anggaran pendiidkan by juninantaramade

VIEWS: 22 PAGES: 1

									Dengan besarnya jumlah anggaran pendidikan, maka tingkat kerawanan terhadap korupsi structural pun
semakin besar pula, sehingga kalau penggunaan anggaran pendidikan tidak diawasi dengan cermat,
akan muncul “ladang” korupsi baru yang subur dan tidak terkendali. Besarnya anggaran pendidikan yang
ada akan menjadi sia-sia apabila tidak sampai kepada sasaran yang tepat dan benar-benar
membutuhkan. Terlebih lagi jika anggaran tersebut justru habis untuk membiayai proyek-proyek fiktif
yang sering muncul takterduga. Padahal, uang untuk alokasi pendidikan, baik itu dari APBN maupun
APBD adalah uang milik rakyat, sehinga sudah seharusnya memang apabila uang tersebut dikembalikan
lagi kepada rakyat. Setiap bentuk penyimpangan anggaran pendidikan merupakan pengkhiatan
terhadap amanat rakyat. Anggaran pendidikan tidak boleh digunakan sebagai sarana untuk mencari
keuntungan pribadi atau golongan. Kasus buku ajar yang melibatkan banyak pejabat di daerah
merupakan salah satu contoh betapa besarnya kenaikan anggaran pendidikan justru menjadi ladang
subur korupsi oleh pembuat perda pendidikan itu sendiri.

Perda pendidikan harus dapat menjadi alat penjamin bahwa pendidikan di daerah sudah terselenggara
dengan baik dan benar. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang tepat sasaran, baik pada sector
formal, informal maupun non-formal dan tepat guna, yaitu sesuai dengan perkembangan dan
kebutuhan masyarakat. Pendidikan yang benar adalah penyelenggaraannya sesuai dengan aturan
hokum dan undang-undang yang ada (konstitusional). Sebaik apapun penyelenggaraan pendidikan,
kalau tidak didukung oleh peraturan daerah atau undang-undang yang mengatur dan menjaminnya,
maka tingkat keberlangsungannya rendah karena dapat dianggap inkonstitusional.

Pemerintah Daerah dan DPRD tidak boleh setengah hati dalam mendukung penyelenggaraan pendidikan
dan dalam menyusun perda pendidikan. Apabila Pemerintah Daerah dan DPRD menyusun Perda
Pendidikan dengan setengah hati, hanya karena mengikuti “tren” dan agar dianggap peduli dengan
dunia pendidikan, tanpa adanya kesadaran dan melakukan kajian yang mendalam mengenai urgensi
perda pendidikan sehingga anggaran pendidikan dapat digunakan semaksimal mungkin, supaya perda
pendidikan akan menjadi sia-sia belaka. Pekerjaan yang dilandasi niat yang sungguh-sungguh dan
sepenuh hati saja terkadang tidak mencapai hasil yang maksimal, apalagi pekerjaan yang diniati dengan
setengah hati dilakukan tidak dengan sungguh-sungguh, tentu lebih sulit lagi mencapai hasil yang
memuaskan.

								
To top