Daftar Flora & Fauna Langka di Indonesia by LastChild1

VIEWS: 2,177 PAGES: 10

									Daftar Flora dan Fauna Langka Indonesia

Flora
Indonesia sebenarnya sangat kaya akan Flora (tumbuhan) langka karena posisi Indonesia
yang tepat di garis khatulistiwa sehingga menyebabkan Indonesia mempunyai iklim yang
tropis yang sangat ideal untuk tempat tumbuhnya bermacam macam tanaman. Namun
sayangnya, tumbuhan langka yang harusnya dilindungi ini tidak dirawat dengan baik
sehingga mengakibatkan populasinya semakin menurun dari hari ke hari.

Berikut ini adalah daftar-daftar tanaman langka yang tumbuh di Indonesia :

1. Bantal Sulam (Palaquium Walsurifolium)
Diameter pohon sekitar 45cm dan dapat tumbuh
hingga tingginya mencapai 45m. Biasanya
tumbuh di rawa gambut atau kawasan dengan
ketinggian sekitar 1000m diatas permukaan laut.
Penyebarannya di semenanjung Malaysia,
Sumatera, dan Kalimantan Timur. Di Kalimantan
dikenal dengan nama Beitis, Margetahan, Nyato,
Nyatoh, Nyatoh Jangkar.

                                                      Gb. Bantal Sulam (palaquium walsurifolium)

2. Bayur (pterosperium Javanicum Jungh)
Ketinggian pohon bisa mencapai 59m dan
diameter batang bisa sampai 54cm, Bisa tumbuh
di ketinggian 600m di daerah pegunungan
namun juga kadang bisa ditemukan di daerah
batu gamping. Pohon ini biasa digunakan dalam
konstruksi rumah maupun untuk furniture.
Distribusi penyebarannya di India, Serawak,
Sabah, Tengah, dan Kalimantan Timur. Di
Kalimantan Timur terkenal dengan nama Bayur.
                                                     Gb. Bayur (pterosperium Javanicum Jungh)
3. Bulian (Eusderoxylon Zwageri)
Tinggi pohon sekitar 36m dengan diameter
batang 95cm. Bisa tumbuh di lahan dengan
ketinggian 600m yang biasanya terdapat di
lereng bukit dengan jenis tanah yang berpasir.
Jenis kayu ini sangat kuat, tahan lama, dan bisa
digunakan untuk konstruksi berat.
Pendistribusian di Malaysia, Sumatera, Jawa,
Kalimantan, Filipina, dan Maluku. Terkenal
dengan nama Belian, Belian Timun, Betian,
Talion Bening, Tebelian Geriting, Telianoii,
Teluyan, Ulin, Ulin Bening, Ulion.
                                                       Gb. Bulian (eusderoxylon zwageri)



4. Jelutung (Dyera SP)
Ketinggian pohon bisa mencapai 75m dengan
diameter batang 159cm. Biasa tumbuh di hutan
dengan tanah berpasir dan perbukitan dengan
ketinggian 400m. Getahnya bisa digunakan
untuk membuat permen karet dan kayunya bisa
digunakan untuk membuat perabotan. Distribusi
di Thailand, semenanjung Malaysia, Sumatera,
dan Kalimantan. Di Indonesia terkenal dengan
nama Jelutong atau Pantung
                                                             Gb. Jelutung (dyera sp)

5. Akar Karak (Ficus Uniglandulosa Wall)
Tinggi pohon hanya sekitar 14m dengan diameter
batang sekitar 15cm. Batangnya berwarna putih dan
bergetah. Biasa tumbuh di ketinngian 1700m.
seringnya di sepanjang aliran sungai dan lereng
bukit. Terkadang juga bisa ditemukan di batu kapur,
tanah berpasir, dan tanah liat. Distribusi tumbuhnya
di burma, thailand, semenanjung Malaysia,
Sumatera, Kalimantan, dan Filipina. Terkenal
dengan nama Akar Karak, Kara, atau Wa Punot.             Gb. Akar Karak (ficus uniglandulosa wall)
6. Raflesia Arnoldi
Bunga Rafflesia hidup di Tama Nasional Bengkulu,
mempunyai ukuran dengan diameter bunga yang
hampir mencapai 1 meter. Bunga ini terkenal
dengan sebutan bunga bangkai karena
mengeluarkan bau busuk yang menyengat. Bau
busuk yang dikeluarkan oleh bunga digunakan
untuk menarik lalat yang hinggap dan membantu
penyerbukan. Raflesia Arnoldi merupakan
tumbuhan parasit yang memerlukan inang untuk
hidupnya. Saat ini kondisi habitat Raflesia Arnoldi         Gb. Raflesia Arnoldi

sangat memprihatinkan sehingga jumlahnya
menurun drastis dari tahun ke tahun. Menyusutnya habitat bunga tersebut di antaranya
disebabkan kegiatan manusia seperti pembukaan wilayah hutan baik untuk kegiatan
pertambangan, pertanian, maupun permukiman.

7. Tembesu
Tembesu (Fagraea fragrans) termasuk kedalam
famili Loganiaceae. Daerah penyebarannya
Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa Barat,
Maluku, dan Irian Jaya. Tempat tumbuh pada
tanah datar dan sarang atau tempat yang tidak
becek, tanah liat berpasir, dengan type curah
hujan A sampai B pada ketinggian 0–500 dpl.
Tinggi pohon tembesu mencapai 40 m, dengan
panjang batang bebas cabang sampai 25 m,
diameter 80 cm atau lebih, dengan batang tegak
dan tidak berbanir. Kulit luar berwarna coklat
sampai hitam, beralur dangkal dan sedikit
mengelupas. Kayunya keras berwarna kuning                   Gb. Tembesu
emas tua atau coklat jingga, dan termasuk ke
dalam kelas awet satu.
8. Cendana
Cendana (Santalum album). Cendana atau
cendana wangi, merupakan tanaman langka
penghasil kayu cendana dan minyak cendana.
Kayunya digunakan sebagai rempah-rempah,
bahan dupa, aroma terapi, campuran parfum,
serta sangkur keris (warangka). Cendana
adalah tumbuhan parasit pada awal
kehidupannya. Kecambahnya memerlukan
pohon inang untuk mendukung
pertumbuhannya, karena perakarannya sendiri
tidak sanggup mendukung kehidupannya.
Karena prasyarat inilah cendana sukar
dikembangbiakkan atau dibudidayakan. Kayu                    Gb. Cendana

cendana wangi (Santalum album) kini sangat
langka dan harganya sangat mahal. Kayu cendana dianggap sebagai obat alternatif
untuk membawa orang lebih dekat kepada Tuhan. Minyak dasar kayu cendana, yang
sangat mahal dalam bentuknya yang murni, digunakan terutama untuk penyembuhan
cara Ayurveda, dan untuk menghilangkan rasa cemas. kayu ini banyak ditemukan di
Nusa Tenggara Timur, khususnya di Pulau Timor, meskipun sekarang ditemukan pula di
Pulau Jawa dan pulau-pulau Nusa Tenggara lainnya.

9. Damar
Damar, Kopal Keruling (Agathis labillardieri).
Tanaman langka ini berasal dari papua. Damar
adalah salah satu jenis pohon potensial yang
mempunyai nilai ekonomi tinggi. Tanaman
langka ini tingginya bisa mencapai 60 m dan
dimeternya 2 m.
                                                            Gb. Damar
10. Enau (Arenga Pinnata)
Enau atau aren (Arenga pinnata, suku Arecaceae)
adalah palma yang terpenting setelah kelapa
(nyiur) karena merupakan tanaman serba guna.
Palma yang besar dan tinggi, dapat mencapai 25
m. Berdiameter hingga 65 cm, batang pokoknya
kukuh dan pada bagian atas diselimuti oleh
serabut berwarna hitam yang dikenal sebagai ijuk,
injuk, juk atau duk. Ijuk sebenarnya adalah bagian
dari pelepah daun yang menyelubungi batang.
Pohon enau menghasilkan banyak hal, yang
menjadikannya populer sebagai tanaman yang
                                                          Gb. Enau (Arenga Pinnata)
serbaguna, terutama sebagai penghasil gula.
Penyebaran tanaman ini antara lain : Propinsi
Bengkulu, Propinsi Sumatera Selatan, Lampung dan Jambi.




Fauna
Daftar Fauna (binatang) langka di Indonesia semakin panjang. Fauna (binatang) langka
merupakan spesies yang memiliki resiko akan punah baik punah di alam liar (extinct in
the wild) ataupun sepenuhnya punah (extinct). Hewan-hewan dinyatakan langka
berdasarkan rasio jumlah spesies (populasi) dan berdasarkan daerah persebaran
(habitat). Di Indonesia, binatang-binatang langka semakin banyak.

Fauna (binatang) ini menjadi langka dan terancam kepunahan akibat perubahan kondisi
alam, hewan pemangsa dan juga akibat perburuan yang dilakukan manusia. Daftar
nama Fauna (binatang) paling langka. Berikut daftar binatang dari kelas mamalia yang
paling langka di Indonesia berdasarkan jumlah spesies (populasi) dan status konservasi
yang diberikan oleh IUCN Redlist sebagai critically endangered (kritis).
1. Badak Jawa (Rhinocerus Sondaicus)
Binatang endemik pulau Jawa dan hanya
terdapat di Taman Nasional Ujung Kulon
ini merupakan binatang paling langka di
dunia. Petugas Taman Nasional Ujung
Kulon menjelaskan jumlah populasi
Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) hasil
pendataan 2011 mencapai 35 dari
sebelumnya 50. Ini kabar menyedihkan
bagi konservasi satu-satunya jenis badak
di Pulau Jawa itu.
                                                         Gb. Badak Jawa (Rhinocerus sondaicus)



2. Badak Sumatera (Dicerorhinus Sumatrensis)
Populasi badak sumatera hanya 220-275 ekor
(2007), bahkan menurut International Rhino
Foundation (Virginia) diperkirakan populasi
badak sumatera tidak mencapai 200 ekor
(2010).

                                                       Gb. Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis)



3. Macan Tutul Jawa atau Macan Kumbang (Panthera Pardus Melas)
adalah salah satu subspesies dari macan
tutul yang hanya ditemukan di hutan
tropis, pegunungan dan kawasan
konservasi Pulau Jawa, Indonesia. Ia
memiliki dua variasi: berwarna terang
dan hitam (macan kumbang). Macan
tutul jawa adalah satwa indentitas
Provinsi Jawa Barat. Dibandingkan
dengan macan tutul lainnya, macan tutul    Gb. Macan Tutul Jawa atau Macan Kumbang (Panthera
                                                              Pardus Melas)
jawa berukuran paling kecil, dan
mempunyai indra penglihatan dan
penciuman yang tajam. Subspesies ini pada umumnya memiliki bulu seperti warna
sayap kumbang yang hitam mengilap, dengan bintik -bintik gelap berbentuk kembangan
yang hanya terlihat di bawah cahaya terang. Bulu hitam Macan Kumbang sangat
membantu dalam beradaptasi dengan habitat hutan yang lebat dan gelap. Macan
Kumbang betina serupa, dan berukuran lebih kecil dari jantan. Subspesies ini
populasinya kurang dari 250 ekor.

4. Rusa Bawean (Axis Kuhlii)
Rusa Bawean (Axis kuhlii) adalah sejenis rusa
yang saat ini hanya ditemukan di Pulau Bawean
di tengah Laut Jawa, Secara administratif pulau
ini termasuk dalam Kabupaten Gresik, Provinsi
Jawa Timur, Indonesia. Spesies ini tergolong
langka dan diklasifikasikan sebagai "terancam
punah" oleh IUCN. Populasinya diperkirakan
hanya tersisa sekitar 300 ekor di alam bebas.
Rusa Bawean hidup dalam kelompok kecil yang
                                                        Gb. Rusa Bawean (Axis Kuhlii)
biasanya terdiri atas rusa betina dengan
anaknya atau jantan yang mengikuti betina untuk kawin. Mereka tergolong hewan
nokturnal atau aktif mencari makan di malam hari.

5. Harimau Sumatera (Panthera Tigris
Sumatrae)
Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae)
hanya ditemukan di Pulau Sumatra di
Indonesia, merupakan satu dari enam sub-
spesies harimau yang masih bertahan hidup
hingga saat ini dan termasuk dalam klasifikasi
satwa kritis yang terancam punah (critically
endangered) dalam daftar merah spesies
terancam yang dirilis Lembaga Konservasi
Dunia IUCN. Populasi liar diperkirakan antara
                                                     Gb. Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae)
400-500 ekor, terutama hidup di Taman-
taman nasional di Sumatra. Uji genetik mutakhir telah mengungkapkan tanda-tanda
genetik yang unik, yang menandakan bahwa subspesies ini mungkin berkembang
menjadi spesies terpisah, bila berhasil lestari. Penghancuran habitat adalah ancaman
terbesar terhadap populasi saat ini. Pembalakan tetap berlangsung bahkan di taman
nasional yang seharusnya dilindungi. Tercatat 66 ekor harimau terbunuh antara 1998
dan 2000.

6. Beruk Mentawai (Macaca Pagensis)
merupakan salah-satu monyet endemik
Kepulauan Mentawai, Sumatera. Hewan
endemik ber-ordo primata yang oleh
masyarakat setempat disebut bokoi ini
populasinya semakin terancam
sehingga oleh IUCN Redlist
dikategorikan sebagai satwa berstatus
Critically Endangered, tingkatan terakhir
sebelum punah. Populasinya di perkirakan antara 2.100-3.700 ekor.
                                                     Gb. Beruk Mentawai (Macaca Pagensis)

7. Orangutan Sumatera (Pongo Abelii)
Orangutan Sumatra (Pongo abelii) adalah spesies
orangutan terlangka. Orangutan Sumatra hidup
dan endemik terhadap Pulau Sumatra, sebuah
pulau yang terletak di Indonesia. Mereka lebih
kecil daripada orangutan Kalimantan. Orangutan
Sumatra memiliki tinggi sekitar 4.6 kaki dan
berat 200 pon. Betina lebih kecil, dengan tinggi 3
kaki dan berat 100 pon. Binatang langka ini
tercatat populasinya sekitar 7.300 ekor (2004).           Gb. Orangutan Sumatera (Pongo Abelii)




8. Simpei Mentawai (Simias Concolor)
Merupakan hewan endemik Kepulauan Mentawai.
Binatang langka ini populasi tercatat 6.000-15.500                                                ekor
(2006).




                                                                Gb. Simpei Mentawai (Simias
                                                                         Concolor)
9. Kera Hitam Sulawesi (Macaca nigra)
Monyet hitam sulawesi adalah satwa endemik
dari Pulau Sulawesi bagian utara dan
beberapa pulau di sekitarnya. Ciri khasnya
adalah rambut berwarna hitam di sekujur
tubuh kecuali punggung dan selangkangan
yang agak terang. Kepala hitam berjambul,
muka tidak berambut, moncong lebih
                                                  Gb. Kera Hitam Sulawesi (Macaca nigra)
menonjol. Panjang tubuh hingga 44,5-60 cm,
ekor 20 cm dan berat 15 kg. Satwa ini
dilindungi berdasarkan UU RI No.5 Tahun 1990 dan Peraturan Pemerintah RI No.7 Tahun
1999. Hewan ini bisa ditemukan di Cagar Alam Gunung Tangkoko Batuangus, Cagar
Alam Gunung Duasudara, Cagar Alam Gunung Ambang, Gunung Lokon dan Tangale, dan
menyukai tempat-tempat di dekat perairan. Populasinya telah tercatat sekitar 100.000
ekor.

10. Kanguru Pohon Mantel Emas (Dendrolagus Pulcherrimus)
Kanguru-pohon Mantel-emas atau dalam
nama ilmiahnya Dendrolagus Pulcherrimus
adalah sejenis kanguru-pohon yang hanya
ditemukan di hutan pegunungan pulau Irian.
Spesies ini memiliki rambut-rambut halus
pendek berwarna coklat muda. Leher, pipi dan
kakinya berwarna kekuningan. Sisi bawah
perut berwarna lebih pucat dengan dua garis
keemasan dipunggungnya. Ekor panjang dan
tidak prehensil dengan lingkaran-lingkaran           Gb. Kanguru Pohon Mantel Emas (Dendrolagus
                                                                    Pulcherrimus)
terang. Penampilan Kanguru-pohon Mantel-
emas serupa dengan Kanguru-pohon Hias. Perbedaannya adalah Kanguru-pohon
Mantel-emas memiliki warna muka lebih terang atau merah-muda, pundak keemasan,
telinga putih dan berukuran lebih kecil dari Kanguru-pohon Hias. Beberapa ahli
menempatkan Kanguru-pohon Mantel-emas sebagai subspesies dari Kanguru-pohon
Hias. Kanguru-pohon Mantel-emas ditemukan pada tahun 1990 oleh Pavel German di
Gunung Sapau, Pegunungan Torricelli di Papua New Guinea. Populasi lainnya ditemukan
di daerah terpencil di Pegunungan Foja, provinsi Papua, Indonesia pada bulan Desember
2005. Spesies ini merupakan jenis mamalia besar baru untuk Indonesia.
Kanguru-pohon Mantel-emas merupakan salah satu jenis kanguru-pohon yang paling
terancam kepunahan di antara semua kanguru-pohon. Spesies ini telah punah di
sebagian besar daerah habitat aslinya.

								
To top