Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

Abu Sufyan bin Harits

VIEWS: 1 PAGES: 4

									                               Abu Sufyan bin Harits

       Agaknya tidak ada tali-temali yang menghubungkan dua pribadi sedemikian erat
dan kuat, seperti tali-temali yang menghubungkan Muhammad saw. dengan Abu Sufyan
bin Harits. Abu Sufyan lahir bersamaan dengan Muhammad bin Abdullah. Keduanya
sebaya dan dibesarkan dalam keluarga yang sama.
       Abu Sufyan adalah anak paman Rasulullah saw. yang paling dekat. Karena Al-
Harits, ayah kandung Abu Sufyan, dengan Abdullah ayahanda Rasululah saw. adalah
kakak beradik dari putra Abdul Muthallib. Di samping itu, Abu Sufyan adalah saudara
susuan Rasululah. Kedua-duanya disusui oleh Halimatus Sa'diyah secara bersama-sama.
Setelah itu keduanya menjadi kawan bermain yang saling mengasihi dan sahabat
terdekat bagi Rasulullah sebelum kenabian. Abu Sufyan adalah salah seorang yang
sangat mirip dengan Rasulullah. Maka, hubungan keluarga mana lagi yang lebih dekat
dan kuat dari hubungan Muhammad bin Abdullah dengan Abu Sufyan?
       Karena hubungan yang demikian erat itulah, kebanyakan orang menyangka bahwa
Abu Sufyan adalah orang yang paling dahulu menerima seruan Rasulullah saw, dan yang
paling cepat mempercayai serta mematuhi ajarannya dengan setia. Namun, yang terjadi
justru sebaliknya, ia menjadi penentang Rasulullah saw.
       Ketika Rasululah saw. mulai berdakwah secara terang-terangan, Abu Sufyan
menjadi penunggang kuda yang terkenal. Di samping itu, ia adalah penyair yang
berimajinasi tinggi dan berbobot. Dengan kedua keistimewaannya itulah, Abu Sufyan
tampil memusuhi dan memerangi dakwah Rasulullah saw. Ia berusaha dengan segala
daya dan upaya untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin. Bila kaum Quraisy
menyalakan api peperangan melawan Rasulullah saw. dan kaum muslimin, Abu Sufyan
selalu turut mengobarkannya dan setiap penganiayaan yang dilancarkannya selalu
membawa malapetaka besar bagi kaum muslimin.
       Sementara itu, setan penyair Abu Sufyan selalu membangunkan dan
mempergunakan lidahnya untuk menyindir Rasulullah dengan kata-kata tajam, kotor,
dan menyakitkan.
       Abu sufyan terus-menerus memusuhi Rasulullah saw. berkelanjutan hingga masa
dua puluh tahun. Selama masa itu, dia tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan
meneror Rasulullah saw. dan kaum muslimin. Tidak berapa lama sebelum penaklukan
Mekah, seorang saudara Abu Sufyan menulis surat kepadanya, mengajak masuk Islam
sebelum Mekah ditaklukkan. Ajakan saudaranya itu diterimaya, maka dia pun masuk
Islam. Tepati, buku-buku sejarah mencatat kisah macam-macam tentang Islamnya Abu
Sufyan. Karena itu, marilah kita dengarkan dia menceritakan kisahnya sendiri.
Ingatannya tentu lebih dalam, sifatnya lebih terperinci dan lebih benar.
       "Ketika Islam sudah berdiri teguh dan kuat, gencarlah berita bahwa Rasulullah
akan datang menaklukkan Mekah. Sementara itu, bumi yang terbentang luas semakin
sempit terasa bagiku. Aku bertanya kepada diriku sendiri, "Hendak ke mana kau? Siapa
temanku? Dan, dengan siapa aku?"
       Kemudian, aku panggil istri dan anak-anakku, lalu kukatakan, "Bersiaplah kalian
untuk mengungsi dari Mekah ini, karena tidak lama lagi tentara Muhammad akan tiba.
Aku pasti akan dibunuh oleh kaum muslimin. Hal itu tidak mustahil terjadi jika mereka
menemukan aku. "
       Mereka menjawab, "Apakah belum tiba juga masanya bagi Bapak untuk
menyaksikan bangsa-bangsa Arab dan bukan Arab tunduk patuh dan setia kepada
Muhammad dan agamanya, sedangkan Bapak senantiasa memusuhinya. Seharusnya
Bapaklah orang yang pertama-tama memperkuat barisan Muhammad dan membantu
segala kegiatnnya."
       "Istri dan anak-anakku senantiasa membujukku masuk Islam, sehingga akhirnya
Allah melapangkan dadaku menerimanya."
       "Saya bangkit dan berkata kepada pelayanku, Madzkur, 'Siapkan bagi kami unta
dan kuda.' Lalu, anakku Ja'far kubawa bersama-sama denganku. Kami mempercepat
jalan menuju Abwa', yaitu daerah antara Mekah dan Madinah. Kami mendapat kabar
bahwa Muhammad telah sampai di sana dan menduduki tempat itu dan di sana aku
masuk Islam. Ketika kami hampir tiba, aku menyamar, sehingga tidak seorang pun
mengenalku, lalu aku menyatakan Islam di hadapan beliau."
       "Aku meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki. Setalah satu mil aku berjalan,
aku bertemu dengan pasukan perintis kaum muslimin menuju Mekah. Pasukan demi
pasukan lewat. Aku menghindar dari jalan mereka, karena khawatir ada di antara
mereka yang mengenalku."
       "Lalu, terlihat olehku Rasulullah berada di tengah-tengah pasukan pengawalnya.
Aku memberanikan diri menemuinya sampai aku tegak berhadapan muka dengannya.
Lalu, kubuka topeng dari wajahku, setelah dia melihat dan mengenalku, dia
memalingkan muka dariku ke arah lain. Aku pun pindah berdiri ke arah dia melihat,
tetapi dia berpaling pula ke arah lain. Aku tetap mengejar sehingga hal seperti itu terjadi
beberapa kali."
       "Aku tidak pernah ragu, jika aku mendatangi Rasulullah, beliau akan gembira
dengan keislamanku. Dan, para sahabat akan gembira pula karena nabinya gembira.
Tetapi, ketika kaum muslimin melihat Rasulullah saw. berpaling dariku, mereka pun
memperlihatkan muka masam dan semuanya memalingkan muka dariku."
       "Aku bertemu dengan Abu Bakar, tetapi dia memalingkan mukanya dariku. Aku
memandang kepada Umar bin Khattab dengan pandangan lembut, tetapi Umar melongos
dengan cara yang menjengkelkan. Bahkan, ada seorang Anshar berkata dengan
semangat kepadaku, 'Hai Musuh Allah! Engkau telah banyak menyakiti Rasulullah saw.
dan para sahabat. Kejahatanmu telah sampai ke ujung timur dan barat permukaan bumi
ini'."
       Orang Anshar ini semakin mengeraskan suaranya memaki-makiku, sehingga kaum
muslimin menyorotkan pandangan menghina kepadaku, tetapi aku gembira dengan
cemoohan yang sedang kualami. Sementara itu, aku melihat pamanku, Abbas. Aku
mendekatinya seraya berkata, "Wahai paman! Aku berharap semoga Rasulullah gembira
karena aku masuk Islam, sebagai famili dekat baginya, yang paman mengetahui
seluruhnya. Tolonglah paman bicarakan dengannya (Muhammad) mengenai maksudku."
       Jawab Abbas, "Demi Allah, saya tidak berani satu kalimat pun bicara dengannya
setelah kulihat dia memalingkan muka darimu. Kecuali, bila datang kesempatan lain
yang lebih baik, akan saya coba."
       "Sekarang kepada siapa akan paman serahkan aku?' tanyaku."
       Jawab Abbas,"Saya tidak berwenang apa-apa selain yang engkau dengar."
       "Aku sungguh susah dan sedih karena jawaban paman Abbas kepadaku. Tidak
lama kemudian aku melihat adik sepupuku, Ali bin Abi Thalib. Maka, kubicarakan
dengannya maksudku. Ali pun menjawab seperti jawaban paman Abbas."
       "Aku kembali menemui paman Abbas. Aku berkata, 'Jika paman tidak sanggup
membujuk Rasulullah mengenai diriku, tolong cegah orang-orang itu mengejekku, atau
yang menghasut orang lain mengejekku'. "
       Abbas bertanya, "Siapa orangnya? Sebutkan ciri-cirinya kepadaku."
       "Maka, kuterangkan ciri-ciri orang itu kepada paman Abbas. Ia lalu berkata, 'Oh,
itu adalah Nu'aiman bin Harits an-Najjary'."
       Abbas kemudian mendatangi orang tersebut seraya berkata, "Hai Nu'aiman!
Sesungguhnya Abu Sufyan itu adalah anak paman Rasulullah, dan anak saudaraku.
Seandainya Rasulullah saw. marah hari ini kepadanya, barangkali besok beliau rida
kepadanya. Karena itu, janganlah mencela Abu Sufyan."
       "Ketika Rasulullah berhenti di Jahfah, saya duduk di muka pintu rumahnya
bersama anakku, Ja'far. Ketika beliau keluar rumah, beliau melihatku, tetapi dia tetap
memalingkan muka dariku. Tetapi, aku tidak putus asa untuk mendapatkan ridanya.
Setiap kali dia keluar masuk rumah, aku senantiasa duduk di muka pintu. Sedangkan
anakku, Ja'far, kusuruh berdiri di dekatku. Dia tetap memalingkan muka bila melihatku.
Lama juga kualami keadaan seperti ini, hingga akhirnya aku merasa susah sendiri."
       "Lalu, aku berkata kepada isteriku, 'Demi Allah, bila aku dan anakku ini pergi
mengasingkan diri sampai kami mati kelaparan dan kehasusan, tentu Rasulullah akan
meridaiku'."
       "Tatkala berita mengenai diriku itu sampai kepada Rasulullah, beliau merasa
kasihan. Ketika beliau keluar dari kubah untuk pertama kali beliau memandang lembut
kepadaku. Aku berharap semoga beliau tersenyum melihatku."
       "Kemudian Rasulullah saw. memasuki kota Mekah. Aku turut dalam rombongan
pasukan beliau. Belau langsung menuju masjid, aku pun segera mendampingi dan tidak
berpisah semenit pun dengannya."
       Saat terjadi perang Hunein seluruh kabilah Arab bersatu padu, persatuan Arab
yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk memerangi Rasulullah dan kaum muslimin.
Mereka membawa perlengkapan perang dan jumlah tentara yang cukup banyak. Bangsa
Arab bertekad hendak membuat perhitungan kalah atau menang dengan kaum muslimin
dalam perang kali ini.
       Rasulullah saw. menemui musuh hanya dengan beberapa pasukan. Aku turut
dalam rombongan pasukan pengawal beliau. Tatkala kulihat jumlah tentara musyrikin
sangat besar, aku berkata kepada diriku, "Demi Allah, hari ini aku harus menebus segala
dosa-dosaku yang telah lalu karena memusuhi Rasulullah dan kaum muslimin. Hendak
kubaktikan kepada beliau amal yang diridai Allah dan Rasul-Nya."
       Ketika pasukan telah berhadap-hadapan, kaum musyrikin dengan jumlah
tentaranya yang banyak berhasil mendesak mundur kaum muslimin, sehingga banyak di
antara kaum muslimin yang lari dari samping Nabi saw. Hampir saja menderita
kekalahan yang tidak diinginkan. "Demi Allah, aku tetap bertahan di samping beliau di
tengah-tenah medan tempur. Beliau tetap berada di atas keledainya yang berwarna
keabu-abuan, teguh bagaikan sebuah bukit yang terhunjam dalam ke bumi. Dengan
pedang terhunus ditebasnya setiap musuh yang datang mendekat, bagaikan seekor
singa jantan menghadapi mangsanya. Melihat Rasulullah seorang diri, aku melompat dari
kudaku dan kupatahkan sarung pedangku. Hanya Allah yang tahu, ketika itu aku ingin
mati di samping Rasulullah saw. Pamanku, Abbas, memegang kendali keledai Nabi pada
sebuah sisi, dan berdiri di sampingnya, sedangkan aku memegang kendali keledai itu
pada sisi yang lain dan berdiri pula di sebelahnya. Tangan kananku memegang pedang
untuk melindung Nabi, sedang tangan kiriku memegang kendali kendaraan beliau."
       "Ketika Rasulullah melihat perlawananku yang mematikan musuh, beliau bertanya
kepada paman Abbas, 'Siapa ini paman'?"
       Abbas menjawab, "Ini saudara Anda, anak paman Anda, Sufyan bin Harits.
Ridakanlah dia, ya Rasulullah."
       Beliau menjawab, "Sudah kuridai. Dan, Allah telah mengampuni segala dosanya."
       "Hatiku bagai terbabng kegirangan mendegar Rasulullah rida mengampuni segala
dosa-dosaku. Lalu, kuciumi kaki beliau yang terjuntai di kendaraan. Beliau menoleh
kepadaku seraya berkata, 'Saudaraku, demi hidupku, majulah menyerang musuh'."
       "Ucapan Rasululalh sungguh membangkitkan keberanianku. Lalu, kuserang kaum
musyirikin sampai mereka mundur. Kukerahkan kaum muslimin mengejar mereka sejauh
lebih kurang satu farsakh (1 farsakh = 8 km). Kemudian, kami kucar-kacirkan barisan
mereka setiap arah."
       Semenjak perang Hunain, Abu Sufyan bin Harits merasakan nikmat dan keindahan
rida Nabi saw. kepadanya. Dia merasa bahagia dan mulia menjadi sahabat beliau. Meski
demikian, Abu Sufyan tidak berani mengangkat pandangannya ke wajah Rasulullah saw.
selama-lamanya, karena malu mengingat masa silamnya yang kelabu.
       Abu Sufyan memendam rasa penyesalan yang dalam di hatinya, berhubung
dengan masa hitam jahiliah yang menutupnya dari cahaya Allah, dan melempar jauh-
jauh kitabullah. Maka, dia sekarang bagaikan tengkurap di atas mushaf Alquran siang
malam, membaca ayat-ayat, mempelajari hukum-hukum, dan merenungkan pengajaran-
pengajaran yang terkandung di dalamnya. Dia berpaling dari dunia dan segala
godaannya, menghadap kepada Allah semata-mata dengan seluruh jiwa dan raganya.
Pada suatu ketika Rasulullah melihatnya dalam masjid, lalu beliau bertanya kepada
Aisyah ra. "Hai Aisyah, tahukah kamu siapa itu?"
       "Tidak, ya Rasululah," jawab Aisyah.
       "Dia adalah anak pamanku, Abu Sufyan bin Harits, perhatikanlah dia yang paling
dahulu masuk masjid dan paling belakang keluar. Pandangannya tidak pernah beranjak
dan tetap menunduk ke tempat sujud," kata beliau.
       Ketika Rasulullah saw. meninggal, Abu Sufyan sedih bagaikan seorang ibu
kehilangan putra satu-satunya. Dia menangis seperti seorang kekasih menangisi
kekasihnya, sehingga jiwa penyairnya kembali memantulkan rangkuman sajak yang
memilukan dan menyanyat hati setiap pembaca atau pendengarnya.
       Pada zaman pemerintahan Umar al-Faruq (Umar bin Khattab) , Abu Sufyan
merasa ajalnya sudah dekat. Lalu, digalinya kuburan untuk dirinya sendiri. Tidak lebih
tiga hari setelah itu, maut datang menjemputnya, seakan sudah berjanji sebelumnya.
       Dia berpesan kepada istri dan anak-anaknya, "Kalian sekali-kali jangan
menangisiku. Demi Allah! Aku tidak berdosa sedikit pun sejak aku masuk Islam." Lalu,
ruhnya yang suci pergi ke hadirat Allah.
       Khalifah Umar al-Faruq turut menyalatkan jenazahnya. Beliau menangis
kehilangan Abu Sufyan bin Harits, sahabat yang mulia.

Sumber: Shuwarum min Hayaatis Shahaabah, Abdulrahman Ra'fat Basya

(Buku Shuwarum min Hayaatis Shahaabah oleh Abdulrahman Ra'fat Basya telah
diterjemahkan dan diterbitkan oleh penerbit Media Da'wah, Jln. Kramat Raya 45, Telp.
(021)3153928, 31901662, Faks. 3906995, Jakarta 10450, dengan judul Kepahlawanan
Generasi Sahabat Rasulullah)

www.alislam.or.id

								
To top