Terorisme Dalam Tinjauan Psikologi Agama

Categories
Tags
-
Stats
views:
47
posted:
4/14/2012
language:
Malay
pages:
2
Document Sample
scope of work template
							Terorisme Dalam Tinjauan Psikologi Agama
BAB I
Pendahuluan

Setahun yang lalu Pemerintah Australia meminta warganya untuk mempertimbangkan masak-masak
sebelum memutuskan masuk ke wilayah Indonesia. Australia meyakini bahwa dalam waktu dekat
kemungkinan besar akan kembali terjadi serangan teroris di Indonesia (Kompas, 9/7). Kekhawatiran ini
dilatari oleh beberapa peristiwa teror yang terjadi di Indonesia, dimana warga negara Australia seringkali
menjadi korbannya.
Psikologi agama memiliki peranan penting dalam menyikapi hal ini, maka disinilah saya mencoba
menjabarkannya

BAB II
Terorisme dalam Tinjauan Psikologi Agama

A. Mengalami Kemajuan
Sebenarnya, upaya pengungkapan jaringan terorisme di Indonesia mengalami kemajuan yang cukup
berarti. Tewasnya Azahari dan tertangkapnya beberapa anggota jaringannya, paling tidak,
menggambarkan bahwa pemerintah Indonesia telah menunjukkan komitmennya untuk menumpas
gerakan terorisme, selain itu hal tersebut juga berdampak pada melemahnya barisan kekuatan mereka.
Bukan hanya kekuatan mereka yang berkurang, melainkan juga timbulnya efek psikologis ketakutan.
Keberhasilan melacak dan melumpuhkan jaringan teroris itu akan dimaknai oleh anggota teroris yang lain
bahwa masa depan gerakan terorisme cukup suram. Paling tidak, hal itu akan membuat mereka
mempertimbangkan pendekatan teror atau bahkan merubahnya dengan strategi lain dalam menyuarakan
kepentingan politik ataupun idealisme ideologis mereka, yakni dengan cara-cara yang lebih sesuai
dengan nilai-nilai demokrasi dan keislaman.
Namun bisa jadi pula, tertangkapnya para tokoh dan pimpinan gerakan terorisme itu justru meningkatkan
resiko eskalasi teror. Sebagaimana dikatakan oleh seorang anggota kelompok teroris kepada stasiun TV
al-Jazeera bahwa tidak adanya kepemimpinan di Jamaah Islamiyah (JI) justru membuat organisasi itu
semakin berbahaya (Kompas, 9/7 2007). Lebih lanjut ia mengatakan, “situasinya bisa menjadi lebih
berbahaya sekarang karena pasti akan ada beberapa anggota yang akan semakin tidak sabar dan bisa
menahan tindakannya tanpa ada perintah yang jelas dari pimpinan”. Dengan demikian langkah maju
yang telah dicapai pemerintah Indonesia tidak serta merta menurunkan kualitas resiko aksi teror. Oleh
sebab itu, peringatan dari pemerintah Australia sejatinya disikapi secara bijaksana.
Melihat fenomena terorisme di beberapa negara, pemimpin sebenarnya bukan faktor determinan
terhadap bertahannya aksi teror. Pesona terorisme terletak pada pandangan ideologisnya, yang
cenderung melihat problem sosial, ekonomi, dan politik harus—bahkan menilainya sebagai satu-satunya
cara yang paling ideal—diselesaikan dengan cara mengganti tatanan yang ada. Pandangan ideologis ini
semacam itu akan tumbuh subur pada masyarakat yang mengalami “luka narsistik”.
B. Beban Psikologis
Menurut Jerrold M Post, seorang guru besar psikologi politik di George Washington University, “luka
narsistik” berpengaruh terhadap perilaku anarkis dan teror. Psikologi yang terbelah yang dicerminkan dari
sikap selalu melihat kesalahan diakibatkan oleh pihak lain—bukan dirinya—berdampak pada arogansi
dan merasa selalu paling benar ketika berhadapan dengan pihak lain.
“Luka narsistik” merupakan cermin dari budaya tidak terbuka terhadap kritik diri (self introspection).
Sehingga pengidapnya terbiasa melihat kelemahan dirinya diakibatkan oleh orang lain. kemudian orang
lain yang diidentifikasi sebagai penyebab itu akan ditetapkan sebagai musuh yang harus disingkirkan.
Pada masyarakat yang mitologis, di mana realitas masih dijelaskan dengan perspektif mitos, “luka
narsistik” ini mudah tumbuh. Absennya rasionalitas kritis terhadap fenomena di sekitarnya akan
berdampak pada simplifikasi bahwa segala peristiwa digerakkan oleh sesuatu di luar manusia. Jadi
kekurangan diri pun akan dipahami bukan sebagai kesalahan diri sendiri, melainkan disebabkan oleh
pihak lain.
Relasi hamba dan Tuhan dalam masyarakat mitologis tidak berarti Tuhan dituding sebagai pihak yang
bersalah. Tuhan tetap dianggap sebagai sosok yang agung. Tetapi keagungan Tuhan dan penghambaan
kepada Tuhan itu menggambarkan relasi antara “sosok kuat” dan “lemah” yang cenderung negative.
Sehingga dalam konteks yang berbeda masyarakat senantiasa menuduh ada kekuatan jahat yang
mengganggu jika ada anggota mereka yang sakit atau terjadinya bencana alam.
“Luka narsistik” menggambarkan adanya problem paradigma yang berefek pada psikologi manusia.
Dalam masyarakat beragama kecenderungan menuduh umat agama lain sebagai sumber kerusakan
merupakan cermin dari paradigma narsistik. Dengan paradigma bahwa semua yang berasal dari
“kelompok saya” merepresentasikan kebenaran, sedangkan pada kelompok lain merepresentasikan hal
sebaliknya, masyarakat terbiasa menyalahkan pihak lain, dan memandang kelompok sendiri sebagai
serba sempurna.
Atas dasar itu, penyembuhan “luka narsistik” bisa disembuhkan sepanjang paradigma klaim kebenaran
kelompok sendiri dieliminasi. Sejatinya, umat beragama dan masyarakat umumnya mulai belajar untuk
bersikap bijaksana dalam memandang relasi antara “kita” dan “mereka”.

Kesimpulan

 Upaya pengungkapan jaringan terorisme di Indonesia mengalami kemajuan yang cukup berarti.
Tewasnya Azahari dan tertangkapnya beberapa anggota jaringannya, paling tidak, menggambarkan
bahwa pemerintah Indonesia telah menunjukkan komitmennya untuk menumpas gerakan terorisme,
 Melihat fenomena terorisme di beberapa negara, pemimpin sebenarnya bukan faktor determinan
terhadap bertahannya aksi teror. Pesona terorisme terletak pada pandangan ideologisnya, yang
cenderung melihat problem sosial, ekonomi, dan politik harus—bahkan menilainya sebagai satu-satunya
cara yang paling ideal—diselesaikan dengan cara mengganti tatanan yang ada.
 Menurut Jerrold M Post, seorang guru besar psikologi politik di George Washington University, “luka
narsistik” berpengaruh terhadap perilaku anarkis dan terror.
 “Luka narsistik” menggambarkan adanya problem paradigma yang berefek pada psikologi manusia.
Dalam masyarakat beragama kecenderungan menuduh umat agama lain sebagai sumber kerusakan
merupakan cermin dari paradigma narsistik.

Daftar Referensi

http://www.cmm.or.id/cmm-ind.php?id=C0_14_3
http://doctorliza.blogspot.com/2007/11/psikologi-agama.html

						
Related docs
Anjing neraka
Views: 18  |  Downloads: 0
AQ_AH
Views: 0  |  Downloads: 0
Abu Sufyan bin Harits
Views: 1  |  Downloads: 0
Amir Ibnu Farihah
Views: 2  |  Downloads: 0
Tirmidzi_Pembuat Wali
Views: 55  |  Downloads: 0
Fiqh
Views: 14  |  Downloads: 0
COVER Ev Pend
Views: 0  |  Downloads: 0
LAPORAN PEMANTAPAN KEMAMPUAN PROFESSIONAL
Views: 329  |  Downloads: 0
TUGAS MK PDII
Views: 0  |  Downloads: 0
Anekdot Sufi dan Hikmah
Views: 288  |  Downloads: 8