Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

Ulama Pewaris Para Nabi

VIEWS: 21 PAGES: 7

									ULAMA PEWARIS PARA NABI


                             ULAMA
                     P E W A R I S PA R A N A B I

         Agama adalah suatu yang sakral dalam kehidupan manusia secara umum
dan kaum muslimin secara khusus. Karena agama diyakini sebagai suatu ajaran
wahyu dari sang Pencipta. Keberadaan agama ditengah-tengah umat ibarat sang
penyelamat dari berbagai malapetaka. Segala kerusakan dan kehancuran di muka
bumi tak lain dan tak bukan adalah akibat ulah tangan kotor para musuh dan perusak
agama.
         Islam adalah satu-satunya agama yang benar yang sangat diharapkan
kehadirannya untuk melanggengkan kehidupan di alam ini. Tanpa Islam rasanya sulit
bagi manusia untuk lepas dari berbagai angkara murka yang terdapat pada
gelombang kehidupan yang tak kenal belas kasih.
         Keterikatan antara Islam dan ulama sangatlah erat. Perkembangan dan
kemajuan Islam masa lampau tak lepas dari peran ulama. Di abad modern ini sosok-
sosok ulama yang konsisten dengan agamanya sangat di butuhkan, dalam upaya
mengembalikan kaum muslimin ke masa keemasannya. Yang dimaksud dengan
ulama dalam konsep Islam yang benar adalah seseorang yang menguasai disiplin-
disiplin ilmu Islam secara utuh mulai dari ilmu alat (bahasa, sastra, dll) sampai ilmu
pelengkap lalu menerapkan dalam kepribadian, bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara.
         Al-Imam Abu Qasim Al-Ashbahani pernah menyinggung tentang hal ini.
Beliau mengatakan : “ Ulama Salaf menegaskan: Seseorang tidak dinyatakan
sebagai Imam dalam agama Islam sampai dia memiliki beberapa hal sebagai berikut
:
     Hapal berbagai bidang ilmu bahasa arab beserta perselisihannya.
     Hapal beraneka ragam perselisihan para fuqaha dan para ulama.
     Berilmu, paham dan hapal tentang i’irab (harakat akhir kata untuk
         menentukan kedudukan kata tersebut pada kalimat bahasa arab,
         pent.) dan perselisihannya.
     Berilmu tentang Kitabullah (Al-Qur’an) yang mencakup variasi
         bacaan beserta perselisihan para ulama tentangnya, tafsir ayat-
         ayat muhkam dan mutasyabih, nasikh mansukh dan kisah-kisah
         yang tertera didalamnya.
     Berilmu tentang hadist-hadist Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
         sallam dan berkemampuan untuk membedakan shahih dan
         dlaif(lemah), bersambung atau terputus (sanadnya), mursal daan
         musnadnya, masyhur dan gharibnya.
     Berilmu tentang atsar-atsar sahabat.
     Wara’.
     Memelihara muru’ah (kehormatan diri).
     Jujur.
     Terpercaya.
     Melandasi agamanya dengan Al-Quran dan Sunah

        Apabila seseorang telah berhasil mengaplikasikan poin-poin diatas pada
dirinya, maka ia boleh menjadi imam dalam madzhab serta berijtihad bahkan
menjadi sandaran dalam agama dan fatwa. Lalu apabila dia gagal, tidak boleh
baginya menjadi imam dalam madzhab dan panutan dalam berfatwa….” (Al-Hujjah fi
Bayanil Mahajjah hal 306-307, cetakan Dar Rayah)
        Para ulama memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam. Mereka
adalah pewaris para nabi untuk mengemban misi dakwah Islam kepada segenap
manusia. Baik dan buruknya suatu generasi, suatu kaum, suatu bangsa, suatu


                                     Hal. 1 dari 7
ULAMA PEWARIS PARA NABI

negeri, atau suatu lapisan masyarakat tergantung sejauh mana para ulama
menjalankan perannya sebagai pelanjut dakwah para Nabi di jagat raya ini.
       Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda dalam sebuah hadist :

‫وان العلماء ورثة ا بياةاء, وان ا بياةاء لةي اةور ثةوا رابةارا و ر رامةا وابمةاورثوا‬
                   {‫العلي فمن أخز يه أخز يحظ وافر } روا5 اين ما جه وا ين حيا ن‬

  “…. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidaklah mewariskan
 uang dinar dan tidak pula uang dirham. Hanya saja mereka mewariskan ilmu. Maka barang
   siapa yang mewarisinya, berarti dia telah mendapatkan keuntungan yang sempurna. “
                                                              1
                             (HR. Ibnu Majah dan Ibnu Hibban)
        Keberadaan ulama pewaris para nabi di muka bumi merupakan rahmat bagi
seluruh anak Adam. Karena tanpa mereka niscaya kehidupan manusia di seluruh
alam ini tak jauh beda dengan kehidupan binatang. Bukankah kehidupan binatang
hanya bertumpu pada pemuasan syahwat perut dan kemaluan tanpa pernah kenal
syariat ? Maka demikianlah kehidupan anak cucu Adam, kalau tidak ada ulama
pewaris Nabi yang mengenalkan syariat kepada mereka sepeninggal Nabi dan Rasul
utusan Allah.
Al-Hasan Al-Bashri pernah menegaskan hal ini dalam sebuah nasehatnya, beliau
berkata: “Kalau tidak ada ulama niscaya manusia seperti binatang.”(Minhajul
Qashidin, Ibnu Qudamah Al-Maqdisi hal. 15, cetakan Maktabah Dar Bayan)

SAHAM ULAMA PEWARIS NABI UNTUK ISLAM
         Begitu pentingnya peran ulama pewaris nabi dalam mengemban misi dakwah
Islam, tentu banyak pula saham yang telah mereka berikan untuk keberlangsungan
Islam. Untuk mengetahui bentuk saham tersebut alangkah baiknya kita menyimak
ucapan Syaikh Tsaqil bin Shalfiq Al-Qashimi tentang mereka. Beliau menjelaskan:
“Mereka (ulama pewaris Nabi), adalah orang-orang yang mengembara dari satu
negeri ke negeri yang lain untuk mengumpulkan hadits-hadits Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam, kemudian mencatatnya dalam lembaran-lembaran dengan metode
yang bermacam-macam seperti (karya tulis berbentuk) musnad2, majma’3,
mushannaf4, sunan5, muwaththa’6, az-zawaid7 dan mu’jam8.


1.   Hadits ini di riwayatkan oleh Abu Dawud(3641.3642), At-Turmudzi(2682), Ahmad(5/196), Ibnu Majah(223), Ad-
     Darimi(1/98), Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ul Ulum wal Hikam 1/39, Khatib Al-Baghdadi dalam kitab Tarikhnya
     (1/398). Hadits ini hasan. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (1/160) menukil kepastian penghasanannya dari
     Hamzah Al-Kinani. Lihat penjelasan ini dalam buku Al-ilmu fadluhu wa Syarafuhu karya Syaikh Ali Hasan Ali Abdul
     Hamid hal.57. cetakan Majmu’at Tuhafin Nafais Ad-Dauliyah, tahun 1416H(1996M)
2.   Musnad: Buku-buku hadits yang dikarang dengan bersandar kepada nama-nama shahabat di mana pengarang
     mengumpulkan hadits-hadits setiap shahabat dalam batasan tertentu.(Ushulut Takhrij, Mahmud Thanan, hal.40. cetakan
     Maktabatul Ma’arif, Riyadl)
3.   Majma’: Buku-buku hadits yang dikarang dengan mengumpulkan hadits-hadits dari beberapa karya tulis lalu disusun
     menurut susunan beberapa karya tulis yang dikumpulkan padanya.(Ushulut Takhrij, hal.103)
4.   Mushanaf: Buku-buku hadits yang disusun menurut bab-bab fiqh. Buku-buku hadits jenis ini bermuatan hadits-hadits
     Nabi, ucapan-ucapan shahabat, fatwa-fatwa tabi’in dan terkadang fatwa-fatwa at-tabi’ut tabi’in.(Ushulut Takhrij,
     hal.118)
5.   Sunan: Buku-buku hadits yang disusun menurut bab-bab fiqh dan hanya mencakup hadits-hadits yang sampai
     sanadnya kepada Nabi(hadits marfu’).(Ushulut Takhrij, hal.115)
6.   Muwaththa’: Buku-buku hadits yang dikarang menurut bab-bab fiqh. Buku hadits jenis ini berisi hadits-hadits
     marfu’(hadits-hadits yang sampai sanadnya kepada Nabi), hadits mauquf (hadits-hadits yang sanadnya hanya sampai
     kepada shahabat dan tidak sampai kepada Nabi), dan hadits maqthu’ (hadits-hadits yang sanadnya hanya sampai pada
     tabi’in atau orang yang di bawahnya). Gaya penyusunan kitab-kitab muwatha’ sangat mirip dengan gaya penyusunan
     kitab-kitab mushanaf. (Ushulut Takhrij hal.119)
7.   Az-Zawaid: Buku-buku hadits yang mengumpulkan tambahan yang termaktub pada sebagian kitab hadits terhadap
     hadits-hadits yang tertera didalam kitab-kitab hadits yang lainnya. (Ushulut Takhrij hal.104)
8.   Mu’jam: Buku-buku hadits yang memuat hadits-hadits menurut urutan shahabat, para syaikh, negeri-negeri atau yang
     selainnya. Mayoritas buku-buku hadits jenis ini menyusun urutan nama-nama yang ada padanya menurut urutan huruf-
     huruf mu’jam.(Ushulut Takhrij hal.45)




                                                      Hal. 2 dari 7
ULAMA PEWARIS PARA NABI

Mereka menjaga hadits-hadits Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam dari
pemalsuan dan tadlis9. Mereka membedakan antara hadits-hadits shahih dari
yang lemah. Oleh sebab itu mereka membuat kaidah-kaidah hadits yang
mempermudah proses pembedaan antara hadits yang bisa diterima dari hadits yang
harus ditolak.
Disamping itu mereka juga membeda-bedakan para perawi hadits. Mereka
mengarang kitab-kitab tentang para perawi hadits: Yang terpercaya, yang lemah dan
para pemalsu hadits. Mereka menukilkan pula (dalam karangan-karangan tersebut)
ucapan para Imam yang memiliki ilmu dalam bidang pencatatan dan pemujian
perawi hadits (para ulama jarh wa ta’dil). Bahkan mereka membeda-bedakan
riwayat-riwayat dari rawi yang satu antara riwayat-riwayat yang ia diterima dari
penduduk negeri Syam, penduduk negeri Iraq atau penduduk negeri Hijaz10, Mereka
juga membedakan antara riwayat seorang yang mukhtalath (orang-orang yang kacau
hapalannya) 11, mana hadits-hadits yang diriwayatkan sebelum ikhtilath dan yang
diriwayatkan sesudahnya. Demikian seterusnya.
        Sesungguhnya orang yang membidani ilmu hadits dengan berbagai macam
cabangnya, pembagiannya, jenis dan karya-karya tulis tentangnya, akan benar-
benar mengakui besarnya andil mereka (ulama pewaris nabi) dalam menjaga hadits
Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam.
        Mereka telah menjelaskan aqidah Ahlus Sunah wal Jama’ah dengan seluruh
bab-bab nya dan membantah para ahlul bid’ah yang menyimpang darinya. Mereka
telah memberikan peringatan agar berhati-hati ahlul ahwa’ wal bid’ah, melarang
duduk bersama mereka dan berbincang-bincang dengan mereka. Bahkan mereka
tidak mau menjawab salam dari ahlul bid’ah, serta tidak mau menikahkan anak
perempuannya dengan mereka dalam rangka menghinakan dan merendahkan ahlul
bid’ah dan yang sejenisnya. Selanjutnya mereka menulis tentang hal ini dalam
banyak tulisan.
        Mereka telah mengumpulkan hadits-hadits dan atsar-atsar yang berkenaan
dengan tafsir Al-Quran AL-Adhim, seperti Tafsir Ibnu Abi Hatim, Tafsir As-Shan’ani,
Tafsir AnNaasa’i. Diantara mereka ada yang mengarang kitab-kitab tafsir mereka
seperti Tafsir At-Thabari, Tafsir Ibnu Katsir dan yang lainnya. Disamping mengarang
kitab-kitab tafsir mereka juga membentuk kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip dasar
tentang tafsir Al-Qur’an. Bahkan mereka juga membedakan antara penafsiran yang
menggunakan riwayat dengan penafsiran yang menggunakan rasio.
        Keemudian mereka juga meengarang kitab-kitab fiqh dengan seluruh bab-
babnya. Mereka berusaha membahas setiap permasalahan fiqh dan menjelaskan
hukum-hukum syariat amaliyah dilengkapi dengan dalil-dalil yang rinci dari Al-Qur’an,
As Sunah,Ijma’ dan Qiyas(sebagai landasan pembahasan). Mereka meletakan
kaidah-kaidah fiqh dan yang dapat mengumpulkan berbagai cabang dan bagian
(permasalahan) dengan ilat (penyebab) yang satu. Lalu mereka juga menyusun ilmu
ushul fiqh yang mengandung kaidah-kaidah untuk melakukan istinbath
(pengambilan) hukum syariat yang bercabang-cabang. Mereka telah melahirkan
karya-karya yang cukup banyak tentang disiplin-disiplin ilmu fiqh ini.
        Berikutnya juga mengarang kitab-kitab sirah, tarikh, adab, zuhud,
raqaiq(pelembut jiwa), bahasa arab, nahwu, dan bermacam-macam karangaan di
berbagai bidang ilmu yang cukup banyak…”
        Demikian keterangan yang dibawakan secara panjang lebar oleh Syaikh
Tsaqil Ibnu Shalfiq Al-Qashimi. (Sallus Suyuf wa Asinnah ‘ala Ahlil Ahwa wal Ad’iyais
Sunnah, hal. 76-77, penerbit Dar Ibnu Atsir)

9.  Tadlis: adalah menyembunyikan yang ada pada sanad hadits dan menampakkan baik pada dhahirnya (Taisir
    Musthalahil Hadits karya Mahmud Thanan, hal.79, cetakan Maktabatul Ma’arif)
10. Karena kadang-kadang satu perawi hadits diterima riwayatnya kalau ia meriwayatkan dari penduduk Syam. Tetapi
    ditolak kalau menerima dari penduduk Iran.
11. Ini yang disitlahkan dengan ikhtilat dan mukhtalat dalam Musthalahul Hadits, yaitu satu perawi yang hapalannya
    berubah. Awalnya dia pengahapal yang baik, kemudian pikun misalnya. Atau seorang perawi yang asalnya dia
    meriwayatkan dari buku catatannya, kemudian hilang catatannya.




                                                   Hal. 3 dari 7
ULAMA PEWARIS PARA NABI

        Dari masa ke masa para ulama pewaris nabi telah berjasa dalam bidang-
bidang ilmu seperti yang disebutkan diatas. Diantaranya adalah:
        Ahmad bin Hanbal, Ad-Darimi, Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-
Tarmidzi, An-Nasa’i, Malik bin Anas, Sufyan At-Tsauri, Ali bin Al-Madani, Yahya
bin said, Al-Qahthan, Asy-Syafi’I, Abdullah bin Mubarak, Abdurrahman bin
Mahdi, Ibnu Khuzaimah, Ad-Daruquthuni, Ibnu Hibban, Ibnu ‘Adi, Ibnu Mandah,
Al-Lalikai, Ibnu Abi Ashim, Al-Khalal, Ibnu Qudamah Al-Maqdisi, Ibnu abdil Bar,
Al Khatib Al-Baghdadi, Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahab beserta
anak-anak dan cucu-cucunya yang menjadi ulama Nejd, Muhibuddin Al-Khatib,
Muhammad Hamid Al-Fiqi dari Mesir dan ulama Sudan, para ulama Maroko dan
Syam, dan seterusnya.
        Kemudian ulama masa kini yang berjalan di atas manhaj ulama terdahulu
seperti Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz (mufti negara Saudi Arabia),
Syaikh ahlul hadits Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Syaikh Abdul Aziz bin
Abdillah Alu Syaikh, Syaikh Shalih Al-Fauzaan, Shalih Ak-Athram, Muhammad
bin Shalih Al-Utsaimin, Abdullah Al Ghadyan, Shalih Al-Luhaidan, Abdullah bin
Jibrin, Abdur Razaq Afifi, Humud At-Tuwaijiri, Abddul Muhsin Al-Abbad,
Hammad Al-Anshari, Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali, Muhammad Aman Al-Jami’,
Ahmad Yahya An-Najami, Zaid Muhammad Hadi Al-Madkhali, Shalih Suhaimi,
Shalih Al-‘abbud dan para ulama lain yang berada di alam Islami (saat ini).
        Kita memohon petunjuk kepada Allah yang Maha Hidup dan berdiri sendiri
untuk menjaga yang masih hidup dari mereka dan merahmati yang sudah
meninggal. Mudah-mudahan Allah menjadikan kita semua orang-orang yang
mengikuti langkah mereka dan membangkitkan kita bersama mereka dan Nabi
tauladan kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam di dalam Surga Firdaus.
(Lihat Sallus Suyuf hal. 78-79)

CIRI-CIRI DAN SIFAT ULAMA PEWARIS NABI
Didunia ini ulama dibagi menjadi 2 bagian:
   1. Ulama su’ (ulama yang jahat)
   2. Ulama pewaris Nabi

Sifat Ulama Su’ (Ulama Yang Jahat)
       Ulama su’ memiliki sifat cinta yang berlebihan terhadap kesenangan dunia.
Ibnu Qudamah menjelaskan tentang mereka dengan mengucapkan: “Mereka adalah
orang-orang yang bertujuan menggunakan ilmu agama untuk bersenang-senang
dengan dunia dan mencapai kedudukan yang tinggi disisi pendukungnya. Dalam
sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
   “Dari abu Hurairah radliyallahu ‘anhu dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bahwasanya
beliau bersabda: “Barang siapa yang mempelajari suatu ilmu yang semestinya untuk mencari
   wajah Allah, (kemudian) dia tidak mempelajarinya melainkan untuk mendapatkansebuah
tujuan dunia, dia tidak akan mendapatkan wangi surga di hari kiamat nanti.” (HR. Abu dawud,
                             Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Ahmad)
Dalam riwayat lain Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
“Barang siapa yang mempelajari ilmu agama untuk membanggakan diri terhadap para ulama
  atau mendebat orang-orang yang bodoh atau mengalihkan perhatian manusia kepadanya,
                           maka dia di neraka.” (HR. Tirmidzi)
      Sebagian Salaf menandaskan: “Manusia yang paling menyesal disaat
meninggal dunia adalah orang alim yang menyia-nyiakan ilmunya.”

Sifat Ulama Pewaris Nabi
        Mereka mengetahui bahwa dunia itu hina dan akhirat itu mulia. Keduanya
seperti dua madu (dibawah seorang suami, pent.). Oleh kerena itu mereka lebih
mengutamakan akhirat. Hal ini mereka realisasikan dalam bentuk perbuatan yang




                                       Hal. 4 dari 7
ULAMA PEWARIS PARA NABI

tidak pernah menyelisihi ucapan mereka. Mereka cenderung mempelajari ilmu yang
bermanfaat di akhirat dan menjauhkan ddiri dari ilmu yang sedikit manfaatnya.
        Sebagaimana telah diriwayatkan dari Syaqiq Al-balkhi rahimahullah bahwa
dia pernah bertanya kepada Hatim: “Engkau telah bergaul denganku beberapa lama,
lalu apa yang engkau pelajari (dariku)?’
        Hatim menjawab: (aku telah mempelajari) 8 perkara, diantaranya yang
pertama:
        Aku melihat kepada para mahluk, maka aku dapati setiap orang memiliki
kekasih. Namun tatkala ia memasuki kuburannya ia berpisah dari kekasihnya. Disaat
itu aku menjadikan kebaikan-kebaikanku sebagai kekasihku agar kekasihku tetap
bersamaku di dalam kubur…dst.
Kemudian termasuk sifat ulama akhirat:
       Mereka menjauhi penguasa dan menjaga diri mereka.
        Hudzaifah bin Yaman menasehatkan: “Hindari oleh kalian tempat-tempat
fitnah.” Beliau ditanya:”Apa itu tempat-tempat fitnah.”Beliau menjawab:’(tempat-
tempat fitnah) adalah pintu-pintu para penguasa. Salah seorang diantara kalian
masuk menemui seorang penguasa, lantas dia akan membenarkan penguasa itu
dengan dusta dan menyatakan sesuatu yang tidak ada padanya.”
        Said bin Musayyib menegaskan:”Jika kamu melihat seorang alim bergaul
dengan penguasa, maka hati-hatilah darinya karena sesungguhnya dia adalah
pencuri.”
        Sebagian Salaf menjelaskan:”Sesungguhnya tidaklah kamu mendapatkan
sesuatu kehidupan dunia (dari para penguasa) melainkan mereka telah memperoleh
dari agamamu sesuatu yang lebih berharga darinya.”
      Mereka tidak terburu-buru dalam berfatwa (sehingga mereka tidak
berfatwa kecuali setelah menyakini kebenarannya).
        Adalah para Salaf saling menolak untuk berfatwa sampai pertanyaan kembali
lagi kepada orang yang pertama (di tanya).
        Abdurrahman bin Abi Laila menceritakan kisahnya: “Aku pernah mendapati di
masjid (nabi) ini 120 orang shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Tidak
ada seorang pun dari mereka saat ditanya tentang suatu hadits atau fatwa melainkan
dia ingin saudaranya (dari kalangan shahabat yang lain) yang menjawabnya.
Kemudian tibalah masa pengangkatan kaum-kaum yang mengaku berilmu saat ini.
Mereka bersegera menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kalau seandainya
pertanyaan ini dihadapkan kepada Umar bin Khattab, niscaya beliau mengumpulkan
ahli Badar untuk di ajak bermusyawarah dalam menjawabnya.”
      Ulama akhirat mayoritas pembahasan mereka adalah ilmu yang
berkaitan dengan amal dan perkara-perkara yang dapat merusakannya,
mengotori hati dan membangkitkan was-was. Hal ini disebabkan karena
membentuk amalan-amalan sangat mudah sedangkan membersihkan amat sulit.
Kaidah dasarnya adalah: “Menjaga diri dari kejelekan tidak akan bisa terjadi
hingga ia mengetahui tentang kejelekan.”
      Ulama akhirat selalu membahas atau mencari rahasia amalan-amalan yang
di syariatkan dan memperhatikan hikmah-hikmahnya. Jika mereka tidak mampu
menyibak tabir rahasianya, mereka tetap bersikap pasrah dan menerima syariat
Allah.
      Termasuk sifat Ulama Akhirat adalah mengikuti para shahabat dan
orang-orang pilihan dari kalangan tabi’in selanjutnya mereka menjaga
diri dari setiap perkara baru dalam agama(bid’ah).
      (disadur dari Minhajul Qashidin karya Ibnu Qudamah Al-Maqdisi hal. 23-26,
Maktabah Dar bayan Muassah ‘Ulumul Qur’an)




                                    Hal. 5 dari 7
ULAMA PEWARIS PARA NABI

PUJIAN ALLAH TERHADAP ULAMA
       Setelah kita mengetahui peranan penting para ulama dalam melanggengkan
keberlangsungan dakwah Islam, rasanya sangatlah tepat Allah memuji mereka
dalam banyak ayat Al-Qur’an. Diantaranya Allah berfirman:
  “Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan,
mereka lalu menyiarkannya. Kalaulah mereka menyerahkan urusannya kepada Rasul dan ulil
  amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan
  dapat) mengetahui dari mereka (Rasul dan ulil amri). Kalau tidaklah karena karunia dan
 rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikuti syaithan, kecuali sebagian kecil saja
                                (diantara kamu).”(An-Nisa:83)
       Imam Al-Hasan Al-Basri dan Al-Qatadah menafsirkan:”Ulil amri dalam ayat ini
adalah ahlul ilmi dan fiqh.”(Tafsir Thabari jilid 3 juz 5 hal.177 cet. Dar.Kutub Ilmiyyah)
       Allah juga berfirman:
 “Allah memberikan kesaksian bahwasanya tidak ada ilah melainkan Dia, yang menegakkan
     keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga memberikan kesaksian
   demikian). Tidak ada ilah melainkan Dia, yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”(Ali
                                         Imran:18)
       Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini dengan menyatakan: “…ini kedudukan yang
mengandung keistimewaan agung bagi para ulama….”(Tafsir Ibnu Katsir, jilid I
hal.360, cet.Dar.Ma’rifah)
       Lihatlah bagaimana dalam ayat ini Allah menggandengkan antara persaksian
orang-orang berilmu dengan persaksian Allah sendiri dan malaikat-Nya. Hal ini
menunjukan keutamaan yang agung bagi para ulama.”(Sallus Suyuf hal.63)
       Allah berfirman:
   “Katakan: Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak
                              mengetahui?”(Az-Zumar:9)
        Imam Al-Qurthubi mengomentari ayat ini dengan menyatakan: “Orang yang
berilmu adalah orang yang bisa mengambil manfaat dari ilmunya dan tidak bisa
mengambil manfaat dari ilmunya dan tidak mengamalkannya, maka ia bukan
seorang yang berilmu…..”(Tafsir Qurthubi jilid 8 juz 15 hal. 156, cetakan Dar Kutub
Ilmiyyah)
        Tentunya pertanyaan Allah disini adalah pertanyaan “pengingkaran”. Yang
jelas jawabannya adalah: “Tidak sama.” Maka dari pemahaman ini ayat diatas
menunjukkan keutamaan ulama dari yang bukan ulama.
        Syaikh Tsaqil Ibnu Shalfiq Al-Qasami mempertegaskan hal ini. Beliau
menyatakan:”Lihatlah bagaimana dalam ayat ini Allah memuliakan para ulama!
(Allah menjelaskan) bahwa orang yang tidak berilmu tidak sama kedudukannya
dengan orang yang berilmu.”(Sallus Suyuf hal.63)
        Allah berfirman:
 “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang
                 yang diberi ilmu beberapa derajat…..”(Al-Mujadalah: 11)
        Imam         Al-Qurthubi       menafsirkan       ayat  diatas        dengan
menyatakan:”Maksud”(“Allah meninggikan mereka”) adalah dalam hal pahala di
akhirat dan kemuliaan di dunia. Maka Allah mengangkat derajat orang yang beriman
diatas orang yang beriman, dan mengangkat derajat orang yang berilmu diatas
derajat orang yang tidak berilmu. Ibnu Mas’ud berkata: “Dalam ayat ini Allah memuji
para ulama.”Makna ayat ini adalah Allah mengangkat (derajat) orang yang beriman
dan berilmu diatas orang yang beriman namun tidak berilmu beberapa derajat dalam
agama mereka jika mereka melaksanakan apa yang diperintahkan Allah…”(Tafsir
Qurthubi jilid 9 juz hal. 194, cetakan Dar Kutub Ilmiyyah)
        Demikianlah beberapa ayat beserta tafsirannya yang mengandung pujian
terhadap para ulama. Tentunya banyak ayat lain yang senada dengan ayat-ayat
diatas. Kami membawakan sebagian saja unttuk meringkas pembahasan kita ini.
Keterangan diatas sekali lagi menunjukan kepada kita bahwa para ulama adalah


                                       Hal. 6 dari 7
ULAMA PEWARIS PARA NABI

orang-orang yang mulia disisi Allah sehingga menjadi sebab turunnya rahmat di alam
ini. Oleh karena itu semua muslimin memiliki kewajiban memuliakan para ulama
pewaris nabi sebagaimana Allah telah memuliakan mereka. Barang siapa yang ingin
menanam saham dalam menghancurkan dan merusak Islam, tentu ia akan
menjatuhkan kehormatan dan meninggalkan para ulama.
        Cinta pada para ulama adalah salah satu tanda bagi seseorang bahwa dia
Ahlus Sunah. Al-Imam Abu Utsman As-Shabuni mengatakan: “salah satu tanda
dari Ahlus Sunah adalah mereka (Ahlus Sunnah) cinta kepada para Imam
Sunnah, para ulama sunnah dan para wali Sunnah. Disamping itu mereka benci
kepada para Imam ke bid’ahan yang menyeru ke neraka dan menunjukan para
pengikutnya ke tempat kebinasaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menghiasi
dan menyinari hati dengan cahaya cinta kepada para ulama sunah sebagai sebuah
keutamaan dari Allah ‘aza wa Jalla.”(Aqidatus Salaf Ash-Habul Hadits karya Abu
Utsman Ashabuni hal. 121 cetakan Maktabah Ghuraba Al-Atsariyah)
        Adapun membenci para ulama merupakan salah satu tanda bagi
seorang bahwa ia adalah Ahlul Bid’ah. Mengenai hal ini, Abu Utsman Ashabuni
berkata:”Tanda-tanda Ahlul Bid’ah sangat jelas dan nampak pada diri mereka. Tanda
mereka yang paling menonjol dan nampak jelas adalah permusuhan mereka yang
keras, penghinaan dan pelecehan terhadap ulama pembawa hadits Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Mereka menggelari para ulama dengan sebutan
“orang dungu”, “bodoh”,”tekstual”dan “orang yang suka menyerupakan Allah
dengan makhluk –Nya “dst… (Aqidatus Salaf hal.116)
        Inilah beberapa keterangan seputar pembahasan ulama pewaris Nabi. Kita
berharap pada Allah, mudah-mudahan tulisan ini bermamfaat bagi kaum muslimin
dalam mengenali para ulama yang berada di tengah-tengah mereka.
        Ya Allah! Jadikanlah kami para hamba-Mu yang gigih dalam membela
agama-Mu dan terimalah amal-amal kami sebagai amal yang berbuah hasil ridla di
sisi-Mu.Amin,ya Rabbul ‘alamin.

                                       ∞∞ ∞∞ ∞∞


Maraji’ (Daftar Pustaka):

1. Al-Hujjah fi bayanil Mahajjah, Abul qasim Al-Ashbahani, tahqiq dan dirasah
     Muhammad bin Rabi’ bin Hadi Umair Al-Madkhali, cetakan dar Rayah.S
2.   Minhajul Qashidin, Ibnu Qudamah Al-Maqdisi, cetakan Maktabah Dar Bayan.
3.   Sallus Suyuf wal Asinnah ‘ala Ahlil Ahwa wal Ad’iyais Sunnah, Dar Ibnu Atsir.
4.   Minhajul Qasidhim, Ibnu Qudamah Al-Maqdisi, penerbit Maktabah Dar Bayan
     & Muassah “Ulumul Qur’an.
5.   Tafsir Thabari jilid 3 juz 5, Imam Thabari, penerbit Dar Kutub Ilmiyyah.
6.   Tafsir Ibnu Katsir jilid1, Ibnu Katsir, penerbit Dar Ma’rifah.
7.   Tafsir Qurthubi jilid 8 juz 15, Imam Al-Qurthubi, penerbit Dar kutub Ilmiyyah.
8.   Aqidatus Salaf Ash-habul Hadits, Abu Utsman As-Shabuni, cetakan Maktabah
     Ghuraba Al-atsariyah.







                                      Hal. 7 dari 7

								
To top