DEFINISI PSIKOLOGI AGAMA

W
Categories
Tags
-
Stats
views:
349
posted:
4/14/2012
language:
Indonesian
pages:
26
Document Sample
scope of work template
							DEFINISI PSIKOLOGI AGAMA




 1. PENGERTIAN PSIKOLOGI




Telah kita kenal Psikologi adalah “ Ilmu Jiwa” istilah psikologi berasal dari bahasa
Inggris “Psychology” merupakan dua akar kata yang bersumber dari bahasa greek (
yunani ) yaitu psych yang artinya jiwa dan logos yang artinya “ Ilmu jiwa”




Menurut Bruno ( 1987) dalam Syah (1996:8) membagi pngertian psikologi menjadi tiga
bagian yang pada prinsipnya saling berkaitan




 1. Psikologi adalah studi mengenai Ruh

 2. Psikologi adalah ilmu pengetahuan mengenai kehidupan mental.

 3. psikologi adalah ilmu pengetahuan menganai perilaku organisme.




Sarwono ( 1976) juga mengamukakan beberapa definisi psikologi.




 1. Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dan hewan.

 2. psikologi adalah studi yang mempelajari hakikat manusia.
 3. psikologi adalah ilmu yang mempelajari respon yang diberikan oleh makhluk hidup
terhadap lingkungannya.




Sujito (1985-1) menyatakan bahwa psikologi adalah ilmu yang mempelajari atau
menyelidiki pernyataan – pernyataan jiwa




Jadi dari beberapa definisi diatas dapat dirumuskan bahwa psikologi adalah ilmu
pengetahuan yang mempelajari tingkah laku individu ( manusia ) dalam interaksi
dengan lingkungannya.




Psikologi secara umum mempelajari gejala kejiwaan manusia yang berkaitan dengan
pikiran ( cognisi ), perasaan ( emotion ) dan kehendak ( conasi )




Psikologi secara umum dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari gejala jiwa
manusia yang normal , dewasa dan beradab ( jalaluddin, et, al, 1979.77 )




Menurut Robert H. Thouless Psikologi sekarang dipergunakan secara umum untuk ilmu
tentang tingkah laku dan pengalaman manusia .




Jadi definisi psikologi secara umum yaitu meneliti dan mempelajari kejiwaan yang ada
dibelakangnya. Karena jiwa itu sendiri bersifat abstrak.
 2. PENGERTIAN AGAMA




Agama adalah masalah yang mneyangkut dengan masalah yang berhubungan dengan
kehidupan batin manusia. Agama sebagai bentuk keyakinan memang sulit untuk diukur
secara tepat dan rinci.




Agama mengandung arti ikatan yang harus dipegang dan dipatuhi oleh manusia.

Secara definitive menurut harun nasution agama adalah :




 1. Pengakuan terhadap adanya hubungan manusia dengan kekuatan ghaib yang
harus dipatuhi.

 2. pengakuan terhadap adanya kekuatan ghaib yang menguasai manusia.

 3. mengikat dari ada suatu bentuk hidup yang mengandung pengakuan pada suatu
sumber yang berada diluar diri manusia dan yang mempengaruhi perbuatan –
perbuatan manusia.

 4. kepercayaan pada suatu kekuatan ghaib yang menimbulkan cara hidup tertentu

 5. suatu system tingkah laku ( ade of conduct ) yang berasal dari sesuatu kekuatan
ghaib.

 6. Pengakuan terhadap adanya kewajiban – kewajiban yang diyakini bersumber pada
suatu kekuatan ghaib

 7. pemujaan terhadap kekuatan gaib yang timbul dari perasaan lemah dan perasaan
takut terhadap kekuatan misterius yang terdapat pada alam sekita manusia.
  8. ajaran – ajaran yang diwahyukan tuhan kepada manusia melalui seorang rasul (
Harun Nasution)




  3. PENGERTIAN PSIKOLOGI AGAMA




Dari pengertian psikologi dan pengertian agama . dapat disimpulkan bahwa pengertian
psikologi agama adalah ilmu yang mempelajari gejala – gejala kejiwaan manusia yang
berkaitan dengan pikiran , perasaan dan kehendak yang bersifat abstrak yang
mneyangkut dengan masalah yang berhubungan dengan kehidupan bathin ,manusia
yang mempengaruhi perbuatan – perbuatan manusia dan menimbulkan cara hidup
manusia atau ajaran – ajaran yang diwahyukan tuhan kepada Mnusia melalui seorang
rasul.




Menurut Prof Dr. Zakiah Daradjat. Psikologi agama adalah cabang dari psikologi yang
meneliti dan menelaah kehidupan beragama pada seseorang dan mempelajari
seberapa besar pengaruh keyakinan agama itu dalam sikap dan tingkah laku serta
keadaan hidup pada umumnya.




Jadi dapat disimpulkan bahwa psikologi agama, adalah ilmu yang mempelajari tingkah
laku makhluk hidupmengenai kehidupan beragama pada seseorang dan mempelajari
seberapa besar pengaru keyakinan beragama serta keadaan hidup pada umumnya.
  4. Pengertian psikologi agama ini diambil dari Buku Psikologi Agama . Karangan Prof.
Dr. H. Jalaluddin edisi 1 revisi 2005.
PSIKOLOGI ISLAM: Paradigma Fitrah dalam Peta Paradigma Psikologi Modern

Oleh Prof. Dr. BAHARUDDIN, M.Ag.

(Guru Besar Psikologi Islam STAIN Padangsidimpuan)




Pendahuluan

Suatu hal yang tidak dapat dipungkiri adalah bahwa pendidikan memiliki hubungan
yang sangat erat dengan psikologi. Pendidikan adalah proses ‘memanusiakan’
manusia, dalam arti pendidikan adalah proses panjang untuk mengaktualkan seluruh
potensi diri manusia, sehingga seluruh potensi kemanusiaannya menjadi aktual. Dalam
proses mengaktualkan potensi manusia diperlukan pengetahuan tentang keberadaan
potensi dan situasi serta lingkungan yang tepat untuk mengaktualkannya. Pengetahuan
tentang diri manusia dengan segala permasalahannya dibicarakan dalam psikologi.
Demikianlah eratnya hubungan antara psikologi dengan pendidikan.

Dalam dunia pendidikan Islam, telah terjadi kondisi yang aneh tapi nyata. Dikatakan
aneh, karena dunia pendidikan Islam telah demikian berkembang pesat, baik secara
teoritis maupun praktis. Bahkan dapat dikatakan dunia pendidikan Islam telah
mengalami perkembangan dan kemajuan demikian pesat. Nah, perkembangan yang
demikian pesat itu, tidak dilandasi dengan psikologi Islam. Padahal, landasan
pengembangan pendidikan adalah psikologi. Permasalahannya, apa landasan
pengembangan pendidikan Islam selama ini, yang pasti bukan psikologi Islam. Mungkin
selama ini, pendidikan Islam “berinduk semang” dengan psikologi Barat (sekuler),
meskipun kita tidak menyadarinya. Mengapa tidak dibangun saja “induk” pendidikan
Islam yang memang benar-benar “kandung”. Sehingga dapat dilahirkan generasi Islam
yang memang betul-betul memiliki “bapak dan ibu kandung”.

Pendidikan Islam selama ini banyak mendasarkan teori dan konsepnya pada psikologi
Barat, meskipun mereka tidak mengetahuinya. Sebut saja, sebagai contoh,
Psikoanalisa dan Behaviorisme. Kedua aliran psikologi ini memandang diri manusia
berbeda dengan pandangan Islam. Psikoanalisa memandang manusia sebagai
generasi langsung dari binatang, sehingga manusia mewarisi sifat khas binatang, yaitu
nafsu yang mereka sebut dengan libido. Seluruh tingkah laku manusia adalah proses
dinimika hubungan libido dengan lingkungan. Behaviorisme memandang manusia
sebagai makhluk yang memiliki jiwa, namun sejak awal kelahirannya ke dunia, jiwa
manusia itu kosong, bagaikan kertas putih. Lingkungan merupakan faktor utama yang
menentukan tingkah laku manusia.

Islam sebagai ajaran memiliki konsep yang berbeda dengan kedua konsep dasar
psikologi tersebut. Manusia dalam pandangan Islam memiliki potensi luhur yang
merupakan anugerah Allah, yaitu potensi fitrah dan ruh. Kedua potensi ini tidak
terjamah dalam psikologi Barat. Di sisi lain, pendidikan Islam, pada hakekatnya adalah
proses aktualisasi kedua potensi luhur itu. Lalu, bagaimana landasan psikologi yang
tidak mengakui kedua potensi itu dapat dijadikan landasan pengembangan potensi
tersebut. Demikianlah, nasib pendidikan Islam selama ini.

Berdasarkan itu, sudah saatnya, pendidikan Islam memiliki landasan psikologi Islam.
Sehingga “kawin silang” atau “kawin kontrak” antara psikologi sekuler dengan
pendidikan Islam selama ini dapat dihentikan. Tentunya dari proses “kawin silang” itu
telah lahir generasi model baru yang tidak murni Islam dan juga tidak sekuler, lalu apa?
Itulah yang kita temukan sekarang ini. Keperibadian mereka terpecah, spilit personality
melanda generasi Muslim.
Belakangan ini telah lahir upaya-upaya ke arah pembangunan psikologi Islam. Telah
banyak berlahiran karya-karya cemerlang dan pikiran-pikiran bernas. Seiring dengan
itu, berbagai kritikan juga telah meramaikan bursa pemikiran psikologi Islam.




Pengertian Psikologi Islam

Sebelum dijelaskan tentang psikologi Islam, perlu terlebih dahulu diuraikan tentang
pengertian psikologi. Psikologi berasal dari dua kata bahasa Inggris psyche yang berarti
jiwa dan logy atau logos yang berarti ilmu. Jadi, secara bahasa psikologi adalah ilmu
jiwa. Dalam bahasa Arab disebut dengan ilmunnafsi, demikian juga dalam bahasa
Indonesia disebut dengan ilmu jiwa.

Pengertian bahasa itu, berbeda dengan pengertian dalam psikologi sebagai sains.
Psikologi sebagai sains, mentaati prinsip-prinsip dan aturan sains. Diantaranya adalah
logis, sistematis, objektif, empiris, kongkret, tentatif, dan lain-lain. Jika dilihat dari sisi
objeknya yang kongkret, maka ilmu jiwa berarti ilmu yang mengkaji jiwa. Jiwa itu
abstrak lawan dari kongkret. Jadi, sebenarnya psikologi bukan ilmu tentang jiwa, sebab
jiwa tidak kongkret. Oleh karena itu yang dikaji dalam psikologi bukan jiwa tetapi gejala
jiwa. Gejala jiwa itu adalah tingkah laku. Jadi, psikologi adalah ilmu yang mempelajari
tingkah laku.

Psikologi mempelajari tingkah laku secara umum, karena itu disebut psikologi umum.
Tingkah laku yang berhubungan dengan satu aspek kehidupan, maka muncul cabang
psikologi. Psikologi pendidikan membicarakan tingkah laku yang berhubungan dengan
pendidikan; Psikologi Agama membicarakan tingkah laku manusia dalam hubungannya
dengan Tuhan (agama); Psikologi sosial membicarakan tingkah laku manusia dalam
hubungannya dengan situasi dan kelompok sosial, demikian seterusnya bermunculan
cabang psikologi.

Psikologi Islam bukan cabang psikologi karena psikologi Islam tidak membicarakan
tingkah laku yang merupakan satu aspek kehidupan. Namun, psikologi Islam adalah
aliran dalam psikologi yang menawarkan cara pandang tentang manusia dan tingkah
lakunya. Sebagaimana aliran psikologi lainnya, seperti Psikoanalisa, behaviorisme,
humanistik, dan transpersonal, maka psikologi Islam juga memiliki cara pandang
tentang manusia dan tingkah laku manusia secara tersendiri.

Banyak para ahli yang telah menawarkan rumusan psikologi Islam. Salah satunya
adalah Baharuddin yang menyatakan, Psikologi Islam adalah ilmu yang membicarakan
tingkah laku manusia berdasarkan cara pandang Islam tentang manusia dalam
bertingkah laku ketika berhubungan dengan diri, lingkungan, dan Tuhannya.




Persentuhan Psikologi dengan Agama

Sejarah persentuhan agama dengan psikologi mengalamai pasang surut. Bentuk
persentuhan itu sangat dipengaruhi oleh model dan metodologi serta pergeseran
paradigma yang dipergunakan psikologi. Pergeseran itu telah mewarnai pandangan
psikologi tentang prilaku beragama. Pada priode awal pola persentuhan itu mengambil
bentuk hubungan dimana teori psikologi digunakan sebagai pisau analisis dalam
membedah perilaku beragama. Menjelang awal abad ke 21 ini pola hubungan itu
mengambil bentuk lain, dimana teori psikologi dilahirkan dari pemahaman terhadap
perilaku beragama.

Perubahan itu, seakan membalikkan pola hubungan sebelumnya. Hubungan
sebelumnya saling “bermusuhan” sampai masa sekarang ini seakan-akan keduanya
berhubungan “mesra”.




Dari “Bermusuhan” ke “Bermesraan”

Berdasarkan perkembangan persentuhan keduanya, baik secara positif maupun
negatif, dapat dibedakan kepada empat priode perkembangan.
Priode pertama berlangsung sekitar paruh kedua abad ke-19. Sejarah menceritakan
bahwa psikologi sebagai sains dimulai sekitar tahun 1879 ketika Wilhelm Wundt (1248-
1339 H/1832-1920 M) dari Universitas Leipzig di Jerman mendirikan Laboratorium
untuk menganalisis tingkah laku manusia dan binatang melalui metode eksperimen.
Pada priode awal ini, ciri utama perkembangan psikologi adalah pengembangan
psikologi secara observasi dan eksperimen di laboratorium. Perhatian utama tertuju
kepada tingkah laku manusia secara umum. Pada saat itu, perilaku agama tidak
mendapat perhatian yang serius. Robert W. Crapps (…-…H/…-…M) menjelaskan
“During the formative decades of scientific psychology, religion did not occupy a
significant place in the concern of researchers.” Artinya: selama priode pembentukan
psikologi sebagai sains, agama tidak mendapat tempat yang penting dalam perhatian
peneliti. Ringkasnya, bahwa persentuhan agama dan psikologi belum menemukan
wujudnya pada priode awal ini.

Priode kedua berlangsung pada akhir abad ke-19 sampai awal abad ke-20. Ciri utama
priode ini adalah adanya usaha-usaha dari para psikolog untuk mengkaji dan
menafsirkan perilaku beragama berdasarkan konsep dan teori psikologi. Pada priode ini
istilah “psychology of religion” (psikologi agama) sudah menjadi salah satu cabang
dalam psikologi dengan objek kajian perilaku beragama. Pada priode kedua ini ada tiga
tokoh utama yang dipandang sebagai orang yang berjasa besar dalam melahirkan
Psikologi Agama. Ketiga tokoh itu masing-masing adalah Edwin Diller Starbuck, James
H. Leuba, dan William James (1258-1328 H/ 1842-1910 M).

Edwin Diller Starbuck pada tahun 1899 menulis buku berjudul: The Psychology of
Religion: An Empirical Study of The Growth of Religious Counsciousness. Buku ini
merupakan hasil penelitian tentang pertumbuhan perasaan beragama di bawah
bimbingan William James (1258-1328 H/ 1842-1910 M). Sebenarnya, menurut Zakiah
Daradjat (1348-... H/1929-… M), Starbuck adalah murid William James (1258-1328 H/
1842-1910 M), namun dalam bidang Ilmu Jiwa Agama, karya Starbuck tersebutlah yang
menjadi titik awal berkembangnya penelitian di bidang psikologi agama. Penelitian
William James (1258-1328 H/ 1842-1910 M) sendiri semakin mendalam dalam bidang
perilaku beragama, justru setelah karya Starbuck tersebut diterbitkan. Jadi Edwin Diller
Starbuck pantas dianggap sebagai tokoh perintis Psikologi Agama.

James H. Leuba juga dipandang sebagai tokoh perintis Psikologi Agama. Menurut
Zakiah Daradjat (1348-... H/1929-… M) hasil penelitiannya pernah diterbitkan pada
Majalah di Monist Volume XI Januari 1901 dengan judul Introduction to a Psychological
Study of Religion. Kemudian dikembangkan menjadi sebuah buku yang diterbitkan
pada tahun 1912 berjudul A Psychological Study of Religion. Dalam penelitiannya itu,
James H. Leuba menggunakan pendekatan fisik-biologis dalam menjelaskan fenomena
agama. Misalnya, dikemukakannya persamaan antara orang yang fana` dalam mistik
dengan seorang yang kena pengaruh minuman keras.

Tulisan dan hasil penelitian lainnya yang paling berharga dalam Psikologi Agama
adalah karya William James (1258-1328 H/ 1842-1910 M) berjudul The Variaties of
Religious Experience yang ditulis pada tahun 1902. Buku ini merupakan bahan-bahan
persiapan untuk memberikan kuliah tentang agama alamiah (natural religion) di
Universitas Edinburgh. Uraian-uraian dalam buku tersebut berdasarkan hasil
penelitiannya terhadap catatan pengalaman orang-orang penting tentang agama.
Dalam uraiannya, William James (1258-1328 H/ 1842-1910 M) membuat perbedaan
perilaku beragama kepada dua bentuk perilaku beragama, yaitu agama institusional
(institutional religion) dengan agama pribadi (personal religion). Agama institusional
adalah perilaku beragama dalam bentuk lembaga, organisasi, sekte-sekte, struktur
sosial, dan lain-lain. Agama pribadi adalah penghayatan terdalam dan pengalaman
spiritual yang bersifat pribadi. Menurut Zakiah Daradjat (1348-... H/1929-… M) karya
William James (1258-1328 H/ 1842-1910 M) itulah yang membangkitkan semangat
para psikolog untuk mengadakan penelitian-penelitian tentang perilaku beragama. Pada
tahun 1904 terbit majalah The Journal of Religious Psychology dan kemudian menyusul
pula The American Journal of Psychology of Religion and Education menyusul karya
William James (1258-1328 H/ 1842-1910 M) tersebut. Jadi, pantaslah, jika William
James dipandang sebagai tokoh perintis Psikologi Agama.
Priode ketiga berlangsung sejak tahun 1930 sampai dengan sekitar tahun 1950-an.
Priode ini adalah priode kemerosotan hubungan agama dengan psikologi. Artinya, pada
rentangan tahun-tahun ini, para psikolog tidak mengarahkan perhatiannya pada
perilaku beragama. Ada dua faktor utama yang menyebabkan hal itu. Pertama, pada
rentangan tahun-tahun tersebut psikologi cenderung semakin positivistik dan
behavioristik. Telaah psikologi terarah pada tingkah laku objektif, yaitu tingkah laku
yang dapat diobservasi dan dapat diukur. Sehingga tidak memberikan ruang pada
tingkah laku di luar metode positivistik dan behavioristik. Akibatnya, perilaku agama
tidak menjadi objek kajian. Kedua, para ahli agama memanfaatkan situasi itu untuk
membentengi iman umatnya dengan cara menjauhkan diri dan menolak temuan-
temuan sains modern. Akibatnya, terjadilah hubungan yang saling acuh dan menafikan
antara agama dengan psikologi.

Kecuali itu, masih dapat dikemukakan tiga faktor lainnya. Pertama, adanya rasa acuh
tak acuh baik dari ahli agama maupun psikolog. Kedua, banyaknya ahli agama yang
tidak yakin bahwa hasil dan kesimpulan yang diperoleh dari studi agama secara
psikologis akan memberikan hasil dan kesimpulan yang akurat. Mereka yakin perilaku
agama tidak dapat diteliti secara ilmiah. Ketiga, banyak psikolog yang sangat berhati-
hati dengan perkara yang transendental, seperti keyakinan dan agama. Kesemuanya ini
menyebabkan hubungan agama dengan psikologi mengalami masa ‘sakit’. Ringkasnya,
pada priode ini hubungan agama dengan psikologi tidak saling menghargai, tetapi
menganggap masing-masing dirinya benar dan menolak kebenaran yang lain.

Priode keempat dimulai sekitar tahun 1960-an M dan masih berlangsung sampai
dengan sekarang (2007 M). Pada priode ini, pengembangan psikologi mengarah pada
usaha-usaha untuk menjadikan nilai, budaya, dan agama, sebagai objek kajian
psikologi dan juga sekaligus sebagai sumber inspirasi bagi pembangunan teori-teori
psikologi. Dengan kata lain, hubungan agama dengan psikologi kembali bersemi.

Pada priode terakhir ini, lahir Psikologi Humanistik dan Psikologi Transpersonal. Kedua
psikologi ini sering disebut sebagai kekuatan ketiga (the third force) dalam psikologi.
Objek telaahan kedua psikologi ini adalah kualitas-kulitas khas kemanusian, berupa:
pikiran, perasaan, kemauan, kebebasan, kemampuan potensi luhur jiwa manusia, dan
lain-lain.

Pada penghujung abad ke-20 ini muncul tema-tema baru dalam psikologi. Diantara
tema tersebut adalah spiritual intelligence (kecerdasan spiritual) dan emotional
intelligence (kecerdasan emosional). Ciri utama orang yang memiliki kecerdasan
spiritual adalah adanya keinginan untuk memberi konstribusi bagi umat manusia.
Kesalehan adalah kemampuan untuk berkhidmat pada orang lain, menghibur orang
yang mendapat musibah, memberi makan fakir-miskin, menyayangi sesama manusia,
dan lain-lain. Kebalikannya, disebut dengan spiritual dumb. Ciri utamanya adalah
merasa diri paling saleh, memonopoli kebenaran agama pada dirinya atau
kelompoknya, menolak dan merendahkan paham keagamaan orang lain, dan lain-lain.
Kecerdasan emosional adalah bagian penting dalam jiwa manusia, yang selama ini
telah diabaikan dalam wacana psikologi. Emosi sangat menentukan bahagia atau
menderitanya seseorang. Emosi juga melindungi manusia dari berbagai bahaya. Emosi
adalah hasil perkembangan evolusi manusia yang paling lama, dan emosi terpusat
pada bagian salah satu otak manusia. Demikian ungkap Daniel Goleman dalam
bukunya berjudul Emotional Intelligence. Pada bagian lain, dia menjelaskan bahwa
yang menentukan sukses kehidupan manusia, bukan rasio, tetapi emosi. Dari hasil
penelitiannya, dia menemukan situasi yang disebutnya when smart is dumb, Artinya
ketika orang cerdas jadi bodoh. Dia menemukan orang Amerika yang memiliki
kecerdasan (IQ) 125 umumnya bekerja pada orang yang memiliki kecerdasan (IQ) rata-
rata 100. Artinya, orang yang cerdas umumnya menjadi pegawai pada orang yang lebih
bodoh dari dia. Jarang sekali orang yang cerdas secara intelektual sukses dalam
kehidupan. Malahan orang-orang biasalah yang sukses dalam kehidupan. Jadi, apakah
yang menentukan kesuksesan dalam kehidupan ini? Jawabnya adalah bukan
kecerdasan intelektual, tetapi kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional ditandai
dengan kemampuan mengendalikan emosi dan menahan diri. Orang yang paling
mampu mengendalikan emosi dan menahan diri adalah orang yang paling tinggi
kecerdasan emosionalnya. Dalam Islam, konsep yang demikian disebut dengan sabar.
Orang sabar, tabah, tekun, ulet, pantang menyerah, optimis, dan tidak memperturutkan
emosinya.

Berdasarkan itu, Jalaluddin Rahmat (1368-… H/1949-… M) menjelaskan bahwa
Psikologi Transpersonal bukan saja mengembangkan kehidupan beragama, tetapi juga
menerima sumbangan dari padanya. Tradisi mistikal dari berbagai agama: Zen
Budhism, Yoga, Sufisme, Kabbalah, Shamanism, Tradisi mistik Kristen, dan lain-lain
telah menjadi pusat penelitian dan sumber inspirasi pengembangan Psikologi
Transpersonal ini.

Demikianlah, pada priode keempat ini, terlihat dengan jelas hubungan yang saling
mengisi dan membutuhkan antara agama dan psikologi. Kondisi ini dapat menjadi
peluang sekaligus juga tantangan bagi kita umat Islam, apakah kita mampu melahirkan
konsep-konsep psikologi yang dapat diandalkan untuk kemaslahatan umat manusia
pada masa sekarang ini dan akan datang? Konon ceritanya, Islam adalah agama untuk
segala zaman dan tempat. Kalau demikian, mengapa tidak? Islam harus menyodorkan
konsep-konsepnya bagi kemaslahatan umat manusia. Salah satu kontribusinya adalah
menyajikan paradigma psikologi dari sumber ajarannya.




Paradigma Psikologi Modern

1. Paradigma Mekanistik

Paradigma mekanistik adalah paradigma yang menjunjung tinggi prinsip-prinsip atau
hukum-hukum kausalitas dalam memahami manusia. Manusia dipandang sebagai
objek dalam relasi ‘manusia-alam’. Manusia menjadi tunduk kepada pengalaman,
bahkan isi jiwa manusia itu sendiri adalah kumpulan pengalaman. Manusia menjadi
mekanistik, determenistik, dan pessimistik.

Psikoanalisa dan Behaviorisme berada pada paradigma mekanistik ini. Persoalan
fundamental yang diyakini sebagai wilayah yang sangat berperan dalam menentukan
tingkah laku manusia bagi Psikoanalisa adalah unconsciousness (ketidak sadaran).
Wilayah ini,- unconsciousness (ketidak sadaran)-, merupakan wilayah yang paling luas
dari ketiga wilayah kesadaran manusia yang diyakini dan diakui oleh Psikoanalisa.
Ketiga wilayah kesadaran tersebut adalah consciousness (kesadaran),
preconsciousness (ambang sadar), dan unconsciousness (ketidak sadaran). Ketiga
wilayah kesadaran ini dapat digambarkan sebagai gunung es di dalam lautan luas.
Wilayah consciousness (kesadaran) adalah puncaknya, sementara preconsciousness
(ambang sadar) adalah persentuhan antara gunung dengan permukaan air, sedangkan
unconsciousness (ketidak sadaran) adalah gunung es yang sangat luas yang tidak
terlihat karena tenggelam di dalam lautan air. Bagi Psikoanalisa, semua tingkah laku
manusia berhubungan dengan wilayah unconsciousness (ketidak sadaran) ini. Tingkah
laku manusia memiliki korespondensi dengan isi unconsciousness. Isi unconsciousness
itu adalah dimensi id dan pengalaman-pengalaman troumatis manusia khususnya masa
kanak-kanak. Oleh karena itu, Psikoanalisa dalam merumuskan, menjelaskan,
menginterpretasikan, dan memprediksikan, tingkah laku manusia selalu merujuk
kepada peranan wilayah unconsciousness ini. Untuk menemukan dan mengungkapkan
akar terdalam dari tingkah laku manusia yang berada dalam wilayah unconsciousness
ini, Psikoanalisa menggunakan beberapa macam metode. Metode-metode tersebut
adalah hypnotis, intropeksi, atau retropeksi, dan analisis mimpi. Ringkasnya, bahwa
persoalan fundamental objek telaahan dan keyakinan dasar Psikoanalisa dalam
memahami, merumuskan, menginterpretasi, dan memprediksi tingkah laku manusia
adalah unconsciousnes. Dengan demikian paradigma Psikoanalisa adalah paradigma
unconsciousness (ketidak sadaran).

Berdasarkan asumsi-asumsi inilah, Psikoanalisa memahami, menjelaskan, dan
memprediksi tingkah laku manusia. Jadi, tingkah laku manusia merupakan proses
mekanistik untuk memuaskan sejumlah energi internal diri manusia. Ringkasnya,
paradigma Psikoanalisa adalah paradigma mekanistik.

Berbeda dengan Psikoanalisa yang memfokuskan perhatian pada wilayah
unconsciousness. Behaviorisme memusatkan perhatiannya pada wilayah objektifitas.
Behaviorisme memandang Psikoanalisa sebagai teori yang sangat spekulatif dan tidak
ilmiah. Penjelajahan terhadap wilayah unconsciousness dengan menggunakan metode
hipnotis, intropeksi, retropreksi, dan analisis mimpi, merupakan metode yang
menggambarkan spekulatif-subjektif. Sebab,- menurut Behaviorisme-, metode-metode
itu tidak didukung oleh bukti-bukti empiris dan data-data faktual. Oleh karena itu
Behaviorisme menetapkan paradigma objektif dalam psikologi. Paradigma objektif
menekankan pada data-data yang dapat diuji secara faktual dan berdasarkan
pengalaman (empiris). Behaviorisme yakin dan percaya bahwa seluruh tingkah laku
manusia dapat dipahami (understanding), dirumuskan (formulasi), dan diprediksi
(prediction), berdasarkan pandangan objektif. Maka rumusan tingkah laku bagi
Behaviorisme merupakan hubungan stimulus-respon-bond. Pada dataran faktual-
objektif ini tingkah laku manusia tidak berbeda dengan tingkah laku binatang. Inilah
yang menyebabkan mereka meneliti tingkah laku binatang untuk memahami,
merumuskan, bahkan untuk memprediksi tingkah laku manusia. Maka muncullah teori-
teori dari Behaviorisme, seperti classical conditioning (pembiasaan klasik) oleh Ivan
Petrovich Pavlov (1266-1355 H/ 1849-1936 M) dan J.B. Watson (1226-1378 H/ 1878-
1958 M), Law of effect (hukum dari akibat) oleh Edward Lee Thondike (1291-1369
H/1874-1949 M), Operant Conditioning (pembiasaan operant) dari B.F. Skinner (1322-
1411 H/ 1904-1990 M), dan Modelling (pentauladanan) yang dikembangkan oleh Albert
Bandura (1344-…H/ 1925-…M). Semua teori-teori ini merupakan upaya memahami
tingkah laku manusia melalui eksperimen terhadap binatang di laboratorium.

Ringkasnya, bahwa paradigma Behaviorisme adalah paradigma ‘mekanistik-objektif’.
Paradigma ‘mekanistik-objektif’ adalah keyakinan mendasar terhadap fakta-fakta yang
aktual, kongkret, dan menyentuh wilayah empiris-sensoris dalam memahami,
menginterpretasi, memformulasi, dan memprediksi, tingkah laku manusia. Kecuali itu,
paradigma ‘mekanistik-objektif’ berarti fokus bahasan dalam Behaviorisme adalah data-
data objektif. Hal-hal yang tidak berdasarkan data-data faktual selalu dihindari.

Berdasarkan itu, jelaslah bahwa paradigma Behaviorisme adalah paradigma
mekanistik. Semua tingkah laku manusia merupakan proses mekanistik stimulus dan
respon. Manusia bagaikan mesin besar yang selalu siap memberikan respon terhadap
stimulus yang menyentuhnya.
2. Paradigma Humanistik

Sementara itu, Psikologi Humanistik,- yang tumbuh sekitar pertengahan abad ke-20-,
memandang Psikoanalisa telah menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan. Behaviorisme, -
menurut Humanistik-, dalam memandang manusia bersifat mekanistik, determenistik,
dan otomatistik, sehingga menyebabkan manusia kehilangan kemanusiaannya.
Manusia menjadi dehumanistik dan inpersonality. Maka Psikologi Humanistik lahir untuk
membela nilai kemanusiaan. Maka muncullah paradigma humanistik (paradigma
kemanusiaan) dalam psikologi.

Berdasarkan paradigma kemanusiaan ini muncullah teori-teori personality and
motivation (kepribadian dan motivasi) oleh William James (1258-1328 H/ 1842-1910 M)
yang kemudian dikembangkan oleh Gordon W. Allport (1315-1387 H/1897-1967 M);
client-centered-approarch (pendekatan yang berpusat pada klien) dalam menangani
masalah terapi oleh Carl Rogers (1330-1408 H/1902-1987 M), self actualization
(aktualisasi diri) oleh Abraham H. Maslow (1326-1390 H/ 1908-1970 M), dan teori the
will to meaning (kehendak untuk hidup bermakna) oleh Victor Frankl (1323-…H/1905-
…M) dalam logoterapi-nya yang sering digolongkan sebagai Psikologi Transpersonal.
Semua teori ini berdasarkan kepada pandangan kemanusiaan. Manusia adalah
makhluk unik yang harus dipahami secara holistik dari dimensi somatis (raga), psikis
(jiwa), dan noetik (spiritual). Kecuali itu, eksistensi manusia berbeda dengan eksistensi
lainnya. Karakteristik eksistensi manusia dapat disimpulkan pada adanya; spirituality
(kerohanian), freedom (kebebasan), dan responsibility (tanggung jawab). Untuk
memahami, menginterpretasi, memformulasi, dan memprediksi, tingkah laku manusia
harus dirujuk kepada konsep-konsep manusia secara holistik seperti yang diuraikan di
atas.

Jadi, ringkasnya bahwa paradigma Psikologi Humanistik adalah paradigma
kemanusiaan. Paradigma humanistik memandang bahwa manusia adalah makhluk
khas, unik, yang harus dipahami secara holistik. Manusia memiliki raga, jiwa, dan
spiritual dan eksistensinya sebagai manusia memiliki karakteristik spirituality, freedom,
dan responsibility. Paradigma ini mengakui bahwa tingkah laku manusia merupakan
produk bebas pikiran, perasaan, dan kemauan manusia. Kebebasan dalam segala hal,
terutama menentukan pilihan tingkah lakunya berdasarkan pikiran, perasaan, dan
kemauannya.




3. Paradigma Fitrah

Sementara itu, Psikologi Islami memandang bahwa Psikologi Humanistik terlalu optimis
terhadap manusia. Manusia dianggap sebagai berkuasa penuh terhadap dirinya dan
menafikan dimensi lain yang turut serta dalam membentuk dan menentukan dirinya.
Menurut Psikologi Islami manusia selalu dalam proses berhubungan dengan alam
(nature), manusia (sosial), dan Tuhan. Ketiga hal ini turut memberikan andil dalam
membentuk tingkah laku manusia. Ini sejalan dengan dimensi-dimensi yang ada di
dalam diri manusia. Untuk memahami, menginterpretasi, memformulasi, dan
memprediksi, tingkah laku manusia harus senantiasa memandangnya dalam hubungan
yang seimbang dengan alam, manusia, dan Tuhan, seperti yang dijelaskan di atas.
Jelasnya, bahwa menurut Psikologi Islami, ada sesuatu yang hilang dari Psikologi
Humanistik dalam memandang manusia yaitu eksistensi Tuhan. Kecuali itu, menurut
Psikologi Islami, bahwa Psikologi Humanistik, dalam memandang dimensi manusia
belum sepenuhnya sempurna. Dua dimensi terpenting dalam hubungannya dengan
esensi dan eksistensi manusia luput dari jangkauan Psikologi Humanistik,- apa lagi
Psikoanalisa dan Behaviorisme. Kedua dimensi terpenting itu adalah dimensi al-ruh dan
dimensi al-fitrah. Dimensi al-ruh beraktualisasi sebagai khalifah sementara dimensi al-
fitrah beraktualisasi sebagai ‘abid dalam konteks ‘ibadah. Manusia dalam hubungannya
dengan alam adalah sebagai aktualisasi khalifah, sementara dalam hubungannya
dengan Allah adalah sebagai aktualisasi peran ‘ibadah. Manusia senantiasa dalam
putaran hubungan kedua peran ini,- yaitu peran khalifah dan ‘ibadah.

Jadi, jelaslah bahwa dalam pandangan Psikologi Islami bahwa tingkah laku manusia
bukanlah hanya sebatas keinginan manusia untuk mengaktualisasikan dirinya seperti
dalam Psikologi Humanistik. Tetapi tingkah laku manusia juga merupakan aktualisasi
dari rentangan dari rangkaian keterikatan dengan alam, manusia, dan Tuhan. Dinamika
tingkah laku manusia adalah seberapa besar dominasi keinginan yang akan
diaktualisasikan. Jika dominasi keinginan alam yang dominan maka akan muncul
tingkah laku yang bersifat alamiah, seperti makan, minum, berhubungan seksual, dan
lain-lain. Jika dominasi keinginan kemanusiaan, maka akan muncul tingkah laku yang
berhubungan dengan aktualisasi diri, seperti ingin dihormati, menguasai orang lain,
ingin mencintai dan dicintai orang lain, dan lain-lain. Sementara jika dominasi keinginan
Tuhan yang akan diaktualisasikan, maka berbarengan dengan itu akan muncul tingkah
laku berupa ‘ibadah. Pemahaman yang menyeluruh dan holistik tentang tingkah laku
manusia dalam hubungannya dengan alam, manusia, dan Tuhan, merupakan inti
persoalan paradigma yang ditawarkan dalam Psikologi Islami.

Paradigma itu disebut dengan ‘paradigma fitrah’. Istilah fitrah terambil dari istilah dalam
Al-Qur’an Surat al-Rum/30: 30.

‫"… ع ل ي هــا ال ناس ف طر ال تى ف طرت ال له ح ن ي فا ل لدي ن وجهك ف اق م‬

Artinya: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah
atas) fi¯rah All±h yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu …”

Dalam ayat tersebut dinyatakan bahwa fitrah manusia berasal dari fitrah Allah.
Berdasarka itu, fitrah manusia senantiasa menampilkan dua sisi, yaitu sisi asalnya
(esensi) dan sisi keberadaannya (eksistensi). Fitrah dari sisi asalnya menampilkan sisi
spiritual-transendental (Allah), sementara dari sisi keberadaannya menampilkan sisi
empiris-historis (manusia). Fitrah Allah adalah Esa dalam segala hal. Berdasarkan itu,
maka haklikat paradigma fitrah adalah pengakuan terhadap kebenaran tunggal, satu,
monistik, dalam wilayah transendental, namum pada saat yang bersamaan, dalam
wilayah empiris-historis, tampilannya dapat beragam dan bervariasi. Jelasnya,
paradigma fitrah mengakui kebenaran monistik-multidimensional.

Dalam memandang tingkah laku manusia, -sebagai objek kajian psikologi-, maka
paradigma fitrah merujuk kepada konsep di atas. Berdasarkan itu, maka tingkah laku
manusia senantiasa tampil sebagai akumulasi ekspresi aktualisasi potensi batin dan
responsi pengaruh lingkungan. Ekspresi berarti bahwa tingkah laku menjadi media
(sarana) untuk mengekspresikan kondisi psikis. Responsi berarti tingkah laku muncul
sebagai respon (tanggapan) terhadap stimulus lingkungan. Tingkah laku manusia
senantiasa menampilkan dua sisi ekspresi dan responsi. Perbedaan antara satu tingkah
laku dengan tingkah laku lainnya terletak pada prosentase masing-masing sisi, apakah
sisi ekpresi atau sisi responsi yang dominan.

D. Posisi Paradigma Fitrah dalam Peta Paradigma Psikologi

Jika ditelaah kepada sejarah perkembangan ilmu pengetahuan di dunia Barat, maka
dapat dijelaskan bahwa teori-teori Psikologi Modern,- utamanya Psikoanalisa,-
Behaviorisme, dan Humanistik-, merupakan hasil dari adanya dua pengutuban semu
yang berbeda dan pada saat tertentu dapat bertentangan. Pengutuban semu tersebut
adalah pengutuban ‘fisik-psikis’ dan manusia-alam. Wacana ilmu pengetahuan selalu
berada pada pertentangan kedua kutub ini.

Ini merupakan salah satu buah dikhotomi peradaban Barat yang bermula dari masalah
hubungan antara roh dan tubuh. Dalam buku Philosophy and Science in the Islamic
World, dijelaskan bahwa Rene Descartes (1005-1061 H/ 1596-1650 M), di saat fajar
peradaban modern Eropa,- memberikan kepada roh dan tubuh sifat-sifat yang saling
bertentangan secara mendasar. Yang satu mempunyai kesadaran, yang lain tidak,
yang satu mempunyai keluasan, yang lain tidak. Maka timbullah masalah: apabila roh
dan tubuh tidak memiliki persamaan sama sekali, bagaimana mungkin mereka berada
bersama-sama dan hidup bersama. Para filosof Barat berusaha memecahkan
persoalan ini dengan mereduksi tubuh menjadi roh atau sebaliknya mereduksi roh
menjadi tubuh. Dengan kata lain meniadakan salah satunya, roh atau tubuh dari arena.
Karena peradaban Barat cenderung kepada saintifik dan mekanistik, maka yang pada
akhirnya disingkirkan adalah roh. Hasilnya adalah bahwa makhluk manusia menjadi
robot, artinya mesin yang harus diawasi dan dimanipulasi seperti mesin-mesin lainnya,
dengan menggunakan kekuatan fisik-kimiawi dan alat-alat teknologi lainnya.

Pengutuban fisik-psikis telah menimbulkan pertentangan yang kronis dan berubah-ubah
bentuk dan wujudnya sesuai dengan perkembangan dan perjalanan sejarah peradaban
umat manusia. Pengutuban tersebut tercermin dalam pertentangan antara rasionalisme
melawan empirisme pada abad XI H/XVI M, antara idealisme melawan realisme pada
abad XII H/XVII M, antara positivisme melawan romantisisme pada abad XIII H/XVIII M,
antara materialisme melawan idealisme pada abad XIV H/XIX M, dan antara saintifisme
melawan eksistensialisme pada abad XV H/XX M.

Sementara itu, pengutuban manusia-alam telah menimbulkan pertentangan antara
humanisme dengan naturalisme, antara teknologisme dengan ekologisme, dan antara
kapitalisme dengan sosialisme. Sementara itu, pandangan dualisme kutub dalam
humanisme juga menimbulkan pengutuban diri menjadi ‘pribadi dengan masyarakat’
dan muncul dalam bentuk pertentangan antara individualisme melawan kolektivisme,
antara liberalisme melawan totalitarianisme, dan antara radikalisme melawan
konservatisme.

Semua pengutuban tersebut cenderung melihat realitas sebagai dualitas atau polaritas.
Tetapi dualitas dalam pandangan Barat cenderung menjadi dualisme yang diusahakan
menjadi monisme, yaitu pandangan yang serba satu. Misalnya hanya ada satu sumber
pengetahuan yang sah, yaitu rasio saja atau pengalaman empiris saja. Hanya ada satu
realitas yang sungguh-sungguh ada, yaitu ide saja atau materi saja. Sebagai akibatnya,
muncul usaha untuk mendamaikan pertentangan itu lewat konsep dualisme yang
merangkul kedua kutub tersebut dan meletakkannya sama tinggi, tetapi tentu saja
dualisme itu tidak mantap, sebab memang kedua kutub itu memang tidak sama
bobotnya.

Perkembangan paradigma psikologi modern di dunia Barat, sebenarnya tidak terlepas
dari lingkaran dan siklus pengutuban dualisme di atas. Psikoanalisa berada pada kutub
manusia dari kutub ‘manusia-alam’, dan berada pada kutub psikis pada kutub ‘fisik-
psikis’, dan kutub subjektif dari kutub ‘subjektif-objektif’. Sementara itu Behaviorisme
berada pada kutub alam dari dualitas kutub ‘manusia-alam’, dan berada pada kutub
fisik dari dualitas kutub ‘fisik-psikis’, dan berada pada kutub objektif dari dualitas kutub
‘subjektif-objektif’. Kedua aliran psikologi ini,- Psikoanalisa dan Behaviorisme-, berada
pada dua kutub yang saling berseberangan dan bertentangan. Psikoanalisa berada
pada ujung satu kutub ‘manusia-psikis-subjektif’ dan Behaviorisme berada pada ujung
yang lainnya, yaitu kutub ‘alam-fisik-objektif’. Psikologi Humanistik hadir untuk
mendamaikan pertentangan dan perbedaan dengan merangkul kedua kutub paradigma
psikologi tersebut dan meletakannya pada posisi yang sama tinggi. Sehingga
paradigma humanistik dari Psikologi Humanistik merupakan konsep integritas dualisme
antara manusia-alam. Sehingga dapat dijelaskan posisinya adalah sebagai gabungan
atau persentuhan antara kedua kutub tersebut. Jadi, paradigma humanistik adalah
kesatuan manusia-alam, psikis-fisik, dan subjektif-objektif. Ia membentuk satu kutub
lainnya yang berada pada posisi yang horizontal dalam segi tiga kutub paradigma.

Ketiga posisi paradigma psikologi tersebut,- Psikoanalisa, Behaviorisme, dan
Humanistik-, berada pada bidang datar. Ini disebabkan, ketiga kutub itu, sebenarnya
menjelma dari dua kutub yang memiliki kedudukan yang setara dan seimbang. Posisi
paradigma fitrah sebagai paradigma Psikologi Islami berada di atas ketiga kutub
tersebut. Karena ia memiliki dimensi spiritual dan transendental yang berasal dari Yang
Maha Subjek dan Maha Objek, yaitu Allah yang berada di atas semua kutub tersebut.
Sehingga posisi paradigma fitrah adalah sebagai perantara dari yang subjek (manusia),
yang objek (alam) dengan yang Maha Subjek dan Maha Objek (yaitu Allah).

Dengan demikian, dapat dijelaskan bahwa ketiga paradigma psikologi modern, -
Psikoanalisa, Behaviorisme, dan Humanistik-, menafikan eksistensi Tuhan dalam
wilayah paradigma. Ketiganya berputar-putar dalam wilayah ‘manusia-alam’ dan
subjektif-objektif’. Ringkasnya, Psikologi Barat menafikan eksistensi Tuhan dan
peranannya dalam wilayah paradigma ilmu pengetahuan (sains). Dalam introduction
buku Philosophers Who Believe, dijelaskan bahwa paradigma sains modern banyak
diilhami oleh teori-teori yang dilahirkan oleh Karl Marx (1234-1301 H/ 1818-1883 M),
Sigmund Freud (1273-1356 H/ 1856-1939 M), Friederich Nietzshe (1260-1318 H/1884-
1900 M), dan Charles Darwin (1224-1300 H/1809-1882 M). Mereka semua menolak
eksistensi Tuhan dalam wilayah paradigma ilmu pengetahuan.

Psikologi kontemporer,- yaitu Psikoanalisa, Behaviorisme, Humanistik-, dapat
dipandang sebagai refleksi dari pandangan dan teori yang membidani konsep
menafikan Tuhan tersebut. Di sisi lain, Psikologi Islami menawarkan paradigma yang
mengakui eksistensi dan peranan Tuhan dalam wilayah paradigma ilmu,- paling tidak
pada wilayah pure science atau filsafat sains-, dari paradigma psikologi Islami.
Pengakuan terhadap eksistensi dan peranan Tuhan dalam wilayah pure science ini
sebenarnya telah mendapat perhatian yang serius dari para filosof Barat sendiri sekitar
awal tahun 1980-an. Mereka mengakui adanya eksistensi Tuhan dan peranan-Nya di
dalam dunia empirik, termasuk mempunyai peranan dalam wilayah paradigma ilmu
pengetahuan (sains). Tokoh lainnya,- sebenarnya cukup banyak-, namun sebagai
contoh saja cukup disebutkan beberapa nama yang populer; diantaranya adalah
Seyyed Hossein Nasr yang menjelaskannya dalam bukunya yang berjudul Tawhid and
Science: Essays on the History and Philosophy of Islamic Science. Oleh karena itu,
adanya upaya Psikologi Islami mendudukkan persoalan Tauhid (Tuhan) dalam wilayah
paradigma ilmu pengetahuan bukanlah sesuatu yang baru bagi para filosof dan para
pakar lainnya, namun bentuk kongkretnya dalam konstruksi paradigma ilmu, khususnya
dalam bidang psikologi-, belum mencapai bentuk final.




Penutup

Dengan demikian, dapat dijelaskan bahwa posisi paradigma al-fitrah dalam peta
paradigma psikologi kontemporer adalah merupakan posisi menengah (wasatan).
Posisi menengah dimaksudkan adalah dalam hubungannya dengan keyakinan
terhadap eksistensi dan peranan Yang Maha Objek dan Maha Subjek, yaitu Tuhan.
Psikologi kontemporer,- khususnya Psikoanalisa, Behaviorisme, dan Humanistik-,
hanya berputar-putar dalam lingkaran paradigma subjektif dan objektif atau gabungan
keduanya. Psikologi Islami berada di atas paradigma subjektif dan objektif, tetapi
sekaligus juga berada di bawah eksistensi Yang Maha Objek dan Maha Subjek, yaitu
Tuhan. Sehingga dalam perspektif al-fitrah semua tingkah laku manusia berputar-putar
pada lingkaran nuansa subjektif (manusia), objektif (alam), dan Yang Maha Subjektif
dan Yang Maha Objektif,- yaitu Tuhan. Dinamika tingkah laku terjadi adalah sebagai
refleksi dari dominasi nuansa dari ketiga hal tersebut.
DAFTAR PUSTAKA




Al-Qur’an al-Karim.

Amstrong, R.B. “East-West Psychology.” dalam Raymond J. Cornisi (ed.) Encyclopedia
of Psychology. New York, Chicester, Brisbane, Toronto, Singapore: John Wiley & Sons,
1994, Edisi II, Volume 1, hlm. 45.

Atkinton, Rita. L., Ricard C. Atkinton., Ernest R. Hilgard. Introduction to Psychology.
New York, San Diago, Chicago, San Francisco, Atlanta, London, Sydney, Toronto:
Arcourt Broce Jovonnorich Inc., 1981, Eighth Edition.

Baharuddin, Aktualisasi Psikologi Islami, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005.

Benjafield, John G. A History of Psychology. Boston: Allyn and Bacon, 1996.

Benjafield, John. A History of Psychology. Boston: Allyn and Bacon, 1996.

Brown, Clerence W. and Edwin E. Ghiselli. Scientific Method in Psychology. New York:
McGraw-Hill Book Company Inc., 1995.

Clark, Kelly James. Philosophers Who Believe. Downers Grove, Illinois: Inter Varsity
Press, 1993.

Crapp, Robert W. An Introduction to Psychology of Religion. Macan Georgia: Mercer
University Press, 1986.

Daradjat, Zakiah. Ilmu Jiwa Agama. Jakarta: Bulan Bintang, 1996.
Gobel, Frank G. The Third Force: The Psychology of Abraham Maslow. New York:
Washington Square Press, 1971.

Goleman, Daniel. Emotional Intelligence. New York: Bantam Books, 1996.

Guilford, J.P. “Humanistic Psychology”. dalam Raymond J. Corsini (ed.) Encyclopedia
of Psychology. Volume II, hlm. 117.

Hendrick, Ives. Fact and Theories of Psychoanalysis. New York: A Delta Book, 1958.

James, William. The Variaties of Religious Experience. New York: Modern Library,
1902.

Khalil, A. Kafrawi. Spirityual Intelligence. Ontario: White Mountain, 2000.

Kuhn, Thomas Samuel. The Structure of Scientific Revolurtions. Chicago: Chicago
University Press, 1970.

Langgulung, Hasan. “The Ummatic Paradigm of Psychology”. dalam Mizan: Islamic
Forum for World Culture and Civilization, Reluigion and the Spirit of World Peace.
Volume III Number 2, 1990. hlm. 98-115.

Maddi, Salvatore R. Personality Theories A Comparative Analysis. New York: The
Dorsey Press, 1968.

Mannheim, Karl. Et. All. Sigmund Freud: An Introduction. London: Routledge & Kigan
Paul Ltd., 1950.

Maslow, Abraham H. The Psychology of Science: A Reconnaissance. New York and
London Publisher: Harper & Row, Publishers, 1996.

Masterman, Margaret. “ The Nature of Paradugm”. Dalam Lakatos dan Musgrane.
Criticism and the Growth of Knowledge. (Cambridge: Cambridge University Pressm,
1984).

Morgan, Clifford T. A Brief Introduction to Psychology. New Delhi: Tata McGraw-Hill
Publishing Company Ltd., 1975.
Nasr, Sayyed Hossein. Knowledge and Sacred. Diterjemahkan oleh Suharsono, dkk.
Pengetahuan dan Kesucian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997.

Nataatmadja, Hidayat. Krisis Manusia Modern, Agama-Filsafat-Ilmu. Surabaya: Al-
Ikhlas, 1994.

Purwanto, Yadi, Epistemologi Psikologi Islami, Bandung: Refika Aditama, 2007.

Qadir, C.A. Philosophy and Science in the Islamic World. London: Croom Helm Limited,
1988.

Rahmat, Jalaluddin. “Psikologi dan Agama: Bersaudara atau Bermusuhan.” Dalam
Makalah Seminar Nasional Psikologi dan Agama, Diselenggarakan oleh Ikatan Sarjana
Psikologi Universitas Pajajaran Bandung di Bandung pada tanggal 14 Oktober 2000,
hlm. 4.

Sarlito, Wirawan Sarwono. Berkenalan dengan Aliran-aliran dan Tokoh-tokoh Psikologi.
Jakarta: Bulan Bintang, 1978, Cet.

Wuff, David M. Psychology of Religion: Classic and Contemporary Views. New York,
Chicester, Brisbane, Toronto, Singapore: John Wiley & Sons, 1990.

Zohar, Danah dan I Marshal. Connecting with Our Spiritual Intelligence. New York:
Blommsbury, 2000.

						
Related docs
Anjing neraka
Views: 18  |  Downloads: 0
AQ_AH
Views: 0  |  Downloads: 0
Abu Sufyan bin Harits
Views: 1  |  Downloads: 0
Amir Ibnu Farihah
Views: 2  |  Downloads: 0
Tirmidzi_Pembuat Wali
Views: 55  |  Downloads: 0
Fiqh
Views: 14  |  Downloads: 0
COVER Ev Pend
Views: 0  |  Downloads: 0
LAPORAN PEMANTAPAN KEMAMPUAN PROFESSIONAL
Views: 329  |  Downloads: 0
TUGAS MK PDII
Views: 0  |  Downloads: 0
Anekdot Sufi dan Hikmah
Views: 288  |  Downloads: 8