Pola Aliran Sungan
Document Sample


Bab 4 Pola Pengaliran Sungai Geomorfologi
4
Pola Pengaliran Sungai
4.1 Pola Pengaliran Sungai
Dengan berjalannya waktu, suatu sistem jaringan sungai akan membentuk pola pengaliran
tertentu diantara saluran utama dengan cabang-cabangnya dan pembentukan pola pengaliran
ini sangat ditentukan oleh faktor geologinya. Pola pengaliran sungai dapat diklasifikasikan atas
dasar bentuk dan teksturnya. Bentuk atau pola berkembang dalam merespon terhadap
topografi dan struktur geologi bawah permukaannya. Saluran-saluran sungai berkembang
ketika air permukaan (surface runoff) meningkat dan batuan dasarnya kurang resisten
terhadap erosi.
Sistem fluviatil dapat menggambarkan perbedaan pola geometri dari jaringan pengaliran sungai.
Jenis pola pengaliran sungai antara alur sungai utama dengan cabang-cabangnya disatu
wilayah dengan wilayah lainnya sangat bervariasi. Adanya perbedaan pola pengaliran sungai
disatu wilayah dengan wilayah lainnya sangat ditentukan oleh perbedaan kemiringan topografi,
struktur dan litologi batuan dasarnya. Pola pengaliran yang umum dikenal adalah sebagai
berikut:
1. Pola Aliran Dendritik
Pola aliran dendritik adalah pola aliran yang cabang-cabang sungainya menyerupai struktur
pohon. Pada umumnya pola aliran sungai dendritik dikontrol oleh litologi batuan yang homogen.
Pola aliran dendritik dapat memiliki tekstur/kerapatan sungai yang dikontrol oleh jenis
batuannya. Sebagai contoh sungai yang mengalir diatas batuan yang tidak/kurang resisten
terhadap erosi akan membentuk tekstur sungai yang halus (rapat) sedangkan pada batuan
yang resisten (seperti granit) akan membentuk tekstur kasar (renggang).
Tekstur sungai didefinisikan sebagai panjang sungai per satuan luas. Mengapa demikian ? Hal
ini dapat dijelaskan bahwa resistensi batuan terhadap erosi sangat berpengaruh pada proses
pembentukan alur-alur sungai, batuan yang tidak resisten cenderung akan lebih mudah di-erosi
membentuk alur-alur sungai. Jadi suatu sistem pengaliran sungai yang mengalir pada batuan
yang tidak resisten akan membentuk pola jaringan sungai yang rapat (tekstur halus),
sedangkan sebaliknya pada batuan yang resisten akan membentuk tekstur kasar.
2. Pola Aliran Radial
Pola aliran radial adalah pola aliran sungai yang arah alirannya menyebar secara radial dari
suatu titik ketinggian tertentu, seperti puncak gunungapi atau bukir intrusi. Pola aliran radial
juga dijumpai pada bentuk-bentuk bentangalam kubah (domes) dan laccolith. Pada
bentangalam ini pola aliran sungainya kemungkinan akan merupakan kombinasi dari pola radial
dan annular.
Copyright@2010 by Djauhari noor 31
Bab 4 Pola Pengaliran Sungai Geomorfologi
3. Pola Aliran Rectangular
Pola rectangular umumnya berkembang pada batuan yang resistensi terhadap erosinya
mendekati seragam, namun dikontrol oleh kekar yang mempunyai dua arah dengan sudut
saling tegak lurus. Kekar pada umumnya kurang resisten terhadap erosi sehingga
memungkinkan air mengalir dan berkembang melalui kekar-kekar membentuk suatu pola
pengaliran dengan saluran salurannya lurus-lurus mengikuti sistem kekar.
Pola aliran rectangular dijumpai di daerah yang wilayahnya terpatahkan. Sungai-sungainya
mengikuti jalur yang kurang resisten dan terkonsentrasi di tempat tempat dimana singkapan
batuannya lunak. Cabang-cabang sungainya membentuk sudut tumpul dengan sungai
utamanya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pola aliran rectangular adalah pola
aliran sungai yang dikendalikan oleh struktur geologi, seperti struktur kekar (rekahan) dan
sesar (patahan). Sungai rectangular dicirikan oleh saluran-saluran air yang mengikuti pola dari
struktur kekar dan patahan.
4. Pola Aliran Trellis
Geometri dari pola aliran trellis adalah pola aliran yang menyerupai bentuk pagar yang umum
dijumpai di perkebunan anggur. Pola aliran trellis dicirikan oleh sungai yang mengalir lurus
disepanjang lembah dengan cabang-cabangnya berasal dari lereng yang curam dari kedua
sisinya. Sungai utama dengan cabang-cabangnya membentuk sudut tegak lurus sehingga
menyerupai bentuk pagar.
Pola aliran trellis adalah pola aliran sungai yang berbentuk pagar (trellis) dan dikontrol oleh
struktur geologi berupa perlipatan sinklin dan antilin. Sungai trellis dicirikan oleh saluran-
saluran air yang berpola sejajar, mengalir searah kemiringan lereng dan tegak lurus dengan
saluran utamanya. Saluran utama berarah se arah dengan sumbu lipatan.
Gambar 4.1 Pola Aliran Sungai
5. Pola Aliran Centripetal
Pola aliran centripetal merupakan ola aliran yang berlawanan dengan pola radial, dimana aliran
sungainya mengalir kesatu tempat yang berupa cekungan (depresi). Pola aliran centripetal
merupakan pola aliran yang umum dijumpai di bagian barat dan baratlaut Amerika, mengingat
sungai-sungai yang ada mengalir ke suatu cekungan, dimana pada musim basah cekungan
Copyright@2010 by Djauhari noor 32
Bab 4 Pola Pengaliran Sungai Geomorfologi
menjadi danau dan mengering ketika musin kering. Dataran garam terbentuk ketika air danau
mengering.
6. Pola Aliran Annular
Pola aliran annular adalah pola aliran sungai yang arah alirannya menyebar secara radial dari
suatu titik ketinggian tertentu dan ke arah hilir aliran kembali bersatu. Pola aliran annular
biasanya dijumpai pada morfologi kubah atau intrusi loccolith.
7. Pola Aliran Paralel (Pola Aliran Sejajar)
Sistem pengaliran paralel adalah suatu sistem aliran yang terbentuk oleh lereng yang
curam/terjal. Dikarenakan morfologi lereng yang terjal maka bentuk aliran-aliran sungainya
akan berbentuk lurus-lurus mengikuti arah lereng dengan cabang-cabang sungainya yang
sangat sedikit. Pola aliran paralel terbentuk pada morfologi lereng dengan kemiringan lereng
yang seragam.
Pola aliran paralel kadangkala meng-indikasikan adanya suatu patahan besar yang memotong
daerah yang batuan dasarnya terlipat dan kemiringan yang curam. Semua bentuk dari transisi
dapat terjadi antara pola aliran trellis, dendritik, dan paralel.
4.2 Genetika Sungai
Sebagaimana diketahui bahwa klasifikasi genesa sungai ditentukan oleh hubungan struktur
perlapisan batuannya. Genetika sungai dapat dibagi sebagai berikut:
a. Sungai Superposed atau sungai Superimposed adalah sungai yang terbentuk diatas
permukaan bidang struktur dan dalam perkembangannya erosi vertikal sungai
memotong ke bagian bawah hingga mencapai permukaan bidang struktur agar supaya
sungai dapat mengalir ke bagian yang lebih rendah. Dengan kata lain sungai
superposed adalah sungai yang berkembang belakangan dibandingkan pembentukan
struktur batuannya.
b. Sungai Antecedent adalah sungai yang lebih dulu ada dibandingkan dengan
keberadaan struktur batuanya dan dalam perkembangannya air sungai mengikis hingga
ke bagian struktur yang ada dibawahnya. Pengikisan ini dapat terjadi karena erosi arah
vertikal lebih intensif dibandingkan arah lateral.
c. Sungai Konsekuen adalah sungai yang berkembang dan mengalir searah lereng
topografi aslinya. Sungai konsekuen sering diasosiasikan dengan kemiringan asli dan
struktur lapisan batuan yang ada dibawahnya. Selama tidak dipakai sebagi pedoman,
bahwa asal dari pembentukan sungai konsekuen adalah didasarkan atas lereng
topografinya bukan pada kemiringan lapisan batuannya.
d. Sungai Subsekuen adalah sungai yang berkembang disepanjang suatu garis atau
zona yang resisten. sungai ini umumnya dijumpai mengalir disepanjang jurus
perlapisan batuan yang resisten terhadap erosi, seperti lapisan batupasir. Mengenal
dan memahami genetika sungai subsekuen seringkali dapat membantu dalam
penafsiran geomorfologi.
e. Sungai Resekuen. Lobeck (1939) mendefinisikan sungai resekuen sebagai sungai
yang mengalir searah dengan arah kemiringan lapisan batuan sama seperti tipe sungai
konsekuen. Perbedaanya adalah sungai resekuen berkembang belakangan.
Copyright@2010 by Djauhari noor 33
Bab 4 Pola Pengaliran Sungai Geomorfologi
Gambar 4.2 Pola Aliran Sungai Trellis
f. Sungai Obsekuen. Lobeck juga mendefinisikan sungai obsekuen sebagai sungai yang
mengalir berlawanan arah terhadap arah kemiringan lapisan dan berlawanan terhadap
sungai konsekuen. Definisi ini juga mengatakan bahwa sungai konsekuen mengalir
searah dengan arah lapisan batuan.
g. Sunggai Insekuen adalah aliran sungai yang mengikuti suatu aliran dimana lereng
tifdak dikontrol oleh faktor kemiringan asli, struktur atau jenis batuan.
Gambar 8.14 Blok diagram di daerah yang berstruktur komplek yang telah mengalami
erosi yang cukup intensif. Percabangan sungai yang berkembang di
daerah ini secara genetik dapat diklasifikasikan berdasarkan struktur
geologi yang mengontrolnya (r=resekuen; o = obsekuen; s = subsekuen)
Beberapa aspek dari pola pengaliran sungai menjadi sangat penting untuk pertimbangan dalam
interpretasi geomorfologi, terutama:
1. Klasifikasi genetik sungai, hubungan sungai dengan kemiringan asli, batuan yang
berada dibawah aliran sungai, dan struktur geologi.
2. Tahapan perkembangan suatu sungai
3. Pola pengaliran sungai
4. Anomali pengaliran dalam suatu pola aliran
5. Karakteristik detail seperti gradien sungai, kerapatan sungai, bentuk cekungan dan
ukuran/dimensi, kemiringan cekungan dan kemiringan bagian hulu suatu lembah.
6. Jentera geomorfik.
Kombinasi dari aspek-aspek tersebut diatas sangat mungkin membantu dalam mengidentifikasi
litologi, korelasi stratigrafi, pemetaan struktur geologi, menetukan sejarah tektonik dan sejarah
Copyright@2010 by Djauhari noor 34
Bab 4 Pola Pengaliran Sungai Geomorfologi
geomorfologi. Berkut ini adalah uraian mengenai kombinasi antara struktur, litologi dan
aktivitas sungai.
4.3 Tahapan Perkembangan Sungai
Tahapan perkembangan suatu sungai dapat dibagi menjadi 5 (tiga) stadia, yaitu stadia sungai
awal, satdia muda, stadia dewasa, stadia tua, dan stadia remaja kembali (rejuvination).
Adapun ciri-ciri dari tahapan sungai adalah sebagai berikut:
1. Tahapan Awal (Initial Stage) : Tahap awal suatu sungai seringkali dicirikan oleh
sungai yang belum memiliki orde dan belum teratur seperti lazimnya suatu sungai. Air
terjun, danau, arus yang cepat dan gradien sungai yang bervariasi merupakan ciri-ciri
sungai pada tahap awal. Bentangalam aslinya, seringkali memperlihatkan
ketidakteraturan, beberapa diantaranya berbeda tingkatannya, arus alirannnya berasal
dari air runoff ke arah suatu area yang masih membentuk suatu depresi (cekungan)
atau belum membentuk lembah. Sungai pada tahapan awal umumnya berkembang di
daerah dataran pantai (coastal plain) yang mengalami pengangkatan atau diatas
permukaan lava yang masih baru / muda dan gunungapi, atau diatas permukaan
pediment dimana sungainya mengalami peremajaan (rejuvenation).
2. Tahapan Muda : Sungai yang termasuk dalam tahapan muda adalah sungai-sungai
yang aktivitas aliran sungainya mengerosi kearah vertikal. Aliran sungai yang menmpati
seluruh lantai dasar suatu lembah. Umumnya profil lembahnya membentuk seperti
huruf ”V”. Air terjun dan arus yang cepat mendominasi pada tahapan ini.
3. Tahapan Dewasa: Tahap awal dari sungai dewasa dicirikan oleh mulai adanya
pembentukan dataran banjir secara setempat setempat dan semakin lama semakin
lebar dan akhirnya terisi oleh aliran sungai yang berbentuk meander, sedangkan pada
sungai yang sudah masuk dalam tahapan dewasa, arus sungai sudah membentuk aliran
yang berbentuk meander, penyisiran kearah depan dan belakang memotong suatu
dataran banjir (flood plain) yang cukup luas sehingga secara keseluruhan ditempati
oleh jalur-jalur meander. Pada tahapan ini aliran arus sungai sudah memperlihatkan
keseimbangan antara laju erosi vertikal dan erosi lateral.
Gambar 4.3 Pola perubahan bentuk alur sungai yang semula linear dan kemudian menjadi
meander. Proses perubahan sungai dari linear ke meander disebabkan oleh sifat
erosi vertikal berubah menjadi erosi lateral.
4. Tahapan Tua : Pada tahapan ini dataran banjir diisi sepenuhnya oleh meander dan lebar
dari dataran banjir akan beberapa kali lipat dari luas meander belt. Pada umumnya dicirikan
oleh danau tapal kuda (oxbow lake) dan rawa-rawa (swampy area). Erosi lateral lebih
dominan dibandingkan erosi lateral.
Copyright@2010 by Djauhari noor 35
Bab 4 Pola Pengaliran Sungai Geomorfologi
5. Peremajaaan Sungai (Rejuvenation) : Setiap saat dari perkembangan suatu sungai
dari satu tahap ke tahap lainnya, perubahan mungkin terjadi dimana kembalinya dominasi
erosi vertikal sehingga sungai dapat diklasifikasi menjadi sungai dalam tahapan muda.
Sungai dewasa dapat mengalami pengikisan kembali ke arah vertikal untuk kedua kalinya
karena adanya pengangkatan dan proses ini disebut dengan perenajaan sungai. Proses
peremajaan sungai adalah proses terjadinya erosi ke arah vertikal pada sungai berstadia
dewasa akibat pengangkatan dan stadia sungai kembali menjadi stadia muda.
Gambar 4.4 Proses perkembangan sungai oleh aktivitas arus sungai, mulai stadia awal,
stadia muda, stadia dewasa, dan stadia tua.
Copyright@2010 by Djauhari noor 36
Bab 4 Pola Pengaliran Sungai Geomorfologi
Stadia Awal Stadia Muda
Stadia Muda Stadia Dewasa
Stadia Tua Stadia Rejuvination
Gambar 4.5 Stadia sungai : stadia awal, stadia muda, stadia dewasa, dan stadia tua
dan stadia rejuvination.
4.4 Sistem Sungai
Sistem sungai adalah sekumpulan alur-alur sungai yang membentuk jaringan yang komplek
dan luas dimana air yang berasal dari permukaan daratan mengalir. Batas geografis dimana
seluruh air yang ada di suatu wilayah disebut sebagai watershed atau drainage basin. Dalam
satu watershed terdapat beberapa alur sungai kecil-kecil yang disebut sebagai cabang-cabang
sungai (tributaries) yang mengalirkan air ke alur sungai yang lebih besar (principal stream).
Sistem pengaliran sungai dalam suatu watershed dapat dipisah-pisahkan berdasarkan ukuran
alur sungainya dan dikenal sebagai stream ordering. Order pertama dari pengaliran sungai
Copyright@2010 by Djauhari noor 37
Bab 4 Pola Pengaliran Sungai Geomorfologi
adalah alur sungai yang ukurannya paling kecil, sedangkan order kedua adalah alur sungai
yang hanya memiliki cabang-cabang sungai dari order pertama sebagai cabang sungainya.
Order ke tiga adalah alur sungai yang hanya memiliki cabang-cabang sungai dari alur sungai
order pertama dan atau order kedua. Secara umum, sungai yang mempunyai order yang lebih
tinggi akan mempunyai batas pemisah air (watershed) yang lebih luas dan sudah barang tentu
akan membawa air permukaan yang lebih banyak. Topografi yang tinggi umumnya memiliki
batas pemisah air yang memisahkan arah aliran air runoff ke dalam cekungan yang berbeda
didasarkan atas orientasi dari kemiringan lerengnya. Salah satu yang mengendalikan jumlah air
yang berada dalam sungai di setiap lokasi adalah luas areal permukaan yang terdapat di dalam
drainage basin tersebut dan hal ini merupakan fungsi dari batas pemisah pengaliran.
Sistem sungai mulai dari hulu kemudian kearah hilir hingga ke laut, yaitu mulai sumbernya di
pegunungan kemudian mengalir melalui anak-anak cabangnya menuju ke saluran-saluran
utama (tributary channel) yang pada akhirnya ke sungai induknya untuk menuju ke arah laut.
Sungai ternyata merupakan media yang mampu mengangkut sejumlah besar bahan yang
terbentuk sebagai akibat proses pelapukan batuan. Banyaknya bahan yang diangkut ditentukan
oleh faktor iklim dan tatanan geologi dari suatu wilayah. Meskipun bahan-bahan yang diangkut
oleh sungai berasal antara lain dari hasil penorehan yang dilakukan sungai itu sendiri, tetapi
ternyata yang jumlahnya paling besar adalah yang berasal dari hasil proses pelapukan batuan.
Proses pelapukan ternyata menghasilkan sejumlah besar bahan yang siap untuk diangkut baik
oleh sungai maupun oleh cara lain seperti gerak tanah, dan atau air-tanah.
Gambar 4.6 Sistem Sungai : Sumber air (curah hujan + mata air), cabang-cabang
sungai, meander, tanggulalam (levee), danau tapal kuda (oxbow
lake),delta.
Material-material hasil pelapukan dan erosi diangkut oleh air sungai dan diendapkan sebagai
sedimen. Aktivitas sungai yang mengalir di daratan akan meng-erosi dan merubah bentuk
bentuk bentangalam. Proses-proses erosi dan pembentukan alur-alur sungai merupakan agen
di dalam perubahan bentuk bentangalam.
Copyright@2010 by Djauhari noor 38
Bab 4 Pola Pengaliran Sungai Geomorfologi
Gambar 4.7 Sistem Sungai Meander : tanggulalam (levee), point bar, danau tapal
kuda (oxbow lake), tanggulalam (levee), rawa belakang (backswamp).
Air Terjun (Water Falls) Air Terjun (Water Falls)
Gosongpasir (Bar River) Gosongpasir (Bar River)
Copyright@2010 by Djauhari noor 39
Bab 4 Pola Pengaliran Sungai Geomorfologi
Kipas Aluvial (Alluvial Fan) Kipas Aluvial (Alluvial Fan)
Sungai Bersirat (Braided Stream) Sungai Bersirat (Braided Stream)
Dataran Banjir (Floodplain) Dataran Banjir (Floodplain)
Danau Tapal Kuda (Oxbow Lake) Danau Tapal Kuda (Oxbow Lake)
Copyright@2010 by Djauhari noor 40
Bab 4 Pola Pengaliran Sungai Geomorfologi
Tekuk Sungai (Point Bar) Tekuk Sungai (Point Bar)
Delta Delta
Meandering Meandering
Crevasse Crevasse
Copyright@2010 by Djauhari noor 41
Bab 4 Pola Pengaliran Sungai Geomorfologi
Tanggul Alam (Levee) Tanggul Alam (Levee)
Copyright@2010 by Djauhari noor 42
Get documents about "