Pengaruh Modal dan Tenaga Kerja Terhadap Efisiensi Industri
Document Sample


PENGARUH MODAL DAN TENAGA KERJA TERHADAP EFISIENSI
INDUSTRI KECIL DI KOTA BANDA ACEH
Aliasuddin
Ikram Abdul Baari
Abstract: The study examines input and output efficiency of small scale
industries in Banda Aceh. The study uses yearly data run from 2005 to 2009,
where each year has 38 industries, so the sample size is 190 industries. This
means, the study uses panel data of small scale industries in Banda Aceh.
Input efficiency is tested by using Wald statistic, meanwhile the output
efficiency is tested by using ratio production possibility frontier and actual
output. The result shows that small scale industries are not efficient in term of
input and output (production process). Based on the output efficiency, only
several industries are efficient, the others are not efficient. Government of
Banda Aceh should help the industries to improve the efficiency in terms of
input and output. It is very important to ensure the industries are ready to
compete with other industries in global market.
Keywords: capital, employment, production, efficiency, industry
Aliasuddin, Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh
Ikram Abdul Baari, Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh
364
Aliasuddin & Ikram Abdul Baari, Pengaruh Modal Dan Tenaga Kerja……………… 365
PENDAHULUAN
Kebijakan pemerintah harus lebih tepat sasaran untuk mendorong pertumbuhan
ekonomi baik di tingkat pusat maupun daerah. Langkah-langkah dan kebijakan yang
ditempuh pemerintah dalam sektor perekonomian merupakan salah satu kebijakan
dalam mewujudkan pembangunan ekonomi. Kebijakan pemerintah ini bias
dilaksanakan di semua sektor termasuk investasi, karena dengan adanya investasi akan
tercipta akumulasi modal terutama yang dapat dirasakan di masa yang akan datang.
Investasi di sini termasuk investasi pemerintah baik berasal dari dalam negeri maupun
dari luar negeri, dan investasi yang dilakukan masyarakat dalam segala sektor
ekonomi.
Pembangunan berbagai sektor akan berpengaruh terhadap proses
pembangunan. Pembangunan sektor ekonomi ini akan berdampak pada perekonomian
melalui peningkatan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).
Pembangunan ekonomi daerah merupakan bagian dari pembangunan ekonomi
Indonesia. Sektor utama pembangunan ekonomi daerah pada umumnya adalah sektor
pertanian karena sektor ini mempunyai kontribusi yang relatif besar dalam PDRB.
Namun, tidak semua daerah mempunyai potensi pertanian, seperti Kota Banda Aceh,
kontribusi sektor pertanian sangat kecil sehingga peran sektor lainnya relatif besar,
termasuk sektor industri.
Pengembangan sektor industri merupakan salah satu cara untuk mengubah
struktur perekonomian. Pola normal pembangunan ekonomi dimulai dari sektor
industri menuju sektor industri dan sektor jasa. Agar perubahan struktur ekonomi
berjalan mulus, sangat diperlukan peran dan komitmen pemerintah serta masyarakat
karena sebenarnya sektor industri ini bertujuan untuk kehidupan yang lebih baik.
Pembangunan sektor industri ini tidak hanya untuk level nasional tetapi juga untuk
level provinsi, dan kabupaten/kota. Sektor industri mempunyai peran yang sangat
besar untuk meningkatkan nilai tambah sektor pertanian sehingga kemajuan industri
juga berpengaruh terhadap pembangunan sektor pertanian. Sektor industri mempunyai
keterkaitan ke belakang (sektor pertanian) dan ke depan baik sektor indutri lainnya
maupun kepada konsumen.
Perkembangan industri juga terjadi pada ruang lingkup yang lebih kecil yaitu
di Kota Banda Aceh. Perkembangan sektor industri ini dapat dilihat dari kontribusinya
terhadap PDRB. Untuk tahun 2009, kontribusi sektor industri terhadap PDRB Kota
Banda Aceh mengalami kenaikan sekitar Rp 19 miliar. Walaupun kontribusinya lebih
kecil dari sektor lain, peningkatan jumlah industri dan produksi akan memberikan
kontribusi yang lebih besar lagi terhadap PDRB Kota Banda Aceh.
Peningkatan jumlah industri dan produksi industri juga akan bertambahnya
penyerapan tenaga kerja sektor industri di Kota Banda Aceh. Berdasarkan laporan
BPS dalam Statistik Daerah Kota Banda Aceh mengatakan bahwa penduduk usia 10
tahun ke atas yang bekerja di Kota Banda Aceh pada tahun 2009 sebagian besar
bekerja pada sektor jasa-jasa sebanyak 72,52 persen, sektor industri pengolahan
sebanyak 15,74 persen, sektor listrik, gas, dan air sebanyak 3,67 persen dan sektor
bangunan sebanyak 8,07 persen. Dengan demikian, penyerapan tenaga kerja pada
sektor industri pengolahan di Banda Aceh pada peringkat kedua setelah sektor jasa-
jasa.
366 Jurnal E-Mabis FE Unimal, Volume 12, Nomor 3, Oktober 2011
Jenis industri yang ada di Kota Banda Aceh umumnya tergolong dalam
industri kecil yang dapat dilihat pada jumlah modal dan tenaga kerja yang digunakan
masih relatif kecil. Selanjutnya dari setiap unit usaha pada sektor industri ini
menggunakan input berupa modal dan tenaga kerja yang berpengaruh terhadap
produksi industri kecil. Kenaikan jumlah modal yang paling tinggi terjadi pada tahun
2006. Hal ini disebabkan adanya investasi yang dilakukan oleh pengusaha industri.
tetapi pada tahun 2007 modal mengalami penurunan sebesar Rp 19 miliar dan
selanjutnya mengalami kenaikan sampai tahun 2009. Begitu juga dengan
perkembangan jumlah produksi yang umumnya terus meningkat kecuali pada tahun
2006. Hal ini bisa disebabkan oleh tingginya permintaan masyarakat terhadap produk
industri kecil di Kota Banda Aceh.
Sektor industri di Kota Banda Aceh sendiri masih didominasi oleh industri
kecil di mana umumnya industri memiliki tenaga kerja antara 5 sampai 19 orang dan
modal yang digunakan juga belum begitu besar. Tetapi belum mengetahui bagaimana
kondisi industri kecil itu sendiri. Apakah industri kecil telah beroperasi secara efisien
dalam penggunaan input dan efisien dalam proses produksi dalam menghasilkan
output yang optimal dengan menggunakan sumber daya modal dan tenaga kerja yang
tersedia. Berdasarkan permasalahan yang ada maka penulisan ini bertujuan untuk
melihat efisiensi penggunaan input dan efisiensi faktor produksi industri kecil di Kota
Banda Aceh.
LANDASAN TEORITIS
Industri merupakan perusahaan yang menjalankan operasi dalam bidang
kegiatan ekonomi yang tergolong dalam sektor sekunder. Kegiatan seperti itu antara
lain adalah pabrik tekstil, pabrik perakit atau pembuat mobil dan pabrik pembuat
minuman ringan. Dalam teori ekonomi istilah industri diartikan sebagai kumpulan
firma-firma yang menghasilkan barang yang sama atau sangat bersamaan yang
terdapat dalam suatu pasar. Industri bisa juga diartikan sebagai gabungan perusahaan
yang menggunakan input yang sama, atau menghasilkan barang yang sama atau
mempunyai proses produksi yang sama.
Badan Pusat Statistik (BPS) mengklasifikasikan indsutri menjadi empat
golongan, yaitu (i) Industri besar, apabila mempunyai tenaga kerja 100 orang atau
lebih; (ii) Industri sedang, apabila mempunyai tenaga kerja 20–99 orang; (iii) Industri
kecil, apabila mempunyai tenaga kerja 5–19 orang; dan (iv) Industri rumah tangga,
apabila memiliki tenaga kerja 1–4 orang. Golongan atau jenis industri berdasarkan
besar kecil modal digolongkan menjadi dua jenis industri, yaitu (i) Industri padat
modal, yaitu industri yang dibangun dengan modal yang jumlahnya besar untuk
kegiatan operasional maupun pembangunannya; dan (ii) Industri padat karya, yaitu
industri yang lebih dititik beratkan pada sejumlah besar tenaga kerja atau pekerja
dalam pembangunan serta pengoperasiannya.
Untuk keperluan perencanaan anggaran negara dan analisis pembangunan,
pemerintah membagi sektor industri pengolahan menjadi tiga subsektor, yaitu (i)
Subsektor industri pengolahan non migas; (ii) Subsektor pengilangan minyak bumi;
dan (iii) Subsektor pengolahan gas alam cair. Sedangkan untuk keperluan
pengembangan sektor industri itu sendiri serta berkaitan dengan administrasi
Aliasuddin & Ikram Abdul Baari, Pengaruh Modal Dan Tenaga Kerja……………… 367
Kementrian Perindustrian dan Perdagangan, digolongkan atas hubungan arus produk,
yaitu pertama industri hulu, yang terdiri dari (a) Industri kimia dasar; dan (b) Industri
mesin, logam dasar dan elektronika. Kedua, industri hilir, yang terdiri dari (a) aneka
industri; dan (b) industri kecil.
Menurut BPS, industri kecil merupakan sebuah usaha rumah tangga yang
melakukan kegiatan mengolah barang dasar menjadi barang jadi atau setengah jadi,
barang setengah jadi menjadi barang jadi atau dari yang kurang nilainya menjadi
barang yang lebih tinggi nilainya dengan maksud untuk dijual, dengan jumlah pekerja
paling sedikit 5 orang dan paling banyak 19 orang termasuk pengusaha dan pemilik.
Selanjutnya, Menurut Dinas Perindustrian dan Perdagangan, industri kecil adalah
kelompok usaha yang dimiliki penduduk Indonesia dengan jumlah asset kurang dari
Rp.600 juta di luar tanah dan bangunan yang digunakan.
Selanjutnya industri kecil menurut Anoraga (2007:46) yaitu unit produksi yang
memiliki karakteristik (i) sistem pembukuan yang relatif sederhana dan cenderung
tidak mengikuti kaidah administrasi pembukuan standar; (ii) margin usaha yang
cenderung tipis mengingat persaingan yang tinggi; dan (iii) modal terbatas.
Faktor produksi modal dan tenaga merupakan salah satu aspek penting dalam
proses produksi yang dilakukan oleh industri termasuk didalamnya industri kecil.
Faktor produksi ini sangat mempengaruhi terhadap efisiensi baik efisiensi input
maupun efisiensi proses produksi pada industri kecil di Kota Banda Aceh. Suatu unit
produksi dinyatakan efisien jika mampu menghasilkan produksi optimal dan
produktivitas input berada pada tingkat constant return to scale (CRTS).
Menurut Case & Fair (2007:470), modal adalah barang yang dihasilkan oleh
sistem ekonomi, dan digunakan sebagai masukan (input) untuk memproduksi barang
dan jasa lain dimasa yang akan datang. Selanjutnya menurut BPS, pengertian dari
tenaga kerja (manpower) adalah seluruh penduduk dalam usia kerja (berusia 15 tahun
atau lebih) yang potensial dapat memproduksi barang dan jasa. Menurut Undang-
undang No.13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, tenaga kerja adalah setiap orang
yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa baik
untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat.
Input modal dan tenaga kerja merupakan faktor penting yang memperngaruhi
kegiatan produksi. Menurut Sugiarto et.al. (2002) produksi adalah suatu kegiatan yang
mengubah input menjadi output. Kegiatan tersebut dalam ekonomi biasa dinyatakan
dalam fungsi produksi. Analisis terhadap kegiatan produksi perusahaan dikatakan
berada dalam jangka pendek apabila sebagian dari faktor produksi dianggap tetap
jumlahnya (fixed input) sedangkan dalam jangka panjang semua faktor produksi dapat
mengalami perubahan yang artinya bahwa setiap faktor produksi dapat ditambah
jumlahnya kalau memang diperlukan.
Faktor produksi dikenal dengan istilah input dan jumlah produksi disebut
sebagai output. Fungsi produksi selalu dinyatakan dalam bentuk rumus (fungsi Cobb-
Douglas) seperti berikut (Sukirno, 2005:192) :
Q = f (K, L, R,T) (1)
di mana K adalah jumlah stok modal; L adalah jumlah tenaga kerja, meliputi berbagai
jenis tenaga kerja dan keahlian keusahawanan; R adalah kekayaan alam; T adalah
tingkat teknologi yang digunakan; Q adalah jumlah produksi yang dihasilkan oleh
368 Jurnal E-Mabis FE Unimal, Volume 12, Nomor 3, Oktober 2011
berbagai jenis faktor-faktor produksi, yaitu secara bersama digunakan untuk
memproduksi barang yang sedang dianalisis sifat produksinya.
Faktor produksi yang telah melalui proses produksi dapat dilihat karakteristik
produksinya yaitu efisien dan tidak efisien. Menurut beberapa pakar ekonomi, konsep
efisiensi lebih ditekankan pada biaya termasuk dalam penggunaan modal dan tenaga
kerja dalam menghasilkan output. Suatu kegiatan produksi dianggap efisien bilamana
dengan input yang lebih sedikit akan menghasilkan output yang sama.
Secara empiris, efisiensi input dan efisiensi produksi dapat diuji dengan
menggunakan berbagai pendekatan, salah satunya dengan pendekatan stokastik.
Pengujian ini sudah dilakukan oleh Aliasuddin (2009) mengenai Efisiensi Industri
Kecil di Banda Aceh : Pendekatan Data Pool 2006-2007. Kesimpulan yang dapat
diambil dalam penelitian ini yaitu hasil estimasi memperlihatkan bahwa industri kecil
sudah mencapai efisiensi penggunaan input tetapi belum mencapai efisiensi proses
produksi. Selanjutnya efisiensi proses produksi belum tercapai diduga sebagai akibat
dari potensi pasar yang relatif terbatas sehingga industri kecil harus menyesuaikan
produksinya sesuai dengan permintaan pasar. Model yang digunakan Aliasuddin
(2009) adalah model Pooled Data. Agar penelitian ini berbeda dengan penelitian
sebelumnya, maka pendekatan yang digunakan adalah Panel Data. Beberapa studi
lainnya sudah dilakukan dengan modal dan pendekatan yang berbeda, misalnya,
Aliasuddin (2002a; 2002b; dan 2003).
Selanjutnya penelitian mengenai efisiensi telah dilakukan oleh Sari (2010)
mengenai Pengujian Efisiensi Industri Kecil Formal Sektor Logam di Kota Banda
Aceh: Pendekatan Fungsi Produksi Ray-Homothetic. Kesimpulan dari penelitian ini
secara keseluruhan semua kelompok industri sektor logam tidak efisien karena tidak
semua sektor logam mencapai produksi output yang optimal, tetapi jika dilihat secara
individu dapat dikatakan bahwa ada sektor logam yang mencapai tingkat optimal dan
efisien. Industri formal menurut sektor logam belum dapat bersaing dari segi
penggunaan input.
MODEL PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan data sekunder tahun 2005 sampai 2009. Data
yang berhubungan dengan penelitian ini berasal dari Badan Pusat Statistik Provinsi
Aceh, Badan Pusat Statistik Kota Banda Aceh yang telah dipublikasikan dan data dari
Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Kota Banda Aceh. Data yang
digunakan merupakan data industri kecil formal dan non formal menurut sektor dan
subsektornya. Data yang digunakan adalah data panel (panel data) sehingga jumlah
sampel dalam penelitian ini merupakan gabungan time series dan cross section data.
Model yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan panel
data. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data penggabungan lima tahun
yaitu 2005 sampai 2009. Data Jumlah industri selama tahun 2005 sampai tahun 2009
adalah sebanyak 311 industri. Namun karena setiap industri tidak memiliki data
yang lengkap tiap tahunnya maka untuk penelitian ini hanya menggunakan data
industry yang memiliki data lengkap untuk tahun 2005 sampai 2009 yaitu sebanyak
38 industri. Dengan demikian jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 190
sampel.
Aliasuddin & Ikram Abdul Baari, Pengaruh Modal Dan Tenaga Kerja……………… 369
= ∝
Fungsi produksi yang digunakan dalam penelitian ini adalah fungsi produksi
Cobb-Douglass dengan formulasi:
konstanta dan ∝ dan adalah koefisien elastisitas tenaga kerja dan modal. Persamaan
(2)
di mana Q adalah produksi; L adalah tenaga kerja; K adalah modal; A adalah
(1) belum memenuhi persyaratan ekonometrik dan untuk memudahkan estimasi
ln Q = ln A + ∝ ln L + ln K +
persamaan di atas, maka persamaan (1) dilinearkan dan ditambah dengan residual
di mana ln adalah logaritma alamiah, ∝ dan adalah koefisen elastisitas tenaga kerja
sehingga persamaan (1) menjadi:
(3)
dan modal. Uji efisiensi dilakukan dengan menguji koefisien α dan β sesuai dengan
teori constant return to scale (CRTS). Jika hipotesis nol (α + β – 1 = 0) ditolak maka
industri kecil tidak efisien dan sebaliknya (Nicholson. 2002). Selanjutnya uji efisiensi
produksi dilakukan dengan membandingkan PPF dengan produksi aktual. Jika hasil
perbandingan sama dengan 1 maka industri tersebut efisien, jika tidak berarti belum
efisien.
Model estimasi yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan model
estimasi ordinary least square (OLS). Pengujian efisiensi output yang paling sesuai
adalah dengan menggunakan pendekatan stochastic production function (SPF). Secara
teori dinyatakan bahwa PPF merupakan kemampuan tertinggi yang dapat dicapai oleh
setiap unit produksi dalam menghasilkan sejumlah output sesuai dengan ketersediaan
input. Semakin tinggi PPF ini semakin efisien unit produksi tersebut. Jika suatu unit
produksi tidak mampu mencapai PPF ini maka unit produksi tersebut dinyatakan
belum efisien (Aigner et al., 1977). Selanjutnya efisiensi input diuji dengan
menggunakan statistik Wald. Suatu industri dikatakan efisien dalam penggunaan input
jika setidaknya industri tersebut berada pada produksi skala konstan (constant return
to scale – CRTS).
Sesuai dengan ketersediaan data industri kecil di Banda Aceh maka faktor
input yang digunakan dalam penelitian ini hanya modal dan tenaga kerja. Variabel
modal dan produksi diukur dalam rupiah sedangkan variabel tenaga kerja dalam
rupiah.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Estimasi
Penelititan ini menggunakan fungsi produksi Cobb-Douglas yang digunakan
untuk menganalisis hubungan faktor input terhadap output. Fungsi produksi yang
digunakan merupakan fungsi produksi dengan dua faktor produksi, yaitu modal dan
tenaga kerja. Penelitian ini hanya menggunakan data industri yang memiliki data
lengkap untuk tahun 2005 sampai 2009 yaitu sebanyak 38 industri. Dengan demikian
jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 190 sampel.
Setelah dilakukan estimasi untuk variabel modal, tenaga kerja dan produksi
maka didapatkan hasil estimasi seperti yang diperlihatkan pada Tabel 1. Hasil
estimasi variabel modal dan tenaga kerja signifikan baik secara teori maupun secara
370 Jurnal E-Mabis FE Unimal, Volume 12, Nomor 3, Oktober 2011
statistik. Sehingga hasil estimasi ini bisa digunakan untuk menguji fungsi produksi dan
tingkat efisiensi input terhadap output.
Tabel 1 Hasil Estimasi Fungsi Produksi Cobb-Douglas
Variabel Koefisien Standard Error t-rasio p-value
Tenaga Kerja 3860,3 810,1 4,765 0.000
Modal 1,4646 0,1122 13,06 0.000
Konstanta 39887 0,2982 1,338 0,183
= 0.6866 =6832 F = 140,484 p-value = 0.0000 DW= 1,0124
Sumber: Hasil Estimasi, 2011.
Tabel 1 memperlihatkan tanda koefisien hasil estimasi modal dan tenaga kerja
sesuai secara teori karena tanda koefisien modal dan tenaga kerja bernilai positif.
Koefisien regresi variabel tenaga kerja sebesar 3860,3 mengandung pengertian bahwa
apabila tenaga kerja mengalami kenaikan sebesar 1 orang maka tingkat output (Q)
mengalami kenaikan sebesar 3860,3 rupiah dengan asumsi variabel lain dianggap
konstan. Koefisien regresi variabel modal sebesar 1,4646 artinya apabila modal
mengalami kenaikan sebesar 1 rupiah maka tingkat output (Q) akan mengalami
kenaikan sebesar 1,4646 rupiah dengan asumsi variabel lain dianggap konstan.
Koefisien regresi untuk variabel tenaga kerja jauh lebih besar dari koefisien
regresi variabel modal. Dengan kata lain bahwa variabel tenaga kerja sangat
berpengaruh terhadap produksi dan industri kecil di Kota Banda Aceh lebih bersifat
padat karya dari pada padat modal.
Uji t digunakan untuk mengetahui pengaruh modal (K) dan tenaga kerja (L)
0,000 < 0,05 maka dapat diambil kesimpulan H ditolak dan H diterima. Artinya
secara parsial terhadap produksi (Q). Tabel 1 memperlihatkan bahwa nilai statistik uji
t variabel modal (K) adalah 4,765 dengan nilai p-value sebesar 0,000. Oleh karena
0,000. Oleh karena 0,000 < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa H ditolak dan H
bahwa variabel modal secara parsial berpengaruh terhadap produksi (Q). Selanjutnya
nilai statistik uji t variabel tenaga kerja (L) adalah 13,06 dengan nilai p-value sebesar
diterima, artinya bahwa variabel tenaga kerja secara parsial berpengaruh terhadap
produksi (Q).
Uji F digunakan untuk mengetahui sejauh mana variabel input yaitu modal (K)
dan tenaga kerja (L) bersama-sama mempengarui produksi industri kecil di Kota
demikian sesuai persyaratan statistik p-value < 0,05 maka H ditolak dan H diterima.
Banda Aceh. Berdasarkan hasil estimasi didapat nilai F sebesar 140,484 dengan p-
value 0.000. Penelitian ini menggunakan tingkat signifikansi sebesar 5%. Dengan
Dapat disimpulkan bahwa input modal dan tenaga kerja secara bersama-sama atau
simultan berpengaruh terhadap produksi industri kecil di Kota Banda Aceh.
Uji Efisiensi Input
Sesuai dengan uji statistik dan teori terbukti signifikan sehingga model estimasi
dapat digunakan sebagai alat analisis. Berdasarkan pada alasan tersebut maka uji
Aliasuddin & Ikram Abdul Baari, Pengaruh Modal Dan Tenaga Kerja……………… 371
efisiensi input dan uji efisiensi proses produksi dapat dilakukan. Uji efisiensi input
p-value 0,000. Dengan demikian p.value < α atau 0,000 < 0,05 maka H ditolak dan
dilakukan dengan menggunakan uji Wald.
H diterima. Maka dapat diambil kesimpulah bahwa industri kecil di Kota Banda Aceh
Berdasarkan hasil estimasi nilai statistik Wald sebesar 22,7144 dan dengan nilai
belum mencapai efisiensi dalam penggunaan input atau faktor produksi yaitu modal
dan tenaga kerja.
Uji Efisiensi Proses Produksi
Uji efisiensi proses produksi dilakukan dengan membandingkan jumlah sampel
dengan jumlah perhitungan industri yang efisien, di mana setiap industri yang efisien
bernilai sama dengan 1. Data yang digunakan pada penelitian ini yaitu data 38 industri
pertahunnya dari tahun 2005 sampai tahun 2009 dengan jumlah 190 sampel.
Berdasarkan jumlah sampel tersebut efisiensi proses produksi industri tercapai jika
jumlah perhitungan sama dengan 190.
Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh angka efisiensi proses produksi sebesar
111 yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan jumlah sampel yaitu 190 yang
mencakup data industri kecil tahun 2005 sampai 2009. Dari hasil perhitungan
didapatkan angka selisih yaitu sebesar 79. Ini menandakan bahwa dari tahun 2005
sampai 2009 ada sebanyak 79 sampel industri yang belum mencapai efisiensi proses
produksi dengan menggunakan input modal dan tenaga kerja.
Berdasarkan hasil perhitungan dapat dijelaskan bahwa ada 21 industri dalam
rentang waktu 2005 sampai 2009 yang tidak pernah mencapai kriteria efisiensi.
Industri tersebut antara lain industri mie, tempe, kerupuk udang, kue basah/bolu, nata
de coco, ukiran kayu, sablon, dan industri lainnya. Tidak tercapainya posisi efisiensi
ini bisa dikaitkan dengan skala usaha industri yang masih kecil sehingga sangat sulit
dalam mengoptimalkan kombinasi input yaitu modal dan tenaga kerja. Selain itu juga
karena industri kecil di Kota Banda Aceh belum bisa menyesuaikan jumlah produksi
sesuai dengan potensi pasar yang ada.
Industri yang telah mencapai posisi efisiensi untuk tahun 2005 sampai 2009
antara lain industri es krim, penjahit kupiah, meubel besi dan tukang las. Pencapaian
efisiensi ini bisa dikaitkan adanya pemanfaatan yang maksimal dalam
mengkombinasikan input modal dan tenaga kerja dalam menghasilkan produksi yang
efisien. Hal lain yang sangat berpengaruh yaitu tingginya permintaan masyarakat
terhadap produk industri ini. Permintaan ini tidak hanya di dalam Kota Banda Aceh
tetapi juga permintaan di luar Kota Banda Aceh dan di luar Provinsi Aceh.
Selanjutnya terdapat industri yang mengalami peningkatan dari tidak efisien
menjadi efisien dalam waktu tahun 2005 sampai 2009. Industri tersebut yaitu industri
perabot alumunium. Industri ini mengalami kendala seperti mahalnya input termasuk
harga bahan baku dan menurunnya permintaan masyarakat sehingga posisi efisien sulit
tercapai. Kemudian industri ini mencapai kondisi efisien ketika mampu
mengkombinasikan input modal dan tenaga kerja dalam menghasilkan produksi yang
optimal. Dengan demikian secara keseluruhan industri kecil di Kota Banda Aceh
belum mencapai posisi efisiensi proses produksi.
372 Jurnal E-Mabis FE Unimal, Volume 12, Nomor 3, Oktober 2011
PENUTUP
Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa secara keseluruhan industri kecil
di Kota Banda Aceh belum mencapai efisiensi dalam penggunaan input yaitu input
modal dan tenaga kerja. Selanjutnya hasil perhitungan uji efisiensi proses produksi
memperlihatkan bahwa industri yang telah berproduksi secara efisien yaitu industri es
krim, penjahit kupiah, meubel besi dan tukang las. Selanjutnya industri yang terjadi
peningkatan dari berproduksi secara tidak efisien menjadi efisien yaitu industri perabot
alumunium. Sedangkan industri yang belum berproduksi secara efisien yaitu
industri mie, tempe, kerupuk udang, kue basah/bolu, nata de coco, ukiran kayu,
sablon, dan industri lainnya. Berdasarkan pada hasil ini maka industri yang belum
mencapai efisiensi dapat mengupayakan pemanfaatan modal pemberdayaan tenaga
kerja secara maksimal sehingga posisi efisiensi tercapai dan industri mampu bersaing
dalam melakukan proses produksi.
REFERENSI
Aigner, D., C.A. Knox, and P.Schmidt. 1977. Formulation and estimation of
stochastic frontier production function models. Journal of Econometrics, 6,
21-37.
Aliasuddin. 2002a. Perbandingan Efisiensi Industri di Indonesia. Jurnal Manajemen
dan Pembangunan, Vol. 1, No. 2, ha 22–31.
Aliasuddin. 2002b. Produksi Optimal dan RTS: Industri Sedang dan Besar di
Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Jurnal Riset Ekonomi dan Manajemen,
Vol. 2, No. 2, 2002, hal. 1–7.
Aliasuddin. 2009. Efisiensi Industri Kecil di Banda Aceh : Pendekatan Data Pool
2006-2007. Jurnal Ekonomi dan Bisnis. 8(2), hal 128-138.
Badan Pusat Statistik. 2010. Banda Aceh Dalam Angka 2010. Banda Aceh : BPS
Case, and Fair, 2005. Prinsip-prinsip Ekonomi Mikro. Edisi ketujuh, Jakarta: PT.
Indeks Kelompok Gramedia.
Nicholson, W. 2002. Microeconomic Theory: Basic Principles and Extensions.
Eighth Edition. International Edition. Singapore: Thomson–South Western.
Sari, Yuanita. 2010, Pengujian Efisiensi Industri Kecil Formal Sektor Logam di Kota
Banda Aceh : Pendekatan Fungsi Produksi Ray-Homothetic. Skripsi (Tidak
Dipublikasikan). Banda Aceh: Universitas Syiah Kuala.
Sukirno, Sadono. 2005. Pengantar Teori Ekonomi Mikro, Jakarta : PT Grafindo
Persada.
Sugiarto, T. Herlambang, Brastoro, R. Sudjana dan S. Kelana. 2002. Ekonomi Mikro:
Sebuah Kajian Komprehensif. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Get documents about "