Docstoc

PSIKOLOGI ISLAM

Document Sample
PSIKOLOGI ISLAM Powered By Docstoc
					PSIKOLOGI ISLAM: Paradigma Fitrah dalam Peta Paradigma Psikologi Modern

Oleh Prof. Dr. BAHARUDDIN, M.Ag.

(Guru Besar Psikologi Islam STAIN Padangsidimpuan)




Pendahuluan

Suatu hal yang tidak dapat dipungkiri adalah bahwa pendidikan memiliki hubungan yang sangat erat
dengan psikologi. Pendidikan adalah proses ‘memanusiakan’ manusia, dalam arti pendidikan adalah
proses panjang untuk mengaktualkan seluruh potensi diri manusia, sehingga seluruh potensi
kemanusiaannya menjadi aktual. Dalam proses mengaktualkan potensi manusia diperlukan
pengetahuan tentang keberadaan potensi dan situasi serta lingkungan yang tepat untuk
mengaktualkannya. Pengetahuan tentang diri manusia dengan segala permasalahannya dibicarakan
dalam psikologi. Demikianlah eratnya hubungan antara psikologi dengan pendidikan.

Dalam dunia pendidikan Islam, telah terjadi kondisi yang aneh tapi nyata. Dikatakan aneh, karena dunia
pendidikan Islam telah demikian berkembang pesat, baik secara teoritis maupun praktis. Bahkan dapat
dikatakan dunia pendidikan Islam telah mengalami perkembangan dan kemajuan demikian pesat. Nah,
perkembangan yang demikian pesat itu, tidak dilandasi dengan psikologi Islam. Padahal, landasan
pengembangan pendidikan adalah psikologi. Permasalahannya, apa landasan pengembangan
pendidikan Islam selama ini, yang pasti bukan psikologi Islam. Mungkin selama ini, pendidikan Islam
“berinduk semang” dengan psikologi Barat (sekuler), meskipun kita tidak menyadarinya. Mengapa tidak
dibangun saja “induk” pendidikan Islam yang memang benar-benar “kandung”. Sehingga dapat
dilahirkan generasi Islam yang memang betul-betul memiliki “bapak dan ibu kandung”.

Pendidikan Islam selama ini banyak mendasarkan teori dan konsepnya pada psikologi Barat, meskipun
mereka tidak mengetahuinya. Sebut saja, sebagai contoh, Psikoanalisa dan Behaviorisme. Kedua aliran
psikologi ini memandang diri manusia berbeda dengan pandangan Islam. Psikoanalisa memandang
manusia sebagai generasi langsung dari binatang, sehingga manusia mewarisi sifat khas binatang, yaitu
nafsu yang mereka sebut dengan libido. Seluruh tingkah laku manusia adalah proses dinimika hubungan
libido dengan lingkungan. Behaviorisme memandang manusia sebagai makhluk yang memiliki jiwa,
namun sejak awal kelahirannya ke dunia, jiwa manusia itu kosong, bagaikan kertas putih. Lingkungan
merupakan faktor utama yang menentukan tingkah laku manusia.

Islam sebagai ajaran memiliki konsep yang berbeda dengan kedua konsep dasar psikologi tersebut.
Manusia dalam pandangan Islam memiliki potensi luhur yang merupakan anugerah Allah, yaitu potensi
fitrah dan ruh. Kedua potensi ini tidak terjamah dalam psikologi Barat. Di sisi lain, pendidikan Islam,
pada hakekatnya adalah proses aktualisasi kedua potensi luhur itu. Lalu, bagaimana landasan psikologi
yang tidak mengakui kedua potensi itu dapat dijadikan landasan pengembangan potensi tersebut.
Demikianlah, nasib pendidikan Islam selama ini.
Berdasarkan itu, sudah saatnya, pendidikan Islam memiliki landasan psikologi Islam. Sehingga “kawin
silang” atau “kawin kontrak” antara psikologi sekuler dengan pendidikan Islam selama ini dapat
dihentikan. Tentunya dari proses “kawin silang” itu telah lahir generasi model baru yang tidak murni
Islam dan juga tidak sekuler, lalu apa? Itulah yang kita temukan sekarang ini. Keperibadian mereka
terpecah, spilit personality melanda generasi Muslim.

Belakangan ini telah lahir upaya-upaya ke arah pembangunan psikologi Islam. Telah banyak berlahiran
karya-karya cemerlang dan pikiran-pikiran bernas. Seiring dengan itu, berbagai kritikan juga telah
meramaikan bursa pemikiran psikologi Islam.



Pengertian Psikologi Islam

Sebelum dijelaskan tentang psikologi Islam, perlu terlebih dahulu diuraikan tentang pengertian
psikologi. Psikologi berasal dari dua kata bahasa Inggris psyche yang berarti jiwa dan logy atau logos
yang berarti ilmu. Jadi, secara bahasa psikologi adalah ilmu jiwa. Dalam bahasa Arab disebut dengan
ilmunnafsi, demikian juga dalam bahasa Indonesia disebut dengan ilmu jiwa.

Pengertian bahasa itu, berbeda dengan pengertian dalam psikologi sebagai sains. Psikologi sebagai
sains, mentaati prinsip-prinsip dan aturan sains. Diantaranya adalah logis, sistematis, objektif, empiris,
kongkret, tentatif, dan lain-lain. Jika dilihat dari sisi objeknya yang kongkret, maka ilmu jiwa berarti ilmu
yang mengkaji jiwa. Jiwa itu abstrak lawan dari kongkret. Jadi, sebenarnya psikologi bukan ilmu tentang
jiwa, sebab jiwa tidak kongkret. Oleh karena itu yang dikaji dalam psikologi bukan jiwa tetapi gejala jiwa.
Gejala jiwa itu adalah tingkah laku. Jadi, psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku.

Psikologi mempelajari tingkah laku secara umum, karena itu disebut psikologi umum. Tingkah laku yang
berhubungan dengan satu aspek kehidupan, maka muncul cabang psikologi. Psikologi pendidikan
membicarakan tingkah laku yang berhubungan dengan pendidikan; Psikologi Agama membicarakan
tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan Tuhan (agama); Psikologi sosial membicarakan
tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan situasi dan kelompok sosial, demikian seterusnya
bermunculan cabang psikologi.

Psikologi Islam bukan cabang psikologi karena psikologi Islam tidak membicarakan tingkah laku yang
merupakan satu aspek kehidupan. Namun, psikologi Islam adalah aliran dalam psikologi yang
menawarkan cara pandang tentang manusia dan tingkah lakunya. Sebagaimana aliran psikologi lainnya,
seperti Psikoanalisa, behaviorisme, humanistik, dan transpersonal, maka psikologi Islam juga memiliki
cara pandang tentang manusia dan tingkah laku manusia secara tersendiri.

Banyak para ahli yang telah menawarkan rumusan psikologi Islam. Salah satunya adalah Baharuddin
yang menyatakan, Psikologi Islam adalah ilmu yang membicarakan tingkah laku manusia berdasarkan
cara pandang Islam tentang manusia dalam bertingkah laku ketika berhubungan dengan diri, lingkungan,
dan Tuhannya.
Persentuhan Psikologi dengan Agama

Sejarah persentuhan agama dengan psikologi mengalamai pasang surut. Bentuk persentuhan itu sangat
dipengaruhi oleh model dan metodologi serta pergeseran paradigma yang dipergunakan psikologi.
Pergeseran itu telah mewarnai pandangan psikologi tentang prilaku beragama. Pada priode awal pola
persentuhan itu mengambil bentuk hubungan dimana teori psikologi digunakan sebagai pisau analisis
dalam membedah perilaku beragama. Menjelang awal abad ke 21 ini pola hubungan itu mengambil
bentuk lain, dimana teori psikologi dilahirkan dari pemahaman terhadap perilaku beragama.

Perubahan itu, seakan membalikkan pola hubungan sebelumnya. Hubungan sebelumnya saling
“bermusuhan” sampai masa sekarang ini seakan-akan keduanya berhubungan “mesra”.




Dari “Bermusuhan” ke “Bermesraan”

Berdasarkan perkembangan persentuhan keduanya, baik secara positif maupun negatif, dapat
dibedakan kepada empat priode perkembangan.

Priode pertama berlangsung sekitar paruh kedua abad ke-19. Sejarah menceritakan bahwa psikologi
sebagai sains dimulai sekitar tahun 1879 ketika Wilhelm Wundt (1248-1339 H/1832-1920 M) dari
Universitas Leipzig di Jerman mendirikan Laboratorium untuk menganalisis tingkah laku manusia dan
binatang melalui metode eksperimen. Pada priode awal ini, ciri utama perkembangan psikologi adalah
pengembangan psikologi secara observasi dan eksperimen di laboratorium. Perhatian utama tertuju
kepada tingkah laku manusia secara umum. Pada saat itu, perilaku agama tidak mendapat perhatian
yang serius. Robert W. Crapps (…-…H/…-…M) menjelaskan “During the formative decades of scientific
psychology, religion did not occupy a significant place in the concern of researchers.” Artinya: selama
priode pembentukan psikologi sebagai sains, agama tidak mendapat tempat yang penting dalam
perhatian peneliti. Ringkasnya, bahwa persentuhan agama dan psikologi belum menemukan wujudnya
pada priode awal ini.

Priode kedua berlangsung pada akhir abad ke-19 sampai awal abad ke-20. Ciri utama priode ini adalah
adanya usaha-usaha dari para psikolog untuk mengkaji dan menafsirkan perilaku beragama berdasarkan
konsep dan teori psikologi. Pada priode ini istilah “psychology of religion” (psikologi agama) sudah
menjadi salah satu cabang dalam psikologi dengan objek kajian perilaku beragama. Pada priode kedua
ini ada tiga tokoh utama yang dipandang sebagai orang yang berjasa besar dalam melahirkan Psikologi
Agama. Ketiga tokoh itu masing-masing adalah Edwin Diller Starbuck, James H. Leuba, dan William
James (1258-1328 H/ 1842-1910 M).

Edwin Diller Starbuck pada tahun 1899 menulis buku berjudul: The Psychology of Religion: An Empirical
Study of The Growth of Religious Counsciousness. Buku ini merupakan hasil penelitian tentang
pertumbuhan perasaan beragama di bawah bimbingan William James (1258-1328 H/ 1842-1910 M).
Sebenarnya, menurut Zakiah Daradjat (1348-... H/1929-… M), Starbuck adalah murid William James
(1258-1328 H/ 1842-1910 M), namun dalam bidang Ilmu Jiwa Agama, karya Starbuck tersebutlah yang
menjadi titik awal berkembangnya penelitian di bidang psikologi agama. Penelitian William James (1258-
1328 H/ 1842-1910 M) sendiri semakin mendalam dalam bidang perilaku beragama, justru setelah karya
Starbuck tersebut diterbitkan. Jadi Edwin Diller Starbuck pantas dianggap sebagai tokoh perintis
Psikologi Agama.

James H. Leuba juga dipandang sebagai tokoh perintis Psikologi Agama. Menurut Zakiah Daradjat (1348-
... H/1929-… M) hasil penelitiannya pernah diterbitkan pada Majalah di Monist Volume XI Januari 1901
dengan judul Introduction to a Psychological Study of Religion. Kemudian dikembangkan menjadi
sebuah buku yang diterbitkan pada tahun 1912 berjudul A Psychological Study of Religion. Dalam
penelitiannya itu, James H. Leuba menggunakan pendekatan fisik-biologis dalam menjelaskan fenomena
agama. Misalnya, dikemukakannya persamaan antara orang yang fana` dalam mistik dengan seorang
yang kena pengaruh minuman keras.

Tulisan dan hasil penelitian lainnya yang paling berharga dalam Psikologi Agama adalah karya William
James (1258-1328 H/ 1842-1910 M) berjudul The Variaties of Religious Experience yang ditulis pada
tahun 1902. Buku ini merupakan bahan-bahan persiapan untuk memberikan kuliah tentang agama
alamiah (natural religion) di Universitas Edinburgh. Uraian-uraian dalam buku tersebut berdasarkan hasil
penelitiannya terhadap catatan pengalaman orang-orang penting tentang agama. Dalam uraiannya,
William James (1258-1328 H/ 1842-1910 M) membuat perbedaan perilaku beragama kepada dua
bentuk perilaku beragama, yaitu agama institusional (institutional religion) dengan agama pribadi
(personal religion). Agama institusional adalah perilaku beragama dalam bentuk lembaga, organisasi,
sekte-sekte, struktur sosial, dan lain-lain. Agama pribadi adalah penghayatan terdalam dan pengalaman
spiritual yang bersifat pribadi. Menurut Zakiah Daradjat (1348-... H/1929-… M) karya William James
(1258-1328 H/ 1842-1910 M) itulah yang membangkitkan semangat para psikolog untuk mengadakan
penelitian-penelitian tentang perilaku beragama. Pada tahun 1904 terbit majalah The Journal of
Religious Psychology dan kemudian menyusul pula The American Journal of Psychology of Religion and
Education menyusul karya William James (1258-1328 H/ 1842-1910 M) tersebut. Jadi, pantaslah, jika
William James dipandang sebagai tokoh perintis Psikologi Agama.

Priode ketiga berlangsung sejak tahun 1930 sampai dengan sekitar tahun 1950-an. Priode ini adalah
priode kemerosotan hubungan agama dengan psikologi. Artinya, pada rentangan tahun-tahun ini, para
psikolog tidak mengarahkan perhatiannya pada perilaku beragama. Ada dua faktor utama yang
menyebabkan hal itu. Pertama, pada rentangan tahun-tahun tersebut psikologi cenderung semakin
positivistik dan behavioristik. Telaah psikologi terarah pada tingkah laku objektif, yaitu tingkah laku yang
dapat diobservasi dan dapat diukur. Sehingga tidak memberikan ruang pada tingkah laku di luar metode
positivistik dan behavioristik. Akibatnya, perilaku agama tidak menjadi objek kajian. Kedua, para ahli
agama memanfaatkan situasi itu untuk membentengi iman umatnya dengan cara menjauhkan diri dan
menolak temuan-temuan sains modern. Akibatnya, terjadilah hubungan yang saling acuh dan menafikan
antara agama dengan psikologi.
Kecuali itu, masih dapat dikemukakan tiga faktor lainnya. Pertama, adanya rasa acuh tak acuh baik dari
ahli agama maupun psikolog. Kedua, banyaknya ahli agama yang tidak yakin bahwa hasil dan kesimpulan
yang diperoleh dari studi agama secara psikologis akan memberikan hasil dan kesimpulan yang akurat.
Mereka yakin perilaku agama tidak dapat diteliti secara ilmiah. Ketiga, banyak psikolog yang sangat
berhati-hati dengan perkara yang transendental, seperti keyakinan dan agama. Kesemuanya ini
menyebabkan hubungan agama dengan psikologi mengalami masa ‘sakit’. Ringkasnya, pada priode ini
hubungan agama dengan psikologi tidak saling menghargai, tetapi menganggap masing-masing dirinya
benar dan menolak kebenaran yang lain.

Priode keempat dimulai sekitar tahun 1960-an M dan masih berlangsung sampai dengan sekarang (2007
M). Pada priode ini, pengembangan psikologi mengarah pada usaha-usaha untuk menjadikan nilai,
budaya, dan agama, sebagai objek kajian psikologi dan juga sekaligus sebagai sumber inspirasi bagi
pembangunan teori-teori psikologi. Dengan kata lain, hubungan agama dengan psikologi kembali
bersemi.

Pada priode terakhir ini, lahir Psikologi Humanistik dan Psikologi Transpersonal. Kedua psikologi ini
sering disebut sebagai kekuatan ketiga (the third force) dalam psikologi. Objek telaahan kedua psikologi
ini adalah kualitas-kulitas khas kemanusian, berupa: pikiran, perasaan, kemauan, kebebasan,
kemampuan potensi luhur jiwa manusia, dan lain-lain.

Pada penghujung abad ke-20 ini muncul tema-tema baru dalam psikologi. Diantara tema tersebut
adalah spiritual intelligence (kecerdasan spiritual) dan emotional intelligence (kecerdasan emosional).
Ciri utama orang yang memiliki kecerdasan spiritual adalah adanya keinginan untuk memberi konstribusi
bagi umat manusia. Kesalehan adalah kemampuan untuk berkhidmat pada orang lain, menghibur orang
yang mendapat musibah, memberi makan fakir-miskin, menyayangi sesama manusia, dan lain-lain.
Kebalikannya, disebut dengan spiritual dumb. Ciri utamanya adalah merasa diri paling saleh,
memonopoli kebenaran agama pada dirinya atau kelompoknya, menolak dan merendahkan paham
keagamaan orang lain, dan lain-lain. Kecerdasan emosional adalah bagian penting dalam jiwa manusia,
yang selama ini telah diabaikan dalam wacana psikologi. Emosi sangat menentukan bahagia atau
menderitanya seseorang. Emosi juga melindungi manusia dari berbagai bahaya. Emosi adalah hasil
perkembangan evolusi manusia yang paling lama, dan emosi terpusat pada bagian salah satu otak
manusia. Demikian ungkap Daniel Goleman dalam bukunya berjudul Emotional Intelligence. Pada bagian
lain, dia menjelaskan bahwa yang menentukan sukses kehidupan manusia, bukan rasio, tetapi emosi.
Dari hasil penelitiannya, dia menemukan situasi yang disebutnya when smart is dumb, Artinya ketika
orang cerdas jadi bodoh. Dia menemukan orang Amerika yang memiliki kecerdasan (IQ) 125 umumnya
bekerja pada orang yang memiliki kecerdasan (IQ) rata-rata 100. Artinya, orang yang cerdas umumnya
menjadi pegawai pada orang yang lebih bodoh dari dia. Jarang sekali orang yang cerdas secara
intelektual sukses dalam kehidupan. Malahan orang-orang biasalah yang sukses dalam kehidupan. Jadi,
apakah yang menentukan kesuksesan dalam kehidupan ini? Jawabnya adalah bukan kecerdasan
intelektual, tetapi kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional ditandai dengan kemampuan
mengendalikan emosi dan menahan diri. Orang yang paling mampu mengendalikan emosi dan menahan
diri adalah orang yang paling tinggi kecerdasan emosionalnya. Dalam Islam, konsep yang demikian
disebut dengan sabar. Orang sabar, tabah, tekun, ulet, pantang menyerah, optimis, dan tidak
memperturutkan emosinya.

Berdasarkan itu, Jalaluddin Rahmat (1368-… H/1949-… M) menjelaskan bahwa Psikologi Transpersonal
bukan saja mengembangkan kehidupan beragama, tetapi juga menerima sumbangan dari padanya.
Tradisi mistikal dari berbagai agama: Zen Budhism, Yoga, Sufisme, Kabbalah, Shamanism, Tradisi mistik
Kristen, dan lain-lain telah menjadi pusat penelitian dan sumber inspirasi pengembangan Psikologi
Transpersonal ini.

Demikianlah, pada priode keempat ini, terlihat dengan jelas hubungan yang saling mengisi dan
membutuhkan antara agama dan psikologi. Kondisi ini dapat menjadi peluang sekaligus juga tantangan
bagi kita umat Islam, apakah kita mampu melahirkan konsep-konsep psikologi yang dapat diandalkan
untuk kemaslahatan umat manusia pada masa sekarang ini dan akan datang? Konon ceritanya, Islam
adalah agama untuk segala zaman dan tempat. Kalau demikian, mengapa tidak? Islam harus
menyodorkan konsep-konsepnya bagi kemaslahatan umat manusia. Salah satu kontribusinya adalah
menyajikan paradigma psikologi dari sumber ajarannya.



Paradigma Psikologi Modern

1. Paradigma Mekanistik

Paradigma mekanistik adalah paradigma yang menjunjung tinggi prinsip-prinsip atau hukum-hukum
kausalitas dalam memahami manusia. Manusia dipandang sebagai objek dalam relasi ‘manusia-alam’.
Manusia menjadi tunduk kepada pengalaman, bahkan isi jiwa manusia itu sendiri adalah kumpulan
pengalaman. Manusia menjadi mekanistik, determenistik, dan pessimistik.

Psikoanalisa dan Behaviorisme berada pada paradigma mekanistik ini. Persoalan fundamental yang
diyakini sebagai wilayah yang sangat berperan dalam menentukan tingkah laku manusia bagi
Psikoanalisa adalah unconsciousness (ketidak sadaran). Wilayah ini,- unconsciousness (ketidak sadaran)-
, merupakan wilayah yang paling luas dari ketiga wilayah kesadaran manusia yang diyakini dan diakui
oleh Psikoanalisa. Ketiga wilayah kesadaran tersebut adalah consciousness (kesadaran),
preconsciousness (ambang sadar), dan unconsciousness (ketidak sadaran). Ketiga wilayah kesadaran ini
dapat digambarkan sebagai gunung es di dalam lautan luas. Wilayah consciousness (kesadaran) adalah
puncaknya, sementara preconsciousness (ambang sadar) adalah persentuhan antara gunung dengan
permukaan air, sedangkan unconsciousness (ketidak sadaran) adalah gunung es yang sangat luas yang
tidak terlihat karena tenggelam di dalam lautan air. Bagi Psikoanalisa, semua tingkah laku manusia
berhubungan dengan wilayah unconsciousness (ketidak sadaran) ini. Tingkah laku manusia memiliki
korespondensi dengan isi unconsciousness. Isi unconsciousness itu adalah dimensi id dan pengalaman-
pengalaman troumatis manusia khususnya masa kanak-kanak. Oleh karena itu, Psikoanalisa dalam
merumuskan, menjelaskan, menginterpretasikan, dan memprediksikan, tingkah laku manusia selalu
merujuk kepada peranan wilayah unconsciousness ini. Untuk menemukan dan mengungkapkan akar
terdalam dari tingkah laku manusia yang berada dalam wilayah unconsciousness ini, Psikoanalisa
menggunakan beberapa macam metode. Metode-metode tersebut adalah hypnotis, intropeksi, atau
retropeksi, dan analisis mimpi. Ringkasnya, bahwa persoalan fundamental objek telaahan dan keyakinan
dasar Psikoanalisa dalam memahami, merumuskan, menginterpretasi, dan memprediksi tingkah laku
manusia adalah unconsciousnes. Dengan demikian paradigma Psikoanalisa adalah paradigma
unconsciousness (ketidak sadaran).

Berdasarkan asumsi-asumsi inilah, Psikoanalisa memahami, menjelaskan, dan memprediksi tingkah laku
manusia. Jadi, tingkah laku manusia merupakan proses mekanistik untuk memuaskan sejumlah energi
internal diri manusia. Ringkasnya, paradigma Psikoanalisa adalah paradigma mekanistik.

Berbeda dengan Psikoanalisa yang memfokuskan perhatian pada wilayah unconsciousness.
Behaviorisme memusatkan perhatiannya pada wilayah objektifitas. Behaviorisme memandang
Psikoanalisa sebagai teori yang sangat spekulatif dan tidak ilmiah. Penjelajahan terhadap wilayah
unconsciousness dengan menggunakan metode hipnotis, intropeksi, retropreksi, dan analisis mimpi,
merupakan metode yang menggambarkan spekulatif-subjektif. Sebab,- menurut Behaviorisme-,
metode-metode itu tidak didukung oleh bukti-bukti empiris dan data-data faktual. Oleh karena itu
Behaviorisme menetapkan paradigma objektif dalam psikologi. Paradigma objektif menekankan pada
data-data yang dapat diuji secara faktual dan berdasarkan pengalaman (empiris). Behaviorisme yakin
dan percaya bahwa seluruh tingkah laku manusia dapat dipahami (understanding), dirumuskan
(formulasi), dan diprediksi (prediction), berdasarkan pandangan objektif. Maka rumusan tingkah laku
bagi Behaviorisme merupakan hubungan stimulus-respon-bond. Pada dataran faktual-objektif ini
tingkah laku manusia tidak berbeda dengan tingkah laku binatang. Inilah yang menyebabkan mereka
meneliti tingkah laku binatang untuk memahami, merumuskan, bahkan untuk memprediksi tingkah laku
manusia. Maka muncullah teori-teori dari Behaviorisme, seperti classical conditioning (pembiasaan
klasik) oleh Ivan Petrovich Pavlov (1266-1355 H/ 1849-1936 M) dan J.B. Watson (1226-1378 H/ 1878-
1958 M), Law of effect (hukum dari akibat) oleh Edward Lee Thondike (1291-1369 H/1874-1949 M),
Operant Conditioning (pembiasaan operant) dari B.F. Skinner (1322-1411 H/ 1904-1990 M), dan
Modelling (pentauladanan) yang dikembangkan oleh Albert Bandura (1344-…H/ 1925-…M). Semua teori-
teori ini merupakan upaya memahami tingkah laku manusia melalui eksperimen terhadap binatang di
laboratorium.

Ringkasnya, bahwa paradigma Behaviorisme adalah paradigma ‘mekanistik-objektif’. Paradigma
‘mekanistik-objektif’ adalah keyakinan mendasar terhadap fakta-fakta yang aktual, kongkret, dan
menyentuh wilayah empiris-sensoris dalam memahami, menginterpretasi, memformulasi, dan
memprediksi, tingkah laku manusia. Kecuali itu, paradigma ‘mekanistik-objektif’ berarti fokus bahasan
dalam Behaviorisme adalah data-data objektif. Hal-hal yang tidak berdasarkan data-data faktual selalu
dihindari.

Berdasarkan itu, jelaslah bahwa paradigma Behaviorisme adalah paradigma mekanistik. Semua tingkah
laku manusia merupakan proses mekanistik stimulus dan respon. Manusia bagaikan mesin besar yang
selalu siap memberikan respon terhadap stimulus yang menyentuhnya.
2. Paradigma Humanistik

Sementara itu, Psikologi Humanistik,- yang tumbuh sekitar pertengahan abad ke-20-, memandang
Psikoanalisa telah menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan. Behaviorisme, -menurut Humanistik-, dalam
memandang manusia bersifat mekanistik, determenistik, dan otomatistik, sehingga menyebabkan
manusia kehilangan kemanusiaannya. Manusia menjadi dehumanistik dan inpersonality. Maka Psikologi
Humanistik lahir untuk membela nilai kemanusiaan. Maka muncullah paradigma humanistik (paradigma
kemanusiaan) dalam psikologi.

Berdasarkan paradigma kemanusiaan ini muncullah teori-teori personality and motivation (kepribadian
dan motivasi) oleh William James (1258-1328 H/ 1842-1910 M) yang kemudian dikembangkan oleh
Gordon W. Allport (1315-1387 H/1897-1967 M); client-centered-approarch (pendekatan yang berpusat
pada klien) dalam menangani masalah terapi oleh Carl Rogers (1330-1408 H/1902-1987 M), self
actualization (aktualisasi diri) oleh Abraham H. Maslow (1326-1390 H/ 1908-1970 M), dan teori the will
to meaning (kehendak untuk hidup bermakna) oleh Victor Frankl (1323-…H/1905-…M) dalam logoterapi-
nya yang sering digolongkan sebagai Psikologi Transpersonal. Semua teori ini berdasarkan kepada
pandangan kemanusiaan. Manusia adalah makhluk unik yang harus dipahami secara holistik dari
dimensi somatis (raga), psikis (jiwa), dan noetik (spiritual). Kecuali itu, eksistensi manusia berbeda
dengan eksistensi lainnya. Karakteristik eksistensi manusia dapat disimpulkan pada adanya; spirituality
(kerohanian), freedom (kebebasan), dan responsibility (tanggung jawab). Untuk memahami,
menginterpretasi, memformulasi, dan memprediksi, tingkah laku manusia harus dirujuk kepada konsep-
konsep manusia secara holistik seperti yang diuraikan di atas.

Jadi, ringkasnya bahwa paradigma Psikologi Humanistik adalah paradigma kemanusiaan. Paradigma
humanistik memandang bahwa manusia adalah makhluk khas, unik, yang harus dipahami secara holistik.
Manusia memiliki raga, jiwa, dan spiritual dan eksistensinya sebagai manusia memiliki karakteristik
spirituality, freedom, dan responsibility. Paradigma ini mengakui bahwa tingkah laku manusia
merupakan produk bebas pikiran, perasaan, dan kemauan manusia. Kebebasan dalam segala hal,
terutama menentukan pilihan tingkah lakunya berdasarkan pikiran, perasaan, dan kemauannya.



3. Paradigma Fitrah

Sementara itu, Psikologi Islami memandang bahwa Psikologi Humanistik terlalu optimis terhadap
manusia. Manusia dianggap sebagai berkuasa penuh terhadap dirinya dan menafikan dimensi lain yang
turut serta dalam membentuk dan menentukan dirinya. Menurut Psikologi Islami manusia selalu dalam
proses berhubungan dengan alam (nature), manusia (sosial), dan Tuhan. Ketiga hal ini turut memberikan
andil dalam membentuk tingkah laku manusia. Ini sejalan dengan dimensi-dimensi yang ada di dalam
diri manusia. Untuk memahami, menginterpretasi, memformulasi, dan memprediksi, tingkah laku
manusia harus senantiasa memandangnya dalam hubungan yang seimbang dengan alam, manusia, dan
Tuhan, seperti yang dijelaskan di atas. Jelasnya, bahwa menurut Psikologi Islami, ada sesuatu yang
hilang dari Psikologi Humanistik dalam memandang manusia yaitu eksistensi Tuhan. Kecuali itu, menurut
Psikologi Islami, bahwa Psikologi Humanistik, dalam memandang dimensi manusia belum sepenuhnya
sempurna. Dua dimensi terpenting dalam hubungannya dengan esensi dan eksistensi manusia luput dari
jangkauan Psikologi Humanistik,- apa lagi Psikoanalisa dan Behaviorisme. Kedua dimensi terpenting itu
adalah dimensi al-ruh dan dimensi al-fitrah. Dimensi al-ruh beraktualisasi sebagai khalifah sementara
dimensi al-fitrah beraktualisasi sebagai ‘abid dalam konteks ‘ibadah. Manusia dalam hubungannya
dengan alam adalah sebagai aktualisasi khalifah, sementara dalam hubungannya dengan Allah adalah
sebagai aktualisasi peran ‘ibadah. Manusia senantiasa dalam putaran hubungan kedua peran ini,- yaitu
peran khalifah dan ‘ibadah.

Jadi, jelaslah bahwa dalam pandangan Psikologi Islami bahwa tingkah laku manusia bukanlah hanya
sebatas keinginan manusia untuk mengaktualisasikan dirinya seperti dalam Psikologi Humanistik. Tetapi
tingkah laku manusia juga merupakan aktualisasi dari rentangan dari rangkaian keterikatan dengan
alam, manusia, dan Tuhan. Dinamika tingkah laku manusia adalah seberapa besar dominasi keinginan
yang akan diaktualisasikan. Jika dominasi keinginan alam yang dominan maka akan muncul tingkah laku
yang bersifat alamiah, seperti makan, minum, berhubungan seksual, dan lain-lain. Jika dominasi
keinginan kemanusiaan, maka akan muncul tingkah laku yang berhubungan dengan aktualisasi diri,
seperti ingin dihormati, menguasai orang lain, ingin mencintai dan dicintai orang lain, dan lain-lain.
Sementara jika dominasi keinginan Tuhan yang akan diaktualisasikan, maka berbarengan dengan itu
akan muncul tingkah laku berupa ‘ibadah. Pemahaman yang menyeluruh dan holistik tentang tingkah
laku manusia dalam hubungannya dengan alam, manusia, dan Tuhan, merupakan inti persoalan
paradigma yang ditawarkan dalam Psikologi Islami.

Paradigma itu disebut dengan ‘paradigma fitrah’. Istilah fitrah terambil dari istilah dalam Al-Qur’an Surat
al-Rum/30: 30.

‫"… ع ل يهــا ال ناس ف طر ال تى هللا ف طرت ح ن ي فا ل لدي ن وجهك ف اق م‬

Artinya: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah atas) fi¯rah All±h
yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu …”

Dalam ayat tersebut dinyatakan bahwa fitrah manusia berasal dari fitrah Allah. Berdasarka itu, fitrah
manusia senantiasa menampilkan dua sisi, yaitu sisi asalnya (esensi) dan sisi keberadaannya (eksistensi).
Fitrah dari sisi asalnya menampilkan sisi spiritual-transendental (Allah), sementara dari sisi
keberadaannya menampilkan sisi empiris-historis (manusia). Fitrah Allah adalah Esa dalam segala hal.
Berdasarkan itu, maka haklikat paradigma fitrah adalah pengakuan terhadap kebenaran tunggal, satu,
monistik, dalam wilayah transendental, namum pada saat yang bersamaan, dalam wilayah empiris-
historis, tampilannya dapat beragam dan bervariasi. Jelasnya, paradigma fitrah mengakui kebenaran
monistik-multidimensional.

Dalam memandang tingkah laku manusia, -sebagai objek kajian psikologi-, maka paradigma fitrah
merujuk kepada konsep di atas. Berdasarkan itu, maka tingkah laku manusia senantiasa tampil sebagai
akumulasi ekspresi aktualisasi potensi batin dan responsi pengaruh lingkungan. Ekspresi berarti bahwa
tingkah laku menjadi media (sarana) untuk mengekspresikan kondisi psikis. Responsi berarti tingkah laku
muncul sebagai respon (tanggapan) terhadap stimulus lingkungan. Tingkah laku manusia senantiasa
menampilkan dua sisi ekspresi dan responsi. Perbedaan antara satu tingkah laku dengan tingkah laku
lainnya terletak pada prosentase masing-masing sisi, apakah sisi ekpresi atau sisi responsi yang
dominan.

D. Posisi Paradigma Fitrah dalam Peta Paradigma Psikologi

Jika ditelaah kepada sejarah perkembangan ilmu pengetahuan di dunia Barat, maka dapat dijelaskan
bahwa teori-teori Psikologi Modern,- utamanya Psikoanalisa,- Behaviorisme, dan Humanistik-,
merupakan hasil dari adanya dua pengutuban semu yang berbeda dan pada saat tertentu dapat
bertentangan. Pengutuban semu tersebut adalah pengutuban ‘fisik-psikis’ dan manusia-alam. Wacana
ilmu pengetahuan selalu berada pada pertentangan kedua kutub ini.

Ini merupakan salah satu buah dikhotomi peradaban Barat yang bermula dari masalah hubungan antara
roh dan tubuh. Dalam buku Philosophy and Science in the Islamic World, dijelaskan bahwa Rene
Descartes (1005-1061 H/ 1596-1650 M), di saat fajar peradaban modern Eropa,- memberikan kepada
roh dan tubuh sifat-sifat yang saling bertentangan secara mendasar. Yang satu mempunyai kesadaran,
yang lain tidak, yang satu mempunyai keluasan, yang lain tidak. Maka timbullah masalah: apabila roh
dan tubuh tidak memiliki persamaan sama sekali, bagaimana mungkin mereka berada bersama-sama
dan hidup bersama. Para filosof Barat berusaha memecahkan persoalan ini dengan mereduksi tubuh
menjadi roh atau sebaliknya mereduksi roh menjadi tubuh. Dengan kata lain meniadakan salah satunya,
roh atau tubuh dari arena. Karena peradaban Barat cenderung kepada saintifik dan mekanistik, maka
yang pada akhirnya disingkirkan adalah roh. Hasilnya adalah bahwa makhluk manusia menjadi robot,
artinya mesin yang harus diawasi dan dimanipulasi seperti mesin-mesin lainnya, dengan menggunakan
kekuatan fisik-kimiawi dan alat-alat teknologi lainnya.

Pengutuban fisik-psikis telah menimbulkan pertentangan yang kronis dan berubah-ubah bentuk dan
wujudnya sesuai dengan perkembangan dan perjalanan sejarah peradaban umat manusia. Pengutuban
tersebut tercermin dalam pertentangan antara rasionalisme melawan empirisme pada abad XI H/XVI M,
antara idealisme melawan realisme pada abad XII H/XVII M, antara positivisme melawan romantisisme
pada abad XIII H/XVIII M, antara materialisme melawan idealisme pada abad XIV H/XIX M, dan antara
saintifisme melawan eksistensialisme pada abad XV H/XX M.

Sementara itu, pengutuban manusia-alam telah menimbulkan pertentangan antara humanisme dengan
naturalisme, antara teknologisme dengan ekologisme, dan antara kapitalisme dengan sosialisme.
Sementara itu, pandangan dualisme kutub dalam humanisme juga menimbulkan pengutuban diri
menjadi ‘pribadi dengan masyarakat’ dan muncul dalam bentuk pertentangan antara individualisme
melawan kolektivisme, antara liberalisme melawan totalitarianisme, dan antara radikalisme melawan
konservatisme.

Semua pengutuban tersebut cenderung melihat realitas sebagai dualitas atau polaritas. Tetapi dualitas
dalam pandangan Barat cenderung menjadi dualisme yang diusahakan menjadi monisme, yaitu
pandangan yang serba satu. Misalnya hanya ada satu sumber pengetahuan yang sah, yaitu rasio saja
atau pengalaman empiris saja. Hanya ada satu realitas yang sungguh-sungguh ada, yaitu ide saja atau
materi saja. Sebagai akibatnya, muncul usaha untuk mendamaikan pertentangan itu lewat konsep
dualisme yang merangkul kedua kutub tersebut dan meletakkannya sama tinggi, tetapi tentu saja
dualisme itu tidak mantap, sebab memang kedua kutub itu memang tidak sama bobotnya.

Perkembangan paradigma psikologi modern di dunia Barat, sebenarnya tidak terlepas dari lingkaran dan
siklus pengutuban dualisme di atas. Psikoanalisa berada pada kutub manusia dari kutub ‘manusia-alam’,
dan berada pada kutub psikis pada kutub ‘fisik-psikis’, dan kutub subjektif dari kutub ‘subjektif-objektif’.
Sementara itu Behaviorisme berada pada kutub alam dari dualitas kutub ‘manusia-alam’, dan berada
pada kutub fisik dari dualitas kutub ‘fisik-psikis’, dan berada pada kutub objektif dari dualitas kutub
‘subjektif-objektif’. Kedua aliran psikologi ini,- Psikoanalisa dan Behaviorisme-, berada pada dua kutub
yang saling berseberangan dan bertentangan. Psikoanalisa berada pada ujung satu kutub ‘manusia-
psikis-subjektif’ dan Behaviorisme berada pada ujung yang lainnya, yaitu kutub ‘alam-fisik-objektif’.
Psikologi Humanistik hadir untuk mendamaikan pertentangan dan perbedaan dengan merangkul kedua
kutub paradigma psikologi tersebut dan meletakannya pada posisi yang sama tinggi. Sehingga
paradigma humanistik dari Psikologi Humanistik merupakan konsep integritas dualisme antara manusia-
alam. Sehingga dapat dijelaskan posisinya adalah sebagai gabungan atau persentuhan antara kedua
kutub tersebut. Jadi, paradigma humanistik adalah kesatuan manusia-alam, psikis-fisik, dan subjektif-
objektif. Ia membentuk satu kutub lainnya yang berada pada posisi yang horizontal dalam segi tiga
kutub paradigma.

Ketiga posisi paradigma psikologi tersebut,- Psikoanalisa, Behaviorisme, dan Humanistik-, berada pada
bidang datar. Ini disebabkan, ketiga kutub itu, sebenarnya menjelma dari dua kutub yang memiliki
kedudukan yang setara dan seimbang. Posisi paradigma fitrah sebagai paradigma Psikologi Islami berada
di atas ketiga kutub tersebut. Karena ia memiliki dimensi spiritual dan transendental yang berasal dari
Yang Maha Subjek dan Maha Objek, yaitu Allah yang berada di atas semua kutub tersebut. Sehingga
posisi paradigma fitrah adalah sebagai perantara dari yang subjek (manusia), yang objek (alam) dengan
yang Maha Subjek dan Maha Objek (yaitu Allah).

Dengan demikian, dapat dijelaskan bahwa ketiga paradigma psikologi modern, -Psikoanalisa,
Behaviorisme, dan Humanistik-, menafikan eksistensi Tuhan dalam wilayah paradigma. Ketiganya
berputar-putar dalam wilayah ‘manusia-alam’ dan subjektif-objektif’. Ringkasnya, Psikologi Barat
menafikan eksistensi Tuhan dan peranannya dalam wilayah paradigma ilmu pengetahuan (sains). Dalam
introduction buku Philosophers Who Believe, dijelaskan bahwa paradigma sains modern banyak diilhami
oleh teori-teori yang dilahirkan oleh Karl Marx (1234-1301 H/ 1818-1883 M), Sigmund Freud (1273-1356
H/ 1856-1939 M), Friederich Nietzshe (1260-1318 H/1884-1900 M), dan Charles Darwin (1224-1300
H/1809-1882 M). Mereka semua menolak eksistensi Tuhan dalam wilayah paradigma ilmu pengetahuan.

Psikologi kontemporer,- yaitu Psikoanalisa, Behaviorisme, Humanistik-, dapat dipandang sebagai refleksi
dari pandangan dan teori yang membidani konsep menafikan Tuhan tersebut. Di sisi lain, Psikologi Islami
menawarkan paradigma yang mengakui eksistensi dan peranan Tuhan dalam wilayah paradigma ilmu,-
paling tidak pada wilayah pure science atau filsafat sains-, dari paradigma psikologi Islami. Pengakuan
terhadap eksistensi dan peranan Tuhan dalam wilayah pure science ini sebenarnya telah mendapat
perhatian yang serius dari para filosof Barat sendiri sekitar awal tahun 1980-an. Mereka mengakui
adanya eksistensi Tuhan dan peranan-Nya di dalam dunia empirik, termasuk mempunyai peranan dalam
wilayah paradigma ilmu pengetahuan (sains). Tokoh lainnya,- sebenarnya cukup banyak-, namun
sebagai contoh saja cukup disebutkan beberapa nama yang populer; diantaranya adalah Seyyed Hossein
Nasr yang menjelaskannya dalam bukunya yang berjudul Tawhid and Science: Essays on the History and
Philosophy of Islamic Science. Oleh karena itu, adanya upaya Psikologi Islami mendudukkan persoalan
Tauhid (Tuhan) dalam wilayah paradigma ilmu pengetahuan bukanlah sesuatu yang baru bagi para
filosof dan para pakar lainnya, namun bentuk kongkretnya dalam konstruksi paradigma ilmu, khususnya
dalam bidang psikologi-, belum mencapai bentuk final.



Penutup

Dengan demikian, dapat dijelaskan bahwa posisi paradigma al-fitrah dalam peta paradigma psikologi
kontemporer adalah merupakan posisi menengah (wasatan). Posisi menengah dimaksudkan adalah
dalam hubungannya dengan keyakinan terhadap eksistensi dan peranan Yang Maha Objek dan Maha
Subjek, yaitu Tuhan. Psikologi kontemporer,- khususnya Psikoanalisa, Behaviorisme, dan Humanistik-,
hanya berputar-putar dalam lingkaran paradigma subjektif dan objektif atau gabungan keduanya.
Psikologi Islami berada di atas paradigma subjektif dan objektif, tetapi sekaligus juga berada di bawah
eksistensi Yang Maha Objek dan Maha Subjek, yaitu Tuhan. Sehingga dalam perspektif al-fitrah semua
tingkah laku manusia berputar-putar pada lingkaran nuansa subjektif (manusia), objektif (alam), dan
Yang Maha Subjektif dan Yang Maha Objektif,- yaitu Tuhan. Dinamika tingkah laku terjadi adalah sebagai
refleksi dari dominasi nuansa dari ketiga hal tersebut.




DAFTAR PUSTAKA



Al-Qur’an al-Karim.

Amstrong, R.B. “East-West Psychology.” dalam Raymond J. Cornisi (ed.) Encyclopedia of Psychology.
New York, Chicester, Brisbane, Toronto, Singapore: John Wiley & Sons, 1994, Edisi II, Volume 1, hlm. 45.

Atkinton, Rita. L., Ricard C. Atkinton., Ernest R. Hilgard. Introduction to Psychology. New York, San Diago,
Chicago, San Francisco, Atlanta, London, Sydney, Toronto: Arcourt Broce Jovonnorich Inc., 1981, Eighth
Edition.

Baharuddin, Aktualisasi Psikologi Islami, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005.

Benjafield, John G. A History of Psychology. Boston: Allyn and Bacon, 1996.
Benjafield, John. A History of Psychology. Boston: Allyn and Bacon, 1996.

Brown, Clerence W. and Edwin E. Ghiselli. Scientific Method in Psychology. New York: McGraw-Hill Book
Company Inc., 1995.

Clark, Kelly James. Philosophers Who Believe. Downers Grove, Illinois: Inter Varsity Press, 1993.

Crapp, Robert W. An Introduction to Psychology of Religion. Macan Georgia: Mercer University Press,
1986.

Daradjat, Zakiah. Ilmu Jiwa Agama. Jakarta: Bulan Bintang, 1996.

Gobel, Frank G. The Third Force: The Psychology of Abraham Maslow. New York: Washington Square
Press, 1971.

Goleman, Daniel. Emotional Intelligence. New York: Bantam Books, 1996.

Guilford, J.P. “Humanistic Psychology”. dalam Raymond J. Corsini (ed.) Encyclopedia of Psychology.
Volume II, hlm. 117.

Hendrick, Ives. Fact and Theories of Psychoanalysis. New York: A Delta Book, 1958.

James, William. The Variaties of Religious Experience. New York: Modern Library, 1902.

Khalil, A. Kafrawi. Spirityual Intelligence. Ontario: White Mountain, 2000.

Kuhn, Thomas Samuel. The Structure of Scientific Revolurtions. Chicago: Chicago University Press, 1970.

Langgulung, Hasan. “The Ummatic Paradigm of Psychology”. dalam Mizan: Islamic Forum for World
Culture and Civilization, Reluigion and the Spirit of World Peace. Volume III Number 2, 1990. hlm. 98-
115.

Maddi, Salvatore R. Personality Theories A Comparative Analysis. New York: The Dorsey Press, 1968.

Mannheim, Karl. Et. All. Sigmund Freud: An Introduction. London: Routledge & Kigan Paul Ltd., 1950.

Maslow, Abraham H. The Psychology of Science: A Reconnaissance. New York and London Publisher:
Harper & Row, Publishers, 1996.

Masterman, Margaret. “ The Nature of Paradugm”. Dalam Lakatos dan Musgrane. Criticism and the
Growth of Knowledge. (Cambridge: Cambridge University Pressm, 1984).

Morgan, Clifford T. A Brief Introduction to Psychology. New Delhi: Tata McGraw-Hill Publishing Company
Ltd., 1975.

Nasr, Sayyed Hossein. Knowledge and Sacred. Diterjemahkan oleh Suharsono, dkk. Pengetahuan dan
Kesucian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997.
Nataatmadja, Hidayat. Krisis Manusia Modern, Agama-Filsafat-Ilmu. Surabaya: Al-Ikhlas, 1994.

Purwanto, Yadi, Epistemologi Psikologi Islami, Bandung: Refika Aditama, 2007.

Qadir, C.A. Philosophy and Science in the Islamic World. London: Croom Helm Limited, 1988.

Rahmat, Jalaluddin. “Psikologi dan Agama: Bersaudara atau Bermusuhan.” Dalam Makalah Seminar
Nasional Psikologi dan Agama, Diselenggarakan oleh Ikatan Sarjana Psikologi Universitas Pajajaran
Bandung di Bandung pada tanggal 14 Oktober 2000, hlm. 4.

Sarlito, Wirawan Sarwono. Berkenalan dengan Aliran-aliran dan Tokoh-tokoh Psikologi. Jakarta: Bulan
Bintang, 1978, Cet.

Wuff, David M. Psychology of Religion: Classic and Contemporary Views. New York, Chicester, Brisbane,
Toronto, Singapore: John Wiley & Sons, 1990.

Zohar, Danah dan I Marshal. Connecting with Our Spiritual Intelligence. New York: Blommsbury, 2000.

				
DOCUMENT INFO
Categories:
Tags:
Stats:
views:291
posted:4/14/2012
language:Malay
pages:14