Gizi dan Infeksi by dyahumiyarni

VIEWS: 1,247 PAGES: 48

									Hubungan Gizi dan Infeksi
 Defisiensi Gizi  Awal dari gangguan
  sistem kekebalan
 Kedua berakar dari kemiskinan dan
  sanitasi lingkungan yang tidak sehat
 Morbiditas dan mortalitas tinggi
 Penyebab mikroorganisme pathogen ;
  cacing, virus, bakteri, parasit,dll
   Penyakit infeksi dan gangguan gizi sering terjadi
    secara bersamaan dan saling mempengaruhi
    antara yang satu dengan yang lainnya. Kaitan
    penyakit infeksi dengan keadaan gizi kurang
    merupakan hubungan timbal balik, yaitu
    hubungan sebab akibat.
   Hubungan SINERGIK
     Bila  bekerja bersama-sama akan memberikan
      prognosa yang lebih buruk dibandingkan kedua faktor
      tersebut bekerja sendiri-sendiri.
            Hubungan Status Gizi dan Infeksi

                            Kekurangan Gizi
                              (Malnutrisi )



                                              Berat badan menurun
Nafsu makan menurun
                                              Gangguan pertumbuhan
Penurunan persediaan gizi
                                              Imunitas menurun
Malabsorbsi
                                              Kerusakan mukosa
Gangguan metabolisme



                                 Penyakit Infeksi


     Sumber : Scrimshaw et.al
 Kekurangan gizi atau malnutrisi yang
  disebabkan asupan gizi tidak adekuat
  dapat mengakibatkan menurunnya berat
  badan,        gangguan      pertumbuhan,
  menurunnya imunitas dan kerusakan
  mukosa.
 Menurunnya       imunitas dan kerusakan
  mukosa memegang peranan utama dalam
  mekanisme pertahanan tubuh.
 Kejadian, keparahan dan durasi penyakit
  mempunyai kaitan erat dengan kedua
  faktor tersebut.
 Penyakit infeksi yang terjadi menyebabkan
  kehilangan persediaan gizi sebagai akibat
  respon metabolik dan kehilangan melalui
  saluran cerna.
 Pada saat bersamaan terjadi penurunan
  nafsu makan yang pada gilirannya
  menyebabkan asupan gizi menurun.
          (Indrawati,1990;Supariasa,2001;Brown2003)
   Dari berbagai penelitian yang telah ada
    menyatakan bahwa terdapat hubungan interaksi
    penyakit infeksi dan status gizi

   Scrimshaw et.al menyatakan bahwa ada
    hubungan yang erat infeksi (bakteri, virus dan
    parasit) dengan kekurangan gizi. Mereka
    menekankan interaksi yang sinergis kekurangan
    gizi dengan infeksi dan juga infeksi akan
    mempengaruhi status gizi dan mempercepat
    kekurangan gizi (malnutrisi).
   Infeksi mengakibatkan si penderita kehilangan
    bahan makanan melalui muntah-muntah dan
    diare.
   Penghancuran jaringan tubuh akan meningkat,
    karena dipakai untuk pembentukan protein atau
    enzim-enzim yang diperlukan dalam usaha
    pertahanan tubuh.
   Gizi kurang menghambat reaksi imunologis dan
    berhubungan dengan tingginya prevalensi dan
    beratnya penyakit infeksi.
Pengaruh infeksi terhadap tubuh

    Infeksi mempengaruhi keadaan gizi seseorang
melalui zat-zat gizi, organisme penyebab infeksi
dan bermacam-macam keadaan gizi. Pengaruh
infeksi ini tidak dapat langsung dihubungkan dengan
status gizi tertentu melainkan dampak status
beberapa zat gizi bagi pertumbuhan dan
perkembangan tubuh, diantaranya:
 Infeksi mempengaruhi status protein
Infeksi mempengaruhi metabolisme vitamin
Infeksi mempengaruhi tersediannya mineral bagi
tubuh
Infeksi berpengaruh pada status lemak
Infeksi mempengaruhi kadar glukosa darah
Infeksi mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan badan
Infeksi Cacing dan Gizi
   Infeksi cacing parasit usus  Cacingan
     Merupakan   penyakit endemik, kronik dng prevalensi
      tinggi
     Penderita kurang nafsu makan
     Menurunkan asupan zat gizi
     Gangguan saluran cerna
     Gangguan absorbsi  zat gizi hilang  Malnutrisi,
      anemia, dan defisiensi gizi lainnya
   Cacing gelang dan cacing tambang merupakan
    cacing usus terpenting yang menyebabkan
    berbagai penyakit serius pada anak-anak.
Cacing Tambang
CACING TAMBANG
   Panjang 2.5 cm hidup pada bagian pertama usus kecil (deudenum)
   Telurnya banyak dijumpai di tinja
   Bila BAB ditanah maka telur akan berubah menjadi larva yg aktif
   Larva akan menembus semua bagian kulit manusia
   Larva menyebar ke seluruh tubuh dan mencapai usus halus (tempat
    paling kondusif  cacing dewasa
   Gambaran umum penyakit cacing tambang  pengeluaran darah
   Pengaruh cacing tergantung jumlah cacing dan status gizi anak
   Pada anak yg konsumsi protein dan zat besi kurang  sejumlah
    besar cacing tambang secara perlahan-lahan akan meningkatkan
    anemia.
   Contoh : Necator americanus, Ancylostoma duodenale,
    Ancylostoma caninum
Cacing Gelang
Cacing Gelang
   Berukuran 20 – 25 cm, menyebar di sepanjang
    usus halus
   Telur keluar bersama tinja dapat mencemari
    tanah dan sayuran yg tidak dimasak
   Bila telur tertelan dalam tubuh anak  cacing
    dewasa akan berada di usus kecil
   Pada anak gizi baik  tidak menimbulkan
    penyakit sebelum cacing dimuntahkan atau
    dikeluarkan melalui tinja atau dng pemeriksaan
    tinja
   Co : Ascaris lumbricoides
 Pada infeksi berat  terjadi obstruksi usus
  akibat terbentuknya gumpalan bola cacing
  gelang yg menyumbat bag paling sempit
  dari usus ( di tempat usus kecil masuk ke
  usus besar)
 Tanda –tanda :
    muntah, nyeri   perut,   ketegangan   usus,
    konstipasi
   Pengobatan  Dengan obat cacing :
     Tetrachlorethylene   (TCE) untuk cacing tambang,
      biasanya diberikan 0,1 ml per kg BB
     Piperazin untuk cacing gelang, dosisnya 2 gr: sampai
      umur 2 tahun, dosis 3 gr : umur 2 – 5 tahun, dosis 4
      gr : umur diatas 5 tahun
   Pencegahan
     Penyuluhan   kesehatan
      Sasaran ibu balita, sehingga ibu mengerti bagaimana
      penyakit ini bisa terjadi dan dapat menerapkannya
      dengan melarang anaknya berjalan di tanah yang
      tercemar dan melarang bayinya tidur atau berbaring
      pada tanah yang tercemar
     Dengan penggunaan jamban yang baik
     Penggunaan alas kaki
Diare dan Gizi
   Diare atau juga sering disebut Gastroenteritis
   Merupakan salah satu masalah kesehatan yang
    utama.
   Keadaan tersebut dapat dilihat dari masih
    tingginya    angka     kesakitan    dan     diare
    menyebabkan       kehilangan     cairan    tubuh
    (dehidrasi) yang dapat mengakibatkan kematian
   Dibeberapa     daerah     dapat    menimbulkan
    Kejadian Luar Biasa (KLB)/wabah dengan
    sejumlah kematian.
   Prevalensi nasional Diare (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan
    dan keluhan responden) adalah 9,00%. Sebanyak 14 provinsi
    mempunyai prevalensi Diare diatas prevalensi nasional, yaitu
    Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Riau, Jawa Barat,
    Jawa Tengah, Banten, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara
    Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara,
    Gorontalo, Papua Barat
     dan Papua (Riskesdas, 2007)
   Berdasarkan definisi WHO (1992) dan
    Depkes (1994)
    Diare adalah
    Suatu penyakit dengan tanda-tanda
    adanya perubahan bentuk dan konsistensi
    dari tinja, yang melembek sampai mencair
    dan bertambahnya frekuensinya berak
    lebih dari 3 kali atau lebih selama 24 jam.
   Diare akut ialah diare yang berlangsung kurang dari 2
    minggu (Depkes RI 1994a)
    Pendapat lain mengenai diare akut ialah diare yang
    terjadi secara mendadak pada bayi dan anak yang
    sebelumnya sehat (Noerasid H., dkk dalam Suharyono
    1988).

   Diare persisten atau diare kronik adalah diare yang
    berlangsung 2 minggu atau lebih dan kehilangan berat
    badan atau tidak bertambah berat badan selama masa
    tersebut (Suharyono 1988, hal 85).
    Pengertian lain dari diare persisten adalah episode diare
    dengan durasi yang lama. (Bhutta et.al 2000)
 Pengaruh diare pada berbagai taraf/status
  gizi dan pada semua golongan umur
 Bayi merupakan suatu golongan umur
  yang mempunyai risiko tinggi terkena
  diare.
  Hal ini dikarenakan masih terbatasnya
  kekebalan atau daya tahan tubuh, perilaku
  hidup sehat dan kurangnya sarana
  kebersihan perorangan dan lingkungan.
   Pada anak-anak bisa terjadi penurunan status
    gizi karena :
     kehilangancairan tubuh
     Kebiasaan menghentikan makanan (hilanganya
      nafsu makan waktu sakit anoreksia)
          Anoreksia dapat disebabkan karena gangguan
           keseimbangan tubuh seperti dehidrasi, gg elektrolit, muntah-
           muntah, perut kembung & demam
     Gangguan    absorbsi makanan waktu diare
      (malabsorbsi glukosa, laktosa, lemak, protein &
      vitamin)
     Perpendekan waktu makanan berasa di usus yang
      disertai peningkatan tekanan osmotic
   Selama diare bisa terjadi kehilangan berat
    badan ± 3 gr/Kg BB/hari



   Kehilangan    BB    karena    pengaruh
    katabolisme tubuh dan menurunnya
    absorbsi makanan pada waktu diare
Akibat buruk dari diare terutama yang akut
terhadap status gizi (pertumbuhan) melalui satu
atau lebih dari empat mekanisme berikut:


1.   Pemasukan Makanan
2.   Absorbsi
3.   Metabolisme
4.   Kehilangan langsung (air dan
     elektrolit)
1. Pemasukan makanan
   Berkurangnya pemasukan makanan dapat
    dikarenakan      anoreksi     atau    kebiasaan
    mengurangi/meniadakan pemberian makanan
    atau keduanya. Anoreksi terjadi karena
    penyakitnya, di antaranya karena dehidrasi,
    gangguan keseimbangan elektrolit, kenaikan
    suhu, rasa tidak enak di perut dan muntah.
   Untuk menunjukkan besarnya akibat dari
    anoreksi dilakukan penelitian di Bangladesh,
    pemasukan energi anak diare karena V.cholera,
    E.coli dan Rotavirus, didapatkan penurunan 30-
    40% pada masa akut, konsumsi ada 60-80
    Kal/Kg BB/hari.
2. Absorbsi
   Diare karena virus dan bakteri dapat diikuti
    dengan perubahan serta kerusakan sel-sel
    mukosa usus, vili menjadi lebih pendek dan
    antrofi sehingga permukaan untuk absorpsi
    berkurang dan enzim-enzim yang terdapat di
    brush border berkurang yaitu lactasa dan
    disakarida lainnya.

   Akhirnya terjadi malabsorpsi disakarida
    terutama laktosa yang menyebabkan diare
    osmotik.
3. Metabolisme
   Infeksi sistemik menyebabkan gangguan pada fungsi
    metabolik dan endokrin normal.
   Pada waktu klinis terjadinya penyakit katabolisme
    melebihi anabolisme.
   Umumnya besarnya kehilangan zat gizi karena
    katabolisme     berupa    kenaikan      glukoneogenesis,
    glukogenolisis dan sekresi insulin dan glukagon.

   Proses ini kelihatannya sebagai usaha untuk menaikkan
    pengadaan energi untuk tubuh. Kehilangan nitrogen dan
    elektrolit intraseluler melalui air kencing dan tinja juga
    bertambah.
   Pada saat infeksi, sintesis dan katabolisme protein
    meningkat.
4. Kehilangan langsung (air dan elektrolit)
   Dengan hilangnya banyak air dan elektrolit,
    diare adalah suatu keadaan fluid electrolyte
    malnutrition (FEM).

   Rusaknya jaringan usus, lepasnya sel-sel epitel
    yang menyebabkan kehilangan nitrogen melalui
    tinja dan keluarnya plasma protein bersama
    darah    dapat   berakibat   protein   loosing
    enteropathy pada diare karena bakteri invasif
    dan non-invasif serta virus.(Suharyono 1988,
    hal.99)
   Berdasarkan penelitian yang dilaksanakan
    dinegara berkembang menyatakan bahwa :
    2 diantara 6 faktor risiko untuk terjadinya diare
    persisten adalah umur dan status gizi.

   Beberapa penelitian menunjukkan bahwa
    malnutrisi mempengaruhi lamanya diare, rata-
    rata lama diare lebih panjang dan terdapat
    angka kejadian diare persisten lebih tinggi.
    Keempat      faktor  lainnya  adalah  status
    imunologik, infeksi terdahulu, susu hewan,
    bakteri enteropathogen. (WHO 1989)
Upaya Pengobatan :
   Untuk menghindari dehidrasi dapat
    diberikan Oralit atau Larutan Gula
    Garam (LGG)
   Pada kasus berat dapat diberikan
    tetrasiklin atau kloramfenikol
Pencegahan :
   Memberikan ASI selama anak diare
   Memperbaiki makanan pendamping ASI
   Menggunakan air bersih yang cukup
   Menjaga hygiene dan sanitasi lingkungan
   Penyuluhan gizi dan kesehatan
   Mencuci tangan
   Menggunakan jamban & Membuang tinja bayi
    yang benar
   Pemberian imunisasi campak
ISPA dan Gizi
   Penyakit ISPA mengandung tiga unsur
    pengertian yaitu infeksi, saluran pernapasan dan
    akut.

   ISPA didefinisikan sebagai suatu penyakit
    infeksi pada hidung, telinga, tenggorokan
    (pharynx), trachea, bronchioli dan paru yang
    kurang dari dua minggu (14 hari) dengan tanda
    dan gejala dapat berupa: batuk dan atau pilek
    (ingus) dan atau batuk pilek dan atau sesak
    nafas karena hidung tersumbat dengan atau
    tanpa demam.
   ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut)
    merupakan penyakit yang umum dijumpai
    pada bayi dan anak-anak masih
    menduduki peringkat teratas sebagai
    penyebab kematian bayi di Indonesia,
    selain itu penyakit yang dapat dicegah
    dengan     imunisasi  merupakan    tiga
    penyebab utama kematian pada golongan
    umur bayi.
Infeksi Saluran pernafasan dibagi 2

1.   Infeksi saluran Pernafasan atas
      Salesma (flu): pengeluran cairan di hidung,
       demam
      Infeksi kronis saluran nafas bagian atas ;
       sering bersin, batuk
      Tonsilitis akut : pembengkakan pada tonsil
2. Infeksi saluran Pernafasan bawah
  a. Bronkitis akut
    Biasanya timbul melalui influenza. Diawali dengan
    demam, batuk yang mula-mula kering menjadi
    berdahak, nyeri pada dada bagian atas karena batuk
    yang sering berulang. Keadaan ini lebih sering terjadi
    pada bayi yang berumur muda.
  b. Pneumonia
    Timbul sesering bronchitis akut pada anak-anak, dan
    hampir selalu mengikuti infeksi saluran nafas bagian
    atas   dan    menyebar      ke    bawah     sehingga
    menyebabkan timbulnya lender pada bronkus.
    Kemudian diikuti dengan adanya infeksi bakteri
    pneumococus dan streptococcus pada bronkus.
Penyebab ISPA
   Bakteri penyebab ISPA antara lain adalah
    Genus Streptococcus, Staphylococcus,
    Pneumococcus, Hemofilus, Bordetella dan
    Corynebacterium. Virus penyebab ISPA
    antara lain adalah golongan Miksovirus,
    Adenovirus, Koronavirus, Pikomavirus,
    Mikooplasma, Herpesvirus dan lain-lain
Mekanisme patologis hubungan ISPA dan
Status Gizi dapat bermacam-macam, baik
secara sendiri-sendiri maupun bersamaan,
yaitu:
1.Penurunan asupan zat gizi akibat
  kurangnya nafsu makan, menurunnya
  absorbsi dan kebiasaan mengurangi
  makan saat sakit.
2.Peningkatan kehilangan cairan tubuh dan
  zat gizi
3. Meningkatnya kebutuhan, baik dari
   peningkatan kebutuhan akibat sakit
   (human host) dan parasit yang terdapat
   dalam tubuh (Supariasa 2001: 176 -
   177)
4. Adanya panas atau demam yang
   menyertai infeksi saluran pernapasan
   memegang peranan penting dalam
   penurunan asupan gizi akibat dari
   menurunnya nafsu makan.
   Jika anak mengalami kurang gizi maka akan
    menyebabkan kelemahan otot pernapasan, dia
    mungkin tidak dapat batuk dengan baik untuk
    menghilangkan sumbatan lendir.

   Selain itu juga memparah infeksi yang terjadi
    karena daya tahan tubuhnya yang menurun.
    Akibatnya kasus kematian juga meningkat.
   Penelitian Bahl et.al (1998) dengan metode
    kohort terhadap anak usia 12 -59 bulan pada
    masyarakat miskin di New Delhi diperoleh
    adanya hubungan timbal balik antara keadaan
    gizi dan kejadian infeksi. Kekurangan gizi
    terutama seng berhubungan erat dengan
    tingginya kejadian penyakit ISPA oleh karena
    mereka yang menderita kurang gizi mungkin
    mengalami penurunan daya tahan tubuh.
Imunisasi
   Orang yang kebal terhadap penyakit
    adalah mereka yang dilindungi terhadap
    penyakit itu dengan adanya antibody yang
    beredar di darahnya atau yang ada di sel-
    sel jaringan tubuhnya.
Kekebalan ada 2 :
1. Kekebalan pasif
    Antibody  yang berikan kepada anak adalah yang
     sudah jadi.
    Pada kekebalan bawaan, seorang bayi menerima
     antibody dari ibunya melalui plasenta yang masuk
     melalui peredaran darah, selanjutnya melindungi bayi
     pada bulan-bulan pertama kehidupannya.
    Pemberian suntikan tetanus pada ibu hamil
     tujuannya adalah untuk membuat kekebalan pasif
     bagi si bayi.
    Kekebalan bawaan hanya bekerja sampai bayi
     berumur kira-kira 6 bulan.
Kekebalan ada 2 :
2. Kekebalan aktif
   Anak  membuat sendiri antibodinya.
   Dalam     rangka   memulai     pembentukan
    antibody, orang tersebut perlu diinjeksi
    dengan penyakit atau diberi vaksin dari
    bakteri atau produk dalam bentuk yang tidak
    berbahaya.
   Imunisasi aktif bekerja dalam jangka waktu
    lama, bahkan kadang-kadang seumur hidup.
Imunisasi yang diberikan pada balita
Umur         Jenis Imunisasi   Penyakit yang dicegah
0 – 7 hari   Hepatitis B1      Hepatitis
1 bulan      BCG               Tuberculosis
2 bulan      Hepaptitis B2     Hepatitis
             DPT 1             Dipteri, Pertusis, Tetanus
             Polio 1           Polio
3 bulan      Hepatitis B3      Hepatitis
             DPT 2             Dipteri, Pertusis, Tetanus
             Polio 2           Polio
4 bulan      DPT 3             Dipteri, Pertusis, Tetanus
             Polio 3           Polio
9 bulan      Campak            Campak
             Polio 4           Polio
Makanan Tambahan Sewaktu Sakit & Infeksi
   Pada      orang     sehat,    gangguan      keseimbangan
    metabolisme pada tahap pertama akibat infeksi dapat
    diatasi oleh tubuh penambahan makanan tidak terlalu
    diperlukan.
   Pada anak defisiensi gizi, reaksi metabolisme terhadap
    infeksi cenderung menurun dengan kehilangan protein.
   Tujuan pemberian makanan tambahan sesudah
    mengalami       infeksi    adalah   untuk     mengurangi
    penghancuran protein atau mempertahankan kadar
    protein sewaktu peristiwa tersebut terjadi.
   Dianjurkan pemberian makanan tambahan paling sedikit
    15 % dari total energi berupa protein dan sisanya lemak
    dan karbohidrat.
   Diperlukan pengobatan infeksi, pengawasan terhadap
    rasa sakit dan lain-lain dan pemberian imunisasi sebagai
    penguat kekebalan tubuh terhadap infeksi.
DAFTAR PUSTAKA :
   Alisjahbana,Anna.1985. Gizi Kurang dan Infeksi. Dalam : Sri
    Kardjati, Anna Alisjahbana,JA Kusin, Aspek Kesehatan dan Gizi
    Anak Balita.. Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.
   Brown, K. H., Januari 2003, Diarrhea and Malnutrition Symposium:
    Nutrition and Infection, Prologue and Progress Since 1968, J. Nutr.
    133:328S-332S
   Indrawati, Ratna, 1990, Aspek Gizi dan Pencegahan Penyakit
    Infeksi Pada Anak, Continuing Education No: 1
   Jelliffe. 1994. Kesehatan Anak di Daerah Tropis. Penerbit Bumi
    Aksara, Jakarta
   Supariasa dkk, 2001, Penilaian Status Gizi, EGC Jakarta:

								
To top