Docstoc

Materi Insiasi 2

Document Sample
Materi Insiasi 2 Powered By Docstoc
					Materi Insiasi 2

      LANGKAH-LANGKAH PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Pengantar
        Pada Modul 1, Anda telah belajar tentang hakikat sebuah PTK, yaitu sebuah
pemahaman tentang apa, mengapa, bagaimana, dan bilamana tentang PTK. Dalam Materi
Insiasi 2 ini yang bersumber dari Modul 2, Anda diajak untuk mempelajari dan mengkaji
tentang langkah-langkah atau prosedur pelaksanaan PTK yang sesuai persyaratan standar
pelaksanaan penelitian ilmiah. Langkah-langkah tersebut merupakan urutan yang baku
dari proses pelaksanaan PTK sehingga tidak bisa dipertukarkan tempatnya. Langkah-
langkah PTK dimulai dengan mengidentifikasi masalah, menganalisis masalah,
merencanakan perbaikan, melaksanakan tindakan perbaikan, mengumpulkan dan
menganalisis data serta merencanakan langkah-langkah tindak lanjut.

Uraian Materi
Materi Inisiasi 2 meliputi topik-topik tentang mengidentifikasi masalah, menganalisis
dan merumuskan masalah, merencanakan perbaikan, melaksanakan PTK, pengumpulan
data, analisis dan refleksi, dan merencanakan tindaklanjut. Hal yang perlu Anda lakukan
pertama- tama adalah merencanakan perbaikan dan melakukan tindakan. Kedua
kegiatan ini (merencanakan perbaikan dan melakukan tindakan) terdiri dari 4 tahapan,
yaitu:
    Tahap 1.     mengidentifikasi masalah
    Tahap 2.     menganalisis dan merumuskan masalah
    Tahap 3.     merencanakan perbaikan
    Tahap 4.     melaksanakan PTK (melakukan tindakan perbaikan sesuai rencana).

Contoh kasus 1.


     Dalam sebuah kegiatan pelajaran Bahasa Indonesia, Bu Sri menyuruh siswanya satu persatu
     maju di depan kelas untuk membacakan sebuah artikel dari buah buku bacaan anak-anak.
     Sebagai guru Bahasa Indonesia di sebuah SDN di Jawa Tengah, Bu Sri sangat risau karena
     seluruh siswa di kelasnya tidak mampu mengucapkan kata-kata bahasa Indonesia dengan baik
     dan benar yaitu yang ditandai dengan kentalnya logat daerah dalam pengucapan kata-kata
     (Bah. Jawa: medog). Pengucapan kata-kata (pronounciation) dan intonasi yang tidak sesuai
     sebagaimana berlaku dalam kaidah dan bunyi berbahasa Indonesia yang baik dan benar.
     Demikian pula. anak-anak belum mampu menggunakan tanda-tanda bacaan dengan benar,
     seperti titik, koma, tanda seru dan tanda tanya. Walaupun bagi Bu Sri masalah ini cukup
     serius, tetapi tidak bagi siswa-siswa kelas tersebut. Setiap kali Bu Sri mengoreksi tentang
     kesalahan pengucapan yang dilakukan anak-anak pada saat membaca artikel, seluruh kelas
     tidak bereaksi karena mereka menganggap hal tersebut merupakan hal yang biasa. Ibu Sri
     merasa bahwa hal ini perlu mendapat perhatian karena merupakan dasar yang baik bagi
     siswa apabila kelak mereka berbicara di depan umum. Setelah berulang kali merenung dan
     melakukan refleksi, Ibu Sri menyimpulkan bahwa selama ini memang masalah pronounciation
     dalam pengucapan kata-kata bahasa Indonesia tidak memperoleh perhatian yang cukup.
     Bagaimana caranya mengatasi masalah ini?
1. Identifikasi masalah
        Identifikasi masalah pembelajaran di kelas dapat dilakukan guru dengan
mengajukan pertanyaan pada diri sendiri. Pertanyaan-pertanyaan tersebut hendaknya
berpedoman pada kata-kata kunci berikut:
 Apakah saya merasakan bahwa terdapat masalah di kelas saya?
 Mengapa masalah tersebut dapat terjadi ?
 Apa dampak dari masalah tersebut bagi kelas saya?
 Apa yang terjadi bila masalah tersebut tidak saya atasi?
 Apa yang perlu saya lakukan untuk mengatasi masalah tersebut?
 dan seterusnya
        Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, Anda perlu melakukan refleksi.
Yang dimaksud refleksi dalam konteks PTK adalah berpikir reflektif (reflective thinking).
Salah satu aspek tentang cara melakukan berpikir reflektif adalah melakukan monitoring
tentang hal-hal yang sudah dilakukan guru pada saat mengajar di kelas, antara lain seperti
berikut:
(a) berpikir tentang kegiatan mengajar di kelasnya secara umum (comprehensive
     teaching)
(b) mengingat kembali tentang pelajaran-pelajaran tertentu yang dirasakan bermasalah
(c) berpikir tentang bagaimana membantu siswa secara invidual.
Hasil (output) dari berpikir reflektif dimplementasikan dalam bentuk:
(a) catatan berkala (journal writing)
(b) pertemuan dengan teman sejawat untuk berdiskusi
(c) berdiam diri untuk melakukan dialog dengan diri sendiri
(d) mempelajari kembali peta manajemen kelas yang sudah Anda lakukan selama ini,
     apakah perlu melakukan perubahan?
(e) memfokuskan pikiran atau memonitor berdasarkan pertanyaan-pertanyaan berikut:
           o Apakah saya sudah menjadi guru yang baik?
           o Bagaimana cara saya mengajar di kelas?
           o Bagaimana saya sudah mengelola kelas dengan baik?
           o Selama ini, bagaimana cara saya berinteraksi dengan siswa?
           o Bagaimana saya dapat menemukan metode mengajar yang efektif dan
                siswa saya mencapai prestasi yang baik?
Melalui proses berpikir reflektif         di atas, Anda sebagai guru akan mampu
mengidentifikasi permasalahan pembelajaran yang terjadi di kelas Anda. Sebagai guru,
lakukan cara berpikir reflektif tersebut. Cara berpikir reflektif dilakukan melalui proses
analisis dan sintesis serta induksi dan deduksi. Jawaban dari pertanyaan di atas
dijabarkan dalam bentuk Hipotesis Tindakan.

2. Analisis masalah, refleksi dan rumusan masalah
        Setelah masalah teridentifikasi, guru perlu melakukan analisis untuk merumuskan
masalah tersebut agar permasalahan menjadi jelas dan terfokus serta bersifat operasional
(dapat dilaksanakan). Analisis dapat dilakukan antara lain dengan cara-cara berikut:
1. mempelajari hasil refleksi (berpikir reflektif)
2. mempelajari daftar hadir siswa
3. mempelajari dokumen-dokumen siswa
4.   mengevaluasi hasil belajar siswa, latar belakang (data pribadi siswa)
5.   mempelajari metode instruksional yang dipraktekkan selama ini
6.   mempelajari dan mempertimbangkan masukan dari teman sejawat atau orang tua
     murid.
Analisis dilakukan dengan berpikir dan merenungkan kembali secara intens (reflective
thinking) kejadian-kejadian yang menyebabkan munculnya masalah pembelajaran di
kelas. Apabila yang menjadi masalah adalah buruknya kinerja (prestasi) siswa dalam
pelajaran Bahasa Indonesia, maka Anda sebagai guru perlu melakukan hal-hal berikut:
(a) mempelajari nilai Bahasa Indonesia siswa dan membandingkan dengan pelajaran
      lain;
(b) menganalisis tugas-tugas pelajaran Bahasa Indonesia yang pernah sudah Anda
      berikan kepada siswa selama ini, apakah lebih banyak teori atau praktek?
(c) membaca kembali buku-buku pelajaran yang digunakan siswa;
(d) memeriksa kembali apakah semua siswa sudah memiliki buku pelajaran Bahasa
      Indonesia yang diwajibkan sekolah?
(e) Mempelajari balikan yang sudah Anda berikan kepada siswa, apakah balikan
      tersebut memperoleh tanggapan atau tidak;
(f) Memeriksa PR yang dibuat oleh siswa, kualitas PR dan frekuensi penyelesaian
      PR;
(g) Mengingat kembali metode yang Anda gunakan pada saat mengajar matematika di
      kelas
(h) Mengamati suasana kelas pada saat Anda mengajar Bahasa Indonesia, apakah siswa
      cukup apresiatif terhadap pelajaran Bahasa Indonesia,
(i) Apakah siswa sudah mampu mengucapkan Bahasa Indonesia dengan benar?
(j) Dst.

Berdasarkan pertanyaan-pertanyaan di atas, tetapkan masalah yang paling merisaukan
Anda tentang kinerja siswa untuk dijadikan prioritas penelitian. Misalnya untuk
memperbaiki cara pengucapan (pronounciation) kata-kata Bahasa Indonesia agar mereka
dapat berbahasa Indonesia dengan baik dan benar jauh dari pengaruh bahasa ibu maupun
logat daerah yang kental, maka fokuskan pada upaya memperbaiki atau merubah metode
instruksional      yang Anda gunakan selama ini. Setelah Anda fokus pada masalah
tersebut, selanjutnya Anda dapat membuat rumusan masalah sebagai berikut:

Metode instruksional     yang bagaimana yang dapat memperbaiki       cara
pengucapan     (pronounciation)dan cara membaca (intonation) siswa dalam
pelajaran bahasa Indonesia?

Selanjutnya masalah tersebut dijabarkan secara operasional agar rencana perbaikan dapat
dibuat lebih tajam dan terfokus:
(a) Metode apa yang paling sesuai untuk dapat memperbaiki cara-cara pengucapan
     bahasa Indonesia yang kental dengan pengaruh logat daerah?
(b) Media belajar apa yang dapat memperbaiki cara pengucapan kata-kata Bahasa
     Indonesia siswa ?
(c) Bagaimana saya dapat membuat agar Bahasa Indonesia dapat menjadi pelajaran
     yang menyenangkan dan menarik bagi siswa?
(d) Apakah alokasi waktu sudah sesuai antara pelajaran teori dan praktek?
(e) Apakah buku pelajaran yang digunakan siswa sudah sesuai dengan tujuan perbaikan
    yang ingin saya capai?
(f) Dst.

Refleksi juga dilakukan setelah guru melihat dampak dari tindakan perbaikan yang
diberikan. Selama melakukan refleksi, guru akan merenung dan berpikir apakah usaha
perbaikan pembelajaran yang ia lakukan sudah berhasil atau belum. Apabila berhasil atau
sudah terjadi perbaikan berarti metode atau upaya yang diberikan sudah mampu
menghasilkan perbaikan pembelajaran. Tetapi, apabila tidak terjadi perbaikan, maka ia
akan bertanya pada dirinya sendiri “mengapa upaya perbaikan pembelajaran yang saya
lakukan belum berhasil?”. Untuk itu, ia akan mencari atau mengupayakan cara lain dan
menerapkannya dalam Siklus II. Demikian seterusnya.


3. Menyusun Rencana Perbaikan
        Berdasarkan kasus di atas, maka tugas Anda sebagai guru adalah mengatasi
masalah pembelajaran tersebut. Disinilah letak pekerjaan guru sebagai sebuah profesi,
yaitu di samping sebagai pengajar ia juga harus mampu menjalankan tugasnya sebagai
peneliti. Sebagai peneliti guru dapat melakukan PTK dikelasnya. Sebagai pengajar
tugasnya adalah bagaimana guru mengelola proses pembelajaran di kelasnya dengan
baik, yaitu guru harus mampu menanamkan konsep mengembangkan proses berpikir,
mengembangkan nilai dan sikap, mengembangkan keterampilan manual, memanfaatkan
waktu belajar dengan efektif dan efisien, serta mampu membuat setiap anak didik aktif
belajar. Sebagai pelaksana PTK, tugas Anda adalah bagaimana mengatasi masalah
pembelajaran di kelas.
Setelah melakukan analisis masalah, refleksi dan merumuskan masalah, selanjutnya
Anda dapat membuat rencana perbaikan. Angkah-langkah penting dalam menyusun
rencana perbaikan meliputi 2 hal, yaitu:
            merumuskan hipotesis tindakan
            menganalisis kelayakan hipotesis tindakan

(a)   Merumuskan hipotesis tindakan
       Hipotesis tindakan merupakan rumusan perbaikan pembelajaran yang di buat guru
sebagai pelaksana PTK. Merupakan dugaan yang rasional tentang cara guru mengatasi
masalah pembelajaran yang dihadapi di kelasnya. Dibuat berdasarkan pertimbangan-
pertimbangan berikut:
       kajian teori
       diskusi dengan teman sejawat
       refleksi (berpikir reflektif)
       hasil rumusan masalah

Contoh hipotesis tindakan:
      Pemberian contoh cara pengucapan kata-kata dengan benar oleh guru melalui
      penggalakan kegiatan membaca di depan kelas akan mampu memperbaiki cara
      pengucapan (pronounciation) dan cara membaca (intonation) siswa sehingga siswa
   akan mampu membaca teks bacaan       bahasa Indonesia dengan pengucapan    dan
   intonasi yang baik dan benar.

Langkah selanjutnya adalah membuat alternatif tindakan. Alternatif tindakan merupakan
rincian dari hipotesis tindakan dan hendaknya dirumuskan secara spesifik dan sifatnya
operasional (dapat dilaksanakan dan dapat diukur).

Contoh Alternatif Tindakan:
Perbaikan cara pengucapan dan cara membaca teks akan lebih efektif apabila:
 kegiatan membaca di depan kelas diberikan secara berkala pada awal pelajaran
    Bahasa Indonesia;
 apabila guru juga memberi contoh cara membaca dengan pengucapan dan irama
    yang benar;
 penilaian dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia juga diadakan melalui tes lisan;
 alokasi waktu untuk pelajaran praktek lebih besar dibandingkan pelajaran teori;
 banyak melakukan kegiatan ektra kurikuler diperluas seperti lomba pidato, baca
    puisi, drama, dll.
 guru menunjukkan bagaimana dalam mata pelajaran bahasa asing (Inggris),
    pronounciation dan intonation sangat penting
 dst

(b) menganalisis kelayakan hipotesis tindakan
Hipotesis tindakan di atas perlu dikaji ulang kelayakannya, yaitu untuk melihat apakah
hipotesis di atas dapat dilaksanakan. Kelayakan sebuah hipotesis tindakan pada umumnya
dan selalu dikaitkan dengan hal-hal berikut:
 kemampuan dan komitmen guru sebagai guru sekaligus peneliti;
 kesiapan siswa untuk dijadikan subyek penelitian;
 ketersediaan fasilitas sekolah/kelas terhadap upaya guru melaksanakan perbaikan;
 iklim belajar dan iklim sekolah yang memungkinkan guru melaksanakan PTK;


4. Melaksanakan perbaikan
       Rencana perbaikan dalam rangka memperbaiki pembelajaran di kelas dapat
dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu:
(1) membuat persiapan rencana pembelajaran (RP),
(2) menyusun rencana perbaikan pembelajaran (RPP),
(3) membuat desain PTK untuk 2 siklus,
(4) membuat tes untuk memperoleh umpan baik.
       PTK disebut juga sebagai penelitian berdaur. Artinya, apabila perbaikan pertama
(Plan A) yang Anda berikan dalam Siklus 1 belum memberikan hasil, maka dapat
diulang kembali dengan menggunakan rencana perbaikan kedua (Plan B) melalui Siklus
2. Siklus 2 merupakan revisi/perbaikan dari Perlaksanaan Tindakan 1. Revisi dibuat
berdasarkan refleksi hasil perbaikan pada Siklus 1 (Gambar 1).
                                Perbaikan 2
               Refleksi




  Pengama-                  Merenc.                             Perbaikan 3
              Siklus 1
  tan hasil                 Perbaikan1
                                                     Refleksi


                 Melaks.
                 tindakan
                                         Pengama-    Siklus 2   Merenc.
                                         tan hasil              Perbaikan2

                                                                              Siklus 3
                                                     Melaks
                                                     tindakan




                                    Gambar 1. Daur PTK



        RP dan RPP dibuat sesuai dengan format yang dapat Anda pelajari dalam Modul
3. Perbedaan antara RP dan RPP terletak pada tujuan perbaikan, dan deskripsi kegiatan
pembelajaran yang lebih rinci. Demikian pula, soal dan kunci jawaban diberikan secara
lengkap.       RPP yang lengkap meliputi 4 tahapan kegiatan, yaitu:
1. menyusun skenario pembelajaran
2. menyiapkan sarana dan fasilitas pembelajaran,\
3. menyusun RPP secara lengkap
4. mensimulasikan rencana perbaikan untuk melihat kelayakannya
5. menyempurnakan RPP berdasarkan hasil simulasi.
        Tahapan kegiatan perbaikan pembelajaran dapat didesain dengan membuat urutan
kegiatan perbaikan sebagai berikut:
1. merencanakan perbaikan hasil refleksi sesuai masalah yang telah diidentifikasi;
2. melaksanakan tindakan pembelajaran yang akan diujicobakan di kelas sesuai
     Rencana Perbaikan yang sudah disusun;
3. melakukan pengamatan (analisis dan sintesis) hasil tindakan yang sudah diberikan
     kepada siswa;
4. melakukan refleksi untuk melihat apakah sudah terlihat ada perbaikan.
           Apabila sudah terjadi perbaikan       : cukup 1 siklus
           Apabila belum ada perbaikan           : dapat dilanjutkan Siklus 2 dengan
              memberikan perubahan pada Rencana Perbaikan 1 (Siklus 1).
        Pengumpulan data selama proses perbaikan berlangsung dapat dilakukan melalui
observasi. Observasi dapat dilakukan guru dengan menggunakan lembar observasi yang
sudah dipersiapkan atau meminta teman sejawat untuk mencata semua peristiwa yang
berkaitan dengan upaya perbaikan. Selain itu, karena data PTK biasanya berbentuk
kualitatif, maka guru yang sedang melaksanakan PTK juga dapat mencari data dan
informasi tambahan melalui (i) wawancara dengan subyek penelitian (siswa) atau nara
sumber lain, (ii) mempelajari dokumen-dokumen sekolah/kelas dan (iii) melakukan
refleksi atas hasil-hasil sementara yang diperoleh.


5. Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan selama proses pelaksanaan perbaikan. Dalam PTK,
pengumpulan data umumnya dilakukan melalui observasi (pengamatan). Walaupun cara
lain juga mungkin untuk dilakukan. Cara lain-lain tersebut adalah a.l.catatan harian,
rekaman, angket dan wawancara.

(a) Observasi
      Observasi biasanya dilakukan guru pada saat guru sudah melaksanakan tindakan
perbaikan. Observasi/pengamatan bertujuan untuk:
 Mengumpulkan data yang diperlukan menjawab masalah yang sudah teridentifikasi
 Data ini diolah untuk menjawab pertanyaan penelitian atau menguji hipetesis
    tindakan yang sudah dibuat. Apakah layak atau tidak.
 Hasil interpretasi data digunakan untuk menata jkemabli langkah-langkah perbaikan.
      Ada 2 jenis observasi yaitu low inference observation dan high inference
observation (Flanders seperti dikutip oleh Raka Joni (ed.) 1998). Low inference
observation: hanya merekam data dalam 3 kategori, yaitu pembicaraan guru,
pembicaraan siswa dan sepi. Model observasi ini tidak memerlukan interpretasi pada
saat observasi berlangsung.High inference observation: interpretasi data langsung
dilakukan bersamaan pada saat observasi. Apabila guru merasa sangat kerepotan dalam
melakukan observasi sehingga ia lupa melakukan perekaman data (mencatat) atau
membuat interpretasi, maka guru dapat menggunakan alat perekam atau minta bantuan
teman sejawat.
      Secara sederhana, observasi berarti pengumpulan data yang dilakukan melalui
pengamatan untuk melihat dampak dari perlakuan (tindakan perbaikan) yang diberikan.
Menurut Hopkins (1993) ada 5 prinsip dasar atau karakteristik kunci observasi yang baik
dan efektif, yaitu:
 Perencanaan bersama: rencana PTK hendaknya tidak dibuat sendiri, tetapi
    direncanakan bersama-sama dengan pengamat yang akan membantu guru melakukan
    pengamatan. Dalam pengamatan, guru biasanya dibantu teman sejawat. Perencanaan
    bersama bertujuan membuat kesepakatan tentang hal-hal yang berkaitan dengan
    proses pengumpulan data melalui pengamatan (a.l. focus, pelajaran yang akan
    diamati, waktu, teknik pengamatan, apa yang perlu dicatat, instrument, dll.).
 Focus: pengamatan harus berfokus dan relevan pada tujuan perbaikan yang ingin
    dicapai
 Membangun kriteria: misalnya
            o menentukan target informasi yang ingin dicapai
            o perilaku siswa yang perlu dicatat
            o respon siswa
            o membuat komentar tentang kejadian-kejadian (hal-hal unik) selama
                pengamatan
            o dst.
       Keterampilan observasi:
               o Hati-hati dan tidak tergesa-gesa dalam membuat interpretasi.
               o Cermat dan akurat dan mempunyai insinuasi yang tajam sehingga tahu
                   mana yang perlu atau tidak perlu direkam.
               o Menguasai atau memahami instrumen atau alat perekam yang digunakan.
       Balikan (feedback)
               o Diberikan segera setelah selesai pengamatan (bisa dalam bentuk diskusi)
               o Interpretasi data sesuai dengan kriteria yang digunakan
               o Interpretasi data dilakukan olegh guru sebagai peneliti PTK
               o Melalui balikan ini, guru langsung bisa melihat apakah PTK sudah cukup
                   satu siklus saja atau dilanjutkan ke Siklus 2.

Pengamatan dapat dilakukan dengan berbagai cara. Berikut berbagai cara melakukan
pengamatan di kelas dalam pelaksanaan PTK:

    Observasi terbuka                            Tidak menggunakan lembar observasi atau instrumen
                                                 Perekaman data dilakukan pada kertas kosong
                                                 Pengamat mencatat segala kejadian yang relevan dengan upaya
                                                  perbaikan yang ingin dicapai
                                                 Hasil observasi disebut catatan harian guru (fieldnote).
    Observasi terfokus                           Ditujukan mengamati aspek-espek tertentu dari pembelajaran

    Observasi terstruktur                        Menggunakan instrumen observasi yang sudah dibuat terstruktur
                                                  sesuai dengan variabel-variabel penelitian yang digunakan,
                                                  sehingga pengamat cukup membubuhkan tanda ()
    Observasi sistematik                         Hampir sama dengan observasi terstruktur, tetapi dalam
                                                  pengamatan ini dibuat lebih rinci.
                                                 Pengamatan tidak hanya melihat dari perubahan perilaku subyek
                                                  (siswa), tetapi juga melihat komentar dari sisi guru dan suasana
                                                  senyap.
                                                 Instrumen disusun secara sistematis berdasarkan masalah yang
                                                  ingin      diteliti.  Selanjutnya     permasalahan       tersebut
                                                  dijabarkan/dikategorikan dalam bentuk variabel-variabel yang
                                                  ingin diukur. Pengukuran dilakukan melalui pengamatan
                                                  terhadap perilaku siswa,       perilaku guru yang mengajar
                                                  (melakukan perbaikan pembelajaran) dan suasana hening tanpa
                                                  perlakuan.


(b) Catatan harian, rekaman, angket dan wawancara.


                                                            Catatan Harian Guru

    Hari/taggal/tahun:.....................................................................................................................
    Pelajaran        : ....................................................................................................................
    Waktu            : ........................ menit
    Tujuan perbaikan: ....................................................................................................................
                       ....................................................................................................................
                             ....................................................................................................................

 (a)     kondisi kelas: (gambaran tentang kelas pada saat tindakan perbaikan diberikan),
       .... .......................................................................................................................................
        ...........................................................................................................................................
        ...........................................................................................................................................

 (b)     perilaku siswa: reaksi, respons (ucapan/komentar) tentang materi perbaikan, motivasi
         belajar, ketertarikan pada pelajaran yang diberikan, dll.
        .... ......................................................................................................................................
        ...........................................................................................................................................
        ...........................................................................................................................................

 (c)     interaksi kelas, apakah tetap gaduh, tenang, menyimak, dll.
        ...........................................................................................................................................
        ...........................................................................................................................................
        ..........................................................................................................................................

 (d)     Dll. (hal-hal unik, anekdote, dll.
        ...........................................................................................................................................
        ...........................................................................................................................................
        ..........................................................................................................................................

 Catatan/komentar:




6. Analisis Data
       Sesudah data terkumpul, baik data yang diperoleh melalui observasi, instrumen
maupun rekaman, selanjutnya dilakukan analisis data dan refleksi. Analisis data
dilakukan secara bertahap.
6.1.Proses analisis data:
       (a) Seleksi dan dikelompokkan berdasarkan variabel atau berdasarkan kelompok
            informasi yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan penelitian, jika perlu
            direduksi atau memisahkan (membuang) informasi yang tidak relevan
            dengan tujuan penelitian. Kemudian data diorganisasikan untuk menjawab
            pertanyaan penelitain atau menguji hipotesis tindakan;
       (b) Mendeskripsikan data: data diberi makna dengan membuat kesimpulan
            sementara dari hasil pengorganisasian atau pengolahan data. Output dari
            deskripsi data adalah narasi (data kualitatif), grafik atau tabel. pengamatan
            sesuai dengan variabel/aspek yang diteliti.
       (c) Menyimpulkan atau memberi makna dalam bentuk pernyataan atau atau
              formula (hasil pengolahan data).
6.2. Refleksi
       Guru melakukan refleksi dengan cara berpikir secara reflektif (reflective
thinking):
 tentang kejadian-kejadian di kelas selama guru melakukan tindakan perbaikan.
 Tentang kejadian munculnya hal-hal yang tidak diharapkan
 Hasil dari tindakan perbaikan yang diberikan, mengapa hasilnya demikian.
 Hasil reflective thinking kemudian dianalisis dan disintesa (diuraikan kembali)
    melalui pertanyaan ”mengapa demikian?
 Mengkaji komentar yang dibuat oleh teman sejawat baik sebagai pengamat maupun
    sebagai rekan seprofesi.


Diskusi dan Latihan
       Langkah-langkah PTK merupakan satu daur/siklus, terdiri dari tahapan-tahapan
sbb:

            1.   merencanakan perbaikan
            2.   melakukan tindakan
            3.   mengamati hasil tindakan
            4.   melakukan refleksi (berpikir reflektif)

Dua kegiatan pertama yaitu merencanakan perbaikan dan melakukan tindakan dilakukan
melalui 4 tahapan, yaitu: (1) mengidentifikasi masalah, (2) menganalisis dan
merumuskan masalah, (3) merencanakan PTK, dan (4) melaksanakan PTK. Masalah
pembelajaran di kelas dapat diidentifikasi menggunakan pedoman pertanyaan seperti di
atas. Setelah masalah teridentifikasi, kemudian dianalisis dengan cara melakukan refleksi.
Berdasarkan hasil analisis masalah dan refleksi kemudian ditentukan masalah yang paling
mendesak untuk diselesaikan. Setelah masalah pembelajaran yang dihadapi guru jelas
kemudian dirumuskan (perumusan masalah), dan selanjutnya guru mengembangkan cara
perbaikan.

   Mengembangkan cara-cara perbaikan:
   mempelajari teori pembelajaran atau hasil-hasil penelitian yang relevan
   berdiskusi dengan teman sejawat guru atau pakar
   mempelajari serta memetik pelajaran dari pengalaman guru selama mengajar
   melakukan refleksi



Latihan 2
      Berdasarkan penjelasan di atas, maka untuk dapat memahami Materi Inisiasi 2 ini,
Anda dapat mengerjakan tugas dari bagian Modul 2.
1. Berdasarkan pengalaman mengajar Anda selama ini, coba identifikasi masalah-
   masalah pembelajaran yang pernah Anda hadapi di kelas tempat Anda mengajar!
     Berilah contoh 4 peristiwa penting yang dapat menimbulkan masalah pembelajaran
     di kelas! Lakukan sesuai pedoman cara mengidentifikasi masalah seperti di atas!
2.   Sebagai peneliti PTK, kapan Anda perlu melakukan refleksi? Mengapa Anda perlu
     melakukan refleksi? Bagaimana cara Anda mengatasi masalah tersebut?
3.   Buatlah analisis dan perumusan masalah serta rencana tindak lanjut dari penyelesaian
     Contoh Kasus 1 di atas!
4.   Identifikasi masalah-masalah pembelajaran apa yang pernah Anda hadapi di kelas
     yang Anda ajar? Berilah contoh minimal 4 peristiwa penting yang dapat
     menimbulkan masalah pembelajaran di kelas! Lakukan dengan menjawab
     pertanyaan-pertanyaan sesuai pedoman cara mengidentifikasi masalah seperti di atas!
5.   Apa yang dimaksud dengan hipotesis tindakan? Kapan Anda perlu merumuskan
     hipotesis tindakan? Buatlah hipotesis tindakan dari masalah pembelajaran di atas
     (butir 1)!
6.   Sebagai peneliti PTK, kapan Anda perlu melakukan refleksi? Mengapa Anda perlu
     melakukan refleksi?

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:57
posted:4/12/2012
language:Malay
pages:11
mr doen mr doen mr http://bineh.com
About just a nice girl