dan
jika dalam Proses pengaptasian salah, bisa mengakibatkan kematian pada waktu pemeliharaan.

Jika dalam waktu menangkapnya (belut) dengan menggunakan alat setrum, apabila stik strum
mengenai badan belut, belut tidak akan bisa tahan hidup lebih lama.

Belut hasil setruman akan tetap bisa hidup dan bisa dibesar di air bersih jika cara penangkapannya
dengan tehnik yang benar misal: Voltase strum tidak terlalu besar, stik strum tidak mengenai badan
belut, waktu penyetruman, tidak terlalu lama (belut tidak sampai kaku) dan Belut yang kita ambil dari
tanah/lumpur yang subur itu juga sangat berpengaruh.

Ciri-ciri bibit belut hasil Setruman antara lain: Pada bagian dubur berwarna kemerahan, pada bagian
insang juga berwarna kemerahan. jika stik setrum mengenai badan belut, pada badan belut tersebut
dalam waktu 2 hari atau lebih akan timbul luka seperti koreng dan lama-lama belut akan mati.



Ciri-ciri Bibit Belut

Tidak semua bibit belut bila kita pelihara akan bisa besar, adapun ciri-ciri balut yang bisa besar dan
tidak bisa besar bila kita budidayakan antara lain:
Bibit belut yang warna hitam dari kepala sampai ekor , bibit ini tidak bisa besar.
Bibit belut yang berwarna kemerah-merahan terang disekujur tubuhnya,bibit ini tidak bisa besar.
Bibit belut yang berwarna hitam dan panjang, lambat pertumbuhannya atau kemungkinan tidak bisa
besar walau lama dipelihara.
Bibit belut warna hitam kepala lebih besar (tidak proporsional) tidak baik untuk dibudidayakan karena
tidak bisa besar. Bibit ini kalau dipegang terasa agak keras.
Bibit belut yang berwarna abu-abu paling besar seukuran jempol tangan namun perkembangannya
sangat lambat.

Bibit yang berwarna dominan coklat dan kehijau-hijauan seluruh tubuhnya,bibit ini bisa besar bila di
budidaya dan Bibit ini kebanyakan di dapat dari sawah
Bibit belut yang dominan warna "coklat bening" dan totol-totol hitam sangat bagus untuk
dibudidayakan karena cepat besar dalam waktu singkat.

Bibit yang paling bagus, warna rata-rata punggung kuning kecoklatan dan ada batikannya di bagian
ekor, Di bagian Kepala ada "coretan-coretan" warna kuning, dada berwarna kuning / oranye. bibit ini
bisa mencapai ukuran sebesar pergelangan tangan orang dewasa.
Namun bibit belut yang sudah kita yakini termasuk jenis belut yang bisa besar dan sudah memiliki ciri-
cirinya, khusus untuk bibit belut yang di hasilkan dari tangkapan alam, bahwa sanya belut tersebut ada
yang tetap tidak mau besar bila kita budidayakan baik di media lumpur ataupun di media air bersih.
Akan tetapi mereka(belut) diperoleh ada dari sawah yang subur dan tidak subur atau kurang subur ,
bisa jadi yang berwarna kuning pun,ada yang Kuntet, karena bibit belut tersebut hidup di areal
persawahan yang tidak banyak cacing Lor sawahnya.Sehingga pertumbuhannya terganggu. Dan ini
ditunjukkan dengan banyak ditemukannya bibit seukuran Finggerling atau jari kelingking sudah matang
gonad (perutnya sudah banyak mengandung butiran telur yang berwarna kuning), Kalau mereka sudah
mengeluarkan telurnya, lalu kita tangkap untuk dipelihara, bisa jadi Tidak Bisa Membesar walupun
sudah dipelihara selama lebih dari 4 bulan, akan tetapi masih bisa bertelur, karena fa’al tubuhnya
sudah mendukung (dewasa) matang gonad walaupun badannya kecil.Karena lingkungannya kurang
Gizi(kurang asupan makanan cacing lor dll).

Proses Karantina
Karantina sepertinya merupakan sebuah kosa kata yang cukup popular di kalangan para pemelihara
atau pembudidaya belut maupun jenis ikan lainnya, sebelum berbicara lebih jauh tentang ini, mungkin
lebih baik kita memahami apa maksud dan tujuan dari karantina itu sendiri.



Karantina boleh disebut juga sebagai suatu kegiantan untuk mengisolasi atau memisahkan sesuatu dari
lingkungan tertentu dengan maksud dan tujuan tertentu.

Dalam hal pemeliharaan atau pembudidaya, kita melakukan karantina dengan tujuan untuk menjaga
agar belut yang akan kita budidayakan sudah benar-benar sehat atau tidak terjangkit penyakit tertentu
yang dibawa oleh bibit belut yang akan kita tebar.

Latar Belakang
Yang banyak terjadi di kalangan pembudidaya belut terutama pembudidaya pemula adalah kurang
paham benar apa yang menjadi maksud dan tujuan karantina untuk memaksimalkan hasil karantina
tersebut.
Sebelum berbicara lebih jauh akan maksud dan tujuan karantina alangkah baiknya kita untuk terlebih
dahulu memahami latar belakang dari kegiatan ini.

Setiap mahluk hidup, hidup di komunitas / lingkungan mereka masing – masing, dan setiap komunitas
hidup antara yang satu dengan yang lain tidaklah sama.

Antara lingkungan yang satu dengan yang lain mempunyai banyak perbedaan, walaupun juga memiliki
kesamaan. Sedangkan mahluk hidup sendiri mempunyai kemampuan untuk beradaptasi dengan
lingkunngan hidupnya.

Untuk lebih memahami kita ambil contoh manusia. Seorang petani yang menanam padi disawah tidak
merasa gatal walaupun seharian berendam di lumpur yang basah dan kotor, akan tetapi seorang
pekerja kantoran yang mencoba membantu petani menanam padi di sawah, merasa gatal – gatal pada
kulitnya bahkan sampai menderita iritasi.

Begitu juga anggota keluarga petani keesokan harinya perut mereka merasa kurang nyaman karena
pada malam sebelumnya makan makanan yang dibawa oleh “ si pekerja kantoran “.

“ Si Petani “ sendiri karena tidak punya makanan tetap makan makanan “Si Pekerja Kantoran” dan
lama – lama terbiasa.

Begitu juga petani yang bermalam di rumah pekerja kantoran, keesokan harinya sakit demam karena
semalaman tidur di kamar yang menggunakan AC ( Air Conditioning ).

Begitu juga anggota keluarga “ si pekerja kantoran “ tertular penyakit kulit karena menggunakan
handuk mandi yang pernah digunakan petani tersebut.

Kalau kita menyimak ilustasi diatas mungkin kita dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut :

• Setiap mahluk hidup dapat menyesuaikan atau beradaptasi terhadap lingkungannya.

• Dalam proses adaptasi terhadap lingkungan setiap mahluk hidup bisa mengalami “ganguan”
• Setiap mahluk hidup dapat menjadi sarana ( carrier ) “penyakit” terhadap lingkungan barunya.
• Mahluk hidup yang sehat belum tentu tidak mengandung “ bibit penyakit “.
• Apabila mahluk hidup dapat menyesuaikan dengan lingkungannya berarti mahluk tersebut sudah
memiliki kekebalan ( imum ) terhadap “ penyakit di lingkungannya “.



Jadi meskipun bibit Belut yang baru didatangkan sudah kelihatan sehat belum tentu bebas dari bibit
penyakit. Demikian juga belut yang sudah ada di kolam kita belum tentu bebas dari bibit penyakit
walaupun belut tersebut sehat.

Mungkin dari gambaran diatas kita sedikit bisa memahami langkah – langkah untuk melakukan
kegiatan karantina.
Tujuan
Yang seharusnya menjadi tujuan dari karantina adalah untuk menjaga agar belut yang telah kita miliki
tidak tertular bibit penyakit yang mungkin dibawa oleh belut yang baru.
Selain itu maksud dan tujuan karantina adalah untuk menyesuaikan lingkungan hidup belut yang baru
dengan lingkungan asal sehingga bila belut yang baru kurang dapat beradaptasi dan mengalami
gangguan tidak menjangkiti belut yang lainnya atau yang sudah kita miliki.

Kegiatan Karantina.
Apakah setiap bibit belut baru wajib karantina ???

Karantina/Pengadaptasian
- tidak semua belut mudah meyesuaikan dengan lingkungan baru (media air bersih) terutama belut
yang dihasilkan dari hasil tangkapan alam.

- Biasanya belut tertentu akan mengalami “gangguan” sebelum dapat beradaptasi dengan lingkungan
barunya.
- Belut mudah stress bila berubah lingkungan hidupnya sehingga mudah terserang penyakit karena
sistim imum tubuhnya menurun.



Janglah karantina yang ideal sebenarnya membutuhkan proses yang cukup detail yang seolah – olah
sangat rumit padahal tidaklah demikian, asal kita dapat memahami “ tehniknya”.

Langkah karantina yang ideal, dimulai pada saat kedatangan belut Langkah pertama yang harus kita
lakukan adalah meyiapkan tempat karantina yang memadai baik luas maupun volume tempat
karantina tersebut, yang sebelumnya sudah kita isi dengan air kolam yang rencananya akan kita
gunakan untuk pemeliharaan belut tersebut.

Apakah harus ? tidak , dengan mengisi tempat karantina dengan sumber air yang sama dengan kolam
yang rencananya akan kita gunakan untuk memelihara belut tersebut sudah cukup memadai bila
sumber air yang digunakan bukan air PDAM/PAM, bila memakai air PDAM/PAM hendaknya
ditreatment terlebih dahulu.



Salah satu Tehnik Proses karantina sekaligus adaptasi yang sudah saya terapkan, bibit belut yang
dihasilkan dari tangkapan alam (setrum atau sedek)

Untuk kolam/tempat karantina , sebaiknya "jangan" ada yang berbentuk sudut/menyiku, kolam yang
kita siapkan harus berbentuk bundar ataupun lonjong, kolam karantina bibit belut air bersih "tidak"
usah terlalu besar dan untuk bibit yang kita masukan kedalam kolam karantina Volumenya harus
diperpadat, kepadatan dalam proses karantina adalah sangat berpengaruh penting. Ketinggian air pada
kolam karantina 10 sampai dengan 15 dari permukaan belut yang kita masukan.

Bila tempat karantina sudah siap, belut yang masih berada di wadah pengangkutan airnya harus di
ganti terlebih dahulu untuk menghilangkan lendir yang berada di dalam wadah pengangkutan, lalu
masukkan belut tanpa lendir/busa.Untuk pemindahan bibit belut dari wadah pengangkutan, sebaiknya
dilakukan dengan sehati-hati mungkin, gunakanlah alat seperti jaring (serok) usahakan bibit jangan
sering dipegang dengan tangan secara langsung biar belut tidak stress.

Setelah belut tenang, Langkah berikut adalah pada tempat karantina diberi kocokan telur ditambah
dengan madu supaya bibit cukup Vitamin dan energi, kemudian tambahkan perasan daun pepaya
dengan harapan untuk mengembalikan lendir yang sudah banyak dikeluarkan belut selama dalam
pengangkutan.
Setelah satu jam kemudian kuraslah air dan di ganti dengan air yang baru.

1 sampai 2 hari, bibit belut jangan di beri pakan terlebih dahulu, setelah 2 hari kemudian, pemberian
pakan baru dilakukan sampai bibit belut benar-benar sudah sehat.
Ciri-ciri bibit belut yang sudah siap ditebar di kolam pembesaran (media air bersih), belut sudah tidak
ada yang mendongakan kepalanya keatas (permukaan air). Apabila masih ada bibit belut yang
mendongakan kepalanya keats dan sudah membalikan badannya segeralah diambil, pisahkan dengan
bibit yang sudah sehat.



CATATAN : pada waktu proses karantina dilakukan, air harus dalam keadaan jernih (bening), tidak
boleh keruh.
biofish fishtamin (vitamin complex)



Namun Bila bibit belut yang kita dapatkan dari hasil budidaya, untuk proses karantina/adaptasinya
tidak membutuhkan waktu yang lama, cukup 1 hari atau 2 hari, bibit sudah siap kita tebarkan di kolam
pembesaran media air bersih (air bening) tanpa lumpur.

Tata Cara Perawatan
Setelah proses karantina/adaptasi dilakukan dengan benar, masukan bibit kekolam pembesaran dan
kemudian lakukan perawatan.



Pakan dan Pengaturan Air

Meskipun sudah banyak ilmuwan-ilmuwan dan peneliti berpendapat "Waktu pemberian pakan pada
belut adalah sore menjelang malam, karena belut aktif pada malam hari" namun dalam budidaya belut
di air bersih yang sudah kami terapkan pemberian pakan bisa dilakukan dalam sehari semalam 3 kali
(pagi,siang dan sore hari) dengan dosis 5% dari jumlah benih yang ditebar.

Pemberian pakan bisa dilakukan 3 kali dalam sehari semalam kalau kita sudah memenuhi
unsurKENYAMANAN bagi belut itu sendiri.

Sedangkan faktor kenyamanan terdiri faktor internal dan eksternal
1. Faktor internal.
Media harus tersedia yaitu. Substrat ( paralon, atau genteng, roster, eceng gondok maupun kiambang,
dsb)
Faktor Oksigen. (sangat berpengaruh besar terhadap reaksi dan nafsu makan, sekaligus kelangsungan
hidup) Khusus Untuk budidaya air bersih, faktor oksigen sangat berpengaruh besar terhadap
pertumbuhan dan kelangsungan hidup dan daya nafsu makan belut). Air menjadi syarat utama kolam
pemeliharaan belut, karena itu lubang sirkulasi air dan lubang pembuangan kelebihan air menjadi
syarat utama. Air harus terus mengalir walau dalam jumlah debit yang sangat kecil dari sumber air agar
oksigen terlarut tetap terjaga persediaannya
2. Faktor Eksternal.
Faktor eksternal adalah suasana Gelap dan tenang. ( Gelap berarti tempat harus ditutup dengan terpal
hitam atau coklat, tidak boleh warna terang atau tembus cahaya, Tenang berarti tidak boleh ada
aktifitas lain di lingkungan budidaya)
Pakan, pemberian pakan bisa di lakukan dalam sehari semalam 3 kali bisa berjalan apabila Faktor
eksternal dan internal terpenuhi.

Untuk menambah nafsu makan belut dapat diberikan jamu empon-empon, bahan-bahan bakunya
seperti "temulawak (curcuma xanthorhiza), kunyit, kencur dan temu ireng. untuk perbandingan 1,5 :
0,5 : 0,5 : 0,5 dengan cara: kesemua bahan tersebut di rebus dan kemudian di saring, setelah dingin air
dari bahan-bahan tersebut di masukan ke kolam secara merata. Pemberian jamu nafsu makan
sebaiknya di berikan pada sore hari kemudian pada pagi hari, air dikuras dan di ganti dengan air yang
baru. Dalam waktu pemberian jamu nafsu makan tersebut, belut jangan diberi pakan terlebih dahulu
sebelum pengurasan dilakukan.



Air Pemeliharaan
Lendir yang dikeluarkan belut memang menjadi salah satu mekanisme untuk menjaga agar tubuhnya
tetap licin sehingga dapat membantu gerak belut dan menjadi sarana melepaskan diri dari musuh-
musuhnya. Namun, dalam pemeliharaannya, lendir belut yang terus menerus dikeluarkan dalam
jumlah yang banyak akan membahayakan belut itu sendiri, dari hasil penelitian mengemukakan, jika
dalam air yang di gunakan untuk budidaya belut sudah terlalu banyak lendir yang dikeluarkan oleh
belut itu sendiri maka air harus segera diganti maka air tersebut akan meracuni belut itu sendiri dan
juga bisa mengakibatkan kematian pada belut. lendir yang sudah banyak di keluarkan juga akan sangat
mempengaruhi kualitas air, terutama akan meningkatkan derajat keasaman/pH air. untuk itu, kualitas
air menjadi sangat penting untuk diperhatikan. Walau tidak ada persyaratan khusus, tetapi idealnya air
yang digunakan sebagai media pembesaran belut harus jernih, memiliki suhu antara 25-28 derajat C,
Tidak mengandung bahan kimia yang berbahaya, serta kendungan pH-nya tidak lebih dari 7.



Budidaya Belut Di Air Bersih
Tekhnik Terbaru, Budidaya Belut Di Air Bersih. Belut bisa hidup dan bisa dibesarkan di air Bersih (air
bening) tanpa lumpur ini adalah hal yang sangat luar biasa, ini bener-bener ilmu yang sangat
bermanfaat bagi kita khususnya para pembudidaya belut, sehingga kita bisa lebih effisien dalam
melakukan usaha ini. Dengan adanya tehnik terbaru ini sehingga para pembudidaya belut sudah tidak
pusing-pusing mencari "debog pisang, jerami, lumpur dan lain-lain, kita sudah tidak repot lagi untuk
melakukan bokasi dan menfermentasikan-nya.

Ini bukan penampungan dan bukan hasil rekayasa tetapi bener-bener hasil budidaya. Tempat hidup
alami belut (Monopterus albus) yang tinggal di dalam lumpur. Banyak orang, baik penelitian atau
usaha, yang sudah mencoba membikin lumpur untuk usaha budidaya. Mungkin beberapa yang berhasil
meskipun kebanyakan yang lainnya masih bergelut dengan ‘teknologi doa’ untuk panen. karena hidup
di dalam lumpur, tidak banyak yang bisa dilakukan untuk memastikan jumlah serta perkembangan
belut selama masa pemeliharaan. sehingga, sangat layak bila kemudian mencoba berinovasi:
"Budidaya Belut Di Air Bersih (air bening) tanpa lumpur"



Dalam hipotesis: mungkin belut bisa hidup dan dibesarkan pada air bersih tapi tetap harus
menggunakan lumpur untuk reproduksi alami.

Secara teknis: sejauh kebiasaan makan bisa diadaptasikan dan kebutuhan pakan bisa disuplay secara
terkontrol, seharusnya pembesaran belut di air bersih dapat dilakukan. hanya saja, kontrol terhadap
kemungkinan serangan penyakit akibat proses adaptasi harus benar-benar diamati dan dijaga.



Keuntungan: dengan pembesaran belut pada air bersih, jumlah (yang berkaitan dengan kelangsungan
hidup) dan pertumbuhan (yang berhubungan dengan penambahan bobot) dapat selalu terkontrol
sehingga target produksi bisa lebih ter-realistis dan untuk jumlah penebaran bibit belut di air bersih
bisa lebih besar (bisa 10 bahkan sampai 30 kali lipat dibanding dengan penebaran benih di media
lumpur).

Walau masih banyak orang yang tidak/belum percaya dengan adanya Ilmu terbaru ini (belut bisa hidup
dan bisa dibesarkan di 100% air bersih (air bening) tanpa lumpur, mungkin karena mereka belum
pernah melihat dan belum pernah mencobanya karena belum tahu tehnik-tehnik dalam melakukan
Budidaya Belut Di Air Bersih.



Sekilas Tentang Belut

Belut adalah sekelompok ikan berbentuk mirip ular memiliki bentuk tubuh memanjang, tidak bersirip
dan tidak bersisik, serta memiliki lapisan lendir di sekujur tubuhnya yang termasuk dalam suku
Synbranchidae. Suku ini terdiri dari empat genera dengan total 20 jenis. Jenis-jenisnya banyak yang
belum diberikan dengan lengkap sehingga angka-angka itu dapat berubah. Anggotanya bersifat
pantropis (ditemukan di semua daerah tropika).

Belut berbeda dengan sidat, yang sering dipertukarkan. Ikan ini boleh dikatakan tidak memiliki sirip,
kecuali sirip ekor yang juga tereduksi, sementara sidat masih memiliki sirip yang jelas. Ciri khas belut
yang lain adalah tubuh licin berlendir, tidak bersisik, dapat bernafas dari udara, bukaan insang sempit,
tidak memiliki kantung renang dan tulang rusuk. Belut praktis merupakan hewan air darat, sementara
kebanyakan sidat hidup di laut meski ada pula yang di air tawar. Mata belut kebanyakan tidak
berfungsi baik, bermata kecil.
Ukuran tubuh belut bervariasi. Monopterus indicus hanya berukuran 8,5 cm, sementara belut marmer
Synbranchus marmoratus diketahui dapat mencapai 1,5m. Belut sawah Monopterus albus sendiri,
yang biasa dijumpai di sawah dan dijual untuk dimakan, dapat mencapai panjang sekitar 1m (dalam
bahasa Betawi disebut moa).

Kebanyakan belut tidak suka berenang dan lebih suka bersembunyi di dalam lumpur (tempat
persembunyian). Semua belut adalah pemangsa. Daftar mangsanya biasanya hewan-hewan kecil di
rawa atau sungai, seperti ikan, katak, serangga, serta krustasea kecil dan juga ada yang bersifat
kanibalisme.
Spesies belut mempunyai nilai pemakan yang tinggi. Khasiatnya dikatakan setanding dengan ikan
tengiri dan selar, mengandungi 18.6 % protein dan 15 % lemak. Belut juga kaya dengan lemak, kalsium,
vitamin B, Vitamin D dan zat besi. Tidak heranlah banyak yang percaya belut boleh membantu
mengubati penyakit seperti sakit pinggang, lelah, darah tinggi, lemah tenaga batin dan penyembuhan
luka pembedahan. Spesies ikan ini jika dikonsumsi secara rutin miniman 100 gram/hari dikatakan
boleh menguatkan daya tahan tubuh, menormalkan tekanan darah, menghaluskan kulit, mencegah
penyakit mata, menguatkan daya ingatan dan membantu mencegah hepatitis.



Keunggulan dan Kelebihan Bidudaya Belut Di Air Bersih
Belut Mudah Dikontrol
Budidaya belut di Media Air Bersih tanpa lumpur terbilang lebih effektif dibandingkan dengan
budidaya belut di media lumpur. Khususnya kemudahan dalam melakukan pengontrolan terhadap
belut yang dibesarkan, selain itu jika ada belut yang terlihat sakit atau mati, akan mudah terlihat
sehingga bisa segera diambil dari kolam budidaya.

Penebaran Benih Belut Lebih Banyak
Budidaya Belut dengan media air bersih memungkinkan pembudidaya untuk meningkatkan jumlah
belut yang di besarkan dikolam hingga bisa mencapai 30 kali lipat per m2 di banding budidaya belut di
media lumpur. Hal ini dapat di lakukan karena di media air bersih, fungsi lumpur sebagai alat
perlindungan/persembunyian bagi belut, sedangkan budidaya belut di air bersih peranan tubuh belut
itu sendiri bisa di jadikan tempat perlindungan/persembunyian bagi belut itu sendiri (pengganti
lumpur). Dalam Budidaya belut di air bersih berdasarkan uji coba, untuk ukuran 1m2 bisa ditebar benih
belut 30kg, sedangkan di media lumpur penebaran benih untuk ukuran 1 m2 hanya bisa kita tebar 1kg
maksimal 1,5kg, jika penebaran melebihi angka tersebut pertumbuhan belut akan terganggu, bahkan
bisa terjadi saling nyerang menyerang antar belut untuk berebut wilayah hidupnya. Sehingga tingkat
kematian belut di media lumpur akan semakin tinggi.

Meminimalkan Angka Kanibalisme
Seperti binatang-binatang lainnya, belut yang dibesarkan di dalam air yang berlumpur terutama belut
jantan atau belut yang sudah mencapai umur 6-8 bulan, akan memperlakukan habitat tempatnya
bernaung sebagai daerah kekuasaannya. bila merasa terusik oleh belut yang lain dan daerah
kekuasaannya terancam, belut tersebut akan saling serang menyerang. Hal itulah yang menyebabkan
tingginya angka kematian pada belut-belut yang kita pelihara di media air berlumpur. namun, dalam
hal ini tidak akan terjadi pada belut yang dipelihara di media air bersih tanpa lumpur, karena antara
belut satu dengan yang lainya justru saling membutuhkan, dalam metode budidaya belut di air bersih,
badan belut adalah sebagai tempat untuk saling melindungi dan sebagai tempat persembunyian.

Lebih Effisien Dan Effektif
Belut yang sudah kita kenal dengan gaya hidupnya yang selalu bersembunyi didalam lumpur yang
berair. Namun hal yang sebenarnya dimana ada lobang belut yang masih ada belutnya disitu pasti akan
terdapat air yang jernih. Dengan adanya hal tersebut berarti syarat hidup belut adalah di air jernih (air
bersih), dan tanpa lumpurpun masih bisa hidup dan bisa dibesarkan. Budidaya belut di air bersih (air
jernih) tanpa lumpur memungkinkan para pembudidaya tidak akan kerepotan karena harus mencari
jerami, debog pisang ataupun lumpur sebagai medianya namun dengan budidaya belut di air bersih
cukup dengan air yang jernih saja dan dalam budidaya belut di air bersih juga akan menghemat lahan
karena dalam pembikinan kolam dengan media air bersih, bisa disusun menjadi 3 tingkat atau lebih.
dalam pemberian pakan di media air bersih juga tidak cuma-cuma(mubadzir) karena setiap kita tebar
pakannya, belut akan melihat sehingga belut akan langsung memangsanya.



Faktor-fator Utama Dalam Budidaya Belut Di Air Bersih
Beberapa Fator-faktor Utama Yang Harus Kita perhatikan Dalam Budidaya Belut Di Air Bersih
antara lain :
Air
Dalam Budidaya belut di air bersih, air adalah faktor utama yang sangat berpengaruh pada
perkembangan belut. Jika air yang kita gunakan dalam budidaya belut tidak rutin di kontrol maka akan
sangat mempengaruhi pada perkembangan belut kita.

Air yang bagaimana yang layak digunakan Budidaya belut air bersih?
air yang layak digunakan dalam budidaya belut di air bersih adalah air yang jernih, memiliki suhu
antara 25-28 derajat C, air yang tidak mengandung zat-zat kimia berbahaya.

Air yang kurang layak/tidak bagus untuk budidaya belut di air bersih
air PDAM karena banyak mengandung zat-zat kimia (kaporit), air yang langsung diambil dari sumur bur
karena sangat minim kandungan oksigennya dan air limbah
Usahakan dalam melakukan budidaya belut di air bersih, kolam harus ada sirkulasi air walau dengan
debit yang sangat kecil (ada yang masuk dan ada yang keluar). Dengan adanya aliran air kedalam kolam
budidaya maka akan menambah kandungan oksigen didalamnya sehingga sangat berpengaruh dalam
untuk perkembangan serta pertumbuhan belut dan kita juga tidak terlalu repot untuk penggatian air.

Jika kolam budidaya belut tidak ada sirkulasi air dan pembuangan, air akan cepat kotor/keruh, maka
kita harus sering mengganti air paling tidak selama 2 atau 3 hari sekali, tentunya kita akan sangat
kerepotan bukan? Jika air sudah kotor/keruh (warna kuning kecoklatan) air harus segera kita ganti. tapi
beda dengan kotoran yang mengendap didasar kolam, walau didasar kolam sudah terdapat endapan
tapi airnya masih jernih, air masih layak kita gunakan, asal endapannya tidak terlalu tebal.




Pakan
Pakan, pakan juga termasuk salah satu faktor yang sangat penting untuk perkembangan serta
pertumbuhan belut. Berilah pakan secukup mungkin, usahakan jangan sampai kekurangan atau jangan
berlebihan dan berilah pakan yang paling disukai belut, jika dalam pemberian pakan pada belut terlalu
banyak bisa mengakibatkan air cepat kotor(karena sisa makanan) dan bisa mengakibatkan effek
negatif pada belut, sehingga belut mudah sakit dan lama kelamaan bisa mengakibatkan kematian. Jika
pemberian pakan pada belut kurang, maka bisa menimbulkan sifat kanibalisme pada belut kita dan kita
juga akan rugi karena pertumbuhannya akan lama. Selama belut masih mau makan dengan pakan
tersebut jangan beralih ke pakan yang lain secara total, kecuali belut mau makan dengan pakan yang
kita berikan, jika belut tidak mau makan dengan pakan yang kita berikan, kembalilah kepakan yang
sebelumnya.

Jenis-jenis pakan belut antara lain:
cacing lor, cacing merah, cacing lumbricus, ikan cere, ikan cithol, ikan guppy, anakan ikan mas, berudu
(kecebong), lambung katak, keong mas/sawah, ulat hongkong dan masih banyak yang lainnya.
Bibit

Pemilihan bibit belut berkualitas adalah salah satu faktor penting dalam menentukan keberhasilan
budi daya belut. Umumnya bibit belut yang ada saat ini sebagian besar masih merupakan hasil
tangkapan alam. Karena itu, teknik penangkapan bibit dari alam menentukan kualitas bibit. Bibit yang
ditangkap dengan cara alami menggunakan perangkap, seperti bubu, merupakan bibit yang cukup baik
karena tidak mengalami perlakuan yang menurunkan kualitasnya. Sebaliknya, bibit yang diperoleh
dengan cara tidak baik seperti disetrum bukan termasuk bibit berkualitas. Pasalnya, bibit seperti ini
pertumbuhannya tidak akan maksimal (kuntet). Lebih baik lagi jika bibit yang digunakan berasal dari
hasil budidaya. Ukurannya akan lebih seragam dan jarang terserang penyakit seperti yang mungkin
terjadi pada belut hasil tangkapan alam. Sayangnya, bibit belut hasil budidaya untuk saat ini masih
sangat sedikit.

Berikut ini beberapa hal yang harus diperhatikan terkait bibit belut yang berkualitas.
1. Bibit yang digunakan sehat dan tidak terdapat bekas luka

Luka pada bibit belut dapat terjadi akibat disetrum, pukulan benda keras, atau perlakuan saat
pengangkutan. Umumnya, bibit yang diperoleh dengan cara disetrum cirinya tidak dapat langsung
terlihat, tetapi baru diketahui 10 hari kemudian. Salah satu ciri-cirinya terdapat bintik putih seperti
garis di permukaan tubuh yang lama-kelamaan akan memerah dan pada bagian dubur berwarna
kemerahan. Bibit yang disetrum akan mengalami kerusakan syaraf sehingga pertumbuhannya tidak
maksimal.



2. Bibit terlihat lincah dan agresif
Bibit yang yang selalu mendongakan kepalanya keatas dan tubuhnya sudah membalik sebaiknya
diambil saja karena belut yang sudah seperti ini sudah tidak sehat dan lama kelamaan bisa mati. belut
yang sehat mempunyai ciri-ciri: tenang tapi lincah, belut akan mengambil oksigen keatas dengan cepat
kamudian kembali kebawah lagi.

3. Penampilan sehat yang dicirikan, tubuh yang keras dan tidak lemas pada waktu dipegang
pada waktu kita memegang belut tentunya kita akan bisa merasakan keadaannya, bila belut tersebut
bila kita pegang tetap diam/lemas atau tidak meronta/tidak ada perlawanan ingin lepas, sebaiknya
belut dipisahkan, karena belut belut yang seperti ini kurang sehat. Dan sekaliknya jika kita pegang
badannya terasa keras dan selalu meronta ingin lepas dari genggaman tangan kita, belut yang
mempunyai ciri seperti ini layak kita budidayakan.



4. Ukuran bibit seragam dan dikarantina terlebih dahulu
Bibit yang dimasukkan ke dalam wadah pembesaran ukurannya harus seragam. Hal ini dilakukan untuk
menghindari sifat kanibalisme pada belut. Bibit yang berasal dari tangkapan alam harus disortir dan
dikarantina.
Tujuannya untuk menghindari serangan bibit penyakit yang mungkin terbawa dari tempat hidup atau
kolam pemeliharaan belut sebelumnya dan untuk pemilihan belut yang sehat dan tidak sehat. Caranya
adalah dengan memasukkan bibit belut ke dalam kolam atau bak yang diberi air bersih biarkan belut
tenang dulu (kurang lebih 1 jam) kemudian berilah kocokan telur dicampur dengan madu 1 jam
kemudian penggantian air dilakukan dan biarkan belut sampai bener-bener tenang diamkan kurang
lebih 1 hari 1 malam kemudaian masuk bibit kekolam pembesaraan.
Kepadatan (Volume)
Kepadatan penebaran bibit dalam pembesaran jenis-jenis ikan sangatlah mempengaruhi pada
perkembangan pertumbuhan dan tingkat kematian, misal, dalam pembesaran jenis-jenis ikan seperti
lele,gurame, nila dll, kalau penebarannya terlalu padat, waktu pembesaran bisa terhambat walau
pemberian pakan sudah sesuai dengan ukurannya dan juga bisa mengakibatkan tingkat kematian yang
tinggi.
Namun metode pembesaran Belut di media air bersih ini sangatlah berbeda dengan penebaran bibit
jenis-jenis ikan yang lainnya, Kepadatan penebaran bibit belut sangat berperan penting pada
pertumbuhan dan tingkat kematian. Kepadatan penebaran bibit belut untuk pertumbuhan, tergantung
dalam proses pemberian pakan dan untuk tingkat kematian justru bisa meminimalkannya.



Mempersiapkan Pembesaran
Langkah Awal
Langkah awal untuk melakukan usaha budidaya belut di air bersih adalah memelihara pakan, dalam
melakukan usaha budidaya belut,jika kita tidak ingin mengalami kendala terutama masalah pakan dan
kita juga akan bisa mengurangi biaya operasional usaha ini, lakukanlah langkah awal ini yaitu 3 atau 4
bulan memelihara pakannya terlebih dahulu sebelum kita menebar bibit belut. Karena selama ini
kendala dari para pembudidaya belut baik yang menggunakan media lumpur maupun media air bersih
adalah pada pemberian pakan yang tidak menentu karena mereka sebelumnya tidak mempersiapkan
pakannya terlebih dahuludan hingga kini pakan yang paling disukai belut adalah pakan dari alam,
walaupun sudah ada pembudidaya belut dalam pemberian pakannya menggunakan jenis pelet, namun
setelah dihitung-hitung hasil analisa usahanya masih sangat minim,padahal dalam setiap usaha
tentunya untuk mendapatkan keuntungan yang lebih, bukan malah membuang-buang duit atau tenaga
kita kan???

Banyak pembudidaya belut yang masih meremehkan hal ini dan akhirnya mereka yang akan kerepotan
sendiri karena setiap hari harus mencari pakan buat belut kalau tidak, mereka harus membeli
pakannya, sehingga untuk biaya operasionalnya akan semakin membengkak untuk pembelian pakan.
Dengan kita memelihara pakan terlebih dahulu insyaALLOH akan mudah menghitung jumlah panen
dan analisa usahanya.

Persyaratan Lokasi
Secara klimatologis belut tidak membutuhkan kondisi iklim dan geografis yang spesifik. Ketinggian
tempat budidaya ikan belut dapat berada di dataran rendah sampai dataran tinggi. Begitu pula dengan
kelembaban dan curah hujan tidak ada batasan yang spesifik.

Kualitas air untuk pemeliharaan belut harus bersih, tidak terlalu keruh dan tidak tercemar bahan-
bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik. Kondisi kolam tidak beracun.

Suhu udara/temperatur optimal untuk pertumbuhan belut yaitu berkisar antara 25-28 derajat C.
Pada prinsipnya kondisi perairan adalah air yang harus bersih dan kaya akan osigen terutama untuk
bibit/benih yang masih kecil.

Belut adalah binatang air yang selalu mengeluarkan lendir dari tubuhnya sebagai mekanisme
perlindungan tubuhnya yang sensitif. Lendir yang keluar dari tubuh belut cukup banyak sehingga lama
kelamaan bisa mempengaruhi derajad keasaman (pH) air tempat hidupnya. pH air yang dapat diterima
oleh belut rata-rata maksimal 7. Jika pH dalam air tempat pembesaran telah melebihi ambang batas
toleransi, air harus dinetralkan, dengan cara menggati ataupun mensirkulasikan airnya. Dengan
demikian, kolam/tempat pembesaran harus dilengkapi dengan peralatan yang memungkinkan untuk
penggantian atau sirkulasi air.

Ada beberapa macam tempat yang dapat digunakan untuk untuk budidaya belut di air bersih (air
bening) tanpa lumpur di antaranya: kolam permanen (bak semen), bak plastik, tong (drum).
Dalam Budidaya Belut dengan menggunakan media lumpur dalam wadah/tempat dan ruangan 5X5
meter, hanya bisa dibuat untuk 1 kolam saja berbeda dengan Budidaya belut diair bersih dengan
wadah dan Ruangan 5X5 meter, bisa dikembangkanya 3 Kali lipat dari wadah budidaya itu sendiri,
karena dalam budidaya air bersih kita hanya memerlukan ketinggian air 30 Cm, maka tempat budiaya
kita bisa tingkat menjadi 3 susun atau 3 apartemen.

BUDIDAYA IKAN BELUT
Seputar
BUDIDAYA IKAN BELUT
( Synbranchus )




1.SEJARAH SINGKAT
Belut merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan bentuk tubuh bulat memanjang yang hanya
memiliki sirip punggung dan tubuhnya licin.
Belut suka memakan anak-anak ikan yang masih kecil. Biasanya hidup di sawah-sawah, di rawa-
rawa/lumpur dan di kali-kali kecil. Di Indonesia sejak tahun 1979, belut mulai dikenal dan digemari,
hingga saat ini belut banyak dibudidayakan dan menjadi salah satu komoditas ekspor.

2.SENTRA PERIKANAN
Sentra perikanan belut Internasional terpusat di Taiwan, Jepang, Hongkong, Perancis dan Malaysia.
Sedangkan sentra perikanan belut di Indonesia berada di daerah yogyakarta dan di daerah Jawa Barat.
Di daerah lainnya baru merupakan tempat penampungan belut-belut tangkapan dari alam atau
sebagai pos penampungan.



3.JENIS
Klasifikasi belut adalah sebagai beriku
Kelas : Pisces
Subkelas : Teleostei
Ordo : Synbranchoidae
Famili : Synbranchidae
Genus : Synbranchus
Species : Synbranchus bengalensis Mc clell (belut rawa);

Monopterus albus Zuieuw (belut sawah); Macrotema caligans Cant (belut kali/laut) Jadi jenis belut ada
3 (tiga) macam yaitu belut rawa, belut sawah dan belut kali/laut. Namun demikian jenis belut yang
sering dijumpai adalah jenis belut sawah.



4.MANFAAT
Manfaat dari budidaya belut adalah:
1)Sebagai penyediaan sumber protein hewani.
2)Sebagai pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
3)Sebagai obat penambah darah.



5.PERSYARATAN LOKASI
1) Secara klimatologis ikan belut tidak membutuhkan kondisi iklim dan geografis yang spesifik.
Ketinggian tempat budidaya ikan belut dapat berada di dataran rendah sampai dataran tinggi. Begitu
pula dengan kelembaban dan curah hujan tidak ada batasan yang spesifik.

2)Kualitas air untuk pemeliharaan belut harus bersih, tidak terlalu keruh dan tidak tercemar bahan-
bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik. Kondisi tanah dasar kolam tidak beracun.

3)Suhu udara/temperatur optimal untukpertumbuhan belut yaitu berkisar antara 25-31 derajat C.
4)Pada prinsipnya kondisi perairan adalah air yang harus bersih dan kaya akan osigen terutama untuk
bibit/benih yang masih kecil yaitu ukuran 1-2 cm.

Sedangkan untuk perkembangan selanjutnya belut dewasa tidak memilih kualitas air dan dapat hidup
di air yang keruh.




6.PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
6.1.Penyiapan Sarana dan Peralatan
1) Perlu diketahui bahwa jenis kolam budidaya ikan belut harus dibedakan antara lain: kolam
induk/kolam pemijahan, kolam pendederan (untuk benih belut berukuran 1-2 cm), kolam belut remaja
(untuk belut ukuran 3-5 cm) dan kolam pemeliharaan belut konsumsi (terbagi menjadi 2 tahapan yang
masing-masing dibutuhkan waktu 2 bulan) yaitu untuk pemeliharaan belut ukuran 5-8 cm sampai
menjadi ukuran 15-20 cm dan untuk pemeliharan belut dengan ukuran 15-20 cm sampai menjadi
ukuran 30-40 cm.

2)Bangunan jenis-jenis kolam belut secara umum relatif sama hanya dibedakan oleh ukuran, kapasitas
dan daya tampung belut itu sendiri.

3)Ukuran kolam induk kapasitasnya 6 ekor/m2. Untuk kolam pendederan (ukuran belut 1-2 cm) daya
tampungnya 500 ekor/m2. Untuk kolam belut remaja (ukuran 2-5 cm) daya tampungnya 250 ekor/m2.
Dan untuk kolam belut konsumsi tahap pertama (ukuran 5-8 cm) daya tampungnya 100 ekor/m2. Serta
kolam belut konsumsi tahap kedua (ukuran 15-20cm) daya tampungnya 50 ekor/m2, hingga panjang
belut pemanenan kelak berukuran
3-50 cm.

4)Pembuatan kolam belut dengan bahan bak dinding tembok/disemen dan dasar bak tidak perlu
diplester.

5)Peralatan lainnya berupa media dasar kolam, sumber air yang selalu ada, alat penangkapan yang
diperlukan, ember plastik dan peralatan-peralatan lainnya.

6)Media dasar kolam terdiri dari bahan-bahan organik seperti pupuk kandang, sekam padi dan jerami
padi. Caranya kolam yang masih kosong untuk lapisan pertama diberi sekam padi setebal 10 cm,
diatasnya ditimbun dengan pupuk kandang setebal 10 cm, lalu diatasnya lagi ditimbun dengan ikatan-
ikatan merang atau jerami kering. Setelah tumpukan-tumpukan bahan organik selesai dibuat (tebal
seluruhnya sekitar 30 cm), berulah air dialirkan kedalam kolam secara perlahan-lahan sampai setinggi
50cm (bahan organic + air). Dengan demikian media dasar kolam sudah selesai, tinggal media tersebut
dibiarkan beberapa saat agar sampai menjadi lumpur sawah.
Setelah itu belut-belut diluncurkan ke dalam kolam.

6.2.penyiapan Bibit
1) Menyiapkan Bibit

a.anak belut yang sudah siap dipelihara secara intensif adalah yang berukuran 5-8 cm. Di pelihara
selama 4 bulan dalam 2 tahapan dengan masing-masing tahapannya selama 2 bulan.
b)Bibit bisa diperoleh dari bak/kolam pembibitan atau bias juga bibit diperoleh dari sarang-sarang bibit
yang ada di alam.
c.Pemilihan bibit bisa diperoleh dari kolam peternakan atau pemijahan.
Biasanya belut yang dipijahkan adalah belut betina berukuran ± 30 cm dan belut jantan berukuran ± 40
cm.

d.Pemijahan dilakukan di kolam pemijahan dengan kapasitas satu ekor pejantan dengan dua ekor
betina untuk kolam seluas 1 m2.

Waktu pemijahan kira-kira berlangsung 10 hari baru telur-telur ikan belut menetas. Dan setelah
menetas umur 5-8 hari dengan ukuran anak belut berkisar 1,5¬2,5 cm. Dalam ukuran ini belut segera
diambil untuk ditempatkan di kolam pendederan calon benih/calon bibit. Anak belut dengan ukuran
sedemikian tersebut diatas segera ditempatkan di kolam pendederan calon bibit selama ± 1 (satu)
bulan sampai anak belut tersebut berukuran 5-8 cm. Dengan ukuran ini anak belut sudah bisa
diperlihara dalam kolam belut untuk konsumsi selama dua bulan atau empat bulan.

2) Perlakuan dan Perawatan Bibit Dari hasil pemijahan anak belut ditampung di kolam pendederan
calon benih selama 1 bulan. Dalam hal ini benih diperlakukan dengan secermat mungkin agar tidak
banyak yang hilang. Dengan perairan yang bersih dan lebih baik lagi apabila di air yang mengalir.

6.3. Pemeliharaan Pembesaran
1) Pemupukan Jerami yang sudah lapuk diperlukan untuk membentuk pelumpuran yang subur dan
pupuk kandang juga diperlukan sebagai salah satu bahan organic utama.

2)Pemberian Pakan Bila diperlukan bisa diberi makanan tambahan berupa cacing, kecoa, ulat
besar(belatung) yang diberikan setiap 10 hari sekali.

3)Pemberian Vaksinasi
4)Pemeliharaan Kolam dan Tambak

Yang perlu diperhatikan pada pemeliharaan belut adalah menjaga kolam agar tidak ada gangguan dari
luar dan dalam kolam tidak beracun.



7.HAMA DAN PENYAKIT
7.1.Hama
1)Hama pada belut adalah binatang tingkat tinggi yang langsung mengganggu kehidupan belut.

2)Di alam bebas dan di kolam terbuka, hama yang sering menyerang belut antara lain: berang-berang,
ular, katak, burung, serangga, nmusang air dan ikan gabus.

3)Di pekarangan, terutama yang ada di perkotaan, hama yang sering menyerang hanya katak dan
kucing. Pemeliharaan belut secara intensif tidak banyak diserang hama.

7.2. Penyakit
Penyakit yang umum menyerang adalah penyakit yang disebabkan oleh organisme tingkat rendah
seperti virus, bakteri, jamur, dan protozoa yang
berukuran kecil.



8.PANEN
Pemanenan belut berupa 2 jenis yaitu :
1)Berupa benih/bibit yang dijual untuk diternak/dibudidayakan.
2)Berupa hasil akhir pemeliharaan belut yang siap dijual untuk konsumsi (besarnya/panjangnya sesuai
dengan permintaan pasar/konsumen).

Cara Penangkapan belut sama seperti menangkap ikan lainnya dengan peralatan antara lain:
bubu/posong, jaring/jala bermata lembut,dengan pancing atau kail dan pengeringan air kolam
sehingga belut tinggal diambil saja.



9.PASCAPANEN
Pada pemeliharaan belut secara komersial dan dalam jumlah yang besar,penanganan pasca panen
perlu mendapat perhatian yang serius. Hal ini agar belut dapat diterima oleh konsumen dalam kualitas
yang baik, sehingga mempunyai jaringan pemasaran yang luas




10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA
10.1.Analisis Usaha Budidaya Perkiraan analisis budidaya belut selama 3 bulan di daerah Jawa Barat
pada tahun 1999 adalah sebagai berikut:



1) Biaya Produksi
a.pembuatan kolam tanah 2 x 3 x 1, 4 HOK @ Rp.7.000,- Rp. 28.000,-
b.Bibit 3.000 ekor x @ Rp. 750,- Rp. 225.000,-
c.Makanan tambahan (daging kelinci 3 ekor) @ Rp.15.000,-Rp. 45.000,-
d.Lain-lain Rp. 30.000,-
Jumlah Biaya Produksi Rp. 328.000,-

2) Pendapatan: 3000 ekor = 300 kg x @ Rp. 2.500,- = Rp. 750.000,-
3) Keuntungan Rp. 422.000,-
4) Parameter Kelayakan Usaha 2,28

10.2.Gambaran Peluang Agribisnis
Budidaya ikan belut, baik dalam bentuk pembenihan maupun pembesaran mempunyai prospek yang
cukup baik. Permintaan konsumen akan keberadaan ikan belut semakin meningkat. Dengan teknik
pemeliharaan yang baik, maka akan diperoleh hasil budidaya yang memuaskan dan diminati
konsumen.

DAFTAR PUSTAKA
1) Satwono, B. 1999. Budidaya Belut dan Tidar. Penerbit Penebar Swadaya (Anggota IKAPI). Jakarta.
2) Ronni Hendrik S. 1999. Budidaya Belut. Penerbit Bhratara, Jakarta

Sumber :
Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:309
posted:4/28/2012
language:Malay
pages:17
Description: cara budidaya belut di air bersih