Penciptaan Adam by SätrìáIñdràjãýâ

VIEWS: 27 PAGES: 13

									                 Penciptaan dan Pemuliaan Adam
               (diambil dari ‘Koleksi Nabi-nabi dalam al-Qur’an’ oleh Dr.Afif Abdullah)


Lahirnya Adam

        Kisah penciptaan Adam dimulai dari dialog antara Allah dan para malaikat sebagai berikut. Allah
mengkabarkan kepada para malaikat, bahwa Allah akan menciptakan Adam dan keturunannya sebagai khalifah di
bumi. Berarti Allah akan menempatkan dan menjadikan Adam sebagai penguasa di bumi. Tetapi para malaikat
takjub mendengar kabar ini karena yang akan menjadi khalifah Allah di bumi tidak menyamai kekasihsayangan
dan kesucian malaikat-malaikat langit. Padahal Allah telah menciptakan makhluk sebelum Adam, mereka membuat
kerusakan di bumi.

        Malaikat seraya bertanya kepada Tuhan, "Apakah Engkau akan menjadikan manusia yang akan membuat
kerusakan di dalamnya dengan melakukan maksiat dan pertumpahan darah. Sementara kami mensucikan-Mu dari
hal-hal yang tidak sesuai dengan kemuliaan-Mu dan kami mengagungkan-Mu sebagai tanda syukur kepada-Mu".

        Malaikat berkata demikian kepada Tuhannya karena merasa dirinya lebih baik daripada makhluk yang
akan dijadikan sebagai khalifah. Karenanya mereka merasa lebih berhak atau sesuai dijadikan khalifah di bumi
dibanding manusia. Akan tetapi Allah menjawab dengan mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui rahasia dan
hikmah penciptaan Adam. "Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak
menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata, ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di
bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah padahal kami senantiasa
bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’ Tuhan berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mengetahui
apa yang tidak kamu ketahui.’" Qs. al-Baqarah : 30



Kedudukan Adam sebagai Nabi

Setelah menciptakan Adam, Allah mengajarnya nama-nama segala sesuatu, hakekatnya dan kekhususannya, agar
dapat diambil manfaat sebagai bekal hidup di bumi. Kemudian Allah menunjukkan kepada malaikat bahwa
makhluk yang diremehkan ini mempunyai lebih banyak ilmu dan pengetahuan daripadanya. Oleh karena itu, Allah
meminta agar mereka menyebutkan nama-nama segala sesuatu dan kekhususannya andaikan mereka masih
menganggap remeh terhadap Adam sebagai khalifah di bumi dibanding mereka. Akan tetapi para malaikat tidak
berdaya memenuhi permintaan itu, seraya berkata kepada Tuhan, ‘Sungguh kami memahasucikan-Mu wahai Tuhan
kami dengan pemahasucian yang hanya patut untuk-Mu. Kami tidak akan menyangkal kehendak-Mu, karena kami
memang tidak mengetahui apa yang telah Kau beritahukan kepada kami, dan Engkau Maha Mengetahui
segalanya, Maha Bijaksana dalam segala urusan yang telah Engkau ciptakan.’

Kemudian Allah memanggil Adam untuk mengajarkan kepada malaikat, Allah memerintahkan, ‘Hai Adam,
ceritakan kepada para malaikat jawaban dari pertanyaan yang telah Aku ajukan kepada mereka itu.’ Maka
menjawablah Adam, dan Allah menunjukkan kelebihan Adam atas mereka. Dalam keadaan demikian, Allah
mengatakan kepada malaikat, ‘Bukankah Aku telah katakan bahwa sesungguhnya Aku ini Maha Mengetahui apa-
apa yang ada di langit dan di bumi, yang tidak diketahui oleh selain-Ku, dan Aku Maha Tahu terhadap sesuatu
yang kamu nyatakan dengan perkataanmu dan apa-apa yang tersimpan dalam diri kamu sekalian?’

"Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya
kepada para malaikat lalu berkata, ‘Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu orang-orang yang
benar!’ Mereka menjawab, ‘Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau
ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.’ Allah berfirman,
‘Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda itu.’ Allah berfirman, ‘Bukankah sudah Ku-katakan
kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui yang kamu lahirkan
dan apa yang kamu sembunyikan?’"
Qs. al-Baqarah : 31-33
Pemuliaan Adam

Allah telah memberitahukan kepada kita tentang bahan penciptaan Adam. "(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman
kepada malaikat, ‘Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah.’" Qs. 38 : 71
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur
hitam yang diberi bentuk." Qs. 15 : 26
"Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar." Qs. 55 : 14

Allah telah menciptakan Adam dari tanah hitam dalam bentuk manusia. Sehingga ketika menjadi kering
pada batas waktu tertentu, jika diperdengarkan suara, dia dapat mendengar. Allah mengubahnya secara
bertahap, kemudian ditiupkan ruh dari Allah kepadanya. Maka jadilah manusia yang terdiri dari daging,
darah, otot yang bergerak menurut kemauannya dan pikirannya. Kemudian Allah menyuruh malaikat agar
menghormati Adam dengan cara bersujud kepadanya. Sujud dalam arti memuliakan, bukan sujud dalam
artian peribadatan. Karena Allah tidak menyuruh seseorang untuk beribadah kepada selain-Nya.
"Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, ‘Sesungguhnya Aku akan menciptakan
seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka
apabila Aku menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kepadanya ruh (ciptaan)Ku, maka
tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.’"Qs. 15 : 28-29
Dalam ayat ini, Allah mengistimewakan Adam dengan tiga kemuliaan:
Pertama, Allah telah menjadikannya dengan ‘tangan’Nya.
Kedua, Allah telah meniupkan kepadanya ruh daripada-Nya.
Ketiga, Allah menyuruh malaikat agar bersujud kepadanya.

Sujudnya Malaikat dan Penolakan Iblis
Seluruh malaikat bersujud kepada Adam dan mematuhi perintah Allah, kecuali Iblis yang menolak
melakukan sujud karena sombong dan keras kepala. Allah yang sebenarnya Maha Tahu bertanya
kepadanya, alasan apa yang menyebabkan Iblis tidak mau bersujud kepada Adam setelah Allah
memerintahkannya. Iblis beralasan bahwa diri mereka lebih utama daripada Adam dilihat dari asal
kejadiannya, dia diciptakan dari api sedangkan Adam dari tanah. Dan api, menurut pendapat Iblis lebih
utama daripada tanah, sehingga dia menunjukkan rasa takabur yang berlebihan. Ketika itu Allah mengusir
Iblis dari surga dan melaknat selama-lamanya (sampai Hari Kiamat) karena kesombongannya itu.

"Lalu seluruh malaikat-malaikat itu sujud semuanya kecuali Iblis, dia menyombongkan diri dan adalah dia
termasuk orang-orang yang kafir. Allah berfirman, ‘Hai Iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang
telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku? Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk
orang-orang yang (lebih) tinggi?’ Iblis berkata, ‘Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari
api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.’ Allah berfirman, ‘Maka keluarlah kamu dari surga,
sesungguhnya kamu adalah orang yang diusir, sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai Hari
Pembalasan.’"
Qs. 38 : 73-78

Iblis Diusir dari Surga

Akibat pembangkangan dan kesombongan Iblis untuk bersujud kepada Adam adalah diusirnya dari surga
dalam keadaan hina-dina. Kemudian Iblis meminta kepada Allah agar dipanjangkan umurnya sampai Hari
Kiamat. Allah pun mengabulkan permintaannya karena ada suatu hikmah yang dimaksudkan oleh-Nya.
Permohonannya itu disertai dalih sebagai berikut: "Lantaran Hukuman yang dijatuhkan kepadaku berupa
kehancuran, hai Tuhan, maka aku bersumpah akan berusaha secara maksimal untuk menyesatkan anak
cucu Adam dan menyelewengkan mereka dari jalan yang lurus (benar). Aku akan datangi dari segala
penjuru untuk mengamati kelalaian dan kelemahan mereka sehingga aku mudah bisa berhasil
menyesatkan dan merusak mereka, dan akan kujadikan mereka orang-orang yang tidak mau bersyukur
kepada-Mu." Akan tetapi Allah segera menghardiknya seraya berfirman, "Keluarlah kamu dari surga ini
bedebah-hina, kamu tidak akan mendapat rahmat-Ku, dan Aku bersumpah akan memenuhi Jahannam
dengan kamu sekalian dan orang-orang yang mengikutimu." Begitulah kiranya yang diturunkan oleh
Allah dalam al-Qur’an surat al-A’raaf ayat 13-18.
Dan di tempat lain al-Qur’an menerangkan Iblis untuk menyesatkan manusia dengan pengecualian
hamba-hamba Allah yang saleh, "Dan (ingatlah) tatkala Kami berfirman kepada para malaikat,
‘Sujudlah kamu semua kepada Adam’, lalu mereka sujud kecuali Iblis. Dia berkata, ‘Apakah aku akan
sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?’. Dia (Iblis) berkata, ‘Terangkanlah kepadaku
inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh
kepadaku sampai Hari Kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebagian
kecil.’ Tuhan berfirman: ‘Pergilah, barang siapa di antara mereka yang mengikuti kamu, maka
sesungguhnya neraka Jahannam adalah balasanmu semua, sebagai suatu pembalasan yang cukup. Dan
hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakan kamu, dan kerahkanlah terhadap
mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada
harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaithan kepada
mereka melainkan tipuan belaka. Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas
mereka. Dan cukuplah Tuhanmu sebagai penjaga.’"Qs. 17 : 61-65

Maksudnya, Allah memerintahkan kepada malaikat agar menghormati dan memuliakan Adam dengan
menunduk memberi penghormatan. Mereka segera melaksanakan perintah Allah kecuali Iblis yang
membangkang dan berkata, ‘Bagaimana aku harus menghormati orang yang Kau ciptakan dari tanah?
Ceritakanlah hai Tuhanku tentang orang-orang yang Kau anggap lebih mulia daripadaku, ketika Engkau
menyuruhku bersujud kepadanya, mengapa dia Kau muliakan lebih dari aku padahal sebenarnya akulah
yang lebih baik daripadanya? Awas andaikan ditangguhkan kematianku sampai Hari Kiamat, pasti akan
kuhancurkan anak cucunya dengan cara menyesatkan mereka kecuali yang Kau lindungi.’ Kemudian
Allah dengan keras berfirman kepadanya, ‘Enyahlah kamu dalam keadaan yang telah kau pilih untuk
dirimu. Barang siapa di antara anak Adam yang menurutimu maka Jahannam sebagai balasan yang
sangat pedih.’ Selanjutnya seolah-olah Allah meringankan ancaman seraya berfirman, ‘Silahkan
tanamkanlah kemaksiatan kepada Allah terhadap orang yang bisa kau ajak. Kerahkan seluruh
kemampuanmu untuk membuat aneka ragam tipu daya. Ajaklah mereka mencari harta haram dan
mempergunakannya untuk maksiat. Dan membuat kufur anak-anak. Kelabuilah mereka ke dalam
kerusakan, dan berilah janji-janji bohong dan bathil.’ Kemudian Allah membalikkan pembicaraannya
dengan pedas, ‘Ketahuilah, sesungguhnya apa yang telah dijanjikan syaithan kepada pengikutnya itu
adalah tipu daya belaka. Adapun hamba-hamba Allah yang dengan ikhlas beriman, takkan dapat
dikuasai syaithan. Syaithan tidak mampu memperdayai karena mereka tawakkal kepada Tuhan, dan
cukuplah Allah sebagai penolongnya.’

Penciptaan Hawa

Allah memerintahkan kepada Adam dan Hawa untuk tinggal di surga. Akan tetapi para Ulama berbeda
pendapat tentang waktu penciptaan Hawa di surga. Dikatakan bahwa ketika Allah mengusir Iblis dari
surga, Adam tinggal di surga sendirian dan tak ada yang menemaninya. Maka, Allah membuatnya tidur,
kemudian satu tulang rusuk kirinya diambil dan digantikan dengan daging, selanjutnya Hawa diciptakan
dari tulang itu. Setelah bangun dari tidur, Adam mendapatkan seorang wanita yang duduk di sebelah
kepalanya, maka dia bertanya, ‘Siapakah anda?’ Dia menjawab, ‘Wanita’. Adam bertanya, ‘Untuk apa
kau diciptakan?’ Hawa menjawab, ‘Agar tinggal bersamamu’. Dalam al-Qur’an diisyaratkan demikian.
Allah berfirman: "….Yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan daripadanya Allah
menciptakan istrinya." Qs. an-Nisaa : 1
"…dari padanya Dia menciptakan istrinya, agar ia merasa senang kepadanya…" Qs. al-A’raaf : 189

Tipu Daya Iblis terhadap Adam

Ketika Adam dan istrinya menempati surga, Allah membolehkan mereka untuk bersenang-senang dengan
segala yang ada di surga. Mereka boleh memakan buah-buahan surga yang mereka kehendaki kecuali satu
jenis pohon. Bahkan Allah melarang mereka untuk mendekatinya, dan apabila mereka melakukan akan
termasuk orang yang tersesat dan menyesatkan diri dengan melanggar larangan Allah, dan sebagai akibat
pelanggarannya itu adalah siksaan.
Iblis merasa senang mengetahui adanya larangan yang bisa dijadikan sarana menggoda Adam dan
istrinya. Maka mulailah ia berbicara untuk memperdayakan mereka berdua agar memakan buah pohon itu
sehingga mengakibatkan terbukanya pakaian yang menutupi aurat mereka.

Iblis memang sangat pandai membuat tipu daya. Sehingga berkata kepada Adam dan Hawa bahwa
larangan Allah memakan buah pohon tersebut agar mereka berdua tidak menjadi malaikat dan tidak kekal
di surga yang penuh kenikmatan itu. Bahkan Iblis bersumpah hanyalah menasihati mereka berdua.

"(Dan Allah berfirman) ‘Hai Adam, bertempat tinggallah kamu dan istrimu di surga serta makanlah
olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati
pohon ini, lalu menjadikanlah kamu berdua termasuk orang-orang yang zhalim.’ Maka syaithan
membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup
dari mereka yaitu auratnya dan syaithan berkata, ‘Tuhan kamu tidak melarang dari mendekati pohon ini,
melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau orang-orang yang kekal (dalam surga).’
Dan dia (syaithan) bersumpah kepada keduanya, ‘Sesungguhnya aku adalah termasuk orang yang
memberi nasihat kepada kamu berdua.’" Qs. al-A’raaf : 19-21

Kesalahan Adam

Adam dan Hawa lupa bahwa Iblis adalah musuh sehingga mereka terjerat ke dalam fitnahnya dengan
memakan buah pohon itu. Ketika keduanya mencicipi rasa buah pohon itu, tiba-tiba aurat mereka berdua
terbuka, padahal sebelumnya mereka belum pernah saling melihat auratnya. Saking malunya, mereka
mengumpulkan dedaunan untuk menutupi aurat masing-masing yang terbuka itu. Kemudian Allah
memanggil mereka dan menegurnya, ‘Bukankah Aku telah melarang buah pohon itu? Dan bukankah Aku
telah terangkan bahwa syaithan itu musuh besarmu?’

Adam dan Hawa merasa sangat menyesal tentang perbuatan maksiat yang telah mereka lakukan.
Kemudian bersimpuh dihadapan Tuhan sambil berkata, ‘Hai Tuhan kami, diri kami telah sesat dengan
perbuatan maksiat terhadap-Mu. Maka ampunilah dan sayangilah kami, andaikan Engkau tidak
mengampuni dan menyayangi kami niscaya kami menjadi orang yang merugi.’

"Maka syaithan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya
telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupi
dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka, ‘Bukankah Aku telah melarang
kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu bahwa sesungguhnya syaithan itu adalah
musuh yang nyata bagi kamu berdua?’ Keduanya bertanya, ‘Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri
kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya
pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.’" Qs. al-A’raaf : 22-23

Lalu Adam dan Hawa diberi ampunan dan dikeluarkan dari surga. "Kemudian Adam menerima beberapa
kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat
lagi Maha Penyayang." Qs. al-Baqarah : 37

Akan tetapi Allah memerintahkan Adam dan Hawa turun dari surga ke bumi. Dan Allah memberitahukan
bahwa di antara keturunannya nanti akan mengalami permusuhan. Keturunan mereka akan menjadi
penghuni, memakmurkan bumi, dan mengenyam kenikmatan terbatas sampai datang ajal mereka. Tuhan
juga menurunkan petunjuk, barang siapa menuruti petunjuk Allah tidak akan terjerembab ke dalam dosa
dan kesengsaraan dunia.

"Allah berfirman, ‘Turunlah kamu sekalian, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Dan
kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai
waktu yang telah ditentukan.’ Allah berfirman, ‘Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan
dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan." Qs. al-A’raaf : 24-25
"Allah berfirman, ‘Turunlah kamu berdua dari surgamu bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh
bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk dari pada-Ku, lalu barang siapa yang
mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka." Qs. 20 : 123


Surga Ciptaan Allah sebagai Tempat Tinggal Adam

Ulama berselisih paham tentang surga itu berada di bumi. Sebagai alasan bahwa Allah menciptakan
Adam di bumi, seperti dapat dipahami dari firman Allah Inni ja’ilun fi’l-Ardhi Khalifah di sini Allah
tidak menyebutkan, bahwa Dia memindahkannya ke langit. Kemudian Allah memberi sifat surga yang
dijanjikan di langit adalah surga yang kekal. Apabila surga itu yang dimaksud, maka tidak mungkin
menipu Adam dengan perkataan: "Hai Adam, maukah aku tunjukkan kepadamu pohon khuldi dan
kerajaan yang tidak akan binasa?" Qs. 20 : 120

Surga yang kekal itu adalah kenikmatan, bukan tempat taklif bebanan, padahal Adam dan Hawa dibebani
peraturan tidak boleh memakan buah pohon itu. Demikian pula Allah telah menggambarkan bahwa
penghuni surga yang kekal di langit itu tidak akan keluar lagi. "Mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan
daripadanya." Qs. 15 : 48
"Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya."
Qs. 11 : 108

Maka keluarnya Adam dan Hawa dari surga menunjukkan bahwa surga itu bukan surga yang dijanjikan
Allah pada Hari Kiamat nanti. Dari segi lain, ketika Iblis membangkang untuk bersujud kepada Adam, ia
dikutuk dan dikeluarkan dari surga. Jika surga itu dimaksudkan surga yang kekal, maka syaithan tidak
akan bisa menjangkau surga untuk menggoda Adam dan Hawa, sehingga mendapatkan murka Allah.

Berdasarkan keterangan tersebut, jelas bahwa surga yang Allah berikan sebagai tempat tinggal Adam
bukanlah jannatu ‘l-khuldi yang di langit. Memang, tidak menutupi kemungkinan bahwa surga yang
ditempati Adam merupakan surga yang tempatnya lebih tinggi dibanding permukaan bumi yang ada
pepohonan, buah-buahan dan kenikmatan, sesuai dengan keterangan Allah: "Sesungguhnya kamu tidak
akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang, dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa
dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya." Qs. 20 : 118-119

Maksudnya, bahwa di dalam surga itu engkau tidak akan kehausan, telanjang karena tak ada pakaian,
perut tidak kelaparan dan tidak terjemur matahari karena tempatnya terbuka tanpa pepohonan. Tetapi,
tatkala Adam dan Hawa makan, mereka turun ke bumi yang penuh kelelahan, kesulitan dan ujian.

Adapun orang yang berpendapat bahwa Adam dan Hawa tinggal di Jannatu ’l-Huldi yang ada di langit,
dan akhirnya diiperintahkan turun ke bumi beralasan dengan firman Allah, "Kami berfirman, turunlah
kamu dari surga itu." Qs. al-Baqarah : 38

Akan tetapi, dapat dibantah, bahwa lafazh ih bihtu dapat juga berarti al-intiqal (pindah dari satu tempat ke
tempat lain) seperti firman Allah, "….Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang
kamu minta…." Qs. al-Baqarah : 61

Dan firman Allah kepada Nabi Nuh untuk meninggalkan perahunya, "Difirmankan, ‘Hai Nuh, turunlah
dengan selamat dan penuh berkat Kami atasmu." Qs. 11 : 48
Ajaran dan Keteladanan Nabi Adam

Kemuliaan Manusia

Di antara celaan yang biasa dilontarkan kepada Islam, bahwa Islam dianggap tidak memuliakan dan
mengangkat derajat manusia. Demikian keterangan dari kitab yang berjudul Hadharatu ‘l-Islam (karya
seorang Orientalis bernama al-Nimsawy).

Penulis buku tersebut menerangkan, Islam, sejak awal kelahirannya tidak mengakui harkat kemuliaan
manusia melainkan sangat sedikit. Bahkan al-Qur’an sendiri merenggutnya dengan suatu keterangan yang
menjelaskan tentang asal kejadian jasmaniahnya.

Para pengamat yang jeli dalam menanggapi pernyataan tersebut, segera mengetahui bahwa kisah Adam
yang diungkapkan oleh al-Qur’an sejak awal hingga akhirnya merupakan tangkisan terhadapnya.
Karenanya, yang benar ialah, bahwa al-Qur’an justru mengangkat derajat dan kemampuan manusia lebih
tinggi dari pada anggapan filsafat, agama, dan aliran sosial mana pun.

Adapun tuduhan bahwa al-Qur’an merenggut derajat dan menghina manusia dengan mengungkapkan asal
kejadian jasmaniahnya, bagi para pengkaji al-Qur’an, hal tersebut merupakan ungkapan peringatan bagi
manusia tentang kehinaan dan kelemahannya. Sedangkan asal kejadiannya, menurut pandangan mereka
adalah dari lumpur atau tanah liat atau nuthfah (sel mani). Dan pendapat ini diakui secara alamiah. Di
samping itu, ungkapan al-Qur’an tentang asal kejadian manusia dimaksudkan sebagai pengendali keliaran
tipu dayanya sehinga ia tidak melampaui batas, mengkufuri penciptanya, berbuat zhalim dan takabur
terhadap sesamanya.

Dalam kisah Adam dijelaskan kepada kita bahwa Allah menciptakan manusia dimaksudkan untuk
menjadi khalifah di bumi, bertugas mengelola dan memanfaatkan kemakmurannya. "Ingatlah ketika
Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di
muka bumi.’" Qs. al-Baqarah : 30
Selanjutnya Allah berfirman: "Dialah yang menjadikan segala yang ada di bumi." Qs. al-Baqarah : 29

Dan Allah telah menyediakan segala sarana yang memungkinkan manusia bisa merealisasikan tugas
kekhalifahannya, dengan mengajar seluruh nama benda. "Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-
nama (benda-benda) seluruhnya…" Qs. al-Baqarah : 31

Maksudnya, Allah mengajar Adam sehingga memahami dan mengerti nama-nama benda, ilmu
pengetahuan dan segala sarana yang dapat digunakan untuk merealisasikan tugasnya. Kemudian kita bisa
melihat bentuk kedua pemuliaan Adam, yakni perintah Allah kepada seluruh malaikat untuk bersujud
kepadanya, sebagai penghormatan atas kemuliaan, bukan sujud dalam artian ibadah. "Maka apabila Aku
telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah
kamu kepadanya dengan bersujud." Qs. 15 : 29

Apabila kita sebut kemuliaan Adam, berarti mencakup kemuliaan seluruh keturunannya, sesuai dengan
penjelasan al-Qur’an sebagai berikut: "Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami
angkut mereka di daratan dan lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan
mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan."
Qs. 17 : 30

Ayat ini menunjukkan kemuliaan semua jenis manusia, tidak pandang warna kulit, bangsa (aria maupun
samia), jenis kelamin, yang kuat atau yang lemah karena Allah menyebutnya dengan Bani Adam.

Perhatikan dengan seksama kandungan ayat ini: "Kami angkut mereka di daratan dan lautan." Ini
merupakan gambarannya. Hamparkan untuknya segala isi daratan dan lautan. Pada zaman dahulu hewan-
hewan dan sampan-sampan merupakan alat transportasi. Sekarang, kita dipahami bahwa sarana
transportasi semakin modern, berdasarkan pengetahuan yang dilimpahkan Allah sejak mula-mula
penciptaan manusia. Sehingga pada saatnya, manusia dapat menciptakan pesawat terbang, kereta api,
mobil, dan kapal-kapal laut yang serba modern.

Perhatikan juga ayat berikut ini: "Kami beri mereka dengan rezki dari yang baik-baik." Ini juga
merupakan gambaran nyata tentang kemuliaan manusia dalam masalah makanan dan minuman. Dan
firman-Nya yang berarti: "Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan
makhluk yang telah Kami ciptakan," merupakan keterangan tentang keadaan manusia yang mempunyai
kelebihan atas semua makhluk.

Demikian kenyataan, sehingga logis jika manusia sadar dan merasa bahwa dirinya khalifah di bumi ini.
Sujudnya malaikat kepadanya (memberi penghormatan) itu menunjukkan bahwa manusia berhak
dimuliakan dan mempunyai kelebihan atas semua makhluk ciptaan Allah. Itu semua adalah merupakan
celah-celah penting bagi manusia untuk mencapai peningkatan derajat secara maknawi melalui sarana
peradaban.

Sesudah dijelaskan secara panjang lebar tentang kemuliaan manusia, sekarang cobalah jelaskan alasan
yang mendukung pendapat para filosof modern yang berpandangan bahwa manusia adalah makhluk yang
hina dina. Dikatakan, bahwa manusia tidak lebih dari binatang kecil atau ulat menjijikkan yang hidup di
tempat-tempat kotor, seperti kata Chartres, atau tidak lebih dari seekor kera yang diciptakan Allah melalui
proses evolusi yang menjelma seorang manusia, seperti yang dikatakan Nietzche.

Ini semua adalah pandangan-pandangan tidak sehat dan lemah yang dapat membunuh cita-cita manusia,
membuat manusia frustasi dan pesimis. Padahal pandangan al-Qur’an selalu menumbuhkan optimisme,
rasa harga diri dan terhormat.

Akibat Kesombongan

Dari kisah Adam, kita bisa mengambil pelajaran agar menjauhkan diri dari sifat sombong, setelah Allah
menjelaskan akibatnya. Ketika Iblis berlaku sombong tidak mau menurut perintah Allah, maka ia ditimpa
kehinaan dan diusir dari surga secara tak terhormat. Firman Allah menyatakan, "Turunlah kamu dari
surga itu, karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah,
sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina." Qs. al-A’raaf : 13

Senada dengan makna ayat ini Rasul saw bersabda: "Barang siapa tunduk kepada aturan Allah, niscaya
Allah naikkan (derajatnya), dan barang siapa sombong, Allah akan menghinakannya." Rasulullah saw
menjelaskan pengertian sebagai berikut: "Kesombongan itu penghalang (pelaksanaan kebenaran) dan
pembantai (kemuliaan) manusia."

Maka, pengertian al-Kibru berdasarkan hadits tersebut ialah sifat egois atau individualis. Orang-orang
yang bersifat demikian menghendaki seolah-olah dirinya ‘tuhan’ di dunia ini. Ia tidak mau tunduk kepada
kebenaran atau menerima kritik membangun dari orang lain. Karena mereka berpendirian tidak akan
mengikuti orang lain, ia bertindak sewenang-wenang dan kejam terhadap orang yang di bawah
kekuasaannya.

Menurut al-Qur’an, akibat kesombongan adalah kepedihan, karena mendapat murka Allah.
"Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong." Qs. 16 : 23

Orang yang sombong wajib mendapat hukuman pedih dan diseret dari kelompok orang-orang Mu’min
kemudian dijebloskan ke dalam kelompok orang-orang terkutuk. Oleh karena itu, Allah berfirman,
"Keluarlah dari surga, sesungguhnya kamu terkutuk, dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu
sampai Hari Kiamat." Qs. 15 : 34-35
Demikian akibat dari kesombongan, karena sesungguhnya kesombongan itu mengakibatkan lemahnya
akal. Imam Ja’far as-Shadiq memberikan gambaran yang sangat jitu dalam masalah ini dengan
perkataannya, "Kesombongan yang masuk ke dalam hati seseorang, akan keluar dari akalnya sesuai
dengan kesombongan yang memasukinya."

Dakwah sebagai Pembinaan Ruhani

Dari kisah Adam, terdapat nilai dakwah kepada manusia untuk membina masalah ruhaniah, mengurangi
dan mengekang tingkah buruk yang ada pada diri Adam. "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman
kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah liat kering (yang
berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk." Qs. 15 : 28

Menurut ketentuan al-Qur’an manusia adalah makhluk yang diciptakan dari materi (yang disebut tanah
liat). Sedangkan ilmu pengetahuan sendiri menentukan bahwa tubuh manusia itu terbentuk dari unsur-
unsur yang ada pada tanah. Penciptaan manusia dari materi itu, menimbulkan pemenuhan kebutuhan-
kebutuhan logis antara lain, manusia mempunyai kecenderungan untuk terpenuhinya kebutuhan makan,
minum, pakaian, tempat tinggal, kekayaan, kehormatan dan mengembangkan keturunan. Di samping itu,
manusia menurut tabiat materialnya mempunyai kecenderungan menghina, memukul, membunuh,
memberontak, balas dendam, menguasai dan takabur.

Manusia, di samping makhluk yang diciptakan dari unsur material, juga ditiupkan ruh di dalamnya oleh
Allah swt. "Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuhnya) ruh (ciptaan)Nya."
Qs. 32 : 9

Peniupan ruh ke dalam tubuh manusia merupakan rahasia Allah dan ditempatkannya ruh dalam tubuh
manusia dimaksudkan agar bisa mengendalikan diri ke arah iman kepada Tuhan penciptanya, bersyukur,
berserah diri, mengajaknya untuk iradah Allah dalam kehidupan ini dan menegakkan etika hidup berupa
keadilan, kejujuran, kesantunan, cinta kebenaran dan kebaikan. Oleh sebab itu Allah mensifati hamba
beriman sebagai berikut: "…Mereka itu orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan hati
mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya…." Qs. 58 : 22

Yang dimaksud ruh bukanlah sekedar nyawa yang bisa mengakibatkan adanya kehidupan. Sebab jika
diartikan demikian maka kehidupan manusia disamakan dengan kehidupan binatang. Dan jika manusia
disamakan dengan kehidupan binatang, berarti tidak mempunyai kemuliaan atau kehidupan binatang,
berarti tidak mempunyai kemuliaan atau ketinggian derajat yang harus dihormati oleh para malaikat
sebagaimana diperintahkan Allah itu.

Dalam al-Qur’an tidak diterangkan bahwa maksud penyebutan ruh itu dialirkannya kehidupan hewani
dalam tubuh manusia. Menurut pemahaman al-Qur’an, yang disebut manusia meliputi materi, ruh dan
fitrah yang terpadu antara manusia iman kepada Allah dan penyerahan diri pada-Nya serta ketinggian
akhlaq, dan antara perjalanan ke bumi sampai tertariknya menikmati kenikmatan hewani. Maksudnya,
manusia mempunyai kebutuhan hidup jasmaniah seperti halnya hewan, yang dibedakan oleh adanya fitrah
tersebut. Berdasarkan keterangan ini, lebih tampak kontradiksi antara teori al-Qur’an dengan teori Darwin
(Yahudi) yang mengatakan bahwa semua teori tentang kejadian manusia tidak ada yang menyebutkan
adanya fitrah. Dan penafsiran aliran materialisme yang mengatakan bahwa kecenderungan etika bukan
fitrah manusia, akan tetapi tumbuh mengikuti pertumbuhan ekonomi, sosial, dan materi di mana manusia
itu berada. Jadi, etika merupakan sesuatu yang datang dari luar dirinya yang dibebankan kepadanya.

Kontradiksi antara al-Qur’an dan materialisme ini tidaklah terlalu aneh lantaran penafsiran-penafsiran
hewani tentang manusia itu sendiri. Rupanya, pendapat tersebut banyak dipengaruhi oleh teori evolusi
Darwin yang banyak mempengaruhi aliran-aliran di Eropa pada abad sembilan belas sampai dengan
permulaan abad dua puluh. Aliran tersebut pada hakekatnya justru merenggut manusia dari harkat
kemanusiannya dan menjebloskannya ke derajat hewani.
Pandangan Ilmu Pengetahuan tentang Materi (Asal Kejadian) Manusia

Al-Qur’an menjelaskan kepada kita tentang materi asal kejadian Adam dan keturunannya. "(Ingatlah)
ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, ‘Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari
tanah’." Qs. 38 : 71

Berdasarkan keterangan ayat ini tanah adalah merupakan asal kejadian manusia. Dan andaikan tanah itu
sudah berubah melalui proses sehingga menjadi manusia, sebagaimana telah diketahui bahwa yang
dimaksud adalah debu yang bercampur dengan air (lumpur). Allah berfirman, "Dan sesungguhnya Kami
telah menciptakan (Adam) dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk." Qs. 15 : 26

Yang dimaksud dengan Hamaun Masnun ialah tanah hitam yang sudah berubah baunya. Al-Baidhawy
dalam tafsirnya mengatakan, "Yang dimaksud ‘Al-Hamau ‘l-Masnun’ adalah tanah yang berubah
kehitaman akibat dilalui aliran air dalam jangka waktu yang panjang."

Al-Qur’an menjelaskan bahwa penciptaan manusia berasal dari tanah dan air. Adapun penciptaan
manusia dari tanah itu merupakan sesuatu yang didukung oleh kenyataan dan diakui ilmu pengetahuan.
Kalau anda mengambil bagian atau potongan tubuh manusia, kemudian diteliti menurut proses penelitian
laboratorium, maka akan anda dapatkan bahwa potongan tubuh manusia tersebut terdiri dari unsur-unsur
yang di antaranya adalah debu atau tanah. Oleh karena itu, jika manusia mati, maka tubuhnya akan
melebur menjadi tanah.

Adapun masalah air, para sarjana biologi berkeyakinan bahwa awal kehidupan dimulai pada air yang
manis, walaupun segolongan kecil dari mereka menentang pendapat ini. Memang, kehidupan tidak hanya
dimulai pada air saja, tetapi walaupun tidak secara detail ilmiah, bisa kita katakan bahwa kehidupan itu
tidak bisa sama sekali meninggalkan unsur air. Sebab, semua bentuk kehidupan bisa berlangsung berkat
adanya protoplasma dan persenyawaan semangat hidup di dalamnya. Para ahli ilmu tumbuh-tumbuhan
memberikan pengertian bahwa protoplasma adalah asas bagi kehidupan. Jadi, kehidupan dan air dalam
pertumbuhannya adalah persenyawaan yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Maka benarlah firman
Allah, "….Dan dari pada air, Kami jadikan sesuatu yang hidup… Qs. 21 : 30

Ajaran Menjauhi Keburukan

Dalam kisah ini al-Qur’an menceritakan tentang permusuhan Iblis terhadap Adam. Syaithan
membujuknya dan melakukan tipudaya agar Adam mau makan buah dari sebatang pohon yang dilarang
Allah mendekatinya. Adam terperdaya dengan bujuk rayu syaithan dan hingga akhirnya melanggar
larangan Allah dan mengakibatkan dikeluarkan dari surga sebagai imbalan atas kemaksiatannya.
Permusuhan Iblis tidak hanya berhenti sampai Adam, bahkan berlanjut sampai kepada keturunannya
hingga Hari Kiamat nanti. Allah berfirman, "Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu
oleh syaithan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga." Qs. al-A’raaf : 27

Sudah kita terangkan di atas bahwa Allah meniupkan ruh kepada Adam, dan seluruh manusia adalah
keturunannya. Karenanya tipu daya syaithan yang senantiasa menjauhkan manusia dari sifat yang terpuji
atau menjerumuskan ke jurang keburukan. Dari sebab ini timbul pertentangan antara kebaikan dan
keburukan pada diri manusia yang merupakan cobaan dan ujian. Apabila manusia berjihad melawan hawa
nafsu dan menang, maka dia akan mendapatkan keberuntungan berupa nikmat dan ridha Allah. Dan
sebaliknya, jika ia bisa dikuasai hawa nafsunya, menuruti tipu daya syaithan yang menjerumuskan ke
dalam jurang kebathilan itu, akibatnya ia menjadi orang yang merugi.

Dalam pembahasan ini lebih baik kiranya jika kita bicarakan tentang syaithan, gangguannya dan
pengaruhnya terhadap manusia agar para pembaca menjauhi dan berjihad melawan nafsunya, sehingga
mampu mencapai ketinggian ruhaniah untuk kebahagiaan dunia dan akhiratnya.
Tabiat Iblis dan syaithan: Iblis adalah nenek moyang syaithan. Iblis dan keturunannya adalah jin yang
maksiat (durhaka). ".…(Sujudlah mereka) kecuali Iblis. Dia adalah golongan Jin, maka ia mendurhakai
perintah Tuhannya." Qs. 18 : 50

Jin adalah satu jenis makhluk halus (ruh) yang berakal dan berkemauan. Mereka adalah mukallafunseperti
manusia. Hanya saja, mereka tidak hidup di alam nyata seperti manusia. Mereka tidak bisa dijangkau oleh
panca indra. Tabiat dan bentuknya tidak bisa dilihat hakekatnya. Allah berfirman, "Sesungguhnya ia dan
pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka."
Qs. al-A’raaf : 27

Dan jin itu diciptakan dari api. "Dan Kami telah menciptakan Jin sebelum (Adam) dari api yang sangat
panas."Qs. 15 : 27
Dan Iblis berkata kepada Tuhannya: "Engkau ciptakan aku dari api."
Qs. al-A’raaf : 12

Jin itu menjadi beberapa golongan, di antara mereka ada yang berbuat kebaikan dan ada pula yang sesat
dan membuat kerusakan. "Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara
kami ada pula yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda."
Qs. 72 : 11

Syaithan adalah musuh manusia: Iblis dan sekutunya, yakni syaithan adalah musuh-musuh manusia yang
senantiasa menanamkan ajakan-ajakan buruk dan bathil ke dalam diri manusia. "….Dan janganlah kamu
mengikuti langkah-langkah syaithan karena sesungguhnya syaithan itu adalah musuh yang nyata
bagimu. Sesungguhnya syaithan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji dan mengatakan
kepada Allah apa yang tidak kamu ketahui." Qs. al-Baqarah : 168-169

Allah telah membebaskan syaithan untuk menggoda manusia. Syaithan itu selalu menghiasi manusia
dengan keburukan dan memperdayakannya dengan kemungkaran, baik manusia itu sebagai Nabi atau
lainnya. Allah berfirman, "Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu setan-
setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain
perkataan yang indah-indah untuk menipu manusia." Qs. al-An’am : 112

Diriwayatkan dari Rasulullah saw bahwa ia bersabda, "Tak seorangpun di antara kamu yang tidak digoda
oleh golongan Jin yang senantiasa menyertaimu. Para sahabat bertanya, ‘Adapun engkau bagaimana hai
Rasul?’ Beliau menjawab, ‘Saya pun demikian pula, hanya Allah selalu melindungiku sehingga aku
terbebas, Allah tidak menyuruhku kecuali yang baik." HR. Muslim

Syaithan adalah sumber kejahatan dalam wujudnya, di samping sebagai pengajak kejahatan dan
kerusakan di bumi. Karenanya syaithan adalah pengisi setiap orang yang berjiwa kosong dan
menyelewengkannya kepada kecenderungan nafsu seksual, menjatuhkan martabat, menanamkan sifat
memperbudak dan kecenderungan melakukan kerusakan. Dia jugalah yang melontarkan permusuhan dan
kemarahan di antara manusia, antara seseorang dengan saudaranya, antara suami dan istri, antara
golongan ummat dengan jama’ahnya. Allah berfirman, "Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku,
hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang telah baik (benar). Sesungguhnya syaithan itu
menimbulkan perselisihan di antara mereka." Qs. 17 : 5

Syaithan tidak kuasa menggoda orang Mu’min

Hati adalah nur (cahaya), jika jiwa itu telah matang. Dan menerangi hati dapat menghapus dan
melenyapkan godaan-godaan syaithan. Allah berfirman, "Apabila kamu membaca al-Qur’an hendaklah
kamu hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaithan yang terkutuk. Sesungguhnya
syaithan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya."
Qs. 16 : 98-99
"….Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman."
Qs. al-a’raaf : 27

Tidak ada senjata yang paling ampuh untuk mengusir syaithan selain mengingat Allah dan berhati-hati
dalam bertindak, baik di tengah-tengah orang lain maupun sendirian karena ketakutannya kepada Allah.
Dzikir kepada Allah itu dapat menjernihkan hati dan menanamkan rasa cinta terhadap kebenaran dan
berbuat kebaikan. Di samping itu dapat melemahkan kecenderungan ke arah kebathilan dan keburukan,
sehingga syaithan tidak menemukan jalan untuk memasukinya. "Sesungguhnya orang-orang yang
bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaithan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga
mereka melihat kesalahan-kesalahannya." Qs. al-A’raaf : 201

Artinya, sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila digoda syaithan untuk berbuat maksiat,
mereka sadar bahwa syaithan itu musuhnya. Ingat akan siksa Allah bagi orang yang mengikuti syaithan,
dan banyaknya pahala Allah bagi orang yang taat kepada-Nya, mereka itulah yang bisa membedakan
antara kebaikan dan keburukan, antara haq dan bathil. Karenanya mereka menjauhi syaithan dan
godaannya.

Perlu dicatat, bahwa syaithan tidak akan mengganggu manusia kecuali jika manusia tidak berdzikir
kepada Allah. Dalam hal ini, Allah berfirman, "Barang siapa berpaling dari pengajaran Tuhan Yang
Maha Pemurah (al-Qur’an), Kami adakan baginya syaithan (yang menyesatkan) maka syaithan itulah
yang menjadi teman yang selalu menyertainya." Qs. 43 : 36

Maksudnya, sesungguhnya orang yang lalai berdzikir kepada Allah memudahkan syaithan untuk
mendekatinya. Sebaliknya, orang yang selalu ingat (dzikir) kepada Allah maka syaithan akan
menjauhinya. Ringkasnya, di alam ghaib ada makhluk halus yang bernama syaithan. Panca indra kita
tidak dapat mengetahuinya walaupun dapat berhubungan dan mempengaruhi jiwa kita ke arah kejahatan
yang diistilahkan oleh Allah dalam al-Qur’an dengan kata-kata was-wasan, nazghan dan massan. Kita
merasakan adanya pengaruh ini namun tidak tahu dari mana sumber datangnya pengaruh itu. Pengaruh
syaithan pada ruh (jiwa) itu tak ubahnya seperti bakteri dalam tubuh. Bakteri cepat sekali memasuki
bagian-bagian tubuh yang lemah dan menyerangnya. Untuk menaggulangi serangan bakteri itu harus
dilakukan terapi medis tertentu. Demikian halnya dengan menaggulangi pengaruhnya dengan
memperkokoh kekuatan ruhani. Maksudnya, ruhani diisi dengan iman, ketakwaan, munajat dan
keikhlasan beribadah kepada-Nya, serta meninggalkan segala bentuk keburukan, baik yang tampak
maupun yang tersembunyi, sehingga kebaikan, benci terhadap kebathilan bisa tertanam dalam jiwa.
Dengan kondisi ruhaniah demikian, tentunya akan bisa mengatasi pengaruh-pengaruh syaithan berupa
kejahatan dan kebathilan.

Taubat dapat mengusir syaithan, dengan taubat yang sebenar-benarnya maka kebaikan akan dapat
mengalahkan keburukan. Dan pada saat kebaikan dapat mengalahkan keburukan itu, berarti syaithan
mundur teratur tunduk kepada manusia yang mendapat petunjuk Allah. Karenanya, jika kita tergelincir ke
dalam kemaksiatan, ingatlah teladan yang telah dilakukan oleh nenek moyang kita, Adam, yang
melakukan taubat dan berusaha mengisi kehidupan dengan kesucian dan keutamaan. Dengan demikian
kita akan terbebas dari cengkeraman pengaruh dan godaan syaithan.

"Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaithan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya
Allah Maha Pendengar lagi Maha Mengetahui."
Qs. al-A’raaf : 200
                            Kisah Qabil dan Habil
Qabil dan Habil, keduanya adalah putra Adam as. Al-Qur’an mengisahkan keduanya agar menjadi i’tibar
dan hikmah orang-orang mu’min.

Qabil adalah seorang yang bermental buruk, selalu melakukan keburukan, dosa, tamak dan menentang
kebenaran. Habil adalah saudaranya, seorang yang saleh, taqwa dan selalu berbuat kebenaran. Di antara
keduanya sering timbul perselisihan. Habil selalu mempertahankan kebenaran, sedang Qabil selalu
menentangnya. Perselisihan antara keduanya sering terjadi hingga akhirnya sampai ke suatu titik kritis,
yakni peristiwa pembunuhan yang dilakukan oleh Qabil terhadap adiknya, Habil. Di antara sebab
perselisihan mereka ada dua pendapat:

Pertama, Habil adalah seorang peternak yang mempunyai ternak kambing, sedangkan Qabil adalah
seorang petani yang memiliki tanaman pertanian. Masing-masing melakukan kurban dengan
mengeluarkan harta yang dimiliki mereka masing-masing. Habil memilih seekor domba yang paling baik
untuk dijadikan kurban, sedangkan Qabil memilih gandum yang terburuk dari hasil pertaniannya untuk
berkurban. Kemudian keduanya menyerahkan harta kurban masing-masing kepada Allah. Tiba-tiba
turunlah api dari langit yang membakar kurban Habil dan membiarkan kurban Qabil. Setelah Qabil
mengetahui Allah menerima kurban saudaranya dan tidak menerima harta kurbannya, timbullah rasa
dengki yang kemudian membunuh adik kandungnya itu.

Kedua, dikisahkan bahwa Nabi Adam as mempunyai anak yang masing-masing dilahirkan oleh istrinya
kembar dua, terdiri dari laki-laki dan perempuan. Yang pertama, Qabil dengan saudari kembarnya
perempuan, yang kedua Habil dengan saudari kembarnya. Adam ingin menjodohkan masing-masing
anaknya secara bersilang. Qabil dengan saudari kembar Habil, dan Habil dengan saudari kembar Qabil.
Kebetulan, saudari kembar Qabil adalah wanita cantik sehingga ketika Adam akan mengawinkannya
dengan Habil, Qabil menolak dan menantang ayahnya dan berkata, ‘Saya lebih berhak memperistri
saudari kembarku, sedangkan Habil lebih berhak memperistri saudari kembarnya. Bukanlah hal yang
bersilang ini tidak lain hanyalah pendapatmu belaka!" Kemudian Adam memerintahkan kedua anak laki-
lakinya melakukan kurban. Barang siapa yang kurbannya diterima akan dijodohkan dengan anak yang
cantik (saudari kembar Qabil) itu. Ternyata, yang diterima Allah adalah qurban Habil. Turunlah api dari
langit menyambar dan menelan kurban Habil, dan akhirnya timbullah rasa dengki terhadap adiknya, yang
kemudian terjadi pembunuhan.

"Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya,
ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua
(Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil), ‘Aku pasti membunuhmu.’ Berkata
Habil, ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa. Sungguh kalau
kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan
tanganku kepadamu untuk membunuhmu, aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam.
Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka
kamu akan menjadi penghuni neraka, dan demikian itulah pembalasan bagi orang-orang zhalim.’ Maka
hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah.
Maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi." Qs. al-Maidah : 27-30

Perkataan takwa yang diucapkan Habil ketika berdialog dengan Qabil, sebenarnya sangat tepat untuk
mengingatkan dirinya atau Qabil yang ingin melakukan kejahatan itu. Namun, Qabil bukanlah ahli takwa.
Karenanya, Allah tidak menerima kurbannya karena kedengkian yang meliputi hatinya memuncak dan
menimbulkan suatu keinginan keras untuk membunuh adiknya. Kemudian kita berdalih kepada firman
Allah yang mengisahkan ucapan saudara teraniaya (Habil) ketika mengatakan, ‘Sesungguhnya kalau
kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan
tanganku untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah Tuhan seru sekalian alam.’
Dari sini kita tahu kemuliaan mentalitas Habil yang penuh takwa dan kebaikan. Mental Habil untuk
menolak untuk membalas kejahatan yang akan dilakukan kepadanya, karena pembunuhan benar-benar
tidak cocok dengan sifat mentalnya. Ia benar-benar takut kepada Allah Rabbu’l-Alamin. Barang siapa
takut kepada Allah tidak akan berbuat zhalim terhadap seseorang. Rasa takut kepada Allah merupakan
benteng yang kuat untuk mencegah perbuatan salah dan dosa di dunia ini. Karenanya, jika para pendidik
dan penegak kebenaran mengerti tentang fungsi takwa ini, tentu mereka akan beramal dan takut
bermaksiat kepada Allah, dan akan tercapailah masyarakat yang kokoh, kuat dan penuh kedamaian.

Tetapi, Qabil yang dapat dikuasai oleh cengkeraman kemaksiatan, rapuhlah perrtahanan dirinya terhadap
gelora nafsu jahatnya. "Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh
saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang rugi."
(Qs.5:30)

Pertentangan sengit itu, hakekatnya tidak terjadi pada diri Qabil dan Habil. Tetapi pertentangan sengit
yang sebenarnya terjadi antara Qabil dan hawa nafsunya, atau antara Qabil dengan kemauan jahatnya.
Dalam keadaan demikian, mestinya Qabil harus bertahan mengekang keliaran nafsunya untuk meloloskan
diri dari cengkeraman nafsu jahat itu. Namun, Qabil itu lemah dalam menghadapi kelemahan dirinya dan
keliaran nafsunya, sehingga ia dapat dijerumuskan nafsu jahatnya untuk membunuh saudaranya.
Demikian itulah jenis dengki yang amat ganas. Hasad, adalah perbuatan dosa kepada Allah yang pertama
terjadi di langit dan bumi. Di langit, perbuatan hasad dilakukan oleh Qabil terhadap Habil.

Pelajaran dari Burung Gagak

Setelah Qabil membunuh saudaranya ia mendiamkan begitu saja mayat adiknya karena tidak mengerti
apa yang harus dilakukan. Kemudian Allah mengutus dua ekor burung gagak, keduanya berkelahi hingga
akhirnya terbunuhlah salah satu di antaranya. Gagak yang masih hidup kemudian melobangi tanah
dengan paruh dan kakinya. Setelah selesai, dilemparkannya gagak yang sudah mati itu ke dalam lobang
dan ditimbun dengan tanah. Ketika Qabil melihat gagak mengubur seekor gagak yang dibunuhnya,
tersentuhlah hatinya. Ia tidak merasa lega hatinya kalau dirinya kalah dengan seekor gagak dalam
masalah kebaikan. Maka, dikuburkanlah saudaranya ke dalam tanah kemudian ia menyesali perbuatannya
seraya berkata, ‘Kenapa diriku ini hanya memiliki lebih sedikit penghormatan kepada yang lain
dibandingkan dengan seekor gagak.’

Inilah maksud dari firman Allah tersebut berikut ini, "Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak
menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia seharusnya
menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil, ‘Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat
seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?’ Karena itu jadilah ia
seorang di antara orang-orang yang menyesal." Qs. al-Maidah : 31

								
To top