Docstoc

22365657-17355816-Biografi-Para-Ulama-Ahlul-Hadits

Document Sample
22365657-17355816-Biografi-Para-Ulama-Ahlul-Hadits Powered By Docstoc
					        Biografi      Para Ulama Ahlul Hadits

                        Bismillahirrahmanirrahim

Biografi para ulama ahlul hadits mulai dari zaman sahabat hingga sekarang
yang masyhur (di ambil dari blogsite http://ahlulhadist.wordpress.com/) :

   1. Khalifah ar-Rasyidin :
       • Abu Bakr Ash-Shiddiq
       • Umar bin Al-Khaththab
       • Utsman bin Affan
       • Ali bin Abi Thalib

   2. Al-Abadillah :
      • Ibnu Umar
      • Ibnu Abbas
      • Ibnu Az-Zubair
      • Ibnu Amr
      • Ibnu Mas’ud
      • Aisyah binti Abubakar
      • Ummu Salamah
      • Zainab bint Jahsy
      • Anas bin Malik
      • Zaid bin Tsabit
      • Abu Hurairah
      • Jabir bin Abdillah
      • Abu Sa’id Al-Khudri
      • Mu’adz bin Jabal
      • Abu Dzarr al-Ghifari
      • Sa’ad bin Abi Waqqash
      • Abu Darda’

   3. Para Tabi’in :
      • Sa’id bin Al-Musayyab wafat 90 H
      • Urwah bin Zubair wafat 99 H
      • Sa’id bin Jubair wafat 95 H
      • Ali bin Al-Husain Zainal Abidin wafat 93 H
      • Muhammad bin Al-Hanafiyah wafat 80 H
      • Ubaidullah bin Abdillah bin Utbah bin Mas’ud wafat 94 H
      • Salim bin Abdullah bin Umar wafat 106 H
      • Al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr Ash Shiddiq
      • Al-Hasan Al-Bashri wafat 110 H
      • Muhammad bin Sirin wafat 110 H
      • Umar bin Abdul Aziz wafat 101 H
      • Nafi’ bin Hurmuz wafat 117 H
      • Muhammad bin Syihab Az-Zuhri wafat 125 H
      • Ikrimah wafat 105 H
   • Asy Sya’by wafat 104 H
   • Ibrahim an-Nakha’iy wafat 96 H
   • Aqamah wafat 62 H

4. Para Tabi’ut tabi’in :
   • Malik bin Anas wafat 179 H
   • Al-Auza’i wafat 157 H
   • Sufyan bin Said Ats-Tsauri wafat 161 H
   • Sufyan bin Uyainah wafat 193 H
   • Al-Laits bin Sa’ad wafat 175 H
   • Syu’bah ibn A-Hajjaj wafat 160 H
   • Abu Hanifah An-Nu’man wafat 150 H

5. Atba’ Tabi’it Tabi’in : Setelah para tabi’ut tabi’in:
   • Abdullah bin Al-Mubarak wafat 181 H
   • Waki’ bin Al-Jarrah wafat 197 H
   • Abdurrahman bin Mahdy wafat 198 H
   • Yahya bin Sa’id Al-Qaththan wafat 198 H
   • Imam Syafi’i wafat 204 H

6. Murid-Murid atba’ Tabi’it Tabi’in :
   • Ahmad bin Hambal wafat 241 H
   • Yahya bin Ma’in wafat 233 H
   • Ali bin Al-Madini wafat 234 H
   • Abu Bakar bin Abi Syaibah Wafat 235 H
   • Ibnu Rahawaih Wafat 238 H
   • Ibnu Qutaibah Wafat 236 H

7. Kemudian murid-muridnya seperti:
   • Al-Bukhari wafat 256 H
   • Muslim wafat 271 H
   • Ibnu Majah wafat 273 H
   • Abu Hatim wafat 277 H
   • Abu Zur’ah wafat 264 H
   • Abu Dawud : wafat 275 H
   • At-Tirmidzi wafat 279
   • An Nasa’i wafat 234 H

8. Generasi berikutnya : orang-orang generasi berikutnya yang
   berjalan di jalan mereka adalah:
   • Ibnu Jarir ath Thabary wafat 310 H
   • Ibnu Khuzaimah wafat 311 H
   • Muhammad Ibn Sa’ad wafat 230 H
   • Ad-Daruquthni wafat 385 H
   • Ath-Thahawi wafat 321 H
   • Al-Ajurri wafat 360 H
   • Ibnu Hibban wafat 342 H
   • Ath Thabarany wafat 360 H
   • Al-Hakim An-Naisaburi wafat 405 H
   • Al-Lalika’i wafat 416 H
   • Al-Baihaqi wafat 458 H
       • Al-Khathib Al-Baghdadi wafat 463 H
       • Ibnu Qudamah Al Maqdisi wafat 620 H

   9. Murid-Murid Mereka :
      • Ibnu Daqiq Al-led wafat 702 H
      • Ibnu Taimiyah wafat 728 H
      • Al-Mizzi wafat 742 H
      • Imam Adz-Dzahabi (wafat 748 H)
      • Imam Ibnul-Qoyyim al-Jauziyyah (wafat 751 H)
      • Ibnu Katsir wafat 774 H
      • Asy-Syathibi wafat 790 H
      • Ibnu Rajab wafat 795 H

   10. Ulama Generasi Akhir :
      • Ash-Shan’ani wafat 1182 H
      • Muhammad bin Abdul Wahhab wafat 1206 H
      • Muhammad Shiddiq Hasan Khan wafat 1307 H
      • Al-Mubarakfuri wafat 1427 H
      • Abdurrahman As-Sa`di wafat 1367 H
      • Ahmad Syakir wafat 1377 H
      • Muhammad bin Ibrahim Alu Asy-Syaikh wafat 1389 H
      • Muhammad Amin Asy-Syinqithi wafat 1393 H
      • Muhammad Nashiruddin Al-Albani wafat 1420 H
      • Abdul Aziz bin Abdillah Baz wafat 1420 H
      • Hammad Al-Anshari wafat 1418 H
      • Hamud At-Tuwaijiri wafat 1413 H
      • Muhammad Al-Jami wafat 1416 H
      • Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin wafat 1423 H
      • Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i wafat 1423 H
      • Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafidhahullah
      • Abdul Muhsin Al-Abbad hafidhahullah
      • Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali hafidhahullah



Para Ulama Salaf Lainnya

Para Ulama Salaf Ahlul Hadits selain yang disebutkan diatas yang masyur
dizamannya antara lain :

   •   Imam Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Sallam (wafat 220H)
   •   Ibnu Abi Syaibah (159-235 H)
   •   Imam Asy Syaukani (172-250 H)
   •   Imam al-Muzanniy (wafat 264H)
   •   Imam Al Ajurri (190-292H)
   •   Imam Al Barbahari (wafat 329 H)
   •   Abdul Qadir Al Jailani (471-561 H)
   •   Al-Hafidh Al Mundziri 581-656H
   •   Imam Nawawi (631-676H)
   •   Imam Ibnul-Qoyyim al-Jauziyyah (wafat 751 H)
   •    Ibnu Hajar Al ‘Asqolani (773-852 H)
   •    Imam As Suyuti (849-911 H)

Para Ulama sekarang yang berjalan diatas As-Sunnah yaitu:

   •    Syaikh Ahmad An-Najmi (1346-1410.H)
   •    Syaikh Abdullah Muhammad IbnHumayd (1329-1402H)
   •    Syaikh Muhammad Aman Al-Jami (1349-1416 H)
   •    Syaikh Muhammad Dhiya`I (1940-1994.M)
   •    Syaikh Abdullah Al Ghudayyan (1345H..H)
   •    Syaikh Ubail Al-Jabiri (1357H..H)
   •    Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin (1349H..H)
   •    Syaikh Salim Bin ‘Ied Al Hilali 1377H/1957M
   •    Syaikh Ali bin Hasan Al Halaby (1380H..H)
   •    Syaikh Abu Ubaidah Masyhur Hasan Salman (1380.H..H)
   •    Syaikh Abdullah Bin Abdirrahim Al-Bukhari
   •    Para Ulama Sekarang lainnya yang berjalan diatas As-
        Sunnah




                                         




       diconvert ke E-Book dalam format PDF oleh Abu Akid As-Singkepy
                      1. Khalifah ar-Rasyidin :

                 Abu Bakar Ash-Shiddiiq (11-13 H)
Nama lengkap beliau adalah Abdullah bin Utsman bin Amir bin Amru bin Ka`ab bin Sa`ad bin Taim
bin Murrah bin Ka`ab bin Lu`ai bin Ghalib bin Fihr al-Qurasy at-Taimi – radhiyallahu`anhu. Bertemu
nasabnya dengan Nabi pada kakeknya Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai. Abu Bakar adalah shahabat
Rasulullah – shalallahu`alaihi was salam – yang telah menemani Rasulullah sejak awal diutusnya
beliau sebagai Rasul, beliau termasuk orang yang awal masuk Islam. Abu Bakar memiliki julukan
“ash-Shiddiq” dan “Atiq”.

Ada yang berkata bahwa Abu Bakar dijuluki “ash-Shiddiq” karena ketika terjadi peristiwa isra` mi`raj,
orang-orang mendustakan kejadian tersebut, sedangkan Abu Bakar langsung membenarkan.

Allah telah mempersaksikan persahabatan Rasulullah dengan Abu Bakar dalam Al-Qur`an, yaitu dalam
firman-Nya : “…sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu
dia berkata kepada sahabatnya: `Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita’.” (QS
at-Taubah : 40)

`Aisyah, Abu Sa’id dan Ibnu Abbas dalam menafsirkan ayat ini mengatakan : “Abu Bakar-lah yang
mengiringi Nabi dalam gua tersebut.”

Allah juga berfirman : “Dan orang yang membawa kebenaran dan membenarkannya, mereka itulah
orang-orang yang bertakwa.” (az-Zumar : 33)

Al-Imam adz-Dzahabi setelah membawakan ayat ini dalam kitabnya al-Kabaa`ir, beliau meriwayatkan
bahwa Ja`far Shadiq berujar :”Tidak ada perselisihan lagi bahwa orang yang datang dengan membawa
kebenaran adalah Rasulullah, sedangkan yang membenarkannya adalah Abu Bakar. Masih adakah
keistimeaan yang melebihi keistimeaannya di tengah-tengah para Shahabat?”

Dari Amru bin al-Ash radhiyallahu`anhu, bahwa Rasulullah mengutusnya atas pasukan Dzatus Salasil :
“Aku lalu mendatangi beliau dan bertanya “Siapa manusia yang paling engkau cintai?” beliau
bersabda :”Aisyah” aku berkata : “kalau dari lelaki?” beliau menjawab : “ayahnya (Abu Bakar)” aku
berkata : “lalu siapa?” beliau menjawab: “Umar” lalu menyebutkan beberapa orang lelaki.”
(HR.Bukhari dan Muslim)

“Sesungguhnya Allah telah menjadikanku sebagai kekasih-Nya, sebagaimana Dia menjadikan Ibrahim
sebagai kekasih-Nya. Dan kalau saja aku mengambil dari umatku sebagai kekasih, akan aku jadikan
Abu Bakar sebagai kekasih.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Sa`id radhiyallahu`anhu, bahwa Rasulullah duduk di mimbar, lalu bersabda
:”Sesungguhnya ada seorang hamba yang diberi pilihan oleh Allah, antara diberi kemewahan dunia
dengan apa yang di sisi-Nya. Maka hamba itu memilih apa yang di sisi-Nya” lalu Abu bakar menangis
dan menangis, lalu berkata :”ayah dan ibu kami sebagai tebusanmu” Abu Sa`id berkata : “yang
dimaksud hamba tersebut adalah Rasulullah, dan Abu Bakar adalah orang yang paling tahu diantara
kami” Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya orang yang paling banyak memberikan perlindungan
kepadaku dengan harta dan persahabatannya adalah Abu Bakar. Andaikan aku boleh mengambil
seorang kekasih (dalam riwayat lain ada tambahan : “selain rabb-ku”), niscaya aku akan mengambil
Abu Bakar sebagai kekasihku. Tetapi ini adalah persaudaraan dalam Islam. Tidak ada di dalam masjid
sebuah pintu kecuali telah ditutup, melainkan hanya pintu Abu Bakar saja (yang masih terbuka).” (HR.
Bukhari dan Muslim)

Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya Allah telah mengutusku kepada kalian semua. Namun kalian
malah berkata `kamu adalah pendusta’. Sedangkan Abu Bakar membenarkan (ajaranku). Dia telah
membantuku dengan jiwa dan hartanya. Apakah kalian akan meninggalkan aku (dengan meninggalkan)
shahabatku?” Rasulullah mengucapkan kalimat itu 2 kali. Sejak itu Abu bakar tidak pernah disakiti
(oleh seorangpun dari kaum muslimin). (HR. Bukhari)




Masa Kekhalifahan

Dalam riwayat al-Bukhari diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu`anha, bahwa ketika Rasulullah wafat,
Abu Bakar datang dengan menunggang kuda dari rumah beliau yang berada di daerah Sunh. Beliau
turun dari hewan tunggangannya itu kemudian masuk ke masjid. Beliau tidak mengajak seorang pun
untuk berbicara sampai akhirnya masuk ke dalam rumah Aisyah. Abu Bakar menyingkap wajah
Rasulullah yang ditutupi dengan kain kemudian mengecup keningnya. Abu Bakar pun menangis
kemudian berkata : “demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, Allah tidak akan menghimpun dua
kematian pada dirimu. Adapun kematian yang telah ditetapkan pada dirimu, berarti engkau memang
sudah meninggal.”Kemudian Abu Bakar keluar dan Umar sedang berbicara dihadapan orang-orang.
Maka Abu Bakar berkata : “duduklah wahai Umar!” Namun Umar enggan untuk duduk. Maka orang-
orang menghampiri Abu Bakar dan meninggalkan Umar. Abu Bakar berkata : “Amma bad`du, barang
siapa diantara kalian ada yang menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah mati.
Kalau kalian menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Hidup dan tidak akan pernah mati.
Allah telah berfirman :

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang
rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? barangsiapa yang
berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah
akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS Ali Imran : 144)

Ibnu Abbas radhiyallahu`anhuma berkata : “demi Allah, seakan-akan orang-orang tidak mengetahui
bahwa Allah telah menurunkan ayat ini sampai Abu Bakar membacakannya. Maka semua orang
menerima ayat Al-Qur`an itu, tak seorangpun diantara mereka yang mendengarnya melainkan
melantunkannya.”

Sa`id bin Musayyab rahimahullah berkata : bahwa Umar ketika itu berkata : “Demi Allah, sepertinya
aku baru mendengar ayat itu ketika dibaca oleh Abu Bakar, sampai-sampai aku tak kuasa mengangkat
kedua kakiku, hingga aku tertunduk ke tanah ketika aku mendengar Abu Bakar membacanya. Kini aku
sudah tahu bahwa nabi memang sudah meninggal.”

Dalam riwayat al-Bukhari lainnya, Umar berkata : “maka orang-orang menabahkan hati mereka sambil
tetap mengucurkan air mata. Lalu orang-orang Anshor berkumpul di sekitar Sa`ad bin Ubadah yang
berada di Saqifah Bani Sa`idah” mereka berkata : “Dari kalangan kami (Anshor) ada pemimpin,
demikian pula dari kalangan kalian!” maka Abu Bakar, Umar dan Abu Ubaidah bin al-Jarroh
mendekati mereka. Umar mulai bicara, namun segera dihentikan Abu Bakar. Dalam hal ini Umar
berkata : “Demi Allah, yang kuinginkan sebenarnya hanyalah mengungkapkan hal yang menurutku
sangat bagus. Aku khawatir Abu Bakar tidak menyampaikannya” Kemudian Abu Bakar bicara,
ternyata dia orang yang terfasih dalam ucapannya, beliau berkata : “Kami adalah pemimpin, sedangkan
kalian adalah para menteri.” Habbab bin al-Mundzir menanggapi : “Tidak, demi Allah kami tidak akan
melakukannya, dari kami ada pemimpin dan dari kalian juga ada pemimpin.” Abu Bakar menjawab :
“Tidak, kami adalah pemimpin, sedangkan kalian adalah para menteri. Mereka (kaum Muhajirin)
adalah suku Arab yang paling adil, yang paling mulia dan paling baik nasabnya. Maka baiatlah Umar
atau Abu Ubaidah bin al-Jarroh.”Maka Umar menyela : “Bahkan kami akan membai`atmu. Engkau
adalah sayyid kami, orang yang terbaik diantara kami dan paling dicintai Rasulullah.” Umar lalu
memegang tangan Abu Bakar dan membai`atnya yang kemudian diikuti oleh orang banyak. Lalu ada
seorang yang berkata : “kalian telah membunuh (hak khalifah) Sa`ad (bin Ubadah).” Maka Umar
berkata : “Allah yang telah membunuhnya.” (Riwayat Bukhari)

Menurut `ulama ahli sejarah, Abu Bakar menerima jasa memerah susu kambing untuk penduduk desa.
Ketika beliau telah dibai`at menjadi khalifah, ada seorang wanita desa berkata : “sekarang Abu Bakar
tidak akan lagi memerahkan susu kambing kami.” Perkataan itu didengar oleh Abu Bakar sehingga dia
berkata : “tidak, bahkan aku akan tetap menerima jasa memerah susu kambing kalian. Sesungguhnya
aku berharap dengan jabatan yang telah aku sandang sekarang ini sama sekali tidak merubah
kebiasaanku di masa silam.” Terbukti, Abu Bakar tetap memerahkan susu kambing-kambing mereka.

Ketika Abu Bakar diangkat sebagai khalifah, beliau memerintahkan Umar untuk mengurusi urusan haji
kaum muslimin. Barulah pada tahun berikutnya Abu Bakar menunaikan haji. Sedangkan untuk ibadah
umroh, beliau lakukan pada bulan Rajab tahun 12 H. beliau memasuki kota Makkah sekitar waktu
dhuha dan langsung menuju rumahnya. Beliau ditemani oleh beberapa orang pemuda yang sedang
berbincang-bincang dengannya. Lalu dikatakan kepada Abu Quhafah (Ayahnya Abu Bakar) : “ini
putramu (telah datang)!”

Maka Abu Quhafah berdiri dari tempatnya. Abu Bakar bergegas menyuruh untanya untuk bersimpuh.
Beliau turun dari untanya ketika unta itu belum sempat bersimpuh dengan sempurna sambil berkata :
“wahai ayahku, janganlah anda berdiri!” Lalu Abu Bakar memeluk Abu Quhafah
dan mengecup keningnya. Tentu saja Abu Quhafah menangis sebagai luapan rasa bahagia dengan
kedatangan putranya tersebut.

Setelah itu datanglah beberapa tokoh kota Makkah seperti Attab bin Usaid, Suhail bin Amru, Ikrimah
bin Abi Jahal, dan al-Harits bin Hisyam. Mereka semua mengucapkan salam kepada Abu Bakar :
“Assalamu`alaika wahai khalifah Rasulullah!” mereka semua menjabat tangan Abu Bakar. Lalu Abu
Quhafah berkata : “wahai Atiq (julukan Abu Bakar), mereka itu adalah orang-orang (yang baik). Oleh
karena itu, jalinlah persahabatan yang baik dengan mereka!” Abu Bakar berkata : “Wahai ayahku, tidak
ada daya dan upaya kecuali hanya dengan pertolongan Allah. Aku telah diberi beban yang sangat berat,
tentu saja aku tidak akan memiliki kekuatan untuk menanggungnya kecuali hanya dengan pertolongan
Allah.” Lalu Abu Bakar berkata : “Apakah ada orang yang akan mengadukan sebuah perbuatan
dzalim?” Ternyata tidak ada seorangpun yang datang kepada Abu Bakar untuk melapor sebuah
kedzaliman. Semua orang malah menyanjung pemimpin mereka tersebut.

Wafatnya

Menurut para `ulama ahli sejarah Abu Bakar meninggal dunia pada malam selasa, tepatnya antara
waktu maghrib dan isya pada tanggal 8 Jumadil awal 13 H. Usia beliau ketika meninggal dunia adalah
63 tahun. Beliau berwasiat agar jenazahnya dimandikan oleh Asma` binti Umais, istri beliau.
Kemudian beliau dimakamkan di samping makam Rasulullah. Umar mensholati jenazahnya diantara
makam Nabi dan mimbar (ar-Raudhah). Sedangkan yang turun langsung ke dalam liang lahat adalah
putranya yang bernama Abdurrahman (bin Abi Bakar), Umar, Utsman, dan Thalhah bin Ubaidillah.

Sumber :

-Al-Bidayah wan Nihayah, Masa Khulafa’ur Rasyidin Tartib wa Tahdzib Kitab al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir. -
Shifatush-Shofwah karya Ibnul Jauzi. Tahdzib Syarh Ath-Thahawiyah -Al-Kabaa`ir karya Adz-Dzahabi.




                                                            
               ‘Umar bin al-Khaththab (wafat 23 H)
Nama lengkapnya adalah Umar bin Khaththab bin Nufail bin Abdul Izzy bin Rabah bin Qirath bin
Razah bin Adi bin Ka’ab bin Luay al-Quraisy al-‘Adawy. Terkadang dipanggil dengan Abu Hafash dan
digelari dengan al-Faruq. Ibunya bernama Hantimah binti Hasyim bin al-Muqhirah al-Makhzumiyah.

Awal Keislamanya.

Umar masuk Islam ketika para penganut Islam kurang lebih sekitar 40 (empat puluh) orang terdiri dari
laki-laki dan perempuan.

Imam Tirmidzi, Imam Thabrani dan Hakim telah meriwayatkan dengan riwayat yang sama bahwa Nabi
Shallallahu ‘alaihi wassalam telah berdo’a,” Ya Allah, muliakanlah agama Islam ini dengan orang
yang paling Engkau cintai diantara kedua orang ini, yaitu Umar bin al-Khaththab atau Abu Jahal
‘Amr bin Hisyam.”.

Berkenaan dengan masuknya Umar bin al-Khaththab ke dalam Islam yang diriwayatkan oleh Ibnu
Sa’ad yang diungkap oleh Imam Suyuti dalam kitab “ Tarikh al-Khulafa’ ar-Rasyidin” sebagai berikut:

Anas bin Malik berkata:” Pada suatu hari Umar keluar sambil menyandang pedangnya, lalu Bani
Zahrah bertanya” Wahai Umar, hendak kemana engkau?,” maka Umar menjawab, “ Aku hendak
membunuh Muhammad.” Selanjutnya orang tadi bertanya:” Bagaimana dengan perdamaian yang telah
dibuat antara Bani Hasyim dengan Bani Zuhrah, sementara engkau hendak membunuh Muhammad”.

Lalu orang tadi berkata,” Tidak kau tahu bahwa adikmu dan saudara iparmu telah meninggalkan
agamamu”. Kemudian Umar pergi menuju rumah adiknya dilihatnya adik dan iparnya sedang
membaca lembaran Al-Quran, lalu Umar berkata, “barangkali keduanya benar telah berpindah
agama”,. Maka Umar melompat dan menginjaknya dengan keras, lalu adiknya (Fathimah binti
Khaththab) datang mendorong Umar, tetapi Umar menamparnya dengan keras sehingga muka adiknya
mengeluarkan darah.

Kemudian Umar berkata: “Berikan lembaran (al-Quran) itu kepadaku, aku ingin membacanya”, maka
adiknya berkata.” Kamu itu dalam keadaan najis tidak boleh menyentuhnya kecuali kamu dalam
keadaan suci, kalau engaku ingin tahu maka mandilah (berwudhulah/bersuci).”. Lalu Umar berdiri dan
mandi (bersuci) kemudian membaca lembaran (al-Quran) tersebut yaitu surat Thaha sampai ayat,”
Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada tuhanselain Aku, maka sembahlah Aku dirikanlah
Shalat untuk mengingatku.” (Qs.Thaha:14). Setelah itu Umar berkata,” Bawalah aku menemui
Muhammad.”.

Mendengar perkataan Umar tersebut langsung Khabbab keluar dari sembunyianya seraya
berkata:”Wahai Umar, aku merasa bahagia, aku harap do’a yang dipanjatkan Nabi pada malam kamis
menjadi kenyataan, Ia (Nabi) berdo’a “Ya Allah, muliakanlah agama Islam ini dengan orang yang
paling Engkau cintai diantara kedua orang ini, yaitu Umar bin al-Khaththab atau Abu Jahal ‘Amr bin
Hisyam.”.

Lalu Umar berangkat menuju tempat Muhammad Shallallahu alaihi wassalam, didepan pintu berdiri
Hamzah, Thalhah dan sahabat lainnya. Lalu Hamzah seraya berkata,” jika Allah menghendaki
kebaikan baginya, niscaya dia akan masuk Islam, tetapi jika ada tujuan lain kita akan membunuhnya”.
Lalu kemudian Umar menyatakan masuk Islam dihadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam.

Lalu bertambahlah kejayaan Islam dan Kaum Muslimin dengan masuknya Umar bin Khaththab,
sebagaimana ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ibnu Mas’ud, seraya berkata,” Kejayaan kami
bertambah sejak masuknya Umar.”.
Umar turut serta dalam peperangan yang dilakukan bersama Rasulullah, dan tetap bertahan dalam
perang Uhud bersama Rasulullah sebagaimana dijelaskan oleh Imam Suyuthi dalam “Tarikh al-
Khulafa’ar Rasyidin”.

Rasulullah memberikan gelar al-Faruq kepadanya, sebagaimana ini diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dari
Dzakwan, seraya dia berkata,” Aku telah bertanya kepada Aisyah, “ Siapakah yang memanggil Umar
dengan nama al-Faruq?”, maka Aisyah menjawab “Rasulullah”.

Hadist Imam Bukhari dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda:” Sungguh telah ada dari umat-umat
sebelum kamu para pembaharu, dan jika ada pembaharu dari umatku niscaya ‘Umarlah orangnya”.
Hadist ini dishahihkan oleh Imam Hakim. Demikian juga Imam Tirmidzi telah meriwayatkan dari
Uqbah bin Amir bahwa Nabi bersabda,” Seandainya ada seorang Nabi setelahku, tentulah Umar bin
al-Khaththab orangnya.”.

Diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Ibnu Umar dia berkata,” Nabi telah bersabda:”Sesungguhnya Allah
telah mengalirkan kebenaran melalui lidah dan hati Umar”. Anaknya Umar (Abdullah) berkata,” Apa
yang pernah dikatakan oleh ayahku (Umar) tentang sesuatu maka kejadiannya seperti apa yang
diperkirakan oleh ayahku”.

Keberaniannya

Riwayat dari Ibnu ‘Asakir telah meriwayatkan dari Ali, dia berkata,” Aku tidak mengetahui seorangpun
yang hijrah dengan sembunyi sembunyi kecuali Umar bi al-Khaththab melakukan dengan terang
terangan”. Dimana Umar seraya menyandang pedang dan busur anak panahnya di pundak lalu dia
mendatangi Ka’bah dimana kaum Quraisy sedang berada di halamannya, lalu ia melakukan thawaf
sebanyak 7 kali dan mengerjakan shalat 2 rakaat di maqam Ibrahim.

Kemudian ia mendatangi perkumpulan mereka satu persatu dan berkata,” Barang siapa orang yang
ibunya merelakan kematiannya, anaknya menjadi yatim dan istrinya menjadi janda, maka temuilah
aku di belakang lembah itu”. Kesaksian tersebut menunjukan keberanian Umar bin Khaththab
Radhiyallahu’Anhu.

Wafatnya

Pada hari rabu bulan Dzulhijah tahun 23 H ia wafat, ia ditikam ketika sedang melakukan Shalat Subuh
beliau ditikam oleh seorang Majusi yang bernama Abu Lu’luah budak milik al-Mughirah bin Syu’bah
diduga ia mendapat perintah dari kalangan Majusi. Umar dimakamkan di samping Nabi dan Abu Bakar
ash Shiddiq, beliau wafat dalam usia 63 tahun.

     Disalin dari Biografi Umar Ibn Khaththab dalam Tahbaqat Ibn Sa’ad, Tarikh al-Khulafa’ar Rasyidin Imam Suyuthi




                                                           
                    Utsman bin ‘Affan (Wafat 35 H)
Nama lengkapnya adalah ‘Utsman bin Affanbin Abi Ash bin Umayah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf
al Umawy al Qurasy, pada masa Jahiliyah ia dipanggil dengan Abu ‘Amr dan pada masa Islam nama
julukannya (kunyah) adalah Abu ‘Abdillah. Dan juga ia digelari dengan sebutan “Dzunnuraini”,
dikarenakan beliau menikahi dua puteri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam yaitu Ruqayah dan
Ummu Kaltsum. Ibunya bernama Arwa’ bin Kuraiz bin Rabi’ah bin Habib bin ‘Abdi Syams yang
kemudian menganut Islam yang baik dan teguh.

Keutamaannya

Imam Muslim telah meriwayatkan dari ‘Aisyah, seraya berkata,” Pada suatu hari Rasulullah sedang
duduk dimana paha beliau terbuka, maka Abu Bakar meminta izin kepada beliau untuk menutupinya
dan beliau mengizinkannya, lalu paha beliau tetap dalam keadaan semula (terbuka). Kemudian Umar
minta izin untuk menutupinya dan beliau mengizinkannnya, lalu paha beliau tetap dalam keadaan
semula (terbuka), ketika Utsman meminta izin kepada beliau, amaka beliau melepaskan pakaiannya
(untuk menutupi paha terbuka). Ketika mereka telah pergi, maka aku (Aisyah) bertanya,”Wahai
Rasulullah, Abu Bakar dan Umar telah meminta izin kepadamu untuk menutupinya dan engkau
mengizinkan keduanya, tetapi engkau tetap berada dalam keadaan semula (membiarkan pahamu
terbuka), sedangkan ketika Utsman meminta izin kepadamu, maka engkau melepaskan pakainanmu
(dipakai untuk menutupinya). Maka Rasulullah menjawab,” Wahai Aisyah, Bagaimana aku tidak
merasa malu dari seseorang yang malaikat saja merasa malu kepadanya”.

Ibnu ‘Asakir dan yang lainnya menjelaskan dalam kitab “Fadhail ash Shahabah” bahwa Ali bin Abi
Thalib ditanya tentang Utsman, maka beliau menjawab,” Utsman itu seorang yang memiliki kedudukan
yang terhormat yang dipanggil dengan Dzunnuraini, dimana Rasulullah menikahkannya dengan kedua
putrinya.

Perjalanan hidupnya

Perjalanan hidupnya yang tidak pernah terlupakan dalam sejarah umat islam adalah beliau
membukukan Al-Qura’an dalam satu versi bacaan dan membuat beberapa salinannya yang dikirim
kebeberapa negeri negeri Islam. Serta memerintahkan umat Islam agar berpatokan kepadanya dan
memusnahkan mushaf yang dianggap bertentangan dengan salinan tersebut. Atas Izin allah Subhanahu
wa ta’ala, melalui tindakan beliau ini umat Islam dapat memelihara ke autentikan Al-Qur’an samapai
sekarang ini. Semoga Allah membalasnya dengan balasan yang terbaik.

Diriwayatkan dari oleh Imam Ahmad bin Hanbal dalam kitab Musnadnya dari yunus bahwa ketika al
Hasan ditanya tentang orang yang beristirahat pada waktu tengah hari di masjid ?. maka ia
menjawab,”Aku melihat Utsman bin Affan beristirahat di masjid, padahal beliau sebagai Khalifah, dan
ketika ia berdiri nampak sekali bekas kerikil pada bagian rusuknya, sehingga kami berkata,” Ini amirul
mukminin, Ini amirul mukminin..”

Diriwayatkan oleh Abu Na’im dalam kitabnya “Hulyah al Auliyah” dari Ibnu Sirin bahwa ketika
Utsman terbunuh, maka isteri beliau berkata,” Mereka telah tega membunuhnya, padahal mereka telah
menghidupkan seluruh malam dengan Al-Quran”.

Ibnu Abi Hatim telah meriwayatkan dari Abdullah bin Umar, seraya ia berkata dengan firman Allah”.
“(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-
waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan
rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang
tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (Qs Az-
Zumar:9) yang dimaksud adalah Utsman bin Affan.
WafatnyaIa wafat pada tahun 35 H pada pertengahan tasyriq tanggal 12 Dzul Hijjah, dalam usia 80
tahun lebih, dibunuh oleh kaum pemberontak (Khawarij).

Diringkas dari Biografi Utsman bin affan dalam kitab Al ‘ilmu wa al Ulama Karya Abu Bakar al Jazairy. Penerbit Daar al Kutub
as Salafiyyah. Cairo. ditulis tanggal 5 Rab’ul Awal di Madinah al Nabawiyah.




                                                             
                                 Ali bin Abi Thalib
Khalifah keempat (terakhir) dari al-Khulafa’ ar-Rasyidun (empat khalifah besar); orang pertama yang
masuk Islam dari kalangan anak-anak; sepupu Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam yang kemudian
menjadi menantunya. Ayahnya, Abu Talib bin Abdul Muttalib bin Hasyim bin Abd Manaf, adalah
kakak kandung ayah Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam, Abdullah bin Abdul Muttalib. Ibunya bernama
Fatimah binti As’ad bin Hasyim bin Abd Manaf. Sewaktu lahir ia diberi nama Haidarah oleh ibunya.
Nama itu kemudian diganti ayahnya dengan Ali.

Ketika berusia 6 tahun, ia diambil sebagai anak asuh oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam,
sebagaimana Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam pernah diasuh oleh yahnya. ada waktu Muhammad
Shallallahu Alaihi Wassalam diangkat menjadi rasul, Ali baru menginjak usia 8 tahun. Ia adalah orang
kedua yang menerima dakwah Islam, setelah Khadijah binti Khuwailid, istri Nabi Shallallahu Alaihi
Wassalam.                              Sejak                        itu                            ia
selalu bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam, taat kepadanya, dan banyak menyaksikan
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam menerima wahyu. Sebagai anak asuh Rasulullah Shallallahu
Alaihi Wassalam, ia banyak menimba ilmu mengenai rahasia ketuhanan maupun segala persoalan
keagamaan secara teoretis dan praktis.

Sewaktu Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam hijrah ke Madinah bersama Abu Bakar as-Siddiq, Ali
diperintahkan untuk tetap tinggal di rumah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam dan tidur di tempat
tidurnya. Ini dimaksudkan untuk memperdaya kaum Kuraisy, supaya mereka menyangka bahwa Nabi
Shallallahu Alaihi Wassalam masih berada di rumahnya. Ketika itu kaum quraisy merencanakan untuk
membunuh Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam. Ali juga ditugaskan untuk mengembalikan sejumlah
barang
titipan kepada pemilik masing-masing. Ali mampu melaksanakan tugas yang penuh resiko itu dengan
sebaik-baiknya tanpa sedikit pun merasa takut. Dengan cara itu Rasulullah Shallallahu Alaihi
Wassalam dan Abu Bakar selamat meninggalkan kota Mekah tanpa diketahui oleh kaum Kuraisy.

Setelah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam dan Abu Bakar telah sampai ke Madinah,
Ali pun menyusul ke sana. Di Madinah, ia dikawinkan dengan Fatimah az-Zahra, putri Rasulullah
Shallallahu Alaihi Wassalam, yang ketika itu (2 H) berusia 15 tahun. Ali menikah dengan 9 wanita dan
mempunyai 19 orang putra-putri. Fatimah adalah istri pertama. Dari Fatimah, Ali mendapat dua putra
dan dua putri, yaitu Hasan, Husein, Zainab, dan Ummu Kulsum yang kemudian diperistri oleh Umar
bin Khattab. Setelah Fatimah wafat, Ali menikah lagi berturut-turut dengan:

Ummu Bamin binti Huzam dari Bani Amir bin Kilab, yang melahirkan empat putra, yaitu Abbas,
Ja’far, Abdullah, dan Usman. Laila binti Mas’ud at-Tamimiah, yang melahirkan dua putra, yaitu
Abdullah                                                                                      dan
Abu Bakar. Asma binti Umair al-Kuimiah, yang melahirkan dua putra, yaitu Yahya dan Muhammad.
As-Sahba binti Rabi’ah dari Bani Jasym bin Bakar, seorang janda dari Bani Taglab, yang melahirkan
dua nak, Umar dan Ruqayyah; Umamah binti Abi Ass bin ar-Rabb, putri Zaenab binti Rasulullah
Shallallahu Alaihi Wassalam, yang melahirkan satu anak, yaitu Muhammad. Khanlah binti Ja’far al-
Hanafiah, yang melahirkan seorang putra, yaitu Muhammad (al-Hanafiah). Ummu Sa’id binti Urwah
bin Mas’ud, yang melahirkan dua anak, yaitu Ummu al-Husain dan Ramlah. Mahyah binti Imri’ al-
Qais al-Kalbiah, yang melahirkan seorang anak bernama Jariah.

Ali dikenal sangat sederhana dan zahid dalam kehidupan sehari-hari. Tidak tampak perbedaan dalam
kehidupan rumah tangganya antara sebelum dan sesudah diangkat sebagai khalifah. Kehidupan
sederhana itu bukan hanya diterapkan kepada dirinya, melainkanj uga kepada putra-putrinya.

Ali terkenal sebagai panglima perang yang gagah perkasa. Keberaniannya

menggetarkan hati lawan-lawannya. Ia mempunyai sebilah pedang (warisan dari Nabi Shallallahu
Alaihi Wassalam) bernama “Zul Faqar”. Ia turut-serta pada hampir semua peperangan yang terjadi di
masa Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam dan selalu menjadi andalan pada barisan terdepan.
Ia juga dikenal cerdas dan menguasai banyak masalah keagamaan secara mendalam, sebagaimana
tergambar dari sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam, “Aku kota ilmu pengetahuan sedang Ali pintu
gerbangnya.” Karena itu, nasihat dan fatwanya selalu didengar para khalifah sebelumnya. Ia selalu
ditempatkan pada jabatan kadi atau mufti. Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam wafat, Ali
menunggui jenazahnya dan mengurus pemakamannya, sementara sahabat-sahabat lainnya sibuk
memikirkan soal pengganti Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam. Setelah Abu Bakar terpilih menjadi
khalifah pengganti Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam dalam mengurus negara dan umat Islam, Ali
tidak segera membaiatnya. Ia baru membaiatnya beberapa bulan kemudian.

Pada akhir masa pemerintahan Umar bin Khattab, Ali termasuk salah seorang yang ditunjuk menjadi
anggota Majlis asy-Syura, suatu forum yang membicarakan soal penggantian khalifah. Forum ini
beranggotakan enam orang. Kelima orang lainnya adalah Usman bin Affan, Talhah bin Ubaidillah,
Zubair bin Awwam, Sa’d bin Abi Waqqas, dan Abdur Rahman bin Auf. Hasil musyawarah
menentukan Usman bin Affan sebagai khalifah pengganti Umar bin Khattab.

Pada masa pemerintahan Usman bin Affan, Ali banyak mengeritik kebijaksanaannya yang dinilai
terlalu memperhatikan kepentingan keluarganya (nepotisme). Ali menasihatinya agar bersikap tegas
terhadap kaum kerabatnya yang melakukan penyelewengan dengan mengatasnamakan dirinya. Namun,
semua nasihat itu tidak diindahkannya. Akibatnya, terjadilah suatu peristiwa berdarah yang berakhir
dengan terbunuhnya Usman.

Kritik Ali terhadap Usman antara lain menyangkut Ubaidillah bin Umar, yang menurut Ali harus
dihukum hadd (beberapa jenis hukuman dalam fikih) sehubungan dengan pembunuhan yang
dilakukannya terhadap Hurmuzan. Usman juga dinilai keliru ketika ia tidak melaksanakan hukuman
cambuk terhadap Walib bin Uqbah yang kedapatan mabuk. Cara Usman memberi hukuman kepada
Abu Zarrah juga tidak disetujui Ali.

Usman meminta bantuan kepada Ali ketika ia sudah dalam keadaan terdesak akibat protes dan huru-
hara yang dilancarkan oleh orang-orang yang tidak setuju kepadanya. Sebenarnya, ketika rumah
Usman dikepung oleh kaum pemberontak, Ali memerintahkan kedua putranya, Hasan dan Husein,
untuk membela Usman. Akan tetapi karena pemberontak berjumlah besar dan sudah kalap, Usman
tidak dapat diselamatkan.

Segera setelah terbunuhnya Usman, kaum muslimin meminta kesediaan Ali untuk dibaiat menjadi
khalifah. Mereka beranggapan bahwa kecuali Ali, tidak ada lagi orang yang patut menduduki kursi
khalifah setelah Usman. Mendengar permintaan rakyat banyak itu, Ali berkata, “Urusan ini bukan
urusan                           kalian.                         Ini                        adalah
perkara yang teramat penting, urusan tokoh-tokoh Ahl asy-Syura bersama para pejuang Perang Badr.”

Dalam suasana yang masih kacau, akhirnya Ali dibaiat. Pembaiatan dimulai oleh sahabat-sahabat
besar, yaitu Talhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Sa’d bin Abi Waqqas, dan para sahabat
lainnya. Mereka diikuti oleh rakyat banyak. Pembaiatan dilakukan pada tanggal 25 Zulhijah 33 di
Masjid                                      Madinah                                      seperti
pembaiatan para khalifah pendahulunya. Segera setelah dibaiat, Ali mengambil langkah-langkah
politik, yaitu:

Memecat para pejabat yang diangkat Usman, termasuk di dalamnya beberapa

gubernur, dan menunjuk penggantinya. Mengambil tanah yang telah dibagikan Usman kepada keluarga
dan kaum kerabatnya tanpa alasan kedudukan sebagai khalifah sampai terbunuh pada tahun 661.

Pemberontakan ketiga datang dari Aliran Khawarij, yang semula merupakan bagian dari pasukan Ali
dalam menumpas pemberontakan Mu’awiyah, tetapi kemudian keluar dari barisan Ali karena tidak
setuju atas sikap Ali yang menerima tawaran berdamai dari pihak Mu’awiyah. Karena mereka keluar
dari barisan Ali, mereka disebut “Khawarij” (orang-orang yang keluar). Jumlah mereka ribuan orang.
Dalam keyakinan mereka, Ali adalah amirulmukminin dan mereka yang setuju untuk bertahkim telah
melanggar ajaran agama. Menurut mereka, hanya Tuhan yang berhak menentukan hukum, bukan
manusia. Oleh sebab itu, semboyan mereka adalah Id hukma ilia bi Allah (tidak ada hukum kecuali
bagi Allah). Ali dan sebagian pasukannya dinilai telah berani membuat keputusan hukum, yaitu
berunding dengan lawan. Kelompok Khawarij menyingkir ke Harurah, sebuah desa dekat Kufah.
Mereka mengangkat pemimpin sendiri, yaitu Syibis bin Rub’it at-Tamimi sebagai panglima angkatan
perang dan Abdullah bin Wahhab ar-Rasibi sebagai pemimpin keagamaan. Di Harurah mereka segera
menyusun kekuatan untuk menggempur Ali dan orang-orang yang menyetujui tahkim, termasuk di
dalamnya Mu’awiyah, Amr bin As, dan Abu Musa al-Asy’ari. Kegagalan Ali dalam tahkim menambah
semangat mereka untuk mewujudkan maksud mereka.

Posisi Ali menjadi serba sulit. Di satu pihak, ia ingin menghancurkan Mu’awiyah yang semakin kuat di
Syam; di pihak lain, kekuatan Khawarij akan menjadi sangat berbahaya jika tidak segera ditumpas.
Akhirnya Ali mengambil keputusan untuk menumpas kekuatan Khawarij terlebih dahulu, baru
kemudian menyerang Syam. Tetapi tercurahnya perhatian Ali untuk menghancurkan kelompok
Khawarij dimanfaatkan Mu’awiyah untuk merebut Mesir.

Pertempuran sengit antara pasukan Ali dan pasukan Khawarij terjadi di Nahrawan (di sebelah timur
Baghdad) pada tahun 658, dan berakhir dengan kemenangan di pihak Ali. Kelompok Khawarij berhasil
dihancurkan, hanya sebagian kecil yang dapat meloloskan diri. Pemimpin mereka, Abdullah bin
Wahhab ar-Rasibi, ikut terbunuh.

Sejak itu, kaum Khawarij menjadi lebih radikal. Kekalahan di Nahrawan menumbuhkan dendam di hati
mereka. Secara diam-diam kaum Khawarij merencanakan untuk membunuh tiga orang yang dianggap
sebagai biang keladi perpecahan umat, yaitu Ali, Mu’awiyah, dan Amr bin As. Pembunuhnya
ditetapkan tiga orang, yaitu: Abdur Rahman bin Muljam ditugaskan membunuh Ali di Kufah, Barak
bin Abdillah at-Tamimi ditugaskan membunuh Mu’awiyah di Syam, dan Amr bin Bakar at-Tamimi
ditugaskan pembunuh Amr bin As di Mesir. Hanya Ibnu Muljam yang berhasil menunaikan tugasnya.
Ia menusuk Ali dengan pedangnya ketika Ali akan salat subuh di Masjid Kufah. Ali mengembuskan
napas terakhir setelah memegang tampuk pimpinan sebagai khalifah selama lebih-kurang 4 tahun.




                                                 
                                       2. Al-Abadillah :


                       Abdullah bin Umar (Wafat 72 H)
Periwayatan paling banyak berikutnya sesudah Abu Hurairah adalah Abdullah bin Umar. Ia
meriwayatkan 2.630 hadits.

Abdullah adalah putra khalifah ke dua Umar bin al-Khaththab saudarah kandung Sayiyidah Hafshah
Ummul Mukminin. Ia salahseorang diantara orang-orang yang bernama Abdullah (Al-Abadillah al-
Arba’ah) yang terkenal sebagai pemberi fatwa. Tiga orang lain ialah Abdullah bin Abbas, Abdullah bin
Amr bin al-Ash dan Abdullah bin az-Zubair.

Ibnu Umar dilahirkan tidak lama setelah Nabi diutus Umurnya 10 tahun ketika ikut masuk bersama
ayahnya. Kemudian mendahului ayahnya ia hijrah ke Madinah. Pada saat perang Uhud ia masih terlalu
kecil untuk ikut perang. Dan tidak mengizinkannya. Tetapi setelah selesai perang Uhud ia banyak
mengikuti peperangan, seperti perang Qadisiyah, Yarmuk, Penaklukan Afrika, Mesir dan Persia, serta
penyerbuan basrah dan Madain.

Az-Zuhri tidak pernah meninggalkan pendapat Ibnu Umar untuk beralih kepada pendapat orang lain.
Imam Malik

dan az-Zuhri berkata:” Sungguh, tak ada satupun dari urusan Rasulullah dan para sahabatnya yang
tersembunyi bagi Ibnu Umar”. Ia meriwayatkan hadits dari Abu Bakar, Umar, Utsman, Sayyidah
Aisyah, saudari kandungnya Hafshah dan Abdullah bin Mas’ud. Yang meriwayatkan dari Ibnu Umar
banyak sekali, diantaranya Sa’id bin al-Musayyab, al Hasan al Basri, Ibnu Syihab az-Zuhri, Ibnu Sirin,
Nafi’, Mujahid, Thawus dan Ikrimah.

Ia wafat pada tahun 73 H. ada yang mengatakan bahwa Al-Hajjaj menyusupkan seorang kerumahnya
yang lalu membunuhnya. Dikatakan mula mula diracun kemudian di tombak dan di rejam. Pendapat
lain mengatakan bahwa ibnu Umar meninggal secara wajar.

Sanad paling shahih yang bersumber dari ibnu Umar adalah yang disebut Silsilah adz- Dzahab (silsilah
emas), yaitu Malik, dari Nafi’, dari Abdullah bin Umar. Sedang yang paling Dlaif : Muhammad bin
Abdullah bin al-Qasim dari bapaknya, dari kakeknya, dari ibnu Umar.

Disalin dari Biografi Ibnu Umar dalam Al-Ishabah no.4825 dan Tahdzib al-Asma’ 1/278, Thabaqat Ibn Sa’ad 4/105




                                                            
                       Abdullah bin Abbas (wafat 68 H)
Abdullah bin Abbas adalah sahabat kelima yang banyak meriwayatkan hadist sesudah Sayyidah
Aisyah, ia meriwayatkan 1.660 hadits. Dia adalah putera Abbas bin Abdul Mutthalib bin Hasyim,
paman Rasulullah dan ibunya adalah Ummul Fadl Lababah binti harits saudari ummul mukminin
Maimunah.

Sahabat yang mempunyai kedudukan yang sangat terpandang ini dijuluki dengan Informan Umat
Islam. Beliaulah asal silsilah khalifah Daulat Abbasiah. Dia dilahirkan di Mekah dan besar di saat
munculnya Islam, di mana beliau terus mendampingi Rasulullah sehingga beliau mempunyai banyak
riwayat hadis sahih dari Rasulullah . Beliau ikut di barisan Ali bin Abi Thalib dalam perang Jamal dan
perang Shiffin. Beliau ini adalah pakar fikih, genetis Arab, peperangan dan sejarah. Di akhir hidupnya
dia mengalami kebutaan, sehingga dia tinggal di Taif sampai akhir hayatnya.

Abdullah lahir tiga tahun sebelum hijrah dan Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam mendoakannya “Ya
Allah berilah ia pengertian dalam bidang agama dan berilah ia pengetahuan takwil (tafsir)”.Allah
mengabulkan doa Nabi-nya dan Ibnu Abbas belakangan terkenal dengan penguasaan ilmunya yang
luas dan pengetahuan fikihnya yang mendalam , menjadikannya orang yang dicari untuk di mintai
fatwa penting sesudah Abdullah bin Mas’ud, selama kurang lebih tiga puluh tahun. tentang Ibnu
Abbas, Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah berkata :”Tak pernah aku melihat seseorang yang lebih
mengerti dari pada Ibnu Abbas tentang ilmu hadits Nabi Shallallahu alaihi Wassalam serta
keputusan2 yang dibuat Abubakar ,Umar , dan Utsman“.

Begitu pula tentang ilmu fikih ,tafsir ,bahasa arab , sya’ir , ilmu hitung dan fara’id. Orang suatu hari
menyaksikan ia duduk membicarakan ilmu fiqih, satu hari untuk tafsir, satu hari lain untuk masalah
peperangan, satu hari untuk syair dan memperbincangkan bahasa Arab. Sama sekali aku tidak pernah
melihat ada orang alim duduk mendengarkan pembicaraan beliau begitu khusu’ nya kecuali kepada
beliau. Dan setiap pertanyaan orang kepada beliau, pasti ada jawabannya”.

Menurut An-Nasa’I, sanad hadits Ibnu Abbas paling Shahih adalah yang diriwayatkan oleh az-Zuhri,
dari Ubaidullah bin Abdullah bin ‘Utba, dari Ibnu abbas. Sedangkan yang paling Dlaif adalah yang
diriwayatkan oleh Muhammad bin Marwan as-Suddi Ash-Shaghir dan Al-Kalabi, dari Abi Shalih.
Rangkaian ini disebut silsilah Al-Kadzib (silsilah bohong).

Ibnu Abbas mengikuti Perang Hunain, Thaif, Penaklukan Makkah dan haji wada’. Ia menyaksikan
penaklukan Afrika bersama Ibnu Abu as-Sarah. Perang Jamal dan Perang Shiffin bersama Ali bin Abi
Thalib.

Ia wafat di Thaif pada tahun 68 H. Ibnu al-Hanafiyah ikut menshalatkanya.

Disalin dari : Biografi Ibnu Abbas dalam Al-Ishabah no.4772




                                                              
            Ibnu Zubair (Abdullah bin Zubair) 94 H
Seorang pemimpin masa Khalifah Ali bin Abi Talib dan awal khilafah Bani Umayyah. Dia adalah bayi
pertama yang lahir dikalangan Muhajirin di Madinah. Ayahnya bernama Zubair Awwam dan ibunya,
Asma binti Abu Bakar as-Siddiq. Ia sepupu dan juga kemenakan Nabi Muhammad dari istrinya,
Aisyah binti Abu Bakar. Ia termasuk salah seorang dari “Empat ‘Ibadillah” (empat orang yang bernama
Abdullah) dari 30 orang lebih sahabat Nabi yang dikenal menghafal seluruh ayat-ayat Al-Qur’an, Tiga
orang ‘Ibadillah lainnya adalah Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar bin Khatab, dan Abdullah bin
Amr bin As.

Ibnu Zubair telah mengenal perang sejak berusia 12 tahun, yaitu ketika bersama ayahnya turut dalam
Perang Yarmuk, dan empat tahun kemudian kembali menyertai ayahnya yang menjadi anggota pasukan
Amr bin As di Mesir. Ibnu Zubair juga mengambil bagian dalam ekspedisi Abdullah bin Sa’ad bin Abi
Sarh melawan orang-orang Byzantium di Afrika. Semua peristiwa tersebut mengundang kekaguman
penduduk Madinah kepadanya.

Di masa Khalifah Usman bin Affan, ia duduk sebagai anggota panitia yang bertugas menyusun Al-
Qur’an. Di masa KhalifahAli bin Abi Talib, ia bersama Aisyah mengatur langkah untuk menantang
Khalifah tersebut untuk menuntut penyelesaian kasus pembunuhan Khalifah Usman. Gerakan ini
didukung oleh beberapa tokoh, seperti Ja’la bin Umayyah dari Yaman, Abdullah bin Amr Basra, Sa’ad
bin As, dan Wahid bin Uqbah (pemuka kalangan Umayyah di Hedzjaz) dan beberapa sahabat senior
(Talhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam), dan ayahnya. Perselisihan antara kelompoknya dan
kelompok Ali yang sedang berkuasa diselesaikan dalam Perang Unta (Waqiah al-Jamal). Dalam perang
inilah ia menyaksikan ayahnya gugur. Disebut Perang Unta karena Aisyah mengendarai unta saat
memimpin pasukan itu.

Ibnu Zubair kembali melawan Dinasti Bani Umayyah. Meskipun di masa Mu’awiyah bin Abi Sufyan
bentuk perlawanannya belum bersifat terbuka, ia tampil menantang khilafah (pemerintahan) Bani
Umayyah secara terang-terangan. Ia memprotes Yazid, putra Mu’awiyah, yang naik menjadi khalifah
atas penunjukan ayahnya setelah ayahnya wafat. Yazid memerintahkan walinya di Madinah untuk
memaksa Ibnu Zubair bersama Husein bin Ali (cucu Nabi) dan Abdullah bin Umar agar menyatakan
kesetiaan kepadanya. Ibnu Zubair dan Husein tetap membangkang. Demi keamanan, keduanya pindah
ke Mekah. Ia tetap sebagai penantang khalifah sekalipun Husein, tak lama sesudah itu, tewas dengan
menyedihkan dalam pertempuran tak seimbang di Karbala.

Pernyataan secara terbuka, bahwa kekuasaan Yazid tidak sah membawa pengaruh luas dikalangan
ansar di Madinah yang akhirnya melahirkan pemberontakan. Setelah menunggu kesempatan yang baik,
Yazid mengerahkan tentara Suriah di bawah pimpinan Muslim bin Uqbah dan memadamkan
pemberontakan orang-orang Madinah tersebut dalam Perang Harran. Kematian Muslim bin Uqbah tak
menghalangi tentara tersebut untuk bergerak menuju Mekah dengan sasaran mematahkan perlawanan
Ibnu Zubair. Tentara tersebut mengepung dan menghujani kota Mekah dengan batu dan panah api yang
menyebabkan Ka’bah terbakar. Berita meninggalnya Khalifah Yazid menyebabkan komandan pasukan,
Husain bin Numair, mencoba membujuk Ibnu Zubair agar bersedia bergabung dengan mereka untuk
kembali ke Suriah. Ibnu Zubair menolak bujukan tersebut dengan mengatakan bahwa ia akan tetap di
Mekah. Selanjutnya, ia memproklamasikan dirinya sebagai amirulmukminin. Sekalipun proklamasi itu
tidak lebih dari sekedar nama, namun lawan-lawan dinasti Bani Umayyah di Suriah, Mesir, Arab
Selatan, dan Kufah sempat menghargainya sebagai khalifah.

Setelah Mu’awiyah putra dan pengganti Yazid meninggal dunia, Ibnu Zubair muncul sebagai kandidat
khalifah atas dukungan Bani Qais. Selain itu ada kandidat lainnya yaitu, Marwan bin Haqam
(dukungan Bani Qalb) dan dua kabilah Arab berdomisili di Suriah, juga saling bersaing mengajukan
calon masing-masing. Akan tetapi, Ibnu Zubair terpojok tatkala peta kekuatan politik mengalami
perubahan, akibat pemberontakan di Kufa dan pembelontan di antara pengikutnya, setelah Yazid wafat.
Pengepungan membawa kematiannya terjadi ketika

Hajjaj bin Yusuf as-Saqafi ditugaskan oleh khalifah Abdul Malik bin Marwan, putra Marwan bin
Hakam, untuk menyelesaikan perlawanan “Sang Penantang Enam Khalifah” – dari Ali, Mu’awiyah,
Yazid, Mu’awiyah, Marwan bin Hakam, sampai Abdul Malik.
Tidak kurang dari tujuh bulan diperlukan untuk menghujani kota suci Mekah dan Ka’bah dengan
bombardir pasukan al-Hajjaj untuk melumpuhkan perlawanan Ibnu Zubair. Ia masih bertahan tatkala
putra-putranya menyerahkan diri kepada al-Hajjaj. Keperkasaannya bangkit kembali setelah berjumpa
sebentar dengan ibunya yang sudah buta, yang mendorongnya dengan memberikan semangat juang.
Padahal sebelumnya, ia sempat menyatakan kepada ibunya rasa khawatir, bahwa mayatnya akan
diperlakukan secara sadis oleh para pembunuhnya kelak. Ibunya mengatakan bahwa kambing yang
sudah disembelih tak sedikit pun akan merasakan sayatan-sayatan pada dagingnya. Jawaban ini
mendorongnya keluar dari rumah tempat ia bertahan , maju ke tengah-tengah lawannya yang kemudian
menyergap dan menghabisinya. Mayatnya ditempatkan pada tiang gantung yang sama di mana
saudaranya, Amr, pernah mengalami hal serupa. Atas perintah Abdul Malik, mayatnya kemudian
diserahkan kepada ibunya. Tak lama berselang, setelah menguburkan mayat putranya itu, ia pun wafat
pada tahun 94 H.




                                                
           Abdullah bin Amr bin Al-Ash (Wafat 63 H)
Dia adalah seorang dari Abadilah yang faqih, ia memeluk agama Islam sebelum ayahnya, kemudian
hijrah sebelum penaklukan Mekkah. Abdullah seorang ahli ibadah yang zuhud, banyak berpuasa dan
shalat, sambil menekuni hadits Rasulullah Shallahllahu ‘alaihi Wassalam. Jumlah hadits yang ia
riwayatkan mencapai 700 hadits, Sesudah minta izin Nabi Shallahu ‘alaihi Wassalam untuk menulis,
ia mencatat hadits yang didengarnya dari Nabi. Mengenai hal ini Abu Hurairah berkata “ Tak ada
seorangpun yang lebih hapal dariku mengenai hadits Rasulullah, kecuali Abdullah bin Amr bin al-Ash.
Karena ia mencatat sedangkan aku tidak”.

Abdullah bin Amr meriwayatkan hadits dari Umar, Abu Darda, Muadz bin Jabal, Abdurahman bin
Auf, dan beberapa yang lain. Yang meriwayatkan darinya antara lain Abdullah bin Umar bin Al-
Khatthab, as-Sa’ib bin Yazid, Sa’ad bin Al-Musayyab, Thawus, dan Ikrimah.

Sanad paling shahih yang berpangkal darinya ialah yang diriwayatkan oleh Amr bin Syu’aib dari
ayahnya dan kakeknya Abdullah.

Abdullah bin Amr wafat pada tahun 63 H pada malam pengepungan Al-Fusthath.

disalin dari Biografi Abdullah bin Amr dalam Al-Ishabah no.4838 Ibn Hajar Asqalani, Thabaqat ibn Sa’ad 4/9




                                                              
Ibnu mas’ud (Abdullah bin Mas’ud) Wafat 32 H
Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Mas’ud bin Ghafil al-Hudzali. Nama julukannya “ Abu
Abdirahman”. Ia sahabat ke enam yang paling dahulu masuk islam. Ia hijrah ke Habasyah dua kali, dan
mengikut semua peperangan bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. Dalam perang Badar, Ia
berhasil membunuh Abu Jahal.

Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda” Ambilah al-Quran dari empat orang: Abdullah,
Salim (sahaya Abu Hudzaifah), Muadz bin Jabal dan Ubay bin Ka’ab”. Menurut para ahli hadits, kalau
disebutkan “Abdullah” saja, yang dimaksudkan adalah Abdullah bin Mas’ud ini.

Ketikah menjadi Khalifah Umar mengangkatnya menjadi Hakim dan Pengurus kas negara di kufah. Ia
simbol bagi ketakwaan, kehati-hatian, dan kesucian diri.

Sanad paling shahih yang bersumber dari padanya ialah yang diriwayatkan oleh Suyan ats-Tsauri, dari
Mansyur bin al-Mu’tamir, dari Ibrahi, dari alqamah. Sedangkan yang paling dlaif adalah yang
diriwayatkan oleh Syuraik dari Abi Fazarah dari Abu Said.

Ia meriwayatkan hadits dari Umar dan Sa’ad bin Mu’adz. Yang meriwayatkan hadits darinya adalah
Al-Abadillah (“Empat orang yang bernama Abdullah”), Anas bin Malik, Jabir bin Abdullah, Abu Musa
al-Asy’ari, Alqamah, Masruq, Syuraih al-Qadli, dan beberapa yang lain. Jumlah hadits yang ia
riwayatkan mencapai 848 hadits.

Beliau datang ke Medinah dan sakit disana kemudian wafat pada tahun 32 H dan dimakamkan di Baqi,
Utsman bin ‘Affan ikut menshalatkannya.

Disalin dari : Biografi Ibn Mas’ud dalam Al-Ishabah: Ibn Hajar Asqalani no.4945




                                                              
          Aisyah Binti Abu Bakar Radhiyallahu ‘anha
Aisyah adalah istri Nabi Shallalahu ‘alaihi Wassalam putri Abu Bakar ash-Shiddiq teman dan orang
yang paling dikasihi Nabi, Aisyah masuk Islam ketika masih kecil sesudah 18 orang yang lain.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam memperistrinya pada tahu 2 H.

Beliau mempelajari bahasa, Syair, ilmu kedokteran, nasab nasab dan hari hari Arab . Berkata Az-Zuhri
“ Andaikata ilmu yang dikuasai Aisyah dibandingkan dengan yang dimiliki semua istri Nabi
Shallallahu ’alaihi Wassalam dan ilmu seluruh wanita niscaya ilmu Aisyah yang lebih utama”. Urwah
mengatakan “ aku tidak pernah melihat seorangpun yang mengerti ilmu kedokteran, syair dan fiqh
melebihi Aisyah”.

Aisyah meriwayatkan 2.210 hadits, diantara keistimewaannya beliau sendiri kadang kadang
mengeluarkan beberapa masalah dari sumbernya, berijtihad secara khusus, lalu mencocokannya dengan
pendapat pada sahabat yang alim. Berkenaan dengan keahlian Aisyah, Az-Zarkasyi mengarang sebuah
kitab khusus berjudul Al-Ijabah li Iradi mastadrakathu Aisyah ‘ala ash Shahabah.

Hadits yang dinisbatkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam menyatakan bahwa beliau
bersabda “ Ambillah separuh agama kalian dari istriku yang putih ini “, Sesungguhnya hadist ini tidak
bersanad. Ibnu Hajar. Al-Mizzi, Adz Dzahabi dan Ibnu Katsir menandaskan bahwa hadist itu dusta dan
dibuat buat.

Aisyah meriwayatkan hadits dari ayahnya Abu Bakar, dari Umar, Sa’ad bin Abi Waqqash, Usaid bin
Khudlair dan lain lain. Sedangkan sahabat yang meriwayatkan dari beliau ialah Abu Hurairah, Abu
Musa al-Asy’ari, Zaid bin Khalid al-Juhniy, Syafiyah binti Syabah dan beberapa yang lain. Tabi’in
yang mengutip beliau ialah: Sa’id bin al-Musayyab, alqamah bin Qais, Masruq bin al-Ajda, Aisyah
binti Thalhal, Amran binti Abdirrahman, dan Hafshah binti Sirin. Ketiga wanita yang disebutkan
terakhir adalah murid murid Aisyah yang utama Ilmu Fiqh.

Sanad yang paling shahih adalah yang diriwayatkan oleh Yahya bin Sa’id dan Ubaidullah bin Umar bin
Hafshin, dari Al Qasim bin Muhammad, dari Aisyah. Juga diriwayatkan oleh az-Zuhri atau Hisyam bin
Urwah, dari Urwah bin az-Zubair, dari Aisyah. Yang paling Dlaif adalah yang diriwayatkan oleh al-
Harits bin Syabl, dari Umm an Nu’man dari Aisyah.

Aisyah wafat pada 57 H, dan Abu Hurairah ikut mensholatkannya.

Disalin dari Biografi Sayyidah Aisyah dalam Al-Ishabah, kitab an-Nis no 701; Thabaqat Ibn Sa’ad 8/39




                                                              
                Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha
Ummu Salamah adalah seorang Ummul-Mukminin yang berkepribadian kuat, cantik, dan menawan,
serta memiliki semangat jihad dan kesabaran dalam menghadapi cobaan, lebih-lebih setelah berpisah
dengan suami dan anak-anaknya. Berkat kematangan berpikir dan ketepatan dalam mengambil
keputusan, dia mendaparkan kedudukan mulia di sisi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam.. Di
dalam sirah Ummahatul Mukminin dijelaskan tentang banyaknya sikap mulia dan peristiwa penting
darinya yang dapat diteladani kaum muslimin, baik sikapnya sebagai istri yang selalu menjaga
kehormatan keluarga maupun sebagai pejuang di jalan Allah.

Nama sebenarnya Ummu Salamah adalah Hindun binti Suhail, dikenal dengan narna Ummu Salamah.
Beliau dibesarkan di lingkungan bangsawan dari Suku Quraisy. Ayahnya bernama Suhail bin Mughirah
bin Makhzurn. Di kalangan kaumnya, Suhail dikenal sebagai seorang dermawan sehingga dijuluki
Dzadur-Rakib (penjamu para musafir) karena dia selalu menjamu setiap orang yang menyertainya
dalam perjalanan. Dia adalah pemimpin kaumnya, terkaya, dan terbesar wibawanya. Ibu dari Ummu
Salamah bernama Atikah binti Amir bin Rabi’ah bin Malik bin Jazimah bin Alqamah al-Kananiyah
yang berasal dari Bani Faras.

Demikianlah, Hindun dibesarkan di dalam lingkungan bangsawan yang dihormati dan disegani.
Kecantikannya meluluhkan setiap orang yang melihatnya dan kebaikan pribadinya telah tertanam sejak
kecil.

B. Pernikahan dan Perjuangannya

Banyak pemuda Mekah yang ingin mempersunting Hindun, dan yang berhasil menikahinya adalah
Abdullah bin Abdul Asad bin Hilal bin Abdullah bin Umar bin Makhzum, seorang penunggang kuda
terkenal dari pahlawan-pahlawan suku Bani Quraisy yang gagah berani. Ibunya bernama Barrah binti
Abdul-Muththalib bin Hasyim, bibi Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam. Abdullah adalah saudara
sesusuan Nabi dari Tsuwaibah, budak Abu Lahab. Mereka hidup bahagia, dan rumah tangga mereka
diliputi kerukunan dan kesejahteraan.

Tidak lama setelah itu, dakwah Islam menarik hati mereka sehingga mereka memeluk Islam dan
menjadi orang-oramg pertama yang masuk Islam. Begitu pula dengan Hindun, dia tergolong orang-
orang yang pertama masuk Islam, dan bersama suaminya memulai perjuangan dalam hidup mereka.

Orang-orang Quraisy selalu mengganggu dan menyiksa kaum muslimin agar mereka meninggalkan
agama Islam dan kembali ke agama nenek moyang mereka. Melihat kondisi seperti itu, Rasulullah
Shallallahu Alaihi Wassalam. mengizinkan mereka untuk hijrah ke Habasyah, sehingga mereka disebut
sebagai kaum muhajirin yang pertama. Mereka menetap di Habasyah, dan di sana Hindun melahirkan
anak-anaknya: Zainab, Salamah, Umar, dan Durrah.

Setelah beberapa lama, mereka berniat kembali ke Mekah, terutama setelah mendengar keislaman dua
tokoh penting Quraisy, Umar bin Khaththab dan Hamzah bin Abdul-Muththalib. Akan tetapi, ternyata
penyiksaan masih terus berlangsung, bahkan bertambah dahsyat. Untuk menjaga kehormatan diri dan
keluarganya, Abu Salamah meminta perlindungan dari Abu Thalib (paman Nabi) dari siksaan
kaumnya, yaitu Bani Makhzum, dan Abu Thalib menyatakan perlindungannya.

C. Cobaan Datang

Karena orang-orang Quraisy masih saja menyiksa kaum muslimin, akhirnya Allah membuka hati
penduduk Madinah untuk menerima Islam. Kemudian Rasulullah mengizinkan kaum muslimin untuk
hijrah ke sana, baik secara kelompok maupun perseorangan. Abu Salamah, istri, dan anaknya
(Salamah) hijrah ke sana. Di tengah perjalanan mereka dihadang oleh kaum Bani Makhzum (kaumnya
Ummu Salamah) yang kemudian merampas serta menyandera Ummu Salamah. Keluarga Abu Salamah
(Bani Asad) ikut campur tangan dan mereka menolak menyerahkan Salamah, bahkan si anak dirampas
dan dijauhkan dari ibunya. Sedangkan Bani Makhzum menculik Ummu Salamah dan dipenjara.
Adapun Abu Salamah dibiarkan ke Yatsrib dengan hati penuh kesedihan karena harus berpisah dengan
istri dan anaknya.

Keadaan demikian berjalan kurang lebih setahun lamanya. Ummu Salamah terus-menerus menangis
karena kecewa atas perbuatan kaumnya, sehingga akhirnya ada seorang laki-laki dari kaumnya yang
merasa iba dan membiarkan Ummu Salamah menyusul suaminya di Madinah. Adapun Bani Asad
menyerahkan kembali putranya, Salamah, kepadanya. Akan tetapi, banyak rintangan yang harus dia
hadapi, dan berkat keimanan dan keinginan yang kuat, dia mampu mengatasi semua itu dan tiba di
Madinah.

D. Pesan Abu Salamah untuk Istrinya

Dalam membela Islam, peran Abu Salamah sangat besar. Dia dikenal berani dalam berperang.
Rasulullah menghargainya dengan mengangkatnya sebagai wakil Rasulullah di Madinah ketika beliau
pergi memimpin pasukan dalam perang Dzil Asyirah pada tahun kedua hijriah. Abu Salamah ikut
dalam Perang Badar dan Uhud. Ketika dalam perang Uhud, Abu Salamah mengalami luka yang cukup
parah dan nyaris meninggal, namun beberapa saat kemudian dia sembuh.

Setelah Perang Uhud, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. mencrima berita bahwa Bani Asad
hendak menyerang kaum muslimin di Madinah. Sebelum mereka menyerang, Rasulullah Shallallahu
Alaihi Wassalam. berinisiatif mendahului mereka. Dalam misi ini, beliau menunjuk Abu Salamah
untuk memimpin pasukan yang berjumlah seratus lima puluh orang dan di dalamnya terdapat Saad bin
Abi Waqash, Abu Ubaidah bin Jarrah, Amir bin Jarrah, dan yang lainnya. Pasukan diarahkan ke Bukit
Quthn, tempat mata air Bani Asad. Kemenangan gemilang diraih oleh pasukan Abu Salamah, dan
mereka kembali ke Madinah dengan membawa banyak harta rampasan perang. Di Madinah, luka-luka
Abu Salamah karnbuh sehingga dia harus beristirahat beberapa waktu. Ketika sakit, Rasulullah selalu
menjenguk dan mendoakannya.

Ummu Salamah selalu mendampingi suaminya yang sedang dalam keadaan sakit sehingga dia merawat
dan menjaganya siang dan malam. Suatu hari, demam Abu Salamah menghebat, kemudian Ummu
Salamah berkata kepada suaminya, “Aku mendapat benita bahwa seorang perempuan yang ditinggal
mati suaminya, kemudian suaminya masuk surga, istrinya pun akan masuk surga, jika setelah itu
istrinya tidak menikah lagi, dan Allah akan mengumpulkan mereka nanti di surga. Demikian pula jika
si istri yang meninggal, dan suaminya tidak menikah lagi sepeninggalnya. Untuk itu, mari kita berjanji
bahwa engkau tidak akan menikah lagi sepeninggalku, dan aku berjanji untukmu untuk tidak menikah
lagi sepeninggalmu.” Abu Salamah berkata, “Maukah engkau menaati perintahku?” Dia menjawab,
“Adapun saya bermusyawarah hanya untuk taat.” Abu Salamah berkata, “Seandainya aku mati, maka
menikahlah.” Lalu dia berdoa kepada Allah ”Ya Allah, kurniakanlah kepada Ummu Salamah
sesudahku seseorang yang lebih baik dariku, yang tidak akan menyengsarakan dan menyakitinya.”

Pada detik-detik akhir hidupnya, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. selalu berada di samping
Abu Salamah dan senantiasa memohon kesembuhannya kepada Allah. Akan tetapi, Allah berkehendak
lain. Beberapa saat kemudian maut datang menjemput. Rasulullah menutupkan kedua mata Abu
Salamah dengan tangannya yang mulia dan bertakbir sembilan kali. Di antara yang hadir ada yang
berkata, “Ya Rasulullah, apakah engkau sedang dalam keadaan lupa?” Beliau menjawab, “Aku sama
sekali tidak dalam keadaan lupa, sekalipun bertakbir untuknya seribu kali, dia berhak atas takbir itu.”
Kemudian beliau menoleh kepada Ummu Salamah dan bersabda, “Barang siapa yang ditimpa suatu
musibah, maka ucapkanlah sebagaimana yang telah dperintahkan oleh Allah, ‘Sesungguhnya kita milik
Allah, dan kepada-Nyalah kita akan dikembalikan. Ya Allah, karuniakanlah bagiku dalam musibahku
dan berilah aku ganti yang lebih baik daripadanya, maka Allah akan melaksanakannya untuknya.”

Setelah itu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. berdo’a: “Ya Allah, berilah ketabahan atas
kesedihannya, hiburlah dia dari musibah yang menimpanya, dan berilah pengganti yang lebih baik
untuknya.”

Abu Salamah wafat setelah berjuang menegakkan Islam, dan dia telah memperoleh kedudukan yang
mulia di sisi Rasulullah. Sepeninggal Abu Salamah, Ummu Salarnah diliputi rasa sedih. Dia menjadi
janda dan ibu bagi anak-anak yatim.
Setelah wafatnya Abu Salarnah, para pemuka dari kalangan sahabat bersegera meminang Ummu
Salamah. Hal ini mereka lakukan sebagai tanda penghormatan terhadapat suaminya dan untuk.
melindungi diri Ummu Salamah. Maka Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin al-Khaththab
meminangnya, tetapi Ummu Salamah menolaknya.

Pada saat dirundung kesedihan atas suami yang benar-benar dicintainya serta belum mendapatkan
orang yang lebih baik darinya, ia didatangi oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. dengan
maksud menghiburnya dan meringankan apa yang dialaminya. Rasulullah berkata kepadanya,
“Mintalah kepada Allah agar Dia memberimu pahala pada musibahmu serta menggantikan untukmu
(suami) yang lebih baik.” Ummu Salamah bertanya, “Siapa yang lebih baik dan Abu Salamah, wahai
Rasulullah?”

E. Di Rumah Rasulullah.

Rasulullah mulai memikirkan perkara Ummu Salamah, seorang mukminah mujahidah yang memiliki
kesabaran, dan Ummu Salamah pun telah menolak lamaran dua sahabatnya, Abu Bakar dan Umar.
Rasulullah pun berpikir dengan penuh pertimbangan dan kasih sayang untuk tidak membiarkannya
larut dalam kesedihan dan kesendirian.

Dalam keadaan seperti itu Rasulullah mengutus Hathib bin Abi Balta’ah menemui Ummu Salarnah
dengan maksud meminangnya untuk beliau. Maka oleh Ummu Salamah diterimanya pinangan tersebut.
Bagaimana mungkin baginya untuk tidak menerima pinangan dari orang yang lebih baik dari Abu
Salamah, bahkan lebih baik dan semua orang di dunia.

Dengan perkawinan tersebut maka Ummu Salamah termasuk kalangan Ummahatul- Mukminin, dan
oleh Rasulullah ia ditempatkan di kamar Zainab binti Khuzaimah yang digelari Ummul-Masakiin (ibu
bagi orang-orang miskin) sampai Ummu Salamah meninggal dunia.

Hal itu diceritakan oleh Ummu Salamah kepada kami. Ia berkata, “Aku dipersunting oleh Rasulullah
Shallallahu Alaihi Wassalam., lalu aku dipindahkan dan ditempatkan di rumah Zainab (ummul-
masakiin).”

Beberapa keistimewaan yang dimiliki Ummu Salamah adalah ketajaman logika, kematangan berpikir,
dan keputusan yang benar atas banyak perkara. Karena itu, ia memiliki kedudukan yang agung di sisi
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam., seperti interaksinya dengan para Ummahatul-Mukminin yang
merupakan interaksi yang diliputi rasa kasih sayang dan kelemahlembutan.

F. Kedudukannya yang Agung

Di antara perkara yang menunjukkan kedudukannya yang tinggi di sisi Rasulullah Shallallahu Alaihi
Wassalam adalah apa yang diceritakan Urwah bin Zubair “Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam.
menyuruh Ummu Salamah melaksanakan shalat shubuh di Mekah pada hari penyembelihan (qurban)
— padahal saat itu merupakan hari (giliran)nya. Oleh sebab itu, Rasulullah merasa senang atas
kesetujuannya.”

Begitu juga hadits Ummi Kulsum binti Uqbah yang dimasukkan oleh Ibnu Sa’ad dalam (kitab)
Thabaqat-nya. Ummi Kultsum berkata, “Tatkala Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam. menikahi Ummu
Salamah, belau berkata kepadanya, ‘Sesungguhnya aku menghadiahkan untuk Raja Najasyi sejumlah
bejana berisikan minyak wangi dan selimut. Akan tetapi, aku bermimpi bahwa Raja Najasyi itu telah
meninggal dunia, kemudian hadiah yang kuberikan kepadanya dikembalikan kepadaku. Karena
dikembalikan kepadaku, maka barang tersebut menjadi milikkü.”

Sebagaimana yang dikatakan Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam., Raja Najasyi meninggal dunia, dan
hadiah tersebut dikembalikan kepadanya. Lalu beliau memberikan kepada setiap istrinya masing-
masing satu uqiyah (1/2 liter Mesir) dan beliau memberi (sisa) keseluruhannya serta selimut kepada
Ummu Salamah.
Setelah Ummu Salamah menjadi istrinya, Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam. memasukkannya dalam
kalangan ahlul-bait. Di antara riwayat tentang masalah tersebut adalah bahwasanya pernah pada suatu
hari Rasulullah berada di sisi Ummu Salamah, dan anak perempuan Ummu Salamah ada di sana.
Rasulullah kemudian didatangi anak perempuannya, Fathimah azZahra, disertai kedua anaknya, Hasan
dan Husain r.a., lalu Rasullah memeluk Fathimah dan berkata, “Semoga rahmat Allah dan berkah-Nya
tercurah pada kalian wahai ahlul-bait. Sesungguhnya Dia Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia.”

Lalu menangislah Ummu Salamah. Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. menanyakan
tentang penyebab tangisnya itu. Ia menjawab, “Wahai Rasulullah, engkau mengistimewakan mereka
sedangkan aku dan anak perempuanku engkau tinggalkan. Beliau bersabda, “Sesungguhnya engkau
dan anak perempuanmu termasuk keluargaku.”

Anak perempuan Ummu Salamah, Zainab, tumbuh dalam peliharaan Rasulullah Shallallahu Alaihi
Wassalam. ia termasuk di antara wanita yang memiliki ilmu yang luas pada masanya.

Sebelum Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. mempersunting Ummu Salamah, wahyu pernah
turun kepada Rasulullah di kamar Aisyah, yang dengan hal itu Aisyah membanggakannya pada istri-
stri beliau yang lain. Maka setelah Rasulullah menikahi Ummu Salamah, wahyu turun kepadanya
ketika beliau berada di kamar Ummu Salamah.

G. Beberapa Sikap Cemerlang pada Masa Hidup Ummu Salamah.

Di antara sikap agungnya adalah apa yang ditunjukkannya pada Rasulullah Shallallahu Alaihi
Wassalam. pada hari (perjanjian) Hudaibiyah. Pada waktu itu ia menyertai Rasulullah Shallallahu
Alaihi Wassalam. dalam perjalanannya menuju Mekah dengan tujuan menunaikan umrah, tetapi orang-
orang musyrik mencegah mereka untuk memasuki Mekah, dan terjadilah Perjanjian Hudaibiyah antara
kedua belah pihak.

Akan tetapi, sebagian besar kaum muslimin merasa dikhianati dan merasa bahwa orang-orang musyrik
menyianyiakan sejumlah hak-hak kaum muslimin. Di antara mayonitas yang menaruh dendam itu
adalah Umar bin al-Khaththab, yang berkata kepada Rasulullah dalam percakapannya dengan beliau,
“Atas perkara apa kita serahkan nyawa di dalam agama kita?” Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam.
menjawab, “Saya adalah hamba Allah dan rasul-Nya. Aku tidak akan menyalahi perintah-Nya, dan Dia
tidak akan menyianyiakanku.”

Akan tetapi, tanda-tanda bahaya semakin memuncak setelah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam.
menyuruh kaum muslimin melaksanakan penyembelihan hewan qurban kemudian bercukur, tetapi
tidak seorang pun dari mereka melaksanakannya. Beliau mengulang seruannya tiga kali tanpa ada
sambutan.

Beliau menemui istrinya, Ummu Salamah, dan menceritakan kepadanya tentang sikap kaum muslimin.
Ummu Salamah berkata, “Wahai Nabi Allah, apakah engkau menginginkan perintah Allah ini
dilaksanakan oleh kaum muslimin? Keluarlah engkau, kemudian janganlah mengajak bicara sepatah
kata seorang pun dari mereka sampai engkau menyembelih qurbanmu serta memanggil tukang cukur
yang mencukurmu.”

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. kagum atas pendapatnya dan bangkit mengerjakan
sebagaimana yang diusulkan Ummu Salamah. Tatkala kaum muslimin melihat Rasulullah mengerjakan
hal itu tanpa berkata kepada mereka, mereka bangkit dan menyembelih serta sebagian dari mereka
mulai mencukur kepala sebagian yang lain tanpa ada perasaan keluh kesah dan penyesalan atas
tindakan Rasulullah yang mendahului mereka.

Ummu Salamah telah menyertai Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. di banyak peperangan, yaitu
peperangan Khaibar, Pembebasan Mekah, pengepungan Tha’if, peperangan Hawazin, Tsaqif kemudian
ikut bersama beliau di Haji Wada’.

Kita tidak melupakan sikapnya terhadap Umar bin al-Khaththab, tatkala Urnar datang kepadanya dan
mengajak bicara tentang perkara keperluan Ummahatul-Mukminin kepada Rasulullah Shallallahu
Alaihi Wassalam. serta kekasaran mereka terhadap Rasulullah. Maka ia berkata, “Engkau ini aneh,
wahai anak al-Khaththab. Engkau telah ikut campur di setiap perkara sehingga ingin mencampuri
urusan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. beserta istri-istrinya?”

Setelah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. meninggal dunia ia senantiasa mengenang beliau dan
sangat berduka cita atas kewafatannya. Beliau senantiasa banyak melakukan puasa dan beribadah, tidak
kikir pada ilmu, serta meriwayatkan hadits yang berasal dan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam.

Telah diriwayatkannya sekian banyak hadits shahih yang bersumber dari Rasulullah dan suaminya,
Abu Salamah, serta dari Fathimah az-Zahraa Sedangkan orang yang meriwayatkan darinya banyak
sekali, di antara mereka adalah anak-anaknya dan para pemuka dan sahabat serta ahli hadits.

Di antara beberapa sikapnya yang nyata adalah pada hari pembebasan kota Mekah. Waktu itu Nabi
keluar dari Madinah bersarna bala tentaranya dengan kehebatan dan jumlah yang belum pernah
disaksikan oleh bangsa Arab, sehingga orang-orang musyrik Quraisy merasa takut, dan mereka keluar
dari rumah dengan rnaksud menemui Rasulullah untuk bertobat dan menyatakan keislaman mereka.

Termasuk dari mereka, Abu Sufyan bin al-Harts bin Abdul-Muththalib (anak paman Rasulullah
Shallallahu Alaihi Wassalam.) dan Abdullah bin Abi Umayyah bin al-Mughirah (anak bibi [dari ayah]
Rasulullah, saudara Ummu Salamah sebapak). Ketika mereka berdua meminta izin masuk menemui
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam., beliau enggan memberi izin masuk bagi keduanya
disebabkan penyiksaan mereka yang keras terhadap kaurn muslimin menjelang beliau hijrah dari
Mekah.

Maka berkatalah Ummu Salamah kepada Rasulullah dengan perasaan iba terhadap keluarganya sendiri
dan juga keluarga Rasulullah, “Wahai Rasulullah, mereka berdua adalah anak parnanmu dan anak
bibirnu (dan ayah) serta iparmu.” Rasulullah menjawab, “Tidak ada keperluan bagiku dengan mereka
berdua. Adapun anak parnanku, aku telah diperlakukan olehnya dengan tidak baik. Adapun anak bibiku
(dari ayah) serta iparku telah berkata di Mekah dengan apa yang ia katakan.”

Pernyataan itu telah sampai kepada Abu Sufyan, anak paman Rasulullah. Maka ia berkata, “Demi
Allah, ia harus mengizinkanku atau aku mengambil anak ini dengan kedua tanganku -pada saat itu ia
bersama anaknya, Ja’far- kemudian karni harus berkelana di dunia sehingga mati kehausan dan
kelaparan.”

Lalu Ummu Salamah memberitahukan perkataan Abu Sufyan tersebut kepada Rasulullah Shallallahu
Alaihi Wassalam. dengan kembali memohon rasa belas kasih. Akhirnya hati beliau menjadi luluh, lalu
mengizinkan keduanya masuk. Maka masuklah keduanya dan menyatakan keislaman serta bertobat di
hadapan Rasulullah.

H. Sikapnya terhadap Fitnah

Ummu Salamah selalu berada di rumahnya, senantiasa ikhlas beribadah kepada Allah Subhanahu Wa
Ta’ala dan menjaga Sunnah suaminya tercinta pada masa (khilafah) Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar
bin al-Khaththab..

Pada masa khilafah Utsman bin Affan ia melihat kegoncangan situasi serta perpecahan kaum muslimin
di seputar khalifah. Bahaya fitnah sernakin memuncak di langit kaum muslirnin. Maka ia pergi
menernui Utsman dan menasihatinya supaya tetap berpegang teguh pada petunjuk Rasulullah
Shallallahu Alaihi Wassalam. serta petunjuk Abu Bakar dan Umar bin al-Khaththab, tidak
menyimpang dan petunjuk tersebut selama-lamanya.

Apa yang dikhawatirkan Ummu Salamah terjadi juga, yaitu peristiwa terbunuhnya Utsman yang saat
itu tengah membaca Al-Qur’an dan angin fitnah tengah bertiup kencang terhadap kaurn muslimin. Pada
saat itu Aisyah telah membulatkan tekad untuk keluar menuju Bashrah disertai Thalhah bin Ubaidillah
dan Zubair bin al-’Awwam dengan tujuan mernobilisasi massa untuk melawan Ali bin Abi Thalib.
Maka Ummu Salamah mengirim surat yang memiliki sastra indah kepada Aisyah.
 “Dari Ummu Salamah, Istri Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam., untuk Aisyah Ummul-Mu’ minin.
Sesungguhnya aku memuji Allah yang tidak ada ilah (Tuhan) melainkan Dia.
Amma ba’du.
Engkau sungguh telah merobek pembatas antara Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. dan
umatnya yang merupakan hijab yang telah ditetapkan keharamannya.
Sungguh Al-Qur’an telah memberimu kemuliaan, maka jangan engkau lepaskan. Dan Allah telah
menahan suaramu, maka janganlah engkau niengeluarkannya Serta Allah telah tegaskan bagi umat ini
seandainya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. mengetahui bahwa kaum wanita memiliki
kewajiban jihad (berperang) niscaya beliau berpesan kepadamu untuk menjaganya.
Tidakkah engkau tahu bahwasanya beliau melarangmu melampaui batas dalam agama, karena
sesungguhnya tiang agama tidak bisa kokoh dengan campur tangan wanita apabila tiang itu telah
miring, dan tidak bisa diperbaiki oleh wanita apabila telah hancur. Jihad wanita adalah tunduk
kepada segala ketentuan, mengasuh anak, dan mencurahkan kasih sayangnya.”

Ummu Salamah berada di pihak Ali bin Abi Thalib karena beliau menggikuti kesepakatan kaum
muslimin atas terpilihnya beliau sebagai khalifah mereka. Karena itu, Ummu Salamah
mengirim/mengutus anaknya, Umar, untuk ikut berperang dalan barisan Ali .

I. Saat Wafatnya

Pada tahun ke-59 hijriah, usia Ummu Salamah telah mencapai 84 tahun. Usia tua dan pikun merambah
di pertambahan umurnya. Allah ta’ala mengangkat rohnya yang suci naik ke atas menuju hadirat-Nya.
Ia meninggal dunia setelah hidup dengan aktivitas yang dipenuhi oleh pengorbanan, jihad, dan
kesabaran di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Beliau dishalatkan oleh Abu Hurairah
r.a. dan dikuburkan di al-Baqi’ di samping kuburan Ummahatul-Mukminin lainnya.

 Semoga rahmat Allah senantiasa menyertai Sayyidah Ummu Salamah. dan semoga Allah memberinya
tempat yang layak di sisi-Nya. Amin.

Sumber: Buku Dzaujatur-Rasulullah , Karya Amru Yusuf, Penerbit Darus-Sa’abu, Riyadh




                                                           
               Zainab binti Jahsy radhiallaahu ‘anha
Pernikahan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam dengan Zainab binti Jahsy didasarkan pada
perintah Allah sebagai jawaban terhadap tradisi jahiliah. Zainab binti Jahsy adalah istri Rasulullah yang
berasal dan kalangan kerabat sendiri. Zainab adalah anak perempuan dan bibi Rasulullah, Umaimah
binti Abdul Muththalib. Beliau sangat mencintai Zainab.

Nasab dan Masa Pertumbuhannya

Nama lengkap Zainab adalah Zainab binti Jahsy bin Ri’ab bin Ya’mar bin Sharah bin Murrah bin Kabir
bin Gham bin Dauran bin Asad bin Khuzaimah. Sebelum menikah dengan Rasulullah, namanya adalah
Barrah, kemudian diganti oleh Rasulullah menjadi Zainab setelah menikah dengan beliau. Ibu dari
Zainab bernama Umaimah binti Abdul-Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushai. Zainab
dilahirkan di Mekah dua puluh tahun sebelurn kenabian. Ayahnya adalah Jahsy bin Ri’ab. Dia
tergolong pernimpin Quraisy yang dermawan dan berakhlak baik. Zainab yang cantik dibesarkan di
tengah keluarga yang terhormat, sehingga tidak heran jika orang-orang Quraisy rnenyebutnya dengan
perempuan Quraisy yang cantik.

Zainab termasuk wanita pertarna yang memeluk Islam. Allah pun telah menerangi hati ayah dan
keluarganya sehingga memeluk Islam. Dia hijrah ke Madinah bersama keluarganya. Ketika itu dia
masih gadis walaupun usianya sudah layak menikah.

Pernikahannya dengan Zaid bin Haritsah

Terdapat beberapa ayat A1-Qur’an yang mernerintahkan Zainab dan Zaid melangsungkan pernikahan.
Zainab berasal dan golongan terhormat, sedangkan Zaid bin Haritsah adalah budak Rasulullah yang
sangat beliau sayangi, sehingga kaum muslimin menyebutnya sebagai orang kesayangan Rasulullah.
Zaid berasal dari keluarga Arab yang kedua orang tuanya beragama Nasrani. Ketika masih kecil, dia
berpisah dengan kedua orang tuanya karena diculik, kemudian dia dibeli oleh Hakam bin Hizam untuk
bibinya, Khadijah binti Khuwailid r.a., lalu dihadiahkannya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi
Wassalam.

Ayah Zaid, Haritsah bin Syarahil, senantiasa mencarinya hingga dia mendengar bahwa Zaid berada di
rumah Rasulullah. Ketika Rasulullah menyuruh Zaid memilih antara tetap bersama beliau atau kembali
pada orang tua dan pamannya, Zaid berkata, “Aku tidak menginginkan mereka berdua, juga tidak
menginginkan orang lain yang engkau pilihkan untukku. Engkau bagiku adalah ayah sekaligus paman.”
Setelah itu, Rasulullah mengumumkan pembebasan Zaid dan pengangkatannya sebagai anak. Ketika
Islam datang, Zaid adalah orang yang pertama kali memeluk Islam dari kalangan budak. Dia senantiasa
berada di dekat Nabi, terutama setelah dia rneninggalkan Mekah, sehingga beliau sangat mencintainya,
bahkan beliau pernah bersabda tentang Zaid,

“Orang yang aku cintai adalah orang yang telah Allah dan aku beri nikmat. (HR. Ahmad)

Allah telah memberikan nikmat kepada Zaid dengan keislamannya dan Nabi telah memberinya nikmat
dengan kebebasannya. Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, beliau mempersaudarakan Zaid dengan
Hamzah bin Abdul Muththalib. Dalam banyak peperangan, Zaid selalu bersama Rasulullah, dan tidak
jarang pula dia ditunjuk untuk menjadi komandan pasukan. Tentang Zaid, Aisyah pernah berkata,
“Rasulullah tidak mengirimkan Zaid ke medan perang kecuali selalu menjadikannya sebagai komandan
pasukan, Seandainya dia tetap hidup, beliau pasti menjadikannya sebagai pengganti beliau.”

Masih banyak riwayat yang menerangkan kedudukan Zaid di sisi Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam..
Sesampainya di Madinah beliau meminang Zainab binti Jahsy untuk Zaid bin Haritsah. Semula Zainab
membenci Zaid dan menentang menikah dengannya, begitu juga dengan saudara laki-lakinya. Menurut
mereka, bagaimana mungkin seorang gadis cantik dan terhormat menikah dengan seorang budak?
Rasulullah menasihati mereka berdua dan menerangkan kedudukan Zaid di hati beliau, sehingga
turunlah ayat kepada mereka:
“Dan tidaklah patut bagi laki -laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin,
apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang
lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah
dia telah sesat, sesat yang nyata.“ (Q.S. Al-Ahzab: 36)

Akhirnya Zainab menikah dengan Zaid sebagai pelaksanaan atas perintah Allah, meskipun sebenarnya
Zainab tidak menyukai Zaid. Melalui pernikahan itu Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam. ingin
menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan di antara manusia kecuali dalam ketakwaan dan amal
perbuatan mereka yang baik. Pernikahan itu pun bertujuan untuk menghilangkan tradisi jahiliah yang
senang membanggakan diri dan keturunan. Akan tetapi, Zainab tetap tidak dapat menerima pernikahan
tersebut karena ada perbedaan yang jauh di antara mereka berdua. Di depan Zaid, Zainab selalu
membangga-banggakan dirinya sehingga menyakiti hati Zaid. Zaid menghadap Rasulullah untuk
mengadukan perlakukan Zainab terhadap dirinya. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam.
menyuruhnya untuk bersabar, dan Zaid pun mengikuti nasihat beliau. Akan tetapi, dia kembali
menghadap Rasulullah dan menyatakan bahwa dirinya tidak mampu lagi hidup bersama Zainab.

Mendengar itu, beliau bersabda, “Pertahankan terus istrimu itu dan bertakwalah kepada Allah.”
Kemudian beliau mengingatkan bahwa pernikahan itu merupakan perintah Allah. Beberapa saat
kemudian turunlah ayat, “Pertahankan terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah.” Zaid berusaha
menenangkan din dan bersabar, namun tingkah laku Zainab sudah tidak dapat dikendalikan, akhirnya
terjadilah talak. Selanjutnya, Zainab dinikahi Rasulullah.

Prinsip dasar yang melatarbelakangi pernikahan Rasulullah dengan Zainab binti Jahsy adalah untuk
menghapuskan tradisi pengangkatan anak yang berlaku pada zaman jahiliah. Artinya, Rasulullah ingin
menjelaskan bahwa anak angkat tidak sama dengan anak kandung, seperti halnya Zaid bin Haritsah
yang sebelum turun ayat Al-Qur’an telah diangkat sebagai anak oleh beliau. Allah Subhanahu Wa
Ta’ala berfirman,

“Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka,’ itulah
yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka
(panggillah mereka sebagai) saudara-saudara seagama dan maula-maulamu.” (QS. Al-Ahzab:5)

Karena itu, seseorang tidak berhak mengakui hubungan darah dan meminta hak waris dan orang tua
angkat (bukan kandung). Karena itulah Rasulullah menikahi Zainab setelah bercerai dengan Zaid yang
sudah dianggap oleh orang banyak sebagai anak Muhammad. Allah telah menurunkan wahyu agar Zaid
menceraikan istrinya kemudian dinikahi oleh Rasulullah. Pada mulanya Rasulullab tidak
memperhatikan perintah tersebut, bahkan meminta Zaid mempertahankan istrinya. Allah memberikan
peringatan sekali lagi dalam ayat:

“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya
dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya, ‘Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada
Allah, ‘sedang kamu menyembunyikan dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu
takut kepada manusia, sedang Allah- lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah
mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya
tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) istri-istri anak- anak angkat mereka,
apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluan daripada istrinya. Dan adalah ketetapan
Allah itu pasti terjadi.“ (QS. Al-Ahzab:37)

Ayat di atas merupakan perintah Allah agar Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam. menikahi Zainab
dengan tujuan meluruskan pemahaman keliru tentang kedudukan anak angkat.

Menjadi Ummul-Mukminin

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. mengutus seseorang untuk mengabari Zainab tentang perintah
Allah tersebut. Betapa gembiranya hati Zainab mendengar berita tersebut, dan pesta pernikahan pun
segera dilaksanakan serta dihadiri warga Madinah.
Zainab mulai memasuki rurnah tangga Rasulullah dengan dasar wahyu Allah. Dialah satu-satunya istri
Nabi yang berasal dan kerabat dekatnya. Rasulullah tidak perlu meminta izin jika memasuki rumah
Zainab sedangkan kepada istri-istri lainnya beliau selalu meminta izin. Kebiasaan seperti itu ternyata
menimbulkan kecemburuan di hati istri Rasul lainnya.

Orang-orang munafik yang tidak senang dengan perkembangan Islam membesar-besarkan fitnah
bahwa Rasulullah telah menikahi istri anaknya sendiri. Karena itu, turunlah ayat yang berbunyi,

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah
Rasulullah dan penutup nabi-nabi…. “ (Qs. Al-Ahzab: 40)

Zainab berkata kepada Nabi, “Aku adalah istrimu yang terbesar haknya atasmu, aku utusan yang
terbaik di antara mereka, dan aku pula kerabat paling dekat di antara mereka. Allah menikahkanku
denganmu atas perintah dan langit, dan Jibril yang membawa perintah tersebut. Aku adalah anak
bibimu. Engkau tidak memiliki hubungan kerabat dengan mereka seperti halnya denganku.” Zainab
sangat mencintai Rasulullah dan merasakan hidupnya sangat bahagia. Akan tetapi, dia sangat
pencemburu terhadap istri Rasul lainnya, sehingga Rasulullah pernah tidak tidur bersamanya selama
dua atau tiga bulan sebagai hukuman atas perkataannya yang menyakitkan hati Shafiyyah binti Huyay
bin Akhtab wanita Yahudiyah itu.

Zainab bertangan terampil, menyamak kulit dan menjualnya, juga mengerjakan kerajinan sulaman, dan
hasilnya diinfakkan di jalan Allah.

Wafatnya

Zainab binti Jahsy adalah istri Rasulullah yang pertama kali wafat menyusul beliau, yaitu pada tahun
kedua puluh hijrah, pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, dalarn usianya yang ke-53, dan
dimakamkan di Baqi. Dalarn sebuah riwayat dikatakan bahwa Zainab berkata menjelang ajalnya, “Aku
telah rnenyiapkan kain kafanku, tetapi Umar akan mengirim untukku kain kafan, maka bersedekahlah
dengan salah satunya. Jika kalian dapat bersedekah dengan sernua hak-hakku, kerjakanlah dari sisi
yang lain.” Sernasa hidupnya, Zainab banyak mengeluarkan sedekah di jalan Allah.

Tentang Zainab, Aisyah berkata, “Semoga Allah mengasihi Zainab. Dia banyak menyamaiku dalarn
kedudukannya di hati Rasulullah. Aku belum pernah melihat wanita yang lebih baik agamanya
daripada Zainab. Dia sangat bertakwa kepada Allah, perkataannya paling jujur, paling suka
menyambung tali silaturahim, paling banyak bersedekah, banyak mengorbankan diri dalam bekerja
untuk dapat bersedekah, dan selalu mendekatkan diri kepada Allah. Selain Saudah, dia yang memiliki
tabiat yang keras.”

Semoga Allah memberikan kemuliaan kepadanya (Sayyidah Zainab Binti Jahsy) di akhirat dan
ditempatkan bersama hamba-hamba yang saleh. Amin.

Sumber: Buku Dzaujatur-Rasulullah , karya Amru Yusuf, Penerbit Darus-Sa’abu, Riyadh




                                                            
                            Anas bin Malik (Wafat 93 H)
Anas bin Malik urutan ke tiga dari sahabat yang banyak meriwayatkan hadist, Ia meriwayatkan
sebanyak 2.286 hadits.

Anas adalah (Khadam) pelayan Rasulullah yang terpercaya, ketika ia berusia 10 tahun, ibunya Ummu
sulaiman membawanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam untuk berkhidmat. Ayahnya
bernama Malik bin an-Nadlr. Rasulullah sering bergurau dengan Anas bin Malik, dan Rasulullah
sendiri tidaklah bersikap seperti seorang majikan kepada hambanya.

Anas sendiri pernah berkata:” Rasulullah Shallallahu alaihi wasssalam tidak pernah menegur apa
yang aku perbuat, beliau juga tidak pernah menanyakan tentang sesuatu yang aku tidak kerjakan, akan
tetapi beliau selalu mengucapkan Masya’allahu kan wa ma lam yasya”.

Anas bin Malik tidak berperang dalam perang Badar yang akbar, karena usianya masih sangat muda.
Tetapi ia banyak mengikuti peperangan lainnya sesudah itu. Pada waktu Abu Bakar meminta pendapat
Umar mengenai pengangkatan Anas bin Malik menjadi pegawai di Bahrain, Umar memujinya :” Dia
adalah anak muda yang cerdas dan bisa baca tulis, dan juga lama bergaul dengan Rasulullah”.

Sedangkan Komentar Abu Hurairah tentangnya : “ Aku belum pernah melihat orang lain yang
shalatnya menyerupai Rasulullah kecuali Ibnu Sulaiman (Anas bin Malik)”.

Ibn Sirin berkata:” Dia (Anas) paling bagus Shalatnya baik di rumah maupun ketika sedang dalam
perjalanan”.

Pada hari hari terakhir masa kehidupannya, Anas pindah ke Basrah, Sebagian lain mengatakan
kepindahannya karena terkena fitnah Ibn al-Asy’ats yang mendorong Hajjaj mengancamnya. Maka
tidak ada jalan lain bagi anas bin Malik untuk pindah ke Basrah yang menjadikan satu satunya sahabat
Nabi disana.

Itulah sebabnya para Ulama mengatakan bahawa Anas bin Malik adalah sahabat terakhir yang
meninggal di Basrah., pada wafatnya Muwarriq berkata: “ Telah hilang separuh ilmu. Jika ada orang
suka memperturutkan kesenangannya bila berselisih dengan kami, kami berkata kepadanya, marilah
menghadap kepada orang yang pernah mendenganr dari Rasululah Shallallahu alaihi wassalam”.

Sanad paling sahih yang bersumber awalnya dari : Malik, dari az-Zuhri, dan dia (Anas bin Malik).
Sedangkan yang paling Dlaif dari Dawud bin al-Muhabbir, dari ayahnya Muhabbir dari Abban bin Abi
Iyasy dari dia.

Ia wafat pada tahun 93 H dalam usia melampaui seratus tahun.

Disalin dari Biografi Anas dalam Thabaqaat Ibn sa’ad 7/10 dan Tahdzib 3/319




                                                             
                              Zaid bin Tsabit (wafat 45 H)
Nama lengkapnya adalah Zaid bin Tsabit bin Adh-Dhahak bin Zaid Ludzan bin Amru, dia masuk islam
ketika umur 11 tahun ketika perang Badar terjadi.

Perjalanan hidupnya.

Nabi menyerahkan bendera Bani Malik bin an-Najjar kepada ‘Imarah sebagai komandan perang Tabuk,
lalu Nabi mengambilnya dan diserahkan kepada Zaid bin Tsabit. Ketika beliau memintanya, maka
Imarah bertanya,” Ya Rasulullah, apakah engkau akan menyerahkan sesuatu yang engkau berikan
kepadaku?. Beliau menjawab,” Tidak, tetapi al-Quran harus didahulukan, dan Zaid bin Tsabit lebih
banyak menguasai bacaan Al-Quran daripadamu”.

Zaid juga sebagai penulis wahyu bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam.

Saat Umar menjadi Khalifah dia diangkat sebagai amir (gubernur) Madinah sebanyak 3 kali di ibukota
atau di wilayah pusat kekuasaan, dan dia juga ditugaskan untuk mengumpulkan al-Quran atas perintah
Abu Bakar dan Umar sebagai mana dijelaskan dalam riwayat yang diriwayatkan oleh Bukhari : “Zaid
bin Tsabit berkata” Aku disuruh menghadap Abu Bakar berkenaan dengan pembunuhan yang
dilakukan penduduk Yamamah, dan ketika itu dihadapan nya ada Umar bin al-Khaththab. Lalu Abu
Bakar berkata, “Jika perang terus berkecamuk banyak memakan korban jiwa kaum muslimin, banyak
para penghapal al-Quran di negeri ini terbunuh, dimana akhirnya banyak bagian al-Quran yang
hilang maka agar al-Quran dibukukan, aku berpandangan sama dengan Umar, engkau laki laki yang
cerdas dan masih muda, maka cari dan kumpulkanlah (Mushaf) al-Quran”.

Zaid bin Tsabit adalah seorang ulama yang kedudukannya sama dengan para ulama dari kalangan
sahabat lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,” Umatku yang paling menguasai
ilmu Faraidh adalah Zaid bin Tsabit”. Riwayat lain yang senada terdapat dalam riwayat Imam an-
Nasa’I dan Ibnu Majah, dimana nabi bersabda,” Umatku yang paling penyayang adalah Abu Bakar,
yang paling kuat kesaksiannya dihadapan Allah adalah Umar, yang paling diakui perasaan malunya
adalah Utsman dan yang paling menguasai faraidh adalah Zaid bin Tsabit.”.

Ketika Zaid bin Tsabit wafat maka Abu Hurairah berkata,” Telah wafat orang terbaik dari umat ini
semoga Allah menjadikan Ibnu abbas sebagai penggantinya”.

Wafatnya

Ia wafat di Madinah pada tahun 45 H dalam usia 56 tahun (dalam riwayat lain ia wafat tahun 51 H atau
52 H)

Disalin Zaid bin Tsabit dalam dari biografi Shafwah ash shafwah ibnu Jauzi, Al-Istia’aab Ibn Al-Barr




                                                               
                             Abu Hurairah (wafat 57 H)
Abu Hurairah adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadist Nabi Shallallahu alaihi
wassalam , ia meriwayatkan hadist sebanyak 5.374 hadist.

Abu Hurairah memeluk Islam pada tahun 7 H, tahun terjadinya perang Khibar, Rasulullah sendirilah
yang memberi julukan “Abu Hurairah”, ketika beliau sedang melihatnya membawa seekor kucing
kecil. Julukan dari Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam itu semata karena kecintaan beliau
kepadanya.

Allah Subhanahu wa ta’ala mengabulkan doa Rasulullah agar Abu Hurairah dianugrahi hapalan yang
kuat. Ia memang paling banyak hapalannya diantara para sahabat lainnya.

Pada masa Umar bin Khaththab menjadi Khalifah, Abu Hurairah menjadi pegawai di Bahrain, karena
banyak meriwayatkan hadist Umar bin Khaththab pernah menetangnya dan ketika Abu Hurairah
meriwayatkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wassalam :” Barangsiapa berdusta
mengatasnamakanku dengan sengaja, hendaklah ia menyediakan pantatnya untuk dijilat api neraka”.
Kalau begitu kata Umar, engkau boleh pergi dan menceritakan hadist.

Syu’bah bin al-Hajjaj memperhatikan bahwa Abu Hurairah meriwayatkan dari Ka’ab al-Akhbar dan
meriwayatkan pula dari Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam, tetapi ia tidak membedakan antara dua
riwayatnya tersebut. Syu’bah pun menuduhnya melakukan tadlis, tetapi Bisyr bin Sa’id menolak
ucapan Syu’bah tentang Abu Hurairah. Dan dengan tegas berkata: Bertakwalah kepada allah dan
berhati hati terhadap hadist. Demi Allah, aku telah melihat kita sering duduk di majelis Abu Hurairah.
Ia menceritakan hadist Rasulullah dan menceritakan pula kepada kita riwayat dari Ka’ab al-Akhbar.
Kemudian dia berdiri, lalu aku mendengan dari sebagian orang yang ada bersama kita mempertukarkan
hadist Rasulullah dengan riwayat dari Ka’ab. Dan yang dari Ka’ab menjadi dari Rasulullah.”. Jadi
tadlis itu tidak bersumber dari Abu Hurairah sendiri, melainkan dari orang yang meriwayatkan darinya.

Cukupkanlah kiranya kita mendengar kan dari Imam Syafi’I :” Abu Hurairah adalah orang yang paling
hapal diantara periwayat hadist dimasanya”.

Marwan bin al-Hakam pernah mengundang Abu Hurairah untuk menulis riwayat darinya, lalu ia
bertanya tentang apa yang ditulisnya, lalu Abu Hurairah menjawab :” Tidak lebih dan tidak kurang dan
susunannya urut”.

Abu Hurairah meriwayatkan hadist dari /abu Bakar, Umar, Utsman, Ubai bin Ka’ab, Utsman bin Za’id,
Aisyah dan sahabat lainnya. Sedangkan jumlah orang yang meriwayatkan darinya melebihi 800 orang,
terdiri dari para sahabat dan tabi’in. diantara lain dari sahabat yang diriwayatkan adalah Abdullah bin
Abbas, Abdullah bin Umar, Jabir bin Abdullah, dan Anas bin Malik, sedangkan dari kalangan tabi’in
antara lain Sa’id bin al-Musayyab, Ibnu Sirin, Ikrimah, Atha’, Mujahid dan Asy-Sya’bi.

Sanad paling shahih yang berpangkal daripadanya adalah Ibnu Shihab az-Zuhr, dari Sa’id bin al-
Musayyab, darinya (Abu Hurairah).

Adapun yang paling Dlaif adalah as-Sari bin Sulaiman, dari Dawud bin Yazid al-Audi dari bapaknya
(Yazid al-Audi) dari Abu Hurairah.

Ia wafat pada tahun 57 H di Aqiq.

Disalin dari Biografi Abu Hurairah dalam Al-Ishabah Ibn Hajar Asqalani No. 1179, Tahdzib al ‘asma: An-Nawawi 2/270



                                                            
                         Jabir bin Abdullah (wafat 74H)
Jabir bin Abdullah meriwayatkan 1.540 hadist, Ayahnya bernama Abdullah bin Amr bin Hamran
Al-Anshari as-Salami. Ia bersama ayahnya dan seorang pamannya mengikuti Bai’at al-‘Aqabah kedua
di antara 70 sahabat anshar yang berikrar akan membantu menguatkan dan menyiarkan agama Islam,
Jabir juga mendapat kesempatan ikut dalam peperangan yang dilakukan pleh Nabi, kecuali perang
Badar dan Perang Uhud, karena dilarang oleh ayahku. Setelah Ayahku terbunuh, aku selalu ikut
berperang bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam.

Jabir bin Abdullah pernah melawat ke Mesir dan Syam dan banyak orang menimba ilmu darinya
dimanapun mereka bertemu dengannya. Di Masjid Nabi Madinah ia mempunyai kelompok belajar ,
disini orang orang berkumpul untuk mengambil manfaat dari ilmu dan ketakwaan.

Ia wafat di Madinah pada tahun 74 H. Abbas bin Utsman penguasa madinah pada waktu itu ikut
mensholatkannya.

Sanad terkenal dan paling Shahih darinya adalah yang diriwayatkan oleh penduduk Makkah melalui
jalur Sufyan bin Uyainah, dari Amr bin Dinar, dari Jabir bin Abdullah.


(biografi jabir dalam Al-Ishabah 1/213 dan Tahdzib al-Asma 1/142)




                                                             
                      Abu Sa’id Al-Khudri (wafat 74 H)
Abu Sa’id Al-Khudri adalah orang ke tujuh yang banyak meriwayatkan hadist dari Rasulullah
Shallallahu alaihi wassalam. Telah meriwayatkan 1.170 hadits. Orang orang pernah memintanya agar
mengizinkan mereka menulis hadits hadits yang mereka dengar darinya. Ia menjawab “ Jangan sekali
kali kalian menulisnya dan jangan kalian menjadikan sebagai bacaan, tetapi hapalkan sebagaimana aku
menghapalnya”.

Abi Sa’id lebih dikenal dengan nama aslinya adalah Sa’ad bin Malik bin Sinan. Ayahnya Malik bin
Sinan syahid dalam peperangan Uhud, Ia seorang Khudri nasabnya bersambung dengan Khudrah bin
Auf al-Harits bin al-Khazraj yang terkenal dengan julukan “Abjar”.

Ketika perang Uhud pecah ayahnya (malik) membawanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi
wassalam dan meminta agar anaknya diikutkan dalam peperangan. Pada waktu itu Jabir masih berusia
13 tahun, namun ayahnya menyanjung kekuatan tubuh anaknya:” Dia bertulang besar ya Rasulullah”
tetapi, Rasulullah tetap menganggapnya masih kecil dan menyuruh membawanya pulang.

Abu Sa’id al-Khudri adalah salah seorang diantara para sahabat yang melakukan bai’at kepada
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam mereka berikrar tidak akan tergoyahkan oleh cercaan orang
dalam memperjuangkan agama Allah Subhanahu wa ta’ala, mereka tergabung dalam kelompok Abu
Dzarr al-Ghifari, Sahl bin Sa’ad, Ubaidah bin ash Shamit dan Muhammad bin Muslimah.

Abu Sa’id al-Khudri bersama Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam dalam perang Bani Musthaliq,
perang Khandaq dan perang perang sesudahnya, secara keseluruhan ia mengikuti 12 kali peperangan.

Riwayatnya dari para sahabat lain banyak sekali namun sumber yang paling terkenal adalah bapaknya
sendiri Malik bin Sinan, saudaranya seibu Qatadah bin an-Nu’man, Abu Bakan, Umar, Utsman, Ali,
Abu Musa al-Asy’ari, Zaid bin Tsabit dan Abdullah bin Salam.

Sedangkan orang orang yang meriwayatkan hadits darinya adalah anaknya sendiri Aburahman, istrinya
Zainab bin Ka’ab bin Ajrad, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Abu Thufail, Nafi’ dan Ikramah.

Abu sa’id membawa putranya Abdurahman ke tanah pemakaman Baqi, dan berpesan agar ia nanti
dimakamkan di bagian jauh dari tempat itu. Katanya: “ Wahai anakku, apabila aku meninggal dunia
kelak, kuburkanlah aku disana, Jangan engkau buat tenda untuk, jangan engkau mengiringi Jenazahku
dengan membawa api, Jangan engkau tangisi aku dengan meratap-ratap, dan jangan memberitahukan
seorangpun tentang diriku”.

Kemudian ia beliau wafat pada tahun 74 H

Disalin dari Biografi Abu Sa’id dalam Tahdzib at Tahdzib 3/49




                                                                
  Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu (Wafat 18 H)
Muadz bin Jabal bin Amr bin Aus al-Khazraji, dengan nama julukan “Abu Abdurahman”, dilahirkan di
Madinah. Ia memeluk Islam pada usia 18 tahun, Ia mempunyai keistimewaan sebagai seorang yang
sangat pintar dan berdedikasi tinggi. Dari segi fisik, ia gagah dan perkasa. Allah juga mengaruniakan
kepadanya kepandaian berbahasa serta tutur kata yang indah, Muadz termasuk di dalam rombongan
yang berjumlah sekitar 72 orang Madinah yang datang berbai’at kepada Rasulullah. Setelah itu Muadz
kembali ke Madinah sebagai seorang pendakwah Islam di dalam masyarakat Madinah. Ia berhasil
mengislamkan beberapa orang sahabat yang terkemuka seperti misalnya Amru bin Al-Jamuh.

Pada waktu Nabi Muhammad berhijrah ke Madinah, Muaz senantiasa berada bersama dengan
Rasulullah sehingga ia dapat memahami Al-Qur’an dan syariat-syariat Islam dengan baik. Hal tersebut
membuatnya di kemudian hari muncul sebagai seorang yang paling ahli tentang Al-Qur’an dari
kalangan para sahabat. Ia adalah orang yang paling baik membaca Al-Qur’an serta paling memahami
syariat-syariat Allah. Oleh sebab itulah Rasulullah memujinya dengan bersabda, “Yang kumaksud
umatku yang paling alim tentang halal dan haram ialah Muaz bin Jabal.” (Hadist Tirmidzi dan Ibnu
Majah). Ia meriwayatkan hadist dari Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar dan meriwayatkan
darinya ialah Anas bin Malik, Masruq, Abu Thufail Amir bin Wasilah. Selain itu, Muadz merupakan
salah satu dari enam orang yang mengumpulkan Al-Qur’an pada zaman Rasulullah.

Setelah kota Makkah didatangi oleh Rasulullah, penduduk Makkah memerlukan tenaga-tenaga
pengajar yang tetap tinggal bersama mereka untuk mengajarkan syariat agama Islam. Rasulullah lantas
menyanggupi permintaan tersebut dan meminta supaya Muaz tinggal bersama dengan penduduk
Makkah untuk mengajar Al-Qur’an dan memberikan pemahaman kepada mereka mengenai agama
Allah. Sifat terpuji beliau juga jelas terlihat manakala rombongan raja-raja Yaman datang menjumpai
Rasulullah guna meng-isytihar-kan keislaman mereka dan meminta kepada Rasulullah supaya
mengantarkan tenaga pengajar kepada mereka. Begitupun maka Rasulullah memilih Muaz untuk
memegang tugas itu bersama-sama dengan beberapa orang para sahabat.

Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam mempersaudarakanya dengan Abdullah bin Mas’ud. Nabi
mengirimnya ke negeri Yaman untuk mengajar, memberikan pengetahuan agama dan mendidik sampai
hapal al-Quran kepada penduduk Yaman. Rasulullah mengantarnya dengan berjalan kaki sedangkan
Mu’adz berkendaraan, dan Nabi bersabda kepadanya: ” Sungguh, aku mencintaimu“.

Lantas beliau mewasiatkan kepada Muadz dengan bersabda : “Wahai Muadz! Kemungkinan kamu tidak
akan dapat bertemu lagi dengan aku selepas tahun ini“, Kemudian Muadz menangis karena terlalu
sedih untuk berpisah dengan Rasulullah Shallalahu alaihi wassalam. Selepas peristiwa tersebut ternyata
Rasulullah wafat dan Muadz tidak lagi dapat melihatnya.

Muadz sangat terpukul atas berpulangnya Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. Ia bahkan menangis
tersedu-sedu selama beberapa saat. Namun ia segera menyadari tanggung jawab dakwah di pundaknya.
Ia senantiasa menjaga ghirah (semangat) keislamannya agar tidak surut. Setelah Umar bin Khattab
dilantik menjadi khalifah, ia mengutus Muaz untuk mendamaikan pertikaian yang terjadi di kalangan
Bani Kilab. Ia pun sukses menjalankan misi itu.

Pada zaman pemerintahan Khalifah Umar pula, gubernur Syam (sekarang Mesir) mengirimkan Yazid
bin Abi Sofian untuk meminta guru bagi penduduknya. Lalu Umar memanggil Muaz bin Jabal,
Ubaidah bin As-Somit, Abu Ayub Al-Ansary, Ubai bin Kaab dan Abu Darda’ dalam satu majelis.
Khalifah Umar berkata kepada mereka : “Sesungguhnya saudara kamu di negeri Syam telah meminta
bantuan daripada aku supaya mengantar siapa saja yang dapat mengajarkan Al-Qur’an kepada mereka
dan memberikan pemahaman kepada mereka tentang agama Islam. Oleh karena itu bantulah aku untuk
mendapat tiga orang dari kalangan kamu semoga Allah merahmati kamu. Sekiranya kamu ingin
membuat pengundian, kamu boleh membuat undian, jika tidak aku akan melantik tiga orang dari
kalangan kamu.”

Lalu mereka menjawab : “Kami tidak akan membuat pengundian dengan memandang bahwa Abu
Ayub telah terlalu tua, sedang Ubai pun senantiasa mengalami kesakitan, dan yang tinggal hanya kami
bertiga saja.” Kemudian Umar berkata kepada mereka : “Kalian mulailah bertugas di Hims, sekiranya
kamu suka dengan keadaan penduduknya, bolehlah salah seorang diantara kamu tinggal di sana.
Kemudian salah seorang daripada kamu hendaknya pergi ke Damsyik, dan seorang lagi pergi ke
Palestina.”

Lalu mereka bertiga keluar ke Hims dan mereka meninggalkan Ubaidah bin As-Somit di sana, Abu
Darda’ pergi ke Damsyik. Muaz bin Jabal terus berlalu pergi ke negara Urdun. Muaz bin Jabal berada
di Urdun pada saat negeri tersebut tengah terserang wabah penyakit menular.

Mu’adz bin Jabal wafat tahun 18 H ketika terjadi wabah hebat di Urdun tersebut, waktu itu usianya 33
tahun .

Disalin dari Biografi Mu’adz dalam Al-Ishabah no.8039 karya Ibn Hajar Asqalani dan Thabaqat Ibn Sa’ad
3/Q2,120




                                                  
            Abu Dzar Al Ghifari radhiyallahu’anhu
Bani Ghifar adalah qabilah Arab suku badui yang tinggal di pegunungan yang jauh dari peradaban
orang-orang kota. Lebih-lebih lagi suku ini terkenal sebagai gerombolan perampok yang senang
berperang dan menumpahkan darah serta pemberani. Bani Ghifar terkenal juga sebagai suku yang
tahan menghadapi penderitaan dan kekurangan serta kelaparan. Latar belakang tabi’at kesukuan,
apakah itu tabiat yang baik ataukah tabi’at yang jelek, semuanya terkumpul pada diri Abu Dzar.

Nama lengkapnya yang mashur ialah Jundub bin Junadah Al Ghifari dan terkenal dengan kuniahnya
Abu Dzar. Di suatu hari tersebar berita di kampung Bani Ghifar, bahwa telah muncul di kota Makkah
seorang yang mengaku sebagai utusan Allah dan mendapat berita dari langit. Serta merta berita ini
sangat mengganggu penasaran Abu Dzar, sehingga dia mengutus adik kandungnya bernama Unais Al
Ghifari untuk mencari berita ke Makkah. Unais sendiri adalah seorang penyair yang sangat piawai
dalam menggubah syair-syair Arab. Berangkatlah Unais ke Makkah untuk mencari tau apa
sesungguhnya yang terjadi di Makkah berkenaan dengan berita kemunculan utusan Allah itu. Dan
setelah beberapa lama, kembalilah Unais kekampungnya dan melaporkan kepada Abu Dzar tentang
yang dilihat dan didengar di Makkah berkenaan dengan berita tersebut. Ditanyakan oleh Abu Dzar
kepada Unais : “Apa yang telah kamu lakukan ?”, tanyanya. Unais menjelaskan : “Aku sungguh telah
menemui seorang pria yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari perbuatan yang jelek”.

Abu Dzar bertanya lagi : “Apa yang dikatakan orang-orang tentangnya ?”.

Unais menjawab : “Orang-orang mengatakan, bahwa dia adalah tukang sya’ir, tukang tenung, dan
tukang sihir. Tetapi aku sesungguhnya telah biasa mendengar omongan tukang tenung, dan tidaklah
omongannya serupa dengan omongan tukang tenung. Dan aku telah membandingkan omongan darinya
dengan omongan para tukang sya’ir, ternyata amat berbeda omongannya dengan bait-bait sya’ir. Demi
Allah, sesungguhnya dia adalah orang yang benar ucapannya, dan mereka yang mencercanya adalah
dusta”.

Mendengar laporan dari Unais itu, Abu Dzar lebih penasaran lagi untuk bertemu sendiri dengan orang
yang berada di Makkah yang mengaku telah mendapatkan berita dari langit itu. Segeralah dia berkemas
untuk berangkat menuju Makkah, demi menenangkan suara hatinya itu. Dan sesampainya dia di
Makkah, langsung saja menuju Ka’bah dan tinggal padanya sehingga bekal yang dibawanya habis. Dia
sempat bertanya kepada orang-orang Makkah, siapakah diantara kalian yang dikatakan telah
meninggalkan agama nenek moyangnya ? Orang-orangpun segera menunjukkan kepada Abu Dzar,
seorang pria yang ganteng putih kulitnya dan bersinar wajahnya bak bulan purnama. Abu Dzar
memang amat berhati-hati, dalam kondisi hampir seluruh penduduk Makkah memusuhi dan menentang
Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa aalihi wa sallam. Dan orangpun di Makkah dalam keadaan takut
dan kuatir untuk mendekat kepada beliau sallallahu alaihi wa aalihi wa sallam, karena siapa yang
mendekat kepadanya bila dia adalah dari kalangan budak belian, akan menghadapi hukuman berat dari
tuannya. Demikian pula bila dari kalangan pendatang dan tidak mempunyai qabilah pelindungnya di
Makkah. Demi keadaan yang demikian mencekam, Abu Dzar tidak gegabah berbicara dengan semua
orang dalam hal apa yang sedang dicarinya dan apa yang diinginkannya.

Dia hanya menanti dan menanti di Ka’bah, dalam keadaan semua perbekalannya telah habis. Dia
berusaha mengatasi rasa lapar yang mengganggu perutnya dengan minum air zam-zam dan tidak ada
makanan lain selain itu. Demikian terus suasana penantian itu berlangsung selama tiga puluh hari dan
perut Abu Dzar selama itu tidak kemasukan apa-apa kecuali hanya air zam-zam. Ini sungguh sebagai
karamah air zam-zam, karena nyatanya Abu Dzar badannya serasa semakin gemuk selama tiga puluh
hari itu. Apa sesungguhnya yang dinantinya ? yang dinantinya hanyalah kesempatan menemui dan
berdialog langsung dengan pria ganteng berwajah bulan purnama itu, untuk mengetahui darinya
langsung agama apa sesungguhnya yang dibawanya. Dia setiap harinya terus menerus mengamati
tingkah laku pria ganteng tersebut dan sikap masyarakatnya yang anti pati terhadapnya.

Di suatu hari yang cerah, Abu Dazar bernasib baik. Sedang dia berdiri di salah satu pojok Ka’bah,
lewat di hadapan beliau Ali bin Abi Thalib dan langsung menegurnya, apakah engkau orang pendatang
di kota ini ? Segera saja Abu Dzar menjawabnya : Ya ! Maka Ali bin Abi Thalib menyatakan
kepadanya : Kemarilah ikut ke rumahku. Maka Abu Dzarpun pergi kerumah Ali untuk dijamu sebagai
tamu. Dia tidak tanya kepada tuan rumah dan tuan rumahpun tidak tanya kepadanya tentang tujuannya
datang ke kota Makkah. Dan setelah dijamu, Abu Dzarpun kembali ke Ka’bah tanpa bercerita panjang
dengan tuan rumah. Tapi Ali bin Abi Thalib melihat pada gurat wajah tamunya, ada sesuatu keperluan
yang sangat dirahasiakannya. Sehingga ketika esok harinya, Ali berjumpa lagi dengan tamunya di
Ka’bah dan segera menanyainya : “Apakah hari ini anda akan kembali ke kampung ?”. Abu Dzar
menjawab dengan tegas : “Belum !”. Mendapat jawaban demikian, Ali tidak tahan lagi untuk
menanyainya : “Apa sesungguhnya urusanmu, dan apa pula yang mendatangkanmu ke mari ?”. Dan
Abu Dzarpun terperangah mendapat pertanyaan demikian dari satu-satunya orang Quraisy yang telah
menjamunya dan mengakrabkan dirinya dengan tamu asing ini. Tetapi Abu Dzar tidak lagi merasa
asing dengan orang yang menjamunya ini, sehingga mendapat pertanyaan demikian langsung saja dia
balik mengajukan syarat bernada tantangan : “Bila engkau berjanji akan merahasiakan jawabanku, aku
akan menjawab pertanyaanmu”. Langsung saja Ali menyatakan janjinya : “Aku berjanji untuk menjaga
rahasiamu”. Dan Abu Dzar tidak ragu lagi dengan janji pemuda Quraisy yang terhormat ini, sehingga
dengan setengah berbisik dia menjelaskan kepada Ali : “Telah sampai kepada kami berita, bahwa telah
keluar seorang Nabi”. Mendengar kata-kata Abu Dzar itu Ali menyambutnya dengan gembira dan
menyatakan kepadanya : “Engkau sungguh benar dengan ucapanmu ?! ikutilah aku kemana aku
berjalan dan masuklah ke rumah yang aku masuki. Dan bila aku melihat bahaya yang mengancammu,
maka aku akan memberi isyarat kepadamu dengan berdiri mendekat ke tembok dan aku seolah-olah
sedang memperbaiki alas kakiku. Dan bila aku lakukan demikian, maka segera engkau pergi menjauh”.
Maka Abu Dzarpun mengikuti Ali kemanapun dia berjalan, dan dengan tidak mendapati halangan apa-
apa, akhirnya dia sampai juga di hadapan Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wasallam dan langsung
menanyakan kepada beliau. Inilah saat yang paling dinanti oleh Abu Dzar dan ketika Rasulullah
menawarkan Islam kepadanya, segera Abu Dzar menyatakan masuk Islam dituntun Nabi Muhammad
sallallahu alaihi wa aalihi wasallam dengan mengucapkan dua kalimah syahadat. Rasulullah sallallahu
alaihi wa aalihi wa sallam berwasiat kepadanya : “Wahai Aba Dzar, sembunyikanlah keislamanmu ini,
dan pulanglah ke kampungmu !, maka bila engkau mendengar bahwa kami telah menang, silakan
engkau datang kembali untuk bergabung dengan kami”.

Mendengar wasiat tersebut Abu Dzar menegaskan kepada Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wa
sallam: “Demi yang Mengutus engkau dengan kebenaran, sungguh aku akan meneriakkan di kalangan
mereka bahwa aku telah masuk Islam”. Dan Rasulullah mendiamkan tekat Abu Dzar tersebut.

Segera saja Abu dzar menuju Masjidil Haram dan di hadapan Ka’bah banyak berkumpul para tokoh-
tokoh kafir Quraisy. Demi melihat banyaknya orang berkumpul padanya, Abu Dzar berteriak dengan
sekeras- keras suara dengan menyatakan : “Wahai orang-orang Quraisy, aku sesungguhnya telah
bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah dan aku bersaksi pula Muhammad itu
adalah hamba dan utusan Allah”.

Mendengar omongan itu, para dedengkot kafir Quraisy marah besar dan mereka berteriak
memerintahkan orang-orang di situ : “Bangkitlah kalian, kejar orang murtad itu”. Maka segera orang-
orang mengerumuni Abu Dzar sembari memukulinya dengan nafsu ingin membunuhnya. Syukurlah
waktu itu masih ada Al Abbas bin Abdul Mutthalib tokoh Bani Hasyim paman Rasulillah yang
disegani kalangan Quraisy. Sehingga Al Abbas berteriak kepada masyarakat yang sedang beringas
memukuli Abu Dzar : “Celakalah kalian, apakah kalian akan membunuh seorang dari kalangan Bani
Ghifar yang kalian harus melalui kampungnya di jalur perdagangan kalian”. Demi masyarakat
mendapat teriakan demikian, merekapun melepaskan Abu Dzar yang telah babak belur bersimbah
darah akibat dari pengeroyokan itu. Demikianlah Abu Dzar, sosok pria pemberani yang bila meyakini
kebenaran sesuatu perkara, dia tidak akan peduli menyatakan keyakinannya di hadapan siapapun
meskipun harus menghadapi resiko seberat apapun. Dan apa yang dihadapinya hari ini, tidak
menciutkan nyalinya untuk mengulang proklamasi keimanannya di depan Ka’bah menantang para
dedengkot kafir Quraisy. Keesokan harinya dia mengulangi proklamasi keimanan yang penuh
keberanian itu, dan teriakan syahadatainnya menimbulkan kembali berangnya para tokoh kafir Quraisy.
Sehingga mereka memerintahkan untuk mengeroyok seorang Abu Dzar untuk kedua kalinya. Dan
untuk kedua kalinya ini, Al Abbas berteriak lagi seperti kemarin dan Abu Dzarpun dilepaskan oleh
masa yang sedang mengamuk itu dalam keadaan babak belur bersimbah darah seperti kemaren.

Setelah dia puas membikin marah orang-orang kafir Quraisy dengan proklamasi masuk Islamnya,
meskipun dia harus beresiko hampir mati dikeroyok masa. Barulah dia bersemangat melaksanakan
wasiat Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wa sallam untuk pulang ke kampungnya di kampung Bani
Ghifar. Abu Dzar pulang ke kampungnya, dan di sana dia rajin menda’wahi keluarganya. Unais Al
Ghifari, adik kandungnya, telah masuk Islam, kemudian disusul ibu kandungnya yang bernama Ramlah
bintu Al Waqi’ah Al Ghifariah juga masuk Islam. Sehingga separoh Bani Ghifar telah masuk Islam.
Adapun separoh yang lainnya, telah menyatakan bahwa bila Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa
aalihi wasallam telah hijrah ke Madinah maka mereka akan masuk Islam. Maka segera saja mereka
berbondong-bondong masuk Islam setelah sampainya berita di kampung mereka bahwa Rasulullah
sallallahu alaihi wa aalihi wa sallam telah hijrah ke Al Madinah An Nabawiyah.

Hijrah Ke Al Madinah :

Dengan telah masuk Islamnya seluruh kampung Bani Ghifar, dan setelah peperangan Bader dan Uhud
dan Khandaq, Abu Dzar bergegas menyiapkan dirinya untuk berhijrah ke Al Madinah dan langsung
menemui Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wasallam di masjid beliau. Dan sejak itu Abu Dzar
berkhidmat melayani berbagai kepentingan pribadi dan keluarga Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi
wasallam. Dia tinggal di Masjid Nabi dan selalu mengawal dan mendampingi Nabi sallallahu alaihi wa
aalihi wasallam kemanapun beliau berjalan. Sehingga Abu Dzar banyak menimba ilmu dari Rasulullah
sallallahu alaihi wa aalihi wasallam. Sehingga Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wasallam sangat
mencintainya dan selalu mencari Abu dzar di setiap majlis beliau dan beliau menyesal bila di satu
majlis, Abu Dzar tidak hadir padanya. Sehingga beliau menanyakan, mengapa dia tidak hadir dan ada
halangan apa.

Begitu dekatnya Abu Dzar dengan Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wasallam, dan begitu
sayangnya beliau kepada Abu Dzar, sehingga disuatu hari pernah Abu Dzar meminta jabatan kepada
Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wa sallam. Maka beliau langsung menasehatinya :

(tulis hadisnya di Thabaqat Ibnu Sa’ad 3 / 164)

“Sesungguhnya engkau adalah orang yang lemah, dan sesungguhnya jabatan itu adalah amanah, dan
sesungguhnya jabatan itu akan menjadi kehinaan dan penyesalan bagi orang yang menerima jabatan
itu, kecuali orang yang mengambil jabatan itu dengan cara yang benar dan dia menunaikan amanah
jabatan itu dengan benar pula”. HR. Ibnu Sa’ad dalam Thabaqatnya.

Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wa sallam pernah berpesan kepadanya :

(tulis haditsnya di kitab Hilyatul Auliya’ 1 / 162)

“Wahai Abu Dzar, engkau adalah seorang yang shaleh, sungguh engkau akan ditimpa berbagai mala
petaka sepeninggalku”. Maka Abu Dzarpun bertanya : Apakah musibah itu sebagai ujian di jalan Allah
?”, Rasulullahpun menjawab : “Ya, di jalan Allah”. Dengan penuh semangat Abu Dzarpun menyatakan
: “Selamat datang wahai mala petaka yang Allah taqdirkan”. HR. Abu Nu’aim Al Asfahani dalam kitab
Al Hilyah jilid 1 hal. 162.

Asma’ bintu Yazid bin As Sakan menceritakan, bahwa di suatu hari Abu Dzar setelah menjalankan
tugas kesehariannya melayani Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wasallam, dia beristirahat di
masjid, dan memang tempat tinggalnya di masjid. Maka masuklah Nabi sallallahu alaihi wa aalihi
wasallam ke masjid dan mendapati Abu Dzar dalam keadaan sedang tiduran padanya. Maka Rasulullah
meremas jari jemari telapak kakinya dengan telapak kaki beliau, sehingga Abu Dzarpun duduk dengan
sempurna. Rasulullah menanyainya : Tidakkah aku melihat engkau tidur ?. Maka dia menjawab :
Dimana lagi aku bisa tidur, apakah ada rumah bagiku selain masjid ? Maka Rasulullahpun duduk
bersamanya, kemudian beliau bertanya kepadanya : Apa yang akan engkau lakukan bila engkau diusir
dari masjid ini ?. Abu Dzar menjawabnya : Aku akan pindah ke negeri Syam, karena Syam adalah
negeri tempat hijrah, dan negeri hari kebangkitan di padang mahsyar, dan negeri para Nabi, sehingga
aku akan menjadi penduduk negeri itu. Kemudian Nabi sallallahu alaihi wa aalihi wasallam bertanya
lagi kepadanya : Bagaimana pula bila engkau diusir dari negeri Syam ? Maka Abu Dzar menjawab :
Aku akan kembali ke Masjid ini dan akan aku jadikan masjid ini sebagai rumahku dan tempat
tinggalku. Kemudian Nabi bertanya lagi : Bagaimana kalau engkau diusir lagi dari padanya ? Abu Dzar
menjawab : Kalau begitu aku akan mengambil pedangku dan aku akan memerangi pihak yang
mengusirku sehingga aku mati. Maka Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wasallam tersenyum kecut
mendengar jawaban Abu Dzar itu dan beliau menyatakan kepadanya : Maukah aku tunjukkan
kepadamu yang lebih baik darinya ? Segera saja Abu Dzar menyatakan : Tentu, demi bapakku dan
ibuku wahai Rasulullah. Maka beliaupun menyatakan kepadanya : “Engkau ikuti penguasamu, kemana
saja dia perintahkan kamu, engkau pergi kemana saja engkau digiring oleh penguasamu, sehingga
engkau menjumpaiku (yakni menjumpaiku di alam qubur) dalam keadaan mentaati penguasamu itu”.
HR. Ahmad dalam Musnadnya jilid 6 hal. 457.

Disamping berbagai wasiat Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wasallam tersebut, dirwayatkan pula
pujian dari Nabi sallallahu alaihi wa aalihi wasallam kepada Abu Dzar sebagai berikut ini :

(tulis haditsnya di Thabaqat Ibnu Sa’ad jilid 3 hal. 161).

“Tidak ada makhluq yang berbicara di kolong langit yang biru dan yang dipikul oleh bumi, yang lebih
benar ucapannya dari Abu Dzar”. HR. Ibnu Sa’ad dalam Thabaqatnya jilid 3 hal 161, juga
diriwayatkan oleh At Tirmidzi dalam Sunannya, hadits ke 3801 dari Abdullah bin Amer radhiyallahu
‘anhuma.

Abu Dzar berjuang sendirian :

Setelah wafatnya Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wasallam, Abu Dzar cenderung menyendiri.
Tampak benar kesedihan pada wajahnya. Dia adalah orang yang keras, tegas, pemberani, dan sangat
kuat berpegang dengan segenap ajaran Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa aalihi wasallam
disamping kebenciannya kepada segala bentuk kebid’ahan (yakni segala penyimpangan dari ajaran
Nabi sallallahu alaihi wa aalihi wasallam). Dia adalah orang yang penyayang terhadap orang-orang
lemah dari kalangan faqir dan miskin. Karena dia terus-menerus berpegang dengan wasiat Nabi
sebagaimana yang beliau ceritakan : (artinya) “Telah berwasiat kepadaku orang yang amat aku cintai
(Yakni Rsaulullah) dengan tujuh perkara : Beliau memerintahkan aku untuk mencintai orang-orang
miskin dan mendekati mereka, dan beliau memerintahkan aku untuk selalu melihat keadaan orang yang
lebih menderita dariku. Beliau memerintahkan kepadaku juga untuk aku tidak meminta kepada
seseorangpun untuk mendapatkan keperluanku sedikitpun, dan aku diperintahkan untuk tetap
menyambung silaturrahmi walaupun karib kerabatku itu memboikot aku. Demikian pula aku
diperintahkan untuk mengucapkan kebenaran walaupun serasa pahit untuk diucapkan, dan aku tidak
boleh takut cercaan siapapun dalam menjalankan kebenaran. Aku dibimbing olehnya untuk selalu
mengucapkan la haula wala quwwata illa billah (yakni tidak ada daya upaya dan tidak ada kekuatan
kecuali dengan bantuan Allah), karena kalimat ini adalah simpanan perbendaharaan yang diletakkan di
bawah Arsy Allah”. HR. Ahmad dalam Musnadnya jilid 5 hal. 159.

Abu Dzar mempunyai pendapat yang dirasa ganjil oleh banyak orang yang hidup di zamannya, tetapi
mereka tidak bisa membantahnya. Diriwayatkan oleh Al Ahnaf bin Qais sebuah kejadian yang
menunjukkan betapa berbedanya Abu Dzar dari yang lainnya, kata Al Ahnaf : “Aku pernah masuk kota
Al Madinah di suatu hari. Ketika itu aku sedang duduk di suatu halaqah (ya’ni duduk bergerombol
dengan formasi duduknya melingkar) dengan orang-orang Quraisy. Tiba-tiba datanglah ke halaqah itu
seorang pria yang compang camping bajunya, badannya kurus kering, dan wajahnya menunjukkan
kesengsaraan hidup, dan orang inipun berdiri di hadapan mereka seraya berkata : Beri kabar gembira
bagi orang-orang yang menyimpan kelebihan hartanya, dengan ancaman adzab Allah berupa dihimpit
batu yang amat panas karena batu itu dibakar diatas api, dan batu itupun diletakkan di dadanya
sehingga sampai tenggelam padanya sehingga batu panas itu keluar dari pundaknya. Dan juga
diletakkan batu panas itu di tulang pundaknya sehingga keluar di dadanya, demikian terus sehingga
batu panas itu naik turun antara dada dan tulang pundaknya.

Mendengar omongan orang ini, hadirin yang ada di halaqah itu menundukkan kepalanya. Maka aku
melihat, tidak ada seorangpun yang menyapanya dari hadirin yang duduk di halaqah itu. Sehingga
orang itupun segera meninggalkan halaqah tersebut dan duduk menjauh daripadanya . Maka akupun
bertanya kepada yang hadir di halaqah itu : Siapakah dia ini ?, mereka menjawab : Dia adalah Abu
Dzar.
Demi aku melihat keadaan demikian, akupun mendatangi tempat dia duduk menyendiri dan akupun
duduk dihadapannya dan aku katakan kepadanya : Aku melihat, mereka yang duduk di halaqah itu
tidak suka dengan apa yang engkau ucapkan.

Abu Dzarpun menyatakan : Mereka itu adalah orang-orang yang tidak mengerti sama sekali.
Sesungguhnya kekasihku Abul Qasim (yakni Nabi Muhammad) sallallahu alaihi wa aalihi wasallam
pernah memanggil aku dan akupun segera memenuhi panggilan beliau. Maka beliaupun menyatakan
kepadaku : Engkau lihat gunung Uhud itu ?!.

Aku melihat gunung itu dalam keadaan diterpa oleh sinar matahari pada punggungnya, dan aku
menyangka beliau akan menyuruh aku untuk suatu keperluan padanya. Maka aku menjawab
pertanyaan beliau : Aku melihatnya.

Kemudian beliaupun bersabda : Tidaklah akan menyenangkan aku kalau seandainya aku punya emas
sebesar itu, kecuali bila aku shodaqahkan semuanya sehingga tidak tersisa daripadanya kecuali tiga
dinar (untuk keperluanku).

Selanjutnya Abu Dzar menyatakan : Tetapi kemudian mereka itu kenyataannya selalu mengumpulkan
dunia, mereka tidak mengerti sama sekali.

Aku katakan kepadanya : Ada apa antara engkau dengan saudara-saudarmu dari kalangan orang-orang
Quraisy. Mengapa engkau tidak minta bantuan dari mereka sehingga engkau mendapatkan sebagian
harta mereka.

Abu Dzar menjawab dengan tegas dan lantang : Tidak ! Demi Tuhanmu, aku tidak akan meminta dunia
sedikitpun kepada mereka dan aku tidak akan minta fatwa dari mereka tentang agama, sehingga aku
mati bergabung dengan Allah dan RasulNya”.

Demikian diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Shahihnya hadits ke 1407 – 1408 dan Muslim dalam
Shahihnya hadits ke 992 / 34 – 35.

Abu Dzar sangat keras dengan pendiriannya. Dia berpendapat bahwa menyimpan harta yang lebih dari
keperluannya itu adalah haram. Sedangkan keumuman para Shahabat Nabi berpendapat, bahwa boleh
menyimpan harta dengan syarat bahwa harta itu telah dizakati (yakni dikeluarkan zakatnya). Bahkan
Abu Dzar menjauh dari para Shahabat Nabi sallallahu alaihi wa aalihi wasallam yang mulai makmur
hidupnya karena menjabat jabatan di pemerintahan. Hal ini diceritakan oleh Abu Buraidah sebagai
berikut :

“Ketika Abu Musa Al Asy’ari datang ke Madinah, dia langsung menemui Abu Dzar. Maka Abu Musa
berusa merangkul Abu Dzar, padahal Abu Musa adalah seorang pria yang kurus dan pendek.
Sedangkan Abu Dzar adalah seorang pria yang hitam kulitnya dan lebat rambutnya. Maka ketika Abu
Musa berusaha merangkulnya, dia mengatakan : Menjauhlah engkau dariku !!

Abu Musa mengatakan kepadanya : Marhaban wahai saudaraku.

Abu Dzarpun menyatakan kepadanya sambil mendorongnya untuk menjauh darinya : “Aku bukan
saudaramu, dulu memang aku saudaramu sebelum engkau menjabat jabatan di pemerintahan”.

Selanjutnya Abu Buraidah menceritakan : Kemudian setelah itu datanglah Abu Hurairah menemuinya.
Juga Abu Hurairah berusaha merangkulnya dan menyatakan kepadanya : Marhaban wahai saudaraku.

Abu Dzar menyatakan kepadanya : Menjauhlah engkau dariku, apakah engkau menjabat satu jabatan
dalam pemerintahan ?

Abu Hurairah menjawab : Ya, aku menjabat jabatan dalam pemerintahan.
Abu Dzar selanjutnya menanyainya : Apakah engkau berlomba-lomba membangun bangunan yang
tinggi, atau membikin tanah pertanian, atau hewan piaraan ?

Abu Hurairah menjawab : Tidak.

Maka Abu Dzarpun menyatakan kepadanya : Kalau begitu engkau saudaraku, engkau saudaraku”.
Demikian diriwayatkan kisah ini oleh Ibnu Sa’ad dalam Thabaqatnya jilid 3 halaman 163.

Sikap Abu Dzar yang demikian keras, karena amat kuat berpegang dengan wasiat Rasulullah sallallahu
alaihi wa aalihi wasallam kepadanya :

(tulis haditsnya dalam Thabaqat Ibnu Sa’ad jilid 3 hal. 162)

“Orang yang paling dekat diantara kalian dariku di hari kiamat, adalah yang keadaan hidupnya ketika
meninggal dunia, seperti keadaannya ketika aku meninggalkannya untuk mati”. HR. Ibnu Sa’ad dalam
Thabaqatnya jilid 3 hal. 162.

Abu Dzar keadaannya ketika Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wasallam meninggal dunia, ialah
sangat melarat. Dia ingin mempertahankan kondisi melarat itu ketika dia meninggal dunia nanti, karena
ingin mendapatkan posisi yang paling dekat dengan Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wasallam di
hari kiamat kelak.

Meninggal dunia di tempat pengasingan :

Dengan sikap hidup yang demikian, Abu Dzar tidak punya teman dari kalangan sesama para Shahabat
Nabi sallallahu alaihi wa aalihi wasallam. Dia pernah tinggal di negeri Syam di zaman pemerintahan
Utsman bin Affan radhiyallahu anhu. Waktu itu gubernur negeri Syam adalah Mu’awiyah bin Abi
Sufyan radhiyallahu anhu. Maka Mu’awiyah merasa terganggu dengan sikap hidupnya, sehingga
meminta kepada Amirul Mu’minin Utsman bin Affan untuk memanggilnya ke Madinah kembali. Abu
Dzar akhirnya dipanggil kembali ke Madinah oleh Utsman dan tentu dia segera menta’ati panggilan itu.
Sesampainya di Madinah segera saja Abu Dzar menghadap Amirul Mu’minin Utsman bin Affan. Abu
Dzar diberi tahu oleh Amirul Mu’minin bahwa dia dikehendaki untuk tinggal di Madinah menjadi
orang dekatnya Amirul Mu’minin Utsman. Mendengar penjelasan itu Abu Dzar menegaskan kepada
beliau : “Wahai Amirul Mu’minin, aku tidak senang dengan posisi demikian. Izinkanlah aku untuk
tinggal di daerah perbukitan Rabadzah di luar kota Madinah”.

Maka Amirul Mu’mininpun mengizinkannya dan memerintahkan untuk membekali Abu Dzar dengan
beberapa ekor ternak dan budak belian untuk membantunya. Tetapi Abu Dzar menolaknya dengan
menyatakan kepada beliau : “Cukuplah bagi Abu Dzar, beberapa ekor ternak miliknya sendiri”.

Abu Dzar segera berangkat ke Rabadzah, dan di perbukitan tersebut tidak ada manusia yang tinggal di
sana. Dia ingin mengasingkan diri di sana, demi melihat kebanyakan orang merasa terganggu dengan
berbagai ungkapannya dan pendapatnya. Dia tinggal di tempat pengasingannya dengan anak
perempuannya dan budak wanita miliknya yang hitam dan jelek rupa. Budak wanita itu dibebaskannya
kemudian dinikahinya sebagai istri. Abu Dzar menghabiskan waktunya untuk berdzikir kepada Allah
dan membaca Al Qur’an. Sesekali dia turun ke Madinah karena takut tergolong orang yang kembali
menjadi badui setelah hijrah. Yang demikian itu dilarang oleh Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi
wasallam.

Di suatu hari ketika Abu Dzar turun ke Al Madinah, sempat dia berkunjung ke Amirul Mu’minin dan
di sana ada Ka’ab dan Abdullah bin Abbas sedang membicarakan tentang dibagi-baginya harta warisan
Abdurrahman bi A’uf. Maka Amirul Mu’minin bertanya kepada Ka’ab : Wahai Aba Ishaq, bagaimana
menurut pendapatmu bila harta seseorang itu yang telah ditunaikan zakatnya, apakah akan menjadi
mala petaka bagi yang mengumpulkannya. Maka Ka’ab menjawab : Bila harta itu adalah kelebihan dari
harta yang telah ditunaikan padanya haqnya Allah (yakni zakat), maka yang demikian itu tidak
mengapa.
Mendengar jawaban itu Abu Dzar bangun dari tempat duduknya dan langsung memukul Ka’ab dengan
tongkatnya pada bagian diantara kedua telinganya sehingga melukainya. Abu Dzar menyatakan kepada
Ka’ab : Wahai anaknya perempuan Yahudi, kamu menganggap tidak ada kewajiban atasnya dalam
perkara hartanya bila dia telah menunaikan zakat atas hartanya. Sedangkan Allah telah berfirman :
(artinya)”Dan mereka lebih mengutamakan saudaranya dari pada dirinya walaupun menyulitkan
dirinya”. S. Al Hasyr 9, juga Allah berfirman : (artinya)”Mereka kaum Mu’minin itu memberi makan
kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan”. S. Ad Daher (dinamakan juga S. Al Insan)
ayat ke 8. Dan beberapa ayat lainnya dari Al Qur’an yang semakna dengan ayat-ayat tersebut, yang
merupakan dalil-dalil bagi Abu Dzar atas pendapatnya bahwa seseorang itu dianggap belum
menunaikan kewajibannya atas hartanya bila dia belum menghabiskannya untuk shadaqah, kecuali
meninggalkannya untuk keperluan mendesak bagi keluarganya.

Melihat kejadian itu, Amirul Mu’minin segera menegur Abu Dzar : “Takutlah engkau kepada Allah
wahai Aba Dzar, tahanlah tanganmu dari perbuatan itu dan tahanlah lesanmu untuk mengucapkan
ucapan sekeras itu kepada saudaramu”. Juga Amirul Mu’minin meminta kepada Ka’ab untuk
memaafkan Abu Dzar dan tidak menuntut hukum qishas (yakni hukum balas) atas Abu Dzar dengan
tindakannya melukai kepala beliau. Dan Ka’abpun akhirnya memaafkannya.

Abu Dzar kembali ketempat pengasingannya di Rabadzah dengan penuh kekecewaan dan kemarahan.
Dia semakin senang untuk menyendiri dan semakin rindu untuk bertemu Allah dan RasulNya.
Sampailah akhirnya dia menderita sakit ditempat pengasingannya. Dia hanya ditemani oleh anak
istrinya di saat-saat akhir hidupnya. Tidak ada orang yang tahu bahwa Abu Dzar sedang sakit dan
menderita dengan sakitnya. Bertambah hari tampak bertambah berat penyakit yang dideritanya. Dalam
kondisi demikian, istrinya menangis dihadapannya. Abu Dzar menegurnya : “Mengapa engkau
menangis ?”.

Istrinya menjawab : “Aku menangis karena engkau pasti akan tiada lagi, dalam keadaan aku tidak
punya kain kafan untuk membungkus jenazahmu”.

Maka Abu Dzar menasehati istrinya : “Jangan engkau menangis, karena aku telah pernah mendengar
Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wasallam bersabda di suatu hari dan aku ada di samping beliau
bersama sekelompok orang yang lainnya. Beliau bersabda : “Sungguh salah seorang dari kalian akan
meninggal dunia di padang pasir yang akan disaksikan oleh sekelompok kaum Mu’minin”.

Kemudian Abu Dzar melanjutkan nasehatnya kepada istrinya : “Ketahuilah olehmu, semua orang yang
hadir bersama aku waktu itu di hadapan Rasulullah, telah mati semua di kampung dan desanya. Dan
tidak tertinggal di dunia ini dari yang hadir itu kecuali aku. Maka sudah pasti yang akan mati di padang
pasir seperti yang dikabarkan oleh beliau itu adalah aku. Oleh karena itu sekarang engkau lihatlah ke
jalan. Engkau pasti nanti akan melihat apa yang aku katakan. Aku tidaklah berdusta dan aku tidak
didustai dengan berita ini (yakni pasti engkau akan mendapati sekelompok orang yang akan
menyaksikan peristiwa kematianku seperti yang diberitakan oleh Rasulullah)”.

Istrinya menyatakan kepadanya : “Bagaimana mungkin akan ada orang yang engkau katakan, sedang
musim haji telah lewat ?!”.

Abu Dzar tetap meyakinkan istrinya untuk melihat ke arah jalan : “Lihatlah jalan !”. Maka istrinya
menuruti beliau mengamati jalanan yang ada didepan Rabadzah. Dan ternyata, ketika si istri sedang
mengamati jalan di depan Rabadzah, apakah ada rombongan yang berlalu padanya, tiba-tiba dilihat
olehnya dari kejauhan serombongan kafilah sedang mendekat ke arah Rabadhah yang menandakan
bahwa mereka akan melewati jalan di depan Rabadzah. Amat gembira tentunya istri Abu Dzar
melihatnya, sehingga rombongan itupun berhenti didepannya. Orang-orang di rombongan itupun
menanyainya : Ada apa engkau ada di sini ? Maka perempuan itupun menyatakan kepada mereka : “Di
sini ada seorang pria Muslim yang hendak mati, hendaknya kalian mengkafaninya, semoga Allah
membalas kalian dengan pahalaNya”. Maka merekapun menanyainya : “Siapakah dia ?” Perempuan itu
menjawab : “Dia adalah Abu Dzar”. Mendengar jawaban itu mereka berlarian turun dari kendaraannya
masing-masing menuju gubuknya Abu Dzar. Dan ketika mereka sampai di gubuk itu, mereka
mendapati Abu Dzar sedang terkulai lemas di atas tempat tidurnya. Tapi masih sempat juga Abu Dzar
memberi tahu mereka : “Bergembiralah kalian, karena kalianlah yang diberitakan Nabi sebagai
sekelompok kaum Mu’minin yang menyaksikan saat kematian Abu Dzar”. Kemudian Abu Dzar
menyatakan kepada mereka : “Kalian menyaksikan bagaimana keadaanku hari ini. Seandainya
jubbahku mencukupi sebagai kafanku, niscaya aku tidak dikafani kecuali dengannya. Aku memohon
kepada kalian dengan nama Allah, hendaklah janganlah ada yang mengkafani jenazahku nanti
seorangpun dari kalian, orang yang pernah menjabat sebagai pejabat pemerintah, atau tokoh
masyarakat, atau utusan pemerintah untuk satu urusan”.

Semua anggauta rombongan itu adalah orang-orang yang pernah menjabat berbagai kedudukan itu,
kecuali seorang pemuda Anshar, yang menyatakan kepadanya : “Aku adalah orang yang engkau cari
dengan persyaratan itu. Aku mempunyai dua jubbah dari hasil pintalan ibuku. Satu dari padanya ada di
kantong tas bajuku, sedang yang lainnya ialah baju yang sedang aku pakai ini”.

Mendengar omongan pemuda Anshar itu Abu Dzar amat gembira, kemudian dengan serta merta
menyatakan kepadanya : “Engkaulah orang yang aku minta mengkafani jenazahku nanti dengan
jubbahmu itu”.

Dengan penuh kegembiraan, Abu Dzar menghembuskan nafas terakhirnya, dan selamat tinggal dunia
yang penuh duka dan nestapa ini. Selamat jalan wahai Abu Dzar untuk menemui Allah dan RasulNya
yang amat engkau rindukan. Beristirahatlah engkau di sana dari berbagai penderitaan dunia ini. Jenazah
Abu Dzar dirawat oleh pemuda Anshar pilihan Abu Dzar, dan segera dishalati serta dikuburkan oleh
rombongan kafilah tersebut di Rabadzah itu.

Penutup:

Anak istri Abu Dzar akhirnya diungsikan dari Rabadzah ke Madinah sepeninggalnya. Amirul
Mu’minin Utsman bin Affan amat pilu mendengar peristiwa kematian Abu Dzar. Beliau hanya mampu
menanggapi berita kematian itu dengan mengucapkan : “Semoga Allah merahmati Abu Dzar”. Putri
Abu Dzar dimasukkan oleh Utsman bin Affan dalam keluarganya.

Demikianlah perjalanan hidup orang yang sangat besar ambisinya kepada kenikmatan hidup di akherat
dan amat mengecilkan serta merendahkan dunia. Dia amat konsisten dengan pandangan hidupnya,
sampaipun dibawa mati. Memang tidak mesti orang yang sendirian itu dianggap salah, asalkan dia
menjalani kesendirian itu dengan bimbingan ilmu Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman yang
benar, yaitu pemahaman Salafus Shaleh.

Duhai, betapa berat untuk istiqamah di atas kebenaran itu. Di zaman pemerintahan Utsman bin Affan
yang penuh limpahan barokah dan ilmu Al Qur’an dan As Sunnah serta masyarakat yang diliputi oleh
kejujuran dan ketaqwaan, sempat ada orang yang kecewa dengan masyarakat itu, sehingga memilih
hidup menyendiri sampai dijemput mati. Apatah lagi di zaman ini, masyarakat diliputi oleh kejahilan
tentang ilmu Al Qur’an dan Al Hadits. Masyarakat yang jauh dari ketaqwaan, sehingga para
pendustanya amat dipercaya dan diikuti, sedangkan orang-orang yang jujur justru dianggap pendusta
dan dijauhi. Kalaulah tidak karena pertolongan, petunjuk dan bimbingan Allah, niscaya kita semua di
zaman ini akan binasa dengan kesesatan, kedustaan dan pengkhianatan serta fitnah yang mendominasi
hidup ini. Tapi ampunan dan rahmat Allah jualah yang kita harapkan untuk mengantarkan kita kepada
keridho’anNya.

Daftar Pustaka :

1. Al Qur’an Al Karim.
2. Fathul Bari Syarah Shahih Al Bukhari, Ibnu Hajr Al Asqalani.
3. Al Minhaj Fi Syarah Shahih Muslim bin Al Hajjaj, Al Imam Abu Zakaria An Nawawi.
4. At Thabaqatul Kubra, Muhammad bin Sa’ad.
5. Hilyatul Awliya’ Wa Thabaqatul Ashfiya’, Al Hafidl Abu Nu’aim Al Asfahani.
6 . Siyar A’lamin Nubala’, Al Imam Adz Dzahabi.
7. Musnad Imam Ahmad, Al Imam Ahmad bin Hanbal Asy Syaibani.
8. Sunan At Tirmidzi, Abu Isa Muhammad bin Isa bin Saurah At tirmidzi.



                                                           
                   Sa’ad bin Abi Waqqash (wafat 55 h)
Nama lengkapnya adalah Sa’ad bin Abi Waqqash bin Uhaib Az-Zuhri dengan julukan “Abu Ishaq”, Ia
adalah salah seorang diantara sepuluh orang sahabat yang mendapat kabar gembira bakal masuk surga,
dan orang yang pertama dalam melontarkan panah dalam perang Sabillillah, ia orang yang ke empat
lebih dulu masuk Islam melalui tangan Abu Bakar ketika umurnya 17 tahun.

Sa’ad bin Abi Waqqash mengikuti banyak peperangan bersama Rasulullah Shallallahu alaihi
wassalam, dalam peperangan itu ia bergabung dalam pasukan berkuda. Ia berasal dari bani Zuhrah
seasal dengan ibu Nabi (Aminah).

Khilafah Umar bin Khaththab mengangkatnya menjadi komandan pasukan yang dikirimkan untuk
memerangi orang Persia dan berhasil mengalahkannya pada tahun 15 H di Qadisiyah. Setahun
setelahnya 16 H di Julailak ia menaklukan Madain dan Bani al-Kuffa pada tahun 17 H.

Sa’ad bin Abi Waqqash adalah penguasa Irak dimasa pemerintahan Umar bin Khaththab yang berlanjut
pada masa pemerintahan Utsman bi Affan. Ia adalah seorang diantara enam sahabat orang yang
dicalonkan menjadi Khalifah, sejak bencana besar atas terbunuhnya Utsman.

Sa’ad bin Abi Waqqash meriwayatkan hadits dari Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar dan
Khaulah binti Hakim.

Yang meriwayatkan hadits darinya adalah Mujahid, Alqamah bin Qais as sa’ib bin Yazid, Sanad paling
shahih berpangkal darinya adalah yang diriwayatkan oleh Ali bin Husain bin Ali, dari Sa’id bin al-
Musayyab, darinya (Sa’ad bin Abi Waqqash).

Ia wafat pada tahu 55 H di Aqiq.

 Disalin dari Biografi Sa’ad dalam Thadzib at Thadzib karya Ibn Hajar Asqalani 3/483 dan Shifaf at Shafwah karya Ibn Jauzi
                                                           1/138




                                                             
                                 Abu Darda’ (Wafat 32H)
Nama lengkapnya adalah Uwaimir bin Zaid bin Qais, seorang sahabat perawi hadist dari Anshar, dari
kabilah Khajraj, ia hapal al-Quran dari Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. Dalam perang Uhud
Rasulullah bersabda mengenai dirinya “ Prajurit berkuda paling baik adalah Uwaimir” Beliau ini
dipersaudarakan oleh Rasulullah dengan Salman Al Farisi. Dia mengikuti semua peperangan yang
terjadi setelah perang Uhud.

Pada masa pemerintahan Khalifah Utsman, Abu Darda’ diangkat menjadi Hakim di daerah Syam, Ia
adalah mufti (pemberi fatwa) penduduk Syam dan ahli Fiqh penduduk Palestina.

Ia meriwayatkan hadits dari Sayyidah Aisyah dan Zaid bin Tsabit, sedangkan yang meriwayatkan
darinya ialah anaknya sendiri Bilal dan istrinya Ummu Darda’. Hadits yang dia riwayatkan
mencapai 179 hadits. Tentang dia Masruq berkata:” Aku mendapatkan ilmu Rasulullah Shallallahu
alaihi wassalam pada enam orang diantaranya dari Abu Darda“.

Ia wafat pada tahun 32 H di dasmaskus.

( disalin dari Biografi Abu Darda’ dalam Al-Ishabah no.6119 karya Ibn Hajar Asqalani)




                                                              
                                 3.              Para Tabi’in :


                   Sa’id bin aL-Musayyab (wafat 94 H)
Nama lengkapnya Sa’id bin al-Musayyab bin Hazn al-Quraisy al-Makhzumi, ayany dan kakeknya
adalah sahabat Nabi Shallallahu alaihi wassalam, ia dilahirkan sebelum Umar menjadi khalifah, sejak
muda telah melakukan perjalanan siang dan malam untuk mendapatkan hadist Nabi,.

Mengenai dia sebagaimana dituturkan oleh Ahmad bin Hambal adalah:” Ia tabi’in paling utama”.
Sedangkan Makhul berkata:” Aku telah menjelajahi bumi untuk menuntut ilmu, teryata aku tidak
bertemu seorangpun yang lebih pandai daripada Sa’id bin al-Musayyab”. Sementara itu Ali bin al-
Madini menyatakan :” Aku tidak tahu di kalangan tabi’in ada orang yang luas ilmunya daripada dia,
menurutku ia tabi’in terbesar”.

Para ulama meriwayatkan bahwa ia mengawinkan putrinya kepada Kutsayyir bin Abi Wada’ah hanya
dengan mas kawin dua dirham. Padahal sebelumnya ia menolak lamaran Abdul Malik yang ingin
menjodohkan putrinya dengan al-Walid bin Abdul Malik. Dan ketika Abdul Malik hendak
melaksanakan bai’at bagi putranya al-Walid, Hisyam bin Ismail selaku pengganti Abdul Malik di
Medinah memukul Sa’id bi al-Musayyab dan menghadapnya dengan pedang, untuk memaksanya
melakukan bai’at namun Sa’id tetap tidak mau.

Ibnu Musayyab meriwayatkan hadist dari Abu Bakar secara Mursal, dan ia mendengar dari Umar,
Utsman, Abu Hurairah, Zaid bin Tsabit, Sayyidah Aisyah dan beberapa yang lainnya.

Yang meriwayatkan dari dia antara lain Salim bin Abdullah, Az-Zuhri, Qatadah, Syuraik, Abu az-
Zanad.

Ia wafat pada tahun 94 H.

Disalin dari Biografi Ibn al-Musayyab dalam Thabaqat Ibn Sa’ad 5/88




                                                             
                    Urwah bin Az-Zubair (Wafat 94 H)
Nama sebenarnya adalah Abu Muhammad Urwah bin Zubair bin al-Awwam al-Quraisy. Beliau adalah
salah seorang tabi’in besar dan salah seorang penghapal hadits yang sangat baik.

Ia menerima hadits dari ayahnya sendiri az-Zubair, dari saudaranya Abdullah dari ibunya ‘Asma binti
Abu Bakar as-Shiddiq, dari saudara ibunya Aisyah, dari Said bin Zaid Hakim bin Hizam, dari Abu
Hurairah dan dari yang lainnya.

Hadist haditsnya diriwayatkan oleh Atha’, Ibnu Abi Mulaikah, Abu Salamahbin Abdurahman, az-
Zuhry, Umar bin Abdul Aziz, dan lima orang anaknya yaitu Hisyam, Muhammad, Yahya, Abdullah
dan Utsman.

Ia dikenal orang yang tsiqah dan kuat hapalannya, Ibnu Syihab az-Zuhry berkata,” Demi Allah, kami
hanya mempelajari 1 suku hadits dari 2000 suku hadits”.

Sedangkan Muhammad bin Sa’ad berkata,” Orang yang paling mengetahui tentang hadits hadits
Aisyah ada 3 orang yaitu : al-Qasim, ‘Urwah dan ‘Amrah”.

Ia wafat pada tahun 94 H

Disalin dari Biografi ‘Urwah bin Zubair dalam dalam Tarikh al-khulafa, Tahdzibul Asma An-Nawawi, Tahdzib at Tahdzib Ibn
Hajar asqalani.




                                                           
                             Sa’id bin Jubair (wafat 95 H)
Nama lengkapnya adalah Sa’id bin Jubair al-Asadi al-Kufi, yang mempunyai julukan “Abu Abdillah”,
Ia seorang ahli fiqh, pembaca al-Qura’an yang fasih dan ahli ibadah. Sufyan ats-Tsauri lebih
mendahulukannya dari pada Ibrahim an-Nakha’I, ia berkata:” Ambilah tafsir dari empat orang, yaitu
dari Sa’id bin Jubair, Mujahid, Ikrimah dan adl-Dlahhak”.

Ibnu Jubair pernah menulis untuk Abdullah bin Utbah bin Mas’ud ketika Abdullah menjadi Qodli di
Kuffah. Sesudah itu ia menulis untuk Abi Burdah bin Abi Musa.

Sa’id bin Jubair meriwayatkan dari Abdullah bi az-Zubair, Anas bin Malik, Abu Sa’id al Qudri, dari
mereka ini hadits-haditsnya Musnad. Namun, Ia tidak mendengar langsung dari Abu Hurairah, Abu
Musa al-Asy’ari, Ali, Sayiidah Aisyah. Jadi semua riwayatnya dari mereka adalah Mursal.

Mengenai hal ini Yahya bin Sa’id berkata:” Hadits-hadits Mursal Sa’id lebih aku sukai dari pada
hadist-hadist Mursal Atha’”.

Yang meriwayatkan hadits dari Sa’id bin Jubair antara lain: al-Amasi, Mansyur bin al-Mu’tamir, Ya’la
bin Hakim,ats-Tsaqafi, dan Simak bin Harb.

Maimun bin Mahran berkata:” Sa’id bin Jubair meninggal dunia, saat orang orang membutuhkan
ilmunya”.

Disalin dari Biografi Sa’id bi Jubair dalam Thabaqat Ibn Sa’ad 6/178, Tahdzib at Tahdzib Ibn Hajar 4/11




                                                               
       Ali bin Al-Husein Zainal Abidin (Wafat 93 H)
Nama sebenarnya adalah Ali bin al-Husein bin Ali bin Abi Thalib, neneknya adalah Fatimah az-zahra
binti Rasulillah, terkadang ia disebut dengan Nama Abu Husein atau Abu Muhammad, sedangkan
nama panggilannya adalah Zainal abidin dan As-Sajad, karena kebanyakan melakukan shalat dimalam
hari dan di siang hari.

Perjalanan hidupnya.

Diriwayatkan bahwa Ia menerima beberapa orang tamu dari Irak, lalu membicarakan Abu Bakar, Umar
dan Utsman tentang sesuatu yang buruk terhadapnya, dan ketika mereka selesai bicara, maka ia
berkata,”Apakah kalian termasuk kaum muhajirin yang didalam Alquran surat al-Hasyr: 8 yang
menegaskan ‘Mereka yang diusir dari kampung halaman dan dipaksa meninggalkan harta benda
mereka, hanya karena mereka ingin memperoleh karunia Allah dan keridhaan-Nya?”’ Mereka
menjawab, ”Bukan…!”

”Apakah kalian termasuk kaum Anshar yang dinyatakan dalam Alquran surat al-Hasyr 97: ‘Mereka
yang tinggal di Madinah dan telah beriman kepada Allah sebelum kedatangan kaum Muhajirin. Mereka
itu mencintai dan bersikap kasih sayang kepada orang-orang yang datang berhijrah kepada mereka, dan
mereka tidak mempunyai pamrih apa pun dalam memberikan bantuan kepada kaum Muhajirin. Bahkan
mereka lebih mengutamakan orang-orang yang hijrah daripada diri mereka sendiri, kendatipun mereka
berada dalam kesusahan?”’ ”Bukan…!”

Kalau begitu berati kalian menolak untuk tidak termasuk ke dalam salah satu dari kedua golongan
tersebut. Selanjutnya ia berkata” Aku bersaksi bahwa kalian bukanlah orang yang dimaksud dalam
firman allah, “”Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman
lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap
orang-orang yang beriman.” (Qs. Al Hasyr:10). Maka keluarlah kalian dari rumahku, niscaya Allah
murka kepada kalian”.

Ali bin al Husein Zainal ‘Abidin dianggap sebagai ulama yang paling masyur di Madinah dan
pemimpin ulama tabi’in di sana. Hal ini keterangan yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah, dan
yang diriwayatkan Ibnu Abbas.

Kurang lebih 30 tahun Zainal Abidin bergiat mengajar berbagai cabang ilmu agama Islam di Masjid
Nabawi di Madinah. Sikap tidak berpihak pada kelompok mana pun tersebut mengundang simpati dari
semua kelompok yang bertikai. Zainal Abidin disegani oleh segenap kaum Muslimin baik kawan
maupun lawan.

Pada zamannya, Zainal Abidin diakui masyarakat Muslimin sebagai ulama puncak dan kharismatik. Ia
sangat dihormati, disegani, dan diindahkan nasihat-nasihatnya. Kenyataan itu tidak hanya karena
kedalaman ilmu pengetahuan agamanya, tidak pula karena satu-satunya pria keturunan Rasulullah,
tetapi juga karena kemuliaan akhlak dan ketinggian budi pekertinya.

Salah seorang Putera ‘Amar bin Yasir meriwayatkan bahwa: pada suatu hari Ali bin Husein kedatangan
suatu kaum, lalu beliau menyuruh pembantunya untuk membuatkan daging panggang, Kemudian
pembantu itu dengan terburu buru sehingga besi untuk membakar daging terjatuh mengenai kepala
anak Alin bin usein yang masih kecil sehingga anak tersebut meninggal. Maka Ali berkata kepada
pembantunya,’ kamu kepanasan, sehingga besi itu jatuh’. Setelah itu beliau sendiri mempersiapkan
untuk memakamkan anaknya.”. Menunjukan kesabaran dan kepasrahan beliau, dimana seorang
pembantu telah menyebabkan kematian anaknya. sehingga ia membalas kejelekan dengan suatu
kebaikan.

Sebuah keterangan yang diriwayatkan oleh Hisyam bin Abdul Malik ketika ia sedang menunaikan
ibadah haji sebelum diangkat menjadi Khalifah, ia berusaha untuk mencium hajar aswad tetapi ia tidak
mampu melakukannya, kemudian datang Ali bin Husein hendak mencium hajar aswad juga sehingga
orang orang disekitarnya menyingkir dan berhenti lalu beliau menciumnya. Kemudian orang orang
bertanya kepada Hisyam siapa orang itu?, dia menjawab aku tidak mengenalnya. Maka seseorang
berkata” Aku mengenalnya, dia adalah Ali bin al Husein.

Para ulama sepakat bahwa Ali bin al Husein ini anak paling kecil dari Husein yang selamat, sedangkan
kakak kakaknya dan kedua orang tuanya terbunuh sebagai syuhada. Zainal Abidin kecil selamat dari
pembunuhan keluarga Rasulullah, ketika itu ia sedang terlentang diatas tempat tidur karena sakit,
sehingga keadaanya luput dari pembunuhan, saat itu usianya 23 tahun. Allah melindungi dan
menyelamatkannya.

Ia wafat pada tahun 74 H di Madinah dalam usia 58 tahun dan dimakamkan di Baqi. Riwayat lain
dikatakan ia wafat pada tahun 93 H dalam usia 57 tahun.

Diringkas dari Biografi Ali bin Husein dalam kitab Al ‘ilmu wa al Ulama Karya Abu Bakar al Jazairy. Penerbit Daar al Kutub as
Salafiyyah. Cairo. ditulis tanggal 5 Rab’ul Awal di Madinah al Nabawiyah.




                                                              
        Muhammad bin al-Hanafiyyah (wafat 181 H)
Namanya adalah Muhammad Ibn al-Hanafiah, ia banyak menimba ilmu dari ‘Ali bin Abi thalib.”
pada saat Telah terjadi percekcokan antara Muhammad ibn al-Hanafiyyah dan saudaranya al-Hasan ibn
Ali, maka Ibn al-Hanafiah mengirim surat kepada saudaranya itu, isinya, “Sesungguhnya Allah telah
memberikan kelebihan kepadamu atas diriku…Ibumu Fathimah binti Muhammad ibn Abdullah,
sedangkan ibuku seorang wanita dari Bani “Haniifah.” Kakekmu dari garis ibu adalah utusan Allah dan
makhluk pilihannya, sedangkan kakekku dari garis ibu adalah Ja’far ibn Qais. Apabila suratku ini
sampai kepadamu, kemarilah dan berdamailah denganku, sehingga engkau memiliki keutamaan atas
diriku dalam segala hal.”

Begitu surat itu sampai ke tangan al-Hasan…ia segera ke rumahnya dan berdamai dengannya.
Siapakah Muhammad ibn al-Hanafiyyah, seorang adib (ahli adab/pujangga), seorang yang pandai dan
berakhlak lembut ini? Marilah, kita membuka lembaran hidupnya dari awal.

Kisah ini bermula sejak akhir kehidupan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. Pada suatu hari, Ali
ibn Abi Thalib duduk bersama Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam, maka ia berkata, “Wahai
Rasulullah…apa pendapatmu apabila aku dikaruniani seorang anak setelah engkau meninggal,
(bolehkah) aku menamainya dengan namamu dan memberikan kun-yah (sapaan yang biasanya
diungkapkan dengan ‘Abu fulan…’) dengan kunyah-mu?.” “Ya” jawab beliau.

Kemudian hari-hari pun berjalan terus. Dan Nabi yang mulia Shallallahu Alaihi Wassalam bertemu
dengan ar-Rafiiqul al-A’laa (berpulang ke sisi Allah)…dan setelah hitungan beberapa bulan Fathimah
yang suci, Ibunda al-Hasan dan al-Husain menyusul beliau (wafat).

Ali lalu menikahi seorang wanita Bani Haniifah. Ia menikahi Khaulah binti Ja’far ibn Qais al-
Hanafiyyah, yang kemudian melahirkan seorang anak laki-laki untuknya. Ali menamainya
“Muhammad” dan memanggilnya dengan kun-yah “Abu al-Qaasim” atas izin Rasulullah Shallallahu
Alaihi Wassalam. Hanya saja orang-orang terlanjur memanggilnya Muhammad ibn al-Hanafiyyah,
untuk membedakannya dengan kedua saudaranya al-Hasan dan al-Husain, dua putra Fathimah az-
Zahra. Kemudian iapun dikenal dalam sejarah dengan nama tersebut.

Muhammad ibn al-Hanafiyyah lahir di akhir masa khilafah ash-Shiddiq (Abu Bakar) RA. Ia tumbuh
dan terdidik di bawah perawatan ayahnya, Ali bin Abi Thalib, ia lulus di bawah didikannya.

Ia belajar ibadah dan kezuhudan dari ayahnya…mewarisi kekuatan dan keberaniannya…menerima
kefasihan dan balaghoh darinya. Hingga ia menjadi pahlawan perang di medan pertempuran…singa
mimbar di perkumpulan manusia…seorang ahli ibadah malam (Ruhbaanullail) apabila kegelapan telah
menutup tirainya ke atas alam dan saat mata-mata tertidur lelap.

Ayahnya telah mengutusnya ke dalam pertempuran-pertempuran yang ia ikuti.

Dan ia (Ali) telah memikulkan di pudaknya beban-beban pertempuran yang tidak ia pikulkan kepada
kedua saudaranya yang lain; al-Hasan dan al-Husain. Ia pun tidak terkalahkan dan tidak pernah
melemah keteguhannya.

Pada suatu ketika pernah dikatakan kepadanya, “Mengapakah ayahmu menjerumuskanmu ke dalam
kebinasaan dan membebankanmu apa yang kamu tidak mampu memikulnya dalam tempat-tempat yang
sempit tanpa kedua saudaramu al-Hasan dan al-Husain?”

Ia menjawab, “Yang demikian itu karena kedua saudaraku menempati kedudukan dua mata
ayahku…sedangkan aku menempati kedudukan dua tangannya…sehingga ia (Ali) menjaga kedua
matanya dengan kedua tangannya.”

Dalam perang “Shiffin” yang berkecamuk antara Ali ibn Abi Thalib dan Muawiyah ibn Abi Sufyan
RA. Adalah Muhammad ibn al-Hanafiyyah membawa panji ayahnya.
Dan di saat roda peperangan berputar menggilas pasukan dari dua kelompok, terjadilah sebuah kisah
yang ia riwayatkan sendiri. Ia menuturkan, “Sungguh aku telah melihat kami dalam perang “Shiffin”,
kami bertemu dengan para sahabat Muawiyah, kami saling membunuh hingga aku menyangka bahwa
tidak akan tersisa seorang pun dari kami dan juga dari mereka. Aku menganggap ini adalah perbuatan
keji dan besar.

Tidaklah berselang lama hingga aku mendengar seseorang yang berteriak di belakangku, “Wahai kaum
Muslimin…(takutlah kepada) Allah, (takutlah kepada Allah)…wahai kaum Muslimin…

Siapakah yang akan (melindungi) para wanita dan anak-anak?…
Siapakah yang akan menjaga agama dan kehormatan?…
Siapakah yang akan menjaga serangan Romawi dan ad-Dailami?*…

Wahai kaum Muslimin…takutlah kepada Allah, takutlah kepada Allah dan sisakan kaum muslimin,
wahai ma’syarol muslimin.”

Maka sejak hari itu, aku berjanji kepada diriku untuk tidak mengangkat pedangku di wajah seorang
Muslim.
Kemudian Ali mati syahid di tangan pendosa yang dzalim (di tangan Abdurrahman ibn Miljam )

Kekuasaan pun berpindah kepada Muawiyah ibn Abi Sufyan. Maka, Muhammad ibn al-Hanafiyyah
membaiatnya untuk selalu taat dan patuh dalam keadaan suka maupun benci karena keinginannya
hanya untuk menyatukan suara dan mengumpulkan kekuatan serta untuk menggapai izzah bagi Islam
dan Muslimin.

Muawiyah merasakan ketulusan baiat ini dan kesuciannya. Ia merasa benar-benar tentram kepada
sahabatnya, hal mana menjadikannya mengundang Muhammad ibn al-Hanafiyyah untuk
mengunjunginya.

Maka, ia pun mengunjunginya di Damaskus lebih dari sekali…dan lebih dari satu sebab.

Di antaranya, bahwa kaisar Romawi menulis surat kepada Muawiyah. Ia mengatakan, “Sesungguhnya
raja-raja di sini saling berkoresponden dengan raja-raja yang lain. Sebagian mereka bersenang-senang
dengan yang lainnya dengan hal-hal aneh yang mereka miliki…sebagin mereka saling berlomba
dengan sebagian yang lain dengan keajaiban-keajaiban yang ada di kerajaan-kerajaan mereka. Maka,
apakah kamu mengizinkan aku untuk mengadakan (perlombaan) antara aku dan kamu seperti apa yang
terjadi                           di                         antara                         mereka?”
Maka, Muawiyah mengiyakannya dan mengizinkannya.

Kaisar Romawi mengirim dua orang pilih-tandingnya. Salah seorang darinya berbadan tinggi dan besar
sekali sehingga seakan-akan ia ibarat pohon besar yang menjulang tinggi di hutan atau gedung tinggi
nan kokoh. Adapun orang yang satu lagi adalah seorang yang begitu kuat, keras dan kokoh seakan-
akan ia ibarat binatang liar yang buas. Sang kaisar menitipkan surat bersama keduanya, ia berkata
dalam suratnya, “Apakah di kerajaanmu ada yang menandingi kedua orang ini, tingginya dan
kuatnya?.”

Muawiyah lalu berkata kepada ‘Amr ibn al-‘Aash, “Adapun orang yang berbadan tinggi, aku telah
menemukan orang yang sepertinya bahkan lebih darinya…ia Qais ibn Sa’d ibn ‘Ubadah. Adapun orang
yang kuat, maka aku membutuhkan pendapatmu.”

‘Amr berkata, “Di sana ada dua orang untuk urusan ini, hanya saja keduanya jauh darimu. Mereka
adalah Muhammad ibn al-Hanafiyyah dan Abdullah ibn az-Zubair.”

“Sesungguhnya Muhammad ibn al-Hanafiyyah tidaklah jauh dari kita,” kata Muawiyyah.
“Akan tetapi apakah engkau mengira ia akan ridla bersama kebesaran kemuliaannya dan ketinggian
kedudukannya untuk mengalahkan kekuatan orang dari Romawi ini dengan ditonton manusia,?” tanya
‘Amr.

Muawiyah berkata, “Sesungguhnya ia akan melakukan hal itu dan lebih banyak dari itu, apabila ia
menemukan izzah bagi Islam padanya.”

Kemudian Muawiyah memanggil keduanya, Qais ibn Sa’d dan Muhammad ibn al-Hanafiyyah.

Ketika majelis telah dimulai, Qais ibn Sa’d berdiri dan melepaskan sirwal-sirwal-nya (celana yang
lebar) lalu melemparkannya kepada al-‘Ilj** dari Romawi dan menyuruhnya untuk memakainya. Ia
pun memakainya…maka, sirwalnya menutupi sampai di atas kedua dadanya sehingga orang-orang
ketawa dibuatnya.

Adapun Muhammad ibn al-Hanafiyyah, ia berkata kepada penterjemahnya, “Katakan kepada orang
Romawi ini…apabila ia mau, ia duduk dan aku berdiri, lalu ia memberikan tangannya kepadaku. Entah
aku yang akan mendirikannya atau dia yang mendudukkanku…Dan bila ia mau, dia yang berdiri dan
aku                                       yang                                          duduk…”
Orang Romawi tadi memilih duduk.

Maka Muhammad memegang tangannya, dan (menariknya) berdiri…dan orang Romawi tersebut tidak
mampu (menariknya) duduk…

Kesombongan pun merayap dalam dada orang Romawi, ia memilih berdiri dan Muhammad duduk.
Muhammad lalu memegang tangannya dan menariknya dengan satu hentakan hampir-hampir
melepaskan lengannya dari pundaknya…dan mendudukkannya di tanah.

Kedua orang kafir Romawi tersebut kembali kepada rajanya dalam keadaan kalah dan terhina.
Hari-hari berputar lagi…

Muawiyah dan putranya Yazid serta Marwan ibn al-Hakam telah berpindah ke
rahmatullah…Kepemimpinan Bani Umayyah berpindah kepada Abdul Malik ibn Marwan, ia
mengumumkan dirinya sebagai khalifah muslimin dan penduduk Syam membaiatnya.

Sementara penduduk Hijaz dan Irak telah membaiat Abdullah ibn az-Zubair***.

Setiap dari keduanya mulai menyeru orang yang belum membaiatnya untuk membaiatnya…dan
mendakwakan kepada manusia bahwa ia yang paling berhak dengan kekhalifahan daripada sahabatnya.
Barisan kaum muslimin pun terpecah lagi…

Di sinilah Abdullah ibn az-Zubair meminta kepada Muhammad ibn al-Hanafiyyah untuk membaiatnya
sebagaimana penduduk Hijaz telah membaiatnya.

Hanya saja Ibn al-Hanafiyyah memahami betul bahwa baiat akan menjadikan hak-hak yang banyak di
lehernya bagi orang yang ia baiat. Di antaranya adalah menghunus pedang untuk menolongnya dan
memerangi orang-orang yang menyelisihinya. Dan para penyelisihnya hanyalah orang-orang muslim
yang telah berijtihad, lalu membaiat orang yang tidak ia bai’at.

Tidaklah orang yang berakal sempurna lupa akan kejadian di hari “Shiffin.”

Tahun yang panjang belum mampu menghapus suara yang menggelegar dari kedua pendengarannya,
kuat dan penuh kesedihan, dan suara itu memanggil dari belakangnya, “Wahai kaum
Muslimin…(takutlah kepada) Allah, (takutlah kepada) Allah…wahai kaum Muslimin…

Siapakah yang akan (melindungi) para wanita dan anak-anak?…
Siapakah yang akan menjaga agama dan kehormatan?… Siapakah yang akan menjaga serangan
Romawi dan ad-Dailami.”..
Ya, ia belum lupa sedikitpun dari itu semua.

Maka, ia berkata kepada Abdullah ibn az-Zubair, “Sesungguhnya engkau mengetahui dengan sebenar-
benarnya, bahwa dalam perkara ini aku tidak memiliki tujuan dan tidak pula permintaan…hanyalah
aku ini seseorang dari kaum muslimin. Apabila kalimat (suara) mereka berkumpul kepadamu atau
kepada Abdul Malik, maka aku akan membaiat orang yang suara mereka berkumpul padanya. Adapun
sekarang, aku tidak membaiatmu…juga tidak membaiatnya.”

Mulailah Abdullah mempergaulinya dan berlemah lembut kepadanya dalam satu kesempatan. Dan
dalam kesempatan yang lain ia berpaling darinya dan bersikap keras kepadanya.

Hanya saja, Muhammad ibn al-Hanafiyyah tidak berselang lama hingga banyak orang yang bergabung
dengannya ketika mereka mengikuti pendapatnya. Dan mereka menyerahkan kepemimpinan mereka
kepadanya, hingga jumlah mereka sampai tujuh ribu orang dari orang-orang yang memilih untuk
memisahkan diri dari fitnah. Dan mereka enggan untuk menjadikan diri mereka kayu bakar bagi apinya
yang menyala.

Setiap kalii pengikut Ibn al-Hanafiyyah bertambah jumlahnya, bertambahlah kemarahan Ibn az-Zubair
kepadanya dan ia terus mendesaknya untuk membaiatnya.

Ketika Ibn az-Zubair telah putus asa, ia memerintahkannya dan orang-orang yang bersamanya dari
Bani Hasyim dan yang lainnya untuk menetap di Syi’b (celah di antara dua bukit) mereka di Mekkah,
dan ia menempatkan mata-mata untuk mengawasi mereka.

Kemudian ia berkata kepada mereka, “Demi Allah, sungguh-sungguh kalian harus membaiatku atau
benar-benar aku akan membakar kalian dengan api…

Kemudian ia menahan mereka di rumah-rumahnya dan mengumpulkan kayu bakar untuk mereka, lalu
mengelilingi rumah-rumah dengannya hingga sampai ujung tembok. Sehingga seandainya ada satu
kayu bakar menyala niscaya akan membakar semuanya.

Di saat itulah, sekelompok dari para pengikut Ibn al-Hanafiyyah berdiri kepadanya dan berkata,
“Biarkan kami membunuh Ibn az-Zubair dan menenangkan manusia dari (perbuatan)nya.”

Ia berkata, “Apakah kita akan menyalakan api fitnah dengan tangan-tangan kita yang karenanya kita
telah menyepi (memisahkan diri)…dan kita membunuh seorang sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi
Wassalam dan anak-anak dari sahabatnya?! Tidak, demi Allah kita tidak akan melakukan sedikitpun
apa yang manjadikan Allah dan Rasul-Nya murka.”

Berita tentang apa yang diderita oleh Muhammad ibn al-Hanafiyah dan para pengikutnya dari
kekerasan Abdullah ibn az-Zubair sampai ke telinga Abdul Malik ibn Marwan. Ia melihat kesempatan
emas untuk menjadikan mereka condong kepadanya.

Ia lantas mengirim surat bersama seorang utusannya, yang seandainya ia menulisnya untuk salah
seorang anaknya tentunya ‘dialek’nya tidak akan sehalus itu dan redaksinya tidak selembut itu.

Dan di antara isi suratnya adalah, “Telah sampai berita kepadaku bahwa Ibn az-Zubair telah
mempersempit gerakmu dan orang-orang yang bersamamu…ia memutus tali persaudaraanmu…dan
merendahkan hakmu. Ini negeri Syam terbuka di depanmu, siap menjemputmu dan orang-orang yang
bersamamu dengan penuh kelapangan dan keluasan…singgahlah di sana dimana engkau mau, niscaya
engkau akan menemukan penduduknya mengucapkan selamat kepadamu dan para tetangga yang
mencintaimu…dan engkau        akan    mendapatkan    kami    orang-orang  yang    memahami
hakmu…menghormati keutamaanmu…dan menyambung tali persaudaraanmu Insya Allah…

Muhammad ibn al-Hanafiyah dan orang-orang yang bersamanya berjalan menuju negeri
Syam…sesampainya di “Ublah”, mereka menetap di sana.
Penduduknya menempatkan mereka di tempat yang paling mulia dan menjamu mereka dengan baik
sebaga tetangga.

Mereka mencitai Muhammad ibn al-Hanafiyah dan mengagungkannya, karena apa yang mereka lihat
dari kedalaman (ketekunan) ibadahnya dan kejujuran zuhudnya.

Ia mulai menyuruh mereka kepada yang ma’ruf dan mencegah mereka dari yang munkar. Ia
mendirikan syi’ar-syi’ar di antara mereka dan mengadakan ishlah dalam perselisihan mereka. Ia tidak
membiarkan seorang pun dari manusia mendzalimi orang lain.

Di saat berita itu sampai ke telinga Abdul Malik ibn Marwan, hal tersebut memberatkan hatinya. Ia
kemudian bermusyawarah dengan orang-orang terdekatnya. Mereka berkata kepadanya, “Kami tidak
berpendapat agar engkau memperbolehkannya tinggal di kerajaanmu. Sedangkan sirahnya
sebagaimana yang engkau ketahui…entah ia membaiatmu…atau ia kembali ke tempatnya semula.”

Maka, Abdul Malik menulis surat untuknya dan berkata, “Sesungguhnya engkau telah mendatangi
negeriku dan engkau singgah di salah satu ujungnya. Dan ini peperangan yang terjadi antara diriku dan
Abdullah ibn az-Zubair. Dan engkau adalah seseorang yang memiliki tempat dan nama di antara kaum
Muslimin. Dan aku melihat agar engkau tidak tinggal di negeriku kecuali bila engkau membaiatku.
Bila engkau membaiatku, aku akan memberimu seratus kapal yang datang kepadaku dari “al-Qalzom”
kemarin, ambillah beserta apa yang ada padanya. Bersama itu engkau berhak atas satu juta dirham
ditambah dengan jumlah yang kamu tentukan sendiri untuk dirimu, anak-anakmu, kerabatmu, budak-
budakmu dan orang-orang yang bersamamu. Bila engkau menolaknya maka pergilah dariku ke tempat
yang aku tidak memiliki kekuasaan atasnya.”

Muhammad ibn al-Hanafiyah kemudian menulis balasan, “Dari Muhammad ibn Ali, kepada Abdul
Malik ibn Marwan. Assalamu ‘alaika…Sesungguhnya aku memuji kepada Allah yang tidak ada Ilah
yang berhak disembah selain Dia, (aku berterima kasih) kepadamu. Amma ba’du…Barangkali engkau
menjadi ketakutan terhadapku. Dan aku mengira engkau adalah orang yang paham terhadap hakikat
sikapku dalam perkara ini. Aku telah singgah di Mekkah, maka Abdullah ibn az-Zubair menginginkan
aku untuk membaiatnya, dan tatkala aku menolaknya ia pun berbuat jahat terhadap pertentanganku.
Kemudian engkau menulis surat kepadaku, memanggilku untuk tinggal di negeri Syam, lalu aku
singgah di sebuah tempat di ujung tanahmu di karenakan harganya murah dan jauh dari markaz (pusat)
pemerintahanmu. Kemudian engkau menulis kepadaku apa yang telah engkau tuliskan. Dan kami Insya
Allah akan meninggalkanmu.”

Muhammad ibn al-Hanafiyyah beserta orang-orangnya dan kelurganya meninggalkan negeri Syam, dan
setiap kali ia singgah di suatu tempat ia pun di usir darinya dan diperintahkan agar pergi darinya.
Dan seakan-akan kesusahan belum cukup atasnya, hingga Allah berkehendak mengujinya dengan
kesusahan lain yang lebih besar pengaruhnya dan lebih berat tekanannya…

Yang demikian itu, bahwa sekelompok dari pengikutnya dari kalangan orang-orang yang hatinya sakit
dan yang lainnya dari kalangan orang-orang lalai. Mereka mulai berkata, “Sesungguhnya Rasulullah
Shallallahu Alaihi Wassalam telah menitipkan di hati Ali dan keluarganya banyak sekali rahasia-
rahasia ilmu, qaidah-qaidah agama dan perbendaharaan syariat. Beliau telah mengkhususkan Ahlul
Bait dengan apa yang orang lain tidak mengetahuinya.”

Orang yang ‘alim, beramal dan mahir ini memahami betul apa yang diusung oleh ucapan ini dari
penyimpangan, serta bahaya-bahaya yang mungkin diseretnya atas Islam dan Muslimin. Ia pun
mengumpulkan manusia dan berdiri mengkhutbahi mereka…ia memuji Allah AWJ dan
menyanjungnya dan bershalawat atas Nabi-Nya Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam…kemudian
berkata, “Sebagian orang beranggapan bahwa kami segenap Ahlul Bait mempunyai ilmu yang
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam mengkhususkan kami dengannya, dan tidak memberitahukan
kepada siapapun selain kami. Dan kami –demi Allah- tidaklah mewarisi dari Rasulullah melainkan apa
yang ada di antara dua lembaran ini, (dan ia menunjuk ke arah mushaf). Dan sesungguhnya
barangsiapa yang beranggapan bahwa kami mempunyai sesuatu yang kami baca selain kitab Allah,
sungguh ia telah berdusta.”
Adalah sebagian pengikutnya mengucapkan salam kepadanya, mereka berkata, “Assalamu’alaika
wahai Mahdi.”

Ia menjawab, “Ya, aku adalah Mahdi (yang mendapat petunjuk) kepada kebaikan…dan kalian adalah
para Mahdi kepada kebaikan Insya Allah…akan tetapi apabila salah seorang dari kalian mengucapkan
salam kepadaku, maka hendaklah menyalamiku dengan namaku. Hendaklah ia berkata,
“Assalamu’alaika ya Muhammad.”

Tidak berlangsung lama kebingungan Muhammad ibn al-Hanafiyyah tentang tempat yang akan ia
tinggali beserta orang-orang yang bersamanya…Allah telah berkehendak agar al-Hajjaj ibn Yusuf ats-
Tsaqofi menumpas Abdullah ibn az-Zubair…dan agar manusia seluruhnya membaiat Abdul Malik ibn
Marwan.

Maka, tidaklah yang ia lakukan kecuali menulis surat kepada Abdul Malik, ia berkata, “Kepada Abdul
Malik ibn Marwan, Amirul Mukminin, dari Muhammad ibn Ali. Amma ba’du…Sesungguhnya setelah
aku melihat perkara ini kembali kepadamu, dan manusia membaiatmu. Maka, aku seperti orang dari
mereka. Aku membaiatmu untuk walimu di Hijaz. Aku mengirimkan baiatku ini secara tertulis.
Wassalamu’alaika.”

Ketika Abdul Malik membacakan surat tersebut kepada para sahabatnya, mereka berkata, “Seandainya
ia ingin memecah tongkat ketaatan (baca: keluar dari ketaatan) dan membikin perpecahan dalam
perkara ini, niscaya ia mampu melakukannya, dan niscaya engkau tidak memiliki jalan atasnya…Maka
tulislah kepadanya dengan perjanjian dan keamanan serta perjanjian Allah dan Rasul-Nya agar ia tidak
diusir dan diusik, ia dan para sahabatnya.”

Abdul Malik kemudian menulis hal tersebut kepadanya. Hanya saja Muhammad ibn al-Hanafiyyah
tidak hidup lama setelah itu. Allah telah memilihnya untuk berada di sisi-Nya dalam keadaan ridla dan
diridlai.

Semoga Allah memberikan cahaya kepada Muhammad ibn al-Hanafiyah di kuburnya, dan semoga
Allah mengindahkan ruhnya di surga…ia termasuk orang yang tidak menginginkan kerusakan di bumi
tidak pula ketinggian di antara manusia.

Sumber: – Hilyah al-Auliyaa oleh Abu Nu’aim, III: 174, – Tahdziib at-Tahdziib, IX:354, – Shifah ash-Shafwah oleh Ibnul Jauzi
(cet. Halab), II: 77-79, – Ath-Thabaqat al-Kubra oleh Ibnu Sa’d, V:91, – Al-Waafi bi al-Wafayaat (terjemah): 1583, – Wafayaat
al-A’yaan oleh Ibnu Kholaqan, IV:169, – Al-Kamil, III:391 dan IV:250 pada kejadian-kejadian tahun 66 H, – Syadzarat adz-
Dzahab, I:89,- Tahdziib al-Asma Wa al-Lughaat, I:88-89, – Al-Bad’u Wa at-Tarikh, V:75-76, – Al-Ma’arif oleh Ibnu Qutaibah:
123, – Al-‘Iqd al-Farid oleh Ibnu Abdi Rabbih, tahqiq al-‘Urayyan, Juz II,III,V dan VII




                                                              
      Ubaidullah bin Abdullah bin ‘Utbah bin Mas’ud
                       (wafat 94 H)
Nama sebenarnya adalah Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud al-Hudzaly, seorang ulama
ta’biin yang terkenal, Ubaidullah menerima ilmunya dari beberapa tabi’in yang terkenal dan juga
menerima ilmunya dari beberapa orang sahabat seperti Ibnu Umar,Ibnu Abbas, Abu Hurairah, Abu
Sa’id al-Khudlry, Abu Waqid al-Laitsy, Zaid ibn Khalid, an Nu’man bin Basyir, Aisyah, Fatimah binti
Qais, dan lainnya.

Hadist hadistnya diriwayatkan dari Irak bin Malik, az-Zuhry, Abu Zinad, Shalih bin Kaisan dan lain
lain.

Para ulama sepakat ia orang yang tsiqah, kuat hapalannya hingga Ibnu Abbas menghormatinya sebagai
orang yang tinggi ilmunya dalam bidang hadist dan fiqh.

Az-Zuhry berkata,” Saya tidak duduk dengan seorang alim melainkan saya merasakan bahwa saya
mengetahui ilmunya, selain dari Ubaidullah yang setiap saya dating kepadanya, saya memperoleh
ilmu yang baru”.

Ibnu Sa’ad berkata.” Ubaidullah,adalah seorang yang alim dan tsiqah, ahli dalam bidang fiqh dan
banyak hadistnya”.

Karena tinggi kedudukannya dan banyak ilmunya maka ia dipilih menjadi guru untuk Umar bin Abdul
Aziz.

Ia wafat pada tahun 94 H.

Disalin dari Biografi ‘Ubaidullah bin Abdullah dalam dalam Tahdzibul Asma an Nawawi, Tahdzib at Tahdzib Ibn Hajar
asqalanii




                                                            
           Salim bin Abdullah bin Umar (wafat106 H)
Nama sebenarnya adalah Abu Abdullah Salim bin Abdullah bin Umar bin Khaththab al Quraisy al
Aday al Madany. Ia seorang ulama tabi’in dan seorang pemuka ilmu.

Ia menerima hadits dari ayahnya, dari Ayyub al-Anshary, Rafi’ bin Khadij, Abu Hurairah dan Aisyah
dan juga menerima hadits dari para tabi’in.

Haditsnya diriwayatkan oleh ‘Amr bin Dinnar, Nafi, Az=Zuhry, Musa bin Uqbah, Humaidath thawil,
Shalih bin Kaisan dan juga hadits haditsnya diriwayatkan oleh tabi’in lainnya.

Para ulama menetapkan bahwa ia Tsiqah dan imam dalam bidang hadist. Ishaq bin Ruhawaih berkata,”
Hadits yang palih Shahih sanadnya bersumber dari az-Zuhry dari Salim dari Ayahnya”.

Muhammad Sa’id berkata “ Salim adalah seorang ulama yang banyak hadits, seorang yang tinggi
ilmunya” dan seorang yang wara’”.

Ia wafat pada tahun 106 H. menurut al-Bhukhary dan Abu Nu’aim.

Disalin dari Biografi Salim bin Abdullah dalam dalam Tahdzibul Asma an Nawawi, Tahdzib at Tahdzib Ibn Hajar asqalanii




                                                             
              Al Qosim bin Muhammad (Tabi’in)
Al-Qasim yang banyak meriwayatkan hadits dari ‘Aisyah, Ibnu ‘Abbas, Abu Hurairah
dan Aslam -bekas budak Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma-, merupakan seorang
tabi’in yang tsiqah (amanah). Wajar jika kemudian ‘Umar bin Abdul ‘Aziz yang
dikenal sebagai khalifah kelima yang adil, tertarik akan keamanahannya. Ia berkata,
“Seandainya aku punya sedikit kekuasaan, aku akan jadikan Al-Qasim sebagai
khalifah.” Al-Qasim kecil sabar menjalani takdir Allah sebagai anak yatim dalam
tarbiyah istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha.

Al-Qasim, yang menurut Abdullah bin Az-Zubair radhiallahu ‘anhuma adalah cucu
Abu Bakar Ash Shiddiq radhiallahu ‘anhu yang paling mirip dengan kakeknya ini,
mengatakan: “‘Aisyah adalah seorang mufti wanita dari jaman Abu Bakar, ‘Umar,
‘Utsman dan seterusnya sampai ia meninggal. Aku senantiasa bersimpuh menimba
ilmu darinya dan juga duduk belajar kepada Ibnu ‘Abbas, Abu Hurairah dan Ibnu
‘Umar”. Ini adalah ungkapan yang mengisyaratkan antusiasnya terhadap ilmu din
(agama) meskipun menanggung beban hidup berat sebagai anak yatim.

Ayyub, salah seorang ulama hadits, berkata, “Aku tidak melihat seorang pun yang
lebih utama darinya. Ia tidak mau mengambil uang yang halal untuknya senilai
seratus ribu dinar”. Ini adalah ungkapan seorang alim yang menunjukkan sifat wara’
dan keutamaan Al-Qasim. Bahkan kehati-hatiannya dalam berfatwa, ia katakan
sendiri, “Seseorang hidup dengan kebodohan setelah mengetahui hak Allah, lebih
baik baginya daripada ia mengatakan apa-apa yang ia tidak mengetahuinya.”

Adapun ketinggian ilmunya dinyatakan oleh beberapa ulama, di antaranya:
Anaknya, Abdurrahman bin Al-Qasim, berkata, “Ia adalah manusia paling utama di
jamannya.” Abdurrahman bin Abiz-Zinad berkata, “Aku tidak melihat seorang yang
lebih tahu tentang As Sunnah daripada Al-Qasim bin Muhammad, dan seseorang
tidak dianggap lelaki hingga ia mengetahui As Sunnah, tak seorang pun yang lebih
jenius akalnya darinya.” Khalid bin Nazar (menceritakan, red) dari Ibnu ‘Uyainah,
katanya: “Orang yang paling mengetahui hadits ‘Aisyah ada tiga: Al-Qasim bin
Muhammad, ‘Urwah bin Az-Zubair, dan ‘Amrah binti ‘Abdirrahman.”

Ia pun memiliki banyak hikmah yang ia ucapkan. Al-Imam Malik berkata, “Al-Qasim
didatangi seorang penguasa Madinah yang akan menanyakan sesuatu, lalu Al-Qasim
berkata, ‘Berkata dengan ilmu termasuk memuliakan diri sendiri’.” Al-Qasim juga
berkata, “Allah menjadikan (bagi) kejujuran, (dengan) kebaikan yang akan datang
sebagai ganti dari-Nya”.

Sebelum meninggal, Al-Qasim berwasiat kepada salah seorang anaknya, “Ratakanlah
kuburku dan taburilah dengan tanah serta janganlah kamu menyebut-nyebut
keadaanku demikian dan demikian.”
Al-Qasim, seorang tokoh tabi’in besar yang buta matanya di akhir kehidupannya,
wafat pada masa kekhalifahan Yazid bin Abdil Malik bin Marwan, dalam usia 71
tahun. Tepatnya pada tahun 107 H, sewaktu menunaikan ibadah ‘umrah bersama
Hisyam bin Abdil Malik di perbatasan antara kota Madinah dan Makkah.Walllahu
a’lam.

http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=203




                                                    
                     Al Hasan Al Bashri (30-110 H)
Suatu hari ummahatul mu’minin, Ummu Salamah, menerima khabar bahwa mantan “maula”
(pembantu wanita)-nya telah melahirkan seo¬rang putera mungil yang sehat. Bukan main gembiranya
hati Ummu Salamah mendengar berita tersebut. Diutusnya seseorang untuk mengundang bekas
pembantunya itu untuk menghabiskan masa nifas di rumahnya.

Ibu muda yang baru melahirkan tersebut bernama Khairoh, orang yang amat disayangi oleh Ummu
Salamah. Rasa cinta ummahatul mu’minin kepada bekas maulanya itu, membuat ia begitu rindu untuk
segera melihat puteranya. Ketika Khairoh dan puteranya tiba, Ummu Salamah memandang bayi yang
masih merah itu dengan penuh sukacita dan cinta. Sungguh bayi mungil itu sangat menawan.
“Sudahkah kau beri nama bayi ini, ya Khairoh?” tanya Ummu Salamah. “Belum ya ibunda. Kami
serahkan kepada ibunda untuk menamainya” jawab Khai¬roh. Mendengar jawaban ini, ummahatul
mu’minin berseri-seri, seraya berujar “Dengan berkah Allah, kita beri nama Al-Hasan.” Maka do’apun
mengalir pada si kecil, begitu selesai acara pembe¬rian nama.

Al-Hasan bin Yasar – atau yang kelak lebih dikenal sebagai Hasan Al-Basri, ulama generasi salaf
terkemuka – hidup di bawah asuhan dan didikan salah seorang isteri Rasulullah Shallallahu Alaihi
Wassalam: Hind binti Suhail yang lebih terkenal sebagai Ummu Salamah. Beliau adalah seorang puteri
Arab yang paling sempurna akhlaqnya dan paling kuat pendiriannya, ia juga dikenal – sebelum Islam –
sebagai penulis yang produktif. Para ahli sejarah mencatat beliau sebagai yang paling luas ilmunya di
antara para isteri Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam.

Waktu terus berjalan. Seiring dengan semakin akrabnya hubun¬gan antara Al-Hasan dengan keluarga
Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam, semakin terbentang luas kesempatan baginya untuk ber”uswah”
(berteladan) pada ke¬luarga Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. Pemuda cilik ini mereguk ilmu
dari rumah-rumah ummahatul mu’minin serta mendapat kesempatan menimba ilmu bersama sahabat
yang berada di masjid Nabawiy.

Ditempa oleh orang-orang sholeh, dalam waktu singkat Al-Hasan mampu meriwayatkan hadist dari
Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abu Musa Al-Asy’ari, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas,
Anas bin Malik dan sahabat-sahabat RasuluLlah lainnya. Al-Hasan sangat mengagumi Ali bin Abi
Thalib, karena keluasan ilmunya serta kezuhudannya. Penguasan ilmu sastra Ali bin Abi Thalib yang
demikian tinggi, kata-katanya yang penuh nasihat dan hikmah, membuat Al-Hasan begitu terpesona.

Pada usia 14 tahun, Al-Hasan pindah bersama orang tuanya ke kota Basrah, Iraq, dan menetap di sana.
Dari sinilah Al-Hasan mulai dikenal dengan sebutan Hasan Al-Basri. Basrah kala itu terkenal sebagai
kota ilmu dalam Daulah Islamiyyah. Masjid-masjid yang luas dan cantik dipenuhi halaqah-halaqah
ilmu. Para sahabat dan tabi’in banyak yang sering singgah ke kota ini.Di Basrah, Hasan Al-Basri lebih
banyak tinggal di masjid, mengikuti halaqah-nya Ibnu Abbas. Dari beliau, Hasan Al-Basri banyak
belajar ilmu tafsir, hadist dan qiro’at. Sedangkan ilmu fiqih, bahasa dan sastra dipelajarinya dari
sahabat-sahabat yang lain. Ketekunannya mengejar dan menggali ilmu menjadikan Hasan Al-Basri
sangat ‘alim dalam berbagai ilmu. Ia terkenal sebagai seorang faqih yang terpercaya.

Keluasan dan kedalaman ilmunya membuat Hasan Al-Basri banyak didatangi orang yang ingin belajar
langsung kepadanya. Nasihat Hasan Al-Basri mampu menggugah hati seseorang, bahkan membuat
para pendengarnya mencucurkan air mata. Nama Hasan Al-Basri makin harum dan terkenal, menyebar
ke seluruh negeri dan sampai pula ke telinga penguasa.

Ketika Al-Hajaj ats-Tsaqofi memegang kekuasan gubernur Iraq, ia terkenal akan kediktatorannya.
Perlakuannya terhadap rakyat¬ terkadang sangat melampaui batas. Nyaris tak ada seorang pun
penduduk Basrah yang berani mengajukan kritik atasnya atau menen¬tangnya. Hasan Al-Basri adalah
salah satu di antara sedikit penduduk Basrah yang berani mengutarakan kritik pada Al-Hajaj. Bahkan di
depan Al-Hajaj sendiri, Hasan Al-Basri pernah menguta¬rakan kritiknya yang amat pedas.
Saat itu tengah diadakan peresmian istana Al-Hajaj di tepian kota Basrah. Istana itu dibangun dari hasil
keringat rakyat, dan kini rakyat diundang untuk menyaksikan peresmiannya. Saat itu tampillah Hasan
Al-Basri menyuarakan kritiknya terhadap Al-Hajaj: “Kita telah melihat apa-apa yang telah dibangun
oleh Al-Hajaj. Kita juga telah mengetahui bahwa Fir’au membangun istana yang lebih indah dan lebih
megah dari istana ini. Tetapi Allah menghancurkan istana itu … karena kedurhakaan dan
kesombongannya                                                                                      …”
Kritik itu berlangsung cukup lama. Beberapa orang mulai cemas dan berbisik kepada Hasan Al-Basri,
“Ya Abu Sa’id, cukupkanlah kritikmu, cukuplah!” Namun beliau menjawab, “Sungguh Allah telah
mengambil janji dari orang-orang yang berilmu, supaya menerangkan kebenaran kepada manusia dan
tidak menyembunyikannya.”

Begitu mendengar kritik tajam tersebut, Al-Hajaj menghardik para ajudannya, “Celakalah kalian!
Mengapa kalian biarkan budak dari Basrah itu mencaci maki dan bicara seenaknya? Dan tak
seo¬rangpun dari kalian mencegahnya? Tangkap dia, hadapkan kepadaku!” .

Semua mata tertuju kepada sang Imam dengan hati berge¬tar. Hasan Al-Basri berdiri tegak dan tenang
menghadapi Al-Hajaj bersama puluhan polisi dan algojonya. Sungguh luar biasa ketenan¬gan beliau.
Dengan keagungan seorang mu’min, izzah seorang muslim dan ketenangan seorang da’i, beliau hadapi
sang tiran.

Melihat ketenangan Hasan Al-Basri, seketika kecongkakan Al-Hajaj sirna. Kesombongan dan
kebengisannya hilang. Ia langsung menyambut Hasan Al-Basri dan berkata lembut, “Kemarilah ya Abu
Sa’id …” Al-Hasan mendekatinya dan duduk berdampingan. Semua mata memandang dengan kagum.

Mulailah Al-Hajaj menanyakan berba¬gai masalah agama kepada sang Imam, dan dijawab oleh Hasan
Al-Basri dengan bahasa yang lembut dan mempesona. Semua pertanyaan¬nya dijawab dengan tuntas.
Hasan Al-Basri dipersilakan untuk pulang. Usai pertemuan itu, seorang pengawal Al-Hajaj bertanya,
“Wahai Abu Sa’id, sungguh aku melihat anda mengucapkan sesuatu ketika hendak berhadapan dengan
Al-Hajaj. Apakah sesungguhnya kalimat yang anda baca itu?” Hasan Al-Basri menjawab, “Saat itu
kubaca: Ya Wali dan PelindungKu dalam kesusahan. Jadikanlah hukuman Hajaj sejuk dan keselamatan
buatku, sebagaimana Engkau telah jadikan api sejuk dan menyelamatkan Ibrahim.”

Nasihatnya yang terkenal diucapkannya ketika beliau diundang oleh penguasa Iraq, Ibnu Hubairoh,
yang diangkat oleh Yazid bin Abdul Malik. Ibnu Hubairoh adalah seorang yang jujur dan sholeh,
namun hatinya selalu gundah menghadapi perintah-perintah Yazid yang bertentangan dengan
nuraninya. Ia berkata, “Allah telah memberi kekuasan kepada Yazid atas hambanya dan mewajibkan
kita untuk mentaatinya. Ia sekarang menugaskan saya untuk memerintah Iraq dan Parsi, namun
kadang-kadang perintahnya bertentangan dengan kebenaran. Ya, Abu Sa’id apa pendapatmu?
Nasihatilah aku …”

Berkata Hasan Al-Basri, “Wahai Ibnu Hurairoh, takutlah kepada Allah ketika engkau mentaati Yazid
dan jangan takut kepada Yazid¬ketika engkau mentaati Allah. Ketahuilah, Allah membelamu dari
Yazid, dan Yazid tidak mampu membelamu dari siksa Allah. Wahai Ibnu Hubairoh, jika engkau
mentaati Allah, Allah akan memelihara¬mu dari siksaan Yazid di dunia, akan tetapi jika engkau
mentaati Yazid, ia tidak akan memeliharamu dari siksa Allah di dunia dan akhirat. Ketahuilah, tidak
ada ketaatan kepada makhluk dalam ma’siat kepada Allah, siapapun orangnya.” Berderai air mata Ibnu
Hubairoh mendengar nasihat Hasan Al-Basri yang sangat dalam itu.

Pada malam Jum’at, di awal Rajab tahun 110H, Hasan Al-Basri memenuhi panggilan Robb-nya. Ia
wafat dalam usia 80 tahun. Pendu¬duk Basrah bersedih, hampir seluruhnya mengantarkan jenazah
Hasan Al-Basri ke pemakaman. Hari itu di Basrah tidak diselenggarakan sholat Ashar berjamaah,
karena kota itu kosong tak berpenghuni.


                                                   
                    Muhammad Bin Sirin (Wafat 110 H)
Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Sirin al-Anshari, ia adalah seorang ahli fiqh yang zuhud dan
tekun beribadah, ayahnya bekas sahaya Anas bin Malik yang membelinya dari Khalid bin al-Walid
yang menawannya di Ain at-Tamr di gurun pasir Irak dekat al-Anbar. Sebelumnya Anas menjanjikan
kebebasan bagi budaknya itu bila Sirin membayar sejumlah uang. Sirin melunasinya dan bebaslah ia.
Ibu Muhammad bin Sirin bernama Shaffiyah yang pernah menjadi sahaya Abu Bakar.

Muhammad bin Sirin lahir dua tahun menjelang masa pemerintahan Utsman, ia sempat bertemu
dengan 30 orang sahabat, tetapi tidak pernah melihat abu Bakar dan Abu Dzarr al-Ghifari. Ia juga tidak
mendengar langsung hadits dari Ibnu Abbas atau Abu Darda’ atau Imran bin Hushain, atau sayyidah
Aisyah. Namun ia meriwayatkan dari beberapa hadist musnad dari Zaid bin Tsabit, Anas bin Malik,
Abu Hurairah, Hudzaifah bin al-Yaman dan beberapa lainnya.

Diantara orang yang meriwayatkan dari Ibnu Sirin adalah Asy-Sya’bi, al-Auza’I, Ashim al-Ahwal,
Malik bin Dinar dan Khalid al-Hadzdza.

Hisyam bin Hisan berkata tentangnya:” Dia Orang Paling Jujur yang pernah aku jumpai”, Abu
Awanah menambahkan “ Aku pernah meliha Ibnu sirin dan tak seorangpun melihatnya tanpa sedang
berzikir kepada Allah Ta’ala”. Dan komentarnya Abu Sa’ad adalah “ Dia dipercaya memang teguh
amanat, tinggi kedudukannya dan banyak ilmunya”.

Ia wafat pada tahun 110 H

Disalin dari Biografi Ibnu Sirin dalam Tahdzib at Tahdzib 9/241 karya Ibnu Hajar Asqalani.




                                                               
                  ‘Umar bin ‘Abdul Aziz (wafat 101 H)
Nama sebenarnya adalah Abu Hafzah bin Abdul Aziz bin Marwan bin Hakam bin Abil ash bin
Umayyah al-Quraisy, seorang tabi’in besar dan salah seorang dari Khalifah yang Rasyidin, Ia sebagai
kepala Negara yang adil dan seorang ulama yang kamil.

Ia dilahirkan di Mesir di negeri Halwan pada waktu ayahnya menjadi Amir disitu pada tahun 61 H.

Semasa kecil ia telah hapal al-Qura’an, kemudian ia dikirim ke Madinah oleh ayahnya untuk belajar. Ia
belajar al-Qur’an dari Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah bin Ibnu Mas’ud. Setelah ayahnya
meninggal, paman Abdul Malik bin Marwan memintanya dating ke Damaskus, lalu dikawinkan dengan
seorang putrinya yang bernama Fatimah. Kemudian beliau diangkat menjadi gubernur di Madinah
dimasa pemerintahan Khalifah al-Walid. Pada tahun 93 H lalu beliau kembali ke Syam dan kemudian
pada tahun 99 H beliau diangkat menjadi Khalifah.

Umar bin Abdul Aziz menerima hadist dari anas, as Sa’ib bin Yasid, Yusuf bin Abdullah bin Salam.
Khalulah binti Hakim dan dari sahabat lainnya.

Ia juga menerima hadits dari tokoh tokoh Tabi’in seperti Ibnul Musayyab, ‘Urwah, Abu Bakar bin
Abdurahman dan yang lainnya.

Hadits-hadits beliau di terima oleh para Tabi’in diantaranya adalah Abu Salamah bin Abdurahman,
Abu Bakar Muhammad bin Amr bin HAzm, az-Zuhry, Muhammad bin al-Munkadir, Humaid ar-
Thawil dan lain lain.

Seluruh Ulama berpendirian menetapkan bahwa Umar bin Abdul Aziz ini adalah seorang yang banyak
Ilmu, Shalih, Zuhud dan Adil. Ia banyak memberikan perkembangan hadits , baik secara hapalan
maupun secara pendewanan, maka takala ia menjadi Khalifah, ia memerintahkan kepada ulama ulama
daerah supaya menulis hadits hadits yang ada didaerah mereka masing masing, lalu meriwayatkan
hadist agar tidak hilang dengan meninggalnya para ulama tabi’in tersebut.

Umar bin Abdul Aziz ini merupakan permulaan Khalifah yang memberikan perhatian kepada hal hal
yang demikian itu. Beliau disamakan dengan az-Zuhry tentang ke ‘Alimannya.

Mujahid berkata,”Kami mendatanginya, dan kami tidak meninggalkannya sebelum kami beljar dari
padanya”.

Ia wafat pada tahun 101 H

Disalin dari Biografi Umar bin ‘Abdul “Aziz dalam Tarikh al-khulafa no.153, Tahdzibul Asma An Nawawi no.11/17 Tahdzib at
Tahdzib Ibn Hajar no VII/475




                                                           
                        Nafi’ bin Hurmuz (wafat 117 H)
Nafi’ lengkapnya bernama Nafi’ bin Hurmuz (ada yang mengatakan bin Kawus), seorang ahli fiqh.
Nama julukannya adalah “Abu Abdillah al-Madini”. Abdullah bin Umar menemukannya dalam suatu
peperangan ia senang akan kegemaran Nafi’ terhadap ilmu dan selalu menyiapkan diri dengan baik
untuk meriwayatkan hadits. Ia berkata :“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada kita dengan
Nafi”.

Nafi’ benar benar ikhlas dalam berkhidmat kepada Ibnu Umar majikannya selama 30 tahun. Sebagian
ulama berpendapat bahwa Nafi’ berasal dari Naisabur, sedangkan ulama lain mengatakan ia dari Kabul.
Adapun menurut Yahya bin Ma’in:” Nafi adalah seorang Dalam yang gagap bicara”.

Imam Malik bin Anas termasuk murid Nafi’ bahkan muridnya yang paling tetap, menurut an-Nasa’I,
mengenai gurunya ini. Imam Malik berkata:” Apabila aku mendengan hadits dari Nafi’, dari Ibnu
Umar, aku tidak perduli lagi, sekalipun aku tidak mendengarnya dari orang lain. Dari sini Imam
Bukhari menetapkan bahwa sanad paling shahih adalah Malik dari Nafi’, dari Ibnu Umar.

Nafi’ tidak hanya meriwayatkan hadits dari Ibnu Umar tetapi juga mempunyai riwayat-riwayat yang
bersumber dari Abu Sa’id al-Khudri, Sayyidah Aisyah dan Sayyidah Hafshah secara Mursal.

Yang meriwayatkan hadits dari dia ialah : Abdullah bin Dinnar, Az-Zuhri, al-Auza’I, Ibnu Ishaq,
Shalin bin Kaisan, dan Ibnu Juraij.

Ibnu Umar sangat menyukainya, ada orang yang berani membayar 30.000 dinar untuk mendapatkan
Nafi’ kemudian dimerdekakannya.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz mengirimnya ke Mesir dengan tugas mengajarkan hadits dan
pengetahuan agama kepada penduduk negeri itu.

Ia wafat pada tahun 117 H.

Disalin dari Biografi Nafi’ dalam Tahdzib al-Asma’ karya an-Nawawi.




                                                             
         Muhammad bin Syihab Az-Zuhri wafat 125 H
Nama sebenarnya adalah Muhammad bin Muslim bin Abdullah, alim dan ahli fiqh. Al-Laits bin Sa’ad
berkata: “Aku belum pernah melihat seorang alimpun yang lebih mumpuni dari pada az-Zuhri, kalau ia
berbicara untuk memberi semangat, tidak ada yang lebih baik dari pada dia, bila dia berbicara
tentang sunnah dan al-Qur’an pembicaraanya lengkap“.

Ibnu Syihab az-Zuhri tinggal di Ailah sebuah desa antara Hijaz dan Syam, reputasinya menyebar
sehingga ia menjadi tempat berpaling bagi para ulama Hijaz dan Syam. Selama delapan tahun Ibnu
Syihab az-Zuhri ia tinggal bersama Sa’id bin Al-Musayyab di sebua desa bernama Sya’bad di pinggir
Syam. Disana pula ia wafat.

Ia membukukan banyak hadits yang dia dengan dan dia himpun. Berkata Shalih bin Kisan:” Aku
menuntut ilmu bersama az-Zuhri, dia berkata: mari kita tulis apa yang berasal dari Nabi Shallallahu
alaihi wassalam, pada kesempatan yang lain dia berkata pula: “Mari kita tulis apa yang berasal dari
Sahabat”, dia menulis dan aku tidak. Akhirnya dia berhasil dan aku gagal”.

Kekuatan hapalan dan kecermatan az-Zuhri dapat disimak oleh Hisyam bin Abdul Malik pernah ia
meminta untuk mendiktekan kepada beberapa orang anaknya, dan az-Zuhri ternyata mampu
mendiktekan 400 hadits. Setelah keluar dari rumah Hisyam dan kepada yang lainpun ia menceritakan
400 hadits tersebut. Setelah sebulan lebih ia bertemu lagi dengan az-Zuhri, Hisyam berkata kepadanya
“Catatanku dulu itu telah hilang “, kali ini dengan memanggil Juru tulis az-Zuhri mendiktekan lagi 400
hadits tersebut. Hisyam mengagumi kemampuan az-Zuhri,.

Kecermatan dan penguasaan hadits oleh az-Zuhri membuat Amr bin Dinar mengakui keutamaanya
dengan berkata :”Aku tidak melihat ada orang yang yang pengetahuannya terhadap hadits melebihi az-
Zuhri”.

Az-Zuhri memang selalu berusaha keras untuk meriwayatkan hadits, ada yang berkata bahwa az-Zuhri
menghimpun hadits jumlahnya mencapai 1.200 hadits, tetapi yang musnad hanya separuhnya.

Az-Zuhri meriwayatkan hadits bersumber dari Abdullah bin Umar, Abdullah bin Ja’far, Shal bin Sa’ad,
Urwah bin az-Zubair, Atha’ bin Abi Rabah. Ia juga mempunyai riwayat riwayat yang mursal dari
Ubadah bin as-Shamit, Abu Hurairah, Rafi’ bin Khudaij, dan beberapa lainnya.

Imam bukhari berpendapat bahwa sanad az-Zuhri yang paling shahih adalah az-Zuhri, dari Salim, dari
ayahnya. Sedangkan Abu Bakar bin Abi Syaibah menyatakan bahwa sanadnya yang paling shahih
adalah az-Zuhri, dari Ali bin Husain, dari bapaknya dari kakeknya (Ali bin Abi Thalib)”.

Ia wafat di Sya’bad pada tahun 123 H, ada yang mengatakan ia wafat tahun 125 H.

Disalin dari Biografi az-Zuhri dalam Tahdzib at Tahdzib : Ibn Hajar Asqalani 9/445




                                                               
                            Ikrimah (Wafat 105 H)
Nama sebenarnya adalah Abu Abdullah Ikrimah Maulana Ibnu Abbas seorang tabi’in yang
meriwayatkan hadits hadits ibnu Abbas.

Ikrimah berasal dari Barbari dari penduduk Maghribi, Ibnu Abbas memilikinya sejak ia menjadi
Gubernor Bashrah dalam kekhalifahan Ali bin Abi Thalib.

Ibnu Abbas mengajarkan al Qur’an dan Sunnah kepada Ikrimah dengan sebaik baiknya, Ikhrimah
sendiri pernah mengatakan, bahwa Ibnu Abbas tetap memberikan pelajaran kepadanya, Ikrimah terus
menerus menerima ilmu dari Ibnu abbas, sehingga ia memperoleh keahlian dalam berfatwa dan
diizinkannya berfatwa.

Ia ahli dibidang hadits dan fatwa juga ahli dalam bidang qira’at dan tafsir, ia masuk golongan qurra
yang termasyur dan mufassir yang terkenal.

Ikrimah tetap dalam perbudakan hingga Ibnu abbas wafat, sehingga ia dimiliki oleh Ali bin Ibnu abbas
(anaknya Ibnu abbas), kemudian Ali menjualnya kepada Khalid bin Yasid bin Mua’wiyyah dengan
harga 4.000 dinar, lalu Ikrimah bertanya kepada Ali, “ Mengapa anda menjual ilmu ayah anda dengan
harga 4.000 dinar?”. Mendengar itu Ali membatalkan penjualannya dan memerdekakan Ikrimah.

Ia menerima hadits dari banyak sahabat yaitu Ibnu Abbas, Al Hasan bin Ali, Abu Qotadah, Ibnu Umar,
Abu Hurairah, Abu Sa’id, Mua’wiyyah dan Ibnu Amr bin Ash.

Sedangkan yang meriwayatkan hadits darinya adalah Abusy Sya’tsa, asy Sya’by, an Nakha’iy, Abu
Ishaq, as Subai-iy, Ibnu sirin, Amr ibn Dinar.

Para ulama sepakat bahwa Ikrimah adalah orang yang Tsiqah dan mereka berhujjah dengan hadits
hadits yang diriwayatkan olehnya.

Namun demikian Muslim hanya meriwayatkan sebuah hadits saja darinya dalam bab haji yang
disertakan dengan Sa’id bin Jubair.

Banyak para ulama hadits yang menyusun kitab berhujjah dengan Ikrimah diantaranya adalah Ibnu
Jarir, ath Thabary, Ibn Nashr al Marwazy, Ibn Mandah, Abu Hatim, Ibn Hibban, Abu Umar bin Abdul
Barr dan lain lannya. Dan di antara ulama yang membelanya seperti Al Hafidh Ibnu Hajar didalam
Muthashar Tahdzibu kamal daan didalam Muadimmah Fathul Bari.

Al Bukhary berkata,” Tidak ada diantara para ulama hadits yang tidak berhujjah dengan Ikrimah”.

Ibnu Mai’n berkata,” Apabila kami melihat orang yang mencela Ikrimah, kamipun menuduh orang itu
tidak benar”.

Muhammad bin Nashr al Marwazy berkata,” Seluruh ilmu hadits diantaranya Ahmad, Ishaq, Abu
Tsaur, Yahya bin Ma’in, aku telah bertanya kepada Ishaq tentang berhujjah dengan Ikrimah, maka
beliau menjawab, “Ikrimah dalam pandangan kami, Imam yang tsiqah”.
Ibnu Mahdah berkata,” Ikrimah dipandang adil oleh 70 tabi’in, ini suatu kedudukan yang hampir-
hampir tidak diperoleh oleh orang lain. Orang yang mencacinya pun meriwayatkan juga hadits
darinya. Dan Haditsnya diterima oleh para ulama. “.

Dari pernyataan pernyataan ini, nyatalah bahwa apabila orang orang kepercayaan meriwayatkan suatu
hadits dari Ikrimah, maka tidak ada jalan untuk meragui kebenaran hadits itu.

Ia wafat pada tahun 105 H dalam usia 80 tahun lebih.

 Disalin dari riwayat Ikrimah dalam Tahdzibul Asma’I wal Lughat an Nawawi1 340, Muqadimmah Fatul Bari karya Ibn Hajar
                                II:148, Tahdzib at Tahdzib karya Ibnu Hajar asqalani.VII:236.




                                                          
                               Asy Sya’by (wafat 104 H)
Namanya adalah Amir bin Syurahil, ia seorang ulama tabi’in yang terkemuka, beliau lahir pada
pemirintahan Khalifah Umar bin Khaththab yaitu pada tahun 17 H, ia seorang imam ilmu, penghapal
hadits, dan ahli dalam bidang fiqh.

Ia meriwayatkan hadits dari Ali bin Abu Thalib, Abu Hurairah, Ibnu abbas, Aisyah, Ibnu Umar dan
lain lainnya. Ia adalah guru besarnya Abu Hanafi.

Ia mengendalikan pengadilan Kufah beberapa lama masanya, fatwa fatwanya telah berkembang di
masa sahabat sendiri , hal ini menunjukan bahwasanya beliau mempunyai ilmu yang luas dalam bidang
hadits dan fiqh.

Para ulama sepakat bahwa asy Sya’by adalah seorang imam dan seorang yang tsiqah dan semua ulama
memujinya karena keluasan ilmu dan keutamaannya.

Ibnu Sirin berkata kepada Abu Bakar al-Huzaly:,” Tetaplah engkau bersama asy Sya’by, aku melihat
bahwa beliau telah berfatwa di masa sahabat masih banyak jumlahnya”.

Ibnu Abi Laila berkata:,” Asy Sya’by adalah seorang ulama hadits sedangkan Ibrahim Nakha’iy
seorang ahli qiyas”.

Dan Asy Sya’by sendiri pernah berkata, “Kami bukan fuqaha, kami hanya meriwayatkan hadits.”.

Ia wafat pada tahun 104 H

Disalin dari riwayat Asy Sya’by dalam Tahdzibul Asma’I wal Lughat an Nawawi,Tahdzib at Tahdzib karya Ibnu Hajar asqalani.




                                                            
                     Ibrahim an Nakha’iy (Wafat 96 H)
Nama sebenarnya adalah Abu Imran Ibrahim bin Yazid bin Qais an Nakha’iy al Kufy, beliau seorang
ulama fiqh di Kufah dan seorang Tabi’in yang mulia.

Beliau sering menemui Aisyah, tetapi tidak ada keterangan yang menyatakan bahwa ia menerima
hadits dari Aisyah. Ia menerima hadits dari ulama ulama tabi’in diantaranya adalah Iqamah, al Aswad,
Abdurahman, Masruq dan lain lainnya.

Hadits haditsnya diriwayatkan dari segolongan tabi’in, diantaranya adalah Abu Ishaq as Subai’iy,
Habib bin Abi Tsabit, Samak bin Harb, al A’masy dan Hammad bin Abu Sulaiman gurunya Abu
Hanifah.

Ibrahim an Nakha’iy walaupun tidak meriwayatkan hadits dari seorang sahabat padahal ia menemui
segolongan dari mereka. Namaun ia mempunyai kedudukan yang tinggi dalam bidang hadits dan dalam
bidang ilmu riwayat.

Seluruh ulama sepakat menyatakan bahwa ia adalah seorang yang tsiqah dan seorang ahli dalam bidang
fiqh.

Asy Sya’by pernah berkata,” Tidak ada seorangpun yang masih hidup yang lebih alim dari pada
Ibrahim, walaupun al Hasan dan Ibnu Sirin”.

Az Zuhrah pernah berkata,” an Nakha’iy adalah salah seorang ulama terkenal”.

Ia wafat pada tahun 96 H

Disalin dari riwayat Ibrahim an Nakha’iy dalam Tahdzibul Asma’I wal Lughat an Nawawi,Tahdzib at Tahdzib karya Ibnu Hajar
asqalani.




                                                            
                                  Alqamah (Wafat 62 H)
Nama sebenarnya adalah Abu Syibl Alqamah bin Qais bin Abdullah an Nakha’iy al Kufi, paman dari al
Aswad dan Abdurahman, dua orang putra Yaziz juga saudara dari Ibrahim an Nakha’iy.

Ia menerima hadits dari sahabat sahabat besar yaitu Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan, Ali bin
Abi Thalib, Salman al Farisy, Khabbab, Hudzaifah, Abu Musa, Aisyah dan sahabat sahabat lainnya.

Hadits haditsnya diriwayatkan oleh Abu Wail, Ibrahim an Nakha’iy, asy Sya’by, Ibnu Sirin,
Abdurahman bin Yazid, Abudl Dluha dan lain-lainnya.

Semua ulama mengakui ketinggian ilmunya dan sangat baik sirah hidupnya, Ibrahim an Nakha’iy
berkata,” Alqamah menyerupai Ibnu Mas’ud”. Sedangkan As Subai’iy berkata,” Alqamah seorang
yang tsiqah dan ulama Rabbany”.

Imam Ahmad bin Hanbal berkata,” Alqamah seorang kepercayaan dari ahli khair”. Sedangkan Abu
Sa’ad as San’any berkata,” Alqamah adalah sahabat Ibnu Mas’ud yang terbesar”.

Ia wafat pada tahun 62 H

Disalin dari riwayat Alqamah dalam Tahdzibul Asma’I wal Lughat an Nawawi,Tahdzib at Tahdzib karya Ibnu Hajar asqalani.




                                                            
                              4.Para Tabi’ut tabi’in :
                                    Imam Malik Bin Anas
Nama lengkapnya adalam Malik bin Anas Abi Amir al Ashbahi, dengan julukan Abu Abdillah. Ia lahir
pada tahun 93 H, Ia menyusun kitab al Muwaththa, dan dalam penyusunannya ia menghabiskan waktu
40 tahun, selama waktu itu, ia menunjukan kepada 70 ahli fiqh Madinah. Kitab tersebut menghimpun
100.000 hadits, dan yang meriwayatkan al Muwaththa’ lebih dari seribu orang, karena itu naskahnya
berbeda beda dan seluruhnya berjumlah 30 naskah, tetapi yang terkenal hanya 20 buah. Dan yang
paling masyur adalah riwayat dari Yahya bin Yahyah al Laitsi al Andalusi al Mashmudi.

Sejumlah ‘Ulama berpendapat bahwa sumber sumber hadits itu ada tujuh, yaitu Al Kutub as Sittah
ditambah Al Muwaththa’. Ada pula ulama yang menetapkan Sunan ad Darimi sebagai gantiAl
Muwaththa’. Ketika melukiskan kitab besar ini, Ibn Hazm berkata,” Al Muwaththa’ adalah kitab
tentang fiqh dan hadits, aku belum mnegetahui bandingannya.

Hadits hadits yang terdapat dalam al Muwaththa’ tidak semuanya Musnad, ada yang Mursal, mu’dlal
dan munqathi. Sebagian ‘Ulama menghitungnya berjumlah 600 hadits musnad, 222 hadits mursal, 613
hadits mauquf, 285 perkataan tabi’in, disamping itu ada 61 hadits tanpa penyandara, hanya dikatakan
telah sampai kepadaku” dan “ dari orang kepercayaan”, tetapi hadits hadits tersebut bersanad dari jalur
jalur lain yang bukan jalur dari Imam Malik sendiri, karena itu Ibn Abdil Bar an Namiri menentang
penyusunan kitab yang berusaha memuttashilkan hadits hadits mursal , munqathi’ dan mu’dhal yang
terdapat dalam al Muwaththa’ Malik.

Imam Malik menerima hadits dari 900 orang (guru), 300 dari golongan Tabi’in dan 600 dari tabi’in
tabi’in, ia meriwayatkan hadits bersumber dari Nu’main al Mujmir, Zaib bin Aslam, Nafi’, Syarik bin
Abdullah, az Zuhry, Abi az Ziyad, Sa’id al Maqburi dan Humaid ath Thawil, muridnya yang paling
akhir adalah Hudzafah as Sahmi al Anshari.

Adapun yang meriwayatkan darinya adalah banyak sekali diantaranya ada yang lebih tua darinya
seperti az Zuhry dan Yahya bin Sa’id. Ada yang sebaya seperti al Auza’i., Ats Tsauri, Sufyan bin
Uyainah, Al Laits bin Sa’ad, Ibnu Juraij dan Syu’bah bin Hajjaj. Adapula yang belajar darinya seperti
Asy Safi’I, Ibnu Wahb, Ibnu Mahdi, al Qaththan dan Abi Ishaq.

An Nasa’I berkata,” Tidak ada yang saya lihat orang yang pintar, mulia dan jujur, terpercaya
periwayatan haditsnya melebihi Malik, kami tidak tahu dia ada meriwayatkan hadits dari rawi matruk,
kecuali Abdul Karim”. (Ket: Abdul Karim bin Abi al Mukharif al Basri yang menetap di Makkah,
karena tidak senegeri dengan Malik, keadaanya tidak banyak diketahui, Malik hanya sedikit
mentahrijkan haditsnya tentang keutamaan amal atau menambah pada matan).

Sedangkan Ibnu Hayyan berkata,” Malik adalah orang yang pertama menyeleksi para tokoh ahli fiqh
di Madinah, dengan fiqh, agama dan keutamaan ibadah”.

Ia wafat pada tahun 179 H

Disalin dari Biografi Malik bin Anas ad Dibaj al Madzhab 17:30, Tahdzib at Tahdzib 10/5 karya Ibnu Hajar asqalani.
                                                             


Abu Amru Abdurrahman Al-Auza’i (Wafat 157 H)
Nama sebenarnya adalah Abu ‘amr Abdurahman bin amr Asy Syamy ad Dimasqy. Ia seorang fiqh di
Syam di masanya. Dilahirkan pada tahun 88 H.

Penduduk Syam dan Maghribi bermadzhabkan beliau sebelum bermadzhab dengan Malik.

Beliau seorang Ulama Tabi’it Tabi’in, menerima hadits dari golongan Tabi’in yaitu ‘Atha’ bin Abi
Rabah, Qatadah, Nafi’, az Zuhry, Yahya bin Abi Katsir dan yang laiinya.

Diantara imam imam yang meriwayatkan hadits dari padanya yaitu: Sufyan, Malik, Syu’bah, Ibn
Mubarak, dan yang lainnya.

Para ulama sepakat bahwa al Auza’iy seorang yang tinggi ilmunya dalam bidang hadits dan fiqh.

Abdurahman ibn Mahdy berkata,” tidak ada seorang alim tentang sunnah di Syam melainkan al
Auza’iy”.

Huqal berkata,” al Auza’iy telah menjawab 1000 masalah dari pertanyaaan2 dan para ulama
mengakui ketinggian ilmunya”.

Para ulama yang semasa dengan beliau mengatakan bahwa beliau adalah seorang imam dalam bidang
hadits dan fiqh dan seorang yang berani berterus terang dalam mengemukakan kebenaran kepada para
penguasa.

Ia wafat pada tahun 157 di Beirut

Disalin dari riwayat al Auza’iy dalam Tahdzibul ‘asma karya Karya an-Nawawi no 1: 298




                                                             
                            Sofyan Ats-Tsauri (97-191 H)
Nama aslinya Abu Abdillah Sufyan bin Sa’id bin Masruq al Kufi, ia seorang Al-hafidh adl Dlabith
(Penghapal yang cermat). Ia lahir di Kufah pada tahun 97 H..Ayahnya Sa’id salah seorang ulama
Kufah, Ia cermat dalam periwayatan hadist sehingga Syu’bah bin al-Hajjaj, Sufyan bin Uyainah dan
Yahya bin Ma’in menjulukinya “Amirul Mu’minin fi al-Hadits”, gelar yang sama disandang oleh
Malik bin Anas.

Mula-mula ia belajar dari ayahnya sendiri, kemudian dari banyak orang-orang pandai di masa itu
sehingga akhirnya ia mencapai keahlian yang tinggi di bidang Hadits dan teologi. Ia telah mendirikan
sebuah madzhab fiqh yang bertahan selama dua abad

Mengenai dia, Al-Khatib al Baghdadi berkata: “Sufyan adalah salah seorang diantara para imam
kaum muslimin dan salah seorang dari pemimpin agama, kepemimpinannya disepakati oleh para
ulama, sehingga tidak perlu lagi pengukuhan terhadap ketelitian, hapalan”.

Sufyan at-Tsauri meriwayatkan hadist dari Al-A’masi (sulaiman bin Mihran), Abdullah bin Dinar,
Ashim al-Ahwal, Ibn al-Munkadir dan lainya.

Sedangkan yang diriwayatkan darinya ialah Aburahman Auza’I, Abdurahman bin Mahdi, Mis.ar bin
Kidam dan Abban bin Abdullah al-Ahmasi. Orang terakhir yang meriwayatkan darinya adalah Ali bin
al-Ja’d.

Abdullah bin Mubarak berkata:” Aku telah mencatat dari 1.100 orang guru dan aku tidak pernah
mencatat dari seseorang yag keutamaanya melebihi Sufyan”. Namun ada diantara ulama meriwayatkan
dari Ibn Mubarak bahwa Sufyan Ats-Tsauri terkadang meriwayatkan Hadits Mudallas.

Ibnu Mubarak berkata:” Aku pernah menceritakan hadits kepada Sufyan, lalu pada kesempatan lain
aku datang kepadanya ketika ia tengah men tadlis kan hadits tersebut, dan ketika ia melihatku tampak
ia malu dan berkata :” Aku meriwayatkan bersumber dari anda”. Jika ini benar, untuk menyepakati
antara dua perkataan Ibn al-Mubarak maka pen tadlisan yang dilakukan Sufyan itu termasuk tadlis
yang tidak membuatnya tercela. Karena itu ia berkata kepada Ibn Mubarak: “Aku meriwayatkannya
bersumber dari anda”. Dengan perkataan tersebut ia menghendaki bahwa sanad hadits yang samapai
kepadanya tersebut dianggap tsiqah.

Ats Tsauri wafat di Basrah pada tahun 161 H

Disalin dari Biografi sufyan Ats-Tsauri dalam Thabaqaat Ibn Sa’ad 6/257, Tahdzib at Tahdzib : Ibnu Hajar Asqalani 4/111
                                                              


                       Sufyan bin Uyainah (wafat 198 H)
Nama lengkapnya adalah Abu Muhammad Sufyan bin Uyainah bin Maimun al-Hilali al Kufi. Ia
sempat bertemu dengan 87 tabi’in dan mendengar hadits dari 70 orang diantara mereka. Yang paling
terkenal diantaranya adalah Ja’far ash-Shadiq, Humaid ath-Thawl, Abdullah bin Dinar, Abu az-Zanad
dan Shalih bin Kaisan.

Murid muridnya yang meriwayatkan hadits darinya antara lain: Al-A’masi, Mis’ar bin Kidam,
Abdullah bin Mubarak, Asy-Syafi’I, Ahmad bin Hambal, Yahya bin Ma’in, dan Ali bin Madini.

Pada tahun 163 H ia pindah dari Kufah ke Makkah, ia menetap di kota ini mengajar hadits dan al-
Quran kepada orang orang Hijaz sampai dengan wafatnya.

Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata mengenai dirinya:” Dia (sufyan bin Uyainah) seorang yang Tsiqah,
Hafidz, dan seorang yang ahli fiqh, Boleh jadi dia melakukan Tadlis tetapi dari orang orang yang
terpercaya”.

Ia meriwayatkan hadits sekitar 7.000 hadits, Imam Syafi’I memberikan kesaksian atas keilmuannya:
“Andaikata tidak ada Malik dan Ibnu Uyainah, niscaya hilang ilmu Hijaz”.

Ia wafat pada tahun 198 H di Makkah dalam usia 91 tahun.

Disalin dari Biografi Ibnu Uyainah dalam Tadzikarat al-Huffad karya Adz Dzahabi 1/242, al-I’tidal karya adz Dzahabi 1/379




                                                              
                       Al-Laits bin Sa’ad (Wafat 175 H)
Nama sebenarnya adalah Al-Laits bin Sa’ad bin Abdurahman al-Fahmi yang mendapat julukan Abu
al_Harits adalah guru besar di negeri Mesir, ia dilahirkan di Qarqasyand pada tahun 94 H, ia orang
kaya dan dermawan.

Imam Bukhari dan Mulim banyak meriwayatkan hadist darinya. Imam Ahmad bin Hanbal, Asy-
Syafi’I, Sufyan ats Tsauri, Al-Ajli dan kebanyakan ulama menganggapnya tsiqah.

Berkata Imam Sya’fi’I:” Al-Laits lebih ahli ketimbang Malik dalam hal fiqh”. Imam Malik sendiri
setiap kali menyebutkan dalam kitabnya:” Telah diceritakan kepadaku oleh orang ahli ilmu”. Dan yang
dimaksudkan adalah al-Laits bin Sa’ad.

Al-Laits sebagaimana dikatakan oleh Imam Nawawi selalu menjauhi tadlis dalam periwayatannya.
Para Ulama telah menetapkan bahwa sanad paling shahih di Mesir adalah yang diriwayatkan oleh Al-
Laits bin Sa’ad, dari Yazid bin Abi Habib. Dan yang meriwayatkan darinya antara lain: Abdullah bin
al-Mubarak dan Abdullah bin Wahab.

Ia wafat pada tahun 175 H.

Disalin dari Biografi Al-Laits dalam Tarikh al-Baghdad karya Khatib Baghdadi 13/3, Tadzikarat al-Huffad karya Adz Dzahabi
1/207




                                                            
                   Syu’bah bin al Hajjaj (Wafat 160 H)
Nama sebenarnya adalah Abu Bustham Syu’bah Ibnul Hajjaj al “Utakiy al Azdy, ia berasala dari
Wasith kemudian hijrah dan menetap di Bashrah. Ia seorang ulama dari golongan tabi’it tabi’in dan
seorang yang hafidh dari tokoh hadits.

Ia menerima hadits dari Ibnu Sirin, Amr bin Dinar, asy Sya’by dan dari sejumlah tabi’in lainnya.

Diantara yang menerima hadits darinya adalah al A’Masy, ayyub as Sakhtayany, Muhammad Ibnu
Ishaq, ats Tsaury, Ibnu Mahdy, Wakie’, Ibnul Mubarak, Yahya al Qaththan dan lain lainnya.

Beliau diakui sebagai imam hadits yang sangat kokoh hapalannya. Ahmad bin Hanbal berkata,” Tidak
ada di masa Syu’bah orang yang sepertinya dalam bidang hadits dan tidak ada yang lebih baik
tentang hal hadits daripadaanya”.

Asy Syafi’iy berkata, “ Andaikata tidak ada Syu’bah, orang irak tidak banyak mengetahui hadits”
sedangkan Sufyan ats Tsaury berkata,” Syu’bah adalah Amirul Mukminin dalam bidang hadits”. Dan
Shalih Ibnu Muhammad berkata,” Ulama yang mau mengatakan tentang hal rijal hadits adalah
Syu’bah”.

Ia wafat di Bashrah pada tahun 160 H dalam usia 77 tahun.

Disalin dari riwayat Syu’bah bin al Hajjaj dalam Tahdzibul Asma’I wal Lughat an Nawawi I:244,Tahdzib at Tahdzib karya Ibnu
Hajar asqalani. IV: 358




                                                             
                             Abu Hanifah (wafat 150 H)
Nama sebenarnya adalah An-Nu’man bin Tsabit bin Zutha. Ia bekas hamba sahaya Taimullah bin
Tsa’labah al-Kufi. Ia berasal dari Persia.

Abu Hanifah seorang Tabi’in karena pernah melihat beberapa sahabat seperti Anas bin Malik, Sahl bin
Sa’ad as-Sai’di, Abdullah bin Abi Aufa dan Abu Thufail Amir bin Watsilah. Ia meriwayatkan dari
sebagian mereka. Bahkan ada Ulama yang mengatakan bahwa ia meriwayatkan dari mereka.

Abu Hanifah belajar fiqh dan hadist dari ‘Atha’, Nafi’ ibn Hurmuz, Hammad bin Abi Sulaiman, Amr
bin Dinar, dan lainnya. Yang meriwayatkan darinya adalah para muridnya seperti Abu Yusuf, Zuhfar,
Abu Muthi’ al-Balkhi, Ibnul Mubarak, al-Hasan bin Ziyad, Dawud at-Tha’I dan Waki’.

Para Ulama memberi kesaksian akan keluasan ilmu fiqh dan kekuatan Hujjah. Imam Syafi’I
berkata:”Dalam hal ilmu Fiqh, ada pada Abu Hanifah”.

Al-Laits bin Sa’ad berkata:” Aku pernah menghadap Imam Malik di Madinah, lalu aku bertanya
kepadanya:’ aku lihat anda mengusap keringat dikening anda.’. Malik menjawab:” Aku berkeringat
bersama Abu Hanifah, Dia benar benar ahli fiqh”.

Ibnul Mubarak berkata:’ Orang yang paling mengerti fiqh, aku belum pernah melihat orang seperti
dia, andakata Allah tidak menolongku melalui Abu Hanifah niscaya aku seperti kebanyakan orang.
Dia adalah seorang dermawan dan ahli menyelami berbagai masalah”.

Muhammad bin Mahmud mengumpulkan 15 hadits Musnadnya. Dalam kitabnya al-Atsar karya
muridnya yang bernama Muhammad bin al-Hasan banyak didapati hadits yang dikutib oleh
Muhammad bersumber darinya.

Abu Hanifah seorang yang sangat takwa, untuk membiayai hidupnya ia bekerja sendiri dan tidak mau
menerima pemberian para ulama. Abu Ja’far pernah memaksanya untuk menjadi Qadli tetapi Abu
Hanifah menolaknya dan Ia meninggal di penjara Baghdad pada tahu 150H.

Disalin dari Biografi Abu Hanifah dalam Tarikh Baghdad: al-Khatib Baghdadi13/323




                                                            
        5. Atba’ Tabi’it Tabi’in : Setelah para
                     tabi’ut tabi’in:


              Abdullah Bin Al-Mubarak (118-181 H)
Nama sebenarnya adalah Abu Abdurrahman Abdullah bin al-Mubarak al-Hanzhali al-Marwazi lahir
pada tahun 118 H/736 M.

Ayahnya seorang Turki dan ibunya seorang Persia. Ia adalah seorang ahli Hadits yang terkemuka dan
seorang zahid termasyhur. Abdullah bin Mubarak telah belajar di bawah bimbingan beberapa orang
guru, baik yang berada di Merv maupun di tempat-tempat lainnya, dan ia sangat ahli di dalam berbagai
cabang ilmu pengetahuan, antara lain di dalam gramatika dan kesusastraan.

Ia adalah seorang saudagar kaya yang banyak memberi bantuan kepada orang-orang miskin. Banyak
karya-karyanya mengenai Hadits, salah satu di antaranya dengan tema “Zuhud masih dapat kita jumpai
hingga waktu sekarang ini.”

Ia wafat pada tahun 181 H di kota Hit yang terletak di tepi sungai Euphrat.




                                                    
                     Wakie’ bin al-Jarrah (wafat 197 H)
Nama sebenarnya adalah Abu Sufyan Wakie’ bin al Jarrah bin Malikh bin ‘Adiy, Ia dilahirkan pada
tahun 127 H, Ia seorang ulama dari tabi’it tabi’in dan seorang hafidh ahli hadist yang besar, Imam dari
ulama ulama Kufah dalam bidang hadist dan lainnya.

Ia menerima hadits dari al-a’Masy Hisyam bin Urwah, Abdullah bin Aun, ats Tsaury, ibnu Uyainah
dan yang lainnya.

Para ulama hadits mengakui ketinggian ilmunya Waki’ dalam bidang hadits dan kuat hapalannya.
Ahmad bin Hanbal berkata,” Telah diceritakan kepadaku oleh orang yang belum pernah mata anda
melihatnya yang seperlunya, yaitu Wakie’ ibn al-Jarrah”.

Ahmad berkata pula,” Belum pernah saya melihat seorang ulama tentang hal ilmu, hapalan sanad
adalah Wakie’, dia menghapal hadist, mendalami fiqih dan ijtihad, dan dia tidak pernah mencela
seseorang”.

Ibnu Ma’in berkata,” Belum pernah aku melihat orang yang meriwayatkan hadist semata mata karena
Allah selain daripada Wakie’”.

Ibnu Amar berkata,” Tidak ada di Kufah orang yang lebih alim dari pada Waki’ dan lebih hapal, dia
dimasanya sama dengan al-Auza’iy.”.

Ia wafat pada tahun 197 H.

Disalin dari Biografi Wakie’ bin al-Jarrah dalam dalam Tahdzibul Asma an Nawawi 11/123, Tahdzib at Tahdzib Ibn Hajar
asqalanii 11/144




                                                             
                Abdurahman bin Mahdy (wafat 198 H)
Nama sebenarnya adalah Abu Sa’id Abdurahman ibn Mahdy bin Hasan bin Abdurahman al-‘Ambari
al-Bashry, Ia dilahirkan pada tahun 135 H, Seorang imam hadist yang menjadi peganggan umat di
masanya.

Ia menerima hadits dari Khalid bin Dinar, Malik bin Makhul, Malik bin anas, Sufyan ats Tsaury,
Sufyan bin Uyainah dan dari yang lainnya.

Diantara yang menerima hadist darinya adalah Ibnu Wahab, Ahmad bin Hanbal, Ibnu Ma’in, Ibnu
Madiny, Ishaq bin Rahawaih, Abu Ubaid al Qasim, Ibn Salam dan lainnya.

Para ulama mengakui ketinggian ilmu beliau dalam hal hadist, Ahmad bin Hanbal berkata,” Ibn Mahdi
diciptakann Allah untuk memahami hadits”. Ali bin al-Madany berkata,” Saya belum pernah melihat
orang Alim dari pada Ibn Mahdy”.

Beliau sendiri pernah berkata,” Tidak boleh seseorang dikatakan telah menjadi Imam dalam bidang
hadist sehingga orang tersebut mengetahui mana mana hadist hadist shahih dan mengetahui makhraj
makhraj ilmu”.

Ia wafat pada tahun 198 H

Disalin dari Biografi Abdurahman bin Mahdy dalam dalam Tahdzibul Asma an Nawawi 11/304, Tahdzib at Tahdzib Ibn Hajar
asqalanii VI/279




                                                           
               Yahya bin Sa’id Qaththan (wafat 198 H)
Nama sebenarnya adalah Abu Sa’id Yahya bin Sa’id bin Farukh at Tamimi al-Bashry al-Qaththan,
seorang ulama dari kalangan Tabi’it Tabi’in ia dilahirkan pada tahun 127 H.

Ia menerima hadits dari Yahya bin Sa’id al-Anshary, Ibnu Juraij, Sa;id bin Arubah, ats Tsaury, Ibnu
Uyainah, Malik, Syu’bah dan lain lainnya.

Diantara murid murinya adalah Ahmad bin Hambal, Yahya bin Ma’in, Ali bin al-Madainy, Ishaq bin
Rahawaih, Ibnu Mandie, Abu Ubaid al-Qasim bin Salam dan lain lainnya.

Para ulama sepakat mengatakan bahwa ia ulama besar di bidang hadits, kuat hapalannya, luas ilmunya
serta dikenal dengan orang yang shalih, Hal ini diakui kebanyakan ulama hadits.

Ahmad bin HAmbal berkata,” Belum pernah aku melihat ulama yang sebanding dengan Yahya dalam
segala kedudukannya”.

Ibnu Manjuwaih berkata,” Yahya al-Qaththan adalah penghulu ilmu, baik dalam bidang hadist
maupun dalam bidang fiqih, dia yang merintis menulis hadist bagi ulama di Iraq dan ia tekun
membahas tentang perawi perawi hadist yang tsiqah”.

Ia wafat pada tahun 198 H

Disalin dari Biografi Yahya al Qaththan dalam dalam Tahdzibul Asma an Nawawi, Tahdzib at Tahdzib Ibn Hajar asqalanii




                                                             
                                  Imam Asy-Syafi’i
Di kampung miskin di kota Ghazzah (orang Barat menyebutnya Gaza ) di bumi Palestina, pada th. 150
H (bertepatan dengan th. 694 M) lahirlah seorang bayi lelaki dari pasangan suami istri yang berbahagia,
Idris bin Abbas Asy-Syafi`ie dengan seorang wanita dari suku Azad. Bayi lelaki keturunan Quraisy ini
akhirnya dinamai Muhammad bin Idris Asy-Syafi`ie . Demikian nama lengkapnya sang bayi itu.
Namun kebahagiaan keluarga miskin ini dengan kelahiran bayi tersebut tidaklah berlangsung lama.
Karena beberapa saat setelah kelahiran itu, terjadilah peristiwa menyedihkan, yaitu ayah sang bayi
meninggal dunia dalam usia yang masih muda. Bayi lelaki yang rupawan itu pun akhirnya hidup
sebagai anak yatim.

Sang ibu sangat menyayangi bayinya, sehingga anak yatim Quraisy itu tumbuh sebagai bayi yang
sehat. Maka ketika ia telah berusia dua tahun, dibawalah oleh ibunya ke Makkah untuk tinggal di
tengah keluarga ayahnya di kampung Bani Mutthalib. Karena anak yatim ini, dari sisi nasab ayahnya,
berasal dari keturunan seorang Shahabat Nabi shallallahu `alaihi wa alihi wasallam yang bernama
Syafi’ bin As-Sa’ib. Dan As-Sa’ib ayahnya Syafi’, sempat tertawan dalam perang Badr sebagai seorang
musyrik kemudian As-Sa’ib menebus dirinya dengan uang jaminan untuk mendapatkan status
pembebasan dari tawanan Muslimin. Dan setelah dia dibebaskan, iapun masuk Islam di tangan
Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam . Maka nasab bayi yatim ini secara lengkap adalah
sebagai berikut: Muhammad bin Idris bin Al-Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin As-Sa’ib bin Ubaid bin
Abdi Yazid bin Hasyim bin Al-Mutthalib bin Abdi Manaf bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab
bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin
Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan. Dari nasab tersebut, Al-Mutthalib bin Abdi Manaf,
kakek Muhammad bin Idris Asy-Syafi`ie, adalah saudara kandung Hasyim bin Abdi Manaf kakek Nabi
Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam . Kemudian juga saudara kandung Abdul Mutthalib
bin Hasyim, kakek Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam , bernama Syifa’, dinikahi
oleh Ubaid bin Abdi Yazid, sehingga melahirkan anak bernama As-Sa’ib, ayahnya Syafi’. Kepada
Syafi’ bin As-Sa’ib radliyallahu `anhuma inilah bayi yatim tersebut dinisbahkan nasabnya sehingga
terkenal dengan nama Muhammad bin Idris Asy-Syafi`ie Al-Mutthalibi. Dengan demikian nasab yatim
ini sangat dekat dengan Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam . Bahkan karena
Hasyim bin Abdi Manaf, yang kemudian melahirkan Bani Hasyim, adalah saudara kandung dengan
Mutthalib bin Abdi manaf, yang melahirkan Bani Mutthalib, maka Rasulullah shallallahu `alaihi wa
alihi wasallam bersabda:

“Hanyalah kami (yakni Bani Hasyim) dengan mereka (yakni Bani Mutthalib) berasal dari satu nasab.
Sambil beliau menyilang-nyilangkan jari jemari kedua tangan beliau.” (HR. Abu Nu’aim Al-Asfahani
dalam Hilyah nya juz 9 hal. 65 – 66).

Di lingkungan Bani Al-Mutthalib, dia tumbuh menjadi anak lelaki yang penuh vitalitas. Di usia kanak-
kanaknya, dia sibuk dengan latihan memanah sehingga di kalangan teman sebayanya, dia amat jitu
memanah. Bahkan dari sepuluh anak panah yang dilemparkannya, sepuluh yang kena sasaran, sehingga
dia terkenal sebagai anak muda yang ahli memanah. Demikian terus kesibukannya dalam panah
memanah sehingga ada seorang ahli kedokteran medis waktu itu yang menasehatinya. Dokter itu
menyatakan kepadanya: “Bila engkau terus menerus demikian, maka sangat dikuatirkan akan terkena
penyakit luka pada paru-parumu karena engkau terlalu banyak berdiri di bawah panas terik mata hari.”
Maka mulailah anak yatim ini mengurangi kegiatan panah memanah dan mengisi waktu dengan belajar
bahasa Arab dan menekuni bait-bait sya’ir Arab sehingga dalam sekejab, anak muda dari Quraisy ini
menjadi tokoh dalam bahasa Arab dan sya’irnya dalam usia kanak-kanak. Di samping itu dia juga
menghafal Al-Qur’an, sehingga pada usia tujuh tahun telah menghafal di luar kepala Al-Qur’an
keseluruhannya.

Demi ia merasakan manisnya ilmu, maka dengan taufiq Allah dan hidayah-Nya, dia mulai senang
mempelajari fiqih setelah menjadi tokoh dalam bahasa Arab dan sya’irnya. Remaja yatim ini belajar
fiqih dari para Ulama’ fiqih yang ada di Makkah, seperti Muslim bin khalid Az-Zanji yang waktu itu
berkedudukan sebagai mufti Makkah. Kemudian beliau juga belajar dari Dawud bin Abdurrahman Al-
Atthar, juga belajar dari pamannya yang bernama Muhammad bin Ali bin Syafi’, dan juga menimba
ilmu dari Sufyan bin Uyainah. Guru yang lainnya dalam fiqih ialah Abdurrahman bin Abi Bakr Al-
Mulaiki, Sa’id bin Salim, Fudhail bin Al-Ayyadl dan masih banyak lagi yang lainnya. Dia pun semakin
menonjol dalam bidang fiqih hanya dalam beberapa tahun saja duduk di berbagai halaqah ilmu para
Ulama’ fiqih sebagaimana tersebut di atas. Ia pun demi kehausan ilmu, akhirnya berangkat dari
Makkah menuju Al-Madinah An Nabawiyah guna belajar di halaqah Imam Malik bin Anas di sana. Di
majelis beliau ini, si anak yatim tersebut menghapal dan memahami dengan cemerlang kitab karya
Imam Malik, yaitu Al-Muwattha’ . Kecerdasannya membuat Imam Malik amat mengaguminya.
Sementara itu As-Syafi`ie sendiri sangat terkesan dan sangat mengagumi Imam Malik di Al-Madinah
dan Imam Sufyan bin Uyainah di Makkah. Beliau menyatakan kekagumannya setelah menjadi Imam
dengan pernyataannya yang terkenal berbunyi: “Seandainya tidak ada Malik bin Anas dan Sufyan bin
Uyainah, niscaya akan hilanglah ilmu dari Hijaz.” Juga beliau menyatakan lebih lanjut kekagumannya
kepada Imam Malik: “Bila datang Imam Malik di suatu majelis, maka Malik menjadi bintang di
majelis itu.” Beliau juga sangat terkesan dengan kitab Al-Muwattha’ Imam Malik sehingga beliau
menyatakan: “Tidak ada kitab yang lebih bermanfaat setelah Al-Qur’an, lebih dari kitab Al-Muwattha’
.” Beliau juga menyatakan: “Aku tidak membaca Al-Muwattha’ Malik, kecuali mesti bertambah
pemahamanku.” Dari berbagai pernyataan beliau di atas dapatlah diketahui bahwa guru yang paling
beliau kagumi adalah Imam Malik bin Anas, kemudian Imam Sufyan bin Uyainah. Di samping itu,
pemuda ini juga duduk menghafal dan memahami ilmu dari para Ulama’ yang ada di Al-Madinah,
seperti Ibrahim bin Sa’ad, Isma’il bin Ja’far, Atthaf bin Khalid, Abdul Aziz Ad-Darawardi. Beliau
banyak pula menghafal ilmu di majelisnya Ibrahim bin Abi Yahya. Tetapi sayang, guru beliau yang
disebutkan terakhir ini adalah pendusta dalam meriwayatkan hadits, memiliki pandangan yang sama
dengan madzhab Qadariyah yang menolak untuk beriman kepada taqdir dan berbagai kelemahan fatal
lainnya. Sehingga ketika pemuda Quraisy ini telah terkenal dengan gelar sebagai Imam Syafi`ie,
khususnya di akhir hayat beliau, beliau tidak mau lagi menyebut nama Ibrahim bin Abi Yahya ini
dalam berbagai periwayatan ilmu.

Ketika Muhammad bin Idris As-Syafi’i Al-Mutthalibi Al-Qurasyi telah berusia dua puluh tahun, dia
sudah memiliki kedudukan yang tinggi di kalangan Ulama’ di jamannya dalam berfatwa dan berbagai
ilmu yang berkisar pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tetapi beliau tidak mau berpuas diri dengan ilmu
yang dicapainya. Maka beliaupun berangkat menuju negeri Yaman demi menyerap ilmu dari para
Ulama’nya. Disebutkanlah sederet Ulama’ Yaman yang didatangi oleh beliau ini seperti: Mutharrif bin
Mazin, Hisyam bin Yusuf Al-Qadli dan banyak lagi yang lainnya. Dari Yaman, beliau melanjutkan
tour ilmiahnya ke kota Baghdad di Iraq dan di kota ini beliau banyak mengambil ilmu dari Muhammad
bin Al-Hasan, seorang ahli fiqih di negeri Iraq. Juga beliau mengambil ilmu dari Isma’il bin Ulaiyyah
dan Abdul Wahhab Ats-Tsaqafi dan masih banyak lagi yang lainnya.

Sejak di kota Baghdad, Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi`ie mulai dikerumuni para muridnya dan
mulai menulis berbagai keterangan agama. Juga beliau mulai membantah beberapa keterangan para
Imam ahli fiqih, dalam rangka mengikuti sunnah Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi
wasallam . Kitab fiqih dan Ushul Fiqih pun mulai ditulisnya. Popularitas beliau di dunia Islam yang
semakin luas menyebabkan banyak orang semakin kagum dengan ilmunya sehingga orang pun
berbondong-bondong mendatangi majelis ilmu beliau untuk menimba ilmu. Tersebutlah tokoh-tokoh
ilmu agama ini yang mendatangi majelis beliau untuk menimba ilmu padanya seperti Abu Bakr
Abdullah bin Az-Zubair Al-Humaidi (beliau ini adalah salah seorang guru Al-Imam Al-Bukhari), Abu
Ubaid Al-Qasim bin Sallam, Ahmad bin Hanbal (yang kemudian terkenal dengan nama Imam
Hanbali), Sulaiman bin Dawud Al-Hasyimi, Abu Ya’qub Yusuf Al-Buaithi, Abu Tsaur Ibrahim bin
Khalid Al-Kalbi, Harmalah bin Yahya, Musa bin Abil Jarud Al-Makki, Abdul Aziz bin Yahya Al-
Kinani Al-Makki (pengarang kitab Al-Haidah ), Husain bin Ali Al-Karabisi (beliau ini sempat di
tahdzir oleh Imam Ahmad karena berpendapat bahwa lafadh orang yang membaca Al-Qur’an adalah
makhluq), Ibrahim bin Al-Mundzir Al-Hizami, Al-Hasan bin Muhammad Az-Za’farani, Ahmad bin
Muhammad Al-Azraqi, dan masih banyak lagi tokoh-tokoh ilmu yang lainnya. Dari murid-murid
beliau di Baghdad, yang paling terkenal sangat mengagumi beliau adalah Imam Ahmad bin Hanbal
atau terkenal dengan gelar Imam Hanbali.

Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Mizzi dengan sanadnya bersambung kepada Imam Abdullah bin
Ahmad bin Hanbal (putra Imam Hanbali). Beliau menceritakan: “Aku pernah bertanya kepada ayahku:
<Wahai ayah, siapa sesungguhnya As-Syafi`ie itu, karena aku terus-menerus mendengar ayah
mendoakannya?> Maka ayahku menjawab: <Wahai anakku, sesungguhnya As-Syafi`ie itu adalah
bagaikan matahari untuk dunia ini, dan ia juga sebagai kesejahteraan bagi sekalian manusia. Maka
silakan engkau cari, adakah orang yang seperti beliau dalam dua fungsi ini (yakni fungsi sebagai
matahari dan kesejahteraan) dan adakah pengganti fungsi beliau tersebut?>.” Diriwayatkan pula bahwa
Sulaiman bin Al-Asy’ats menyatakan: “Aku melihat bahwa Ahmad bin Hanbal tidaklah condong
kepada seorangpun seperti condongnya kepada As-Syafi`ie.” Al-Maimuni meriwayatkan bahwa Imam
Hanbali menyatakan: “Aku tidak pernah meninggalkan doa kepada Allah di sepertiga terakhir malam
untuk enam orang. Salah satunya ialah untuk As-Syafi`ie.” Diriwayatkan pula oleh Imam Shalih bin
Ahmad bin Hanbal (putra Imam Hanbali): “Pernah ayahku berjalan di samping keledai yang
ditumpangi Imam Syafi`ie untuk bertanya-tanya ilmu kepadanya. Maka melihat demikian, Yahya bin
Ma’ien sahabat ayahku mengirim orang untuk menegur beliau. Yahya menyatakan kepadanya: <Wahai
Aba Abdillah ( kuniah bagi Imam Hanbali), mengapa engkau ridla untuk berjalan dengan keledainya
As-Syafi`ie?>. Maka ayah pun menyatakan kepada Yahya: <Wahai Aba Zakaria ( kuniah bagi Yahya
bin Ma’ien), seandainya engkau berjalan di sisi lain dari keledai itu, niscaya akan lebih bermanfaat
bagimu>.” Di samping Imam Hanbali yang sangat mengaguminya, juga diriwayatkan oleh Al-Khatib
Al-Baghdadi dalam Tarikh nya dengan sanadnya dari Abu Tsaur. Dia menceritakan: “Abdurrahman
bin Mahdi pernah menulis surat kepada As-Syafi`ie, dan waktu itu As-Syafi`ie masih muda belia.
Dalam surat itu Abdurrahman meminta kepadanya untuk menuliskan untuknya sebuah kitab yang
terdapat padanya makna-makna Al Qur’an, dan juga mengumpulkan berbagai macam tingkatan hadits,
keterangan tentang kedudukan ijma’ (kesepakatan Ulama’) sebagai hujjah / dalil, keterangan hukum
yang nasikh (yakni hukum yang menghapus hukum lainnya) dan hukum yang mansukh (yakni hukum
yang telah dihapus oleh hukum yang lainnya), baik yang ada di dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah.
Maka As-Syafi`ie muda menuliskan untuknya kitab Ar-Risalah dan kemudian dikirimkan kepada
Abdurrahman bin Mahdi. Begitu membaca kitab Ar-Risalah ini, Abdurrahman menjadi sangat kagum
dan sangat senang kepada As-Syafi`ie sehingga beliau menyatakan: “Setiap aku shalat, aku selalu
mendoakan As-Syafi`ie.” Kitab Ar-Risalah karya Imam Syafi`ie akhirnya menjadi kitab rujukan utama
bagi para Ulama’ dalam ilmu Ushul Fiqih sampai hari ini. Pujian para Ulama’ dan kekaguman mereka
bukan saja datang dari orang-orang yang seangkatan dengan beliau dalam ilmu, akan tetapi datang pula
pujian itu dari para Ulama’ yang menjadi guru beliau. Antara lain ialah Sufyan bin Uyainah, salah
seorang guru beliau yang sangat dikaguminya. Sebaliknya Sufyan pun sangat mengagumi Imam As-
Syafi`ie, sampai diceritakan oleh Suwaid bin Saied sebagai berikut: “Aku pernah duduk di majelis
ilmunya Sufyan bin Uyainah. As-Syafi`ie datang ke majelis itu, masuk sembari mengucapkan salam
dan langsung duduk untuk mendengarkan Sufyan yang sedang menyampaikan ilmu. Waktu itu Sufyan
sedang membaca sebuah hadits yang sangat menyentuh hati. Betapa lembutnya hati beliau saat
mendengar hadits itu menyebabkan As-Syafi`ie mendadak pingsan. Orang-orang di majelis itu
menyangka bahwa As-Syafi`ie meninggal dunia sehingga peristiwa ini dilaporkan kepada Sufyan:
<Wahai Aba Muhammad (kuniah bagi Sufyan bin Uyainah), Muhammad bin Idris telah meninggal
dunia>. Maka Sufyan pun menyatakan: <Bila memang dia meninggal dunia, maka sungguh telah
meninggal orang yang terbaik bagi ummat ini di jamannya>.” Demikian pujian para Ulama’ yang
sebagiannya kami nukilkan dalam tulisan ini untuk menggambarkan kepada para pembaca sekalian
betapa beliau sangat tinggi kedudukannya di kalangan para Ulama yang sejaman dengannya. Apalagi
tentunya para ulama’ yang sesudahnya.

Imam As-Syafi`ie tinggal di Baghdad hanya dua tahun. Setelah itu beliau pindah ke Mesir dan tinggal
di sana sampai beliau wafat pada th. 204 H dan usia beliau ketika wafat 54 th. Beliau telah
meninggalkan warisan yang tak ternilai, yaitu ilmu yang beliau tulis di kitab Ar-Risalah dalam ilmu
Ushul Fiqih. Di samping itu beliau juga menulis kitab Musnad As-Syafi`ie , berupa kumpulan hadits
Nabi shallallahu `alaihi wa alihi wasallam yang diriwayatkan oleh beliau; dan kitab Al-Um berupa
kumpulan keterangan beliau dalam masalah fiqih. Sebagaimana Al-Um , kumpulan riwayat keterangan
Imam As Syafi`ie dalam fiqih juga disusun oleh Al-Imam Al-Baihaqi dan diberi nama Ma’rifatul
Aatsar was Sunan . Al-Imam Abu Nu’aim Al-Asfahani membawakan beberapa riwayat nasehat dan
pernyataan Imam As-Syafi`ie dalam berbagai masalah yang menunjukkan pendirian Imam As-Syafi`ie
dalam memahami agama ini. Beberapa riwayat Abu Nu’aim tersebut kami nukilkan sebagai berikut :

Imam As-Syafi`ie menyatakan: “Bila aku melihat Ahli Hadits, seakan aku melihat seorang dari
Shahabat Nabi shallallahu `alaihi wa alihi wasallam .” (HR. Abu Nu’aim Al-Asfahani dalam Al-
Hilyah nya juz 9 hal. 109)

Ini menunjukkan betapa tinggi penghargaan beliau kepada para Ahli Hadits.

Imam As-Syafi`ie menyatakan: “Sungguh seandainya seseorang itu ditimpa dengan berbagai amalan
yang dilarang oleh Allah selain dosa syirik, lebih baik baginya daripada dia mempelajari ilmu kalam.”
(HR. Abu Nu’aim Al-Asfahani dalam Al-Hilyah nya juz 9 hal. 111)
Beliau menyatakan juga: “Seandainya manusia itu mengerti bahaya yang ada dalam Ilmu Kalam dan
hawa nafsu, niscaya dia akan lari daripadanya seperti dia lari dari macan.”

Ini menunjukkan betapa anti patinya beliau terhadap Ilmu Kalam, suatu ilmu yang membahas perkara
Tauhid dengan metode pembahasan ilmu filsafat.

Diriwayatkan oleh Ar-Rabi’ bin Sulaiman bahwa dia menyatakan: Aku mendengar As-Syafi`ie berkata:

“Barangsiapa mengatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk, maka sungguh dia telah kafir.” ((HR. Abu
Nu’aim Al-Asfahani dalam Al-Hilyah nya juz 9 hal. 113)

Diriwayatkan pula oleh Abu Nu’aim Al-Asfahani bahwa Al-Imam As-Syafi`ie telah mengkafirkan
seorang tokoh ahli Ilmu Kalam yang terkenal dengan nama Hafs Al-Fardi, karena dia menyatakan di
hadapan beliau bahwa Al-Qur’an itu adalah makhluk. Demikian tegas Imam As-Syafi`ie dalam menilai
mereka yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk. Dan memang para Ulama’ Ahlis Sunnah wal
Jama’ah telah sepakat untuk mengkafirkan siapa yang meyakini bahwa Al-Qur’an itu makhluk.

Al-Imam Adz-Dzahabi meriwayatkan pula dengan sanadnya dari Al-Buwaithie yang menyatakan:
“Aku bertanya kepada As-Syafi`ie: <Bolehkah aku shalat di belakang imam yang Rafidli?> Maka
beliau pun menjawabnya: <Jangan engkau shalat di belakang imam yang Rafidli, ataupun Qadari
ataupun Murji’ie>. Akupun bertanya lagi kepada beliau: <Terangkan kepadaku tentang siapakah
masing-masing dari mereka itu?> Maka beliau pun menjawab: <Barang siapa yang mengatakan bahwa
iman itu hanya perkataan lisan dan hati belaka, maka dia itu adalah murji’ie; barangsiapa yang
mengatakan bahwa Abu Bakar dan Umar itu bukan Imamnya Muslimin, maka dia itu adalah rafidli.
Barangsiapa yang mengatakan bahwa kehendak berbuat itu sepenuhnya dari dirinya (yakni tidak
meyakini bahwa kehendak berbuat itu diciptakan oleh Allah ), maka dia itu adalah qadari>.”

Demikian Imam As-Syafi`i mengajarkan sikap terhadap Ahlil Bid’ah seperti yang disebutkan
contohnya dalam pernyataan beliau, yaitu orang-orang yang mengikuti aliran Rafidlah yang di
Indonesia sering dinamakan Syi’ah. Aliran Syiah terkenal dengan sikap kebencian mereka kepada para
Shahabat Nabi shallallahu `alaihi wa alihi wasallam , khususnya Abu Bakar dan Umar. Di samping
Rafidlah, masih ada aliran bid’ah lainnya seperti Qadariyah yaitu aliran pemahaman yang menolak
beriman kepada rukun iman yang keenam (yaitu keimanan kepada adanya taqdir Allah Ta`ala). Juga
aliran Murji’ah yang menyatakan bahwa iman itu hanya keyakinan yang ada di hati dan amalan itu
tidak termasuk dari iman. Murji’ah juga menyatakan bahwa iman itu tidak bertambah dengan
perbuatan ketaatan kepada Allah dan tidak pula berkurang dengan kemaksiatan kepada Allah. Semua
ini adalah pemikiran sesat, yang menjadi alasan bagi Imam As-Syafi`ie untuk melarang orang shalat di
belakang imam yang berpandangan dengan salah satu dari pemikiran-pemikiran sesat ini.

Imam As-Syafi`ie juga amat keras menganjurkan ummat Islam untuk jangan ber taqlid (yakni
mengikut dengan membabi buta) kepada seseorang pun sehingga meninggalkan Al-Qur’an dan As-
Sunnah ketika pendapat orang yang diikutinya itu menyelisihi pendapat keduanya. Hal ini dinyatakan
oleh beliau dalam beberapa pesan sebagai berikut:

Al-Hafidh Abu Nu`aim Al-Asfahani meriwayatkan dalam Hilyah nya dengan sanad yang shahih
riwayat Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, katanya: “Ayahku telah menceritakan kepadaku bahwa
Muhammad bin Idris Asy-Syafi`ie berkata: <Wahai Aba Abdillah (yakni Ahmad bin Hanbal), engkau
lebih mengetahui hadits-hadits shahih dari kami. Maka bila ada hadits yang shahih, beritahukanlah
kepadaku sehingga aku akan bermadzhab dengannya. Sama saja bagiku, apakah perawinya itu orang
Kufah, ataukah orang Basrah, ataukah orang Syam>.”

Demikianlah para Ulama’ bersikap tawadlu’ sebagai kepribadian utama mereka. Sehingga tidak
menjadi masalah bagi mereka bila guru mengambil manfaat dari muridnya dan muridnya yang diambil
manfaat oleh gurunya tidak pula kemudian menjadi congkak dengannya. Tetap saja sang murid
mengakui dan mengambil manfaat dari gurunya, meskipun sang guru mengakui di depan umum
tentang ketinggian ilmu si murid. Guru-guru utama Imam Asy Syafi`ie, Imam Malik dan Imam Sufyan
bin Uyainah, dengan terang-terangan mengakui keutamaan ilmu As-Syafi`ie. Bahkan Imam Sufyan bin
Uyainah banyak bertanya kepada Imam Asy-Syafi`ie saat Imam Syafi’ie ada di majelisnya. Padahal
Imam Asy-Syafi`ie duduk di majelis itu sebagai salah satu murid beliau, dan bersama para hadirin yang
lainnya, mereka selalu mengerumuni Imam Sufyan untuk menimba ilmu daripadanya. Tetapi meskipun
demikian, Imam Syafi`ie tidak terpengaruh oleh sanjungan gurunya. Beliau tetap mendatangi majelis
gurunya dan memuliakannya. Di samping itu, hal yang amat penting pula dari pernyataan Imam Asy-
Syafi`ie kepada Imam Ahmad bin Hanbal tersebut di atas, menunjukkan kepada kita betapa kuatnya
semangat beliau dalam merujuk kepada hadits shahih untuk menjadi pegangan dalam bermadzhab, dari
manapun hadits shahih itu berasal.

Imam Asy-Syafi`ie menyatakan pula: “Semua hadits yang dari Nabi shallallahu `alaihi wa alihi
wasallam maka itu adalah sebagai omonganku. Walaupun kalian tidak mendengarnya dariku.”

Demikian beliau memberikan patokan kepada para murid beliau, bahwa hadits shahih itu adalah dalil
yang sah bagi segala pendapat dalam agama ini. Maka pendapat dari siapapun bila menyelisihi hadits
yang shahih, tentu tidak akan bisa menggugurkan hadits shahih itu. Bahkan sebaliknya, pendapat yang
demikianlah yang harus digugurkan dengan adanya hadits shahih yang menyelisihinya.

Penutup:

Masih banyak mutiara hikmah yang ingin kami tuangkan dalam tulisan ini dari peri hidup Imam Asy-
Syafi`ie. Namun dalam kesempatan ini, rasanya tidak cukup halaman yang tersedia untuk memuat
segala kemilau mutiara hikmah peri hidup beliau itu. Bahkan telah ditulis oleh para Imam-Imam Ahlus
Sunnah wal Jamaah kitab-kitab tebal yang berisi untaian mutiara hikmah peri hidup Imam besar ini.
Seperti Al-Imam Al-Baihaqi menulis kitab Manaqibus Syafi`ie , juga Ar-Razi menulis kitab dengan
judul yang sama. Kemudian Ibnu Abi Hatim menulis kitab berjudul Aadaabus Syaafi’ie . Dan masih
banyak lagi yang lainnya. Itu semua menunjukkan kepada kita, betapa agungnya Imam besar ini di
mata para Imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Semoga Allah Ta`ala menggabungkan kita di barisan
mereka di hari kiamat nanti. Amin ya Mujibas sa’ilin .

Daftar Pustaka:

1. Tarikh Baghdad , Al-Khatib Al-Baghdadi, jilid 2 hal. 58 – 59, Darul Fikr – Beirut Libanon, tanpa tahun.

2. Hilyatul Awliya’ Wathabaqatul Asfiya’ , Abu Nu’aim Al-Ashfahani, jilid 9 hal 65 – 66. Juga hal. 67, Darul Fikr, Beirut –
Libanon, et. 1416 H / 1996 M. Lihat pula Tahdzibul Kamal jilid 24 hal. 358 – 360. Al-Hafidh Al-Mutqin Jamaluddin Abul Hajjaj
Yusuf Al-Mizzi, diterbitkan oleh Mu’assatur Risalah, cet. Pertama th. 1413 H / 1992 M.

3. Tarikh Baghdad , Al-Khatib Al-Baghdadi, jilid 2 hal. 60.

4. Ibid, hal. 63.

5. Hilyatul Awliya’ , Al-Hafidh Abu Nu’aim Ahmad bin Abdullah Al-Asfahani, jilid 9 hal 70, Darul Fikr Beirut Libanon, cet.
Th. 1416 H / 1996 M.

6. Siar A’lamin Nubala’ , Al-Imam Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Utsman Adz-Dzahabi, jilid 10 hal. 6 – 7,
Mu’assasatur Risalah, cetakan ke 11 th. 1417 H / 1996 M.

7. Tahdzibul Kamal fi Asma’ir Rijal , Al-Hafidh Al-Mutqin Jamaluddin Abil Hajjaj Yusuf Al-Mizzi, jilid 24 hal. 271.

8. Siar A’lamin Nubala’ , Adz-Dzahabi, jilid 10 hal. 18. Juga Abu Nu’aim Al-Asfahani meriwayatkannya dalam Hilyatul Auliya’
juz 9 hal. 95.

9. Hilyatul Auliya’ , Abu Nu’aim Al-Asfahani, jilid 9 hal 109 – 113.

10. Siar A’lamin Nubala’ , Adz-Dzahabi, jilid 10 hal. 31.

11. Hilyatul Auliya’ , Al-Hafidh Abu Nu’aim Al-Asfahani, jilid 9 hal. 170.

12. Demikian diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Manaqib nya dan Ibnu Asakir dalam Tarikh nya dan dinukil oleh Adz-
Dzahabi dalam Siar A’lamin Nubala’ jilid 10 hal. 17.
13. Diriwayatkan dalam Aadaabus Syafi`ie dan Al-Bidayah . Adz-Dzahabi menukilkan riwayat ini dalam Siar A’lamin Nubala’
jilid 10 hal. 35.




                                                            
       6. Murid-Murid atba’ Tabi’it Tabi’in :


                         Imam Ahmad Bin Hambal
Nama dan Nasab:

Kunyah beliau Abu Abdillah, namanya Ahmad bin Muhammad bin Hambal bin Hilal bin Asad Al
Marwazi Al Baghdadi. Ayah beliau seorang komandan pasukan di Khurasan di bawah kendali Dinasti
Abbasiyah. Kakeknya mantan Gubernur Sarkhas di masa Dinasti Bani Umayyah, dan di masa Dinasti
Abbasiyah menjadi da’i yang kritis.

Kelahiran Beliau:

Beliau dilahirkan di kota Baghdad pada bulan Rabi’ul Awwal tahun 164 Hijriyah. Beliau tumbuh besar
di bawah asuhan kasih sayang ibunya, karena bapaknya meninggal dunia saat beliau masih berumur
belia, tiga tahun. Meski beliau anak yatim, namun ibunya dengan sabar dan ulet memperhatian
pendidikannya hingga beliau menjadi anak yang sangat cinta kepada ilmu dan ulama karena itulah
beliau kerap menghadiri majlis ilmu di kota kelahirannya.

Awal mula Menuntut Ilmu

Ilmu yang pertama kali dikuasai adalah Al Qur’an hingga beliau hafal pada usia 15 tahun, beliau juga
mahir baca-tulis dengan sempurna hingga dikenal sebagai orang yang terindah tulisannya. Lalu beliau
mulai konsentrasi belajar ilmu hadits di awal umur 15 tahun itu pula.

Keadaan fisik beliau:

Muhammad bin ‘Abbas An-Nahwi bercerita, Saya pernah melihat Imam Ahmad bin Hambal, ternyata
Badan beliau tidak terlalu tinggi juga tidak terlalu pendek, wajahnya tampan, di jenggotnya masih ada
yang hitam. Beliau senang berpakaian tebal, berwarna putih dan bersorban serta memakai kain.
Yang lain mengatakan, “Kulitnya berwarna coklat (sawo matang)”

Keluarga beliau:

Beliau menikah pada umur 40 tahun dan mendapatkan keberkahan yang melimpah. Beliau melahirkan
dari istri-istrinya anak-anak yang shalih, yang mewarisi ilmunya, seperti Abdullah dan Shalih. Bahkan
keduanya sangat banyak meriwayatkan ilmu dari bapaknya.

Kecerdasan beliau:

Putranya yang bernama Shalih mengatakan, Ayahku pernah bercerita, “Husyaim meninggal dunia saat
saya berusia dua puluh tahun, kala itu saya telah hafal apa yang kudengar darinya”.

Abdullah, putranya yang lain mengatakan, Ayahku pernah menyuruhku, “Ambillah kitab mushannaf
Waki’ mana saja yang kamu kehendaki, lalu tanyakanlah yang kamu mau tentang matan nanti
kuberitahu sanadnya, atau sebaliknya, kamu tanya tentang sanadnya nanti kuberitahu matannya”.
Abu Zur’ah pernah ditanya, “Wahai Abu Zur’ah, siapakah yang lebih kuat hafalannya? Anda atau
Imam Ahmad bin Hambal?” Beliau menjawab, “Ahmad”. Beliau masih ditanya, “Bagaimana Anda
tahu?” beliau menjawab, “Saya mendapati di bagian depan kitabnya tidak tercantum nama-nama
perawi, karena beliau hafal nama-nama perawi tersebut, sedangkan saya tidak mampu melakukannya”.
Abu Zur’ah mengatakan, “Imam Ahmad bin Hambal hafal satu juta hadits”.

Pujian Ulama terhadap beliau:

Abu Ja’far mengatakan, “Ahmad bin Hambal manusia yang sangat pemalu, sangat mulia dan sangat
baik pergaulannya serta adabnya, banyak berfikir, tidak terdengar darinya kecuali mudzakarah hadits
dan menyebut orang-orang shalih dengan penuh hormat dan tenang serta dengan ungkapan yang indah.
Bila berjumpa dengan manusia, maka ia sangat ceria dan menghadapkan wajahnya kepadanya. Beliau
sangat rendah hati terhadap guru-gurunya serta menghormatinya”.

Imam Asy-Syafi’i berkata, “Ahmad bin Hambal imam dalam delapan hal, Imam dalam hadits, Imam
dalam Fiqih, Imam dalam bahasa, Imam dalam Al Qur’an, Imam dalam kefaqiran, Imam dalam
kezuhudan, Imam dalam wara’ dan Imam dalam Sunnah”.

Ibrahim Al Harbi memujinya, “Saya melihat Abu Abdillah Ahmad bin Hambal seolah Allah
gabungkan padanya ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang belakangan dari berbagai disiplin
ilmu”.

Kezuhudannya:

Beliau memakai peci yang dijahit sendiri. Dan kadang beliau keluar ke tempat kerja membawa kampak
untuk bekerja dengan tangannya. Kadang juga beliau pergi ke warung membeli seikat kayu bakar dan
barang lainnya lalu membawa dengan tangannya sendiri. Al Maimuni pernah berujar, “Rumah Abu
Abdillah Ahmad bin Hambal sempit dan kecil”.

Tekunnya dalam ibadah

Abdullah bin Ahmad berkata, “Bapakku mengerjakan shalat dalam sehari-semalam tiga ratus raka’at,
setelah beliau sakit dan tidak mampu mengerjakan shalat seperti itu, beliau mengerjakan shalat seratus
lima puluh raka’at.

Wara’ dan menjaga harga diri

Abu Isma’il At-Tirmidzi mengatakan, “Datang seorang lelaki membawa uang sebanyak sepuluh ribu
(dirham) untuk beliau, namun beliau menolaknya”. Ada juga yang mengatakan, “Ada seseorang
memberikan lima ratus dinar kepada Imam Ahmad namun beliau tidak mau menerimanya”. Juga
pernah ada yang memberi tiga ribu dinar, namun beliau juga tidak mau menerimanya.

Tawadhu’ dengan kebaikannya:

Yahya bin Ma’in berkata, “Saya tidak pernah melihat orang yang seperti Imam Ahmad bin Hambal,
saya berteman dengannya selama lima puluh tahun dan tidak pernah menjumpai dia membanggakan
sedikitpun kebaikan yang ada padanya kepada kami”.

Beliau (Imam Ahmad) mengatakan, “Saya ingin bersembunyi di lembah Makkah hingga saya tidak
dikenal, saya diuji dengan popularitas”.

Al Marrudzi berkata, “Saya belum pernah melihat orang fakir di suatu majlis yang lebih mulia kecuali
di majlis Imam Ahmad, beliau perhatian terhadap orang fakir dan agak kurang perhatiannya terhadap
ahli dunia (orang kaya), beliau bijak dan tidak tergesa-gesa terhadap orang fakir. Beliau sangat rendah
hati, begitu tinggi ketenangannya dan sangat memuka kharismanya”.
Beliau pernah bermuka masam karena ada seseorang yang memujinya dengan mengatakan, “Semoga
Allah membalasmu dengan kebaikan atas jasamu kepada Islam?” beliau mengatakan, “Jangan begitu
tetapi katakanlah, semoga Allah membalas kebaikan terhadap Islam atas jasanya kepadaku, siapa saya
dan apa (jasa) saya?!”

Sabar dalam menuntut ilmu

Tatkala beliau pulang dari tempat Abdurrazzaq yang berada di Yaman, ada seseorang yang melihatnya
di Makkah dalam keadaan sangat letih dan capai. Lalu ia mengajak bicara, maka Imam Ahmad
mengatakan, “Ini lebih ringan dibandingkan faidah yang saya dapatkan dari Abdirrazzak”.

Hati-hati dalam berfatwa:

Zakariya bin Yahya pernah bertanya kepada beliau, “Berapa hadits yang harus dikuasai oleh seseorang
hingga bisa menjadi mufti? Apakah cukup seratus ribu hadits? Beliau menjawab, “Tidak cukup”.
Hingga akhirnya ia berkata, “Apakah cukup lima ratus ribu hadits?” beliau menjawab. “Saya harap
demikian”.

Kelurusan aqidahnya sebagai standar kebenaran

Ahmad bin Ibrahim Ad-Dauruqi mengatakan, “Siapa saja yang kamu ketahui mencela Imam Ahmad
maka ragukanlah agamanya”. Sufyan bin Waki’ juga berkata, “Ahmad di sisi kami adalah cobaan,
barangsiapa mencela beliau maka dia adalah orang fasik”.

Masa Fitnah:

Pemahaman Jahmiyyah belum berani terang-terangan pada masa khilafah Al Mahdi, Ar-Rasyid dan Al
Amin, bahkan Ar-Rasyid pernah mengancam akan membunuh Bisyr bin Ghiyats Al Marisi yang
mengatakan bahwa Al Qur’an adalah makhluq. Namun dia terus bersembunyi di masa khilafah Ar-
Rasyid, baru setelah beliau wafat, dia menampakkan kebid’ahannya dan menyeru manusia kepada
kesesatan ini.

Di masa khilafah Al Ma’mun, orang-orang jahmiyyah berhasil menjadikan paham jahmiyyah sebagai
ajaran resmi negara, di antara ajarannya adalah menyatakan bahwa Al Qur’an makhluk. Lalu penguasa
pun memaksa seluruh rakyatnya untuk mengatakan bahwa Al Qur’an makhluk, terutama para
ulamanya.

Barangsiapa mau menuruti dan tunduk kepada ajaran ini, maka dia selamat dari siksaan dan
penderitaan. Bagi yang menolak dan bersikukuh dengan mengatakan bahwa Al Qur’an Kalamullah
bukan makhluk maka dia akan mencicipi cambukan dan pukulan serta kurungan penjara.

Karena beratnya siksaan dan parahnya penderitaan banyak ulama yang tidak kuat menahannya yang
akhirnya mengucapkan apa yang dituntut oleh penguasa zhalim meski cuma dalam lisan saja. Banyak
yang membisiki Imam Ahmad bin Hambal untuk menyembunyikan keyakinannya agar selamat dari
segala siksaan dan penderitaan, namun beliau menjawab, “Bagaimana kalian menyikapi hadits
“Sesungguhnya orang-orang sebelum Khabbab, yaitu sabda Nabi Muhammad ada yang digergaji
kepalanyarkalian namun tidak membuatnya berpaling dari agamanya”. HR. Bukhari 12/281. lalu beliau
menegaskan, “Saya tidak peduli dengan kurungan penjara, penjara dan rumahku sama saja”.

Ketegaran dan ketabahan beliau dalam menghadapi cobaan yang menderanya digambarkan oleh Ishaq
bin Ibrahim, “Saya belum pernah melihat seorang yang masuk ke penguasa lebih tegar dari Imam
Ahmad bin Hambal, kami saat itu di mata penguasa hanya seperti lalat”.

Di saat menghadapi terpaan fitnah yang sangat dahsyat dan deraan siksaan yang luar biasa, beliau
masih berpikir jernih dan tidak emosi, tetap mengambil pelajaran meski datang dari orang yang lebih
rendah ilmunya. Beliau mengatakan, “Semenjak terjadinya fitnah saya belum pernah mendengar suatu
kalimat yang lebih mengesankan dari kalimat yang diucapkan oleh seorang Arab Badui kepadaku,
“Wahai Ahmad, jika anda terbunuh karena kebenaran maka anda mati syahid, dan jika anda selamat
maka anda hidup mulia”. Maka hatiku bertambah kuat”.

Ahli hadits sekaligus juga Ahli Fiqih

Ibnu ‘Aqil berkata, “Saya pernah mendengar hal yang sangat aneh dari orang-orang bodoh yang
mengatakan, “Ahmad bukan ahli fiqih, tetapi hanya ahli hadits saja. Ini adalah puncaknya kebodohan,
karena Imam Ahmad memiliki pendapat-pendapat yang didasarkan pada hadits yang tidak diketahui
oleh kebanyakan manusia, bahkan beliau lebih unggul dari seniornya”.

Bahkan Imam Adz-Dzahabi berkata, “Demi Allah, beliau dalam fiqih sampai derajat Laits, Malik dan
Asy-Syafi’i serta Abu Yusuf. Dalam zuhud dan wara’ beliau menyamai Fudhail dan Ibrahim bin
Adham, dalam hafalan beliau setara dengan Syu’bah, Yahya Al Qaththan dan Ibnul Madini. Tetapi
orang bodoh tidak mengetahui kadar dirinya, bagaimana mungkin dia mengetahui kadar orang lain!!

Guru-guru Beliau

Imam Ahmad bin Hambal berguru kepada banyak ulama, jumlahnya lebih dari dua ratus delapan puluh
yang tersebar di berbagai negeri, seperti di Makkah, Kufah, Bashrah, Baghdad, Yaman dan negeri
lainnya. Di antara mereka adalah:

1. Ismail bin Ja’far
2. Abbad bin Abbad Al-Ataky
3. Umari bin Abdillah bin Khalid
4. Husyaim bin Basyir bin Qasim bin Dinar As-Sulami
5. Imam Asy-Syafi’i.
6. Waki’ bin Jarrah.
7. Ismail bin Ulayyah.
8. Sufyan bin ‘Uyainah
9. Abdurrazaq
10. Ibrahim bin Ma’qil.

Murid-murid Beliau:

Umumnya ahli hadits pernah belajar kepada imam Ahmad bin Hambal, dan belajar kepadanya juga
ulama yang pernah menjadi gurunya, yang paling menonjol adalah:

1. Imam Bukhari.
2. Muslim
3. Abu Daud
4. Nasai
5. Tirmidzi
6. Ibnu Majah
7. Imam Asy-Syafi’i. Imam Ahmad juga pernah berguru kepadanya.
8. Putranya, Shalih bin Imam Ahmad bin Hambal
9. Putranya, Abdullah bin Imam Ahmad bin Hambal
10. Keponakannya, Hambal bin Ishaq
11. dan lain-lainnya.

Wafat beliau:

Setelah sakit sembilan hari, beliau Rahimahullah menghembuskan nafas terakhirnya di pagi hari Jum’at
bertepatan dengan tanggal dua belas Rabi’ul Awwal 241 H pada umur 77 tahun. Jenazah beliau
dihadiri delapan ratus ribu pelayat lelaki dan enam puluh ribu pelayat perempuan.
Karya beliau sangat banyak, di antaranya:

1. Kitab Al Musnad, karya yang paling menakjubkan karena kitab ini memuat lebih dari dua puluh
tujuh ribu hadits.
2. Kitab At-Tafsir, namun Adz-Dzahabi mengatakan, “Kitab ini hilang”.
3. Kitab Az-Zuhud
4. Kitab Fadhail Ahlil Bait
5. Kitab Jawabatul Qur’an
6. Kitab Al Imaan
7. Kitab Ar-Radd ‘alal Jahmiyyah
8. Kitab Al Asyribah
9. Kitab Al Faraidh

Terlalu sempit lembaran kertas untuk menampung indahnya kehidupan sang Imam. Sungguh sangat
terbatas ungkapan dan uraian untuk bisa memaparkan kilauan cahaya yang memancar dari kemulian
jiwanya. Perjalanan hidup orang yang meneladai panutan manusia dengan sempurna, cukuplah itu
sebagai cermin bagi kita, yang sering membanggakannya namun jauh darinya.

Dikumpulkan dan diterjemahkan dari kitab Siyar A’lamun Nubala
Karya Al Imam Adz-Dzahabi Rahimahullah
Sumber: Majalah As Salam

Dicopy dari http://darussalaf.org/index.php?name=News&file=article&sid=763




                                                            
                         Yahya bin Ma’in (wafat 223 H)
Namanya Yahya bin Ma’in, ia seorang tokoh hadits yang empat yang berilmu luas dalam bidang hadits,
tokoh yang empat itu adalah Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma’in, Ali bin al Madiny dan Abu Bakar
bin Syaibah.

Yahya bin Ma’in belajar hadits dari ibn Mubarak , Ibnu Juraij, Ibn Madiny, Ibnu Uyainah, Wakie’ dan
lainnya.

Semua ulama hadits mengakui ketinggian ilmu beliau dalam bidang hadits, istimewa dalam bidang
Jarah dan Ta’dil. Ia sangat bersungguh sunguh dalam meneliti para perawi hadits.

Ibnu Madiny berkata,” Belum pernah saya melihat diantara para ulama, orang seperti Yahya”.

sedangkan Al Hakim menggolongkan beliau ini ke dalam fuhaqa muhadditsin.

Ia wafat di Madinah pada tahun 223 H dan dimakamkan di Baqi.

Disalin dari Biografi Yahya bin Ma’in dalamTahdzibul Asma an Nawawi 1/350, Tahdzib at Tahdzib Ibn Hajar asqalanii 322




                                                            
                        Ali bin al-Madiny (Wafat 234 H)
Namanya adalah Ali bin al-Madiny seorang imam hadits terkemuka yang dapat memasuki segala pintu
ilmu hadist, istimewanya pintu ilmu Rijal dan ‘ilal.

Beliau telah menyusun banyak kitab yang belum pernah ada dan sukar ditandingi oleh ulama ulama
yang datang sesudahnya, karena itu beliau sangat dipuji dan dihargai oleh para ulama.

Sufyan bin Uyainah berkata,” Demi Allah, aku belajar dari ali lebih banyak dari pada dia belajar
kepadaku”.

Abi Hatim berkata,” Ibnu Madiny seorang ulama besar dalam mema’rifati hadist dan illat illatnya.”

Al Hakim dalam kitabnya Ma’rifatu Ulumil Hadits menyebutkan sejumlah karangan ibn Madiny yang
membuktikan bahwa beliau ini sangat luas ilmunya dalam bidang Ulumul hadits.

Diantara kitab kitabnya adlah Kitabu Madzhabibil Muhadditsin dan kita Al-‘Ilal al-Mutafarriqah yang
terdiri dari 30 Juz dan kita Ikhtilaful hadist yang terdiri dari 5 juz.

Al-Hakim berkata,” Sebagian dari karangan Ali bin al Madiny yang menunjukan kepada keluasan
ilmunya dalam bidang hadist, ialah kitab al-Asmau wal Kuna, Kitab adldlu’afa, Kitab al-Mudallisin,
Kitab at Thabaqat, ‘Ilalul Musnad, Ilal Hadiits Ibn Uyainah. Kesemuanya itu menunjukan kepada
ketinggian Ilmunya.

Ia wafat pada tahun 234 H di Samari.

Disalin dari Biografi Ali bin al-Madiny dalam Tahdzibul Asma an Nawawi 1/350, Tahdzib at Tahdzib Ibn Hajar asqalanii 323




                                                             
             Abu Bakar bin Abi Syaibah (Wafat 235H)
Namanya sebenarnya adalah Abdullah bin Muhammad bin Abi Syaibah al Kufy, seorang hafidh yang
terkenal.

Ia menerima hadist dari al-Ahwash, Ibnu Mubarak, Syarik, Husyaim, Jarir, Wakie’, Ibnu Uyainah, Ibnu
Mahdy, Ibnul Qaththan, Zaid bin Harun dan lainnya.

Diantara yang menerima hadist dari padanya adalah al Bukhary, Muslin, Abu Daud, dan Ibnu Majah.

Diantara yang mengeluarkan hadist untuknya dengan perantaaan Ahmad adalah an-Nasa’iy, Ahmad
bin Hambal, Muhammad ibnu Sa’ad, Abu Zur’ah, Abu Hatim Abdullah bin Ahmad Ibrahim al-Harby.

Para ulama sepakat bahwa Abu Bakar bin Abi Syaibah seorang yang kuat hapalannya. Dan dipuji oleh
banyak ulama.

Abul Ubaid al-Qasim berkata,” Puncak ilmu dipegang oleh 4 orang yaitu Ibn Abi Syaibah orang yang
cakap penyebut hadist, Ahmad adalah orang yang paling pandai memahami hadist, Yahya orang yang
paling banyak mengumpulkan hadist dan Ali bin al-Madiny orang yang alim akan hadist. Dan yang
paling hapal takala ada Mudzakarah adalah Abu Bakar bin Abi Syaibah.

Abu Zur’ah ar Razy berkata,” Belum pernah saya melihat orang yang hapal dari pada Abu Bakar bin
Abi Syaibah.

Ibnu Hibban berkata,” Ibn Abi Syaibah adalah seorang yang hafidh yang sangat kuat hapalannya, dia
salah seorang dari ulama yang menulis hadist, mengumpulkan dan meyusun kitab, bermudzakarah.
Dia adalah ulama yang paling hafidh bagi hadist maqthu”.

Ia wafat pada tahun 235 H.

Disalin dari Biografi Ibn   Abi Syaibah dalam Tahdziib at tahdzib Ibn Hajar asqalanii 6/22




                                                               
                           Ibnu Rahawaih (wafat 238 H)
Nama sebenarnya adalah Ishaq bin Ibrahim bin Makhalad bin Ibrahim Abu Ya’qub al Hamdhaly al
Marwazy yang terkenal dengan nama Ishaq Ibnu Rahawaih. Ia dilahirkan pada tahun 161 H, Ia seorang
Imam dan Ulama yang sangat terkenal dan ia mempunyai kedudukan yang tinggi dalam bidang hadits
dan dalam bidang fiqh. Ia melakukan perjalanan ke Iraq, Hijaz, Yaman dan Syam untuk mencari hadits.

Ia meriwayatkan hadits dari pada Jabir bin Abdul Hamid ar Razy, Ismail bin Umaiyah, Sufyan bin
Uyainah, Wakie’ bin Jarrah, Waqiyah bin al Walid, Abdurahman bin Humam, An Nadhar bin
Syumaildan yang lainnya.

Hadits haditsnya diriwayatkan oleh Muhammad bin Ismail, Al Bukhary, Muslim bin Hajjaj an
Naisabury, Ahmad bin Salamah, dan yang lainnya.

Diantara guru gurunya yang mengeluarkan hadits dari padanya adalah Yahyah ibn Adam dan Waqiyah
bin Walied, dan diantara teman temannya adalah Ahmad bin Hambal.

Abu Dawud berkata,” Ibnu Rahawaih mendikte untuk kami 11.000 hadits dari hapalannya, kemudian
diulangi lagi dikte itu persis sama yang telah didiktekan sebelumnya, tanpah bertambah satu haraf dan
berkurang satu haraf”.

Abu Hatim ar Razy berkata,” Sungguh mengherankan keteguhan hapalan Ishaq bin Rahawaih dan
hapalannya terpelihara dari kesalahan kesalahan”.

Ia wafat pada tahun 238 H dalam usia 77 tahun.

Disalin dari Biografi Ibnu Rahawaih dalam Tarikh Baghdad karya al Khatib no 6: 345




                                                             
                            Ibnu Qutaibah (wafat 236 H)
Nama sebenarnya adalah Abu Muhammad Abdullah bin Muslim bin Qutaibah ad Dainury, ia seorang
ahli lughah yang terkenal.

Beliau menerima hadits dari Ishaq bin Rahawaih, Abu Ishaq Ibrahim Aziyady, Abu Hatim as Sijistany.
Hadits haditsnya diriwayatkan oleh anaknya Ja’far Ahmad al Faqih, dan diantara orang yang
mengeluarkan hadits dari Ibnu Qutaibah adalah Ibnu Dusturih al Farisy.

Ia banyak mengarang kitab yang bermanfaat diantaranya adalah kitab Gharibul Quran, Gharibul
Hadits, Uyunul Akhbar, Musykilul Quran, Musykilul Hadits, Kitab I’rabil quranal Ma’arif dan adabul
katab.

Ibnu Taimiyyah berkata,” Ibnu Qutaibah seorang ulama yang cenderung kepada mazhab ahmad bin
Ishaq, ia seorang juru bicara ahli hadist”.

Adz Dzahaby berkata,” Ibnu Qutaibah seorang yang banyak kitabnya, seorang yang diterima
riwayatnya, tetapi sedikit dalam meriwayatkan hadits”.

Ia wafat pada bulan Rajab tahun 236 H

Disalin dari Riwayat Ibnu Qutaibah dalam Tarikh Ibnu Katsir no 11:100




                                                             
     7. Kemudian murid-muridnya seperti:


                         Imam Bukhari (194-256H)
Negeri Bukhara sebagai negeri muara sungai Jihun yang terletak di sebelah utara Afghanistan dan
sebelah selatan Ukraina adalah negeri yang banyak melahirkan imam-imam Ahlul hadits dan Ahlul
fiqh. Negeri itu menyimpan kenangan sejarah perjuangan para imam-imam Muslimin dalam berbagai
bidang ilmu-ilmu Al-Qur’an dan Al-Hadits. Dapat disebutkan di sini, para Imam Ahlul Hadits yang
lahir dan dibesarkan di negeri Bukhara antara lain adalah: Al-Imam Abdullah bin Muhammad Abu
Ja’far Al-Musnadi Al-Bukhari yang meninggal dunia di negeri tersebut pada hari Kamis bulan
Dzulqa’dah tahun 220 H. dan kemudian juga lahir di Bukhara, Abu Abdillah Muhammad bin Ismail
bin Ibrahim Al-Bukhari yang lahir pada tahun 194 Hijriyah dan wafat pada tahun 256 H di sebuah desa
bernama Khortanak menuju arah Samarkan. Juga lahir dan dibesarkan di negeri ini Al-Imam Abi Naser
Ahmad bin Muhammad bin Al-Husain Al-Kalabadzi Al-Bukhari yang lahir tahun 323 H dan
meninggal tahun 398 H. dan masih banyak lagi deretan para imam-imam besar Ahli hadits yang
menghiasi indahnya sekarah negeri Bukhara.

Tetapi di masa kini kaum Muslimin di dunia, apabila disebut Imam Bukhari, maka yang dipahami
hanyalah Imam Ahlul Hadits dari negeri Bukhara yang bernama Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin
Bardizbah Al-Bukhari. Karena karya beliau yang amat masyhur di kalangan kaum Muslimin di dunia
ialah: Al-Jami’us Shahih Al-Musnad min Haditsi Rasulillah wa Sunanihi wa Ayyamihi yang kemudian
terkenal dengan nama kitab Shahih Al-Bukhari. Kata “Bukhari” itu sendiri maknanya ialah: Orang dari
negeri Bukhara. Jadi kalau dikatakan “Imam Bukhari” maknanya ialah seorang tokoh dari negeri
Bukhara.

Al-Bukhari Di Masa Kecil

Nasab kelengkapan dari tokoh yang sedang kita bincangkan ini adalah sebagai berikut: Muhammad bin
Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Bardizbah. Kakek (Zoroaster) sebagai agama asli orang-orang
Persia yang menyembah api. Sang kakek tersebut meninggal dalam keadaan masih beragama Majusi.
Putra dari Bardizbah yang bernama Al-Mughirah kemudian masuk Islam di bawah bimbingan gubernur
negeri Bukhara Yaman Al-Ju’fi sehingga Al-Mughirah dengan segenap anak cucunya dinisbatkan
kepada kabilah Al-Ju’fi. Dan ternyata cucu dari Al-Mughirah ini di kemudian hari mengukir sejarah
yang agung, yaitu sebagai seorang Imam Ahlul Hadits.

Al-Imam Al-Bukhari lahir pada hari Jum’at tanggal 13 Syawal 194 H di negeri Bukhara di tengah
keluarganya yang cinta ilmu sunnah Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam. Karena ayah
beliau bernama Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah adalah seorang ulama Ahli hadits yang
meriwayatkan hadits-hadits Nabi dari Imam Malik bin Anas, Hammad bin Zaid, dan sempat pula
berpegang tangan dengan Abdullah bin Mubarak. Riwayat-riwayat Ismail bin Ibrahim tentang hadits
Nabi tersebar di kalangan orang-orang Iraq.

Ayah Al-Bukhari meninggal dunia ketika beliau masih kecil. Di saat menjelang wafatnya, Ismail bin
Ibrahim sempat membesarkan hati anaknya yang masih kecil sembari menyatakan kepadanya: “Aku
tidak mendapati pada hartaku satu dirham pun dari harta yang haram atau satu dirham pun dari harta
yang syubhat.” Tentu anak yang ditumbuhkan dari harta yang bersih dari perkara haram atau syubhat
akan lebih baik dan mudah dididik kepada yang baik. Sehingga sejak wafatnya sang ayah, Al-Bukhari
hidup sebagai anak yatim dalam dekapan kasih sayang ibunya.
Muhammad bin Ismail mendapat perhatian penuh dari ibunya. Sejak usianya yang masih muda dia
telah hafal Al-Qur’an dan tentunya belajar membaca dan menulis. Kemudian pada usia sepuluh tahun,
Muhammad kecil mulai bersemangat mendatangi majelis-majelis ilmu hadits yang tersebar di berbagai
tempat di negeri Bukhara. Pada usia sebelas tahun, dia sudah mampu menegur seorang guru ilmu hadits
yang salah dalam menyampaikan urut-urutan periwayatan hadits (yang disebut sanad). Usia kanak-
kanak beliau dihabiskan dalam kegiatan menghafal ilmu dan memahaminya sehingga ketika menginjak
usia remaja –enam belas tahun–, beliau telah hafal kitab-kitab karya imam-imam Ahli hadits dari
kalangan tabi’it tabi’in (generasi ketiga umat Islam), seperti karya Abdullah bin Al-Mubarak, Waqi’
bin Al-Jarrah, dan memahami betul kitab-kitab tersebut.

Usia kanak-kanak Muhammad bin Ismail telah berlalu dengan agenda belajar yang amat padat.
Kesibukannya di masa kanak-kanak dalam menghafal dan memahami ilmu, mengantarkannya kepada
masa remaja yang cemerlang dan menakjubkan. Kini ia menjadi remaja yang amat diperhitungkan
orang di majelis manapun dia hadir. Karena dalam usia belasan tahun seperti ini dia telah hafal di luar
kepala tujupuluh ribu hadits lengkap dengan sanadnya di samping tentunya Al-Qur’an tiga puluh juz.

Melanglang Buana Menuntut Ilmu

Di awal usianya yang ke delapan belas, Al-Bukhari diajak ibunya bersama kakaknya bernama Ahmad
bin Ismail berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Perjalanan jauh antara negeri Bukhara
dengan Mekkah menunggang unta, keledai dan kuda adalah pengalaman baru baginya. Sehingga dia
terbiasa dengan berbagai kesengsaraan perjalanan jauh mengarungi padang pasir, gunung-gunung dan
lembahnya yang penuh keganasan alam. Dalam kondisi yang demikian, dia merasa semakin dekat
kepada Allah dan dia benar-benar menikmati perjalanan yang memakan waktu berbulan-bulan itu.
Sesampainya di Makkah, Al-Bukhari mendapati kota Makkah penuh dengan ulama Ahli Hadits yang
membuka halaqah-halaqah ilmu. Tentu yang demikian ini semakin menggembirakan beliau. Oleh
karena itu, setelah selsai pelaksanaan ibadah haji, beliau tetap tinggal di Makkah sementara kakak
kandungnya kembali ke Bukhara bersama ibunya. Beliau bolak-balik antara Makkah dan Madinah,
kemudian akhirnya mulai menulis biografi para tokoh. Sehingga lahirlah untuk pertama kalinya karya
beliau dalam bidang ilmu hadits yang berjudul Kitabut Tarikh. Ketika kitab karya beliau ini mulai
tersebar ke seluruh penjuru dunia Islam, ramailah pembicaraan orang tentang tokoh ilmu hadits
tersebut dan semua orang amat mengaguminya. Sampai-sampai seorang Imam Ahli Hadits di masa itu
yang bernama Ishaq bin Rahuyah membawa Kitabut Tarikh karya Al-Bukhari ini ke hadapan gubernur
negeri Khurasan yang bernama Abdullah bin Thahir Al-Khuza’i, sembari mengatakan: “Wahai tuan
gubernur, maukah aku tunjukkan kepadamu atraksi sihir?” Kemudian ditunjukkan kepadanya kitab ini.
Maka gubernur pun membaca kitab tersebut dan beliau sangat kagum dengannya. Sehingga tuan
gubernur pun mengatakan: “Aku tidak mengerti bagaimana dia bisa mengarang kitab ini.” Al-Imam
Al-Bukhari pun akhirnya menjadi amat terkenal di berbagai negeri Islam. Ketika Al-Imam Al-Bukhari
berkeliling ke berbagai negeri tersebut, beliau mendapati betapa para ulama Ahlul Hadits di setiap
negeri tersebut sangat menghormatinya. Beliau berkeliling ke berbagai negeri pusat-pusat ilmu hadits
seperti Mesir, Syam, Baghdad (Iraq), Bashrah, Kufah dan lain-lainnya.

Di saat berkeliling ke berbagai negeri itu, beliau suatu hari duduk di majlisnya Ishaq bin Rahuyah. Di
sana ada satu saran dari hadirin untuk kiranya ada upaya mengumpulkan hadits-hadits Nabi dalam satu
kitab. Dengan usul ini mulailah Al-Imam Al-Bukhari menulis kitab shahihnya dan kitab tersebut baru
selesai dalam tempo enam belas tahun sesudah itu. Beliau menuliskan dalam kitab ini hadits-hadits
yang diyakini shahih oleh beliau setelah menyaring dan meneliti enam ratus ribu hadits. Beliau pilih
daripadanya tujuh ribu dua ratus tujupuluh lima hadits shahih dan seluruhnya dikumpulkan dalam satu
kitab dengan judul Al-Jami’us Shahih Al-Musnad min Haditsi Rasulillah wa Sunani wa Ayyamihi yang
kemudian terkenal dengan nama kitab Shahih Al-Bukhari. Kitab ini pun mendapat pujian dan
sanjungan dari berbagai pihak di seantero negeri-negeri Islam. Sehingga ketokohan beliau dalam ilmu
hadits semakin diakui kalangan luas dunia Islam. Para imam-imam Ahli Hadits sangat memuliakannya,
seperti Imam Ahmad bin Hanbal, Ali bin Al-Madini, Yahya bin Ma`in dan lain-lainnya.

Imam Al-Bukhari Disanjung Di Mana-Mana

Karya-karya beliau dalam bidang hadits terus mengalir dan beredar di dunia Islam. Kepiawaian beliau
dalam menyampaikan keterangan tentang berbagai kepelikan di seputar ilmu hadits di berbagai
majelis-majelis ilmu bersinar cemerlang sehingga beliau dipuji dan diakui keilmuannya oleh para
gurunya dan para ulama yang setara ilmunya dengan beliau, lebih-lebih lagi oleh para muridnya. Beliau
menimba ilmu dari seribu lebih ulama dan semua mereka selalu mempunyai kesan yang baik, bahkan
kagum terhadap beliau.

Al-Imam Al-Hafidh Abil Hajjaj Yusuf bin Al-Mizzi meriwayatkan dalam kitabnya yang berjudul
Tahdzibul Kamal fi Asma’ir Rijal beberapa riwayat pujian para ulama Ahli hadits dan sanjungan
mereka terhadap Muhammad bin Ismail Al-Bukhari. Di antara beberapa riwayat itu antara lain ialah
pernyataan Al-Imam Mahmud bin An-Nadhir Abu Sahl Asy-Syafi’i yang menyatakan: “Aku masuk ke
berbagai negeri yaitu Basrah, Syam, Hijaz dan Kufah. Aku melihat di berbagai negeri tersebut bahwa
para ulamanya bila menyebutkan Muhammad bin Ismail Al-Bukhari selalu mereka lebih
mengutamakannya daripada diri-diri mereka.”

Karena itu majelis-majelis ilmu Al-Imam Al-Bukhari selalu dijejali ribuan para penuntut ilmu. Dan bila
beliau memasuki suatu negeri, puluhan ribu bahkan ratusan ribu kaum Muslimin menyambutnya di
perbatasan kota karena beberapa hari sebelum kedatangan beliau, telah tersebar berita akan datangnya
Imam Ahlul Hadits, sehingga kaum Muslimin pun berjejal-jejal berdiri di pinggir jalan yang akan
dilewati beliau hanya untuk sekedar melihat wajah beliau atau kalau bernasib baik, kiranya dapat
bersalaman dengan beliau.

Al-Imam Muhammad bin Abi Hatim meriwayatkan bahwa Hasyid bin Ismail dan seorang lagi (tidak
disebutkan namanya), keduanya menceritakan: “Para ulama Ahli Hadits di Bashrah di jaman Al-
Bukhari masih hidup merasa lebih rendah pengetahuannya dalam hadits dibanding Al-Imam Al-
Bukhari. Padahal beliau ini masih muda belia. Sehingga pernah ketika beliau berjalan di kota Bashrah,
beliau dikerumuni para penuntut ilmu. Akhirnya beliau dipaksa duduk di pinggir jalan dan dikerumuni
ribuan orang yang menanyakan kepada beliau berbagai masalah agama. Padahal wajah beliau masih
belum tumbuh rambut pada dagunya dan juga belum tumbuh kumis.”

Datanglah Badai Menghempas

Muhammad bin Ismail Al-Bukhari dielu-elukan dan disanjung orang di mana-mana. Pujian penuh
ketakjuban datang dari segala penjuru negeri, dan beliau dijadikan rujukan para ulama di masa muda
belia. Di saat penuh kesibukan ibadah dan ilmu yang menghiasi detik-detik kehidupan Al-Bukhari,
pada sebagian orang muncul iri dengki terhadap berbagai kemuliaan yang Allah limpahkan kepadanya.

Badai itu bermula dari kedatangan beliau pada suatu hari di negeri Naisabur dalam rangka menimba
ilmu dari para imam-imam Ahli Hadits di sana. Kedatangan beliau ke negeri tersebut bukanlah untuk
pertama kalinya. Beliau sebelumnya sudah berkali-kali berkunjung ke sana karena Nasaibur termasuk
salah satu pusat markas ilmu sunnah. Lagi pula di sana terdapat guru beliau, seorang Ahli Hadits yang
bernama Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli. Pada suatu hari tersebarlah berita gembira di Naisabur
bahwa Muhammad bin Ismail Al-Bukhari akan datang ke negeri tersebut untuk tinggal padanya
beberapa lama. Bahkan Al-Imam Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli mengumumkan secara khusus di
majelis ilmunya dengan menyatakan: “Barangsiapa ingin menyambut Muhammad bin Ismail besok,
silakan menyambutnya karena aku akan menyambutnya.” Maka masyarakat luas pun bergerak
mengadakan persiapan untuk menyambut kedatangan Imam besar Ahli Hadits di kota mereka.

Di hari kedatangan Imam Al-Bukhari itu, ribuan penduduk Naisabur bergerombol di pinggir kota untuk
menyambutnya. Di antara yang berkerumun menunggu kedatangan beliau itu ialah Al-Imam
Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli bersama para ulama lainnya. Diriwayatkan oleh Muhammad bin
Ya’qub Al-Akhram bahwa ketika Al-Bukhari sampai di pintu kota Naisabur, yang menyambutnya
sebanyak empat ribu orang berkuda, di samping yang menunggang keledai dan himar serta ribuan pula
yang berjalan kaki.”

Imam Muslim bin Al-Hajjaj menceritakan: “Ketika Muhammad bin Ismail datang ke Naisabur, semua
pejabat pemerintah dan semua ulama menyambutnya di batas negeri.”

Ketika Al-Imam Muhammad bin Ismail Al-Bukhari sampai di Naisabur, para penduduk
menyambutnya dengan penyambutan yang demikian besar dan agung. Beribu-ribu orang berkerumun
di tempat tinggal beliau setiap harinya untuk menanyakan kepada beliau berbagai masalah agama dan
khususnya berbagai kepelikan tentang hadits. Akibatnya berbagai majelis ilmu para ulama yang lainnya
menjadi sepi pengunjung. Dari sebab ini mungkin timbul ketidakenakan di hati sebagian ulama itu
terhadap Al-Bukhari.

Di hari ketiga kunjungan beliau ke Naisabur, terjadilah peristiwa yang amat disesalkan itu. Diceritakan
oleh Ahmad bin Adi peristiwa itu terjadi sebagai berikut:

Telah menceritakan kepadaku sekelompok ulama bahwa ketika Muhammad bin Ismail sampai ke
negeri Naisabur dan orang-orang pun berkumpul mengerumuninya, maka timbullah kedengkian
padanya dari sebagian ulama yang ada pada waktu itu. Sehingga mulailah diberitakan kepada para
ulama Ahli hadits bahwa Muhammad bin Ismail berpendapat bahwa lafadh beliau ketika membaca Al-
Qur’an adalah makhluk. Pada suatu majelis ilmu, ada seseorang berdiri dan bertanya kepada beliau:
“Wahai Abu Abdillah (yakni Al-Bukhari), apa pendapatmu tentang orang yang menyatakan bahwa
lafadhku ketika membaca Al-Qur’an adalah makhluk? Apakah memang demikian atau lafadh orang
yang membaca Al-Qur’an itu bukan makhluk?”

Mendengar pertanyaan itu, beliau berpaling karena tidak mau menjawabnya. Akan tetapi si penanya
mengulang-ulang terus pertanyaannya hingga sampai ketiga kalinya seraya memohon dengan sangat
agar beliau menjawabnya. Al-Bukhari pun akhirnya menjawab dengan mengatakan: “Al-Qur’an
kalamullah (perkataan Allah) dan bukan makhluk. Sedangkan perbuatan hamba Allah adalah makhluk,
dan menguji orang dalam masalah ini adalah perbuatan bid’ah.”

Dengan jawaban beliau ini, si penanya membikin ricuh di majelis dan mengatakan tentang Al-Bukhari:
“Dia telah menyatakan bahwa lafadhku ketika membaca Al-Qur’an adalah makhluk.” Akibatnya
orang-orang di majelis itu menjadi ricuh dan mereka pun segera membubarkan diri dari majelis itu dan
meninggalkan beliau sendirian. Sejak itu Al-Bukhari duduk di tempat tinggalnya dan orang-orang pun
tidak lagi mau datang kepada beliau.”

Al-Khatib Al-Baghdadi meriwayatkan dari Ahmad bin Muhammad bin Ghalib dengan sanadnya dari
Muhammad bin Khasynam menceritakan: “Setelah orang meninggalkan Al-Bukhari, orang-orang yang
meninggalkan beliau itu sempat datang kepada beliau dan mengatakan: “Engkau mencabut
pernyataanmu agar kami kembali belajar di majelismu.” Beliau menjawab: “saya tidak akan mencabut
pernyataan saya kecuali bila mereka yang meninggalkanku menunjukkan hujjah (argumentasi) yang
lebih kuat dari hujjahku.”

Kata Muhammad bin Khasynam: “Sungguh aku amat kagum dengan tegarnya dan kokohnya Al-
Bukhari dalam berpegang dengan pendirian.”

Kaum Muslimin di Naisabur gempar dengan kejadian ini dan akhirnya arus fitnah melibatkan pula Al-
Imam Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli sehingga beliau menyatakan di majelis ilmu beliau yang kini
telah ramai kembali setelah orang meninggalkan majelis Al-Bukhari: “Ketahuilah, sesungguhnya siapa
saja yang masih mendatangi majelis Al-Bukhari, dilarang datang ke majelis kita ini. Karena orang-
orang di Baghdad telah memberitakan melalui surat kepada kami bahwa orang ini (yakni Al-Bukhari)
mengatakan bahwa lafadhku ketika membaca Al-Qur’an adalah makhluk. Kata mereka yang ada di
Baghdad bahwa Al-Bukhari telah dinasehati untuk jangan berkata demikian, tetapi dia terus
mengatakan demikian. Oleh karena itu, jangan ada yang mendekatinya dan barangsiapa mendekatinya
maka janganlah mendekati kami.”

Tentu saja dengan telah terlibatnya Imam Adz-Dzuhli, fitnah semakin meluas. Hal ini terjadi karena
Adz-Dzuhli adalah imam yang sangat berpengaruh di seluruh wilayah Khurasan yang beribukota di
Naisabur itu. Bahkan lebih lanjut Al-Imam Adz-Dzuhli menegaskan: “Al-Qur’an adalah kalamullah
(yakni firman Allah) dan bukan makhluk dari segala sisinya dan dari segala keadaan. Maka
barangsiapa yang berpegang dengan prinsip ini, sungguh dia tidak ada keperluan lagi untuk berbicara
tentang lafadhnya ketika membaca Al-Qur’an atau omongan yang serupa ini tentang Al-Qur’an.
Barangsiapa yang menyatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk, maka sungguh dia telah kafir dan keluar
dari iman, dan harus dipisahkan dari istrinya serta dituntut untuk taubat dari ucapan yang demikian.
Bila dia mau taubat maka diterima taubatnya. Tetapi bila tidak mau taubat, harus dipenggal lehernya
dan hartanya menjadi rampasan Muslimin serta tidak boleh dikubur di pekuburan kaum Muslimin. Dan
barangsiapa yang bersikap abstain dengan tidak menyatakan Al-Qur’an sebagai makhluk dan tidak pula
menyatakan Al-Qur’an bukan makhluk, maka sungguh dia telah menyerupai orang-orang kafir.
Barangsiapa yang menyatakan “lafadhku ketika membaca Al-Qur’an adalah makhluk”, maka sungguh
dia adalah Ahli Bid’ah (yakni orang yang sesat). Tidak boleh duduk bercengkrama dengannya dan
tidak boleh diajak bicara. Oleh karena itu, barangsiapa setelah penjelasan ini masih saja mendatangi
tempatnya Al-Bukhari, maka curigailah ia karena tidaklah ada orang yang tetap duduk di majelisnya
kecuali dia semadzhab dengannya dalam kesesatannya.”

Dengan pernyataan Adz-Dzuhli seperti ini, berdirilah dari majelis itu Imam Muslim bin Hajjaj dan
Ahmad bin Salamah. Bahkan Imam Muslim mengirimkan kembali kepada Adz-Dzuhli seluruh catatan
riwayat hadits yang didapatkannya dari Imam Adz-Dzuhli, sehingga dalam Shahih Muslim tidak ada
riwayat Adz-Dzuhli dari berbagai sanad yang ada padanya.

Sikap Imam Muslim bin Hajjaj dan Ahmad bin Salamah yang seperti itu menyebabkan Adz-Dzuhli
semakin marah sehingga beliau pun menyatakan: “Orang ini (yakni Al-Bukhari) tidak boleh bertempat
tinggal di negeri ini bersama aku.”

Kemarahan Adz-Dzuhli seperti ini sangat menggusarkan Ahmad bin Salamah, salah seorang pembela
Al-Bukhari. Dia segera mendatangi Al-Bukhari seraya mengatakan: “Wahai Abu Abdillah (yakni Al-
Bukhari), orang ini (yakni Adz-Dzuhli) sangat berpengaruh di Khurasan, khususnya di kota ini (yakni
kota Naisabur). Dia telah terlalu jauh dalam berbicara tentang perkara ini sehingga tak seorang pun dari
kami bisa menasehatinya dalam perkara ini. Maka bagaimana pendapatmu?”

Al-Imam Al-Bukhari amat paham kegusaran muridnya ini sehingga dengan penuh kasih sayang beliau
memegang jenggot Ahmad bin Salamah dan membaca surat Ghafir 44 yang artinya: “Dan aku serahkan
urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” Kemudian beliau
menunduk sambil berkata: “YA Allah, sungguh Engkau tahu bahwa aku tinggal di Naisabur tidaklah
bertujuan jahat dan tidak pula bertujuan dengan kejelekan. Engkau juga mengetahui ya Allah, bahwa
aku tidak mempunyai ambisi untuk memimpin. Hanyasaja karena aku terpaksa pulang ke negeriku
karena para penentangku telah menguasai keadaan. Dan sungguh orang ini (yakni Adz-Dzuhli)
membidikku semata-mata karena hasad (dengki) terhadap apa yang Allah telah berikan kepadaku
daripada ilmu.” Wajah beliau sendu menyimpan kekecewaan yang mendalam. Dan dia menatap
Ahmad bin Salamah dengan mantap sambil berkata: “wahai Ahmad, aku akan meninggalkan Naisabur
besok agar kalian terlepas dari berbagai problem akibat omongannya (yakni omongan Adz-Dzuhli)
karena sebab keberadaanku.” Segera setelah itu Al-Bukhari berkemas-kemas untuk mempersiapkan
keberangkatannya besok kembali ke negeri Bukhara.

Rencana Al-Bukhari untuk pulang ke negeri Bukhara sempat diberitakan oleh Ahmad bin Salamah
kepada segenap kaum Muslimin di Naisabur, tetapi mereka tidak ada yang berselera untuk melepasnya
di batas kota. Sehingga Al-Imam Al-Bukhari dilepas kepulangannya oleh Ahmad bin Salamah saja dan
beliau berjalan sendirian menempuh jalan darat yang jauh menuju negerinya yaitu Bukhara. “Selamat
tinggal Naisabur, rasanya tidak mungkin lagi aku berjumpa denganmu.”

Badai Di Negeri Bukhara

Di negeri Bukhara telah tersebar berita bahwa Imam Muhammad bin Ismail Al-Bukhari sedang menuju
Bukhara. Penduduk Bukhara melakukan berbagai persiapan untuk menyambutnya di pintu kota.
Bahkan diceritakan oleh Ahmad bin Mansur Asy-Syirazi bahwa dia mendengar dari berbagai orang
yang menyaksikan peristiwa penyambutan Al-Bukhari di negeri Bukhara, dikatakan bahwa masyarakat
membangun gapura penyambutan di tempat yang berjarak satu farsakh (kurang lebih 5 km) sebelum
masuk kota Bukhara. Dan ketika Al-Imam Muhammad bin Ismail Al-Bukhari telah sampai di gapura
“selamat datang” tersebut, beliau mendapati hampir seluruh penduduk negeri Bukhara menyambutnya
dengan penuh suka cita, sampai-sampai disebutkan bahwa penduduk melemparkan kepingan emas dan
perak di jalan yang akan diinjak oleh telapak kaki Al-Bukhari. Mereka berdiri di kedua sisi jalan masuk
kota Bukhara sambil berebut memberikan buah anggur yang istimewa kepada sang Imam Ahlul Hadits
yang amat mereka cintai itu.
Tetapi suka cita penduduk negeri Bukhara ini tidak berlangsung lama. Beberapa hari setelah itu para
ahli fikih mulai resah dengan beberapa perubahan pada cara beribadah orang-orang Bukhara. Yang
berlaku di negeri tersebut adalah madzhab Hanafi, sedangkan Al-Bukhari mengajarkan hadits sesuai
dengan pengertian Ahli Hadits yang tidak terikat dengan madzhab tertentu sehingga yang nampak pada
masyarakat ialah sikap-sikap yang diajarkan oleh Ahli Hadits, dan bukan pengamalan madzhab Hanafi.
Orang dalam beriqamat untuk shalat jamaah tidak lagi menggenapkan bacaan qamat seperti adzan,
tetapi membaca qamat dengan satu-satu sebagaimana yang ada dalam hadits-hadits shahih. Ketika
bertakbir dalam shalat semula tidak mengangkat tangan sebagaimana madzhab Hanafi, sekarang
mereka bertakbir dengan mengangkat tangan.

Dengan berbagai perubahan ini keresahan para ulama fiqih tambah menjadi-jadi sehingga tokoh ulama
fiqih di negeri tersebut yang bernama Huraits bin Abi Wuraiqa’ menyatakan tentang Al-Imam Al-
Bukhari: “Orang ini pengacau. Dia akan merusakkan kehidupan keagamaan di kota ini. Muhammad bin
yahya telah mengusir dia dari Naisabur, padahal dia imam Ahli Hadits.”

Maka Huraits dan kawan-kawannya mulai berusaha untuk mempengaruhi gubernur Bukhara agar
mengusir Al-Imam Muhammad bin Ismail Al-Bukhari ini. Gubernur negeri ini yang bernama Khalid
bin Ahmad As-Sadusi Adz-Dzuhli.

Gubernur Khalid pernah meminta Al-Bukhari untuk datang ke istananya guna mengajarkan kitab At-
Tarikh dan Shahih Al-Bukhari bagi anak-anaknya. Tetapi Al-Imam Al-Bukhari menolak permintaan
gubernur tersebut dengan mengatakan: “Aku tidak akan menghinakan ilmu ini dan aku tidak akan
membawa ilmu ini dari pintu ke pintu. Oleh karena itu bila anda memerlukan ilmu ini, maka
hendaknya anda datang saja ke masjidku, atau ke rumahku. Bila sikapku yang demikian ini tidak
menyenangkanmu, engkau adalah penguasa. Silakan engkau melarang aku untuk membuka majelis
ilmu ini agar aku punya alasan di sisi Allah di hari kiamat bahwa aku tidaklah menyembunyikan ilmu
(tetapi dilarang oleh penguasa untuk menyampaikannya).” Tentu gubernur Khalid dengan jawaban ini
sangat kecewa. Maka berkumpullah padanya penghasutan Huraits bin Abil Wuraqa’ dan kawan-kawan
serta kekecewaan pribadi gubernur ini. Huraits dan gubernur Khalid akhirnya sepakat untuk membikin
rencana mengusir Muhammad bin Ismail dari Bukhara. Lebih-lebih lagi telah datang surat dari Al-
Imam Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli dari Naisabur kepada gubernur Khalid bin Ahmad As-Sadusi
Adz-Dzuhli di Bukhara yang memberitakan bahwa Al-Bukhari telah menampakkan sikap menyelisihi
sunnah Nabi shallallahu `alaihi wa sallam. Dengan demikian matanglah rencana pengusiran Al-Imam
Muhammad bin Ismail Al-Bukhari dari negeri Bukhara.

Upaya pengusiran itu bermula dengan dibacakannya surat Muhammad bin yahya Adz-Dzuhli di
hadapan segenap penduduk Bukhara tentang tuduhan beliau kepada Al-Imam Muhammad bin Ismail
Al-Bukhari bahwa beliau telah berbuat bid’ah dengan mengatakan bahwa “lafadhku ketika membaca
Al-Qur’an adalah makhluk”. Tetapi dengan pembacaan surat, penduduk Bukhara pada umumnya tidak
mau peduli dengan tuduhan tersebut dan terus memuliakan Al-Imam Al-Bukhari. Namun gubernur
Khalid akhirnya mengusirnya dengan paksa sehingga Al-Imam Al-Bukhari sangat kecewa dengan
perlakuan ini. Dan sebelum keluar dari negeri Bukhara, beliau sempat mendoakan celaka atas orang-
orang yang terlibat langsung dengan pengusirannya. Ibrahim bin Ma’qil An-Nasafi menceritakan:
“Aku melihat Muhammad bin Ismail pada hari beliau diusir dari negeri Bukhara, aku mendekat
kepadanya dan aku bertanya kepadanya: “Wahai Abu Abdillah, apa perasaanmu dengan pengusiran
ini?” Beliau menjawab: “Aku tidak peduli selama agamaku selamat.”

Al-Bukhari meninggalkan Bukhara dengan penuh kekecewaan dan dilepas penduduk Bukhara dengan
penuh kepiluan. Beliau berjalan menuju desa Bikanda kemudian berjalan lagi ke desa Khartanka, yang
keduanya adalah desa-desa negeri Samarkan. Di desa terakhir inilah beliau jatuh sakit dan dirawat di
rumah salah seorang kerabatnya penduduk desa tersebut.

Dalam suasana hati yang terluka, tubuhnya yang kurus kering di usia ke enampuluh dua tahun, beliau
berdoa mengadukan segala kepedihannya kepada Allah Ta`ala: “Ya Allah, bumi serasa sempit bagiku.
Tolonglah ya Allah, Engkau panggil aku keharibaan-Mu.” Dan sesaat setelah itu ia pun
menghembuskan nafas terakhir dan selamat tinggal dunia yang penuh onak dan duri.

Pembelaan Al-Bukhari
Al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ismail Al-Bukhari mengakhiri hidupnya di desa Khartanka,
Samarkan pada malam Sabtu di malam hari Raya Fitri (Iedul Fitri) 1 Syawsal 256 H. sebelum
menghembuskan nafas yang terakhir, beliau sempat berwasiat agar mayatnya nanti dikafani dengan
tiga lapis kain kafan tanpa imamah (ikat kepala) dan tanpa baju. Dan beliau berwasiat agar kain
kafannya berwarna putih. Semua wasiat beliau itu dilaksanakan dengan baik oleh kerabat beliau yang
merawat jenasahnya. Beliau dikuburkan di desa itu di hari Iedul Fitri 1 Syawal 256 H setelah shalat
Dhuhur. Dan seketika selesai pemakamannya, tersebarlah bau harum dari kuburnya dan terus semerbak
bau                  harum                    itu                sampai                 berhari-hari.
Gubernur Bukhara Khalid bin Ahmad Adz-Dzuhli menuai hasil dari kedhalimannya dengan datangnya
keputusan pencopotan terhadap jabatannya dari Khalifah Al-Muktamad karena tuduhan ikut terlibat
pemberontakan Ya’qub bin Al-Laits terhadap Khilafah Ath-Thahir. Khalid bin Ahmad akhirnya
dipenjarakan di Baghdad sampai mati di penjara pada tahun 269 H. Sedangkan Huraits bin Abil
Waraqa’ ditimpa kehancuran pada anak-anaknya yang berbuat tidak senonoh. Para penentang Imam
Bukhari menyatakan penyesalannya dan kesedihannya dengan wafatnya beliau dan sebagian mereka
sempat                                       mendatangi                                   kuburnya.
Mulailah setelah itu orang berani menyebarkan pembelaan Al-Imam Al-Bukhari dari segala tuduhan
miring terhadap dirinya. Tetapi berbagai pembelaan itu selama ini tenggelam dalam hiruk pikuk fitnah
tuduhan keji terhadap diri beliau. Dan Allah Maha Adil terhadap hamba-hamba-Nya.

Muhammad bin Nasir Al-Marwazi mempersaksikan bahwa Al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin
Ismail Al-Bukhari menyatakan: “Barangsiapa yang mengatakan bahwa aku telah berpendapat bahwa
lafadhku ketika membaca Al-Qur’an adalah makhluk, maka sungguh dia adalah pendusta, karena
sesungguhnya aku tidak pernah mengatakan demikian.”

Abu Amr Ahmad bin Nasir An-Naisaburi Al-Khaffaf mempersaksikan bahwa Al-Imam Al-Bukhari
telah mengatakan kepadanya: “Wahai Abu Amir, hafal baik-baik apa yang aku ucapkan: Siapa yang
menyangka bahwa aku berpendapat bahwa lafadhku tentang Al-Qur’an adalah makhluk, baik dia dari
penduduk Naisabur, Qaumis, Ar-Roy, Hamadzan, Hulwan, Baghdad, Kuffah, Basrah, Makkah, atau
Madinah, maka ketahuilah bahwa yang menyangka aku demikian itu adalah pendusta. Karena
sesungguhnya aku tidaklah mengatakan demikian. Hanya saja aku mengatakan: Segenap perbuatan
hamba                   Allah                 itu               adalah                makhluk.”
Yahya bin Said mengatakan: “Abu Abdillah Al-Bukhari telah berkata: Gerak-gerik hamba Allah, suara
mereka, tingkah laku mereka, segala tulisan mereka adalah makhluk. Adapun Al-Qur’an yang dibaca
dengan suara huruf-huruf tertentu, yang ditulis di lembaran-lembaran penulisan Al-Qur’an, yang
dihafal di hati para penghafalnya, maka semua itu adlaah kalamullah (perkataan Allah) dan bukan
makhluk.”

Ghunjar membawakan riwayat dengan sanadnya sampai ke Al-Firabri, dia mengatakan bahwa Al-
Bukhari telah mengatakan: “Al-Qur’an kalamullah dan bukan makhluk. Barangsiapa yang mengatakan
bahwa Al-Qur’an itu makhluk maka sungguh dia telah kafir.” Bahkan Al-Imam Al-Bukhari menulis
kitab khusus dalam masalah ini dengan judul Khalqu Af`alil Ibad yang padanya beliau menjelaskan
pendirian beliau dalam masalah ini dengan gamblang dan jelas serta lengkap dan ilmiah.

Fitnah itu memang kejam, lebih kejam dari pembunuhan. Dia tidak akan memilih antara orang jahil
atau orang alim dari kalangan ulama. Dan ulama pun bisa salah dalam memberikan penilaian, karena
yang ma’shum (terjaga dari kesalahan) hanyalah Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam. Orang-orang
yang menyakini bahwa ulama itu ma’shum hanyalah para ahli bid’ah dari kalangan Rafidlah (Syiah)
atau orang-orang sufi. Demikian pula orang-orang yang mencerca ulama karena kesalahannya semata
tanpa mempertimbangkan apakah kesalahan itu karena kesalahan ijtihad ataukah kesalahan prinsip
yang tak termaafkan, yang demikian ini adalah sikap sufaha’ (orang-orang dungu) semacm sururiyyun
(pengikut Muhammad bin Surur) atau haddadiyyun (pengikut Mahmud Al-Haddad). Ahlus Sunnah wal
Jamaah tidak menganggap para ulama itu ma’shum dan tidak pula melecehkan ulama ketika mendapati
kesalahan mereka. Dengan prinsip inilah kita tetap memuliakan Al-Imam Muhammad bin Ismail Al-
Bukhari. Dan juga kita memuliakan Al-Imam Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli. Kita mendoakan
rahmat Allah bagi para imam-imam tersebut. Dan kita memahami segala perselisihan di kalangan
mereka dengan ilmu Al-Qur’an dan As-Sunnah untuk mengerti mana yang benar untuk kita ikuti dan
mana yang salah untuk kita tinggalkan.
Ahlus Sunnah wal Jamaah itu berkata dan berbuat dengan bersandarkan kepada ilmu. Adalah bukan
akhlak Ahlus Sunnah wal Jamaah bila segerombolan orang berbuat hura-hura dan kemudian menvonis
seseorang atau sekelompok orang. Tertapi ketika ditanyai, apa dasar kamu berbuat demikian?
Jawabannya: Kami masih menunggu fatwa dari ulama!

Kita katakan kepada mereka ini: “Apalagi yang kalian tunggu dari ulama setelah kalian berbuat,
menvonis dan menilai? Apakah kalian berbuat dulu baru mencari pembenaran terhadap perbuatan
kalian dengan fatwa ulama? Kalau begitu yang kalian tunggu adalah fatwa pembenaran dari ulama
terhadap perbuatan kalian. tentu yang demikian ini bukanlah akhlak Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Gubernur Bukhara Khalid bin Ahmad As-Sadusi dan mufti negeri Bukhara Huraits bin Abil Waraqa’
telah menyimpan ketidaksenangan kepada Al-Imam Muhammad bin Ismail Al-Bukhari dan berencana
untuk mengusirnya dari negeri Bukhara. Ketika sedang mencari-cari alasan pembenaran terhadap
perbuatannya tiba-tiba datang surat dari Al-Imam Muhammad bin yahya Adz-Dzuhli dari Naisabur
yang memperingatkan sang gubernur dari bahaya bid’ah yang dibawa oleh Al-Imam Al-Bukhari. Surat
ini seperti kata pepatah: pucuk dicita ulam tiba. Tanpa selidik dan tanpa teliti, segera surat ini
dibacakan di hadapan penduduk Bukhara dan setelah itu datanglah keputusan pengusiran Al-Bukhari
dari negeri kelahirannya, sehingga yang diharapkan, kesan orang bahwa pengusiran itu karena semata-
mata alasan agama dan bukan alasan yang lainnya.

Tetapi Allah Maha Tahu dan Dia membongkar segala kejahatan di balik alasan-alasan yang memakai
atribut agama itu. Sehingga yang tertulis dalam sejarah Islam sampai hari ini adalah kesan buruk
terhadap perbuatan Khalid bin Ahmad As-Sadusi dan Huraits bin Abil Waraqa’. Dan bukan kesan
buruk yang dibikin-bikin oleh para pencoleng fatwa ulama itu. Camkanlah! Pengkhianatan dan
kedustaan itu berulang-ulang terus dari masa ke masa. Hanya saja pemainnya yang berganti-ganti.
Tetapi semua itu akan menjadi sejarah bagi anak cucu di belakang hari sebagaimana sejarah
pengkhianatan dan kedustaan terhadap Al-Imam Al-Bukhari yang sekarang menjadi pergunjingan bagi
generasi ini.

Daftar Pustaka
1). Al-Qur’anul Karim
2). At-Tarikhul Kabir, Al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Darul Fikr, tanpa tahun.
3). Kitabuts Tsiqat, Al-Imam Muhammad bin Hibban bin Ahmad bin Abi Hatim At-Tamimi Al-Busti, darul Fikr, th. 1393 H /
1993 M.
4). Kitabul Jarh wat Ta`dil, Al-Imam Abi Muhammad Abdurrahman bin Abi Hatim At-Tamimi Al-Handlali Ar-Razi, darul Fikr,
tanpa tahun.
5). Khalqu Af’alil Ibad, Al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Muassasatur Risalah, th. 1411 H / 1990 M.
6). Tarikh Baghdad, Al-Imam Abi Bakr Ahmad bin Ali Al-Khatib Al-Baghdadi, Darul Fikr, tanpa tahun.
7). Al-Ikmal, Al-Amir Al-Hafidh Ali bin Hibatullah Abi Naser bin Makula, Darul Kutub Al-Ilmiah, th. 1411 H / 1990 M.
8). Thabaqatul Hanabilah, Al-Qadli Abul Husain Muhammad bin Abi Ya’la, Darul Ma’rifah, Beirut, Libanon, tanpa tahun.
9). Rijal Shahih Al-Bukhari, Al-Imam Abu Naser Ahmad bin Muhammad bin Al-Husain Al-Bukhari Al-Kalabadzi, Darul Baaz,
th. 1407 H / 1987 M.
10). Al-Kamil fit Tarikh, Al-Allamah Ibnu Atsir, Darul Fikr, tanpa tahun.
11). Tahdzibul Kamal, Al-Hafidh Abil Hajjaj Yusuf Al-Mizzi, Muassasatur Risalah, th. 1413 H / 1992 M.
12). Kitab Tadzkratul Huffadl, Al-Imam Abu Abdillah Syamsuddin Muhammad Adz-Dzahabi, Darul Kutub Al-Ilmiah, tanpa
tahun.
13). Siyar A`lamin Nubala’, Al-Imam Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Utsman Adz-Dzahabi, Muassasatur Risalah, th.
1417 H / 1996 M.
14). Al-Bidayah wan Nihayah, Al-Hafidh Abul Fida’ Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Darul Kutub Al-Ilmiyah, th. 1408 H / 1988 M.
15). Hadyus Sari Muqaddimah Fathul Bari, Al-Imam Al-Hafidh Ahmad bin Ali bin Hajar Al-Asqalani, Al-Maktabah As-
Salafiyah, tanpa tahun.
16). Qaidah fi Jarh wat Ta’dil, Al-Imam Tajuddin Abdul Wahhab bin Ali As-Subki, Al-Maktabah Al-Ilmiah, Lahore, Pakistan,
th. 1403 H / 1983 M.




                                                            
                          Imam Muslim (206-261 H)
Nama lengkapnya ialah Imam Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim bin Kausyaz al Qusyairi
an-Naisaburi. Ia juga mengarang kitab As-Sahih (terkenal dengan Sahih Muslim). Ia salah seorang
ulama terkemuka yang namanya tetap dikenal hingga kini. Ia dilahirkan di Naisabur pada tahun 206 H.
menurut pendapat yang sahih sebagaimana dikemukakan oleh al-Hakim Abu Abdullah dalam kitabnya
‘Ulama’ul Amsar.*

Kehidupan untuk Mencari Ilmu

Ia belajar hadits sejak masih dalam usia dini, yaitu mulaii tahun 218 H. Ia pergi ke Hijaz, Irak, Syam,
Mesir dan negara negara lainnya.

Dalam perjalannanya Imam Muslim banyak mengunjungi ulama-ulama kenamaan untuk berguru hadits
kepada mereka. Di Khurasan, ia berguru kepada Yahya bin Yahya dan Ishak bin Rahawaih; di Ray ia
berguru kepada Muhammad bin Mahran dan Abu ‘Ansan. Di Irak ia belajar hadits kepada Ahmad bin
Hambal dan Abdullah bin Maslamah; di Hijaz belajar kepada Sa’id bin Mansur dan Abu Mas’Abuzar;
di Mesir berguru kepada ‘Amr bin Sawad dan Harmalah bin Yahya, dan kepada ulama ahli hadits yang
lain.

Muslim berkali-kali mengunjungi Baghdad untuk belajar kepada ulama-ulama ahli hadits, dan
kunjungannya yang terakhir pada 259 H. di waktu Imam Bukhari datang ke Naisabur, Muslim sering
datang kepadanya untuk berguru, sebab ia mengetahui jasa dan ilmunya. Dan ketika terjadi fitnah atau
kesenjangan antara Bukhari dan Az-Zihli, ia bergabung kepada Bukhari, sehingga hal ini menjadi
sebab terputusnya hubungan dengan Az-Zihli. Muslim dalam Sahihnya maupun dalam kitab lainnya,
tidak memasukkan hadits-hadits yang diterima dari Az-Zihli padahal ia adalah gurunya. Hal serupa ia
lakukan terhadap Bukhari. Ia tidak meriwayatkan hadits dalam Sahihnya, yang diterimanya dari
Bukhari, padahal iapun sebagai gurunya. Nampaknya pada hemat Muslim, yang lebih baik adalah tidak
memasukkan ke dalam Sahihnya hadits-hadits yang diterima dari kedua gurunya itu, dengan tetap
mengakui mereka sebagai guru.

Guru-gurunya

Selain yang telah disebutkan di atas, Muslim masih mempunyai banyak ulama
yang menjadi gurunya. Di antaranya : Usman dan Abu Bakar, keduanya putra Abu Syaibah; Syaiban
bin Farwakh, Abu Kamil al-Juri, Zuhair bin Harb, Amr an-Naqid, Muhammad bin al-Musanna,
Muhammad bin Yassar, Harun bin Sa’id al-Ayli, Qutaibah bin Sa’id dan lain sebagainya.

Keahlian dalam Hadits

Apabila Imam Bukhari merupakan ulama terkemuka di bidang hadits sahih, berpengetahuan luas
mengenai ilat-ilat dan seluk beluk hadits, serta tajam kritiknya, maka Imam Muslim adalah orang
kedua setelah Imam Bukhari, baik dalam ilmu dan pengetahuannya maupun dalam keutamaan dan
kedudukannya.

Imam Muslim banyak menerima pujian dan pengakuan dari para ulama ahli hadits maupun ulama
lainnya. Al-Khatib al-Baghdadi berketa, “Muslim telah mengikuti jejak Bukhari, memperhatikan
ilmunya dan menempuh jalan yang dilaluinya.” Pernyataan ini tidak berarti bahwa Muslim hanyalah
seorang pengekor. Sebab, ia mempunyai cirri khas dan karakteristik tersendiri dalam menyusun kitab,
serta metode baru yang belum pernah diperkenalkan orang sebelumnya.

Abu Quraisy al-Hafiz menyatakan bahwa di dunia ini orang yang benar-benar ahli di bidang hadits
hanya empat orang; salah satu di antaranya adalah Muslim (Tazkiratul Huffaz, jilid 2, hal. 150).
Maksud perkataan tersebut adalah ahli ahli hadits terkemuka yang hidup di masa Abu Quraisy, sebab
ahli hadits itu cukup banyak jumlahnya.
Karya-karya Imam Muslim

Imam Muslim meninggalkan karya tulis yang tidak sedikit jumlahnya, di antaranya :
1. Al-Jami’ as-Sahih (Sahih Muslim).
2. Al-Musnadul Kabir (kitab yang menerangkan nama-nama para perawi hadits).
3. Kitabul-Asma’ wal-Kuna.
4. Kitab al-’Ilal.
5. Kitabul-Aqran.
6. Kitabu Su’alatihi Ahmad bin Hambal.
7. Kitabul-Intifa’ bi Uhubis-Siba’.
8. Kitabul-Muhadramin.
9. Kitabu man Laisa lahu illa Rawin Wahid.
10. Kitab Auladis-Sahabah.
11. Kitab Awhamil-Muhadditsin.

Kitab Sahih Muslim

Di antara kitab-kitab di atas yang paling agung dan sangat bermanfat luas, serta masih tetap beredar
hingga kini ialah Al Jami’ as-Sahih, terkenal dengan Sahih Muslim. Kitab ini merupakan salah satu
dari dua kitab yang paling sahih dan murni sesudah Kitabullah. Kedua kitab Sahih ini diterima baik
oleh segenap umat Islam.

Imam Muslim telah mengerahkan seluruh kemampuannya untuk meneliti dan mempelajari keadaan
para perawi, menyaring hadits-hadits yang diriwayatkan, membandingkan riwayat riwayat itu satu
sama lain. Muslim sangat teliti dan hati-hati dalam menggunakan lafaz-lafaz, dan selalu memberikan
isyarat akan adanya perbedaan antara lafaz-lafaz itu. Dengan usaha yang sedeemikian rupa, maka
lahirlah kitab Sahihnya.

Bukti kongkrit mengenai keagungan kitab itu ialah suatu kenyataan, di mana Muslim menyaring isi
kitabnya dari ribuan riwayat yang pernah didengarnya. Diceritakan, bahwa ia pernah berkata: “Aku
susun kitab Sahih ini yang disaring dari 300.000 hadits.”

Diriwayatkan dari Ahmad bin Salamah, yang berkata : “Aku menulis bersama Muslim untuk menyusun
kitab Sahihnya itu selama 15 tahun. Kitab itu berisi 12.000 buah hadits.”

Dalam pada itu, Ibn Salah menyebutkan dari Abi Quraisy al-Hafiz, bahwa jumlah hadits Sahih Muslim
itu sebanyak 4.000 buah hadits. Kedua pendapat tersebut dapat kita kompromikan, yaitu bahwa
perhitungan pertama memasukkan hadits-hadits yang berulang-ulang penyebutannya, sedangkan
perhitungan kedua hanya menghitung hadits-hadits yang tidak disebutkan berulang.

Imam Muslim berkata di dalam Sahihnya: “Tidak setiap hadits yang sahih menurutku, aku cantumkan
di sini, yakni dalam Sahihnya. Aku hanya mencantumkan hadits-hadits yang telah disepakati oleh para
ulama hadits.” .

Imam Muslim pernah berkata, sebagai ungkapan gembira atas karunia Tuhan yang diterimanya:
“Apabila penduduk bumi ini menulis hadits selama 200 tahun, maka usaha mereka hanya akan
berputar-putar di sekitar kitab musnad ini.”

Ketelitian dan kehati-hatian Muslim terhadap hadits yang diriwayatkan dalam Sahihnya dapat dilihat
dari perkataannya sebagai berikut : “Tidaklah aku mencantumkan sesuatu hadits dalam kitabku ini,
melainkan dengan alasan; juga tiada aku menggugurkan sesuatu hadits daripadanya melainkan
dengan alasan pula.”

Imam Muslim di dalam penulisan Sahihnya tidak membuat judul setiap bab secara terperinci. Adapun
judul-judul kitab dan bab yang kita dapati pada sebagian naskah Sahih Muslim yang sudah dicetak,
sebenarnya dibuat oleh para pengulas yang datang kemudian. Di antara pengulas yang paling baik
membuatkan judul-judul bab dan sistematika babnya adalah Imam Nawawi dalam Syarahnya.

Imam Muslim wafat pada ahad sore, dan dikebumikan di kampung Nasr Abad, salah satu daerah di luar
Naisabur, pada hari Senin, 25 Rajab 261 H. dalam usia 55 tahun.

Disalin dari biografi Imam Muslim dalam Kutubus Sittah Abu Syuhbah 59




                                                           
                                Ibnu Majah (wafat 273 H)
Nama sebenarnya Abu Abdullah Muhammad bin Yazid bin Majah ar-Rabi’i al-Qazwini dari desa
Qazwin, Iran. Lahir tahun 209 dan wafat tahun 273. Beliau adalah muhaddits ulung, mufassir dan
seorang alim. Beliau memiliki beberapa karya diantaranya adalah Kitabus Sunan, Tafsir dan Tarikh
Ibnu Majah.

Ia melakukan perjalanan ke berbagai kota untuk menulis hadits, anatara lain Ray, Basrah, Kufah,
Baghdad, Syam, Mesir dan Hijaz.

Ia menerima hadit dari guru gurunya antara lain Ibn Syaibah, Sahabatnya Malik dan al-Laits. Abu
Ya’la berkata,” Ibnu Majah seorang ahli ilmu hadits dan mempunyai banyak kitab”.

Beliau menyusun kitabnya dengan sistematika fikih, yang tersusun atas 32 kitab dan 1500 bab dan
jumlah haditsnya sekitar 4.000 hadits. Syaikh Muhammad Fuad Abdul Baqi menghitung ada
sebanyak 4241 hadits di dalamnya. Sunan Ibnu Majah ini berisikan hadits yang shahih, hasan, dhaif
bahkan maudhu’. Imam Abul Faraj Ibnul Jauzi mengkritik ada hampir 30 hadits maudhu di dalam
Sunan Ibnu Majah walaupun disanggah oleh as-Suyuthi.

Ibnu Katsir berkata,” Ibnu Majah pengarang kitab Sunan, susunannya itu menunjukan keluasan
ilmunya dalam bidang Usul dan furu’, kitabnya mengandung 30 Kitab; 150 bab, 4.000 hadits,
semuanya baik kecuali sedikit saja”.

Al-Imam al-Bushiri (w. 840) menulis ziadah (tambahan) hadits di dalam Sunan Abu Dawud yang tidak
terdapat di dalam kitabul khomsah (Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan Nasa’i
dan Sunan Tirmidzi) sebanyak 1552 hadits di dalam kitabnya Misbah az-Zujajah fi Zawaid Ibni Majah
serta menunjukkan derajat shahih, hasan, dhaif maupun maudhu’. Oleh karena itu, penelitian terhadap
hadits-hadits di dalamnya amatlah urgen dan penting.

Ia wafat pada tahun 273 H

Disalin dari riwayat Ibnu Majah dalam Tarikh Ibnu Katsir 11: 66,67




                                                              
                               Abu Hatim (Wafat 277 H)
Nama lengkapnya adalah Ahmad bin Idris bin Mundzir bin Daud bin Mihran Abu Hatim al-Hardhaly,
Ia seorang imam hafidh yang kepercayaan serta mengetahui illat illat hadits jarah dan ta’dil.

Ia adalah teman Abu Zur’ah, beliau banyak mendengarkan hadits dan melawat ke berbagai kota. Ia
meriwayatkan hadits dari ulama ulama besar. Ia pernah berkata kepada anaknya Abdurahman :” Hai
anakku, aku telah pernah berjalan kaki lebih dari 1.000 farsakh untuk mencari hadits.”.

Sering ia bercerita dalam majelis kepda para hafidh, ‘barang siapa yang dapat memberikan kepada
saya satu hadits yang belum pernah saya ketahui, maka saya sedekahkan satu dirham’. Maka tidak
seorangpun yang dapat mengemukakan kepadanya suatu hadits yang belum dihapal oleh beliau.
Padahal yang hadir terdapat Abu Zur’ah.

Ulama hadist mengakui ketinggian ilmu beliau dalam ilmu hadits beserta illat illatnya. Al Hakim
menggolongkan dia kedalam golongan fuqaha hadits.

Ia wafat pada tahun 277 H

Disalin dari riwayat Abu Hatim dalam Tarikh Ibnu Katsir 11:59




                                                                
                                Abu Zur’ah (wafat 264 H)
Nama sebenarnya adalah Abdulah bi Abdul Karim, seorang hafidh besar yang terkenal, teman
temannya mengakui kelebihannya dalam ilmu hadits, Abu Zur’ah seorang penghapal hadits dan
seorang yang mendhabitkannya.

Diriwayatkan oleh al-Hakim dalam kitabnya Ma’rifatu Ulumil Hadits, bahwa diwaktu Qutaibah bin
Sa’ad pergi ke Rai, penduduknya meminta kepadanya.agar mengeluarkan hadits, Maka Qutaibah
menolak dan berkata,” Apakah yang aku riwayatkan kepada kamu sesudah majlisku dihadiri Ahmad
ibn Hanbal, Yahya ibn Ma’in, Ali ibn Mahdy, Abu Bakar ibn Abi Syainah dan Abu Khuzaimah?”.

Mereka berkata kepadanya : disini ada seorang pemuda yang dapat menyebutkan segala apa yang telah
anda riwayatkan dari majlis ke majlis, maka Abu Zur’ah pun menyebut hadits satu per satu.

Al-Hakim menggolongkan beliau ini ke dalam golongan fuqaha hadits.

Ia wafat pada tahun 264 H.

Disalin dari riwayat Abu Zur’ah dalam Tarikh Ibnu Katsir 11:37




                                                                 
                                 Imam Abu Dawud
Beliau lahir sebagai seorang ahli urusan hadits, juga dalam masalah fiqh dan ushul serta masyhur akan
kewara’annya dan kezuhudannya. Kefaqihan beliau terlihat ketika mengkritik sejumlah hadits yang
bertalian dengan hukum, selain itu terlihat dalam penjelasan bab-bab fiqih atas sejumlah karyanya,
seperti Sunan Abu Dawud.

Al-Imam al-Muhaddist Abu Dawud lahir pada tahun 202 H dan wafat pada tahun 275 H di Bashrah.
Sepanjang sejarah telah muncul para pakar hadist yang berusaha menggali makna hadist dalam
berbagai sudut pandang dengan metoda pendekatan dan sistem yang berbeda, sehingga dengan upaya
yang sangat berharga itu mereka telah membuka jalan bagi generasi selanjutnya guna memahami as-
Sunnah dengan baik dan benar.

Di samping itu, mereka pun telah bersusah payah menghimpun hadits-hadits yang dipersilisihkan dan
menyelaraskan di antara hadits yang tampak saling menyelisihi. Hal tersebut dilakukan untuk menjaga
kewibawaan dari hadits dan sunnah secara umum. Abu Muhammad bin Qutaibah (wafat 267 H) dengan
kitab beliau Ta’wil Mukhtalaf al-Hadits telah membatah habis pandangan kaum Mu’tazilah yang
mempertentangkan beberapa hadits dengan al-Quran maupun dengan rasio mereka.

Selanjutnya upaya untuk memilahkan hadits dari khabar-khabar lainnya yang merupakan hadits palsu
maupun yang lemah terus dilanjutkan sampai dengan kurun al-Imam Bukhari dan beberapa penyusun
sunan dan lainnya. Salah satu kitab yang terkenal adalah yang disusun oleh Imam Abu Dawud yaitu
sunan Abu Dawud. Kitab ini memuat 4800 hadits terseleksi dari 50.000 hadits.

Beliau sudah berkecimpung dalam bidang hadits sejak berusia belasan tahun. Hal ini diketahui
mengingat pada tahun 221 H, beliau sudah berada di baghdad. Kemudian mengunjungi berbagai negeri
untuk memetik langsung ilmu dari sumbernya. Beliau langsung berguru selama bertahun-tahun.
Diantara guru-gurunya adalah Imam Ahmad bin Hambal, al-Qa’nabi, Abu Amr adh-Dhariri, Abu
Walid ath-Thayalisi, Sulaiman bin Harb, Abu Zakariya Yahya bin Ma’in, Abu Khaitsamah, Zuhair bin
Harb, ad-Darimi, Abu Ustman Sa’id bin Manshur, Ibnu Abi Syaibah dan lain-lain.

Sebagai ahli hukum, Abu Dawud pernah berkata: Cukuplah manusia dengan empat hadist, yaitu:
Sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung niatnya; termasuk kebagusan Islam seseorang adalah
meninggalkan apa yang tidak bermanfaat; tidaklah keadaan seorang mukmin itu menjadi mukmin,
hingga ia ridho terhadap saudaranya apa yang ia ridho terhadap dirinya sendiri; yang halal sudah jelas
dan yang harampun sudah jelas pula, sedangkan diantara keduanya adalah syubhat.

Beliau menciptakan karya-karya yang bermutu, baik dalam bidang fiqh, ushul,tauhid dan terutama
hadits. Kitab sunan beliaulah yang paling banyak menarik perhatian, dan merupakan salah satu diantara
kompilasi hadits hukum yang paling menonjol saat ini. Tentang kualitasnya ini Ibnul Qoyyim al-
Jauziyyah berkata: Kitab sunannya Abu Dawud Sulaiman bin Asy’ats as-sijistani rahimahullah adalah
kitab Islam yang topiknya tersebut Allah telah mengkhususkan dia dengan sunannya, di dalam banyak
pembahasan yang bisa menjadi hukum diantara ahli Islam, maka kepadanya hendaklah para mushannif
mengambil hukum, kepadanya hendaklah para muhaqqiq merasa ridho, karena sesungguhnya ia telah
mengumpulkan sejumlah hadits ahkam, dan menyusunnya dengan sebagus-bagus susunan, serta
mengaturnya dengan sebaik-baik aturan bersama dengan kerapnya kehati-hatian sikapnya dengan
membuang sejumlah hadits dari para perawi majruhin dan dhu’afa. Semoga Allah melimpahkan rahmat
atas mereka dan mem- berikannya pula atas para pelanjutnya.




                                                   
                     Imam At-Tirmidzi (209-279 H)
Nama lengkapnya adalah Imam al-Hafidz Abu ‘Isa Muhammad bin ‘Isa bin Saurah bin Musa bin ad-
Dahhak As-Sulami at-Tirmidzi, salah seorang ahli hadits kenamaan, dan pengarang berbagai kitab
yang masyur lahir pada 279 H di kota Tirmiz.

Perkembangan dan Perjalanannya

Kakek Abu ‘Isa at-Tirmidzi berkebangsaan Mirwaz, kemudian pindah ke Tirmiz dan menetap di sana.
Di kota inilah cucunya bernama Abu ‘Isa dilahirkan. Semenjak kecilnya Abu ‘Isa sudah gemar
mempelajari ilmu dan mencari hadits. Untuk keperluan inilah ia mengembara ke berbagai negeri:
Hijaz, Irak, Khurasan dan lain-lain. Dalam perlawatannya itu ia banyak mengunjungi ulama-ulama
besar dan guru-guru hadits untuk mendengar hadits yang kem dihafal dan dicatatnya dengan baik di
perjalanan atau ketika tiba di suatu tempat. Ia tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan tanpa
menggunakannya dengan seorang guru di perjalanan menuju Makkah. Kisah ini akan diuraikan lebih
lanjut.

Setelah menjalani perjalanan panjang untuk belajar, mencatat, berdiskusi dan tukar pikiran serta
mengarang, ia pada akhir kehidupannya mendapat musibah kebutaan, dan beberapa tahun lamanya ia
hidup sebagai tuna netra; dalam keadaan seperti inilah akhirnya at-Tirmidzi meninggal dunia. Ia wafat
di Tirmiz pada malam Senin 13 Rajab tahun 279 H dalam usia 70 tahun.

Guru-gurunya

Ia belajar dan meriwayatkan hadits dari ulama-ulama kenamaan. Di antaranya adalah Imam Bukhari,
kepadanya ia mempelajari hadits dan fiqh. Juga ia belajar kepada Imam Muslim dan Abu Dawud.
Bahkan Tirmidzi belajar pula hadits dari sebagian guru mereka.

Guru lainnya ialah Qutaibah bin Saudi Arabia’id, Ishaq bin Musa, Mahmud bin Gailan. Said bin
‘Abdur Rahman, Muhammad bin Basysyar, ‘Ali bin Hajar, Ahmad bin Muni’, Muhammad bin al-
Musanna dan lain-lain.

Murid-muridnya

Hadits-hadits dan ilmu-ilmunya dipelajari dan diriwayatkan oleh banyak ulama. Di antaranya ialah
Makhul ibnul-Fadl, Muhammad binMahmud ‘Anbar, Hammad bin Syakir, ‘Ai-bd bin Muhammad an-
Nasfiyyun, al-Haisam bin Kulaib asy-Syasyi, Ahmad bin Yusuf an-Nasafi, Abul-‘Abbas Muhammad
bin Mahbud al-Mahbubi, yang meriwayatkan kitab Al-Jami’ daripadanya, dan lain-lain.

Kekuatan Hafalannya

Abu ‘Isa aat-Tirmidzi diakui oleh para ulama keahliannya dalam hadits, kesalehan dan ketakwaannya.
Ia terkenal pula sebagai seorang yang dapat dipercaya, amanah dan sangat teliti. Salah satu bukti
kekuatan dan cepat hafalannya ialah kisah berikut yang dikemukakan oleh al-Hafiz Ibnu Hajar dalam
Tahzib at-Tahzib-nya, dari Ahmad bin ‘Abdullah bin Abu Dawud, yang berkata:

“Saya mendengar Abu ‘Isa at-Tirmidzi berkata: Pada suatu waktu dalam perjalanan menuju Makkah,
dan ketika itu saya telah menuslis dua jilid berisi hadits-hadits yang berasal dari seorang guru. Guru
tersebut berpapasan dengan kami. Lalu saya bertanya-tanya mengenai dia, mereka menjawab bahwa
dialah orang yang kumaksudkan itu. Kemudian saya menemuinya. Saya mengira bahwa “dua jilid
kitab” itu ada padaku. Ternyata yang kubawa bukanlah dua jilid tersebut, melainkan dua jilid lain yang
mirip dengannya. Ketika saya telah bertemu dengan dia, saya memohon kepadanya untuk mendengar
hadits, dan ia mengabulkan permohonan itu. Kemudian ia membacakan hadits yang dihafalnya. Di
sela-sela pembacaan itu ia mencuri pandang dan melihat bahwa kertas yang kupegang masih putih
bersih tanpa ada tulisan sesuatu apa pun. Demi melihat kenyataan ini, ia berkata: ‘Tidakkah engkau
malu kepadaku?’ lalu aku bercerita dan menjelaskan kepadanya bahwa apa yang ia bacakan itu telah
kuhafal semuanya. ‘Coba bacakan!’ suruhnya. Lalu aku pun membacakan seluruhnya secara beruntun.
Ia bertanya lagi: ‘Apakah telah engkau hafalkan sebelum datang kepadaku?’ ‘Tidak,’ jawabku.
Kemudian saya meminta lagi agar dia meriwayatkan hadits yang lain. Ia pun kemudian membacakan
empat puluh buah hadits yang tergolong hadits-hadits yang sulit atau garib, lalu berkata: ‘Coba ulangi
apa yang kubacakan tadi,’ Lalu aku membacakannya dari pertama sampai selesai; dan ia berkomentar:
‘Aku belum pernah melihat orang seperti engkau.”

Pandangan Para Kritikus Hadits Terhadapnya

Para ulama besar telah memuji dan menyanjungnya, dan mengakui akan kemuliaan dan keilmuannya.
Al-Hafiz Abu Hatim Muhammad ibn Hibban, kritikus hadits, menggolangkan Tirmidzi ke dalam
kelompok “Siqat” atau orang-orang yang dapat dipercayai dan kokoh hafalannya, dan berkata:
“Tirmidzi adalah salah seorang ulama yang mengumpulkan hadits, menyusun kitab, menghafal hadits
dan bermuzakarah (berdiskusi) dengan para ulama.”Abu Ya’la al-Khalili dalam kitabnya ‘Ulumul
Hadits menerangkan; Muhammad bin ‘Isa at-Tirmidzi adalah seorang penghafal dan ahli hadits yang
baik yang telah diakui oleh para ulama. Ia memiliki kitab Sunan dan kitab Al-Jarh wat-Ta’dil. Hadits-
haditsnya diriwayatkan oleh Abu Mahbub dan banyak ulama lain. Ia terkenal sebagai seorang yang
dapat dipercaya, seorang ulama dan imam yang menjadi ikutan dan yang berilmu luas. Kitabnya Al-
Jami’us Sahih sebagai bukti atas keagungan derajatnya, keluasan hafalannya, banyak bacaannya dan
pengetahuannya tentang hadits yang sangat mendalam.

Fiqh Tirmidzi dan Ijtihadnya

Imam Tirmidzi, di samping dikenal sebagai ahli dan penghafal hadits yang mengetahui kelemahan-
kelemahan dan perawi-perawinya, ia juga dikenal sebagai ahli fiqh yang mewakili wawasan dan
pandangan luas. Barang siapa mempelajari kitab Jami’nya ia akan mendapatkan ketinggian ilmu dan
kedalaman penguasaannya terhadap berbagai mazhab fikih. Kajian-kajiannya mengenai persoalan fiqh
mencerminkan dirinya sebagai ulama yang sangat berpengalaman dan mengerti betul duduk
permasalahan yang sebenarnya. Salah satu contoh ialah penjelasannya terhadap sebuah hadits
mengenai penangguhan membayar piutang yang dilakukan si berutang yang sudah mampu, sebagai
berikut: “Muhammad bin Basysyar bin Mahdi menceritakan kepada kami Sufyan menceritakan kepada
kami, dari Abi az-Zunad, dari al-A’rai dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam,
bersabda: ‘Penangguhan membayar utang yang dilakukan oleh si berutang) yang mampu adalah suatu
kezaliman. Apabila seseorang di antara kamu dipindahkan utangnya kepada orang lain yang mampu
membayar, hendaklah pemindahan utang itu diterimanya.” Imam Tirmidzi memberikan penjelasan
sebagai berikut: Sebagian ahli ilmu berkata: ” apabila seseorang dipindahkan piutangnya kepada orang
lain yang mampu membayar dan ia menerima pemindahan itu, maka bebaslah orang yang
memindahkan (muhil) itu, dan bagi orang yang dipindahkan piutangnya (muhtal) tidak dibolehkan
menuntut kepada muhil.” Diktum ini adalah pendapat Syafi’i, Ahmad dan Ishaq. Sebagian ahli ilmu
yang lain berkata: “Apabila harta seseorang (muhtal) menjadi rugi disebabkan kepailitan muhal ‘alaih,
maka baginya dibolehkan menuntut bayar kepada orang pertama (muhil).” Mereka memakai alas an
dengan perkataan Usma dan lainnya, yang menegaskan: “Tidak ada kerugian atas harta benda seorang
Muslim.” Menurut Ishak, maka perkataan “Tidak ada kerugian atas harta benda seorang Muslim” ini
adalah “Apabila seseorang dipindahkan piutangnya kepada orang lain yang dikiranya mampu, namun
ternyata orang lain itu tidak mampu, maka tidak ada kerugian atas harta benda orang Muslim (yang
dipindahkan utangnya) itu.”

Itulah salah satu contoh yang menunjukkan kepada kita, bahwa betapa cemerlangnya pemikiran fiqh
Tirmidzi dalam memahami nas-nas hadits, serta betapa luas dan orisinal pandangannya itu.

Karya-karyanya

Imam Tirmidzi banyak menulis kitab-kitab. Di antaranya: 1. Kitab Al-Jami’, terkenal dengan sebutan
Sunan at-Tirmidzi. 2. Kitab Al-‘Ilal. 3. Kitab At-Tarikh. 4. Kitab Asy-Syama’il an-Nabawiyyah. 5.
Kitab Az-Zuhd. 6. Kitab Al-Asma’ wal-kuna. Di antara kitab-kitab tersebut yang paling besar dan
terkenal serta beredar luas adalah Al-Jami’.
Sekilas tentang Al-Jami’

Kitab ini adalah salah satu kitab karya Imam Tirmidzi terbesar dan paling banyak manfaatnya. Ia
tergolonga salah satu “Kutubus Sittah” (Enam Kitab Pokok Bidang Hadits) dan ensiklopedia hadits
terkenal. Al-Jami’ ini terkenal dengan nama Jami’ Tirmidzi, dinisbatkan kepada penulisnya, yang juga
terkenal dengan nama Sunan Tirmidzi. Namun nama pertamalah yang popular.

Sebagian ulama tidak berkeberatan menyandangkan gelar as-Sahih kepadanya, sehingga mereka
menamakannya dengan Sahih Tirmidzi. Sebenarnya pemberian nama ini tidak tepat dan terlalu
gegabah.

Setelah selesai menyususn kitab ini, Tirmidzi memperlihatkan kitabnya kepada para ulama dan mereka
senang dan menerimanya dengan baik. Ia menerangkan: “Setelah selesai menyusun kitab ini, aku
perlihatkan kitab tersebut kepada ulama-ulama Hijaz, Irak dan Khurasan, dan mereka semuanya
meridhainya, seolah-olah di rumah tersebut ada Nabi yang selalu berbicara.”

Imam Tirmidzi di dalam Al-Jami’-nya tidak hanya meriwayatkan hadits sahih semata, tetapi juga
meriwayatkan hadits-hadits hasan, da’if, garib dan mu’allal dengan menerangkan kelemahannya.

Dalam pada itu, ia tidak meriwayatkan dalam kitabnya itu, kecuali hadits-hadits yang diamalkan atau
dijadikan pegangan oleh ahli fiqh. Metode demikian ini merupakan cara atau syarat yang longgar. Oleh
karenanya, ia meriwayatkan semua hadits yang memiliki nilai demikian, baik jalan periwayatannya itu
sahih ataupun tidak sahih. Hanya saja ia selalu memberikan penjelasan yang sesuai dengan keadaan
setiap hadits.

Diriwayatkan, bahwa ia pernah berkata: “Semua hadits yang terdapat dalam kitab ini adalah dapat
diamalkan.” Oleh karena itu, sebagian besar ahli ilmu menggunakannya (sebagai pegangan), kecuali
dua buah hadits, yaitu: Pertama, yang artinya: “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam
menjamak shalat Zuhur dengan Asar, dan Maghrib dengan Isya, tanpa adanya sebab “takut” dan
“dalam perjalanan.”

“Jika ia peminum khamar, minum lagi pada yang keempat kalinya, maka bunuhlah dia.” Hadits ini
adalah mansukh dan ijma ulama menunjukan demikian. Sedangkan mengenai shalat jamak dalam
hadits di atas, para ulama berbeda pendapat atau tidak sepakat untuk meninggalkannya. Sebagian besar
ulama berpendapat boleh (jawaz) hukumnya melakukan salat jamak di rumah selama tidak dijadikan
kebiasaan. Pendapat ini adalah pendapat Ibnu Sirin dan Asyab serta sebagian besar ahli fiqh dan ahli
hadits juga Ibnu Munzir.

Hadits-hadits da’if dan munkar yang terdapat dalam kitab ini, pada umumnya hanya menyangkut
fada’il al-a’mal (anjuran melakukan perbuatan-perbuatan kebajikan). Hal itu dapat dimengerti karena
persyaratan-persyaratan bagi (meriwayatkan dan mengamalkan) hadits semacam ini lebih longgar
dibandingkan dengan persyaratan bagi hadits-hadits tentang halal dan haram.

Disalin dari Biografi Tirmidzi dalam Kutubus Sittah;Abu Syuhbah no.83




                                                             
                        Imam al-Nasa’i (215-303 H)
Nama lengkap Imam al-Nasa’i adalah Abu Abd al-Rahman Ahmad bin Ali bin Syuaib bin Ali bin
Sinan bin Bahr al-khurasani al-Qadi. Lahir di daerah Nasa’ pada tahun 215 H. Ada juga sementara
ulama yang mengatakan bahwa beliau lahir pada tahun 214 H. Beliau dinisbahkan kepada daerah Nasa’
(al-Nasa’i), daerah yang menjadi saksi bisu kelahiran seorang ahli hadis kaliber dunia. Beliau berhasil
menyusun sebuah kitab monumental dalam kajian hadis, yakni al-Mujtaba’ yang di kemudian hari
kondang dengan sebutan Sunan al-Nasa’i.

Pengembaraan intelektual

Pada awalnya, beliau tumbuh dan berkembang di daerah Nasa’. Beliau berhasil menghafal al-Qur’an di
Madrasah yang ada di desa kelahirannya. Beliau juga banyak menyerap berbagai disiplin ilmu
keagamaan dari para ulama di daerahnya. Saat remaja, seiring dengan peningkatan kapasitas
intelektualnya, beliaupun mulai gemar melakukan lawatan ilmiah ke berbagai penjuru dunia. Apalagi
kalau bukan untuk guna memburu ilmu-ilmu keagamaan, terutama disiplin hadis dan ilmu Hadis.

Belum genap usia 15 tahun, beliau sudah melakukan mengembar ke berbagai wilayah Islam, seperti
Mesir, Hijaz, Iraq, Syam, Khurasan, dan lain sebagainya. Sebenarnya, lawatan intelektual yang
demikian, bahkan dilakukan pada usia dini, bukan merupakan hal yang aneh dikalangan para Imam
Hadis. Semua imam hadis, terutama enam imam hadis, yang biografinya banyak kita ketahui, sudah
gemar melakukan perlawatan ilmiah ke berbagai wilayah Islam semenjak usia dini. Dan itu merupakan
ciri khas ulama-ulama hadis, termasuk Imam al-Nasa’i.

Kemampuan intelektual Imam al-Nasa’i menjadi kian matang dan berisi dalam masa
pengembaraannya. Namun demikian, awal proses pembelajarannya di daerah Nasa’ tidak bisa
dikesampingkan begitu saja, karena justru di daerah inilah, beliau mengalami proses pembentukan
intelektual, sementara masa pengembaraannya dinilai sebagai proses pematangan dan perluasan
pengetahuan.

Guru dan murid

Seperti para pendahulunya: Imam al-Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, dan Imam al-
Tirmidzi, Imam al-Nasa’i juga tercatat mempunyai banyak pengajar dan murid. Para guru beliau yang
nama harumnya tercatat oleh pena sejarah antara lain; Qutaibah bin Sa’id, Ishaq bin Ibrahim, Ishaq bin
Rahawaih, al-Harits bin Miskin, Ali bin Kasyram, Imam Abu Dawud (penyusun Sunan Abi Dawud),
serta Imam Abu Isa al-Tirmidzi (penyusun al-Jami’/Sunan al-Tirmidzi).

Sementara murid-murid yang setia mendengarkan fatwa-fatwa dan ceramah-ceramah beliau, antara
lain; Abu al-Qasim al-Thabarani (pengarang tiga buku kitab Mu’jam), Abu Ja’far al-Thahawi, al-Hasan
bin al-Khadir al-Suyuti, Muhammad bin Muawiyah bin al-Ahmar al-Andalusi, Abu Nashr al-Dalaby,
dan Abu Bakrbin Ahmad al-Sunni. Nama yang disebut terakhir, disamping sebagai murid juga tercatat
sebagai “penyambung lidah” Imam al-Nasa’i dalam meriwayatkan kitab Sunan al-Nasa’i.

Sudah mafhum dikalangan peminat kajian hadis dan ilmu hadis, para imam hadis merupakan sosok
yang memiliki ketekunan dan keuletan yang patut diteladani. Dalam masa ketekunannya inilah, para
imam hadis kerap kali menghasilkan karya tulis yang tak terhingga nilainya.

Tidak ketinggalan pula Imam al-Nasa’i. Karangan-karangan beliau yang sampai kepada kita dan telah
diabadikan oleh pena sejarah antara lain; al-Sunan al-Kubra, al-Sunan al-Sughra (kitab ini merupakan
bentuk perampingan dari kitab al-Sunan al-Kubra), al-Khashais, Fadhail al-Shahabah, dan al-
Manasik. Menurut sebuah keterangan yang diberikan oleh Imam Ibn al-Atsir al-Jazairi dalam kitabnya
Jami al-Ushul, kitab ini disusun berdasarkan pandangan-pandangan fiqh mazhab Syafi’i.

Kitab al-Mujtaba
Sekarang, karangan Imam al-Nasa’i paling monumental adalah Sunan al-Nasa’i. Sebenarnya, bila
ditelusuri secara seksama, terlihat bahwa penamaan karya monumental beliau sehingga menjadi Sunan
al-Nasa’i sebagaimana yang kita kenal sekarang, melalui proses panjang, dari al-Sunan al-Kubra, al-
Sunan al-Sughra, al-Mujtaba, dan terakhir terkenal dengan sebutan Sunan al-Nasa’i.

Untuk pertama kali, sebelum disebut dengan Sunan al-Nasa’i, kitab ini dikenal dengan al-Sunan al-
Kubra. Setelah tuntas menulis kitab ini, beliau kemudian menghadiahkan kitab ini kepada Amir
Ramlah (Walikota Ramlah) sebagai tanda penghormatan. Amir kemudian bertanya kepada al-Nasa’i,
“Apakah kitab ini seluruhnya berisi hadis shahih?” Beliau menjawab dengan kejujuran, “Ada yang
shahih, hasan, dan adapula yang hampir serupa dengannya”.

Kemudian Amir berkata kembali, “Kalau demikian halnya, maka pisahkanlah hadis yang shahih-shahih
saja”. Atas permintaan Amir ini, beliau kemudian menyeleksi dengan ketat semua hadis yang telah
tertuang dalam kitab al-Sunan al-Kubra. Dan akhirnya beliau berhasil melakukan perampingan
terhadap al-Sunan al-Kubra, sehingga menjadi al-Sunan al-Sughra. Dari segi penamaan saja, sudah
bisa dinilai bahwa kitab yang kedua merupakan bentuk perampingan dari kitab yang pertama.

Imam al-Nasa’i sangat teliti dalam menyeleksi hadis-hadis yang termuat dalam kitab pertama. Oleh
karenanya, banyak ulama berkomentar “Kedudukan kitab al-Sunan al-Sughra dibawah derajat Shahih
al-Bukhari dan Shahih Muslim. Di dua kitab terakhir, sedikit sekali hadis dhaif yang terdapat di
dalamnya”. Nah, karena hadis-hadis yang termuat di dalam kitab kedua (al-Sunan al-Sughra)
merupakan hadis-hadis pilihan yang telah diseleksi dengan super ketat, maka kitab ini juga dinamakan
al-Mujtaba. Pengertian al-Mujtaba bersinonim dengan al-Maukhtar (yang terpilih), karena memang
kitab ini berisi hadis-hadis pilihan, hadis-hadis hasil seleksi dari kitab al-Sunan al-Kubra.

Disamping al-Mujtaba, dalam salah satu riwayat, kitab ini juga dinamakan dengan al-Mujtana. Pada
masanya, kitab ini terkenal dengan sebutan al-Mujtaba, sehingga nama al-Sunan al-Sughra seperti
tenggelam ditelan keharuman nama al-Mujtaba. Dari al-Mujtaba inilah kemudian kitab ini kondang
dengan sebutan Sunan al-Nasa’i, sebagaimana kita kenal sekarang. Dan nampaknya untuk selanjutnya,
kitab ini tidak akan mengalami perubahan nama seperti yang terjadi sebelumnya.

Kritik Ibn al-Jauzy

Kita perlu menilai jawaban Imam al-Nasa’i terhadap pertanyaan Amir Ramlah secara kritis, dimana
beliau mengatakan dengan sejujurnya bahwa hadis-hadis yang tertuang dalam kitabnya tidak semuanya
shahih, tapi adapula yang hasan, dan ada pula yang menyerupainya. Beliau tidak mengatakan bahwa
didalamnya terdapat hadis dhaif (lemah) atau maudhu (palsu). Ini artinya beliau tidak pernah
memasukkan sebuah hadispun yang dinilai sebagai hadis dhaif atau maudhu’, minimal menurut
pandangan beliau.

Apabila setelah hadis-hadis yang ada di dalam kitab pertama diseleksi dengan teliti, sesuai permintaan
Amir Ramlah supaya beliau hanya menuliskan hadis yang berkualitas shahih semata. Dari sini bisa
diambil kesimpulan, apabila hadis hasan saja tidak dimasukkan kedalam kitabnya, hadis yang
berkualitas dhaif dan maudhu’ tentu lebih tidak berhak untuk disandingkan dengan hadis-hadis shahih.

Namun demikian, Ibn al-Jauzy pengarang kitab al Maudhuat (hadis-hadis palsu), mengatakan bahwa
hadis-hadis yang ada di dalam kitab al-Sunan al-Sughra tidak semuanya berkualitas shahih, namun ada
yang maudhu’ (palsu). Ibn al-Jauzy menemukan sepuluh hadis maudhu’ di dalamnya, sehingga
memunculkan kritik tajam terhadap kredibilitas al-Sunan al-Sughra. Seperti yang telah disinggung
dimuka, hadis itu semua shahih menurut Imam al-Nasa’i. Adapun orang belakangan menilai hadis
tersebut ada yang maudhu’, itu merupakan pandangan subyektivitas penilai. Dan masing-masing orang
mempunyai kaidah-kaidah mandiri dalam menilai kualitas sebuah hadis. Demikian pula kaidah yang
ditawarkan Imam al-Nasa’i dalam menilai keshahihan sebuah hadis, nampaknya berbeda dengan
kaidah yang diterapkan oleh Ibn al-Jauzy. Sehingga dari sini akan memunculkan pandangan yang
berbeda, dan itu sesuatu yang wajar terjadi. Sudut pandang yang berbeda akan menimbulkan
kesimpulan yang berbeda pula.
Kritikan pedas Ibn al-Jauzy terhadap keautentikan karya monumental Imam al-Nasa’i ini, nampaknya
mendapatkan bantahan yang cukup keras pula dari pakar hadis abad ke-9, yakni Imam Jalal al-Din al-
Suyuti, dalam Sunan al-Nasa’i, memang terdapat hadis yang shahih, hasan, dan dhaif. Hanya saja
jumlahnya relatif sedikit. Imam al-Suyuti tidak sampai menghasilkan kesimpulan bahwa ada hadis
maudhu’ yang termuat dalam Sunan al-Nasa’i, sebagaimana kesimpulan yang dimunculkan oleh Imam
Ibn al-Jauzy. Adapun pendapat ulama yang mengatakan bahwah hadis yang ada di dalam kitab Sunan
al-Nasa’i semuanya berkualitas shahih, ini merupakan pandangan yang menurut Muhammad Abu
Syahbah_tidak didukung oleh penelitian mendalam dan jeli. Kecuali maksud pernyataan itu bahwa
mayoritas (sebagian besar) isi kitab Sunan al-Nasa’i berkualitas shahih.

Komentar Ulama

Imam al-Nasa’i merupakan figur yang cermat dan teliti dalam meneliti dan menyeleksi para periwayat
hadis. Beliau juga telah menetapkan syarat-syarat tertentu dalam proses penyeleksian hadis-hadis yang
diterimanya. Abu Ali al-Naisapuri pernah mengatakan, “Orang yang meriwayatkan hadis kepada kami
adalah seorang imam hadis yang telah diakui oleh para ulama, ia bernama Abu Abd al Rahman al-
Nasa’i.”

Lebih jauh lagi Imam al-Naisapuri mengatakan, “Syarat-syarat yang ditetapkan al-Nasa’i dalam
menilai para periwayat hadis lebih ketat dan keras ketimbang syarat-syarat yang digunakan Muslim bin
al-Hajjaj.” Ini merupakan komentar subyektif Imam al-Naisapuri terhadap pribadi al-Nasa’i yang
berbeda dengan komentar ulama pada umumnya. Ulama pada umumnya lebih mengunggulkan
keketatan penilaian Imam Muslim bin al-Hajjaj ketimbang al-Nasa’i. Bahkan komentar mayoritas
ulama ini pulalah yang memposisikan Imam Muslim sebagai pakar hadis nomer dua, sesudah al-
Bukhari.

Namun demikian, bukan berarti mayoritas ulama merendahkan kredibilitas Imam al-Nasa’i. Imam al-
Nasa’i tidak hanya ahli dalam bidang hadis dan ilmu hadis, namun juga mumpuni dalam bidang figh.
Al-Daruquthni pernah mengatakan, beliau adalah salah seorang Syaikh di Mesir yang paling ahli dalam
bidang figh pada masanya dan paling mengetahui tentang Hadis dan para rawi. Al-Hakim Abu
Abdullah berkata, “Pendapat-pendapat Abu Abd al-Rahman mengenai fiqh yang diambil dari hadis
terlampau banyak untuk dapat kita kemukakan seluruhnya. Siapa yang menelaah dan mengkaji kitab
Sunan al-Nasa’i, ia akan terpesona dengan keindahan dan kebagusan kata-katanya.”

Tidak ditemukan riwayat yang jelas tentang afiliansi pandangan fiqh beliau, kecuali komentar singkat
Imam Madzhab Syafi’i. Pandangan Ibn al-Atsir ini dapat dimengerti dan difahami, karena memang
Imam al-Nasa’i lama bermukim di Mesir, bahkan merasa cocok tinggal di sana. Beliau baru berhijrah
dari Mesir ke Damsyik setahun menjelang kewafatannya.

Karena Imam al-Nasa’i cukup lama tinggal di Mesir, sementara Imam al-Syafi’i juga lama
menyebarkan pandangan-pandangan fiqhnya di Mesir (setelah kepindahannya dari Bagdad), maka
walaupun antara keduanya tidak pernah bertemu, karena al-Nasa’i baru lahir sebelas tahun setelah
kewafatan Imam al-Syafi’i, tidak menutup kemungkinan banyak pandangan-pandangan fiqh Madzhab
Syafi’i yang beliau serap melalui murid-murid Imam al-Syafi’i yang tinggal di Mesir. Pandangan fiqh
Imam al-Syafi’i lebih tersebar di Mesir ketimbang di Baghdad. Hal ini lebih membuka peluang bagi
Imam al-Nasa’i untuk bersinggungan dengan pandangan fiqh Syafi’i. Dan ini akan menguatkan dugaan
Ibn al-Atsir tentang afiliasi mazhab fiqh al-Nasa’i.

Pandangan Syafi’i di Mesir ini kemudian dikenal dengan qaul jadid (pandangan baru). Dan ini
seandainya dugaan Ibn al-Atsir benar, mengindikasikan bahwa pandangan fiqh Syafi’i dan al-Nasa’i
lebih didominasi pandangan baru (Qaul Jadid, Mesir) ketimbang pandangan klasik (Qaul Qadim,
Baghdad).

Namun demikian, tidak menutup kemungkinan bahwa Imam al-Nasa’i merupakan sosok yang
berpandangan netral, tidak memihak salah satu pandangan mazhab fiqh manapun, termasuk pandangan
Imam al-Syafi’i. Hal ini seringkali terjadi pada imam-imam hadis sebelum al-Nasa’i, yang hanya
berafiliasi pada mazhab hadis. Dan independensi pandangan ini merupakan ciri khas imam-imam
hadis. Oleh karena itu, untuk mengklaim pandangan Imam al-Nasa’i telah terkontaminasi oleh
pandangan orang lain, kita perlu menelusuri sumber sejarah yang konkrit, bukannya hanya berdasarkan
dugaan.

Tutup Usia

Setahun menjelang kemangkatannya, beliau pindah dari Mesir ke Damsyik. Dan tampaknya tidak ada
konsensus ulama tentang tempat meninggal beliau. Al-Daruqutni mengatakan, beliau di Makkah dan
dikebumikan diantara Shafa dan Marwah. Pendapat yang senada dikemukakan oleh Abdullah bin
Mandah dari Hamzah al-’Uqbi al-Mishri.

Sementara ulama yang lain, seperti Imam al-Dzahabi, menolak pendapat tersebut. Ia mengatakan,
Imam al-Nasa’i meninggal di Ramlah, suatu daerah di Palestina. Pendapat ini didukung oleh Ibn
Yunus, Abu Ja’far al-Thahawi (murid al-Nasa’i) dan Abu Bakar al-Naqatah. Menurut pandangan
terakhir ini, Imam al-Nasa’i meninggal pada tahun 303 H dan dikebumikan di Bait al-Maqdis,
Palestina. Inna lillah wa Inna Ilai Rajiun. Semoga jerih payahnya dalam mengemban wasiat
Rasullullah guna menyebarluaskan hadis mendapatkan balasan yang setimpal di sisi Allah. Amiiin.




                                                 
        8.Generasi berikutnya : orang-orang
         generasi berikutnya yang berjalan di
                jalan mereka adalah:


                 Ibnu Jarir Ath Thabary (Wafat 310 H)
Nama sebenarnya adalah Abu Ja’far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Khalib ath Thabary,
Ia dilahirkan pada tahun 224 H, berdiam di baghdad dan wafat juga di situ.

Beliau dimasukan ke dalam generasi at Turmidzi dan Nasa’iy, beliau mendengar dari guru gurunya al-
Bukhary dan Muslim dan lain lainnya, hadits haditsnya diriwayatkan oleh banyak ulama hadist lainnya.

Beliau dipandang sebagai Imam besar yang dipegangi pendapatnya, baliau mengetahui segala macam
Qiraat, mengetahui makna makna al-Quran dan hukum hukumnya, juga mempunyai ilmu yang
mendalam dalam bidang sunnah, pendapat pendapat sahabat, tabi’in dan ulama ulama sesudahnya.
Diantara karangannya yang termasyur adalah Kitab Tarikhbul umam wal muluk dan sebuah kitab tafsir
Jamiul bayan.

Dan sebuah kitabnya lagi yaitu Tahdzibul atsar, dalam kitab ini dikemukakan hadist beserta illat
illatnya, jalan jalannya, hukum hukum yang dikandungnnya, serta ikhtilafu fuqaha dan dalil dalilnya
dan diterangkan pula dari segi bahasa. Hanya sayang kitab ini tidak sempurna dikerjakan. Yang sudah
dikerjakan Musnad Ibnu abbas. Kitab ini adalah kitab terbaik dari kitab kitabnya.

Ia wafat pada tahun 310 H di Baghdad.

Disalin riwayat ibnu Jarir dalam Tarikh Ibnu Katsir 11




                                                         
                         Ibnu Khuzaimah (Wafat 311H)
Nama sebenarnya adalah Muhammad bin Ishaq Abu Bakar bin Khuzaimah an Naisabury, ia seorang
imam besar yang melawat ke berbagai kota untuk mencari hadist, beliau pergi ke Ray, Baghdad,
Basrah, Kufah, Syam, Jazirah, Mesir dan Wasith.

Ia mendengar hadits dari banyak ulama diantara mereka adalah Ishaq bin Rahawaih, Muhammad bin
Humaid, ar-Razy. Akan tetapi ia tidak meriwayatkan hadits hadits yang mereka dengan dari mereka itu,
akan tetapi ia meriwayatkan dari Abu Qudamah, dan diantara hadits yang diriwayatkan dari al Bukhari
dan Muslim dan diluar dari Ash Shahih.

Beliau sangat berhati hati dalam meriwayatkan hadits, kadang kadang ia meninggalkan hadits karena
ada catatan pada sanadnya.

Ar-Rabi’ bin Sulaiman berkata,” Kami lebih banyak memperoleh ilmu dari Ibnu Khuzaimah daripada
yang ia diperoleh dari kami”.

Ad Daraquthny berkata,” Ibnu Khuzaimah seorang Imam yang kuat hapalannya dan tak ada
bandingannya”.

Al Hakim menggolongkan ia ke dalam golongan fuqaha hadits, ia banyak mempunyai kitab dan beliau
mempunyai sebuah kitab ash Shahih yang terletak dibawah Shahih Muslim.

Ia wafat pada tahun 311 H

Disalin dari Biografi Ibnu Khuzaimah dalam ath Thabaqul Qubra Ibn Sa’ad no 2/130




                                                            
                   Muhammad bin Sa’ad (wafat 230 H)
Nama sebenarnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin sa’ad bin Mani’ al-Quraisy al Bashri al
Baghdadi, ia seorang imam penghapal hadits dan seorang ahli fiqh sejarah yang kepercayaan (Tsiqah),
ia dilahirkan di Bashrah pada tahun 168 H.

Ia meriwayatkan hadits dari Muhammad bin Umar al Waqidy, Ibnu Ulaiyah, Sufyan bin Uyainah,
Yazid bin Harun al washiti, Ubaidullah bin Musa al Abbasy dan Abu Nu’aim al Fadhal, Ibnu Dikkin al
Kufiyah dan dari ulama ulama di Bashrah, Kufah, Wasith, Baghdad, Makkah, Madinah, Syam, Yaman,
Mesir, dan lain lainnya.

Diantara orang yang meriwayatkan hadits daripadanya adalah Musa’ab az Zubairiy, al Harits
Muhammad bin Abi Usamah pengarang musnad, Ahmad Ibnu Ubaid al Hasyimy, Ahmad bin Yahya
bin Jarir al Balazdariy Pengarang kitab Futuhul Buldan, Abu Bakar Abdullah bin Muhammad terkenal
dengan nama Ibnu Abud Dunya dan al Husain bin Muhammad yang meriwayatkan ath Thabaqatul
Kubra daripadanya.

Diantara kitab yang terpenting adalah ath Thabaqatul Kabier, yang didalamnya dijelaskan kisah kisah
nabi nabi terdahulu istimewa Nabi kita Muhammad Shallallahu alaihi wassalam sebagai pendahuluan
bagi sejarah sejarah rasul dan peperangan peperangan yang beliau lakukan diterangkan dalam Sirah
Nabawiyah, setelah itu barulah diterangkan Thabaqat para Sahabat, Tabi’in dan orang orang sesudah
merekasampai kepada masa Sa’ad sendiri.

Hanya saja tidak semua riwayat yang terdapat didalamnyakuat, ada yang diantaranya Maqtu’ atau
Mursal, namun demikian kitab itu menjadi sumber peganganbagi para ulama ulama yang datang
kemudian.

Ia wafat pada tahun 230 H di Baghdad.

Disalin dari rinkasan biografi Muhammad bin Sa’ad dalam Muqaddimah ath Thabaqatul Kubra.




                                                           
                          Ad Daraquthny (Wafat 385 H)
Nama sebenarnya adalah Ali bin Umar bin Ahmad bin Maddy, seorang hafidh besar dan seorang
amirul mukminin fii hadits.

Beliau banyak mendengar hadits dan banyak mengarang kitab dalam bidang hadits, beliau terkenal
sebagai imam di masanya dalam jarah dan ta’dil, ia mempunya sebuah kitab yang bernama Al-Ilzamat
yang merupakan kitab al-Istidrak bagi Shahih al-Bukhary dan Shahih Muslim.

Juga ia mempunya kitab yang bernama as Sunan yang telah dicetak bersama sama Ta’liqat, juga ia
mempunyai kitab bernama al-‘Illal.

Abu Jauzy berkata,” Adh Daraquthny menguasai ilmu hadits, Qiraat, Nahwoo, Fiqh dan Siar, dan
beliau orang yang Tsiqah”.

Ia wafat pada tahun 385 H

Disalin dari Riwayat adh Daraquthny dalam Tarikh Ibnu Katsir 11




                                                             
                  Imam ath-Thahawi (239-321 H)
Nama Dan Nasabnya

Beliau adalah Imam Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad bin Salamah bin Abdil Malik al-Azdy
al-Mishri ath-Thahawi.

Al-Azdy adalah qabilah terbesar Arab, suku yang paling masyhur, dan paling banyak furu’
(cabang suku) nya. Juga merupakan bagian dari qabilah Qahthaniyah, dinasabkan kepada al-
Azdi bin al-Ghauts bin Malik bin Zaid bin Kahlan

Beliau adalah Qahthani dari sisi bapaknya dan adnani dari sisi ibunya karena ibunya seorang
Muzainah, yakni saudara al-Imam al-Muzanni shahabat imam Syari’i.

Al-Azdy adalah qabilah terbesar Arab, suku yang paling masyhur, dan paling banyak furu’
(cabang suku) nya. Juga merupakan bagian dari qabilah Qahthaniyah, dinasabkan kepada al-
Azdi bin al-Ghauts bin Malik bin Zaid bin Kahlan.

Beliau adalah Qahthani dari sisi bapaknya dan adnani dari sisi ibunya karena ibunya seorang
Muzainah, yakni saudara al-Imam al-Muzanni shahabat imam Syari’i.

Dan termasuk seorang Hajri, saudara sepupu dari al-Azdi, yakni Hajr bin Jaziilah bin Lakhm,
yang disebut Hajr al-Azdi, supaya berbeda dengan Hajr Ru’ain.

Dan ath-Thahawi dinasabkan pada Thaha sebuat desa di Sha’id Mesir.

Lahirnya Dan Zamannya

Mengenai kelahiran Imam Thahawi tahun 239 H, maka seperti yang diriwayatkan Ibnu Yunus
muridnya yang kemudian diikuti oleh sebagian besar orang yang menulis riwayat hidupnya
dan inilah yang besar. Memang ada yang menyatakan beliau lahir tahun 238 H, dan bahkan
ada yang menyatakan tahaun 229 H. Ini tentu saja suatu tahrif (kekeliruan) penulisan, yang
kemudian dikutip beberapa orang tanpa merujuk kembali kepada kitab lainnya.

Disepakati para ulama bahwa beliau wafat tahun 321 H, kecuali Ibn an-Nadim yang
menyatakan beliau wafat tahun 322 H.

Imam athThahawi adalah sezaman dengan para imam ahli Huffazh para pengarang/penyusun
enam buku induk hadits (al-Kutub as-Sittah), dan bersama-sama dengan mereka dalam
riwayat hadits. Umur beliau ketika imam Bukhari wafat adalah 17 tahun, ketika imam Muslim
wafat ia berumur 22 tahun, ketika imam Abu Dawud wafat ia berumur 36 tahun, ketika imam
Tirmidzi wafat berumur 40 tahun dan ketika Nasa’i wafat ia berumur 64 tahun, dan ketika
imam Ibnu Majah wafat ia berumur 34 tahun.

Asal Muasalnya

Adalah beliau rahimahullah bermula dari rumah yang berlingkungan ilmiah dan unggul.
Bapaknya, Muhammad bin Salaamah adalah seorang cendekiawan ilmu dan bashar dalam
syi’ir dan periwayatannya. Sedangkan ibunya termasuk dalam Ash-haab asy-Syafi’i yang
aktif dalam majlisnya. Kemudian pamannya adalah imam al-Muzanni, salah seorang yang
paling faqih dari Ash-haab asy-Syafi’i yang banyak menyebarkan ilmunya.
Sebagian besar menduga bahwa dasar kecendekiawanannya adalah di rumah, yang kemudian
lebih didukung dengan adanya halaqah ilmu yang didirikan di masjid Amr bin al-‘Ash.
Menghafal al-Qur’an dari Syeikhnya, Abu Zakaria Yahya bin Muhammad bin ‘Amrus, yang
diberi predikat: “Tidak ada yang keluar darinya kecuali telah hafal al-Qur’an.” Kemudian
bertafaquh (belajar mendalami agama-red.,) pada pamannya –al-Muzanni, dan sami’a
(mendengar) darinya kitab Mukhtasharnya yang bersandar pada ilmu Syafi’i dan makna-
makna perkataannya. Dan beliau adalah orang pertama yang belajar tentang itu. Ia juga
menukil dari pamannya itu hadits-hadits, dan mendengar darinya periwayatan-
periwayatannya dari Syafi’i tahun 252 H. Beliau juga mengalami masa kebesaran pamannya,
al-Muzanni. Pernah bertamu dengan Yunas bin Abdul A’la (264 H), Bahra bin Nashrin (267
H), Isa bin Matsrud (261 H) dan lain-lainnya. Semuanya adalah shahabat Ibn Uyainah dari
kalangan ahlu Thabaqat.

Pindah Madzhab Dari Syafi’i Ke Hanafi

Ketika umurnya mencapai 20 tahun, ia meninggalkan madzhab yang telah ia geluti
sebelumnya yakni madzhab Syafi’i ke madzhab Hanafi dalam bertafaqquh, disebabkan
beberapa faktor:

1. Karena beliau menyaksikan bahwa pamannya banyak menelaah kitab-kitab Abi Hanifah.

2. Tulisan-tulisan ilmiah yang ada, yang banyak disimak para tokoh madzhab Syafi’i dan
madzhab Hanafi.

3. Tashnifat (karangan-karangan) yang banyak dikarang oleh kedua madzhab itu yang berisi
perdebatan antara kedua madzhab itu dalam beberapa masalah. Seperti karangan al-Muzanni
dengan kitabnya al-Mukhtashar yang berisi bantahan-bantahan terhadap Abi Hanifah dalam
beberapa masalah.

4. Banyaknya halaqah ilmu yang ada di masjid Amr bin al-‘Ash tetangganya mengkondisikan
beliau untuk memanfaatkannya dimana di sana banyak munasyaqah (diskusi) dan adu dalil
dan hujjah dari para pesertanya.

5. Banyak syeikh yang mengambil pendapat dari madzhab Abi Hanifah, baik dari Mesir
maupun Syam dalam rangka menunaikan tugasnya sebagai qadli, seperti al-Qadli Bakar bin
Qutaibah dan Ibnu Abi Imran serta Abi Khazim.

Akan tetapi perlu diketahui bahwa perpindahan madzhabnya itu tidaklah bertujuan untuk
mengasingkan diri dan mengingkari madzhab yang ia tinggalkan, karena hal ini banyak
terjadi di kalangan ahli ilmu ketika itu yang berpindah dari satu madzhab ke madzhab lainnya
tanpa meningkari madzhab sebelumnya. Bahkan pengikut Syafi’i yang paling terkenal
sebelumnya adalah seorang yang bermadzhab Maliki, dan diantara mereka ada yang menjadi
syeikhnya (gurunya) ath-Thahawi. Tidak ada tujuan untuk menyeru pada ‘ashabiyah
(fanatisme-red.,) atau taklid, tetapi yang dicari adalah dalil, kemantapan, dan hujjah yang
lebih mendekati kebenaran.

Syuyukh (Para Guru) Beliau

1. Al-Imam al-‘Allaamah, Faqihul Millah, ‘Alamuz Zuhad, Isma’il bin Yahya bin Isma’il bin
‘Amr bin Muslim al-Muzanni al-Mishri. Salah satu sahabat Syafi’i yang mendukung
madzhabnya, wafat tahun 264 H. Karangannya antara lain al-Mukhtashar, al-Jami’ al-Kabir,
al-Jami’ ash-Shaghir, al-Mantsur, al-Masa-il al-Mu’tabarah, Targhib fil ‘Ilmi, dan lain-
lainnya. Ia adalah orang pertama yang dinukilkan haditnya oleh ath-Thahawi, dan kepadanya
belajar di bawah madzhab Syafi’i, menyimak dari beliau juga kitab Mukhtasharnya serta
kumpulan hadits-hadits Syafi’i.

2. Al-Imam al-‘Allaamah, syaikhul Hanafiyah, Abu Ja’far Ahmad bin Abi Imran Musa bin
Isa al-Baghdadi al-Faqih al-Muhaddits al-Hafizh, wafat tahun 280 H. Beliau disebut sebagai
lautan ilmu, disifatkan sangat cerdas dan kuat hafalannya, banyak meriwayatkan hadits
dengan hafalannya. Dan beliau adalah seorang yang paling berpengaruh atas ath-Thahawi
dalam madzhab Abi Hanifah. Adalah ath-Thahawi sangat membanggakan gurunya ini dan
banyak meriwayatkan hadits-hadits dari beliau.

3. Al-Faqih al-‘Allamah Qadli al-Qudlat Abu Khazim Abdul Hamid bin Abdil Aziz as-
Sakuuni al-Bishri kemudian al Baghdadi al-Hanafi. Menjabat Qadli di Syam, Kufah dan
Karkh, Baghdad. Dan dipuji selama menjalankan jabatannya. Ath-Thahawi belajar kepada
beliau ketika menjadi tamu di Syam tahun 268 H. Beliau menguasai madzhab Ahlul Iraq
hingga melampaui guru-gurunya. Seorang yang tsiqah, patuh pada dien, dan wara’. Seorang
yang ‘alim, paling piawai dalam beramal dan menulis, cendekia disertai watak pemberani,
sangat dewasa dan cerdik, pandai membuat permisalah untuk memudahkan akal. Wafat tahun
292 H.

4. Al-Qadli al Kabir, al-‘allaamah al-Muhaddits Abu Bakrah Bakkar bin Qutaibah al-Bishri,
Qadli al-Qudlat di Mesir, wafat tahun 270 H. Seorang yang ‘alim, faqih, muhaddtis,
mempunyai kedudukan yang terhormat, dan agung, bila dalam kebenaran tidak takut celaan
orang yang mencela, zuhud, shaleh dan istiqamah. Imam Thahawi bertemu dengan beliau
ketika ia masih seorang pemuda, menyimak dari beliau, banyak pengaruhnya atas dirinya.
Banyak mengambil riwayat dari beliau, dan banyak menimpa dari beliau ilmu Hadits serta
tidak pernah absen dari majlisnya ketika mendiktekan hadits.

5. Al-Qadli al-‘Allaamah al-Muhaddtis ats Tsabit, Qadli al Qudlat, Abu Ubaid Ali bin al
Husain bin Harb Isa al Baghdadi, salah seorang shahabat Syafi’i, wafat tahun 319 H. Sangat
piawai dalam Ulumul Qur’an dan hadits, sangat pendai dalam masalah ikhtilaf dan ma’ani
serta qiyas fashih, berakal, lemah lembut, suka menyatakan kebenaran.

6. Al-Imam al-Hafizh ats-Tsabit, Abu Abdurrahman Ahmad bin Syu’aib bin Ali bin Sinan bin
Bahr al-Khurrasani an Nasa’i, wafat tahun 303 H. Berkata Dzahabi: “Beliau adalah orang
yang paling piawai dalam hadits dan ‘ilal. Dan rijalnya dari Muslim dan dari Abi Dawud dan
dari Abi Isa (at-Turmudzi-red.,). Dan beliau adalah tetangga dengan Imam Bukhari dan Abu
Zur’ah di masa tuanya.

7. Al-Imam Hafizh, syaikhul Islam, Abu Musa Yunus bin Abdul A’la Shadari al-Mishri,
wafat tahun 264 H. Belajar pada Syafi’i, membaca al-Qur’an pada Warsy, shahabat Nafi’,
menyimak hadits dari Syafi’i, Sufyan bin Uyainah, dan Abdullah bin Wahab dan
mengumpulkannya. Termasuk orang yang termasyhur dalam keadilannya dan ulama’ di
zamannya di Mesir, ditsiqahkan oleh Nasa’i.

8. Al-Imam al-Muhaddits al-Faqih al-Kabir, Abu Muhammad ar Rabi’ bin Sulaiman al-
Muradiy al-Mishri. Seorang shahabat Syafi’i dan mewarisi ilmunya. Wafat tahun 270 H.
Banyak hadits yang diriwayatkan dari beliau, panjang umurnya, masyhur namanya, banyak
menimba ilmu darinya para ashabul hadits, syaikh yang sangat disukai, menghabiskan
umurnya dalam ilmu dan menyebarkannya, akan tetapi beliau tergolong seorang hufazh (ahli
menghafal, maka dikatakan oleh Nasa’i: Laa ba’sa bihi).

9. Syaikhul Imam ash-Shadiq, Muhaddits Syam, Abu Zur’ah Abdurrahman bin amr bin
Abdullah bin Shafwan bin Amr an-Nashri ad-Dimasyqi. Wafat tahun 281 H. Seorang yang
tsiqah, shaduq. Mempunyai karangan mengenai Tarikh Dimasyq.
10. Al-Imam al-Hafizh al-Mutqin, Abu Ishaq Ibrahim bin Abi Dawud Sulaiman bin Dawud
al-Azdi al-Kufi asli, lahirnya di Syria, dan rumahnya di al-Barlusi. Wafat tahun 270 H.
Disifatkan oleh Ibnu Yunas bahwa beliau salah seorang hufazh al-Mujawwidin, tsiqah dan
tsabit.

11. Al-Hafidz Abu Bakr Ahmad bin Abdullah bin al-Barqi. Wafat tahun 270 H. Menyimak
dari Amr bin Abi Salmah dan thabaqatnya, mempunyai karangan tentang mengenal shahabat
dan termasuk seorang hufazh yang mutqin.

12. Al-Hafizh al-Hujjah, Abu Ishaq Ibrahim bin Marzuq al-Bishri, menjadi tamu di Mesir.
Wafat tahun 270 H. Berkata Nasa’i, “Periwayat yang diterima haditsnya (Shalih)”. Berkata
Ibnu Yunas: “Tsiqah, tsabit”.

13. Al-Imam al-Hujjah, Abu Ishaq Ibrahim bin Munqidz bin Isa al-Khaulani Maulahum al-
Mishri al-‘Ushfuri, wafat tahun 269 H. Berkata Abu Sa’id bin Yunas: “Beliau tsiqah ridla”.

14. Al-Imam al-Muhaddits ats-Tsiqah, Abu Abdullah Bahr bin Nashr bin Sabiq al-Khaulani
maulahum al-Mishri, wafat tahun 267 H. Ditsiqahkan Abi Hatim dan Yunus bin Abdul A’la,
dan Ibnu Khuzaimah.

15. Al-Hafizh ats-Tsabit, Abu Ali al-Husain bin Ma’arik al-Baghdadi, suami saudara
perempuan al Hafidz Ahmad bin Shalih, menjadi tamu di Mesir. Wafat tahun 261 H. Berkata
Ibnu Yunus: “ Tsiqah, tsabit”.

16. Ar-Rabi’ bin Sulaiman al-Azdi maulahum, al-Mishri al-Jiizi al-A’raj. Wafat tahun 256 H.
Berkata ibnu Yunus: “Tsiqah”.

17. Abu Ja’far Abdul Ghani bin Rifa’ah bin Abdul Malik al-Lakhmi al-Mishri. Wafat tahun
255 H. Meriwayatkan dari beliau Abu Dawud, Ibrahim bin Matawaih al-Ashbahani dan Abu
Bakar bin Abi Dawud.

18. Al-Imam al-Hafizh ash-Shaduq Abul Hasan Ali bin Abdul Aziz al-Baghawi. Syaikh al-
Haram al-Makki, mushannif kitab Al Musnah. Wafat tahun 280 H. Berkata Daruquthni:
“Tsiqah, terpercaya”

19. Al-Imam al-Faqih al-Muhaddits Abu Musa Isa bin Ibrahim bin Matsrad al-Ghafiqi
maulahum, al-Mishri. Seorang sandaran yang tsiqah. Wafat tahun 261 H. Berkata Nasa’i:
“Laa ba’sa”. Dan berkata Maslamah bin Qasim: “Tsiqah”.

20. Al-Imam al-Muhaddits ats-Tsiqah, syaikhul Haram, Abu Ja’far Muhammad bin Isma’il
bin Salim al Qurasyi al-‘Abbasi maulaal Mahdi Al Baghdadi menjadikan tamu di Makkah.
Wafat tahun 276 H. Berkata Ibnu Abi Hatim: “Shaduq”.

21. Al-Imam syaikhul Islam, Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah bin Abdul hakim bin
A’yah bin Laits al-Mishri al-Faqih. Cendekiawan negeri Mesir di zamannya bersama al-
Muzanni. Wafat tahun 268 H. Berkata Ibnu Khuzaimah: “Aku belum pernah melihat orang
yang lebih pandai dari kalangan fuqaha’ tentang perkataan para shahabat dan tabi’in dari
Muhammad bin Abdullah bin Abdul Hakim, dan merupakan orang yang paling alim di
kolong bumi dengan madzhab Maliki.” Berkata Abi Hatim: “Ibnu Abdul hakim tsiqah,
shaduq, seorang fuqaha Mesir dari madzhab Maliki”.

22. Al-Imam al-Hafizh al-Mujawwid Abu Bakar Muhammad bin ali bin Dawud bin Abdullah
al-Baghdadi, menjadi tamu di Mesir. Dikenal dengan sebutan Ibnu Ukhti Ghazaal. Berkata
Yunus: “Seorang penghafal hadits dan memahaminya. Seorang yang tsiqah, hasan haditsnya”.
Wafat tahun 264 H.

23. Al-Imam al-‘Allaamah al-Hafizh, syaikhul Baghdad, Abu Bakar Abdullah bin sulaiman
bin al-Asy’ats as-Sajistaani, wafat tahun 316 H. Mengarang as-Summah, al-Mashaahif,
Syari’ah al-Muqaari’, Nasikh wal Mansukh, al-Ba’ts dan lainnya. Seorang yang faqih, alim
dan hafizh.

24. Al-Imam al-Muhaddits al-Adl, Abul Hasan Ali bin Ahmad bin Sulaiman bin Rabi’ah bin
ash-Shaiqah ‘Allaan al-Mishri. Wafat tahun 317 H. Seorang yang tsiqah, banyak
meriwayatkan hadits, salah seorang yang terkenal adil.

25. Al-Iman al-Hafizh al-Baari’, Abu Bisyrin Muhammad bin Ahmad bin Hammad bin Sa’id
bin Muslim al-Anshari ad-Duulabi. Wafat tahun 310 H. Beliau adalah pengarang kitab al-
Kunniy wal Asma’. Berkata Daruquthni: “banyak digunjingkan, tidak jelas perkaranya
kecuali beliau adalah seorang yang baik”.

26. Al-Iman al-Kabir al-Hafizh ats-Tsiqah, Abu Zakaria Yahya bin Zakaria bin Yahya an-
Naisaburi al-A’raj. Wafat tahun 307 H. Berkata Ibnu Yunus: “Seorang hafizh, terhormat dan
mulia”.

27. Al-‘Allaamah al-Hafizh al-Akhbaari, Abu Zakaria Yahya bin Utsman bin Shalih bin
Shafwan as-Sahmi al-Mishri. Wafat tahun 282 H. Berkata Ibnu Yunus: “Seorang alim dengan
ahbar Mesir, dan tentang meninggalkan ulama, penghafal hadits, dan meriwayatkan hadits
yang tidak ditemukan di orang lain”.

28. Al-Imam ats-Tsiqah al-Musannid, Abu Yazid Yusuf bin Yazid bin Kamil bin Hakim al-
Umawi maulahum al-Qurathisi. Wafat tahun 287 H. Seorang yang alim, banyak
meriwayatkan hadits, pemberani, panjang umur dan pernah melihat Syafi’i.

29. Al-Imam al-Hafizh al-Mujawwid ar-Rahhal, Abu Umayyah Muhammad bin Ibrahim bin
Muslim al-Baghdadi, kemudian ath-Thurasusi, menjadi tamu di ThuTharsusi dan menjadi
muhadditsnya di sana, pengarang Al Musnad dan mempunyai beberapa mushannifat. Wafat
tahun 273 H.

30. Al-Imam al-‘Allaamah al-Mutqin, al-Qadli al-Kabir, Abu Ja’far Ahmad bin Ishaq bin
Buhlul bin hasan an-Tanwikhi al-Anbari, al-Faqih al-Hanafi. Wafat tahun 318 H.

31. Al-Imam al-Hafizh al-Mujawwid, Abu Ha’far Ahmad bin Sinan bin Asad bin Hibban al-
Wasithi al-Qaththan. Wafat tahun 258 H. Berkata Abi Hatim: “Beliau seorang imam di
zamannya, seorang yang tsiqah shaduq”.

32. Al-Imam al-Hafizh ats-Tsabit Syaikhul Waqti Abu Bakar Ja’far bin Muhammad bin al-
Hasan bin al-Mustafaadl al-Firyaabi al-Qadli. Wafat tahun 301 H. Berkata Khuthaib al-
Baghdadi: “Tsiqah, hujjah, gudang ilmu”.

33. Rauh bin Farj Abu Zinba’ bin Farj bin Abdirrahman al-Qaththan maulanan Zubair bin al-
‘Awwam. Wafat tahun 282 H. Seorang alim, faqih di madzhab Maliki, seorang yang paling
tsiqah di zamannya dan meninggikannya dengan ilmu, mempunyai riwayat dalam qira’ah
dari, Ashim Yahya bin Sulaiman al-Ju’fi. Adalah imam Thahawi mengambil qira’ah dari
huruf demi huruf, dari Yahya bin Sulaiman al-Ju’ri, dari Abi Bakar bin ‘Iyasy, dari ‘Ashim
bin Bahdalah Abi an-Nujud, seperti yang ia nyatakan dalam kitabnya ini juz I hal 227 dan
263.
34. Mahmud bin Hasan an-Nahwi Abu Abdullah. Wafat tahun 272 H. Berkata Ibnu Yunus
dalam Tarikh Mishri: “Seorang ahli nahwu, ahli tajwid, meriwayatkan dari Abul Malik bin
Hisyam dari Abi Zaid dari Abi Amr bin al-‘Ala.

35. Al-Walid bin Muhammad at-Tamimi an-Nahwi, yang termasyhur dengan sebutan
Wullaad. Wafat tahun 263 H. Seorang ahli nahwu, ahli tajwid, tsiqah, berasal dari Bashrah.

Sifat-Sifatnya

Adalah ath-Thahawi rahimahullah seorang hafizh (penjaga dan penghafal) kitab Allah, yang
mengerti hukum-hukumnya dan maknanya, dan terhadap atsar dari shahabat dan tabi’in
terhadap tafsir ayat-ayatnya, asbabun nuzulnya. Mempunyai wawasan yang menakjubkan
dengan ilmu qira’ah. Penghafal hadits, luas jangkauan pengenalannya terhadap thuruq (jalan-
jalan) hadits, matan, illah dan ahwalnya, rijal-rijalnya, banyak menelaah madzhab para
shahabat dan tabi’in serta para imam yang mepat yang diikuti dan para imam mujtahid yang
lain. Seperti Ibrahim an-Nakha’i, Utsman al-Batti, Auza’i, ats-Tsauri, Laits bin Sa’d, Ibnu
Syubrumah, Ibnu Abi Laila dan al-Hasan bin Hay. Sangat piawai dalam ilmu Syurut dan
Watsaiq. Seorang yang sangat jeli dalam membahas suatu masalah. Tidak bertaklid pada
seorangpun, tidak dalam masalah ushul (pokok), dan tidak dalam masalah furu’. Beliau
berputar bersama kebenaran yang berdasar pada ijtihadnya. Mengikuti manhaj salaf dalam
aqidah. Dan atas manhaj ini pula beliau mengarang kitab aqidah yang masyhur (yakni Aqidah
ath-Thahawiyah, pen.). Sangat memperhatikan apa yang beliau dengan dalam majelis ilmu,
dan kemudian diulangi kembali setelah selesai majlis, mengklasifikasikan secara rinci
riwayat-riwayat yang ia terima dan menyusunnya dalam mushannafnya. Sifat inilah yang
mengantarkannya untuk menyusun mushannafat yang banyak menurut babnya. Dan beliau
adalah seorang yang lapang dada, baik akhlaqnya, baik dalam pergaulan, bertindak tanduk
sopan, memberi nasehat para pemimpin, dengan penuh tawadlu’, dekat dengan para qadli dan
ahli ilmu, menghadiri halaqah ilmu dan menukil riwayat dari sana. Orang-orang yang berbeda
pendapat dan sependapat dengan beliau mengakui kewara’annya dan kezuhudannya, lemah
lembut terhadap keluarga, jauh dari rasa ragu-ragu. Ketsiqahan ulama pada beliau mencapai
puncaknya ketika Abu Ubaid bin Harbawaih – salah seorang shahabat Syafi’i mengakui
keadilannya dan menerima syafa’atnya.

Ath-Thahawi Seorang Imam Mujtahid

Ath-Thahawi telah belajar madzhab Syafi’i kepada pamannya al-Muzanni, kemudian
mempelajari madzhab Hanafi, dan tidak berta’ashub pada salah seorang imam pun. Akan
tetapi memilih perkataan yang ia anggap paling benar berdasarkan kekuatan dalilnya. Dan
jika salah seorang imam menyamai pendapatnya maka disebabkan kesamaan yang
berdasarkan dalil dan hujjah, tidak karena taklid. Keadaannya seperti keadaan para ulama
semasanya, yang tidak ridla dengan taklid. Tidak kepada ahli hapal hadits dan tidak pula
kepada para ulama fiqih. Berkata Ibnu Zaulaq: “Aku mendengar Abu hasan Ali bin Abi Ja’far
ath-Thahawi berkata: Aku mendengar bapakku berkata dan disebutkan keutamaan Abi Ubaid
bin harbawaih dan fiqihnya lalu berkata: Ketika itu ia mengingatkan aku dalam satu masalah.
Maka aku jawab masalah itu. Tetapi beliau berkata kepadamu: Bagaimana ini, kenapa
memakai perkataan Abu Hanifah? Maka aku katakan kepadamu: Wahai Qadli, apakah setiap
perkataan yang diucapkan Abu Hanifah aku katakan juga? Beliau berkata: Aku tidak mengira
engkau kecuali seorang muqallid (suka mengikuti saja). Aku jawab: Apakah ada orang yang
bertaklid kecuali orang yang berta’ashub (fanatik buta)? Beliau menambahi: Atau orang yang
bodoh? Berkata: Maka menjadilah kalimat ini masyhur di Mesir hingga semacam menjadi
pameo yang dihafal manusia.

Dan tidak ada yang menghalanginya untuk berijtihad karena beliau telah menguasai ilmu
perangkatnya. Beliau adalah seorang hafidz. Luas telaahnya, dalam pemahamannya, luas
cakrawala tsaqafahnya, ahli dalam mengenali hadits dan periwayatannya, piawai dalam
mencari illat hadits serta mahir dalam ilmu fiqih dan bahasa Arab.

Berkata Imam al-Laknawi dalam al-Fawaid al-Bahiyah hal. 31; Bahwa Imam Thahawi
mempunyai derajat yang tinggi dan urutan yang mulia. Banyak menyelisihi shahibul madzhab
(pendiri madzhab) dalam masalah ushul maupun masalah furu’. Barang siapa yang menelaah
kitab Syarh Ma’anil Atsar dan karangan-karangannya yangn lain maka akan mendapati bahwa
beliau banyak menyelisihi pendapat yang dipilih para pemimpin madzhabnya jika yang
mendasari pendapatnya itu sangat kuat. Yang benar beliau adalah salah seorang mujtahid,
akan tetapi manusia tidak bertaklid kepada beliau. Tidak dalam furu’ maupun dalam ushul,
karena mereka mensifatinya dengan mujtahid. Akan tetapi yang mereka contoh dari beliau
adalah caranya berijtihad. Atau paling tidak beliau adalah seorang mujtahid dalam madzhab
yang mampu untuk mengeluarkan hukum-hukum dari kaidah-kaidah yang dinyatakan sang
imam madzhab, dan tidak pernah derajat beliau rendah dari martabat itu selamanya.

Dan berkata Maulana Abdul Aziz al-Muhaddits ad-Dahlawi dalam kitab Bustan al-
Muhadditsin: “Dalam mukhtashar Thahawi menunjukkan bahwa beliau adalah seorang
mujtahid. Dan bukan seorang muqallid (pengekor) terhadap madzhab Hanafi dengan
pengekoran total. Karena beliau sering memilih pendapat yang berbeda dengan madzhab Abu
Hanafi ketika hal itu berdasarkan dalil-dalil yang kuat.

Murid-Murid Beliau

Tidak sedikit kalangan ahli ilmu yang berguru pada beliau. Diantara mereka para hufadz yang
termasyhur. Mereka menyimak dari beliau, mendapat manfaat dari ilmu beliau. Diantaranya
adalah                                    sebagai                                   berikut:
1. Al-Hafizh Abul Farj Ahmad bin al-Qasim bin Ubaidillah bin Mahdi al-Baghdadi. Atau
yang terkenal dengan nama Ibnu Khasyab. Wafat 364 H.

2. Al-Imam al-Faqih al-Qadli Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Manshur al-Anshari ad-
Damaghaani.

3. Ismail bin Ahmad bin Muhammad bin Abdul Aziz, atau yang terkenal dengan nama Abu
Sa’id al-Jurjani al-Khallaal al-Warraaq. Wafat tahun 364 H

4. Al-Muhaddits al-Hafizh al-Jawwal al-Mushannif Abu Abdullah al-Husain bin Ahmad bin
Muhammad bin Abdirrahman bin Asad bin Sammakh bin Syammaakhi al-Hirawi ash-Shaffar,
pengarang al-Mustakhraj Ala Shahih Muslim. Wafat tahun 371 H.

5. Al-Muhaddits al-Imam Abu Ali al-Husain bin Ibrahim bin Jabir bin Abi Azzamzaam ad-
Dimasyqi al-Faraidli asy-Syahid. Wafat tahun 368 H.

6. Al-Imam al-Hafizh ats-Tsiqah ar-Rahaal al-Jawwal Muhadditsul Islam Alim al-
Mua’ammarin Abul Qasim Sulaiman bin Ahmad bin Ayub bin Muthair a-Lakhmi As Syammi
At Thabrani, pengarang tiga mu’jam; al-Kabir, al-Ausath, As Shaghir. Wafat tahun 360 H.

7. Al-Imam al-Hafizh An Naqid al-Jawal Abu Ahmad Abdullah bin ‘Addi bin Abdullah bin
Muhammad bin al-Mubarak bin al-Qaththaan al-Jurjaani, pengarang kitab al-Kamil. Wafat
tahun 365 H.

8. Al-Imam al-Hafizh al-Mutqin Abu Sa’id Abdurrahman bin Ahmad bin Yunus bin Abdil
A’la ash-Shadafi al-Mishri, pengarang kitab Tarikh Ulama’ Mishra. Wafat tahun 347 H.
9. Al-Imam al-Hafizh Ats Tsiqah al-Jawwal Abu Bakar Muhammad bin Ja’far bin al-Husain
al-Baghdadi al-Warraaq. Wafat tahun 370 H.

10. Asy-Syaikh al-‘Alim al-Hafizh Abu Sulaiman Muhammad bin al-Qadli Abdullah bin
ahmad bin Rabi’ah bin Zabrin ar-Raba’i. Wafat tahun 379 H.

11. Asy-Syaikh al-Hafizh al-Mujawwid Muhaddis Iraq Abul Husein Muhammad bin al-
Mudzaffar bin Musa bin Isa bin Muhammad al-Baghdadi. Wafat tahun 379 H.

12. Al-Muhaddits ar-Rahhal Abul Qasim Maslamah bin al-Qasim bin Ibrahim al-Andalusi al-
Qurthubi. Wafat tahun 353 H.

13. MuhadditsAshbahaan al-Imam ar-Rahhal al-Hafizh ash-Shaduq Abu Bakar Muhammad
bin Ibrahim bin Ali bin ‘Ashim bin Zaadzan al-Ashbahan, yang termasyhur dengan sebutan
Ibnul Muqri’ al-Mu’jam. Wafat tahun 381 H.

14. Ali bin Ahmad bin Muhammad bin Salamah Abul Hasan ath-Thahawi, anak imam
Thahawi. Wafat tahun 381 H.

15. Abu Utsman Ahmad bin Ibrahim bin Hammad bin Zaid al-Azdi. Wafat tahun 329 H.

Dan lain-lain rahimahullah ajma’in.

Kitab-Kitab Karangan Beliau

Imam ath-Thahawi adalah termasuk diantara sekian orang yang mempunyai banyak kitab
karangan dan mahir dalam menyusun tashnifaat. Dikarenakan beberapa faktor yang
dianugerahkan Allah kepadanya. Yakni cepat hafal, mempunyai wawasan pengetahuan yang
luas, dan mempunyai kesiapan yang cukup, beliau telah menyusun berbagai macam dan jenis
kitab, baik dalam bidang aqidah, tafsir, hadits, fiqih, dan tarikh. Sebagian ahli tarikh
menyatakan lebih dari tiga puluh kitab. Diantaranya sebagai berikut:

1. Syarh Ma’ani al-Atsar.
2. Ikhtilaaf al-Fiqhiyah.
3. Mukhatashar athThahawi.
4. Sunan asy-Syafi’i.
5. Al-Aqidah ath-Thahawiyah.
6. Naqdlu kitab al-Mudallisin li Faqih Baghdad al-Husain bin Ali bin Yazid al-Karabisi.
7. Taswiyatu baina Hadtsana wa Akhabarana.
8. Asy-Syurut ash-Shaqhir.
9. Asy-Syurut al-Ausath.
10. Asy-Syurut al-Kabir.
11. At-Tarikh al-Kabir.
12. Ahkamul Qur’an
13. Nawadirul Fiqhiyah.
14. An-Nawadir Wal Hikayaat.
15. Juz-un fi hukmi ardli Makkah.
16. Juz-un fi qismi al-fay`i wal Ghanaa-`im
17. Ar-Raddu ‘ala Isa bin Abbaan fi Kitaabihi alladzi sammaahu Khatha’u al-Kutub.
18. Al-Raddu ‘ala Abi Ubaid fiima Akhtha a fiihi fi Kitaabi an-Nasab.
19. Ikhtilaaf ar-Riwayaat ‘ala Madzhab al-Kuufiyiin.
20. Syarh al-Jami’ al-Kabir lil imam Muhammad bin al-Hasan asy-Syaibani.
21. Kitab al-Mahadlir wa as-Sijillaat.
22. Akhbar Abi Hanifah wa ash-haabuhu.
23. Kitab Aal-Washaya wal Faraidl.
24. Dan lain-lain.

Sumber:
1. Syarh Musykil al-Atsar oleh imam Thahawi.
2. Syarh al-‘Aqidah ath-Thahawiyah oleh Imam al-‘Allaamah Abil Izzi al-Hanafi.




                                                      
                Imam Al Ajurri (wafat tahun 419H)
Nama dan Nasabnya

Nama lengkap beliau adalah Muhammad bin Al Husein bin Abdillah Al Baghdadi Al Ajurri. Kunyah
beliau Abu Bakr. Beliau berasal dari sebuah desa di bagian barat kota Baghdad yang bernama Darbal
Ajur. Beliau lahir dan tumbuh di sana.

Guru-guru

Imam Al Ajurri menimba ilmu dari segolongan ulama terkenal, di antaranya :

1. Imam Ibrahim bin Abdillah bin Muslim bin Ma’iz Abul Muslim Al Bashri Al Kajji. Beliau adalah Al
Hafidh [Orang yang banyak menghapal hadits lengkap dengan pengertian dan sanadnya], Al
Mu’ammar, Shahibus Sunan [Penulis kitab Sunan]. Imam ini adalah guru terbesar Imam Al Ajurri.
Syaikh Ibrahim dilahirkan sekitar tahun 190 H dan wafat tahun 292 H di Baghdad. Jenazah beliau
kemudian dipindah ke Bashrah dan dimakamkan di sana.

2. Imam Abul Abbas Ahmad bin Sahl bin Al Faizuran Al Usynani. Beliau adalah Syaikhul Qurra’
[Pemimpin para pembaca Al Qur’an] di Baghdad. Beliau wafat pada tahun 307 H.

3. Imam Abu Abdillah Ahmad bin Al Hasan bin Abdil Jabbar bin Rasyid Al Baghdadi. Beliau bergelar
Al Muhadits [Ahli Hadits] Ats Tsiqatul Mu’ammar. Beliau dilahirkan di Hudud tahun 210 H dan wafat
tahun 306 H.

4. Imam Abu Bakr Ja’far bin Muhammad bin Al Hasan bin Al Mustafadl Al Firyani. Beliau adalah Al
Hafidh Ats Tsabt [Tepat dan jeli dalam penyampaian riwayat] dan Syaikh di masanya. Beliau lahir
pada tahun 207 H dan wafat pada tahun 301 H.

5. Imam Abu Bakr Al Qasim bin Zakaria bin Yahya Al Baghdadi. Beliau adalah Al ‘Allamah [‘Alim
(pandai)], Al Muqri’ [Ahli Ilmu Qira’ah], Al Muhadits, Ats Tsiqah [Yang terpecaya]. Beliau terkenal
dengan gelar Al Muthariz (penyulam). Beliau lahir di Hudud tahun 220 H dan wafat tahun 305 H.

6. Imam Abu Ja’far Ahmad bin Yahya bin Ishaq Al Bajali Al Hulwani. Beliau adalah Al Muhadits, Ats
Tsiqah, Az Zahid [Yang zuhud]. Beliau tinggal di Baghdad dan wafat tahun 296 H.

7. Imam Abul Abbas Ahmad bin Zanjuwiyah bin Musa Al Qathan. Beliau adalah Al Muhadits, Al
Mutqin [Yang mantap], dianggap tsiqah dan terkenal. Beliau wafat tahun 304 H.

8. Imam Abul Qasim Abdullah bin Muhammad bin Abdil Aziz bin Al Marzuban. Beliau adalah Al
Hafidh, Al Hujjatul Mu’ammar, dan Al Musnid [Penulis kitab Musnad] di masanya. Berasal dari
Bagha’ dan lahir pada tahun 214 H dan bertempat tinggal di Baghdad serta wafat tahun 317 H. Beliau
dikebumikan pada hari Iedul Fithri.

9. Imam Abu Syu’aib Abdullah bin Al Hasan bin Ahmad bin Abu Syu’aib Al Harrani. Beliau adalah Al
Muhadits, Al Mu’ammar, Al Mu’dab. Lahir tahun 206 H dan wafat tahun 295 H.

10. Imam Abu Muhammad Khalaf bin ‘Amr Al ‘Ukbari. Beliau adalah Al Muhadits, Ats Tsiqatul Jalil
[Yang mulia dan dapat dipercaya]. Beliau lahir tahun 206 H dan wafat tahun 296 H.
11. Al Imam Abu Bakr Abdullah bin Sulaiman bin Al Asy’ats As Sijistani. Beliau adalah Al ‘Allamah,
Al Hafidh, dan Syaikh di Baghdad. Beliau termasuk lautan ilmu. Sebagian orang ada yang menganggap
bahwa beliau lebih utama daripada ayahnya. Beliau menulis Sunan, Mushaf, Syari’atul Qari’, Nasikh
Mansukh, Al Ba’ts, dan lain-lain. Beliau lahir di Sijistan tahun 230 H dan wafat tahun 316 H.




Murid-Muridnya

Di antara murid-murid beliau yang terkenal adalah :

1. Imam Abu Nu’aim Ahmad bin Abdullah bin Ahmad Al Mihrani Al Ashbahani. Beliau adalah Al
Hafidh, Ats Tsiqah, Al ‘Allamah. Beliau adalah cucu Az Zahid Muhammad bin Yusuf Al Banna’.
Beliau adalah penulis kitab Al Hilyah dan banyak karya lainnya. Beliau lahir tahun 336 H dan wafat
tahun 425 H.

2. Imam Abul Qasim Abdul Malik Muhammad bin Abdillah bin Bisyran. Beliau adalah Al Muhaddits,
Al Musnid, Ats Tsiqah, Ats Tsabt, Ash Shalih [Orang yang shalih], Pemberi Nasihat, dan Musnid Irak.
Beliau lahir tahun 339 H dan wafat tahun 430 H.

3. Imam Abul Husein Ali bin Muhammad bin Abdullah bin Bisyran. Beliau adalah Asy Syaikh, Al
‘Alim, Al Mu’adil, Al Musnid. Al Khatib berkata tentang beliau : “Dia sempurna muru’ah
[Kewibawaan]-nya, kokoh menjalankan agama, shaduq [Sangat jujur], dan tsabit.” Beliau lahir tahun
328 H dan wafat tahun 415 H.

4. Imam Abu Muhammad Abdurrahman bin Umar At Tajibi Al Mishri Al Maliki Al Bazzaz. Beliau
adalah Asy Syaikh, Al Fakih, Al Muhadits, Ash Shaduq, dan Musnid Mesir. Beliau terkenal dengan
gelar Ibnu Nahhas. Beliau lahir tahun 323 H dan wafat tahun 416 H.

5. Imam Abul Hasan Ali bin Ahmad bin Umar bin Hafsh Al Hamami Al Baghdadi. Beliau adalah Al
Muhadits dan Muqri’ Irak. Al Khatib mengatakan bahwa beliau sangat jujur, taat beragama, terhormat,
sulit dicari tandingannya dalam sanad-sanad qira’ah dan memiliki ketinggian sanad di masanya. Lahir
328 H dan wafat 417 H.

6. Al Imam Abu Bakr bin Abu Ali Ahmad bin Abdurrahman Al Hamadani Adz Dzakwan Al
Ashbahani. Beliau adalah Al ‘Alim, Al Hafidh, dan termasuk Rijal Ats Tsiqah. Abu Nu’aim
mengatakan tentang beliau : “Dia mempersaksikan dan menyampaikan hadits selama 60 tahun,
akhlaknya baik dan kokoh madzhabnya. Beliau lahir tahun 333 H dan wafat tahun 419 H.

7. Syaikh Abul Husein Muhammad bin Al Husein bin Muhammad bin Al Fadl Al Baghdadi Al
Qahthani. Beliau adalah Al ‘Alim, Ats Tsiqat, Al Musnid [Orang yang menjadi rujukan sanad hadits].
Beliau lahir tahun 335 H dan wafat tahun 415 H.




Keilmuan Beliau Dan Komentar Para Ulama Tentangnya

1. Ibnu Nadim berkata : “Dia faqih, shalih, dan ahli ibadah.”

2. Al Khatib berkata : “Dia tsiqah, shaduq (sangat jujur), taat beragama, dan memiliki banyak karya.”

3. Ibnu Jalkan berkata : “Dia faqih, bermadzhab Syafi’i, muhadits, penulis kitab Arba’in dan terkenal
dengannya, shalih dan ahli ibadah.”

4. Yaqut berkata : “Dia faqih bermadzhab Syafi’i, tsiqah, dan menulis banyak karya.”
5. Ibnul Jauzi dalam kitab As Shawatus Shafwah mengatakan : “Dia tsiqah, taat beragama, alim, dan
banyak menulis karya.”

6. Ibnu Subki dalam Thabaqat-nya mengatakan : “Dia faqih, muhadits, pemilik beberapa karangan.”

7. Dzahabi dalam Siyar A’lamin Nubala’ berkata : “Dia seorang imam, muhadits, panutan, Syaikh di
Al Haram, shaduq, ‘abid [Ahli ibadah], shahibus sunan, dan ahli ittiba’ [Pengikut sunnah].”

8. Suyuthi mengatakan : “Dia ‘alim dan mengamalkan ilmu ahli sunnah.”

Dari ucapan para ulama di atas diketahui bahwa beliau termasuk ulama yang beramal dengan ilmunya,
seorang faqih yang ahli hadits, serta penjaga Kitabullah. Para ulama tersebut juga sepakat bahwa beliau
termasuk orang yang tsiqat dan berpegang teguh dengan sunnah. Beliau juga seorang pengarang yang
meninggalkan pengaruh yang jelas dalam perbendaharaan Islam.




Karya-Karya

Imam Al Ajurri mewariskan beberapa karya diantaranya yang telah dicetak: Akhlaq Ahlil Qur’an,
Akhlaqul Ulama, Akhbar Umar bin Abdil Aziz, Al Arba’in Haditsan, Al Ghuraba’, Tahrimun Nard
was Satranji wal Malahi, Asy Syari’ah, At Tashdiq bin Nadhar Ilallah.

Berupa Manuskrip (Tulisan Tangan): Adabun Nufus, Ats Tsamainin fil Hadits, Juz’un min Hikayat As
Syafi’i wa Ghairihi, Fardlu Thalabil Ilmi, Al Fawaid Al Muntakhabah, Wushulul Masyaqin wa
Nuzhatul Mustami’in.

Karaya-karya beliau yang Hilang: Ahkamun Nisa’, Akhlaq Ahli Bir wat Tuqa, Aushafus Sab’ah,
Taghyirul Azminah, At Tafarud wal ‘Uzlah, At Tahajud, At Taubah, Husnul Khuluq, Ar Ru’yah, Ruju’
Ibni Abbas ‘anis Sharf, Risalah ila Ahlil Baghdad, Syarah Qasidah As Sijistani, As Syubuhat, Qishatul
Hajaril Aswad wa Zam-Zam wa Ba’du Sya’niha, Qiyamul Lail wa Fadllu Qiyamir Ramadlan, Fadllul
Ilmi, Mukhtasharul Fiqh, Mas’alatut Tha’ifin, An Nasihah.




Wafatnya

Sebagian para ulama mengatakan bahwa ketika beliau masuk ke kota Mekkah yang beliau kagumi,
beliau berdo’a : “Ya Allah, berilah rezki kepadaku dengan tinggal di sana selama setahun.” Lalu beliau
mendengar bisikan: “Bahkan 30 tahun!” Akhirnya beliau tinggal selama 30 tahun dan wafat di sana
tahun 320 H. demikian keterangan Ibnu Khalqan.

Al Khatib berkata: “Aku membaca cerita itu di lantai kubur beliau di Mekkah.” Ibnul Jauzi berkata
bahwa Abu Suhail Mahmud bin Umar Al Akbari berkata bahwa ketika Abu Bakr sampai di Mekkah
dia merasa kagum dengannya dan berdo’a: “Ya Allah, hidupkan aku di negeri ini walau hanya
setahun.” Tiba-tiba ia mendengar bisikan: “Hai Abu Bakr, kenapa hanya setahun? Tiga puluh tahun!”
Ketika menginjak tahun ketiga puluh, beliau mendengar bisikan lagi: “Wahai Abu Bakr, sudah kami
tunaikan janji itu.” Kemudian wafatlah beliau di tahun itu.




Madzhabnya

Beliau bermadzhab Syafi’i menurut sebagian ulama. Namun ulama lain seperti Al Isnawi mengatakan
bahwa sebagian orang membantah ke-Syafi’i-an beliau dan mengatakan bahwa beliau bermadzhab
Hanbali. Al Isnawi mengatakan hal itu setelah dia mengatakan bahwa Imam Al Ajurri pengikut
madzhab Syafi’i. Demikian pula keterangan Abu Ya’la dalam kitab beliau Tabaqat Al Hanabilah.




Sumber-Sumber Biografi Beliau

Riwayat hidup beliau yang penuh barakah ditulis dalam beberapa kitab para ulama. Di antaranya: Al
Fahrasat. Ibnu Nadim halaman 268., Tarikh Baghdad. Al Khatib 2/243., Tabaqatul Hanabilah. Ibnu Abi
Ya’la halaman 332., Al Ansab. As Sam’ani 1/94., Fahrasah Ibni Khairil Isybaili. Halaman 285-286.,
Wafiyatul A’yan. Ibnu Khukan 4/292., Mu’jamul Buldan. Yaqut Al Hamawi 1/51., Siyar A’lamin
Nubala’. Adz Dzahabi 16/133., Thabaqatus Syafi’iyah. Al Isnawi 1/50., Al ‘Aqduts Tsamin. Al Fasi
2/4., Thabaqatul Hufadh. As Suyuthi halaman 378., Syajaratudz Dzahab. Ibnul ‘Imad 3/35.

Disalin dari Ghuraba’ minal Mukminin, Al Ajurri




                                                  
                                  Ibnu Hibban (wafat 342)
Nama sebenarnya adalah Muhammad bin Hibban bin Ahmad Abu Hatim al Butsy at Tamimy, ia
seorang hafidh yang terkenal di zamannya.

Beliau banyak mendengar hadits dari ulama ulama hadits di bebagai kota , ia terkenal sebagai orang
perantauan dalam mencari hadits.

Ia banyak mengarang kitab diantaranya al Anwa’ Wattaqasim, kitab ini disusun dengan tertib yang
tersendiri yaitu tidak berdasarkan bab dan tidak berdasarkan musnad, isi kitab ini dibagi dari 5 bagian
yaitu : Awamir, Nawabi, Akhbar, Ibahat dan Af’alun Nabi. Masing masing bagian ini dibagi lagi
kepada beberapa bagian, oleh karenanya mencari hadits didalam kitab itu sangat sulit.

Kitab itu telah diterbitkan secara berbab bab oleh sebagian ulama mutaakhirin, dan sebagian para
ulama berkata: orang yang paling Shahih dari orang orang yang menyusun kitab yang mengandung
hadits shahih sesudah Bukhary dan Muslim ialah Ibnu Khuzaimah lalu Ibnu Hibban, dan sebenarnya
kurang tepat dinamakan kitab Ibnu Hibban dengan Shahih, karena didalamnya ada hadits yang hasan.

Para ulama mengatakan bahwa Ibnu Hibban agak bermudah mudahan dalam menshahihkan hadits,
akan tetapi sikapnya itu lebih kurang pada al Hakim. Al Hazimy berkata: “ Ibnu Hibban lebih
menguasai hadits dari al Hakim”.

Ia wafat pada tahun 342 H

Disalin dari Biografi Ibnu Hibban dalam lisan, Ibn Hajar5:112, , Tahdzib at Tahdzib karya Ibnu Hajar asqalani.




                                                                
                           Ath-Thabarany (wafat 360 H)
Nama sebenarnya adalah Abul Qasim Sulaiman bin Ahmad Ath-Thabrany, ia seorang hafidh yang
terkenal di abad ke empat Hijriah, Ia menyusun 3 buah Mu’jam yaitu al Kabier, ash Shagier dan al
Ausath.

Didalam al Kabier dikumpulkan musnad musnad sahabat, diterbitkan menurut haraf mu’jam, selain
dari pada musnad Abu Hurirah yang disusun dalam sebuah kitab, menurut riwayat didalam al Kabier
ditulis 520.000 hadits dan apabila dikatakan al Mu’jam, maka yang dimaksud adalah al Kabier.

Al-Ausath disusun berdasarkan nama guru gurunya dan didalam al Ausath terdapat 320.000 hadits.
Menurut perkataan adz Dzahaby didalamnya terdapat hadits shahih dan hadits mungkar.

Sedangkan kitab Ash Shagier terdiri dari satu jilid, didalamnya ditulis hadits yang diterima dari
gurunya, isinya sebanyak 15.000 hadits.

Ia wafat pada tahun 360 H

Disalin dari riwayat ath Thabarany dalam Tahdzib at Tahdzib karya Ibnu Hajar asqalani 2:290.




                                                              
                       Al Hakim an-Naisabur (Wafat H)
Namanya adalah Abu Abdillah an-Naisabury yang terkenal dengan nama Ibnul Baiyyi, pengarang kitab
al-Mustadrak.

Ia mempunyai banyak kitab dalam ilmu hadits diantranya adalah: al-Ilal wa Amali, Ma’rifatu Ulumil
Hadits dan lain lainnya. Menurut riwayat kitabnya lebih kurang 1.500 juz.

Ia pernah melakukan perjalanan ke Iraq dan Hijaz, beliau mengadakan Mudzakarah dengan ulama
ulama hadits dan Munadharah dengan penghapal penghapal hadits.

Al Hakim menjabat sebagai Qadli di Naisabur pada tahun 359 H.

Ia wafat pada tahun 405 H

Disalin dari riwayat al-Hakim dari Tarikh Ibnu Katsir 11/35, Miftahus Sunnah.




                                                               
     Manshur At Thobani Al Laalikai (Wafat 416 H)
Nama lengkapnya

Hibatullah bin Al Hasan bin Manshur Ar Rozi At Thobani Al Laalikai.

Negeri dan perkembangannya
Al Khotib dan Ibnu Jauzi menjelaskan bahwa asal Thobani di nisbatkan ke negeri Thobanistan. Adapun
Ar Rozi dinisbatkan ke kota besar yaitu Ar Roy. Kemudian beliau singgah di Baghdad dan bermukim
di Baghdad. Jadi beliau pernah singgah di 3 tempat

    1. Thobanistan negeri aslinya.
    2. Rihlah ke Ar Roy untuk menuntut ilmu.
    3. Baghdad.

Penisbatan beliau hanya ke Thobanistan dan Ar Roy tidak ada penisbatan ke Baghdad karena beliau
hanya bermukim sebentar di Baghdad.

Guru-guru beliau.

    1. Abu Hamid Ahmad bin Muhammad bin Ahmad Al Isfiroyini Imam Madhab Syafi’I pada
         zamannya (w. 406 h).
    2. Ibrohim bin Muhammad bin Ubaid Abu Mas’ud Ad Dimasyqi.
    3. Al Hasan bin Utsman (w. 405 h).
    4. Muhammad bin Abdurrohman Al Abbasi Al Mukhlish.
    5. Isa bin Ali bin Isa Al Wazir.
    6. Ubaidillah bin Muhammad bin Ahmad bin Abu Ahmad Al Farodhi (w. 406 h).
    7. Muhammad bin Al Hasan Al Farisi (w. 386 h)
    8. Abdurrohman bin Umar Abu Husain Al Mu’dil (w. 397 h)
    9. Abdullah bin Muslim bin Yahya (w. 397 h)
    10. Muhammad bin Ali bin Nadhor (w. 396 h)

Murid-murid beliau

    1.   Abu Bakar Ahmad bin Ali Al Khotib Al Baghdadi (w. 463 h)
    2.   Abu Hasan Ali bin Al Husain Al ‘Abari (w. 468 h)
    3.   Abu Bakar Muhammad bin Hibatullah bin Al Hasan At Thobani Al Lalikai
    4.   Ahmad bin Ali bin Zakaria At Thoni Tsitsi Syaikh sufi di Khurasan (w. 497 h)

Karangan-karangan beliau.

    1.   Karomatu Auliyallah
    2.   Asmau Rijalush Shohihain
    3.   Fawaidu fikhtiari Abi Qosim
    4.   Syarhu kitabi ‘Umar bin Khoththob.
    5.   Dan lain-lain.

Pujian para ulama terhadap beliau.

    1. Al Hafid Al Khotib Al Bagdadi : beliau belajar fiqh As Syafi’I kepada Abi Al Isfiroyini.
    2. Al Hafidz Adz Dzahabi : beliau mufidu bagdad pada zamannya.
    3. Ibnu Atsir : beliau mendengar dan belajar hadits kepada Abi Hamid.
Wafatnya
Beliau wafat di kota Dimur hari selasa bulan Romadhon tehun 416 h. Ali bin Al Hasan bin Jada Al
‘Akbarni berkata : “Aku bermimpi bertemu dengan Abi Qosim At Thobuni, lalu saya bertanya
kepadanya: “Apa yang Allah lakukan pada mu ?”, beliau menjawab; Allah telah mengampuniku, lalu
saya berkata: “Dengan apa ?”, beliau menjawab; dengan kalimat yang samar (dengan sunnah).




                                                    
                     Imam Al Baihaqi (wafat 458 H)
Nama lengkapnya adalah Imam Al-Hafith Al-Mutaqin Abu Bakr Ahmed ibn Al-Hussein ibn Ali ibn
Musa Al Khusrujardi Al-Baihaqi, adalah seorang ulama besar dari Khurasan (desa kecil di pinggiran
kota Baihaq) dan penulis banyak buku terkenal.

Masa pendidikannya dijalani bersama sejumlah ulama terkenal dari berbagai negara, di antaranya Iman
Abul Hassan Muhammed ibn Al-Hussein Al Alawi, Abu Tahir Al-Ziyadi, Abu Abdullah Al-Hakim,
penulis kitab “Al Mustadrik of Sahih Muslim and Sahih Al-Bukhari”, Abu Abdur-Rahman Al-Sulami,
Abu Bakr ibn Furik, Abu Ali Al-Ruthabari of Khusran, Halal ibn Muhammed Al-Hafaar, dan Ibn
Busran.

Para ulama itu tinggal di berbagai tempat terpencar. Oleh karenanya, Imam Baihaqi harus menempuh
jarak cukup jauh dan menghabiskan banyak waktu untuk bisa bermajelis dengan mereka. Namun,
semua itu dijalani dengan senang hati, demi memuaskan dahaga batinnya terhadap ilmu Islam.

As-Sabki menyatakan: “Imam Baihaqi merupakan satu di antara sekian banyak imam terkemuka dan
memberi petunjuk bagi umat Muslim. Dialah pula yang sering kita sebut sebagai ‘Tali Allah’ dan
memiliki pengetahuan luas mengenai ilmu agama, fikih serta penghapal hadits.”

Abdul-Ghaffar Al-Farsi Al-Naisabouri dalam bukunya “Thail Tareekh Naisabouri”: Abu Bakr Al-
Baihaqi Al Hafith, Al Usuli Din, menghabiskan waktunya untuk mempelajari beragam ilmu agama dan
ilmu pengetahuan lainnya. Dia belajar ilmu aqidah dan bepergian ke Irak serta Hijaz (Arab Saudi)
kemudian banyak menulis buku.

Imam Baihaqi juga mengumpulkan Hadits-hadits dari beragam sumber terpercaya. Pemimpin Islam
memintanya pindah dari Nihiya ke Naisabor untuk tujuan mendengarkan penjelasannya langsung dan
mengadakan bedah buku. Maka di tahun 441, para pemimpin Islam itu membentuk sebuah majelis
guna mendengarkan penjelasan mengenai buku ‘Al Ma’rifa’. Banyak imam terkemuka turut hadir.

Imam Baihaqi hidup ketika kekacauan sedang marak di berbagai negeri Islam. Saat itu kaum Muslim
terpecah-belah berdasarkan politik, fikih, dan pemikiran. Antara kelompok yang satu dengan yang lain
berusaha saling menyalahkan dan menjatuhkan, sehingga mempermudah musuh dari luar, yakni bangsa
Romawi, untuk menceraiberaikan mereka.

Dalam masa krisis ini, Imam Baihaqi hadir sebagai pribadi yang berkomitmen terhadap ajaran agama.
Dia memberikan teladan bagaimana seharusnya menerjemahkan ajaran Islam dalam perilaku
keseharian.

Sementara itu, dalam Wafiyatul A’yam, Ibnu Khalkan menulis, “Dia hidup zuhud, banyak beribadah,
wara’, dan mencontoh para salafus shalih.”

Beliau terkenal sebagai seorang yang memiliki kecintaan besar terhadap hadits dan fikih. Dari situlah
kemudian Imam Baihaqi populer sebagai pakar ilmu hadits dan fikih.

Setelah sekian lama menuntut ilmu kepada para ulama senior di berbagai negeri Islam, Imam Baihaqi
kembali lagi ke tempat asalnya, kota Baihaq. Di sana, dia mulai menyebarkan berbagai ilmu yang telah
didapatnya selama mengembara ke berbagai negeri Islam. Ia mulai banyak mengajar.

Selain mengajar, dia juga aktif menulis buku. Dia termasuk dalam deretan para penulis buku yang
produktif. Diperkirakan, buku-buku tulisannya mencapai seribu jilid. Tema yang dikajinya sangat
beragam, mulai dari akidah, hadits, fikih, hingga tarikh. Banyak ulama yang hadir lebih kemudian,
yang mengapresiasi karya-karyanya itu. Hal itu lantaran pembahasannya yang demikian luas dan
mendalam.

Meski dipandang sebagai ahli hadits, namun banyak kalangan menilai Baihaqi tidak cukup mengenal
karya-karya hadits dari Tarmizi, Nasa’i, dan Ibn Majah. Dia juga tidak pernah berjumpa dengan buku
hadits atau Masnad Ahmad bin Hanbal (Imam Hambali). Dia menggunakan Mustadrak al-Hakim karya
Imam al-Hakim secara bebas.

Menurut ad-Dahabi, seorang ulama hadits, kajian Baihaqi dalam hadits tidak begitu besar, namun
beliau mahir meriwayatkan hadits karena benar-benar mengetahui sub-sub bagian hadits dan para
tokohnya yang telah muncul dalam isnad-isnad (sandaran : rangkaian perawi hadits).

Di antara larya-karya Baihaqi, Kitab as-Sunnan al-Kubra yang terbit di Hyderabat, India, 10 jilid tahun
1344-1355, menjadi karya paling terkenal. Buku ini pernah mendapat penghargaan tertinggi.

Dari pernyataan as-Subki, ahli fikih, usul fikih serta hadits, tidak ada yang lebih baik dari kitab ini, baik
dalam penyesuaian susunannya maupun mutunya.

Dalam karya tersebut ada catatan-catatan yang selalu ditambahkan mengenai nilai-nilai atau hal
lainnya, seperti hadits-hadits dan para ahli hadits. Selain itu, setiap jilid cetakan Hyderabat itu memuat
indeks yang berharga mengenai tokoh-tokoh dari tiga generasi pertama ahli-ahli hadits yang dijumpai
dengan disertai petunjuk periwayatannya.

Itulah di antara sumbangsih dan peninggalan berharga dari Imam Baihaqi. Dia mewariskan ilmu-
ilmunya untuk ditanamkan di dada para muridnya. Di samping telah pula mengabadikannya ke dalam
berbagai bentuk karya tulis yang hingga sekarang pun tidak usai-usai juga dikaji orang.

Imam terkemuka ini meninggal dunia di Nisabur, Iran, tanggal 10 Jumadilawal 458 H (9 April 1066).
Dia lantas dibawa ke tanah kelahirannya dan dimakamkan di sana. Penduduk kota Baihaq berpendapat,
bahwa kota merekalah yang lebih patut sebagai tempat peristirahatan terakhir seorang pecinta hadits
dan fikih, seperti Imam Baihaqi.

Sejumlah buku penting lain telah menjadi peninggalannya yang tidak ternilai. Antara lain buku “As-
Sunnan Al Kubra”, “Sheub Al Iman”, “Tha La’il An Nabuwwa”, “Al Asma wa As Sifat”, dan
“Ma’rifat As Sunnan cal Al Athaar”.




                                                      
                 Al Khathib Al Baghdadi (wafat 463 H)
Nama sebenarnya adalah Abu Bakar Muhammad Ahmad bin Ali bin Tsabit, terkenal dengan nama “Al
Khathib Al Baghdadi”. Ia yang menulis kitab terkenal Kitab Tarikh Baghdad.

Ia lahir pada tahun 392 H di Iraq , Ayahnya bernama Khatib Darzanjan menyuruh anaknya
memperdalam ilmu hadits sejak kecil (tahun 403H). Ia mengembara ke bebagai wilayah untuk
memperdalam ilmu hadits.

Ia menyimak hadits dari sejumlah besar kalangan muhadditsin yang tsiqah dari berbagai wilayah
seperti Baghdad, Bashrah, Naisabur, Ashbahan, Dainur, Hamadan, Kufah, Haramain, Damaskus, al
Quds dan lain lainnya. Ia juga merantau ke Syam (Syiria) pada tahun 451 H dan menetap disana selama
11 tahun.

Banyak ulama yang meriwayatkan hadits darinya termasuk gurunya sendiri Ahmad al Bargani
(Baghdad), Ibnu Makula berkata,” Al Khatib adalah tokoh terkenal terakhir yang kami akui
kepintarannya, hapalannya, ke dhabith annya tentang hadits hadits Rasulullah Shallallahu alaihi
wassalam, juga kelihaiannya dalam mengetahui illat illat dan sanad sanadnya, serta mengetahui akan
shahih, gharib, ahad, mungkar atau matruknya sebuah hadits”. Ia melanjutkan ,” Tidak ada orang
Baghdad setelah Daraquthni yang sekaliber al Khatib”.

Sebelum wafatnya ia menyedekahkan seluruh harta nya senilai 200 Dinar kepada para Ulama dan
Kaum Faqir, bahkan ia berwasiat agar menyedekahkan kitab kitabnya kepada kaum muslimin.

Ia wafat pada tahun 463 H

Disalin dari kitab iqtidha ‘Al ‘ilm al ‘Amal karya Al Khatib Baghdadi, Tahqiq Syaikh Al Albani. Penerbit Maktabah Al Ma’arif,
Riyadh.




                                                              
                         Ibnu Qudamah Al Maqdisi
Beliau adalah seorang imam, ahli fiqih dan zuhud, Asy Syaikh Muwaffaquddin Abu Muhammad
Abdullah Bin Ahmad Bin Muhammad Ibnu Qudamah al-Hanbali al-Almaqdisi. Beliau berhijrah ke
lereng bukit Ash-Shaliya, Damaskus, dan dibubuhkanlah namanya ad-Damsyiqi ash-Shalihi, nisbah
kepada kedua daerah itu. Dilahirkan pada bulan Sya’ban 541 H di desa Jamma’il, salah satu daerah
bawahan Nabulsi, dekat Baitil Maqdis, Tanah Suci di Palestina.

Saat itu tentara salib menguasai Baitil Maqdis dan daerah sekitarnya. Karenanya, ayahnya, Abul Abbas
Ahmad Bin Muahammad Ibnu Qudamah, tulang punggung keluarga dari pohon nasab yang baik ini
hajrah bersama keluarganya ke Damaskus dengan kedua anaknya, Abu Umar dam Muwaffaquddin,
juga saudara sepupu mereka, Abdul Ghani al-Maqdisi, sekitar tahun 551 H (Al-Hafidz Dhiya’uddin
mempunyai sebuah kitab tentang sebab hijrahnya pendududk Baitul Maqdis ke Damaskus. Di
Damaskus mereka singgah di Masjid Abu Salih, di luar gerbang timur. Setelah dua tahun di sana,
mereka pindahke kaki gunung Qaisun di Shalihia, Damaskus. Di masa-masa itu Muwaffaquddin
menghafal Al Quran dan menimba ilmu-ilmu dasar kepada ayahnya, Abul’Abbas, seorang ulama yang
memiliki kedudukan mulia srta seorang yang zuhud.Kemudian ia berguru kepada para ulama Damskus
lainnya. Ia hafal Mukhtasar Al Khiraqi (fiqih madzab Imam Ahmad Bin Hambal) dan kitab-kitab
lainnnya.

Ia memiliki kemajuan pesat dalam menkaji ilmu. Menginjak umur 20 tahun, ia pergi ke Bghdad
ditemani saudara sepupunya, Abdul Ghani al-Maqdisi (anak saudara laki-laki ibunya) dan keduanya
umurnya sama.

Muwaffaquddin semula menetap sebentar di kediaman Syekh Abdul Qadir Al-Jailani,di Baghdad. Saat
itu Shaikh berumur 90 tahun. Ia mengaji kepada beliau Mukhtasar Al-Khiraqi denagan penuh ketelitian
dan pemahaman yang dalam, karena ia talah hafal kitab itu sejak di Damaskus. Kemudian wafatlah
Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani rahimahullah.

Selanjutnya ia tidak pisah dengan Syaikh Nashih al-Islam Abul Fath Ibn Manni untuk mengaji kepada
belia madzab Ahmad dan perbandingan madzab. Ia menetap di Baghdad selama 4 tahun. Di kota itu
juga ia mengaji hadis dengan sanadnya secara langsung mendengar dari Imam Hibatullah Ibn Ad-
Daqqaq dan lainnya. Setelah itu ia pulang ke Damaskus dan menetap sebentar di keluarganya. Lalu
kembali ke Baghdad tahun 576 H.

Di Baghdad dalam kunjungannya yang kedua, ia lanjutkan mengajihadis selama satu tahun, mendengar
langsung dengan sanadnya dari Abdul Fath Ibn Al-Manni. Setelah itu ia kembali ke Damaskus.

Pada tahun 574 H ia menunaikan ibadah haji,seusai ia pulang ke Damaskus. Di sana ia mulai
menyusun kitabnya Al-Mughni Syarh Mukhtasar Al-Khiraqi (fiqih madzab Imam Ahmad Bin
Hambal). Kitab ini tergolong kitab kajian terbesar dalam masalah fiqih secarar umum, dan khususnya
di madzab Imam Ahmad Bin Hanbal. Sampai-sampai Imam ‘Izzudin Ibn Abdus Salam As-Syafi’i,
yang digelari Sulthanul ‘Ulama mengatakan tentang kitab ini: “Saya merasa kurang puas dalam
berfatwa sebelum saya menyanding kitab al-Mughni”.

Banyak para santri yang menimba ilmu hadis kepada beliau, fiqih, dan ilmu-ilmu lainnya. Dan banyak
pula yang menjadi ulama fiqih setelah mengaji kepada beliau. Diantaranya, kpeonakannya sendiri,
seorang qadhi terkemuka, Syaikh Syamsuddin Abdur Rahman Bin Abu Umar dan ulama-ulama lainnya
seangkatannya.

Di samping itu beliau masih terus menulis karya-karya ilmiah di berbagai disiplin ilmu, lebih-lebih di
bidang fiqih yang dikuasainya denagn matang. Beliau banyak menulis kitab di bidang fiqih ini,ynag
kitab-kitab karyanya membuktikan kamapanannya yang sempurna di bidang itu. Sampai-sampai ia
menjadi buah bibir orang banyak dari segala penjuru yang membicarakan keutamaan keilmuan dan
munaqib (sisi-sisi keagungannya).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: ”Setelah Al-Auza’i, tidak ada orang yang masuk ke negri Syam
yang lebih mapan di bidang fiqih melebihi Al-Muwaffaq”.

Ibnu Ash-Shalah berkata: ”Saya tidak pernah melihat orang alim seperti Al-Muwaffaq”.

Cucu Ibn Al-Jauzi barkata: ”Orang yang melihat Al-Muwaffaq seakan-akan ia melihat salah seorang
sahabat nabi. Seakan-akan cahaya memancar dari wajahnya.”

Imam Al-Muwaffaqiq adalh seorang imam di berbagai disiplin ilmu syar’i. Di zaman beliau, setelah
saudaranya(Abu Umar), tiada orang yang lebih zuhud, lebih wara’ dan lebih mapan ilmunya melebihi
beliau.

Beliau mengikuti jejek As-Salaf dalam masalah aqidah, kezuhudan, dan kewara’an. Beliau sangat
pemalu, sangat menjauh dari gemerlapnya dunia dan dari pengejarnya. Beliau sosok yang pemaaf,
tidak kaku dan sangat rendah hati, cinta kepada orang yang kesusahan, mulia akhlaknya, banyak
berkorban untuk orang lain, tekun beribadah, kaya keutamaan, berotak cerdas, sangat jeli dalam
ilmunya, sangat tenang, sedikit bicara, dan banyak kerja. Orang merasa tentram dan damai dengan
sekedar memandang wajahnya walau sebelum beliau berbicara. Kebaikan dan kemuliaan sifat beliau
tidak terhitung. Al-Hafidzh Dhiya’uddin al-Maqdisi, demikian juga al-Hafidzh Adz-Dzahabi, menulis
sebuah kitab tentang biogrfi Imam Ibnu Qudamah ini.

Kemasyhuran Imam Ibnu Qudamah tidak terbatas pada masalah keilmuan dan ketaqwaan, akan tetapi
beliau juga seorang mujahod yang terjun di medan jihad fisabilillah bersama pahlawan besar
Shalahuddin al-Ayyubi yang berhasil menyatukan kekuatan militer umat Islam pada tahun 583 H untuk
menumpas tentara salib dan membersihkan tanah suci Quds dari najis mereka. Para penulis biografi
Imam Ibnu Qudamah menyebutkan bahwa belia dan saudara kandungnya, Abu Umar, beserta murid-
murid beliau dan beberapa orang keluarganya turut berjihad di bawah panji-panij para mujahidin yang
dimenangkan oleh Alloh ini. Beliau berdua dan murid-muridnya mempunyai satu kemah yang
senantiasa berpindah-pindah kemanapun para mujahidin berpindah dan mengambil posisi.

Imam Ibnu Qudamah wafat pada hari Sabtu,tepat di hari Idul Fithri tahun 629 H. Beliau dimakamkan
di kaki gunung Qasiun di Shalihiya, di sebuah lereng di atas Jami’ Al-Hanabilah (masjid besar para
pengikut madzab Imam Ahmad Bin Hanbal).




                                                 
                          9. Murid-Murid Mereka :


                       Ibnu Daqiq Al-’Ied (wafat 702 H)
Nama lengkapnya adalah Taqiyuddin Abu al-Fath Muhammad bin Ali bin Wahb bin Muthi’ al-
Qusyairi al-Manfaluthi ash-Sha’idi al-Maliki asy-Syafi’i, banyak menulis kitab dan dia juga pensyarah
arbai’in Nawawi.

Kelahirannya

Dilahirkan pada bulan Sya’ban tahun 625, dekat Yanbu’, Hijaz. Ia mendengar dari Ibnul Muqirah,
tetapi ia ragu mengenai cara pengambilan. Ia menuturkan dari Ibnu al-Jumaizi, Sabth as-Salafi, al-
Hafizh Zakiyuddin, dan sejumlah kalangan. Sementara di Damas-kus dari Ibnu Abdid Da’im dan Abul
Baqa’ Khalid bin Yusuf.

Karya Tulisnya

Ia menulis Syarh al-Umdah, kitab al-Ilmam, mengerjakan al-Imam fi al-Ahkam, yang seandainya
selesai tulisannya niscaya menca-pai 15 jilid, dan mengerjakan kitab mengenai ilmu-ilmu hadits.

Ia salah seorang cendekiawan pada masanya, luas ilmunya, banyak kitab-kitabnya, senantiasa berjaga
(untuk shalat malam), senantiasa dalam kesibukan, tenang lagi wara’. Jarang sekali mata melihat orang
sepertinya.

Ia memiliki kemampuan yang mumpuni mengenai ushul dan ma’qul, serta ahli mengenai ilat-ilat
manqul. Menjabat sebagai qadhi di negeri Mesir beberapa tahun hingga meninggal dunia. Ia, berke-
naan dengan masalah bersuci dan air, sangat ragu-ragu.

Al-Hafizh Quthbuddin mengatakan, “Syaikh Taqiyuddin adalah imam pada masanya, dan termasuk
orang yang tinggi dalam ilmu dan kezuhudan dibandingkan sejawatnya. Tahu mengenai dua madz-hab,
imam mengenai dua prinsip madzhab, hafidz dan seksama dalam hadits dan ilmu-ilmunya. Ia dijadikan
perumpamaan mengenai hal itu. Ia simbol dalam hafalan, keseksamaan dan ketelitian, sangat besar rasa
takutnya, senantiasa berdzikir, dan tidak tidur malam kecuali sedikit. Ia menghabiskan malamnya di
antara menelaah, membaca al-Qur’an, dzikir, dan tahajjud, sehingga berjaga menjadi kebiasaannya.
Seluruh waktunya diisi dengan suatu yang berguna. Ia banyak belas kasih kepada orang-orang yang
sibuk lagi banyak berbuat kebajikan kepada mereka.

Ia wafat pada tahun 702 H.

Disalin dari Biografi Daqiq al-Ied dalamTadzkirah al-Huffazh adz Dzahab




                                                             
                     Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah
Syeikhul Islam Taqiyuddin Abul Abbas Ahmad Bin Abdul Halim Bin Abdus Salam Bin Abdullah bin
Al-Khidhir bin Muhammad bin Taimiyah An- Numairy Al Harani Adimasqi Al Hambali. Beliau
adalah Imam, Qudwah, ‘Alim, Zahid dan Da’i ila Allah, baik dengan kata, tindakan, kesabaran maupun
jihadnya. Syaikhul Islam, Mufti Anam, pembela dinullah dan penghidup sunah Rasul shalallahu’alaihi
wa sallam yang telah dimatikan oleh banyak orang.

Lahir di Harran, salah satu kota induk di Jazirah Arabia yang terletak antara sungai Dajalah (Tigris)
dengan Efrat, pada hari Senin 10 Rabiu’ul Awal tahun 661H. Beliau berhijrah ke Damasyq (Damsyik)
bersama orang tua dan keluarganya ketika umurnya masih kecil, disebabkan serbuan tentara Tartar atas
negerinyaa. Mereka menempuh perjalanan hijrah pada malam hari dengan menyeret sebuah gerobak
besar yang dipenuhi dengan kitab-kitab ilmu, bukan barang-barang perhiasan atau harta benda, tanpa
ada seekor binatang tunggangan-pun pada mereka.

Suatu saat gerobak mereka mengalami kerusakan di tengah jalan, hingga hampir saja pasukan musuh
memergokinya. Dalam keadaan seperti ini, mereka ber-istighatsah (mengadukan permasalahan) kepada
Allah Ta’ala. Akhirnya mereka bersama kitab- kitabnya dapat selamat.

PERTUMBUHAN DAN GHIRAHNYA KEPADA ILMU

Semenjak kecil sudah nampak tanda-tanda kecerdasan pada diri beliau. Begitu tiba di Damsyik beliau
segera menghafalkan Al-Qur’an dan mencari berbagai cabang ilmu pada para ulama, huffazh dan ahli-
ahli hadits negeri itu. Kecerdasan serta kekuatan otaknya membuat para tokoh ulama tersebut
tercengang.

Ketika umur beliau belum mencapai belasan tahun, beliau sudah menguasai ilmu Ushuluddin dan
sudah mengalami bidang-bidang tafsir, hadits dan bahasa Arab.

Pada unsur-unsur itu, beliau telah mengkaji musnad Imam Ahmad sampai beberapa kali, kemudian
kitabu-Sittah dan Mu’jam At-Thabarani Al-Kabir.

Suatu kali, ketika beliau masih kanak-kanak pernah ada seorang ulama besar dari Halab (suatu kota
lain di Syria sekarang, pen.) yang sengaja datang ke Damasyiq, khusus untuk melihat si bocah bernama
Ibnu Taimiyah yang kecerdasannya menjadi buah bibir. Setelah bertemu, ia memberikan tes dengan
cara menyampaikan belasan matan hadits sekaligus. Ternyata Ibnu Taimiyah mampu menghafalkannya
secara cepat dan tepat. Begitu pula ketika disampaikan kepadanya beberapa sanad, beliaupun dengan
tepat pula mampu mengucapkan ulang dan menghafalnya. Hingga ulama tersebut berkata: “Jika anak
ini hidup, niscaya ia kelak mempunyai kedudukan besar, sebab belum pernah ada seorang bocah seperti
dia.

Sejak kecil beliau hidup dan dibesarkan di tengah-tengah para ulama, mempunyai kesempatan untuk
mereguk sepuas-puasnya taman bacaan berupa kitab-kitab yang bermanfaat. Beliau infakkan seluruh
waktunya untuk belajar dan belajar, menggali ilmu terutama kitabullah dan sunah Rasul-Nya
shallallahu’alaihi wa sallam.

Lebih dari semua itu, beliau adalah orang yang keras pendiriannya dan teguh berpijak pada garis-garis
yang telah ditentukan Allah, mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Beliau
pernah berkata: ”Jika dibenakku sedang berfikir suatu masalah, sedangkan hal itu merupakan masalah
yang muskil bagiku, maka aku akan beristighfar seribu kali atau lebih atau kurang. Sampai dadaku
menjadi lapang dan masalah itu terpecahkan. Hal itu aku lakukan baik di pasar, di masjid atau di
madrasah. Semuanya tidak menghalangiku untuk berdzikir dan beristighfar hingga terpenuhi cita-
citaku.”

Begitulah seterusnya Ibnu Taimiyah, selalu sungguh-sungguh dan tiada putus-putusnya mencari ilmu,
sekalipun beliau sudah menjadi tokoh fuqaha’ dan ilmu serta dinnya telah mencapai tataran tertinggi.
PUJIAN ULAMA

Al-Allamah As-Syaikh Al-Karamy Al-Hambali dalam Kitabnya Al-Kawakib AD-Darary yang disusun
kasus mengenai manaqib (pujian terhadap jasa-jasa) Ibnu Taimiyah, berkata: “Banyak sekali imam-
imam Islam yang memberikan pujian kepada (Ibnu Taimiyah) ini. Diantaranya: Al-Hafizh Al-Mizzy,
Ibnu Daqiq Al-Ied, Abu Hayyan An-Nahwy, Al-Hafizh Ibnu Sayyid An-Nas, Al-Hafizh Az-
Zamlakany, Al-Hafidh Adz-Dzahabi dan para imam ulama lain.

Al-Hafizh Al-Mizzy mengatakan: “Aku belum pernah melihat orang seperti Ibnu Taimiyah … dan
belum pernah kulihat ada orang yang lebih berilmu terhadap kitabullah dan sunnah Rasulullah
shallahu’alaihi wa sallam serta lebih ittiba’ dibandingkan beliau.”

Al-Qadhi Abu Al-Fath bin Daqiq Al-Ied mengatakan: “Setelah aku berkumpul dengannya, kulihat
beliau adalah seseorang yang semua ilmu ada di depan matanya, kapan saja beliau menginginkannya,
beliau tinggal mengambilnya, terserah beliau. Dan aku pernah berkata kepadanya: “Aku tidak pernah
menyangka akan tercipta manasia seperti anda.”

Al-Qadli Ibnu Al-Hariry mengatakan: “Kalau Ibnu Taimiyah bukah Syaikhul Islam, lalu siapa dia ini
?” Syaikh Ahli nahwu, Abu Hayyan An-Nahwi, setelah beliau berkumpul dengan Ibnu Taimiyah
berkata: “Belum pernah sepasang mataku melihat orang seperti dia…” Kemudian melalui bait-bait
syairnya, beliau banyak memberikan pujian kepadanya.

Penguasaan Ibnu Taimiyah dalam beberapa ilmu sangat sempurna, yakni dalam tafsir, aqidah, hadits,
fiqh, bahasa arab dan berbagai cabang ilmu pengetahuan Islam lainnya, hingga beliau melampaui
kemampuan para ulama zamannya. Al-‘Allamah Kamaluddin bin Az-Zamlakany (wafat th. 727 H)
pernah berkata: “Apakah ia ditanya tentang suatu bidang ilmu, maka siapa pun yang mendengar atau
melihat (jawabannya) akan menyangka bahwa dia seolah-olah hanya membidangi ilmu itu, orang pun
akan yakin bahwa tidak ada seorangpun yang bisa menandinginya”. Para Fuqaha dari berbagai
kalangan, jika duduk bersamanya pasti mereka akan mengambil pelajaran bermanfaat bagi
kelengkapan madzhab-madzhab mereka yang sebelumnya belum pernah diketahui. Belum pernah
terjadi, ia bisa dipatahkan hujahnya. Beliau tidak pernah berkata tentang suatu cabang ilmu, baik ilmu
syariat atau ilmu lain, melainkan dari masing-masing ahli ilmu itu pasti terhenyak. Beliau mempunyai
goresan tinta indah, ungkapan-ungkapan, susunan, pem- bagian kata dan penjelasannya sangat bagus
dalam penyusunan buku-buku.”

Imam Adz-Dzahabi rahimahullah (wafat th. 748 H) juga berkata: “Dia adalah lambang kecerdasan dan
kecepatan memahami, paling hebat pemahamannya terhadap Al-Kitab was-Sunnah serta perbedaan
pendapat, dan lautan dalil naqli. Pada zamannya, beliau adalah satu-satunya baik dalam hal ilmu,
zuhud, keberanian, kemurahan, amar ma’ruf, nahi mungkar, dan banyaknya buku-buku yang disusun
dan amat menguasai hadits dan fiqh.

Pada umurnya yang ke tujuh belas beliau sudah siap mengajar dan berfatwa, amat menonjol dalam
bidang tafsir, ilmu ushul dan semua ilmu-ilmu lain, baik pokok-pokoknya maupun cabang-cabangnya,
detailnya dan ketelitiannya. Pada sisi lain Adz-Dzahabi mengatakan: “Dia mempunyai pengetahuan
yang sempurna mengenai rijal (mata rantai sanad), Al-Jarhu wat Ta’dil, Thabaqah-Thabaqah sanad,
pengetahuan ilmu-ilmu hadits antara shahih dan dhaif, hafal matan-matan hadits yang menyendiri
padanya ….. Maka tidak seorangpun pada waktu itu yang bisa menyamai atau mendekati tingkatannya
….. Adz-Dzahabi berkata lagi, bahwa: “Setiap hadits yang tidak diketahui oleh Ibnu Taimiyah, maka
itu bukanlah hadist.

Demikian antara lain beberapa pujian ulama terhadap beliau.

Sejarah telah mencatat bahwa bukan saja Ibnu Taimiyah sebagai da’i yang tabah, liat, wara’, zuhud dan
ahli ibadah, tetapi beliau juga seorang pemberani yang ahli berkuda. Beliau adalah pembela tiap
jengkal tanah umat Islam dari kedzaliman musuh dengan pedannya, seperti halnya beliau adalah
pembela aqidah umat dengan lidah dan penanya.
Dengan berani Ibnu Taimiyah berteriak memberikan komando kepada umat Islam untuk bangkit
melawan serbuan tentara Tartar ketika menyerang Syam dan sekitarnya. Beliau sendiri bergabung
dengan mereka dalam kancah pertempuran. Sampai ada salah seorang amir yang mempunyai diin yang
baik dan benar, memberikan kesaksiannya: “…… tiba-tiba (di tengah kancah pertempuran) terlihat dia
bersama saudaranya berteriak keras memberikan komando untuk menyerbu dan memberikan
peringatan keras supaya tidak lari …” Akhirnya dengan izin Allah Ta’ala, pasukan Tartar berhasil
dihancurkan, maka selamatlah negeri Syam, Palestina, Mesir dan Hijaz.

Tetapi karena ketegaran, keberanian dan kelantangan beliau dalam mengajak kepada al-haq, akhirnya
justru membakar kedengkian serta kebencian para penguasa, para ulama dan orang-orang yang tidak
senang kepada beliau. Kaum munafiqun dan kaum lacut kemudian meniupkan racun-racun fitnah
hingga karenanya beliau harus mengalami berbagai tekanan di pejara, dibuang, diasingkan dan disiksa.

KEHIDUPAN PENJARA

Hembusan-hembusan fitnah yang ditiupkan kaum munafiqin serta antek-anteknya yang mengakibatkan
beliau mengalami tekanan berat dalam berbagai penjara, justru dihadapi dengan tabah, tenang dan
gembira. Terakhir beliau harus masuk ke penjara Qal’ah di Dimasyq. Dan beliau berkata:
“Sesungguhnya aku menunggu saat seperti ini, karena di dalamnya terdapat kebaikan besar.”

Dalam syairnya yang terkenal beliau juga berkata: “Apakah yang diperbuat musuh padaku !!!! Aku,
taman dan dikebunku ada dalam dadaku Kemanapun ku pergi, ia selalu bersamaku dan tiada pernah
tinggalkan aku. Aku, terpenjaraku adalah khalwat Kematianku adalah mati syahid. Terusirku dari
negeriku adalah rekreasi.

Beliau pernah berkata dalam penjara: “ Orang dipenjara ialah orang yang terpenjara hatinya dari
Rabbnya, orang yang tertawan ialah orang yang ditawan orang oleh hawa nafsunya.”

Ternyata penjara baginya tidak menghalangi kejernihan fitrah islahiyah-nya, tidak menghalanginya
untuk berdakwah dan menulis buku-buku tentang Aqidah, Tafsir dan kitab-kitab bantahan terhadap
ahli-ahli bid’ah.

Pengagum-pengagum beliau diluar penjara semakin banyak. Sementara di dalam penjara, banyak
penghuninya yang menjadi murid beliau, diajarkannya oleh beliau agar mereka iltizam kepada syari’at
Allah, selalu beristighfar, tasbih, berdoa dan melakukan amalan-amalan shahih. Sehingga suasana
penjara menjadi ramai dengan suasana beribadah kepada Allah. Bahkan dikisahkan banyak penghuni
penjara yang sudah mendapat hak bebas, ingin tetap tinggal di penjara bersamanya. Akhirnya penjara
menjadi penuh dengan orang-orang yang mengaji.

Tetapi kenyataan ini menjadikan musuh-musuh beliau dari kalangan munafiqin serta ahlul bid’ah
semakin dengki dan marah. Maka mereka terus berupaya agar penguasa memindahkan beliau dari satu
penjara ke penjara yang lain. Tetapi inipun menjadikan beliau semakin terkenal. Pada akhirnya mereka
menuntut kepada pemerintah agar beliau dibunuh, tetapi pemerintah tidak mendengar tuntutan mereka.
Pemerintah hanya mengeluarkan surat keputusan untuk merampas semua peralatan tulis, tinta dan
kertas-kertas dari tangan Ibnu Taimiyah.

Namun beliau tetap berusaha menulis di tempat-tempat yang memungkinkan dengan arang. Beliau tulis
surat-surat dan buku-buku dengan arang kepada sahabat dan murid-muridnya. Semua itu menunjukkan
betapa hebatnya tantangan yang dihadapi, sampai kebebasan berfikir dan menulis pun dibatasi. Ini
sekaligus menunjukkan betapa sabar dan tabahnya beliau. Semoga Allah merahmati, meridhai dan
memasukkan Ibnu Taimiyah dan kita sekalian ke dalam surganya.

WAFATNYA

Beliau wafatnya di dalam penjara Qal’ah Dimasyq disaksikan oleh salah seorang muridnya yang
menonjol, Al-‘Allamah Ibnul Qayyim Rahimahullah.
Beliau berada di penjara ini selama dua tahun tiga bulan dan beberapa hari, mengalami sakit dua puluh
hari lebih. Selama dalam penjara beliau selalu beribadah, berdzikir, tahajjud dan membaca Al-Qur’an.
Dikisahkan, dalam tiah harinya ia baca tiga juz. Selama itu pula beliau sempat menghatamkan Al-
Qur’an delapan puluh atau delapan puluh satu kali.

Perlu dicatat bahwa selama beliau dalam penjara, tidak pernah mau menerima pemberian apa pun dari
penguasa.

Jenazah beliau dishalatkan di masjid Jami’Bani Umayah sesudah shalat Zhuhur. Semua penduduk
Dimasyq (yang mampu) hadir untuk menshalatkan jenazahnya, termasuk para Umara’, Ulama, tentara
dan sebagainya, hingga kota Dimasyq menjadi libur total hari itu. Bahkan semua penduduk Dimasyq
(Damaskus) tua, muda, laki, perempuan, anak-anak keluar untuk menghormati kepergian beliau.

Seorang saksi mata pernah berkata: “Menurut yang aku ketahui tidak ada seorang pun yang
ketinggalan, kecuali tiga orang musuh utamanya. Ketiga orang ini pergi menyembunyikan diri karena
takut dikeroyok masa. “Bahkan menurut ahli sejarah, belum pernah terjadi jenazah yang dishalatkan
serta dihormati oleh orang sebanyak itu melainkan Ibnu Taimiyah dan Imam Ahmad bin Hambal.

Beliau wafat pada tanggal 20 Dzul Hijjah th. 728 H, dan dikuburkan pada waktu Ashar di samping
kuburan saudaranya Syaikh Jamal Al-Islam Syarafuddin. Semoga Allah merahmati Ibnu Taimiyah,
tokoh Salaf, da’i, mujahidd, pembasmi bid’ah dan pemusnah musuh. Wallahu a’lam.

(Dikutip: Ibnu Taimiyah, Bathal Al-Islah Ad-Diny. Mahmud Mahdi Al-Istambuli. Maktabah Dar-Al-Ma’rifah–Dimasyq )




                                                           
                 Al-Imam Adz-Dzahabi (673-784 H)
Nama dan Nasabnya

ama lengkapnya Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qaimaz bin Abdullah adz-
Dzahabi al-Fariqi. Beliau berasal dari negara Turkumanistan, dan Maula Bani Tamim.

Kelahirannya

Beliau dilahirkan pada tahun 673 H di Mayyafariqin Diyar Bakr. Ia dikenal dengan kekuatan hafalan,
kecerdasan, kewara’an, kezuhudan, kelurusan aqidah dan kefasihan lisannya.

Guru-gurunya

Beliau menuntut ilmu sejak usia dini dan ketika berusia 18 tahun menekankan perhatian pada dua
bidang ilmu: Ilmu-ilmu al-Qur’an dan Hadits Nabawi. Beliau menempuh perjalanan yang jauh dalam
mencari ilmu ke Syam, Mesir, dan Hijaz (Mekkah dan Madinah). Beliau mengambil ilmu dari para
ulama di negeri-negeri tersebut. Diantara para ulama yang menjadi guru-guru beliau adalah:

    1. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

    Yang beliau letakkan namannya paling awal di deretan guru-guru yang memberikan ijazah pada
    beliau dalam kitabnya, Mu’jam asy-Syuyukh. Beliau begitu mengagumi Syaikhul Islam Ibnu
    Taimiyah dengan mengatakan, “Dia lebih agung jika aku yang menyifatinya. Seandainya aku
    bersumpah di antara rukun dan maqam maka sungguh aku akan bersumpah bahwa mataku belum
    pernah melihat yang semisalnya. Tidak…-Demi Allah- bahkan dia sendiri belum pernah melihat
    yang semisalnya dalam hal keilmuan.” (Raddul Wafir , hal. 35)

    2. Al-Hafizh Jamaluddin Yusuf bin Abdurman al-Mizzi

    Yang dikatakan oleh beliau, “Dia adalah sandaran kami jika kami menemui masalah-masalah yang
    musykil.” (ad-Durar al-Kaminah,V:235)

    3. Al-Hafizh Alamuddin Abdul Qasim bin Muhammad al-Birzali

    Yang menyemangati beliau dalam belajar ilmu hadits, beliau mengatakan tentangnya: “Dialah
    yang menjadikanku mencintai ilmu hadits.” (ad-Durar al-Kaminah, III:323)

Ketiga ulama diatas adalah yang banyak memberikan pengaruh terhadap kepribadian beliau. Adapun
guru-guru beliau yang lainnya adalah Umar bin Qawwas, Ahmad bin Hibatullah bin Asakir, Yusuf bin
Ahmad al-Ghasuli, Abdul Khaliq bin Ulwan, Zainab bintu Umar bin Kindi, al-Abuqi, Isa bin Abdul
Mun’im bin Syihab, Ibnu Daqiqil ‘Id, Abu Muhammad ad-Dimyathi, Abul abbas azh-Zhahiri, ali bin
Ahmad al-Gharrafi, Yahya bin ahmad ash-Shawwaf, at-Tauzari, masih banyak lagi yang lainnya.

Al-Imam adz-Dzahabi memiliki Mu’jam asy-Syuyukh (Daftar Guru-Guru) beliau yang jumlahnya
mencapai 3000-an orang (adz-Dzahabi wa Manhajuhu fi Kitabihi, Tarikhil Islam)

Murid-Muridnya

Di antara murid beliau adalah: Tajuddin as-Subki, Muhammad bin Ali al-Husaini, al-Hafizh Ibnu kasir,
al-Hafizh Ibnu Rajab, dan masih banyak lagi selain mereka.
Pujian Para Ulama Kepada Beliau

Al-Imam Ibnu Nashruddin ad-Dimasyqi berkata, “Beliau adalah Ayat (tanda kebesaran Allah-red)
dalam ilmu rijal, sandaran dalam jarh wa ta’dil (ilmu kritik hadits-red) lantaran mengetahui cabang dan
pokoknya, imam dalam qiraat, faqih dalam pemikiran, sangat paham dengan madzhab-madzhab para
imam dan para pemilik pemikiran, penyebar sunnah dan madzhab salaf di kalangan generasi yang
datang belakangan.” (Raddul Wafir, hal. 13) Ibnu Katsir berkata, “Beliau adalah Syaikh al-Hafizh al-
kabir, Pakar Tarikh Islam, Syaikhul muhadditsin ……beliau adalah penutup syuyukh hadits dan
huffazhnya.” (al-Bidayah wa an-Nihayah, XIV:225)

Tajuddin as-Subki berkata, “Beliau adalah syaikh Jarh wa Ta’dil, pakar Rijal, seakan-akan umat ini
dikumpulkan di satu tempat kemudian beliau melihat dan mengungkapkan seja mereka.” (Thabaqah
Syafi’iyyah Kubra, IX:101)

an-Nabilisi berkata, “Beliau pakar zamannya dalam hal perawi dan keadaaan-keadaan mereka, tajam
pemahamannya, cerdas, dan ketenarannya sudah mencukupi dari pada menyebutkan sifat-sifat nya.”
(ad-Durar al-Kaminah, III:427)

Ash-Shafadi berkata, “Beliau seorang hafizh yang tidak tertandingi, penceramah yang tidak tersaingi,
mumpuni dalam hadits dan rijalnya, memiliki pengetahuan yang sempurna tentang ‘illah dan keadaan-
keadaannya, memiliki pengetahuan yang sempurna tentang biografi manusia. Menghilangkan
ketidakjelasan dan kekaburan dalam seja manusia. Beliau memiliki akal yang cerdas, benarlah
nisbahnya kepada dzahab (emas). Beliau mengumpulkan banyak bidang ilmu, memberi manfaat yang
banyak kepada manusia, banyak memiliki karya ilmiah, lebih mengutamakan hal yang ringkas dalam
tulisannya dan tidak berpanjang lebar. Aku telah bertemu dan berguru kepadanya, dan membaca
banyak dari tulisan-tulisannya di bawah bimbingannya. Aku tidak menjumpai padanya kejumudan,
bahkan dia adalah faqih dalam pandangannya, memiliki banyak pengetahuan tentang perkataan-
perkataan ulama, madzhab-madzahab para imam salaf dan para pemilik pemikiran.” (al-Wafi bil
Wafayat, II:163)

Di Antara Perkataan-Perkataan Beliau

Al-Imam adz-Dzahabi berkata, “Tidak sedikit orang yang memusatkan perhatiannya pada ilmu kalam
melainkan ijtihadnya akan membawanya kepada perkataan yang menyelisihi Sunnah. Karena itulah
ulama salaf mencela setiap yang belajar ilmu-ilmu para umat sebelum Islam. Ilmu kalam turunan dari
ilmu para filosof atheis. Barangsiapa yang sengaja ingin menggabungkan ilmu para nabi dengan ilmu
para ahli filsafat dengan mengandalkan kecerdasannya maka pasti dia akan menyelisihi para nabi dan
para ahli filsafat. Dan barangsiapa yang berjalan di belakang apa yang dibawa oleh para rasul
…..maka sungguh dia telah menempuh jalan salaf dan menyelamatkan agma dan keyakinannya.”
(Mizanul I’tidal, III:144)

Beliau menukil perkataan ma’mar, “Dahulu dikatakan bahwa seseorang menuntut ilmu untuk selain
Allah maka ilmu itu enggan hingga semata-mata untuk Allah.” Kemudian beliau mengomentari
perkataan ma’mar tersebut dengan mengatakan, “Ya, dia awalnya menuntut ilmu atas dorongan
kecintaan kepada ilmu, agar menghilangkan kejahilannya, agar mendapat pekerjaan, dan yang
semacamnya. Dia belum tahu tentang wajibnya ikhlas dalam menuntutnya dan kebenaran niat di
dalamnya. Maka jika sudah mengetahuinya, dia hisab dirinya dan takut terhadap akibat buruk dari
niatnya yang keliru, maka datanglah kepada niat yang shahih semuanya atau sebagiannya. Kadang dia
bertaubat dari niatnya yang keliru dan menyesal. Tanda atas hal itu ialah bahwasanya dia mengurangi
dari klaim-klaim, perdebatan, dan perasaan memiliki ilmu yang banyak, dan dia hinakan dirinya.
Adapun jika dia merasa banyak ilmunya atau mengatakan “saya lebih berilmu dari pada Fulan; maka
sungguh celakalah dia.” (Siyar A’lamin Nubala’ , VII:17)

Beliau berkata, “Yang dibutuhkan oleh seorang hafizh adalah hendaknya bertakwa, cerdas, mahir
Nahwu, mahir ilmu bahasa, memiliki rasa malu dan bermanhaj salaf.” (Siyar, XIII:380)

Beliau berkata, “Ahli hadits sekarang hendaknya memperhatikan kutubs sittah, musnad Ahamd dan
Sunan Baihaqi. Dan hendaknya teliti terhadap matan-matan dan sanad-sanadnya, kemudian tidak
mengambil manfa’at dari hal itu hingga dia bertakwa kepada Rabbnya dan menjadikan hadits sebagai
dasar agama. Kemudian ilmu bukanlah dengan banyak riwayat, tetapi dia adalah cahaya yang Allah
pancarkan ke dalam hati dan syaratnya adalah ittiba’ (mengikuti nabi Shallallahu alaihi wassalam-red)
dan menjauhkan diri dari hawa nafsu dan kebid’ahan.” (Siyar, XIII:323)

Beliau berkata, “Kebanyakan ulama pada zaman ini terpaku dengan taqlid dalam hal furu’, tidak mau
mengembangkan ijtihad, tenggelam dalam logika-logika umat terdahulu dan pemikiran ahli filsafat.
Dengan demikian, bencana pun meluas, hawa nafsu menjadi hukum dan tanda-tanda tercabutnya ilmu
semakin nampak. Semoga Allah memati seseorang yang mau memperhatikan kondisi dirinya, menjaga
ucapannya, selalu membaca al-Qur’an, menangis atas kejadian zaman, memperhatikan kitab ash-
Shahihain dan beribadah kepada Allah sebelum ajal datang secara tiba-tiba.” (Tadzki al-Huffazh,
II:530)

Karya-Karyanya

Beliau memiliki sekitar 100 karya tulis, di antara karya-karya tulis itu adalah:
a. al-‘Uluww lil ‘Aliyyil Ghaffar
b. Taariikhul Islam
c. Siyar A’laamin Nubalaa’
d. Mukhtashar Tahdziibil Kamaal
e. Miizaanul I’tidaal Fii Naqdir Rijaal
f. Thabaqatul Huffazh
g. Al-Kaasyif Fii Man Lahu Riwaayah Fil Kutubis Sittah
h. Mukhtashar Sunan al-Baihaqi
i. Halaqatul Badr Fii ‘Adadi Ahli Badr
j. Thabaqatul Qurra’
k. Naba’u Dajjal
l. Tahdziibut Tahdziib
m. Tanqiih Ahaadiitsit Ta’liiq
n. Muqtana Fii al-Kuna
o. Al-Mughni Fii adh-Dhu’afaa’
p. Al-‘Ibar Fii Khabari Man Ghabar
q. Talkhiishul Mustadrak
r. Ikhtishar Taarikhil Kathib
s. Al-Kabaair
t. Tahriimul Adbar
u. Tauqif Ahli Taufiq Fi Manaaqibi ash-Shiddiq
v. Ni’mas Smar Fi Manaaqib ‘Umar
w. At-Tibyaan Fi Manaaqib ‘Utsman
x. Fathul Mathalib Fii Akhbaar Ali bin Abi Thalib
y. Ma Ba’dal Maut
z. Ikhtishar Kitaabil Qadar Lil Baihaqi
aa. Nafdhul Ja’bah Fi Akhbaari Syu’bah
bb. Ikhtishar Kitab al-Jihad, ‘Asakir
cc. Mukhtashar athraafil Mizzi
dd. At-Tajriid Fii Asmaa’ ish Shahaabah
ee. Mukhtashar Tariikh Naisabuur, al-Hakim
ff. Mukthashar al-Muhalla dan Tartiil Maudhuu’at, Ibn al-Jauzi

Wafatnya

Ia wafat pada malam Senin, 3 Dzulqa’dah 748 H, di Damaskus, Syiria dan dimakamkan di pekuburan
Bab ash-Shaghir.

Sumber: Thabaqah asy-Syafi’iyyah al-Kubra, Tajuddin as-Subki (IX:100-116), Raddul Wafiir, Ibn Nashiruddin ad-Dimasqi,
hal.31-32 , Abjadul ‘Ulum, Shiddiq Hasan Khan (III:99-100) ,Dzail Tadzkiratil Huffazh (I:34-37)



                                                          
     Imam Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah (wafat 656 H)
Nama seberanya adalah Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abi Bakr bin Ayyub bin Sa’ad bin
Huraiz az-Zar’i, kemudian ad-Dimasyqi. Dikenal dengan ibnul Qayyim al-Jauziyyah nisbat kepada
sebuah madrasah yang dibentuk oleh Muhyiddin Abu al-Mahasin Yusuf bin Abdil Rahman bin Ali al-
Jauzi yang wafat pada tahun 656 H, sebab ayah Ibnul Qayyim adalah tonggak bagi madrasah itu. Ibnul
Qayyim dilahirkan di tengah keluarga berilmu dan terhormat pada tanggal 7 Shaffar 691 H. Di
kampung Zara’ dari perkampungan Hauran, sebelah tenggara Dimasyq (Damaskus) sejauh 55 mil.

Pertumbuhan Dan Thalabul Ilminya

Ia belajar ilmu faraidl dari bapaknya karena beliau sangat menonjol dalam ilmu itu. Belajar bahasa
Arab dari Ibnu Abi al-Fath al-Baththiy dengan membaca kitab-kitab: (al-Mulakhkhas li Abil Balqa’
kemudian kitab al-Jurjaniyah, kemudian Alfiyah Ibnu Malik, juga sebagian besar Kitab al-kafiyah was
Syafiyah dan sebagian at-Tas-hil). Di samping itu belajar dari syaikh Majduddin at-Tunisi satu bagian
dari kitab al-Muqarrib li Ibni Ushfur.

Belajar ilmu Ushul dari Syaikh Shafiyuddin al-Hindi, Ilmu Fiqih dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
dan Syaikh Isma’il bin Muhammad al-Harraniy.

Beliau amat cakap dalam hal ilmu melampaui teman-temannya, masyhur di segenap penjuru dunia dan
amat dalam pengetahuannya tentang madzhab-madzhab Salaf.

Pada akhirnya beliau benar-benar bermulazamah secara total (berguru secara intensif) kepada Ibnu
Taimiyah sesudah kembalinya Ibnu Taimiyah dari Mesir tahun 712 H hingga wafatnya tahun 728 H.
Pada masa itu, Ibnul Qayyim sedang pada awal masa-masa mudanya. Oleh karenanya beliau sempat
betul-betul mereguk sumber mata ilmunya yang luas. Beliau dengarkan pendapat-pendapat Ibnu
Taimiyah yang penuh kematangan dan tepat. Oleh karena itulah Ibnul Qayyim amat mencintainya,
sampai-sampai beliau mengambil kebanyakan ijtihad-ijtihadnya dan memberikan pembelaan atasnya.
Ibnul Qayyim yang menyebarluaskan ilmu Ibnu Taimiyah dengan cara menyusun karya-karyanya yang
bagus dan dapat diterima.

Ibnul Qayyim pernah dipenjara, dihina dan diarak berkeliling bersama Ibnu Taimiyah sambil didera
dengan cambuk di atas seekor onta. Setelah Ibnu Taimiyah wafat, Ibnul Qayyim pun dilepaskan dari
penjara.

Sebagai hasil dari mulazamahnya (bergurunya secara intensif) kepada Ibnu Taimiyah, beliau dapat
mengambil banyak faedah besar, diantaranya yang penting ialah berdakwah mengajak orang supaya
kembali kepada kitabullah Ta’ala dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahihah,
berpegang kepada keduanya, memahami keduanya sesuai dengan apa yang telah difahami oleh as-
Salafus ash-Shalih, membuang apa-apa yang berselisih dengan keduanya, serta memperbaharui segala
petunjuk ad-Din yang pernah dipalajarinya secara benar dan membersihkannya dari segenap bid’ah
yang diada-adakan oleh kaum Ahlul Bid’ah berupa manhaj-manhaj kotor sebagai cetusan dari hawa-
hawa nafsu mereka yang sudah mulai berkembang sejak abad-abad sebelumnya, yakni: Abad
kemunduran, abad jumud dan taqlid buta.

Beliau peringatkan kaum muslimin dari adanya khurafat kaum sufi, logika kaum filosof dan zuhud
model orang-orang hindu ke dalam fiqrah Islamiyah.

Ibnul Qayyim rahimahullah telah berjuang untuk mencari ilmu serta bermulazamah bersama para
Ulama supaya dapat memperoleh ilmu mereka dan supaya bisa menguasai berbagai bidang ilmu Islam.

Penguasaannya terhadap Ilmu Tafsir tiada bandingnya, pemahamannya terhadap Ushuluddin mencapai
puncaknya dan pengetahuannya mengenai Hadits, makna hadits, pemahaman serta Istinbath-Istinbath
rumitnya, sulit ditemukan tandingannya.
Semuanya itu menunjukkan bahwa beliau rahimahullah amat teguh berpegang pada prinsip, yakni
bahwa “Baiknya” perkara kaum Muslimin tidak akan pernah terwujud jika tidak kembali kepada
madzhab as-Salafus ash-Shalih yang telah mereguk ushuluddin dan syari’ah dari sumbernya yang
jernih yaitu Kitabullah al-‘Aziz serta sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam asy-syarifah.

Oleh karena itu beliau berpegang pada (prinsip) ijtihad serta menjauhi taqlid. Beliau ambil istinbath
hukum berdasarkan petunjuk al-Qur’anul Karim, Sunnah Nabawiyah syarifah, fatwa-fatwa shahih para
shahabat serta apa-apa yang telah disepakati oleh ahlu ats tsiqah (ulama terpercaya) dan A’immatul
Fiqhi (para imam fiqih).

Dengan kemerdekaan fikrah dan gaya bahasa yang logis, beliau tetapkan bahwa setiap apa yang dibawa
oleh Syari’ah Islam, pasti sejalan dengan akal dan bertujuan bagi kebaikan serta kebahagiaan manusia
di dunia maupun di akhirat.

Beliau rahimahullah benar-benar menyibukkan diri dengan ilmu dan telah benar-benar mahir dalam
berbagai disiplin ilmu, namun demikian beliau tetap terus banyak mencari ilmu, siang maupun malam
dan terus banyak berdo’a.

Sasarannya

Sesungguhnya Hadaf (sasaran) dari Ulama Faqih ini adalah hadaf yang agung. Beliau telah susun
semua buku-bukunya pada abad ke-tujuh Hijriyah, suatu masa dimana kegiatan musuh-musuh Islam
dan orang-orang dengki begitu gencarnya. Kegiatan yang telah dimulai sejak abad ketiga Hijriyah
ketika jengkal demi jengkal dunia mulai dikuasai Isalam, ketika panji-panji Islam telah berkibar di
semua sudut bumi dan ketika berbagai bangsa telah banyak masuk Islam; sebahagiannya karena iman,
tetapi sebahagiannya lagi terdiri dari orang-orang dengki yang menyimpan dendam kesumat dan
bertujuan menghancurkan (dari dalam pent.) dinul Hanif (agama lurus). Orang-orang semacam ini
sengaja melancarkan syubhat (pengkaburan)-nya terhadap hadits-hadits Nabawiyah Syarif dan terhadap
ayat-ayat al-Qur’anul Karim.

Mereka banyak membuat penafsiran, ta’wil-ta’wil, tahrif, serta pemutarbalikan makna dengan maksud
menyebarluaskan kekaburan, bid’ah dan khurafat di tengah kaum Mu’minin.

Maka adalah satu keharusan bagi para A’immatul Fiqhi serta para ulama yang memiliki semangat
pembelaan terhadap ad-Din, untuk bertekad memerangi musuh-musuh Islam beserta gang-nya dari
kalangan kaum pendengki, dengan cara meluruskan penafsiran secara shahih terhadap ketentuan-
ketentuan hukum syari’ah, dengan berpegang kepada Kitabullah wa sunnatur Rasul shallallahu ‘alaihi
wa sallam sebagai bentuk pengamalan dari Firman Allah Ta’ala: “Dan Kami turunkan Al Qur’an
kepadamu, agar kamu menerangkan kepada Umat manusia apa yang telah diturunkan kepada
mereka.” (an-Nahl:44).

Juga firman Allah Ta’ala, “Dan apa-apa yang dibawa Ar Rasul kepadamu maka ambillah ia, dan apa-
apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (al-Hasyr:7).

Murid-Muridnya

Ibnul Qayyim benar-benar telah menyediakan dirinya untuk mengajar, memberi fatwa, berdakwah dan
melayani dialog. Karena itulah banyak manusia-manusia pilihan dari kalangan para pemerhati yang
menempatkan ilmu sebagai puncak perhatiannya, telah benar-benar menjadi murid beliau. Mereka itu
adalah para Ulama terbaik yang telah terbukti keutamaannya, di antaranya ialah: anak beliau sendiri
bernama Syarafuddin Abdullah, anaknya yang lain bernama Ibrahim, kemudian Ibnu Katsir ad-
Dimasyqiy penyusun kitab al-Bidayah wan Nihayah, al-Imam al-Hafizh Abdurrahman bin Rajab al-
Hambali al-Baghdadi penyusun kitab Thabaqat al-Hanabilah, Ibnu Abdil Hadi al-Maqdisi, Syamsuddin
Muhammad bin Abdil Qadir an-Nablisiy, Ibnu Abdirrahman an-Nablisiy, Muhammad bin Ahmad bin
Utsman bin Qaimaz adz-Dzhahabi at-Turkumaniy asy-Syafi’i, Ali bin Abdil Kafi bin Ali bin Taman As
Subky, Taqiyussssddin Abu ath-Thahir al-Fairuz asy-Syafi’i dan lain-lain.

Aqidah Dan Manhajnya
Adalah Aqidah Ibnul Qayyim begitu jernih, tanpa ternodai oleh sedikit kotoran apapun, itulah
sebabnya, ketika beliau hendak membuktikan kebenaran wujudnya Allah Ta’ala, beliau ikuti manhaj
al-Qur’anul Karim sebagai manhaj fitrah, manhaj perasaan yang salim dan sebagai cara pandang yang
benar. Beliau –rahimahullah- sama sekali tidak mau mempergunakan teori-teori kaum filosof.

Ibnul Qayiim rahimahullah mengatakan, “Perhatikanlah keadaan alam seluruhnya –baik alam bawah
maupun- alam atas dengan segala bagian-bagaiannya, niscaya anda akan temui semua itu memberikan
kesaksian tentang adanya Sang Pembuat, Sang Pencipta dan Sang Pemiliknya. Mengingkari adanya
Pencipta yang telah diakui oleh akal dan fitrah berarti mengingkari ilmu, tiada beda antara keduanya.
Bahwa telah dimaklumi; adanya Rabb Ta’ala lebih gamblang bagi akal dan fitrah dibandingkan dengan
adanya siang hari. Maka barangsiapa yang akal serta fitrahnya tidak mampu melihat hal demikian,
berarti akal dan fitrahnya perlu dipertanyakan.”

Hadirnya Imam Ibnul Qayyim benar-benar tepat ketika zaman sedang dilanda krisis internal berupa
kegoncangan dan kekacauan (pemikiran Umat Islam–Pent.) di samping adanya kekacauan dari luar
yang mengancam hancurnya Daulah Islamiyah. Maka wajarlah jika anda lihat Ibnul Qayyim waktu itu
memerintahkan untuk membuang perpecahan sejauh-jauhnya dan menyerukan agar umat berpegang
kepada Kitabullah Ta’ala serta Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Manhaj serta hadaf Ibnul Qayyim rahimahullah ialah kembali kepada sumber-sumber dinul Islam yang
suci dan murni, tidak terkotori oleh ra’yu-ra’yu (pendapat-pendapat) Ahlul Ahwa’ wal bida’ (Ahli
Bid’ah) serta helah-helah (tipu daya) orang-orang yang suka mempermainkan agama.

Oleh sebab itulah beliau rahimahullah mengajak kembali kepada madzhab salaf; orang-orang yang
telah mengaji langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Merekalah sesungguhnya yang
dikatakan sebagai ulama waratsatun nabi (pewaris nabi) shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam pada itu,
tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewariskan dinar atau dirham, tetapi beliau
mewariskan ilmu. Berkenaan dengan inilah, Sa’id meriwayatkan dari Qatadah tentang firman Allah
Ta’ala,
“Dan orang-orang yang diberi ilmu (itu) melihat bahwa apa yang diturunkan kepadamu dari Rabb mu
itulah yang haq.” (Saba’:6).

Qotadah mengatakan, “Mereka (orang-orang yang diberi ilmu) itu ialah para sahabat Muhammad
shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Di samping itu, Ibnul Qayyim juga mengumandangkan bathilnya madzhab taqlid.

Kendatipun beliau adalah pengikut madzhab Hanbali, namun beliau sering keluar dari pendapatnya
kaum Hanabilah, dengan mencetuskan pendapat baru setelah melakukan kajian tentang perbandingan
madzhab-madzhab yang masyhur.

Mengenai pernyataan beberapa orang bahwa Ibnul Qayyim telah dikuasai taqlid terhadap imam
madzhab yang empat, maka kita memberi jawaban sebagai berikut, Sesungguhnya Ibnul Qayyim
rahimahullah amat terlalu jauh dari sikap taqlid. Betapa sering beliau menyelisihi madzhab Hanabilah
dalam banyak hal, sebaliknya betapa sering beliau bersepakat dengan berbagai pendapat dari madzhab-
madzhab yang bermacam-macam dalam berbagai persoalan lainnya.

Memang, prinsip beliau adalah ijtihad dan membuang sikap taqlid. Beliau rahimahullah senantiasa
berjalan bersama al-Haq di mana pun berada, ittijah (cara pandang)-nya dalam hal tasyari’ adalah al-
Qur’an, sunnah serta amalan-amalan para sahabat, dibarengi dengan ketetapannya dalam berpendapat
manakala melakukan suatu penelitian dan manakala sedang berargumentasi.

Di antara da’wahnya yang paling menonjol adalah da’wah menuju keterbukaan berfikir. Sedangkan
manhajnya dalam masalah fiqih ialah mengangkat kedudukan nash-nash yang memberi petunjuk atas
adanya sesuatu peristiwa, namun peristiwa itu sendiri sebelumnya belum pernah terjadi.

Adapun cara pengambilan istinbath hukum, beliau berpegang kepada al-Kitab, as-Sunnah, Ijma’
Fatwa-fatwa shahabat, Qiyas, Istish-habul Ashli (menyandarkan persoalan cabang pada yang asli), al-
Mashalih al-Mursalah, Saddu adz-Dzari’ah (tindak preventif) dan al-‘Urf (kebiasaan yang telah diakui
baik).

Ujian Yang Dihadapi

Adalah wajar jika orang ‘Alim ini, seorang yang berada di luar garis taqlid turun temurun dan menjadi
penentang segenap bid’ah yang telah mengakar, mengalami tantangan seperti banyak dihadapi oleh
orang-orang semisalnya, menghadapi suara-suara sumbang terhadap pendapat-pendapat barunya.

Orang-orang pun terbagi menjadi dua kubu: Kubu yang fanatik kepadanya dan kubu lainnya kontra.
Oleh karena itu, beliau rahimahullah menghadapi berbagai jenis siksaan. Beliau seringkali mengalami
gangguan. Pernah dipenjara bersama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah secara terpisah-pisah di penjara al-
Qal’ah dan baru dibebaskan setelah Ibnu Taimiyah wafat.

Hal itu disebabkan karena beliau menentang adanya anjuran agar orang pergi berziarah ke kuburan
para wali. Akibatnya beliau disekap, dihinakan dan diarak berkeliling di atas seekor onta sambil didera
dengan cambuk.

Pada saat di penjara, beliau menyibukkan diri dengan membaca al-Qur’an, tadabbur dan tafakkur.
Sebagai hasilnya, Allah membukakan banyak kebaikan dan ilmu pengetahuan baginya. Di samping
ujian di atas, ada pula tantangan yang dihadapi dari para qadhi karena beliau berfatwa tentang bolehnya
perlombaan pacuan kuda asalkan tanpa taruhan. Sungguhpun demikian Ibnul Qayyim rahimahullah
tetap konsisten (teguh) menghadapi semua tantangan itu dan akhirnya menang. Hal demikian
disebabkan karena kekuatan iman, tekad serta kesabaran beliau. Semoga Allah melimpahkan pahala
atasnya, mengampuninya dan mengampuni kedua orang tuanya serta segenap kaum muslimin.

Pujian Ulama Terhadapnya

Sungguh Ibnul Qayyim rahimahullah teramat mendapatkan kasih sayang dari guru-guru maupun
muridnya. Beliau adalah orang yang teramat dekat dengan hati manusia, amat dikenal, sangat cinta
pada kebaikan dan senang pada nasehat. Siapa pun yang mengenalnya tentu ia akan mengenangnya
sepanjang masa dan akan menyatakan kata-kata pujian bagi beliau. Para Ulama pun telah memberikan
kesaksian akan keilmuan, kewara’an, ketinggian martabat serta keluasan wawasannya.

Ibnu Hajar pernah berkata mengenai pribadi beliau, “Dia adalah seorang yang berjiwa pemberani, luas
pengetahuannya, faham akan perbedaan pendapat dan madzhab-madzhab salaf.”

Di sisi lain, Ibnu Katsir mengatakan, “Beliau seorang yang bacaan Al-Qur’an serta akhlaqnya bagus,
banyak kasih sayangnya, tidak iri, dengki, menyakiti atau mencaci seseorang. Cara shalatnya panjang
sekali, beliau panjangkan ruku’ serta sujudnya hingga banyak di antara para sahabatnya yang
terkadang mencelanya, namun beliau rahimahullah tetap tidak bergeming.”

Ibnu Katsir berkata lagi, “Beliau rahimahullah lebih didominasi oleh kebaikan dan akhlaq shalihah.
Jika telah usai shalat Shubuh, beliau masih akan tetap duduk di tempatnya untuk dzikrullah hingga
sinar matahari pagi makin meninggi. Beliau pernah mengatakan, ‘Inilah acara rutin pagi buatku, jika
aku tidak mengerjakannya nicaya kekuatanku akan runtuh.’ Beliau juga pernah mengatakan, ‘Dengan
kesabaran dan perasaan tanpa beban, maka akan didapat kedudukan imamah dalam hal din
(agama).’”

Ibnu Rajab pernah menukil dari adz-Dzahabi dalam kitabnya al-Mukhtashar, bahwa adz-Dzahabi
mengatakan, “Beliau mendalami masalah hadits dan matan-matannya serta melakukan penelitian
terhadap rijalul hadits (para perawi hadits). Beliau juga sibuk mendalami masalah fiqih dengan
ketetapan-ketetapannya yang baik, mendalami nahwu dan masalah-masalah Ushul.”

Tsaqafahnya
Ibnul Qayyim rahimahullah merupakan seorang peneliti ulung yang ‘Alim dan bersungguh-sungguh.
Beliau mengambil semua ilmu dan mengunyah segala tsaqafah yang sedang jaya-jayanya pada masa itu
di negeri Syam dan Mesir.

Beliau telah menyusun kitab-kitab fiqih, kitab-kitab ushul, serta kitab-kitab sirah dan tarikh. Jumlah
tulisan-tulisannya tiada terhitung banyaknya, dan diatas semua itu, keseluruhan kitab-kitabnya
memiliki bobot ilmiah yang tinggi. Oleh karenanyalah Ibnul Qayyim pantas disebut kamus segala
pengetahuan ilmiah yang agung.

Karya-Karyanya

Beliau rahimahullah memang benar-benar merupakan kamus berjalan, terkenal sebagai orang yang
mempunyai prinsip dan beliau ingin agar prinsipnya itu dapat tersebarluaskan. Beliau bekerja keras
demi pembelaannya terhadap Islam dan kaum muslimin. Buku-buku karangannya banyak sekali, baik
yang berukuran besar maupun berukuran kecil. Beliau telah menulis banyak hal dengan tulisan
tangannya yang indah. Beliau mampu menguasai kitab-kitab salaf maupun khalaf, sementara orang lain
hanya mampun menguasai sepersepuluhnya. Beliau teramat senang mengumpulkan berbagai kitab.
Oleh sebab itu Imam ibnul Qayyim terhitung sebagai orang yang telah mewariskan banyak kitab-kitab
berbobot dalam pelbagai cabang ilmu bagi perpustakaan-perpustakaan Islam dengan gaya bahasanya
yang khas; ilmiah lagi meyakinkan dan sekaligus mengandung kedalaman pemikirannya dilengkapi
dengan gaya bahasa nan menarik.

Beberapa Karyanya

1. Tahdzib Sunan Abi Daud,
2. I’lam al-Muwaqqi’in ‘an Rabbil ‘Alamin,
3. Ighatsatul Lahfan fi Hukmi Thalaqil Ghadlban,
4. Ighatsatul Lahfan fi Masha`id asy-Syaithan,
5. Bada I’ul Fawa’id,
6. Amtsalul Qur’an,
7. Buthlanul Kimiya’ min Arba’ina wajhan,
8. Bayan ad-Dalil ’ala istighna’il Musabaqah ‘an at-Tahlil,
9. At-Tibyan fi Aqsamil Qur’an,
10. At-Tahrir fi maa yahillu wa yahrum minal haris,
11. Safrul Hijratain wa babus Sa’adatain,
12. Madarijus Salikin baina manazil Iyyaka na’budu wa Iyyaka nasta’in,
13. Aqdu Muhkamil Ahya’ baina al-Kalimit Thayyib wal Amais Shalih al-Marfu’ ila Rabbis Sama’
14. Syarhu Asma’il Kitabil Aziz,
15. Zaadul Ma’ad fi Hadyi Kairul Ibad,
16. Zaadul Musafirin ila Manazil as-Su’ada’ fi Hadyi Khatamil Anbiya’
17. Jala’ul Afham fi dzkris shalati ‘ala khairil Am,.
18. Ash-Shawa’iqul Mursalah ‘Alal Jahmiyah wal Mu’aththilah,
19. Asy-Syafiyatul Kafiyah fil Intishar lil firqatin Najiyah,
20. Naqdul Manqul wal Muhakkil Mumayyiz bainal Mardud wal Maqbul,
21. Hadi al-Arwah ila biladil Arrah,
22. Nuz-hatul Musytaqin wa raudlatul Muhibbin,
23. al-Jawabul Kafi Li man sa`ala ’anid Dawa`is Syafi,
24. Tuhfatul Wadud bi Ahkamil Maulud,
25. Miftah daris Sa’adah,
26. Ijtima’ul Juyusy al-Islamiyah ‘ala Ghazwi Jahmiyyah wal Mu’aththilah,
27. Raf’ul Yadain fish Shalah,
28. Nikahul Muharram,
29. Kitab tafdlil Makkah ‘Ala al-Madinah,
30. Fadl-lul Ilmi,
31. ‘Uddatus Shabirin wa Dzakhiratus Syakirin,
32. al-Kaba’ir,
33. Hukmu Tarikis Shalah,
34. Al-Kalimut Thayyib,
35. Al-Fathul Muqaddas,
36. At-Tuhfatul Makkiyyah,
37. Syarhul Asma il Husna,
38. Al-Masa`il ath-Tharablusiyyah,
39. Ash-Shirath al-Mustaqim fi Ahkami Ahlil Jahim,
40. Al-Farqu bainal Khullah wal Mahabbah wa Munadhorotul Khalil li qaumihi,
41. Ath-Thuruqul Hikamiyyah, dan masih banyak lagi kitab-kitab serta karya-karya besar beliau yang
digemari oleh berbagai pihak.

Wafatnya

Ibnul-Qoyyim meninggal dunia pada waktu isya’ tanggal 13 Rajab 751 H. Ia dishalatkan di Mesjid
Jami’ Al-Umawi dan setelah itu di Masjid Jami’ Jarrah; kemudian dikuburkan di Pekuburan Babush
Shagir.

Sumber:
1. Al-Bidayah wan Nihayah libni Katsir,
2. Muqaddimah Zaadil Ma’ad fi Hadyi Khairil Ibad, Tahqiq: Syu’ab wa Abdul Qadir al-Arna`uth,
3. Muqaddimah I’lamil Muwaqqi’in ‘an Rabbil ‘alamin; Thaha Abdur Ra’uf Sa’d,
4. Al-Badrut Thali’ Bi Mahasini ma Ba’dal Qarnis Sabi’ karya Imam asy-Syaukani,
5. Syadzaratudz dzahab karya Ibn Imad,
6. Ad-Durar al-Kaminah karya Ibn Hajar al-‘Asqalani,
7. Dzail Thabaqat al-Hanabilah karya Ibn Rajab Al Hanbali,
8. Al Wafi bil Wafiyat li Ash Shafadi,
9. Bughyatul Wu’at karya Suyuthi,
10. Jala’ul ‘Ainain fi Muhakamah al-Ahmadin karya al-Alusi,




                                                            
                            Ibnu Katsir (701-774 H)
Nama lengkapnya adalah Abul Fida’, Imaduddin Ismail bin Umar bin Katsir al-Qurasyi al-Bushrawi
ad-Dimasyqi, lebih dikenal dengan nama Ibnu Katsir. Beliau lahir pada tahun 701 H di sebuah desa
yang menjadi bagian dari kota Bashra di negeri Syam. Pada usia 4 tahun, ayah beliau meninggal
sehingga kemudian Ibnu Katsir diasuh oleh pamannya. Pada tahun 706 H, beliau pindah dan menetap
di kota Damaskus.

Riwayat Pendidikan

Ibn Katsir tumbuh besar di kota Damaskus. Di sana, beliau banyak menimba ilmu dari para ulama di
kota tersebut, salah satunya adalah Syaikh Burhanuddin Ibrahim al-Fazari. Beliau juga menimba ilmu
dari Isa bin Muth’im, Ibn Asyakir, Ibn Syairazi, Ishaq bin Yahya bin al-Amidi, Ibn Zarrad, al-Hafizh
adz-Dzahabi serta Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Selain itu, beliau juga belajar kepada Syaikh
Jamaluddin Yusuf bin Zaki al-Mizzi, salah seorang ahli hadits di Syam. Syaikh al-Mizzi ini kemudian
menikahkan Ibn Katsir dengan putrinya.

Selain Damaskus, beliau juga belajar di Mesir dan mendapat ijazah dari para ulama di sana.

Prestasi Keilmuan

Berkat kegigihan belajarnya, akhirnya beliau menjadi ahli tafsir ternama, ahli hadits, sejarawan serta
ahli fiqih besar abad ke-8 H. Kitab beliau dalam bidang tafsir yaitu Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim menjadi
kitab tafsir terbesar dan tershahih hingga saat ini, di samping kitab tafsir Muhammad bin Jarir ath-
Thabari.

Para ulama mengatakan bahwa tafsir Ibnu Katsir adalah sebaik-baik tafsir yang ada di zaman ini,
karena ia memiliki berbagai keistimewaan. Keistimewaan yang terpenting adalah menafsirkan al-
Qur’an dengan al-Qur’an (ayat dengan ayat yang lain), menafsirkan al-Qur’an dengan as-Sunnah
(Hadits), kemudian dengan perkataan para salafush shalih (pendahulu kita yang sholih, yakni para
shahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in), kemudian dengan kaidah-kaidah bahasa Arab.

Karya Ibnu Katsir

Selain Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, beliau juga menulis kitab-kitab lain yang sangat berkualitas dan
menjadi rujukan bagi generasi sesudahnya, di antaranya adalah al-Bidayah Wa an-Nihayah yang berisi
kisah para nabi dan umat-umat terdahulu, Jami’ Al Masanid yang berisi kumpulan hadits, Ikhtishar
‘Ulum al-Hadits tentang ilmu hadits, Risalah Fi al-Jihad tentang jihad dan masih banyak lagi.

Kesaksian Para Ulama

Kealiman dan keshalihan sosok Ibnu Katsir telah diakui para ulama di zamannya mau pun ulama
sesudahnya. Adz-Dzahabi berkata bahwa Ibnu Katsir adalah seorang Mufti (pemberi fatwa), Muhaddits
(ahli hadits), ilmuan, ahli fiqih, ahli tafsir dan beliau mempunyai karangan yang banyak dan
bermanfa’at.

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani berkata bahwa beliau adalah seorang yang disibukkan dengan
hadits, menelaah matan-matan dan rijal-rijal (perawinya), ingatannya sangat kuat, pandai membahas,
kehidupannya dipenuhi dengan menulis kitab, dan setelah wafatnya manusia masih dapat mengambil
manfa’at yang sangat banyak dari karya-karyanya.

Salah seorang muridnya, Syihabuddin bin Hajji berkata, “Beliau adalah seorang yang plaing kuat
hafalannya yang pernah aku temui tentang matan (isi) hadits, dan paling mengetahui cacat hadits serta
keadaan para perawinya. Para sahahabat dan gurunya pun mengakui hal itu. Ketika bergaul dengannya,
aku selalu mendapat manfaat (kebaikan) darinya.
Wafatnya

Ibnu Katsir meninggal dunia pada tahun 774 H di Damaskus dan dikuburkan bersebelahan dengan
makam gurunya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

Sumber dari Tafsir Quran Ibnu Katsir




                                             
                                Ibnu Rajab (wafat 795 H)
Nama sebenarnya adalah Abdurahman ibn Syihab al Din Ahmad ibn Rajab ibn Abd al Rahman ibn
Hasan ibn Muhammad ibn Abi al Barakat Mas’ud al Hafidz Zain al Din Abu al Faraj al Baghdadiy al
Dimasyqiy al Hanbaliy, terkenal dengan sebutan Ibnu Rajab.

Ia lahir dikota Baghdad pada bulan Rabii’al Awwal tahun 736 H, yang terdapat dalam kitab al Dzail
‘alaa Thabaqaat al Hanaabilah pada bagian pertama cetakan al Ma’had al Faransiy.

Ia beserta ayahnya datang di kota Damaskus dan disana ia mendengarkan dan belajar berbagai ilmu
pengetahuan bersama ayahnya dari Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim ibn al Khabaaz, Ibrahim ibn
Daud al ‘Aththaar dan ulama ulama yang lainnya. Sedangka pada saat di Mesir ia menimba ilmu dari
Abu al Fath al Maidumiy, Abu al Hazm al Qallanasiy dan Syaikh yang lainnya.

Adapun ayahnya adalah Ahmad ibn Rajab sejak kecil tumbuh dalam lingkungan
pengetahuan ilmiah. Dia telah membaca dan mendengar riwayat riwayat hadits dari
beberapa ulama dimasa kecilnya, dia juga memperdengarkan berbagai ilmu
pengetahuan kepada anak anaknya baik dikota Damaskus maupun di Yerusalem, dan
pada akhirnya ia menjadi ulama di Damaskus dan banyak dikunjungi oleh murid
muridnya yang ingin belajar ilmu kepadanya. Dia seorang ulama yang sangat alim
dan menjaga dari hal hal yang tidak baik.

Ibnu Rajab mulai mengaji ilmu agama dari ayahnya, ia juga seorang murid yang tekun mencari ilmu,
sehingga tidak mengherankan apabila beliau banyak sekali memperoleh ilmu dari ayahnya, kondisi ini
semakin didukung oleh ayahnya Ibn Rajab yang tidak henti hentinya menurunkan semua ilmu yang
dimilikinya.

Sejak kecil Ibn Rajab sudah banyak sekali menghapal hadits hadits Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam,
ia juga belajar tentang riwayat al-Quran dari beberapa ulama dan pada akhirnya ia mahir dalam ilmu
Fiqih, Ushul hadits, sejarah dan lainnya. Kecakapannya dapat dilihat dari kitab kitabnya yang
berkualitas tinggi dan penuh dengan analisis. Kata kata yang dipilih untuk menyusun kitabnya juga
sangat mengagumkan. Begitu juga apabila dilihat dari segi rasionalitas dan istimbath hukum yang tidak
berbelit belit.

Ia wafat pada bulan Rajab tahun 795 H dan mewariskan beberapa karya ilmiah yang begitu berharga
dan bahan referensi bagi umat Islam.

Disalin dari kitab Al Takhwiif min al Naar wa al Ta’riif Hal Daar al Bawaar karya Ibnu Rajab 1408 H/1988 M




                                                              
                  10. Ulama Generasi Akhir :




                  Imam Ash Shan’ani (wafat 1182 H)
Nama sebenarnya adalah Muhammad bin Ismail bin Shalah Al-Amir Al-Kahlani Ash Shan’ani. Ia
dilahirkan pada tahun 1059 H di daerah yang bernama Kahlan, dan kemudian ia pindah bersama
ayahnya ke Kota Shan’a ibukota Yaman.

Ia menimba ilmu dari ulama yang berada di kota Shan’a lalu kemudian beliau rihlah (melakukan
perjalanan) ke Kota Makkah dan membaca hadits dihadapan para ulama besar yang ada di Makkah dan
Madinah.

Ia menguasai berbagai disiplin ilmu sehingga ia mengalahkan teman temannya seangkatannya. Ia
menampakkan kesungguhannya, berhenti ketika ada dalil, jauh dari taklid dan tidak memperdulikan
pendapat pendapat yang tidak ada dalilnya.

Ia mendapatkan ujian dan cobaan yang menimpa semua orang yang mengajak kepada kebenaran dan
mendakwahkannya secara terang terangan pada masa masa penuh fitnah dari orang yang sezaman
dengan beliau, Allah Subhananahu wata’ala tela menjaga beliau dari makar mereka dan melindungi
beliau dari kejelekan mereka.

Kahlifah Al Manshur yang termasuk penguasa Yaman mempercayakan kepada beliau untuk
memberikan khutbah di Masjid Jami’ Shan’a. Ia terus menerus menyebarkan ilmu dengan mengajar,
memberi fatwa, dan mengarang. Ia tidak pernah takut terhadap celaan manusia ketika ia berada dalam
kebenaran dan ia tidak memperdulikan dalam menjalankan kebenaran akan ditimpa ujian, sebagaimana
telah menimpa orang orang yang mengikhlaskan agama mereka untuk Allah, ia lebih mendahulukan
kerihaan Allah diatas keridhaan manusia.

Sangat banyak orang orang yang datang menimba ilmu dari beliau, mulai dari orang orang yang datang
menimba ilmu dari beliau, mulai dari orang orang yang khusus maupun masyarakat umum, mereka
membaca dihadapan beliau berbagai kitab kitab hadits dan mereka mengamalkan ijtihad ijtihad beliau
serta menampakkannya kepada orang orang.

Beliau memiliki banyak karangan, diantara karangannya adalah:

- Subulus salam

- Minhatul Ghaffar

- Syarhut Tanfih Fi Ulumil Hadits dan lain lain.

Beliau memiliki karangan karangan yang lain yang ditulis secara terpisah yang seandainya
dikumpulkan maka akan menjadi berjilid jilid.

Ia memiliki syair yang fasih dan tersusun rapi yang kebanyakan berisi tentang pembahasan
pembahasan ilmiah dan bantahan terhadap orang orang di zaman beliau. Kesimpulannya beliau adalah
seorang ulama yang melakukan pembaharuan terhadap agama.
Ia wafat pada hari ketiga bulan Sya’ban tahun 1182 H pada umur beliau 123 tahun. Semoga Allah
merahmati beliau dengan rahmat yang luas. Amin.

Sumber: diterjemahkan dari Muqaddimah kitab Subulus Salam.

Disalin dari kitab That-hirul I’tiqad ‘an Adranis Syirki wal Ilhad, karya Al- Imam Ash-Shan’ani rahimahullah, penerjemah Abu
‘Athiyyah as Sorawaky, Muraja’ah Al Ustadz Abu Abdirrahman Ibn Yunus. Penerbit Gema Ilmu, 1427 H




                                                              
              Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab
Nasab (silsilah beliau)

Beliau adalah As Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab Bin Sulaiman Bin ‘Ali Bin Muhammad Bin
Ahmad Bin Rasyid At Tamimi. Beliau dilahirkan pada tahun 1115 H -bertepatan dengan 1703 M- di
negeri ‘Uyainah daerah yang terletak di utara kota Riyadh, dimana keluarganya tinggal.

Beliau tumbuh di rumah ilmu di bawah asuhan ayahanda beliau Abdul Wahhab yang menjabat sebagai
hakim di masa pemerintahan Abdullah Bin Muhammad Bin Hamd Bin Ma’mar. Kakek beliau, yakni
Asy Syaikh Sulaiman adalah tokoh mufti yang menjadi referensi para ulama. Sementara seluruh
paman-paman beliau sendiri juga ulama.

Beliau dididik ayah dan paman-pamannya semenjak kecil. Beliau telah menghafalkan Al Qur’an
sebelum mencapai usia 10 tahun di hadapan ayahnya. Beliau juga memperdengarkan bacaan kitab-
kitab tafsir dan hadits, sehingga beliau unggul di bidang keilmuan dalam usia yang masih sangat dini.
Disamping itu, beliau sangat fasih lisannya dan cepat dalam menulis. Ayahnya dan para ulama
disekitarnya amat kagum dengan kecerdasan dan keunggulannya. Mereka biasa berdiskusi dengan
beliau dalam permasalahan-permasalah ilmiyah, sehingga mereka dapat mengambil manfaat dari
diskusi tersebut. Mereka mengakui keutamaan dan kelebihan yang ada pada diri beliau. Namun beliau
tidaklah merasa cikup dengan kadar ilmu yang sedemikian ini, sekalipun pada diri beliau telah
terkumpul sekian kebaikan. Beliau justru tidak pernah merasa puas terhadap ilmu.

Rihlah Beliau dalam Menuntut Ilmu

Beliau tinggalkan keluarga dan negerinya untuk berhaji. Seusai haji, beliau melanjutkan perjalanan ke
Madinah dan menimba ilmu dari para ulama’ di negeri itu. Di antara guru beliau di Madinah adalah:

* As Syaikh Abdullah Bin Ibrahim Bin Saif dari Alu (keluarga) Saif An Najdi. Beliau adalah imam
bidang fiqih dan ushul fiqih.
* As Syaikh Ibrahim Bin Abdillah putra Asy Syaikh Abdullah bin Ibrahim Bin Saif, penulis kitab Al
Adzbul Faidh Syarh Alfiyyah Al Faraidh.
* Asy Syaikh Muhaddits Muhammad Bin Hayah Al Sindi dan beliau mendapatkan ijazah dalam
periwayatannya dari kitab-kitab hadits.

Kemudian beliau kembali ke negerinya. Tidak cukup ini saja, beliau kemudian melanjutkan perjalanan
ke negeri Al Ahsa’ di sebelah timur Najd. Disana banyak ulama mahdzab Hambali, Syafi’i, Maliki dan
Hanafi. Beliau belajar pada mereka khususnya kepada para ulama mahdzab Hambali. Di antaranya
adalah Muhammad bin Fairuz , beliau belajar fiqih kepada mereka dan juga belajar kepada Abdullah
Bin Abdul Lathif Al Ahsa’i.

Tidak cukup sampai disitu, Bahkan beliau menuju ke Iraq, khususnya Bashrah yang pada waktu itu
dihuni oleh para ulama ahlul hadits dan ahlul fiqih. Beliau menimba ilmu dari mereka, khususnya Asy
Syaikh Muhammad Al Majmu’i, dan selainnya. Setiap kali pindah maka beliau mendapatkan buku-
buku Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim muridnya, beliau segera menyalinnya dengan
pena. Beliau menyalin banyak buku di Al Ahsa’ dan Bashrah, sehingga terkumpullah kitab-kitab beliau
dalam jumlah yang besar.

Selanjutnya beliau bertekad menuju negeri Syam, karena di sana ketika itu terdapat ahlul ilmi dan ahlul
hadits khususnya dari mahdzab Hambali. Namun setelah menempuh perjalanan ke sana, terasa oleh
beliau perjalanan yang sangat berat. Beliau ditimpa lapar dan kehausan, bahkan hampir beliau
meninggal dunia di perjalanan. Maka beliaupun kembali ke Bashrah dan tidak melanjutkan rihlahnya
ke negeri Syam.

Selanjutnya beliau bertolak ke Najd setelah berbekal ilmu dan memperoleh sejumlah besar kitab, selain
kitab-kitab yang ada pada keluarga dan penduduk negeri beliau. Setelah itu beliau pun berdakwah
mengadakan perbaikan dan menyebarkan ilmu yag bermanfaat serta tidak ridha dengan berdiam diri
membiarkan manusia dalam kesesatan.

Dakwah Beliau

Kondisi keilmuan dan keagamaan manusia waktu itu benar-benar dalam keterpurukan yang nyata,
hanyut dalam kegelapan syirik dan bid’ah. Sehingga khurafat, peribadatan kepada kuburan mayat dan
pepohonan merajalela. Sedangkan para ulamanya sama sekali tidak mempunyai perhatian terhadap
aqidah salaf dan hanya mementingkan masalah-masalah fiqih. Bahkan diantara mereka justru
memberikan dukungan kepada pelaku kesesatan-kesesatan tersebut.

Adapun dari segi politik, mereka tepecah belah, tidak memiliki pemerintahan yang menyatukan
mereka. Bahkan setiap kampung mempunyai amir (penguasa) sendiri. ‘Uyainah mempunyai penguasa
sendiri, begitu pula Dir’iyyah, Riyadh, dan daerah-daerah lainnya. Sehingga pertempuran, perampokan,
pembunuhan dan berbagai tindak kejahatan pun terjadi diantara mereka.

Melihat kondisi yang demikian mengenaskan bangkitlah ghirah (kecemburuan) beliau terhadap agama
Allah Subahnahu Wata’ala juga rasa kasih sayang beliau terhadap kaum muslimin. Mulailah beliau
berdakwah menyeru manusia ke jalan ALlah Subhanahu Wata’ala, mengajarkan tauhid, membasmi
syirik, khurafat dan bid’ah-bid’ah serta menanamkan manhaj Salafush Shalih. Sehingga berkerumunlah
murid-murid beliau baik dari Dir’iyyah maupun ‘Uyainah.

Selanjutnya beliau mendakwahi amir ‘Uyainah. Pada awalnya sang amir menyambit baik dakwah
tauhid ini dan membelanya. Sampai-sampai ia menghancurkan kubah Zaid Bin Al-Khattab yang
menjadi tempat kesyirikan atas permintaan Asy Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab. Namun karena
adanya tekanan dari amir Al Ahsa’ akhirnya amir ‘Uyainah pun menghendaki agar Asy Syaikh keluar
dari ‘Uyainah. Maka berangkatlah beliau menuju ke Dir’iyyah tanpa membawa sesuatupun kecuali
sebuah kipas tangan guna melindungi wajahnya. Beliau terus berjalan di tengah hari seraya membaca
(Qur’an surat Ath Thalaq:2-3 yang artinya -red):

“Barang siapa yang bertakwa kepada Allah pasti Allah memberinya jalan keluar dan rizki dari arah
yang tiada disangka-sangka”(Ath Thalaq:2-3)

Beliau terus mengulang-ulang ayat tersebut sampai tiba di tempat murid terbaiknya yang bernama Ibnu
Suwailim yang ketika itu merasa takut dan gelisah, mengkhawatirkan keselamatan dirinya dan juga
syaikhnya karena penduduk negeri itu telah saling memperingatkan untuk berhati-hati dengan syaikh.
Maka beliau (Syaikh -red) pun menenangkannya dengan mengatakan, “Jangan berpikir yang bukan-
bukan, selamanya. Bertawakallah kepada Allah Subahahu Wata’ala. Niscaya Dia akan menolong
orang-orang yang membela agamanya.”

Berita kedatangan Asy Syaikh diketahui seorang shalihah, istri amir Dir’iyyah, Muhammad Bin Su’ud.
Dia lalu menawarkan kepada suaminya agar membela syaikh ini karena beliau adalah nikmat dari
Allah Subahahu Wata’ala yang dikaruniakan kepadanya, maka hendaklah dia bersegera
menyambutnya. Sang istri berusaha menenangkan dan membangkitkan rasa cinta pada diri suaminya
terhadap dakwah dan terhadap seorang ulama. Maka sang amir mengatakan, “(Tunggu) beliau datang
kepadaku”. Istrinya menimpali “Justru pergilah anda kepadanya, karena jika anda mengirim utusan dan
mengatakan ‘datanglah kepadaku’, bisa jadi manusia akan mengatakan bahwa amir meminta beliau
untuk datang ditangkap. Namun jika anda sendiri yang mendatanginya, maka itu merupakan suatu
kehormatan bagi beliau dan bagi anda.”

Sang amir akhirnya mendatangi Asy Syaikh, mengucapkan salam dan menanyakan perihal
kedatangannya. Asy Syaikh Rahimahullah menerangkan bahwa tidak lain beliau hanya mengemban
dakwah para Rasul yakni menyeru kepada kalimat tauhid LAA ILAHA ILLALLAH. Beliau
menjelaskan maknanya, dan beliau jelaskan pula bahwa itulah aqidah para Rasul. Sang amir
mengatakan, “Bergembiralah dengan pembelaan dan dukungan”. Asy Syaikh rahimahullah menimpali,
“Berbahagialah dengan kemuliaan dan kekokohan. Karena barang siapa menegakkan kalimat LAA
ILAHA ILLALLAH ini, pasti Allah akan memberikan kekokohan kepadanya.” Sang amir menjawab,
“Tapi saya punya satu syarat kepada anda.” Beliau bertanya, “Apa itu?” Sang amir menjawab, “Anda
membiarkanku dan apa yang aku ambil dari manusia.” Jawab Asy Syaikh rahimahullah, “Mudah-
mudahan Allah Subhanahu Wata’ala memberikan kecukupan kepada anda dari semua ini, dan
membukakan pintu-pintu rizki dari sisi-Nya untuk anda.” Kemudian keduanya berpisah atas
kesepakatan ini. Mulailah Asy Syaikh berdakwah dan sang amir melindungi dan membelanya,
sehingga para Thalabul Ilmi (penuntut ilmu) berduyun-duyun datang ke Dir’iyyah. Semenjak itu beliau
menjadi imam sholat, mufti dan juga qadhi. Maka terbentuklah pemerintahan tauhid di Dir’iyyah.

Kemudian Asy Syaikh mengirim risalah ke negeri-negeri sekitarnya, menyeru mereka kepada aqidah
tauhid, meninggalkan bid’ah dan khurafat. Sebagian mereka menerima dan sebagian lagi menolak serta
menghalangi dakwah beliau, sehingga merekapun diperangi oleh tentara tauhid dibawah komando amir
Muhammad Bin Su’ud dengan bimbingan dari beliau rahimahullah. Hal itu menjadi sebab meluasnya
dakwah tauhid di daerah Najd dan sekitarnya. Bahkan amir ‘Uyainah pun kini masuk di bawah
kekuasaan Ibnu Su’ud, begitu pula Riyadh, dan terus meluas ke daerah Kharaj, ke utara dan selatan. Di
bagian utara sampai ke perbatasan Syam, di bagian selatan sampai di perbatasan Yaman, dan di bagian
timur dari Laut Merah hingga Teluk Arab. Seluruhnya dibawah kekuasaan Dir’iyyah, baik daerah kota
maupun gurunnya.

Allah Subhanahu Wata’ala melimpahkan kebaikan, rizki, kecukupan, dan kekayaan kepada penduduk
Dir’iyyah. Maka berdirilan pusat perdagangan di sana, dan bersinarah negeri tersebut dengan ilmu dan
kekuasaan sebagai berkah dari dakwah salafiyah yang merupakan dakwah para Rasul.

Karya-karya Beliau

Karya beliau sangat banyak, dia ntaranya:

* Kitab Tauhid Al Ladzi Huwa Haqqullah ‘ala Al ‘Abid
* Al Ushul Ats Tsalatsah
* Kasfusy Syubhat
* Mukhtasar Sirah Rasul
* Qawaidul ‘Arba’ah dan lainnya

Wafat Beliau

Beliau wafat pada tahun 1206 H. Semoga Allah Subhanahu Wata’la melimpahkan rahmatnya kepada
beliau, meninggikan derajat dan kedudukannya di Jannah-Nya yang luas serta mengumpulkan beliau
bersama orang-orang shalih dan para syuhada’. Amin Ya Robbal ‘Alamin.

Disarikan dari Syarh Ushul Tsalatsah
Asy Syaikh Muhammad Bin Salih Al Utsaimin, hal 5
dan Syarh Kasyfusy Syubhat
Asy Syaikh Shalih Bin Fauzan Bin Abdullah Al Fauzan, hal 3-12

Sumber: Majalah Asy Syariah
Vol II/No 21/1427 H/2006
halaman 71-73




                                                  
                              Shiddiq Hasan Khan
Nasabnya

Beliau adalah Al-Imam Al-’Allamah Al-Ushuli Al-Muhaddits Al-Mufassir As-Sayyid Shiddiq bin
Hasan bin Ali bin Luthfullah Al-Husaini Al-Bukhari Al-Qinnauji. Nasab beliau berakhir pada Al-Imam
Husain, cucu terkecil dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.

Kelahiran dan Pertumbuhannya

Beliau lahir pada bulan Jumadil Ula tahun 1248 H (sekitar 1832) di Negeri Berlhi tanah air kakeknya
yang terdekat dari pihak ibu. Kemudian keluarga beliau pindah ke kota Qinnauj, tanah air kakek-
kakeknya. Ketika tahun keenam ayahnya wafat. Tinggallah ia di bawah asuhan ibunya dalam keadaan
yatim. Shiddiq kecil tumbuh sebagai seorang yang afif (memelihara diri), bersih dan cinta kepada ilmu
dan para ulama.

Ilmu Beliau dan Belajarnya

Beliau safar ke Delhi untuk menyempurnakan pelajarannya di sana. Beliau bersungguh-sungguh
mendalami Al-Qur’an dan As-Sunnah dan membukukan ilmu keduanya. Beliau memiliki keinginan
yang kuat untuk mengumpulkan buku-buku, mendapatkan pemahaman tambahan dalam membacanya
serta meraih faedah-faedahnya, khususnya kitab-kitab tafsir, hadits dan ushul. Kemudian beliau safar
ke Bahubal untuk mencari biaya penyambung hidup beliau. Di sana beliau mendapatkan faedah besar,
yaitu menikah dengan Ratu Bahubal dan beliau digelari dengan Nawwab Jaah Amirul Malik bi Hadar.

Guru-guru Beliau

Guru beliau cukup banyak, di antaranya Syaikh Muhamad Ya’qub, saudara Syaikh Muhammad Ishaq
cucu Syaikh Al-Muhaddits Abdul Aziz Ad-Dahlawi. Di antara guru beliau juga Syaikh Al-Qadhi
Husain bin Al-Muhsin As-Sa’bi Al-Anshari Al-Yamani Al-Hadidi, murid dari Asy-Syarif Al-Imam
Muhammad bin Nashir Al-Hazimi murid dari Imam Asy-Syaukani. Guru beliau juga adalah Syaikh
Abdul haq bin Fadhl Al-Hindi, murid dari Al-Imam Asy-Syaukani juga, dan masih banyak lagi.

Karangan-karangan Beliau

Dalam mengarang, beliau memiliki kemampuan yang menakjubkan, yaitu dapat menulis beberapa
kitab dalam satu hari dan mengarang beberapa kitab tebal dalam beberapa hari. Karangan-karangan
beliau dalam beberapa bahasa hingga 222 buah. Demikian yang dihimpun oleh Syaikh Abdul Hakim
Syafaruddin, pentashih dan penta’liq kitab At-Taajul Mukallal. Beliau berkata, “Di antaranya 54
berbahasa Arab, 42 berbahasa Persia, dan 107 dengan bahasa Urdu”. Dan beliau belumlah menghitung
jumlah yang sebenarnya.

Kitab-kitab beliau memenuhi dan mencapai segala penjuru dunia islam. Banyak para ulama tafsir dan
hadits yang menulis risalah tentang beliau yang berisi pujian kepada kitab-kitabnya dan mendoakan
kebaikan kepada beliau. Beliau juga dianggap sebagai tokoh kebangkitan Islam dan mujaddid. Di
antara karangan beliau yang tercetak dengan bahasa Arab:

• Fathu Bayaan fi Maqashisil Qur’an
• Nailul Maran min Tafsiiri Aayatil Ahkam
• Ad-Dinul Khalish
• Husnul Uswah bimaa Tsabata ‘anilhiwa Rasuulihi fin Niswah
• ‘Aunul Bari bi Halli Adillatil Bukhari
• As-Sirajul Wahhaj min Kasyfi Mathaalihi Shahihi Muslim bin Al-Hajjaj
• Al-Hittah fi Dzikrish Shihabis Sittah
• Quthfus tsamar fii Aqidatil Atsar
• Al-Ilmu Khaffaq fil Ilmil Itsiqaq
• Abjadul Ulum
Dan masih banyak lagi.

Wafat Beliau

Beliau wafat pada tahun 1307 H, bertepatan dengan 1889 M. Maka masa kehidupan beliau adalah 59
tahun qamariyah atau 57 tahun syamsiah. Semoga Allah merahmati beliau dengan rahmat yang luas.

Referensi:
Indahnya Surga Dahsyatnya Neraka, karya Asy-Syaikh Ali Hasan, terbitan Pustaka Al-Haura’
Jogjakarta, halaman 81-84

)*Catatan:
Di atas beliau digelari dengan Al-’Allamah Al-Ushuli Al-Muhaddits Al-Mufassir As-Sayyid. Artinya
adalah sebagai berikut:
• Al-’Allamah : Orang yang banyak sekali ilmunya
• Al-Ushuli: Ahli ilmu ushul (ilmu-ilmu dasar dalam agama)
• Al-Muhaddits: Ahli dalam ilmu hadits
• Al-Mufassir: Ahli tafsir
• Adapun As-Sayyid, saya belum mendapatkan maksudnya apa. Mungkin beliau digelari dengan As-
Sayyid karena beliau masih keturunan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, wallahu a’lam.




                                                 
               Syaikh Shafiurrahman Al-Mubarakfuri
                           (Wafat 1427H)
Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abdullah bin Amr bin
Al-Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu secara sekaligus. Akan tetapi, Allah mencabut ilmu
dengan mewafatkan para ulama. Apabila tidak tersisa lagi orang yang berilmu, maka manusia
mengangkat pemimpin yang bodoh, mereka ditanyai dan berfatwa tanpa didasari ilmu, mereka sesat
lagi menyesatkan.”

Peta India Dan Allah pun telah mewafatkan salah seorang ulama Islam dari Negeri India, yaitu Asy-
Syaikh Shafiurrahman Al-Mubarakfuri pada hari Jum’at tanggal 1 Desember 2006, ba’da shalat Jum’at
di kota Mubarakfur India. Asy-Syaikh Shafiurrahman Al-Mubarakfuri adalah salah seorang ulama dari
Jami’ah As-Salafiyah di Kota Benares India.

Beberapa rujukan tentang berita wafatnya beliau: From Abu ‘Abdillaah Waseem Ahmad ibn
‘Abdurraheem Alhindee (posted in http://www.salafitalk.net):

Ash Shaykh Safeeurrahmaan Mubarakpuree rahimahullaah the author of the Seerah of Rasulullaah
sallallaahu ‘alaihi wa sallaam Ar-Raheeq Al Makhtoum passed away an hour ago in India. Innaa
Lillaahi Wa Innaa Ilayhi Raajioon.

From Zulfiker Ibrahim,       student   at   the   Islaamic   University   of   Madeenah   (posted   in
http://www.assalafi.com/):

“Today after Salaatul-Asr I received a phone call from Jamia Salafia – Banaras, India, informing me
that the Shaykh, al-’Allaamah Safiur-Rahmaan Mubarakpuri passed away today in Mubarakpur, India,
after Salaatul-Jumu’ah – Indian time roughly 2.00-2.30 pm. The Shaykh was known as one of the
Major Salafee Scholars of India and his defence for the Sunnah and warning against Ahlul-Bid’ah. The
Shaykh has a number of beneficial works in print, his most famous book being “ar-Raheeq al-
Makhtoom” (The Sealed Necter) and the summary of the Tafseer of Ibn Katheer as published by
Darussalam Publishers in Riyadh where he was a resident Scholar authenticating works prior to ther
publication.” We ask you all to remember the Shaykh in your prayers and we ask Allaah (’Azza wa
Jall) to cleanse the Shaykh of his sins and reward him with al-Firdaws, aameen”.

Karya Beliau

Beliau telah mewariskan banyak karya bagi kaum muslimin, di antaranya:

- Ar-Rahiqul Makhtum, Sirah Nabawiyah yang menjadi Juara I Lomba Penulisan Sirah Nabawy yang
diselenggarakan oleh Rabithah Alam Al-Islami. Kitab ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai
bahasa.
- Raudhah Al-Anwar fi Sirah An-Nabiy Al-Mukhtar Shallallahu ‘alaihi wasallam, Sirah Nabawiyah
yang lebih ringkas daripada yang pertama.

- Syarh Bulughil Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani. Beliau mensyarahnya dengan syarah yang
ringkas.
Ini adalah karya beliau yang saya dapati judul aslinya dalam bahasa Arab. Adapun yang sudah
diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan diterjemahkan oleh Darussalam Publisher (tanpa ada
keterangan judul aslinya dalam bahasa Arab):
- When the moon splite
- The History of Makkah Mukarramah
- The History of Madinah Munawwarah

Dari beberapa postingan di forum-forum Islam, diketahui pula bahwa beliau juga memiliki ringkasan
terhadap Tafsir Ibnu Katsir.

Pujian Ulama Berkata Abu Yusuf Al-Libyani (diposting di sahab.net)

          ‫وأ‬    ‫ا‬             ‫ا رآ ري‬             ‫ا‬          ‫أ ا‬     ‫لأ‬             ‫ا‬       ‫ر‬        ‫ا‬  ‫ثا دا‬        ‫ا‬   ‫ا‬
 ‫أه‬         ‫أزآ‬      ‫ا‬        ‫ا ض وا‬         ‫ز‬           ‫ا‬           ‫ا‬       ‫ا نا‬       ‫ا‬       ‫ا‬   ‫.ا رآ ري‬

      ‫ا‬             ‫ءو‬   ‫أ‬           ‫ف‬        ‫ا‬          ‫ا‬      ‫أا‬    ‫م أن‬      ‫ا‬           ‫اءة آ ب ا‬   ‫أراد‬    ‫وأ‬

Adapun Asy-Syaikh Shafiurrahman Al-Mubarakfuri beliau termasuk dari syaikh-syaikh sunnah dan
Al-’Allamah Al-Muhaddits Al-Mujaddid Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah memuji beliau dengan
mengatakan:”Aku mentazkiyah para ulama di masa sekarang yaitu: Asy-Syaikh Al-Fadhil Abdul Aziz
bin Baaz di Riyadh dan Asy-Syaikh Shafiurrahman Al-Mubarakfuri di India”

Dan aku nasehatkan bagi orang yang ingin membaca Kitab Rahiqul Makhtum untuk membaca edisi
revisi dimana penulisnya telah menghapus beberapa kesalahan dari edisi aslinya. (Sampai di sini
ucapan Abu Yusuf).

Update:
Ustadz kami Abu Abdillah juga mengatakan bahwa ketika beliau belajar di Dammaj Yaman, Asy-
Syaikh Abdurrahman Al-Adni kerap memuji Asy-Syaikh Shafiurrahman Al-Mubarakfuri. Asy-Syaikh
Abdurrahman mengatakan bahwa Syaikh Shafiurrahman adalah seorang sunni salafy. Dan dalam
mengajarkan Bulughul Maram, salah satu kitab yang dipakai oleh Syaikh Abdurrahman sebagai
rujukan adalah Syarh Bulughil Maram yang ditulis oleh Syaikh Shafiurrahman rahimahullah.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala mengampuni serta mencurahkan rahmat-Nya kepada diri Asy-
Syaikh Shafiurrahman Al-Mubarakfuri..

Dinukil dari : http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/02/04/biografi-asy-syaikh-shafiurrahman-




                                                             
        Syaikh Abdurahman Nashir As-Sa’diy (Wafat
                        1376 H)
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir bin Abdullah As-Sa’diy dilahirkan di kota Unaizah, Qasim,
wilayah Najd, Kerajaan Saudi Arabia. Kedua orang tuanya sudah meninggal dunia saat usianya masih
kecil, akan tetapi beliau memiliki kecerdasan yang luar biasa ditambah keinginannya yang sangat besar
untuk menuntut ilmu. Mulai menghafal Al-Quran pada usia dini hingga diselesaikan dengan baik dan
sempurna pada usia dua belas tahun, kemudian setelah itu dia mulai menuntut ilmu dan berguru kepada
sejumlah ulama yang datang ke negerinya. Beliau benar-benar berjuang untuk mendapatkan ilmu
pengetahuan sebanyak mungkin.

Pada usia dua puluh tiga tahun, beliau mulai menggabungkan antara menuntut ilmu dan mengajar,
mengambil manfaat dan memberi manfaat, begitulah seterusnya beliau habiskan waktu dan seluruh
kehidupannya. Banyak sekali orang yang menimba ilmu dan mengambil manfaat darinya.

Gurunya.
Diantara guru-gurunya adalah :

    •   Syekh Ibrahim bin Hamad bin Jasir, kepadanyalah beliau pertama kali membaca kitab.
    •   Syekh Saleh bin Utsman, Qadhi Unaizah. Darinya beliau mengambil Ushulul Fiqh, Fiqh,
        Tauhid, Tafsir dan bahasa Arab hingga wafatnya. Syekh Shaleh adalah seorang ulama yang
        sangat menguasai fiqh dan ushulnya, memiliki pemahaman yang sempurna tentang tauhid. Hal
        itu dikarenakan beliau berkonsentrasi pada kitab-kitab mu’tabarah (terpercaya) dan
        memberikan perhatian khusus pada karangan-karangan Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayim.
        Beliau juga memberikan perhatian yang tinggi terhadap tafsir dan cabang-cabang ilmunya.
        Syekh As-Sa’dy mengaji kepadanya hingga menguasai ilmunya dan jadilah beliau
        perpanjangan tangan dari syekhnya tersebut.

Karangannya.
Diantara karangan-karangannya berupa kitab tafsir adalah:

    •   Taisirul Karimil Mannan fi Tafsir Kalamil Rahman (Kemudahan dari Yang Maha Mulia lagi
        Maha Pemberi dalam Tafsir Kalam Ilahi), terdiri dari delapan juz.
    •   Taisirul Lathiifil Mannan fi Khulasati Tafsiril Quran (Kemudahan dari Yang Maha Halus
        dalam ringkasan tafsir Al-Quran).
    •   Qowa’idul Hassaan li Tafsiril Quran (Kaidah-kaidah yang bagus dalam tafsir Al-Quran).

Karangan-karangan lain selain itu dan dianjurkan untuk dibaca adalah:

    •   Al-Irsyad ilaa Ma’rifatil Ahkam (Petunjuk untuk memaha-mi hukum-hukum).
    •   Ar-Riyadh an-Nadhirah (Taman-taman yang bercahaya)
    •   Bahjatu Qulubil Abrar (Kegembiraan hati orang-orang yang bertaqwa)
    •   Manhajus Salikin wa Taudhihul Fiqh Fid Diin (Pedoman orang yang beribadah dan pejelasan
        fiqh dalam agama)
    •   Hukmu Syurb Ad-Dukhan wa Bai’uhu wa Syiro’uhu (Hukum menghisap rokok, menjual dan
        membelinya).
    •   Al-Fatawa As-Sa’diyah (Fatwa-fatwa Syekh Sa’dy).
    •   Beliau juga memiliki tiga kumpulan khutbah-khutbah yang bermanfaat.
    •   Al-Haqqul Wadhih Al-Mubin bi Syarhi Tauhidil Anbiyaa wal Mursalin (Kebenaran yang jelas
        dan nyata dalam penjelasan tentang tauhid para nabi dan rasul).
    •   Taudhihul Kaifiyah As-Syafiah (Penjelas yang cukup dan memuaskan).

Masih banyak lagi karangan beliau dalam bidang fiqh, tauhid, hadits, Ushul, kajian-kajian sosial dan
fatwa-fatwa tentang berbagai hal.
Wafatnya:
Beliau mengalami sakit keras dengan tiba-tiba yang mengisyaratkan akan dekatnya kematiannya. Maka
pada malam Kamis tanggal 23 Jumadil Tsaniah tahun 1376 H, beliau berpulang ke rahmatullah di kota
Unaizah, meninggalkan kesedihan yang mendalam dalam jiwa orang-orang yang mengenalnya atau
mendengar tentangnya atau yang berguru kepadanya. Semoga Allah merahmatinya dengan rahmat
yang luas dan menjadikan ilmunya dan karangan-karangannya bermanfaat bagi kita. Amiin.




                                                
                              Syaikh Ahmad Syakir
Beliau adalah Asy-Syaikh Ahmad bin Muhammad Syakir bin Muhammad bin Ahmad bin Abdil Qadir.
Beliau lahir di Kairo Mesir pada tanggal 29 Jumadil Akhir 1309 (sekitar akhir abad ke-19), pada hari
Jum’at ketika fajar menyingsing. Beliau masih keturunan shahabat Rasulullah Ali bin Abi Thalib
radhiyallahu ‘anhu.

Asy-Syaikh Ahmad Syakir mulai menjadi seorang penuntut ilmu sejak usianya belumlah mencapai
sepuluh tahun. Ayah beliaulah yang menjadi guru utama beliau. Beliau belajar berbagai cabang ilmu.
Ketika ayahnya yang sebelumnya adalah kepala hakim di Sudan pindah ke kota Iskandariyah, Asy-
Syaikh Ahmad Syakir juga turut serta. Beliau pun kemudian tumbuh terbimbing di lingkungan ulama.
Di antara ulama tersebut adalah Asy-Syaikh Abdussalam Al-Faqi, dimana beliau belajar syair dan
sastra Arab dari beliau. Waktu itu usia beliau belumlah sampai 20 tahun, akan tetapi beliau telah
bersemangat untuk mempelajari ilmu hadits.

Ketika ayahnya diangkat menjadi wakil rektor Universitas Al-Azhar, Asy-Syaikh Ahmad Syakir juga
ikut belajar di Universitas tersebut. Di sana beliau belajar dari beberapa orang ulama, di antaranya:
Asy-Syaikh Ahmad Asy-Syinqithi, Asy-Syaikh Syakir Al-Iraqi dan Asy-Syaikh Jamaluddin Al-
Qasimi.

Menurut kesaksian Asy-Syaikh Muhammad Hamid Al-Faqi -salah seorang sahabat beliau-, Asy-Syaikh
Ahmad Syakir memiliki kesabaran yang begitu tinggi. Hapalannya pun kuat tidak tertandingi. Beliau
juga memiliki kemampuan tinggi dalam memahami hadits dan bagus mengungkapkannya dengan akal
dan nash. Beliau juga dalam pandangan ilmunya serta tidak taqlid kepada seorang pun.

Asy-Syaikh Ahmad Syakir telah memberikan kontribusi yang sangat besar bagi dunia Islam. Beliau
telah memberikan ta’liq dan tahqiq (komentar serta pembahasan yang teliti) kepada banyak karya
ulama.

Di antara karya beliau adalah:

• Syarh Musnad Imam Ahmad (belum selesai sampai beliau wafat)

• Tahqiq terhadap Al-Ihkam karya Ibnu Hazm

• Tahqiq terhadap Alfiyatul Hadits karya As-Suyuthi

• Takhrij terhadap Tafsir At-Thabari bersama saudara beliau Mahmud Syakir

• Tahqiq terhadap kitab Al-Kharaj karya Yahya bin Adam

• Tahqiq terhadap kitab Ar-Raudathun Nadhiyah karya Shiddiq Hasan Khan

• Syarh Sunan At-Tirmidzi (belum selesai sampai beliau wafat)

• Tahqiq Syarh Aqidah Thahawiyah

• Umdatut Tafsir ringkasan Tafsir Ibnu Katsir (belum selesai sampai beliau wafat)
• Ta’liq dan Tahqiq terhadap Al-Muhalla karya Ibnu Hazm.

Asy-Syaikh Ahmad Syakir wafat pada hari Sabtu tanggal 26 Dzulqa’dah 1377 H atau bertepatan
dengan tanggal 9 Juni 1958. Karya-karya beliau senantiasa menjadi rujukan para ulama. Termasuk ahli
hadits di masa kita ini, yaitu Asy-Syaikh Albani rahimahullah.(*)

Rujukan: (Tulisan Ustadz Ahmad Hamdani di Majalah Salafy edisi XXIII)




                                                            
         Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh
Nama danNasabnya

Beliau Rohimahullah adalah Syaikh al-Allamah al-Faqih al-Muhaddits Abu Abdul Aziz Muhammad
bin Ibrahim bin Abdul Lathif bin Abdur Rahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahhab at-
Tamimi an-Najdi.

Beliau Rohimahullah dilahirkan pada bulan Muharram tahun 1311-1389H adh (Saudi Arabia) dalam
lingkungan keluarga yang dikenal dengan keilmuan dan keutamaan mereka.

Pertumbuhan ilmiah dan Guru-gurunya

Beliau tumbuh di Riyadh di dalam lingkungan yang penuh dengan pancaran ilmu. Ayahandanya Qadhi
kota Riyadh. Dan paman-pamannya para ulama yang masyhur.

Pada umur 7 tahun, beliau Rohimahullah belajar tajwid al-Qur’an di bawah bimbingan Syaikh Abdur
Rahman bin Mufairij. Kemudian beliau menghafal al-Qur’an pada usia 11 tahun.

Setelah hafal al-Qur’an beliau belajar kepada ayahandanya ringkasan-ringkasan risalah-risalah para
imam dakwah tauhid. Beliau hafalkan matannya lebih dulu kemudian beliau setorkan hafalan tersebut
kepada ayahandanya. Setelah mutqin, ayahandanya memberikan syarah (penjelasan) matan tersebut
kepada beliau.

Ketika berusia 16 tahun, beliau mengalami sakit pada kedua matanya selama setahun yang
menyebabkan beliau kehilangan penglihatannya.

Pada tanggal 6 Dzulqa’dah 1329 H, ayahandanya meninggal dunia dalam usia 49 tahun. Maka beliau
melanjutkan ta’limnya kepada para ulama negerinya. Beliau belajar kepada setiap gurunya dalam
bidang ilmu yang gurunya menonjol pada bidang tersebut sehingga beliau menonjol dalam setiap
bidang ilmu yang beliau pelajari. Dalam bidang tauhid, tergolong kuat dalam tahqiq. Dalam bidang
fiqih, beliau kokoh dalam ijtihad. Dalam bidang bahasa dan sastra Arab, beliau pakarnya. Demikian
pula dalam bidang ilmu lainnya.

Di antara guru-guru beliau selain ayahandanya: pamannya, Syaikh Abdullah bin Abdul Lathif, Syaikh
an-Nahwi al-Faradhi al-Faqih Hamd bin Faris, Syaikh al-Muhaddits al-Faqih Sa’d bin Atiq, Syaikh al-
Faradhi Abdullah bin Rasyid, Syaikh al-Faqih Muhammad bin Mahmud.

Beliau belajar kepada ayahandanya Ushul Tauhid dan Mukhtasharatnya. Demikian juga ilmu Faraidh
yang kemudian beliau perdalam pada Syaikh Abdullah bin Rasyid yang beliau belajar kepadanya
Altiyah Faraidh.

Beliau belajar kepada pamannya, Syaikh Abdullah bin Abdul Lathif, banyak sekali kitab yang beliau
hafal sebagiannya, seperti Kitabut Tauhid, Kasytu Syubuhat, Tsalatsatul Ushul, Aqidah Wasithiyah dan
Hamawiyah, dan yang lainnya.

Dalam bidang fiqih; beliau menghafal matan Zadul Mustaqni’ di bawah bimbingan Syaikh Hamd bin
Faris. Kemudian beliau Rohimahullah melanjutkan ta’limnya kepada Syaikh Muhammad bin Mahmud
dan Syaikh Sa’d bin Atiq.

Dalam bidang hadits, beliau menghafal kitab Bulughul Maram dan separuh kitab Muntaqal Akhbar di
bawah bimbingan pamannya, Syaikh Abdullah bin Abdul Lathif.

Beliau juga belajar Alfiyah al-Iraqi kepada Syaikh al-Muhaddits Sa’d bin Atiq yang memberikan
kepada beliau ijazah-ijazah hadits yang beraneka ragam. Demikian pula beliau meriwayatkan dengan
sama’ banyak sekali sanad-sanad hadits dari Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasalam.
Dalam bidang bahasa dan sastra Arab, beliau mempelajari dan menghafal al-Ajrumiyah, Mulhatul
I’rab, Quthrun Nada, dan Altiyah Ibnu Malik kepada al-Allamah an-Nahwi Hamd bin Faris.

Kehidupan Ilmiahnya

Ketika Syaikh Muhammad bin Ibrahim berusia 28 tahun, Syaikh Abdullah bin Abdul Lathif wafat.
Menjelang wafat, beliau berwasiat kepada Malik Abdul Aziz, raja Saudi Arabia waktu itu, agar
menjadikan Syaikh Muhammad bin Ibrahim sebagai penggantinya. Maka Malik Abdul Aziz kemudian
mengangkat Syaikh Muhammad bin Ibrahim sebagai imam Masjid Syaikh Abdullah bin Muhammad
bin Abdul Wahhab di Riyadh -yang saat ini bernama Masjid Syaikh Muhammad bin Ibrahim-.

Mulailah Syaikh Muhammad bin Ibrahim memulai majelis-majelis ta’limnya di masjid tersebut.
Semakin hari majelis-majelis ta’limnya semakin kuat dan mengarah. Sehingga mencapai puncak
kematangannya pada tahun 1350-1370 H, majelis ta’limnya menonjol dengan kekuatan ilmiahnya.
Beliau tidak henti-hentinya dalam ta’limnya sampai akhir hayatnya.

Syaikh Muhammad bin Abdur Rahman bin Qasim, salah seorang murid beliau, menyifati majelis ta’lim
beliau dengan mengatakan, “Beliau memiliki tiga majelis yang tersusun dengan sistematis: Pertama:
Setelah shalat Fajar hingga terbit matahari. Kedua: Setelah matahari meninggi hingga 2-4 jam
berikutnya. Ketiga: Setelah shalat Ashar. Dan ada majelis keempat tetapi tidak rutin, yaitu setelah
Zhuhur.

Sesudah shalat Maghrib beliau meluangkan waktu untuk muraja’ah kitab-kitab yang hendak diajarkan
besoknya sesudah Fajar.

Adapun kitab-kitab yang beliau ajarkan dalam majelis-majelis ta’limnya sebagai berikut:

1. Sesudah Fajar: Alfiyah Ibnu Malik dengan Syarah Ibnu Aqil, Zadul Mustaqni’ dengan syarhnya
Raudhul Murbi’, Bulughul Maram, al-Ajrumiyah, Mulhatul I’rab, Quthrun Nada, Ushulul Ahkam,
Hamawiyah, Tadmuriyah, dan Nukhbatul Fikar.

2. Sesudah terbit matahari, beliau mengajarkan dalam bidang aqidah: Kitabut Tauhid, Kasytu
Syubuhat, Tsalatsatul Ushul, Aqidah Wasithiyah, Masa’ilul Jahiliyah, Lum’atul I’tiqad, dan Ushulul
Iman. Dalam bidang hadits: Arba’in Nawawiyah dan Umdatul Ahkam. Dalam bidang fiqih: Adabul
Masyi ila Shalat.

Setelah selesai dari kitab-kitab yang ringkas di atas, beliau melanjutkan dengan kitab-kitab yang luas
pembahasannya, seperti: Fathul Majid, Syarah Thahawiyah, Syarah Arba’in Nawawiyah, Shahih
Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Empat, tulisan-tulisan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim,
Ibnu Katsir, serta kitab-kitab ulama lainnya.

3. Sesudah shalat Zhuhur, beliau mengajarkan Zadul Mustaqni’ beserta syarahnya dan Bulughul
Maram.

4. Sesudah shalat Ashar, beliau mengajarkan Kitabut Tauhid dan syarahnya. Kadang-kadang beliau
membaca Musnad Ahmad atau Mushannat Ibnu Abi Syaibah atau al-Jawab ash-Shahih liman Baddala
Dienal Masih.”

Syaikh Muhammad bin Qasim berkata, “Syaikh Muhammad bin Ibrahim sangat menghendaki para
murid rutin menghafal matan-matan dengan sungguh-sungguh, tidak setengah-setengah. Tidak boleh
seorang murid berpindah dari matan satu ke matan berikutnya kecuali setelah betul-betul menghafal
dan memahami matan yang awal. Karena itulah seorang murid yang sungguh-sungguh, baru lulus
setelah menempuh waktu selama 7 tahun.”

Tugas- Tugas Yang Beliau Emban

Di antara tugas-tugas yang pernah beliau emban adalah:
1. Kepala Darul Ifta’.
2. Kepala Kementerian Kehakiman
3. Direktur Pendidikan Tinggi dan Menengah
4. Rektor Universitas Islam Madinah
5. Direktur Perguruan Para Wanita
6. Ketua Majelis Tinggi Rabithah
7. Rektor Sekolah Tinggi Kehakiman
8. Khathib Jami’ Kabir dan ‘Iedain serta Imam Masjid Syaikh Abdullah

Kegigihan Beliau Dalam Berdakwah

Beliau memulai kehidupan dakwahnya sejak masih muda. Pada tahun 1345 beliau diutus oleh Malik
Abdul Aziz untuk berdakwah di daerah Ghathghath yang merupakan markas kelompok Ikhwan yang
dulunya berjihad bersama Malik Abdul Aziz, tetapi kemudian mereka memiliki ijtihad-ijtihad yang
menyelisihi para ulama dan pemikiran-pemikiran yang berlebihan.

Beliau begitu memperhatikan keadaan para da’i. Di antara para murid beliau yang menonjol dalam
dakwah adalah Syaikh Abdullah al-Qar’awi yang berdakwah di daerah Jazan. Syaikh Muhammad bin
Ibrahim Rohimahullah mendukung sepenuhnya dakwah Syaikh Abdullah alQar’awi secara moril dan
materiil.

Beliau begitu gigih berusaha mempertemukan para da’i Tauhid dan Sunnah dari seluruh penjuru dunia
pada waktu musim haji. Beliau dengarkan perkembangan dakwah mereka dan beliau berikan arahan
dan nasihat untuk perkembangan dakwah mereka.

Beliau adalah Kepala Ma’had Islami di Nigeria dan sekaligus pembina penyebaran dakwah di Afrika.

Beliau memantau perkembangan markaz-markaz Islam di Eropa dan memberikan arahan-arahan ketika
mereka menyampaikan permasalahan-permasalahan mereka kepada beliau.

Beliau mendirikan Lembaga Penerbitan Dakwah dengan nama Mu’assasah Dakwah Islamiyah pada
tanggal 23 Jumada Tsaniyah 1384 H.

Dalam dakwahnya beliau Rohimahullah mengikuti pokok-pokok dakwah al-Imam al-Mujaddid Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab. Di antaranya menanamkan aqidah Tauhid dalam jiwa, melarang
kesyirikan, mengajak berpegang teguh dengan Sunnah dan memerangi bid’ ah, menyerukan penegakan
syari’at Islam di dalam semua segi, mendidik jiwa dan menyucikannya, ittiba’ kepada generasi
pendahulu (sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in serta ualama-ulama terdahulu) yang shalih, memerintah
kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar, dan selalu loyal kepada para waliwul amr dari
Keluarga Su’ud (penguasa Saudi Arabia) yang telah membela dakwah dan menegakkan syari’at

Sifat-sifatnya
Beliau memiliki hafalan yang luar biasa. Beliau menghafal matan setelah membaca tiga kali atau dua
kali. Demikian juga, beliau memiliki kecerdasan dan kejelian yang mengagumkan. Beliau bisa meraba
hakikat segala permasalahan yang diajukan. Tidak pernah terpedaya aleh makar ataupun tipu daya.

Beliau dikenal dengan keikhlasannya. Tidak pernah menceritakan amalan-amalan yang beliau
kerjakan, meskipun begitu banyak.

Beliau Rohimahullah masyhur dengan kebersihan hatinya. Tidak pernah dendam kepada siapa saja
yang berbuat kurang baik kepadanya. Sebagaimana beliau dikenal pemberani dalam menyampaikan
kebenaran, siapapun yang beliau hadapi.

Beliau sangat menjauhi ghibah, hal itu dikenal dari beliau sejak usia dini hingga meninggalkan dunia,
beliau juga dikenal dengan kewara’annya, menjauhi hal-hal yang syubhat.
Beliau banyak berdzikir dan istighfar, banyak bermunajat kepada Allah hingga berlinang kedua
matanya, demikian juga beliau selalu shalat malam dalam keadaan mukim maupun safar.

Pujian Para Ulama Kepadanya

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz berkata, “Aku menyaksikan dari beliau amalan-amalan yang
bermanfaat bagi kaum muslimin, ghirah terhadap Islam, dan membantah musuh-musuh Islam. Semoga
Allah mencurahkan pahala yang berlimpah kepadanya. Beliau banyak menasihati para penuntut ilmu
agar berdakwah ilalloh, memerintah kepada yang ma’ruf, dan melarang dari yang mungkar dengan
hikmah, mau’izhah hasanah, dan jidal dengan cara yang baik. Beliau seorang yang luas ilmunya,
banyak takut kepada Allah, jeli pemahamannya, kebaikan dan keutamaannya sangat banyak.”

Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi Rohimahullah berkata, “Kami mengetahui dari beliau
keluasan ilmu, kesempurnaan akal, kesempurnaan hikmah. dan kesabaran yang tidak ada
bandingannya. Beliau sesuai yang aku yakini dan pastikan -walaupun aku tidak akan mentazkiyah
seorang pun atas Allah- termasuk arang-orang yang langka dalam keilmuan, kesabaran, akal, dan
hikmah, Kami mengharap agar Allah menerima keshalihan amalannya, membalasnya dengan kebaikan,
meninggikan derajatnya di akhirat sebagaimana Dia telah meninggikannya di dunia.”

Syaikh Sa’di Yasin berkata, “Beliau telah menempuh jalan para imam kita dari para ulama generasi
pendahulu yang shalih. Ketika aku mendengar beliau berfatwa, seakan-akan aku mendengar fatwa
Sufyan bin Uyainah atau Ibnu Ulayyah atau Ibnu Abi Dzi’bin.”

Murid-muridnya

Di antara murid-murid beliau: Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Syaikh Abdullah bin Muham-
mad bin Humaid, Syaikh Abdur Rahman bin Qasim, Syaikh Abdullah bin Muhammad al-Qar’awi,
Syaikh Abdul Aziz bin Nashir ar-Rusyaid, Syaikh Abdul Lathif bin Ibrahim Alu Syaikh, Syaikh Abdul
Malik bin Ibrahim Alu Syaikh, Syaikh Abdul Aziz bin Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh, Syaikh
Ibrahim bin Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh, Syaikh Shalih bin Ghushun, Syaikh Shalih bin
Muhammad al-Luhaidan, dan masih banyak lagi selain mereka.

Di antara tulisan-tulisan beliau:

Majmu’ Fatawa dan Rasailnya yang diterbitkan dalam 13 jilid, al-Jawabul Wadhih alMustaqim,
Tahkimul Qawanin, Nashihatul Ikhwan fir Raddi ala Ibni Hamdan, al-Jawabul Mustaqim fi Naqli
Maqami Ibrahim, Tuhfatul Huffazh wa Marji’ul Qudhat wal Muftiin wal Wu’azh, dan Nazham Ilmi
‘ala Muqaddimah al-Inshaf.

Wafatnya

Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh Rohimahullah wafat di Riyadh pada pagi hari Kamis 24
Ramadhan tahun 1389 H dan dimakamkan di Riyadh. Semoga Allah meridhainya dan menempat-
kannya dalam keluasan jannahNya.




                                                
   Syaikh Muhammad Al-Amin Asy Syinqithi (1325-
                    1393H)
Beliau dilahirkan pada tahun 1325 H/1897 M. Ketika berumur 10 tahun, beliau telah menghafal Al-
Qur’an di bawah bimbingan pamannya, Asy-Syaikh Abdullah bin Muhammad Al-Mukhtar Bin
Ibrahim Bin Ahmad Nuh Al-Ja’ni.

Syaikh Muhammad Al-Amin belajar tajwid dan menulis khat Ustmani dengan saudara sepupunya,
Syaikh Muhammad Bin Ahmad Bin Muhammad Al-Mukhtar. Beliau juga belajar kepada bibinya
mengenai dasar-dasar tata bahasa Arab seperti Al-Ajurumiyah, Sirah Nabi Muhammad shalallahu
‘alaihi wassalam, dan sejarah nasab bangsa Arab.

Adapun bidang pengetahuan yang lainnya seperti ilmu fiqih, tafsir, hadist, tata bahasa Arab, ushul
fiqih, dan syair, Asy-Syaikh belajar kepada beberapa ulama terkenal di negerinya dan mereka semua
dari suku Al-Ja’ni, di antaranya adalah: Syaikh Muhammad Bin Salih (lebih dikenal dengan nama Ibnu
Ahmad Al-Afram), Syaikh Ahmad Al-Afram Bin Muhammad Al-Mukhtar, Syaikh Ahmad Bin Umar,
Syaikh Ahmad Bin Mud, Syaikh Muhammad An-Nimah Bin Zaidan, dan Syaikh Ahmad Fal bin
Audah.

Syaikh Muhammad Al-Amin telah menyelesaikan dalam mengajar tafsir Al-Qur’anul Karim dua kali
di Masjid Nabawi. Karena banyaknya murid beliau, maka tidak dapat diketahui siapa saja mereka.
Namun, yang bisa disebutkan di sini, antara lain:

1. Syaikh Abdul Aziz Bin Baz tetap menghadiri pelajaran beliau dalam tafsir di Masjid Nabawi ketika
beliau sebagai kepala Universitas Islam.
2. Syaikh Atiyah Muhammad Salim, salah satu yang menyelesaikan tulisan Syaikh Muhammad Al-
Amin (sepeninggal beliau) berjudul tafsir Adwa Al-Bayan.
3. Syaikh Bakr Bin Abdullah Abu Zaid.
4. Putranya, Syaikh Abdullah Bin Muhammad Al-Amin Asy Syinqithi.
5. Putranya, Syaikh Muhammad Al-Mukhtar Bin Muhammad Al-Amin Asy Syinqithi.

Syaikh telah menulis kitab-kitab yang masyhur dengan segenap tenaga dan kemampuan sebagai bukti
amalan beliau, kejelasan atas nasihat dan metodologi yang beliau gunakan, dan kemurnian pemikiran
yang terang, serta sepanjang ketelitian atas tata bahasa Arab. Berikut adalah beberapa kitab yang beliau
tulis:
1. Adwa Al-Bayan fi Idhah Al-Qur’an bil Quran
2. Adab Al-Bath wal Munatharah
3. Daf’u Iham Al-Idhtirab ‘an Ai Al-Kitab
4. Alfiyah fil Mantiq
5. Khalis Al-Jaman fi Zikr Ansab Bani Adnan
6. Man’u Jawaz Al-Majaz fil Munazzal lit Ta’abbud wal I’jaz
7. Mudzakhirah Ushul Al-Fiqih
8. Manhaj Ayat Al-Asma wa Sifat
9. Rajz fi Fura’ Madzhab Malik Yakhtas bil ‘Uqad min Al-Buya’ wa Ruhan 10. Syarah Maraqi As-
Saud
11. Nadzm fil Fara’id

Adapun akhlaqnya, beliau adalah sosok ulama yang mengamalkan ilmunya. Beliau tidak pernah
membiarkan orang membuat fitnah di majelis beliau. Beliau begitu mulia dan tidak menghiraukan
godaan dunia yang datang kepadanya. Beliau jujur dalam berbicara, bersikap adil, dan tidak segan
mengubah pendapat beliau jika ternyata dalil berbicara lain.

Syaikh sendiri paham akan pentingnya dalam mencari ilmu. Beliau memandang bahwa ilmu hanya
merupakan perantara (alat). Adapun intinya adalah Kitabullah itu sendiri.

Seseorang yang telah lama belajar kepada beliau memberikan kesaksian bahwa ilmu beliau tentang
Kitabullah sangat kuat dan luas. Apabila seseorang bertanya kepadanya tentang sebuah ayat, ketika itu
juga beliau akan menjelaskan dengan ayat sebelum dan sesudahnya. Demikianlah Asy Syaikh
Muhammad Al-Amin Asy Syinqithi, semoga Allah merahmati beliau.

Beliau meninggal pada tahun 1393 H/ 1972 M.

dinukil dari blognya http://antosalafy.wordpress.com/




                                                        
          Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani
Beliau adalah Pembaharu Islam (mujadid) pada abad ini. Karya dan jasa-jasa beliau cukup banyak dan
sangat membantu umat Islam terutama dalam menghidupkan kembali ilmu Hadits. Beliau telah
memurnikan Ajaran islam terutama dari hadits-hadits lemah dan palsu, meneliti derajat hadits.

Nama dan Nasabnya

Nama beliau adalah Abu Abdirrahman Muhammad Nashiruddin bin Nuh al-Albani. Dilahirkan
pada tahun 1333 H di kota Ashqodar ibu kota Albania yang lampau. Beliau dibesarkan di tengah
keluarga yang tak berpunya, lantaran kecintaan terhadap ilmu dan ahli ilmu.Ayah al Albani yaitu Al
Haj Nuh adalah lulusan lembaga pendidikan ilmu-ilmu syari`at di ibukota negara dinasti Utsmaniyah
(kini Istambul), yang ketika Raja Ahmad Zagho naik tahta di Albania dan mengubah sistem
pemerintahan menjadi pemerintah sekuler, maka Syeikh Nuh amat mengkhawatirkan dirinya dan diri
keluarganya. Akhirnya beliau memutuskan untuk berhijrah ke Syam dalam rangka menyelamatkan
agamanya dan karena takut terkena fitnah. Beliau sekeluargapun menuju Damaskus.

Setiba di Damaskus, Syeikh al-Albani kecil mulai aktif mempelajari bahasa arab. Beliau masuk sekolah
pada madrasah yang dikelola oleh Jum`iyah al-Is`af al-Khairiyah. Beliau terus belajar di sekolah
tersebut tersebut hingga kelas terakhir tingkat Ibtida`iyah. Selanjutnya beliau meneruskan belajarnya
langsung kepada para Syeikh. Beliau mempelajari al-Qur`an dari ayahnya sampai selesai, disamping
itu mempelajari pula sebagian fiqih madzab Hanafi dari ayahnya.

Syeikh al-Albani juga mempelajari keterampilan memperbaiki jam dari ayahnya sampai mahir betul,
sehingga beliau menjadi seorang ahli yang mahsyur. Ketrampilan ini kemudian menjadi salah satu
mata pencahariannya.

Pada umur 20 tahun, pemuda al-Albani ini mulai mengkonsentrasi diri pada ilmu hadits lantaran
terkesan dengan pembahasan-pembahsan yang ada dalam majalah al-Manar, sebuah majalah yang
diterbitkan oleh Syeikh Muhammad Rasyid Ridha. Kegiatan pertama di bidang ini ialah menyalin
sebuah kitab berjudul al-Mughni `an Hamli al-Asfar fi Takhrij ma fi al-Ishabah min al-Akhbar. Sebuah
kitab karya al-Iraqi, berupa takhrij terhadap hadits-hadits yang terdapat pada Ihya` Ulumuddin al-
Ghazali. Kegiatan Syeikh al-Albani dalam bidang hadits ini ditentang oleh ayahnya seraya
berkomentar. Sesungguhnya ilmu hadits adalah pekerjaan orang-orang pailit (bangkrut).

Namun Syeikh al-Albani justru semakin cinta terhadap dunia hadits. Pada perkembangan berikutnya,
Syeikh al-Albani tidak memiliki cukup uang untuk membeli kitab-kitab. Karenanya, beliau
memanfaatkan Perpustakaan adh-Dhahiriyah di sana (Damaskus). Di samping juga meminjam buku-
buku dari beberapa perpustakaan khusus. Begitulah, hadits menjadi kesibukan rutinnya, sampai-sampai
beliau menutup kios reparasi jamnya. Beliau lebih betah berlama-lama dalam perpustakaan adh-
Dhahiriyah, sehingga setiap harinya mencapai 12 jam. Tidak pernah istirahat mentelaah kitab-kitab
hadits, kecuali jika waktu sholat tiba. Untuk makannya, seringkali hanya sedikit makanan yang
dibawanya ke perpustakaan.

Akhirnya kepala kantor perpustakaan memberikan sebuah ruangan khusus di perpustakaan untuk
beliau. Bahkan kemudiaan beliau diberi wewenang untuk membawa kunci perpustakaan. Dengan
demikian, beliau menjadi leluasa dan terbiasa datang sebelum yang lainnya datang. Begitu pula
pulangnya ketika orang lain pulang pada waktu dhuhur, beliau justru pulang setelah sholat isya. Hal ini
dijalaninya sampai bertahun-tahun.

Pengalaman Penjara

Syeikh al-Albani pernah dipenjara dua kali. Kali pertama selama satu bulan dan kali kedua selama
enam bulan. Itu tidak lain karena gigihnya beliau berdakwah kepada sunnah dan memerangi bid`ah
sehingga orang-orang yang dengki kepadanya menebarkan fitnah.

Beberapa Tugas yang Pernah Diemban
Syeikh al-Albani Beliau pernah mengajar di Jami`ah Islamiyah (Universitas Islam Madinah) selama
tiga tahun, sejak tahun 1381-1383 H, mengajar tentang hadits dan ilmu-ilmu hadits. Setelah itu beliau
pindah ke Yordania. Pada tahun 1388 H, Departemen Pendidikan meminta kepada Syeikh al-Albani
untuk menjadi ketua jurusan Dirasah Islamiyah pada Fakultas Pasca Sarjana di sebuah Perguruan
Tinggi di kerajaan Yordania. Tetapi situasi dan kondisi saat itu tidak memungkinkan beliau memenuhi
permintaan itu. Pada tahun 1395 H hingga 1398 H beliau kembali ke Madinah untuk bertugas sebagai
anggota Majelis Tinggi Jam`iyah Islamiyah di sana. Mandapat penghargaan tertinggi dari kerajaan
Saudi Arabia berupa King Faisal Fundation tanggal 14 Dzulkaidah 1419 H.

Beberapa Karya Beliau

Karya-karya beliau amat banyak, diantaranya ada yang sudah dicetak, ada yang masih berupa
manuskrip dan ada yang mafqud (hilang), semua berjumlah 218 judul. Beberapa Contoh Karya Beliau
yang terkenal adalah :

    1.   Adabuz-Zifaf fi As-Sunnah al-Muthahharah
    2.   Al-Ajwibah an-Nafi`ah `ala as`ilah masjid al-Jami`ah
    3.   Silisilah al-Ahadits ash Shahihah
    4.   Silisilah al-Ahadits adh-Dha`ifah wal maudhu`ah
    5.   At-Tawasul wa anwa`uhu
    6.   Ahkam Al-Jana`iz wabida`uha

Di samping itu, beliau juga memiliki kaset ceramah, kaset-kaset bantahan terhadap berbagai pemikiran
sesat dan kaset-kaset berisi jawaban-jawaban tentang pelbagai masalah yang bermanfaat.

Selanjutnya Syeikh al-Albani berwasiat agar perpustakaan pribadinya, baik berupa buku-buku yang
sudah dicetak, buku-buku foto copyan, manuskrip-manuskrip (yang ditulis oleh beliau sendiri ataupun
orang lain) semuanya diserahkan ke perpustakaan Jami`ah tersebut dalam kaitannya dengan dakwah
menuju al-Kitab was Sunnah, sesuai dengan manhaj salafush Shalih (sahabat nabi radhiyallahu
anhum), pada saat beliau menjadi pengajar disana.

Wafatnya

Beliau wafat pada hari Jum`at malam Sabtu tanggal 21 Jumada Tsaniyah 1420 H atau bertepatan
dengan tanggal 1 Oktober 1999 di Yoradania. Rahimallah asy-Syaikh al-Albani rahmatan wasi`ah wa
jazahullahu`an al-Islam wal muslimiina khaira wa adkhalahu fi an-Na`im al-Muqim.

Sumber: www.calltoislam.com




                                                  
            Syaikh Abdul Aziz Bin Abdullah Bin Baz
Syaikh Bin Baz, menurut Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi’i, adalah seorang tokoh ahli fiqih yang
diperhitungkan di jaman kiwari ini, sebagaimana Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani juga
seorang ulama ahlul hadits yang handal masa kini. Untuk mengenal lebih dekat siapa beliau, mari kita
simak penuturan beliau mengungkapkan data pribadinya berikut ini.

Syaikh mengatakan, “Nama lengkap saya adalah Abdul ‘Aziz Bin Abdillah Bin Muhammad Bin
Abdillah Ali (keluarga) Baz. Saya dilahirkan di kota Riyadh pada bulan Dzulhijah 1330 H. Dulu ketika
saya baru memulai belajar agama, saya masih bisa melihat dengan baik. Namun qodarullah pada tahun
1346 H, mata saya terkena infeksi yang membuat rabun. Kemudian lama-kelamaan karena tidak
sembuh-sembuh mata saya tidak dapat melihat sama sekali. Musibah ini terjadi pada tahun 1350
Hijriyah. Pada saat itulah saya menjadi seorang tuna netra. Saya ucapkan alhamdulillah atas musibah
yang menimpa diri saya ini. Saya memohon kepada-Nya semoga Dia berkenan menganugerahkan
bashirah (mata hati) kepada saya di dunia ini dan di akhirat serta balasan yang baik di akhirat seperti
yang dijanjikan oleh-Nya melalui nabi Muhammad Sholallahu ‘Alaihi Wasallam atas musibah ini. Saya
juga memohon kepadanya keselamatan di dunia dan akhirat.
Mencari ilmu telah saya tempuh semenjak masa anak-anak. Saya hafal Al Qur’anul Karim sebelum
mencapai usia baligh. Hafalan itu diujikan di hadapan Syaikh Abdullah Bin Furaij. Setelah itu saya
mempelajari ilmu-ilmu syariat dan bahasa Arab melalui bimbingan ulama-ulama kota kelahiran saya
sendiri. Para guru yang sempat saya ambil ilmunya adalah:
· Syaikh Muhammad Bin Abdil Lathif Bin Abdirrahman Bin Hasan Bin Asy Syaikh Muhammad Bin
     Abdul Wahhab, seorang hakim di kota Riyadh.
· Syaikh Hamid Bin Faris, seorang pejabat wakil urusan Baitul Mal, Riyadh.
· Syaikh Sa’d, Qadhi negeri Bukhara, seorang ulama Makkah. Saya menimba ilmu tauhid darinya pada
     tahun 1355 H.
· Samahatus Syaikh Muhammad Bin Ibrahim Bin Abdul Lathief Alu Syaikh, saya bermuzalamah
    padanya untuk mempelajari banyak ilmu agama, antara lain: aqidah, fiqih, hadits, nahwu, faraidh
    (ilmu waris), tafsir, sirah, selama kurang lebih 10 tahun. Mulai 1347 sampai tahun 1357 H.

Semoga Allah membalas jasa-jasa mereka dengan balasan yang mulia dan utama.
Dalam memahami fiqih saya memakai thariqah (mahdzab -red) Ahmad Bin Hanbal [1] rahimahullah.
Hal ini saya lakukan bukan semata-mata taklid kepada beliau, akan tetapi yang saya lakukan adalah
mengikuti dasar-dasar pemahaman yang beliau tempuh. Adapun dalam menghadapi ikhtilaf ulama,
saya memakai metodologi tarjih, kalau dapat ditarjih dengan mengambil dalil yang paling shahih.
Demikian pula ketika saya mengeluarkan fatwa, khususnya bila saya temukan silang pendapat di antara
para ulama baik yang mencocoki pendapat Imam Ahmad atau tidak. Karena AL HAQ itulah yang
pantas diikuti. Allah berfirman (yang artinya -red), “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan
taatilah Rasul dan Ulil Amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu
maka kembalikanlah dia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul-Nya (As Sunnah) jika kamu benar-benar
beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik
akibatnya” (An Nisa:59)”

TUGAS-TUGAS SYAR’I
” Banyak jabatan yang diamanahkan kepada saya yang berkaitan dengan masalah keagamaan. Saya
pernah mendapat tugas sebagai:
    · Hakim dalam waktu yang panjang, sekitar 14 tahun. Tugas itu berawal dari bulan Jumadil Akhir
        tahun1357H.
    · Pengajar Ma’had Ilmi Riyadh tahun 1372 H dan dosen ilmu fiqih, tauhid, dan hadits sampai pada
         tahun 1380 H.
    · Wakil Rektor Universitas Islam Madinah pada tahun 1381-1390 H.
    · Rektor Universitas Islam Madinah pada tahun 1390 H menggantikan rektor sebelumnya yang
        wafat yaitu Syaikh Muhammad Bin Ibrahim Ali Syaikh. Jabatan ini saya pegang pada tahun
        1389 sampai dengan 1395 H.
    · Pada tanggal 13 bulan 10 tahun 1395 saya diangkat menjadi pimpinan umum yang berhubungan
        dengan penelitian ilmiah, fatwa-fawa, dakwah dan bimbingan keagamaan sampai sekarang.
        Saya terus memohon kepada Allah pertolongan dan bimbingan pada jalan kebenaran dalam
        menjalankan tugas-tugas tersebut.

Disamping jabatan-jabatan resmi yang sempat saya pegang sekarang, saya juga aktif di berbagai
organisasi keIslaman lain seperti:
Anggota Kibarul Ulama di Makkah.
Ketua Lajnah Daimah (Komite Tetap) terhadap penelitian dan fatwa dalam masalah keagamaan di
dalam lembaga Kibarul Ulama tersebut.
Anggota pimpinan Majelis Tinggi Rabithah ‘Alam Islami.
Pimpinan Majelis Tinggi untuk masjid-masjid.

Pimpinan kumpulan penelitian fiqih Islam di Makkah di bawah naungan organisasi
Rabithah ‘Alam Islami.
Anggota majelis tinggi di Jami’ah Islamiyah (universitas Islam -red), Madinah.
Anggota lembaga tinggi untuk dakwah Islam yang berkedudukan di Makkah.
Mengenai karya tulis, saya telah menulis puluhan karya ilmiah antara lain:

Al Faidhul Hilyah fi Mabahits Fardhiyah.
At Tahqiq wal Idhah li Katsirin min Masailil Haj wal Umrah Wa Ziarah (Tauhdihul
Manasik – ini yang terpenting dan bermanfaat – aku kumpulkan pada tahun 1363 H).
Karyaku ini telah dicetak ulang berkali-kali dan diterjemahkan ke dalam banyak
bahasa (termasuk bahasa Indonesia -pent).
At Tahdzir minal Bida’ mencakup 4 pembahasan (Hukmul Ihtifal bil Maulid Nabi wa
Lailatil Isra’ wa Mi’raj, wa Lailatun Nifshi minas Sya’ban wa Takdzibir Ru’yal
Mar’umah min Khadim Al Hijr An Nabawiyah Al Musamma Asy Syaikh Ahmad).
Risalah Mujazah fiz Zakat was Shiyam.
Al Aqidah As Shahihah wama Yudhadhuha.
Wujubul Amal bis Sunnatir Rasul Sholallahu ‘Alaihi Wasallam wa Kufru man
Ankaraha.
Ad Dakwah Ilallah wa Akhlaqud Da’iyah.
Wujubu Tahkim Syar’illah wa Nabdzu ma Khalafahu.
Hukmus Sufur wal Hijab wa Nikah As Sighar.
Naqdul Qawiy fi Hukmit Tashwir.
Al Jawabul Mufid fi Hukmit Tashwir.
Asy Syaikh Muhammad Bin Abdil Wahhab (Da’wah wa Siratuhu).
Tsalatsu Rasail fis Shalah: Kaifa Sholatun Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam,
Wujubu Ada’is Shalah fil Jama’ah, Aina Yadha’ul Mushalli Yadaihi hinar Raf’i
minar Ruku’.
Hukmul Islam fi man Tha’ana fil Qur’an au fi Rasulillah Sholallahu ‘Alaihi
Wasallam.
Hasyiyah Mufidah ‘Ala Fathil Bari – hanya sampai masalah haji.
Risalatul Adilatin Naqliyah wa Hissiyah ‘ala Jaryanis Syamsi wa Sukunil ‘Ardhi wa
Amakinis Su’udil Kawakib.
Iqamatul Barahin ‘ala Hukmi man Istaghatsa bi Ghairillah au Shaddaqul Kawakib.
Al Jihad fi Sabilillah.
Fatawa Muta’aliq bi Ahkaml Haj wal Umrah wal Ziarah.
Wujubu Luzumis Sunnah wal Hadzr minal Bid’ah.”
Sampai di sini perkataan beliau yang saya (Ustadz Ahmad Hamdani -red) kutip dari
buku Fatwa wa Tanbihat wa Nashaih hal 8-13.

Akidah Dan Manhaj Dakwah

Akidah dan manhaj dakwah Syaikh ini tercermin dari tulisan atau karya-karyanya. Kita lihat misalnya
buku Aqidah Shahihah yang menerangkan aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, menegakkan tauhid dan
membersihkan sekaligus memerangi kesyirikan dan pelakunya. Pembelaannya kepada sunnah dan
kebenciannya terhadap kebid’ahan tertuang dalam karya beliau yang ringkas dan padat, berjudul At
Tahdzir ‘alal Bida’ (sudah diterjemahkan -pent). Sedangkan perhatian (ihtimam) dan pembelaan beliau
terhadap dakwah salafiyah tidak diragukan lagi. Beliaulah yang menfatwakan bahwa firqatun najiyah
(golongan yang selamat -red) adalah para salafiyyin yang berpegang dengan kitabullah dan sunnah
Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam dalam hal suluk (perilaku) dan akhlaq serta aqidah. Beliau tetap
gigih memperjuangkan dakwah ini di tengah-tengah rongrongan syubhat para da’i penyeru ke pintu
neraka di negerinya khususnya dan luar negeri beliau pada umumnya, hingga al haq nampak dan
kebatilan dilumatkan. Agaknya ini adalah bukti kebenaran sabda Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam
(yang artinya), “Akan tetap ada pada umatku kelompok yang menampakkan kebenaran (al haq), tidak
memudharatkan mereka orang yang mencela atau menyelisihinya”

WAFAT BELIAU (Keterangan tambahan)


Beliau wafat pada hari Kamis, 27 Muharram 1420 H / 13 Mei 1999 M. Semoga
Allah Subhanahu Wata’ala merahmatinya. Amin.
Foot note:
[1] Mahdzab secara istilah yakni mengikuti istilah-istilah Ahmad Bin Hanbal dalam mempelajari masalah fiqih atau hadits.
Bukan Mahdzab syakhsyi yaitu mengambil semua hadits yang diriwayatkannya.
keterangan tambahan: www.fatwaonline.com, dinukildari: http://ghuroba.blogsome.com,


Sumber: SALAFY Edisi XXV/1418 H/1998 M hal 48-49, Judul Asli: “Syaikh Bin
Baz Mutjahid dan Ahli Fiqih Jaman Ini”




                                                               
                Hammad Al-Anshari (wafat 1418 H)
Nama dan Kelahirannya

Namanya lengkapnya Abu ‘Abdul-Lateef Hammaad ibn Muhammad ibn Muhammad ibn Hinnah ibn
Mukhtaar ibn Muhammad al-Basheer, ia lahir pada tahu 1334 H (1924) Taad Makkah di Mali, Afrika
timur.

Guru-gurunya

1. Pamannya sendiri bernama, Shaykh al-Muqri. Muhammad ibn Ahmad ibn Taqqee al-Ansaaree, yang
     mengajarkan al-Quran kepada Shaykh Hammaad sejak kecil. Ia mulai menghapal al-Qur’an sejak
     usia 10 tahun dan Hafidz berumur 15 tahun, dia juga belajar ilmu Nahwu Shorof dengan pamannya
     tersebut.

2. Shaykh Moosaa ibn al-Kisaa.ee al-Ansaaree; (pamannya juga)

3. Muhammad ibn Ahmad ibn Muhammad, dikenal dengan julukan “al-Bahr” (lautan) mengajarkan
    fiqh dan tafsir, juga belajar kitab al-Muwattaa Imaam Maalik’s, juga kitab Saheeh Imaam al-
    Bukhaaree dan Imaam Muslim, dan kitab Sunan of Abu Daawood,

4. Shaykh ash-Shareef al-Idreesee al-Husaynee Hamood ibn Muhammad, dia mengajarkan usool al-
    fiqh dan tafseer.

Selanjutnya dia hijrah dari Mali ke Makkah karena pada masa itu Mali dibawah jajahan Prancis, dia di
Makkah belajar dengan :

1. Shaykh Muhammad ‘Abdur-Razzaaq Hamzah mengajarkan Tafseer Ibn Katheer,

2. Shaykh Abu Muhammad ‘Abdul-Haqq al-’Amree al-Haashimee al-Hindee, mengajarkan Saheeh
    Imaam al-Bukhaaree;

3. Shaykh Hasan al-Mashaat, mengajarkanSunan at-Tirmidhee,

4. Shaykh Muhammad Ameen al-Hanafee, mengajarkanSaheeh Imaam al-Bukhaaree;

5. Shaykh al-’Arabee at-Tabaanee;

6. Shaykh Muhammad Ameen al-Halabee, mengajarkan ilmu nahwu;

7. Shaykh Haamid mengajarkan al-Fiqhee;

Shaykh Hammaad pergi ke Madeenah, disana dia masuk ke jami’ah Islamiyyah (Universitas Madinah)
mengambil Daar al-’Uloom ash-Shar’iyyah tahun1371H( 1952) jurusan specialisasi hadeeth. Guru
gurunya di Madinah adalah :

1. Shaykh Muhammad ‘Abdullaah ibn Mahmood al-Madanee, sebagai Imam al-Masjid an-Nabawee.

2. Shaykh Muhammad ibn Turkee an-Najdee, mengajarkan kitab al-Muwattaa Imaam Maalik’s dan
    kitab al-Mughnee Ibn Qudaamah’s

3. Shaykh Muhammad al-Haafidth ibn Moosaa Hameed mengajarkan Sunan an-Nasaa.ee,

4. Shaykh ‘Umar Baree;
5. Shaykh ‘Ammaar al-Maghrabee;

6. Shaykh ‘Abduh Khuday’.

Mendapat ijazah dari gurunya

8. Shaykh ‘Ubaydur-Rahmaan al-Mubaarakphooree,

9. Shaykh ‘Abdul-Hafeedth al-Filisteenee;

10. Shaykh Qaasim ibn ‘Abdul-Jabbaar al-Andeejaanee;

11. Shaykh Hamood at-Tuwayjaree;

12. Shaykh Abu Muhammad ‘Abdul-Haqq al-Haashimee.

Beliau mengajar sunnah dan hadits pada univesitas Madinah antara lain Shahih Bukhary Muslim,
sunan Tirmidzi, Tauhid, syarah aqidah dan tahawiyyah.

Guru seangkatan dengannya

1. Shaykh ‘Abdul-’Azeez ibn Baaz;

2. Shaykh Muhammad Naasiruddeen al-Albaanee;

3. Shaykh ‘Abdul-’Azeez ibn ‘Abdullaah Aal ash-Shaykh – Mufti kerajaan Saudi Arabia;

4. Shaykh Saalih ibn Muhammad al-Luhaydaan – Kepala kehakiman di Saudi Arabia;

5. Shaykh ‘Abdul-Muhsin ibn Hamad al-’Abbaad – Wakil rector pada Islaamic University of
    Madeenah;

6. Shaykh Muhammad ash-Shaathilee an-Nayfar Tunisia;

7. Shaykh Muhammad Abu Khubzah Morocco;

8. Shaykh Muhammad ‘Ataa.ullaah Haneef Pakistan;

Murid muridnya

1. ‘Attiyah Muhammad Saalim – Mengajarkan al-Aajaro Miyah dan ar-Rahabiyyah;

2. Shaykh Dr. Saalih ibn Sa’d as-Suhaymee;

3. Shaykh Dr. Marzooq ibn Hiyaas az-Zahraanee;

4. Shaykh Dr. ‘Umar ibn Hasan Fallaatah;

5. Shaykh Dr. Baasim Faysal al-Jawaabirah;

6. Shaykh Dr. Wasee-ullaah ‘Abbaas;

7. Shaykh Dr. ‘Abdul-’Aleem ‘Abdul-’Atheem;

8. Shaykh Dr. Mahfooth ar-Rahmaan Zayn;
9. Shaykh Dr. Falaah ibn Ismaa’eel;

10. Shaykh Dr. Falaah ibn Thaanee as-Sa’eedee;

11. Shaykh Dr. Zayn al-’Aabideen Bilaa Furayj;

12. Shaykh Dr. Sagheer Ahmad;

13. Shaykh Dr. Shamsuddeen al-Afghaanee;

14. Shaykh Dr. Saalih ibn Haamid ar-Rifaa’ee;

15. Shaykh Dr. Musaa’id ar-Raashid;

16. Shaykh Dr. ‘Abdur-Rahmaan ibn ‘Abdul-Jabbaar al-Firyowaa.ee;

17. Shaykh Dr. ‘Alee ibn Husayn ibn ‘Alee;

Wafatnya

Shaykh Hammaad wafat pada kamis pagi 21 Jumaadil Awwal 1418 H, jenazahnya dishalatkan di
Masjid Nabawidan dikuburkan di perkuburan Baqee’.

Semoga allah Subhanahu wa ta’ala merahmatinya. Amien.

Diterjemahkan dari Madiena.com




                                                 
           Syaikh Hamud bin Abdullah At Tuwaijiri
Nama dan Nasabnya

Beliau adalah Syaikh al-Allamah al-Muhaddits al-Faqih Hamud bin Abdullah bin Hamud bin Abdur
Rahman at-Tuwaijiri, dari Alu Jabbarah, pecahan dari kabilah Anazah Arabiyah yang masyhur.

Kelahirannva

Beliau dilahirkan pada tahun 1334 H di kota Majma’ah, ibukota negeri Sudair, Saudi Arabia, dalam
lingkungan keluarga yang dikenal dengan keilmuan dan keutamaan mereka.

Pertumbuhan ilmiah dan Guru-Gurunya

Pada tahun 1342 H, beliau mulai belajar dasar-dasar baca tulis dan al-Qur’an kepada Syaikh Ahmad
ash-Sha’igh. Sebelum usia 11 tahun, beliau telah hafal al-Qur’an.

Pada usia yang sangat dini beliau telah mempelajari ringkasan-ringkasan kitab-kitab ilmiah dalam
bidang tauhid, hadits, fiqh, fara’idh, dan nahwu.

Di antara kitab-kitab yang beliau pelajari di bawah bimbingan Syaikh Ahmad ash-Sha’igh adalah
Ushuluts Tsalatsah oleh Syaikh al- Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahhab.

Ketika mulai beranjak dewasa, beliau menghadiri halaqah Syaikh al-Faqih Abdullah bin Abdul Aziz al-
Anqari, Qadhi negeri Sudan. Beliau belajar kepada Syaikh al-Faqih Abdullah bin Abdul Aziz al-Anqari
berbagai macam disiplin ilmu seperti tauhid, tafsir, hadits, fiqh, fara’idh, nahwu, sirah, tarikh, adab,
dan yang lainnya selama 25 tahun.

Di antara kitab-kitab yang beliau pelajari di bawah bimbingan Syaikh al-Faqih Abdullah bin Abdul
Aziz al-Anqari adalah: Fathul Bari oleh Ibnu Hajar, al-Mughni oleh Ibnu Qudamah, Minhajus Sunnah,
Dar-u Ta’arudhil Aql wa Naql, dan Fatawa Kubra ketiganya oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Zadul
Ma’ad oleh Ibnul Qayyim, dan kitab-kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan para imam dakwah.

Beliau diberi ijazah sanad oleh Syaikh al-Anqari Kitab-kitab Shihah, Masanid, dan Sunan, berikut
kitab-kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, dan kitab-kitab fiqh Hanbali secara umum.
Demikian juga seluruh riwayat Syaikh al- Anqai-i dari kitab-kitab atsbat.

Beliau juga belajar fiqh, fara’idh dan lughah kepada Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Humaid di
saat Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Humaid menjabat Qadhi negeri Sudair.

Beliau berguru kepada Syaikh al-Allamah Muhammad bin Abdul Muhsin al-Khayyal, Qadhi Madinah,
dalam bidang nahwu dan fara’idh.

Beliau juga belajar kepada Syaikh Sulaiman bin Hamdan, salah seorang Qadhi Makkah, dan mendapat
ijazah sanad dari Syaikh Sulaiman.

Tugas-Tugas yang Beliau Emban

Pada tahun 1368 11 beliau ditugaskan sebagai Qadhi negeri Rahimah. Setengah tahun kemudian beliau
dipindah ke negeri Zulfi hingga tahun 1372 H. Kemudian beliau mengundurkan diri dari jabatan Qadhi.

Kehidupan llmiahnya

Beliau memiliki hasrat yang sangat kuat dalam ilmu sehingga mencurahkan semua waktunya kepada
ilmu. Beliau banyak menulis kitab-kitab yang bermanfaat bagi muslimin. Beliau tekankan penulisan
beliau pada masalah-masalah terlarang yang banyak dilakukan oleh manusia, atau pada syubhat-
syubhat di masyarakat dan perkara-perkara baru yang diada-adakan. Beliau jelaskan dengan dalil-dalil
kuat dan argumen-argumen yang gamblang sehingga bisa diterima dan memberi manfaat yang besar
kepada setiap pembaca tulisan beliau.

Sejak terbit matahari hingga Isya’, beliau penuhi waktu beliau dengan pembahasan ilmu dan menulis.
Kadang setelah Isya’ beliau lanjutkan apa yang beliau mulai pada awal harinya. Adapun malam harinya
beliau isi dengan tahajjud baik waktu menetap maupun dalam perjalanan.

Kegigihan Beliau Dalam Membela Sunnah

Beliau begitu gigih dalam meluruskan penyimpangan-penyimpangan orang yang menyeleweng dari
jalan Alloh. Beliau bantah penyelewengan tersebut dengan pena sebagai pembelaan terhadap Sunnah
Rasulullah dan aqidah shahihah, aqidah Ahli Sunnah wal Jama’ah, kadang-kadang beliau sebarkan
bantahan-bantahan tersebut ke media cetak dalam dan luar negeri Saudi.

Sebagian di antara bantahan-bantahan beliau kepada pemikiran yang menyeleweng beliau paparkan
kepada Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh. Hal itu menjadikan Syaikh Muhammad bin
Ibrahim begitu menghargai perjuangan beliau membantah pemikiran-pemikiran yang menyeleweng.
Sebagian murid, Syaikh Muhammad bin Ibrahim menyebutkan bahwa suatu saat Syaikh Hamud
membacakan kepada Syaikh Muhammad bin Ibrahim sebuah bantahan Syaikh Hamud kepada ahli
bid’ah. Ketika Syaikh Hamud selesai membacakannya dan beranjak pergi maka Syaikh Muhammad
bin Ibrahim berkata,

        “Syaikh Hamud adalah seorang mujahid, semoga Alloh membalasnya dengan
        kebaikan.”

Kalimat yang agung dari Syaikh Muhammad bin Ibrahim ini senada dengan apa yang telah dikatakan
oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah,

        “Orang yang membantah ahli bid’ah adalah seorang mujahid.”

Sampai-sampai Yahya bin Yahya mengatakan,

        “Membela Sunnah lebih afdhal dibandingkan berjihad.”

Murid-Muridnya

Di antara murid-murid beliau adalah ketujuh putranya: Syaikh Abdullah, Syaikh Muhammad, Syaikh
Abdul Aziz, Syaikh Abdul Karim, Syaikh Shalih, Syaikh Ibrahim, dan Syaikh Khalid, kemudian
Syaikh Abdullah ar-Rumi, Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Hamud, dan selain mereka.

Beliau memberi ijazah sanad kepada beberapa ulama, di antara-nya: Syaikh Isma’il al-Anshari, Syaikh
Shalih bin Abdullah bin Humaid, Syaikh Abdul Aziz bin Ibrahim al-Qasim, Syaikh Rabi’ bin Hadi al-
Madkhali, Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh, Syaikh Abdullah bin Abdur Rahman as-Sa’d,
Syaikh Abdur Rahman al-Firiwa’i, dan yang lainnya.




                                                 
   Syaikh Muhammad Aman Al-Jami (1349-1416 H)
Nama Dan Nasabnya

Beliau rahimahullah adalah Syaikh al-‘Allamah Abu Ahmad Muhammad Aman bin Ali Jami Ali.

Kelahirannya
Beliau dilahirkan pada tahun 1349 H di desa Thagha Thab daerah Harar, Habasyah (Ethiopia), Afrika.

Pertumbuhan Ilmiah Dan Guru-Gurunya

Beliau rahimahullah tumbuh di desanya, Thagha Thab. Di situ, beliau belajar al-Qur’an hingga khatam
kemudian belajar fiqh Madzhab Syafi’i. Beliau juga belajar bahasa Arab kepada Syaikh Muhammad
Amin al-Harari.

Kemudian beliau meninggalkan desanya guna menuntut ilmu. Hingga bertemu sahabatnya dalam
menuntut ilmu, Syaikh Abdul Karim. Keduanya pergi belajar Nazhm Zubad karya Ibnu Ruslan kepada
Syaikh Musa dan belajar matan Minhaj kepada Syaikh Abadir. Demikian pula, keduanya mempelajari
beberapa bidang ilmu lainnya.

Keduanya lantas sepakat pergi ke Saudi Arabia dalam rangka ibadah haji dan menuntut ilmu. Mereka
berdua melakukan perjalanan darat dari Habasyah menuju Somalia. Dari somalia melakukan perjalanan
lewat laut hingga ke Aden, Yaman. Kemudian berjalan kaki hingga Mekkah.

Setelah menunaikan ibadah haji pada tahun 1369 H, beliau rahimahullah memulai belajarnya dengan
menghadiri halaqah-halaqah di masjidil haram. Beliau belajar kepada Syaikh Abdur Razaq Hamzah,
Syaikh Abdul Haq al-Hasyimi, Syaikh Abdullah ash-Shomali dan ulama lainnya.

Beliau berkenalan dengan Syaikh Abdul Aziz bin bin Baz rahimahullah (mantan mufti ‘am kerajaan
Arab Saudi-red) dan menemaninya dalam perjalanan ke Riyadh ketika beliau masuk ke Ma’had Ilmi di
Riyadh. Di antara rekan beliau ketika belajar di Ma’had Ilmi adalah Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd
al-Abbad dan Syaikh Ali bin Muhanna.

Di samping belajar di Ma’had Ilmi, beliau juga menghadiri halaqah-halaqah ilmu di Riyadh. Beliau
menghadiri mejelis Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh, Syaikh Abdur Rahman al-Afriqi,
Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi, Syaikh Hammad al-Anshari.

Beliau rahimahullah juga belajar kepada Syaikh Abdur Razzaq Afifi, Syaikh Muhammad Khalil Harras
dan Syaikh Abdullah al-Qar’awi.

Pengabdiannya Kepada Kaum Muslimin

Beliau diusulkan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz kepada Syaikh Muhammad bin Ibrahim, Mufti Saudi
Arabia waktu itu, agar ditugaskan mengajar di Ma’had Ilmi di Shamithah, daerah Jazan. Usulan ini
disetujui Syaikh Muhammad bin Ibrahim.

Ketika Universitas Islam Madinah dibuka pada tahun 1381 H, beliau dipilih oleh Syaikh Abdul Aziz
bin Baz sebagai salah seorang pengajarnya dalam mata kuliah aqidah.

Beliau juga ditugaskan sebagai pengajar di masjid Nabawi dalam bidang aqidah.

Beliau kerahkan upaya beliau dalam dakwah ilallah di dalam dan di luar negeri Saudi selama kurang
lebih 40 tahun, menjelaskan aqidah salafiyah dan membantah ahli bid’ah serta orang-orang yang
menyeleweng dari jalan yang lurus. Beliau memiliki andil besar dalam menjelaskan perbedaan-
perbedaan yang mendasar antara manhaj salafi dan manhaj-manhaj bid’ah yang hendak memalingkan
umat dari manhaj Nabi shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya. Kerena kegigihan dakwah
inilah, beliau banyak mendapat rintangan dan gangguan. Tidak henti-hentinya para pemilik kesesatan
melontarkan tuduhan-tuduhan dan perkataan-perkataan yang tidak pantas kepada beliau. Sampai-
sampai ada yang berusaha memberikan gangguang fisik kepada beliau. Akan tetapi, tidak henti-
hentinya pula beliau membela dakwah salafiyah dengan penuh kesabaran dan mengharap keridhaan
Alloh, hingga beliau wafat.

Akhlaknya

Beliau dikenal gigih dalam melakukan nasihat terhadap Alloh, Rasul-Nya, para pemimpin kaum
muslimin, dan orang-orang awam. Beliau jarang bergaul dengan manusia kecuali dalam kebaikan.
Beliau selalu menjaga waktu-waktunya. Kebiasaan beliau dikenal banyak orang; keluar dari rumahnya
mengajar di Jami’ah, kemudian pulang ke rumah, lalu ke masjid Nabawi menyampaikan ta’limnya
sesudah Ashar, sesudah Maghrib, sesudah Isya’ dan sesudah Fajar. Begitulah jadwal beliau, sampai
beliau mengalami sakit keras hingga meninggal dunia. Beliau dikenal menjaga lisannya, tidak
mengejek, tidak mencela dan tidak mengghibah. Bahkan beliau tidak mengizinkan seorangpun
melakukan ghibah dan menyebut aib manusia di hadapannya. Ketika terjadi suatu kesalahan pada
sebagian panuntut ilmu pada suatu kaset atau kitab, beliau mendengarkan atau membacanya. Jika
nampak bagi beliau kesalahan tersebut, beliau lakukan nasihat terhadapnya. Beliau dikenal lembut dan
pemaaf. Dengan kelembutan dan sikap memaafkan, beliau hadapi ujian, makar dan gangguan. Beliau
memiliki perhatian yang sangat besar kepada murid-muridnya. Beliau hadiri undangan-undangan
mereka. Menanyakan keadaan mereka dan mengatasi sebagian permasalahan keluarga mereka.
Ringkasnya, beliau membantu mereka dengan harta, waktu dan kedudukannya.

Pujian Para Ulama Kepadanya

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata, “Beliau dikenal dengan keilmuannya,
keutamaannya, kelurusan aqidahnya dan kegigihan dakwahnya kepada Alloh serta memperingatkan
dari bid’ah dan khurafat. Semoga Alloh mengampuninya, menempatkannya dalam keluasan surga-Nya,
memperbagus keturunannya dan semoga Alloh mengumpulkan kita semua dan beliau di negeri
kemuliaan-Nya.”

Dalam kesempatan lain, Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata. “Syaikh Muhammad Aman
al-Jami dan Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali, keduanya termasuk Ahli Sunnah. Keduanya dikenal
dengan keilmuan, keutamaan dan kelurusan aqidahnya. Syaikh Muhammad Aman al-Jami telah wafat
pada malam kamis 27 Sya’ban tahun ini. Aku berwasiat agar dipelajari kitab-kitab keduanya. Aku
memohon agar Alloh memberikan taufiq kepada kita semua pada apa yang dia cintai dan dia ridhai.”

Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd al-Abbad berkata, “Aku mengenal Syaikh Muhammad Aman al-Jami
ketika belajar di ma’had ilmi Riyadh dan sebagai dosen di Universitas Islam Madinah. Aku mengenal
beliau dengan kelurusan aqidah dan keselamatan arah. Beliau memiliki perhatian yang besar dalam
menjelaskan aqidah salaf dan memperingatkan dari kebid’ahan di dalam ta’lim-ta’limnya, ceramah-
ceramahnya dan tulisan-tulisannya. Semoga Alloh mengampuninya, merahmatinya dan memberikan
pahala yang berlimpah kepadanya.”

Syaikh Shalih al-Fauzan berkata, “Orang-orang yang berilmu dan memiliki ijazah ilmiah banyak
sekali. Tetapi sedikit dari mereka yang bisa memanfaatkan dan memberikan faedah dari ilmunya.
Syaikh Muhammad Aman al-Jami termasuk kelompok sedikit dari para ulama yang mengarahkan ilmu
dan upaya mereka memberikan faedah dan mengarahkan kaum muslimin dengan dakwah kepada Alloh
melalui ta’lim-ta’limnya di Jami’ah Islamiyah dan masjid Nabawi serta dalam perjalanan dakwahnya di
dalam dan luar Saudi, menyeru kepada tauhid, menyebarkan aqidah yang shahih, mengarahkan para
pemuda umat ini kepada manhaj salafush shalih dan memperingatkan mereka dari pemikiran-pemikiran
yang merusak dan seruan-seruan yang menyesatkan. Siapa saja yang belum mengenalnya secara
langsung, bisa mengenal melalui kitab-kitabnya dan kaset-kasetnya yang bermanfaat, yang
menampakan keluasan ilmunya. Beliau terus melanjutkan kebaikan amalnya hingga beliau wafat.
Beliau tinggalkan ilmu yang bermanfaat, yang terwujud pada murid-muridnya dan kitab-kitabnya.
Semoga Alloh merahmatinya dan membalasnya dengan kebaikan.”

Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali berkata, “ Adapun Syaikh Muahammad Aman, aku tidak
mengetahui beliau kecuali seorang yang beriman, bertauhid, salafi, faqih dalam agamanya, dan
mempuni dalam ilmu aqidah. Tidak pernah kulihat yang lebih bagus darinya dalam memaparkan
aqidah. Beliau telah mengajarkan kepada kami al-Wasithiyah dan al-Hamawiyah saat di marhalah
Tsanawiyah. Tidak pernah kami melihat yang lebih bagus dari beliau dalam memahamkan para murid.
Kami mengenal beliau dengan akhlak yang mulia, tawadhu dan kewibawaan. Kami memohon kepada
Alloh agar mengangkat derajat beliau di surga dengan sebab celaan-celaan dan perkataan-perkataan
yang tidak pantas dari ahlul ahwa’ (pengikut hawa nafsu) kepadanya. Terakhir, beliau meninggal
dengan berwasiat agar selalu berpegang teguh dengan aqidah yang shahih, berwasiat kepada para
ulama agar memperhatikan masalah aqidah. Ini menunjukan kejujurannya –insya Alloh- dalam
keimanannya dan dalil atas khusnul khatimahnya. Semoga Alloh selalu mencurahkan kepada kita dan
beliau rahmat dan keridhaanNya.”

Syaikh Muhammad bin Ali bin Muhammad Tsani berkata, “Beliau adalah seorang ulama salafi.
Merupakan teladan utama dalam dakwah islamiyah. Beliau memiliki ceramah-ceramah di masjid-
masjid dan pertemuan-pertemuan ilmiah di dalam dan luar negeri. Beliau memiliki tulisan-tulisan
dalam masalah aqidah dan yang lainnya. Semoga Alloh memberikan balasan sebaik-baiknya kepada
beliau dan mencurahkan pahala yang banyak di akhirat.”

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab al-Banna berkata, “Beliau adalah sebaik-baik yang kami cintai
dalam keluhuran akhlaknya, kelurusan aqidahnya, dan kebagusan pergaulannya.”

Syaikh Muhammad bin Hamud al-Waili berkata, “Aku mulai mengenal Syaikh Muhammad Aman al-
Jami pada tahun 1381 H ketika daulah Saudi Arabia mendirikan Universitas Islam Madinah. Beliau
termasuk para pengajar yang pertama ditugaskan di Universitas tersebut, sedangkan aku salah seorang
mahasiswanya. Beliau termasuk diantara para masyayikh yang memberikan perhatian yang khusus
kepada para murid sehingga mereka tidak berhenti dalam hubungan pengajaran. Pada kebanyakan
ta’limnya, beliau memiliki perhatian yang besar dalam menjelaskan aqidah salafush shalih dalam
pelajaran aqidah maupun yang lainnya.

Ketika menjelaskan aqidah salafush shalih dan berusaha menanamkannya dalam jiwa para muridnya
yang berasal dari seluruh penjuru negeri, beliau sampaikan dengan gaya bahasa yang mereka mengerti.
Karena beliau telah merasakan keindahan aqidah salaf dan menelaah kedalamannya, sampai-sampai
seorang yang mendengar dan menyaksikan beliau ketika berbicara tentang aqidah salaf merasakan
hatinya merasa cinta dan terikat dengan aqidah salaf. Beliau memiliki banyak rihlah dakwah dan ta’lim
di luar negeri Saudi. Tidak pernah datang suatu kesempatan melainkan beliau gunakan untuk
menjelaskan keagungan dan kejernihan aqidah salaf dengan penjelasan yang memuaskan. Orang yang
membaca tulisan-tulisan dan risalah beliau akan meraba kebenaran dakwahnya. Saya hadir ketika
beliau mempertahankan disertasi doktornya di Darul Ulum cabang Universitas Kairo Mesir. Beliau
berupaya di dalam disertasinya tersebut menjelaskan kejernihan aqidah salaf dan keselamatan manhaj
salaf. Beliau singkapkan keborokan setiap manhaj yang menyeleweng dari aqidah salaf serta kebatilan
setiap tuduhan yang diarahkan kepada para penyeru aqidah salaf yang menghabiskan umurnya
menyeru dan mengabdi kepada aqidah salaf. Beliau juga mematahkan setiap perkataan dan syubhat
para pemilik kebatilan yang berusaha menjatuhkan manhaj salaf.

Ringkasnya, beliau begitu mendalam kecintaannya terhadap aqidah salafush shalih, ikhlas dalam
mendakwahkannya, begitu gigih dalam membelanya, serta pemberani di dalam menyampaikan
kebenaran. Semoga Alloh mengampuni beliau dan kita semua.”

Murid-Muridnya

Di antara murid-muridnya: Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali, Syaikh Zaid bin Hadi al-Madkhali,
Syaikh Ali bin Nashir Faqihi, Syaikh Muhammad bin Hamud al-Waili, Syaikh Abdul Qadir bin
Habibullah as-Sindi, Syaikh Shalih bin Sa’d as-Suhaimi, Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid, Syaikh
Falih bin bin Nafi’ al-Harbi, Syaikh Shalih ar-Rifa’i, Syaikh Falah Isma’il, Syaikh Falah bin Tsani,
Syaikh Ibrahim bin Amir ar-Ruhaili, dan masih banyak lagi selain mereka.
Tulisan-Tulisannya

Di antara tulisan-tulisan beliau: Sifat Ilahiyyah fil Kitab was Sunnah Nabawiyyah fi
Dhau’il Itsbat wa Tanzih, Manzilatus Sunnah fi Tasyri’ Islami, Majmu’ Rasa’il Jami’
Fil aqidah was Sunnah, Aqidah Islamiyyah wa Tarikhuha Haqiqatu Demokratiah wa
Annaha Laisat minal Islam, Haqiqatusy Syura fil Islam, Adhwa’ ‘ala Thariqi Da’wah
fil Islam, Tahhih Mafahim fi Jawaniba minal aqidah, Muhadharah Difa’iyyah anis
Sunnah Muhammadiyyah, aql wa Naql ‘inda Ibnu Rusyd, Thariqatul Islam fi
Tarbiyyah, Masyakilu Da’wah wa Du’at fi Ashril Hadits Islam fi Afriqia Abra Tarikh,
dan yang lainnya.

Wafatnya

Syaikh Muhammad Aman al-Jami wafat di Madinah pada waktu pagi hari Rabu 26 Sya’ban 1416 H
dan dimakamkan di pekuburan Baqi’ Madinah. Semoga Alloh meridhainya dan menempatkannya
dalam keluasan jannah-Nya.




                                            
         Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin
Nasab (Silsilah Beliau)

Beliau bernama Abdillah Muhammad Bin Shalih Bin Muhammad Bin Utsaimin Al-Wahib At-Tamimi.
Dilahirkan di kota Unaizah tanggal 27 Ramadhan 1347 Hijriyah.

Pertumbuhan Beliau

Beliau belajar membaca Al-Qur’an kepada kakeknya dari ibunya yaitu Abdurrahman Bin Sulaiman Ali
Damigh Rahimahullah, hingga beliau hafal. Sesudah itu beliau mulai mencari ilmu dan belajar khat
(ilmu tulis menulis), ilmu hitung dan beberapa bidang ilmu sastra.

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di Rahimahullah menugaskan kepada 2 orang muridnya untuk mengajar
murid-muridnya yang kecil. Dua murid tersebut adalah Syaikh Ali Ash-Shalihin dan Syaikh
Muhammad Bin Abdil Aziz Al-Muthawwi’ Rahimahullah. Kepada yang terakhir ini beliau (syaikh
Utsaimin) mempelajari kitab Mukhtasar Al Aqidah Al Wasithiyah dan Minhaju Salikin fil Fiqh karya
Syaikh Abdurrahman As-Sa’di dan Al- Ajurrumiyah serta Alfiyyah.

Disamping itu, beliau belajar ilmu faraidh (waris) dan fiqh kepada Syaikh Abdurrahman Bin Ali Bin
‘Audan. Sedangkan kepada syaikh (guru) utama beliau yang pertama yaitu Syaikh Abdurrahman Bin
Nashir As-Sa’di, beliau sempat mengkaji masalah tauhid, tafsir, hadits, fiqh, ustsul fiqh, faraidh,
musthalahul hadits, nahwu dan sharaf.

Belia mempunyai kedudukan penting di sisinya Syaikhnya Rahimahullah. Ketika ayah beliau pindah ke
Riyadh, di usia pertumbuhan beliau, beliau ingin ikut bersama ayahnya. Oleh karena itu Syaikh
Abdurrahman As-Sa’di mengirim surat kepada beliau: “Hal ini tidak mungkin, kami menginginkan
Muhammad tetap tinggal di sini agar dapat bisa mengambil faidah (ilmu).”

Beliau (Syaikh Utsaimin) berkata, “Sesungguhnya aku merasa terkesan dengan beliau (Syaikh
Abdurrahman Rahimahullah) dalam banyak cara beliau mengajar, menjelaskan ilmu, dan pendekatan
kepada para pelajar dengan contoh-contoh serta makna-makna. Demikian pula aku terkesan dengan
akhlak beliau yang agung dan utama sesuai dengan kadar ilmu dan ibadahnya. Beliau senang bercanda
dengan anak-anak kecil dan bersikap ramah kepada orang-orang besar. Beliau adalah orang yang
paling baik akhlaknya yang pernah aku lihat.”

Beliau belajar kepada Syaikh Abdul Aziz Bin Baaz -sebagai syaikh utama kedua bagi beliau- kitab
Shahih Bukhari dan sebagian risalah-risalah Syaikh Islam Ibnu Taimiyyah serta beberapa kitab-kitab
fiqh.

Beliau berkata, “Aku terkesan terhadap syaikh Abdul Aziz Bin Baz Hafidhahullah karena perhatian
beliau terhadap hadits dansaya juga terkesan dengan akhlak beliau karena sikap terbuka beliau dengan
manusia.”

Pada tahun 1371 H, beliau duduk untuk mengajar di masjid Jami’. Ketika dibukanya ma’had-ma’had al
ilmiyyah di Riyadh, beliau mendaftarkan diri di sana pada tahun 1372 H. Berkata Syaikh Utsaimin
Hafidhahullah, “Saya masuk di lembaga pendidikan tersebut untuk tahun kedua seterlah berkonsultasi
dengan Syaikh Ali Ash-Shalihin dan sesudah meminta ijin kepada Syaikh Abdurrahman As-Sa’di
Rahimahullah. Ketika itu ma’had al ilmiyyah dibagi menjadi 2 bagian, umum dan khusus. Saya berada
pada bidang yang khusus. Pada waktu itu bagi mereka yang ingin “meloncat” – demikian kata mereka-
ia dapat mempelajari tingkat berikutnya pada masa libur dan kemudian diujikan pada awal tahun ajaran
kedua. Maka jika ia lulus, ia dapat naik ke pelajaran tingkat lebih tinggi setelah itu. Dengan cara ini
saya dapat meringkas waktu.”

Sesudah 2 tahun, beliau lulus dan diangkat menjadi guru di ma’had Unaizah Al ‘Ilmi sambil
meneruskan studi beliau secara intishab (Semacam Universitas Terbuka -red) pada fakultas syari’ah
serta terus menuntut ilmu dengan bimbingan Syaikh Abdurrahman Bin Nashir As-Sa’di.
Ketika Syaikh Abdurrahman Bin Nashir As-Sa’di wafat, beliau menggantikan sebagai imam masjid
jami’ di Unaizah dan mengajar di perpustakaan nasional Unaizah disamping tetap mengajar di ma’had
Al Ilmi. Kemudian beliau pindah mengajar di fakultas syari’ah dan ushuludin cabang universitas Al
Imam Muhammad Bin Su’ud Al Islamiyah di Qasim. Beliau juga termasuk anggota Haiatul Kibarul
Ulama di Kerajaan Arab Saudi. Syaikh Hafidhahullah mempunyai banyak kegiatan dakwah kepada
Allah serta memberikan pengarahan kepada para Da’i di setiap tempat. Jasa beliau sangat besar dalam
masalah ini.

Perlu diketahui pula bahwa Syaikh Muhammad Bin Ibrahim Rahimahullah telah menawarkan bahkan
meminta berulang kali kepada syaikh Utsaimin untuk menduduki jabatan Qadhi (hakim), bahkan telah
mengeluarkan surat pengangkatan sebagai ketua pengadilan agama di Al Ihsa, namun beliau menolak
secara halus. Setelah dilakukan pendekatan pribadi, Syaikh Muhammad Bin Ibrahim pun
mengabulkannya untuk menarik dirinya (Syaikh Utsaimin -red) dari jabatan tersebut.

Karya-karya Beliau

Buku-buku yag telah ditulis oleh Syaikh Utsaimin diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Talkhis Al Hamawiyah, selesai pada tanggal 8 Dzulhijah 1380 H.
2. Tafsir Ayat Al Ahkam (belum selesai).
3. Syarh Umdatul Ahkam (belum selesai).
4. Musthalah Hadits.
5. Al Ushul min Ilmil Ushul.
6. Risalah fil Wudhu wal Ghusl wash Shalah.
7. Risalah fil Kufri Tarikis Shalah.
8. Majalisu Ar Ramadhan.
9. Al Udhiyah wa Az Zakah.
10. Al Manhaj li Muridil Hajj wal Umrah.
11. Tashil Al Faraidh.
12. Syarh Lum’atul I’tiqad.
13. Syarh Al Aqidah Al Wasithiyah.
14. Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.
15. Al Qowaidul Mustla fi Siftillah wa Asma’ihil Husna.
16. Risalah fi Annath Thalaq Ats Tsalats Wahidah Walau Bikalimatin (belum dicetak).
17. Takhrij Ahadits Ar Raudh Al Murbi’ (belum dicetak).
18. Risalah Al Hijab.
19. Risalah fi Ash Shalah wa Ath Thaharah li Ahlil A’dzar.
20. Risalah fi Mawaqit Ash Shalah.
21. Risalah fi Sujud As Sahwi
22. Risalah fi Aqsamil Mudayanah.
23. Risalah fi Wujubi Zakatil Huliyyi.
24. Risalah fi Ahkamil Mayyit wa Ghuslihi (belum dicetak).
25. Tafsir Ayatil Kursi.
26. Nailul Arab min Qawaid Ibnu Rajab (belum dicetak).
27. Ushul wa Qowa’id Nudhima ‘Alal Bahr Ar Rajaz (belum dicetak).
28. Ad Diya’ Allami’ Minal Hithab Al Jawami’.
29. Al Fatawaa An Nisaa’iyyah
30. Zad Ad Da’iyah ilallah Azza wa Jalla.
31. Fatawa Al Hajj.
32. Al Majmu Al Kabir Min Al Fatawa.
33. Huquq Da’at Ilaihal Fithrah wa Qarraratha Asy Syar’iyah.
34. Al Khilaf Bainal Ulama, Asbabuhu wa Muaqifuna Minhu.
35. Min Musykilat Asy Sayabab.
36. Risalah fil Al Mash ‘alal Khuffain.
37. Risalah fi Qashri Ash Shalah lil Mubtaisin.
38. Ushul At Tafsir.
39. Risalah Fi Ad Dima’ Ath Tabiiyah.
40. As’illah Muhimmah.
41. Al Ibtida’ fi Kamali Asy Syar’i wa Khtharil Ibtida’.
42. Izalat As Sitar ‘Anil Jawab Al Mukhtar li Hidayatil Muhtar.

Dan masih banyak karya-karya beliau hafidahullah ta’ala yang lain. Wallahu ‘alam.

Sumber: SALAFY Edisi XIII/Sya’ban-Ramadhan/1417/1997
Judul Asli: “Tokoh Ahlus Sunnah dari Unaizah”

Wafat Beliau (keterangan tambahan)

Sekarang beliau telah meninggal dunia. Beliau meninggal pada hari Rabu 15 Syawal 1421 Hijriyah
bertepatan dengan 10 Januari 2001 dalam usia yang ke 74. Semoga Allah merahmati beliau dan
memberikan balasan yang setimpal kepada beliau atas jasa-jasa beliau kepada Islam dan Muslimin.

Rujukan kitab Syarah Tsalasatil Ushul edisi Indonesia “Penjelasan 3 Landasan Pokok yang Wajib Diketahui Setiap Muslim”
Penerbit Maktabah Al Ghuroba. Dinukil dari: http://ghuroba.blogsome.com




                                                             
Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’I (Wafat 1423 H)
Nama dan Nasabnya

Beliau adalah Syaikh Al-Allamah Al-Muhaddits Abu Abdirrahman Muqbil bin Hadi bin Qayidah Al-
Hamdany Al-Wadi’I Al-Khilaly rahimahullah.

Kelahirannya

Beliau rahimahullah dilahirkan pada tahun 1352 H di Damaj Yaman di sebuah lingkungan Zaidiyah
(Salah satu sekte Syi’ah) yang bercirikan tasawuf, mu’tazilah, dan berbagai bid’ah lainnya.

Pertumbuhan Ilmiahnya

Beliau rahimahullah memulai pelajarannya di Maktab di sebuah desa yang bernama Al-Wathan Damaj
Yaman beberapa lama kemudian berhenti karena tidak ada yang membantunya belajar.

Kemudian beliau safar ke Riyadh Saudi Arabia dan tinggal di sana sekitar sebulan setengah. Ketika
cuaca Riyadh berubah maka beliau berangkat ke Makkah. Beliau meminta petunjuk kepada sebagian
penceramah tentang kitab-kitab yang bermanfaat yang akan beliau beli, maka beliau dinasehati agar
membeli kitab Shahih Bukhari, Bulughul Maram, Riyadhush Shalihin, dan Fathul Majid.

Beliau bekerja sebagai penjaga sebuah gedung di Hajun sambil menelaah kitab-kitab tersebut. Beliau
sangat tertarik dengan kandungan kitab-kitab tersebut karena apa yang dilakukan manusia di negerinya
sangat berbeda dengan yang ada dalam kitab-kitab tersebut.

Setelah beberapa lama beliau pulang ke negerinya Yaman dan mulai mengingkari kemungkaran-
kemungkaran yang dilakukan kaumnya. Seperti menyembelih untuk selain Alloh, meminta kepada
orang-orang yang sudah mati, membangun kuburan, dan kesyirikan-kesyirikan lainnya.

Reaksi yang muncul dari kaumnya begitu keras, lebih-lebih dari orang Syi’ah yang memandang Syaikh
Muqbil sudah mengganti agamanya sehingga pantas dibunuh. Mereka memaksa Syaikh Muqbil untuk
belajar di Masjid Jami’ Al-Hadi untuk menghilangkan syubhat-syubhatnya.

Kemudian beliau berangkat ke Najran dan tinggal di sana selama dua tahun belajar kepada Majduddin
Al-Muayyid. Setelah itu berangkatlah beliau ke Makkah bekerja di waktu siang dan belajar di waktu
malam.

Ketika dibuka Ma’had Al-Haram Al-Makky beliau mendaftarkan diri dan diterima sehingga beliau
menyelesaikan pendidikan Mutawassithah dan Tsanawiyah. Kemudian beliau menuju ke Madinah dan
masuk ke Universitas Islam Madinah di Fakultas Da’wah dan Ushuluddin.

Ketika dibuka Fakultas Pasca Sarjana di Universitas Islam Madinah, Beliau mendaftarkan diri dan
diterima. Risalah Magisternya adalah tahqiq kitab Ilzamat dan Tatabbu’ oleh Al-Imam Daruquthni.

Dakhwahnya di Yaman

Ketika terjadi fitnah kelompok Juhaiman di Masjidil Haram, beliau rahimahullah dituduh termasuk
kelompok mereka sehingga beliau dipenjara dan dipulangkan ke Yaman.

Sesampainya beliau di Yaman, beliau memulai dakhwahnya dengan mengajari Al-Qur’an kepada anak-
anak di kampungnya. Beliau dengan gigih mendakwahkan dakwah salafiyah, dakhwah tauhid dakwah
yang haq, meski begitu banyak rintangan yang menghadangnya dari kelompok syi’ah, sufiyah, dan
sekuler. Beliau rahimahullah mulai dakwahnya dari kampungnya yang kecil yang dikelilingi gunung-
gunung tetapi cahaya dakwah beliau memancar hingga ke pelosok-pelosok yang jauh di Yaman.
Dengan pertolongan Alloh ’Azza wa Jalla, kemudian dengan kegigihan beliau mulailah dengan
manusia meninggalkan kesyirika-kesyirikan dan kemungkaran-kemungkaran yang sebelumnya
merupakan kebiasaan mereka sehari-hari.

Ketika dakwah beliau mulai terdengar ke seluruh penjuru, berbondong-bondonglah manusia menuju
tempat beliau untuk mengambil ilmu. Datanglah para penuntut ilmu dari daerah-daerah
sekitarnya,bahkan dari luar negeri Yaman seperti Mesir, Kuwait, Haramain, Najd, Libia, Al-Jazair,
Maghrib (Maroko), Turki, Inggris, Indonesia, Amerika, Somalia, Belgia, dan negeri-negeri lainnya.

Keberaniannya Dalam Mengingkari Kemungkaran

Beliau rahimahullah dikenal pemberani di dalam mengucapkan kebenaran dan mengingkari
kemungkaran. Tidak takut kepada siapa pun di dalam membela kebenaran. Siapa saya yang membaca
tulisan-tulisan dan mendengarkan kaset-kaset beliau akan mengetahui hal itu.Beliau berbicara tentang
bid’ah-bid’ah, kesyirikan-kesyirikan, kezhaliman-kezhaliman, dan kerusakan-kerusakan. Beliau
memiliki banyak bantahan-bantahan kepada para pemilik kebathilan di dalam tulisan-tulisan dan kaset-
kaset beliau.

Perhatian Kepada Para Penuntut Ilmu

Beliau begitu besar perhatiannya kepada para penuntut ilmu. Beliau sangat bersedih jika ada dari para
murid-muridnya membuthkan sesuatu kemudian tidak bisa mendapatkannya. Beliau pernah berkata di
dalam majelisnya, ”Beban terberat yang aku hadapi yang aku rasakan lebih berat daripada menghadapi
ahli bid’ah dan menulis adalah kebutuhan murid-murid kami”.

Keluhuran Jiwanya

Beliau rahimahullah begitu luhur jiwanya, menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak pantas, menjaga diri
dari meminta-minta kepada orang lain, sampai-sampai beliau merasa berat memintakan kepada para
muhsinin (dermawan) untuk kepentingan para muridnya. Ketika Syaikh Abdul Aziz bin Baz
mengetahui hal itu maka beliau mengirim surat kepada Syaikh Muqbil yang isinya, ”Tulislah
permohonan wahai Abu Abdurrahman, engkau akan mendapatkan pahala darinya!”

Beliau latih para muridnya pada sifat yang agung ini. Beliau mencela dan memperingatkan dari orang-
orang yang meminta-minta kepada manusia atas nama dakwah, dan ini bukan berarti beliau
rahimahullah menyeru para penuntut ilmu agar meninggalkan taklimnya untuk berdagang. Maksud
beliau, makan dari hasil usaha sendiri lebih baik daripada meminta-minta. Beliau rahimahullah juga
berkata, ”Aku menasehatkan kepada ahli sunnah agar bersabar atas kefaikiran, karena itulah keadaan
yang Alloh pilihkan kepada Nabi-Nya Shollallahu ’Alayhi wa Sallam.

Kesabarannya

Beliau rahimahullah memiliki kesabaran yang sulit dicari bandingannya. Beliau begitu sabar atas
bebrbagai penyakit yang menimpanya, bersabar atas penyakit busung air yang bertahun-tahun
dideritanya. Demikian pula atas penyakit lever yang menimpanya. Merupakan hal yang menakjubkan
bahwa beliau dalam keadaan sakit tidak pernah meninggalkan taklimnya. Pernah suatu saat beliau
menyampaikan pelajarannya dalam keadaan tangannya diikat dengan perban ke lehernya.

Kezuhudan, Kesederhanaan, Kedermawanan, dan Wara’nya.

Beliau dikenal dengan kezuhudannya dan beliau biasakan para muridnya atas sifat yang mulia ini.
Beliau sampaikan kepada mereka bahwa dengan sifat inilah mereka akan mendapatkan ilmu. Beliau
sangat sederhana dalam tempat tinggal, pakaian dan makanannya.

Di antara hal yang menunjukkan kezuhudannya pada dunia, beliau wakafkan tanag belia yang luas
untuk tempat tinggal para muridnya yang sekarang ditempati sekitar 250 rumah.
Beliau memiliki sifat tawadhu’ yang sulit dicari bandingannya. Jika beliau sedang berjalan kemudian
dipanggil oleh seorang anak kecil maka beliau langsung berhenti, menyapanya, dan menanyakan apa
yang dikehendaki. Ketika beliau di majelis taklimnya datanglah seorang anak kecil, beliau hentikan
pelajarannya dan berkata anak kecil itu kepadanya, ”Aku ingin membaca sebuah hadits di mikrofon.”
maka beliau dudukkan anak kecil tersebut di depannya untuk membaca hadits yang dikehendakinya.

Beliau dikenal dengan sifat wara’, tidak pernah tersisa dana dakwah disisinya karena selalu beliau
serahkan kepada penanggungjawabnya.

Kegigihan Dalam Berdakwah

Beliau rahimahullah begitu gigih dalam berdakwah meskipun begitu padat kesibukannya daalam
mengajar dan menulis. Beliau arahkan para muridnya dengan mengatakan, ”Janganlah kalian hanya
menuntut ilmu dan meninggalkan dakwah, wajib atas kalian mendakwahkan ilmu yang kalian
pelajari!”

Beliau melakukan perjalanan dakwah di kota-kota dan desa-desa Yaman, mendaki gunung-gunung dan
menuruni lembah-lembah. Beliau mengalami vabyak rintangan dari para musuh-musuhnya seperti
jama’ah Ikhwanul Muslimin, Jam’iyah Hikmah dan Ihsan, kelompok sekuler, Sufiyah, dan selain
mereka, tetapi beliau tidak pernah surut dalam dakwahnya kepada Kitab dan Sunnah.

Ceramah-ceramah dakwah beliau dihadiri oleh jumlah yang sangat besar hingga di sebagian tempat
ceramah diadakan di tanah lapang karena masjid yang ada tidak mampu memuat jumlah hadirin.

Beliau peringatkan manusia dari kesyirikan, kebid’ahan, demokrasi dan parlemen. Beliau ingatkan
kaum muslimin agar tidak memberikan loyalitas kepada musuh-musuh Islam, dan meninggalkan fitnah
hizbiyyah yang telah menceraiberaikan umat.

Kegigihannya Dalam Mempelajari dan Menyampaikan Ilmu

Beliau begitu gigih di dalam mengajarkan ilmu. Satu jam sebelum Zhuhur beliau mengajarkan kitabnya
Shahih Musnad mimma Laisa fi Shahihain, setelah itu kitab Jami’ Shahih Musnad mimma Laisa fi
Shahihain. Sesudah sholat Zhuhur belia mengajarkan Tafsir Ibnu Katsir dua hari sekali bergantian
dengan kitab Shahih Musnad min Asbabin Nuzul. Ketika kitab yang akhir ini selesai beliau ganti
dengan kitab Jami’ Shahih. Sebelum Zhuhur beliau menelaah pelajaran di rumahnya selama
seperempat jam.

Sesudah Ashar beliau mengajarkan kitab Shahih Bukhary, dan sesudah Magrib mengajarkan Shahih
Muslim dan Kitabnya Ahaditsu Mu’allah Zhahiruha Shihhah. Selesai dari kitab yang akhir ini beliau
menggantinya dengan kitabnya Gharatul Fishal alal Mu’tadin ala Kutubil Ilal.Selesai dari kitab yang
akhir ini beliau mengajarkan kitabnya Dzammul Mas’alah, kemudian setelah selesai diganti dengan
kitab Shahih Musnad min Dalail Nubuwwah. Bersama kedua kitab ini beliau ajarkan juga kitab
Mustadrak dan kitabnya Shahih Musnad fil Qadar. Demikianlah urut-urutan taklim beliau hingga
beliau wafat.

Jika beliau berbicara tentang rijal maka beliau adalah pakarnya, jika beliau sedang diskusi dengan
murid-muridnya dalam masalah nahwu maka seakan-akan tidak ada selsain beliau yang mengetahui
disiplin ilmu ini, jika beliau berbicara tentang ilal maka membuat terhenyak orang yang ada
dihadapannya. Demikian juga beliau memiliki kecepatan luar biasa di dalam menghadirkan dalil-dalil
dari Kitab dan Sunnah.

Guru-gurunya

Beliau mempelajari ilmu-ilmu syar’i dari para ulama besar dizamannya seperti : SYAIKH Abdul Aziz
bin Abdullah bin Baz, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albany, Syaikh Abdullah bin Humaid,
Syaikh Muhammad As-Sabil, Syaikh Abdul Aziz Ar-Rasyid, Syaikh Yahya Al-Bakistany, Syaikh
Muhammad bin Abdullah ASH-Shamaly, Syaikh Muhammad Hakim Al-Mishry, dan Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Mishry.
Murid-muridnya

Di antara murid-muridnya adalah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Washshaby Al-Abdaly,
Syaikh Yahya bin Ali Al-Hajury, Syaikh Muhammad bin Abdullah Ar-Rimy Al-Imam, Syaikh Abdul
Aziz bin A;-Bar’i, Ummu Abdillah Al-Wadi’iyah putrinya, Ummu Syu’aib Al-Wadi’iyah istri
keduanya, Ummu Salamah istri ketiganya, dan masih banyak lagi selain mereka.

Tulisan-tulisannya

Diantara tulisan-tulisannya adalah Shahih Musnad mimma Laisa fi Shahihain, Tarajim Rijal Al-Hakim
fil Mustadrak, Tatabbu’ Auham Al-Hakim allati Sakata Alaiha Adz-Dzhaby, Tarajim Rijal Sunan
Daruquthni, Shahih Musnad min Dalail Nubuwwah, Gharatul Fishal ’alal Mu’tadin ’ala Kutubil Ilal,
Jami’ Shahih fil Qadar, Sha’qatu; Zilzal Linasfi Abathil Rafdhi wal I’tizal, Ijabatus Sail’an Ahammil
Masail, Asy-Syafa’ah, Riyadhul Janna fi Raddi ’ala A’dai Sunnah, Tuhfatul Arib ’ala As’ilatil Hadhir
wal Gharib, Al-Makhraj minal Fitnah, Shahih Musnad min Asbabin Nuzul, Rudud Ahlil Ilmi ’ala
Tha’inin fi haditsi Sihr, Mushara’ah. Ilhad Khomeni fi Ardhil Haramain, Al-Ba’its ala Syarhil
Hawadits, Irsyad Dzawil Fathan Liib’adi Ghulati Rwafidh ’anil Yaman, Jami’ Shahih Musnad mimma
Laisa fi Shahihain, Gharatul Asyrithah ’ala Ahlil Jahli wa Safsathah, Fawakih Janiyah fil Khuthab wal
Muhadharat Saniyah, Qam’ul Mu’anid wa Zajrul Haqidil Hasid, Majmu’atu Rasail Ilmiyah, Tuhfatusy
Syab Rabbany, Fatwa fi Wihdatil Muslimin ma’al Kuffar, Iqamatil Burhan ala Dhalali Abdur Rahim
Ath-Thahhan, Dibaj fi Maratsy Syaikhul Islam Abdul Aziz bin Baz, Hukmu Tashwir Dzawatil Arwah,
Muqtarah fi Ajwibati As’ilatil Musthalah, Fadhaih wa Nashaih, Maqtal Syaikh Jamilurrahman, Iskatul
Kalbil’Awi, Tahqiq Tafsir Ibnu Katsir, Shahih Musnad mimma Tafsir bil Ma’tsur, dan Kitab Ilzamat
wa Tatabbu’ lil Imam Daruquthni dirasah wa tahqiq.

Wafatnya

Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i wafat di Jedda pada malam Ahad 1 Jumadil Ula tahun 1422 H
dalam usia sekitar 70 tahun dan dimakamkan di Makkah di samping Syaikh Abdul Aziz bin Baz dab
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Semoga Allah meridhainya dan menempatkannya dalan
keluasan jannah-Nya.

Sumber: Nubdzah Yasir min Hayati Ahadi ’Alamil Jazirah oleh Abu Hammam Muhammad bin Ali bin Ahmaf Ash-Shauma’i Al-
Baidhani.


                         Nasihat Syaikh Muqbil: Nasehatku Bagi Ahlu Sunnah

Hendaklah mereka menjauhi sebab-sebab perpecahan dan perselisihan di mana akidah Ahlu
Sunnah satu dan visi mereka satu, tidak ada pada mereka alasan untuk berpecah belah dan
berselisih kecuali kejahilan, kelaliman dan setan.

Dalam sahih muslim, “Sesungguhnya setan telah berputus asa untuk disembah oleh orang-orang
ahli sholat di jazirah Arab, hanya saja dengan dia menaburkan benih perpecahan di antara
mereka.”

    1. Perselisihan itu buruk sebagaimana yang dikatakan oleh Abdullah bin Mas’ud sewaktu
         Utsman mengimami orang-orang sholat di Mina sebanyak empat rakaat, maka
         Abdullah beristirja’ (mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un) lalu berkata, “Saya
         telah melakukan sholat bersama Rosululloh dua rakaat bersama Abu Bakar dua rakaat
         juga bersama Umar (dua rakaat).”
    2.   Muslim meriwayatkan dalam sahihnya dari Ibnu Mas’ud yang berkata, “Dahulu
         Rosululloh meluruskan pundak-pundak kami untuk sholat dan beliau bersabda,
         ‘Janganlah kalian berbeda-beda, maka hati kalian akan berselisih. Hendaklah yang berada
         di belakangku di antara kalian orang-orang dewasa yang berilmu lalu yang berikutnya lalu
         yang berikutnya!!’”
    3.   Imam Bukhori meriwayatkan dalam Sahihnya dari An Nu’man bin Basyir, ia berkata
         bahwa Rosululloh bersabda, “Benar-benar kalian akan meluruskan shaf-shaf kalian atau
         Alloh akan menyelisihkan wajah-wajah kalian.”
   4. Dari Al Barra’ bin Azib, ia berkata, “Dahulu Rosululloh menyusupi shaf dari satu sisi ke
        sisi lainnya, Beliau meratakan pundak kami seraya bersabda, ‘Janganlah kalian berbeda-
        beda sehingga qalbu kalian berselisih.’ Rosululloh juga bersabda , ‘Sesungguhnya Alloh
        dan para malaikat bersholawat untuk shaf-shaf pertama.’” (Diriwayatkan oleh Abu
        Dawud dengan sanad sahih, rijal-rijalnya sahih, kecuali Abdurrahman bin Usajah,
        namun An Nasaai telah mentsiqohkannya)
   5.   Dalam Shohihain dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Ketika menjelang kematian Nabi,
        sementara di rumah beliau da beberapa orang laki-laki termasuk Umar bin Al Khattab,
        beliau bersabda, “Kemarilah saya akan menuliskan bagi kalian sebuah tulisan yang
        kalian tidak akan sesat setelahnya.” Umar berkata, “Sesungguhnya Nabi telah merasakan
        sakit yang sangat sementara pada kalian ada Al Quran dan cukuplah bagi kita Kitabulloh.”
        Akhirnya orang-orang yang ada di rumah itu berselisih dan bertengkar, di antara
        mereka ada yang berkata, “Dekatkanlah agar Rosululloh menuliskan buat kalian sebuah
        tulisan hingga kalian tidak akan sesat setelahnya.” Tapi di antara mereka juga ada yang
        mengatakan seperti perkataan Umar. Sehingga tatkala mereka sudah sangat gaduh dan
        berselisih di sisi Rosululloh, beliau bersabda, “Pergilah kalian dariku!”. Ubaidullah
        berkata: Dahulu Ibnu Abbas berkata, ”Sesungguhnya bencana, benar-benar bencana apa
        yang menghalangi Rosululloh untuk menuliskan bagi mereka tulisan itu, yakni
        perselisihan dan kegaduhan mereka.”
   6.   Al Bukhori meriwayatkan dalam Shohihnya dari Ubadah bin Shamit ia berkata: Nabi
        keluar untuk mengabarkan kami tentang Lailatul Qadr. Lalu tiba-tiba ada dua orang
        kaum muslimin yang bertengkar, maka Rosululloh bersabda, “Saya tadinya keluar
        hendak mengabarkan kalian tentang malam Lailatul Qadr, lalu si fulan dan fulan
        bertengkar, maka hal itu terangkat (terlupakan). Semoga itu lebih baik bagi kalian, carilah
        di kesembilan, ketujuh dan kelima!!”
   7.   Muslim meriwayatkan dalam Shohihnya dari Abi Sa’id Al Khudri yang berkata,
        “Rosululloh beri’tikaf di sepuluh hari pertengahan Ramadhan untuk mencari Lailatul
        Qodr sebelum ditampakkan bagi beliau. Ketika selesai sepuluh hari pertengahan
        Ramadhan, beliau memerintahkan untuk merobohkan bangunan masjid untuk
        diperbaiki. Setelah itu, ditampakkan bagi beliau bahwa Lailatul Qadr di sepuluh
        terakhir maka beliau pun memerintahkan untuk membangunnya, ia pun dibangun
        kembali. Kemudian beliau keluar menemui orang seraya bersabda, “Wahai manusia
        sesungguhnya tadi telah ditampakkan padaku Lailatul Qadr, serta saya telah keluar untuk
        mengabarkan kalian tentangnya, namun tiba-tiba datang dua orang laki-laki yang
        berperkara, keduanya disertai setan, sehingga saya pun terlupakan (Lailatul Qodr), maka
        carilah di sepuluh terakhir Ramadhan!!” Sampai ucapan Imam Muslim: Ibnu Khallad
        meriwayatkan “Dua lelaki yang bertengkar “ sebagai pengganti dari “Dua lelaki yang
        beperkara “.
   8.   Abu Daud meriwayatkan dengan sanad yang sahih dari Abi Tsa’labah Al Khusyani, ia
        berkata bahwa Umar berkata, “Dahulu orang-orang kalau Rosululloh tinggal di suatu
        tempat, mereka pun berpencar ke pelbagai celah bukit dan lembah, maka Rosululloh
        bersabda, “Sesungguhnya berpencarnya kalian di celah-celah bukit dan lembah ini,
        hanyalah timbul sebab setan.” Maka tidaklah beliau singgah di suatu tempat setelah itu
        melainkan semua mereka berkumpul, sehingga diungkapkan (tentang mereka);
        “Andaikan dihamparkan satu kain untuk mereka maka itu sudah mencukupi”.
   9.   Al Bukhori meriwayatkan dalam Shohihnya dari Ali yang berkata, “Putuskanlah
        sebagaimana dahulu kalian putuskan, sebab sesungguhnya saya tidak suka perselisihan,
        agar manusia menjadi satu jamaah atau saya wafat sebagaimana wafatnya para
        sahabatku.”

Kalian –Alhamdulillah- wahai Ahlusunnah!! Bukanlah seperti Rawafidh (orang-orang Syiah
Rafidhah) yang sebagian mereka mengafirkan sebagian yang lainnya, demikian juga para
pemimpin Mu’tazilah sebagaimana mereka mengafirkan sebagian yang lainnya, sebagaimana
yang tersebut dalam kitab Milal wan Nihal. Adapun Ahlusunnah –Alhamdulillah, kebanyakan
perselisihan mereka hanya tentang makna kalimat hadits dalam perkara-perkara ibadah yang
memang datang dari Peletak Syariat secara beragam atau hanya tentang suatu hadits yang sisi
pandang mereka berbeda-beda dalam menyahihkan atau mendhaifkan, dan lain sebagainya dari
sebab-sebab perbadaan pendapat yang telah disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah.
Kalian mengetahui wahai Ahlusunnah!! Kalau para musuh kalian sangat merindukan agar
kalian tertimpa bencana… kalian tahu kalau para musuh Islam tidaklah menakuti selain kalian,
sehingga mereka sangat berambisi untuk memecah belah kekuatan persatuan kalian dengan
segala macam cara.

Sesungguhnya kewajiban Ahlusunnah untuk memberi kesiapan memberikan solusi bagi semua
persoalan dunia, merekalah yang mampu untuk itu dan pantas untuk itu, merekalah orang-
orang yang telah Alloh berikan pemahaman terhadap Kitabulloh dan Sunnah Rosululloh secara
benar.

Sesungguhnya Ahlusunnah ternilai sebagai mayoritas penduduk dunia Islam, hanya saja
berpecah belahnya mereka, berselisihnya mereka, dan kejahilan masing-masing bangsa tentang
ihwal bangsa selainya telah membuat mereka meleleh dalam pandangan masyarakat dunia.
Namun kita benar-benar mengharapkan semoga Alloh memberikan taufik kepada semua yang
tegak mendakwahkan Sunnah untuk benar-benar memperhatikan keadaan Ahlusunnah serta
menutupi kekurangan dan keberadaannya, semoga Alloh mengumpulkan kekuatan mereka.

Bukankah kalian wahai Ahlusunnah, manusia yang paling pantas dikumpulkan kekuatannya
dan disatukan kalimatnya?! Robbul ‘Izzah berfirman dalam kitabnya yang mulia:

‫اوُقَّرَفَت َالَو اًعيِمَج ِ للا ِلْبَحِب اوُمِصَتْعاَو‬

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Alloh, dan janganlah kamu bercerai berai.” (QS.
Ali Imran: 103)

Nabi bersabda sebagaimana yang disebut dalam Shohihain dari hadits Abu Musa, “Seorang
mukmin bagi mukmin lainnya laksana satu bangunan yang sebagiannya menguatkan sebagian
lainnya.”

Dan beliau bersabda, “Perumpamaan kaum mukminin dalam cinta dan kasih sayang mereka
laksana satu tubuh, jikalau ada anggota tubuh yang mengeluh, maka seluruh tubuh akan ikut
merasakan sakit dan gelisah.”

Rafidhah menyibukkan dunia dengan kabar beritanya dan menyesatkan banyak manusia,
bahkan menghalangi mereka dari menunaikan manasik (ibadah) haji. Di mana manusia telah
datang dari segala penjuru yang jauh dan menunaikan manasik haji dan untuk mengingat Alloh
di berbagai tempat yang mengandung syiar penuh barokah itu, lalu tiba-tiba keluar Rafidhah
melakukan demonstrasi jahiliah sambil meneriakkan, “Khomeini…Khomeini…!!!”

Maka siapakah yang sanggup untuk menghancurkan perkumpulan macam ini yang melakukan
pelanggaran terhadap perintah Alloh dan menjadikan haji sebagai syiar anarkis, kericuhan dan
seruan jahiliah…!!?? Tidak ada yang sanggup selain Ahlusunnah (dengan izin Alloh) jika
kalimat mereka bersatu dan mereka benar-benar sebagai Ahlusunah sejati.

Sesungguhnya kebangkitan Islam yang telah dikehendaki oleh Alloh ini membutuhkan
perhatian, lalu siapakah yang akan memperhatikannya selain dari Ahlusunnah?!

Dikutip dari buku:
Judul: Mutiara Nasihat Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i Kepada Para Penuntut Ilmu dan Salafiyyin
Penyusun: Abul Hasan ‘Ali bin Ahmad bin Hasan Ar Razihi
Penerjemah: Abi Ismail Fuad
Muraja’ah: Al Ustadz Abu Muhammad Abdul Jabbar
Penerbit: Pustaka Al Haura’, Jogjakarta



                                                                
  Syaikh Shalih ibn Fauzan ibn Abdullah ibn Fauzan
Beliau adalah yang mulia Syaikh Dr. Shalih ibn Fauzan ibn Abdullah dari keluarga Fauzan dari suku
Ash Shamasiyyah.Beliau lahir pada tahun 1354 H/1933 M. Ayah beliau meninggal ketika beliau masih
muda, jadi beliau dididik oleh keluarganya. Beliau belajar al Quran, dasar-dasar membaca dan menulis
dengan imam masjid di kotanya, yaitu yang mulia Syaikh Hamud ibn Sulaiman at Tala’al, yang
kemudian menjadi hakim di Kota Dariyyah (bukan dar’iyyah di Riyadh) di sebuah wilayah Qhosim.

Syaikh Fauzan kemudian belajar di sekolah negara bagian ketika baru dibuka di Ash Shamasiyyah
pada tahun 1369 H/1948 M. Beliau menyelesaikan studinya di sekolah Faisaliyyah di Buraidah pada
tahun 1371 H/1950 M. Kemudian, beliau ditugaskan sebagai guru sekolah taman kanak-kanak.
Selanjutnya, beliau masuk di institute pendidikan di Buraidah ketika baru dibuka pada tahun 1373
H/1952 M, dan lulus dari sana tahun 1377 H/1956 M. Beliau kemudian masuk di Fakultas Syari’ah
(Universitas Imam Muhammad) di Riyadh dan lulus pada tahun 1381 H/1960 M. Setelah itu, beliau
memperoleh gelar master di bidang fiqih, dan meraih gelar doctor dari fakultas yg sama, juga spesialis
dalam bidang fiqih.

Setelah kelulusannya dari Fakultas Syari’ah, beliau ditugaskan sebagai dosen di institut pendidikan di
Riyadh, kemudian beralih menjadi pengajar di Fakultas Syari’ah. Selanjutnya, beliau ditugasi mengajar
di departemen yang lebih tinggi, yaitu Fakultas Ushuluddin. Kemudian beliau ditugasi untuk mengajar
di mahkamah agung kehakiman, di mana beliau ditetapkan sebagai ketua. Beliau lalu kembali mengajar
di sana setelah periode kepemimpinannya berakhir. Beliau kemudian menjadi anggota Komite Tetap
untuk Penelitian dan Fatwa Islam (Kibaril Ulama), sampai sekarang.

Yang mulia Syaikh adalah anggota ulama kibar, dan anggota komite bidang fiqih di Mekkah (cabang
Rabithah), dan anggota komite untuk pengawas tamu haji, sembari juga mengetuai keanggotaan pada
Komite Tetap untuk Penelitian dan Fatwa Islam. Beliau juga imam, khatib, dan dosen di Masjid
Pangeran Mut’ib ibn Abdul Aziz di al Malzar.

Beliau juga ikut serta dalam surat-menyurat untuk pertanyaan di program radio “Noorun ‘alad-Darb”,
sambil beliau juga ikut serta dalam mendukung anggota penerbitan penelitian Islam di dewan untuk
penelitian, studi, tesis, dan fatwa Islam yang kemudian disusun dan diterbitkan. Yang mulia syaikh
Fauzan juga ikut serta dalam mengawasi peserta tesis dalam meraih gelar master dan gelar doctor.

Beliau mempunyai murid-murid yang sering menimba ilmu pada pertemuan dan pelajaran tetapnya.

Beliau sendiri termasuk bilangan para ulama terkemuka dan ahli hukum, yang mayoritas para tokohnya
antara lain:

Yang mulia Syaikh ‘Abdul-’Azeez ibn Baaz (rahima-hullaah);Yang mulia Syaikh ‘Abdullaah ibn
Humayd (rahima-hullaah);Yang mulia Syaikh Muhammad al-Amin ash-Shanqiti (rahima-
hullaah);Yang mulia Syaikh ‘Abdur-Razzaaq ‘Afifi (rahima-hullaah);Yang mulia Syaikh Saalih Ibn
‘Abdur-Rahmaan as-Sukayti;Yang mulia Syaikh Saalih Ibn Ibraaheem al-Bulaihi;Yang mulia Syaikh
Muhammad Ibn Subayyal;Yang mulia Syaikh ‘Abdullaah Ibn Saalih al-Khulayfi;Yang mulia Syaikh
Ibraaheem Ibn ‘Ubayd al-’Abd al-Muhsin;Yang mulia Syaikh Saalih al-’Ali an-Naasir;

Beliau juga pernah belajar pada sejumlah ulama-ulama dari Universitas al Azhar Mesir yang mumpuni
dalam bidang hadist, tafsir, dan bahasa Arab.

Beliau mempunyai peran dalam menyeru atau berdakwah kepada Allah dan mengajar, memberikan
fatwa, khutbah, dan membantah kebatilan.

Buku-buku beliau yang diterbitkan banyak sekali, namun yang disebutkan berikut hanya sedikit antara
lain Syarah al Aqidatul Waasitiyya, al Irshadul Ilas Sahihil I’tiqad, al Mulakhkhas al Fiqih, makanan-
makanan dan putusan-putusan berkenaan dengan sembelihan dan buruan, yang mana ini merupakan
bagian gelar doktornya. Juga kitab at Tahqiqat al Mardiyyah yang merupakan bagian gelar master
beliau. Lebih lanjut judul-judul yang masuk putusan-putusan berhubungan dengan kepercayaan wanita,
dan sebuah bantahan terhadap buku Yusuf Qaradhawi berjudul al Halal wal Haram.




                                                
                    Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad
Beliau adalah al-Allamah al-Muhaddits al-Faqih az-Zahid al-Wara’ asy-Syaikh Abdul Muhsin bin
Hammad al-’Abbad al-Badr -semoga Allah memelihara beliau dan memperpanjang usia beliau dalam
ketaatan kepada-Nya dan memberkahi amal dan lisan beliau-, dan kami tidak mensucikan seorangpun
di hadapan Allah Azza wa Jalla. Beliau lahir di ‘Zulfa’ (300 km dari utara Riyadh) pada 3 Ramadhan
tahun 1353H. Beliau adalah salah seorang pengajar di Masjid Nabawi yang mengajarkan kitab-kitab
hadits seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud dan saat ini beliau masih
memberikan pelajaran Sunan Turmudzi. Beliau adalah seorang ‘Alim Robbaniy dan pernah menjabat
sebagai wakil mudir (rektor) Universitas Islam Madinah yang waktu itu rektornya adalah al-Imam
Abdul Aziz bin Bazz -rahimahullahu-.

Beliau sangat dekat dengan al-Imam al-Allamah Abdul Aziz bin Bazz -rahimahullahu-, bahkan karena
kedekatan beliau dengan al-Imam, ketika Imam Bin Bazz tidak ada (tidak hadir) maka Syaikh Abdul
Muhsinlah yang menggantikan beliau, sehingga tak heran jika ada yang mengatakan bahwa Universitas
Islam Madinah dulu adalah Universitasnya Bin Bazz dan Abdul Muhsin.

Semenjak kecil beliau telah biasa berkutat dengan ilmu, sehingga ketika beliau telah menginjak
dewasa, tampak pada beliau perangai dan skill sebagai seorang muhadits yang ulung, yang sering
dirujuk oleh masyaikh dan thullabul ilmi lainnya. Kedekatan beliau dengan masyaikh kibar telah
mengukir keilmuan beliau hingga saat ini, dimana usia beliau saat ini kurang lebih 73 tahun dan beliau
masih sanggup untuk memberikan muhadharah dan nasihat dan menyampaikan pelajaran hadits
(terutama Sunan Abi Dawud) baik riwayah maupun dirayah. Beliau juga masih menjadi dosen di
Universitas Islam Madinah dengan izin khusus kerajaan yang mana hal ini menunjukkan kesungguhan
beliau dalam berdakwah dan menuntun ummat ke jalan yang lurus dan benar.

Diantara guru-guru beliau adalah :

al-Allamah asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim -rahimahullahu-
al-Allamah Abdullah bin Abdurrahman al-Ghaits -rahimahullahu-
al-Allamah asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Bazz -rahimahullahu-
al-Allamah asy-Syaikh Muhammad Amin asy-Syinqithy -rahimahullahu-
al-Allamah asy-Syaikh Abdurrahman al-Afriqy -rahimahullahu-
al-Allamah asy-Syaikh Abdur Razaq Afifi -rahimahullahu-
al-Allamah asy-Syaikh Umar Falatah -rahimahullahu-
dan masih banyak lagi. Yang disebutkan di atas adalah guru-guru beliau yang paling mempengaruhi
diri beliau.

Beliau memiliki putra yang juga ‘alim yang bernama Syaikh Abdur Razaq bin Abdul Muhsin al-
Abbad, yang produktif dan cemerlang. Beliau memiliki banyak murid, diantaranya adalah :Syaikh al-
Allamah Rabi’ bin Hadi al-Madkhaly
Syaikh al-Allamah Ubaid al-Jabiry
Syaikh al-Allamah Abdul Malik Ramadhani al-Jazairy
Syaikh al-Allamah Sulaiman ar-Ruhaily
Syaikh al-Allamah Ibrahim ar-Ruhaily
Dan masih banyak lagi.




                                                  
         Syaikh Rabi’ bin Hadi ‘Umair Al-Madkhali
Nama dan nasab beliau:

Beliau adalah Asy-Syaikh Al-‘Allamah Al-Muhaddits Rabi’ bin Hadi bin Muhammad ‘Umair Al-
Madkhali, berasal dari suku Al-Madakhilah yang terkenal di Jaazaan, sebuah daerah di sebelah selatan
Kerajaan Arab Saudi. Suku ini termasuk keluarga Bani Syubail, sedangkan Syubail adalah anak
keturunan Yasyjub bin Qahthan.

Kelahiran beliau:

Syaikh Rabi’ dilahirkan di desa Al-Jaradiyah, sebuah desa kecil di sebelah barat kota Shamithah sejauh
kurang lebih tiga kilometer dan sekarang telah terhubungkan dengan kota tersebut. Beliau dilahirkan
pada akhir tahun 1351 H. Ayah beliau meninggal ketika beliau masih berumur sekitar satu setengah
tahun, beliau tumbuh berkembang di pangkuan sang ibu -semoga Allah Ta’ala merahmatinya. Sang ibu
membimbing dan mendidik beliau dengan sebaik-baiknya, mengajarkan kepada beliau akhlak yang
terpuji, berupa kejujuran maupun sifat amanah, juga memotivasi putranya untuk menunaikan shalat dan
meminta beliau menepati penunaian ibadah tersebut. Selain pengasuhan ibunya, beliau diawasi dan
dibimbing pula oleh pamannya (dari pihak ayah).

Perkembangan Keilmuan

Ketika Syaikh Rabi’ berusia delapan tahun, beliau masuk sekolah yang ada di desanya. Di sekolah
tersebut beliau belajar membaca dan menulis. Termasuk guru yang membimbing beliau dalam belajar
menulis adalah Asy-Syaikh Syaiban Al-‘Uraisyi, Al-Qadli Ahmad bin Muhammad Jabir Al-Madkhali
dan dari seseorang yang bernama Muhammad bin Husain Makki yang berasal dari kota Shibya’.
Syaikh Rabi’ mempelajari Al Qur`an di bawah bimbingan Asy-Syaikh Muhammad bin Muhammad
Jabir Al-Madkhali disamping belajar ilmu tauhid dan tajwid.

Setelah lulus, beliau melanjutkan studi ke Madrasah As-Salafiyyah di kota Shamithah. Termasuk guru
beliau di madrasah tersebut adalah Asy-Syaikh Al-‘Alim Al-Faqih Nashir Khalufah Thayyasy
Mubaraki rahimahullah, seorang alim kenamaan yang termasuk salah satu murid besar Asy-Syaikh Al-
Qar’awi rahimahullah. Di bawah bimbingannya, Syaikh Rabi’ mempelajari kitab Bulughul Maram dan
Nuzhatun Nadhar karya Al-Hafidh Ibnu Hajar rahimahullah Ta’ala.

Kemudian beliau belajar di Ma’had Al-‘Ilmi di Shamithah kepada sejumlah ulama terkemuka, yang
paling terkenal adalah Asy-Syaikh Al-‘Allamah Al-Masyhur Hafidh bin Ahmad Al-Hakami
rahimahullah Ta’ala dan saudaranya Fadlilatusy Syaikh Muhammad bin Ahmad Al-Hakami, juga
kepada Asy-Syaikh Al-‘Allamah Al-Muhaddits Ahmad bin Yahya An-Najmi hafidhahullah. Di ma’had
tersebut beliau belajar akidah kepada Asy-Syaikh Al-’Allamah Doktor Muhammad Amman bin ‘Ali
Al-Jami. Demikian pula kepada Asy-Syaikh Al-Faqih Muhammad Shaghir Khamisi, beliau
mempelajari ilmu fikih dengan kitab Zaadul Mustaqni’ dan kepada beberapa orang lagi selain mereka,
di mana Syaikh mempelajari ilmu bahasa Arab, adab, ilmu Balaghah dan ilmu ‘Arudl (cabang-cabang
ilmu bahasa Arab-pent.)

Tahun 1380 H seusai ujian penentuan akhir, beliau lulus dari Ma’had Al-‘Ilmi di kota Shamithah dan di
awal tahun 1381 H beliau masuk ke Fakultas Syari’ah di Riyadl selama beberapa waktu lamanya,
sekitar satu bulan, satu setengah atau dua bulan saja. Ketika Universitas Islam Madinah berdiri, beliau
pindah ke sana dan bergabung di Fakultas Syari’ah. Beliau belajar di Universitas tersebut selama empat
tahun dan lulus darinya pada tahun 1384 H dengan predikat cumlaude.

Diantara guru-guru beliau di Universitas Islam Madinah adalah:

• Mufti besar Kerajaan Arab Saudi, Samahatusy Syaikh Al-‘Allamah ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin
Baz rahimahullah Ta’ala, kepada beliau Syaikh Rabi’ mempelajari Aqidah Thahawiyah.
• Fadlilatusy Syaikh Al-‘Allamah Muhammad Nashiruddin Al-Albani, mempelajari bidang ilmu hadits
dan sanad.
• Fadlilatusy Syaikh Al-‘Allamah ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbad, mempelajari ilmu fikih tiga tahun
lamanya dengan kitab Bidayatul Mujtahid.
• Fadlilatusy Syaikh Al-‘Allamah Al-Hafidh Al-Mufassir Al-Muhaddits Al-Ushuli An-Nahwi wal
Lughawi Al-Faqih Al-Bari’ Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi, penulis tafsir Adlwaul Bayan, kepada
beliau Syaikh Rabi’ mempelajari ilmu tafsir dan ushul fikih selama empat tahun.
• Asy-Syaikh Shalih Al-‘Iraqi, belajar akidah.
• Asy-Syaikh Al-Muhaddits ‘Abdul Ghafar Hasan Al-Hindi, belajar ilmu hadits dan mushthalah.

Setelah lulus, beliau menjadi dosen di almamater beliau di Universitas Islam Madinah selama beberapa
waktu, kemudian beliau melanjutkan studi ke tingkat pasca sarjana dan berhasil meraih gelar master di
bidang ilmu hadits dari Universitas Al-Malik ‘Abdul ‘Aziz cabang Mekkah pada tahun 1397 H dengan
disertasi beliau yang terkenal, berjudul Bainal Imamain Muslim wad Daruquthni. Pada tahun 1400 H
beliau berhasil menyelesaikan program doktornya di Universitas yang sama, dengan predikat *****
laude setelah beliau menyelesaikan tahqiq (penelitian, komentar –pent.) atas kitab An-Nukat ‘ala Kitab
Ibni Ash-Shalah, karya Al-Hafidh Ibnu Hajar rahimahullahu Ta’ala.

Syaikh Rabi’ kemudian kembali ke Universitas Islam Madinah dan menjadi dosen di Fakultas Hadits.
Beliau mengajar ilmu hadits dengan segala bentuk dan cabangnya, serta berkali-kali menjadi ketua
jurusan Qismus Sunnah pada program pasca sarjana dan sekarang beliau menjabat sebagai dosen
tinggi. Semoga Allah menganugerahkan kepada beliau kenikmatan berupa kesehatan dan penjagaan
dalam beramal kebaikan.

Sifat dan akhlak beliau

Syaikh Rabi’ hafidzahullah Ta’ala memiliki keistimewaan berupa sifat sangat rendah hati dihadapan
saudara-saudaranya, murid-muridnya maupun kepada para tamunya. Beliau seorang yang sangat
sederhana dalam hal tempat tinggal, pakaian maupun kendaraan, beliau tidak menyukai kemewahan
dalam semua urusan ini.

Beliau adalah seorang yang selalu ceria, berseri-seri wajahnya dan sangat ramah, membuat teman
duduk beliau tidak merasa bosan dengan kata-kata beliau. Majelis beliau senantiasa dipenuhi dengan
pembacaan hadits dan Sunnah serta tahdzir (peringatan-pent.) dari kebid’ahan dan para pelakunya,
sehingga orang yang belum mengenal beliau akan menyangka bahwa tidak ada lagi kesibukan beliau
selain hal tersebut.

Syaikh Rabi’ sangat mencintai salafiyyin penuntut ilmu, beliau menghormati dan memuliakan mereka.
Beliau berusaha untuk dapat memenuhi kebutuhan mereka sesuai kemampuan beliau, baik dengan diri
sendiri maupun dengan harta. Rumah beliau selalu terbuka untuk para penuntut ilmu, sampai-sampai
hampir tidak pernah beliau menyantap sarapan pagi makan siang maupun makan malam sendirian,
karena selalu saja ada pelajar yang mengunjungi beliau. Beliau menanyakan keadaan mereka dan
membantu mereka.

Syaikh Rabi’ termasuk ulama yang sangat bersemangat menyeru kepada Al-Kitab dan As-Sunnah serta
akidah salaf, penuh semangat dalam mendakwahkannya dan beliau adalah pedang Sunnah dan akidah
salaf yang amat tajam, yang amat sedikit bandingannya di masa sekarang. Beliau adalah pembela
Sunnah dan kehormatan salafus salih di jaman kita ini, siang dan malam, secara rahasia maupun terang-
terangan yang tidak terpengaruh oleh celaan orang-orang yang suka mencela.

Karya-karya beliau

Syaikh Rabi’ memiliki sejumlah karya tulis -Alhamdulillah – beliau hafidzahullah telah membicarakan
berbagai bab yang sangat dibutuhkan secara proporsional, terlebih khusus lagi dalam membantah para
pelaku bid’ah dan para pengikut hawa nafsu di jaman yang penuh dengan para perusak namun sedikit
orang yang berbuat ishlah (perbaikan, pent.) Diantara karya beliau :

1. Bainal Imamain Muslim wad Daruquthni, sejilid besar dan ini merupakan thesis beliau untuk meraih
gelar master.
2. An-Nukat ‘ala Kitab Ibni Ash-Shalah, telah dicetak dalam dua juz dan ini merupakan disertasi
program doktoral beliau.
3. Tahqiq Kitab Al- Madkhal ila Ash-Shahih lil Hakim, juz pertama telah dicetak.
4. Tahqiq Kitab At-Tawasul wal Wasilah lil Imam Ibni Taimiyyah, dalam satu jilid.
5. Manhajul Anbiya` fid Da’wah ilallah fihil Hikmah wal ‘Aql.
6. Manhaj Ahlis Sunnah fii Naqdir Rijal wal Kutub wat Thawaif.
7. Taqsimul Hadits ila Shahih wa Hasan wa Dla’if baina Waqi’il Muhadditsin wa Mughalithatil
Muta’ashibin, sebuah bantahan terhadap ‘Abdul Fatah Abu Ghuddah dan Muhammad ‘Awamah.
8. Kasyfu Mauqifi Al-Ghazali minas Sunnah wa Ahliha.
9. Shaddu ‘Udwanil Mulhidin wa hukmul Isti’anah bi ghairil Muslimin.
10. Makanatu Ahlil Hadits.
11. Manhajul Imam Muslim fii Tartibi Shahihihi.
12. Ahlul Hadits Hum Ath-Thaifah Al-Manshurah An-Najiyah hiwar ma’a Salman Al-‘Audah
13. Mudzakarah fil Hadits An-Nabawi.
14. Adlwa` Islamiyyah ‘ala ‘Aqidah Sayyid Quthb wa Fikrihi.
15. Matha’inu Sayyid Quthb fii Ashhabi Rasulillahi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
16. Al-‘Awashim mimma fii Kutubi Sayyid Quthb minal Qawashim.
17. Al-Haddul Fashil bainal Haq wal Bathil hiwar ma’a Bakr Abi Zaid.
18. Mujazafaatul Hiddaad.
19. Al-Mahajjatul Baidla` fii Himaayatis Sunnah Al-Gharra`.
20. Jamaa’ah Waahidah Laa Jamaa’aat wa Shiraathun Wahidun Laa ‘Asyaraat, hiwar ma’a
‘Abdirrahman ‘Abdil Khaliq.
21. An-Nashrul Aziiz ‘ala Ar-Raddil Wajiiz.
22. At-Ta’ashshub Adz-Dzamim wa Aatsaruhu, yang dikumpulkan oleh Salim Al-‘Ajmi.
23. Bayaanul Fasaadil Mi’yar, Hiwar ma’a Hizbi Mustatir.
24. At-Tankiil bimaa fii Taudhihil Milyibaari minal Abaathiil.
25. Dahdlu Abaathiil Musa Ad-Duwaisy.
26. Izhaaqu Abaathiil ‘Abdil Lathif Basymiil.
27. Inqidladlusy Syihb As-Salafiyyah ‘ala Aukaar ‘Adnan Al-Khalafiyyah.
28. An-Nashihah Hiyal Mas`uliyyah Al-Musytarakah fil ‘Amal Ad-Da’wi, diterbitkan di majalah At-
Tau’iyyah Al-Islamiyyah
29. Al-Kitab was Sunnah Atsaruhuma wa makaanatuhuma wadl Dlarurah ilaihima fii Iqaamatit
Ta’liimi fii Madaarisinaa, artikel majalah Al-Jami’ah Al-Islamiyyah, edisi 16.
30. Hukmul Islam fii man Sabba Rasulallah au Tha’ana fii Syumuli Risaalatihi, artikel koran Al-Qabas
Al-Kuwaitiyyah edisi 8576 tahun 9/5/1997.

Syaikh Rabi’ memiliki karya tulis lain di luar apa yang telah disebutkan di sini. Kita memohon kepada
Allah agar memberikan pertolongan-Nya untuk menyempurnakan usaha-usaha kebaikan yang beliau
lakukan dan semoga Allah memberikan taufik kepada beliau kepada perkara-perkara yang dicintai dan
diridlai-Nya, Dia-lah penolong semua itu dan maha mampu atasnya.

Dinukil dari Mauqi’ Asy-Syaikh Rabi’ hafidzahullah.




                                                      
                         Para Ulama Salaf Lainnya
Para Ulama Salaf Ahlul Hadits selain yang disebutkan diatas yang masyur
dizamannya antara lain :




          Al-Imam Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Sallam
Beliau adalah Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Sallam bin ‘Abdillah. Berkat keilmuannya, beliau pun
mendapatkan julukan sebagai imam, hafizh dan mujtahid. Ayahnya adalah budak milik salah seorang
penduduk Harah. Meskipun budak, ternyata ayahnya sangat perhatian terhadap perkembangan
keilmuan anaknya. Saat Abu ‘Ubaid bersama dengan putra gurunya, diriwayatkan bahwa sang ayah
keluar dari rumahnya dan berkata kepada gurunya, “Ajarilah Al-Qasim. Sesungguhnya dia anak yang
cerdas.”

Setelah selesai mempelajari dasar-dasar ilmu sesuai keinginan bapaknya yang tidak bisa berbahasa
Arab, maka beliau mulai melakukan rihlah fi thalabil ilmi, yaitu menempuh perjalanan untuk mencari
ilmu di negeri seberang menuju Bashrah dan Kufah. Di sana, beliau memperdalam bahasa Arab, ilmu
fikih dan hadits, kepada para ulama Daulah Islamiyah yang ada di kedua kota tersebut.

Ulmu yang dimilikinya tersebut, telah mengantarkan beliau menjabat sebagai qadhi di kota Tursus
pada masa pemerintahan Tsabit bin Nasr bin Malik. Dan beliau tetap menjadi qadhi di kota tersebut
selama Tsabit bin Nasr menjabat sebagai wali kota Tursus, yaitu dari tahun 192 H sampai 210 H, atau
sekitar 18 tahun. Kemudian pada tahun 210 H beliau kembali ke kota Baghdad dan memulai
berhubungan dengan Abdullah bin Thahir, yang menjabat sebagai gubernur di Khurasan.

Hubungan Abu ‘Ubaid dengan ‘Abdullah bin Thahir sangat dekat sehingga membuat ‘Abdullah bin
Thahir sangat mencintai Abu ‘Ubaid. Ada beberapa kisah yang menjadi bukti kecintaan tersebut.
Dikisahkan, ketika Abu ‘Ubaid bersama Abdullah bin Thahir, datanglah seseorang yang bernama Abu
Dalf. Kedatangannya ini meminta agar ia bisa belajar kepada Abu ‘Ubaid selama 2 bulan. Abu ‘Ubaid
pun menyanggupi permintaan tersebut, kemudian bermukimlah beliau di rumah Abu Dalf selama 2
bulan. Begitu waktu belajar telah usai, ketika hendak kembali, Abu Dalf memberikan uang kepada
beliau sebesar 30.000 dirham. Akan tetapi beliau tidak mau menerimanya seraya berkata,

        Sesungguhnya aku berada di sisi orang yang telah mencukupi kebutuhanku. Dan
        tidak menjadikan diriku membutuhkan kepada yang lainnya. Dan aku tidak akan
        mengambil sesuatu yang mengurangiku.

Ketika beliau telah kembali dari kediaman Abu Dalf, maka ‘Abdullah bin THahir menyerahkan kepada
beliau 30.000 Dirham sebagai gantinya. Sehingga beliau berkata,

        Adapun sekarang, wahai Amir, maka aku terima (uang ini). Akan tetapi engkau telah
        mencukupkan aku dengan kebaikan yang telah engkau berikan kepadaku. Aku
        berniat menggunakan uang ini untuk membali sebuah senjata dan seekor kuda. Yang
        keduanya, nanti akan aku pergunakan untuk berjaga-jaga di perbatasan, agar engkau
        mendapatkan pahala yang lebih banyak, wahai Amir.

Kemudian beliau pun mewujudkan keinginannya tersebut.

Terdapat juga kisah lainnya yang menceritakan: Abul ‘Abbas Ahmad bin Yahya Tsa’lab berkata,

        Suatu ketika Thahir bin ‘Abdullah bin Thahir datang dari Khurasan untuk melaukan
        haji, dan beliau singgah di rumah Ishaq bin Ibrahim. Dia pun mengundang para
        ulama untuk menemui Thahir bin ‘Abdullah bin Thahir. Maka, datanglah para ulama
        hadits dan fiqh, di antaranya Ibnul ‘Arabi dan Abu Nasr sahabat al Asma’i. Begitu
        pula Abu ‘Ubaid, diminta untuk datang menemuinya, akan tetapi beliau menolak
        menghadiri undangan tersebut. Beliau pun berkata,

                 Ilmu itulah yang harus didatangi

        Mendengar jawaban itu, marahlah Ishaq. Waktu itu ‘Abdullah bin Thahir telah biasa
        memberikan gaji kepada Abu ‘Ubaid sebanyak 2.000 dirham setiap bulannya.
        Penolakan beliau ini kemudian menjadi sebab Ishaq bin Ibrahim menghentikan gaji
        tersebut dan mengirimkan laporan mengenai apa yang telah dilakukan Abu ‘Ubaid.
        Untuk menjawab risalah laporan ini, ‘Abdullah bin Thahir berkata,

                 Sungguh benar yang dikatakan Abu ‘Ubaid. Dan sesungguhnya
                 akau akan menambah gajinya, disebabkan dengan yang dia
                 lakukan. Maka berikanlah yang telah tahan dari gajinya dan
                 tunaikanlah haknya.

Demikian ini dua dari beberapa kisah yang menunjukkan kedekatan Abu ‘Ubaid dengan ‘Abdullah bin
Thalhah yang kala itu menjabat sebagai Gubernur Khurasan. Bahkan ‘Abdullah bin Thahir pernah
memujinya dengan berkata,

        Manusia ada empat, Ibnu ‘Abbas pada zamannya, Asy-Sya’bi pada zamannya, Qasim
        bin Ma’an pada zamannya, dan Abu ‘Ubaid pada zamannya.

Hubungan beliau dengan Gubernur ‘Abdullah bin Thahir tidak hanya sampai di situ, bahkan ketika
Abu ‘Ubaid mengarang sebuah buku, beliau menghadiahkan buku tersebut untuk ‘Abdullah bin Thahir.
Sebagaimana ketika menulis kitab Gharibul Hadits, beliau menunjukkan kitab tersebut kepada
‘Abdullah bin Thahir, sehingga Gubernur Khurasan ini berkata,

        Sesungguhnya, akal yang telah membawa seseorang untuk menulis kitab yang sangat
        berharga ini, tidaklah pantas sibuk mencari ma’isyah (penghasilan).

Dan ‘Abdullah bin Thahir akhirnya menambahkan gajinya menjadi 10.000 dirham. Bahkan setelah
beliau meninggal, gaji tersebut masih terus diterima oleh anak-anaknya.

Meski menetap di Baghdad, bukan berarti beliau meninggalkan thalabul ‘ilmi (menuntut ilmu -red.
jilbab). Beliau waktu tidak memangku jabatan, akan tetapi, beliau menyusun dan menulis kitab, dan ini
memudahkan beliau untuk terus belajar kepada para ulama di berbagai tempat.

Di antara (tempat) yang beliau datangi adalah Mesir pada tahun 213 H, Damaskus, Marwa dan kota
yang lainnya. Kemudian pada tahun 219 H, beliau pergi ke Mekkah, dan terus berada di kota tersebut
sampai wafatnya. Mengapa beliau memilih tetap tinggal di Mekkah dan tidak kembali ke Baghdad?

Coba kita perhatikan kisah beliau ini. Ketika selesai melakukan haji, beliau berniat segera kembali ke
Irak pada pagi hari. Abu ‘Ubaid menuturkan kisahnya,

        Aku bermimpi melihat Rasulullah dalam keadaan duduk Dan di atas kepala beliau
        shallallahu ‘alaihi wa sallam ada orang-orang yang menutupi beliau. Banyak orang
        yang masuk dan menemuinya memberi salam dan berjabat tangan dengan beliau
        shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setiap aku berusaha mendekat, ada yang berusaha
        menghalangiku. Maka aku katakan kepada mereka, “mengapa kalian tidak
        membarkan aku bertemu dengan Rasulullah?”

        Mereka menjawab, “Tidak, Demi Allah, engkau tidak boleh masuk dan tidak boleh
        memberi salam kepadanya, sedangkan engkau akan keluar besok pagi menuju Irak.”
        Mendengar jawaban itu, maka aku katakan kepada mereka, “Kalo begitu, aku tidak
        akan kembali ke Irak.” Maka mereka pun mengambil janjiku, kemudian membiarkan
           aku untuk menemui Rasulullah. Aku pun masuk dan memberi salam dan beliau
           shallallahu ‘alaihi wa sallam menjabat tanganku. Dan akhirnya aku membatalkan
           niatku kembali ke Irak.

Disamping kedekatannya dengan Gubernur Khurasan waktu itu, sebagai seorang ulama yang beraqidah
shahihah yang kuat berpegang kepada Sunnah, beliau juga menjadi salah seorang yang sangat dekat
hubungannya dengan Imam Ahmad bin Hambal. Sehingga tidak heran, jika beliau banyak terpengaruh
oleh Imam Ahmad, terutama dalam masalah aqidah, sehingga beliau terkenal sangat keras terhadap
ahlul bid’ah.

Sikap keras beliau terhadap ahlul bid’ah, dapat kita lihat dalam perkataan-perkataan beliau,

           Aku telah banyak menyertai manusia, dan berbicara kepada ahli kalam, tidaklah aku
           dapatkan suatu kaum yang lebih lemah, lebih kotor, lebih menjijikkan dan lebih
           dungu melebihi orang-orang Rafidhah. Dan sungguh, aku telah memangku jabatan
           hakim di perbatasan, maka aku keluarkan dari mereka tiga orang, yaitu dua orang
           Jahmiyah dan satu orang Rafidhah atau dua orang Raidhah, dan satu orang
           jahmiyyah. Aku katakan kepada mereka, orang seperti kalian tidak pantas untuk
           berada di perbatasan.

Kedekatan beliau dengan Imam Ahmad, jiga dapat dilihat dari perkataan Imam Ahmad tentang dirinya,

           Abu ‘Ubaid adalah seorang yang setiap harinya menambah untuk kami, kecuali
           kebaikan

Begitupula Abu ‘Ubaid, beliau sangat menghormati Imam Ahmad, hingga beliau mengatakan,

           Sungguh aku telah duduk bersama Abu Yusuf Al-Qadhi, Muhammad bin Hasan,
           Yahya bin Said dan Abdurrahman bin Mahdi, maka tidak ada yang lebih aku hormati
           ketika membahas suatu masalah melebihi Abu Abdillah Ahmad bin Hambal.

Abu ‘Ubaid juga berkata,

           Ilmu itu berakhir pada empat orang. Yaitu Ahmad bin Hambal yang paling faqih,
           Ibnu Abi Syaibah yang paling hafal, Ali bin Madini yang paling mengetahui, dan
           Yahya bin Main yang paling rajin menulis

Dan juga beliau mengatakan,

           Aku tidak pernah melihat seorang yang paham terhadap Sunnah melebihi Ahmad bin
           Hambal

Diringkas dari Muqaddimah Tahqiq kitab At-Thahur karya Imam Abu ‘Ubaid Qasim bin Sallam, oleh Syaikh Abu ‘Ubaidah Mansyur bin Hasan
Alu Salman, cet. I tahun 1414H, penerbit As-Shahabah, Jeddah




                                                                  
                      Ibnu Abi Syaibah (159-235 H)
Nama, Kunyah, dan Kelahiran Beliau

Beliau bernama Abdullah bin Muhammad bin Al-Qadli Abu Syaibah Ibrahim bin ‘Utsman bin
Kuwasta. Beliau seorang imam yang alim, pemimpin para hafidh, penulis kitab-kitab besar seperti Al-
Musnad, Al-Mushannaf, dan At-Tafsir. Kunyahnya adalah Abu bakr Al-‘Absi. Lahir tahun 159 H.

Guru-Guru Beliau

saudara beliau, ‘Utsman bin Abi Syaibah dan Al-Qasim bin Abi Syaibah Adl-Dla’if. Al-Hafidh
Ibrahim bin Abi Bakr adalah anak beliau. Al-Hafidh Abu Ja’far Muhammad bin ‘Utsman adalah
kemenakan beliau. Mereka semua adalah perbendaharaan ilmu. Abu Bakr yang paling terhormat di
kalangan mereka. Beliau termasuk aqran (yang berdekatan secara umur dan isnad) Imam Ahmad, Ishaq
bin Rahawaih, Ali bin Al-Madini dari sisi umur, kelahiran, dan hapalannya. Yahya bin Ma’in adalah
yang paling tua beberapa tahun di antara mereka.

Beliau menuntut ilmu sejak masih kecil. Guru beliau yang paling tua adalah Syarik bin Abdillah Al-
Qadli.

Murid-Murid Beliau

Banyak murid-murid beliau yang mendengar hadits dari beliau, diantaranya adalah :

1. Abul-Ahwash Sallam bin Sulaim.
2. Abdus-salam bin Harb.
3. Abdullah bin Mubarak.
4. Jarir bin Abdil Hamid.
5. Abul-Khalid Al-Ahmar.
6. Sufyan bin ‘Uyainah.
7. Ali bin Mushir.
8. Ibad bin Awwam.
9. Abdullah bin Idris.
10. Khalaf bin Khalifah (ada yang menyatakan bahwa ia seorang tabi’I).
11. Abdul-‘Aziz bin Abdish-Shamad Al-‘Amiyyi.
12. Umar bin ‘Ubaid Ath-Thanafisi dan dua orang saudaranya yaitu :
13. Muhammad, dan
14. Ya’la.
15. Ali bin Hasyim Al-barid.
16. Husyaim bin basyir.
17. Abdul-A’la bin Abdil-A’la.
18. Waki’ bin Al-Jarrah.
19. yahya Al-Qathhan.
20. Isma’il bin ‘Iyasy.
21. Abdurrahim bin Sulaiman.
22. Abu Mu’awiyyah.
23. Yazid bin Al-Miqdam.
24. Marhum Al-‘Athar, dan lain-lain di Iraq dan Hijaz.

Beliau adalah lautan ilmu dan dijadikan contoh dalam kekuatan hapalannya. Diantara yang
meriwayatkan hadits dari beliau adalah Syaikhain (Bukhari dan Muslim), Abu Dawud, Ibnu Majah,
An-Nasa’I, dan para rekan beliau. Namun At-Tirmidzi tidak meriwayatkan dalam Jami’-nya. Demikian
pula Muhammad bin Sa’ad Al-Khathib, Muhammad bin Yahya, Ahmad bin Hanbal, Abu Zur’ah, Abu
Bakar bin Abi ‘Ashim, Baqiyyu bin Makhlad, Muhammad bin Wadlah – seorang muhaddits dari negeri
Andalus – , Al-Hasan bin Sufyan, Abu Ya’la Al-Maushuli, dan lain-lain.

Komentar Para Ulama tentang Beliau

yahya bin Abdul Hamid Al-Himami mengatakan : “Anak-anak Ibnu Abi Syaibah adalah para ulama.
Mereka berdesak-desakan dengan kami ketika belajar dari setiap muhaddits.

Imam Ahmad bin Hanbal berkata : “Abu Bakr seorang yang sangatjujur (shaduq) dan lebih aku sukai
daripada saudaranya, ‘Utsman”.

Imam Ahmad bin Abdillah Al-‘Ijli mengatakan : “Abu Bakar adalah seorang yang tsiqah (terpercaya),
ia juga seorang hafidh (penghapal) hadits”.

‘Amr bin Ali Al-Fallas menyatakan : “Aku belum pernah melihat orang yang lebih kuat hapalannya
daripada Abu Bakr bin Abi Syaibah. Dia datang kepada kami bersama ‘Ali Al-Madini, kemudian
membacakan 400 hadits dengan cepat dan hapal di hadapan Syaibani, kemudian berdiri dan pergi”.

Imam Abu ‘Ubaid mengatakan : “Hadits terhenti (habis) pada empat orang, yaitu Abu Bakar bin Abi
Syaibah yang cepat mengambil, Ahmad yang paling paham, Yahya bin Ma’in yang paling banyak
mengumpulkan, dan Ali bin Al-Madini yang paling alim”.

Muhammad bin ‘Umar bin ‘Ala Al-Jurjani mengatakan : “Aku bertanya kepada Ibnu
Abi Syaibah ketika aku bersamanya di Jabbanah : ‘Wahai Abu bakr, ketika engkau
belajar dari Syarik, umurmu berapa?’. Beliau berkata : ‘Ketika itu aku masih berumur
14 tahun, dan ketika itu aku lebig hapal hadits daripada hari ini”.

‘Abdan Al-Ahwazi mengatakan : “Abu bakr duduk di sebuah tiang, sedangkan
saudaranya, Masybudanah, Abdullah bin Barrad dan lain-lain semua diam kecuali
Abu Bakr; dia berbicara. Tiang itu, kata Ibnu ‘Adi, adalah tiang yang biasa diduduki
oleh Ibnu Uqdah. Ibnu ‘Uqdah pernah berkata kepadaku : Inilah tiang tempat Ibnu
Mas’ud mengajar, kemudian diganti Al-Qamah, kemudian diganti Ibrahim, Manshur,
Sufyan Ats-Tsauri, Waki’, Ibnu Abi Syaibah, dan setelah beliau, Muthayyin,
kemudian Ibnu Said”.



Shalih bin Muhammd Al-hafidh Jarrah mengatakan : “Orang yang pernah aku jumpai
yang paling tahu tentang hadits dan ‘illat-‘illat-nya adalah Ali Al-madini dan yang
paling tahu tentang tashhif (perubahan lafadh baik secara bacaan, titik maupun huruf,
dan lain-lain) para syaikh adalah Ibnu ma’in. Serta yang paling hapal di antara mereka
ketika mudzakarah (berdialog) adalah Abu Bakr bin Abi Syaibah.



Al-hafidh Abul-‘Abbas bin ‘Uqdah berkata bahwa ia mendengar Abdurrahman bin
Khirasy mengatakan bahwa Abu Zur’ah pernah menyebutkan : “Aku tidak pernah
melihat orang yang lebih hapal daripada Ibnu Abi Syaibah”. Maka Abdurrahman bin
Khirasy berkata : “Hai Abu Zur’ah, bagaimana dengan teman-teman kami dari
Baghdad?”. Beliau berkata : “Tinggalkanlah teman-temanmu, mereka adalah orang-
orang yang gersang. Aku belum pernah melihat orang yang lebih kuat hapalannya
daripada Ibnu Abi Syaibah”.
Al-Khathib berkata : “Abu Bakr Adalah Seorang yang mutqin (kuat hapalan) lagi
hafidh. Beliau menulis Al-Musnad, Al-Ahkam, dan At-Tafsir. Dan dia juga
menyampaikan hadits di Baghdad bersama dua saudaranya : Al-Qashim dan
‘Utsman”.



Pada tahun 234 H, kata Ibrahim Nafthawaih, Al-Mutawakkil membuat cemas para
fuqahaa dan muhadditsiin. Di kalangan mereka ada Mush’ab bin Abdillah Az-Zubairi,
Ishaq bin Abi Isma’il, Ibrahim bin Abdillah Al-Harawi, Abu Bakr dan ‘Utsman dua
anak Abu Syaibah, keduanya termasuk para huffadh. Kemudian mereka diberi surat
tugas. Lalu Al-Mutawakkil menyuruh mereka untuk menyampaikan hadits-hadits
yang mengandung bantahan terhadap kaum Mu’tazilah dan Jahmiyyah. Majelis
‘Utsman ada di kota Manshur yang berkumpul menuntut ilmu darinya sekitar tiga
puluh ribu orang. Sedangkan Abu Bakr di Masjid Rushafah dan dia lebih terkenal
daripada saudaranya. Muridnya berjumlah sekitar tiga puluh ribu orang.



Abu Bakr adalah seorang yang kuat jiwanya. Bila dia menjumpai sebuah hadits yang
Yahya bin Ma’in tafaradda (menyendiri dalam meriwayatkannya) dari Hafsh bin
Ghiyats, dia akan mengingkarinya seraya berkata : “Darimana dia mendapatkan hadits
ini? Ini buku Hafsh, tidak ada hadits itu di dalamnya”.



Imam Ad-Daruwardi mengatakan : “Abu bakr adalag seorang hafidh, sulit dicari
tandingannya, kokoh dalam redaksi hadits”.

Ibnu Hajar berkata : “Dia seorang Kufi yang tsiqah lagi hafidh. Dia memiliki banyak karangan”.

Ibnu Qani’ berkata : “Dia tsiqah”.

Adz-Dzahabi berkata : “Abu bakr termasuk orang yang melompati jembatan. Dan kepadanya berakhir
ke-tsiqah-an”.

Karya-karya beliau antara lain adalah :

1. Al-Mushannaf.
2. At-tarikh. Kitab ini ada di Berlin dengan nomor perpustakaan 9409.
3. Kitaabul-Iimaan.
4. Kitaabul-‘Adab.
5. Tafsir Ibnu Abi Syaibah.
6. Kitaabul-Ahkaam.
7. Kitaab Taabul-Qur’an.
8. Kitaabul-Jumal.
9. Kitaabur-Radd ‘alaa Man Radda ‘alaa Abi hanifah.
10. Kitaabul-Futuh.
11. Al-Musnad.
Wafat Beliau

beliau wafat, kata Imam Bukhari, pada bulan Muharram tahun 235 H. Dan Al-
Khathib Al-baghdadi menambahkan dengan wafat di waktu ‘isya’ yang akhir.
Semoga kita bisa mengikuti jalan beliau di ataa kebaikan. Amiin.




                                        
               Imam Asy Syaukani (wafat 172-250H)
Nama dan Nasabnya

Beliau adalah al Imam al Qadhi Abu Ali Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Abdullah asy-
Syaukani, ash-Shan’ani.

Kelahiran Beliau

Beliau dilahirkan pada tengah hari 28 Dzulqa’dah 172 H di Hijratu Syaukan, Yaman.

Pertumbuhan Beliau

Beliau tumbuh di bawah asuhan ayahandanya dalam lingkungan yang penuh dengan keluhuran budi
dan kesucian jiwa. Beliau belajar al-Qur’an di bawah asuhan beberapa guru dan dikhatamkan di
hadapan al-Faqih Hasan bin Abdullah al Habi dan beliau perdalam kepada para masyayikh al-Qur’an di
Shan’a. Kemudian beliau menghafal berbagai matan dalam berbagai disiplin ilmu, seperti: al Azhar
oleh al Imam al Mahdi, Mukhtashar Faraidh oleh al Ushaifiri, Malhatul Harm, al Kafiyah asy Syafiyah
oleh Ibnul Hajib, at-Tahdzib oleh at-Tifazani, at-Talkhish fi Ulumil Balaghah oleh al Qazwaini, al
Ghayah oleh Ibnul Imam, Mamhumah al Jazarifil Qira’ah, Mamhumah al Jazzar fil ‘Arudh, Adabul
Bahts wal Munazharah oleh al Imam al-’ Adhud.

Pada awal belajarnya beliau banyak menelaah kitab-kitab tarikh dan adab. Kemudian beliau menempuh
perjalanan mencari riwayat hadits dengan sama dan talaqqi kepada para masyayikh hadits hingga
beliau mencapai derajat imamah dalam ilmu hadits. Beliau senantiasa menggeluti ilmu hingga berpisah
dari dunia dan bertemu Rabbnya.

Guru-guru

Di antara guru-guru beliau ialah:

    1. Ayahanda beliau yang kepadanya beliau belajar Syarah al-Azhar dan Syarah Mukhtashar al-
          Hariri.
    2.    As Sayyid al Allamah Abdurrahman bin Qasim al Madaini, beliau belajar kepadanya Syarah
          al-Azhar.
    3.    Al Allamah Ahmad bin Amir al Hadai, beliau belajar kepadanya Syarah al-Azhar.
    4.    Al Allamah Ahmad bin Muhammad al-Harazi, beliau berguru kepadanya selama 13 tahun,
          mengambil ilmu fiqih, mengulang-ulang Syarah al Azhar dan hasyiyahnya, serta belajar bayan
          Ibnu Muzhaffar dan Syarah an-Nazhiri dan hasyiyahnya.
    5.    As Sayyid al Allamah Isma’il bin Hasan, beliau belajar kepadanya al-Malhah dan Syarahnya.
    6.    Al Allamah Abdullah bin Isma’il as-Sahmi, beliau belajar kepadanya Qawaidul I’rab dan
          Syarahnya serta Syarah al Khubaishi ‘alal Kafiyah dan Syarahnya.
    7.    Al Allamah al Qasim bin Yahya al-Khaulani, beliau belajar kepadanya Syarh as Sayyid al-
          Mufti ‘alal Kafiyah, Syarah asy-Syafiyah li Luthfillah al Dhiyats, dan Syarah ar-Ridha ‘alal
          Kafiyah.
    8.    As Sayyid al Allamah Abdullah bin Husain, beliau belajar kepadanya Syarah al fami ‘alal
          Kafiyah.
    9.    Al Allamah Hasan bin Isma’il al Maghribi, beliau belajar kepadanya Syarah asy- Syamsiyyah
          oleh al Quthb dan Syarah al- ‘Adhud ‘alal Mukhtashar serta mendengarkan darinya Sunan
          Abu Dawud dan Ma’alimus Sunan.
    10.   As Sayyid al Imam Abdul Qadir bin Ahmad, beliau belajar kepadanya Syarah Jam’ul Jawami’
          lil Muhalli dan Bahruz Zakhkhar serta mendengarkan darinya Shahih Muslim, Sunan
          Tirmidzi, Sunan Nasa’i, Sunan Ibnu Majah, Muwaththa Malik, dan Syifa’ Qadhi ‘lyadh.
    11.   Al Allamah Hadi bin Husain al-Qarani, beliau belajar kepadanya Syarah al-Jazariyyah.
    12.   Al Allamah Abdurrahman bin Hasan al Akwa, beliau belajar kepadanya Syifa al Amir Husain.
    13. Al Allamah Ali bin Ibrahim bin Ahmad bin Amir, beliau mendengarkan darinya Shahih
         Bukhari dari awal hingga akhir.

Murid-muridnya

Di antara murid-murid beliau ialah: kedua putra beliau yakni al Allamah Ali bin Muhammad asy
Syaukani dan al Qadhi Ahmad bin Muhammad asy Syaukani, al Allamah Husain bin Muhasin as-Sab’i
al Anshari al Yamani, al Allamah Muhammad bin Hasan asy Syajni adz Dzammari, al Allamah Abdul
Haq bin Fadhl al-Hindi, asy-Syarif al Imam Muhammad bin Nashir al Hazimi, Ahmad bin Abdullah al
Amri, as Sayyid Ahmad bin Ali, dan masih banyak lagi.

Kehidupan llmiah

Beliau belajar fiqih atas madzhab al Imam Zaid sehingga mumpuni. Beliau menulis dan berfatwa
sehingga menjadi pakar dalam madzhab tersebut. Kemudian beliau belajar ilmu hadits sehingga
melampaui para ulama di zamannya. Kemudian beliau melepaskan diri dari ikatan taklid kepada
madzhab Zaidiyyah dan mencapai tingkat ijtihad.

Beliau menulis kitab Hadaiqil Azhar al-Mutadaffiq ‘ala Hadaiqil Azhar. Dalam kitab tersebut beliau
mengkritik beberapa permasalahan dalam kitab Hadaiqil Azhar yang merupakan rujukan utama
madzhab Zaidiyyah dan meluruskan kesalahan-kesalahan yang terdapat dalam kitab tersebut. Maka
bergeraklah para muqallidin (orang yang selalu taklid, mengikuti pendapat orang lain tanpa berusaha
mencari ilmunya red.) membela kitab tersebut sehingga terjadilah perdebatan yang panjang.

Tidak henti-hentinya beliau mengingatkan umat dari taklid yang tercela dan mengajak umat agar ittiba
kepada dalil. Beliau menulis risalah dalam hal tersebut yang berjudul al Qaulul Mufiid fi Hukmi
Taqlid.

Aqidahnya

Aqidah beliau adalah aqidah salaf yang menetapkan sifat-sifat Alloh yang datang dalam Kitab dan
Sunnah shahihah tanpa mentakwil dan mentahrif. Beliau menulis risalah dalam aqidah yang berjudul at
Tuhaf bi Madzhabis Salaf.

Beliau gigih mendakwahi umat kepada aqidah salafiyyah sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah
dan para sahabatnya. Demikian juga, beliau selalu berusaha mensucikan aqidah dari kotoran-kotoran
kesyirikan.

Beliau Menjabat Sebagai Qadhi Negeri Yaman

Pada tahun 209 H meninggallah Qadhi Yaman, Syaikh Yahya bin Shalih asy Syajari as Sahuli. Maka
Khalifah al Manshur meminta kepada al Imam asy Syaukani agar menggantikan Syaikh Yahya sebagai
qadhi negeri Yaman.

Pada awalnya beliau menolak jabatan tersebut karena takut akan disibukkan dengan jabatan tersebut
dari ilmu. Maka datanglah para ulama Shan’a kepada beliau meminta agar beliau menerima jabatan
tersebut, karena jabatan tersebut adalah rujukan syar’i bagi para penduduk negeri Yaman yang
dikhawatirkan akan diduduki oleh seseorang yang tidak amanah dalam agama dan keilmuannya.
Akhirnya beliau menerima jabatan tersebut. Beliau menjabat sebagai Qadhi Yaman hingga beliau wafat
pada masa pemerintahan tiga khalifah: al Manshur, al Mutawakkil, dan al Mahdi. Ketika beliau
menjabat sebagai qadhi maka keadilan ditegakkan, kezhaliman diberi pelajaran, penyuapan dijauhkan,
fanatik buta dihilangkan, dan beliau selalu mengajak umat kepada ittiba terhadap Kitab dan Sunnah.

Tulisan-tulisanya

Di antara tulisan-tulisan beliau ialah:
1. Adabu Thalib wa Muntahal Arib.
2. Tuhfatu Dzakirin.
3. Irsyadu Tsiqat ila Ittifaqi Syarai’ ‘ala Tauhid wal Ma’ad wan Nubuwat.
4. Ath Thaudul Muniffil Intishaf lis Sad minasy Syarif.
5. Syifaul ilal fi Hukmu Ziyadah fi Tsaman li Mujarradil Ajal.
6. Syarhu Shudur fi Tahrimi Raf’il Qubur.
7. Thibu Nasyr fi Masailil Asyr.
8. Shawarimul Hindiyyah al Maslulah ‘alar Riyadhan Nadiyyah.
9. Al Qaulush Shadiq fi Hukmil Imamil Fasiq.
10. Risalah fi Haddi Safar Aladzi Yajibu Ma’ahu Qashru Shalat.
11. Tasynifu Sam’i bi Ibthali Adillatil Jam’i.
12. Risalah al Mukammilah fi Adillatil Basamalah.
13. Iththila’u Arbabil Kamal ‘ala Ma fi Risalatil Jalal fil Hilal minal Ikhtilal.
14. Tanbih Dzawil Hija ‘ala Hukmi Bai’ir Riba.
15. Al Qaulul Muharrar fi Hukmi Lubsil Mu’ashfar wa Sairi Anwa’il Ahmar.
16. Uqudul Zabarjad fi Jayyidi Masaili Alamati Dhamad.
17. Ibthali Da’wal Ijma ‘ala Tahrimis Sama’.
18. Zahrun Nasrain fi Haditsil Mu’ammarin.
19. Ittihaful Maharah fil Kalam’ala Hadits: “La ‘Adwa wa La Thiyarah.”
20. Uqudul Juman fi Bayani Hududil Buldan.
21. Hallul Isykal fi Ijbaril Yahud ‘ala Iltiqathil Azbal.
22. Al Bughyah fi Mas’alati Ru’yah.
23. Irsyadul Ghabi ila Madzhabi Ahlil Bait fi Shabin Nabi.
24. Raf’ul Junah an Nafil Mubah.
25. Qaulul Maqbul fi Raddi Khabaril Majhul min Ghairi Shahabatir Rasul.
26. Amniyyatul Mutasyawwiq ila Ma’rifati Hukmi ‘Ilmil Manthiq.
27. Irsyadul Mustafid ila Daf’i Kalami Ibnu Daqiqil ‘Id fil Ithlaq wa Taqyid.
28. Bahtsul Musfir an Tahrimi Kulli Muskir.
29. Dawa’ul Ajil li Daf’il Aduwwi Shail.
30. Durru Nadhid fi Ikhlashi Kalimati Tauhid.
31. Risalah fi Wujubi Tauhidillah.
32. Nailul Author Syarh Muntaqal Akhbar.
33. Maqalah Fakhirah fi Ittifaqi Syarai’ ‘ala Itsbati Daril Akhirah.
34. Nuzhatul Ahdaq fi Ilmil Isytiqaq.
35. Raf’u Ribah fi Ma Yajuzu wa Ma La Yajuzu minal Ghibah.
36. Tahrirud Dalail ‘ala Miqdari Ma Yajuzu bainal Imam wal Mu’tamm minal Irtifa’ wal
    Inkhifadh wal Bu’du wal Hail.
37. Kasyful Astar fi Hukmi Syuf’ati bil Jiwar.
38. Wasyyul Marqum fi Tahrimi Tahalli bidz Dzahab lir Rijal minal Umum.
39. Kasyful Astar fi Ibthalil Qaul bi Fanain Nar.
40. Shawarimul Haddad al Qathi’ah li ‘Alaqi Maqali Ahlil Ilhad.
41. Isyraqu Nirain fi Bayanil Hukmi Idza Takhallafa ‘anil Wa’di Ahadul Khashmain.
42. Hukmu Tas’ir.
43. Natsrul Jauhar fi Syarhi Hadits Abi Dzar.
44. Minhatul Mannan fi Ujratil Qadhi was Sajjan.
45. Risalah fi Hukmil ‘Aul.
46. Tanbihul Amtsal ‘ala Jawazil Isti’anah min Khalishil Mal.
47. Qathrul Wali fi Ma’rifatil Wali.
48. Taudhih fi Tawaturi Ma Ja’a fil Mahdil Muntazhar wad Dajjal wal Masih.
49. Hukmul Ittishal bis Salathin.
50. Jayyidu Naqd fi ‘Ibaratil Kasysyaf was Sa’d.
51. Bughyatul Mustafid fi Raddi ‘ ala Man Ankaral Ijtihad min Ahli Taqlid.
   52. Radhul Wasi’ fid Dalil Mani’ ‘ala Adami Inhishari Ilmil Badi’.
   53. Fathul Khallaq fi Jawabi Masail Abdirrazaq.

Wafatnya

Al-Imam asy-Syaukani wafat pada malam Rabu 27 Jumada Tsaniyyah 250 H di Shan’a. Semoga Alloh
meridhai beliau dan menempatkan beliau dalam keluasan jannah-Nya.




                                                 
                   Imam al-Muzanniy (wafat 264H)
Beliau adalah saudara wanita dari al-Muzanniy, sahabat Imam asy-Syafi’iy. Namanya anonim alias
tidak dikenal.

Nampaknya beliau juga pernah menghadiri majlis pengajian yang diadakan oleh Imam asy-Syafi’iy
dan kajian-kajian fiqihnya.

Imam ar-Râfi’iy telah menukil dari dalam masalah zakat barang tambang…Dia telah menyebutkan
pendapat yang shahih bahwa persyaratan Haul (putaran setahun penuh) pada barang tambang tidak
disyaratkan…Kemudian dia berkata, “Di sana terdapat pendapat yang lain, yaitu bahwa persyaratan itu
adalah harus. Pendapat ini dinukil oleh al-Buwaithiy juga dan diriwayatkan oleh al-Muzanniy di dalam
kitabnya “al-Mukhtashar” dari orang yang dipercayainya dari asy-Syafi’iy yang kemudian menjadi
pendapat pilihannya. Dia (ar-Rifa’iy) meneruskan, “Dan sebagian para pensyarah menyebutkan bahwa
saudara al-Muzanniy telah meriwayatkan pendapat itu untuknya, namun dia tidak suka menyebutkan
nama saudaranya tersebut.”

Al-Asnawiy berkata, “Aku tidak tahu persis kapan tahun wafatnya.” Sementara saudara lelaki wanita
ini, al-Muzanniy adalah seorang Imam madzhab Syafi’iy, sahabat Imam asy-Syafi’iy sendiri yang
berasal dari Mesir. Dia adalah seorang ahli zuhud, ‘alim, mujtahid dan memiliki hujjah yang kuat. Dia
dinisbahkan kepada Muzayyanah – dari suku Mudlar -.

Dalam hal ini, Imam asy-Syafi’iy berkata, “al-Muzanniy adalah pembela madzhabku.” Dan ketika
mengomentari betapa dia memiliki hujjah yang kuat, beliau berkata, “Andaikata dia mendebat syaithan,
dia pasti menang!.” Al-Muzanniy memiliki beberapa karya tulis dan wafat pada tahun 264 H.




                                                  
                Imam Al Ajurri (wafat tahun 419H)
Nama dan Nasabnya

Nama lengkap beliau adalah Muhammad bin Al Husein bin Abdillah Al Baghdadi Al Ajurri. Kunyah
beliau Abu Bakr. Beliau berasal dari sebuah desa di bagian barat kota Baghdad yang bernama Darbal
Ajur. Beliau lahir dan tumbuh di sana.

Guru-guru

Imam Al Ajurri menimba ilmu dari segolongan ulama terkenal, di antaranya :

1. Imam Ibrahim bin Abdillah bin Muslim bin Ma’iz Abul Muslim Al Bashri Al Kajji. Beliau adalah Al
Hafidh [Orang yang banyak menghapal hadits lengkap dengan pengertian dan sanadnya], Al
Mu’ammar, Shahibus Sunan [Penulis kitab Sunan]. Imam ini adalah guru terbesar Imam Al Ajurri.
Syaikh Ibrahim dilahirkan sekitar tahun 190 H dan wafat tahun 292 H di Baghdad. Jenazah beliau
kemudian dipindah ke Bashrah dan dimakamkan di sana.

2. Imam Abul Abbas Ahmad bin Sahl bin Al Faizuran Al Usynani. Beliau adalah Syaikhul Qurra’
[Pemimpin para pembaca Al Qur’an] di Baghdad. Beliau wafat pada tahun 307 H.

3. Imam Abu Abdillah Ahmad bin Al Hasan bin Abdil Jabbar bin Rasyid Al Baghdadi. Beliau bergelar
Al Muhadits [Ahli Hadits] Ats Tsiqatul Mu’ammar. Beliau dilahirkan di Hudud tahun 210 H dan wafat
tahun 306 H.

4. Imam Abu Bakr Ja’far bin Muhammad bin Al Hasan bin Al Mustafadl Al Firyani. Beliau adalah Al
Hafidh Ats Tsabt [Tepat dan jeli dalam penyampaian riwayat] dan Syaikh di masanya. Beliau lahir
pada tahun 207 H dan wafat pada tahun 301 H.

5. Imam Abu Bakr Al Qasim bin Zakaria bin Yahya Al Baghdadi. Beliau adalah Al ‘Allamah [‘Alim
(pandai)], Al Muqri’ [Ahli Ilmu Qira’ah], Al Muhadits, Ats Tsiqah [Yang terpecaya]. Beliau terkenal
dengan gelar Al Muthariz (penyulam). Beliau lahir di Hudud tahun 220 H dan wafat tahun 305 H.

6. Imam Abu Ja’far Ahmad bin Yahya bin Ishaq Al Bajali Al Hulwani. Beliau adalah Al Muhadits, Ats
Tsiqah, Az Zahid [Yang zuhud]. Beliau tinggal di Baghdad dan wafat tahun 296 H.

7. Imam Abul Abbas Ahmad bin Zanjuwiyah bin Musa Al Qathan. Beliau adalah Al Muhadits, Al
Mutqin [Yang mantap], dianggap tsiqah dan terkenal. Beliau wafat tahun 304 H.

8. Imam Abul Qasim Abdullah bin Muhammad bin Abdil Aziz bin Al Marzuban. Beliau adalah Al
Hafidh, Al Hujjatul Mu’ammar, dan Al Musnid [Penulis kitab Musnad] di masanya. Berasal dari
Bagha’ dan lahir pada tahun 214 H dan bertempat tinggal di Baghdad serta wafat tahun 317 H. Beliau
dikebumikan pada hari Iedul Fithri.

9. Imam Abu Syu’aib Abdullah bin Al Hasan bin Ahmad bin Abu Syu’aib Al Harrani. Beliau adalah Al
Muhadits, Al Mu’ammar, Al Mu’dab. Lahir tahun 206 H dan wafat tahun 295 H.

10. Imam Abu Muhammad Khalaf bin ‘Amr Al ‘Ukbari. Beliau adalah Al Muhadits, Ats Tsiqatul Jalil
[Yang mulia dan dapat dipercaya]. Beliau lahir tahun 206 H dan wafat tahun 296 H.

11. Al Imam Abu Bakr Abdullah bin Sulaiman bin Al Asy’ats As Sijistani. Beliau adalah Al ‘Allamah,
Al Hafidh, dan Syaikh di Baghdad. Beliau termasuk lautan ilmu. Sebagian orang ada yang menganggap
bahwa beliau lebih utama daripada ayahnya. Beliau menulis Sunan, Mushaf, Syari’atul Qari’, Nasikh
Mansukh, Al Ba’ts, dan lain-lain. Beliau lahir di Sijistan tahun 230 H dan wafat tahun 316 H.
Murid-Muridnya

Di antara murid-murid beliau yang terkenal adalah :

1. Imam Abu Nu’aim Ahmad bin Abdullah bin Ahmad Al Mihrani Al Ashbahani. Beliau adalah Al
Hafidh, Ats Tsiqah, Al ‘Allamah. Beliau adalah cucu Az Zahid Muhammad bin Yusuf Al Banna’.
Beliau adalah penulis kitab Al Hilyah dan banyak karya lainnya. Beliau lahir tahun 336 H dan wafat
tahun 425 H.

2. Imam Abul Qasim Abdul Malik Muhammad bin Abdillah bin Bisyran. Beliau adalah Al Muhaddits,
Al Musnid, Ats Tsiqah, Ats Tsabt, Ash Shalih [Orang yang shalih], Pemberi Nasihat, dan Musnid Irak.
Beliau lahir tahun 339 H dan wafat tahun 430 H.

3. Imam Abul Husein Ali bin Muhammad bin Abdullah bin Bisyran. Beliau adalah Asy Syaikh, Al
‘Alim, Al Mu’adil, Al Musnid. Al Khatib berkata tentang beliau : “Dia sempurna muru’ah
[Kewibawaan]-nya, kokoh menjalankan agama, shaduq [Sangat jujur], dan tsabit.” Beliau lahir tahun
328 H dan wafat tahun 415 H.

4. Imam Abu Muhammad Abdurrahman bin Umar At Tajibi Al Mishri Al Maliki Al Bazzaz. Beliau
adalah Asy Syaikh, Al Fakih, Al Muhadits, Ash Shaduq, dan Musnid Mesir. Beliau terkenal dengan
gelar Ibnu Nahhas. Beliau lahir tahun 323 H dan wafat tahun 416 H.

5. Imam Abul Hasan Ali bin Ahmad bin Umar bin Hafsh Al Hamami Al Baghdadi. Beliau adalah Al
Muhadits dan Muqri’ Irak. Al Khatib mengatakan bahwa beliau sangat jujur, taat beragama, terhormat,
sulit dicari tandingannya dalam sanad-sanad qira’ah dan memiliki ketinggian sanad di masanya. Lahir
328 H dan wafat 417 H.

6. Al Imam Abu Bakr bin Abu Ali Ahmad bin Abdurrahman Al Hamadani Adz Dzakwan Al
Ashbahani. Beliau adalah Al ‘Alim, Al Hafidh, dan termasuk Rijal Ats Tsiqah. Abu Nu’aim
mengatakan tentang beliau : “Dia mempersaksikan dan menyampaikan hadits selama 60 tahun,
akhlaknya baik dan kokoh madzhabnya. Beliau lahir tahun 333 H dan wafat tahun 419 H.

7. Syaikh Abul Husein Muhammad bin Al Husein bin Muhammad bin Al Fadl Al Baghdadi Al
Qahthani. Beliau adalah Al ‘Alim, Ats Tsiqat, Al Musnid [Orang yang menjadi rujukan sanad hadits].
Beliau lahir tahun 335 H dan wafat tahun 415 H.

Keilmuan Beliau Dan Komentar Para Ulama Tentangnya

1. Ibnu Nadim berkata : “Dia faqih, shalih, dan ahli ibadah.”

2. Al Khatib berkata : “Dia tsiqah, shaduq (sangat jujur), taat beragama, dan memiliki banyak karya.”

3. Ibnu Jalkan berkata : “Dia faqih, bermadzhab Syafi’i, muhadits, penulis kitab Arba’in dan terkenal
dengannya, shalih dan ahli ibadah.”

4. Yaqut berkata : “Dia faqih bermadzhab Syafi’i, tsiqah, dan menulis banyak karya.”

5. Ibnul Jauzi dalam kitab As Shawatus Shafwah mengatakan : “Dia tsiqah, taat beragama, alim, dan
banyak menulis karya.”

6. Ibnu Subki dalam Thabaqat-nya mengatakan : “Dia faqih, muhadits, pemilik beberapa karangan.”

7. Dzahabi dalam Siyar A’lamin Nubala’ berkata : “Dia seorang imam, muhadits, panutan, Syaikh di
Al Haram, shaduq, ‘abid [Ahli ibadah], shahibus sunan, dan ahli ittiba’ [Pengikut sunnah].”

8. Suyuthi mengatakan : “Dia ‘alim dan mengamalkan ilmu ahli sunnah.”
Dari ucapan para ulama di atas diketahui bahwa beliau termasuk ulama yang beramal dengan ilmunya,
seorang faqih yang ahli hadits, serta penjaga Kitabullah. Para ulama tersebut juga sepakat bahwa beliau
termasuk orang yang tsiqat dan berpegang teguh dengan sunnah. Beliau juga seorang pengarang yang
meninggalkan pengaruh yang jelas dalam perbendaharaan Islam.

Karya-Karya

Imam Al Ajurri mewariskan beberapa karya diantaranya yang telah dicetak: Akhlaq Ahlil Qur’an,
Akhlaqul Ulama, Akhbar Umar bin Abdil Aziz, Al Arba’in Haditsan, Al Ghuraba’, Tahrimun Nard
was Satranji wal Malahi, Asy Syari’ah, At Tashdiq bin Nadhar Ilallah.

Berupa Manuskrip (Tulisan Tangan): Adabun Nufus, Ats Tsamainin fil Hadits, Juz’un min Hikayat As
Syafi’i wa Ghairihi, Fardlu Thalabil Ilmi, Al Fawaid Al Muntakhabah, Wushulul Masyaqin wa
Nuzhatul Mustami’in.

Karaya-karya beliau yang Hilang: Ahkamun Nisa’, Akhlaq Ahli Bir wat Tuqa, Aushafus Sab’ah,
Taghyirul Azminah, At Tafarud wal ‘Uzlah, At Tahajud, At Taubah, Husnul Khuluq, Ar Ru’yah, Ruju’
Ibni Abbas ‘anis Sharf, Risalah ila Ahlil Baghdad, Syarah Qasidah As Sijistani, As Syubuhat, Qishatul
Hajaril Aswad wa Zam-Zam wa Ba’du Sya’niha, Qiyamul Lail wa Fadllu Qiyamir Ramadlan, Fadllul
Ilmi, Mukhtasharul Fiqh, Mas’alatut Tha’ifin, An Nasihah.

Wafatnya

Sebagian para ulama mengatakan bahwa ketika beliau masuk ke kota Mekkah yang beliau kagumi,
beliau berdo’a : “Ya Allah, berilah rezki kepadaku dengan tinggal di sana selama setahun.” Lalu beliau
mendengar bisikan: “Bahkan 30 tahun!” Akhirnya beliau tinggal selama 30 tahun dan wafat di sana
tahun 320 H. demikian keterangan Ibnu Khalqan.

Al Khatib berkata: “Aku membaca cerita itu di lantai kubur beliau di Mekkah.” Ibnul Jauzi berkata
bahwa Abu Suhail Mahmud bin Umar Al Akbari berkata bahwa ketika Abu Bakr sampai di Mekkah
dia merasa kagum dengannya dan berdo’a: “Ya Allah, hidupkan aku di negeri ini walau hanya
setahun.” Tiba-tiba ia mendengar bisikan: “Hai Abu Bakr, kenapa hanya setahun? Tiga puluh tahun!”
Ketika menginjak tahun ketiga puluh, beliau mendengar bisikan lagi: “Wahai Abu Bakr, sudah kami
tunaikan janji itu.” Kemudian wafatlah beliau di tahun itu.

Madzhabnya

Beliau bermadzhab Syafi’i menurut sebagian ulama. Namun ulama lain seperti Al Isnawi mengatakan
bahwa sebagian orang membantah ke-Syafi’i-an beliau dan mengatakan bahwa beliau bermadzhab
Hanbali. Al Isnawi mengatakan hal itu setelah dia mengatakan bahwa Imam Al Ajurri pengikut
madzhab Syafi’i. Demikian pula keterangan Abu Ya’la dalam kitab beliau Tabaqat Al Hanabilah.

Sumber-Sumber Biografi Beliau

Riwayat hidup beliau yang penuh barakah ditulis dalam beberapa kitab para ulama. Di antaranya: Al
Fahrasat. Ibnu Nadim halaman 268., Tarikh Baghdad. Al Khatib 2/243., Tabaqatul Hanabilah. Ibnu Abi
Ya’la halaman 332., Al Ansab. As Sam’ani 1/94., Fahrasah Ibni Khairil Isybaili. Halaman 285-286.,
Wafiyatul A’yan. Ibnu Khukan 4/292., Mu’jamul Buldan. Yaqut Al Hamawi 1/51., Siyar A’lamin
Nubala’. Adz Dzahabi 16/133., Thabaqatus Syafi’iyah. Al Isnawi 1/50., Al ‘Aqduts Tsamin. Al Fasi
2/4., Thabaqatul Hufadh. As Suyuthi halaman 378., Syajaratudz Dzahab. Ibnul ‘Imad 3/35.

Disalin dari Ghuraba’ minal Mukminin, Al Ajurri



                                                   
                  Imam Al Barbahari (wafat 329 H)
Nama, Kunyah, dan Nasab

Beliau adalah Al-Imam Al-Hafidz Al-Mutqin Ats-Tsiqah Al-Faqih Al-Mujahid Syaikh Hanabilah
sekaligus pemuka mereke pada masanya Abu Muhammad Al-Hasan bin ‘Ali bin Khalaf Al-Barbahari,
sebuah nama yang dinisbahkan kepada Barbahar yaitu obat-obatan yang didatangkan dari India (1)

Tempat Kelahiran dan Tanah Air

Berkata Syaikh ArRadadi: “Tidak ada satu pun sumber (rujukan) yang berada di tangan kami yang
menyebutkan tentang kelahiran dan pertumbuhan beliau. Hanya saja yang nampak bagi saya bahwa
beliau dilahirkan dan tumbuh di Baghdad. Yang demikian itu dikarenakan di tempat itulah tersiar
reputasi dan kemasyhuran beliau di kalangan masyarakat umum, terlebih lagi orang-orang khusus
diantara mereka. Selain itu Al-Imam Al-Barbahari juga bersahabat erat dengan beberapa sahabat Imam
AhlusSunnah wal Jama’ah yakni Ahmad bin Hanbal rahimahullah serta menimba ilmu dari mereka,
sedangkan mayoritas mereka berasal dari Baghdad -sebagaimana yang akan datang penjelasannya-.
Inilah diantara hal-hal yang menunjukkan bahwa beliau tumbuh di tengah-tengah alam yang penuh
ilmu Sunnah yang sangat berpengaruh terhadap karakteristik kepribadiannya.” [Lihat kitab Thabaqat
Al-Hanabilah (2/64)].

Berkata syaikh Al-Qahthani: “Imam Al-Barbahari bersahabat erat dengan beberapa sahabat Imam
Ahmad rahimahullah diantaranya Imam Ahmad bin Muhammad Abu Bakar Al-Mawarzi salah seorang
murid utama Imam Ahmad. Selain itu beliau juga bersahabat dengan Sahl bin ‘Abdillah At-Tustari,
yang mana beliau meriwayatkan perkataan darinya: “Sesungguhnya Allah ‘aza wa jalla telah
menciptakan dunia dan menjadikannya di dalamnya orang-orang bodoh dan para ulama, seutama-
utama ilmu adalah yang diamalkan, semua ilmu akan menjadi hujjah kecuali yang diamalkan dan
beramal dengannya adalah keindahan semata kecuali yang benar, dan amalan yang benar aku tidak
memastikannya kecuali dengan istisna’ (pengecualian) masya Allah.” [Thabaqat Hanabilah (2/43)].

Kemuliaan, Keilmuan, dan Pujian Ulama terhadap Beliau

Berkata syaikh ArRadadi: “Imam Al-Barbahari adalah seorang Imam yang disegani, senantiasa
berbicara dan mengajak kepada kebenaran serta seorang da’i yang senantiasa menyeru kepada Sunnah
dan mengikuti atsar. Beliau memiliki kewibawaan dan kemuliaan disisi para penguasa. Majelis beliau
makmur dengan halaqah hadits, atsar, dan fiqih serta dihadiri sebagian besar para Imam AhlulHadits
dan Fiqih.”

Berkata Abu ‘Abdillah Al-Faqih: “Apabila kamu melihat seorang penduduk Baghdad mencintai Abul
Hasan bin Basyar dan Abu Muhammad Al-Barbahari maka ketahuilah bahwa ia Shahibu Sunnah
(orang yang mengikuti Sunnah)!” [Thabaqat Al-Hanabilah 2/58].

Berkata syaikh Al-Qahthani: “Para ulama ahli sejarah menyebutkan sebuah kisah yang menerangkan
akan agungnya kemuliaan Imam Al-Barbahari. Pada suatu hari Qaramithah (salah satu sekte Syi’ah)
merampok jamaah haji, maka bangkitlah Imam Al-Barbahari seraya mengatakan: “Wahai saudara
sekalian! Bagi siapa saja yang membutuhkan bantuan sebesar seratus ribu dinar…(beliau ulangi 5 kali)
datanglah kepadaku niscaya aku akan membantunya!

Berkata Ibnu Baththah: “Andaikata ada yang membutuhkan bantuan tersebut niscya akan beliau
bantu.”

Berkata syaikh Ar-Radadi: “Adapun pujian ulama terhadap beliau banyak sekali, berkata Ibnu Abi
Ya’la: “…Seorang syaikh, pemuka kaum pada masanya dan orang yang paling depan dalam
mengingkari Ahlul Bid’ah serta menghadapi mereka dengan tangan dan lisan. Beliau terdepan di
kalangan sahabat-sahabatnya, salah satu imam yang bijaksana dan penuh dengan hikmah, salah satu
hufadz ilmu ushul yang mutqin serta salah satu orang yang tsiqah di kalangan mukminin.”
Berkata Imam Adz-Dzahabi dalam “Al-`Ibar”: “….Al-Faqih Al-Qudwah (panutan) syaikh Hanabilah di
Irak baik ucapan, keadaan, maupun hafalan. Beliau memiliki kedudukan terhormat dan kemuliaan yang
sempurna.”

Berkata Ibnul Jauzi: “…pengumpul ilmu, zuhud, dan sangat keras terhadap ahlul bid’ah.”

Berkata Ibnu Katsir: “Al-’Alim, Az-Zahid, Al-Faqih, Al-Hanbali, Al-Wa’idh (pemberi nasehat)…,
sangat keras terhadap ahlul bid’ah dan maksiat. Beliau memiliki kedudukan yang tinggi yang sangat
disegani oleh orang-orang khusus dan masyarakat umum.

Berkata Syaikh Al-Qahthani: “Diantara hal yang menunjukkan ketinggian kedudukan beliau adalah
tatkala Abu ‘Abdillah bin ‘arafah yang terkenal dengan sebutan Nawthawaif meninggal pada bulan
Shafar 313 H, yang mana jenazahnya dihadiri oleh segenap anak-anak dunia dan dien, majulah Imam
AlBarbahari mengimani manusia. Pada tahun itulah bertambah harum nama dan kewibawaan Al-Imam
Al-Barbahari, menjadi tinggi kalimatnya dan mulailah muncul sahabat-sahabat beliau sehingga mereka
tersebar merata dalam mengingkari ahlul bid’ah. Telah sampai berita kepada kami bahwa Imam Al-
Barbahari pernah melewati sisi barat kota, tiba-tiba saja beliau bersin. Maka dengan serempak para
sahabat beliau mengucapkan “Yarhamukallah…”(semoga Allah merahmatimu) sehingga suara
gemuruh mereka terdengar oleh Khalifah yang pada waktu itu sedang berada didalam rumah/istana-
nya, khalifah pun bertanya tentang apa yang terjadi? Setelah diberitahukan khalifah memaklumi hal
itu.” [Thabaqat Hanabilah 2/44]

Sifat Zuhud dan Wara’

Berkata syaikh Al-Qahthani: “Imam Al-Barbahari sangat terkenal dengan sifat zuhudnya terhadap harta
benda dan perhiasan dunia, zuhud orang yang menguasai dunia, akan tetapi dunia tersebut beliau
letakkan di telapak tangan beliau. Adapun kecintaan terhadap Allah ‘aza wa jalla dan Rasul-Nya
sholallohu ‘alaihi wasallam serta meninggikan al-haq berada didalam lubuk hati hatinya. Oleh karena
itu ulama yang menulis biografi beliau menyebutkan bahwa beliau melepaskan warisan ayahnya
sejumlah 70.000 dirham [Thabaqat Hanabilah 2/43]

Murid-Murid Beliau

Berkata syaikh ArRadadi: “Banyak sekali penuntut ilmu yang menimba ilmu dan mengambil faedah
dari Imam Al-Barbahari. Beliau rahimahullah adalah seorang panutan baik dalam tingkah laku maupun
perkataannya. Diantara murid-murid beliau adalah:

    1. Al-Imam Al-Qudwah Al-Faqih Abu ‘Abdillah bin ‘Ubaidillah bin Muhammad Al-‘Ukbari
         yang terkenal dengan Ibnu Baththah, meninggal pada bulan Muharram 387 H. [Lihat
         biografinya dalam Al-`Ibar 2/171 dan As-Siyar 16/529]
    2.   Al-Imam Al-Qudwah yang berbicara dengan penuh hikmah Muhammad bin Ahmad bin
         Isma’il Al-Baghdadi Abul Husam bin Sam’un, pemberi nasihat, pemilik berbagai ahwal dan
         maqam, meninggal pada pertengahan Dzulqa’dah 387 H. [Lihat biografinya dalam Al-`Ibar
         2/172 dan As-Siyar 16/505]
    3.   Ahmad bin Kamil bin Khalaf bin Syajarah Abu Bakar perawi kitab ini dari penulis.
    4.   Muhammad bin Khalaf bin ‘Utsman Abu Bakar, berkata Al-Khatib Al-Baghdadi: “Berita
         yang sampai kepadaku dia adalah orang yang menampakkan kezuhudan dan kebagusan
         madzhab, hanya saja dia banyak sekali meriwayatkan hadits-hadits munkar dan batil.” [Lihat
         biografinya dalam Tarikh Baghdad 3/225 dan Al-Mizan 4/28]

Beberapa Kutipan Ucapan Beliau

Berkata syaikh Al-Qahthani: Berkata Imam Al-Barbahari: “Permisalan ahlul bid’ah adalah seperti
Kalajengking, mereka sembunyikan kepala dan tangan-tangan mereka didalam tanah dan mereka
keluarkan ekor-ekor mereka. Apabila mereka sudah merasa kuat, mulailah mereka menyengat.
Demikian juga halnya ahlul bid’ah mereka sembuyikan diri-diri mereka di tengah-tengah manusia dan
apabila mereka sudah kuat mulailah mereka meyebarkan (melancarkan aksi) apa yang mereka
inginkan. [Al-Minhaj Al-Ahmad 3/37]

Dan diantara ucapan beliau yang sangat bermanfaat adalah: “Bermajelis untuk saling nasehat-
menasehati membuka pintu-pintu faedah sedangkan bermajelis untuk berdebat menutup pintu-pintu
faedah.”

Diantara syair yang beliau ucapkan:

Barang siapa yang qona`ah (merasa cukup) dengan bekalnya

Niscaya dia akan menjadi kaya dan hidup dengan penuh ketentraman

Aduhai, betapa indahnya sikap qona’ah. Betapa banyak orang yang rendah terangkat karenanya

Jiwa seorang pemuda akan menjadi sempit apabila merasa butuh

Andai saja ia mau mencari kemuliaan dengan Rabb-nya niscaya akan menjadi lapang

Tulisan-Tulisan Beliau

Berkata syaikh ArRadadi: “Para ulama yang menulis biografi beliau menyebutkan bahwa beliau
memiliki karya tulis yang sangat banyak hanya saja tidak nampak bagi kami karya-karya beliau selain
kitab ini.”

Ujian yang Beliau Alami dan Kisah Wafat Beliau

Berkata Syaikh Al-Qahthani: “Imam ini (Al-Barbahari) mendapatkan ujian sebagaimana orang-orang
shalih sebelumnya mendapat ujian. Ahlul bid’ah senantiasa menghembus-hembuskan kebencian
terhadap beliau kedalam hati penguasa. Pada tahun 321 H, masa Khalifah Al-Qahir dan menterinya
Ibnu Muqillah berusaha menangkap Imam Al-Barbahari sehingga beliau bersembunyi. Namun dia
berhasil menangkap beberapa sahabat dekat Imam Al-Barbahari dan membuang mereka ke Bashrah.
Namun kemudian Allah ‘aza wa jalla menghukum Ibnu Muqillah atas perbuatan yang telah ia lakukan,
yaitu Allah ‘aza wa jalla membuat Khalifah Al-Qahir Billah menjadi marah kepada Ibnu Muqillah
sehingga Ibnu Muqillah melarikan diri dan Al-Qahir memecat dia dari jabatan kementriannya serta
membakar habis rumahnya. Hingga akhirnya ia tertangkap oleh Al-Qahir Billah pada tahun 322 H,
kemudian ia diturunkan dari kekhalifahan dan dicukil kedua matanya hingga mengucur darah dari
kedua matanya yang akhirnya ia buta.

Kemudian datanglah khalifah ArRadhi. Ahlul bid’ah pun senantiasa menyusupkan kebencian kedalam
hati khalifah sehinggah diserukan di Baghdad: “Jangan sampai ada dua shahabat Al-Barbahari yang
berkumpul!” Sehingga mereka (Imam Al-Barbahari dan para shahabatnya) kembali bersembunyi.
Ketika itu, Imam Al-Barbahari singgah di arah barat kota di suatu tempat yang bernama Babul
Muhawwil. Kemudian beliau pindah ke arah timur kota untuk bersembunyi hingga akhirnya beliau
meninggal dalam persembunyiannya pada bulan Rajab 329 H, saat itu beliau berumur 97 tahun. Ada
yang mengatakan juga bahwa beliau hidup selama 77 tahun dan pada akhir hayatnya beliau sempat
menikah dengan seorang budak wanita.” [Thabaqat Hanabilah 2/44, Siyar A’lamin Nubala` 15/93, dan
Al-Minhajul Ahmad 2/38]

Berkata syaikh Ar-Radadi hafidzahullah ta’ala menukil perkataan Ibnu Abi Ya’la dalam Thabaqat Al-
Hanabilah, ia berkata: “Telah menghikayatkan kepadaku kakekku dan nenekku, keduanya berkata:
“Dahulu Abu Muhammad Al Barbahari bersembunyi di tempat saudara wanita Tazun yang berada di
arah timur kota di suatu tempat yang bernama Darbul Hammam jalan Darbus Silsilah. Beliau tinggal
disana sekitar 1 bulan hingga beliau dijemput oleh ajal di tempat tersebut. Maka berkatalah saudara
wanita Tuzun tersebut kepada pembantunya: “Al-Barbahari telah meninggal, carilah siapa kira-kira
orang yang bisa memandikannya?!” Tak lama kemudian pembantu tadi datang dengan orang yang akan
memandikannya. Kemudian beliau pun dimandikan. Setelah itu pembantu tersebut mengunci seluruh
pintu hingga tidak ada seorang pun yang mengetahuinya lantas ia berdiri menshalatkan jenazah Al-
Imam Al-Barbahari sendirian. Ketika pemilik rumah tersebut mengintip, dia melihat ruangan tersebut
telah dipenuhi oleh laki-laki yang mengenakkan pakaian bewarna putih dan hijau. Tatkala telah salan
pembantu tadi tidak melihat seorangpun. Wanita pemilik rumah tersebut lantas memanggilnya seraya
mengatakan: “Ya Hijam, kamu telah membinasakanku dan saudaraku!” Maka pembantu tadi
menjawab: “Wahai nyonya bukankah nyonya melihat sendiri (apa yang telah aku lakukan)?” “Ya!”
jawab si pemilik rumah. Lalu pembantu tadi berkata: “Ini semua kunci-kunci pintunya, semua
tertutup.” Maka tuan wanita berkata: “Kuburkan dia di rumahku, apabila aku mati kuburkanlah aku
disisinya…!”

Dengan demikian wahai saudara pembaca sekalian usai sudah biografi Imam Al-Barbahari
rahimahullah yang tidak lain semua itu menunjukkan tingginya kemuliaan dan kedudukan beliau
diantara ahlul ilmi. Untuk menambah wawasan tentang kisah perjalanan beliau rahimahullah silahkan
merujuk sumber-sumber yang telah disebutkan oleh Syaikh ArRadadi hafidzahullah ta’ala berikut ini
yang semoga bisa membangkitkan semangat untuk meneladani tingkah dan perilaku beliau baik yang
berupa ilmu dan amal shalih maupun sikap zuhud terhadap dunia yang diberikan oleh Allah kepadanya
serta sikap beliau yang mengedepankan sesuatu yang kekal daripada yang akan lenyap.

Akhirnya kita memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala semoga melimpahkan keluasan karunia dan
rahmatNya kepada beliau dan seluruh ulama Muslimin yang masih hidup maupun yang sudah tiada
serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan ihsan hingga tegaknya Hari Pembalasan.

     1. Thabaqat AlHanabilah, Ibnu Abi Ya’la (2/18-45)
     2. Al-Muntadham, Ibnul Jauzi (14/14-15)
     3. Al-Kamil fit Tarikh, Ibnul Atsir (8/378)
     4. Al-`Ibar fi Khabari man Ghabar, Adz Dzahabi (2/33)
     5. Siyar A’lamin Nubala`, Adz-Dzahabi (15/90-93)
     6. Tarikhul Islam, Adz-Dzahabi (Hawadits wa wafyiat 321-330 H, hal 258-260)
     7. Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir (11/213-214)
     8. Al-Wafiy bil Wafiyat, Ash Shafadi (12/146-147)
     9. Mir’atul Janan, Al Yafi’i (2/286-287)
     10. Syidzaratu Adz Dzahab, Ibnul ‘Imad (2/319-323)
     11. Al-Minhajul Ahmad, Al-‘Alimi (2/26-39)
     12. Al-Maqashidul Arsyad, Ibnu Muflih (1/228-230)
     13. Al-Manaqib Al-Imam Ahmad, Ibnul Jauzi (hal 512-513)
     14. Jam’ul Juyusy wad Dasakir ‘ala Ibni ‘Asakir, Yusuf Ibnu ‘Abdil Hadi (Lam/81 Ba’)
     15. Al-A’lam, Az-Zarkali (2/201)
     16. Mu’jamul Mu’allifiin, Ridha Kahalah (3/253)
     17. Tarikh At-Turats Al-‘Arabi, Sazkin (1/234-235)

Dikutip dari buku Penjelasan Syarhus Sunnah Imam Al Barbahari Meniti Sunnah ditengah badai
fitnah karya Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi (buku 1), penerbit Maktabah AlGhuroba` hal 25-
33 dengan sedikit perubahan.

(1) Berkata Syaikh ArRadadi: “Lihat dalam penisbahannya “AlAnsab” karya AsSam’ani (1/307) dan “AlLubab” karya Ibnu
Atsir (1/133)”

Dinukil dari blog: http://mumtazanas.wordpress.com




                                                           
                 Abdul Qadir Al Jailani (471-561 H)
Biografi Syaikh Abdul Qadir Al Jailani termuat dalam kitab Adz Dzail ‘Ala Thabaqil Hanabilah I/301-
390, nomor 134, karya Imam Ibnu Rajab Al Hambali. Tetapi, buku ini belum diterjemahkan ke dalam
bahasa Indonesia.

Beliau adalah seorang ulama besar sehingga suatu kewajaran jika sekarang ini banyak kaum muslimin
menyanjungnya dan mencintainya. Akan tetapi kalau meninggi-ninggikan derajat beliau berada di atas
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka hal ini merupakan suatu kekeliruan. Karena Rasulullah
shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah rasul yang paling mulia di antara para nabi dan rasul yang
derajatnya tidak akan pernah bisa dilampaui di sisi Allah oleh manusia siapapun.

Ada juga sebagian kaum muslimin yang menjadikan Syaikh Abdul Qadir Al Jailani sebagai wasilah
(perantara) dalam do’a mereka. Berkeyakinan bahwa do’a seseorang tidak akan dikabulkan oleh Allah,
kecuali dengan perantaraannya. Ini juga merupakan kesesatan.

Menjadikan orang yang sudah meninggal sebagai perantara tidak ada syari’atnya dan ini sangat
diharamkan. Apalagi kalau ada yang berdo’a kepada beliau. Ini adalah sebuah kesyirikan besar. Sebab
do’a merupakan salah satu bentuk ibadah yang tidak boleh diberikan kepada selain Allah. Allah
melarang makhluknya berdo’a kepada selainNya. Allah berfirman, yang artinya:

“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah
seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” (QS. Al Jin:18)

Kelahirannya

Syaikh Abdul Qadir Al Jailani adalah seorang ‘alim di Baghdad yang lahir pada tahun 490/471 H di
kota Jailan atau disebut juga Kailan. Sehingga di akhir nama beliau ditambahkan kata Al Jailani atau Al
Kailani atau juga Al Jiliy.

Pendidikannya

Pada usia yang masih muda beliau telah merantau ke Baghdad dan meninggalkan tanah kelahirannya.
Di sana beliau belajar kepada beberapa orang ulama seperti Ibnu Aqil, Abul Khatthath, Abul Husein Al
Farra’ dan juga Abu Sa’ad Al Mukharrimi sehingga mampu menguasai ilmu-ilmu ushul dan juga
perbedaan-perbedaan pendapat para ulama.

Pemahamannya

Beliau seorang Imam bermadzhab Hambali. Menjadi guru besar madzhab ini pada masa hidup beliau.
Beliau adalah seorang alim yang beraqidah ahlus sunnah mengikuti jalan Para Pendahulu Islam Yang
Sholeh. Dikenal banyak memiliki karamah-karamah. Tetapi banyak pula orang yang membuat-buat
kedustaan atas nama beliau. Kedustaan itu baik berupa kisah-kisah, perkataan-perkataan, ajaran-ajaran,
“thariqah” yang berbeda dengan jalan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, para sahabatnya dan
lainnya.

Syaikh Abdul Qadir Al Jailani menyatakan dalam kitabnya, Al Ghunyah, “Dia (Allah) di arah atas,
berada di atas ‘ArsyNya, meliputi seluruh kerajaanNya. IlmuNya meliputi segala sesuatu. “Kemudian
beliau menyebutkan ayat-ayat dan hadits-hadits, lalu berkata, “Sepantasnya menetapkan sifat istiwa’
(Allah berada di atas ‘ArsyNya) tanpa takwil (menyimpangkan kepada makna lain, -seperti Allah dihati
atau dimana-mana, ini adalah keyakinan batil-). Dan hal itu merupakan istiwa’ dzat Allah Subhanahu
wa Ta’ala di atas ‘Arsy.

Dakwahnya
Suatu ketika Abu Sa’ad Al Mukharrimi membangun sekolah kecil di sebuah daerah yang bernama
Babul Azaj dan pengelolaannya diserahkan sepenuhnya kepada Syaikh Abdul Qadir. Beliau mengelola
sekolah ini dengan sungguh-sungguh. Bermukim di sana sambil memeberikan nasehat kepada orang-
orang yang ada di sana, sampai beliau meninggal dunia di daerah tersebut.

Banyak sudah orang yang bertaubat demi mendengar nasihat beliau. Banyak orang yang bersimpati
kepada beliau, lalu datang ke sekolah beliau. Sehingga sekolah ini tidak kuat menampungnya. Maka
diadakan perluasan.

Imam Adz Dzahabi dalam menyebutkan biografi Syaikh Abdul Qadir Al Jailani dalam Siyar A’lamin
Nubala, menukilkan perkataan Syaikh sebagai berikut, “Lebih dari lima ratus orang masuk Islam lewat
tanganku, dan lebih dari seratus ribu orang telah bertaubat.”

Murid-murid beliau banyak yang menjadi ulama terkenal, seperti Al Hafidz Abdul Ghani yang
menyusun Umdatul Ahkam Fi Kalami Khairil Anam. Ibnu Qudamah penyusun kitab fiqh terkenal Al
Mughni.

Wafatnya

Beliau Wafat pada hari Sabtu malam, setelah maghrib, pada tanggal 9 Rabi’ul Akhir tahun 561 H di
daerah Babul Azaj.

Pendapat Para Ulama tentang Beliau

Ketika ditanya tentang Syaikh Abdul Qadir Al jailani, Ibnu Qudamah menjawab, “Kami sempat
berjumpa dengan beliau di akhir masa kehidupannya. Beliau menempatkan kami di sekolahnya. Beliau
sangat perhatian kepada kami. Kadang beliau mengutus putra beliau Yahya untuk menyalakan lampu
buat kami. Terkadang beliau juga mengirimkan makanan buat kami. Beliau senantiasa menjadi imam
dalam shalat fardhu.”

Ibnu Rajab di antaranya mengatakan, “Syaikh Abdul Qadir Al Jailani adalah seorang yang diagungkan
pada masanya. Diagungkan oleh banyak para syaikh, baik ulama dan para ahli zuhud. Beliau memiliki
banyak keutamaan dan karamah. Tetapi ada seorang yang bernama Al Muqri’ Abul Hasan Asy
Syathnufi Al Mishri (orang Mesir) mengumpulkan kisah-kisah dan keutamaan-keutamaan Syaikh
Abdul Qadir Al Jailani dalam tiga jilid kitab. Dia telah menulis perkara-perkara yang aneh dan besar
(kebohongannya). Cukuplah seorang itu dikatakan berdusta, jika dia menceritakan segala yang dia
dengar. Aku telah melihat sebagian kitab ini, tetapi hatiku tidak tenteram untuk meriwayatkan apa yang
ada di dalamnya, kecuali kisah-kisah yang telah masyhur dan terkenal dari kitab selain ini. Karena
kitab ini banyak berisi riwayat dari orang-orang yang tidak dikenal. Juga terdapat perkara-perkara yang
jauh (dari agama dan akal), kesesatan-kesesatan, dakwaan-dakwaan dan perkataan yang batil tidak
terbatas. Semua itu tidak pantas dinisbatkan kepada Syaikh Abdul Qadir Al Jailani. Kemudian aku
dapatkan bahwa Al Kamal Ja’far al Adfawi telah menyebutkan bahwa Asy Syathnufi sendiri tertuduh
berdusta atas kisah-kisah yang diriwayatkannya dalam kitab ini.”

Ibnu Rajab juga berkata, “Syaikh Abdul Qadir Al Jailani memiliki pendapat yang bagus dalam masalah
tauhid, sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala, takdir, dan ilmu-ilmu ma’rifat yang sesuai dengan
sunnah. Beliau memiliki kitab Al Ghunyah Li Thalibi Thariqil Haq, kitab yang terkenal. Beliau juga
mempunyai kitab Futuhul Ghaib. Murid-muridnya mengumpulkan perkara-perkara yang banyak
berkaitan dengan nasehat dari majelis-majelis beliau. Dalam masalah-masalah sifat, takdir dan lainnya,
ia berpegang pada sunnah. “

Imam Adz Dzahabi mengatakan, “intinya Syaikh Abdul Qadir Al Jailani memiliki kedudukan yang
agung. Tetapi terdapat kritikan-kritikan terhadap sebagian perkataannya, dan Allah Subhanahu wa
Ta’ala menjanjikan (ampunan atas kesalahan-kesalahan orang-orang beriman). Namun sebagian
perkataannya merupakan kedustaan atas nama beliau.”
Imam Adz Dzahabi juga berkata, “Tidak ada seorangpun para ulama besar yang riwayat hidup dan
karamahnya lebih banyak kisah hikayat, selain Syaikh Abdul Qadir Al Jailani, dan banyak di antara
riwayat-riwayat itu yang tidak benar bahkan ada yang mustahil terjadi.”




                                                
                Al-Hafidh Al-Mundziri (581- 656 H)
Kelahirannya

Ia adalah seorang hafidh yang besar, Zakiyyuddin Abdul ‘Adhim bin Abdul-Qawiy bin Abdullah bin
Salamah Abu Muhammad Al-Mundziri, berasal dari Damaskus, namun dilahirkan dan wafat di Mesir.
Ia dilahirkan pada tahun 581 H.

Guru-Gurunya

Ia belajar Al-Qur’an dan mendalaminya. Kemudian belajar ilmu hadits hingga mahir.
Ia mendengar hadits dari sejumlah ulama’ hadits, seperti Abul-Hasan Ali bin
Mufadldlal Al-Muqaddasi. Ia berguru kepadanya hingga tamat. Di Madinah kota
Nabi, ia berguru kepada Al-Hafidh Ja’far bin Umusan. Di Damaskus, ia berguru pada
‘Umar bin Thabrazad. Ia juga berguru ke Najran. Iskandariyah, Raha, dan Baitul-
Maqdis. Ia mulai berguru pada tahun 591 H ketika berusia sepuluh tahun.

Murid-Muridnya

Sejumlah ulama yang pernah belajar hadits padanya antara lain Al-Hafidh Ad-
Dimyathi yang berguru sampai tamat, Al-‘Allamah Taqiyyuddin Ibnu Daqqiiqil-‘Ied,
Al-Yunaini Abul-Husain, Ismail bin Asakir, dan Syarif ‘Izzudin.

Ia mengajar di Universitas Adh-Dhafiri di Kairo. Kemudian menjadi wali wilayah Dar Kamilah.
Tetapi, kemudian beliau meninggalkan jabatan itu untuk menyebarkan ilmu selama dua puluh tahun.

Kelebihannya

Asy-Syarif ‘Izzuddin Al-Hafidh berkata,”Syaikh kita Zakiyyuddin jarang
tandingannya dalam ilmu hadits dengan segala cabangnya. Pandai tentang matan
hadits yangshahih, yang saqiim (sakit), dan yang cacat beserta jalan-jalannya.
Mendalam dan luas ilmunya tentang hukum, makna-maknanya, dan permasalahan-
permasalahannya. Sangan pandai tentang makna-makna hadits yang ganjil, I’rab-nya,
dan lafal-lafalnya yang bermacam-macam. Mahir dalam mengetahui perawi-
perawinya, celaan terhadap para perawi hadits, dan pujian terhadap mereka,
kesempurnaan mereka, sejarah kelahiran mereka, serta informasi tentang mereka.
Menjadi imam (pemuka, tokoh) yang argumentative, teguh pendirian, wara’, selektif
dalam berkata-kata, dan mantap dalam meriwayatkan”.

Adz-Dzahabi berkata,”Pada jamannya, tidak ada orang yang lebih hafidh (hafal hadits) darinya”.

Informasi tentang Al-Mundziri

Ia memberi fatwa (mufti) di negeri Mesir. Tetapi, kemudian berhenti dari pekerjaan ini.
Keberhentiannya dari tugas ini menguakkan informasi tentang kejujuran, kelapangan hati, dan
pengakuannya terhadap suatu keutamaan bagi yang berwenang. Hal itu diisyaratkan oleh At-Taj As-
Subki yang mengatakan,”Saya mendengar dari ayah (yaitu Taqiyyuddin As-Subki) menceritakan
bahwa Syaikh ‘Izzuddin Abdus-Salam itu mendengar (belajar) hadits di Damaskus hanya sedikit.
Tetapi, setelah datang ke Kairo, maka dia sering datang di majelis Syaikh Zakiyyuddin (yaitu Al-
Mundziri) dan mendengar pelajarannya bersama sejumlah orang yang mendengarnya,. Syaikh
Zakiyyuddin juga meninggalkan tugas memberi fatwa”. Ayah berkata,”Dimana datang Syaikh
‘Izzuddin, maka orang-orang tidak memerlukan aku lagi”.
Wafatnya

Imam Al-Mundziri rahimahullah wafat pada tanggal 4 Dzulqa’dah tahun 656 H.




                                       
                         Imam An-Nawawi (631-676H)
Nama dan Nasabnya

Beliau adalah Al Imam Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syaraf bin Murri bin Hasan bin Hussain bin
Jumu’ah bin Hizam Al Hizamy An Nawawi Asy Syafi’i.

Kelahirannya

Beliau dilahirkan pada bulan Muharram tahun 631 H di Nawa daerah Hauran termasuk wilayah
Damaskus Syiria.

Sifat – sifatnya

Beliau adalah tauladan dalam kezuhudan, wara’, dan memerintah pada yang ma’ruf dan melarang pada
yang mungkar.

Pertumbuhannya

Ayahandanya mendidik, mengajarnya, dan menumbuhkan kecintaan kepada ilmu sejak usia dini.
Beliau mengkhatamkan Al Qur’an sebelum baligh. Ketika Nawa tempat kelahirannya tidak mencukupi
kebutuhannya akan ilmu, maka ayahandanya membawanya ke Damaskus untuk menuntut ilmu, waktu
itu beliau berusia 19 tahun. Dalam waktu empat setengah bulan beliau hafal Tanbih oleh Syairazi, dan
dalam waktu kurang dari setahun hafal Rubu’ Ibadat dari kitab muhadzdzab.

Setiap hari beliau menelaah 12 pelajaran, yaitu dua pelajaran dalam Al Wasith, satu pelajaran dalam
Muhadzdzab, satu pelajaran dalam Jamu’ baina shahihain, satu pelajaran dalam Shahih Muslim, satu
pelajaran dalam Luma’ oleh Ibnu Jinny, satu pelajaran dalam Ishlahul Manthiq, satu pelajaran dalam
tashrif, satu pelajaran dalam Ushul Fiqh, satu pelajaran dalam Asma’ Rijal, dan satu pelajaran dalam
Ushuluddin.

Guru – guru

Di antara guru – gurunya dalam ilmu fiqh dan ushulnya adalah Ishaq bin Ahmad bin Utsman Al
Maghriby, Abdurrahman bin Nuh bin Muhammad Al Maqdisy, Sallar bin Hasan Al Irbily, Umar bin
Indar At Taflisy, Abdurrahman bin Ibrahim Al Fazary.

Adapun guru – gurunya dalam bidang hadits adalah Abdurrahman bin Salim Al Anbary, Abdul Aziz
bin Muhammad Al Anshory, Khalid bin Yusuf An Nabilisy, Ibrahim bin Isa Al Murady, Ismail bin
Ishaq At Tanukhy, dan Abdurrahman bin Umar Al Maqdisy.

Adapun guru – gurunya dalam bidang Nahwu dan Lughah adalah Ahmad bin Salim Al Mishry dan
Izzuddin Al Maliky.

Murid – muridnya

Di antara murid muridnya adalah Sulaiman bin Hilal Al Ja’fary, Ahmad bin Farrah Al Isybily,
Muhammad bin Ibrahim bin Jama’ah, Ali bin Ibrahim Ibnul Aththar, Syamsuddin bin Naqib,
Syamsuddin bin Ja’wan dan yang lainnya.

Pujian para ulama kepadanya

Ibnul Aththar berkata,
         “Guru kami An Nawawi disamping selalu bermujahadah, wara’, muraqabah, dan
         mensucikan jiwanya, beliau adalah seorang yang hafidz terhadap hadits, bidang –
         bidangnya, rijalnya, dan ma’rifat shahih dan dha’ifnya, beliau juga seorang imam
         dalam madzhab fiqh.”

Quthbuddin Al Yuniny berkata,

         “Beliau adalah teladan zamannya dalam ilmu, wara’, ibadah, dan zuhud.”

Syamsuddin bin Fakhruddin Al Hanbaly,

         “Beliau adalah seorang imam yang menonjol, hafidz yang mutqin, sangat wara’ dan
         zuhud.”

Aqidahnya

Al Imam An Nawawi terpengaruh dengan pikiran Asy ‘ariyyah sebagaimana nampak dalam Syarh
Shahih Muslim dalam mentakwil hadits – hadits tentang sifat – sifat Allah. Hal ini memiliki sebab –
sebab yang banyak di antaranya ;

    1. Terpengaruh dengan pensyarah Shahih Muslim yang sebelumnya seperti Qadhi Iyadh,
         Maziry, dan yang lainnya, karena beliau banyak menukil dari mereka ketika mensyarah
         Shahih Muslim.
    2.   Beliau belum sempat secara penuh mengoreksi dan mentahqiq tulisan – tulisannya, tetapi
         beliau tidak mengikuti semua pemikiran Asy’ariyyah bahkan menyelisihi mereka dalam
         banyak masalah.
    3.   Beliau tidak banyak mendalami masalah Asma’ wa Sifat, sehingga banyak terpengaruh
         dengan pemikiran Aay’ariyyah yang berkembang pesat di zamannya.

Di antara keadaan – keadaannya

Ibnul Aththar berkata,

         “Guru kami An Nawawi menceritakan kepadaku bahwa beliau tidak pernah sama
         sekali menyia – nyiakan waktu , tidak di waktu malam atau di waktu siang bahkan
         sampai di jalan beliau terus dalam menelaah dan manghafal.”

Rasyid bin Mu’aliim berkata,

         “Syaikh Muhyiddin An Nawawi sangat jarang masuk kamar kecil, sangat sedikit
         makan dan minumya, sangat takut mendapat penyakit yang menghalangi
         kesibukannya, sangat menghindari buah – buahan dan mentimun karena takut
         membasahkan jasadnya dan membawa tidur, beliau sehari semalam makan sekali dan
         minum seteguk air di waktu sahur.”

Kitab-kitabnya

Di antara tulisan – tulisannya dalam bidang hadits adalah Syarah Shahih Muslim, Al Adzkar, Arba’in,
Syarah Shahih Bukhary, Syarah Sunan Abu Dawud, dan Riyadhus Shalihin.

Diantara tulisan – tulisannya dalam bidang ilmu Al Qur’an adalah At Tibyan fi Adabi Hamalatil
Qur’an.
Wafat

Al Imam An Nawawi wafat di Nawa pada 24 Rajab tahun 676 H dalam usia 45 tahun dan dikuburkan
di Nawa. semoga Allah meridhoinya dan menempatkannya dalam keluasan jannahNya.

Sumber: Tadzkiratul Huffadzoleh Adz Dzahaby 4 / 1470 – 1473 dan Bidayah wan Nihayah oleh Ibnu Katsir 13/230 – 231.




                                                            
     Imam Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah (wafat 656 H)
Nama seberanya adalah Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abi Bakr bin Ayyub bin Sa’ad bin
Huraiz az-Zar’i, kemudian ad-Dimasyqi. Dikenal dengan ibnul Qayyim al-Jauziyyah nisbat kepada
sebuah madrasah yang dibentuk oleh Muhyiddin Abu al-Mahasin Yusuf bin Abdil Rahman bin Ali al-
Jauzi yang wafat pada tahun 656 H, sebab ayah Ibnul Qayyim adalah tonggak bagi madrasah itu. Ibnul
Qayyim dilahirkan di tengah keluarga berilmu dan terhormat pada tanggal 7 Shaffar 691 H. Di
kampung Zara’ dari perkampungan Hauran, sebelah tenggara Dimasyq (Damaskus) sejauh 55 mil.

Pertumbuhan Dan Thalabul Ilminya

Ia belajar ilmu faraidl dari bapaknya karena beliau sangat menonjol dalam ilmu itu. Belajar bahasa
Arab dari Ibnu Abi al-Fath al-Baththiy dengan membaca kitab-kitab: (al-Mulakhkhas li Abil Balqa’
kemudian kitab al-Jurjaniyah, kemudian Alfiyah Ibnu Malik, juga sebagian besar Kitab al-kafiyah was
Syafiyah dan sebagian at-Tas-hil). Di samping itu belajar dari syaikh Majduddin at-Tunisi satu bagian
dari kitab al-Muqarrib li Ibni Ushfur.

Belajar ilmu Ushul dari Syaikh Shafiyuddin al-Hindi, Ilmu Fiqih dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
dan Syaikh Isma’il bin Muhammad al-Harraniy.

Beliau amat cakap dalam hal ilmu melampaui teman-temannya, masyhur di segenap penjuru dunia dan
amat dalam pengetahuannya tentang madzhab-madzhab Salaf.

Pada akhirnya beliau benar-benar bermulazamah secara total (berguru secara intensif) kepada Ibnu
Taimiyah sesudah kembalinya Ibnu Taimiyah dari Mesir tahun 712 H hingga wafatnya tahun 728 H.
Pada masa itu, Ibnul Qayyim sedang pada awal masa-masa mudanya. Oleh karenanya beliau sempat
betul-betul mereguk sumber mata ilmunya yang luas. Beliau dengarkan pendapat-pendapat Ibnu
Taimiyah yang penuh kematangan dan tepat. Oleh karena itulah Ibnul Qayyim amat mencintainya,
sampai-sampai beliau mengambil kebanyakan ijtihad-ijtihadnya dan memberikan pembelaan atasnya.
Ibnul Qayyim yang menyebarluaskan ilmu Ibnu Taimiyah dengan cara menyusun karya-karyanya yang
bagus dan dapat diterima.

Ibnul Qayyim pernah dipenjara, dihina dan diarak berkeliling bersama Ibnu Taimiyah sambil didera
dengan cambuk di atas seekor onta. Setelah Ibnu Taimiyah wafat, Ibnul Qayyim pun dilepaskan dari
penjara.

Sebagai hasil dari mulazamahnya (bergurunya secara intensif) kepada Ibnu Taimiyah, beliau dapat
mengambil banyak faedah besar, diantaranya yang penting ialah berdakwah mengajak orang supaya
kembali kepada kitabullah Ta’ala dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahihah,
berpegang kepada keduanya, memahami keduanya sesuai dengan apa yang telah difahami oleh as-
Salafus ash-Shalih, membuang apa-apa yang berselisih dengan keduanya, serta memperbaharui segala
petunjuk ad-Din yang pernah dipalajarinya secara benar dan membersihkannya dari segenap bid’ah
yang diada-adakan oleh kaum Ahlul Bid’ah berupa manhaj-manhaj kotor sebagai cetusan dari hawa-
hawa nafsu mereka yang sudah mulai berkembang sejak abad-abad sebelumnya, yakni: Abad
kemunduran, abad jumud dan taqlid buta.

Beliau peringatkan kaum muslimin dari adanya khurafat kaum sufi, logika kaum filosof dan zuhud
model orang-orang hindu ke dalam fiqrah Islamiyah.

Ibnul Qayyim rahimahullah telah berjuang untuk mencari ilmu serta bermulazamah bersama para
Ulama supaya dapat memperoleh ilmu mereka dan supaya bisa menguasai berbagai bidang ilmu Islam.

Penguasaannya terhadap Ilmu Tafsir tiada bandingnya, pemahamannya terhadap Ushuluddin mencapai
puncaknya dan pengetahuannya mengenai Hadits, makna hadits, pemahaman serta Istinbath-Istinbath
rumitnya, sulit ditemukan tandingannya.
Semuanya itu menunjukkan bahwa beliau rahimahullah amat teguh berpegang pada prinsip, yakni
bahwa “Baiknya” perkara kaum Muslimin tidak akan pernah terwujud jika tidak kembali kepada
madzhab as-Salafus ash-Shalih yang telah mereguk ushuluddin dan syari’ah dari sumbernya yang
jernih yaitu Kitabullah al-‘Aziz serta sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam asy-syarifah.

Oleh karena itu beliau berpegang pada (prinsip) ijtihad serta menjauhi taqlid. Beliau ambil istinbath
hukum berdasarkan petunjuk al-Qur’anul Karim, Sunnah Nabawiyah syarifah, fatwa-fatwa shahih para
shahabat serta apa-apa yang telah disepakati oleh ahlu ats tsiqah (ulama terpercaya) dan A’immatul
Fiqhi (para imam fiqih).

Dengan kemerdekaan fikrah dan gaya bahasa yang logis, beliau tetapkan bahwa setiap apa yang dibawa
oleh Syari’ah Islam, pasti sejalan dengan akal dan bertujuan bagi kebaikan serta kebahagiaan manusia
di dunia maupun di akhirat.

Beliau rahimahullah benar-benar menyibukkan diri dengan ilmu dan telah benar-benar mahir dalam
berbagai disiplin ilmu, namun demikian beliau tetap terus banyak mencari ilmu, siang maupun malam
dan terus banyak berdo’a.

Sasarannya

Sesungguhnya Hadaf (sasaran) dari Ulama Faqih ini adalah hadaf yang agung. Beliau telah susun
semua buku-bukunya pada abad ke-tujuh Hijriyah, suatu masa dimana kegiatan musuh-musuh Islam
dan orang-orang dengki begitu gencarnya. Kegiatan yang telah dimulai sejak abad ketiga Hijriyah
ketika jengkal demi jengkal dunia mulai dikuasai Isalam, ketika panji-panji Islam telah berkibar di
semua sudut bumi dan ketika berbagai bangsa telah banyak masuk Islam; sebahagiannya karena iman,
tetapi sebahagiannya lagi terdiri dari orang-orang dengki yang menyimpan dendam kesumat dan
bertujuan menghancurkan (dari dalam pent.) dinul Hanif (agama lurus). Orang-orang semacam ini
sengaja melancarkan syubhat (pengkaburan)-nya terhadap hadits-hadits Nabawiyah Syarif dan terhadap
ayat-ayat al-Qur’anul Karim.

Mereka banyak membuat penafsiran, ta’wil-ta’wil, tahrif, serta pemutarbalikan makna dengan maksud
menyebarluaskan kekaburan, bid’ah dan khurafat di tengah kaum Mu’minin.

Maka adalah satu keharusan bagi para A’immatul Fiqhi serta para ulama yang memiliki semangat
pembelaan terhadap ad-Din, untuk bertekad memerangi musuh-musuh Islam beserta gang-nya dari
kalangan kaum pendengki, dengan cara meluruskan penafsiran secara shahih terhadap ketentuan-
ketentuan hukum syari’ah, dengan berpegang kepada Kitabullah wa sunnatur Rasul shallallahu ‘alaihi
wa sallam sebagai bentuk pengamalan dari Firman Allah Ta’ala: “Dan Kami turunkan Al Qur’an
kepadamu, agar kamu menerangkan kepada Umat manusia apa yang telah diturunkan kepada
mereka.” (an-Nahl:44).

Juga firman Allah Ta’ala, “Dan apa-apa yang dibawa Ar Rasul kepadamu maka ambillah ia, dan apa-
apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (al-Hasyr:7).

Murid-Muridnya

Ibnul Qayyim benar-benar telah menyediakan dirinya untuk mengajar, memberi fatwa, berdakwah dan
melayani dialog. Karena itulah banyak manusia-manusia pilihan dari kalangan para pemerhati yang
menempatkan ilmu sebagai puncak perhatiannya, telah benar-benar menjadi murid beliau. Mereka itu
adalah para Ulama terbaik yang telah terbukti keutamaannya, di antaranya ialah: anak beliau sendiri
bernama Syarafuddin Abdullah, anaknya yang lain bernama Ibrahim, kemudian Ibnu Katsir ad-
Dimasyqiy penyusun kitab al-Bidayah wan Nihayah, al-Imam al-Hafizh Abdurrahman bin Rajab al-
Hambali al-Baghdadi penyusun kitab Thabaqat al-Hanabilah, Ibnu Abdil Hadi al-Maqdisi, Syamsuddin
Muhammad bin Abdil Qadir an-Nablisiy, Ibnu Abdirrahman an-Nablisiy, Muhammad bin Ahmad bin
Utsman bin Qaimaz adz-Dzhahabi at-Turkumaniy asy-Syafi’i, Ali bin Abdil Kafi bin Ali bin Taman As
Subky, Taqiyussssddin Abu ath-Thahir al-Fairuz asy-Syafi’i dan lain-lain.

Aqidah Dan Manhajnya
Adalah Aqidah Ibnul Qayyim begitu jernih, tanpa ternodai oleh sedikit kotoran apapun, itulah
sebabnya, ketika beliau hendak membuktikan kebenaran wujudnya Allah Ta’ala, beliau ikuti manhaj
al-Qur’anul Karim sebagai manhaj fitrah, manhaj perasaan yang salim dan sebagai cara pandang yang
benar. Beliau –rahimahullah- sama sekali tidak mau mempergunakan teori-teori kaum filosof.

Ibnul Qayiim rahimahullah mengatakan, “Perhatikanlah keadaan alam seluruhnya –baik alam bawah
maupun- alam atas dengan segala bagian-bagaiannya, niscaya anda akan temui semua itu memberikan
kesaksian tentang adanya Sang Pembuat, Sang Pencipta dan Sang Pemiliknya. Mengingkari adanya
Pencipta yang telah diakui oleh akal dan fitrah berarti mengingkari ilmu, tiada beda antara keduanya.
Bahwa telah dimaklumi; adanya Rabb Ta’ala lebih gamblang bagi akal dan fitrah dibandingkan dengan
adanya siang hari. Maka barangsiapa yang akal serta fitrahnya tidak mampu melihat hal demikian,
berarti akal dan fitrahnya perlu dipertanyakan.”

Hadirnya Imam Ibnul Qayyim benar-benar tepat ketika zaman sedang dilanda krisis internal berupa
kegoncangan dan kekacauan (pemikiran Umat Islam–Pent.) di samping adanya kekacauan dari luar
yang mengancam hancurnya Daulah Islamiyah. Maka wajarlah jika anda lihat Ibnul Qayyim waktu itu
memerintahkan untuk membuang perpecahan sejauh-jauhnya dan menyerukan agar umat berpegang
kepada Kitabullah Ta’ala serta Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Manhaj serta hadaf Ibnul Qayyim rahimahullah ialah kembali kepada sumber-sumber dinul Islam yang
suci dan murni, tidak terkotori oleh ra’yu-ra’yu (pendapat-pendapat) Ahlul Ahwa’ wal bida’ (Ahli
Bid’ah) serta helah-helah (tipu daya) orang-orang yang suka mempermainkan agama.

Oleh sebab itulah beliau rahimahullah mengajak kembali kepada madzhab salaf; orang-orang yang
telah mengaji langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Merekalah sesungguhnya yang
dikatakan sebagai ulama waratsatun nabi (pewaris nabi) shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam pada itu,
tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewariskan dinar atau dirham, tetapi beliau
mewariskan ilmu. Berkenaan dengan inilah, Sa’id meriwayatkan dari Qatadah tentang firman Allah
Ta’ala,
“Dan orang-orang yang diberi ilmu (itu) melihat bahwa apa yang diturunkan kepadamu dari Rabb mu
itulah yang haq.” (Saba’:6).

Qotadah mengatakan, “Mereka (orang-orang yang diberi ilmu) itu ialah para sahabat Muhammad
shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Di samping itu, Ibnul Qayyim juga mengumandangkan bathilnya madzhab taqlid.

Kendatipun beliau adalah pengikut madzhab Hanbali, namun beliau sering keluar dari pendapatnya
kaum Hanabilah, dengan mencetuskan pendapat baru setelah melakukan kajian tentang perbandingan
madzhab-madzhab yang masyhur.

Mengenai pernyataan beberapa orang bahwa Ibnul Qayyim telah dikuasai taqlid terhadap imam
madzhab yang empat, maka kita memberi jawaban sebagai berikut, Sesungguhnya Ibnul Qayyim
rahimahullah amat terlalu jauh dari sikap taqlid. Betapa sering beliau menyelisihi madzhab Hanabilah
dalam banyak hal, sebaliknya betapa sering beliau bersepakat dengan berbagai pendapat dari madzhab-
madzhab yang bermacam-macam dalam berbagai persoalan lainnya.

Memang, prinsip beliau adalah ijtihad dan membuang sikap taqlid. Beliau rahimahullah senantiasa
berjalan bersama al-Haq di mana pun berada, ittijah (cara pandang)-nya dalam hal tasyari’ adalah al-
Qur’an, sunnah serta amalan-amalan para sahabat, dibarengi dengan ketetapannya dalam berpendapat
manakala melakukan suatu penelitian dan manakala sedang berargumentasi.

Di antara da’wahnya yang paling menonjol adalah da’wah menuju keterbukaan berfikir. Sedangkan
manhajnya dalam masalah fiqih ialah mengangkat kedudukan nash-nash yang memberi petunjuk atas
adanya sesuatu peristiwa, namun peristiwa itu sendiri sebelumnya belum pernah terjadi.

Adapun cara pengambilan istinbath hukum, beliau berpegang kepada al-Kitab, as-Sunnah, Ijma’
Fatwa-fatwa shahabat, Qiyas, Istish-habul Ashli (menyandarkan persoalan cabang pada yang asli), al-
Mashalih al-Mursalah, Saddu adz-Dzari’ah (tindak preventif) dan al-‘Urf (kebiasaan yang telah diakui
baik).

Ujian Yang Dihadapi

Adalah wajar jika orang ‘Alim ini, seorang yang berada di luar garis taqlid turun temurun dan menjadi
penentang segenap bid’ah yang telah mengakar, mengalami tantangan seperti banyak dihadapi oleh
orang-orang semisalnya, menghadapi suara-suara sumbang terhadap pendapat-pendapat barunya.

Orang-orang pun terbagi menjadi dua kubu: Kubu yang fanatik kepadanya dan kubu lainnya kontra.
Oleh karena itu, beliau rahimahullah menghadapi berbagai jenis siksaan. Beliau seringkali mengalami
gangguan. Pernah dipenjara bersama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah secara terpisah-pisah di penjara al-
Qal’ah dan baru dibebaskan setelah Ibnu Taimiyah wafat.

Hal itu disebabkan karena beliau menentang adanya anjuran agar orang pergi berziarah ke kuburan
para wali. Akibatnya beliau disekap, dihinakan dan diarak berkeliling di atas seekor onta sambil didera
dengan cambuk.

Pada saat di penjara, beliau menyibukkan diri dengan membaca al-Qur’an, tadabbur dan tafakkur.
Sebagai hasilnya, Allah membukakan banyak kebaikan dan ilmu pengetahuan baginya. Di samping
ujian di atas, ada pula tantangan yang dihadapi dari para qadhi karena beliau berfatwa tentang bolehnya
perlombaan pacuan kuda asalkan tanpa taruhan. Sungguhpun demikian Ibnul Qayyim rahimahullah
tetap konsisten (teguh) menghadapi semua tantangan itu dan akhirnya menang. Hal demikian
disebabkan karena kekuatan iman, tekad serta kesabaran beliau. Semoga Allah melimpahkan pahala
atasnya, mengampuninya dan mengampuni kedua orang tuanya serta segenap kaum muslimin.

Pujian Ulama Terhadapnya

Sungguh Ibnul Qayyim rahimahullah teramat mendapatkan kasih sayang dari guru-guru maupun
muridnya. Beliau adalah orang yang teramat dekat dengan hati manusia, amat dikenal, sangat cinta
pada kebaikan dan senang pada nasehat. Siapa pun yang mengenalnya tentu ia akan mengenangnya
sepanjang masa dan akan menyatakan kata-kata pujian bagi beliau. Para Ulama pun telah memberikan
kesaksian akan keilmuan, kewara’an, ketinggian martabat serta keluasan wawasannya.

Ibnu Hajar pernah berkata mengenai pribadi beliau, “Dia adalah seorang yang berjiwa pemberani, luas
pengetahuannya, faham akan perbedaan pendapat dan madzhab-madzhab salaf.”

Di sisi lain, Ibnu Katsir mengatakan, “Beliau seorang yang bacaan Al-Qur’an serta akhlaqnya bagus,
banyak kasih sayangnya, tidak iri, dengki, menyakiti atau mencaci seseorang. Cara shalatnya panjang
sekali, beliau panjangkan ruku’ serta sujudnya hingga banyak di antara para sahabatnya yang
terkadang mencelanya, namun beliau rahimahullah tetap tidak bergeming.”

Ibnu Katsir berkata lagi, “Beliau rahimahullah lebih didominasi oleh kebaikan dan akhlaq shalihah.
Jika telah usai shalat Shubuh, beliau masih akan tetap duduk di tempatnya untuk dzikrullah hingga
sinar matahari pagi makin meninggi. Beliau pernah mengatakan, ‘Inilah acara rutin pagi buatku, jika
aku tidak mengerjakannya nicaya kekuatanku akan runtuh.’ Beliau juga pernah mengatakan, ‘Dengan
kesabaran dan perasaan tanpa beban, maka akan didapat kedudukan imamah dalam hal din
(agama).’”

Ibnu Rajab pernah menukil dari adz-Dzahabi dalam kitabnya al-Mukhtashar, bahwa adz-Dzahabi
mengatakan, “Beliau mendalami masalah hadits dan matan-matannya serta melakukan penelitian
terhadap rijalul hadits (para perawi hadits). Beliau juga sibuk mendalami masalah fiqih dengan
ketetapan-ketetapannya yang baik, mendalami nahwu dan masalah-masalah Ushul.”

Tsaqafahnya
Ibnul Qayyim rahimahullah merupakan seorang peneliti ulung yang ‘Alim dan bersungguh-sungguh.
Beliau mengambil semua ilmu dan mengunyah segala tsaqafah yang sedang jaya-jayanya pada masa itu
di negeri Syam dan Mesir.

Beliau telah menyusun kitab-kitab fiqih, kitab-kitab ushul, serta kitab-kitab sirah dan tarikh. Jumlah
tulisan-tulisannya tiada terhitung banyaknya, dan diatas semua itu, keseluruhan kitab-kitabnya
memiliki bobot ilmiah yang tinggi. Oleh karenanyalah Ibnul Qayyim pantas disebut kamus segala
pengetahuan ilmiah yang agung.

Karya-Karyanya

Beliau rahimahullah memang benar-benar merupakan kamus berjalan, terkenal sebagai orang yang
mempunyai prinsip dan beliau ingin agar prinsipnya itu dapat tersebarluaskan. Beliau bekerja keras
demi pembelaannya terhadap Islam dan kaum muslimin. Buku-buku karangannya banyak sekali, baik
yang berukuran besar maupun berukuran kecil. Beliau telah menulis banyak hal dengan tulisan
tangannya yang indah. Beliau mampu menguasai kitab-kitab salaf maupun khalaf, sementara orang lain
hanya mampun menguasai sepersepuluhnya. Beliau teramat senang mengumpulkan berbagai kitab.
Oleh sebab itu Imam ibnul Qayyim terhitung sebagai orang yang telah mewariskan banyak kitab-kitab
berbobot dalam pelbagai cabang ilmu bagi perpustakaan-perpustakaan Islam dengan gaya bahasanya
yang khas; ilmiah lagi meyakinkan dan sekaligus mengandung kedalaman pemikirannya dilengkapi
dengan gaya bahasa nan menarik.

Beberapa Karyanya

1. Tahdzib Sunan Abi Daud,
2. I’lam al-Muwaqqi’in ‘an Rabbil ‘Alamin,
3. Ighatsatul Lahfan fi Hukmi Thalaqil Ghadlban,
4. Ighatsatul Lahfan fi Masha`id asy-Syaithan,
5. Bada I’ul Fawa’id,
6. Amtsalul Qur’an,
7. Buthlanul Kimiya’ min Arba’ina wajhan,
8. Bayan ad-Dalil ’ala istighna’il Musabaqah ‘an at-Tahlil,
9. At-Tibyan fi Aqsamil Qur’an,
10. At-Tahrir fi maa yahillu wa yahrum minal haris,
11. Safrul Hijratain wa babus Sa’adatain,
12. Madarijus Salikin baina manazil Iyyaka na’budu wa Iyyaka nasta’in,
13. Aqdu Muhkamil Ahya’ baina al-Kalimit Thayyib wal Amais Shalih al-Marfu’ ila Rabbis Sama’
14. Syarhu Asma’il Kitabil Aziz,
15. Zaadul Ma’ad fi Hadyi Kairul Ibad,
16. Zaadul Musafirin ila Manazil as-Su’ada’ fi Hadyi Khatamil Anbiya’
17. Jala’ul Afham fi dzkris shalati ‘ala khairil Am,.
18. Ash-Shawa’iqul Mursalah ‘Alal Jahmiyah wal Mu’aththilah,
19. Asy-Syafiyatul Kafiyah fil Intishar lil firqatin Najiyah,
20. Naqdul Manqul wal Muhakkil Mumayyiz bainal Mardud wal Maqbul,
21. Hadi al-Arwah ila biladil Arrah,
22. Nuz-hatul Musytaqin wa raudlatul Muhibbin,
23. al-Jawabul Kafi Li man sa`ala ’anid Dawa`is Syafi,
24. Tuhfatul Wadud bi Ahkamil Maulud,
25. Miftah daris Sa’adah,
26. Ijtima’ul Juyusy al-Islamiyah ‘ala Ghazwi Jahmiyyah wal Mu’aththilah,
27. Raf’ul Yadain fish Shalah,
28. Nikahul Muharram,
29. Kitab tafdlil Makkah ‘Ala al-Madinah,
30. Fadl-lul Ilmi,
31. ‘Uddatus Shabirin wa Dzakhiratus Syakirin,
32. al-Kaba’ir,
33. Hukmu Tarikis Shalah,
34. Al-Kalimut Thayyib,
35. Al-Fathul Muqaddas,
36. At-Tuhfatul Makkiyyah,
37. Syarhul Asma il Husna,
38. Al-Masa`il ath-Tharablusiyyah,
39. Ash-Shirath al-Mustaqim fi Ahkami Ahlil Jahim,
40. Al-Farqu bainal Khullah wal Mahabbah wa Munadhorotul Khalil li qaumihi,
41. Ath-Thuruqul Hikamiyyah, dan masih banyak lagi kitab-kitab serta karya-karya besar beliau yang
digemari oleh berbagai pihak.

Wafatnya

Ibnul-Qoyyim meninggal dunia pada waktu isya’ tanggal 13 Rajab 751 H. Ia dishalatkan di Mesjid
Jami’ Al-Umawi dan setelah itu di Masjid Jami’ Jarrah; kemudian dikuburkan di Pekuburan Babush
Shagir.

Sumber:
1. Al-Bidayah wan Nihayah libni Katsir,
2. Muqaddimah Zaadil Ma’ad fi Hadyi Khairil Ibad, Tahqiq: Syu’ab wa Abdul Qadir al-Arna`uth,
3. Muqaddimah I’lamil Muwaqqi’in ‘an Rabbil ‘alamin; Thaha Abdur Ra’uf Sa’d,
4. Al-Badrut Thali’ Bi Mahasini ma Ba’dal Qarnis Sabi’ karya Imam asy-Syaukani,
5. Syadzaratudz dzahab karya Ibn Imad,
6. Ad-Durar al-Kaminah karya Ibn Hajar al-‘Asqalani,
7. Dzail Thabaqat al-Hanabilah karya Ibn Rajab Al Hanbali,
8. Al Wafi bil Wafiyat li Ash Shafadi,
9. Bughyatul Wu’at karya Suyuthi,
10. Jala’ul ‘Ainain fi Muhakamah al-Ahmadin karya al-Alusi,




                                                            
                Ibnu Hajar Al ‘Asqolani (773-852 H)
Nama dan Nasabnya

Nama sebenarnya Syihabuddin Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin
Mahmud bin Hajar, al Kinani, al ‘Asqalani, asy Syafi’i, al Mishri. Kemudian dikenal dengan nama
Ibnu Hajar, dan gelarnya “al Hafizh”. Adapun penyebutan ‘Asqalani adalah nisbat kepada ‘Asqalan’,
sebuah kota yang masuk dalam wilayah Palestina, dekat Ghuzzah.

Kelahirannya

Beliau lahir di Mesir pada bulan Sya’ban 773 H, namun tanggal kelahirannya diperselisihkan. Beliau
tumbuh di sana dan termasuk anak yatim piatu, karena ibunya wafat ketika beliau masih bayi,
kemudian bapaknya menyusul wafat ketika beliau masih kanak-kanak berumur empat tahun.

Ketika wafat, bapaknya berwasiat kepada dua orang ‘alim untuk mengasuh Ibnu Hajar yang masih
bocah itu. Dua orang itu ialah Zakiyuddin al Kharrubi dan Syamsuddin Ibnul Qaththan al Mishri.

Perjalanan Ilmiah Ibnu Hajar

Perjalanan hidup al Hafizh sangatlah berkesan. Meski yatim piatu, semenjak kecil beliau memiliki
semangat yang tinggi untuk belajar. Beliau masuk kuttab (semacam Taman Pendidikan al Qur’an)
setelah genap berusia lima tahun. Hafal al Qur’an ketika genap berusia sembilan tahun. Di samping itu,
pada masa kecilnya, beliau menghafal kitab-kitab ilmu yang ringkas, sepeti al ‘Umdah, al Hawi ash
Shagir, Mukhtashar Ibnu Hajib dan Milhatul I’rab.

Semangat dalam menggali ilmu, beliau tunjukkan dengan tidak mencukupkan mencari ilmu di Mesir
saja, tetapi beliau melakukan rihlah (perjalanan) ke banyak negeri. Semua itu dikunjungi untuk
menimba ilmu. Negeri-negeri yang pernah beliau singgahi dan tinggal disana, di antaranya:

    1. Dua tanah haram, yaitu Makkah dan Madinah. Beliau tinggal di Makkah al Mukarramah dan
        shalat Tarawih di Masjidil Haram pada tahun 785 H. Yaitu pada umur 12 tahun. Beliau
        mendengarkan Shahih Bukhari di Makkah dari Syaikh al Muhaddits (ahli hadits) ‘Afifuddin
        an-Naisaburi (an-Nasyawari) kemudian al-Makki Rahimahullah. Dan Ibnu Hajar berulang kali
        pergi ke Makkah untuk melakukah haji dan umrah.

    2. Dimasyq (Damaskus). Di negeri ini, beliau bertemu dengan murid-murid ahli sejarah dari kota
        Syam, Ibu ‘Asakir Rahimahullah. Dan beliau menimba ilmu dari Ibnu Mulaqqin dan al
        Bulqini.

    3. Baitul Maqdis, dan banyak kota-kota di Palestina, seperti Nablus, Khalil, Ramlah dan Ghuzzah.
        Beliau bertemu dengan para ulama di tempat-tempat tersebut dan mengambil manfaat.

    4. Shana’ dan beberapa kota di Yaman dan menimba ilmu dari mereka.

Semua ini, dilakukan oleh al Hafizh untuk menimba ilmu, dan mengambil ilmu langsung dari ulama-
ulama besar. Dari sini kita bisa mengerti, bahwa guru-guru al Hafizh Ibnu Hajar al ‘Asqlani sangat
banyak, dan merupakan ulama-ulama yang masyhur. Bisa dicatat, seperti: ‘Afifuddin an-Naisaburi (an-
Nasyawari) kemudian al-Makki (wafat 790 H), Muhammad bin ‘Abdullah bin Zhahirah al Makki
(wafat 717 H), Abul Hasan al Haitsami (wafat 807 H), Ibnul Mulaqqin (wafat 804 H), Sirajuddin al
Bulqini Rahimahullah (wafat 805 H) dan beliaulah yang pertama kali mengizinkan al Hafizh mengajar
dan berfatwa. Kemudian juga, Abul-Fadhl al ‘Iraqi (wafat 806 H) –beliaulah yang menjuluki Ibnu
Hajar dengan sebutan al Hafizh, mengagungkannya dan mempersaksikan bahwa Ibnu Hajar adalah
muridnya yang paling pandai dalam bidang hadits-, ‘Abdurrahim bin Razin Rahimahullah –dari beliau
ini al Hafizh mendengarkan shahih al Bukhari-, al ‘Izz bin Jama’ah Rahimahullah, dan beliau banyak
menimba ilmu darinya. Tercatat juga al Hummam al Khawarizmi Rahimahullah. Dalam mengambil
ilmu-ilmu bahasa arab, al Hafizh belajar kepada al Fairuz Abadi Rahimahullah, penyusun kitab al
Qamus (al Muhith-red), juga kepada Ahmad bin Abdurrahman Rahimahullah. Untuk masalah
Qira’atus-sab’ (tujuh macam bacaan al Qur’an), beliau belajar kepada al Burhan at-Tanukhi
Rahimahullah, dan lain-lain, yang jumlahnya mencapai 500 guru dalam berbagai cabang ilmu,
khususnya fiqih dan hadits.

Jadi, al Hafizh Ibnu Hajar al Asqalani mengambil ilmu dari para imam pada zamannya di kota Mesir,
dan melakukakan rihlah (perjalanan) ke negeri-negeri lain untuk menimba ilmu, sebagaimana
kebiasaan para ahli hadits.

Layaknya sebagai seorang ‘alim yang luas ilmunya, maka beliau juga kedatangan para thalibul ‘ilmi
(para penuntut ilmu, murid-red) dari berbagai penjuru yang ingin mengambil ilmu dari beliau, sehingga
banyak sekali murid beliau. Bahkan tokoh-tokoh ulama dari berbagai madzhab adalah murid-murid
beliau. Yang termasyhur misalnya, Imam ash-shakhawi (wafat 902 H), yang merupakan murid khusus
al Hafizh dan penyebar ilmunya, kemudian al Biqa’i (wafat 885 H), Zakaria al-Anshari (wafat 926 H),
Ibnu Qadhi Syuhbah (wafat 874 H), Ibnu Taghri Bardi (wafat 874 H), Ibnu Fahd al-Makki (wafat 871
H), dan masih banyak lagi yang lainnya.

Karya-Karyanya

Kepakaran al Hafizh Ibnu Hajar sangat terbukti. Beliau mulai menulis pada usia 23 tahun, dan terus
berlanjut sampai mendekti ajalnya. Beliau mendapatkan karunia Allah Ta’ala di dalam karya-karyanya,
yaitu keistimewaan-keistimewaan yang jarang didapati pada orang lain. Oleh karena itu, karya-karya
beliau banyak diterima umat islam dan tersebar luas, semenjak beliau masih hidup. Para raja dan amir
biasa saling memberikan hadiah dengan kitab-kitab Ibnu hajar Rahimahullah. Bahkan sampai sekarang,
kita dapati banyak peneliti dan penulis bersandar pada karya-karya beliau Rahimahullah.

Di antara karya beliau yang terkenal ialah: Fathul Baari Syarh Shahih Bukhari, Bulughul Marom min
Adillatil Ahkam, al Ishabah fi Tamyizish Shahabah, Tahdzibut Tahdzib, ad Durarul Kaminah,
Taghliqut Ta’liq, Inbaul Ghumr bi Anbail Umr dan lain-lain.

Bahkan menurut muridnya, yaitu Imam asy-Syakhawi, karya beliau mencapai lebih dari 270 kitab.
Sebagian peneliti pada zaman ini menghitungnya, dan mendapatkan sampai 282 kitab. Kebanyakan
berkaitan dengan pembahasan hadits, secara riwayat dan dirayat (kajian).

Mengemban Tugas Sebagai Hakim

Beliau terkenal memiliki sifat tawadhu’, hilm (tahan emosi), sabar, dan agung. Juga dikenal banyak
beribadah, shalat malam, puasa sunnah dan lainnya. Selain itu, beliau juga dikenal dengan sifat wara’
(kehati-hatian), dermawan, suka mengalah dan memiliki adab yang baik kepada para ulama pada
zaman dahulu dan yang kemudian, serta terhadap orang-orang yang bergaul dengan beliau, baik tua
maupun muda. Dengan sifat-sifat yang beliau miliki, tak heran jika perjalanan hidupnya beliau ditawari
untuk menjabat sebagai hakim.

Sebagai contohya, ada seorang hakim yang bernama Ashadr al Munawi, menawarkan kepada al Hafizh
untuk menjadi wakilnya, namu beliau menolaknya, bahkan bertekad untuk tidak menjabat di
kehakiman. Kemudian, Sulthan al Muayyad Rahimahullah menyerahkan kehakiman dalam perkara
yang khusus kepada Ibnu Hajar Rahimahullah. Demikian juga hakim Jalaluddin al Bulqani
Rahimahullah mendesaknya agar mau menjadi wakilnya. Sulthan juga menawarkan kepada beliau
untuk memangku jabatan Hakim Agung di negeri Mesir pada tahun 827 H. Waktu itu beliau menerima,
tetapi pada akhirnya menyesalinya, karena para pejabat negara tidak mau membedakan antara orang
shalih dengan lainnya. Para pejabat negara juga suka mengecam apabila keinginan mereka ditolak,
walaupun menyelisihi kebenaran. Bahkan mereka memusuhi orang karena itu. Maka seorang hakim
harus berbasa-basi dengan banyak fihak sehingga sangat menyulitkan untuk menegakkan keadilan.

Setelah satu tahun, yaitu tanggal 7 atau 8 Dzulqa’idah 828 H, akhirnya beliau mengundurkan diri.
Pada tahun ini pula, Sulthan memintanya lagi dengan sangat, agar beliau menerima jabatan sebagai
hakim kembali. Sehingga al Hafizh memandang, jika hal tersebut wajib bagi beliau, yang kemudian
beliau menerima jabatan tersebut tanggal 2 rajab. Masyarakatpun sangat bergembira, karena memang
mereka sangat mencintai beliau. Kekuasaan beliau pun ditambah, yaitu diserahkannya kehakiman kota
Syam kepada beliau pada tahun 833 H.

Jabatan sebagai hakim, beliau jalani pasang surut. Terkadang beliau memangku jabatan hakim itu, dan
terkadang meninggalkannya. Ini berulang sampai tujuh kali. Penyebabnya, karena banyaknya fitnah,
keributan, fanatisme dan hawa nafsu.

Jika dihitung, total jabatan kehakiman beliau mencapai 21 tahun. Semenjak menjabat hakim Agung.
Terakhir kali beliau memegang jabatan hakim, yaitu pada tanggal 8 Rabi’uts Tsani 852 H, tahun beliau
wafat.

Selain          kehakiman,           beliau          juga                            memilki                tugas-tugas:
-           Berkhutbah           di           Masjid                            Jami’         al                 Azhar.
-      Berkhutbah     di     Masjid     Jami’      ‘Amr                       bin     al    Ash           di      Kairo.
- Jabatan memberi fatwa di Gedung Pengadilan.

Di tengah-tengah mengemban tugasnya, beliau tetap tekun dalam samudra ilmu, seperti mengkaji dan
meneliti hadits-hadits, membacanya, membacakan kepada umat, menyusun kitab-kitab, mengajar tafsir,
hadits, fiqih dan ceramah di berbagai tempat, juga mendiktekan dengan hafalannya. Beliau mengajar
sampai 20 madrasah. Banyak orang-orang utama dan tokoh-tokoh ulama yang mendatanginya dan
mengambil ilmu darinya.

Kedudukannya

Ibnu Hajar Rahimahullah menjadi salah satu ulama kebanggaan umat, salah satu tokoh dari kalangan
ulama, salah satu pemimpin ilmu. Allah Ta’ala memberikan manfaat dengan ilmu yang beliau miliki,
sehingga lahirlah murid-murid besar dan disusunnya kitab-kitab.

Seandainya kitab beliau hanya Fathul Bari, cukuplah untuk meninggikan dan menunjukkan keagungan
kedudukan beliau. Karena kitab ini benar-benar merupakan kamus Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaii
wasallam. Sedangkan karya beliau berjumlah lebih dari 150 kitab.

Syaikh al Albani Rahimahullah mengatakan, Adalah merupakan kedzaliman jika mengatakan mereka
(yaitu an-Nawawi dan Ibnu Hajar al ‘Asqalani) dan orang-orang semacam mereka termasuk ke dalam
golongan ahli bid’ah. Menurut Syaikh al Albani, meskipun keduanya beraqidah Asy’ariyyah, tetapi
mereka tidak sengaja menyelisihi al Kitab dan as Sunnah. Anggapan mereka, aqidah Asy’ariyyah yang
mereka warisi itu adalah dua hal: Pertama, bahwa Imam al Asy’ari mengatakannya, padahal beliau
tidak mengatakannya, kecuali pada masa sebelumnya, (lalu beliau tinggalkan dan menuju aqidah
Salaf,). Kedua, mereka menyangka sebagai kebenaran, padahal tidak.

Wafatnya

Ibnu Hajar wafat pada tanggal 28 Dzulhijjah 852 H di Mesir, setelah kehidupannya dipenuhi dengan
ilmu yang bermanfaat dan amal shalih, menurut sangkaan kami, dan kami tidak memuji di hadapan
Allah terhadap seorangpun. Beliau dikuburkan di Qarafah ash-Shugra. Semoga Allah merahmati beliau
dengan rahmat yang luas, memaafkan dan mengampuninya dengan karunia dan kemurahanNya.

Kitab al Ajwibah al Mufidah min As’ilah al manahij al Jadidah, Kitab Fathul Bari ,Abdul ‘Aziz bin Baaz.




                                                               
                    Al-Imam as-Suyuthi (849-911 H)
Nama lengkapnya adalah Abdurrahman bin Abi Bakar bin Muhammad bin Saabiquddien bin al-Fakhr
Utsman bin Nashiruddien Muhammad bin Saifuddin Khadhari bin Najmuddien Abi ash-Shalaah Ayub
ibn Nashiruddien Muhammad bin asy-Syaich Hammamuddien al-Hamman al-Khadlari al-Asyuuthi.
Lahir ba’da Maghrib, hari Ahad malam, bulan Rajab tahun 849 Hijriyah, yakni enam tahun sebelum
bapaknya wafat.

Asal Usul Beliau

Jalaluddien as-Suyuthi berasal dari lingkungan cendekiawan sejak kecilnya. Bapaknya berusaha
mengarahkannya ke arah kelurusan dan keshalihan. Adalah beliau hafal al-Qur’an di usianya yang
sangat dini dan selalu diikutkan bapaknya di berbagai majlis ilmu dan berbagai majlis qadhinya.

Dan bapaknya telah memintakan kepada Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani supaya mendo’akannya diberi
berkah dan taufiq. Dan adalah bapaknya melihat dalam diri anaknya seperti yang didapati dalam diri
Ibnu Hajar, hingga ketika beliau minum, sebagian diberikan kepada anaknya dan mendo’akannya agar
ia seperti Ibnu Hajar, menjadi ulama yang trampil dan tokoh penghafal (hadits). Bapaknya wafat saat ia
(imam Suyuthi) baru berumur lima tahun tujuh bulan. Tetapi Allah telah memeliharanya dengan taufiq
dari-Nya dan mengasuhnya dengan asuhan-Nya. Ini terbukti dengan telah ditakdirkan Allah Ta’ala
untuknya al-‘Allamah Kamaaluddien bin Humam al-Hanafi pengarang Fathul Qadir untuk menjadi
guru asuhnya. Hingga hafal al-Qur’an dalam umur delapan tahun, kemudian menghafal kitab al-
’Umdah lalu Minhajul Fiqhi dan Ushul, serta Alfiyah Ibnu Malik. Dan mulai menyibukkan diri dengan
(menggeluti) ilmu pada tahun 864 H, yakni ketika berumur 15 tahun.

Menimba ilmu Fiqih dari Syaikh Siraajuddien al-Balqini. Bahkan mulazamah kepada beliau hingga
wafatnya. Kemudian mulazamah kepada anak beliau, dan menyimak banyak pelajaran darinya seperti
al-Haawi ash-Shaghir, al-Minhaaj, syarah al-Minhaaj dan ar-Raudhah. Belajar Faraidl dari syaikh
Sihaabuddien Asy-Syaarmasaahi, dan mulazamah kepada asy-Syari al-Manaawi Abaaz Kuriya Yahya
bin Muhammad, kakak dari Abdurrauf pensyarah al-Jami’ ash-Shaghir. Kemudian menimba ilmu
bahasa Arab dan ilmu Hadits kepada Taqiyuddien asy-Syamini al-Hanafi (872 H). Lalu mulazamah
kepada syaikh Muhyiddien Muhammad bin Sulaiman ar-Ruumi al-Hanafi selama 14 tahun. Dari beliau
ia menimba ilmu tafsir, ilmu Ushul, ilmu bahasa Arab dan ilmu Ma’ani. Juga berguru kepada
Jalaaluddien al-Mahilli (864 H) dan ‘Izzul Kinaani Ahmad bin Ibrahim al-Hanbali. Dan membaca
shahih Muslim, asy-Syifa, Alfiyah Ibnu malik dan penjelasaannya pada Syamsu as-Sairaami.

Imam Suyuthi tidak mau meninggalkan satu cabang ilmu pun kecuali ia berusaha untuk
mempelajarinya, seperti ilmu hitung dan ilmu faraidl dari Majid bin as-Sibaa’ dan Abudl Aziz al-
Waqaai, serta ilmu kedokteran kepada Muhammad bin Ibrahim ad-Diwwani ar-Ruumi. Hal ini sesuai
dan didukung oleh keadaan waktu itu di mana dia dapat menimba ilmu dari banyak syaikh. Ia tidak
pernah merasa cukup dengan ilmu yang telah dimilikinya, baik ilmu bahasa maupun ilmu dien,
demikian pula ia tidak merasa cukup dengan para ulama yang telah ia temui.

Bahkan ia bepergian jauh sekedar untuk mencari ilmu dan riwayat hadits, hingga ke negeri Maghribi
(Tanjung Harapan, sebelah ujuh barat pulau Afrika), ke Yaman, India, Syam Mahallah (di Mesir
Barat), Diimath (sebuah kota di tepi sungai Nil, Mesir), dan Fayyum (Mesir) serta negeri-negeri Islam
lainnya. Telah menunaikan ibadah Hajji dan telah minum air Zam-zam dengan harapan supaya dapat
seperti Syaich al-Balqini dalam menguasi ilmu Fiqih serta dapat seperti Ibnu Hajar dalam menguasai
ilmu Hadits.

Demikianlah imam yang mulia ini, mengadakan perjalanan yang tidak tanggung-tanggung dengan
segala kesusahannya hanya untuk dapat menimba ilmu. Banyak sekali gurunya. Bahkan disebutkan
oleh syaikh Abdul Wahhab asy-Sya’rani dalam kitab Thabaqat bahwa gurunya lebih dari 600-an orang.

Sesuai dengan banyaknya syaikh dan jauhnya perjalanannya dalam menimba ilmu, hal itu didukung
pula oleh kemampuannya untuk semaksimal mungkin dalam memanfaatkan perpustakaan Madrasah
Mahmudiyah. Berkata al-Maqrizi, bahwa di dalam perpustakaan ini terdapat segala jenis kitab-kitab
Islam, dan madrasah ini merupakan sebaik-baik madrasah yang ada, yang dinisbatkan kepada Mahmud
bin al-Astadaar, yang berdirinya pada tahun 897 H. Dan kitab-kitab yang ada tersebut merupakan kitab
yang paling lengkap dari yang ada sekarang di Qahirah (Cairo), yang merupakan koleksi dari Burhan
Ibn Jama’ah dan kemudian dibeli oleh Mahmud al-Astadaar dengan uang warisannya setelah ia wafat
dan kemudian ia waqafkan.

Hingga matanglah kepribadian Suyuthi, dan sempurnalah pembentukan ilmunya pada taraf syarat
mampu untuk berijtihad. Beliau seorang yang mudah mengerti, kuat hafalannya, dianugerahi Allah
dengan otak yang cerdas, disamping itu beliau adalah seorang yang ‘abid (ahli ibadah), zuhud,
tawadlu’. Tidak mau menerima hadiah raja. Pernah ia diberi hadiah raja Ghuuri seorang budak
perempuan dan uang banyak sebesar seribu dinar. Maka dikembalikannya uang itu sedangkan budak
perempuan itu dimerdekakannya dan menjadikannya sebagai pelayan di hujrah Nabawi. Lalu ia berkata
kepada sang penguasa itu, “Jangan berusaha memalingkan hanya dengan memberi hadiah semacam itu
karena Allah telah menjadikan aku merasa tidak butuh dari hal-hal semacam itu.”

Oleh karena itu beliau rahimahullah dikenal sebagai seorang yang berani tapi beradab, semangat dalam
menegakkan hukum-hukum syari’at dan mengamalkannya tanpa memihak kepada seorang pun. Tidak
takut dalam kebenaran celaan orang yang mencela. Ia telah diminta untuk memberikan fatwa serta
urusan-urusan yang bersangkutan dengan kehakiman, maka beliau tetap berusaha untuk adil dan
menerapkan hukum-hukum dien tanpa memperdulikan kemarahan Umara’ maupun penguasa. Bahkan
jika ia melihat ada Qadhi (hakim) yang menta’wilkan hukum sesuai dengan kehendak penguasa,
bertujuan menjilat mereka maka beliau menentangnya dan menyatakan pengingkarannya serta cuci
tangan darinya. Menerangkan kesalahannya, dan meluruskannya, seperti yang dikemukakannya dalam
kitab “al-Istinshaar bil Wahid al-Qahhar.” Beliau terlalu disibukkan dengan memberi pelajaran dan
berfatwa sampai umur 40 tahun, kemudian beliau lebih mengkhususkan untuk beribadah dan
mengarang kitab. Dan karangan imam Suyuthi rahimahullah lebih dari 500 buah karangan. Berkata
imam Suyuthi, “Kalau seandainya aku mau maka aku mampu untuk menyusun kitab yang membahas
setiap masalah dengan segala teori dan dalil-dalil yang kami nukil, qiyasnya, keterangannya, bantahan-
bantahannya, jawaban-jawabannya, muwazanahnya antara perselisihan berbagai madzhab tentang
masalah itu, dengan fadhilah Allah, tidak dengan daya dan kemampuanku. Karena sesungguhnya tidak
ada kekuatan kecuali dari Allah.”

Kitab-Kitabnya

Adapun kitab-kitab yang disusun oleh imam Suyuthi rahimahullah antara lain sebagai berikut:

1. Al-Itqaan fi ‘Uluumil Qur’an
2. Ad-Durrul Mantsuur fit Tafsiril Ma’tsuur
3. Tarjumaan al-Qur’an fit Tafsir
4. Israaru at-Tanziil atau dinamakan pula dengan Qathful Azhaar fi Kasyfil Asraar
5. Lubaab an-Nuqul fi Asbaabi an-Nuzuul
6. Mifhamaat al-Aqraan fi Mubhamaat al-Qur’an
7. Al-Muhadzdzab fiima waqa’a fil Qur’an minal Mu’arrab
8. Al-Ikllil fi istimbaath at-Tanziil
9. Takmilatu Tafsiir asy-Sayich Jalaaluddien al-Mahilli
10. At-Tahiir fi ‘Uluumi Tafsir
11. Haasyiyah ‘ala Tafsiri al-Baidlawi
12. Tanaasuq ad-Duraru fi Tanaasub as-Suwari
13. Maraashid al-Mathaali fi Tanaasub al-Maqaathi’ wal Mathaali’
14. Majma’u al-Bahrain wa Mathaali’u al-Badrain fi at-Tafsir.
15. Mafaatihu al Ghaib fi at-Tafsiir
16. Al-Azhaar al-Faaihah ‘alal Fatihah
17. Syarh al-Isti’adzah wal Kasmalah
18. Al-Kalaam ‘ala Awalil Fathi
19. Syarh asy-Syathibiyah
20. Al-Alfiyah fil Qara’at al ‘asyri
21. Khimaayal az-Zuhri fi Fadla’il as-Suwari
22. Fathul Jalil li ‘Abdi Adz Dzalil fil Anwa’il Badi’ah al- Mustakhrijah min Qaulihi Ta’ala: Allaahu
Waliyyulladziina aamanu
23. al-Qaul al-Fashih Fi Ta’yiini adz-Dzabiih
24. al-Yadul Bustha fi as-Shalaatil Wustha
25. Mu’tarakul Aqraan Fi musykilaatil Qur’an

Semua itu judul-judul buku yang berkenaan dengan Tafsir, adapun yang berkenaan dengan ilmu hadits,
antara lain adalah sebagai berikut:

.           ‘Ainul              Ishaabah              Fi             Ma’rifati          ash-Shahaabah
2.     Durru      ash-Shahaabah       Fi      man       Dakhala      Mishra      Minash     Shahaabah
3.                                          Husnul                                        Muhaadlarah
4. Riihu an-Nisriin Fi man ‘Aasya Minash Shahaabah Mi ata Wa ‘isyriin
5.            Is’aaful             Mubtha’               bi             Rijaalil           Muwaththa’
6.          Kasyfu             at-Talbiis           ‘an           Qalbi           Ahli          Tadliis
7.                                           Taqriibul                                          Ghariib
8.                          al-Madraj                            Ila                         al-Mudraj
9.      Tadzkirah       al-Mu’tasi        Min       Hadits      Man         haddatsa     wa      nasiy
10.                                         Asmaa`ul                                       Mudallisiin
11.             al-Luma’                 Fi              Asmaa`i               Man              Wadla’
12. ar-Raudlul Mukallal Wa Waradul Mu’allal fi al-mushthalah

Wafatnya

Imam as-Suyuthi rahimahullah wafat pada hari Jum’at, malam tanggal 19 Jumadal Ula tahun 911 H.
Sebelumnya beliau menderita sakit selama tujuh hari dan akhirnya wafat dalam umur 61 tahun.
Dikuburkan di pemakaman Qaushuun atau Qaisun di Cairo.

                 Sumber dari : Kitab adriib ar-Raawi Fi Syarh Taqriib an-Nawawy karya as-Suyuthy.




                                                        
 Para Ulama sekarang yang berjalan diatas As-
               Sunnah yaitu:




                          Syaikh Ahmad An-Najmi
                        ditulis oleh: As-Syaikh Muhammad bin Hadi bin Ali Al-Madkhali


Kedudukan ulama rabbani sangatlah tinggi dalam Dien yang mulia ini. Allah Ta’ala telah mengangkat
derajat mereka dan memuji mereka dalam Tanzil-Nya. Demikian pula pujian datang lewat lisan Rasul-
Nya dalam mutiara-mutiara hikmah yang beliau tuturkan. Dan tidak ada yang tahu kadar ulama dan
memuliakannya sesuai dengan apa yang berhak mereka dapatkan kecuali orang-orang yang mulia.
Karena itu, sepantasnyalah bagi orang yang ingin mendapatkan kemuliaan untuk mengagungkan
mereka lewat lisan dan tulisan, tidak melanggar kehormatan mereka dan tidak merendahkan mereka.

Telah datang ayat-ayat Qur`an, hadits-hadits nabawiyah dan atsar-atsar pilihan yang berisi larangan
dari perbuatan tersebut. Satu dari ulama rabbani yang memiliki hak untuk kita muliakan adalah As-
Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi, seorang alim yang sekarang menjadi mufti di daerah Jizaan.
Salah seorang murid beliau, As-Syaikh Muhammad bin Hadi bin Ali Al-Madkhali menuturkan secara
ringkas cerita hidup beliau sebagaimana dinukilkan dalam Ibrah kali ini. Semoga semangat ilmiah dan
amaliyah beliau dapat menjadi ibrah bagi kita.

Nama Dan Nasab Beliau

Beliau adalah Asy-Syaikh Al-Fadlil Al-Allamah, Al-Muhaddits, Al-Musnad, Al-Faqih, mufti daerah
Jizaan, pembawa bendera sunnah dan hadits di sana. As-Syaikh Ahmad bin Yahya bin Muhammad bin
Syabir An-Najmi dari keluarga Syabir dari Bani Hummad, salah satu kabilah yang terkenal di daerah
Jizaan.

Terlahir di Najamiyah pada tanggal 26 Syawwal 1346 hijriyah, beliau tumbuh dalam asuhan dua orang
tua yang shalih. Keduanya bahkan bernadzar untuk Allah dalam urusan putranya ini, yaitu mereka
berdua tidak akan membebani Ahmad An-Najmi kecil dengan satu pun dari pekerjaan dunia. Dan
sungguh Allah telah merealisasikan apa yang diinginkan pasangan hamba-Nya ini.

Ayah dan ibu yang shalih ini menjaga beliau dengan sebaik-baiknya, sampai-sampai keduanya tidak
meninggalkan beliau bermain bersama anak-anak yang lain. Ketika mencapai usia tamyiz, ayah dan ibu
yang mulia ini memasukkan beliau ke tempat belajar yang ada di kampungnya. Di sini beliau belajar
membaca dan menulis. Demikian pula membaca Al-Qur`an, beliau pelajari di sini sampai tiga kali
sebelum kedatangan As-Syaikh Abdullah Al-Qar’aawii rahimahullah pada tahun 1358 hijriyah.

Pertama kali beliau membaca Al-Qur`an di bawah bimbingan As-Syaikh Abduh bin Muhammad Aqil
An-Najmi tahun 1355 hijriyah. Kemudian beliau membacanya di hadapan As-Syaikh Yahya Faqih
Absi -seorang yang berpemahaman Asy’ari- yang semula merupakan penduduk Yaman lalu datang dan
bermukim di Najamiyah. Tahun 1358, As-Syaikh Ahmad An-Najmi masih belajar pada orang ini.
Ketika datang As-Syaikh Abdullah Al-Qar’aawii terjadi perdebatan antara keduanya (antara As-Syaikh
Yahya Faqih Absi dan As-Syaikh Al-Qar’aawii) dalam masalah istiwa. Dan Allah Ta’ala berkehendak
untuk memenangkan Al-Haq hingga As-Syaikh Yahya yang Asy’ari ini kalah dan pada akhirnya
meninggalkan Najamiyah.
Sekitar Kisah Beliau Dalam Belajar Ilmu

Pada tahun 1359, setelah perginya guru beliau yang berpemahaman Asy’ari, As-Syaikh Ahmad An-
Najmi bersama kedua paman beliau, As-Syaikh Hasan dan As-Syaikh Husein bin Muhammad An-
Najmi sering menjumpai As-Syaikh Abdullah Al-Qar’aawi di kota Shaamithah. Kemudian pada tahun
berikutnya beliau masuk ke Madrasah As-Salafiyah. Dan pada kali ini beliau membaca Al-Qur`an
dengan perintah As-Syaikh Abdullah Al-Qar’aawii rahimahullah di hadapan As-Syaikh Utsman bin
Utsman Hamli rahimahullah. Beliau menghafal Tuhfatul Athfal, Hidayatul Mustafid, Ats-Tsalatsatul
Ushul, Al-Arba’in An-Nawawiyah dan Al-Hisab. Beliau juga memantapkan pelajaran khath.

Di Madrasah As-Salafiyah, As-Syaikh Ahmad An-Najmi yang masih belia ini duduk di majlis yang
ditetapkan oleh As-Syaikh Al-Qar’aawii sampai murid-murid kecil pulang ke rumah masing-masing
setelah shalat dhuhur. Namun As-Syaikh Ahmad An-Najmi tidak ikut pulang bersama mereka. Beliau
malah ikut masuk ke halaqah yang diperuntukkan bagi orang dewasa / murid-murid senior yang diajari
langsung oleh As-Syaikh Al-Qar’aawii. Beliau duduk bersama mereka dari mulai selesai shalat dhuhur
sampai datang waktu Isya. Setelah itu baru beliau kembali bersama kedua paman beliau ke
kediamannya.

Hal demikian berlangsung sampai empat bulan hingga akhirnya As-Syaikh Al-Qar’aawii mengijinkan
beliau untuk bergabung dengan halaqah kibaar ini. Di hadapan As-Syaikh Al-Qar’aawii beliau
membaca kitab Ar-Rahabiyah dalam ilmu Fara’id, Al-Aajurumiyah dalam ilmu Nahwu, Kitabut
Tauhid, Bulughul Maram, Al-Baiquniyah, Nukhbatul Fikr dan syarahnya Nuzhatun Nadhar,
Mukhtasharaat fis Sirah, Tashriful Ghazii, Al-’Awaamil fin Nahwi Mi’ah, Al-Waraqaat dalam Ushul
Fiqih, Al-Aqidah Ath-Thahawiyah dengan syarah / penjelasan dari As-Syaikh Abdullah Al-Qar’aawii
sebelum mereka diajarkan Syarah Ibnu Abil ‘Izzi terhadap Aqidah Thahawiyah ini. Beliau juga
mempelajari beberapa hal dari kitab Al-Alfiyah karya Ibnu Malik, Ad-Durarul Bahiyah dengan
syarahnya Ad-Daraaril Mudliyah dalam fiqih karya Al-Imam Syaukani rahimahullah. Dan masih
banyak lagi kitab lainnya yang beliau pelajari, baik kitab tersebut dipelajari secara kontinyu -
sebagaimana kitab-kitab yang disebutkan di atas- maupun kitab-kitab yang digunakan sebagai
perluasan wawasan dari beberapa risalah-risalah dan kitab-kitab kecil dan kitab-kitab yang dijadikan
rujukan ketika diadakan pembahasan ilmiyah seperti Nailul Authar, Zaadul Ma’aad, Nurul Yaqin, Al-
Muwatha’ dan kitab-kitab induk (Al-Ummahat).

Pada tahun 1362 hijriyah, As-Syaikh Abdullah Al-Qar’aawii mengajarkan di halaqah kibar ini kitab-
kitab induk yang ada di perpustakaan beliau seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abi Daud,
Sunan Nasa’i dan Muwaththa’ Imam Malik. Mereka yang membacakan kitab-kitab tersebut di hadapan
beliau. Namun mereka tidak sampai menyelesaikan kitab-kitab tersebut karena mereka harus berpisah
satu dengan lainnya disebabkan paceklik yang menimpa.

Dan dengan keutamaan dari Allah, pada tahun 1364 mereka dapat kembali ke tempat belajar mereka
dan melanjutkan apa yang semula mereka tinggalkan. As-Syaikh Abdullah kemudian memberi izin
kepada As-Syaikh Ahmad An-Najmi untuk meriwayatkan kitab induk yang enam (Al-Ummahat As-
Sitt).

Waktu berjalan hingga sampai pada tahun 1369. Beliau berkesempatan untuk belajar kitab Ishlahul
Mujtama’ dan kitab Al-Irsyad ila Ma’rifatil Ahkam karya As-Syaikh Abdurrahman bin Sa’di
rahimahullah dalam masalah fiqih yang disusun dalam bentuk tanya jawab. Dua kitab ini beliau pelajari
dari As-Syaikh Ibrahim bin Muhammad Al-’Amuudi rahimahullah seorang qadli daerah Shaamith pada
waktu itu. Beliau berkesempatan pula untuk belajar Nahwu pada As-Syaikh Ali bin Syaikh Utsman
Ziyaad Ash-Shomaalii dengan perintah As-Syaikh Abdullah Al-Qar’aawii rahimahullah dengan
membahas kitab Al-’Awwamil fin Nahwi Mi’ah dan kitab-kitab lainnya.

Tahun 1384, beliau hadir dalam halaqah Syaikh Al-Imam Al-’Allamah Mufti negeri Saudi Arabia As-
Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alus Syaikh rahimahullah selama hampir dua bulan untuk
mempelajari tafsir dalam hal ini Tafsir Ibnu Jarir Ath-Thabari dengan pembaca kitab Abdul Aziz Asy-
Syalhuub. Pada tahun yang sama beliau juga hadir dalam halaqah Syaikh Al-Imam Al-’Allamah As-
Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah selama kurang lebih satu setengah bulan guna mempelajari
Shahih Bukhari. Majelis yang terakhir ini diadakan antara waktu Maghrib dan Isya’.




Guru-Guru Beliau

Syaikh Ahmad An-Najmi memiliki beberapa orang guru sebagaimana bisa dibaca pada keterangan di
atas. Guru-guru beliau adalah:

1) As-Syaikh Ibrahim bin Muhammad Al-’Amuudi, seorang qadli di daerah Shaamithah pada
    zamannya.

2) As-Syaikh Hafidh bin Ahmad Al-Hakami

3) As-Syaikh Al-Allamah Ad-Da’iyah Al-Mujaddid di daerah selatan kerajaan Saudi Arabia Abdullah
    Al-Qar’aawii, beliau adalah guru yang paling banyak memberikan faedah kepada As-Syaikh
    Ahmad An-Najmi.

4) As-Syaikh Abduh bin Muhammad Aqil An-Najmi

5) As-Syaikh Utsman bin Utsman Hamli

6) As-Syaikh Ali bin Syaikh Utsman Ziyaad Ash-Shomaali

7) As-Syaikh Al-Imam Al-Allamah Mufti negeri Saudi Arabia yang dahulu, Muhammad bin Ibrahim
    Alus Syaikh.

As-Syaikh Yahya Faqih Absi Al-Yamani

Murid-Murid Beliau

As-Syaikh Ahmad An-Najmi hafidhahullah memiliki murid yang sangat banyak, seandainya ada yang
mencoba menghitungnya niscaya ia membutuhkan ribuan lembaran kertas. Namun di sini cukup
disebutkan tiga orang saja yang ketiganya masyhur dalam bidang keilmuan. Mereka adalah:

1) As-Syaikh Al-Allamah Al-Muhaddits penolong Sunnah, As-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali.

2) As-Syaikh Al-Allamah Al-Faqih Zaid bin Muhammad Hadi Al-Madkhali.

3) As-Syaikh Al-Alim Al-Fadlil Ali bin Nashir Al-Faqiihi.

Kecerdasan Beliau

Allah Ta’ala menganugerahkan kepada beliau kecerdasan yang tinggi sekali. Berikut ini kisah yang
menunjukkan kecerdasan dan kemampuan menghafal beliau sejak kecil -semoga Allah menjaga beliau-
:

Berkata As-Syaikh Umar bin Ahmad Jaradii Al-Madkhali -semoga Allah memberi taufik kepada
beliau-: “Tatkala As-Syaikh Ahmad An-Najmi hadir bersama kedua pamannya Hasan dan Husein An-
Najmi di Madrasah As-Salafiyah di Shaamithah, tahun 1359 hijriyah, umur beliau saat itu 13 tahun
namun beliau mampu mendengarkan dan memahami pelajaran-pelajaran yang disampaikan oleh As-
Syaikh Abdullah Al-Qar’aawii kepada murid-murid seniornya. Dan beliau benar-benar menghafal
pelajaran-pelajaran tersebut.”
Aku katakan (yakni As-Syaikh Muhammad bin Hadi bin Ali Al-Madkhali): “Inilah yang menyebabkan
As-Syaikh Abdullah Al-Qar’aawii menggabungkannya pada halaqah kibaar yang beliau tangani sendiri
pengajarannya. Beliau melihat bagaimana kepandaiannya, kecepatan hafalannya dan kecerdasannya.”

Kesibukan Beliau Dalam Menyebarkan Ilmu

As-Syaikh Ahmad An-Najmi menyibukkan dirinya dengan mengajar di madrasah-madrasah milik
gurunya As-Syaikh Al-Qar’aawii rahimahullah semata-mata karena mengaharapkan pahala. Pada tahun
1367 hijriyah beliau mengajar di kampungnya An-Najamiyah. Lima tahun kemudian (tahun 1372)
beliau pindah ke tempat yang bernama Abu Sabilah di Hurrats. Di sana beliau menjadi imam dan guru.
Pada tahun berikutnya ketika dibuka Ma’had Ilmi di Shaamithah, beliau menjadi guru di sana sampai
tahun 1384 hijriyah. Saat itu beliau memutuskan untuk safar ke Madinah guna mengajar di Jami’ah Al-
Islamiyah di sana, namun ternyata beliau mendapat tugas yang lain sehingga beliau harus kembali ke
daerah Jaazaan. Di sini Allah menghendaki agar beliau menjadi seorang penasehat dan pemberi
bimbingan, dan beliau menjalankan tugas beliau dengan sebaik-baiknya.

Tahun 1387, beliau mengajar di Ma’had Ilmi di kota Jazaan sesuai dengan permintaan beliau. Pada
awal pengajaran tahun 1389 beliau kembali mengajar di Ma’had Shaamithah dan beliau tinggal di sana
sebagai guru hingga tahun 1410.

Sejak saat itu sampai ditulisnya biografi ini, beliau menyibukkan diri dengan mengajar di rumahnya
dan di masjid yang berdekatan dengan rumah beliau serta di masjid-masjid lain dengan tetap
menjalankan tugas beliau sebagai mufti.

Beliau -hafidhahullah- dengan semua aktifitas ilmiahnya telah menjalankan wasiat gurunya untuk terus
mengajar dan menjaga / memperhatikan para pelajar, khususnya pelajar asing dan mereka yang
terputus bekal / nafkahnya dalam penuntutan ilmu. Dan kita dapatkan beliau -semoga Allah
menjaganya- memiliki kesabaran yang menakjubkan. Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan
atas apa yang telah dia berikan kepada kita.

Dengan wasiat As-Syaikh Al-Qar’aawii juga, beliau terus melakukan pembahasan ilmiyah dan
mengambil faedah, khususnya dalam ilmu hadits dan fiqih serta ushul ilmu hadits dan ushul fiqih,
hingga beliau mencapai keutamaan dengannya melebihi teman-temannya. Semoga Allah memberkahi
umur beliau dan ilmu beliau, dan semoga Allah memberi manfaat dengan kesungguhan beliau.

Karya Ilmiah Beliau

Beliau banyak memiliki karya-karya tulis ilmiah, sebagiannya sudah dicetak dan sebagian lagi belum
dicetak. Semoga Allah memudahkan dicetaknya seluruh karya beliau agar kemanfaatannya
tersampaikan pada ummat. Di antara karya beliau:

1) Awdlahul Irsyad fir Rad ‘ala Man Abaahal Mamnuu’ minaz Ziyaarah

2) Ta’sisul Ahkam Syarah Umdatul Ahkam, telah dicetak dari karya ini satu juz yang kecil / tipis
    sekali.

3) Tanzihusy Syari’ah ‘an Ibaahatil Aghaanil Khali’ah.

4) Risalatul Irsyaad ila Bayanil Haq fi Hukmil Jihaad.

5) Risalah fi Hukmil Jahri bil Basmalah

6) Fathur Rabbil Waduud fil Fatawa war Ruduud.

7) Al-Mawridul ‘Udzbuz Zalaal fiimaa Intaqada ‘ala Ba’dlil Manaahijid Da’wiyah minal ‘Aqaaid wal
    A’maal.
Dan masih banyak lagi dari tulisan-tulisan beliau yang bermanfaat yang beliau persembahkan untuk
kaum muslimin, semoga Allah membalas beliau dengan sebaik-baik pahala dan semoga Allah
menjadikannya bermanfaat bagi Islam dan muslimin.

Demikian akhir biografi beliau yang dapat kami haturkan pada para pembaca, walhamdulillah ***

Diterjemahkan secara ringkas oleh Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari dari mukaddimah kitab Al-Mawridul ‘Udzbuz Zalaal
fiimaa Intaqada ‘ala Ba’dlil Manaahijid Da’wiyah minal ‘Aqaaid wal A’maal, hal 3-10




                                                           
            Syaikh ‘Abdullaah Ibn Muhammad Ibn
                    Humayd (1329-1402H)
Beliau dilahirkan di Riyardh bulan Ramadhan pada tahun 1329 H/1908 M.

Ketika masih muda beliau telah hafal Al-Qur’an disamping itu beliau belajar pada beberapa Syaikh di
kota Riyard dan kota lainya, dia murid yang paling pintar diantara murid murid lainnya

Guru gurunya antara lain:

    • Shaykh Hamad Ibn Faaris (rahima-hullaah), dia belajar mendalami ilmu nahwu sorof dan hadist.

    • Shaykh Sa’d Ibn Hamad Ibn ‘Ateeq (rahima-hullaah), dengan syaikh ini beliau belajar Aqidah

    • Shaykh Saalih Ibn ‘Abdul-’Azeez Aal ash-Shaykh (rahima-hullaah), beliau belajar tafsir Shaykh
        Muhammad Ibn ‘Abdul-Lateef Aal ash-Shaykh (rahima-hullaah),

    • Shaykh Muhammad Ibn Ibraaheem Aal ash-Shaykh (rahima-hullaah), dia paling lama belajarnya
        tentang hadist, aqidah dan tafsir.

    • Shaykh Muhammad Ibn Ibraaheem Aal ash-Shaykh appointed him a teacher for beginners and
        his assistant, so whenever he was absent he would cover for him.

Pada tahun 1357H./1922M Raja ‘Abdul-’Azeez (rahima-hullaah) mengangkatnya menjadi hakim
didaerah Sudayr.

Pada tahun 1363 H./1928M dia menjadi hakim besar di daerah Buraydah dan didaerah sekitarnya

Pada tahun1377H./1942M. memberikan pelajaran (fatwa) kepada masyarakat.

Pada tahun 1395H./1974M. Raja Khaalid (rahima-hullaah) mengangkatnya menjadi penasehat kerajaan
dan sebagai ar-Raabitah al-’Aalam al-Islaamee.

Dia meninggal pada hari kamis 20 Dhul-Qa’dah 1402H./1981M.dan jenazahnya di shalatkan di
Masjidil Haram oleh banyak umat muslim.




                                                 
   Syaikh Muhammad Aman Al-Jami (1349-1416 H)
Nama Dan Nasabnya

Beliau rahimahullah adalah Syaikh al-‘Allamah Abu Ahmad Muhammad Aman bin Ali Jami Ali.

Kelahirannya
Beliau dilahirkan pada tahun 1349 H di desa Thagha Thab daerah Harar, Habasyah (Ethiopia), Afrika.

Pertumbuhan Ilmiah Dan Guru-Gurunya

Beliau rahimahullah tumbuh di desanya, Thagha Thab. Di situ, beliau belajar al-Qur’an hingga khatam
kemudian belajar fiqh Madzhab Syafi’i. Beliau juga belajar bahasa Arab kepada Syaikh Muhammad
Amin al-Harari.

Kemudian beliau meninggalkan desanya guna menuntut ilmu. Hingga bertemu sahabatnya dalam
menuntut ilmu, Syaikh Abdul Karim. Keduanya pergi belajar Nazhm Zubad karya Ibnu Ruslan kepada
Syaikh Musa dan belajar matan Minhaj kepada Syaikh Abadir. Demikian pula, keduanya mempelajari
beberapa bidang ilmu lainnya.

Keduanya lantas sepakat pergi ke Saudi Arabia dalam rangka ibadah haji dan menuntut ilmu. Mereka
berdua melakukan perjalanan darat dari Habasyah menuju Somalia. Dari somalia melakukan perjalanan
lewat laut hingga ke Aden, Yaman. Kemudian berjalan kaki hingga Mekkah.

Setelah menunaikan ibadah haji pada tahun 1369 H, beliau rahimahullah memulai belajarnya dengan
menghadiri halaqah-halaqah di masjidil haram. Beliau belajar kepada Syaikh Abdur Razaq Hamzah,
Syaikh Abdul Haq al-Hasyimi, Syaikh Abdullah ash-Shomali dan ulama lainnya.

Beliau berkenalan dengan Syaikh Abdul Aziz bin bin Baz rahimahullah (mantan mufti ‘am kerajaan
Arab Saudi-red) dan menemaninya dalam perjalanan ke Riyadh ketika beliau masuk ke Ma’had Ilmi di
Riyadh. Di antara rekan beliau ketika belajar di Ma’had Ilmi adalah Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd
al-Abbad dan Syaikh Ali bin Muhanna.

Di samping belajar di Ma’had Ilmi, beliau juga menghadiri halaqah-halaqah ilmu di Riyadh. Beliau
menghadiri mejelis Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh, Syaikh Abdur Rahman al-Afriqi,
Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi, Syaikh Hammad al-Anshari.

Beliau rahimahullah juga belajar kepada Syaikh Abdur Razzaq Afifi, Syaikh Muhammad Khalil Harras
dan Syaikh Abdullah al-Qar’awi.

Pengabdiannya Kepada Kaum Muslimin

Beliau diusulkan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz kepada Syaikh Muhammad bin Ibrahim, Mufti Saudi
Arabia waktu itu, agar ditugaskan mengajar di Ma’had Ilmi di Shamithah, daerah Jazan. Usulan ini
disetujui Syaikh Muhammad bin Ibrahim.

Ketika Universitas Islam Madinah dibuka pada tahun 1381 H, beliau dipilih oleh Syaikh Abdul Aziz
bin Baz sebagai salah seorang pengajarnya dalam mata kuliah aqidah.

Beliau juga ditugaskan sebagai pengajar di masjid Nabawi dalam bidang aqidah.

Beliau kerahkan upaya beliau dalam dakwah ilallah di dalam dan di luar negeri Saudi selama kurang
lebih 40 tahun, menjelaskan aqidah salafiyah dan membantah ahli bid’ah serta orang-orang yang
menyeleweng dari jalan yang lurus. Beliau memiliki andil besar dalam menjelaskan perbedaan-
perbedaan yang mendasar antara manhaj salafi dan manhaj-manhaj bid’ah yang hendak memalingkan
umat dari manhaj Nabi shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya. Kerena kegigihan dakwah
inilah, beliau banyak mendapat rintangan dan gangguan. Tidak henti-hentinya para pemilik kesesatan
melontarkan tuduhan-tuduhan dan perkataan-perkataan yang tidak pantas kepada beliau. Sampai-
sampai ada yang berusaha memberikan gangguang fisik kepada beliau. Akan tetapi, tidak henti-
hentinya pula beliau membela dakwah salafiyah dengan penuh kesabaran dan mengharap keridhaan
Alloh, hingga beliau wafat.

Akhlaknya

Beliau dikenal gigih dalam melakukan nasihat terhadap Alloh, Rasul-Nya, para pemimpin kaum
muslimin, dan orang-orang awam. Beliau jarang bergaul dengan manusia kecuali dalam kebaikan.
Beliau selalu menjaga waktu-waktunya. Kebiasaan beliau dikenal banyak orang; keluar dari rumahnya
mengajar di Jami’ah, kemudian pulang ke rumah, lalu ke masjid Nabawi menyampaikan ta’limnya
sesudah Ashar, sesudah Maghrib, sesudah Isya’ dan sesudah Fajar. Begitulah jadwal beliau, sampai
beliau mengalami sakit keras hingga meninggal dunia. Beliau dikenal menjaga lisannya, tidak
mengejek, tidak mencela dan tidak mengghibah. Bahkan beliau tidak mengizinkan seorangpun
melakukan ghibah dan menyebut aib manusia di hadapannya. Ketika terjadi suatu kesalahan pada
sebagian panuntut ilmu pada suatu kaset atau kitab, beliau mendengarkan atau membacanya. Jika
nampak bagi beliau kesalahan tersebut, beliau lakukan nasihat terhadapnya. Beliau dikenal lembut dan
pemaaf. Dengan kelembutan dan sikap memaafkan, beliau hadapi ujian, makar dan gangguan. Beliau
memiliki perhatian yang sangat besar kepada murid-muridnya. Beliau hadiri undangan-undangan
mereka. Menanyakan keadaan mereka dan mengatasi sebagian permasalahan keluarga mereka.
Ringkasnya, beliau membantu mereka dengan harta, waktu dan kedudukannya.

Pujian Para Ulama Kepadanya

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata, “Beliau dikenal dengan keilmuannya,
keutamaannya, kelurusan aqidahnya dan kegigihan dakwahnya kepada Alloh serta memperingatkan
dari bid’ah dan khurafat. Semoga Alloh mengampuninya, menempatkannya dalam keluasan surga-Nya,
memperbagus keturunannya dan semoga Alloh mengumpulkan kita semua dan beliau di negeri
kemuliaan-Nya.”

Dalam kesempatan lain, Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata. “Syaikh Muhammad Aman
al-Jami dan Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali, keduanya termasuk Ahli Sunnah. Keduanya dikenal
dengan keilmuan, keutamaan dan kelurusan aqidahnya. Syaikh Muhammad Aman al-Jami telah wafat
pada malam kamis 27 Sya’ban tahun ini. Aku berwasiat agar dipelajari kitab-kitab keduanya. Aku
memohon agar Alloh memberikan taufiq kepada kita semua pada apa yang dia cintai dan dia ridhai.”

Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd al-Abbad berkata, “Aku mengenal Syaikh Muhammad Aman al-Jami
ketika belajar di ma’had ilmi Riyadh dan sebagai dosen di Universitas Islam Madinah. Aku mengenal
beliau dengan kelurusan aqidah dan keselamatan arah. Beliau memiliki perhatian yang besar dalam
menjelaskan aqidah salaf dan memperingatkan dari kebid’ahan di dalam ta’lim-ta’limnya, ceramah-
ceramahnya dan tulisan-tulisannya. Semoga Alloh mengampuninya, merahmatinya dan memberikan
pahala yang berlimpah kepadanya.”

Syaikh Shalih al-Fauzan berkata, “Orang-orang yang berilmu dan memiliki ijazah ilmiah banyak
sekali. Tetapi sedikit dari mereka yang bisa memanfaatkan dan memberikan faedah dari ilmunya.
Syaikh Muhammad Aman al-Jami termasuk kelompok sedikit dari para ulama yang mengarahkan ilmu
dan upaya mereka memberikan faedah dan mengarahkan kaum muslimin dengan dakwah kepada Alloh
melalui ta’lim-ta’limnya di Jami’ah Islamiyah dan masjid Nabawi serta dalam perjalanan dakwahnya di
dalam dan luar Saudi, menyeru kepada tauhid, menyebarkan aqidah yang shahih, mengarahkan para
pemuda umat ini kepada manhaj salafush shalih dan memperingatkan mereka dari pemikiran-pemikiran
yang merusak dan seruan-seruan yang menyesatkan. Siapa saja yang belum mengenalnya secara
langsung, bisa mengenal melalui kitab-kitabnya dan kaset-kasetnya yang bermanfaat, yang
menampakan keluasan ilmunya. Beliau terus melanjutkan kebaikan amalnya hingga beliau wafat.
Beliau tinggalkan ilmu yang bermanfaat, yang terwujud pada murid-muridnya dan kitab-kitabnya.
Semoga Alloh merahmatinya dan membalasnya dengan kebaikan.”

Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali berkata, “ Adapun Syaikh Muahammad Aman, aku tidak
mengetahui beliau kecuali seorang yang beriman, bertauhid, salafi, faqih dalam agamanya, dan
mempuni dalam ilmu aqidah. Tidak pernah kulihat yang lebih bagus darinya dalam memaparkan
aqidah. Beliau telah mengajarkan kepada kami al-Wasithiyah dan al-Hamawiyah saat di marhalah
Tsanawiyah. Tidak pernah kami melihat yang lebih bagus dari beliau dalam memahamkan para murid.
Kami mengenal beliau dengan akhlak yang mulia, tawadhu dan kewibawaan. Kami memohon kepada
Alloh agar mengangkat derajat beliau di surga dengan sebab celaan-celaan dan perkataan-perkataan
yang tidak pantas dari ahlul ahwa’ (pengikut hawa nafsu) kepadanya. Terakhir, beliau meninggal
dengan berwasiat agar selalu berpegang teguh dengan aqidah yang shahih, berwasiat kepada para
ulama agar memperhatikan masalah aqidah. Ini menunjukan kejujurannya –insya Alloh- dalam
keimanannya dan dalil atas khusnul khatimahnya. Semoga Alloh selalu mencurahkan kepada kita dan
beliau rahmat dan keridhaanNya.”

Syaikh Muhammad bin Ali bin Muhammad Tsani berkata, “Beliau adalah seorang ulama salafi.
Merupakan teladan utama dalam dakwah islamiyah. Beliau memiliki ceramah-ceramah di masjid-
masjid dan pertemuan-pertemuan ilmiah di dalam dan luar negeri. Beliau memiliki tulisan-tulisan
dalam masalah aqidah dan yang lainnya. Semoga Alloh memberikan balasan sebaik-baiknya kepada
beliau dan mencurahkan pahala yang banyak di akhirat.”

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab al-Banna berkata, “Beliau adalah sebaik-baik yang kami cintai
dalam keluhuran akhlaknya, kelurusan aqidahnya, dan kebagusan pergaulannya.”

Syaikh Muhammad bin Hamud al-Waili berkata, “Aku mulai mengenal Syaikh Muhammad Aman al-
Jami pada tahun 1381 H ketika daulah Saudi Arabia mendirikan Universitas Islam Madinah. Beliau
termasuk para pengajar yang pertama ditugaskan di Universitas tersebut, sedangkan aku salah seorang
mahasiswanya. Beliau termasuk diantara para masyayikh yang memberikan perhatian yang khusus
kepada para murid sehingga mereka tidak berhenti dalam hubungan pengajaran. Pada kebanyakan
ta’limnya, beliau memiliki perhatian yang besar dalam menjelaskan aqidah salafush shalih dalam
pelajaran aqidah maupun yang lainnya.

Ketika menjelaskan aqidah salafush shalih dan berusaha menanamkannya dalam jiwa para muridnya
yang berasal dari seluruh penjuru negeri, beliau sampaikan dengan gaya bahasa yang mereka mengerti.
Karena beliau telah merasakan keindahan aqidah salaf dan menelaah kedalamannya, sampai-sampai
seorang yang mendengar dan menyaksikan beliau ketika berbicara tentang aqidah salaf merasakan
hatinya merasa cinta dan terikat dengan aqidah salaf. Beliau memiliki banyak rihlah dakwah dan ta’lim
di luar negeri Saudi. Tidak pernah datang suatu kesempatan melainkan beliau gunakan untuk
menjelaskan keagungan dan kejernihan aqidah salaf dengan penjelasan yang memuaskan. Orang yang
membaca tulisan-tulisan dan risalah beliau akan meraba kebenaran dakwahnya. Saya hadir ketika
beliau mempertahankan disertasi doktornya di Darul Ulum cabang Universitas Kairo Mesir. Beliau
berupaya di dalam disertasinya tersebut menjelaskan kejernihan aqidah salaf dan keselamatan manhaj
salaf. Beliau singkapkan keborokan setiap manhaj yang menyeleweng dari aqidah salaf serta kebatilan
setiap tuduhan yang diarahkan kepada para penyeru aqidah salaf yang menghabiskan umurnya
menyeru dan mengabdi kepada aqidah salaf. Beliau juga mematahkan setiap perkataan dan syubhat
para pemilik kebatilan yang berusaha menjatuhkan manhaj salaf.

Ringkasnya, beliau begitu mendalam kecintaannya terhadap aqidah salafush shalih, ikhlas dalam
mendakwahkannya, begitu gigih dalam membelanya, serta pemberani di dalam menyampaikan
kebenaran. Semoga Alloh mengampuni beliau dan kita semua.”

Murid-Muridnya

Di antara murid-muridnya: Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali, Syaikh Zaid bin Hadi al-Madkhali,
Syaikh Ali bin Nashir Faqihi, Syaikh Muhammad bin Hamud al-Waili, Syaikh Abdul Qadir bin
Habibullah as-Sindi, Syaikh Shalih bin Sa’d as-Suhaimi, Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid, Syaikh
Falih bin bin Nafi’ al-Harbi, Syaikh Shalih ar-Rifa’i, Syaikh Falah Isma’il, Syaikh Falah bin Tsani,
Syaikh Ibrahim bin Amir ar-Ruhaili, dan masih banyak lagi selain mereka.

Tulisan-Tulisannya
Di antara tulisan-tulisan beliau: Sifat Ilahiyyah fil Kitab was Sunnah Nabawiyyah fi
Dhau’il Itsbat wa Tanzih, Manzilatus Sunnah fi Tasyri’ Islami, Majmu’ Rasa’il Jami’
Fil aqidah was Sunnah, Aqidah Islamiyyah wa Tarikhuha Haqiqatu Demokratiah wa
Annaha Laisat minal Islam, Haqiqatusy Syura fil Islam, Adhwa’ ‘ala Thariqi Da’wah
fil Islam, Tahhih Mafahim fi Jawaniba minal aqidah, Muhadharah Difa’iyyah anis
Sunnah Muhammadiyyah, aql wa Naql ‘inda Ibnu Rusyd, Thariqatul Islam fi
Tarbiyyah, Masyakilu Da’wah wa Du’at fi Ashril Hadits Islam fi Afriqia Abra Tarikh,
dan yang lainnya.

Wafatnya

Syaikh Muhammad Aman al-Jami wafat di Madinah pada waktu pagi hari Rabu 26 Sya’ban 1416 H
dan dimakamkan di pekuburan Baqi’ Madinah. Semoga Alloh meridhainya dan menempatkannya
dalam keluasan jannah-Nya.




                                            
  Syaikh Muhammad bin Muhammad Dhiya`I (1940-
                   1994.M)
Ia lahir di desa Hud tahun 1940. Belajar sekolah dasar dalam ilmu syari`ah Islam pada Syaikh Ahmad
Faqihi, Mufti Ahlus Sunnah. Setelah ia menamatkan ilmu syari`ah pada Madrasah Sulthan Ulama di
kota Lanja, ia pindah ke Madinah Munawarah untuk meneruskan ke Fakultas Syari`ah Universitas
Islam Madinah dan tamat pada tahun 1970. Secara luas ia dipandang sebagai murid kesayangan Syaikh
Abdul Aziz bin Baz, Mufti Kerajaan Arab Saudi Arabia.

Seusai menamatkan kuliahnya ia kembali ke Bandar Abas di Iran. Ia bekerja sebagai guru bahasa Arab,
khatib dan imam jum`ah di kota itu.

Sejak tahun 1981 pemerintah Iran mulai menekan dirinya. Ia ditangkap setelah melakukan wawancara
dengan Majalah Al-Mujtama` (5/10/1982) dan dipenjarakan selama 4 bulan. Lalu ia terus menerus
diawasi pihak keamanan dian kemudian ditangkap lagi. Penyebabnya adalah karena Syaikh Dhiya`i
mengritik keputusan pemerintah yang menyatakan bahwa fatwa-fatwa Khomeini diwajibkan bagi
seluruh kaum Muslimin. Beliau menolak keputusan pemerintah agar semua kaum Muslimin
memberikan loyalitasnya kepada Ali Khomeini sebagai Marja` Taqlid bagi seluruh kaum Muslimin.
Syaikh Dhiya`i menolak seruan itu dengan alasan menurut keyakinan Ahlus Sunnah beramal tidak
boleh atas dasar taqlid.

Syaikh Dhiya`i sebelum akhir hayatnya berperan aktif dalam memelihara ketenangan di kawasan Ahlus
Sunnah Bandan Abas dan Laristan setalah kaum Muslimin melakukan protes terhadap pengahancuran
Masjid Sunni di Masyhad bulan Februari 1994. Tekanan justru semakin kuat setelah Syaikh Dhiya`i
aktif memprakarsai pengumpulah dana untuk membangun kembali Masjid Masyhad dan membuka
kembali Masjid Muzhffaryan di Siraz serta melepaskan ikatan yang dipaksakan atas sekolah-sekolah
dan tempat-tempat ibadah kaum Sunni diseluruh Iran.

Rekayasa Pemerintah

Pada tanggal 20 Juli 1994 Kepolisian Iran mengumumkan bahwa Syaikh Dhiya`i meninggal karena
kecelakaan mobil. Hal itu diumumkan satu pekan setelah ia raib pada waktu ia memenuhi panggilan
pihak keamanan untuk menjalani pemeriksaan dan interogasi. Pada awalnya, Syaikh Dhiya`i yang beru
beberapa hari pulang dari Teheran untuk menjalani penyelidikan atas dirinya, dipanggil oleh Walikota
Laristan. Dalam panggilan itu ida dinyatakan tidak boleh ditemani oleh siapapun. Sesuai dengan isi
panggilan dan ketentuan tanggalnya, Syaikh Dhiya`i pun berangkat.

Tetapi sampai tiga hari kemudian, beliau belum juga pulang, juga tidak ada kabar. Setelah dicek ke
kantor Walikota, para penguasa kota itu mengatakan bahwa Syaikh telah diberangkatkan ke Teheran
untuk menjalani penyelidikan dan pemeriksaan atas dirinya.

Pihak keluarga lalu memutuskan untuk pergi ke Teheran guna mengetahui nasib Syaikh Dhiya`i. Tetapi
mereka tidak mendapat kabar apapun tentang keadaan dirinya dari pihak berwajib di Teheran. Dua hari
setalah itu pihak keluarga Syaikh dikejutkan dengan berita kematian beliau.

Pemerintah Bandar Lanjah menghubungi keluarga Syaikh Dhiya`i di daerah Bandar Abbas dan
memberitahu bahwa Syaikh telah meninggal akibat mobil yang dikendarainya terbalik. Hal itu terjadi
ketika ia menuju Teheran. Demikianlah kisa kematian Syaikh Dhiya`i menurut versi pemerintah dan
pihak                                                                                 keamanan.
Mendengar berita itu keluarga Syaikh bergegas pergi menuju tempat terjadinya kecelakaan
sebagaimana telah diberitakan oleh pihak kepolisian. Ketika mereka sampai ke suatu tempat di
kawasan kota Bastak yang dikatakan sebagai tempat terbaliknya mobil yang ditumpangi Syaikh
Dhiya`i, pihak keluarga tidak menemukan sesuatu yang menunjukkan adanya kecelakaan di tempat itu.
Pihak keluarga semakin gelisah. Kekhawatiran campur dengan ketakutan semakin menghantui pihak
keluarga yang ditinggalkan.
Dua hari kemudian, seorang tentara mendatangi rumah Syaikh Dhiya`i dan mengajak keluarga beliau
ke tempat terjadinya kecelakaan yang menyebabkan kematiannya. Tentara itu membawa keluarga
Syaikh ke jembatan Mahran yang tingginya mencapai 15 meter dan terletak persis dekat Markas
kepolisian Mahran.

Petugas itu mengatakan bahwa mobil yang dikendarai Syaikh berada di bawah
jembatan itu. Memang di bawah jembatan itu terlihat sebuah mobil yang berhenti
normal dan sedikit rusak dibagian bodinya. Tapi tidak ada tanda-tanda darah bekas
satu kecelakaan. Pihak keluarga semakin ragi tentang kebenaran cerita pihak
keamanan bahwa kematian Syaikh akibat kecelakaan mobil.

Kepada majalah Al Mujtama` pihak keluarga Syaikh Muhammad Dhiya`i menjelaskan, Kepala Syaikh
rusak berat dan mukanya hancur sehingga sukar dikenali. Meliha kerusakan kepala dan muka seperti
itu jelas bahwa kematiannya sama sekali buka karena kecelakaan. Bahan kimia asam telah merusakkan
wajah dan mayatnya.

Sayyid Murtadha Husaini, juru bicara keluarga Syaikh Dhiya`i dalam pernyataan yang dikutip berbagai
kantor berita pada tanggal 28 Juli 1994 menyatakan, Mayat Syaikh Dhiya`i yang diterima keluarga
benar-benar hancur dan sangat mengerikan. Ia menambahkan, Kedua lengan dan kakinya remuk.
Kepalanya hancur akibat kena pukulan benda keras berkali-kali. Semua itu memastikan bukan karena
kecelakaan. Jujurkah pemerintah Syi`ah Iran terhadap slogan-slogan Islamnya???




                                                 
                Asy Syaikh Abdullah Al Ghudayyan


Beliau dilahirkan pada tahun 1345 H/ 1934 di kota Az Zulfi.

Beliau belajar dan qiraah dan menulis ketika masih muda bersama Abdullah bin Abdul Aziz As
Suhaimi, Abdullah bin Abdurrahman Al Ghayts, dan Falih Ar Rumi. Beliau juga belajar ushul fiqh,
tauhid, nahwu, dan ilmu waris dari Hamdan bin Ahmad Al Batil. Beliau kemudian berangkat ke
Riyadh pada tahun 1363 H/ 1852 M, dan di tahun 1366 H/ 1955 M beliau belajar di Madrasah As
Sa’udiyyah Al Ibtidaiyah (dulu dikenal sebagai Madrasah Al Aytam) dan tamat pada tahun 1368 H/
1957 M.

Beliau lalu ditunjuk sebagai pengajar di Madrasah Al Aziziyah, dan di tahun 1371 H / 1960 M beliau
masuk ke institut pendidikan. Pada waktu itu beliau belajar dari Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu
Syaikh (mufti ‘am Kerajaan Saudi Arabia pada masa itu –wr1). Beliau juga belajar fiqh dari Syaikh
Sa’ud bin Rasyud yang merupakan hakim tinggi Riyadh, tauhid dari Syaikh Ibrahim bin Sulaiman,
serta nahwu dan ilmu waris dari Asy Syaikh Abdul Latif bin Ibrahim. Kemudian beliau pun
melanjutkan studi beliau sampai lulus dari fakultas syariah di tahun 1372 H. 1961 M.

Asy Syaikh Abdullah Al Ghudayyan lalu ditunjuk sebagai salah seorang kepala pengadilan yang
kemudian dipindahkan untuk mengajar di Institut Pendidikan pada tahun 1378 H/ 1967 M. Pada tahun
1380 H/ 1969 M, beliau ditunjuk sebagai pengajar di fakultas syariah, dan di tahun 1386 H/ 1975 M
beliau dipindahkan lagi ke bagian fatwa di Darul Ifta.

Di tahun 1391 H/ 1980, beliau ditunjuk sebagai anggota Al Lajnah Ad Daimah, sebuah dewan tetap
untuk penelitian masalah keislaman dan fatwa, dan juga ditunjuk pula sebagai anggota Kibaarul Ulama,
Dewan Tinggi Ulama.

Beliau belajar kepada para ulama dari berbagai bidang. Guru-guru beliau yang kita kenal bersama
antara lain:
• Asy Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, dari beliau Asy Syaikh belajar fiqh.
• Asy Syaikh Abdullah Al Khulayfi, Asy Syaikh juga belajar fiqh darinya.
• Asy Syaikh Abdul Aziz bin Rasyid, Asy Syaikh belajar fiqh, tauhid, dan ilmu waris dari beliau.
• As Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithi, Asy Syaikh belajar ushul fiqh, ilmu Al Qur’an dan
Tafsir.
• Asy Syaikh Abdurrahman Al Afriqi, beliau belajar mustalah dan hadits.
• Asy Syaikh Abdurrazzaq Afifi.
• Asy Syaikh Abdul Fattah Qari Al Bukhari, Asy Syaikh belajar qira’ah Hafs an Aasim dengan sanad
yang sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sebagai tambahan tugas beliau, mulai tahun 1389 H/ 1978 M sampai sekarang, Syaikh Abdullah Al
Ghudayyan juga mengajar fiqh, ushul fiqh, kaidah fiqh, musthalah hadits, tafsir dan ilmu tafsir serta
akidah.

Beliau juga mengajarkan fiqh dalam muhadharah dan dars hampir setiap hari, sesuai dengan jadwal dan
padanya tugas beliau, setelah maghrib dan setelah isya. Sesekali beliau mengajar setelah shalat subuh
dan setelah ashr.

Di tahun 1395 H/ 1984 M, sebagai tugas tambahan beliau di Al Lajnah Ad Daimah, Syaikh Abdullah
mengajar para mahasiswa Universitas Imam Muhammad dan di fakultas Syariah dalam mata kuliah
fiqh, ushul fiqh, serta kaidah fiqh. Beliau juga terlibat langsung dalam supervisi tesis untuk program
master dan doktoral di universitas tersebut, beliau juga ambil bagian dalam komite universitas untuk
pendiskusian thesis. Selama masa ini, banyak mahasiswa yang belajar dari beliau.
Setelah Asy Syaikh Abdullah bin Humaid meninggal pada tahun 1402 H/ 1991 M, Asy Syaikh
Abdullah Al Ghudayyan menggantikan beliau dalam memberi fatwa di program Radio Nur ‘alad Darb.

           Dinukil dari: http://ulamasunnah.wordpress.com dari http://fatwa-online.com/scholarsbiographies
                                          /15thcentury/ibnghudayyaan.htm)




                                                          
                             Syaikh Ubaid Al-Jabiri
Beliau adalah Ubaid bin Abdillah bin Sulaiman Al-Hamdani Al-Jabiri. Suku Jabir termasuk ke dalam
keluarga Harbul Hijaz. Syaikh Ubaid dilahirkan pada tahun 1357 H di kota Faqir yang berada di
lembah Far’in yang masih termasuk distrik Madinah Nabawi.

Studi Beliau

Di tahun 1365, beliau berangkat bersama ayahnya ke Ma’had Adz-Dzahab, di mana ini adalah
pendidikan pertama bagi beliau.

Beliau tinggal di Madinah tahun 1374, namun karena kondisi keluarga yang tidak memungkinkan,
beliau tidak dapat melanjutkan studi beliau selama beberapa waktu.

Pada tahun 1381, beliau kembali belajar di Darul Hadits Madinah yang dilanjutkan ke tingkat Ma’had
Al-Ilmi. Setelah itu beliau kuliah di Universitas Islam Madinah mengambil jurusan syari’ah. Beliau
lulus di tahun 1392 H dengan predikat ‘excellent’ dan terbaik di kelas beliau.

Guru-guru Beliau

Di antara guru-guru beliau yang bisa disebutkan antara lain:

- Di Darul Hadits:
1. Syaikh Sayfur-Rahmaan bin Ahmad
2. Syaikh ‘Ammaar bin ‘Abdillaah

- Di Ma’had Al-Ilmi:
1. Syaikh ‘Abdul-‘Aziz bin ‘Abdillaah Al-Khudayri
2. Syaikh ‘Awdah bin Talqah Al-Ahmadi
3. Syaikh Dakhilullaah bin Khalifah Al-Khaliti
4. Syaikh ‘Abdur-Rahmaan bin ‘Abdillaah Al-‘Ajlaan
5. Syaikh Muhammad bin ‘Abdillaah Al-‘Ajlaan

- Di Universitas Madinah:
1. Al-Muhaddits Syaikh Hammaad bin Muhammad Al-Ansaari
2. Al-Muhaddits, Syaikh ‘Abdul-Muhsin Al-‘Abbaad
3. Syaikh Abu Bakr Al-Jazaa’iri

Tugas-tugas Beliau:
1. Beliau menjadi Imam Masjid As-Sabt di Kota Madinah mulai dari tahun 1387 sampai 1392 H.

2. Beliau mengajar di sekolah “Umar bin Abdil Aziz” di Kota Jeddah dari tahun 1392 sampai dengan
1396 H.

3. Beliau bertugas sebagai dai di Markaz Da’wah wal Irsyad di kota Madinah, di mana beliau menjabat
sebagai asisten ketua dari tahun 1396 sampai 1404 H.

4. Beliau mengajar di Universitas Islam Madinah mulai akhir 1404 H sampai awal Rajab 1417, di mana
beliau pensiun karena ada restrukturisasi di dalam universitas. Selama mengajar, Syaikh menyelesaikan
master beliau di bidang tafsir di universitas yang sama.

Buku-buku yang Beliau Tulis
Asy-Syaikh menulis beberapa buku yang penting, di antaranya adalah:

1. Taysirul-Ilaah bi-Sharh Adillati Shuroot Laa Ilaaha IllaaAllaah, tentang penjelasan Lailaha illallah
2. Tanbih Dhiwi-ul-‘Uqool as-Salimah ilaa Fawaa’id Mustanbatah minas-Sittatil-Usool al-‘Adhimah,
merupakan syarh (penjelasan) terhadap Kitab Ushulus Sittah karya Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil
Wahhab
3. Imaad-ul-Qaari bi-Sharh Kitaab at-Tafsir min Sahih-il-Bukhaari, penjelasan tentang hadits-hadits
tafsir dari kitab Shahih Al-Bukhari
4. Syarh Muntaqa Ibni Jaruud
5. Syarh Ushul At-Tsalatsah, penjelasan Ushul Tsalatsah karya Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil
Wahhab
6. Syarh Qowaidul Fiqhiyah, penjelasan kaedah fiqh dari Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-
Sa’di

Dinukil dari http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/02/04/biografi-syaikh-ubaid-al-jabiri




                                                              
        Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin
Nama dan Nasabnya

Nama dan silsilah keturunannya adalah Abu Muhammad Abdullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin
Ibrahim bin Fahd bin Hamd bin Jibrin. Silsilahnya bersambung sampai ke kabilah Bani Zaid.

Kelahirannya

Beliau lahir tahun 1349 H. di desa Muhairaqa, Qowaiea. Terletak sekitar 180 km dari ibu kota Riyad.

Pendidikan
Setelah usianya genap satu tahun, mereka pindah ke Rayan. Di kota kecil itu orang tuanya
memasukkannya sekolah tahun 1358 H. Mulailah ia belajar membaca dan menulis sampai tahun 1364
H. Setelah itu ia mulai menghafal al-Quran. Sebagian al-Quran berhasil ia hafal khususnya bagian
sepertiga terakhir dan sisanya ia belajar dengan ayahnya Syaikh Abdurrahman sambil menghapal
hadits nabawi yang empat puluh termasuk mempelajarinya sebagai ilmu-ilmu dasar.

Pada tahun 1467 H, ia mengajukan permohonan belajar kepada Syaikh Abdul Aziz Sythry -
rahimahulloh- agar bisa ikut belajar ‘(menjadi muridnya), akan tapi sang Syaikh tidak mau menerima
murid, jika murid tersebut belum hapal al-Quran 30 juz. Akhirnya Syaikh Jibrin berusaha
berkonsentrasi menghafal al-Quran hingga ia menghafalnya dengan betul, dan hafalannya selesai tepat
pada penghujung tahun.

Setelah itu barulah ia belajar dengan Syaikh Sythry dengan jadwal setiap sehabis sholat Subuh,
dilanjutkan lagi di waktu duha (pagi), kemudian satu jam setelah sholat Ashar dan setelah sholat
Maghrib hingga masuk waktu sholat Isya. Buku-buku yang dipelajarinya pun bervariasi; mulai dari
buku-buku ringkas seperti: Zaadul Mustaqniq, `Umdatul Kalam, al-Arba’in an-Nabawiyah, Kitabut
Tauhid, Tsalatsatu Ushul, Syuruth as-Shalah, Adabul Masyi ila as-Shalah, AI Ilqidah al-Wasithiyah
dan al-Hamawiyah. Untuk pelajaran Nahwu dan Shorof, ia mempelajari buku Matan AI Ujrumiyah.

Dalam hal pelajaran Faraid, ia mempelajari buku arRahabiyah. Begitu juga ia belajar pakai buku-buku
syarah besar, seperti buku: Subulus Salam, Syarh a!-Arba’in an-Nabawiyah karangan Ibnu Rajab, buku
Tarikh karangan Ibnu Katsir berikut dengan kitab Tafsirnya, Tarsir Ibnu Jarir at-Thabari, Syarh Masa’il
al-Jahiliyah karangan Mahmud al-Alusi al-Iraqi, buku tafsir anNaisaburi yang berjudul Gharaib al-
Quran, dan masih banyak lagi buku-buku syarah dan karangan-karangan ulama baik itu yang masih
berupa manuskrip maupun yang sudah dicetak. Selama masa belajar, ia tidak henti-hentinya mengulang
hafalan al-Quran. Setelah ayahnya wafat, ia sholat Jum’at dan berjamaah di Mesjid Raya.

Belajar ke luar daerah

Ia menamatkan studi di Ma’had Imam Dakwah, Riyadh tahun 1381 H. Setelah itu ia diterima menjadi
tenaga pengajar di sekolah yang sama. fa bekerja sebagai tenaga pengajar hingga berikutnya ia diminta
pindah ke Universitas Imam Muhammad bin Sa’ud Islamiyah menjadi dosen di Fakultas Syariah dan
Ushuluddin tahun 1395 H, yaitu sebelum dua kuliah tersebut dipisah menjadi dua. Ia masuk sebagai
staf akademik fakultas tersebut dan selama ia aktif di sana telah banyak membimbing disertasi
Magister.

Pada tahun 1402 H, beliau ditetapkan sebagai anggota komisi fatwa di Dewan Riset Ilmiah dan Fatwa,
dekat dengan gurunya Syaikh Abdul Aziz bin Baz -rahimahulloh-. Pengabdiannya di dewan tersebut
merupakan akhir karirya dan setelah itu ia memasuki masa pensiun di bulan Rajab 1418 H. Semoga
Alloh Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menjaganya.

Syaikh Jibrin meraih gelar Magister dari Perguruan Tinggi Kehakiman tahun 1390 H. dengan judul
disertasi “Akhbar al-Aahad fi al-Hadits an-Nabawi” dengan yudisium cumlaud. Gelar doktomya diraih
dari perguruan tinggi yang sama pada tahun 1407 H. mentahqiq (investigasi) terhadap buku “Syarah
az-Zarkasy ‘ala Mukhtashar al-Khuraqi” dengan yudisium cumlaud level pertama. Dalam disertasi itu
ia bertugas mentaqhiq dan mentakhrij (footnote) hadits sebanyak 7 jilid buku dan buku-buku itu
sekarang dicetak dan beredar di toko-toko buku.

Kegiatan harian

Jadwal kegiatan harian Syaikh dimulai dari setelah shalat Subuh memberikan ceramah di salah satu
masjid sampai matahari terbit, kemudian pulang ke rumah untuk istirahat. Setelah istirahat, berangkat
ke kantor Dewan Riset Ilmiah dan Fatwa. Di kantor, ia menjawab pelbagai pertanyaan tentang masalah
keagamaan.

Meskipun penanya-penanya itu ramai setiap hari, ia tidak pemah jenuh. Ia siap membantu siapapun
yang membutuhkan bantuan, dan meringankan beban siapapun yang memerlukan. Ia bersedia
mengangkat dering telepon penanya. Peat teleponnya tidak pernah berhenti berdering.

Demikianlah kesibukannya sehari-hari. Kerap kali ia orang yang paling terakhir pulang dari kantor
Fatwa, bahkan ia sendiri yang mematikan lampu-lampu. Setelah shalat Ashar rumahnya terbuka untuk
umum, juga ia menjawab pertanyaan-pertanyaan masyarakat tentang masalah agama. Kalau perlu, ia
memberikan orientasi, atau memberikan rekomendasi bagi siapa saja yang membutuhkan, sampai
masuk waktu Maghrib. Kemudian, ia berangkat ke salah satu masjid di kota Riyad untuk mengisi
jadwal pengajian mingguan, mengingat jumlah jadwal pengajiannya dalam seminggu sampai sebelas
kali. Setelah sha!at Isya berangkat lagi ke masjid lain, kadang mengisi pengajian, atau seminar dan
lain-lain.

Demikianlah jadwal harian Syaikh yang sarat dengan muatan dakwah kepada Alloh Subhanahu wa
Ta’ala sepanjang pekan. Semoga martabatnya ditinggikan Alloh Subhanahu wa Ta’ala di sisi-Nya.

Keistimewaan Syaikh

Syaikh dikenal sebagai orang yang tawadhu (rendah hati). la sedikit bicara dan tidak akan bicara, kalau
tidak karena menjawab pertanyaan. Kalau ulama lain berseberangan pendapat dengannya mengenai
suatu hukum atau fatwa syariah, dengan tawadhu ia mengatakan, “mereka adalah ulama dan kita mesti
menghormatinya.” Dalam hal menanggapi pendapat ulama lain, ia tidak mau mendebat dengan cara
yang kasar dan radikal. Apabila Syaikh Jibrin diundang mengisi pengajian atau ceramah agama di
daerah manapun, ia tidak pernah menolak, selama dirinya tidak terikat dengan jadwal atau janji pada
pihak lain. Syaikh Jibrin senantiasa berbaik sangka dan tidak pernah merasa iri terhadap siapapun dari
kaum ahli sunnah wal jamaah, -sepengetahuan saya dan hanya Allahlah yang lebih tahu- ia selalu
tawadhu dalam segala hal. Orang-orang yang mengenalnya pasti menyukainya karena kelapangan
hatinya. Tidak mau menolak pelajar atau mahasiswa, atau orang-orang yang minta bantuan. la penuhi
permintaan mereka sendirian. Segenap waktunya adalah pengabdian kepada Allah dan agama.
Hidupnya dipenuhi dengan kalimat-kalimat Allah atau dengan sabda-sabda Rasululloh ShallAllohu
‘alaihi wa Sallam.

Martabat dan ketinggian yang ada padanya, dikarenakan ketawadhuannya, mengingat hadits yang
diriwayatkan Imam Muslim, Imam Turmudzi dan Imam Ahmad, “Barangsiapa yang bersikap
tawadhu’, Allah pasti akan mengangkat martabatnya. ” Apalagi bagi seorang yang diberi ilmu
pengetahuan, wara’ dan tawadhu’. Semoga Allah mengampuni kita semua, kita dapat meraih surga
dan terhindar dari siksa neraka. ,Washallahu wa sallam `ala Muhammad wa alihi wa shahbihi.

Buku-buku karangan:

    1.   Syarh az-Zarkasyi ‘Ala Mukhtashar al-Khurafi; Dirasah wa Tahqiq.
    2.   Akhbar al-Ahad fi Hadits an-Nabawi.3. At-Ta’liqaat Ala Matn Lam’ah al-1′tiqad.
    3.   At-Ta’liqaat Ala Matn Lam’ah al-1′tiqad.
    4.   Fadhlllmi wa Wujub at-Ta’allum.
    5.   AhammiyahAl `flmi wa MakanatuAl `Ulama’.
    6.   Majmu’ Fatawa wa Rasa’il as-Syaikh Abdullah al-Jibrin.
    7.   AI-Mufid fii TaqribAhkam al-Musafir (173 hukum).
    8. AI-Mufid fii TaqribAhkam al-Adzaan (123 hukum).
    9. Al `llam bi Kufri Man Ibtagha Ghairu al-Islam.
    10. As-Siraj al-Wahhaj Lil Mu’tamir wal Hajj.
    11. As-Shiyam: Adab waAhkam.
    12. Khawathir Ramadhaniyah.
    13. Fatawa Adz-Dzakah.
    14. AI-Islam baina al-GF.alw wa al-Jafa’ wa al-Ifrath wa Tafrith.
    15. Fitan Hadza az-Zaman.
    16. AI-Wala’ wa al-Barra’.
    17. Haqiqatullltizam.
    18. AI-Adab wa al-Akhlaq asy-Syar’iah.
    19. Fatawa waAhkam fi Nabiyullah Isa ‘Alaihis Salam.
    20. Syarh AI ‘Aqidah al-Wasatiyah.
    21. Syarh Kitab at-Tauhid.
    22. Fawaid min Syarh Kitab Manar as-Sabil.
    23. Fawaid min Syarh Kitab at-Tauhid.
    24. AI-Amanah.
    25. AI-Hajj: Manafi’uhu waAtsaruhu.
    26. As-Salaf Ash-Shalih baina al-Ilmu wa al-Iman.
    27. AI-Bida’ wa al-Muhadditsat fi AI-Aqaid waAl-A’mal.
    28. Muharramat Mutamakkinah fi Al Ummah.
    29. AI-Jawab al-Faiq fi ar-Radd Ala Mubdil al-Haqaiq.
    30. Asy-Syahadatan Ma’nahuma wa Ma Tastalzimuhu Kullu minhuma.
    31. Syarh Kitab Minhaju as-Salikin.
    32. AI-Irsyad Syarh Lam’atu AI `Itiqad.

Adapun tulisan-tulisan yang pernah diperiksa dan diberinya kata pengantar cukup banyak dan tidak
terkira jumlahnya. Wallahu A’lam Bishshawwab




                                               
                     Syaikh Salim Bin ‘Ied Al Hilali


Nama dan Nasabnya

Beliau adalah asy-Syaikh al-Muhaddits Abu Usamah Salim bin Ied al-Hilaly as-Salafy al-Atsary, salah
seorang murid terpercaya al-Imam al-Muhaddits al-Allamah Muhammad Nashiruddin bin Nuh an-
Najaty al-Albany Rahimahullah.

Kelahirannya

Beliau dilahirkan pada tahun 1377H/1957M di al-Khalil, Palestina. Beliau sekarang berdomisili di
Amman, Yordania bersama murid-murid Imam Albany lainnya membentuk Markaz Imam Albany.

Latar belakang Beliau :

Beliau menimba ilmu daripada Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani–Rahimulloh-dan menemani
beliau hampir selama 25 tahun. Beliau juga bertemu dan menimba ilmu daripada beberapa ulama
Hadith di India, Pakistan dan Hijaz, Arab Saudi yang kemudian beliau menerima ijazah sebagai
perawi/periwayat hadith dari guru-guru tersebut dan diperbolehkan mengajar dan meriwatkannya.
Diantara guru-guru beliau dalam belajar ilmu hadith adalah Shaikh Badee’ Ar-Raashidee (Muhaddith
dari Sind), Shaikh Muhibb-ud-Deen Ar-Raashidee, Shaikh ‘ Abd-Ul-Ghafaar Hasan, Shaikh
Muhammad ‘ Abdah Al-Falaah, Shaikh ‘ Ataa-Ulaah Haneef (Muhaddith dari Punjab) dan Shaikh
Hammaad Al-Ansaaree (Muhaddith dari Madeenah).

Guru Beliau :

Beliau memiliki banyak guru (masyaikh), diantaranya adalah :

    •   Syaikh al-Muhaddits Muhammad Ya’qub, saudara dari al-Allamah Muhammad Ishaq, cucu
        dari al-Allamah al-Muhaddits Abdul Aziz ad-Dihlawi. (Ulama Hadits India).
    •   Syaikh al-Qodhi Hushain bin al-Muhsin as-Siba’i al-Yamani, murid Imam Ibnu Nashir al-
        Haazimi yang merupakan murid terkemuka Imam Syaukani.
    •   Syaikh Abdul Haq bin Fadhl al-Hindi yang juga merupakan murid Imam Syaukani.
    •   Syaikh al-Muhaddits Badi’ur Rasyidi (Muhaddits Sind)
    •   Syaikh al-Muhaddits Muhibbur Rasyidi
    •   Syaikh Abdul Ghoffar al-Hassan
    •   Syaikh Muhammad Abdul Falah
    •   Syaikh al-Allamah al-Muhaddits Athau’ullah Hanif (Muhaddits Punjab)
    •   Syaikh al-Allamah Muhammad Ismail al-Anshari (Muhaddits Madinah)
    •   al-Muhaddits al-Ashri al-Allamah Muhammad Nashiruddin al-Albany.

Karya Beliau:

Beliau termasuk ulama’ yang sangat produktif sekali menulis buku dan artikel ilmiah, diantara
karyanya adalah :

    •   Mausu’at al-Manahy asy-Syar’iyyah fii shohih as-Sunnah an-Nabawiyah yang berjumlah 4
        jilid, telah diterjemahkan dengan judul Ensiklopedi larangan oleh Pustaka Imam Syafi’i baru
        satu jilid.
    •   Bahjatun Nadhirin bi Syarh ar-Riyadhis Shalihin yang berjumlah 3 jilid dan telah
        diterjemahkan dengan judul Syarah Riyadhus Shalihin oleh Pustaka Imam Syafi’i.
    •   Shohih al-Adzkar Lin Nawawy yang telah diterjemahkan oleh Pustaka Imam Syafi’i.
    •    Limaadza ikhtartu al-Manhaj as-Salafy yang telah diterjemahkan dengan judul Memilih
         Manhaj Salaf oleh Pustaka Imam Bukhori.
    •    Al-Jama’at al-Islamiyyah fi dhou’il Kitaabi was Sunnah yang telah diterjemahkan sebagian
         (buku asli satu jilid diterjemahkan dalam 2 jilid, dan jilid ke-2 belum keluar) dengan judul
         Jama’ah-Jama’ah Islamiyyah oleh Pustaka Imam Bukhori.
    •    Ar-Riya’u wa atsaruhu fi hayatil muslimin yang telah diterjemahkan dengan judul Riya’ oleh
         Darul Falah.
    •    Mukaffirotu adz-Dzunub fii dhow’il Qur’an al-Karim wa Sunnatis Shahihah al-Muthoharoh
         yang telah diterjemahkan dengan judul 45 amal penghapus dosa oleh Pustaka Progressif.
    •    Shifatu shoumin Nabi (ditulis bersama Syaikh Ali Hasan al-Halaby, telah diterjemahkan oleh
         Pustaka Imam Syafi’i)
    •    Al-Ghurbah wal ghuroba’
    •    Al-Qobidhuuna’alal jamar
    •    Silsilah ahadits laa ahla lahu
    •    Al-Jannah fi Takhrijis Sunnah
    •    Nashhul Ummah fi fahmi ahaaditsi iftiroqil ummah
    •    Iqodhul Hummam (muntaqo Jami’il ‘Ulum wal Hikam)
    •    Al-La’aali al-Mantsuroh bi awshoofi ath-Thoifah al-Manshuroh
    •    Al-Adillah wasy Syawahid
    •    Qurrotul ‘Uyun fi tashhih tafsir Abdullah bin ‘Abbas
    •    Basho’ir dzawis syaraf bisyarhi marwiyati manhajis salaf
    •    Kifayatul HifdhohSyarh al-Muqoddimah al-Muqidhoh fi ‘Ilmi Mustholahil Hadits
    •    Al-Maqoolaat as-Salafiyyah fil Aqidah wad Da’wah wal Manhaj wal Waqi’
    •    Munadhorot as-Salaf
    •    Halawaatul Iman
    •    Mu’allifaat Said Hawwa dirosatan wa taqwiiman
    •    Al-Kawakib ad-Daril Mutalali

Selain sibuk dalam beberapa jabatan pekerjaan Syaikh Salim juga aktif memberikan catatan kaki,
meneliti dan menilai derajat hadith (tahqiq, takhrij dan ta’liq) dari beberapa kitab ulama salaf,
diantaranya :

    1.   Al-Waabil as-Sayyib karya f Ibn Al-Qayyim
    2.   Al-‘Itisaam karya As-Shaatibee (2 jilid)
    3.   Blind Following of the Madh-habs of Al-Ma’soomee
    4.   Al-Adhkaar karya Imam An-Nawawee (2 jilid), telah diterjemahkan “Shahih dan Dhaif kitab
         Al Adzkar”.
    5.   ‘Uddat-us-Saabireen Karya Ibn Al-Qayyim
    6.   Jaami’-ul-‘Uloom wal-Hikam Karya Ibn Rajab

Dan masih banyak lagi tulisan beliau baik berupa buku maupun artikel-artikel ilmiah lainnya yang
belum diterjemahkan hingga berjumlah ratusan. Beberapa karya beliau sering dinukil oleh ulama-
ulama lainnya, seperti Syaikh Bakr Abu Zaed, Syaikh DR. Ibrahim ar-Ruhaili, Syaikh Fauzi al-
Bahraini, dan lain lain. Hal ini menunjukkan kapabilitas ilmu beliau yang tidak diragukan lagi.

Peranan Beliau dalam Dakwah :

Beliau aktif dalam menyerukan dakwah kepada manhaj Salaf. Beliau mungkin adalah salah satu ulama
salafi cukup terkenal di negara-negara Barat (Eropah dan Amerika) karena beliau rutin mengadakan
perjalanan untuk berdakwah ke Negeri Barat untuk mengunjungi dan menghadiri undangan pertemuan
dan konferensi Islam, program serta seminar terutama di Inggeris dan Amerika Syarikat. Beliau juga
mengajar dan memberi kuliah di Jordan, sehingga banyak sekali rakaman kaset pelajaran yang beliau
sampaikan baik dalam Bahasa Arab atau diterjemahkan dalam Bahasa Inggeris .

Aktivitas Beliau
Beliau termasuk salah seorang pendiri Majalah al-Asholah dan menjabat sebagai kepala editornya.
Pendiri Markaz Imam Albany Yordania bersama 4 rekan beliau, murid Imam Albany, yakni Syaikh Ali
Hasan al-Halaby, Syaikh Muhammad Musa Alu Nashr, Syaikh Masyhur Alu Salman dan Syaikh
Husain al-Awaisyah.




                                               
                       Syaikh Ali Hasan Al Halaby
Nama dan Nasabnya

Namanya adalah Syaikh Abul Harits Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid As Salafy Al Atsary.
Beliau lahir di kota Zarqa Yordania, 29 Jumadi at-Tsani 1380 H. (1960 M)

Guru-Guru nya

Ayah dan kakeknya hijrah ke kota Yordania dari kota Yafa Palestina pada tahun 1368 H/1948 M,
karena penjajahan Yahudi (Laknat Alloh atas Yahudi). Beliau memulai studi ilmu-ilmu agama di saat
usia beliau belum melebihi dua puluh tahun, guru beliau yang paling menonjol adalah Al ‘Allamah Asy
Syaikh ahli Hadits Muhammad Nashiruddin Al Albani (semoga rahmat Alloh tercurah padanya),
kemudian syaikh ahli bahasa Abdul Wadud Az Zarazi (semoga rahmat Alloh tercurah padanya) dan
ulama-ulama lainnya.

Beliau berjumpa dengan gurunya yaitu syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani di akhir tahun 1977
di kota Amman Yordania. Beliau belajar pada syaikh Al Albani kitab Iskaalat Al Baiul Hatsis pada
tahun 1981, dan beliau juga mempelajari kitab-kitab Musthalahul Hadits lainnya.

Beliau memiliki ijazah-ijazah (pengakuan) dari sejumlah ulama, di antaranya syaikh Badiuddin As
Sanadi, dan juga Al ‘Allamah Al Fadhil Muhammad As Salik Asa Syinqithi (semoga rahmat Alloh
tercurah pada mereka) dan ulama-ulama lainnya.

Pujian Ulama Terhadap Beliau

Sejumlah ulama yang terkemuka memuji beliau, di antaranya: Asy-Syaikh al-Allamah ahli hadits yang
berilmu tokoh pembela sunnah Muhammad Nashiruddin Al Albani (semoga rahmat tercurah padanya)
sebagaimana dalam kitab Silsilah Ahadits Ash Shahihah 2/720 tatkala syaikh Al Albani menjelaskan
kedustaan “penghancur sunnah” Hasan Abdul Manan; beliau berkata: “…penjelasan yang luas dalam
menerangkan kesalahan ucapannya dalam melemahkan hadits itu membutuhkan satu karya khusus,
dan ini yang tidak mungkin bagi saya lantaran keterbatasan waktu, semoga sebagian saudara-saudara
kami yang mempunyai kemampuan hebat dalam ilmu hadits ini mengarang kitab tentangnya, seperti
misalnya al-Akh Ali al-Halaby.”

Lihat juga Muqaddimah kitab at-Ta’liqat ar-Raudhiyyah ala ar-Raudhah an-Nadiyyah dan kitab
Adabuz Zifaf cetakan Al Maktabah Al Islamiyyah.

Beliau juga dipuji oleh syaikh bin Baz (semoga rahmat Alloh tercurahkan padanya) dimana syaikh
mengomentari kitabnya: “Sesungguhnya kitabnya beraqidah dan bermanhaj salaf.”

Demikian juga syaikh Bakr Abu Zaid memuji beliau dalam kitabnya; Tahrifunnusus min Maaqod Ahlil
Ahwa fil Istidlal hal 93-94.

Demikian juga syaikh Al ‘Allamah ahli hadits Muqbil bin Hadi al-Wadi’I (semoga rahmat Alloh
tercurah padanya) memuji beliau. Syaikh Muqbil menuturkan: “Sesudah ini, aku melihat sebuah karya
bagus yang berjudul Fikhul Waqi Baina An Nadhariyyah wat Tathbiq karya saudara kami Ali bin
Hasan bin Abdul Hamid, saya menasihatkan agar membaca kitab itu, semoga Alloh membalas
kebaikan kepadanya. Syaikh Muqbil juga menukil karya syaikh Ali Hasan ini dalam kitabnya yang
berjudul Gharah al-Asrithah ala ahlil Jahli was Safsatah beliau menyebutkannya “Saya tidak pernah
mengetahui semisal ini.”

Demikian juga syaikh Al Allamah ahli hadits Abdul Muhsin al-Abbad (semoga Alloh menjaganya)
juga memuji beliau. Dalam kitabnya yang menawan Rifqon Ahli Sunnah bi Ahli Sunnah cetakan kedua
yang diperbaharui 1426 H, hal. 9-8 menuturkan: “Aku juga mewasiatkan kepada para penuntut ilmu di
seluruh negeri agar mengambil faedah dari para ahli ilmu yang berkecimpung dalam masalah ilmu
dari kalangan ahli sunnah di negeri ini semisal murid-murid syaikh al-Albani di Jordania, yang
mendirikan sebuah markaz yang menggunakan nama syaikh al-Albani sepeninggal beliau.”

Aktivitas Dakwah Beliau

Beliau salah seorang pendiri majalah Al Ashalah yang terbit di negara Yordania, beliau salah seorang
dewan redaksi dan penulis dalam majalah ini. Beliau termasuk pendiri markaz Imam Albani.

Beliau aktif menulis makalah-makalah yang terbit tiap pekan di Koran Al Muslimun yang terbit di
London Inggris, dalam rubrik “as-Sunnah”, hal ini berlangsung sekitar dua tahun semenjak tanggal 18
Rabiul Awal 1417.

Beliau pernah mengikuti berbagai muktamar Islam, kegiatan dakwah dan dauroh ilmiah di berbagai
Negara, dan ini sering beliau lakukan, seperti Negara: Amerika, Inggris, Belanda, Hongaria, Kanada,
Indonesia, Perancis dan Negara-negara lainnya.

Beliau juga pernah di undang di berbagai Universitas di Yordania untuk berceramah dan pertemuan-
pertemuan,    semisal:   Universitas    Yordania,     Universitas   Yarmuk,    dan    Universitas
Az Zaitunah.

Karya-Karya nya

Karya-karya dan buku-buku yang telah diteliti beliau lebih dari 150 judul, yang terdiri atas buku yang
tidak terlalu tebal maupun yang berjilid-jilid, diantara karya beliau yang paling penting:

    1.   Ilmu Ushulul Bida’
    2.   Dirasah Ilmiyyah fi Shahih Muslim
    3.   Ru’yatun Waqiah fil Manahij ad-Dakwiyyah
    4.   An Nukatu ala Nuzhatin Nadhar
    5.   Ahkamus Sita
    6.   dan lain-lain

Adapun buku-buku yang diteliti beliau:

    1.   Mifatahu Daris Sa’adah, karya Ibnul Qayyim, 3 jilid
    2.   At Ta’liqat ar-Raudiyyah ala ar-Raudah an-Nadiyyah, karya al-Albani, 3 jilid
    3.   Al-Baisul Hasis, karya Ibnu Kasir, 2 jilid
    4.   Al-Huttah fi zikri as-Shihah as-Sittah, karya Sodiq hasan Qan
    5.   Ad-Daa wad Dawaa karya Ibnul Qayyim, 1 jilid
    6.   dan lain-lain

Sejumlah karya beliau ini telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa, di antaranya: Perancis, Urdu,
Indonesia dan lain-lain. (diterjemahkan dari www.alhalaby.com)




                                                  
       Syaikh Abu Ubaidah Masyhur Hasan Salman


Nama dan Nasab

Nama beliau adalah Masyhur bin Hasan bin Mahmud Ali Salman, dan kunyah beliau adalah Abu
Ubaidah. Beliau adalah seorang Syaikh yang mengikuti manhaj salaf dan berpegang dengan atsar
mereka. Beliau memiliki banyak buku yang unik, bermanfaat dan sangat ilmiah. Termasuk buku ulama
lain yang beliau takhrij dan tahqiq.

Kelahirannya

Beliau dilahirkan di Palestina tahun 1380 H. (1960 M)

Latar Belakang Keluarga dan Pencarian Ilmu

Beliau dididik di dalam keluarga yang shalih yang telah berhijrah ke Yordania dan menetap di Amman
pada tahun 1967 sebagai akibat dari Agresi Israel la’anahumullohu. Beliau menyelesaikan SMA nya di
sana, kemudian beliau memasuki Universitas Syari’ah (1400H/1980M) di mana beliau mendaftar di
Jurusan Fikih dan Ushul Fiqh. Beliau melewatkan waktunya di sana dengan mengembangkan
ketertarikan beliau yang sangat besar terhadap belajar, membaca dan menambah ilmu pengetahuan
Islam. Sehingga beliau telah membaca sejumlah besar buku-buku seperti Al Majmu’ karya An
Nawawi, Al Mughny karya Ibnu Qudamah, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al Qurthubi, Shahih Al Bukhari
dengan syarahnya Ibnu Hajar, Shahih Muslim dengan syarahnya An Nawawi, dan banyak buku-buku
lainnya. Beliau lebih banyak terpengaruh oleh Ulama Besar seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan
muridnya yang mulia, ‘Alim Robbani, Syaikhul Islam kedua Ibnul Qoyyim Al Jauziyah.

Guru-guru

Beliau juga terpengaruh secara kuat oleh sebagian besar guru-gurunya, baik mereka yang beliau belajar
padanya secara formal maupun yang beliau bermajelis dengannya dalam halaqoh-halaqoh ilmiah. Di
antara guru-guru beliau yang paling terkenal adalah:

    1. Al ‘Allamah Syaikh Al Muhaddits Muhammad Nashirudin Al Albani rohimahullohu

    2. Syaikh Al Faqih Muqtofa az-Zarqaa’

Kegiatannya
1. Beliau adalah salah satu pendiri Majalah Al Asholah yang dipublikasikan di Yordania. Beliau juga
salah seorang editor dan penulis Majalah Al Asholah.
2. Beliau adalah salah satu pendiri Markaz Imam Albani, Yordania.
3. Beliau termasuk anggota Mujtama’ al-Ilmi wal Ifta’ markaz Imam Albania.
4. Beliau berpartisipasi dalam dauroh-dauroh dasar keislaman dan program orientasi dakwah.

Pujian Ulama Terhadap Beliau

Gurunya, Syaikh Muhammad Nashirudin al-Albany rohimahullohu telah berulang kali memuji beliau
dalam banyak pertemuan di berbagai tempat seperti yang beliau nyatakan dalam Silsilah Ash Shahihah,
“Dan semua ini adalah dari apa yang aku telah beristifadah (memetik manfaat) dari tahqiq dan ta’liq
kitab Al Khilaafat oleh Saudaraku yang mulia, Masyhur Salman.” (I/193)
Berikut ini juga apa yang dikatakan oleh Syaikh Bakr Abu Zaid mengenai beliau di dalam
Muqoddimah Tahqiq Syaikh Masyhur terhadap buku Al Muwafaqaat, “Berapa kali saya memandang
buku ini sembari berhadap ada yang mentahqiq, mentashih dan mencetaknya sebagaimana layaknya,
hingga Alloh Yang Maha Bijaksana menjadikan hal ini mungkin dengan rahmat-Nya melalui tangan Al
Allamah Al Muhaqqiq Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman”.

Aktivitas Beliau Sekarang

Masjid As-Sunnah: Syaikh yang Mulia Abu Ubaidah Masyhur Hasan Ali Salman hafizhohullohu
memiliki kelas mingguan pada Kamis sore antara Magrib dan Isya yang diadakan di Masjid As Sunnah
(selatan ibukota Amman, Yordania), di mana beliau menjelaskan Shahih Muslim berdasarkan Syarh
Imam Nawawi. Alhamdulillah, kelas ini telah berlangsung selama lebih dari delapan tahun sekarang.

Masjid Imam Al Albani: Berdasarkan kebutuhan, Syaikh sering kali bersedia berkumpul di Masjid
Imam Albani di mana beliau akan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.

Masjid Mu’awiyah bin Abi Sufyan: Syaikh mengajar Ushul Fiqh di musim panas ini di acara Dauroh
Syari’ah Tahunan yang keempat yang diselenggarakan oleh Markaz Imam Albani di lokasi baru yang
dekat dengan Masjid Mu’awiyah bin Abi Sufyan (utara Amman) pent.

Sumber: www.mashhoor.net




                                                
            Asy-Syaikh Abdullah Bin Abdirrahim Al-
                    Bukhari Hafizhahullâh
Nama :

‘Abdullâh bin ‘Abdirrahîm bin Husain bin Mahmûd As-Sa’di kemudian Al-Bukhâri Al-Madîni.

As-Sa’di adalah nisbah kepada Bani Sa’d yang berasal dari Ath-Thâ`if. Beliau dilahirkan di Madinah di
desa Bâbut Tamâr.

Ayahnya :

Adapun tentang ayah beliau, yaitu Asy-Syaikh ‘Abdurrahîm bin Husain Al-Bukhâri , tumbuh dalam
kondisi yatim. Telah hafal Al-Qur`an semenjak kecil. Belajar di Madrasah Al-’Ulûm Asy-Syar’iyyah.
Beliau sangat berprestasi. Di tengah aktivitasnya, beliau juga sangat aktif dan bersemangat menghadiri
halaqah-halaqah ilmu di Masjid Nabawi dan mengambil ilmu dari para ‘ulama pada waktu itu.
Kemudian beliau pindah ke kota Riyâdh, bekerja sebagai staff Al-Malik (Raja) ‘Abdul ‘Aziz . Setelah
itu beliau bekerja pada bidang lain, dan pada awal tahun 1374 H bergabung pada Hai`ât Al-Amri bil
Ma’rûf. Pimpinan umumnya waktu itu adalah Asy-Syaikh Al-’Allâmah ‘Umar bin Hasan âlu Asy-
Syaikh. Asy-Syaikh ‘Abdurrahîm Al-Bukhâri mendapat ijazah dan rekomendasi yang ditandatangani
oleh Asy-Syaikh ‘Umar bin Hasan âlu Asy-Syaikh atas kebaikan prilaku dan tugas beliau. Ijazah
tersebut bernomor 2396/Kh/M tertanggal 25/9/1377 H.

Kemudian Asy-Syaikh ‘Abdurrahîm pindah ke Madinah, bertugas di Al-Mahkamah Asy-Syar’iyyah
Al-Kubrâ pada tanggal 13 – 2 – 1380 H. Pimpinan mahkamah pada waktu itu adalah Asy-Syaikh Al-
’Allâmah ‘Abdul ‘Azîz bin Shâlih , beliau sekaligus imam dan khathib Masjid Nabawi. Asy-Syaikh
‘Abdurrahîm juga mendapat ijazah dari pimpinan mahkamah tertanggal 21/9/1392 H. ditegaskan dalam
ijazah tersebut :

“Selama bertugas menjadi teladan dalam kesungguhan dan semangat kerja. Senantiasa menjalankan
tugas dengan sangat baik.”

Kemudian pada tanggal 1 – 4- 1388 H, beliau pindah ke Universitas Islam Madinah, dengan Asy-
Syaikh ‘Abdul ‘Azîz bin Bâz sebagai rektornya. Beliau juga mendapat ijazah dari Asy-Syaikh Al-
Imâm ‘Abdul ‘Azîz bin Bâz, bahwa “Bersifat dengan prilaku dan akhlaq yang baik, dan sangat
bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas.” Ijazah tersebut bernomor 338 tertanggal 27/31392 H.
Beliau terus bertugas di Universitas Islam Madinah sampai pensiun pada 1 – 7 – 1407 H.

Asy-Syaikh ‘Abdurrahîm Al-Bukhâri adalah seorang yang sangat rajin beribadah, bersemangat dalam
ilmu, sangat mencintai dan menghormati para ‘ulama, konsisten berpegang kepada sunnah, dan sangat
menentang bid’ah dan para pengusungnya. Beliau juga menjalin hubungan sangat baik dan erat dengan
sejumlah ‘ulama besar Ahlus Sunnah, di antaranya Samâhatul Imâm Al-’Allâmah Al-Mufassir
Muhammad Al-Amîn Asy-Syinqhîthi (penulis tafsir Adhwâ`ul Bayân ) , Samâhatul Imâm Syaikhul
Islâm ‘Abdul ‘Azîz bin ‘Abdillâh bin Bâz , beliau juga sering berhubungan dengan Asy-Syaikh Al-
’Allâmah Al-Faqîh ‘Abdurrahmân As-Sa’di –bahkan Asy-Syaikh Sa’di menghadiahkan kepada beliau
sejumlah kitab yang padanya ada tulisan tangan beliau. Kitab-kitab tersebut masih tersimpan- , di
antaranya juga : Al-’Allâmah Al-Muhaddits Hammâd Al-Anshâri, Al-’Allâmah Al-Muhaddits ‘Abdul
Muhsin Al-’Abbâd, Al-’Allâmah Al-Mujâhid Muhammad Amân Al-Jâmi, Al-’Allâmah Rabî’ bin Hâdi
Al-Madkhali, Al-’Allâmah ‘Umar bin Muhammad Fallâtah, dan masih banyak lagi.

Asy-Syaikh ‘Abdurrahîm Al-Bukhâri wafat pada 23 Dzulhijjah 1422 H, di dekat salah satu pintu
masuk Masjid Nabawi, menjelang maghrib, dan ketika itu beliau sedang bershaum. Meninggalkan 13
anak.
Menuntut Ilmu Asy-Syaikh ‘Abdullâh bin ‘Abdirrahîm hafizhahullâh tumbuh di bawah asuhan dan
bimbingan kedua orang tuanya yang sangat antusias dan memiliki perhatian yang sangat besar terhadap
ilmu, serta upaya mendidik anak-anak dengan pendidikan yang selamat dan lurus.

Beliau mulai menghafal Al-Qur`an semejak tahun-tahun pertama ketika beliau duduk di madrasah
ibtida`iyyah di Masjid Al-Imâm Al-Bukhâri ( ayah beliau sebagai penanggung jawab di masjid tersebut
).

Beliau dikarunai kecintaan terhadap ilmu hadits sejak kecil. Karena itu beliau sangat bersemangat
untukmengumpulkan dan membaca kitab-kitab tentang ilmu hadits, bertanya tentang perkara yang
sulit, dan menghafalnya.

Beliau juga sangat bersemangat untuk mempelajari kitab-kitab aqidah, karena beliau melihat kebutuhan
umat yang sangat besar terhadapnya. Itu semua beliau lakukan dengan cara senantiasa rutin dan
bermulâzamah di Masjid Nabawi.

Guru-gurunya antara lain :

Dalam bidang Al-Qur`an dan Tajwid

1. Asy-Syaikh Muhammad Ramadhân Ad-Dahlawi

2. Asy-Syaikh Al-Mudaqqiq Sayyid Lâsyîn Abul Faraj hafizhahullâh, banyak menimba ilmu dari
beliau,terutama dalam penarapan tilawah dan praktek langsung dalam bidang tajwid.

3. Asy-Syaikh Ahmad ‘Abdul Karîm .

4. Asy-Syaikh Muhammad Al-Marisi (juru tulis di Universitas Islam Madinah dan imam di Masjid Al-
Imâm Al-Bukhâri) Banyak mengambil ilmu tajwid dari beliau. Juga belajar secara khusus risalah yang
berjudul Al-Burhân fî Tajwîdil Qur`an, karya Ash-Shâdiq Qamhari. Juga belajar ilmu khath, baik teori
maupun praktek. Demikian juga belajar ilmu nahwu dengan mempelajari kitab Al-Âjurrûmiyyah.

5. Asy-Syaikh Mu’ammar Bakri bin ‘Abdil Majîd Ath-Tharâbîsyi. Mendapat ijazah dari beliau dalam
bidang Al-Qur`an. Juga mendapat ijazah umum atas semua riwayat beliau yang didapat dari gurunya
Asy-Syaikh Muhammad bin Salîm Al-Hulwâni.

6. Asy-Syaikh Ahmad Al-Qâdhi hafizhahullâh. Secara khusus mengambil ilmu dalam bidang tajwid,
dan mempelajari kitab Haqqut Tilâwah karya Husni Syaikh ‘Utsmân.

Dalam berbagai disiplin ilmu lainnya :

1. Al-’Allâmah An-Nâshih Ash-Shâdiq Ar-Rabbâni Asy-Syaikh Muhammad Amân bin ‘Ali Al-Jâmi .
Bermulâzamah kepada beliau selama 10 tahun. Mendapatkan ijazah dari beliau atas berbagai kitab
yang dipelajari dari beliau dalam berbagai disiplin ilmu, sebagaimana tertulis dalam ijazah yang sangat
menjadi kebanggaan Asy-Syaikh Al-Bukhâri. Kitab-kitab yang dipelajari dari beliau, antara lain :

- Al-Ushûluts Tsalâtsah karya Syaikhul Islâm Muhammad bin ‘Abdil Wahhâb

- Al-Qawâ’idul Arba’ karya Syaikhul Islâm Muhammad bin ‘Abdil Wahhâb

- Kitâbut Tauhid karya Syaikhul Islâm Muhammad bin ‘Abdil Wahhâb

- Fathul Majîd karya Asy-Syaikh ‘Abdurrahmân bin Hasan, cucu Syaikhul Islam Muhammad bin
‘Abdil Wahhâb.
- Qurratu ‘Uyûnil Muhawwidîn karya Asy-Syaikh ‘Abdurrahmân bin Hasan, cucu Syaikhul Islam
Muhammad bin ‘Abdil Wahhâb.

- Tajrîdut Tauhid karya Al-Maqrîzi

- Al-’Aqidah Al-Wâsithiyyah, karya Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyyah.

- Al-Hamawiyyah, karya Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyyah.

- At-Tadmûriyyah, karya Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyyah.

- Syarh Al-’Aqîdah Ath-Thahâwiyyah, karya Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi.

- Al-Qawâ’idul Mutslâ, karya Asy-Syaikh Al-’Utsaimîn.

- Qathrun Nadâ,

- Al-âjurrûmiyyah,

- Nailul Authâr (beberapa bab), karya Asy-Syaukâni.

- Zâdul Ma’âd, karya Ibnul Qayyim.

- Kitâbush Shiyâm dari kitab Shahîhul Bukhâri.

- ‘Umdatul Ahkâm, karya Abdul Ghanî Al-Maqdisi.

- dan masih banyak lagi

mayoritasnya di Masjid Nabawi, sebagian lagi di masjid dekat rumah Asy-Syaikh Al-Jâmi,
sebagiannya lagi di Masjid Ash-Shâni’ di desa Al-Mashâni’

2. Asy-Syaikh Al-’Allâmah Al-Fâdhil ‘Abdul Muhsin bin Hamd Al-’Abbâd hafizhahullâh.
Bermulazamâh kepada beliau selama 16 tahun. Kitab-kitab yang dipelajari dari beliau antara lain :

- Jilid terakhir kitab Shahîh Muslim

- Shahîh Al-Bukhâri

- Sunan An-Nasâ`i

- Sunan Abî Dâwûd

- Sebagian besar Jâmi’ At-Tirmidzi

- Al-Lu`lu` wal Marjân (belum sampai tamat)

- ‘Aqidah Ibni Abî Zaid Al-Qairâwani Asy-Syaikh Al-Bukhâri bercerita, “Pada musim haji tahun 1420
H saya membaca di hadapan beliau satu juz Kitâbul Hajj dari kitab Syarhus Sunnah karya Al-Imâm Al-
Baghawi . Kemudian pada musim haji tahun 1421 H saya membaca di hadapan beliau kitab Fatwâ
Arkânil Islâm karya Asy-Syaikh Al-Utsaimîn. … .”

3. Asy-Syaikh Al-’Allâmah Al-Muhaddits Al-Mu`arrikh ‘Umar bin Muhammad Fallâtah. Menghadiri
pelajaran syarh terhadap kitab Shahîh Muslim, Al-Muwattha`, dan syarh tentang sirah nabawiyyah.
4. Al-’Allâmah Al-Faqîh Asy-Syaikh ‘Athiyyah bin Muhammad Sâlim. Menghadiri pelajaran syarh
terhadap kitab Mudzakkirah Asy-Syinqithi fî Ushûlil Fiqh, dan sebagian pelajaran kitab Ar-Rahbiyyah,
yang membahas tentang ilmu fara`idh, dan pelajaran kitab Syarh Al-Waraqât. Semua pelajaran tersebut
di Masjid Nabawi.

5. Asy-Syaikh Al-’Allâmah An-Nâshih ‘Ali bin Muhammad bin Sinân . Mempelajari kitab Alfiyyah
Ibni Mâlik, Irsyâdhul Fuhûl karya Asy-Syaukâni, dan Ar-Raudh Al-Murabbâ’ fiqh hanbali.

6. Al-’Allâmah Al-Muhaddits Al-Mujâhid An-Nâqid Asy-Syaikh Rabî’ bin Hâdi Al-Madkhali
hafizhâhullâh. Belajar kepada beliau di masjid dekat rumah beliau ketika itu, yaitu di kampung Al-
Azhari, beberapa pelajaran antara lain pelajaran Muqaddimah Shahîh Muslim, At-Taqyîd wal îdhah
karya Al-Hâfizh Al-’Irâqi, I’lâmul Muwaqqi’în karya Ibnul Qayyim, dan Ikhtishâr ‘Ulûmil Hadîts
karya Ibnu Katsîr.

7. Al-’Allâmah Al-Mu`arrikh Al-Lughawi An-Nassâbah Shafiyyurrahmân Al-Mubârakfûri. Duduk
bersama beliau selama kurang lebih dua tahun. Membaca di hadapan beliau beberapa bagian yang
mencukupi dari Al-Kutubus Sittah –sebagaimana tertulis dalam ijazah- dan mendapatkan ijazah Al-
Kutubus Sittah dari beliau (yaitu kitab : Shahîh Al-Bukhâri, Shahîh Muslim, Sunan Abî Dâwûd, Sunan
At-Tirmidzi, Sunan An-Nasâ`i, Sunan Ibni Mâjah), dan juga ijazah atas semua riwayat beliau yang
bersambung dengan kitab Al-Hâfizh Asy-Syaukâni Ithâful Al-Akâbir bi Isnâdid Dafâtir. Juga membaca
di hadapan beliau sebagian besar kitab Jâmi’ At-Tirmidzi, dan beberapa kitab dalam bidang lughah,
terkhusu Nahwu dan Sharaf, dan kitab-kitab yang tersebar di negeri India, di antara kitab Syarh Mi`ah
‘âmil. Juga membaca di hadapan beliau beberapa kitab aqidah, seperti Ushûlus Sunnah karya Al-Imâm
Ahmad bin Hanbal, dll. Pelajaran-pelajaran tersebut mayoritas di Masjid Nabawi dalam majelis khusus.

8. Al-’Allâmah Al-Muhaddits Al-Faqîh Asy-Syaikh Ahmad bin Yahyâ An-Najmi . Menghadiri majelis
pembacaan kitab Sunnan Abî Dâwûd di rumah kediaman Asy-Syaikh Muhammad bin Hâdi Al-
Madkhali. Kemudian beliau (Asy-Syaikh An-Najmi) memberikan ijazah umum atas semua riwayatnya,
dengan nama Inâlatuth Thâlibîn bi Asâdîd Kutubil Muhadditsîn.

9. Al-’Allâmah An-Nabîh Asy-Syaikh ‘Alî bin Nâshir Al-Faqîhi hafizhahullâh. Membaca di hadapan
beliau sejumlah besar kitab aqidah, antara lain kitab Sharîhus Sunnah karya Ibnu Jarîr Ath-Thabari,
kitab Sulâlatur Risâlah fî Dzammir Rawâfidh min Ahlidh Dhalâl karya Mulâ ‘Ali Al-Qâri, pada musim
haji tahun 1421 H.

10. Asy-Syaikh Al-Jalîl ‘Ubaid bin ‘Abdillâh Al-Jâbiri hafizhahullâh. Membaca di hadapan beliau
kitab Mudzakkirah Asy-Syinqîthi fî Ushûlil Fiqh, As-Sailil Jarrâh (jilid I) karya Al-’Allâmah Asy-
Syaukâni .

11. Asy-Syaikh Al-Lughawi Al-Bâri’ ‘Abdurrahmân bin ‘Auf Al-Kûni. Mempelajari kitab Malhatul
I’rab karya Al-’Allâmah Al-Harîri, dan juga mengikuti majelis pelajaran nahwu lainnya.

Para masyâikh lainnya yang mengajar beliau di Fakultas Hadits di Universitas Islam Madinah juga
termasuk guru-guru beliau.

Hubungan dengan Asy-Syaikh Al-’Allâmah ‘Abdul ‘Azîz bin Bâz dan Asy-Syaikh Al-’Allâmah
Muhammad bin Shâlih Al-’Utsaimîn

Beliau berdua adalah ‘ulama besar Ahlus Sunnah wal Jama’ah masa ini. Tokoh besar salafiyyun masa
ini yang sangat terhormat dan disegani. Ketokohan dan kapasitas keilmuan dan keshalihan beliau
berdua diakui secara international, baik oleh kawan maupun lawan.

Beliau berdua merupakan guru besar Asy-Syaikh ‘Abdullâh Al-Bukhâri.

Asy-Syaikh Al-Imâm ‘Abdul ‘Azîz bin Bâz Menghadiri majelis beliau di masjid di daerah Ath-Tha`if,
pada musim panas tahun 1408 H, membahas kitab Bulûghul Marâm karya Al-Hâfizh Ibnu Hajar.
Kemudian hadir pula di majelis pembacaan kitab Tuhfatul Ahwadzi Syarh Jâmi’it Tirmidzi di
kediaman beliau di Ath-Tha`if. Sering hadir dalam majelis-majelis beliau dan menyampaikan berbagai
pertanyaan kepada beliau.

Asy-Syaikh Al-Bukhâri menuturkan : “Aku ingat, suatu waktu ketika aku bertanya kepada beliau
tentang belajar di Universitas Islam Madinah. Maka beliau memberikan motivasi dan dorongan
kepadaku.

Kemudian aku tanya lagi tentang Fakultas Hadits, maka beliau pun makin memberikan motivasi
kepadaku.”

Asy-Syaikh Al-Faqîh Muhammad bin Shâlih Al-’Utsaimîn .

Menghadiri pelajaran-pelajaran beliau di Masjidil Haram pada sepuluh terakhir Ramadhân tahun 1407
H, ketika itu beliau mensyarh Hadits Jibril yang sangat panjang. Menghadiri pelajaran beliau di
‘Unaizah pada musim panas tahun 1408 H dan 1409 H. Demikian juga senantiasa hadir dalam
pelajaran beliau di Masjid Nabawi.

Hubungan dengan Asy-Syaikh Al-’Allâmah Al-Muhaddits An-Nâqid Muhammad Nâshiruddîn Al-
Albâni .

Ketika beliau berziarah ke Madinah pada tahun 1408 H, maka kesempatan tersebut tidak disia-siakan
oleh Asy-Syaikh Al-Bukhâri untuk senantiasa menghadiri seluruh majelis-majelis beliau. Majelis-
majelis umum dan sebagian dari majelis khusus.

Asy-Syaikh Al-Bukhâri menuturkan kenangan manisnya bersama Asy-Syaikh Al-Albâni : “Aku
merasa mulia ketika aku berkesempatan untuk menyendiri bersama beliau. Ketika itu beliau sedang
berada di luar masjid hendak menuju tempat tinggalnya. Maka aku menyampaikan pertanyaan-
pertanyaan kepada beliau, sambil beliau memegang tanganku dan menyilangkan jari-jari tangan kanan
beliau dengan jari-jari tangan kiriku. Kemudian beliau menanyaiku, bahwa siapa namaku dan
belajarku.”

Karir Ilmiah

1. Lulus dari Fakultas Hadits Al-Jâmi’ah Al-Islâmiyyah (Universitas Islam) Madinah pada tahun ajaran
1410 – 1411 H dengan peringkat : sangat baik.

2. Guru/Pengajar Ad-Dirâsât Al-Islâmiyyah (Studi Ilmu Islam) di madrasah Ibtida`iyyah dan
Tsanawiyyah selama 6 tahun, di bawah Departemen Pendidikan dan Pengajaran.

3. Tahun 1417 H melanjutkan jenjang Magister (S2) di Universitas Ummul Qurâ Makkah Al-
Mukarramah, Fakultas Da’wah dan Ushûlud Dîn Jurusan Al-Kitâb was Sunnah. Lulus dengan predikat
cumlaod.

4. Menulis tesis magister dengan judul Marwiyyât Abî ‘Ubaidah bin ‘Abdillâh bin Mas’ûd ‘an Abîhi
Jam’an wa Dirâsatan. Diuji pada 21 – 8 – 1420 H, dan berhasil meraih cumload dengan anjuran untuk
mencetak tesis tersebut.

5. Tahun 1418 H pindah dari Departemen Pendidikan dan Pengajaran ke Universitas Islam Madinah,
kembali ke Fakultas Hadits jurusan Fiqhus Sunnah wa Mashâdiruhâ.

6. Berhasil meraih gelar doktor pada tahun 1426 H dengan tesis tahqîq (penelitian) atas kitab Takmilatu
Syarh At-Tirmidzi karya Al-Hâfizh Al-’Irâqi, mulai awal kitab ar-radhâ’ sampai pada penghujung kitab
Idzâ Aflasa lirrajuli Gharîm. Dengan prestasi cumlaod pada level utama.

7. Sekarang sebagai Ustâdz Musâ’id pada Fakultas Hadits jurusan Fiqhus Sunnah wa Mashâdiruhâ.

Karya-karya Tulis :
Tidak diragukan, bahwa ikut berperan aktif dalam mengumpulkan ilmu dan menyebarkannya
merupakan perkara yang sangat penting dan mulia. Allah telah memberikan nikmat dan taufiqnya
kepada Asy-Syaikh Al-Bukhâri untuk juga memiliki andil yang besar pada sisi ini. Beliau memiliki
banyak karya tulis ilmiah yang beliau tekuni sejak lama. Tidak lain adalah dalam rangka ikut berperan
aktif menyebarkan ilmu yang bersumber dari Al-Qur`an dan As-Sunnah di atas manhaj salaf.

Di antara karya tulis beliau :

1. Marwiyyât Abî ‘Ubaidah bin ‘Abdillâh bin Mas’ûd ‘an Abîhi Jam’an wa Dirâsatan (karya
tulis),dicetak oleh penerbit Dâr Adhwâ’is Salaf Al-Mishiryyah.

2. Takmilatu Syarh At-Tirmidzi karya Al-Hâfizh Al-’Irâqi (tahqîq). Belum dicetak.

3. Manârus Sabîl bi Takhrîji Juz`i Ibni Dîzîl (tahqîq) dicetak oleh penerbit Al-Ghurabâ` Madinah pada
tahun 1413 H. dicetak ulang lagi pada tahun ini 1429 H oleh penerbit Dâr Al-Imâm Ahmad Mesir.

4. Ithâful Nubalâ` bi Adillati Tahrîm Ityânil Mahal Al-Makrûh minan Nisâ` (karya tulis) dicetak pada
tahun 1414 H, oleh penerbit Dârul Ghurabâ` Madinah, dicetak ulang pada tahun 1428 H oleh penerbit
Dârul Minhâj, Mesir.

5. Riyâdhul Jannah bi Takhrîji Ushûlis Sunnah libni Abî Zamanin (tahqîq dan takhrîj) dicetak tahun
1414 H oleh penerbit Dârul Ghurabâ`, dicetak ulang oleh Dâr Adhwâ`is Salaf, Mesir pada tahun ini
1429 H.

6. Tuhfatul Ikhwân bi Takhrîji Majlisi min Amâli Ibni Bisyrân (takhrîj dan tahqîq) masih tulisan tangan
belum dicetak.

7. At-Tanbîh wal Irsyâd litajâwuzât Mahmûd Al-Haddâd (karya tulis), fotocopy, publikasi tahun 1414
H.

8. Al-Fathul Rabbâni fir Radd ‘alâ Abil Hasan As-Sulaimâni (karya tulis) dicetak tahun 1424 H oleh
penerbit Dârul âtsâr, Yaman, dan dicetak pula pada tahun 1425 H oleh penerbit Dâr Mâjid ‘Asîrî,
Jeddah – Saudi.

9. At-Taudhîhul Abhar li Tadzkirati Ibnil Mulaqqin fî ‘Ilmil Atsar karya Al-Hâfizh As-Sakhâwi
(tahqîq) dicetak oleh Dâr Adhwâ`is Salaf, Riyadh – Saudi tahun 1418 H, dan tahun ini dicetak lagi oleh
penerbit Dâr Al-Imâm Ahmad, Mesir.

10. Al-Maqâlat Asy-Syar’iyyah/kumpulan pertama, (karya tulis), dengan pengantar dari Al-’Allâmah
Asy-Syaikh Ahmad An-Najmi dan Al-’Allâmah Asy-Syaikh Zaid Al-Madkhali hafizhahullâh, dicetak
oleh Dârul Madînah Al-’Amaliyyah, Imarat pada tahun 1428 H, dan dicetak pula oleh Dâr Adhwâ`is
Salaf, Mesir pada tahun yang sama.

11. Al-Maqâlat Asy-Syar’iyyah/kumpulan kedua (karya tulis), dicetak oleh Dâr Adhwâ`is Salaf, Mesir
pada tahun 1429 H.

12. Al-Ajwibah Al-Madaniyyah ‘an Al-As`ilatil Haditsiyyah (karya tulis) dicetak pada tahun 1429 H
oleh penerbit Dârul Istiqamah, Mesir.

13. Mushthalahâtul Muhadditsîn fî Kitâbatil Hadîts wa Dhabthihi wa Ishlâhihi (pembasan ilmiah) telah
diuji oleh Universitas Al-Imâm Muhammad bin Su’ûd. Diangkat oleh universitas dan akan ditampilkan
dalam beberapa edisi majalah universitas. Semoga Allah memudahkan penerbitannya.

14. Su`âlât Al-Imâm Abî Zur’ah Ad-Dimasyqi li Al-Imâm Ahmad bin Hanbal fi Kitâbihi (at-Târîkh),
Jam’an wa Dirâsatan (karya tulis), pembahasan ilmiah telah diuji oleh Lembaga Riset Ilmiah
Universitas Islam Madinah. Kemudian akan dicetak oleh Dârul Istiqâmah, Mesir. Semoga Allah
memudahkan penerbitannya.
15. Tamâmul Minnah bi Syarh Ushûlis Sunnah li Al-Imâm Al-Humaidi (transkrip atas pelajaran) –
(karya tulis), dicetak oleh Dârul Istiqâmah, Mesir tahun 1429 H.

16. At-Ta’liqât Ar-Radhiyyah ‘alâ Al-Manzhûmah Al-Baiqûniyyah (karya tulis), akan dicetak oleh
Dârul Istiqâmah, Mesir. Semoga Allah memudahkan penerbitannya.

17. Kemudian Dârul Istiqâmah juga meminta naskah transkrip atas transkrip 2 kaset syarh kitab Al-
Mûqizhah karya Adz-Dzahabi. Semoga Allah memudahkan penerbitannya.

18. At-Ta’liqât Ar-Radhiyyah ‘alâ Al-’Aqîdah Al-Wâsithiyyah karya Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyyah.
Syarh yang telah ditranskrip, tahun 1424 H. Naskahnya diminta oleh Dârul Falâh untuk dicetak.

Saat ini masih dalam proses murâja’ah. Dan masih banyak lagi selain yang tersebut di atas. Semoga
Allah membantu dan memudahkan.

Kitab-kitab yang diajarkan :

Kitab-kitab yang diajarkan oleh Asy-Syaikh Al-Bukhâri hafizahullâh dalam berbagai pelajaran beliau,
antara lain :

1. Haqqut Tilâwah, dalam bidang ilmu tajwid. Karya Husni Syaikh ‘Utsmân.

2. Al-Burhân fi Tajwîdil Qur`an , karya Ash-Shâdiq Al-Qamhâwi.

3. Al-Ushûlts Tsalâtsah.

4. Al-Qawâ’idul Arba’ah.

5. Kitâbut Tauhîd (ketiga kitab ini karya Al-Imâm Muhammad bin ‘Abdil Wahhâb ).

6. Fathul Majîd Syarh Kitâbit Tauhîd.

7. Sullamul Wushûl, karya Al-’Allâmah Hâfizh Hakami.

8. Ushûlus Sunnah, karya Al-Humaidi.

9. As-Sunnah, karya Al-Muzani.

10. Sharîhus Sunnah, karya Ibnu Jarîr Ath-Thabari.

11. As-Sunnah, karya ‘Abdullah bin Al-Imâm Ahmad.

12. Al-Imân, karya Abû ‘Ubaid Al-Qâsim bin Sallâm.

13. Kitâbut Tauhîd dari kitab Shahîh Al-Bukhâri.

14. Kitâbul Imân dari kitab Shahîh Al-Bukhâri.

15. Al-Wâsithiyyah, karya Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyyah.

16. Kitâbur Riqâq dari kitab Shahîh Al-Bukhâri.

17. Al-Manzhûmah Al-Baiqûniyyah.

18. Ikhtishâr ‘Ulûmil Hadîts, karya Ibnu Katsîr.
19. At-Taudhîhul Abhar li Tadzkirati Ibnil Mulaqqin fî ‘Ilmil Atsar karya Al-Hâfizh As-Sakhâwi.

20. Al-Mûqizhah karya Adz-Dzahabi.

21. Al-Muqni’ fî ‘Ulûmil Hadîts karya Ibnul Mulaqqin.

22. Irsyâd Thullâbil Haqâ`iq, karya Al-Hâfizh An-Nawawi.

23. Muqaddimah Shahîh Muslim bin Al-Hajjâj.

24. Nukhbatul Fikar fî Mushthalahi Ahlil Atsar, karya Al-Hâfizh Ibni Hajar.

25. Mukhtashar Shahîhil Bukhâri, karya Az-Zubaidi.

26. Al-Adabul Mufrad karya Al-Imâm Al-Bukhâri.

27. ‘Umdatul Ahkâm Al-Kubrâ karya Al-Hâfizh Al-Maqdisi.

28. ‘Umdatul Ahkâm Ash-Sughrâ karya Al-Hâfizh Al-Maqdisi.

29. Bulûghul Marâm min Adillatil Ahkâm karya Al-Hâfizh Ibnu Hajr.

30. Al-Anjam Az-Zâhirât ‘ala Hill Alfâzhil Waraqât, karya Al-Mâridîni Asy-Syâfi’i.

31. Al-Arba’în An-Nawawiyyah.

32. Minhâjus Sâlikîn, karya Al-’Allâmah As-Sa’di.

33. Bahjatul Qulûbil Abrâr, karya Al-’Allâmah As-Sa’di.

34. Al-Muharrar fîl Hadîts, karya Al-Hâfizh Ibnu ‘Abdil Hâdi.

35. Ar-Risâlah At-Tabûkiyyah, karya Al-Imâm Ibnul Qayyim.

36. Al-Wâbilush Shayyib min Al-Kallimith Thayyib, karya Al-Imâm Ibnul Qayyim.

37. Ad-Durûsul Muhimmah li ‘âmmatil Ummah, karya Al-’Allâmah ‘Abdul ‘Aziz bin Baz.

38. Dhawâbithul Jarh wat Ta’dîl, karya ‘Abdul ‘Azîz ‘Abdul Lathîf.

39. Ar-Raf’u wat Takmîl fil Jarh wat Ta’dîl, karya Al-Kanawi Al-Hindi.

40. Thuruq Takhruju Hadîts Rasûlillâh .

41. Al-Jâmi’ li Akhlâqir Râwi wa âdâbis Sâmi’, karya Al-Hâfizh Al-Khathîb Al-Baghdâdi.

42. Al-Âjurrûmiyyah. Dan masih banyak lagi lainnya.

Para ‘Ulama Senior yang memberikan Ijazah

Para ‘ulama kibâr (senior) Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang memberikan ijazah kepada Asy-Syaikh
‘Abdullâh Al-Bukhâri, antara lain :

1. Asy-Syaikh Bakri Ath-Tharâbîsyi.
2. Al-’Allâmah An-Nâshih Ash-Shâdiq Ar-Rabbâni Asy-Syaikh Muhammad Amân bin ‘Ali Al-Jâmi .

3. Al-’Allâmah Al-Mu`arrikh Al-Lughawi An-Nassâbah Shafiyyurrahmân Al-Mubârakfûri .

4. Al-’Allâmah Al-Muhaddits Al-Faqîh Asy-Syaikh Ahmad bin Yahyâ An-Najmi .

5. Asy-Syaikh Al-’Allâmah Al-Muhaddits Abû Muhammad Badî’uddîn Asy-Syahur Rasyîd As-Sindi
Asy-Syarîf . Ijazah “Munjidul Mustajîz li Riwâyatis Sunnah wal Kitâbil ‘Azîz” tertanggal 15 Rajab
1416 H.

Dan masih banyak lagi. Ada pula para ‘ulama yang mengirimkan ijazah kepada beliau, tanpa beliau
minta.

Pujian dan Tazkiyyah Al-’Allâmah Al-Muhaddits Al-Mujâhid Al-Wâlid Asy-Syaikh Rabî’ bin Hâdi
Al-Madkhali hafizhahullâh

Asy-Syaikh Rabî’ ditanya : “Bagaimana pendapat engkau menghadiri pelajaran-pelajaran yang
disampaikan oleh Asy-Syaikh ‘Abdullâh Al-Bukhâri?”

Beliau hafizhahullâh menjawab : “Saya menasehatkan kepada kaum muda di Madinah untuk
menghadiri pelajaran-pelajaran yang disampaikan oleh Al-Akh ‘Abdullâh Al-Bukhâri, karena
sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang terbaik di kalangan Ahlus Sunnah, dan termasuk
orang-orang yang senantiasa membelanya dalam setiap kesempatan sepengetahuanku. Dia rajin
menulis, beraktivitas, dan bergerak dalam rangka membela sunnah dan ahlus sunnah lebih banyak
daripada mayoritas orang-orang yang memeranginya dari kalangan ahlul ahwâ` (pengikut hawa nafsu),
baik dulu maupun sekarang. Jadi dia (Asy-Syaikh ‘Abdullâh Al-Bukhâri) adalah di antara orang-orang
terbaik di kalangan ahlus sunnah, Insyâ`allâh. Kita memohon kepada Allah agar mengokohkan kita dan
dia di atas sunnah dan menjadi kita semua bermanfaat. Tidaklah aku tahu tentangnya, kecuali dia
adalah salafy yang baik. Kita semua sering berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang sering berbuat
salah adalah orang yang senantiasa bertaubat.

Maka saya wasiatkan dengan pria ini (Asy-Syaikh ‘Abdullâh), karena dia di antara lulusan terbaik Al-
Jâmi’ah Al-Islâmiyyah (Universitas Islam Madinah), menyandang gelar magister, dan sekarang sedang
menempuh doktoral. Dia orang yang sangat cerdas, pemuda yang sangat cerdas. Saya mengenalnya
berada di atas manhaj salafi, insyâ`allâh. Maka hadirlah kalian (pada pelajaran-pelajaran)nya, dan
ambillah faedah darinya.”

[Tazkiyyah ini beliau sampaikan pada hari Jum'at 14 Jumâdal Ulâ 1425 H, dalam tanya jawab pada
pelajaran Kitâbusy Syarî'ah karya Al-Imâm Al-âjurri (Bab : Beriman kepada Telaga yang diberikan
kepada Nabi ), tepatnya pada menit 42 : 35]. Sumber : http://www.assalafy.org Situs Salafy Jember.




                                                 
                   Ulama sekarang diatas Sunnah
“Akan senantiasa ada sekelompok orang dari kalangan ummatku yang menegakkan/
berdiri di atas perintah Allah, tidak akan memadhorotkan mereka siapa yang
menghina dan menyelisihi mereka sampai datang perkara Allah (yaitu hari kiamat)
dan mereka tetap dalam keadaan demikian“. [Muttafaqun 'alaih, hadits dari
Mu'awiyah]

        Para Ulama Sekarang Yang Berjalan Di Atas As-Sunnah Antara Lain:

‘Ulama Saudi Arabia:

   1. Al ‘Allamah asy Syaikh Muhammad Mukhtar Amin asy Syanqithiy– shohibut
         Tafsir adh wa’ul bayan. Beliau termasuk salah satu guru Syaikh Muhammad
         bin Sholih al ‘Utsaimin
   2.    Al ‘Allamah asy Syaikh Abdurrohman bin Nashir as Sa’di , pemilik kitab
         Tafsir Karimur Rohman fi Kalamil Mannan atau yang lebih dkenal Tafsir as
         Sa’diy
   3.    Samahatusy Syaikh al ‘allamah Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz
   4.    Faqihul zaman al ‘allamah asy Syaikh Muhammad bin Sholih al Utsaimin
   5.    Al ‘allamah al muhaddits asy syaikh Adbul Muhsin bin Hammad al ‘Abbad al
         Badr, Beliau termasuk ulama senior saat ini, mengajar di Masjid Nabawi.
   6.    Al ‘allamah asy Syaikh Doktor Sholih Fauzan al Fauzan anggota Haiah
         Kibarul ‘Ulama
   7.    Al ‘allamah asy Syaikh Abdul Aziz bin sholih alu Syaikh mufti ‘Amm
         kerajaan Saudi Arabia saat ini
   8.    Al ‘allamah al muhaddits asy Syaikh Yahya bin Ahmad an Najmi mufti
         kerajaan Saudi untuk daerah Selatan (Shoromithoh)
   9.    Al ‘allamah al muhaddits asy syaikh Rabi’ bin Hadi al Madkholy –pembawa
         bendera jarh wa ta’dil saat ini sebagaimana rekomendasi Syaikh al Albani
   10.   Al ‘allamah asy syaikh Dr. Sholih bin Sa’ad as Suhaimy –Beliau dosen
         pascasarjana di Jami’ah al Islamiyyah Madinah
   11.   Al ‘allamah asy Syaikh Muhammad bin Hadi al Madkholy –dosen jami’ah
         Islamiyyah Madinah
   12.   Al ‘allamah asy Syaikh Dr. Ibrohim bin ‘Amir ar Rauhaily – penulis kitab
         “Mauqif Ahlis sunnah ‘an ahlil bida’” yang diterjemahkan dgn judul “Mauqif
         Ahlus Sunnah terhadap Ahlul Bid’ah” (ana lupa judul tepatnya)
   13.   Asy Syaikh DR. Ali bin Nashir al faqihy – Guru Besar Aqidah di Masjid
         Nabawy
   14.   Asy Syaikh Abdurrozaq bin Abdil Muhsin bin Hammad al ‘Abbad al badr -
         putra Syaikh Abdul Muhsin al ‘Abbad al Badr (point no 3)
   15.   Asy Syaikh Abdul Malik a Romadhoniy al Jazairy– Beliau yang menyiapkan
         majelis Syaikh Abdul Muhsin di Masjid Nabawi. Penulis buku “Madarik an
         Nazhor fi Siyasah…”diterjemahkan dgn judul “Pandangan Tajam thd Politik”
   16.   Asy Syaikh Kholid ar Roddady –pentahqiq kitab Syarhus sunnah al
         barbahary
   17.   Asy Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi al madkholy
   18.   Asy Syaikh Abdulloh bin ‘Abdirrohman al Jibrin – termasuk ulama senior,
         sudah sepuh
   19.   Asy Syaikh Ubaid al Jabiri
   20.   asy Syaikh Abdul Aziz ar Rojihy
   21.   Asy Syaikh Muhammad Aman Jamiy
   22.   Fadhilatusy Syaikh Sholih bin Muhammad al Luhaidan ketua Mahkamah
         Tinggi dan anggota Hai’ah Kibarul Ulama
   23. Masyayikh anggota Majelis Ifta wal Buhuts dan anggota Kibarul Ulama
   24. Fadhilatusy Syaikh Bakar Abu –penulis kitab “Hukmul Intima’”
   25. asy Syaikh AbdusSalam bin Barjas -penulis Kitab “Hujjajul Qowwiyyah..”.
        Beliau sudah meninggal dalam kecelakaan mobil. Semoga Allah
        melapangkan kuburnya dan menempatkannya di kedudukan yang mulia di
        sisiNya.

‘Ulama dari Yaman:

   1. al ‘allamah al muhaddits ad diyar al yamaniyyah asy Syaikh Muqbil bin Hadi
        al wadi’iy . Beliau termasuk ulama besar abad ini.
   2. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab al Washobi; beliau mungkin Syaikh
        yang dituakan di Yaman. Kalau datang ke Damaj, biasanya beliau Cuma
        menjawab pertanyaan2 dan sedikit memberi nasihat emasnya. Punya
        markas di Hudaidah.
   3.   Asy Syaikh Muhammad Al Imam beliau termasuk Ahl Hill wal Aqd yang
        ditunjuk oleh Asy Syaikh Muqbil rahimahullah. Salah satu murid
        pertamanya Asy Syaikh Muqbil. Punya markas di Ma’bar merupakan markas
        terbesar ke 2 setelah Damaj.
   4.   Syaikh Yahya al Hajury–Beliau yang menggantikan Syaikh Muqbil di Darul
        Hadits Dammaj
   5.   Asy Syaikh Abdul Aziz Al Buro’i adalah termasuk salah satu masyaikh yang
        sangat keras terhadap Ahlul Bid’ah. Beliau mempunyai markas di Kota Ib.
   6.   Asy Syaikh Abdullah bin Utsman dijuluki Khotibul Yamany karena beliau
        terkenal sangat pintar berorator. Nasihat2 beliau tentang maut, membuat
        mata tak bisa menahan airnya.
   7.   Asy Syaikh Abdurrozaq punya markas di Dammar
   8.   Asy Syaikh Abdul Musowwir termasuk masyaikh yang sudah cukup
        berumur. Dulu Asy Syaikh Yahya hafidhohullah belajar Syarh Ibn Aqil
        dengan beliau.
   9.   asy Syaikh Abdulloh al Mar’iy dan Saudaranya asy Syaikh Abdurrohman al
        Mar’iy

Ulama dari Yordania

   1. al ‘Allamah al Muhaddits Nashirus sunnah asy Syaikh al Albani . Syaikh
        Abdul ‘Aziz bin Baz pernah berkata: Saya tidak mengetahui di bawah kolong
        langit saat ini orang yang lebih mengetahui hadits daripada Beliau (Syaikh
        al Albani)”.
   2.   Syaikh Ali hasan al Halabiy tatkala Syaikh al Albani ditanya cucunya
        “Siapakah dua orang murid yang paling mengetahui tentang hadits“. Syaikh
        al Albani berkata: Abu Ishaq al Huwaini dan Ali Hasan al Halabiy.
   3.   Syaikh Salim bin ‘Ied al Hilali, penulis kitab Limadza Ikhtartu Manhaj Salaf,
        Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhus Sholihin, dll.
   4.   Syaikh Muhammad Musa
   5.   Syaikh Masyhur alu Salman
   6.   Syaikh Husain ‘Uwaisyiah

Dan masih banyak lagi para ulama yang belum disebutkan disini.


                                           

				
DOCUMENT INFO
Categories:
Tags:
Stats:
views:431
posted:4/26/2012
language:
pages:290