refrensi lengkap budidaya belut

Document Sample
refrensi lengkap budidaya belut Powered By Docstoc
					PAKAN ALAMI UNTUK PERTUMBUHAN BELUT

January 30, 2011

Pakan alami merupakan kebutuhan utama untuk perkembangan belut. Di antaranya, cacing,
belatung, bekicot, dan kecebong. Semuanya bisa dibudidayakan sehingga bisa menekan biaya dan
bisa diperoleh dalam jumlah besar.

Cacing tanah bisa dikembangbiakkan di dalam kotak kayu atau terpal berukuran 0.5 meter persegi.
Masukkan media berupa kotoran sapi, sisa sayuran yang telah membusuk, tanah, dan serbuk gergaji.
Masukkan bibit cacing, sekitar 1 ons. Dalam waktu 1—2 minggu, cacing sudah berkembang biak
dalam jumlah banyak.

Belatung bisa dikembangbiakkan dengan menggunakan media campuran dedak halus, tepung ikan
asin, cincangan eceng gondok, dan urea. Semua media dimasukkan ke dalam wadah berupa toples
atau kaleng, diamkan selama tiga hari. Tutup wadah dengan kain basah. Satu hari kemudian,
belatung akan bermunculan.

Keong mas bisa dibudidayakan di dalam kolam. Letakkan tanaman air di atasnya. Masukkan keong
mas dewasa. Dalam beberapa waktu, keong mas sudah berkembang biak.

Adapun kecebong, bisa dibudidayakan dengan memasukkan beberapa pasang katak jantan dan
betina ke dalam kolam budi daya belut. Mereka akan kawin dan bertelur. Telur yang menetas akan
menjadi kecebong.

Budi daya pakan alami sebaiknya sudah dimulai 1—2 bulan sebelum budi daya belut dilakukan,
kecuali kecebong. Tujuannya, agar terhindar dari kekurangan pakan. Banyaknya pakan yang
dibudidayakan harus disetarakan dengan besarnya skala budi daya belut agar stok pakan alami dapat
terus terjaga

Selain pakan alami, ada resep suplemen rahasia yang mampu mempercepat pertumbuhan belut
hingga 10 kali lebih berat dari suplemen belut biasa. Resep ini telah dibuktikan oleh peternak belut
sukses. Selain mempercepat pertumbuhan, suplemen ini berfungsi meningkatkan ketahanan
terhadap serangan penyakit dan menambah nafsu makan. Jika biasanya belut dipanen dalam waktu
6 bulan, dengan memberikan suplemen ini, belut dapat dipanen lebih cepat 3 bulan dengan bobot
yang sama memuaskan.

A. Aplikasi Pakan Belut

Belut merupakan hewan karnivora yang membutuhkan pakan mengandung protein sekitar 65—70%.
Namun, pakan yang dimaksud bukan apa yang diberikan sebagai rutinitas dengan memberikan pelet
setiap hari, tapi harus diselingi dengan pemberian pakan hidup, misalnya aneka jenis ikan atau
bekicot. Hal ini berguna untuk menghindari pengaruh produktivitas belut yang tidak maksimal akibat
pemberian jenis pakan secara terus-menerus.

Di dalam media budi daya juga bisa diletakkan beberapa pakan hidup seperti kecebong, cacing, larva
ikan, dan belatung. Selain itu, belut untuk kegiatan pembesaran juga dapat diberi pakan mati berupa
cincangan bangkai ayam atau cincangan bekicot. Namun, pakan bangkai tersebut sebaiknya telah
direbus sebelum diberikan agar belut terhindar dari penularan penyakit atau mikroorganisme yang
menjangkit hewan tersebut.

Adapun jumlah pakan yang diperlukan untuk menambah berat badan belut disebut nilai ubah atau
convertion rate (FCR) ialah sebagai berikut.

FCR = Jumlah pakan yang dimakan selama interval waktu tertentu
       Pertambahan berat badan selama interval waktu tersebut

Ini berarti, semakin kecil rasio konversi pakan, semakin cocok makanan tersebut untuk menunjang
pertumbuhan belut. Sebaliknya, semakin besar rasio konversi pakan, kemungkinan besar pakan yang
digunakan tidak efektif dalam memacu pertumbuhan belut.

Perbandingan antara 1 kg berat daging belut dengan jumlah berat pakan yang dibutuhkan disebut
koefisien konversi berat. Jadi, untuk menambah berat 1 kg daging belut dibutuhkan 2 kg pakan, ini
berarti koefisien konversi berat pakan adalah 0.5. Apabila koefisien konversi berat itu dikalikan
dengan 100%, akan diperoleh efisiensi konversi berat.

B. Pakan Hidup yang Bisa Dibudidayakan

1. Cacing Sutra
   Cacing sutra (Tubifek sp.) umumnya berwarna merah darah dengan panjang 10-30 mm. Cacing ini
biasa hidup di selokan atau saluran-saluran dangkal yang banyak mengandung zat organik. Mereka
biasa hidup berkoloni atau bergerombol.

2. Cacing Tanah (Lumbricus rubellus)
   Cacing tanah biasanya terdapat di tanah humus, tempat pembuangan sampah, atau tepian sungai
yang bercampur dengan sisa sampah.
Cara membudidayakan cacing sebenarnya cukup mudah, cukup dengan menyiapkan kotoran sapi
secukupnya, sisa sayuran atau sampah yang membusuk, tanah, dan serbuk gergaji. Semua bahan
tersebut dicampur menjadi satu. Campuran tersebut kemudian dimasukkan ke dalam wadah dan
disusul dengan memasukkan benih cacing. Dalam beberapa minggu, biasanya cacing sudah
berkembang biak.

3. Bekicot
   Bekicot di alam sering menjadi musuh petani karena memakan tanaman padi atau sayuran.
Padahal, daging bekicot sebenarnya dapat digunakan sebagai pakan belut karena mengandung
protein yang cukup tinggi.
Untuk budi daya bekicot, buatlah wadah kandang berupa rumah-rumahan atau gedek dari bambu
berukuran 1 x 1 cm dan tinggi 60--70 cm. Selanjutnya, masukkan limbah sayur-mayur, cincangan
batang pisang, dan batang pepaya, diamkan selama 1 minggu. Setelah bahan-bahan tersebut
membusuk, masukkan bibit bekicot sebanyak 20 indukan. Bekicot akan bertelur setelah satu bulan.
Agar bekicot tetap hidup, jangan lupa memberikan cincangan batang pisang dan sayur mayur setiap
hari.

4. Keong Mas
   Daging keong sawah dan keong mas sebenarnya bisa digunakan untuk pakan belut, asalkan jangan
terbawa masuk dengan cangkangnya. Sebaiknya, daging keong mas dicincang terlebih dulu sebelum
diberikan kepada belut. Keong sawah dan keong mas mudah ditemukan di sawah-sawah. Untuk
kebutuhan yang lebih besar, Anda bisa dengan mudah membudidayakannya.

5. Kutu Air
   Daphnia dan Moina termasuk kutu air dari jenis udang renik. Sering dijumpai di perairan yang
mengandung banyak bahan organik. Selain hidup sebagai
platonik, kutu air juga banyak menghuni tempat-tempat
lembap, seperti danau, waduk, rawa, kolam, dan genangan
air lainnya. Makanan utamanya adalah tumbuhan renik
(fitoplankton), hewan renik (zooplankton), dan detritus.

6. Belatung
   Belatung sebenarnya merupakan larva dari lalat. Untuk
mencarinya memang tidak mudah, tetapi belatung bisa
dihadirkan dengan cara mengumpulkan bahan-bahan yang bisa mengundang lalat, misalnya ampas
tahu, pupuk urea, dedak halus, cincangan eceng gondok, dan tepung ikan asin. Bahan-bahan
tersebut dicampur menjadi satu dan diaduk rata. Setelah itu, diamkan selama beberapa hari di
tempat yang agak terbuka, lalu tutup dengan kain yang basah. Beberapa hari kemudian belatung
akan tumbuh subur di wadah tersebut.

7. Kecebong atau Berudu
   Kecebong merupakan bahan pakan yang baik bagi belut. Kecebong dapat diperoleh dengan cara
mengembangbiakkan katak. Caranya, masukkan beberapa pasang ekor katak jantan dan betina.
Biarkan hingga katak hijau tersebut berkembang biak di kolam. Telur katak yang berhasil menetas
akan menjadi kecebong, dan kecebong tersebut disukai belut.

Posted by Lia.



TEKNIK PEMELIHARAAN BUDIDAYA BELUT DI AIR BERSIH

January 30, 2011

Tehnik Pemeliharaan

Budidaya Belut sebenarnya tidak sulit dan juga tidak mahal. Masyarakat yang memiliki lahan
sempitpun dapat memelihara belut. Secara Teknis Budidaya dan pemeliharaan belut (monopterus
albus) hanya memerlukan perhatian dalam memilih tempat/lokasi budidaya, pembuatan kolam,
media pemeliharaan, memilih benih, perkembangbiakan belut, penetasan, makanan dan kebiasaan
makan serta hama. Disisi lain kita juga memerlukan tata cara panen, pasca panen, pemasaran dan
pencatatan analisa usaha dalam melakukan Budidaya belut.



Pemilihan Bibit

Bibit belut yang paling bagus untuk di budidayakan adalah bibit yang di hasilkan dari hasil budidaya
(pembenihan sendiri), walau bibit hasil tangkapan masih tetap bisa hidup dan bisa di besarkan di air
besih. Tetapi jika dalam cara penangkapannya tidak benar, belut bisa lama jika dibesarkan karena
mengalami stres sehingga kita harus mengadaptasinya terlebih dahulu dengan waktu yang cukup
lama (tergantung tehnik perawatannya), kalau tehnik perawatannya salah, belut hasil tangkapan
tersebut bisa mengalami kematian.
Seperti contoh bibit belut yang di hasilkan dengan menggunakan setrum : cara penangkapannya
dengan Voltase terlalu tinggi, untuk pengadaptasianya bisa mencapai 1 bulan bahkan bisa lebih dan
jika dalam Proses pengaptasian salah, bisa mengakibatkan kematian pada waktu pemeliharaan.
Jika dalam waktu menangkapnya (belut) dengan menggunakan alat setrum, apabila stik strum
mengenai badan belut, belut tidak akan bisa tahan hidup lebih lama.
Belut hasil setruman akan tetap bisa hidup dan bisa dibesar di air bersih jika cara penangkapannya
dengan tehnik yang benar misal: Voltase strum tidak terlalu besar, stik strum tidak mengenai badan
belut, waktu penyetruman, tidak terlalu lama (belut tidak sampai kaku) dan Belut yang kita ambil
dari tanah/lumpur yang subur itu juga sangat berpengaruh.
Ciri-ciri bibit belut hasil Setruman antara lain: Pada bagian dubur berwarna kemerahan, pada bagian
insang juga berwarna kemerahan. jika stik setrum mengenai badan belut, pada badan belut tersebut
dalam waktu 2 hari atau lebih akan timbul luka seperti koreng dan lama-lama belut akan mati.



Ciri-ciri Bibit Belut
Tidak semua bibit belut bila kita pelihara akan bisa besar, adapun ciri-ciri balut yang bisa besar dan
tidak bisa besar bila kita budidayakan antara lain:

Bibit belut yang warna hitam dari kepala sampai ekor , bibit ini tidak bisa besar.

Bibit belut yang berwarna kemerah-merahan terang disekujur tubuhnya,bibit ini tidak bisa besar.

Bibit belut yang berwarna hitam dan panjang, lambat pertumbuhannya atau kemungkinan tidak bisa
besar walau lama dipelihara.

Bibit belut warna hitam kepala lebih besar (tidak proporsional) tidak baik untuk dibudidayakan
karena tidak bisa besar. Bibit ini kalau dipegang terasa agak keras.

Bibit belut yang berwarna abu-abu paling besar seukuran jempol tangan namun perkembangannya
sangat lambat.

Bibit yang berwarna dominan coklat dan kehijau-hijauan seluruh tubuhnya,bibit ini bisa besar bila di
budidaya dan Bibit ini kebanyakan di dapat dari sawah

Bibit belut yang dominan warna "coklat bening" dan totol-totol hitam sangat bagus untuk
dibudidayakan karena cepat besar dalam waktu singkat.

Bibit yang paling bagus, warna rata-rata punggung kuning kecoklatan dan ada batikannya di bagian
ekor, Di bagian Kepala ada "coretan-coretan" warna kuning, dada berwarna kuning / oranye. bibit ini
bisa mencapai ukuran sebesar pergelangan tangan orang dewasa.

Namun bibit belut yang sudah kita yakini termasuk jenis belut yang bisa besar dan sudah memiliki
ciri-cirinya, khusus untuk bibit belut yang di hasilkan dari tangkapan alam, bahwa sanya belut
tersebut ada yang tetap tidak mau besar bila kita budidayakan baik di media lumpur ataupun di
media air bersih. Akan tetapi mereka(belut) diperoleh ada dari sawah yang subur dan tidak subur
atau kurang subur , bisa jadi yang berwarna kuning pun,ada yang Kuntet, karena bibit belut tersebut
hidup di areal persawahan yang tidak banyak cacing Lor sawahnya.Sehingga pertumbuhannya
terganggu. Dan ini ditunjukkan dengan banyak ditemukannya bibit seukuran Finggerling atau jari
kelingking sudah matang gonad (perutnya sudah banyak mengandung butiran telur yang berwarna
kuning), Kalau mereka sudah mengeluarkan telurnya, lalu kita tangkap untuk dipelihara, bisa jadi
Tidak Bisa Membesar walupun sudah dipelihara selama lebih dari 4 bulan, akan tetapi masih bisa
bertelur, karena fa’al tubuhnya sudah mendukung (dewasa) matang gonad walaupun badannya
kecil.Karena lingkungannya kurang Gizi(kurang asupan makanan cacing lor dll).



Proses Karantina

Karantina sepertinya merupakan sebuah kosa kata yang cukup popular di kalangan para pemelihara
atau pembudidaya belut maupun jenis ikan lainnya, sebelum berbicara lebih jauh tentang ini,
mungkin lebih baik kita memahami apa maksud dan tujuan dari karantina itu sendiri.

Karantina boleh disebut juga sebagai suatu kegiantan untuk mengisolasi atau memisahkan sesuatu
dari lingkungan tertentu dengan maksud dan tujuan tertentu.
Dalam hal pemeliharaan atau pembudidaya, kita melakukan karantina dengan tujuan untuk menjaga
agar belut yang akan kita budidayakan sudah benar-benar sehat atau tidak terjangkit penyakit
tertentu yang dibawa oleh bibit belut yang akan kita tebar.



Latar Belakang

Yang banyak terjadi di kalangan pembudidaya belut terutama pembudidaya pemula adalah kurang
paham benar apa yang menjadi maksud dan tujuan karantina untuk memaksimalkan hasil karantina
tersebut.
Sebelum berbicara lebih jauh akan maksud dan tujuan karantina alangkah baiknya kita untuk
terlebih dahulu memahami latar belakang dari kegiatan ini.
Setiap mahluk hidup, hidup di komunitas / lingkungan mereka masing – masing, dan setiap
komunitas hidup antara yang satu dengan yang lain tidaklah sama.
Antara lingkungan yang satu dengan yang lain mempunyai banyak perbedaan, walaupun juga
memiliki kesamaan. Sedangkan mahluk hidup sendiri mempunyai kemampuan untuk beradaptasi
dengan lingkunngan hidupnya.
Untuk lebih memahami kita ambil contoh manusia. Seorang petani yang menanam padi disawah
tidak merasa gatal walaupun seharian berendam di lumpur yang basah dan kotor, akan tetapi
seorang pekerja kantoran yang mencoba membantu petani menanam padi di sawah, merasa gatal –
gatal pada kulitnya bahkan sampai menderita iritasi.
Begitu juga anggota keluarga petani keesokan harinya perut mereka merasa kurang nyaman karena
pada malam sebelumnya makan makanan yang dibawa oleh “ si pekerja kantoran “.
“ Si Petani “ sendiri karena tidak punya makanan tetap makan makanan “Si Pekerja Kantoran”
dan lama – lama terbiasa.
Begitu juga petani yang bermalam di rumah pekerja kantoran, keesokan harinya sakit demam karena
semalaman tidur di kamar yang menggunakan AC ( Air Conditioning ).
Begitu juga anggota keluarga “ si pekerja kantoran “ tertular penyakit kulit karena menggunakan
handuk mandi yang pernah digunakan petani tersebut.
Kalau kita menyimak ilustasi diatas mungkin kita dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut :
• Setiap mahluk hidup dapat menyesuaikan atau beradaptasi terhadap lingkungannya.
• Dalam proses adaptasi terhadap lingkungan setiap mahluk hidup bisa mengalami “ganguan”
• Setiap mahluk hidup dapat menjadi sarana ( carrier ) “penyakit” terhadap lingkungan barunya.
• Mahluk hidup yang sehat belum tentu tidak mengandung “ bibit penyakit “.
• Apabila mahluk hidup dapat menyesuaikan dengan lingkungannya berarti mahluk tersebut sudah
memiliki kekebalan ( imum ) terhadap “ penyakit di lingkungannya “.

Jadi meskipun bibit Belut yang baru didatangkan sudah kelihatan sehat belum tentu bebas dari bibit
penyakit. Demikian juga belut yang sudah ada di kolam kita belum tentu bebas dari bibit penyakit
walaupun belut tersebut sehat.
Mungkin dari gambaran diatas kita sedikit bisa memahami langkah – langkah untuk melakukan
kegiatan karantina.

Tujuan

Yang seharusnya menjadi tujuan dari karantina adalah untuk menjaga agar belut yang telah kita
miliki tidak tertular bibit penyakit yang mungkin dibawa oleh belut yang baru.
Selain itu maksud dan tujuan karantina adalah untuk menyesuaikan lingkungan hidup belut yang
baru dengan lingkungan asal sehingga bila belut yang baru kurang dapat beradaptasi dan mengalami
gangguan tidak menjangkiti belut yang lainnya atau yang sudah kita miliki.

Kegiatan Karantina.

Apakah setiap bibit belut baru wajib karantina ???



Karantina/Pengadaptasian

- tidak semua belut mudah meyesuaikan dengan lingkungan baru (media air bersih) terutama belut
yang dihasilkan dari hasil tangkapan alam.
- Biasanya belut tertentu akan mengalami “gangguan” sebelum dapat beradaptasi dengan
lingkungan barunya.
- Belut mudah stress bila berubah lingkungan hidupnya sehingga mudah terserang penyakit karena
sistim imum tubuhnya menurun.

Janglah karantina yang ideal sebenarnya membutuhkan proses yang cukup detail yang seolah – olah
sangat rumit padahal tidaklah demikian, asal kita dapat memahami “ tehniknya”.
Langkah karantina yang ideal, dimulai pada saat kedatangan belut
Langkah pertama yang harus kita lakukan adalah meyiapkan tempat karantina yang memadai baik
luas maupun volume tempat karantina tersebut, yang sebelumnya sudah kita isi dengan air kolam
yang rencananya akan kita gunakan untuk pemeliharaan belut tersebut.
Apakah harus ? tidak , dengan mengisi tempat karantina dengan sumber air yang sama dengan
kolam yang rencananya akan kita gunakan untuk memelihara belut tersebut sudah cukup memadai
bila sumber air yang digunakan bukan air PDAM/PAM, bila memakai air PDAM/PAM hendaknya
ditreatment terlebih dahulu.

Salah satu Tehnik Proses karantina sekaligus adaptasi yang sudah saya terapkan, bibit belut yang
dihasilkan dari tangkapan alam (setrum atau sedek)
Untuk kolam/tempat karantina , sebaiknya "jangan" ada yang berbentuk sudut/menyiku, kolam yang
kita siapkan harus berbentuk bundar ataupun lonjong, kolam karantina bibit belut air bersih "tidak"
usah terlalu besar dan untuk bibit yang kita masukan kedalam kolam karantina Volumenya harus
diperpadat, kepadatan dalam proses karantina adalah sangat berpengaruh penting. Ketinggian air
pada kolam karantina 10 sampai dengan 15 dari permukaan belut yang kita masukan.
Bila tempat karantina sudah siap, belut yang masih berada di wadah pengangkutan airnya harus di
ganti terlebih dahulu untuk menghilangkan lendir yang berada di dalam wadah pengangkutan, lalu
masukkan belut tanpa lendir/busa.Untuk pemindahan bibit belut dari wadah pengangkutan,
sebaiknya dilakukan dengan sehati-hati mungkin, gunakanlah alat seperti jaring (serok) usahakan
bibit jangan sering dipegang dengan tangan secara langsung biar belut tidak stress.
Setelah belut tenang, Langkah berikut adalah pada tempat karantina diberi kocokan telur ditambah
dengan madu supaya bibit cukup Vitamin dan energi, kemudian tambahkan perasan daun pepaya
dengan harapan untuk mengembalikan lendir yang sudah banyak dikeluarkan belut selama dalam
pengangkutan.
Setelah satu jam kemudian kuraslah air dan di ganti dengan air yang baru.
1 sampai 2 hari, bibit belut jangan di beri pakan terlebih dahulu, setelah 2 hari kemudian, pemberian
pakan baru dilakukan sampai bibit belut benar-benar sudah sehat.
Ciri-ciri bibit belut yang sudah siap ditebar di kolam pembesaran (media air bersih), belut sudah tidak
ada yang mendongakan kepalanya keatas (permukaan air). Apabila masih ada bibit belut yang
mendongakan kepalanya keats dan sudah membalikan badannya segeralah diambil, pisahkan
dengan bibit yang sudah sehat.

CATATAN : pada waktu proses karantina dilakukan, air harus dalam keadaan jernih (bening), tidak
boleh keruh.
biofish fishtamin (vitamin complex)

Namun Bila bibit belut yang kita dapatkan dari hasil budidaya, untuk proses karantina/adaptasinya
tidak membutuhkan waktu yang lama, cukup 1 hari atau 2 hari, bibit sudah siap kita tebarkan di
kolam pembesaran media air bersih (air bening) tanpa lumpur.



Tata Cara Perawatan

Setelah proses karantina/adaptasi dilakukan dengan benar, masukan bibit kekolam pembesaran
dan kemudian lakukan perawatan.

Pakan dan Pengaturan Air
Meskipun sudah banyak ilmuwan-ilmuwan dan peneliti berpendapat "Waktu pemberian pakan pada
belut adalah sore menjelang malam, karena belut aktif pada malam hari" namun dalam budidaya
belut di air bersih yang sudah kami terapkan pemberian pakan bisa dilakukan dalam sehari
semalam 3 kali (pagi,siang dan sore hari) dengan dosis 5% dari jumlah benih yang ditebar.
Pemberian pakan bisa dilakukan 3 kali dalam sehari semalam kalau kita sudah memenuhi
unsurKENYAMANAN bagi belut itu sendiri.
Sedangkan faktor kenyamanan terdiri faktor internal dan eksternal
1. Faktor internal.

 Media harus tersedia yaitu. Substrat ( paralon, atau genteng, roster, eceng gondok maupun
kiambang, dsb)

 Faktor Oksigen. (sangat berpengaruh besar terhadap reaksi dan nafsu makan, sekaligus
kelangsungan hidup) Khusus Untuk budidaya air bersih, faktor oksigen sangat berpengaruh besar
terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup dan daya nafsu makan belut). Air menjadi syarat
utama kolam pemeliharaan belut, karena itu lubang sirkulasi air dan lubang pembuangan kelebihan
air menjadi syarat utama. Air harus terus mengalir walau dalam jumlah debit yang sangat kecil dari
sumber air agar oksigen terlarut tetap terjaga persediaannya

2. Faktor Eksternal.

 Faktor eksternal adalah suasana Gelap dan tenang. ( Gelap berarti tempat harus ditutup dengan
terpal hitam atau coklat, tidak boleh warna terang atau tembus cahaya, Tenang berarti tidak boleh
ada aktifitas lain di lingkungan budidaya)

Pakan, pemberian pakan bisa di lakukan dalam sehari semalam 3 kali bisa berjalan apabila Faktor
eksternal dan internal terpenuhi.

Untuk menambah nafsu makan belut dapat diberikan jamu empon-empon, bahan-bahan
bakunya seperti "temulawak (curcuma xanthorhiza), kunyit, kencur dan temu ireng. untuk
perbandingan 1,5 : 0,5 : 0,5 : 0,5 dengan cara: kesemua bahan tersebut di rebus dan kemudian di
saring, setelah dingin air dari bahan-bahan tersebut di masukan ke kolam secara merata. Pemberian
jamu nafsu makan sebaiknya di berikan pada sore hari kemudian pada pagi hari, air dikuras dan di
ganti dengan air yang baru. Dalam waktu pemberian jamu nafsu makan tersebut, belut jangan diberi
pakan terlebih dahulu sebelum pengurasan dilakukan.

Air Pemeliharaan
Lendir yang dikeluarkan belut memang menjadi salah satu mekanisme untuk menjaga agar tubuhnya
tetap licin sehingga dapat membantu gerak belut dan menjadi sarana melepaskan diri dari musuh-
musuhnya. Namun, dalam pemeliharaannya, lendir belut yang terus menerus dikeluarkan dalam
jumlah yang banyak akan membahayakan belut itu sendiri, dari hasil penelitian mengemukakan,
jika dalam air yang di gunakan untuk budidaya belut sudah terlalu banyak lendir yang dikeluarkan
oleh belut itu sendiri maka air harus segera diganti maka air tersebut akan meracuni belut itu sendiri
dan juga bisa mengakibatkan kematian pada belut. lendir yang sudah banyak di keluarkan juga akan
sangat mempengaruhi kualitas air, terutama akan meningkatkan derajat keasaman/pH air. untuk itu,
kualitas air menjadi sangat penting untuk diperhatikan. Walau tidak ada persyaratan khusus, tetapi
idealnya air yang digunakan sebagai media pembesaran belut harus jernih, memiliki suhu antara 25-
28 derajat C, Tidak mengandung bahan kimia yang berbahaya, serta kendungan pH-nya tidak lebih
dari 7.
Budidaya Belut Di Air Bersih

Tekhnik Terbaru, Budidaya Belut Di Air Bersih. Belut bisa hidup dan bisa dibesarkan di air Bersih (air
bening) tanpa lumpur ini adalah hal yang sangat luar biasa, ini bener-bener ilmu yang sangat
bermanfaat bagi kita khususnya para pembudidaya belut, sehingga kita bisa lebih effisien dalam
melakukan usaha ini. Dengan adanya tehnik terbaru ini sehingga para pembudidaya belut sudah
tidak pusing-pusing mencari "debog pisang, jerami, lumpur dan lain-lain, kita sudah tidak repot lagi
untuk melakukan bokasi dan menfermentasikan-nya.
Ini bukan penampungan dan bukan hasil rekayasa tetapi bener-bener hasil budidaya. Tempat hidup
alami belut (Monopterus albus) yang tinggal di dalam lumpur. Banyak orang, baik penelitian atau
usaha, yang sudah mencoba membikin lumpur untuk usaha budidaya. Mungkin beberapa yang
berhasil meskipun kebanyakan yang lainnya masih bergelut dengan ‘teknologi doa’ untuk panen.
karena hidup di dalam lumpur, tidak banyak yang bisa dilakukan untuk memastikan jumlah serta
perkembangan belut selama masa pemeliharaan. sehingga, sangat layak bila kemudian mencoba
berinovasi: "Budidaya Belut Di Air Bersih (air bening) tanpa lumpur"

Dalam hipotesis: mungkin belut bisa hidup dan dibesarkan pada air bersih tapi tetap harus
menggunakan lumpur untuk reproduksi alami.
Secara teknis: sejauh kebiasaan makan bisa diadaptasikan dan kebutuhan pakan bisa disuplay secara
terkontrol, seharusnya pembesaran belut di air bersih dapat dilakukan. hanya saja, kontrol terhadap
kemungkinan serangan penyakit akibat proses adaptasi harus benar-benar diamati dan dijaga.

Keuntungan: dengan pembesaran belut pada air bersih, jumlah (yang berkaitan dengan
kelangsungan hidup) dan pertumbuhan (yang berhubungan dengan penambahan bobot) dapat
selalu terkontrol sehingga target produksi bisa lebih ter-realistis dan untuk jumlah penebaran bibit
belut di air bersih bisa lebih besar (bisa 10 bahkan sampai 30 kali lipat dibanding dengan penebaran
benih di media lumpur).

Walau masih banyak orang yang tidak/belum percaya dengan adanya Ilmu terbaru ini (belut bisa
hidup dan bisa dibesarkan di 100% air bersih (air bening) tanpa lumpur, mungkin karena mereka
belum pernah melihat dan belum pernah mencobanya karena belum tahu tehnik-tehnik dalam
melakukan Budidaya Belut Di Air Bersih.

Saya (Penulis Blog ini) dan renak-rekan sudah pernah melakukan berbagai uji coba dan berbagai jenis
bibit belut sawah yang dihasilkan dari berbagai cara penangkapan dari alam (strum,sedek dan bubu),
dari berbagai hasil uji coba yang pernah kita lakukan, sehingga kita dapat mengambil kesimpulan-
kesimpulan dalam Berbudidaya Belut Di Air Bersih (Air Bening) tanpa lumpu.

Sekilas Tentang Belut
Belut adalah sekelompok ikan berbentuk mirip ular memiliki bentuk tubuh memanjang, tidak
bersirip dan tidak bersisik, serta memiliki lapisan lendir di sekujur tubuhnya yang termasuk dalam
suku Synbranchidae. Suku ini terdiri dari empat genera dengan total 20 jenis. Jenis-jenisnya banyak
yang belum diberikan dengan lengkap sehingga angka-angka itu dapat berubah. Anggotanya bersifat
pantropis (ditemukan di semua daerah tropika).
Belut berbeda dengan sidat, yang sering dipertukarkan. Ikan ini boleh dikatakan tidak memiliki sirip,
kecuali sirip ekor yang juga tereduksi, sementara sidat masih memiliki sirip yang jelas. Ciri khas belut
yang lain adalah tubuh licin berlendir, tidak bersisik, dapat bernafas dari udara, bukaan insang
sempit, tidak memiliki kantung renang dan tulang rusuk. Belut praktis merupakan hewan air darat,
sementara kebanyakan sidat hidup di laut meski ada pula yang di air tawar. Mata belut kebanyakan
tidak berfungsi baik, bermata kecil.
Ukuran tubuh belut bervariasi. Monopterus indicus hanya berukuran 8,5 cm, sementara belut
marmer Synbranchus marmoratus diketahui dapat mencapai 1,5m. Belut sawah Monopterus albus
sendiri, yang biasa dijumpai di sawah dan dijual untuk dimakan, dapat mencapai panjang sekitar 1m
(dalam bahasa Betawi disebut moa).
Kebanyakan belut tidak suka berenang dan lebih suka bersembunyi di dalam lumpur (tempat
persembunyian). Semua belut adalah pemangsa. Daftar mangsanya biasanya hewan-hewan kecil di
rawa atau sungai, seperti ikan, katak, serangga, serta krustasea kecil dan juga ada yang bersifat
kanibalisme.
Spesies belut mempunyai nilai pemakan yang tinggi. Khasiatnya dikatakan setanding dengan ikan
tengiri dan selar, mengandungi 18.6 % protein dan 15 % lemak. Belut juga kaya dengan lemak,
kalsium, vitamin B, Vitamin D dan zat besi. Tidak heranlah banyak yang percaya belut boleh
membantu mengubati penyakit seperti sakit pinggang, lelah, darah tinggi, lemah tenaga batin dan
penyembuhan luka pembedahan. Spesies ikan ini jika dikonsumsi secara rutin miniman 100
gram/hari dikatakan boleh menguatkan daya tahan tubuh, menormalkan tekanan darah,
menghaluskan kulit, mencegah penyakit mata, menguatkan daya ingatan dan membantu mencegah
hepatitis.

Keunggulan dan Kelebihan Bidudaya Belut Di Air Bersih

Belut Mudah Dikontrol

Budidaya belut di Media Air Bersih tanpa lumpur terbilang lebih effektif dibandingkan dengan
budidaya belut di media lumpur. Khususnya kemudahan dalam melakukan pengontrolan terhadap
belut yang dibesarkan, selain itu jika ada belut yang terlihat sakit atau mati, akan mudah terlihat
sehingga bisa segera diambil dari kolam budidaya.

Penebaran Benih Belut Lebih Banyak

Budidaya Belut dengan media air bersih memungkinkan pembudidaya untuk meningkatkan jumlah
belut yang di besarkan dikolam hingga bisa mencapai 30 kali lipat per m2 di banding budidaya belut
di media lumpur. Hal ini dapat di lakukan karena di media air bersih, fungsi lumpur sebagai alat
perlindungan/persembunyian bagi belut, sedangkan budidaya belut di air bersih peranan tubuh
belut itu sendiri bisa di jadikan tempat perlindungan/persembunyian bagi belut itu sendiri
(pengganti lumpur). Dalam Budidaya belut di air bersih berdasarkan uji coba, untuk ukuran 1m2 bisa
ditebar benih belut 30kg, sedangkan di media lumpur penebaran benih untuk ukuran 1 m2 hanya
bisa kita tebar 1kg maksimal 1,5kg, jika penebaran melebihi angka tersebut pertumbuhan belut akan
terganggu, bahkan bisa terjadi saling nyerang menyerang antar belut untuk berebut wilayah
hidupnya. Sehingga tingkat kematian belut di media lumpur akan semakin tinggi.

Meminimalkan Angka Kanibalisme
Seperti binatang-binatang lainnya, belut yang dibesarkan di dalam air yang berlumpur terutama
belut jantan atau belut yang sudah mencapai umur 6-8 bulan, akan memperlakukan habitat
tempatnya bernaung sebagai daerah kekuasaannya. bila merasa terusik oleh belut yang lain dan
daerah kekuasaannya terancam, belut tersebut akan saling serang menyerang. Hal itulah yang
menyebabkan tingginya angka kematian pada belut-belut yang kita pelihara di media air berlumpur.
namun, dalam hal ini tidak akan terjadi pada belut yang dipelihara di media air bersih tanpa lumpur,
karena antara belut satu dengan yang lainya justru saling membutuhkan, dalam metode budidaya
belut di air bersih, badan belut adalah sebagai tempat untuk saling melindungi dan sebagai tempat
persembunyian.

Lebih Effisien Dan Effektif

Belut yang sudah kita kenal dengan gaya hidupnya yang selalu bersembunyi didalam lumpur yang
berair. Namun hal yang sebenarnya dimana ada lobang belut yang masih ada belutnya disitu
pasti akan terdapat air yang jernih. Dengan adanya hal tersebut berarti syarat hidup belut adalah di
air jernih (air bersih), dan tanpa lumpurpun masih bisa hidup dan bisa dibesarkan. Budidaya belut di
air bersih (air jernih) tanpa lumpur memungkinkan para pembudidaya tidak akan kerepotan karena
harus mencari jerami, debog pisang ataupun lumpur sebagai medianya namun dengan budidaya
belut di air bersih cukup dengan air yang jernih saja dan dalam budidaya belut di air bersih juga akan
menghemat lahan karena dalam pembikinan kolam dengan media air bersih, bisa disusun menjadi 3
tingkat atau lebih. dalam pemberian pakan di media air bersih juga tidak cuma-cuma(mubadzir)
karena setiap kita tebar pakannya, belut akan melihat sehingga belut akan langsung memangsanya.

Faktor-fator Utama Dalam Budidaya Belut Di Air Bersih

Beberapa Fator-faktor Utama Yang Harus Kita perhatikan Dalam Budidaya Belut Di Air Bersih
antara lain :

Air

Dalam Budidaya belut di air bersih, air adalah faktor utama yang sangat berpengaruh pada
perkembangan belut. Jika air yang kita gunakan dalam budidaya belut tidak rutin di kontrol maka
akan sangat mempengaruhi pada perkembangan belut kita.
Air yang bagaimana yang layak digunakan Budidaya belut air bersih?
 air yang layak digunakan dalam budidaya belut di air bersih adalah air yang jernih, memiliki suhu
antara 25-28 derajat C, air yang tidak mengandung zat-zat kimia berbahaya.
Air yang kurang layak/tidak bagus untuk budidaya belut di air bersih
air PDAM karena banyak mengandung zat-zat kimia (kaporit), air yang langsung diambil dari sumur
bur karena sangat minim kandungan oksigennya dan air limbah
Usahakan dalam melakukan budidaya belut di air bersih, kolam harus ada sirkulasi air walau dengan
debit yang sangat kecil (ada yang masuk dan ada yang keluar). Dengan adanya aliran air kedalam
kolam budidaya maka akan menambah kandungan oksigen didalamnya sehingga sangat
berpengaruh dalam untuk perkembangan serta pertumbuhan belut dan kita juga tidak terlalu repot
untuk penggatian air. Jika kolam budidaya belut tidak ada sirkulasi air dan pembuangan, air akan
cepat kotor/keruh, maka kita harus sering mengganti air paling tidak selama 2 atau 3 hari sekali,
tentunya kita akan sangat kerepotan bukan? Jika air sudah kotor/keruh (warna kuning kecoklatan)
air harus segera kita ganti. tapi beda dengan kotoran yang mengendap didasar kolam, walau didasar
kolam sudah terdapat endapan tapi airnya masih jernih, air masih layak kita gunakan, asal
endapannya tidak terlalu tebal.




Pakan

Pakan, pakan juga termasuk salah satu faktor yang sangat penting untuk perkembangan serta
pertumbuhan belut. Berilah pakan secukup mungkin, usahakan jangan sampai kekurangan atau
jangan berlebihan dan berilah pakan yang paling disukai belut, jika dalam pemberian pakan pada
belut terlalu banyak bisa mengakibatkan air cepat kotor(karena sisa makanan) dan bisa
mengakibatkan effek negatif pada belut, sehingga belut mudah sakit dan lama kelamaan bisa
mengakibatkan kematian. Jika pemberian pakan pada belut kurang, maka bisa menimbulkan sifat
kanibalisme pada belut kita dan kita juga akan rugi karena pertumbuhannya akan lama. Selama belut
masih mau makan dengan pakan tersebut jangan beralih ke pakan yang lain secara total, kecuali
belut mau makan dengan pakan yang kita berikan, jika belut tidak mau makan dengan pakan yang
kita berikan, kembalilah kepakan yang sebelumnya.
Jenis-jenis pakan belut antara lain:
cacing lor, cacing merah, cacing lumbricus, ikan cere, ikan cithol, ikan guppy, anakan ikan mas,
berudu (kecebong), lambung katak, keong mas/sawah, ulat hongkong dan masih banyak yang
lainnya.

Bibit

 Pemilihan bibit belut berkualitas adalah salah satu faktor penting dalam menentukan keberhasilan
budi daya belut. Umumnya bibit belut yang ada saat ini sebagian besar masih merupakan hasil
tangkapan alam. Karena itu, teknik penangkapan bibit dari alam menentukan kualitas bibit. Bibit
yang ditangkap dengan cara alami menggunakan perangkap, seperti bubu, merupakan bibit yang
cukup baik karena tidak mengalami perlakuan yang menurunkan kualitasnya. Sebaliknya, bibit yang
diperoleh dengan cara tidak baik seperti disetrum bukan termasuk bibit berkualitas. Pasalnya, bibit
seperti ini pertumbuhannya tidak akan maksimal (kuntet). Lebih baik lagi jika bibit yang digunakan
berasal dari hasil budidaya. Ukurannya akan lebih seragam dan jarang terserang penyakit seperti
yang mungkin terjadi pada belut hasil tangkapan alam. Sayangnya, bibit belut hasil budidaya untuk
saat ini masih sangat sedikit.
Berikut ini beberapa hal yang harus diperhatikan terkait bibit belut yang berkualitas.

1. Bibit yang digunakan sehat dan tidak terdapat bekas luka
 Luka pada bibit belut dapat terjadi akibat disetrum, pukulan benda keras, atau perlakuan saat
pengangkutan. Umumnya, bibit yang diperoleh dengan cara disetrum cirinya tidak dapat langsung
terlihat, tetapi baru diketahui 10 hari kemudian. Salah satu ciri-cirinya terdapat bintik putih seperti
garis di permukaan tubuh yang lama-kelamaan akan memerah dan pada bagian dubur berwarna
kemerahan. Bibit yang disetrum akan mengalami kerusakan syaraf sehingga pertumbuhannya tidak
maksimal.

  2. Bibit terlihat lincah dan agresif
Bibit yang yang selalu mendongakan kepalanya keatas dan tubuhnya sudah membalik sebaiknya
diambil saja karena belut yang sudah seperti ini sudah tidak sehat dan lama kelamaan bisa mati.
belut yang sehat mempunyai ciri-ciri: tenang tapi lincah, belut akan mengambil oksigen keatas
dengan cepat kamudian kembali kebawah lagi.

  3. Penampilan sehat yang dicirikan, tubuh yang keras dan tidak lemas pada waktu dipegang
pada waktu kita memegang belut tentunya kita akan bisa merasakan keadaannya, bila belut tersebut
bila kita pegang tetap diam/lemas atau tidak meronta/tidak ada perlawanan ingin lepas, sebaiknya
belut dipisahkan, karena belut belut yang seperti ini kurang sehat. Dan sekaliknya jika kita pegang
badannya terasa keras dan selalu meronta ingin lepas dari genggaman tangan kita, belut yang
mempunyai ciri seperti ini layak kita budidayakan.

  4. Ukuran bibit seragam dan dikarantina terlebih dahulu
Bibit yang dimasukkan ke dalam wadah pembesaran ukurannya harus seragam. Hal ini dilakukan
untuk menghindari sifat kanibalisme pada belut. Bibit yang berasal dari tangkapan alam harus
disortir dan dikarantina.
Tujuannya untuk menghindari serangan bibit penyakit yang mungkin terbawa dari tempat hidup
atau kolam pemeliharaan belut sebelumnya dan untuk pemilihan belut yang sehat dan tidak sehat.
Caranya adalah dengan memasukkan bibit belut ke dalam kolam atau bak yang diberi air bersih
biarkan belut tenang dulu (kurang lebih 1 jam) kemudian berilah kocokan telur dicampur dengan
madu 1 jam kemudian penggantian air dilakukan dan biarkan belut sampai bener-bener tenang
diamkan kurang lebih 1 hari 1 malam kemudaian masuk bibit kekolam pembesaraan.

Kepadatan (Volume)

Kepadatan penebaran bibit dalam pembesaran jenis-jenis ikan sangatlah mempengaruhi pada
perkembangan pertumbuhan dan tingkat kematian, misal, dalam pembesaran jenis-jenis ikan seperti
lele,gurame, nila dll, kalau penebarannya terlalu padat, waktu pembesaran bisa terhambat walau
pemberian pakan sudah sesuai dengan ukurannya dan juga bisa mengakibatkan tingkat kematian
yang tinggi.

Namun metode pembesaran Belut di media air bersih ini sangatlah berbeda dengan penebaran bibit
jenis-jenis ikan yang lainnya, Kepadatan penebaran bibit belut sangat berperan penting pada
pertumbuhan dan tingkat kematian. Kepadatan penebaran bibit belut untuk pertumbuhan,
tergantung dalam proses pemberian pakan dan untuk tingkat kematian justru bisa
meminimalkannya.

Mempersiapkan Pembesaran

Langkah Awal

Langkah awal untuk melakukan usaha budidaya belut di air bersih adalah memelihara pakan, dalam
melakukan usaha budidaya belut,jika kita tidak ingin mengalami kendala terutama masalah pakan
dan kita juga akan bisa mengurangi biaya operasional usaha ini, lakukanlah langkah awal ini yaitu 3
atau 4 bulan memelihara pakannya terlebih dahulu sebelum kita menebar bibit belut. Karena selama
ini kendala dari para pembudidaya belut baik yang menggunakan media lumpur maupun media air
bersih adalah pada pemberian pakan yang tidak menentu karena mereka sebelumnya tidak
mempersiapkan pakannya terlebih dahuludan hingga kini pakan yang paling disukai belut adalah
pakan dari alam, walaupun sudah ada pembudidaya belut dalam pemberian pakannya menggunakan
jenis pelet, namun setelah dihitung-hitung hasil analisa usahanya masih sangat minim,padahal dalam
setiap usaha tentunya untuk mendapatkan keuntungan yang lebih, bukan malah membuang-buang
duit atau tenaga kita kan???
Banyak pembudidaya belut yang masih meremehkan hal ini dan akhirnya mereka yang akan
kerepotan sendiri karena setiap hari harus mencari pakan buat belut kalau tidak, mereka
harus membeli pakannya, sehingga untuk biaya operasionalnya akan semakin membengkak untuk
pembelian pakan. Dengan kita memelihara pakan terlebih dahulu insyaALLOH akan mudah
menghitung jumlah panen dan analisa usahanya.



Persyaratan Lokasi

Secara klimatologis belut tidak membutuhkan kondisi iklim dan geografis yang spesifik. Ketinggian
tempat budidaya ikan belut dapat berada di dataran rendah sampai dataran tinggi. Begitu pula
dengan kelembaban dan curah hujan tidak ada batasan yang spesifik.
Kualitas air untuk pemeliharaan belut harus bersih, tidak terlalu keruh dan tidak tercemar bahan-
bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik. Kondisi kolam tidak beracun.
Suhu udara/temperatur optimal untuk pertumbuhan belut yaitu berkisar antara 25-28 derajat C.
Pada prinsipnya kondisi perairan adalah air yang harus bersih dan kaya akan osigen terutama untuk
bibit/benih yang masih kecil.
Belut adalah binatang air yang selalu mengeluarkan lendir dari tubuhnya sebagai mekanisme
perlindungan tubuhnya yang sensitif. Lendir yang keluar dari tubuh belut cukup banyak sehingga
lama kelamaan bisa mempengaruhi derajad keasaman (pH) air tempat hidupnya. pH air yang dapat
diterima oleh belut rata-rata maksimal 7. Jika pH dalam air tempat pembesaran telah melebihi
ambang batas toleransi, air harus dinetralkan, dengan cara menggati ataupun mensirkulasikan
airnya. Dengan demikian, kolam/tempat pembesaran harus dilengkapi dengan peralatan yang
memungkinkan untuk penggantian atau sirkulasi air.
Ada beberapa macam tempat yang dapat digunakan untuk untuk budidaya belut di air bersih (air
bening) tanpa lumpur di antaranya: kolam permanen (bak semen), bak plastik, tong (drum).
Dalam Budidaya Belut dengan menggunakan media lumpur dalam wadah/tempat dan ruangan 5X5
meter, hanya bisa dibuat untuk 1 kolam saja berbeda dengan Budidaya belut diair bersih dengan
wadah dan Ruangan 5X5 meter, bisa dikembangkanya 3 Kali lipat dari wadah budidaya itu sendiri,
karena dalam budidaya air bersih kita hanya memerlukan ketinggian air 30 Cm, maka tempat
budiaya kita bisa tingkat menjadi 3 susun atau 3 apartemen.

Posted by Lia.



CARA BUDIDAYA CACING SUTRA

January 25, 2011

Bentuk tubuh cacing ini menyerupai rambut dengan panjang badan antara 1-3cm dengan tubuh
berwarna merah kecoklatan dengan ruas-ruas. Cacing ini hidup dengan membentuk koloni di
perairan jernih yang kaya bahan organik. Cacing ini meiliki 57% protein dan 13% lemak dalam
tubuhnya.
Cacing sutra merupakan hewan hermaprodit yang berkembang biak
lewat telur secara eksternal. Telur yang dibuahi oleh jantan akan membelah
menjadi dua sebelum menetas.

Bahan organik yang baik untuk digunakan oleh cacing sutra adalah
campuran antara kotoran ayam, dedak (bekatul) dan lumpur. Berikut teknik budidaya cacing sutra:

1. Persiapan Bibit
Bibit bisa dibeli dari toko ikan hias atau diambil dari alam
Note: Sebaiknya bibit cacing di karantina dahulu karena ditakutkan
membawa bakteri patogen.

2. Persiapan Media
Media perkembangan dibuat sebagai kubangan lumpur dengan ukuran 1 x 2 meter yang dilengkapi
saluran pemasukan dan pengeluaran air. Tiap tiap kubangan dibuat petakan petakan kecil ukuran 20
x 20 cm dengan tinggi bedengan atau tanggul 10 cm, antar bedengan diberi lubang dengan diameter
1 cm.

3. Pemupukan
Lahan di pupuk dengan dedak halus atau ampas tahu sebanyak 200 – 250 gr/M2 atau dengan pupuk
kandang sebanyak 300 gr/ M2.

4. Fermentasi
Lahan direndam dengan air setinggi 5 cm selama 3-4 hari.

5. Penebaran Bibit
Selama Proses Budidaya lahan dialiri air dengan debit 2-5 Liter / detik

6. Tahapan Kerja Budidaya Cacing Sutra
Cacing sutra atau cacing rambut memang telah sejak lama dimanfaatkan sebagai salah satu
alternatif pakan ikan. Harga jual yang relatif tinggi, membuat bisnis cacing sutra cukup banyak dilirik
orang.

Namun sayangnya, tidak banyak orang yang memahami teknis pembudidayaan cacing sutra ini.
Berikut tahapan kerja yang harus dilakukan dalam pembudidayaan cacing sutra.

• Lahan uji coba berupa kolam tanah berukuran 8 x 1,5 m dengan kedalaman 30 cm. Dasar kolam uji
coba ini hanya diisi dengan sedikit lumpur.

• Apabila matahari cukup terik, jemur kolam minimum sehari. Bersamaan dengan itu, kolam
dibersihkan dari rumput atau hewan lain yang berpotensi menjadi hama bagi cacing sutra, seperti
keong mas atau kijing.

. Pipa air keluar atau pipa pengeluaran dicek kekuatannya dan pastikan berfungsi dengan baik. Pipa
pengeluaran ini sebaiknya terbuat dari bahan paralon berdiameter 2 inci dengan panjang sekitar 15
cm.

. Usai pengeringan dan penjemuran, usahakan kondisi dasar kolam bebas dari bebatuan dan benda-
benda keras lainnya.

Hendaknya konstruksi tanah dasar kolam relatif datar atau tidak bergelombang.

. Dasar kolam diisi dengan lumpur halus yang berasal dari saluran atau kolam yang dianggap banyak
mengandung bahan organik hingga ketebalan dasar lumpur mencapai 10 cm.

. Tanah dasar yang sudah ditambahi lumpur diratakan, sehingga benar-benar terlihat rata dan tidak
terdapat lumpur yang keras.

. Untuk memastikannya, gunakan aliran air sebagai pengukur kedataran permukaan lumpur
tersebut. Jika kondisinya benar-benar rata, berarti kedalaman air akan terlihat sama di semua
bagian.

. Masukkan kotoran ayam kering sebanyak tiga karung ukuran kemasan pakan ikan, kemudian sebar
secara merata dan selanjutnya bisa diaduk-aduk dengan kaki.

. Setelah dianggap datar, genangi kolam tersebut hingga kedalaman air maksimum 5 cm, sesuai
panjang pipa pembuangan.

. Pasang atap peneduh untuk mencegah tumbuhnya lumut di kolam.

. Kolam yang sudah tergenang air tersebut dibiarkan selama satu minggu agar gas yang dihasilkan
dari kotoran ayam hilang. Cirinya, media sudah tidak beraroma busuk lagi.

. Tebarkan 0,5 liter gumpalan cacing sutra dengan cara menyiramnya terlebih dahulu di dalam
baskom agar gumpalannya buyar.

. Cacing sutra yang sudah terurai ini kemudian ditebarkan di kolam budi daya ke seluruh permukaan
kolam secara merata.

. Seterusnya atur aliran air dengan pipa paralon berukuran 2/3 inci.

7. Panen
Cacing bisa dipanen setelah 8-10 hari.

Posted by Lia.



PELATIHAN BUDIDAYA BELUT SAWAH
July 25, 2010

Pelatihan Budidaya Belut Sawah

Dibuka setiap saat, minimal 4 orang

Langsung praktek di kolam budidaya belut sawah

Lokasi pelatihan ds. Kincang kec. Jiwan kab. Madiun Jawa Timur

Konfirmasi pendaftaran hub. Lia 08180 336 2605

Posted by Lia.



Media Yang Tepat Untuk Budi Daya Belut

May 18, 2010

Budi daya belut sawah memang belum secara intensif dikembangkan di Indonesia. Faktor kegagalan
yang begitu tinggi, membuat para petani belum akhirnya banting setir ke komoditas pertanian
lainnya.

Sebenarnya, apa yang menyebabkan bisnis ini kurang berkembang? Media belut adalah jawabannya.
Komponen ini yang membuat banyak petani maupun pebisnis belut harus gulung tikar. Pada
akhirnya, media menjadi momok tersendiri bagi para pelaku belut.

Idealnya, media belut serupa dengan habitatnya di alam karena pada keadaan ekstrem pun belut
masih dapat bertahan di sawah-sawah. Dicurigai pula, tingkat "kematangan" media seperti jerami,
kedebong (pelepah) pisang, pupuk kandang yang belum sempurna merupakan faktor penyebab gas
yang berlebih dalam media. Akhirnya, tingkat kematian belut dari hari ke hari menunjukkan angka
yang memprihatinkan.

Belut memang berbeda dengan ikan budi daya lainnya, sehingga perlakuan yang diaplikasikan sangat
spesifik. Lantas, media seperti apa yang paling tepat untuk budi daya hewan bertubuh licin ini?

Ada dua tipe media belut yang telah terbukti keampuhannya suntuk menepis anggapan media
sebagai penyebab utama kegagalan budi daya belut. Pertama, media yang dikeringkan di luar kolam,
dan kedua, media 80% tanah sawah.

Kedua tipe media belut ini memang relatif berbeda. Pada tipe pertama, komponen jerami dan
kedebong pisang menjadi fokus utama penyiapan media, yakni dengan memastikan kedua
komponen tersebut benar-benar kering.

Sedangkan pada tipe kedua, tanah sawah atau tanah lumpur merupakan komponen yang paling
mendominasi media belut. Komponen jerami dan kedebong pisang, masing-masing hanya sebesar
10% dari total komponen yang ada. Selain itu, media ini mensyaratkan penggunaan tanaman air,
seperti eceng gondok, kangkung, genjer, atau padi, yang berfungsi sebagai peneduh.
Namun, terlepas dari kedua tipe media tadi, hal lain yang harus diperhatikan juga adalah pemberian
pakan yang teratur untuk menekan tingkat kanibalisme belut.

Posted by Lia.



Memilih Bibit Belut Yang Berkualitas

May 3, 2010




Memilih bibit belut berkualitas adalah salah satu faktor penting dalam menentukan keberhasilan
budi daya belut. Umumnya bibit belut yang ada saat ini sebagian besar masih merupakan hasil
tangkapan alam. Karena itu, teknik penangkapan bibit dari alam menentukan kualitas bibit.

Bibit yang ditangkap dengan cara alami menggunakan perangkap, seperti bubu, merupakan bibit
yang cukup baik karena tidak mengalami perlakuan yang menurunkan kualitasnya. Sebaliknya, bibit
yang diperoleh dengan cara tidak baik seperti disetrum bukan termasuk bibit berkualitas. Pasalnya,
bibit seperti ini pertumbuhannya tidak akan maksimal (kuntet).

Lebih baik lagi jika bibit yang digunakan berasal dari hasil budi daya. Ukurannya akan lebih seragam
dan jarang terserang penyakit seperti yang mungkin terjadi pada belut hasil tangkapan alam.
Sayangnya, bibit belut hasil budi daya masih sedikit.

Berikut ini beberapa hal yang harus diperhatikan terkait kualitas bibit belut.
1. Bibit yang digunakan sehat dan tidak terdapat bekas luka
Luka pada bibit belut dapat terjadi akibat disetrum, pukulan benda keras, atau perlakuan saat
pengangkutan. Umumnya, bibit yang diperoleh dengan cara disetrum cirinya tidak dapat langsung
terlihat, tetapi baru diketahui 10 hari kemudian. Salah satu cirinya terdapat bintik putih seperti garis
di permukaan tubuh yang lama-kelamaan akan memerah. Bibit yang disetrum akan mengalami
kerusakan syaraf sehingga pertumbuhannya tidak maksimal.

2. Ukuran bibit seragam dan dikarantina terlebih dahulu
Bibit yang dimasukkan ke dalam wadah pembesaran ukurannya harus seragam. Hal ini dilakukan
untuk menghindari kanibalisme pada belut. Bibit yang berasal dari tangkapan alam harus disortir dan
dikarantina.

Tujuannya untuk menghindari serangan bibit penyakit yang mungkin terbawa dari tempat hidup
atau kolam pemeliharaan belut sebelumnya. Caranya adalah dengan memasukkan bibit belut ke
dalam kolam atau bak yang diberi air bersih dan mengalir selama 2 hari.

3. Tingkat kepadatan
Agar pertumbuhan belut optimal, selain media dan kualitas bibit yang digunakan, tingkat kepadatan
tempat pemeliharaan juga harus diperhatikan. Tempat pemeliharaan yang terlalu padat dapat
membatasi ruang gerak belut dan menyebabkan belut stres. Akibatnya, pertumbuhan belut menjadi
tidak optimal.

Posted by Lia.



Solusi Jitu

March 14, 2010

-     Knockdown

Bahan bakunya, potongan pipa besi air ledeng dan terpal. Itu solusi bagi peternak di perkotaan yang
sering terganjal keterbatasan lahan. Dari sepetak tanah berukuran 3 m x 1 m, dapat memanen
sekitar 10 kg belut dewasa sepanjang rata-rata 30 cm. Yang sesuatu luar biasa, kolam gampang
dibongkar-pasang. Seandainya kelak bosan, dapat membereskan kolam itu dalam waktu singkat,
kurang dari 12 jam. Proses panen pun mudah. Kelebihan kolam pipa besi, panen cukup dengan
membuka ikatan antar pipa sehingga terpal jatuh dan terbuka lebar.

Bahan kolam mudah di dapat. Selain pipa besi, hanya menggunakan besi siku-siku dan kawat tipis.
Pipa berdiameter 1,5-2 cm, masing-masing sepanjang 1 m dan 3 m dibuat seperti balok persegi
panjang. Setiap ujung pipa dibuat ulir untuk mengikat besi siku-siku saat menyambungkan antar
pipa. Pipa tiang pancang dilebihkan sekitar 10 cm untuk ditanam sebagai fondasi. Agar angka kolam
lebih kuat, di bagian tengah balok di beri 4 batang besi cor yang panjangnya mengikuti ukuran setiap
sis kolam. Selanjutnya untuk memperkuat pegangan terpal, dinding rangka diberi kawat ram.

Terakhir terpal dipasang mengikuti besar kolam. Supaya bagian atas terpal tidak jatuh, setiap
ujungnya diikat kawat. Ikatan itu dipakai juga di beberapa titik sepanjang keliling atas kolam. Namun,
jika ingin lebih kuat lagi, bagian atas terpal dapat dipatok dengan kawat tebal berukran di atas 10
mm. Total biaya pembuatan kolam sekitar setengah juta rupiah.

Posted by Lia.



Hujan Buatan

March 14, 2010

Selain pakan, yang perlu diperhatikan kualitas air. Bibit belut menyukai pH 5-7. Selama pembesaran,
perubahan air menjadi basa sering terjadi di kolam. Air basa akan tampak merah kecokelatan.
Penyebabnya antara lain tingginya kadar amonia seiring bertumpuknya sisa-sisa pakan dan
dekomposisi hasil metabolisme. Belut yang hidup dalam kondisi itu akan cepat mati. Untuk
mengatasinya, pH air perlu rutin diukur. Jika terjadi perubahan, segera beri penetralisir.

Kehadiran hama seperti burung belibis, bebek, dan berang-berang perlu diwaspadai. Mereka
biasanya spontan masuk jika kondisi kolam dibiarkan tak terawat. Kehadiran mereka sedikit-banyak
turut mendongkrak naiknya pH karena kotoran yang dibuangnya. Hama bisa dihilangkan dengan
membuat kondisi kolam rapi dan pengontrolan rutin sehari sekali. Suhu air pun perlu dijaga agar
tetap pada kisaran 26-28oC. Peternak di daerah panas bersuhu 29-32oC, seperti Jakarta, Depok,
Tangerang, dan Bekasi, perlu hujan buatan untuk mendapatkan suhu yang ideal. Dengan
menggunakan shading net dan hujan buatan untuk bisa mendapat suhu 26oC. Bila terpenuhi
pertumbuhan belut dapat maksimal.

Shading net dipasang di atas kolam agar intensitas cahaya matahari yang masuk berkurang.
Selanjutnya tiga saluran selang dipasang di tepi kolam untuk menciptakan hujan buatan. Perlakuan
itu dapat menyeimbangkan suhu kolam sekaligus menambah ketersediaan oksigen terlarut.
Ketidakseimbangan suhu menyebabkan bibit cepat mati.

Jika tidak bisa membuat hujan buatan, dapat diganti dengan menanam eceng gondok di seluruh
permukaan kolam. Dengan cara itu bibit belut tumbuh cepat, hanya dalam tempo 4 bulan sudah siap
panen.

Posted by Lia.



Pemanenan

March 13, 2010

Dalam memanen belut, diperlakukan usaha pemanenan secara tepat. Wadah pemanenan juga amat
diperlukan untuk mengumpulkan belut yang telah dipanen, dan untuk dibawa ke pengepul. Cara
memanennya, adalah dengan membuka lubang air utama yang terletak didasar kolam, berilah
saringan agar belut tidak ikut terbawa keluar melalui saluran air. Setelah air dikeringkan pindahkan
sebagian lumpur kesalah satu sisi. Setelah lumpur dipindahkan, maka secara otomatis, belut akan
berpindah tempat menuju tumpukan Lumpur yang masih mengandung air. Siapkan wadah tempat
belut di dalam kolam. Tarik dan pindahkan kembali Lumpur tersebut sedikit demi sedikit ke ruang
yang kosong tadi. Antara Lumpur satu dan lainnya berilah ruang sekitar 30 cm, tanpa Lumpur, hal ini
untuk mencegah belut berpindah tempat lagi. Hasil tangkapan belut letakkan di wadah
penampungan yang telah disiapkan, berilah sedikit air agar belut tidak loyo dan rusak kulitnya.

Perlakuan pada kolam

Perlakuan yang harus diperhatikan pada kolam setelah panen, adalah memeriksa apakah ada bak
yang bocor dan saluran air tersumbat. Setelah itu rapihkan Lumpur yang ada, dengan menaburkan
Media Tanam belut, ditengah-tengah, diantara lapisan Lumpur.

Pengangkutan belut

Belut yang telah di panen, dimasukkan kedalam kantong Plastik, tambahkan air, Beri tambahan
oksigen dan ikatlah dengan rapat. Pengangkutan dengan tambahan oksigen dapat bertahan 6 jam
perjalanan. Setelah itu tambahkan oksigen kembali sampai tiba ditempat tujuan.

Pengangkutan dengan drum atau jerigen yang diisi air juga bisa dilakukan, tetapi hindari terik
matahari langsung. Gantilah dengan air baru setelah 3-4 jam perjalanan agar belut tetap sehat dan
tidak lemas.



Posted by Lia.



Media Pembudidayaan

March 13, 2010

Pada umumnya yang membuat ketidak berhasilan budidaya belut adalah media tanam. Untuk
budidaya belut, komponen utama ini sangat menentukan dan untuk menjaga stabilitas media tanam
perlu diperhatikan dengan teliti.

Banyak petani yang mencoba mengadu nasib dengan membudidayakan belut, gulung tikar dan
menjadi momok tersendiri bagi pelaku belut. Tak urung keinginan untuk melakoni budidaya belut
harus ditunda dahulu sebelum menemukan media yang tepat dan ideal.

Idealnya, media tanam belut adalah sesuai dengan habitatnya di alam persawahan, karena pada
keadaan ekstreem pun belut masih dapat hidup dan berkembang biak.

Belut memang berbeda dengan ikan budidaya lainnya. Sehingga diperlukan perhatian yang khusus.
Dalam budidaya belut tetap diterapkan, adalah dengan memberikan sirkulasi air pagi dan sore hari,
hal ini dimaksudkan untuk memberikan kesan pada belut agar merasa seperti hidup di alamnya
sendiri.

Sebelum kolam digunakan, isilah dengan air hingga penuh, gosok dan bersihkan tembok kolam agar
bau semennya hilang, masukkan daun pisang dan ampas kelapa. Ganti dan gosok kembali setelah 5
hari direndam air. Ulangi lagi hingga bersih, baik jika ditambahkan kapur pada air rendaman
tersebut, diamkan selama 1 minggu,

Paling sederhana dan mudah untuk pembuatan media tanam belut, adalah dengan memberikan
tanah/lumpur, pupuk kandang (kotoran Kambing tidak dianjurkan), jerami padi, gedebog pisang,
SUPERNASA dan TON.

Sebaiknya, tanah dan pupuk kandang diaduk diluar kolam hinga merata, lalu siram dengan
SUPERNASA sepertiga (1/3) botol yang telah dicairkan, biarkan 2 hari agar kering. Selanjutnya,
masukan sepertiga bagian adukan tadi kedalam kolam, taburkan jerami padi dan gedebog pisang,
lalu taburkan TON seperempat (1/4) botol secara merata.

Sisa tanah adukan dengan pupuk kandang yang masih diluar kolam tadi dimasukkan kedalam kolam
dengan maksud menutup jerami padi dan gedebog pisang agar terjadi proses pembusukan didalam
kolam budidaya. Setelah semua media telah dimasukkan kedalam kolam, isilah dengan air sampai
dengan ketinggian air 5 – 10 cm, taburkan kembali TON 3 – 4 sendok makan secara merata lalu
dibiarkan selama 1 minggu.

Setelah 1 minggu air dibiarkan dikolam, alirkan keluar secara perlahan dengan memasukan air baru
pada pagi hari dan sore hari selama minimal 15 menit, maksudnya adalah membuang gas dan limbah
hasil proses fermentasi. Setelah 2 – 3 hari dilakukan pergantian air, periksalah media tanam tersebut
dengan cara sederhana adalah memasukkan tangan kedalam media, bila tidak terasa panas maka
bibit sudah siap dimasukkan dalam kolam.

Catatan :

SUPERNASA adalah pupuk organik yang mempunyai sifat cepat menumbuhkan cacing pada media
tanah dan menyuburkan/menggemburkan tanah, Walaupun menggunakan tanah merah yang padat.
Lain halnya dengan TON, lebih berfungsi sebagai pengikat kandungan logam dan senyawa yang
berbahaya bagi pertumbuhan belut juga, berfungsi menimbulkan dan menghidupkan plankton serta
mikro biologi lainnya sebagai salah satu bagian pakan belut

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:1476
posted:4/28/2012
language:Malay
pages:22
Description: cara budidaya belut di air bersih