PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF NUMBERED HEADS TOGETHER NHT 1 BAB I PENDAHULUAN

Document Sample
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF NUMBERED HEADS TOGETHER NHT 1 BAB I PENDAHULUAN Powered By Docstoc
					                                                                                     1




                                        BAB I

                                 PENDAHULUAN



A. Latar Belakang Masalah

       Berdasarkan hasil observasi dan wawancara terhadap pelaksanaan

pembelajaran biologi di SMP Miftahul Huda yang berada di Kecamatan Ngadirojo,

Kabupaten Pacitan yang dilaksanakan pada bulan Oktober 2007 didapatkan data

bahwa pelajaran Biologi yang ada cenderung “text book oriented”, “teacher

oriented”, pelaksanaan pembelajaran biologi di kelas masih menggunakan metode

ceramah, mencatat, siswa disuruh mengerjakan buku Lembar Kerja Siswa (LKS)

yang disusun tim MGMP kota Pacitan secara individual kemudian dikumpulkan

kepada guru tanpa dibahas. Siswa kurang terlibat pada kegiatan pembelajaran, siswa

takut untuk bertanya maupun mengeluarkan pendapat, siswa kurang bisa bekerja

sama dengan kelompok, siswa kurang menghargai teman yang bukan teman karibnya

sehingga menyebabkan motivasi belajar siswa rendah.

       Motivasi belajar siswa yang rendah ditandai dengan prestasi belajar yang

kurang memuaskan. Prestasi belajar siswa kelas VII SMP Miftahul Huda Ngadirojo

Pacitan yang rendah tersebut terlihat dari sebagian besar siswa masih mengikuti

remidi karena skor yang diperoleh belum memenuhi Standar Ketuntasan Minimal

Belajar (SKBM) yang ditetapkan di SMP Miftahul Huda yaitu 65. Siswa

menganggap belajar adalah transfer informasi dari guru ke siswa. Hal ini terlihat dari

pasifnya selama pembelajaran berlangsung, tidak ada keinginan siswa untuk belajar


                                                1
                                                                                    2

mengembangkan pengetahuan dari berbagai sumber dan tukar informasi sesama

teman. Padahal motivasi berperan dalam menumbuhkan dan mengarahkan kegiatan

belajar siswa. Menurut Sardiman (2001:84) peranan motivasi belajar adalah

menumbuhkan gairah, senang, dan semangat untuk belajar. Motivasi menentukan

tingkat keberhasilan atau kegagalan perbuatan belajar murid. Belajar tanpa adanya

motivasi kiranya sulit untuk berhasil (Hamalik, 2004:161). Dengan adanya motivasi

belajar maka prestasi belajar juga cenderung meningkat. Motivasi belajar yang

rendah menurut hasil wawancara dengan siswa disebabkan oleh sarana dan prasarana

pembelajaran yang kurang misalnya tidak adanya laboratorium. Menurut guru

kekurangan tersebut menyebabkan pembelajaran yang monoton.

       Kurikulum menurut Permen No. 22 Depdiknas 2006 dalam Rosidah (2007:1)

adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan

pelajaran, serta cara yang digunakan sebagai pedoman kegiatan pembelajaran untuk

mencapai tujuan pendidikan. Kurikulum pendidikan Indonesia pada tahun 2007

menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Pada kurikulum ini

pembelajaran terpusat pada siswa (student oriented). Siswa tidak lagi menjadi obyek

pembelajaran tapi menjadi subyek pembelajaran. KTSP adalah kurikulum yang

posisinya paling dekat dengan sekolah dan satuan pendidikan, sebab kurikulum

disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. Sekolah memiliki

full authority dan responsibility serta menetapkan kurikulum dan pembelajaran

dengan visi, misi dan tujuan satuan pendidikan (Mulyasa, 2006:21).

       Biologi adalah salah satu cabang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Menurut

BSNP (2006:1) IPA berkaitan dengan mencari tahu (inquiri) tentang alam dengan

sistematis, sehingga IPA bukan hanya untuk penguasaan konsep atau prinsip saja,
                                                                                   3

tapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA menekankan pada

pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan potensi agar peserta didik

menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah, sehingga dapat membantu

siswa memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang dirinya sendiri dan

alam sekitar. Karuru (2007) menyatakan bahwa “IPA bukan sekedar pengetahuan

tapi IPA adalah human enterprise yang melibatkan operasi mental, keterampilan, dan

strategi yang dirancang manusia untuk menemukan hakekat jagat raya”. Berdasarkan

konsep sains yang diungkapkan oleh Richardson (dalam Susanto 1996:27) bahwa

belajar Biologi bukan sekedar usaha untuk mencari dan mengumpulkan pengetahuan

(“body of knowledge”) tentang hidup, melainkan juga usaha untuk menumbuhkan

dan mengembangkan sikap serta kemampuan berpikir, selanjutnya meningkatkan

kemampuan menjalankan metode ilmiah untuk melakukan penyelidikan.

       Pembelajaran Biologi terarah pada empat pilar, yaitu learning to do, learning

to know, learning to be, dan learning together. Oleh karena itu siswa hendaknya

diberdayakan agar mampu berbuat untuk memperkaya pengalaman belajarnya.

Untuk mencapai hal itu perlu iklim pembelajaran yang kondusif, seperti yang

tecantum dalam KTSP. Iklim pembelajaran yang kondusif diperlukan bagi

terciptanya suasana yang aman, nyaman dan tertib sehingga proses pembelajaran

dapat berlangsung dengan tenang dan menyenangkan (Mulyasa, 2006:33).

       Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa permasalahan yang terjadi di

kelas VII SMP Miftahul Huda Kecamatan Ngadirojo Pacitan terletak pada pemberian

pengalaman belajar yang kurang mengaktifkan siswa sehingga menyebabkan

motivasi belajar siswa rendah akibatnya motivasi belajar siswa juga rendah.

Berdasarkan permasalahan yang terjadi di SMP Miftahul Huda Ngadirojo Pacitan,
                                                                                   4

kreativitas guru diperlukan untuk menciptakan pembelajaran yang dapat

meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa. Salah satunya kreativitas guru

dalam memilih model pembelajaran yang sesuai. Model pembelajaran juga

berpengaruh terhadap keefektifan proses belajar mengajar. Oleh karena itu guru

harus memiliki kemampuan untuk memilih model yang tepat agar mampu

menciptakan situasi dan kondisi serta dapat memotivasi siswa belajar dengan

harapan agar proses pembelajaran berjalan baik dan prestasi belajar siswa meningkat.

Model pembelajaran yang baik dalam proses belajar mengajar adalah yang sesuai

dengan keadaan yaitu usia siswa, kelengkapan sarana dan prasarana serta materi

pelajaran. Salah satu model pembelajaran yang diyakini dapat menyelesaikan

masalah tersebut adalah model pembelajaran kooperatif.

       Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran

motivasional yang diyakini mampu meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa

karena pembelajaran ini berorientasi pada siswa. Slavin (1995:3) menyatakan bahwa,

dalam pembelajaran kooperatif siswa dilibatkan baik secara emosional, maupun

sosial. Interaksi kooperatif memungkinkan siswa menjadi sumber belajar untuk

sesamanya dan siswa akan lebih mudah belajar serta dapat mengoptimalkan

pencapaian tujuan belajar, siswa bertanggung jawab terhadap proses belajarnya,

terlibat secara aktif dan memiliki usaha lebih besar untuk berprestasi.

       Salah satu model pembelajaran kooperatif yang digunakan dalam

pembelajaran adalah Numbered Heads Together (NHT). Model pembelajaran NHT

memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling membagikan ide-ide dan

mempertimbangkan jawaban yang paling tepat. Selain itu siswa didorong untuk

meningkatkan semangat kerja sama. NHT juga dapat meningkatkan prestasi belajar
                                                                                      5

siswa, mampu memperdalam pemahaman, mengembangkan rasa ingin tahu,

menyenangkan dalam belajar, mengembangkan sikap kepemimpinan, meningkatkan

rasa percaya diri, mengembangkan rasa saling memiliki, serta mengembangkan

keterampilan untuk masa depan serta lebih banyak melibatkan siswa dalam

pembelajaran (Hill, 1993 dalam Arif, 2003:28) NHT juga dapat meningkatkan

motivasi serta pemahaman siswa terhadap materi pelajaran (Madjid, 2006:126).

Kelebihan lain dari model pembelajaran NHT adalah menghindari persaingan antar

siswa dan kegaduhan dalam kelas karena saling berebut untuk menjawab pertanyaan.

Kekurangan dari NHT adalah memerlukan waktu yang cukup lama dan hanya cocok

untuk materi tertentu saja. Oleh karena itu perlu dikembangkan dengan model

pembelajaran lain agar pelaksanaannya berlangsung lebih baik (Rosidah, 2007:81).

Menurut hasil penelitian Rosidah (2007) di kelas X SMAN 4 Malang dan Hamidatus

(2007) di kelas XI A2 SMAN 4 Malang model pembelajaran NHT ini dapat

meningkatkan prestasi dan motivasi belajar biologi siswa untuk materi biologi

tertentu.

        Berdasarkan latar belakang di atas maka peneliti ingin melakukan penelitian

tindakan kelas untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar biologi siswa Kelas

VII SMP Miftahul Huda Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan dengan

menggunakan model pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together (NHT).



B. Rumusan Masalah

        Berdasarkan latar belakang di atas rumusan masalah pada penelitian adalah

sebagai berikut.
                                                                                   6

1. Apakah model pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together dapat

   meningkatkan motivasi belajar Biologi siswa kelas VII SMP Miftahul Huda

   Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan?

2. Apakah model pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together dapat

   meningkatkan prestasi belajar Biologi siswa kelas VII SMP Miftahul Huda

   Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan?



C. Tujuan Penelitian

       Berdasarkan rumusan masalah di atas tujuan penelitian ini adalah sebagai

berikut.

1. Untuk mengetahui peningkatan motivasi belajar Biologi siswa kelas VII SMP

   Miftahul Huda Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan melalui model

   pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together.

2. Untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar Biologi siswa kelas VII SMP

   Miftahul Huda Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan melalui model

   pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together.



D. Hipotesis Tindakan

       Hipotesis tindakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Motivasi belajar Biologi siswa kelas VII SMP Miftahul Huda dapat ditingkatkan

   melalui penerapan model pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together.

2. Prestasi belajar Biologi siswa kelas VII SMP Miftahul Huda dapat ditingkatkan

   melalui penerapan model pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together.
                                                                                   7

E. Manfaat Penelitian

       Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Peneliti

   a) Memperluas wawasan tentang hal-hal yang terkait dengan pembelajaran

       dengan model pembelajaran NHT.

   b) Alternatif model pembelajaran untuk meningkatkan motivasi dan prestasi

       belajar biologi siswa SMP.

2. Siswa

   a) Membantu siswa meningkatkan motivasi belajar siswa pada pelajaran

       Biologi khususnya pokok bahasan Kepadatan Populasi Manusia dan

       Pengelolaan Lingkungan.

   b) Membantu siswa meningkatkan prestasi belajar siswa pada pelajaran Biologi

       khususnya pokok bahasan Kepadatan Populasi Manusia dan Pengelolaan

       Lingkungan.

3. Guru

   a) Memperkaya guru untuk memilih dan memanfaatkan model pembelajaran

       yang sesuai dalam upaya meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa.

   b) Dapat meningkatkan dan mengembangkan kemampuan guru dalam

       pembelajaran Biologi melalui model pembelajaran Numbered Heads

       Together (NHT).

4. Sekolah

   a) Bahan pertimbangan untuk menerapkan model pembelajaran lain dalam

       upaya meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah.

   b) Alternatif pemecahan masalah dalam kegiatan pembelajaran.
                                                                                          8



F. Ruang Lingkup dan Keterbatasan Masalah

1. Penelitian dilaksanakan di SMP Miftahul Huda Kecamatan Ngadirojo Kabupaten

   Pacitan kelas VII semester II tahun ajaran 2007/2008 pada pokok bahasan

   Kepadatan Populasi Manusia dan Pengelolaan lingkungan.

2. Model pembelajaran yang digunakan adalah model pembelajaran kooperatif

   struktural Numbered Heads Together.

3. Aspek yang diamati adalah prestasi belajar yang terbatas pada kemampuan

   kognitif siswa dilihat dari skor tes setiap akhir siklus dari 2 siklus, dan motivasi

   yang dilihat dari aspek minat, konsentrasi, perhatian, dan ketekunan.



G. Definisi Operasional

1. Numbered Heads Together adalah model pembelajaran kooperatif struktural yang

   dimulai dengan pemberian nomor masing-masing anggota kelompok dan

   penyampaian jawaban dalam diskusi kelas dengan cara mengacak nomor yang

   harus menjawab.

2. Prestasi belajar adalah tingkat penguasaan siswa terhadap suatu konsep setelah

   mengikuti proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran Numbered

   Heads Together yang diukur dengan tes di setiap akhir siklus.

3. Motivasi belajar adalah respon siswa pada saat pembelajaran berlangsung yang

   merupakan tenaga pendorong/penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku ke

   satu arah tujuan tertentu. Motivasi diukur dengan mengobservasi selama

   pembelajaran berlangsung dan angket siswa dengan menggunakan instrumen

   yang dibuat peneliti.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:211
posted:4/20/2012
language:Malay
pages:8