; peranan kepala sekoloh meningkatkan kinerja guru
Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out
Your Federal Quarterly Tax Payments are due April 15th Get Help Now >>

peranan kepala sekoloh meningkatkan kinerja guru

VIEWS: 331 PAGES: 37

  • pg 1
									I.     PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang permasalahan

       Pendidikan nasional sedang mengalami berbagai perubahan yang cukup
mendasar, terutama berkaitan dengan undang-undang sistem pendidikan nasional,
manajemen dan kurikulum yang diikuti oleh perubahan-perubahan teknis lainnya.
Perubahan-perubahan tersebut diharapkan dapat memecahkan berbagai permasalahan
pendidikan, baik masalah-masalah konvensional maupun masalah-masalah yang muncul
bersamaan dengan hadirnya ide-ide baru (masalah inovatif). Disamping itu melalui
perubahan diharapkan tercipta iklim yang kondusif bagi peningkatan kualitas pendidikan
dan pengembangan sumber daya manusia (SDM) untuk mempersiapkan bangsa Indonesia
memasuki era kesejagatan dalam kesemrawutan global.
       Perubahan-perubahan diatas menuntut berbagai tugas yang harus dikerjakan oleh
para tenaga kependidikan sesuai dengan peran dan fungsinya masing-masing, mulai dari
level makro sampai kepada level mikro. Di sekolah terdapat dua komponen yang paling
berperan dan sangat menentukan kualitas pendidikan yakni kepala sekolah dan guru.
       Dalam perspektif globalisasi, otonomi daerah dan desentralisasi pendidikan serta
untuk menyukseskan manajemen berbasis sekolah. Kepala sekolah merupakan figur
sentral yang harus menjadi teladan bagi para tenaga kependidikan di sekolah, oleh karena
itu untuk menunjang keberhasilan dalam perubahan yang dilakukan perlu dipersiapkan
kepala sekolah yang profesional yaitu mau dan mampu untuk melakukan perencanaan,
pelaksanaan, serta evaluasi terhadap berbagai kebijakan dan perubahan yang dilakukan
secara efektif dan efisien.
       Berdasarkan pernyataan yang diuraikan diatas masih banyak kepala sekolah, guru
yang belum siap mengikuti berbagai perubahan atau penerapan ide-ide baru (inovasi
baru) di sekolah, ketidaksiapan tersebut antara lain berkaitan dengan kurangnya kepala
sekolah dan guru yang profesional yang bisa meningkatkan kualitas pendidikan. Kualitas
pendidikan akan tercapai dengan baik apabila kepala sekolah dan tenaga kependidikannya
(guru) dapat berkolaborasi dan bekerjasama dalam menghasilkan kualitas sekolah untuk
meningkatkan visi dan misi nya.
       Pendidikan yang bermutu sangat membutuhkan tenaga kependidikan yang
profesional. Tenaga kependidikan mempunyai peran yang sangat strategis dalam
pembentukkan pengetahuan, keterampilan dan karakter peserta didik, oleh karena itu
tenaga kependidikan yang profesional akan melaksanakan tugasnya secara profesional


Disusun Oleh : Kelompok tiga                                                          0
sehingga menghasilkan lulusan yang lebih bermutu. Menjadi tenaga kependidikan yang
profesional tidak akan terwujud tanpa adanya upaya untuk meningkatkannya, salah satu
cara untuk mewujudkan pengembangan profesionalisme, yaitu perlu dukungan dari pihak
yang mempunyai peran penting yaitu kepala sekolah. Kepala sekolah merupakan
pemimpin pendidikan yang sangat strategis karena kepala sekolah berhubungan langsung
dengan pelaksanaan program pendidikan di sekolah. Ketercapaian pelaksanaan program
pendidikan sangat tergantung pada kecakapan dan kebijaksanaann kepemimpinan kepala
sekolah. kepala sekolah merupakan seorang pejabat profesional dalam oraganisasi
sekolah yang bertugas mengatur semua sumber organisasi dan bekerjasama dengan guru
dalam mendidik siswa untuk mencapai tujuan pendidikan. Dengan keprofesionalan kepala
sekolah, pengembangan profesionalisme tenaga kependidikan mudah dilakukan karena
sesuai dengan fungsinya, kepala sekolah memahami kebutuhan sekolah yang ia pimpin
sehingga kompetensi guru tidak hanya mandeg pada kompetensi yang ia miliki
sebelumnya melainkan bertambah dan berkembang dengan baik sehingga profesionalisme
guru akan terwujud.
       Profesionalisme tenaga kependidikan secara konsisten menjadi salah satu faktor
terpenting dari mutu pendidikan. Tenaga kependidikan yang profesional mampu
membelajarkan murid secara efektif sesuai dengan keadaan. sumber daya dan lingkungan.
Namun untuk menghasilkan guru yang profesional juga bukanlah tugas yang mudah.
Guru harus lebih dinamis dan kreatif dalam mengembangkan proses pembelajaran siswa,
agar proses pendidikan dapat berjalan efektif dan efisien, guru dituntut memiliki
kompetensi yang memadai, baik dari segi jenis maupun isinya. jika kita lihat sebenarnya
ada dua faktor yang dapat menjelaskan mengapa upaya perubahan mutu pendidikan
selama ini kurang atau tidak berhasil.
       Pertama karena strategi pengembangan pendidikan selama ini lebih bersifat input
oriented strategy yang lebih bersandar pada asumsi bahwa bilamana semua input
pendidikan telah terpenuhi seperti penyediaan buku-buku (materi ajar) dan alat-alat
belajar lainnya maka secara otomatis lembaga pendidikan (sekolah) akan dapat
menghasilkan output yang bermutu sebgaimana yang diharapkan. Ternyata strategi input
output yang diperkenalkan oleh teori education production function (HanuSHek 1979-
1981) tidak befungsi sepenuhnya di lembaga pendidikan melainkan hanya terjadi dalam
institusi ekonomi dan industri.
       Kedua, pengelolaan pendidikan selama ini lebih bersifat macro oriented dan
diatur di tingkat pusat. Akibatnya banyak faktor yang diproyeksikan di tingkat makro
tidak berjalan sebagaimana mestinya di tingkat mikro atau dengan kata lain bahwa

Disusun Oleh : Kelompok tiga                                                         1
kompleksitas cakupan permasalahan pendidikan, seringkali tidak dapat terfikirkan secara
utuh dan akurat oleh birokrasi pusat. Salah satu contoh misalnya banyak sekolah yang
ditunjuk sebagai ritisan sekolah kategori mandiri, sampai saat ini perkembangan seperti
apa belum jelas, berdasarkan permasalahan yang diuraikan, kami kelompok tiga akan
merumuskan judul “ Peranan kepemimpinan kepala sekolah dalam meningkatkan budaya
kerja dan kinerja mengajar guru di SMA Negeri 5 kota Tangerang” berdasarkan judul
tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :
1. Pertama, Kepemimpinan kepala sekolah dalam pembahasan ini diartikan sebagai
   tindakan-tindakan     spesifik   kepala     sekolah   dalam     mengarahkan     dan
   mengkoordinasikan kerja anggota kelompok. Salah satu diantaranya adalah guru.
   Gambaran variabel ini diperoleh berdasarkan skor angket persepsi guru mengenai
   kepemimpinan kepala sekolah. Kami berasumsi semakin tinggi skor seseorang maka
   akan semakin tinggi tingkat persepsinyan terhadap kepemimpinan kepala sekolah.
   Kepemimpiinan kepala sekolah dalam perubahan ini diukur melalui dimensi sebagai
   berikut :
     a) Membuat keputusan
     b) Mempengaruhi dan megarahkan bawahan
     c) Memilih dan mengembangkan personil
     d) Mengadakan komunikasi
     e) Memberikan motivasi
     f) Melakukan pengawasan
2. Budaya kerja guru dalam pembahasan ini adalah penilaian terhadap budaya kerja akan
   dilakukan melalui persepsi guru terhadap apa yang dilihat, dirasakan dan difikirkan
   pada lingkungan kerjanya dan dapat dipandang dari dua sudut, yaitu :
   1. Kondisi lingkungan fisik pekerjaan
   2. Kondisi lingkungan pekerjaan
       Gambaran variabel ini diperoleh berdasarkan skor angket persepsi guru terhadap
   budaya kerja, semakin tinggi skor seseorang maka akan semakin tinggi pula tingkat
   persepsinya terhadap budaya kerja.
3. Kinerja mengajar guru dalam pembahasan ini diartikan sebagai unjuk kerja guru
   dalam mengelola pembelajaran. Gambaran variabel ini diperoleh berdasarkan skor
   angket persepsi guru terhadap kinerjanya. Semakin tinggi skor seseorang maka akan
   semakin tinggi tingkat persepsinya terhadap kinerja mengajar. Dimensi variabel ini
   meliputi :
   1. Merencanakan pembelajaran

Disusun Oleh : Kelompok tiga                                                         2
   2. Implementasi pembelajaran
   3. Mengevaluasi pembelajaran


1.2 Identifikasi Permasalahan

       Berdasarkan latarbelakang masalah yang dibahas serta rumusan judul yang
dikemukakan, kami kelompok tiga akan mengidentifikasi permasalahan sebagai berikut:
variabel yang akan dibahas terdiri dari dua variabel diantaranya kepemimpinan kepala
sekolah dan budaya kerja guru sebagai variabel bebas (independent variabel). Sedangkan
variabel terikat (dependent variable) adalah kinerja mengajar guru.
       Hubungan dari ketiga variabel tersebut dapat dilihat pada desain berikut ini,




                    ( X1 )
                                                  ( ryx1 )


                                      ( R2yx2 )
                                                                             ( Y)



                    ( X2 )                        ( ryx2 )




       Keterangan :
       X1 : Kepemimpinan Kepala Sekolah
       X2 : Budaya kerja guru
       Y : kinerja mengajar Guru
       ε : Residual (variabel sisa)
       Berdasarkan desain yang telah ditentukan, variabel sebab akibat dari pembahasan
ini adalah apakah terdapat hubungan yang signifikan antara kepemimpinan kepala
sekolah, budaya kerja guru dan kinerja mengajar guru.




Disusun Oleh : Kelompok tiga                                                           3
1.3 Metoda Penulisan

       Dalam membahas permasalahan ini penulis menggambarkan pendekatan
kuantitatif dengan metode deskriptif. Pendekatan kuantitatif yang digunakan dengan cara
mengukur indikator-indikator variabel sehingga diperoleh gambaran pengaruh diantara
variabel-variabel tersebut.
       Langkah yang dilakukan dalam pembahasan ini yaitu pengumpulan, penyusunan,
analisa dan penginterpretasian data lalu nantiya akan ditarik suatu kesimpulan. Sebelum
hubungan-hubungan antara variabel diuji maka setiap variabel akan diukur dan dijabarkan
melalui operasional variabel. Operasional variabel dapat dilihat didalam tabel yaitu tabel
operasional variabel kepemimpinan kepala sekolah (X1), tabel operasional budaya kerja
guru (X2), tabel operasional variabel kinerja mengajar guru (Y). Ketiga variabel ini
bersumber dari kerangka teoritis yang dijadikan dasar penyusunan konsep berfikir yang
menggambarkan secara abstrak suatu gejala sosial. Jenis data dalam pembahasan ini
adalah kuantitatif yang diperoleh berdasarkan hasil pengukuran terhadap tiga variabel
yaitu : dua variabel bebas , kepemimpinan kepala sekolah (X1) dan budaya kerja guru
(X2) dan variabel terikat yaitu kinerja mengajar guru (Y). Data variabel menggunakan
questionaire yang disebar kepada responden yang telah dipilih sebagai sampel penelitian
sebanyak 58 (lima puluh delapan).
       Kuesioner terdiri dari sejumlah butir pertanyaan-pernyataan yang dilengkapi 5
alternatif jawaban. Setiap jawaban mendapat skor antara 1 sampai 5. pertanyaan
kuesioner sesuai dengan tabel operasional masing-masing variabel. Untuk pelaksanaan
pengujian validitas dan reliabilitas instrumen penelitian akan dilaksanakan langkah
sebagai berikut :
1. Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat keandalan atau keshahihan
   suatu alat ukur, alat ukur yang kurang valid berarti memiliki validitas rendah. Untuk
   menguji alat ukur, terlebih dahulu dicari harga korelasi antara bagian-bagian dari alat
   ukur secara keseluruhan. Dengan cara mengkolerasikan setiap butir alat ukur dengan
   skor total yang merupakan jumlah tiap skor butir, untuk mengukur validitas alat ukur
   digunakan rumus pearson product moments.




Disusun Oleh : Kelompok tiga                                                            4
Keterangan :
T= Nilai thitung
r = koefisien korelasi hasil Fhitung
n=jumlah korresponden


Distribusi (Tabel t) untuk alpha=0.05 dan derakat kebebasan (dk=n-2)




   2.    Menguji Reliabilitas
                   Uji   reliabilitas   dilakukan   untuk   mendapatkan   tingkat   ketepatan
         (keterandalan atau keajegan) alat pengumpul data (instrumen) yang digunakan.
         Uji reliabilitas instrumen dilakukan menggunakan rumus Alpha, dengan langkah-
         langkah sebagai berikut :




  Disusun Oleh : Kelompok tiga                                                             5
Untuk mencari reliabilitas instrumen digunakan rumus Spearmen Brown yakni :




   Disusun Oleh : Kelompok tiga                                               6
Keterangan:
r11 = nilai reliabilitas
rb = koefisien korelasi
      Untuk mengetahui koefisien signifikan atau tidak digunakan distribusi (Tabel r) untuk
alpha=0.05 dengan derajat kebebasan (dk = n-2). Kemudian membuat keputusan dengan
membandingkan r11 dengan rtabel . adapun kaidah keputusan yang digunakan adalah:
Jika r11 > rtabel maka disimpulkan bahwa instrumen reliabel.
Jika r11 > rtabel maka disimpulkan bahwa instrumen tidak reliabel.
        Kegiatan yang cukup penting dalam keseluruhan proses penelitian adalah pengolahan
data. Dengan pengolahan data dapat diketahui tentang makna dari data yang berhasil
dikumpulkan. Dengan demikian hasil penelitian pun akan segera diketahui.
        Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis korelasi pearson
product moment dan korelasi ganda. Analisis ini akan digunakan dalam menguji besarnya
pengaruh dan kontribusi variabel X1 dan X2 terhadap Y. Analisis ini untuk mengetahui
kontribusi atau sumbangan pengaruh kepemimpinan kepala sekolah (X1) dan budaya kerja
guru (Xz) secara bersama-sama berkontribusi secara signifikan terhadap kinerja mengajar
guru (Y) di SMA Negeri kota Tangerang. Rumus analisis korelasi pearson Product Moment
(PPM) adalah sebagai berikut :




        Korelasi PPM dilambangkan (r) dengan ketentuan nilai r tidak lebih dari harga (-1< r
< +1). Apabila nilai r=-1 artinya korelasinya negatif sempurna; r=0 artinya tidak ada korelasi;
dan r=1 berarti korelasinya sangat kuat. Sedangkan arti harga r akan dikonsultasikan dengan
tabel interpretasi nilai r sebagai berikut:




        Pengujian lanjutan yaitu uji signifikansi yang berfungsi apabila peneliti ingin mencari
makna pengaruh variabel X terhadap Y, maka hasil korelasi PPM tersebut diuji dengan
signifikansi dengan rumus :
        Keterangan :
        thitung   = nilai t


    Disusun Oleh : Kelompok tiga                                                             7
   r       = nilai koefisien korelasi
   n       = jumlah sampel
           Nilai ttabel ditentukan dengan alpha=0.05 dan derajat kebebasan (dk=n-2).
   Sedangkan kaidah keputusan yang digunakan adalah :
   Jika thitung > ttabel , maka dapat disimpulkan bahwa instrumen berpengaruh signifikan.
   Jika thitung < ttabel , maka dapat disimpulkan bahwa instrumen tidak berpengaruh
   signifikan.
           Selanjutnya untuk menyatakan besar kecilnya sumbangan variabel X terhadap
   Y dapat ditentukan dengan rumus koefisien determinan. Koefisien determinasi adalah
   kuadrat dari koefisien korelasi PPM yang dikalikan dengan 100%. Dilakukan untuk
   mengetahui seberapa besar variabel X mempunyai sumbangan atau ikut menentukan
   variabel Y. sumbangan dicari dengan menggunakan rumus :




           Selanjutnya untuk mengetahui signifikansi korelasi ganda dicari dulu Fhitung ,
   kemudian dibandingkan dengan Ftabel. Rumus untuk menentukan Ftabel , Rumus
   untuk menentukan Fhitung adalah :




   Keterangan :
   R = nilai koefisien korelasi ganda
   k = jumlah variabel bebas (indeondent)
   Fhitung = nilai f yang dihitung
   Kaidah pengujian signifikansi :
   Jika F hitung > FTabel maka tolak H0 artinya signifikan
   Jika F hitung < FTabel maka terima H0 yang artinya tidak signifikan
   Menentukan nilai FTabel menggunakan Tabel F dengan rumus :
   Taraf signifikansi alpha=0.01 atau alpha=0.05 Ftabel= F {(1-a)(dk=k),(dk=n-k-1)}


Disusun Oleh : Kelompok tiga                                                                8
       Untuk mendeskripsikan profil masing-masing variabel penelitian dilakukan
perhitungan presentase rata-rata dari setiap variabel yang bertujuan untuk mengetahui
kecenderungan      atau   gambaran        umum     jawaban   responden   terhadap   variabel
penelitian.prosentase rata-rata masing-masing variabel ini dihitung dengan rumus sebagai
berikut:




       Keterangan :
       P = presentase skor rata-rata yang dicari
       X = skor rata-rat setiap variabel
       Std : Skor ideal setiap variabel
              Setelah hasilnya diperoleh, kemudian dikonsultasikan dengan kriteria sebagai
       berikut:




   1.4 Analisis Data

   1.4.1   Operasional Variabel Penelitian

                  Sebelum hubungan-hubungan antar variabel diadakan pengujian, maka
           setiap variabel akan diukur dan dijabarkan melalui operasional variabel. Variabel-
           variabel dalam penelitian ini bersumber dari kerangka teoritis yang dijadikan
           dasar penyusunan konsep berfikir yang menggambarkan secara abstrak suatu
           gejala sosial. Variasi nilai dari konsep disebut variabel yang dalam setiap
           penelitian selalu didefinisikan atau dibatasi pengertiannya secara operasional.
           Variabel-variabel yang dioperasionalisasikan adalah semua variabel yang
           terkandung dalam hipotesis-hipotesis penelitian yang dirumuskan yaitu dengan
           cara menjelaskan pengertian-pengertian konkret dari setiap variabel sehingga
           dimensi dan indikator-indikatornya serta kemungkinan derajad nilai atau
           ukurannya dapat ditetapkan.

    Disusun Oleh : Kelompok tiga                                                           9
      a.) Operasional variabel kepemimpinan kepala sekolah X1
                  Kepemimpinan dalam penelitian diartikan sebagai tindakan-tindakan
            spesifik kepala sekolah dalam mengarahkan dan mengkoordinasikan kerja
            anggota kelompok. Gambaran variabel ini diperoleh berdasarkan skor angket
            persepsi guru mengenai kepemimpinan kepala sekolah. Semakin tinggi skor
            seseorang, semakin tinggi tingkat persepsinya terhadap kepempinan kepala
            sekolah.
                  Kepempinan kepala sekolah dalam penelitian ini diukur melalui dimensi:
            (1) membuat keputusan, (2) mempengaruhi dan mengarahkan bawahan, (3)
            memilih dan mengembangkan personil, (4) mengadakan komunikasi, (5)
            memberikan motivasi dan (6) melakukan pengawasan (Yulk Gary, 1998:60).
                  Operasional variabel kepemimpinan secara lebih rinci dapat dilihat pada
            tabel berikut ini.


                  Tabel 3.1
                  Operasional variabel Kepemimpinan Kepala Sekolah (X1 )
      Dimensi                    Indikator                        Ukuran                     Skala
  1.Membuat             Penggunaan informasi       1. Tingkat keakuratan informasi           ordinal
  Keputusan                                        2. Tingkat relevansi informasi
                                                   3. Tingkat kelengkapan informasi
                                                   4. Tingkat kemuthakiran informasi
                        Partisipasi Stakeholder    5. Tingkat partisipasi guru dalam
                                                      mengambil keputusan
                                                   6. Tingkat      partisipasi      komite
                                                      sekolah      dalam         mengambil
                                                      keputusan
                        Kecepatan            dan   7. Tingkat ketepatan pengambilan
                        ketepatan                     keputusan
                                                   8. Tingkat     kecepatan      mengambil
                                                      keputusan
  2. Mempengaruhi Keteladanan                      9. Tingkat      kedisiplinan      dalam
  dan mengarahkan                                     melaksanakan tugas.
  bawahan                                          10. Tingkat      ketegasan        dalam
                                                      melaksanakan tugas.
                                                   11. Tingkat     kewibawaan        dalam


Disusun Oleh : Kelompok tiga                                                                   10
       Dimensi           Indikator                      Ukuran                     Skala
                                             melaksanakan tugas.
                    Pengarahan            12. Tingkat    pengarahan        dalam
                                             memberikan tugas kepada guru
                                          13. Tingkat empati kepada guru
  3. Memilih dan Dasar pemilihan dan      14. Tingkat pendidikan yang dimiliki
  mengembangkan     pengembangan             guru
  personil                                15. Tingkat      pengalaman       yang
                                             dimiliki guru
                                          16. Tingkat kompetensi yang dimiliki
                                             guru
                    Peluang               17. Tingkat peluang yang diberikan
                    Pengembangan             kepada guru untuk studi lanjut
                                          18. Tingkat peluang yang diberikan
                                             kepada guru untuk mengikuti
                                             diklat yang relevan
                                          19. Tingkat peluang yang diberikan
                                             kepada guru untuk menempati
                                             jabatan tertentu.
  4.   mengadakan Komunikasi formal       20. Tingkat    komunikasi      formal
  komunikasi                                 dengan guru
                                          21. Tingkat    komunikasi      formal
                                             dengan orang tua siswa
                                          22. Tingkat    komunikasi      formal
                                             dengan komite sekolah
                                          23. Tingkat    komunikasi      formal
                                             dengan siswa
                    Komunikasi informal   24. Tingkat   komunikasi      informal
                                             dengan guru
                                          25. Tingkat   komunikasi      informal
                                             dengan orang tua siswa
                                          26. Tingkat   komunikasi      informal
                                             dengan komite sekolah
                                          27. Tingkat   komunikasi      informal
                                             dengan siswa



Disusun Oleh : Kelompok tiga                                                        11
       Dimensi            Indikator                          Ukuran                       Skala
  5.   Memberikan Mendorong kreativitas       28. Tingkat dorongan kepada guru
  motivasi                                       untuk       melakukan       pekerjaan
                                                 dengan cara-cara baru yang lebih
                                                 inovatif
                                              29. Tingkat dorongan kepada guru
                                                 untuk mencari peluang maju agar
                                                 lebih optimal dalam bekerja
                                              30. Tingkat dorongan kepada guru
                                                 untuk        berinisiatif      dalam
                                                 melakukan pekerjaan
                                              31. Tingkat dorongan kepada guru
                                                 untuk melakukan tugas yang lebih
                                                 menantang
                    Mendorong komitmen        32. Tingkat dorongan kepada guru
                                                 untuk       mempunyai        loyalitas
                                                 terhadap pekerjaan
                                              33. Tingkat dorongan kepada guru
                                                 untuk disiplin dalam melakukan
                                                 pekerjaan
                    Menciptakan               34. Tingkat      penghargaan       yang
                    persaingan                   diberikan kepada guru
                                              35. Tingkat sanksi yang diberikan
                                                 kepada guru
  6.     melakukan Pengawasan langsung        36. Mengecek      pelaksanaan      tugas
  pengawasan                                     yang dilakukan oleh guru
                                              37. Memberikan bimbingan kepada
                                                 guru dalam melaksanakan tugas
                                              38. Memeriksa kesesuaian laporan
                                                 dengan hasil kerja guru
                    Pengawasan        tidak   39. Meminta laporan hasil pekerjaan
                    langsung                     guru secara tertulis
                                              40. Mengoreksi pekerjaan guru secara
                                                 periodik




Disusun Oleh : Kelompok tiga                                                               12
             b.) Operasional variabel Budaya Kerja Guru X2
                 Budaya kerja yang dimaksud dalam penelitian ini adalah penilaian terhadap
             budaya kerja akan dilakukan melalui persepsi guru terhadap apa yang dilihat,
             dirasakan dan difikirkan pada lingkungan kerjanya. Yang dapat dipandang dari
             dua sudut, yaitu (1) kondisi lingkungan fisik pekerjaan dan (2) kondisi lingkungan
             pekerjaan (Wayne K. Hoy : 201 :189).
                 Gambaran variabel ini diperoleh berdasarkan skor angket persepsi guru
             terhadap budaya kerja. Semakin tinggi skor seseorang maka akan semakin tinggi
             tingkat persepsinya terhadap budaya kerja. Operasional variabel budaya kerja guru
             secara lebih rinci dapat dilihat pada tabel berikut ini :
                       Tabel 3.2
                       Operasional variabel Budaya kerja Guru (X2 )
     Dimensi                 Indikator                                 Ukuran                    Skala
1.      Kondisi Pemberian penghargaan                1. Dukungan kepala sekolah dalam Ordinal
lingkungan fisik                                         melaksanakan tugas
pekerjaan                                            2. Penghargaan kepala seklolah dalam
                                                         melaksanakan tugas
                                                     3. Perhatian kepala sekolah tentang
                                                         kesulitan yang dialami
                    Pemberian kesejahteraan          4. Mendapat bagian keuntungan dari
                                                         usaha sekolah
                                                     5. Mendapatkan pembayaran kelebihan
                                                         jam mengajar
                                                     6. Mendapatkan       penggantian    uang
                                                         transport
                    Terpenuhi      sarana     dan    7. Mendapat pakaian seragam diluar
                    prasarana                            yang diberikan pemerintah
                                                     8. Mendapat ruang kerja, kamar kecil
                                                         dan mushola
2.       kondisi Dukungan                   dalam    9. Mendapat kemudahan bekerja di
lingkungan          menjalankan tugas                    tempat lain
pekerjaan                                            10. Mendapat        kehormatan      untuk
                                                         memimpin kegiatan sekolah
                                                     11. Mendapat        kesempatan      untuk
                                                         menghadiri      rapat-rapat    dengan


     Disusun Oleh : Kelompok tiga                                                                13
Dimensi               Indikator                                   Ukuran                         Skala
                                                    instansi terkait
                                                 12. Mendapat     kesempatan       mengikuti
                                                    forum-forum ilmiah
            Dapat      merancang          dan    13. Mendapat     rancangan      dan    desain
            mendesain pekerjaan                     pekerjaan
                                                 14. Mendapat bagian tugas mengajar
                                                 15. Mendapat        ajakan     untuk     ikut
                                                    berpartisipasi      memelihara        dan
                                                    merawat lingkungan sekolah
            Pengawasan        dan     disiplin   16. Mendapat perhatian terhadap tugas
            kerja                                   yang diemban
                                                 17. Mendapat teguran apabila terlambat
                                                    atau tidak masuk kelas
            Komunikasi dan interaksi             18. Menjalin keakraban dengan teman
            dengan      teman        sejawat,       sejawat
            orang tua     siswa, kepala          19. Menjalin komunikasi dengan orang
            sekolah     dan     lingkungan          tua siswa
            masyarakat                           20. Menjalin komunikasi dengan kepala
                                                    sekolah
            Fungsi        kepemimpinan           21. Memberikan        kesempatan       untuk
            kepala    sekolah        otoriter,      berkreasi atau berinovasi
            demokratis, tradisional.             22. Memberikan         komando         dalam
                                                    melaksanakan tugas
            Menetapkan              kebijakan    23. Kepedulian terhadap pekerjaan
            secara personil
            Menetapkan               program     24. Merumuskan dan memutuskan tujuan
            sekolah sesuai dengan sifat             sekolah     bersama       seluruh   warga
            dan       bagaimana          cara       sekolah
            menetapkan tujuan
            Menetapkan              kebijakan    25. Keputusan yang berkaitan dengan
            kompensasi                              masalah personalia
            Penetapan               kebijakan    26. Keputusan sekolah yang dikeluarkan
            pengelolaan sekolah                     berdasarkan        musyawarah         dan
                                                    mufakat



Disusun Oleh : Kelompok tiga                                                                     14
          c.) Operasional variabel kinerja mengajar guru Y
               Kinerja mengajar guru dalam penelitian ini diartikan sebagai unjuk kerja guru
          dalam mengelola pembelajaran. Gambaran variable ini diperoleh berdasarkan skor
          angket persepsi guru terhadap kinerjanya. Semakin tinggi skor seseorang maka
          semakin tinggi tingkat persepsinya terhadap kinerja mengajar. Dimensi variabel in
          meliputi : (1) merencanakan pembelajaran, (2) implementasi pembelajaran dan (3)
          mengevaluasi pembelajaran.
               Operasional variabel kinerja guru secara lebih rinci dapat dilihat pada tabel
          berikut ini:
               Tabel 3.3
               Operasional variabel Kinerja Mengajar Guru (Y)
    Dimensi                Indikator                           Ukuran                       Skala
1. Merencanakan Merencanakan           tujuan   1. Urutan tujuan dri yang mudah Ordinal
pembelajaran       pembelajaran                    kepada yang sukar.
                                                2. Kejelasan     kriteria      pencapaina
                                                   tujuan.
                   Merencanakan        bahan    3. Berpedoman           pada        bahan
                   pengajaran                      pengajaran yang tercantum dalam
                                                   kurikulum.
                                                4. Memilih dengan tepat bahan yang
                                                   sesuai dengan karakteristik murid.
                                                5. Menyusun       bahan        pengajaran
                                                   sesuai dengan taraf kemampuan
                                                   berfikir siswa.
                   Merencanakan kegiatan        6. Menetukan dengan tapat macam
                   belajar mengajar                pengaturan ruangan kelas sesuai
                                                   dengan tujuan pembelajaran
                                                7. Menentukan alokasi penggunaan
                                                   waktu belajar mengajar
                                                8. Menentukan                        cara
                                                   pengorganisasian         murid    agar
                                                   terlibat    secara       aktif   dalam
                                                   kegiatan belajar mengajar
                                                9. Menentukan pengembangan alat


   Disusun Oleh : Kelompok tiga                                                                 15
     Dimensi              Indikator                         Ukuran                       Skala
                                               pengajaran
                                            10. Menentukan media pengajaran
                                            11. Menentukan sumber pengajaran
                   Merencanakan penilaian   12. Menentukan jenis penilaian
                                            13. Menentukan bentuk penilaian
                                            14. Membuat alat penilaian hasil
                                               belajar
2.   Implementasi Membuka pembelajaran      15. Menyampaikan                     bahan
pembelajaran                                   pengait/apersepsi
                                            16. Menyampaikan tujuan
                                            17. Memotivasi          siswa        untuk
                                               melibatkan diri dalam kegiatan
                                               belajar mengajar
                   Menyampaikan             18. Menyampaikan         bahan      secara
                   pelajaran                   sistematis
                                            19. Memberi contoh
                                            20. Menggunakan         alat    /   media
                                               pembelajaran
                                            21. Menggunakan metode pengajaran
                                            22. Memberi kesempatan pada siswa
                                               untuk aktif
                                            23. Memberikan penguatan kepada
                                               siswa
                                            24. Mengatur penggunaan waktu
                                            25. Mengorganisasi murid
                                            26. Mengatur      dan     memanfaatkan
                                               fasilitas belajar
                   Menutup pembelajaran     27. Menyimpulkan pelajaran
                                            28. Memberikan tidak lanjut
3. Mengevaluasi Pelaksanaan evaluasi        29. Melaksanakan evaluasi selama
pembelajaran                                   PBM berlangsung
                                            30. Melaksanakan        evaluasi      pada
                                               akhir pelajaran
                                            31. Jenis    evaluasi   sesuai      dengan



     Disusun Oleh : Kelompok tiga                                                            16
Dimensi                   Indikator                           Ukuran                        Skala
                                                  kegiatan belajar mengajar yang
                                                  telah diberikan
                                               32. Kesesuaian       evaluasi      dengan
                                                  tujuan
                                               33. Kesesuaian       evaluasi      dengan
                                                  bahan pelajaran
                                               34. Menafsirkan hasil evaluasi
                 Pelaksanaan          tindak   35. Melaksanakan                pengajaran
                 lanjut                           perbaikan
                                               36. Melaksanakan                pengajaran
                                                  pengayaan
                                               37. Melaksanakan pembinaan sikap
                                                  dan kebiasaan belajar yang baik




1.4.2   Populasi dan Sampel Penelitian

        a. Populasi penelitian
           Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian atau kumpulan dari individu
           dengan kualitas serta ciri-ciri yang telah ditetapkan. Sedangkan sampel adalah
           sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Dalam
           penelitian ini yang akan menjadi populasinya adalah semua guru SMA di
           lingkungan Dinas Pendidikan Kota dan Kabupaten Tangerang yang berstatus
           pengawai Negeri Sipil sebanyak 137 Orang.
                No         Nama Sekolah (di Tangerang)               Jumlah
            1         SMA Negeri 1                              8
            2         SMA Negeri 2                              7
            3         SMA Negeri 3                              12
            4         SMA Negeri 4                              9
            5         SMA Negeri 5                              8
            6         SMA Negeri 6                              7
            7         SMA Negeri 7                              7
            8         SMA Negeri 8                              10
            9         SMA Negeri 9                              3


Disusun Oleh : Kelompok tiga                                                                    17
           10       SMA Negeri 10                         8
           11       SMA Negeri 11                         5
           12       SMA Negeri 12                         6
           13       SMA Negeri 13                         8
           14       SMA Negeri 14                         8
           15       SMA Negeri 15                         5
           16       SMA Yupentek                          7
           17       SMA Islamic Center                    8
           18       SMA PGRI 109                          11
                                Total                     137


      b. Sampel penelitian
                Sampel adalah bagian dari populasi yang diambil sebagai sumber data
          dan dapat mewakili seluruh populasi. Teknik pengambilan sampel
          menggunakan rumus sebagai berikut :



                Keterangan :
                n = jumlah sampel
                N = Jumlah populasi = 137 responden
                d2 = Presisi (ditetapkan 10% dengan tingkat kepercayaan 95%)


                Berdasarkan rumus tersebut diperoleh junlah sampel sebagai berikut :




                Dengan rumus diatas, maka diperoleh jumlah sampel dan dibuatkan
          seperti pada tabel berikut :
           No      Nama Sekolah (di Tangerang)      Populasi      Proporsi     Sampel
           1     SMA Negeri 1                       8           8/137 x 58     3
           2     SMA Negeri 2                       7           7/137 x 58     3
           3     SMA Negeri 3                       12          12/137 x 58    5
           4     SMA Negeri 4                       9           9/137 x 58     4
           5     SMA Negeri 5                       8           8/137 x 58     3
           6     SMA Negeri 6                       7           7/137 x 58     3


Disusun Oleh : Kelompok tiga                                                           18
               7    SMA Negeri 7                        7          7/137 x 58      3
               8    SMA Negeri 8                        10         10/137 x 58     4
               9    SMA Negeri 9                        3          3/137 x 58      1
               10   SMA Negeri 10                       8          8/137 x 58      4
               11   SMA Negeri 11                       5          5/137 x 58      2
               12   SMA Negeri 12                       6          6/137 x 58      3
               13   SMA Negeri 13                       8          8/137 x 58      3
               14   SMA Negeri 14                       8          8/137 x 58      3
               15   SMA Negeri 15                       5          5/137 x 58      2
               16   SMA Yupentek                        7          7/137 x 58      3
               17   SMA Islamic Center                  8          8/137 x 58      4
               18   SMA PGRI 109                        11         11/137 x 58     5
                               Total                    137                        58


1.4.3   Teknik Pengumpulan Data

               Jenis data penelitian adalah kuantitatif. Data tersebut diperoleh berdasarkan
        hasil pengukuran terhadap tiga variabel yaitu dua variabel bebas (kepemimpinan
        kepala sekolah (X1) dan budaya kerja guru (X2)) dan variabel terkait kinerja guru
        (Y).
               Data Penelitian dikumpulkan menggunakan kuesioner atau angket yang
        disebarkan kepada responden yang telah dipilih sebagai sampel penelitian.
        Kuesioner tersebut dikembangkan dalam bentuk lima skala kategori. Kuesioner
        terdiri sejumlah butir pertanyaan atau pernyataan yang dilengkapi dengan 5
        alternatif respon/jawaban yang disediakan. Setiap alternatif jawaban mendapat
        bobot skor antara 1 sampai 5.


1.4.4   Pengembangan Instrumen Penelitian

           Prosedur penelitian dimaksudkan agar penelitian mampu memberikan hasil
        maksimal dengan langkah-langkah yang benar serta menepis kekeliruan yang
        sekecil-kecilnya. Disamping itu untuk menetapkan data yang memiliki validitas
        reliabilitas tinggi. Pertama yang harus dipersiapkan adalah latar belakang masalah
        kemudian perumusan masalah sampai hipotesis penelitian dan dilanjutkan dengan
        asumsi-asumsi dari kajian kepustakaan, membuat dan menyusun kisi-kisi


Disusun Oleh : Kelompok tiga                                                             19
        instrumen penelitian, membuat inventori dalam bentuk kuesioner sementara, lalu
        dijustifikasi oleh pakar, setelah dinyatakan layak kemudian diujicobakan,
        kemudian data dioleh jadi data mentah hasil uji coba, itemnya dianalisis dengan
        uji validitas dan reliabilitas instrumen, apakah semua item sudah valid dan reliable
        kalau tidak maka harus dikoreksi atau dibuang. Jika benar-benar valid dan reliabel
        maka item tersebut dapat digunakan, kemudian dihimpun lalu diujikan atau
        disebarkan kepada penelitian yang sebenarnya. Dari hasil tersebut ditabulasi
        selanjutnya menghasilkan data yang berbentuk data interval (skala likert).
        Selanjutnya data interval tersebut langsung diuji dengan korelasi sederhana
        maupun korelasi ganda, kemudian hasil temuan penelitian dibahas dan dimaknai /
        diinterpretasikan sesuai dengan analisis. Sehingga akhirnya disimpulkan,
        diimplementasikan dan direkomendasikan.

1.4.5   Pengolahan Data dan Hasil Perhitungan
        a) Uji Validitas
               Sesuai dengan variabel yang akan diteliti, angket yang diujicobakan terdiri
           atas angket untuk mengukur variabel kepemimpinan kepala sekolah, budaya
           kerja guru dan kinerja guru. Uji coba instrumen penelitian dilaksanakan diluar
           sampel yang akan diteliti agar hasil yang didapatkan valid dan reliabel.
               Berdasarkan langkah-langkah uji validitas sebagaimana diungkapkan
           sebelumnya, penyebaran jumlah item angket dan rekapitulasi jumlah item
           angket hasil uji coba masing-masing variabel tampak pada tabel sbb:
                  Descriptive Statistics

                                      Mean          Std. Deviation       N
          Kepemimpinan kepala
          sekolah                     153.3621           14.96745            58
          Budaya kerja guru           107.1207           10.58479            58
          Kinerja mengajar guru       147.0690           17.96767            58


         Correlations


                                                                                                 Kinerja
                                                               Kepemimpinan        Budaya       mengajar
                                                               kepala sekolah     kerja guru      guru
          Kepemimpinan kepala     Pearson Correlation
                                                                             1          -.152        .013
          sekolah
                                  Sig. (2-tailed)                                       .254         .924
                                  Sum of Squares and
                                  Cross-products                     12769.397     -1373.534      196.552
                                  Covariance                           224.025       -24.097        3.448
                                  N                                          58           58           58
          Budaya kerja guru       Pearson Correlation                    -.152             1         .099


Disusun Oleh : Kelompok tiga                                                                         20
                                   Sig. (2-tailed)                 .254                        .461
                                   Sum of Squares and
                                   Cross-products           -1373.534        6386.155      1070.517
                                   Covariance                 -24.097         112.038        18.781
                                   N                                58               58           58
           Kinerja mengajar guru   Pearson Correlation             .013          .099             1
                                   Sig. (2-tailed)                 .924          .461
                                   Sum of Squares and
                                   Cross-products            196.552         1070.517     18401.724
                                   Covariance                  3.448           18.781       322.837
                                   N                                58               58           58




       No           Variabel                                              Jumlah Item Angket
                                                              Sebelum uji Tidak              Valid
                                                              coba               valid
       1            Kepemimpinan kepala sekolah               40                 3           37
       2            Budaya kerja guru                         26                 3           23
       3            Kinerja guru                              37                 3           34
                                   Total                      103                9           94


                Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa dari 103 item angket yang
            diujicobakan ada 9 item angket yang tidak valid sehingga angket yang
            digunakan untuk mengumpulkan data sebanyak 94 item.
                Pengujian validitas terhadap 40 item angket untuk variabel kepemimpinan
            kepala sekolah menunjukkan sebanyak 37 item dinyatakan valid. Sebanyak 3
            item dinyatakan tidak valid. Dengan demikian angket yang digunakan untuk
            mengumpulkan data variabel kepemimpinan kepala sekolah berjumlah 37
            item.
                Pengujian validitas terhadap 26 item angket untuk variabel budaya kerja
            guru, menunjukkan sebanyak 23 item dinyatakan valid. Sebanyak 3 item
            dinyatakan tidak valid. Dengan demikian angket yang digunakan untuk
            mengumpulkan data variabel budaya kerja guru berjumlah 26 item.
                Pengujian validitas terhadap 37 item angket untuk variabel kinerja guru
            menunjukkan sebanyak 34 item dinyatakan valid. Sebanyak 3 item dinyatakan
            tidak valid. Dengan demikian angket yang digunakan untuk mengumpulkan
            data variabel kinerja guru berjumlah 34 item.




Disusun Oleh : Kelompok tiga                                                                   21
      b) Uji Reliabilitas
               Berdasarkan langkah-langkah uji reliabilitas sebagaimana diungkapkan
           pada bab tiga, diperoleh hasil reliabilitas angket terlampir. Rekapitulasi hasil
           uji reliabilitas tampak pada tabel berikut.


        No                  Variabel                      r hitung        rtabel          keterangan
       1       Kepemimpinan kepala sekolah          0,988              0,360          Reliabel
       2       Budaya kerja guru                    0.969              0,360          Reliabel
       3       Kinerja guru                         0,983              0,360          Reliabel


               Berdasarkan       tabel   diatas   dapat    diketahui    bahwa      pada    variabel
           kepemimpinan kepala sekolah (X1), diperoleh rhitung=0,988 dan dari rtabel
           dengan n=30 dan taraf nyata α =0.05 , rtabel =0.360. hal ini berarti rhitung lebih
           besar dari rtabel (0,988>0.360)        dengan demikian angket untuk variabel
           kepemimpinan kepala sekolah (X1) mempunyai daya ketetapan atau dengan
           kata lain reliabel.
               Pada variabel budaya kerja guru (X2 ) diperoleh rhitung = 0.969 dan dari rtabel
           dengan n= 30 dan taraf nyata α =0.05 rtabel =0.360 hal ini berarti rhitung lebih
           besar dari rtabel (0,969>0,360) dengan demikian angket untuk variabel budaya
           kerja guru (X2 ) mempunyai daya ketetapan atau dengan kata lain reliabel.
               Pada variabel kinerja mengajar guru (Y ) diperoleh rhitung = 0.983 dan dari
           rtabel dengan n= 30 dan taraf nyata α =0.05 rtabel =0.360 hal ini berarti rhitung
           lebih besar dari rtabel (0, 983 >0,360) dengan demikian angket untuk variabel
           kinerja mengajar guru (y) mempunyai daya ketetapan atau dengan kata lain
           reliabel.




Disusun Oleh : Kelompok tiga                                                                     22
      c) Analisis Korelasi
           Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan teknik analisis yang telah
           ditentukan, yaitu analisis korelasi serta regresi sederhana dan ganda.
           Berdasarkan perhitungan yang dilakukan dengan menggunakan Program
           Microsof Exel maka pada data yang sudah dibakukan didapat perolehan nilai
           sebagai berikut:




      1.          Analisis Korelasi untuk X1 dengan Y
      2.          Analisis
      3.          Analisis




Disusun Oleh : Kelompok tiga                                                       23
              Dari hasil pengolahan data diatas, maka dapat kita lihat bahwa interpretasi
datanya adalah : untuk mengetahui pengaruh ketiga variabel tersebut bisa kita lihat
berdasarkan uji nilai F, jika Fhitung > Ftabel maka artinya ketiga variabel tersebut memiliki
pengaruh yang signiikan, sedangkan jika kebalikannya yaitu ketika Fhitung < Ftabel.
       Jika dilihat pada tabel dapat diketahui bahwa nilai Fhitung adalah 0.293 . untuk Ftabel

dihitung berdasarka rumus :                                              maka nilai      F(1-
0.05)((dk=2), (dk=58-2-1)) = F(0,95)((dk=2),(dk=55))
       Cara mencari Ftabel :
       2sebagai angka pembilang
       55 sebagai penyebut
       Ftabel = 4.02
Dan ternyata Fhitung > Ftabel atau maka kesimpulannya adalah terdapat pengaruh yang
signifikan antara variabel kepemimpinan kepala sekolah (X1), variabel Budaya kerja guru
(X2) terhadap variabel kinerja mengajar guru (Y).
   1.5 Sistematika penulisan

           KATA PENGANTAR


           DAFTAR ISI


           BAB I : PENDAHULUAN


                  1.1 Latar Belakang Masalah

                  1.2 Identifikasi Masalah

                  1.3 Metoda Penulisan

                  1.4 Analisis Data

                       1.4.1   Operasional variabel perhitungan


    Disusun Oleh : Kelompok tiga                                                           24
                  1.4.2   Pengolahan Data dan hasil perhitungan

              1.5 Sistematika Penulisan


       BAB II : TINJAUAN PUSTAKA


              2.1 Arti Kepemimpinan
              2.2 Tipe Kepemimpinan
              2.3 Kepemimpinan kepala sekolah
              2.4 Peranan Kepala Sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan


       BAB III: KESIMPULAN DAN SARAN
              3.1 Kesimpulan
              3.2 Saran




II.    Tinjauan Pustaka

2.1 Pengertian Kepemimpinan
       Ditinjau dari sudut bahasa makna kepemimpinan adalah kekuatan atau kualitas
seorang pemimpin dalam mengarahkan apa yang dipimpinnya untuk mencapai tujuan,
Beberapa ahli mengatakan kepemimpinan merupakan salah satu bagian dari manajemen.
       Kepemimpinan memainkan peranan yang dominan krusial dan kritikal dalam
keseluruhan upaya untuk meningkatkan profesionalitas kerja. Kepemimpinan sebagai
suatu proses mengarahkan pemberian pengaruh pada kegiatan-kegiatan dari sekelompok
anggota yang berhubungan degan tugasnya.
       Ada beberapa pendekatan dalam kepemimpinan yang diklasifikasikan sebagai
pendekatan-pendekatan kesifatan, perilaku dan situasional. Yaitu :
       1.        Pendekatan    pertama    memandang      kepemimpinan   sebagai   suatu
                 kombinasi sifat-sifat yang tampak, pendekatan kedua bermaksud
                 mengidentifikasikan perilaku –perilaku (behaviours) pribadi yang
                 berhubungan dengan kepemimpinan yang efektif.
       2.        Pendekatan kedua mempunyai anggapan bahwa seorang individu yang
                 memiliki sifat-sifat tertentu atau mampu mempengaruhi perilaku-


Disusun Oleh : Kelompok tiga                                                        25
                     perilaku tertentu akan muncul sebagai pemimpin dalam situasi apapun
                     dimana ia berada.
         3.          Pendekatan ketiga, yaitu pandangan situasional tentang kepemimpinan.
                     Pandangan ini menganggap bahwa kondisi yang menentukan efektifitas
                     kepemimpinan bervariasi tergantung pada situasi yakni tugas-tugas
                     yang dilakukan, keterampilan, dan pengharapan bawahan lingkungan
                     organisasi. Pengalamn masa lalu pemimpin dan bawahan dsb.
                     Pandangan ini telah menimbulkan pendekatan contingency pada
                     kepemimpinan yang bermaksud untuk menetapkan faktor-faktor
                     situasional yang menentukan seberapa besar efektifitas situasi dan gaya
                     kepemimpinan tertentu.




2.2    Tipe-tipe kepemimpinan
      1. Otokratis
                 Pemimpin tipe ini bekerja kerasm sungguh-sungguh, teliti dan tertib. Ia
         bekerja menurut peraturan yang berlaku dengan ketat dan segala instruksinya
         harus ditaati.
      2. Laissefaire
                 Pemimpin tipe ini segera setelah tujuan diterangkan pada bawahannya
         untuk menyerahkan sepenuhnya pada para bawahannya untuk menyelesaikan
         pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya..
      3. Demokratis
                 Pemimpin yang demokratis menganggap dirinya sebagai bagian dari
         kelompoknya dan bersama-sama dengan kelompoknya berusaha bertanggung
         jawab tentang pelaksanaan tujuannya.


2.3 Kepemimpinan Kepala sekolah
       Kepala sekolah memiliki peran yang sangat besar. Kepala sekolah merupakan motor
penggerak, penentu arah kebijakan menuju sekolah dan pendidikan secara luas. Sebgai
pengelola institusi satuan pendidikan, kepala sekolah dituntut untuk selalu meningkatkan

Disusun Oleh : Kelompok tiga                                                             26
efektifitas kinerjanya. Untuk mencapai mutu sekolah yang efektif, kepala sekolah dan
stakeholders harus bahu membahu kerjasama dengan penuh kekompakan dalam segala
hal.
        Selain itu berlandaskan teori Maslow, kepala sekolah juga disentil dengan persepsi
bahwa guru dan siswa berkemungkinan memiliki tingkat kebutuhan yang berbeda-beda,
yang pasti mereka akan mengejar kebutuhan yang lebih tinggi yakni interaksi, afiliasi
sosial, aktualisasi diri dan kesempatan berkembang. Oelh karena itu mereka bersedia
menerima tantangan dan bekerja lebih keras. Kiat kepala sekolah adalah memikirkan
fleksibilitas peran dan kesempatan, bukannya otoriter dan ”semau gue”.
        Demi kelancaran semua kegiatan itu, kepala sekolah harus mengubah gaya
pertemuan yang sifatnya pemberitahuan kepada pertemuan yang sesungguhnya yakni
mendengarkan apa kata mereka dan bagaimana seharusnya mereka menindaklanjutinya.


2.4 Peranan kepala sekolah dalam meningkatkan kualitas pendidikan
              Secara garis besar, ruang lingkup tugas kepala sekolah dapat diklasifikasikan
       ke dalam dua aspek pokok, yaitu pekerjaan di bidang administrasi sekolah dan
       pekerjaan yang berkenaan dengan pembinaan profesional kependidikan. Untuk
       melaksanakan tugas tersebut dengan sebaik-baiknya, ada tiga jenis keterampilan
       pokok yang harus dimiliki oleh kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan yaitu,
       keterampilan teknis (technicall skill), keterampilan berkomunikasi (human relations
       skills) dan keterampilan konseptual (conceptual skill).
              Menurut persepsi banyak guru, keberhasilan kepemimpinan kepala sekolah
       terutama dilandasi oleh kemampuannya dalam memimpin. Kunci bagi kelancaran
       kerja kepala sekolah terletak pada stabilitas, emosi dan rasa percaya diri. Hal ini
       merupakan landasan psikologis untuk memperlakukan stafnya secara adil,
       memberikan keteladanan dalam bersikap, bertingkah laku dan melaksanakan tugas.
              Dalam     konteks    ini,   kepala   sekolah   dituntut   untuk   menampilkan
       kemampuannya membina kerja sama dengan seluruh personel dalam iklim kerja
       terbuka yang bersifat kemitraan, serta meningkatkan partisipasi aktif dari orang tua
       murid. Dengan demikian, kepala sekolah bisa mendapatkan dukungan penuh setiap
       program kerjanya. Keterlibatan kepala sekolah dalam proses pembelajaran siswa lebih
       banyak dilakukan secara tidak langsung, yaitu melalui pembinaan terhadap para guru
       dan upaya penyediaan saran belajar yang diperlukan.
              Kepala sekolah sebagai komunikator bertugas menjadi perantara untuk
       meneruskan instruksi kepada guru, serta manyalurkan aspirasi personel sekolah

Disusun Oleh : Kelompok tiga                                                            27
   kepada instansi dan kepada guru, instansi vertikal maupun masyarakat. Pola
   komunikasi dari sekolah pada umumnya bersifat kekeluargaan dengan memanfaatkan
   waktu senggang mereka. Alur penyampaian informasi berlangsung dua arah, yaitu
   komunikasi top-down yang cenderung bersifat instruktif sedangkan komunikasi
   bottom-up cenderung berisi pernyataan atau permintaan akan rincian tugas secara
   teknis operasional. Media komunikasi yang digunakan oleh kepala sekolah ialah :
   rapat dinas, surat edaran, buku informasi keliling, papan data, pengumuman lisan
   serta pesan berantai yang disampaikan secara lisan.
          Dalam bidang pendidikan, yang dimaksud dengan mutu memiliki penngertian
   sesuai dengan makna yang terkandungdalam siklus pembelajaran. Secara ringkas
   dapat disebutkan beberapa kata kunci pengertian mutu, yaitu sesuai standar (fitness to
   standard) sesuai penggunaan pasar/pelanggan (fitness to use) sesuai perkembangan
   kebutuhan (fitness to latent requirements) dan sesuai lingkungan global (fittness to
   global enviromental requirement).     Adapun yang dimaksud mutu sesuai dengan
   standar yaitu jika salah satu aspek dalam pengelolaan pendidikan itu sesuai dengan
   standar yang telah ditetapkan.

           Garvin seperti dikutip Gasperz mendefinisikan delapan dimensi yang dapat
   digunakan untuk menganalisis karakteristik suatu mutu yaitu :

     1. kinerja (performance)

     2. feature

     3. kehandalan (reliability)

     4. konfirmasi (conformance)

     5. durability

     6. kompetensi pelayanan (servitability)

     7. estetika (aestetics) dan

     8. kualitas yang dipersepsikan pelanggan yang bersifat subjektif.

          Dalam pandangan masyarakat umum sering dijumpai bahwa mutu sekolah
   atau keunggulan sekolah dapat dilihat dari ukuran fisik sekolah, seperti gedung dan
   jumlah ekstra kurikuler yang disediakan. Ada pula masyarakat yang berpendapat
   bahwa kualitas sekolah dapat dilihat dari jumlah lulusan sekolah tersebut yang
   diterima dijenjang pendidikan selanjutnya. Untuk dapat memahami kualitas


Disusun Oleh : Kelompok tiga                                                          28
   pendidikan formal di sekolah, perlu kiranya melihat pendidikan formal di sekolah
   sebagai suatu sistem. Selanjutnya mutu sistem tergantung pada mutu komponen yang
   membentuk sistem, serta proses yang berlangsung hingga membuahkan hasil.
           Dalam pelaksanaan manajemen peningkatan mutu, kepala sekolah harus
   senantiasa memahami sekolah sebagai suatu sistem organik. Untuk itu kepala sekolah
   harus lebih berperan sebagai pemimpin dibandingkan sebagai manajer. Sebagai
   seorang leader maka kepala sekolah harus :
   1. lebih banyak mengarahkan daripada mendorong atau memaksa.
   2. lebih bersandar pada kerjasama dalam menjalankan tugas dibandingkan bersandar
        pada kekuasaan atau SK.
   3. Senantiasa menanamkan kepercayaan pada diri guru dan staf administrasi, bukan
        malah membuat takut.
   4. Senantiasa menunjukkan bagaimana cara              melakukan sesuatu daripada
        menunjukkan bahwa ia tahu sesuatu.
   5. Senantiasa mengembangkan suasana antusian bukannya mengembangkan suasana
        menjemukkan.
   6. Senantiasa memperbaiki kesalahan yang ada daripada menyalahkan kesalahan
        pada seseorang, bekerja dengan penuh ketangguhan bukannya ogah-ogahan
        karena serba kekurangan (Boediono, 1998).
           Menurut Poernomosidi Hadjisarosa, kepala sekolah merupakan salah satu
   sumberdaya sekolah yang disebut sumberdaya manusia jenis manajer (SDM-M) yang
   memiliki tugas dan fungsi mengkoordinasikan dan menserasikan sumberdaya manusia
   jenis pelaksana (SDM-P) melalui sejumlah input manajemen agar SDM-P
   menggunakan jasanya untuk bercampur tangan dengan sumberdaya selebihnya (SD-
   slbh), sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan baik untuk
   menghasilkan output yang diharapkan.
           Secara umum, karakteristik kepala sekolah tangguh dapat dituliskan sebagai
   berikut:
   c.    Kepala sekolah memiliki wawasan jauh kedepan (visi) dan tahu tindakan apa
         yang harus dilakukan (misi) serta paham betul tentang cara yang akan ditempuh
         (strategi).
   d.    Memiliki      kemampuan   mengkoordinasikan     dan   menserasikan    seluruh
         sumberdaya terbatas yang ada untuk mencapai tujuan atau untuk memenuhi
         kebutuhan sekolah (yang umumnya tak terbatas)



Disusun Oleh : Kelompok tiga                                                       29
   e.    Memiliki kemampuan mengambil keputusan dengan terampil (cepat, tepat,
         cekat dan akurat)
   f.    Memiliki kemampuan memobilisasi sumberdaya yang ada untuk mencapai
         tujuan dan yang mampu menggugah pengikutnya untuk melakukan hal-hal
         penting bagi tujuan sekolahnya.
   g.    Memiliki toleransi terhadap perbedaan pada setiap orang dan tidak mencari
         orang-orang yang mirip dengannya, akan tetapi sama sekali tidak toleran
         terhadap orang-orang yang meremehkan kualitas, prestasi, standar dan nilai-
         nilai.
   h.    Memiliki kemampuan memerangi musuh-musuh kepala sekolah yaitu
         ketidakpedualian, kecurigaan, tidak membuat keputusan, mediokrasi, imitasi,
         arogansi, pemborosan, kaku, dan bermuka dua dalam bersikap dan bertindak.
            Adapun peran kepala sekolah dalam peningkatan mutu pendidikan dapat
   dijelaskan sebagai berikut :
        4. kepala sekolah menggunakan ”pendekatan sistem” sebagai dasar cara berfikir,
           cara mengelola, dan menganalisis kehidupan sekolah. Oleh karena itu, kepala
           sekolah harus berfikir sistem (bukan unsystem) yaitu berfikir secara benar dan
           utuh, berfikir secara runtut (tidak meloncat-loncat), berfikir secara holistic
           (tidak parsial), berfikir multi inter lintas disiplin (tidak parosial), berfikir
           entropis (apa yang diubah pada komponen tertentu akan berpengaruh terhadap
           komponen-komponen lainnya), berfikir ”sebab-akibat” (ingat ciptaan-Nya)
           selalu berpasangan), berfikir eklektif (kuantitatif + kualitatif) dan berfikir
           sinkretisme.
        5. Kepala Sekolah memiliki input manajemen yang lengkap dan jelas yang
           ditunjukkan oleh kelengkapan dan kejelasan dalam tugas (apa yang harus
           dikerjakan, yang disertai fungsi, kewenangan, tanggung jawab, kewajiban dan
           hak), rencana(deskripsi produk yang akan dihasilkan), program (alokasi
           sumberdaya untuk merealisasikan rencana), ketentuan-ketentuan/limitasi
           (peraturan perundang-undangan, kualifikasi, spesifikasi, metoda kerja,
           prosedur kerja dsb), pengendalian (tindakan turun tangan) dan memberikan
           kesan yang baik pada anak buahnya.
        6. kepala sekolah memahami, menghayati dan melaksanakan perannya sebagai
           manajer (mengkoordinasi dan menserasikan sumberdaya untuk mencapai
           tujuan), pemimpin (memobilisasi dan memberdayakan sumberdaya manusia),
           pendidik (mengajak nikmat untuk berubah), wirausahawan (membuat sesuatu

Disusun Oleh : Kelompok tiga                                                            30
           bisa terjadi), penyelia (mengarahkan, membimbing dan memberi contoh),
           pencipta iklim kerja (membuat situasi kehidupan kerja menjadi baik),
           pengurus/administrator       (mengadministrasi),   pembaharu      (memberi     nilai
           tambah), regulator (membuat aturan-aturan sekolah) dan pembangkit motivasi
           (menyemangatkan).
           Menurut Enterprising Nation (1995) manajer tangguh memiliki delapan
   kompetensi yaitu : (a). People skills, (b). proactivity, (c). Concern with impact, (d).
   Diagnostic use of concepts, (e). Use of unilateral power, (f). Developing others, (g).
   Spontaneity, (h). Accurate self assesment, (i).self-control (j). Stamina and adaptability
   (k).perceptual objectivity (l).positive regard, (m).managing group process (n).use of
   socialized power, (o).self-confidance (p).conceptualization, (q).logical thought and
   (r).use of oral presentation.
           1. Kepala sekolah memahami, menghayati dan melaksanakan dimensi-
                dimensi tugas (apa), proses (bagaimana), lingkungan dan keterampilan
                personal, yang dapat diuraikan sebagai berikut: (a) dimensi tugas terdiri
                dari : pengembangan kurikulum, manajemen personalia, manajemen
                kesiswaan, manajemen fasilitas, pengelolaan keuangan, hubungan sekolah
                masyarakat dsb. (b) dimensi proses, meliputi pengambilan keputusan,
                pengelolaan kelembagaan, pengelolaan program, pengkoordinasian,
                pemotivasian, pemantauan dan pengevaluasian, dan pengelolaan proses
                belajar mengajar, (c) dimensi lingkungan meliputi pengelolaan waktu,
                tempat,   sumberdaya      dan    kelompok     kepentingan,     juga    dimensi
                keterampilan personal meliputi organisasi diri, hubungan antar manusia,
                pembawaan diri, pemecahan masalah, gaya bicara dan gaya menulis.
           2.   Kepala    sekolah      mampu    menciptakan    tantangan     kinerja   sekolah
                (kesenjangan antara kinerja yang actual/nyata dan kinerja yang
                diharapkan). Berangkat dari sini, kemudian dirumuskan sasaran yang akan
                dicapai oleh sekolah, dilanjutkan dengan memilih fungsi-fungsi yang
                diperlukan untuk mencapai sasaran, lalu melakukan analisis SWOT
                (Strenth, Weaknes, Opportunity, Threat) untuk menemukan factor-faktor
                yang tidak siap (mengandung persoalan) dan mengupayakan langkah-
                langkah pemecah persoalan. Sepanjang masih ada persoalan maka sasaran
                tidak akan tercapai.
           3. Kepala sekolah mengupayakan teamwork yang kompak/ kohesif dan
                cerdas serta membuat saling terkait dan terikat antar fungsi dan antar

Disusun Oleh : Kelompok tiga                                                                31
               warganya, menumbuhkan solidaritas/kerjasama/kolaborasi dan bukan
               kompetisi sehingga terbentuk iklim kolektiifitas yang dapat menjamin
               kepastian hasil/output sekolah.
            4. Kepala sekolah menciptakan situasi yang dapat menumbuhkan kreativitas
               dan memberikan peluang kepada warganya untuk melakukan eksperimen-
               eksperimentasi untuk menghasilkan kemungkinan-kemungkinan baru
               meskipun hasilnya tidak selalu benar (salah). Dengan kata lain, kepala
               sekolah mendorong warganya untuk mengambil dan mengelola resiko
               serta melindunginya sekiranya hasilnya salah.
            5. kepala sekolah memiliki kemampuan dan kesanggupan menciptakan
               sekolah belajar.
            6. kepala sekolah memiliki kemampuan dan kesanggupan melaksanakan
               manajemen berbasis sekolah sebagai konsekuensi logis dari pergeseran
               kebijakan manajemen, yaitu pergeseran dari manajemen berbasis pusat
               menuju manajemen berbasis sekolah (dalam kerangka otonomi daerah)
            7. kepala sekolah memusatkan perhatian pada pengelolaan proses belajar-
               mengajar sebagai kegiatan utamanya dan memandang kegiatan-kegiatan
               lain sebagai penunjang/pendukung proses belajar mengajar. Karena itu,
               pengelolaan    proses   belajar-mengajar   dianggap    memiliki      tingkat
               kepentingan tertinggi dan kegiatan lainnya dianggap memiliki tingkat
               kepentingan lebih rendah.
            8. kepala sekolah mampu dan sanggup memberdayakan sekolahnya terutama
               sumberdaya manusianya melalui pemberian kewenangan, keluwesan dan
               sumberdaya.


3.1   Kepemimpinan kepala sekolah
      Kepala sekolah merupakan salah satu komponen pendidikan yang berperan dalam
      meningkatkan kualitas pendidikan. Untuk itu kepala sekolah harus mengetahui
      tugas-tugas yang harus ia laksanakan. Adapun tugas-tugas dari kepala sekolah
      seperti dikemukakan Wahjosumidjo (2002;97) adalah:
       4.        Kepala sekolah bekerja dengan dan melalui orang lain
               a) Kepala sekolah berperilaku sebagai saluran komunikasi di lingkungan
                  sekolah
               b) Kepala          sekolah         bertanggung             jawab         dan
                  mempertanggungjawabkkannya.        Kepala     sekolah     bertindak   dan

Disusun Oleh : Kelompok tiga                                                            32
                bertanggung jawab atas segala tindakan yang dilakukan oleh bawahan.
                Perbuatan yang dilakukan oleh para guru, siswa, staf dan orang tua
                siswa tidak dapat dilepaskan dari tanggung jawab kepala sekolah.
             c) Dengan waktu dan sumber yang terbatas, seorang kepala sekolah harus
                mampu menghadapi berbagai persoalan. Dengan segala keterbatasan,
                Kepala sekolah harus dapat mengatur pemberian tuugas secara cepat
                dan mampu memprioritaskan bila terjadi konflik antara kepentingan
                bawahan dengan kepentingan sekolah.
             d) Kepala sekolah harus befikir secara analitik dan konsepsional. Kepala
                sekolah harus dapat memecahkan persoalan melalui satu analisis,
                kemudian menyelesaikan persoalan dengan satu solusi fesible. Serta
                harus dapat melihat setipa tugas sebagai satu keseluruhan yang saling
                berkaitan.
             e) Kepala sekolah adalah mediator atau juru penengah. Dalam lingkungan
                sekolah sebagai suatu organisasi didalamnya terdiri dari manusia yang
                mempunyai latar belakang yang berbeda-beda yang bisa menimbulkan
                konflik. Untuk itu kepala sekolah harus mampu jadi penengah dalam
                konflik tersebut.
             f) Kepala sekolah adalah seorang politisi. Kepala sekolah harus dapat
                membangun hubungan kerja sama melalui pendekatan persuasi dan
                kesepakatan (compromise). Peran politis kepala sekolah dapat
                berkembang secara efektif, apabila (1) dapat dikembangkan prinnsip
                jaringan saling pengertian terhadap kewajiban masing-masing, (2)
                terbentuknya aliasi atau koalisi, seperti organisasi profesi, OSIS, BP3
                dan sebagainya. (3) terciptanya kerjasama (coopration) dengan
                berbagai pihak, sehingga aneka macam aktivitas dapat dilaksanakan.
             g) Kepala sekolah adalah seorang diplomat. Dalam berbagai macam
                pertemuan kepala sekolah adalah wakil resim sekolah yang
                dipimpinnya.




Disusun Oleh : Kelompok tiga                                                         33
III.   KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan
       Berdasarkan hasil perhitungan yang dilakukan, diperoleh data empirik mengenai
kepemimpinan kepala sekolah, budaya kerja guru dan kinerja mengajar guru. Temuan
penelitian yang menunjukkan pengaruh masing-masing variabel di analisis menggunakan
teknik analisis korelasi sederhana dan korelasi ganda, maka dapat ditarik kesimpulan
sebagai berikut:
       1.          kepemimpinan kepala sekolah berpengaruh secara signifikan terhadap
                   kinerja mengajar guru di SMA Negeri 5 Tangerang. Informasi ini
                   memberikan keterangan bahwa variabel kepemimpinan kepala sekolah
                   berpengaruh kuat terhadap kinerja guru. Hasil perhitungan memberikan
                   informasi bahwa betapa pentingnya peran kepemimpinan kepala
                   sekolah dalam menggerakkan kehidupan sekolah untuk mencapai
                   tujuan. Dengan kepemimpinan kepala sekolah yang efektif diharapkan
                   mereka bisa memahami keberadaan sekolah, mampu melaksanakan
                   perannya sebagai seseorang yang diberi tanggung jawab untuk
                   memimpin sekolah serta mampu mewujudkan dan meningkatkan
                   kinerja guru yang efektif.

Disusun Oleh : Kelompok tiga                                                        34
                 Dari kesimpulan ini lebih jauh memberikan jawaban atas penjelasan
                 bahwa ”keberhasilan sekolah adalah keberhasilan kepala sekolah”.
      2.         Budaya kerja guru berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja
                 mengajar guru. Hubungan variabel budaya kerja guru terhadap kinerja
                 mengajar guru adalah 0,70 sedangkan kontribusi/pengaruh variabel X2
                 terhadap Y sebesar 49% kemudian sisanya 51% ditentukan oleh
                 variabel lain. Informasi ini memberikan keterangan bahwa variabel
                 budaya kerja guru berpengaruh kuat terhadap kinerja mengajar guru.
                 Kesimpulan bahwa budaya kerja guru diharapkan mampu menciptakan
                 suasana dan hubungan kerja guru dalam mewujudkan lingkungan kerja
                 yang kondusif. Kondisi ini sangat dibutuhkan dalam peningkatan
                 kinerja guru.
      3.         Kepemimpinan kepala sekolah berhubungan dengan budaya kerja guru.
                 Hubungan kepemimpinan kepala sekolah dengan budaya kerja guru
                 adalah 0.971 sedangkan kontribusi pengaruh variabel X1 dan X2
                 sebesar 94.28% sedangkan sisanya 5.72% ditentukan oleh variabel lain.
                 Temuan penelitian ini menerangkan bahwa kepemimpinan kepala
                 sekolah mempunyai kaitan positif dengan budaya kerja guru.
                 Kesimpulan bahwa pelaksanaan budaya kerja guru yang efektif berarti
                 menciptakan lingkungan kerja yang serasi dan harmonis. Suasana ini
                 diciptakan oleh hubungan yang positif antara kepala sekolah dan guru.
                 Hedimkian ketrkaitan antara kepemimpinan kepala sekolah dan budaya
                 kerja guru.
      4.         Kepemimpinan kepala sekolah dan budaya kerja guru berpengaruh
                 secara signifikan terhadap kinerja mengajar guru. Hubungan secara
                 simultan antara variabel kepemimpinan kepala sekolah (X1) dan budaya
                 kerja guru (X2) terhadap kinerja mengajar guru (Y) tergolong kuat.
3.2 Saran
   Berdasarkan kesimpulan dan implikasi tersebut maka dapat disarankan :
   1. Bagi Dinas Pendidikan
      Dinas pendidikan perlu memberikan dukungan nyata terhadap upaya sekolah
      dalam bentuk kebijakan maupun program yang mengarah pada peningkatan
      kinerja guru. Misalnya:
            a. Melakukan pembinaan intensif kepada kepala sekolah untuk meningkatkan
               kemampuannya dalam membina guru.

Disusun Oleh : Kelompok tiga                                                          35
          b. Melakkukan pembinaan intensif kepada guru untuk meningkatkan
             kemampuannya dalam melaksanakan pembelajaran.
          c. Memberi dukungan untuk menciptakan budaya kerja guru yang kondusif.
             Terkait hal tersebut diperlukan kebijakan tentang struktur organisasi dan
             tata kerja di lingkungan dinas pendidikan yang dapat diterima oleh semua
             pihak (pendidik dan tenaga kependidikan)
   2. Bagi Kepala Sekolah
          a. Kepala sekolah sebgai pengelola dan pemimpin sekolah diharapkan
             mampu menigkatkan kinerjanya dalam membina dan mengembangkan
             kemampuan guru.
          b. Adanya keterlibatan penuh kepala sekolah dalam menciptakan budaya
             kerja yang kondusif bagi guru. Hal ini dapat dilakukan melalui
             pemerataan. Kepala sekolah diharapkan mampu menjembatani terjalinnya
             kerja sama dan komunikasi yang harmonis antara guru dengan guru, guru
             dengan staf maupun guru dengan kepala sekolah.


   3. Bagi Guru
      Keberhasilan belajar siswa di sekolah merupakan wujud keberhasilan pelaksanaan
      tugas guru sebagai pendidik. Implementasi peran guru dalam mendidik siswa
      dapat dilihat dari kinerjanya dalam melaksanakan tugas pembelajaran. Adapun
      saran yang direkomendasikan antara lain adalah:
          a. peningkatan kemampuan melaksanakan tugas pembelajaran
          b. guru diharapkan turut membina budaya kerja yang kondusif. Untuk
             kepentingan tersebut guru diharapkan (1) mengenali dengan baik satu
             persatu pendidik/tenaga kependidikan sekolah baik pribadinya atau tugas-
             tugasnya. (2) memahami tujuan organisasi sekolah dan tujuan individu
             yang ingin dicapai., (3) melakukan komunikasi yang baik dan dapat
             menumbuhkan keeratan hubungan atau kesetiakawanan antara sumber
             daya manusia di sekolah, (4) saling mendukung dalam melaksanakan tugas
             serta saling membantu jika ada rekan kerja yang menghadapi kesulitan.




Disusun Oleh : Kelompok tiga                                                         36

								
To top