PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF NUMBERED HEADS TOGETHER NHT 64 BAB V by irhamxp

VIEWS: 124 PAGES: 8

									                                                                                     64




                                      BAB V

                                 PEMBAHASAN



A. Motivasi Belajar

       Motivasi belajar siswa dilihat melalui empat aspek yaitu: perhatian, minat,

konsentrasi dan ketekunan. Berdasarkan hasil analisis data minat siswa pada siklus I

sebesar 45% termasuk dalam kategori kurang, dan pada siklus II minat siswa sebesar

60% termasuk dalam kategori cukup. Dari analisis data siklus I dan siklus II

menunjukkan bahwa minat belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran

Numbered Heads Together mengalami peningkatan sebesar 20%. Aspek motivasi

minat ini mengalami peningkatan paling tinggi dibanding aspek motivasi belajar

yang lain. Hal ini menurut Hamacheck (1086) dalam Prayitno, (1989:50) karena

siswa tetap termotivasi asalkan siswa melihat hubungan materi yang disajikan

dengan kepentingan dirinya pada masa sekarang atau mendatang. Jadi apabila meteri

pelajaran menurut siswa bermanfaat bagi siswa maka siswa tersebut akan lebih

termotivasi belajar.

        Deskriptor motivasi untuk aspek minat antara lain adalah mengikuti

pelajaran dengan semangat dan gembira dengan indikator wajah tidak cemberut.

Menurut Susanto (2002:45) siswa mempunyai motivasi belajar yang tinggi jika siswa

merasa gembira, mempunyai keyakinan diri dan tegar pada situasi belajar yang ada.

Wajah yang riang tidak cemberut mengindikasikan bahwa siswa tersebut mempunyai

semangat untuk mengikuti pelajaran. Deskriptor motivasi untuk aspek minat yang

                                       64
                                                                                    65

lain yaitu menunjukkan sikap ingin tahu dengan mengajukan pertanyaan kepada

teman maupun guru dan menjawab pertanyaan yang diberikan oleh teman mupun

guru. Pada siklus I siswa yang menjawab pertanyaan maupun mengajukan

pertanyaan yang diajukan oleh teman maupun guru masih sedikit hal ini salah satu

penyebabnya adalah siswa awalnya terbiasa dengan model pembelajaran cermah dan

mencatat yang membuat suasana tegang sehingga siswa takut untuk mengeluarkan

pendapat hal ini terlihat saat siswa diminta guru untuk menjawab pertanyaan

kelihatan gugup dan mengatakan takut salah.

       Davies (1987) dalam Dimyati & Mudjiono (1994:48) menyatakan bahwa

prinsip pengulangan diperlukan dalam kegiatan pembelajaran. Siswa yang

mengalami pembelajaran kooperatif secara berulang-ulang akan terbiasa dengan

pembelajaran tersebut. Pada siklus II siswa sudah mulai terbiasa mengeluarkan

pendapat sehingga banyak siswa yang mulai mau bertanya maupun manjawab

pertanyaan siswa menganggap itu menyenangkan, ini terlihat dari refleksi diri siswa.

Menurut Guruvalah (2007) dalam Rosidah (2007:72) segala yang menyenangkan

akan diingat oleh siswa dan akan mudah dipelajari oleh siswa oleh karena itu guru

harus mampu menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan.

       Aspek motivasi belajar perhatian berdasarkan hasil analisis data, pada siklus I

adalah sebesar 63 % termasuk kategori cukup dan meningkat 8 % dalam katagori

baik (71%) pada siklus II. Menurut Susanto (2002:45) bahwa motivasi belajar siswa

tinggi jika mereka memusatkan perhatian pada kegiatan belajar lebih besar dari pada

tingkah laku yang bukan kegiatan belajar. Anderson & Fraust (1979) dalam Prayitno

(1098:10) mengemukakan bahwa siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi akan

menampakkan minat dan perhatian yang penuh terhadap tugas-tugas belajar.
                                                                                    66

Sebaliknya siswa yang memiliki motivasi rendah dalam belajar akan tampak enggan,

pasif, mudah bosan, dan berusaha menghindar dari aktivitas belajar. Aspek motivasi

perhatian mempunyai peranan penting dalam pembelajaran (Dimyati &

Mudjiono,1994:40), karena tanpa adanya perhatian tidak mungkin terjadi belajar

(Gage dan Berliner, 1984 dalam Dimyati,1994:40). Dalam hal ini Keller (1983)

dalam Suciati dan Irawan (2001) menyatakan bahwa perhatian merupakan salah satu

kondisi motivasi yang harus dipertahankan oleh guru dalam pembelajaran.

       Berdasarkan analisis data konsentrasi belajar siswa dengan penerapan model

pembelajaran NHT pada siklus I 72% dalam kategori baik dan pada siklus II sebesar

89% dalam katagori sangat baik. Aspek motivasi ini meningkat sebesar 17%.

Konsentrasi belajar siswa sangat dipengaruhi oleh kondisi jasmani dan rohani siswa

(Dimyati & Mudjiono, 1994:91-91). Apabila siswa dalam keadaan sehat, kenyang

dan gembira akan mudah memusatkan perhatiannya, sebaliknya jika siswa dalam

keadaan lapar, marah, sakit akan mengganggu konsentrasi belajarnya.

       Aspek motivasi ketekunan berdasarkan analisis data pada siklus I sebesar

62% dalam kategori cukup dan pada siklus II adalah 73% termasuk kategori baik.

Jadi aspek motivasi ketekunan mengalami peningkatan sebesar 11%. Ketekunan

siswa dapat dilihat dari deskriptor motivasinya yaitu membaca bacaan dengan

bersungguh-sungguh, berusaha sekuat tenaga mencari jawaban atas pertanyaan yang

diberikan oleh guru maupun teman, menyelesaikan tugas tepat waktu, aktif dalam

diskusi kelompok maupun diskusi kelas. Susanto (2002:45) menyatakan bahwa siswa

yang mempunyai motivasi belajar tinggi, jika siswa belajar secara intensif

mengeluarkan banyak energi dan kemampuan untuk menyelesaikan tugas belajar.

Pelajaran yang sudah diterima di kelas perlu dibaca secara terus menurus sehingga
                                                                                       67

dapat dipahami dan dimengerti. Agar siswa tekun belajar yang utama adalah

memberi kemungkinan pada siswa untuk melakukan sesuatu tugas dengan baik

(Nasution, 1992:48). Dengan penerapan model pembelajaran NHT siswa diberi

banyak waktu untuk berpikir, dan berinteraksi antar anggota kelompok sehingga

sangat memungkinkan siswa saling memberi masukan untuk menyelesaikan tugas

dengan baik.

       Secara umum motivasi belajar siswa secara klasikal pada siklus I adalah 60,5

% dan pada siklus II adalah 74,5%. Dengan penerapan model pembelajaran

Numbered Heads Together motivasi belajar siswa meningkat sebesar 14%. Hal ini

sesuai dengan hasil angket tanggapan siswa terhadap penerapan model pembelajaran

kooperatif Numbered Heads Together yang menyatakan bahwa penerapan model

pembelajaran ini siswa lebih termotivasi belajarnya. Dalam motivasi belajar selain

tergantung pada kemampuan siswa sendiri dan keyakinan diri siswa peran guru juga

penting dalam meyakinkan siswa untuk mencapai tujuan belajar yang diharapkan.

Guru hendaknya dapat meyakinkan siswa bahwa yang menentukan gagal dan sukses

adalah usaha (Weiner, dkk 1979 dalam Prayitno 1989:70). Guru juga harus pandai-

pandai memilih model pembelajaran yang tepat berdasarkan materi pelajaran.

       Peningkatan motivasi belajar dari siklus I ke siklus II juga tidak lepas dari

penerapan model pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together, Susanto

(1999:37) menyatakan bahwa pengalaman belajar kooperatif mendorong siswa untuk

meningkatkan motivasi yang tinggi untuk belajar, terutama motivasi intrinsik

menimbulkan kepuasan yang tinggi, membentuk sikap menerima perbedaaan antar

sesamanya dan memperbaiki interaksi antar siswa yang mengalami kesulitan belajar

dengan tidak mengalami kesulitan belajar. Model pembelajaran Numbered Heads
                                                                                    68

Together menurut Kagan (2007) secara tidak langsung melatih siswa untuk saling

berbagi informasi, mendengarkan dengan cermat serta berbicara dengan penuh

perhitungan, sehingga siswa lebih produktif dalam pembelajaran. Model NHT

memiliki kelebihan diataranya dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, mampu

memperdalam pamahaman siswa, menyenangkan siswa dalam belajar,

mengembangkan sikap positif siswa, mengembangkan sikap kepemimpinan siswa,

mengembangkan rasa ingin tahu siswa, (Hill, 1993 dalam Arief, 2003: 28).

Penerapan model pembelajaran kooperatif NHT dapat dikombinasikan dengan

model pembelajaran lain.



B. Prestasi Belajar

       Prestasi belajar siswa adalah gambaran pemahaman siswa terhadap materi

pembelajaran. Prestasi belajar siswa dapat diketahui berdasarkan skor yang diperoleh

siswa dari tes yang diadakan setiap akhir siklus. Arikunto (2001:144) menyatakan

bahwa tes hasil belajar adalah salah satu alat ukur yang banyak digunakan untuk

menentukan prestasi belajar (pengetahuan dan pemahaman) siswa terhadap materi

yang telah siswa pelajari. Prestasi belajar siswa dikatakan baik jika pemahaman

siswa terhadap materi pembelajaran juga baik.

       Analisis data terhadap prestasi belajar siswa kelas VII SMP Miftahul Huda

Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan menunjukkan peningkatan sebesar 20%

dari siklus I ke siklus II. Pada siklus I ketuntasan belajar siswa sebesar 60% dengan

rerata 65,46. Pada siklus II ketuntasan belajar siswa sebesar 80% dengan rerata

70,16. Kelas dinyatakan tuntas belajar jika 85% dari jumlah siswa mencapai daya

serap ≥ 65%. Meskipun hasil pemberian tindakan siklus I maupun siklus II belum
                                                                                     69

memenuhi ketuntasan belajar klasikal tapi dengan diterapkannya model

pembelajaran Numbered Heads Together dapat meningkatkan skor rerata dan

persentase ketuntasan belajar klasikal. Belum tercapainya ketuntasan belajar siswa

secara klasikal disebabkan karena siswa belum terbiasa dengan model pembelajaran

ini, siswa terbiasa dengan pembelajaran konvensional.

       Pada siklus II siswa sudah mulai terbiasa dengan model pembelajaran NHT.

Pembelajaran kooperatif mempengaruhi prestasi belajar siswa. Menurut Slavin

(1995:5) pembelajaran kooperatif mengandung pengertian bahwa dalam

pembelajaran kooperatif siswa belajar bersama, saling berbagi ide, dan bertanggung

jawab terhadap pencapaian hasil belajar baik secara individu maupun kelompok.

Melalui pembelajaran kooperatif diperoleh hasil jawaban yang lebih baik bila

dibandingkan secara individu. Kelompok belajar dapat memberi kesempatan untuk

saling melengkapi jawaban. Siswa lebih mudah menemukan konsep yang sulit jika

mereka saling mendiskusikan masalah tesebut dengan temannya (Ibrahim, 2005:5).

       Prestasi belajar siswa secara tidak langsung maupun tidak langsung

dipengaruhi oleh motivasi belajar siswa terdapat hubungan yang kuat antara motivasi

dengan prestasi belajar. Siswa yang memiliki motivasi tinggi akan lebih bersemangat

dalam melakukam aktivitas belajarnya serta cenderung mempunyai prestasi belajar

yang tinggi.

       Peningkatan prestasi belajar siswa pada penelitian ini didukung oleh beberapa

hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Rosidah (2007) dan Hamidatus

(2007) menyimpulkan bahwa penerapan Numbered Heads Together dapat

meingkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa.
                                                                                   70

                                      BAB VI

                                    PENUTUP



A. Kesimpulan

       Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan

sebagai berukut:

1. Penerapan model pembelajaran Numbered Heads Together dapat meningkatkan

   motivasi belajar Biologi siswa kelas VII SMP Miftahul Huda Kecamatan

   Ngadirojo Pacitan yang ditandai dengan meningkatnya ke empat perilaku yaitu

   perhatian, ketekunan, minat, dan konsentrasi.

2. Penerapan model pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together dapat

   meningkatkan prestasi belajar Biologi siswa kelas VII SMP Miftahul Huda

   Kecamatan Ngadirojo Pacitan. Rerata klasikal awal sebelum pelaksanaan

   tindakan adalah 60,7 dengan persentase ketuntasan belajar klasikal 40%

   meningkat pada siklus I skor rerata klasikalnya sebesar 65,46 dengan persentase

   ketuntasan belajar klasikal sebesar 60%, meningkat pada siklus II rerata klasikal

   menjadi 70,16 dengan ketuntasan belajar klasikal 80%.



B. Saran

       Bersarkan hasil penelitian ini diajukan beberapa saran yang perlu

dipertimbangkan antara lain:

1. Guru dapat mencoba model pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together

   pada pokok bahasan lain untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa.




                                     70
                                                                    71

2. Guru hendaknya menggunakan media pembelajaran selain LKPD, dan

   mengkombinasikan media LKPD dengan media pembelajaran lain.

								
To top