SEJARAH ISLAM INDONESIA

Document Sample
SEJARAH ISLAM INDONESIA Powered By Docstoc
					SEJARAH ISLAM DI INDONESIA




Dalam kajian ilmu sejarah, tentang masuknya Islam di Indonesia masih “debatable”. Oleh karena
itu perlu ada penjelasan lebih dahulu tentang pengertian “masuk”, antara lain:

 1. Dalam arti sentuhan (ada hubungan dan ada pemukiman Muslim).
 2. Dalam arti sudah berkembang adanya komunitas masyarakat Islam.
 3. Dalam arti sudah berdiri Islamic State (Negara / Kerajaan Islam).

Selain itu juga masing-masing pendapat penggunakan berbagai sumber, baik dari arkeologi,
beberapa tulisan dari sumber barat, dan timur. Disamping jiga berkembang dari sudut pandang
Eropa Sentrisme dan Indonesia Sentrisme.

Beberapa Pendapat Tentang Awal Masuknya Islam di Indonesia.

  1. Islam Masuk ke Indonesia Pada Abad ke 7:
      1. Seminar masuknya islam di Indonesia (di Aceh), sebagian dasar adalah catatan
perjalanan Al mas’udi, yang menyatakan bahwa pada tahun 675 M, terdapat utusan dari raja
Arab Muslim yang berkunjung ke Kalingga. Pada tahun 648 diterangkan telah ada koloni Arab
Muslim di pantai timur Sumatera.
      2. Dari Harry W. Hazard dalam Atlas of Islamic History (1954), diterangkan bahwa kaum
Muslimin masuk ke Indonesia pada abad ke-7 M yang dilakukan oleh para pedagang muslim
yang selalu singgah di sumatera dalam perjalannya ke China.
      3. Dari Gerini dalam Futher India and Indo-Malay Archipelago, di dalamnya menjelaskan
bahwa kaum Muslimin sudah ada di kawasan India, Indonesia, dan Malaya antara tahun 606-699
M.
      4. Prof. Sayed Naguib Al Attas dalam Preliminary Statemate on General Theory of
Islamization of Malay-Indonesian Archipelago (1969), di dalamnya mengungkapkan bahwa
kaum muslimin sudah ada di kepulauan Malaya-Indonesia pada 672 M.
      5. Prof. Sayed Qodratullah Fatimy dalam Islam comes to Malaysia mengungkapkan bahwa
pada tahun 674 M. kaum Muslimin Arab telah masuk ke Malaya.
      6. Prof. S. muhammmad Huseyn Nainar, dalam makalah ceramahnay berjudul Islam di
India dan hubungannya dengan Indonesia, menyatakan bahwa beberapa sumber tertulis
menerangkan kaum Muslimin India pada tahun 687 sudah ada hubungan dengan kaum muslimin
Indonesia.
      7. W.P. Groeneveld dalam Historical Notes on Indonesia and Malaya Compiled From
Chinese sources, menjelaskan bahwa pada Hikayat Dinasti T’ang memberitahukan adanya Aarb
muslim berkunjung ke Holing (Kalingga, tahun 674). (Ta Shih = Arab Muslim).
      8. T.W. Arnold dalam buku The Preching of Islam a History of The Propagation of The
Moslem Faith, menjelaskan bahwa Islam datang dari Arab ke Indonesia pada tahun 1 Hijriyah
(Abad 7 M).

 2. Islam Masuk Ke Indonesia pada Abad ke-11:
      Satu-satunya sumber ini adalah diketemukannya makam panjang di daerah Leran Manyar,
Gresik, yaitu makam Fatimah Binti Maimun dan rombongannya. Pada makam itu terdapat
prasati huruf Arab Riq’ah yang berangka tahun (dimasehikan 1082)
  3. Islam Masuk Ke Indonesia Pada Abad Ke-13:
      1. Catatan perjalanan Marcopolo, menyatakan bahwa ia menjumpai adanya kerajaan Islam
Ferlec (mungkin Peureulack) di aceh, pada tahun 1292 M.
      2. K.F.H. van Langen, berdasarkan berita China telah menyebut adanya kerajaan Pase
(mungkin Pasai) di aceh pada 1298 M.
      3. J.P. Moquette dalam De Grafsteen te Pase en Grisse Vergeleken Met Dergelijk
Monumenten uit hindoesten, menyatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke 13.
      4. Beberapa sarjana barat seperti R.A Kern; C. Snouck Hurgronje; dan Schrieke, lebih
cenderung menyimpulkan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13, berdasarkan
saudah adanya beberapa kerajaaan islam di kawasan Indonesia.

Siapakah Pembawa Islam ke Indonesia?

Sebelum pengaruh islam masuk ke Indonesia, di kawasan ini sudah terdapat kontak-kontak
dagang, baik dari Arab, Persia, India dan China. Islam secara akomodatif, akulturasi, dan
sinkretis merasuk dan punya pengaruh di arab, Persia, India dan China. Melalui perdagangan
itulah Islam masuk ke kawasan Indonesia. Dengan demikian bangsa Arab, Persia, India dan
china punya nadil melancarkan perkembangan islam di kawasan Indonesia.

Gujarat (India)

Pedagang islam dari Gujarat, menyebarkan Islam dengan bukti-bukti antar lain:

 1. ukiran batu nisan gaya Gujarat.
 2. Adat istiadat dan budaya India islam.

Persia

Para pedagang Persia menyebarkan Islam dengan beberapa bukti antar lain:

 1. Gelar “Syah” bagi raja-raja di Indonesia.
 2. Pengaruh aliran “Wihdatul Wujud” (Syeh Siti Jenar).
 3. Pengaruh madzab Syi’ah (Tabut Hasan dan Husen).

Arab

Para pedagang Arab banyak menetap di pantai-pantai kepulauan Indonesia, dengan bukti antara
lain:

 1. Menurut al Mas’udi pada tahun 916 telah berjumpa Komunitas Arab dari Oman, Hidramaut,
Basrah, dan Bahrein untuk menyebarkan islam di lingkungannya, sekitar Sumatra, Jawa, dan
Malaka.
 2. munculnya nama “kampong Arab” dan tradisi Arab di lingkungan masyarakat, yang banyak
mengenalkan islam.

China

Para pedagang dan angkatan laut China (Ma Huan, Laksamana Cheng Ho/Dampo awan ?),
mengenalkan islam di pantai dan pedalaman Jawa dan sumatera, dengan bukti antar lain :

 1. Gedung Batu di semarang (masjid gaya China).
 2. Beberapa makam China muslim.
 3. Beberapa wali yang dimungkinkan keturunan China.

Dari beberapa bangsa yang membawa Islam ke Indonesia pada umumnya menggunakan
pendekatan cultural, sehingga terjadi dialog budaya dan pergaulan social yang penuh toleransi
(Umar kayam:1989)

Proses Awal Penyebaran Islam di Indonesia

1. Perdagangan dan Perkawinan

Dengan menunggu angina muson (6 bulan), pedagang mengadakan perkawinan dengan
penduduk asli. Dari perkawinan itulah terjadi interaksi social yang menghantarkan Islam
berkembang (masyarakat Islam).

2. Pembentukan masyarakat Islam dari tingkat ‘bawah’ dari rakyat lapisan bawah, kemudian
berpengaruh ke kaum birokrat (J.C. Van Leur).

3. Gerakan Dakwah, melalui dua jalur yaitau:

a. Ulama keliling menyebarkan agama            Islam (dengan pendekatan Akulturasi dan
Sinkretisasi/lambing-lambang budaya).

b. Pendidikan pesantren (ngasu ilmu/perigi/sumur), melalui lembaga/sisitem pendidikan Pondok
Pesantren, Kyai sebagai pemimpin, dan santri sebagai murid.

Dari ketiga model perkembangan Islam itu, secara relitas Islam sangat diminati dan cepat
berkembang di Indonesia. Meskipun demikian, intensitas pemahaman dan aktualisasi
keberagman islam bervariasi menurut kemampuan masyarakat dalam mencernanya.

Ditemukan dalam sejarah, bahwa komunitas pesantrean lebih intens keberagamannya, dan
memiliki hubungan komunikasi “ukhuwah” (persaudaraan/ikatan darah dan agama) yang kuat.
Proses terjadinya hubungan “ukhuwah” itu menunjukkan bahwa dunia pesantren memiliki
komunikasi dan kemudian menjadi tulang punggung dalam melawan colonial.

Kedatangan dan penyebaran agama Islam di Nusantara
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Penyebaran agama islam di nusantara)
Perubahan tertunda ditampilkan di halaman iniBelum Diperiksa
Langsung ke: navigasi, cari
Artikel ini adalah bagian dari seri
Islam
Allah-eser-green.png
Rasul

Nabi Muhammad SAW
.
Kitab Suci

Al-Qur'an
.
Rukun Islam
1. Syahadat • 2. Salat • 3. Puasa
4. Zakat • 5. Haji
Rukun Iman
Iman kepada : 1. Allah
2. Al-Qur'an • 3. Nabi •4. Malaikat
5. Hari Akhir • 6. Qada & Qadar
Tokoh Islam
Muhammad SAW
Nabi & Rasul • Sahabat
Ahlul Bait
Kota Suci
Mekkah • & • Madinah
Kota suci lainnya
Yerusalem • Najaf • Karbala
Kufah • Kazimain
Mashhad •Istanbul • Ghadir Khum
Hari Raya
Idul Fitri • & • Idul Adha
Hari besar lainnya
Isra dan Mi'raj • Maulid Nabi
Asyura
Arsitektur
Masjid •Menara •Mihrab
Ka'bah • Arsitektur Islam
Jabatan Fungsional
Khalifah •Ulama •Muadzin
Imam•Mullah•Ayatullah • Mufti
Hukum Islam
Al-Qur'an •Hadist
Sunnah • Fiqih • Fatwa
Syariat • Ijtihad
Manhaj
Salafush Shalih
Mazhab
1. Sunni :
Hanafi •Hambali
Maliki •Syafi'i
2. Syi'ah :
Dua Belas Imam
Ismailiyah•Zaidiyah
3. Lain-lain :
Ibadi • Khawarij
Murji'ah•Mu'taziliyah
Lihat Pula
Portal Islam
Indeks mengenai Islam
lihat • bicara • sunting

Sejarah tentang kedatangan dan penyebaran agama Islam di Nusantara bersumber dari catatan
para pengelana yang telah mengunjungi wilayah nusantara berabad-abad yang lalu.
[sunting] Sumber/bukti masuknya Islam ke Nusantara

Bukti awal mengenai agama Islam berasal dari seorang pengelana Venesia bernama Marcopolo.
Ketika singgah di sebelah utara pulau Sumatera, dia menemukan sebuah kota Islam bernama
Perlakyang dikelilingi oleh daerah-daerah non-Islam. Hal ini diperkuat oleh catatan-catatan yang
terdapat dalam buku-buku sejarah seperti Hikayat Raja-Raja Pasai dan Sejarah Melayu.

Bukti kedua berasal dari Ibnu Batutah ketika mengunjungi Samudera Pasai pada tahun 1345
megatakan bahwa raja yang memerintah negara itu memakai gelar Islam yakni Malikut Thahbir
bin Malik Al Saleh.

Bukti ketiga berasal dari seorang pengelana Portugis bernama Tome Pires, yang mengunjungi
Nusantara pada awal abad ke-16. Dalam karyanya berjudul Summa Oriental, dia menjelaskan
bahwa menjelang abad ke-13 sudah ada masyarakat Muslim di Samudra Pasai, Perlak, dan
Palembang. Selain itu di Pulau Jawa juga ditemukan makam Fatimah binti Maimun di Leran
(Gresik) yang berangka tahun 1082 M dan sejumlah makam Islam di Tralaya yang berasal dari
abad ke-13.

Golongan lain berpendapat bahwa Islam sebenarnya sudah masuk ke Nusantara sejak abad ke-7
Masehi. Pendapat ini didasarkan atas pernyataan pengelana Cina I-tsing yang berkunjung ke
Kerajaan Sriwijaya pada tahun 671. Dia menyatakan bahwa pada waktu itu lalu-lintas laut antara
Arab, Persia, India, dan Sriwijaya sangat ramai.

Bukti kelima menurut catatan Dinasti Tang, para pedagang Ta-Shih(sebutan bagi kaum Muslim
Arab dan Persia) pada abad ke-9 dan ke-10 sudah ada di Kanton dan Sumatera.
[sunting] Penyebar Islam di Nusantara
Penyebar Agama Islam menurut teori Gujarat, yaitu bahwa penyebarnya adalah Muhammad
Fakir. Buktinya, teori ini mendasarkan argumentasinya pada pengamatan terhadap bentuk relief
nisan Sultan Malik Al Saleh yang memiliki kesamaan dengan nisan-nisan yang terdapat di
Gujarat.

Penyebar Agama Islam menurut teori Makkah, yaitu bahwa penyebarnya adalah Sjech Ismail
dari Makiyah. Buktinya adalah, bahwa kelompok penduduk Nusantara pertama yang Islam
menganut mazhab Syafi'i. Mazhab Syafi'i merupakan mazhab istimewa di Makiyah.

Penyebar Agama Islam menurut teori Persia, yaitu bahwa penyebarnya adalah P.A. Hoessein
Djajaningrat. Buktinya adalah pada adanya beberapa kesamaan budaya yang hidup dikalangan
masyarakat Nusantara dengan bangsa Persia denagn memperingati Asyura, suatu peringatan bagi
kaum Syi'ah.

Penyebar Agama Islam menurut teori Sejarawan, yaitu penyebarnya adalah Wali Songo.
[sunting] Islamisasi di Nunsantara

Alasan yang menyebabkan penduduk nusantara banyak yang beragama Islam antara lain:

  * Pernikahan antara para pedagang dengan bangsawan. Contoh: Raja Brawijaya menikah
dengan Putri Jeumpa yang menurunkan Raden Patah.
  * Pendidikan pesantren
  * Pedagang Islam
  * Seni dan kebudayaan. Contoh: Wayang, disebar oleh Sunan Kalijaga.
  * Dakwah

Faktor-faktor penyebab Agama Islam dapat cepat berkembang di Nusantara antara lain:

  * Syarat masuk agama Islam tidak berat, yaitu dengan mengucapkan kalimat syahadat.
  * Upacara-upacara dalam Islam sangat sederhana.
  * Islam tidak mengenal sistem kasta.
  * Islam tidak menentang adat dan tradisi setempat.
  * Dalam penyebarannya dilakukan dengan jalan damai.
  * Runtuhnya kerajaan Majapahit memperlancar penyebaran agama Islam




Agama kebudayaan Islam masuk ke Indonesia melalui pedagang dari Arab, Persia,Gujarat(India)
& Cina.Peninggalan sejarah bercorak Islam antara lain masjid,kaligrafi,karya sastra(kitab),tradisi
keagamaan,dan,pesantren.Contoh masjid peninggalan Islam adalah Masjid Agung Demak(Sunan
Kalijaga) & Masjid Kudus (Sunan Kudus).Kaligrafi adalah tulisan indah dalam huruf
Arab.Istana adalah tempat tinggal raja beserta keluarganya dan berfungsi sebagai pusat
pemerintahan. Contoh Keraton atau Istana:

  -Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman(Berada di Cirebon)
  -Keraton Kasultaran dan Keraton Pakualaman(Berada di Yogyakarta)


Peninggalan sejarah Islam dalam bentuk masjid : (1) Masjid Banten (bangun beratap tumpang)

(2) Masjid Demak (dibangun para wali)

(3) Masjid Kudus (memiliki menara yang bangun dasarnya serupa meru)

(4) Masjid Keraton Surakarta, Yogyakarta, Cirebon (beratap tumpang)

(5) Masjid Agung Pondok Tinggi (beratap tumpang)

(6) Masjid tua di Kotawaringin, Kalimantan Tengah (dibangun ulama penyebar siar pertama di
Kalteng)

(7) Masjid Raya Aceh, Masjid Raya Deli (dibangun zaman Sultan Iskandar Muda)

(1) Masjid Banten (bangun beratap tumpang)

(2) Masjid Demak (dibangun para wali)

(3) Masjid Kudus (memiliki menara yang bangun dasarnya serupa meru)

(4) Masjid Keraton Surakarta, Yogyakarta, Cirebon (beratap tumpang)

(5) Masjid Agung Pondok Tinggi (beratap tumpang)

(6) Masjid tua di Kotawaringin, Kalimantan Tengah (dibangun ulama penyebar siar pertama di
Kalteng)

(7) Masjid Raya Aceh, Masjid Raya Deli (dibangun zaman Sultan Iskandar Muda)

Peninggalan sejarah Islam dalam bentuk makam : (1) Makam Sunan Langkat (di halaman dalam
masjid Azisi, Langkat)

(2) Makam Walisongo

(3) Makam Imogiri (Yogyakarta)

(4) Makam Raja Gowa

(http://www.membuatblog.web.id/2010/06/peninggalan-kerajaan-islam-di-indonesia.html)
Tradisi adalah kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat & dilakukan secara turun-temurun.
Contoh Tradisi:
  -Ziarah ke makam
  -Sedekah
  -Sekaten

Kerajaan-kerajaan Islam yaitu:

 -Kerajaan Samudera Pasai
 -Kerajaan Aceh
 -Kerajaan Pajang
 -Kerajaan Demak
 -Kerajaan Mataram
 -Kerajaan Gowa-Tallo (Makassar)
 -Kerajaan Banten
 -kerajaan Ternate dan Tidore
 -Kerajaan Banjar
 -Kerajaan Cirebon
 -Kerajaan Deli




[Ar-Royyan-6782] TERNYATA ISLAM MASUK KE INDONESIA SEBELUM ABAD KE 14
M

almasdi rahman
Tue, 25 Sep 2007 19:57:58 -0700

Di Balik Pembakaran Buku-Buku Sejarah (tamat)

 Oleh : Redaksi 24 Sep, 07 - 11:00 pm

Teori yang menyatakan Islam baru masuk ke Indonesia pada abad ke-14 dari
Gujarat, India, harus dihapuskan. Teori bikinan orientalis kafir Belanda,
Snouck Hurgronje, ini jelas salah besar. Sejarahwan Ahmad Mansyur Suryanegara
telah menegaskan bahwa Islam masuk ke Indonesia lewat pedagang-pedagang
Nusantara yang telah berniaga hingga ke Syams di saat Rasulullah SAW masih
hidup. Para pedagang dari Nusantara telah menjalin kerjasama yang erat dengan
para pedagang Arab bahkan sebelum Rasulullah dilahirkan!

Teori Gujarat jelas dibikin agar umat Islam Indonesia tidak memiliki kebanggaan
terhadap Islam dan tanah airnya. Padahal Islam telah masuk ke Indonesia jauh
sebelumnya, yakni saat Rasulullah masih hidup.

Teori Gujarat yang berasal dari Snouck Hurgronje jelas harus dihapus dari
seluruh buku pelajaran anak-anak sekolah di negeri ini. Islam di Indonesia
telah masuk di zaman Rasulullah SAW masih hidup, jadi bukan di abad ke-14,
melainkan di abad ke-7. Masih teramat banyak lagi catatan sejarah yang harus
diluruskan dan dipaparkan secara jujur. Antara lain:

Nanggroe Aceh Darussalam
Istilah gerakan separatis yang dialamatkan kepada warga Aceh yang ingin
memisahkan diri dari NKRI jelas tidak tepat. Jauh sebelum NKRI lahir, Nanggroe
Aceh Darussalam (NAD) telah menjadi satu negara berdaulat dan bahkan menjadi
bahagian dari protektorat Kekhalifahan Turki Utsmaniyah, menjadi bagian dari
kekhalifahan Islam. NAD telah memiliki qanun-nya (Qanun Meukuta Alam) yang
tercatat rapi dan sistematis berdasarkan Qur’an dan hadits disaat orangtua para
perumus UUD 1945 belum lahir.

Kesediaan NAD untuk bergabung dengan NKRI lebih disebabkan ukhuwah Islamiyah
dengan saudara-saudara seiman di Nusantara. Presiden Soekarno pun telah
berjanji untuk memberi NAD keistimewaan berupa penerapan syariat Islam di
wilayahnya.

Namun sejarah mencacat bahwa Soekarno berkhianat dan bahkan merampok sumber
daya alam Aceh untuk di bawa ke tanah Jawa. Perampokan ini terus berlanjut
hingga puluhan tahun dan ini membuat rakyat NAD berpikir bahwa tidak ada
manfaatnya bergabung dengan NKRI. Mereka ingat bahwa NAD memiliki masa kejayaan
dan mereka ingin mengulang masa-masa itu.

Jadi NAD bukanlah gerakan separatis, melainkan menarik kembali kesediaannya
karena pengkhianatan yang dilakukan pusat.


Para Marsose & KNIL Pembunuh Rakyat Atjeh

baca : Sejarah Penghianatan founding fathers terhadap bangsa Indonesia
di http://swaramuslim.net/galery/sejarah/index.php?page=penghianatan
atau
Kejahatan Christian terhadap Islam dan Aceh
di http://swaramuslim.net/galery/sejarah/index.php?page=aceh_snouck


Perang Diponegoro
Perang besar terjadi tahun 1925-1930 antara rakyat Jawa Tengah pimpinan
Pangeran Diponegoro melawan penjajah kafir Belanda. Dalam buku-buku sejarah
disebutkan bahwa Pangeran Diponegoro mengangkat senjata karena marah tanah
leluhurnya diserobot Belanda. Ini salah besar.

Sejarawan Ahmad Mansyur Suryanegara memaparkan bahwa iman Islam seorang
Diponegoro-lah yang menyebabkan dia lebih suka keluar dari lingkungan keraton
dan bergabung dengan rakyat memimpin perang melawan kafir Belanda. Salah satu
pemicunya karena Belanda menerapkan pajak Blasting yang sangat menyengsarakan
rakyat. Diponegoro yang melihat rakyatnya terus ditindas tidak tahan dan
langsung memimpin peperangan melawan kafir belanda tersebut.

?Dalam patung dan lukisan, Pangeran Diponegoro diperlihatkan tengah menghunus
keris dengan tangan kanan dan tangan kirinya memegang tali kekang kuda. Ini pun
tidak benar. Diponegoro bukanlah menghunus keris, tetapi memegang kitab suci
al-Qur?an untuk membakar semangat jihad rakyatnya, ? papar Mansyur Suryanegara
lagi.

Setelah masuknya Islam dan posisi NAD dalam NKRI, maka hal lain yang juga perlu
diluruskan adalah tentang Perang Diponegoro (1825-1830). Dalam buku-buku
pelajaran sejarah disebutkan bahwa Pangeran Diponegoro murka kepada Belanda
karena penjajah Belanda telah menyerobot tanah leluhurnya. Lagi-lagi ini tidak
tepat. Pangeran Diponegoro rela keluar dari lingkungan istana, membaur ke
tengah-tengah rakyatnya, dan membangkitkan perlawanan terhadap penjajah
semata-mata karena keimanan seorang Diponegoro yang anti terhadap segala
kezaliman.

Kebangkitan Nasional Bukan 20 Mei 1908
Sampai sekarang pemerintah masih saja memperingati tiap tanggal 20 Mei sebagai
Hari Kebangkitan Nasional. Tanggal ini merujuk pada 20 Mei 1908, saat lahirnya
organisasi Jawa priyayi yang bersahabat dengan penjajah Belanda bernama Boedhi
Oetomo (BO). Banyak tokoh BO merupakan anggota Freemasonry dan kaki tangan
penjajah Belanda. BO juga anti nasionalisme dan cenderung rela menjadi pelayan
dari kepentingan penjajah. Selain orang Jawa, dilarang jadi anggota BO.

Kebangkitan Nasional bangsa ini seharusnya berpatokan pada tanggal didirikannya
Syarikat Islam (SI) yang telah berdiri 3 tahun sebelum BO berdiri. SI didirikan
pada tanggal 16 Oktober 1905 oleh Haji Samanhudi dan kawan-kawan. ?Ini
merupakan organisasi Islam yang terpanjang dan tertua umurnya dari semua
organisasi massa di tanah air Indonesia, ? tulis KH. Firdaus AN.

Berbeda dengan BO yang hanya memperjuangkan nasib orang Jawa dan Madura?juga
hanya menerima keanggotaan orang Jawa dan Madura, sehingga para pengurusnya pun
hanya terdiri dari orang-orang Jawa dan Madura?sifat SI lebih nasionalis.
Keanggotaan SI terbuka bagi semua rakyat Indonesia yang mayoritas Islam. Sebab
itu, susunan para pengurusnya pun terdiri dari berbagai macam suku seperti:
Haji Samanhudi dan HOS. Tjokroaminoto berasal dari Jawa Tengah dan Timur, Agus
Salim dan Abdoel Moeis dari Sumatera Barat, dan AM. Sangaji dari Maluku. SI
juga telah mencita-citakan Indonesia merdeka, sesuatu yang tidak pernah
disinggung oleh BO. Jadi, Kebangkitan Nasional seharusnya diperingati tiap
tanggal 16 Oktober, bukan 20 Mei.


Kongress Raksasa Sarekat Islam
Kongress Boedi Oetomo

baca : 20 Mei Bukan Hari Kebangkitan Nasional
di http://swaramuslim.net/galery/sejarah/index.php?page=harkitnas
atau
Sejarah Pergerakan Umat Islam indonesia
di http://swaramuslim.net/galery/sejarah/index.php?page=SPUI-1


Sejumlah peristiwa dan sejarah penting yang harus dengan jujur dipaparkan pada
anak cucu kita antara lain adalah: Palagan Ambarawa, di mana laskar santri dan
ulama mampu mengusir pasukan pemenang Perang Dunia II, Inggris; Pertempuran 10
November 1945 yang berasal dari Resolusi Jihad para ulama NU di Jawa pada bulan
Oktober 1945, sebab itu semangat jihad-lah yang membuat rakyat Surabaya rela
mati, bukan semangat membela yang lainnya; Sejarah Laskar Hisbullah/Sabilillah
yang terus digelapkan sampai sekarang padahal Jenderal Soedirman sangat
mengandalkan pasukan Islam ini; Sosok Jenderal Soedirman yang sangat fanatik
dengan Islam, sehingga beliau selalu menyelipkan ayat-ayat jihad dalam setiap
surat perintahnya; Islamophobia yang dilakukan rezim Orde Baru pada tahun
1967-1990-an; dan tragedi besar yang menimpa umat Islam Indonesia tetapi
sekarang ini seolah dilupakan adalah tragedi Idul Fitri kelabu yang menimpa
umat Islam Ambon di tahun 1999 yang merembet ke Ternate dan Poso.

Jika sekarang ini pemerintah SBY-Kalla memberi restu upaya pembakaran buku-buku
sejarah yang tidak ada tertulis G30S/PKI, maka seharusnya pemerintahan ini
melakukan penulisan ulang sejarah Indonesia secara lebih menyeluruh dan jujur.
Tapi harapan ini sepertinya mustahil dilakukan mengingat yang berkuasa saat ini
masih partai-partai politik zaman Orde Baru yang seharusnya sudah menjadi
partai terlarang.

Peristiwa pembakaran buku-buku sejarah saat ini membuktikan bahwa rezim
represif dan fasis Orde Baru sekarang ini masih berkuasa. Kepala boleh
berganti, tapi dari leher hingga ujung kaki hakikatnya masih sama. Reformasi
memang telah gagal.(Tamat/Rizki/eramuslim)



baca : Jejak Emas Para Ulama : Rahim yang Melahirkan TNI
di
http://swaramuslim.net/galery/islam-indonesia/index.php?page=sabili4-
jejak_emas_ulama#03_bung_tomo
atau
baca Halaman Sejarah Indonesia dan Sejarah Islam
di http://swaramuslim.net/galery/sejarah/ dan
di http://swaramuslim.net/galery/islam-indonesia/index.php
Tak banyak bantahan soal masuknya Islam ke Indonesia. Mayoritas sejarawan mengungkapkan,
Islam masuk di bumi Nusantara ini sejak abad ke-13 M. Pembawanya adalah para pedagang dari
Gujarat, India.

Sambil berdagang, mereka menyebarkan Islam ke penduduk yang mereka singgahi. Adapun
wilayah yang pertama kali disebut-sebut menerima Islam di Indonesia adalah Samudra Pasai dan
Perlak di Aceh. Benarkah demikian? Pada tahun 1961, Prof Dr Haji Abdul Malik Karim
Amrullah, yang akrab dipanggil dengan Buya Hamka, pernah menggugat masalah ini.

Menurut Buya Hamka, Islam masuk ke Indonesia dibawa oleh pedagang dari Makkah (Arab
Saudi) pada abad ke-7 Masehi atau permulaan Hijriah, yang kemudian diikuti oleh pedagang
Gujarat (India) abad ke-13 M, maupun Cina pada abad ke-10 M. Mereka (Arab, Gujarat, Persia,
maupun pedagang Cina). Mereka bukanlah anggota misi penyebaran Islam, namun mempunyai
kewajiban untuk mengenalkan Islam pada wilayah yang mereka datangi, termasuk Indonesia.

Ahmad Mansur Suryanegara, dalam bukunya Menemukan Sejarah; Wacana Pergerakan Islam di
Indonesia, menyatakan, pendapat Hamka tersebut lebih menekankan pada peranan utama dari
para penyebar Islam di Indonesia. Pendapat Hamka ini, sejalan dengan pernyataan TW Arnold
dalam The Preaching of Islam: A History of the Propagantion of the Muslim Faith, dan JC van
Leur dalam Indonesian: Trade and Society, serta Bernard HM Vlekke dalam Nusantara : A
History of Indonesia, serta sejarawan dan tokoh Muslim lainnya seperti Crawfurd, Niemann, de
Holander, Fazlur Rahman, dan Alwi Shihab.

“Sedangkan abad ke-13 itu, masuknya Islam lebih bercorak pada persoalan politik,” tulis Mansur
Suryanegara, mengutip pernyataan Buya Hamka. Adapun mayoritas sejarawan, banyak mengutip
pendapat Pijnapel yang kemudian diikuti oleh Snouck Hurgronje, Fatimi, Vlekke, Gonda, dan
Schrieke (Drewes: 1985; Azra: 1999).

Hurgronje, seorang misionaris, mengatakan, Islam masuk ke Indonesia dari wilayah-wilayah di
anak benua India. Tempat-tempat seperti Gujarat, Bengali, dan Malabar. Menurut teori ini,
pedagang dari Gujarat yang berperan besar menyebarkan Islam ke Nusantara. Teori Gujarat ini
masuk ke Indonesia dapat dilihat dari kesamaan ajaran dengan mistik yang ada di India.
Menurut Hamka, masuknya Islam ke Pulau Jawa bersamaan dengan masuknya Islam ke
Sumatra, pada abad ke-7 M. Pandangan ini didasarkan pada berita Cina yang mengisahkan
kedatangan utusan Raja Ta Cheh kepada Ratu Sima. Adapun Raja Ta Cheh ini, menurut Hamka,
adalah Raja Arab dan khalifah saat itu adalah Muawiyah bin Abu Sufyan.

Peristiwa ini terjadi saat Muawiyah bin Abu Sufyan melaksanakan pembangunan kembali
armada Islam. Ruban Levy dalam Social Structure of Islam memberikan jumlah angka kapal
yang dimiliki Muawiyah pada tahun 34 Hijriah atau 654/655 M sebanyak 5.000 kapal.

Sedangkan bukti terbaru yang bisa dilacak dari masuknya Islam ke Indonesia adalah
ditemukannya sejumlah harta karun di perairan Cirebon oleh PT Paradigma Putera Sejahetara
(PPS) sebanyak 200 ribu benda bersejarah dari badan muatan kapal tenggelam (BKMT). Dari
beberapa artefak yang ditemukan tersebut, terdapat sejumlah simbol keislaman berupa cetakan
teks Arab bertuliskan khat Naskhi (model Mushaf Usmani) dan lainnya.

“Bukti dari Cirebon ini akan mengoreksi waktu kedatangan Islam hingga 300 tahun ke
belakang,” jelas Kurt Tauchman, profesor emeritus dari Departemen Antropologi Universitas
Cologne, Jerman. Disebutkan, kapal yang tenggelam di perairan Cirebon ini diperkirakan terjadi
pada 920-960 M. Karena itu, bukti sejarah ini diharapkan mampu memberikan gambaran yang
jelas tentang sejarah Islam di Indonesia. (republika.co.id, 23/5/2010)




Berbagai teori perihal masuknya Islam ke Indonesia terus muncul sampai saat ini. Fokus diskusi
mengenai kedatangan Islam di Indonesia sejauh ini berkisar pada tiga tema utama, yakni tempat
asal kedatangannya, para pembawanya, dan waktu kedatangannya.[1] Mengenai tempat asal
kedatangan Islam yang menyentuh Indonesia, di kalangan para sejarawan terdapat beberapa
pendapat. Ahmad Mansur Suryanegara mengikhtisarkannya menjadi tiga teori besar. Pertama,
teori Gujarat, India. Islam dipercayai datang dari wilayah Gujarat – India melalui peran para
pedagang India muslim pada sekitar abad ke-13 M. Kedua, teori Makkah. Islam dipercaya tiba di
Indonesia langsung dari Timur Tengah melalui jasa para pedagang Arab muslim sekitar abad ke-
7 M. Ketiga, teori Persia. Islam tiba di Indonesia melalui peran para pedagang asal Persia yang
dalam perjalanannya singgah ke Gujarat sebelum ke nusantara sekitar abad ke-13 M.[1]. Melalui
Kesultanan Tidore yang juga menguasai Tanah Papua, sejak abad ke-17, jangkauan terjauh
penyebaran Islam sudah mencapai Semenanjung Onin di Kabupaten Fakfak, Papua Barat.
[sunting] Masa kolonial

Pada abad ke-17 masehi atau tahun 1601 kerajaan Hindia Belanda datang ke Nusantara untuk
berdagang, namun pada perkembangan selanjutnya mereka menjajah daerah ini. Belanda datang
ke Indonesia dengan kamar dagangnya, VOC, sejak itu hampir seluruh wilayah Nusantara
dikuasainya kecuali Aceh. Saat itu antara kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara belum sempat
membentuk aliansi atau kerja sama. Hal ini yang menyebabkan proses penyebaran dakwah
terpotong.

Dengan sumuliayatul (kesempurnaan) Islam yang tidak ada pemisahan antara aspek-aspek
kehidupan tertentu dengan yang lainnya, ini telah diterapkan oleh para ulama saat itu. Ketika
penjajahan datang, para ulama mengubah pesantren menjadi markas perjuangan, para santri
(peserta didik pesantren) menjadi jundullah (pasukan Allah) yang siap melawan penjajah,
sedangkan ulamanya menjadi panglima perang. Potensi-potensi tumbuh dan berkembang di abad
ke-13 menjadi kekuatan perlawanan terhadap penjajah. Ini dapat dibuktikan dengan adanya
hikayat-hikayat pada masa kerajaan Islam yang syair-syairnya berisi seruan perjuangan. Para
ulama menggelorakan jihad melawan penjajah Belanda. Belanda mengalami kewalahan yang
akhirnya menggunakan strategi-strategi:

* Politik devide et impera, yang pada kenyataannya memecah-belah atau mengadu domba antara
kekuatan ulama dengan adat, contohnya perang Padri di Sumatera Barat dan perang Diponegoro
di Jawa.
* Mendatangkan Prof. Dr. Snouk Cristian Hourgonye alias Abdul Gafar, seorang Guru Besar ke-
Indonesiaan di Universitas Hindia Belanda, yang juga seorang orientalis yang pernah
mempelajari Islam di Mekkah. Dia berpendapat agar pemerintahan Belanda membiarkan umat
Islam hanya melakukan ibadah mahdhoh (khusus) dan dilarang berbicara atau sampai melakukan
politik praktis. Gagasan tersebut dijalani oleh pemerintahan Belanda dan salah satunya adalah
pembatasan terhadap kaum muslimin yang akan melakukan ibadah Haji, karena pada saat itulah
terjadi pematangan pejuangan terhadap penjajahan.[2]

Di akhir abad ke-19, muncul ideologi pembaruan Islam yang diserukan oleh Jamal-al-Din
Afghani dan Muhammad Abduh. Ulama-ulama Minangkabau yang belajar di Kairo, Mesir
banyak berperan dalam menyebarkan ide-ide tersebut, diantara mereka ialah Muhammad Djamil
Djambek dan Abdul Karim Amrullah. Pembaruan Islam yang tumbuh begitu pesat didukung
dengan berdirinya sekolah-sekolah pembaruan seperti Adabiah (1909), Diniyah Putri (1911), dan
Sumatera Thawalib (1915). Pada tahun 1906, Tahir bin Jalaluddin menerbitkan koran pembaruan
al-Iman di Singapura dan lima tahun kemudian, di Padang terbit koran dwi-mingguan al-Munir.
SEJARAH ISLAM DI INDONESIA




Dalam kajian ilmu sejarah, tentang masuknya Islam di Indonesia masih “debatable”. Oleh karena
itu perlu ada penjelasan lenih dahulu tentang pengertian “masuk”, antara lain:

 1. Dalam arti sentuhan (ada hubungan dan ada pemukiman Muslim).
 2. Dalam arti sudah berkembang adanya komunitas masyarakat Islam.
 3. Dalam arti sudah berdiri Islamic State (Negara / Kerajaan Islam).

Selain itu juga masing-masing pendapat penggunakan berbagai sumber, baik dari arkeologi,
beberapa tulisan dari sumber barat, dan timur. Disamping jiga berkembang dari sudut pandang
Eropa Sentrisme dan Indonesia Sentrisme.

Beberapa Pendapat Tentang Awal Masuknya Islam di Indonesia.

  1. Islam Masuk ke Indonesia Pada Abad ke 7:
      1. Seminar masuknya islam di Indonesia (di Aceh), sebagian dasar adalah catatan
perjalanan Al mas’udi, yang menyatakan bahwa pada tahun 675 M, terdapat utusan dari raja
Arab Muslim yang berkunjung ke Kalingga. Pada tahun 648 diterangkan telah ada koloni Arab
Muslim di pantai timur Sumatera.
      2. Dari Harry W. Hazard dalam Atlas of Islamic History (1954), diterangkan bahwa kaum
Muslimin masuk ke Indonesia pada abad ke-7 M yang dilakukan oleh para pedagang muslim
yang selalu singgah di sumatera dalam perjalannya ke China.
     3. Dari Gerini dalam Futher India and Indo-Malay Archipelago, di dalamnya menjelaskan
bahwa kaum Muslimin sudah ada di kawasan India, Indonesia, dan Malaya antara tahun 606-699
M.
     4. Prof. Sayed Naguib Al Attas dalam Preliminary Statemate on General Theory of
Islamization of Malay-Indonesian Archipelago (1969), di dalamnya mengungkapkan bahwa
kaum muslimin sudah ada di kepulauan Malaya-Indonesia pada 672 M.
     5. Prof. Sayed Qodratullah Fatimy dalam Islam comes to Malaysia mengungkapkan bahwa
pada tahun 674 M. kaum Muslimin Arab telah masuk ke Malaya.
     6. Prof. S. muhammmad Huseyn Nainar, dalam makalah ceramahnay berjudul Islam di
India dan hubungannya dengan Indonesia, menyatakan bahwa beberapa sumber tertulis
menerangkan kaum Muslimin India pada tahun 687 sudah ada hubungan dengan kaum muslimin
Indonesia.
     7. W.P. Groeneveld dalam Historical Notes on Indonesia and Malaya Compiled From
Chinese sources, menjelaskan bahwa pada Hikayat Dinasti T’ang memberitahukan adanya Aarb
muslim berkunjung ke Holing (Kalingga, tahun 674). (Ta Shih = Arab Muslim).
     8. T.W. Arnold dalam buku The Preching of Islam a History of The Propagation of The
Moslem Faith, menjelaskan bahwa Islam datang dari Arab ke Indonesia pada tahun 1 Hijriyah
(Abad 7 M).

  1. Islam Masuk Ke Indonesia pada Abad ke-11:
      1. Satu-satunya sumber ini adalah diketemukannya makam panjang di daerah Leran
Manyar, Gresik, yaitu makam Fatimah Binti Maimoon dan rombongannya. Pada makam itu
terdapat prasati huruf Arab Riq’ah yang berangka tahun (dimasehikan 1082)
  2. Islam Masuk Ke Indonesia Pada Abad Ke-13:
      1. Catatan perjalanan marcopolo, menyatakan bahwa ia menjumpai adanya kerajaan Islam
Ferlec (mungkin Peureulack) di aceh, pada tahun 1292 M.
      2. K.F.H. van Langen, berdasarkan berita China telah menyebut adanya kerajaan Pase
(mungkin Pasai) di aceh pada 1298 M.
      3. J.P. Moquette dalam De Grafsteen te Pase en Grisse Vergeleken Met Dergelijk
Monumenten uit hindoesten, menyatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke 13.
      4. Beberapa sarjana barat seperti R.A Kern; C. Snouck Hurgronje; dan Schrieke, lebih
cenderung menyimpulkan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13, berdasarkan
saudah adanya beberapa kerajaaan islam di kawasan Indonesia.

Siapakah Pembawa Islam ke Indonesia?

Sebelum pengaruh islam masuk ke Indonesia, di kawasan ini sudah terdapat kontak-kontak
dagang, baik dari Arab, Persia, India dan China. Islam secara akomodatif, akulturasi, dan
sinkretis merasuk dan punya pengaruh di arab, Persia, India dan China. Melalui perdagangan
itulah Islam masuk ke kawasan Indonesia. Dengan demikian bangsa Arab, Persia, India dan
china punya nadil melancarkan perkembangan islam di kawasan Indonesia.

Gujarat (India)

Pedagang islam dari Gujarat, menyebarkan Islam dengan bukti-bukti antar lain:
 1. ukiran batu nisan gaya Gujarat.
 2. Adat istiadat dan budaya India islam.

Persia

Para pedagang Persia menyebarkan Islam dengan beberapa bukti antar lain:

 1. Gelar “Syah” bagi raja-raja di Indonesia.
 2. Pengaruh aliran “Wihdatul Wujud” (Syeh Siti Jenar).
 3. Pengaruh madzab Syi’ah (Tabut Hasan dan Husen).

Arab

Para pedagang Arab banyak menetap di pantai-pantai kepulauan Indonesia, dengan bukti antara
lain:

 1. Menurut al Mas’udi pada tahun 916 telah berjumpa Komunitas Arab dari Oman, Hidramaut,
Basrah, dan Bahrein untuk menyebarkan islam di lingkungannya, sekitar Sumatra, Jawa, dan
Malaka.
 2. munculnya nama “kampong Arab” dan tradisi Arab di lingkungan masyarakat, yang banyak
mengenalkan islam.

China

Para pedagang dan angkatan laut China (Ma Huan, Laksamana Cheng Ho/Dampo awan ?),
mengenalkan islam di pantai dan pedalaman Jawa dan sumatera, dengan bukti antar lain :

 1. Gedung Batu di semarang (masjid gaya China).
 2. Beberapa makam China muslim.
 3. Beberapa wali yang dimungkinkan keturunan China.

Dari beberapa bangsa yang membawa Islam ke Indonesia pada umumnya menggunakan
pendekatan cultural, sehingga terjadi dialog budaya dan pergaulan social yang penuh toleransi
(Umar kayam:1989)

Proses Awal Penyebaran Islam di Indonesia

1. Perdagangan dan Perkawinan

Dengan menunggu angina muson (6 bulan), pedagang mengadakan perkawinan dengan
penduduk asli. Dari perkawinan itulah terjadi interaksi social yang menghantarkan Islam
berkembang (masyarakat Islam).

2. Pembentukan masyarakat Islam dari tingkat ‘bawah’ dari rakyat lapisan bawah, kemudian
berpengaruh ke kaum birokrat (J.C. Van Leur).
3. Gerakan Dakwah, melalui dua jalur yaitau:

a. Ulama keliling menyebarkan agama            Islam (dengan pendekatan Akulturasi dan
Sinkretisasi/lambing-lambang budaya).

b. Pendidikan pesantren (ngasu ilmu/perigi/sumur), melalui lembaga/sisitem pendidikan Pondok
Pesantren, Kyai sebagai pemimpin, dan santri sebagai murid.

Dari ketiga model perkembangan Islam itu, secara relitas Islam sangat diminati dan cepat
berkembang di Indonesia. Meskipun demikian, intensitas pemahaman dan aktualisasi
keberagman islam bervariasi menurut kemampuan masyarakat dalam mencernanya.

Ditemukan dalam sejarah, bahwa komunitas pesantrean lebih intens keberagamannya, dan
memiliki hubungan komunikasi “ukhuwah” (persaudaraan/ikatan darah dan agama) yang kuat.
Proses terjadinya hubungan “ukhuwah” itu menunjukkan bahwa dunia pesantren memiliki
komunikasi dan kemudian menjadi tulang punggung dalam melawan colonial.

Kedatangan dan penyebaran agama Islam di Nusantara
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Penyebaran agama islam di nusantara)
Perubahan tertunda ditampilkan di halaman iniBelum Diperiksa
Langsung ke: navigasi, cari
Artikel ini adalah bagian dari seri
Islam
Allah-eser-green.png
Rasul

Nabi Muhammad SAW
.
Kitab Suci

Al-Qur'an
.
Rukun Islam
1. Syahadat · 2. Salat · 3. Puasa
4. Zakat · 5. Haji
Rukun Iman
Iman kepada : 1. Allah
2. Al-Qur'an · 3. Nabi ·4. Malaikat
5. Hari Akhir · 6. Qada & Qadar
Tokoh Islam
Muhammad SAW
Nabi & Rasul · Sahabat
Ahlul Bait
Kota Suci
Mekkah · & · Madinah
Kota suci lainnya
Yerusalem · Najaf · Karbala
Kufah · Kazimain
Mashhad ·Istanbul · Ghadir Khum
Hari Raya
Idul Fitri · & · Idul Adha
Hari besar lainnya
Isra dan Mi'raj · Maulid Nabi
Asyura
Arsitektur
Masjid ·Menara ·Mihrab
Ka'bah · Arsitektur Islam
Jabatan Fungsional
Khalifah ·Ulama ·Muadzin
Imam·Mullah·Ayatullah · Mufti
Hukum Islam
Al-Qur'an ·Hadist
Sunnah · Fiqih · Fatwa
Syariat · Ijtihad
Manhaj
Salafush Shalih
Mazhab
1. Sunni :
Hanafi ·Hambali
Maliki ·Syafi'i
2. Syi'ah :
Dua Belas Imam
Ismailiyah·Zaidiyah
3. Lain-lain :
Ibadi · Khawarij
Murji'ah·Mu'taziliyah
Lihat Pula
Portal Islam
Indeks mengenai Islam
lihat • bicara • sunting

Sejarah tentang kedatangan dan penyebaran agama Islam di Nusantara bersumber dari catatan
para pengelana yang telah mengunjungi wilayah nusantara berabad-abad yang lalu.
[sunting] Sumber/bukti masuknya Islam ke Nusantara

Bukti awal mengenai agama Islam berasal dari seorang pengelana Venesia bernama Marcopolo.
Ketika singgah di sebelah utara pulau Sumatera, dia menemukan sebuah kota Islam bernama
Perlakyang dikelilingi oleh daerah-daerah non-Islam. Hal ini diperkuat oleh catatan-catatan yang
terdapat dalam buku-buku sejarah seperti Hikayat Raja-Raja Pasai dan Sejarah Melayu.
Bukti kedua berasal dari Ibnu Batutah ketika mengunjungi Samudera Pasai pada tahun 1345
megatakan bahwa raja yang memerintah negara itu memakai gelar Islam yakni Malikut Thahbir
bin Malik Al Saleh.

Bukti ketiga berasal dari seorang pengelana Portugis bernama Tome Pires, yang mengunjungi
Nusantara pada awal abad ke-16. Dalam karyanya berjudul Summa Oriental, dia menjelaskan
bahwa menjelang abad ke-13 sudah ada masyarakat Muslim di Samudra Pasai, Perlak, dan
Palembang. Selain itu di Pulau Jawa juga ditemukan makam Fatimah binti Maimun di Leran
(Gresik) yang berangka tahun 1082 M dan sejumlah makam Islam di Tralaya yang berasal dari
abad ke-13.

Golongan lain berpendapat bahwa Islam sebenarnya sudah masuk ke Nusantara sejak abad ke-7
Masehi. Pendapat ini didasarkan atas pernyataan pengelana Cina I-tsing yang berkunjung ke
Kerajaan Sriwijaya pada tahun 671. Dia menyatakan bahwa pada waktu itu lalu-lintas laut antara
Arab, Persia, India, dan Sriwijaya sangat ramai.

Bukti kelima menurut catatan Dinasti Tang, para pedagang Ta-Shih(sebutan bagi kaum Muslim
Arab dan Persia) pada abad ke-9 dan ke-10 sudah ada di Kanton dan Sumatera.
[sunting] Penyebar Islam di Nusantara

Penyebar Agama Islam menurut teori Gujarat, yaitu bahwa penyebarnya adalah Muhammad
Fakir. Buktinya, teori ini mendasarkan argumentasinya pada pengamatan terhadap bentuk relief
nisan Sultan Malik Al Saleh yang memiliki kesamaan dengan nisan-nisan yang terdapat di
Gujarat.

Penyebar Agama Islam menurut teori Makkah, yaitu bahwa penyebarnya adalah Sjech Ismail
dari Makiyah. Buktinya adalah, bahwa kelompok penduduk Nusantara pertama yang Islam
menganut mazhab Syafi'i. Mazhab Syafi'i merupakan mazhab istimewa di Makiyah.

Penyebar Agama Islam menurut teori Persia, yaitu bahwa penyebarnya adalah P.A. Hoessein
Djajaningrat. Buktinya adalah pada adanya beberapa kesamaan budaya yang hidup dikalangan
masyarakat Nusantara dengan bangsa Persia denagn memperingati Asyura, suatu peringatan bagi
kaum Syi'ah.

Penyebar Agama Islam menurut teori Sejarawan, yaitu penyebarnya adalah Wali Songo.
[sunting] Islamisasi di Nunsantara

Alasan yang menyebabkan penduduk nusantara banyak yang beragama Islam antara lain:

  * Pernikahan antara para pedagang dengan bangsawan. Contoh: Raja Brawijaya menikah
dengan Putri Jeumpa yang menurunkan Raden Patah.
  * Pendidikan pesantren
  * Pedagang Islam
  * Seni dan kebudayaan. Contoh: Wayang, disebar oleh Sunan Kalijaga.
  * Dakwah
Faktor-faktor penyebab Agama Islam dapat cepat berkembang di Nusantara antara lain:

  * Syarat masuk agama Islam tidak berat, yaitu dengan mengucapkan kalimat syahadat.
  * Upacara-upacara dalam Islam sangat sederhana.
  * Islam tidak mengenal sistem kasta.
  * Islam tidak menentang adat dan tradisi setempat.
  * Dalam penyebarannya dilakukan dengan jalan damai.
  * Runtuhnya kerajaan Majapahit memperlancar penyebaran agama Islam




Agama kebudayaan Islam masuk ke Indonesia melalui pedagang dari Arab, Persia,Gujarat(India)
& Cina.Peninggalan sejarah bercorak Islam antara lain masjid,kaligrafi,karya sastra(kitab),tradisi
keagamaan,dan,pesantren.Contoh masjid peninggalan Islam adalah Masjid Agung Demak(Sunan
Kalijaga) & Masjid Kudus (Sunan Kudus).Kaligrafi adalah tulisan indah dalam huruf
Arab.Istana adalah tempat tinggal raja beserta keluarganya dan berfungsi sebagai pusat
pemerintahan. Contoh Keraton atau Istana:

  -Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman(Berada di Cirebon)
  -Keraton Kasultaran dan Keraton Pakualaman(Berada di Yogyakarta)


Peninggalan sejarah Islam dalam bentuk masjid : (1) Masjid Banten (bangun beratap tumpang)

(2) Masjid Demak (dibangun para wali)

(3) Masjid Kudus (memiliki menara yang bangun dasarnya serupa meru)

(4) Masjid Keraton Surakarta, Yogyakarta, Cirebon (beratap tumpang)

(5) Masjid Agung Pondok Tinggi (beratap tumpang)

(6) Masjid tua di Kotawaringin, Kalimantan Tengah (dibangun ulama penyebar siar pertama di
Kalteng)

(7) Masjid Raya Aceh, Masjid Raya Deli (dibangun zaman Sultan Iskandar Muda)

(1) Masjid Banten (bangun beratap tumpang)

(2) Masjid Demak (dibangun para wali)

(3) Masjid Kudus (memiliki menara yang bangun dasarnya serupa meru)

(4) Masjid Keraton Surakarta, Yogyakarta, Cirebon (beratap tumpang)
(5) Masjid Agung Pondok Tinggi (beratap tumpang)

(6) Masjid tua di Kotawaringin, Kalimantan Tengah (dibangun ulama penyebar siar pertama di
Kalteng)

(7) Masjid Raya Aceh, Masjid Raya Deli (dibangun zaman Sultan Iskandar Muda)

Peninggalan sejarah Islam dalam bentuk makam : (1) Makam Sunan Langkat (di halaman dalam
masjid Azisi, Langkat)

(2) Makam Walisongo

(3) Makam Imogiri (Yogyakarta)

(4) Makam Raja Gowa

(http://www.membuatblog.web.id/2010/06/peninggalan-kerajaan-islam-di-indonesia.html)
Tradisi adalah kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat & dilakukan secara turun-temurun.
Contoh Tradisi:

  -Ziarah ke makam
  -Sedekah
  -Sekaten

Kerajaan-kerajaan Islam yaitu:

 -Kerajaan Samudera Pasai
 -Kerajaan Aceh
 -Kerajaan Pajang
 -Kerajaan Demak
 -Kerajaan Mataram
 -Kerajaan Gowa-Tallo (Makassar)
 -Kerajaan Banten
 -kerajaan Ternate dan Tidore
 -Kerajaan Banjar
 -Kerajaan Cirebon
 -Kerajaan Deli




[Ar-Royyan-6782] TERNYATA ISLAM MASUK KE INDONESIA SEBELUM ABAD KE 14
M

almasdi rahman
Tue, 25 Sep 2007 19:57:58 -0700
Di Balik Pembakaran Buku-Buku Sejarah (tamat)

 Oleh : Redaksi 24 Sep, 07 - 11:00 pm

Teori yang menyatakan Islam baru masuk ke Indonesia pada abad ke-14 dari
Gujarat, India, harus dihapuskan. Teori bikinan orientalis kafir Belanda,
Snouck Hurgronje, ini jelas salah besar. Sejarahwan Ahmad Mansyur Suryanegara
telah menegaskan bahwa Islam masuk ke Indonesia lewat pedagang-pedagang
Nusantara yang telah berniaga hingga ke Syams di saat Rasulullah SAW masih
hidup. Para pedagang dari Nusantara telah menjalin kerjasama yang erat dengan
para pedagang Arab bahkan sebelum Rasulullah dilahirkan!

Teori Gujarat jelas dibikin agar umat Islam Indonesia tidak memiliki kebanggaan
terhadap Islam dan tanah airnya. Padahal Islam telah masuk ke Indonesia jauh
sebelumnya, yakni saat Rasulullah masih hidup.

Teori Gujarat yang berasal dari Snouck Hurgronje jelas harus dihapus dari
seluruh buku pelajaran anak-anak sekolah di negeri ini. Islam di Indonesia
telah masuk di zaman Rasulullah SAW masih hidup, jadi bukan di abad ke-14,
melainkan di abad ke-7. Masih teramat banyak lagi catatan sejarah yang harus
diluruskan dan dipaparkan secara jujur. Antara lain:

Nanggroe Aceh Darussalam
Istilah gerakan separatis yang dialamatkan kepada warga Aceh yang ingin
memisahkan diri dari NKRI jelas tidak tepat. Jauh sebelum NKRI lahir, Nanggroe
Aceh Darussalam (NAD) telah menjadi satu negara berdaulat dan bahkan menjadi
bahagian dari protektorat Kekhalifahan Turki Utsmaniyah, menjadi bagian dari
kekhalifahan Islam. NAD telah memiliki qanun-nya (Qanun Meukuta Alam) yang
tercatat rapi dan sistematis berdasarkan Qur’an dan hadits disaat orangtua para
perumus UUD 1945 belum lahir.

Kesediaan NAD untuk bergabung dengan NKRI lebih disebabkan ukhuwah Islamiyah
dengan saudara-saudara seiman di Nusantara. Presiden Soekarno pun telah
berjanji untuk memberi NAD keistimewaan berupa penerapan syariat Islam di
wilayahnya.

Namun sejarah mencacat bahwa Soekarno berkhianat dan bahkan merampok sumber
daya alam Aceh untuk di bawa ke tanah Jawa. Perampokan ini terus berlanjut
hingga puluhan tahun dan ini membuat rakyat NAD berpikir bahwa tidak ada
manfaatnya bergabung dengan NKRI. Mereka ingat bahwa NAD memiliki masa kejayaan
dan mereka ingin mengulang masa-masa itu.

Jadi NAD bukanlah gerakan separatis, melainkan menarik kembali kesediaannya
karena pengkhianatan yang dilakukan pusat.
Para Marsose & KNIL Pembunuh Rakyat Atjeh

baca : Sejarah Penghianatan founding fathers terhadap bangsa Indonesia
di http://swaramuslim.net/galery/sejarah/index.php?page=penghianatan
atau
Kejahatan Christian terhadap Islam dan Aceh
di http://swaramuslim.net/galery/sejarah/index.php?page=aceh_snouck


Perang Diponegoro
Perang besar terjadi tahun 1925-1930 antara rakyat Jawa Tengah pimpinan
Pangeran Diponegoro melawan penjajah kafir Belanda. Dalam buku-buku sejarah
disebutkan bahwa Pangeran Diponegoro mengangkat senjata karena marah tanah
leluhurnya diserobot Belanda. Ini salah besar.

Sejarawan Ahmad Mansyur Suryanegara memaparkan bahwa iman Islam seorang
Diponegoro-lah yang menyebabkan dia lebih suka keluar dari lingkungan keraton
dan bergabung dengan rakyat memimpin perang melawan kafir Belanda. Salah satu
pemicunya karena Belanda menerapkan pajak Blasting yang sangat menyengsarakan
rakyat. Diponegoro yang melihat rakyatnya terus ditindas tidak tahan dan
langsung memimpin peperangan melawan kafir belanda tersebut.

?Dalam patung dan lukisan, Pangeran Diponegoro diperlihatkan tengah menghunus
keris dengan tangan kanan dan tangan kirinya memegang tali kekang kuda. Ini pun
tidak benar. Diponegoro bukanlah menghunus keris, tetapi memegang kitab suci
al-Qur?an untuk membakar semangat jihad rakyatnya, ? papar Mansyur Suryanegara
lagi.

Setelah masuknya Islam dan posisi NAD dalam NKRI, maka hal lain yang juga perlu
diluruskan adalah tentang Perang Diponegoro (1825-1830). Dalam buku-buku
pelajaran sejarah disebutkan bahwa Pangeran Diponegoro murka kepada Belanda
karena penjajah Belanda telah menyerobot tanah leluhurnya. Lagi-lagi ini tidak
tepat. Pangeran Diponegoro rela keluar dari lingkungan istana, membaur ke
tengah-tengah rakyatnya, dan membangkitkan perlawanan terhadap penjajah
semata-mata karena keimanan seorang Diponegoro yang anti terhadap segala
kezaliman.

Kebangkitan Nasional Bukan 20 Mei 1908
Sampai sekarang pemerintah masih saja memperingati tiap tanggal 20 Mei sebagai
Hari Kebangkitan Nasional. Tanggal ini merujuk pada 20 Mei 1908, saat lahirnya
organisasi Jawa priyayi yang bersahabat dengan penjajah Belanda bernama Boedhi
Oetomo (BO). Banyak tokoh BO merupakan anggota Freemasonry dan kaki tangan
penjajah Belanda. BO juga anti nasionalisme dan cenderung rela menjadi pelayan
dari kepentingan penjajah. Selain orang Jawa, dilarang jadi anggota BO.
Kebangkitan Nasional bangsa ini seharusnya berpatokan pada tanggal didirikannya
Syarikat Islam (SI) yang telah berdiri 3 tahun sebelum BO berdiri. SI didirikan
pada tanggal 16 Oktober 1905 oleh Haji Samanhudi dan kawan-kawan. ?Ini
merupakan organisasi Islam yang terpanjang dan tertua umurnya dari semua
organisasi massa di tanah air Indonesia, ? tulis KH. Firdaus AN.

Berbeda dengan BO yang hanya memperjuangkan nasib orang Jawa dan Madura?juga
hanya menerima keanggotaan orang Jawa dan Madura, sehingga para pengurusnya pun
hanya terdiri dari orang-orang Jawa dan Madura?sifat SI lebih nasionalis.
Keanggotaan SI terbuka bagi semua rakyat Indonesia yang mayoritas Islam. Sebab
itu, susunan para pengurusnya pun terdiri dari berbagai macam suku seperti:
Haji Samanhudi dan HOS. Tjokroaminoto berasal dari Jawa Tengah dan Timur, Agus
Salim dan Abdoel Moeis dari Sumatera Barat, dan AM. Sangaji dari Maluku. SI
juga telah mencita-citakan Indonesia merdeka, sesuatu yang tidak pernah
disinggung oleh BO. Jadi, Kebangkitan Nasional seharusnya diperingati tiap
tanggal 16 Oktober, bukan 20 Mei.


Kongress Raksasa Sarekat Islam


Kongress Boedi Oetomo

baca : 20 Mei Bukan Hari Kebangkitan Nasional
di http://swaramuslim.net/galery/sejarah/index.php?page=harkitnas
atau
Sejarah Pergerakan Umat Islam indonesia
di http://swaramuslim.net/galery/sejarah/index.php?page=SPUI-1


Sejumlah peristiwa dan sejarah penting yang harus dengan jujur dipaparkan pada
anak cucu kita antara lain adalah: Palagan Ambarawa, di mana laskar santri dan
ulama mampu mengusir pasukan pemenang Perang Dunia II, Inggris; Pertempuran 10
November 1945 yang berasal dari Resolusi Jihad para ulama NU di Jawa pada bulan
Oktober 1945, sebab itu semangat jihad-lah yang membuat rakyat Surabaya rela
mati, bukan semangat membela yang lainnya; Sejarah Laskar Hisbullah/Sabilillah
yang terus digelapkan sampai sekarang padahal Jenderal Soedirman sangat
mengandalkan pasukan Islam ini; Sosok Jenderal Soedirman yang sangat fanatik
dengan Islam, sehingga beliau selalu menyelipkan ayat-ayat jihad dalam setiap
surat perintahnya; Islamophobia yang dilakukan rezim Orde Baru pada tahun
1967-1990-an; dan tragedi besar yang menimpa umat Islam Indonesia tetapi
sekarang ini seolah dilupakan adalah tragedi Idul Fitri kelabu yang menimpa
umat Islam Ambon di tahun 1999 yang merembet ke Ternate dan Poso.

Jika sekarang ini pemerintah SBY-Kalla memberi restu upaya pembakaran buku-buku
sejarah yang tidak ada tertulis G30S/PKI, maka seharusnya pemerintahan ini
melakukan penulisan ulang sejarah Indonesia secara lebih menyeluruh dan jujur.
Tapi harapan ini sepertinya mustahil dilakukan mengingat yang berkuasa saat ini
masih partai-partai politik zaman Orde Baru yang seharusnya sudah menjadi
partai terlarang.

Peristiwa pembakaran buku-buku sejarah saat ini membuktikan bahwa rezim
represif dan fasis Orde Baru sekarang ini masih berkuasa. Kepala boleh
berganti, tapi dari leher hingga ujung kaki hakikatnya masih sama. Reformasi
memang telah gagal.(Tamat/Rizki/eramuslim)



baca : Jejak Emas Para Ulama : Rahim yang Melahirkan TNI
di
http://swaramuslim.net/galery/islam-indonesia/index.php?page=sabili4-
jejak_emas_ulama#03_bung_tomo
atau
baca Halaman Sejarah Indonesia dan Sejarah Islam
di http://swaramuslim.net/galery/sejarah/ dan
di http://swaramuslim.net/galery/islam-indonesia/index.php




Tak banyak bantahan soal masuknya Islam ke Indonesia. Mayoritas sejarawan mengungkapkan,
Islam masuk di bumi Nusantara ini sejak abad ke-13 M. Pembawanya adalah para pedagang dari
Gujarat, India.

Sambil berdagang, mereka menyebarkan Islam ke penduduk yang mereka singgahi. Adapun
wilayah yang pertama kali disebut-sebut menerima Islam di Indonesia adalah Samudra Pasai dan
Perlak di Aceh. Benarkah demikian? Pada tahun 1961, Prof Dr Haji Abdul Malik Karim
Amrullah, yang akrab dipanggil dengan Buya Hamka, pernah menggugat masalah ini.

Menurut Buya Hamka, Islam masuk ke Indonesia dibawa oleh pedagang dari Makkah (Arab
Saudi) pada abad ke-7 Masehi atau permulaan Hijriah, yang kemudian diikuti oleh pedagang
Gujarat (India) abad ke-13 M, maupun Cina pada abad ke-10 M. Mereka (Arab, Gujarat, Persia,
maupun pedagang Cina). Mereka bukanlah anggota misi penyebaran Islam, namun mempunyai
kewajiban untuk mengenalkan Islam pada wilayah yang mereka datangi, termasuk Indonesia.
Ahmad Mansur Suryanegara, dalam bukunya Menemukan Sejarah; Wacana Pergerakan Islam di
Indonesia, menyatakan, pendapat Hamka tersebut lebih menekankan pada peranan utama dari
para penyebar Islam di Indonesia. Pendapat Hamka ini, sejalan dengan pernyataan TW Arnold
dalam The Preaching of Islam: A History of the Propagantion of the Muslim Faith, dan JC van
Leur dalam Indonesian: Trade and Society, serta Bernard HM Vlekke dalam Nusantara : A
History of Indonesia, serta sejarawan dan tokoh Muslim lainnya seperti Crawfurd, Niemann, de
Holander, Fazlur Rahman, dan Alwi Shihab.

“Sedangkan abad ke-13 itu, masuknya Islam lebih bercorak pada persoalan politik,” tulis Mansur
Suryanegara, mengutip pernyataan Buya Hamka. Adapun mayoritas sejarawan, banyak mengutip
pendapat Pijnapel yang kemudian diikuti oleh Snouck Hurgronje, Fatimi, Vlekke, Gonda, dan
Schrieke (Drewes: 1985; Azra: 1999).

Hurgronje, seorang misionaris, mengatakan, Islam masuk ke Indonesia dari wilayah-wilayah di
anak benua India. Tempat-tempat seperti Gujarat, Bengali, dan Malabar. Menurut teori ini,
pedagang dari Gujarat yang berperan besar menyebarkan Islam ke Nusantara. Teori Gujarat ini
masuk ke Indonesia dapat dilihat dari kesamaan ajaran dengan mistik yang ada di India.

Menurut Hamka, masuknya Islam ke Pulau Jawa bersamaan dengan masuknya Islam ke
Sumatra, pada abad ke-7 M. Pandangan ini didasarkan pada berita Cina yang mengisahkan
kedatangan utusan Raja Ta Cheh kepada Ratu Sima. Adapun Raja Ta Cheh ini, menurut Hamka,
adalah Raja Arab dan khalifah saat itu adalah Muawiyah bin Abu Sufyan.

Peristiwa ini terjadi saat Muawiyah bin Abu Sufyan melaksanakan pembangunan kembali
armada Islam. Ruban Levy dalam Social Structure of Islam memberikan jumlah angka kapal
yang dimiliki Muawiyah pada tahun 34 Hijriah atau 654/655 M sebanyak 5.000 kapal.

Sedangkan bukti terbaru yang bisa dilacak dari masuknya Islam ke Indonesia adalah
ditemukannya sejumlah harta karun di perairan Cirebon oleh PT Paradigma Putera Sejahetara
(PPS) sebanyak 200 ribu benda bersejarah dari badan muatan kapal tenggelam (BKMT). Dari
beberapa artefak yang ditemukan tersebut, terdapat sejumlah simbol keislaman berupa cetakan
teks Arab bertuliskan khat Naskhi (model Mushaf Usmani) dan lainnya.

“Bukti dari Cirebon ini akan mengoreksi waktu kedatangan Islam hingga 300 tahun ke
belakang,” jelas Kurt Tauchman, profesor emeritus dari Departemen Antropologi Universitas
Cologne, Jerman. Disebutkan, kapal yang tenggelam di perairan Cirebon ini diperkirakan terjadi
pada 920-960 M. Karena itu, bukti sejarah ini diharapkan mampu memberikan gambaran yang
jelas tentang sejarah Islam di Indonesia. (republika.co.id, 23/5/2010)
Berbagai teori perihal masuknya Islam ke Indonesia terus muncul sampai saat ini. Fokus diskusi
mengenai kedatangan Islam di Indonesia sejauh ini berkisar pada tiga tema utama, yakni tempat
asal kedatangannya, para pembawanya, dan waktu kedatangannya.[1] Mengenai tempat asal
kedatangan Islam yang menyentuh Indonesia, di kalangan para sejarawan terdapat beberapa
pendapat. Ahmad Mansur Suryanegara mengikhtisarkannya menjadi tiga teori besar. Pertama,
teori Gujarat, India. Islam dipercayai datang dari wilayah Gujarat – India melalui peran para
pedagang India muslim pada sekitar abad ke-13 M. Kedua, teori Makkah. Islam dipercaya tiba di
Indonesia langsung dari Timur Tengah melalui jasa para pedagang Arab muslim sekitar abad ke-
7 M. Ketiga, teori Persia. Islam tiba di Indonesia melalui peran para pedagang asal Persia yang
dalam perjalanannya singgah ke Gujarat sebelum ke nusantara sekitar abad ke-13 M.[1]. Melalui
Kesultanan Tidore yang juga menguasai Tanah Papua, sejak abad ke-17, jangkauan terjauh
penyebaran Islam sudah mencapai Semenanjung Onin di Kabupaten Fakfak, Papua Barat.

[sunting] Masa kolonial

Pada abad ke-17 masehi atau tahun 1601 kerajaan Hindia Belanda datang ke Nusantara untuk
berdagang, namun pada perkembangan selanjutnya mereka menjajah daerah ini. Belanda datang
ke Indonesia dengan kamar dagangnya, VOC, sejak itu hampir seluruh wilayah Nusantara
dikuasainya kecuali Aceh. Saat itu antara kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara belum sempat
membentuk aliansi atau kerja sama. Hal ini yang menyebabkan proses penyebaran dakwah
terpotong.

Dengan sumuliayatul (kesempurnaan) Islam yang tidak ada pemisahan antara aspek-aspek
kehidupan tertentu dengan yang lainnya, ini telah diterapkan oleh para ulama saat itu. Ketika
penjajahan datang, para ulama mengubah pesantren menjadi markas perjuangan, para santri
(peserta didik pesantren) menjadi jundullah (pasukan Allah) yang siap melawan penjajah,
sedangkan ulamanya menjadi panglima perang. Potensi-potensi tumbuh dan berkembang di abad
ke-13 menjadi kekuatan perlawanan terhadap penjajah. Ini dapat dibuktikan dengan adanya
hikayat-hikayat pada masa kerajaan Islam yang syair-syairnya berisi seruan perjuangan. Para
ulama menggelorakan jihad melawan penjajah Belanda. Belanda mengalami kewalahan yang
akhirnya menggunakan strategi-strategi:

* Politik devide et impera, yang pada kenyataannya memecah-belah atau mengadu domba antara
kekuatan ulama dengan adat, contohnya perang Padri di Sumatera Barat dan perang Diponegoro
di Jawa.
* Mendatangkan Prof. Dr. Snouk Cristian Hourgonye alias Abdul Gafar, seorang Guru Besar ke-
Indonesiaan di Universitas Hindia Belanda, yang juga seorang orientalis yang pernah
mempelajari Islam di Mekkah. Dia berpendapat agar pemerintahan Belanda membiarkan umat
Islam hanya melakukan ibadah mahdhoh (khusus) dan dilarang berbicara atau sampai melakukan
politik praktis. Gagasan tersebut dijalani oleh pemerintahan Belanda dan salah satunya adalah
pembatasan terhadap kaum muslimin yang akan melakukan ibadah Haji, karena pada saat itulah
terjadi pematangan pejuangan terhadap penjajahan.[2]

Di akhir abad ke-19, muncul ideologi pembaruan Islam yang diserukan oleh Jamal-al-Din
Afghani dan Muhammad Abduh. Ulama-ulama Minangkabau yang belajar di Kairo, Mesir
banyak berperan dalam menyebarkan ide-ide tersebut, diantara mereka ialah Muhammad Djamil
Djambek dan Abdul Karim Amrullah. Pembaruan Islam yang tumbuh begitu pesat didukung
dengan berdirinya sekolah-sekolah pembaruan seperti Adabiah (1909), Diniyah Putri (1911), dan
Sumatera Thawalib (1915). Pada tahun 1906, Tahir bin Jalaluddin menerbitkan koran pembaruan
al-Iman di Singapura dan lima tahun kemudian, di Padang terbit koran dwi-mingguan al-Munir.
       Ada beberapa pendapat mengenai masuknya Islam ke Indonesia. Pendapat tersebut
dikemukakan berdasarkan bukti-bukti yang ditemukan.
       1. Islam masuk Indonesia pada abad ke-7 dan ke-8 buktinya ada perkampungan
masyarakat Islam di Selat Malaka.
       2. Islam masuk Indonesia pada abad ke-11 buktinya ada batu nisan bertuliskan nama
Fatimah binti Maimun yang dikenal di lereng Tuban, Jawa Timur.
       3. Islam masuk Indonesia pada abad ke-13 bukti-buktinya:


       a. Peranan Kaum Pedagang
       Seperti halnya penyebaran agama Hindu-Buddha, kaum pedagang memegang
       peranan penting dalam proses penyebaran agama Islam, baik pedagang dari luar
Indonesia maupun para pedagang Indonesia.
       Para pedagang itu datang dan berdagang di pusat-pusat perdagangan di daerah pesisir.
Malaka merupakan pusat transit para pedagang. Di samping itu, bandar-bandar di sekitar Malaka
seperti Perlak dan Samudra Pasai juga didatangi para pedagang.
       Mereka tinggal di tempat-tempat tersebut dalam waktu yang lama, untuk mengunggu
datangnya angin musim. Pada saat menunggu inilah, terjadi pembauran antarpedagang dari
berbagai bangsa serta antara pedagang dan penduduk setempat. Terjadilah kegiatan saling
memperkenalkan adat-istiadat, budaya bahkan agama. Bukan hanya melakukan perdagangan,
bahkan juga terjadi asimilasi melalui perkawinan.
       Di antara para pedagang tersebut, terdapat pedagang Arab, Persia, dan Gujarat yang
umumnya beragama Islam. Mereka mengenalkan agama dan budaya Islam kepada para
pedagang lain maupun kepada penduduk setempat. Maka, mulailah ada penduduk Indonesia
yang memeluk agama Islam. Lama-kelamaan penganut agama Islam makin banyak. Bahkan
kemudian berkembang perkampungan para pedagang Islam di daerah pesisir.
       Penduduk setempat yang telah memeluk agama Islam kemudian menyebarkan Islam
kepada sesama pedagang, juga kepada sanak familinya. Akhirnya, Islam mulai berkembang di
masyarakat Indonesia. Di samping itu para pedagang dan pelayar tersebut juga ada yang menikah
dengan penduduk setempat sehingga lahirlah keluarga dan anak-anak yang Islam.
          Hal ini berlangsung terus selama bertahun-tahun sehingga akhirnya muncul sebuah
komunitas Islam, yang setelah kuat akhirnya membentuk sebuah pemerintahaan Islam. Dari
situlah lahir kesultanan-kesultanan Islam di Nusantara.


          b. Peranan Bandar-Bandar di Indonesia
          Bandar merupakan tempat berlabuh kapal-kapal atau persinggahan kapal-kapal dagang.
Bandar juga merupakan pusat perdagangan, bahkan juga digunakan sebagai tempat tinggal para
pengusaha perkapalan. Sebagai negara kepulauan yang terletak pada jalur perdagangan
internasional, Indonesia memiliki banyak bandar. Bandar-bandar ini memiliki peranan dan arti
yang penting dalam proses masuknya Islam ke Indonesia.
          Di bandar-bandar inilah para pedagang beragama Islam memperkenalkan Islam kepada
para pedagang lain ataupun kepada penduduk setempat. Dengan demikian, bandar menjadi pintu
masuk dan pusat penyebaran agama Islam ke Indonesia. Kalau kita lihat letak geografis kota-
kota pusat kerajaan yang bercorak Islam pada umunya terletak di pesisir-pesisir dan muara
sungai.
          Dalam perkembangannya, bandar-bandar tersebut umumnya tumbuh menjadi kota
bahkan ada yang menjadi kerajaan, seperti Perlak, Samudra Pasai, Palembang, Banten, Sunda
Kelapa, Cirebon, Demak, Jepara, Tuban, Gresik, Banjarmasin, Gowa, Ternate, dan Tidore.
Banyak pemimpin bandar yang memeluk agama Islam. Akibatnya, rakyatnya pun kemudian
banyak memeluk agama Islam.
          Peranan bandar-bandar sebagai pusat perdagangan dapat kita lihat jejaknya. Para
pedagang di dalam kota mempunyai perkampungan sendiri-sendiri yang penempatannya
ditentukan atas persetujuan dari penguasa kota tersebut, misalnya di Aceh, terdapat
perkampungan orang Portugis, Benggalu Cina, Gujarat, Arab, dan Pegu.
          Begitu juga di Banten dan kota-kota pasar kerajaan lainnya. Dari uraian di atas dapat
disimpulkan bahwa kota-kota pada masa pertumbuhan dan perkembangan Islam memiliki ciri-
ciri yang hampir sama antara lain letaknya di pesisir, ada pasar, ada masjid, ada perkampungan,
dan ada tempat para penguasa (sultan).


          c. Peranan Para Wali dan Ulama
       Salah satu cara penyebaran agama Islam ialah dengan cara mendakwah. Di samping
sebagai pedagang, para pedagang Islam juga berperan sebagai mubaligh. Ada juga para mubaligh
yang datang bersama pedagang dengan misi agamanya. Penyebaran Islam melalui dakwah ini
berjalan dengan cara para ulama mendatangi masyarakat objek dakwah, dengan menggunakan
pendekatan sosial budaya. Pola ini memakai bentuk akulturasi, yaitu menggunakan jenis budaya
setempat yang dialiri dengan ajaran Islam di dalamnya. Di samping itu, para ulama ini juga
mendirikan pesantren-pesantren sebagai sarana pendidikan Islam.
       Di Pulau Jawa, penyebaran agama Islam dilakukan oleh Walisongo (9 wali). Wali ialah
orang yang sudah mencapai tingkatan tertentu dalam mendekatkan diri kepada Allah. Para wali
ini dekat dengan kalangan istana. Merekalah orang yang memberikan pengesahan atas sah
tidaknya seseorang naik tahta. Mereka juga adalah penasihat sultan.
       Karena dekat dengan kalangan istana, mereka kemudian diberi gelar sunan atau
susuhunan (yang dijunjung tinggi). Kesembilan wali tersebut adalah seperti berikut.
       1)      Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim).
       Inilah wali yang pertama datang ke Jawa pada abad ke-13 dan menyiarkan Islam di
sekitar Gresik. Dimakamkan di Gresik, Jawa Timur.
       2)      Sunan Ampel (Raden Rahmat).
       Menyiarkan Islam di Ampel, Surabaya, Jawa Timur. Beliau merupakan perancang
pembangunan Masjid Demak.
       3)      Sunan Drajad (Syarifudin).
       Anak dari Sunan Ampel. Menyiarkan agama di sekitar Surabaya. Seorang sunan yang
sangat berjiwa sosial.
       4)      Sunan Bonang (Makdum Ibrahim).
       Anak dari Sunan Ampel. Menyiarkan Islam di Tuban, Lasem, dan Rembang. Sunan yang
sangat bijaksana.
       5)      Sunan Kalijaga (Raden Mas Said/Jaka Said).
       Murid Sunan Bonang. Menyiarkan Islam di Jawa Tengah. Seorang pemimpin, pujangga,
dan filosof. Menyiarkan agama dengan cara menyesuaikan dengan lingkungan setempat.
       6)      Sunan Giri (Raden Paku).
       Menyiarkan Islam di luar Jawa, yaitu Madura, Bawean, Nusa Tenggara, dan Maluku.
Menyiarkan agama dengan metode bermain.
         7)    Sunan Kudus (Jafar Sodiq).
         Menyiarkan Islam di Kudus, Jawa Tengah. Seorang ahli seni bangunan. Hasilnya ialah
Masjid dan Menara Kudus.
         8)    Sunan Muria (Raden Umar Said).
         Menyiarkan Islam di lereng Gunung Muria, terletak antara Jepara dan Kudus, Jawa
Tengah. Sangat dekat dengan rakyat jelata.
         9)    Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah).
         Menyiarkan Islam di Banten, Sunda Kelapa, dan Cirebon. Seorang pemimpin berjiwa
besar.




Kapan dan dari mana Islam Masuk Indonesia
       Sejarah mencatat bahwa sejak awal Masehi, pedagang-pedagang dari India dan Cina
sudah memiliki hubungan dagang dengan penduduk Indonesia. Namun demikian, kapan tepatnya
Islam hadir di Nusantara?
       Masuknya Islam ke Indonesia menimbulkan berbagai teori. Meski terdapat beberapa
pendapat mengenai kedatangan agama Islam di Indonesia, banyak ahli sejarah cenderung
percaya bahwa masuknya Islam ke Indonesia pada abad ke-7 berdasarkan Berita Cina zaman
Dinasti Tang. Berita itu mencatat bahwa pada abad ke-7, terdapat permukiman pedagang muslim
dari Arab di Desa Baros, daerah pantai barat Sumatera Utara.
       Abad ke-13 Masehi lebih menunjuk pada perkembangan Islam bersamaan dengan
tumbuhnya kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia. Pendapat ini berdasarkan catatan perjalanan
Marcopolo yang menerangkan bahwa ia pernah singgah di Perlak pada tahun 1292 dan berjumpa
dengan orang-orang yang telah menganut agama Islam.
       Bukti yang turut memperkuat pendapat ini ialah ditemukannya nisan makam Raja
Samudra Pasai, Sultan Malik al-Saleh yang berangka tahun 1297. Jika diurutkan dari barat ke
timur, Islam pertama kali masuk di Perlak, bagian utara Sumatera. Hal ini menyangkut
strategisnya letak Perlak, yaitu di daerah Selat Malaka, jalur laut perdagangan internasional dari
barat ke timur. Berikutnya ialah Kerajaan Samudra Pasai.
       Di Jawa, Islam masuk melalui pesisir utara Pulau Jawa ditandai dengan ditemukannya
makam Fatimah binti Maimun bin Hibatullah yang wafat pada tahun 475 Hijriah atau 1082
Masehi di Desa Leran, Kecamatan Manyar, Gresik. Dilihat dari namanya, diperkirakan Fatimah
adalah keturunan Hibatullah, salah satu dinasti di Persia. Di samping itu, di Gresik juga
ditemukan makam Malik Ibrahim dari Kasyan (satu tempat di Persia) yang meninggal pada
tahun 822 H atau 1419 M. Agak ke pedalaman, di Mojokerto juga ditemukan ratusan kubur
Islam kuno. Makam tertua berangka tahun 1374 M. Diperkirakan makam-makam ini adalah
makam keluarga istana Majapahit.
       Di Kalimantan, Islam masuk melalui Pontianak yang disiarkan oleh bangsawan Arab
bernama Sultan Syarif Abdurrahman pada abad ke-18. Di hulu Sungai Pawan, di Ketapang,
Kalimantan Barat ditemukan pemakaman Islam kuno. Angka tahun yang tertua pada makam-
makam tersebut adalah tahun 1340 Saka (1418 M). Jadi, Islam telah ada sebelum abad ke-15 dan
diperkirakan berasal dari Majapahit karena bentuk makam bergaya Majapahit dan berangka
tahun Jawa kuno. Di Kalimantan Timur, Islam masuk melalui Kerajaan Kutai yang dibawa oleh
dua orang penyiar agama dari Minangkabau yang bernama Tuan Haji Bandang dan Tuan Haji
Tunggangparangan. Di Kalimantan Selatan, Islam masuk melalui Kerajaan Banjar yang
disiarkan oleh Dayyan, seorang khatib (ahli khotbah) dari Demak. Di Kalimantan Tengah, bukti
kedatangan Islam ditemukan pada masjid Ki Gede di Kotawaringin yang bertuliskan angka tahun
1434 M.
       Di Sulawesi, Islam masuk melalui raja dan masyarakat Gowa-Tallo. Hal masuknya Islam
ke Sulawesi ini tercatat pada Lontara Bilang. Menurut catatan tersebut, raja pertama yang
memeluk Islam ialah Kanjeng Matoaya, raja keempat dari Tallo yang memeluk Islam pada tahun
1603. Adapun penyiar agama Islam di daerah ini berasal antara lain dari Demak, Tuban, Gresik,
Minangkabau, bahkan dari Campa. Di Maluku, Islam masuk melalui bagian utara, yakni Ternate,
Tidore, Bacan, dan Jailolo. Diperkirakan Islam di daerah ini disiarkan oleh keempat ulama dari
Irak, yaitu Syekh Amin, Syekh Mansyur, Syekh Umar, dan Syekh Yakub pada abad ke-8.

				
DOCUMENT INFO
Categories:
Tags:
Stats:
views:530
posted:4/14/2012
language:
pages:35