Makalah Kebudayaan batak

Document Sample
Makalah Kebudayaan batak Powered By Docstoc
					Makalah Kebud. Batak
                               MAKALAH


             KEBUDAYAAN MASYARAKAT INDONESIA

                                   Tentang


                       Kebudayaan Masyarakat Batak




                                    Oleh


                               Aprizal 107.028


                             Siti Mariam 107.076


                             Elva Yotnita 107.065


                              Dosen Pembimbing


                                  Sismarni


                                 Desmaniar


          JURUSAN SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM ( SKI )

                 FAKULTAS ILMU BUDAYA ADAB

              INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

                       IMAM BONJOL PADANG

                            1429 H / 2008 M

                                  BAB I
                                     PENDAHULUAN

   A. Latar Belakang

     Masyarakat Indonesia merupakan suatu masyarakat majemuk yang memiliki
keanekaragaman di dalam berbagai aspek kehidupan. Bukti nyata adanya kemajemukan di
dalam masyarakat kita terlihat dalam beragamnya kebudayaan di Indonesia. Tidak dapat kita
pungkiri bahwa kebudayaan merupakan hasil cipta, rasa, karsa manusia yang menjadi sumber
kekayaan bagi bangsa Indonesia.

       Tidak ada satu masyarakat pun yang tidak memiliki kebudayaan. Begitu pula
sebaliknya tidak akan ada kebudayaan tanpa adanya masyarakat. Ini berarti begitu besar
kaitan antara kebudayaan dengan masyarakat. Kebiasaan masyarakat yang berbeda-beda di
karenakan setiap masyarakat / suku memiliki ciri khas tersendiri yang berbeda dengan suku
liannya.

       Masyarakat Batak, adalah salah satu masyarakat Indonesia yang berada di kawasan
Sumatra. Setiap masyarakat pastilah memiliki kebudayaan yang berbeda dengan masyarakat
lainnya yang menjadi penanda keberadaan suatu masyarakat / suku. Begitu juga dengan
masyarakat Batak yang memiliki karekteristik kebudayaan yang berbeda.

       Keunikan kharakteristik suku Batak ini tercermin dari kebudayaan yang mereka miliki
baik dari segi agama, mata pencaharian, kesenian dan lain sebagainya. Adat-istiadat seperti
upacara kelahiran, upacara pernikahan, upacara kematian, norma, dan kebiasaan-kebiasaan
juga merupakan jati diri suku bangsa Batak, yang membedakan suku bangsa ini dengan suku
bangsa lain.

Suku Batak dengan sekelumit kebudayaannya merupakan salah satu hal yang menarik untuk
dipelajari dalam bidang kajian mata kuliah Pluralitas dan Integritas Nasional yang pada
akhirnya akan menjadi bekal ilmu pengetahuan bagi kita dalam hal kebudayaan.

   B. Rumusan Masalah

       Untuk memudahkan dalam penulisan dan pemahaman makalah ini, maka penulis
merumuskan beberapa hal yang bersangkutan dengan kebudayaan masyarakat Batak, yaitu :

            Bagaimanakah keadaan kebudayaan masyarakat Batak ?
        Bagaimanakah masalah sosial yang ada dalam masyarakat Batak?

        Bagaimanakah sistem interaksi dalam masyarakat Batak ?

        Bagaimanakah keadaan agama dalam masyarakat Batak ?

        Bagaimanakah keadaan ekonomi dalam masyarakat Batak ?

   C. TUJUAN MAKALAH

Adapun tujuan dari makalah ini yaitu :

        Agar pembaca dapat mengetahui kebudayaan masyarakat Batak.

        Agar pembaca dapat memahami salah satu bentuk masalah sosial yang ada dalam
           masyarakat Batak.

        Agar pembaca dapat menelaah sistem interaksi dalam kehidupan keseharian
           masyarakat Batak.

        Agar pembaca mengetahui bagaiman kehidupan beragama masyarakat Batak.

        Agar pembaca mengetahui bagaiman kehidupan ekonomi masyarakat Batak.

                                          BAB II

                                     PEMBAHASAN

   A. IDENTIFIKASI

      Suku / masyarakat Batak hidup di kawasan Sumatra Utara. Sebagian masyarakat yang
tinggal di daerah ini adalah masyarakat Batak. Suku Batak pertama sekali mendiami daerah
karo dan kawasan danau Toba.

      Sebagai bagian dari sejarah bangsa, budaya Batak sudah ada sejak berabad-abad tahun
yang lalu. Dimulai dari kerajaan Sisingamangaraja yang pertama (kakek buyut Raja
Sisingamangaraja XII, pahlawan nasional Indonesia), suku Batak tetap eksis sampai saat ini
dengan tetap mempertahankan identitasnya. Pewaris kebudayaan Batak tetap menjaga,
memelihara serta melestarikan Budaya Batak sebagai kebudayaan warisan nenek moyang.
Budaya Batak yang bersifat kekeluargaan, gotong royong dan setia kawan telah mengakar
disetiap langkah hidup orang Batak. Budaya Batak sudah menjadi falsafah hidup bagi
warganya ditengah era globalisasi dewasa ini.[1]
     Identitas kesukubangsaan merupakan internalisasi nilai yang diwariskan oleh orang tua
secara informal kepada setiap anak sejak dari kecil untuk membangun eksistensi ke-Batakan-
nya (habatahon), yang kelak dapat merupakan jalan, wahana, dan alat memasuki tujuan hidup
suku bangsa Batak. Dengan demikian, identitas budaya ini disebut sebagai nilai instrumental
(instrumental values). Visi suatu suku bangsa adalah tujuan hidup suatu kolektif, dalam hal
ini tujuan suku bangsa Batak, yang merupakan tujuan akhir yang diidam-idamkan
masyarakat. Dengan demikian, visi tujuan hidup ini disebut sebagai nilai terminal (terminal
values). Pedoman interaksi merupakan landasan interaksi masyarakat, yang berfungsi
menentukan kedudukan, hak, dan kewajiban masyarakat, mengatur serta mengendalikan
tingkah laku masyarakat dalam kehidupan sosial sehari-hari, dan menjadi dasar demokrasi
untuk penyelesaian masalah terutama secara musyawarah dan mufakat dalam masyarakat
Batak Toba.

    B. INTERAKSI SOSIAL DALAM MASYARAKAT BATAK

     Sistem interaksi pada masyarakat Batak adalah Dalihan Na Tolu ”Tungku Nan Tiga”,
yang terdiri atas dongan tubu (pihak semarga), boru (pihak penerima istri), dan hula-hula
(pihak pemberi istri). Dalam interaksinya, setiap orang akan memiliki sikap berperilaku yang
berbeda pada masing-masing pihak itu. Orang akan manat mardongan tubu ”hati-hati pada
teman semarga”, elek marboru ”membujuk pada pihak penerima istri” , dan somba marhula-
hula “hormat pada pihak pemberi istri”. Jelas bahwa nilai interaksional ini hanya bisa
dipahami, bahkan dijelaskan, setelah memiliki dan memahami nilai identitas.

Visi orang Batak sangat jelas, yakni ingin memiliki Hagabeon-Hamoraon-Hasangapon.
Istilah hagabeon berarti ”mempunyai keturunan terutama anak laki-laki”, hamoraon berarti
”kekayaan atau kesejahteraan” , dan hasangapon berarti ”kehormatan”. Hamoraon dan
hagabeon sangat jelas indikatornya, tetapi hasangapon agak abstrak: hasangapon adalah
hagabeon plus hamoraon. Untuk mencapai hagabeon, orang harus menikah; untuk mencapai
hamoraon, orang harus mandiri, kerja keras, gotong royong, dan berpendidikan, yang
kesemuanya membuat orang dapat mencapai hasangapon. Oleh karena hagabeon-hamoraon-
hasangapon itu merupakan visi dan tujuan kehidupan orang Batak, maka itulah yang disebut
dengan nilai terminal.

       Akhirnya, nilai utama Budaya Batak, yakni identitas sebagai instrumental values,
sistem interaksi sebagai interactional values, dan visi sebagai terminal values dapat
difungsikan dan diwariskan dalam pembentukan sumber daya manusia untuk mencapai
keberhasilan pembangunan suku bangsa Batak. Pewarisan, internalisasi, dan resosialisasi
nilai-nilai budaya di atas sejak dini kepada masyarakat Batak akan menciptakan sumber daya
manusia yang betul-betul menjadi human capital terutama di daerah bonapasogit.

Manusia sebagai sosok dan tokoh selalu menarik diperbincangkan dari aneka sudut pandang.
Perbincangan akan lebih menarik bila sosok dan ketokohan seseorang relevan dan kontributif
bagi pengembangan sumber daya generasi muda. Sosok dan tokoh yang menyejarah dapat
menjadi acuan untuk membangun sikap dan semangat patriotisme. Manusia dalam konteks
budaya adalah individu yang mampu berperan sebagai penggagas, pelaku, dan penghasil.
Ketiga peran ini terakumulasi dan termanifestasi dalam prestasi (achievement). Gagasan,
tindakan dan kinerja manusia yang berlandaskan pada prestasi gemilang sampai kapanpun
akan menjadi idaman dan sumber inspirasi bagi tiap-tiap individu. McClelland, (1987)
berkata bahwa ada tiga motif sosial yang dapat membuat orang berhasil, yakni motif
berprestasi (the achievement motive), motif berkuasa (the power motive), dan motif
persahabatan (the affiliation motive). Ketiga motif sosial itu ternyata ditentukan oleh
lingkungan budayanya. Tanpa sistem marga Dalihan Na Tolu, sukubangsa Batak sudah lama
lenyap oleh kemajuan zaman.

Suku bangsa yan terdapat dala masyarakat Batak ialah Karo, Toba, dan simalungun. Dari
suku bagsa ini terdiri dari beberapa marga dan sub marga.

   C. MATA PENCAHARIAN HIDUP

     Sebagian masyarakat batak bercocok tanam di irigasi dan ladang. Orang batak untuk
sebagian besar, masih mengarap tanahnya menurut adat kuno. Diladang atau disawa-sawah,
padi hanya di tanam dan di panen sekali setahun. Dalam bercocok tanam orang batak selalu
bergoto royong baik saat bertanam maupun saat panen tiba.[2]

     Di smping bercocok tanam, pertenakan juga merupakan suatu mata pencaharian yang
penting bagi orang batak umumnya. Hewan yang biasa diternakan ialah kerbau, babi, bebek,
ayam, dan kambing

     Di daerah pinggiran danau toba, biasanya masyarakat Batak menagkap ikan dengan
perahu lesung. Penangkapn ikan dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu, seperti bulan Juni
sampai Agustus. Hasil tangkapan ikan di jual kepasar.

   D. RELIGI

     Tanah batak dipengaruhi oleh beberapa agama, seperti Islam dan Protestan. Agama ini
masuk pada Abad ke-19. Masyarakat Batak pada umumnya beragama kristen dan hanya
sedikit yang memeluk agama Islam. Walaupun demikian masyarakat perdesaan suku Batak
tetap memepertahankan agama aslinya.
     Orang batak percaya bahwa, yang menciptakan alam semesta ini adalah debata
(ompung) mulajadi na bolon. Dia tinggal diatas langit dan mempunyai nama-nama seseui
tugasnya.

     Suku batak memiliki tiga konsep dalam masalah roh, tondi, sahala, dan begu. Tondi
adalah jiwa orang itu sendiri dan sekaligus juga merupakan kekeuatan. Sahala ialah jiwa
kekuatan yang dimiliki oleh seseorang yang di dapati melalui pembelajaran. Begu ialah
tondinya orang yang meninggal.[3]

   E. MASALAH PEMBANGUNAN DAN MODERNISASI

     Hingga sekarang ditengah ditengah perubahan dimensi ruang dan dimensi waktu, pola
kebudayaan Dalihan Na Tolu masih bertahan mengikuti zaman. Walaupun begitu derasnya
arus globalisasi namun kebudayaan Batak Dalihan Na Tolu masih tetap dijaga secara turun-
temurun dan tidak terpengaruh budaya asing.[4]

     Namun seperti yang telah disebutkan sebelumnya perkembangan teknologi, globalisasi
dan era informasi yang pesat membawa dampak bagi perkembangan budaya Batak juga. Dari
berbagai identitas budaya yang telah diwariskan turun-temurun, ada yang harus disesuaikan
dengan kondisi yang terjadi sekarang. Penyesuaian tersebut dilakukan karena tidak sesuai
dengan undang-undang yang berlaku di Indonesia.

     Salah satu contohnya adalah dalam hal sistem pembagian harta warisan. Hukum adat
Batak yang patrilineal tidak mengakui adanya pembagian harta warisan bagi anak
perempuan. Semua warisan dari orangtua diberikan pada anak laki-lakinya yang esensial
sebagai penyambung keturunan menurut garis bapak. Namun dewasa ini sistem hukum adat
yang patrilineal yang dianut suku Batak dalam hak warisan bagi anak laki-laki sedang
mendapat ujian berat. Hal ini berkaitan dengan unifikasi hukum nasional buat seluruh warga
negara Indonesia, dimana anak laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama dalam
pembagian warisan. Oleh sebab itu hukum adat Batak tersebut kemudian disesuaikan. Anak
laki-laki dan perempuan adalah sama dalam pembagian warisan.

     Walau terjadi unifikasi hukum nasional buat seluruh masyarakat Indonesia, namun
budaya Batak tetap akan dijaga. Walau Sisinga Mangaraja telah gugur namun falsafah hidup
Dalihan Na Tolu tidak pernah hilang. Dan pola Kebudayaan Batak sejak abad XIV hingga
kini tidak pernah dapat ditumbangkan oleh kebudayaan asing. Zaman boleh berubah,
teknologi boleh semakin maju, arus globalisasi boleh semakin deras tapi kebudayaan Batak
tetap harus dilestarikan. Budaya Batak akan tetap bertahan dan berkembang dalam perubahan
multi dimensi.

                                         BAB III

                                       PENUTUP

         A. KESIMPULAN

      Suku / masyarakat Batak hidup di kawasan Sumatra Utara. Sebagian masyarakat yang
tinggal di daerah ini adalah masyarakat Batak. Suku Batak pertama sekali mendiami daerah
karo dan kawasan danau Toba.

     Sebagian masyarakat batak bercocok tanam di irigasi dan ladang. Di smping bercocok
tanam, pertenakan juga merupakan suatu mata pencaharian yang penting bagi orang batak
umumnya. Di daerah pinggiran danau toba, biasanya masyarakat Batak menagkap ikan
dengan perahu lesung.

     Masyarakat Batak pada umumnya beragama kristen dan hanya sedikit yang memeluk
agama Islam. Walaupun demikian masyarakat perdesaan suku Batak tetap memepertahankan
agama aslinya. Orang batak percaya bahwa, yang menciptakan alam semesta ini adalah
debata (ompung) mulajadi na bolon. Dia tinggal diatas langit dan mempunyai nama-nama
seseui tugasnya.

     Walau terjadi unifikasi hukum nasional buat seluruh masyarakat Indonesia, namun
budaya Batak tetap akan dijaga. Walau Sisinga Mangaraja telah gugur namun falsafah hidup
Dalihan Na Tolu tidak pernah hilang. Dan pola Kebudayaan Batak sejak abad XIV hingga
kini tidak pernah dapat ditumbangkan oleh kebudayaan asing. Zaman boleh berubah,
teknologi boleh semakin maju, arus globalisasi boleh semakin deras tapi kebudayaan Batak
tetap harus dilestarikan. Budaya Batak akan tetap bertahan dan berkembang dalam perubahan
multi dimensi.

         B. SARAN
        Kebudayaan yang dimiliki suku Batak ini menjadi salah satu kekayaan yang dimiliki
oleh bangsa Indonesia yang perlu tetap dijaga kelestariannya. Dengan membuat makalah
suku Batak ini diharapkan dapat lebih mengetahui lebih jauh mengenai kebudayaan suku
Batak tersebut dan dapat menambah wawasan serta pengetahuan yang pada kelanjutannya
dapat bermanfaat dalam dunia kependidikan

                                        DAFTAR PUSTAKA

        Tarigan, Raja Malem . 2005. Budaya Batak Dalam Perubahan Multidimensi, Bandung :
ITB Press. (Sebuah Makalah).

        Ningrat, Kountjara. 2004. Manusia dan Kebudayaan Indonesia. Jakarta :Djambatan.

        Salomo, Mangaradja. 1938. Memilih dan Mengangkat Radja di Tanah Batak menurut
Adat Asli.. Sibolga: Rapatfonds Tapanuli.




[1] Mangaradja Salomo, Memilih dan Mengangkat Radja di Tanah Batak menurut Adat Asli.( Sibolga: Rapatfonds
Tapanuli, 1938) hal. 5-6.


[2] Kountjara Ningrat, Manusia dan Kebudayaan Indonesia, ( Jakarta, Djambatan, 2004). Hlm.101-102.

[3]   Kountjara Ningrat, op.cit. hal.112-115.

[4] Raja Malem Tarigan,Budaya Batak Dalam Perubahan Multidimensi, ( Bandung, ITB Press, 2005 ),hal. 4,
BAB Pembahasan. ( Sebuah Makalah).

				
DOCUMENT INFO
Tags:
Stats:
views:983
posted:4/27/2012
language:Malay
pages:8