t pu 0909452 chapter2

Document Sample
t pu 0909452 chapter2 Powered By Docstoc
					                                     BAB II

                     NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM

A. Penelitian Terdahulu

       Tesis tentang konsep pendidikan Luqman Al-Hakim, sebelumnya telah

ditulis pada tahun 1993 oleh A. Toto Suryana Afriatien (NIM 9032288) dengan

judul: “Studi Konseptual tentang Landasan Pendidikan Umum dalam Surah

Luqman ayat 12-19.”

       Afriatien dalam tesisnya mengutip pendapat Alberty (1965: 203) bahwa

Pendidikan Umum memiliki karakter tersendiri yang memberi penekanan kepada

pembinaan dan pengembangan nilai, sikap, pengertian dan keterampilan yang

harus dimiliki oleh semua orang dan diarahkan kepada terwujudnya manusia yang

utuh dan berkepribadian.

       Afriatien menjelaskan bahwa dalam Al-Qur’an surah Luqman ayat 12-19

mengandung peristiwa pendidikan yang dilakukan oleh Luqman kepada anaknya

yang dimaksudkan bukan mengarah pada jenis keterampilan atau pengetahuan

tertentu, tetapi tertuju kepada perwujudan sikap dan perilaku yang memadukan

unsur kognitif, afektif dan psikomotor.

       Dalam tesisnya, Afriatien memfokuskan permasalahan pada:

1) Gagasan-gagasan apa yang terdapat dalam situasi pendidikan yang terkandung

  dalam surah Luqman ayat 12-19?




                                          23
2) Sejauhmana hasil analisis terhadap situasi pendidikan tersebut berkaitan dengan

  konsep dasar Pendidikan Umum, khususnya berkaitan dengan ciri dan karakter

  Pendidikan Umum?

3) Konsep mendasar apa saja di dalam ayat tersebut yang seyogyanya dijadikan

  sebagai landasan Pendidikan Umum?

       Dalam penelitiannya, Afriatien menggunakan metode tafsir, yaitu

menafsirkan atau menginterpretasi ayat-ayat yang diteliti. Adapun langkah-

langkah atau prosedur yang ditempuh dalam penelitiannya, yakni: Pertama,

mengumpulkan tafsir Al-Qur’an yang berkenaaan dengan surat Luqman ayat 12-

19. Kedua, melakukan kategorisasi penafsiran melalui cara dan persamaan dan

perbedaan penafsiran. Ketiga, melakukan analisis dan interpretasi ayat dengan

menganalisis situasi pendidikan terhadap ayat-ayat yang diteliti dengan

menggunakan     perspektif   pendidikan.     Keempat,   melakukan   analisis   dan

interpretasi terhadap gagasan-gagasan pendidikan yang telah dilakukan pada tahap

tiga dengan menggunakan metode komplementasi. Kelima, penyimpulan.

       Dari analisis komparatif yang telah Afriatien lakukan, hasilnya

menunjukan bahwa Pendidikan Umum yang digali dari makna surah Luqman

lebih lengkap dan lebih komprehensif.

       Kemudian pada tahun 2001 Ateng Ruhendi (NIM 989734) mengangkat

konsep pendidikan yang sama dengan judul: “Pendidikan Keluarga menurut Surah

Luqman dan Penerapannya dalam Keluarga (Studi Analisis Terhadap Al-Qur’an

Surah Luqman Ayat 12-19).”



                                        24
       Ruhendi menyatakan dalam tesisnya bahwa pembentukan pribadi yang

utuh harus dimulai dari lingkungan keluarga, karena kehidupan seseorang dimulai

dari keluarga, sehingga keluarga harus dijadikan pusat dari segala upaya

pendidikan disamping sekolah dan masyarakat atau dalam istilah Ki Hajar

Dewantara disebut sebagai Tri Pusat Pendidikan.

       Fokus permasalahan dalam tesis ini, meliputi:

1. Pendidikan keluarga menurut Al-Qur’an surah Luqman ayat 12-19.

2. Tujuan pendidikan keluarga dalam surah Luqman ayat 12-19.

3. Materi yang disajikan dalam pendidikan keluarga menurut surah Luqman ayat

  12-19.

4. Pendekatan dan metode yang digunakan dalam pendidikan keluarga menurut

  surah Luqman ayat 12-19.

5. Syarat-syarat yang mesti dimiliki oleh seorang pendidik dalam keluarga.

6. Langkah-langkah yang semestinya dilakukan oleh orang tua dalam mendidik

  keluarga.

       Metode penelitian yang digunakan Ruhendi dalam tesisnya adalah metode

tafsir yang meliputi metode tafsir tahliliy (tafsir analisis) dan metode tafsir

maudu’iy (tafsir tematik).

       Berdasarkan penelitian mendalam dari surah Luqman ayat 12-19, Ruhendi

menyimpulkan bahwa dari surat tersebut didapatkan nilai-nilai esensial yang

dianggap paling menunjang terhadap keberhasilan pendidikan keluarga.



                                       25
A. Pendidikan Nilai

       Pendidikan nilai merupakan istilah yang masih asing di telinga masyarakat

bahkan di dunia sekalipun. Hal ini menurut ElMubarok, Z ( 2008: 11) disebabkan

karena dua faktor: pertama, belum merakyatnya sumbangan-sumbangan

nilai/moral bagi masyarakat umum yang berasal dari pendidikan nilai. Kedua,

belum banyaknya fakultas yang mengembangkannya dan juga tingkat hunian

akademik pada program pendidikan nilai sangat miskin. Namun demikian,

pendidikan nilai sebenarnya adalah hakikat dan tujuan pendidikan itu sendiri. Di

Indonesia sendiri baru ada dua program studi yang mengembangkan pendidikan

nilai yaitu Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di Bandung dan Universitas

Negeri Malang di Malang Jawa Timur. Itupun berada di level Program dan

sekolah Pascasarjana kedua universitas.



1. Arti Pendidikan Nilai

       Istilah Pendidikan Nilai merupakan rumusan dari dua pengertian dasar,

pendidikan dan nilai. Pendidikan dari segi bahasa berasal dari kata “didik” yang

berarti perbuatan (hal, cara, dsb) mendidik, dan dapat pula pengetahuan tentang

mendidik (Poerwadarminta, 2007: 291).

       Dalam arti sederhana pendidikan sering diartikan sebagai usaha manusia

untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan

kebudayaannya. Dalam perkembangannya, istilah pendidikan mengandung makna

bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa

agar ia menjadi dewasa. Dalam artian dapat bertanggung jawab terhadap diri


                                          26
sendiri secara biologis, psikologis, paedagogis dan sosiologis. Selanjutnya,

pendidikan juga diartikan sebagai usaha yang dijalankan oleh seseorang atau

kelompok orang lain agar menjadi dewasa atau mencapai tingkat hidup atau

penghidupan yang lebih tinggi dalam arti mental (Hasbullah, 2009: 1)

       Hasbullah (2009: 2) mengemukakan beberapa pengertian pendidikan yang

diberikan para ahli pendidikan, di antaranya:

1) Langeveld: ‘Pendidikan ialah setiap usaha, pengaruh, perlindungan dan

  bantuan yang diberikan kepada anak tertuju kepada pendewasaan anak itu,

  atau lebih tepat membantu anak agar cukup cakap melaksanakan tugas

  hidupnya sendiri. Pengaruh itu datangnya dari orang dewasa (atau yang

  diciptakan oleh orang dewasa seperti sekolah, buku, putaran hidup sehari-hari,

  dan sebagainya) dan ditunjukan kepada orang yang belum dewasa.’

2) John Dewey: ‘Pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan

  fundamental secara intelektual dan emosional ke arah alam dan sesama

  manusia.’

3) J.J. Rousseau: ‘Pendidikan adalah memberi kita perbekalan yang tidak ada

  pada masa kanak-kanak, akan tetapi kita membutuhkannya pada waktu

  dewasa.’

4) Driyarkara: ‘Pendidikan ialah pemanusiaan manusia muda atau pengangkatan

  muda ke taraf insani.’

5) Carter V. Good: ‘Pendidikan ialah seni, praktik, atau profesi sebagai pengajar

  dan ilmu yang sistematis atau pengajaran yang berhubungan dengan prinsip


                                        27
  dan metode-metode mengajar, pengawasan dan bimbingan murid, yang dalam

  arti luas digantikan dengan istilah pendidikan.’

6) UUSPN Pasal 1 UU RI No. 20 th. 2003: ‘Pendidikan adalah usaha sadar dan

  terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar

  peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki

  kekuatan spititual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,

  akhlak mulia, serta keterampilan, yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa

  dan negara.’

       Pada kenyataannya, pengertian pendidikan (sebagaimana yang telah

disebutkan di atas) senantiasa mengalami perkembangan, meskipun secara

esensial tidak jauh berbeda, dimana pendidikan diartikan sebagai proses

bimbingan, tuntunan atau pimpinan yang didalamnya mengandung unsur-unsur

pendidikan seperti pendidik, anak didik, tujuan dan lain sebagainya.

       Sementara kata value yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa

Indonesia menjadi nilai, sebatas arti denotatifnya dapat dimaknai sebagai harga

(Mulyana, R. 2004: 7). Yakni, “harga yang diberikan seseorang atau kelompok

terhadap sesuatu” (Djahiri, A. 1996: 16).

       Namun, ketika nilai dihubungkan dengan suatu objek atau sudut pandang

tertentu, maka, harga yang terkandung didalamnya memiliki pemaknaan yang

bermacam-macam. Ada harga menurut ilmu ekonomi, psikologi, sosiologi,

antropologi, politik maupun agama.




                                        28
       Oleh karenanya, definisi nilai sering dirumuskan dalam konsep yang

berbeda-beda. Seperti dinyatakan Kurt Baier (Mulyana, R. 2004: 8), seorang

sosiolog menafsirkan nilai dari sudut pandangnya sendiri tentang keinginan,

kebutuhan, kesenangan seseorang sampai pada sanksi dan tekanan dari

masyarakat. Seorang psikolog menafsirkan nilai sebagai suatu kecenderungan

perilaku yang berawal dari gejala-gejala psikologis, seperti hasrat, motif, sikap,

kebutuhan, dan keyakinan yang dimiliki secara individual sampai pada wujud

tingkah lakunya yang unik. Seorang antropolog melihat nilai sebagai “harga” yang

melekat pada pola budaya masyarakat seperti dalam bahasa, adat kebiasaan,

keyakinan, hukum dan bentuk-bentuk organisasi sosial yang dikembangkan

manusia. Lain lagi dengan seorang ekonom yang melihat nilai sebagai “harga”

suatu produk dan pelayanan yang dapat diandalkan untuk kesejahteraan manusia.

       Perbedaan cara pandang mereka dalam memahami nilai berimplikasi pada

perumusan definisi nilai. Berikut beberapa definisi nilai sebagaimana pemaparan

Mulyana, R (2004: 9) dalam bukunya “Mengartikulasikan Pendidikan Nilai”

yang masing-masing memiliki penekanan yang berbeda:

       ‘Nilai adalah keyakinan yang membuat seseorang bertindak atas dasar

pilihannya.’ (Gordon Allport, 1964). Sebagai seorang ahli psikolog kepribadian,

bagi Allport, nilai terjadi pada wilayah psikologis yang disebut keyakinan.

       ‘Nilai adalah patokan normatif yang mempengaruhi manusia dalam

menentukan pilihannya diantara cara-cara tindakan alternatif.’ (Kupperman,

1983). Sebagai seorang sosiolog, Kupperman memandang norma sebagai salah

satu bagian terpenting dari kehidupan sosial. Oleh karena itu, bagian terpenting

                                        29
dalam proses pertimbangan nilai (value judgement) adalah pelibatan nilai-nilai

normatif yang berlaku di masyarakat.

        Definisi yang tidak memiliki tekanan sudut pandang tertentu adalah

sebagaimana yang dikemukakan oleh Hans Jonas (Mulyana, R. 2004: 9) bahwa

value is address of a yes atau jika diterjemahkan secara kontekstual, nilai adalah

sesuatu yang ditunjukan dengan kata “ya”. Definisi ini dapat berlaku umum,

mencakup nilai keyakinan individu secara psikologis maupun nilai patokan

normatif secara sosiologis.

        Selain definisi yang telah disebutkan diatas, terdapat sejumlah definisi

nilai yang dikemukakan oleh beberapa ahli, di antaranya:

        Fraenkel (Sauri-Firmansyah, S. 2010: 3): ‘Nilai merupakan idea atau

konsep yang bersifat abstrak tentang apa yang dipikirkan seseorang           atau

dianggap penting oleh seseorang.’

        Rokeah (Djahiri, A. 1996: 17): ‘Nilai adalah sesuatu yang berharga, yang

dianggap bernilai, adil, baik, benar dan indah serta menjadi pedoman atau

pegangan diri’

        Sumantri, E (Sauri-Firmansyah, S. 2010: 3) : ‘Nilai merupakan hal yang

terkandung dalam hati nurani manusia yang lebih memberi dasar dan prinsip

akhlak yang merupakan standar dari keindahan dan efisiensi atau keutuhan kata

hati (potensi).’

        Djahiri, A (1996: 17): “Nilai adalah harga yang diberikan oleh

seseorang/sekelompok orang terhadap sesuatu (materil, imateril, personal,


                                       30
kondisional), atau harga yang dibawakan/tersirat atau menjadi jati diri dari

sesuatu”

       Mulyana, R (2004: 11): “Nilai adalah rujukan dan keyakinan dalam

menentukan pilihan.”

       Para filosof nilai yang bekerja dalam Union of International Association

melaporkan setidaknya terdapat 15 definisi nilai yang berbeda, bahkan

diperkirakan jumlah tersebut akan terus bertambah jika merujuk pada sejumlah

buku yang membahas secara khusus persoalan nilai sebagai makna yang abstrak,

bukan sebagai harga suatu barang atau benda (Mulyana, R. 2004: 11)

       Ketika dua istilah itu disatukan, arti keduanya menyatu dalam definisi

Pendidikan Nilai. Sastrapratedja mengemukakan bahwa ‘Pendidikan Nilai adalah

penanaman dan pengembangan nilai-nilai pada diri seseorang’. Mardiatmadja:

‘Pendidikan Nilai ialah bantuan terhadap peserta didik agar menyadari dan

mengalami nilai-nilai serta menempatkannya secara integral dalam keseluruhan

hidupnya.’ Aspin, D : ‘Pendidikan Nilai sebagai bantuan untuk mengembangkan

dan mengartikulasikan kemampuan pertimbangan nilai atau keputusan moral

yang dapat melembagakan kerangka tindakan manusia.’ (Mulyana, R. 2004: 119)

       Jadi, dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan Pendidikan

Nilai ialah pengajaran atau bimbingan kepada peserta didik agar menyadari nilai

kebenaran, kebaikan, dan keindahan, melalui proses pertimbangan nilai yang tepat

dan pembiasaan bertindak yang konsisten (Mulyana, R. 2004: 119).




                                      31
1. Tujuan Pendidikan Nilai

        Secara umum, tujuan Pendidikan Nilai dimaksudkan untuk membantu

peserta didik agar memahami, menyadari, mengalami nilai-nilai serta mampu

menempatkannya secara integral dalam kehidupan (Mulyana, R. 2004: 119).

       Dalam proses Pendidikan Nilai, tindakan-tindakan pendidikan yang lebih

spesifik dimaksudkan untuk mencapai tujuan yang lebih khusus. Seperti

dikemukakan Komite APEID (Asia dan the Pasific Programme of Educational

Innovation for Development), Pendidikan Nilai secara khusus bertujuan untuk:

a. Menerapkan pembentukan nilai kepada anak.

b. Menghasilkan sikap yang mencerminkan nilai-nilai yang diinginkan.

c. Membimbing perilaku yang konsisten dengan nilai-nilai tersebut.

       Dengan demikian, tujuan Pendidikan Nilai meliputi tindakan mendidik

yang berlangsung mulai dari usaha penyadaran nilai sampai pada perwujudan

perilaku-perilaku yang bernilai (UNESCO, 1994).


2.   Landasan Pendidikan Nilai

       Landasan dalam Pendidikan Nilai sebagaimana yang dijelaskan Mulyana,

R (2004: 124) terdiri dari empat bagian; landasan filosofis, landasan psikologis,

landasan sosiologis, dan landasan estetik. Landasan filosofis mengetengahkan

akar pemikiran tentang hakikat manusia dari perspektif filsafat. Landasan

psikologis menjelaskan aspek-aspek psikis manusia sebagai individu. Landasan

sosiologis meliputi prinsip-prinsip pengembangan manusia sebagai anggota



                                       32
masyarakat.   Landasan   estetik   menguraikan   kemampuan    manusia   dalam

mempersepsikan nilai keindahan.



Landasan Filosofis

       Sebagian besar filosof barat beranggapan bahwa hakikat manusia adalah

hewan yang dapat dididik (animal educandum). Manusia juga dikenal sebagai

homo sapiens (manusia yang mengetahui dan dibekali dengan akal), homo ludens

(manusia yang bermain-main), homo recens (manusia yang membuat sejarah),

homo faber (manusia teknis yang menggunakan alat-alat), homo simbolicum

(manusia yang mengenal simbol-simbol bahasa), homo concors (manusia yang

hidup seimbang antara dirinya dengan orang lain dan masyarakat sekitar), homo

economicus (manusia sebagai makhluk ekonomi), dan animal rational (hewan

yang rasional). Selain itu, ada pula yang beranggapan bahwa hakikat manusia

justru terletak pada semangat spiritualnya dalam menjalin hubungan dengan

Tuhan. Menurut pandangan ini manusia yang paling hakiki adalah manusia yang

beragama.

       Untuk menengahi perbedaan pandangan diatas, Mulyana, R (2004: 125)

meminjam kerangka analisis Phenix dalam bukunya Realms of Meaning. Ia

menempuh dua langkah penting dalam mengungkap hakikat manusia, yaitu:

Pertama, ia mengindentifikasi interpretasi wilayah kajian ilmu Kimia, Fisika,

Biologi, Psikologi, Sosiologi, Ekonomi, Politik, Antropologi, Linguistik,

Geografi, Seni, Moral, Sejarah, dan Teologi dalam menjelaskan hakikat manusia.

Kedua, ia melakukan rekontruksi pengertian tentang hakikat manusia berdasarkan


                                      33
sejumlah tafsiran yang diajukan ahli dari berbagai disiplin ilmu. Pada akhir

analisisnya, ia menyimpulkan bahwa hakikat manusia terletak pada dunia

kehidupan makna (meaning).

       Dengan asumsi bahwa makna memiliki kesejajaran arti dengan nilai, maka

landasan filosofis Pendidikan Nilai dapat diposisikan dalam dua kemungkinan,

yaitu: (1) filsafat Pendidikan Nilai pada dasarnya tidak berpihak pada salah satu

kebenaran tentang hakikat manusia yang dicapai oleh suatu aliran pemikiran,

karena nilai adalah esensi hakikat manusia yang dapat mewakili semua

pandangan. (2) filsafat Pendidikan Nilai berlaku selektif terhadap kebenaran

hakikat manusia yang dicapai oleh suatu aliran pemikiran tertentu, karena nilai

selain sebagai esensi hakikat manusia juga menyangkut substansi kebenarannya

yang dapat berlaku kontekstual dan situsional (Mulyana, R. 2004: 126).



Landasan Psikologis

       Dalam tinjauan psikologis manusia dipandang sebagai individu yang selalu

tampil unik. Keunikan manusia dilihat dari sisi mental dan tingkah lakunya

berimplikasi pada asumsi psikologis berikutnya bahwa pada hakikatnya tidak ada

seorang pun anak manusia yang sama persis dengan anak manusia lainnya.

       Namun, walau demikian Psikologi mencoba menarik batas-batas

kemiripan melalui kaidah-kaidah perkembangan mental manusia beserta ciri-ciri

perilakunya. Keutuhan manusia sebagai organisme dijelaskan melalui aspek-aspek

psikis yang berkembang secara dinamis. Demikian pula perbedaan individu ditarik

pada prinsip-prinsip dasar perkembangan yang mewakili setiap fase pertumbuhan

                                       34
dan perkembangan manusia.       Dengan berdasarkan pada kaidah-kaidah umum

Psikologi seperti itu, landasan psikologi Pendidikan Nilai dapat dijelaskan

(Mulyana, R. 2004: 127).



Landasan Sosial

       Manusia adalah makhluk sosial. Manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa

adanya keterlibatan dengan orang lain. Oleh sebab itu, dalam sejarah pemikiran

barat manusia disebut homo concors, yakni makhluk yang dituntut untuk hidup

secara harmonis dalam lingkungan masyarakatnya (Mulyana, R. 2004: 131).

       Berdasarkan pernyataan diatas, dalam proses penyadaran nilai pada peserta

didik, Pendidikan Nilai perlu dirancang dengan mengangkat nilai-nilai kehidupan

sosial yang aktual dan kontekstual.

       Adapun target utama Pendidikan Nilai secara sosial menurut Mulyana, R

(2004: 133) adalah membangun kesadaran interpersonal yang mendalam. Peserta

didik dibimbing untuk mampu menjalin hubungan sosial secara harmonis dengan

orang lain melalui sikap dan perilaku yang baik.



Landasan Estetik

       Manusia adalah makhluk yang memiliki cita rasa keindahan. Cita rasa

keindahan (estetik) berkembang sesuai dengan potensi setiap individu dalam

menilai obyek-obyek yang bernilai seni atau menuangkan karya seni. Pada

tingkatan tertentu, cita rasa keindahan berkembang secara subyektif, dalam arti

setiap orang dapat mengekspresikan kualitas dan intensitas keindahan yang

                                        35
berbeda. Namun, pada tingkatan yang lebih tinggi, cita rasa keindahan dapat

sampai pada penemuan makna keindahan yang hakiki, sehingga ia berada pada

wilayah yang obyektif, yakni suatu kebenaran dan kebaikan estetik yang universal

(Mulyana, R. 2004: 134).

       Maxine Grenee (Mulyana, R. 2004: 134) menyatakan bahwa nilai estetik

perlu dibelajarkan kepada peserta didik agar mereka mengetahui bagaimana cara

belajar yang bermakna. Dalam Pendidikan Nilai ini baik guru maupun siswa

melibatkan proses pemahaman rasa, pilihan pribadi, dan tataan bentuk yang erat

kaitannya dengan karakteristik estetika. Grenee menggarisbawahi pentingnya vital

center, yakni suatu titik ketika proses belajar diperlakukan sebagai ajang

penyadaran nilai-nilai keindahan dan penyertaan timbangan rasa secara optimal.

       Adapun dalam konteks Pendidikan Nasional, Mulyana menyatakan bahwa

pengembangan Pendidikan Nilai perlu diartikulasikan sesuai dengan nilai-nilai

luhur bangsa yang bersifat kultural dan spiritual. Hal ini tentu saja tanpa

bermaksud mengabaikan landasan yang bersifat umum, seperti; landasan filosofis,

psikologis, sosial dan estetik.



Landasan Yuridis

       Penyelenggaraan Pendidikan Nilai dalam konteks Pendidikan Nasional

memiliki landasan hukum yang kuat. Ideologi Negara, Undang-undang, dan

GBHN merupakan ketentuan yuridis yang mengandung pesan nilai. Oleh karena

itu, Pendidikan Nilai memiliki posisi yang cukup strategis dalam Pendidikan




                                       36
Nasional, meskipun istilah Pendidikan Nilai belum terdefinisikan secara tegas

dalam kurikulum pendidikan formal (Mulyana, R. 2004: 152)



Landasan Religi

       Landasan Pendidikan Nilai dalam perspektif Islam mencakup semua

dimensi ajaran Islam yang selalu mengandung pesan nilai-nilai kebaikan dan

kebenaran yang diperlukan oleh umat manusia. Dengan demikian, dapat

diasumsikan pula bahwa secara umum Pendidikan Nilai dalam perspektif Islam

adalah Pendidikan Islam itu sendiri (Mulyana, R. 2004: 154).



C. Pendidikan Islam

1. Arti Pendidikan Islam

       Dalam Al-Qur’an term pendidikan dipresentasikan melalui kata tarbiyah

dan ta’lim. Tarbiyah berasal dari kata Robba, pada hakikatnya merujuk kepada

Allah selaku Rabb. Kata ini biasanya diartikan secara sederhana dengan kata

Tuhan. Namun, kata Rabb dan seakarnya memiliki makna yang luas; bisa

memiliki, menguasai, mengatur, memelihara, memberi nikmat dan mengawasi dan

banyak lagi kecuali di beberapa tempat bermakna tuan, majikan, atau raja, yaitu

pada al-Qur’an surat Yusuf ayat 23, 41, 42 dan 50. Rabba dalam bahasa arab

berarti tumbuh dan berkembang. Dalam Al-Qur’an sendiri tidak ditemukan kata

tarbiyyah, akan tetapi ada istilah senada dengan Rabb, seperti rabbayaani (QS.

Al-Isra: 24), nurabbika (QS Asy-Syu’ara: 18), rabbaaniyyiina (QS Ali Imran:79)

(Hanafi, M. 2008: 2)


                                       37
          Jika merujuk kepada kamus bahasa arab, terdapat tiga akar kata untuk

istilah tarbiyah. Pertama, raba yarbu yang artinya bertambah dan berkembang.

Sebagaimana firman Allah Swt dalam Al-Qur’an surat Ar-Rum ayat 39:

  ُ                  َ َ       ٍ ََ                 َ
ُ ‫ِ ْ َ ا ِ و َ َ َ ْ ُ ْ ِ ْ زآ ة ُ ِ ُون و ْ َ ا ِ َُوَ ِ َ ه‬   ُ ْ َ ََ ‫و َ َ َ ْ ُ ْ ِ ْ ر ً ِ َ ْ ُ َ ِ أ ْ َال ا س‬
                                                                           ِ   ِ َ                   ِ                 َ

                                                                                                            َ
                                                                                                            ‫اْ ُ ْ ُِ ن‬

“Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada
harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang
kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan
Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan
(pahalanya).” ( QS: Ar-Rum: 39)

          Kedua, rabiya yarbu yang sama timbangannya dengan khafiya yakhfa

yang mengadung arti tumbuh dan berkembang. Ketiga, rabba yarubbu yang sama

timbangannya dengan madda yamuddu yang berarti memperbaiki, mengurusi

kepentingan, mengatur, menjaga dan memperhatikan (An-Nahlawi, A. 2004: 20).

          Al-Ashfahani, A (2002: 336) mengatakan bahwa Ar-Rabb berarti At-

Tarbiyah, yakni menumbuhkan sesuatu setahap demi setahap hingga mencapai

kepada batasan kesempurnaan.

           Menurut Al-Abrasyi, M (Rosyidin, D. 2009: 19), tarbiyah menyiapkan

individu dengan berbagai media agar memanfaatkan bakat dan minatnya, dan

hidup dengan sempurna dalam masyarakat tempat dia berada. Tarbiyah meliputi

pendidikan jasmani, akal, akhlak, sosial, emosional dan estetika. Sedangkan

menurut ‘Aqil, tarbiyah merupakan proses menyeluruh yang akan dilakukan

terhadap manusia: jiwa dan raganya, akal dan perasaannya, perilaku dan

kepribadiannya, sikap dan pemahamannya, cara hidupnya dan cara berfikirnya.

Proses tarbiyah itu adalah proses yang berkelanjutan atau kontinu.

                                                           38
       Sedangkan kata ta’lim, Al-Ashfahani, A (2002: 580) mengemukakan

bahwa antara at-ta’lim dan al-i’lam adalah satu makna, yaitu pemberitahuan.

Hanya saja, al-i’lam diperuntukan bagi pemberitahuan yang cepat, sedangkan at-

ta’lim bagi pemberitahuan yang dilakukan dengan berulang-ulang dan sering

sehingga berbekas pada diri muta’alim (pembelajar). Dan ta’lim adalah

menggugah jiwa untuk mempersepsikan makna.

        Al-Bani (Rosyidin, D. 2009: 21) menyebutkan ta’lim umumnya berkenaan

dengan informasi, aspek intelektual, dan kadang berkenaan dengan penguasaan

suatu keterampilan. Sedangkan menurut Jalal, A (1988: 33), ta’lim merupakan

suatu proses yang terus menerus diusahakan semenjak manusia dilahirkan.

       Pendidikan juga diistilahkan dengan ta’dib, yang berasal dari kata kerja

“addaba”. Addabahu maknanya hadzdzaabahu yakni mendidik, memperbaiki,

melatih kedisiplinan, menghukum, mengambil tindakan. Taaddaba berarti

tahadzdzaba yang artinya terdidik, beradab, sopan dan berbudi baik (Munawwir,

1997: 13).

       Jadi, kata ta’dib diartikan kepada proses mendidik yang lebih tertuju pada

pembinaan dan penyempurnaan akhlak atau budi pekerti peserta didik. Kata ta’dib

tidak dijumpai langsung dalam al-Qur’an, tetapi diambil dari sebuah hadits Rasul

Saw;

                                                                   ِ                َ        َ
                                                             ْ ِ ْ ‫أد َ ِ ْ ر ْ َ َ ْ َ َ َ ْد‬

“Tuhanku telah mendidikku dan dengan demikian menjadikan pendidikanku yang

terbaik”.




                                       39
       Istilah “ta’dib” digunakan Al-Attas untuk mewakili maksud dan tujuan

pendidikan. Menurut Al-Attas, S (1977: 11) istilah ini mengandung unsur-unsur

disiplin tubuh, jiwa, dan ruh; disiplin yang menegaskan pengenalan dan dan

pengakuan tempat yang tepat dalam hubungannya dengan kemampuan dan potensi

jasmaniah, intelektual, dan ruhaniah; pengenalan dan pengakuan akan kenyataan

bahwa ilmu dan wujud ditata secara hierarkis sesuai dengan berbagai tingkat

(maratib) dan derajatnya (darajat).

       Oleh karena itu, Al-Attas, S (1977: 11) mendefinikan pendidikan sebagai:

   Pengenalan dan pengakuan, yang secara berangsur-angsur ditanamkan di
  dalam manusia, tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam
  tatanan penciptaan sedemikian rupa, sehingga membimbing ke arah
  pengenalan dan pengakuan tempat Tuhan yang tepat di dalam tatanan wujud
  dan keperiadaan.
       Berdasarkan kajian historis, Rosyidin, D (2003: 5) menyatakan bahwa

dalam perkembangan sejarah peradaban Islam sejak masa Nabi saw sampai masa

keemasan Islam di tangan Bani Abbas, kata tarbiyah tidak pernah muncul dalam

literatur-literatur pendidikan. Barulah pada abad modern ini kata tarbiyah mencuat

ke permukaan sebagai terjemahan dari kata bahasa inggris, yaitu “education.”

       Dulu, pada masa klasik orang hanya mengenal kata ta’dib untuk

mengistilahkan pendidikan. Pengistilahan ini terus berlangsung selama masa

kejayaaan Islam, hingga semua ilmu yang dihasilkan pada masa itu, disebut

“adab”. Seperti “Al-Adabul Kabir” dan “Al-Adabul Shagir” yang ditulis oleh Ibnu

Al-Muqaffa. Oleh karena itu, seorang pendidik di masa itu disebut muaddib.

       Barulah, setelah para ulama punya spesialisasi di bidang tertentu dalam

ilmu pengetahuan, istilah “adab” menjadi menyempit dan hanya digunakan untuk

                                       40
menunjuk kesusastraan dan etika, akibatnya ta’dib sebagai konsep pendidikan

dalam Islam menjadi tidak dikenal lagi.

       Adapun jika ditinjau dari segi terminologi, Pendidikan Islam didefinisian

sebagai bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam

menuju terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam (Marimba,

1980: 23)

        Langgulung (Djamaludin-Ali, 1999: 10), Pendidikan Islam ialah

pendidikan yang memiliki 4 macam fungsi yaitu:

1. Menyiapkan generasi muda untuk memegang peranan-peranan tertentu dalam

  masyarakat pada masa yang akan datang. Peranan ini berkaitan erat dengan

  kelanjutan hidup (survival) masyarakat sendiri.

2. Memindahkan ilmu pengetahuan yang bersangkutan dengan peranan-peranan

  tersebut dari generasi tua kepada generasi muda.

3. Memindahkan nilai-nilai yang bertujuan untuk memelihara keutuhan dan

  kesatuan masyarakat yang menjadi syarat mutlak bagi kelanjutan hidup

  (survival) suatu masyarakat dan peradaban. Dengan kata lain, nilai-nilai

  keutuhan (integrity) dan kesatuan (integration) suatu masyarakat, tidak akan

  terpelihara yang akhirnya menyebabkan kehancuran masyarakat itu sendiri.

  Nilai-nilai yang harus dipindahkan ialah nilai-nilai yang bersumber dari lima

  sumber, yaitu: Al-Qur’an, Sunnah Nabi, Qiyas, kemaslahatan umum dan

  kesepakatan atau ijma ulama dan ahli-ahli fikir Islam yang dianggap sesuai

  dengan sumber dasar, yaitu Al-Qur’an dan Sunah Nabi.


                                          41
3. Mendidik anak agar beramal di dunia ini untuk memetik hasilnya di akhirat.



2. Landasan Pendidikan Islam

       Pendidikan Islam sebagai usaha, kegiatan dan tindakan yang dilakukan

secara sengaja untuk mencapai suatu tujuan harus mempunyai landasan ke mana

semua kegiatan dan semua perumusan tujuan pendidikan Islam itu dihubungkan.

       Landasan Pendidikan Islam terdiri dari; Al-Qur’an dan As-Sunnah,

kemudian dari dua sumber ini dapat dikembangkan dengan ijtihad, al-maslahah

mursalah, istihsan, qiyas dan lain sebagainya.


Al-Qur’an

       Al-Qur’an menurut bahasa, adalah bentuk masdar (asal kata) dari kalimat

"qara’a" yang berarti: mengumpulkan (al-jam’u) dan menggabungkan (adh-

dhommu), Al-Qiraa’ah berarti: menggabungkan huruf-huruf dan kalimat-kalimat

satu dengan yang lainnya secara tertib (tartil). Al-Qur’an pada asalnya seperti Al-

Qira’ah, yaitu masdar (asal kata) dari qara’a qira’atan dan qur’anan. Allah ‘Azza

wa Jalla berfirman:“Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya

(di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai

membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.” (QS. Al-Qiyamah: 17-18)

       Lapadz bacaannya itu (qur’aanahu) pada ayat di atas maksudnya

bacaannya (qiraatahu), yaitu masdar dari timbangan “fu’lan” dengan dhomah,

seperti “gufran” dan “syukran.” Seperti perkataan: qara’tuhu qar’an, qira’atan

dan qur’anan, makananya satu (Al-Qathan, M. 2002: 14).


                                        42
       Adapun menurut istilah, Al-Qur’an adalah kalam Allah Swt yang

mengandung mukjizat, diturunkan (diwahyukan) kepada nabi Muhammad Saw,

ditulis di mushaf dan diriwayatkan secara mutawatir serta membacanya adalah

ibadah (Ayyub, H. 2004: 7).

       Ma’bad, M (2005: 11) mendefinisikan Al-Qur’an sebagai kalam Allah

yang mengandung mukjizat, yang diturunkan kepada penutup para Nabi dan

Rasul; Muhammad Saw, dengan perantaraan penjaga wahyu; Jibril As. Sampai

kepada kita dengan tawatur, membacanya merupakan ibadah, dimulai dengan

surat Al-Fatihah dan ditutup dengan surat An-Nas, dan sebagai tantangan bagi

kaum kafir, dengan suratnya yang paling pendek sekalipun.

       Al-Qur'an menyatakan sebagai eksposisi untuk segala sesuatu (tibyan li

kulli shay) sebagai pedoman dan rahmat, dan kabar gembira bagi orang-orang

yang berserah diri. Allah Ta’ala berfirman:

   (Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat
  seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu
  (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan
  kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk
  serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri” (QS.
  Al-Nahl: 89).
       Sebagai firman Allah, Al-Qur’an memiliki beberapa kemukjizatan,

diantaranya sebagaimana yang dijelaskan oleh Soualhi, B (2009: 25) sebagai

berikut:

1. Gaya bahasanya mengungguli semua teks lain dari bahasa Arab.

2. Kelengkapannya tidak dapat ditandingi.




                                        43
3. Undang-undang dan peraturan hukum serta kecanggihannya tidak dapat

  dilampaui.

4. Narasinya tentang yang ghaib hanya dapat dihasilkan dari sebuah wahyu Sang

  Pencipta (misalnya Penciptaan alam semesta, hari kiamat, surga, api neraka,

  kisah-kisah para nabi, dll)

5. Tidak memiliki kontradiksi dengan kemajuan yang paling canggih dan

  penemuan dari seluruh cabang ilmu pengetahuan.

6. Pemenuhan dari semua ramalan tersebut.

7. Lengkap, selaras dengan kebutuhan alamiah manusia (fitrah).

8. Berbicara kepada hati manusia sesuai dengan kemampuan akal manusia pada

  tingkat individu dan masyarakat.

9. Diungkapkan kepada Nabi yang tidak tahu cara membaca atau menulis dan

  pada saat keunggulan sastra bahasa Arab berada di puncaknya. Orang-orang

  Arab menyebut non-Arab a’jam yang berarti bodoh atau orang yang tidak dapat

  berbicara dengan benar.

10. Menjawab pertanyaan yang paling penting dalam kehidupan manusia,

   misalnya, Mengapa kita di sini? Siapa yang menciptakan kita? Apa yang

   terjadi setelah kita mati? Bagaimana bangsa-bangsa sebelum kita? Apa yang

   benar dan salah? Bagaimana kita bisa bahagia? dll

11. Al-Qur'an, jika diikuti menjamin kesuksesan hidup di dunia dan di akherat.

   Sejarah Islam adalah bukti dari ini.



                                          44
       Ajaran yang terkandung dalam Al-Qur’an terdiri dari dua prinsip besar,

yaitu yang berhubungan dengan masalah keimanan yang disebut Aqidah, dan yang

berhubungan dengan amal yang disebut Syari’ah (Daradjat, Z. 2009: 19)

       Kemudian Daradjat, Z (2009: 20) menjelaskan bahwa ajaran-ajaran yang

berkenaan dengan keimanan tidak banyak dibicarakan dalam Al-Qur’an, tidak

sebanyak ajaran yang berkenaan dengan amal perbuatan. Ini menunjukan bahwa

amal itulah yang paling banyak dilaksanakan, sebab semua amal perbuatan

manusia dalam hubungannya dengan Allah, dengan dirinya sendiri, dengan

manusia sesamanya (masyarakat), dengan alam dan lingkungannya dengan

makhluk lainnya, termasuk dalam ruang lingkup amal shaleh (syari’ah). Istilah-

istilah yang biasa digunakan dalam membicarakan ilmu tentang syari’sh ini ialah:

(a) Ibadah untuk perbuatan yang langsung berhubungan dengan Allah, (b)

mu’amalah untuk perbuatan yang berhubungan selain dengan Allah, dan (c)

akhlak untuk tindakan yang menyangkut etika dan budi pekerti dalam pergaulan.

       Ali, M (2008: 96) menyebutkan dengan lebih rinci bahwa isi Al-Qur’an,

antara lain adalah: (1) Petunjuk mengenai akidah yang harus diyakini oleh

manusia, yang meliputi; keimanan akan keesaan Allah, keyakinan adanya hari

kebangkitan, perhitungan serta pembalasan kelak. (2) Petunjuk mengenai syari’ah

yaitu jalan yang harus diikuti manusia dalam berhubungan dengan Allah dan

dengan sesama manusia di dunia ini dan di akherat kelak. (3) Petunjuk tentang

akhlak, mengenai yang baik dan buruk yang harus diperhatikan oleh manusia

dalam kehidupan, baik kehidupan individual maupun kehidupan sosial. Selain itu,

Al-Qur’an sebagai sumber sejarah memuat juga (4) kisah-kisah umat manusia di


                                      45
zaman lampau, seperti dalam surah Saba’ ayat 15, 16, 17 yang menceritakan

tentang nasib kaum Saba’ yang hidup makmur pada suatu masa di sebuah negeri.

Namun, karena mereka berpaling dan tidak mensyukuri karunia Ilahi, Allah

menghukum mereka dengan mendatangkan banjir besar sehingga kebun dan

tanaman mereka rusak binasa. Kemudian, Allah mengganti kebun yang rusak itu

dengan kebun lain yang ditumbuhi pohon-pohon yang berbuah pahit. Al-Qur’an

juga memuat (5) berita-berita tentang zaman yang akan datang, misalnya tentang

kehidupan manusia di akherat kelak, kehancuran alam semesta, bulan terbelah,

gunung-gunung hancur menjadi debu yang berterbangan bagaikan kapas dan lain

sebagainya. Al-Qur’an juga mengandung (6) benih dan prinsip-prinsip ilmu

pengetahuan, misalnya surah Al-Mu’minun ayat 67 yang menjelaskan tentang

proses pembentukan manusia dan dalam surah An-Nisa ayat 135 yang

menjelaskan keharusan menegakkan keadilan dan masih banyak ayat lain. Al-

Qur’an menyebut (7) hukum yang berlaku bagi alam semesta.

       Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa Al-Qur’an sebagai sumber

agama dan ajaran Islam memuat soal-soal pokok berkenaan dengan (1) akidah, (2)

syari’ah, (3) akhlak, (4) kisah-kisah manusia di masa lampau, (5) berita-berita

tentang masa yang akan datang, (6) benih-benih dan prinsip-prinsip ilmu

pengetahuan, dan (7) sunatullah atau hukum Allah yang berlaku di alam semesta.


As-Sunnah

       Secara bahasa, sunnah berarti jalan, metode dan program. Sedangkan

secara istilah, sunnah adalah sejumlah perkara yang dijelaskan melalui sanad yang


                                       46
shahih, baik itu berupa perkataan, perbuatan, peninggalan, sifat, pengakuan,

larangan, hal yang disukai dan dibenci, peperangan, tindak-tanduk, dan seluruh

kehidupan Nabi Saw (An-Nahlawi, A. 2004: 31).

       Keberadaan sunnah sebagaimana yang dijelaskan oleh An-Nahlawi, A

(2004: 31) ditujukan untuk mewujudkan dua sasaran, pertama, menjelaskan apa

yang terdapat dalam Al-Qur’an. Tujuan ini diisyaratkan dalam Firman Allah

Ta’ala: “…Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan

kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya

mereka memikirkannya.” (QS. An-Nahl: 44). Kedua, menjelaskan syari’at dan

pola perilaku sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah: “Dialah yang

mengutus kepada kamu yang buta huruf seorang Rasul diantara mereka,

menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As-

Sunnah)….” (QS. Al-Jumu’ah: 2)

       Soualhi, B (2009: 30) dalam buku Islam Knowledge and Civilization

menjelaskan bahwa Al-Qur'an mengatur banyak perintah seperti shalat, haji,

zakat, dll tanpa memberikan rincian spesifik tentang perbuatan ritual ini. Adalah

Nabi Saw yang melalui ajaran-ajarannya dan demonstrasi praktis menunjukkan

bagaimana harus dilakukan. Nabi bertindak sebagai pemberi hukum dalam

masyarakat dan perintahnya bersifat mengikat bagi setiap Muslim. Allah telah

memberikannya wewenang legislatif sebagaimana yang tercantum dalam surah

Al-A’raf ayat 157. Al-Qur'an mengacu pada model Nabi sebagai "Role Mode"

yang harus diikuti oleh orang mu’min (QS Al-Ahzab: 21). Taat kepada Nabi

adalah seperti taat kepada Allah (QS An-Nisa: 59), (QS Ali-Imran: 132).


                                       47
          As-Sunnah pada dasarnya merupakan eksposisi dari Al-Qur'an, juga

berhubungan dengan setiap aspek kehidupan manusia seperti pengetahuan,

masyarakat, ekonomi, moral, perilaku yang baik, persaudaraan, ketulusan niat, dll

(Soualhi, B. 2009: 30).

          Dalam dunia pendidikan, As-sunnah memiliki dua manfaat pokok,

pertama, As-Sunnah mampu menjelaskan konsep dan kesempurnaan pendidikan

Islam sesuai dengan konsep Al-Qur’an, serta lebih merinci penjelasan Al-Qur’an.

Kedua, As-Sunnah dapat menjadi contoh yang tepat dalam menentukan metode

pendidikan. Misalnya, kita dapat menjadikan kehidupan Rasulullah Saw dengan

para sahabat atau pun anak-anak sebagai sarana penanaman keimanan (An-

Nahlawi, A. 2004: 32).

          Sunnah merupakan sumber ajaran kedua sesudah Al-Qur’an. Seperti Al-

Qur’an, Sunnah juga berisi aqidah dan syari’ah. Sunnah berisi petunjuk

(pedoman) untuk kemaslahatan hidup manusia dalam segala aspeknya, untuk

membina umat menjadi manusia seutuhnya atau muslim yang bertakwa (Daradjat,

Z. 2009: 21).

Ijtihad

          Ijtihad yaitu berfikir dengan menggunakan seluruh ilmu yang dimiliki oleh

ilmuwan syari’at Islam untuk menetapkan atau menentukan sesuatu hukum

syari’at Islam dalam hal-hal yang ternyata belum ditegaskan hukumnya oleh Al-

Qur’an dan Sunnah (Daradjat, Z. 2009: 21).




                                         48
       Ali, M. Daud (2008: 92) menjelaskan bahwa berijtihad berarti berusaha

sungguh-sungguh dengan mempergunakan seluruh kemampuan akal pikiran,

pengetahuan dan pengalaman manusia yang memenuhi syarat untuk mengkaji dan

memahami wahyu dan sunnah serta mengalirkan ajaran, termasuk ajaran

mengenai hukum (fikih) Islam dari keduanya.

       Ijtihad dapat saja meliputi seluruh kehidupan termasuk pendidikan, tetapi

tetap berpedoman pada Al-Qur’an dan Sunnah. Dengan demikian, kaidah-kaidah

yang diatur oleh para mujtahid tidak boleh bertentangan dengan isi Al-Qur’an dan

Sunnah. Karena itu ijtihad dipandang sebagai salah satu sumber hukum Islam

yang sangat dibutuhkan sepanjang masa setelah Rasulullah wafat.

       Sasaran ijtihad adalah segala sesuatu yang diperlukan dalam kehidupan,

yang senantiasa berkembang. Ijtihad dalam bidang pendidikan harus tetap

bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah yang diolah oleh akal yang sehat dari para

ahli pendidikan Islam. Ijtihad tersebut haruslah dalam hal-hal yang berhubungan

langsung dengan kebutuhan hidup disuatu tempat pada kondisi dan situasi

tertentu. Teori-teori pendidikan baru hasil ijtihad harus dikaitkan dengan ajaran

Islam dan kebutuhan hidup (Daradjat, Z. 2009: 22).

3. Karakter Pendidikan Islam

       Qardawi, Y (Suresman, E. 2010: 53) menyebutkan bahwa syari'at Islam

mempunyai tujuh karakteristik umum yang merupakan suatu kesatuan. Yaitu,

rabbaniyyah (ketuhanan), insaniyyah (kemanusiaan), wasathiyyah (moderat) atau

tawazun (keseimbangan), waqi'iyyah (realistis), wudhuh (jelas) dan memadukan




                                       49
antara tsabat (permanen) dan murunah (fleksibel). Menurut Suresman, E (2010:

53) pendidikan Islami idealnya mempunyai tujuh karakteristik tadi.


Pertama: Rabbaniyyah (ketuhanan)

        Allah Swt merupakan Rabbul ‘alamin disebut juga dengan Rabbun nas

dan banyak lagi sebutan lainnya. Kalau karakteristik Islam itu adalah Rabbaniyyah

itu artinya bahwa Islam merupakan agama yang bersumber dari Allah Swt bukan

dari manusia sedangkan Nabi Muhammad Saw hanya menyampaikannya.

Karenanya dalam kapasitasnya sebagai Nabi beliau berbicara berdasarkan wahyu

yang diturunkan kepadanya. Allah berfirman: “Dan tiadalah yang diucapkannya

itu menurut kemauan hawa nafsunya ucapan itu tiada lain hanyalah wahyu yang

diwahyukan.” (QS An-Najm: 3-4)

        Karena itu ajaran Islam sangat terjamin kemurniannya sebagaimana Allah

telah menjamin kemurnian Al-Qur’an. Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami

telah   menurunkan     Al-Qur’an    dan     sesungguhnya    Kami     benar-benar

memeliharanya.” (QS Al-Hjr: 9)

        Disamping itu seorang muslim tentu saja harus mengakui Allah Swt

sebagai Rabb dengan segala konsekuensinya yakni mengabdi hanya kepada-Nya

sehingga dia menjadi seorang yang rabbani dalam arti memiliki sikap dan

perilaku yang bersumber kepada nilai-nilai yang datang dari Allah Swt.

        Implikasi paedagogis dari karakteristik ini menurut Suresman, E (2010:

54) yaitu bahwa tujuan akhir dan sasaran utama dari pendidikan adalah menjaga




                                       50
hubungan antara seorang hamba dengan Allah dan mengharap ridha-Nya.

Karakteristik ini akan membuahkan nilai-nilai berikut ini:

a. Mengetahui tujuan utama hidup.

b. Mendapatkan petunjuk sesuai dengan fitrah, karena itu iman tidak mungkin

  digantikan.

c. Mendapatkan keselamatan dan terhindar dari perpecahan. Tauhidullah

  memberikan keyakinan kepada setiap muslim bahwa tidak ada Tuhan selain

  Allah.

d. Membebaskan manusia dari belenggu egoisme dan syahwat.


Kedua : Insaniyyah (kemanusiaan)

       Islam merupakan agama yang diturunkan untuk manusia, karena itu Islam

merupakan satu-satunya agama yang cocok dengan fitrah manusia. Pada dasarnya

tidak ada satupun ajaran Islam yang bertentangan dengan jiwa manusia.

Kecenderungan mencintai harta, tahta, wanita dan segala hal yang bersifat

duniawi semua itu tidak dilarang di dalam Islam namun harus diatur

keseimbangannya dengan keni’matan ukhrawi.

       Implikasi dari karakteristik ini bahwa hubungan antara manusia dengan

Allah Swt adalah untuk mengharap ridha-Nya, sekaligus merupakan tujuan

manusia dan sasaran Islam. Kemuliaan bisa terwujud dengan akhlak yang

menunjukan bahwa manusia mempunyai kedudukan dalam rangka mewujudkan

tujuan Islam yang luhur (Suresman, E. 2010: 54)


Ketiga: Syumuliyah (universal)


                                        51
       Islam merupakan agama yang lengkap tidak hanya mengutamakan satu

aspek lalu mengabaikan aspek lainnya. Kelengkapan ajaran Islam itu nampak dari

konsep Islam dalam berbagai bidang kehidupan mulai dari urusan pribadi,

keluarga, masyarakat sampai pada persoalan-persoalan berbangsa dan bernegara.

       Keuniversalan Islam tidak hanya dari segi ajarannya yang rasional dan

mudah diamalkan tapi juga keharusan menegakkan ajaran Islam dengan

metodologi yang Islami. Karena itu di dalam Islam kita dapati konsep tentang

dakwah, jihad dan sebagainya. Dengan demikian segala persoalan ada

petunjuknya di dalam Islam. Allah berfirman: “Dan Kami turunkan kepadamu Al-

Kitab untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar

gembira bagi orang-orang yg berserah diri.” (QS An-Nahl: 89).

       Menurut Suresman, E (2010: 54) implikasi paedagogis dari karakteristik

ini bahwa pendidikan Islam mengupayakan tujuan, sasaran dan jalan yang sama

yaitu menggapai ridha Allah Swt dan kebahagiaan dunia akhirat yang meliputi

segala unsur kehidupan.


Keempat: Al-Wasathiyyah (moderat) atau Tawazun (keseimbangan)

       Di dunia ini ada agama yang hanya menekankan pada persoalan-persoalan

tertentu, ada yang lebih mengutamakan masalah materi ketimbang rohani atau

sebaliknya. Ada pula yang lebih menekankan aspek logika daripada perasaan dan

begitulah seterusnya. Allah Swt menyebutkan bahwa umat Islam adalah

“Ummatan wasathan” umat yang seimbang dalam beramal, baik yang




                                      52
menyangkut pemenuhan terhadap kebutuhan jasmani dan akal pikiran maupun

kebutuhan rohani.

       Suresman, E (2010: 55) menyatakan implikasi dari karakteristik ini yaitu

bahwa pendidikan Islami bersifat luwes. Moderat dalam ideologi, persepsi,

ibadah, akhlak, tasyri dan nizham (aturan).


Kelima : Al-Waqi'iyyah (realistis)

       Karakteristik lain dari ajaran Islam adalah al-waqi’iyyah, ini menunjukkan

bahwa Islam merupakan agama yang dapat diamalkan oleh manusia atau dengan

kata lain dapat direalisir dalam kehidupan sehari-hari. Islam dapat diamalkan oleh

manusia meskipun mereka berbeda latar belakang, kaya miskin, pria wanita

dewasa, remaja, anak-anak, berpendidikan tinggi berpendidikan rendah,

bangsawan rakyat biasa, berbeda suku adat istiadat dan lain sebagainya.

       Disamping itu Islam sendiri tidak bertentangan dengan realitas

perkembangan zaman, bahkan Islam menjadi satu-satunya agama yang mampu

menghadapi dan mengatasi dampak negatif dari kemajuan zaman.

       Implikasi paedagogis dari karakteristik ini adalah bahwa pendidikan Islam

selamanya menjaga dan memelihara realitas setiap aspek, akidah, ibadah dan

tasyri. Akidah Islam mengungkap hakikat yang nampak dalam wujud, bukan

khayalan yang masih tersimpan dalam pikiran. Akidah Islam mengajak beriman

kepada kehidupan lain setelah kehidupan dunia ini (Suresman, E. 2010: 55).




                                        53
       Dalam perkembangannya, pendidikan Islam lebih memperhatikan fase

kanak-kanak, sebab fase kanak-kanak merupakan fase paling peka dalam

menerima pengajaran, dan gampang terpengaruh oleh lingkungan.


Keenam: Wudhuh (jelas)

       Karakteristik penting lainnya dari ajaran Islam adalah konsepnya yang

jelas. Kejelasan konsep Islam membuat umatnya tidak bingung dalam memahami

dan mengamalkan ajaran Islam. Dalam masalah akidah, konsep Islam begitu jelas

sehingga dengan akidah yang mantap seorang muslim menjadi terikat pada

ketentuan-ketentuan Allah dan Rasul-Nya. Konsep syari’ah atau hukumnya juga

jelas sehingga umat Islam dapat melaksanakan peribadatan dengan baik dan

mampu membedakan antara yang haq dengan yang bathil.

       Karakteristik ini menunjukan bahwa dasar Islam itu jelas dan gamblang.

Kejelasan itu terlihat dari sumber hukum, manhaj (metode) dan wasilah (sarana).

Implikasi paedagogis dari karakteristik wudhuh ini yaitu, kaitannya dengan dasar-

dasar moral (akhlak) yang perlu diperhatikan. Jelas sekali keutamaan akhlak yang

diperintahkan oleh syari'at, demikian juga dengan amalan yang tercela dan

dilarang. Diantara dasar moral yang utama, yaitu mengenai perilaku yang

berhubungan dengan sifat-sifat: kejujuran, amanah, setia, sabar, waspada, rasa

malu, dermawan, pemberani, lembut, itsar (mendahulukan kepentingan orang

lain), dan selalu saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan.

Disamping itu ada adab (tatakrama atau etika) yang berkaitan dengan perilaku

sehari-hari, seperti: etika makan dan minum, tidur dan bangun, berpakaian,



                                       54
berhias, tata cara duduk, berjalan, bertamu dan lain sebagainya (Suresman, E.

2010: 55)


Ketujuh: Memadukan antara tsabat (permanen) dan tathawwur (fleksibel)

       Di dalam Islam tergabung juga ajaran yang permanen dengan yang

fleksibel. Yang dimaksud dengan yang permanen adalah hal-hal yang sudah tetap,

misalnya; shalat lima waktu yang mesti dikerjakan. Tapi dalam melaksanakannya

ada ketentuan yang bisa fleksibel, misalnya; bila seorang muslim sakit dia bisa

shalat dengan duduk atau berbaring, bila dalam perjalanan jauh bisa dijama’ dan

diqashar, dan bila tidak ada air atau dengan sebab-sebab tertentu berwudhu bisa

diganti dengan tayamum.

       Ini berarti secara prinsip, Islam tidak akan pernah mengalami perubahan

namun dalam pelaksanaannya bisa saja disesuaikan dengan situasi dan konsidinya,

ini bukan berarti kebenaran Islam tidak mutlak tapi yang fleksibel adalah teknis

pelaksanaannya.

       Islam selaku agama terakhir mempunyai karakteristik yang permanen dan

abadi, tapi pada saat bersamaan ia bersifat fleksibel. Tsabat (permanen) dalam

sasaran dan tujuan, dan dalam akidah fundamental, sementara dalam sarana,

metodologi, teknik (uslub), dan operasional bersifat fleksibel.




4. Komponen-komponen Pendidikan Islam



                                         55
       Dalam pendidikan formal ada suatu istilah yang sering digunakan oleh

para pakar pendidikan untuk menyebut bagian-bagian dalam keseluruhan aktifitas

pendidikan yaitu istilah komponen pendidikan. Namun, mereka tidak sepakat

menyebut jumlah komponen yang dimaksud (Syahidin, 2009: 62)

       Namun, kadang digunakan pula istilah-istilah lain seperti unsur-unsur atau

faktor-faktor pendidikan. Meskipun secara tekstual berbeda, namun secara

kontekstual substansinya adalah sama.

       Menurut Muchtar, H (2008: 14) ada tiga unsur utama yang terdapat dalam

proses pendidikan, yaitu: 1) Pendidik, 2) peserta didik, 3) materi pelajaran.

       Selain ketiga unsur di atas, kemudian Muchtar, H (2008: 15) menyebutkan

tiga unsur lain sebagai pendukung dalam proses pendidikan agar mencapai tujuan

yang diharapkan, yaitu:

1. Tersedianya sarana dan prasarana yang memadai berupa ruangan, bangunan,

  atau tempat tertentu seperti; ruangan kelas, bangunan sekolah, perpustakaan,

  masjid, laboratorium, museum, koperasi dan lain sebagainya.

2. Metode yang menarik dan variatif. Misalnya dalam pemberian nasihat atau

  ceramah diselingi oleh kisah-kisah para Nabi, sahabat, atau orang-orang shalih.

3. Pengelolaan/manajemen yang profesional.

       Barnadib (Hasbullah, 2009: 9) menyebutkan bahwa pendidikan memuat

faktor-faktor tertentu yang mempengaruhi dan menentukan, yaitu:


1. Adanya tujuan yang hendak dicapai.




                                         56
2. Adanya subyek manusia (pendidik dan anak didik) yang melakukan

  pendidikan.

3. Yang hidup bersama dalama lingkungan hidup tertentu (milieu).

4. Yang menggunakan alat-alat tertentu untuk mencapai tujuan.

       Bahkan, Tirtarahardja-La Sulo, U (2005: 51) menyebutkan bahwa dalam

proses pendidikan melibatkan banyak hal, yaitu:

1. Subjek yang dibimbing (peserta didik).

2. Orang yang membimbing (pendidik).

3. Interaksi antara peserta didik dengan pendidik (interaksi edukatif).

4. Ke arah mana bimbingan ditujukan (tujuan pendidikan).

5. Pengaruh yang diberikan dalam bimbingan (materi pendidikan).

6. Cara yang digunakan dalam bimbingan (alat dan metode).

7. Tempat di mana peristiwa bimbingan berlangsung (lingkungan pendidikan).

       Hasil studi Tafsir, A (Syahidin, 2009: 62) menyimpulkan bahwa yang

disepakati sebagai komponen pendidikan formal adalah tujuan pendidikan,

pendidik, anak didik, dan alat pendidikan yang meliputi materi, metode dan

evaluasi.




1. Tujuan


                                         57
       Pendidikan sebagai suatu bentuk kegiatan manusia dalam kehidupannya

juga menempatkan tujuan sebagai sesuatu yang hendak dicapai, baik tujuan yang

dirumuskan itu bersifat abstrak sampai pada rumusan-rumusan yang dibentuk

secara khusus untuk memudahkan pencapaian tujuan yang lebih tinggi (Hasbullah,

2009: 10). Tujuan berfungsi sebagai penentu arah pendidikan, sebagai titik akhir,

sebagai titik pangkal mencapai tujuan lain dan memberi penilaian pada usaha yang

dilakukan.

       Tujuan Pendidikan Islam ialah merupakan perubahan yang diinginkan atau

yang diusahakan oleh proses pendidikan, baik pada tingkah laku individu dan

pada kehidupan pribadinya, atau pada kehidupan masyarakat dan pada alam

sekitar dimana individu itu hidup, atau pada proses pendidikan sendiri dan proses

pengajaran sebagai aktifitas asasi dan sebagai proporsi diantara profesi-profesi

dalam masyarakat (Al-Syaibany, O. 1979: 398).

       Jadi, berdasarkan definisi diatas tujuan pendidikan menurut Al-Syaibany,

O (1979: 399) dapat dibagi menjadi tiga aspek:

1. Tujuan individual yang berkaitan dengan individu, pembelajaran dan dengan

  kehidupan pribadi mereka, mencakup perubahan tingkah laku, pengetahuan,

  dan kemampuan-kemampuan yang harus dimiliki untuk hidup di dunia dan

  akhirat.

2. Tujuan sosial yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat, mencakup tingkah

  laku masyarakat, perubahan kehidupan masyarakat, memperkaya pengalaman

  masyarakat.



                                       58
3. Tujuan profesional yang berkaitan dengan pendidikan dan pengajaran sebagai

  ilmu, sebagai seni, sebagai profesi, dan sebagai kegiatan masyarakat.

       Jalal, A (1988: 119) menyebutkan bahwa tujuan umum pendidikan dan

pengajaran dalam Islam ialah menjadikan seluruh manusia sebagai hamba Allah

Swt. Ia mengatakan bahwa tujuan ini akan mewujudkan tujuan-tujuan khusus.

Dengan mengutip ayat Al-Qur’an surat At-Takwir ayat 27, Jalal menyatakan

bahwa tujuan itu adalah untuk semua manusia. Jadi, menurut Islam pendidikan

haruslah menjadikan seluruh manusia menjadi manusia yang menghambakan diri

kepada Allah yaitu dengan beribadah kepada-Nya.

       Senada dengan apa yang telah diungkapkan oleh Jalal, An-Nahlawi, A

(2004: 117) menyebutkan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah merealisasiakan

penghambaan kepada Allah dalam kehidupan manusia, baik secara individual

maupun secara sosial.

       Al-Abrasyi, M (1984: 1-4) merinci tujuan utama pendidikan Islam

menjadi:

1. Pendidikan akhlak. Menurutnya seorang guru haruslah memperhatikan akhlak

  keagamaan setiap anak didiknya sebelum yang lainnya, karena akhlak

  keagamaan adalah akhlak yang tertinggi, sedang akhlak yang mulia adalah

  tiang dari pendidikan Islam.

2. Menyiapkan anak didik agar memperhatikan urusan agama dan dunianya secara

  sekaligus. Karena ruang lingkup pendidikan dalam Islam tidak terbatas pada

  pendidikan agama, tetapi juga pada pendidikan duniawi.



                                       59
3. Memberi perhatian yang besar kepada unsur-unsur yang mendukung nilai-nilai

  spiritual dan moral seperti kesehatan jasmani.

4. Menjadikan ilmu sebagai tujuan utama.

5. Tidak mengabaikan kebutuhan materi, karenanya Islam mendorong untuk

  menguasai ilmu-ilmu kejuruan.

       Sementara itu, Tafsir, A (2010: 50) merumuskan tentang tujuan umum

Pendidikan Islam yaitu muslim yang sempurna dengan ciri-ciri : (1) memiliki

jasmani yang sehat, serta kuat, (2) memiliki akal yang cerdas dan pandai, (3)

memiliki hati yang takwa kepada Allah Swt.



2. Pendidik

       Pendidik menurut Marimba, A (Hasbullah, 2009: 17) ialah orang yang

memikul pertanggungjawaban untuk mendidik. Tafsir, A (2010: 74) menyatakan

bahwa definisi pendidik dalam Islam sama dengan teori Barat yaitu siapa saja

yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak didik. Dalam Islam,

orangtua lah yang paling bertanggung jawab terhadap pendidikan anaknya.

Berdasarkan firman Allah:“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu

dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan

batu..” (QS. At-Tahrim: 6)

       Namun, dalam situasi tertentu, tanggung jawab pendidikan dapat

dilimpahkan kepada pihak lain yaitu guru dengan catatan bahwa pelimpahan




                                       60
tersebut tidak menghilangkan atau mengurangi peranan orang tua di keluarga

sebagai tempat pertama dan utama dimana nilai-nilai pendidikan ditanamkan.



2.1 Kedudukan Pendidik dalam Islam

       Islam sangat memberikan apreasiasi yang tinggi terhadap kedudukan

seorang pendidik. Tingginya kedudukan seorang pendidik dalam Islam merupakan

realisasi ajaran Islam yang memuliakan ilmu pengetahuan. Penghargaan Islam

terhadap ilmu     pengetahuan tergambar dalam banyaknya hadits-hadits yang

menyatakan hal tersebut, diantaranya sebagaimana yang disebutkan Fahmi, A

(Tafsir, A. 2010: 76):

1. Tinta ulama lebih berharga daripada darah Syuhada.

2. Orang berpengetahuan melebihi orang yang senang beribadah, yang berpuasa

  dan menghabiskan waktu malamnya untuk mengerjakan shalat, bahkan

  melebihi kebaikan orang yang berperang di jalan Allah.

3. Apabila meninggal seorang alim, maka terjadilah kekosongan dalam Islam

  yang tidak dapat diisi kecuali seorang alim yang lain.

       Al-Ghazali (Tafsir, A. 2010: 76) menjelaskan kedudukan yang tinggi yang

diduduki oleh orang yang berpengetahuan dengan ucapannya bahwa orang alim

yang bersedia mengamalkan pengetahuannya adalah orang besar di semua

kerajaan langit, dia seperti matahari yang menerangi alam, ia mempunyai cahaya

dalam dirinya, seperti minyak wangi yang mengharumi orang lain karena ia

memang wangi.



                                       61
2.2 Tugas Pendidik dalam Islam

       Tugas pendidik dalam pandangan Islam secara umum ialah mendidik,

yaitu mengupayakan perkembangan seluruh potensi anak didik, baik potensi

psikomotorik, kognitif, mapun potensi afektif. Potensi itu harus dikembangkan

secara seimbang sampai ke tingkat setinggi mungkin, menurut ajaran Islam.

(Tafsir, A. 2010: 74)

       Dalam pendidikan di sekolah, tugas pendidik sebagian besar adalah

mendidik dengan cara mengajar. Tugas pendidik di dalam keluarga sebagian

besar, bahkan seluruhnya, berupa membiasakan, memberikan contoh yang baik,

memberikan pujian, dorongan, dan lain-lain yang diperkirakan menghasilkan

pengaruh positif bagi pendewasaan anak. Jadi, secara umum, mengajar hanyalah

sebagian dari tugas mendidik.

       Al-Ghazali (1996: 85) dalam Ihya ‘Ulumuddin menyebutkan beberapa

tugas pendidik, yakni:

Pertama: Menyayangi anak didiknya sebagaimana seorang ayah menyayangi

anaknya, bahkan lebih. Rasulullah Saw pernah bersabda: "Sesungguhnya

perumpamaanku kepada kalian, bagaikan seorang bapak pada anaknya." Jika

seorang bapak merupakan sebab lahirnya seorang anak ke dunia, maka seorang

guru adalah faktor yang membawa keselamatan seorang anak didunia dan akhirat.

Kedua: Meneladani Rasulullah Saw dalam mengajarkan ilmu, dengan tidak

mengharap imbalan materi dan ucapan terimakasih dari manusia. Akan tetapi



                                     62
semata-mata karena mengharap ridha Allah dan untuk mendekatkan diri pada-

Nya. Sebagaimana firman Allah: " Dan (Dia berkata): "Hai kaumku, Aku tiada

meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku. upahku

hanyalah dari Allah" (QS. Hud: 29)

Ketiga: Selalu menasehati dan mengajarkan kepada anak didiknya, dan tidak

melewatkan suatu hal pun. Agar tidak meninggalkan tahapan-tahapan yang mesti

ia lewati dalam belajar. Tidak meloncat pada satu ilmu yang lebih tinggi sebelum

menguasai ilmu yang lebih rendah.

Keempat: Mencegah anak didiknya dari akhlak yang tidak terpuji, sebisa mungkin

dengan cara yang lemah lembut, tidak menunjuk langsung pada kesalahannya, dan

dengan penuh kasih sayang tidak dengan celaan. Karena jika diperingatkan secara

terang-terangan kadang justru membuat anak lebih berani untuk menentang.

Kelima: Pengajar yang mengajarkan satu disiplin ilmu, hendaklah tidak

menjelekan disiplin ilmu yang lain kepada anak didiknya. Seperti pengajar bahasa

tidak boleh menjelekan ilmu fikih, pengajar fikih tidak boleh menjelekan hadits

demikian seterusnya.

Keenam: Hendaklah seorang pendidik memperhatikan kemampuan anak didiknya,

sehingga tidak memberikan beban pengajaran diatas kemampuannya. Mencontoh

Nabi Saw yang bersabda: "Kami para Nabi diperintahkan untuk memperlakukan

dan berbicara dengan manusia sesuai dengan kapasitas intelektual mereka".

Ketujuh: Seorang peserta didik yang lemah, hendaklah diberikan materi-materi

pelajaran yang sesuai dengannya. Dijelaskan terlebih dahulu secara global, adapun



                                       63
detailnya bisa dijelaskan kemudian, agar tidak terjadi kejenuhan yang diakibatkan

oleh beban pelajaran yang terlalu berat.

Kedelapan: Hendaklah seorang pendidik mengamalkan ilmunya, janganlah

amalnya mendustakan ilmu yang ia ajarkan. Karena ilmu itu diketahui dengan

hati, sedangkan amal nampak oleh mata, dan disaksikan banyak orang. Setiap

orang yang memakan sesuatu kemudian mengatakan kepada orang lain,

"Janganlah kau memakannya" maka sesungguhnya ia telah memakan racun yang

menghancurkannya dan menjadikannya bahan ejekan orang lain. Allah berfiman:

"Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu

melupakan diri (kewajiban) mu sendiri…" (QS Al-Baqarah: 44).



2.3 Syarat Pendidik dalam Islam

       Diantara syarat pendidik menurut pandangan Islam, ialah sebagaimana

yang dinyatakan Mursi, M. (Tafsir, A. 2010: 81) bahwa syarat terpenting bagi

seorang pendidik dalam Islam adalah keagamaannya. Dengan demikian, syarat

pendidik dalam Islam ialah sebagai berikut:

1. Umur; harus sudah dewasa.

2. Kesehatan; harus sehat jasmani dan rohani.

3. Keahlian; harus menguasai bidang yang diajarkannya dan menguasai ilmu

  mendidik (termasuk ilmu mengajar).

4. Harus berkepribadian muslim.




                                           64
       Hidayanto (Hasbullah. 2009: 17) menginventarisasi bahwa pendidik

meliputi: 1) orang dewasa, 2) orang tua, 3) guru, 4) pemimpin masyarakat, 5)

pemimpin agama.

       Pribadi dewasa itu sendiri memiliki beberapa karakteristik, yaitu:

a. Mempunyai individualitas yang utuh.

b. Mempunyai sosialitas yang utuh.

c. Mempunyai norma kesusilaan dan nilai-nilai kemanusiaan.

d. Bertindak sesuai dengan norma dan nilai-nilai itu atas tanggungjawab sendiri
  demi kebahagiaan dirinya dan kebahagiaan masyarakat atau orang lain.

       Seorang pendidik, menurut Hasbullah (2009: 18) harus memperlihatkan

sikap mandiri, tidak bergantung pada orang lain. Seorang pendidik tidak hanya

dituntut bertanggungjawab terhadap anak didiknya tapi juga terhadap dirinya

sendiri. Beberapa karakteristik yang harus dimiliki seorang pendidik dalam

melaksanakan tugasnya yaitu harus memiliki kematangan diri dan sosial yang

stabil, juga kematangan profesional (kemampuan mendidik).



2.4 Sifat Pendidik dalam Islam

       Al-Abrasyi, M (1984: 136) menyebutkan bahwa guru dalam Islam

sebaiknya memiliki sifat-sifat sebagai berikut:

1. Zuhud; tidak mengutamakan materi dan mengajar dilakukan karena mencari

  keridoan Allah.




                                        65
2. Bersih tubuhnya, jauh dari dosa dan kesalahan, bersih jiwa, terhindar dari dosa

   besar, sifat ria, dengki, permusuhan, perselisihan dan sifat-sifat lain yang

   tercela.

3. Ikhlas dalam melaksanakan tugas. Termasuk ikhlas ialah seorang yang sesuai

   antara perkataan dan perbuatan, melakukan apa yang ia ucapkan, dan tidak

   malu mengakui ketidaktahuannya, selalu berusaha untuk menambah ilmunya,

   meluangkan waktu khusus untuk anak didiknya, bersifat rendah hati, bijaksana

   dan tegas dalam perkataan dan perbuatan, lemah lembut tanpa memperlihatkan

   kelemahan, keras tanpa memperlihatkan kekerasan.

4. Pemaaf. Mampu menahan diri, menahan kemarahan, lapang dada, banyak

   bersabar dan tidak marah karena hal-hal kecil. Berkepribadian dan mempunyai

   harga diri, menjaga kehormatan, menghindari hal-hal yang hina dan rendah,

   dan menahan diri dari sesuatu yang jelek.

5. Bersifat kebapaan. Mencintai anak didiknya seperti mencintai anak sendiri dan

   memikirkan keadaan mereka seperti ia memikirkan keadaan anak-anaknya

   sendiri.

6. Mengetahui tabi’at anak didik, mencakup pembawaan, kebiasaan, perasaan,

   dan pemikirannya.

7. Menguasai      mata    pelajaran    yang     diberikannya,   serta   memperdalam

   pengetahuannya tentang itu.

        Ibnu Sina (Tafsir, A. 2010: 83) menyatakan beberapa sifat yang belum

terlihat secara eksplisit dalam sifat-sifat diatas, yaitu:


                                           66
1. Tenang.

2. Tidak bermuka masam.

3. Tidak berolok-olok di hadapan anak didik.

4. Sopan santun.

       Sementara Junus, M (Tafsir, A. 2010: 83) menghendaki sifat-sifat guru

Muslim sebagai berikut:

1. Menyayangi muridnya dan memperlakukan mereka seperti menyayangi dan

  memperlakukan anak sendiri.

2. Hendaklah guru memberi nasihat kepada muridnya seperti melarang mereka

  menduduki suatu tingkat sebelum berhak mendudukinya.

3. Hendaklah guru memperingatkan muridnya bahwa tujuan menuntut ilmu

  adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan untuk menjadi pejabat,

  untuk bermegah-megah, atau untuk bersaing.

4. Hendaklah guru melarang muridnya berkelakuan tidak baik dengan cara lemah

  lembut, bukan dengan cara mencaci maki.

5. Hendaklah guru mengajarkan kepada murid-muridnya mula-mula bahan

  pelajaran yang mudah dan banyak terjadi di dalam masyarakat.

6. Tidak boleh guru merendahkan pelajaran lain yang tidak diajarkannya.

7. Hendaklah guru mengajarkan masalah yang sesuai dengan kemampuan murid.

8. Hendaklah guru mendidik muridnya supaya berfikir dan berijtihad, bukan

  semata-mata menerima apa yang diajarkan guru.

                                       67
9. Hendaklah guru mengamalkan ilmunya, jangan perkataannya berbeda dari

  perbuatannya.

10. Hendaklah guru memperlakukan semua muridnya dengan cara adil, jangan

  membedakan murid atas dasar kekayaan atau kedudukannya.



3. Anak Didik

       Anak didik adalah setiap orang yang menerima pengaruh dari seseorang

atau sekelompok orang yang menjalankan kegiatan pendidikan. Sedang dalam arti

sempit anak didik ialah anak (pribadi yang belum dewasa) yang diserahkan

kepada tanggung jawab pendidik (Hasbullah, 2009: 23)

       Karena itu, ada beberapa karakteristik anak didik, diantaranya:

a. Belum memiliki pribadi dewasa susila sehingga masih menjadi tanggung jawab

  pendidik,

b. Masih menyempurnakan aspek tertentu dari kedewasaan, sehingga masih

  menjadi tanggung jawab pendidik,

c. Sebagai manusia memiliki sifat-sifat dasar yang sedang ia kembangkan secara

  terpadu, menyangkut seperti kebutuhan biologis, rohani, sosial, intelegensi,

  emosi, kemampuan berbicara, perbedaan individual, dan sebagainya.



3.1 Hakikat Belajar

       Jika tugas utama seorang pendidik adalah mendidik dan mengajar, maka

tugas utama anak didik adalah menuntut ilmu atau belajar.


                                       68
       Dalam menuntut ilmu ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan,

Muchtar, H (2008: 159) menjelaskan sebagai berikut:

a. Ilmu yang dituntut adalah ilmu yang diridhai Allah, bukan ilmu yang dilarang

  karena bertentangan dengan agama Islam, misalnya ilmu sihir dan ilmu nujum.

b. Berniat baik dan ikhlas karena Allah Swt.

c. Beribadah dengan benar dan taat melaksanakan perintah Allah serta menjauhi

  larangan-Nya.

d. Bersunguh-sungguh, rajin dan ulet.

e. Bersikap hormat dan sopan kepada siapapun, terutama kepada orangtua dan

  guru/pendidik.

f. Mengajarkan dan mengamalkan ilmu yang telah didapat.



3.2 Adab dan Tugas Anak Didik

       Al-Ghazali (1996: 75) dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan adab dan tugas

anak didik sebagai berikut:

Pertama: Mendahulukan kesucian jiwa, dan membersihkannya dari akhlak-akhlak

tercela. Karena ilmu itu adalah ibadah hati, dan mendekatkan batin kepada Allah

Swt. Layaknya shalat yang tidak sah tanpa kebersihan raga (thaharah), maka

demikian juga menghidupkan hati dengan ilmu, tidak akan tercapai kecuali

dengan kebersihan jiwa dari akhlak dan perilaku tidak terpuji.

Kedua: Mengurangi kesibukan dengan urusan keduniaan, kalau perlu untuk

beberapa waktu pergi meninggalkan keluarga dan tanah air, karena urusan

                                        69
duniawi kadang memalingkan seorang pencari ilmu dari tujuan utamanya. Allah

berfirman: "Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati

dalam rongganya…" (QS. Al-Ahzab: 4). Dan ketika hati semakin terbagi, maka ia

akan semakin terbatas dalam kemampuan mengetahui hakikat sesuatu. Karena

pepatah bijak mengatakan, "Ilmu itu tidak akan memberikan sebagiannya

kepadamu, sehingga engkau memberikan seluruhmu untuknya…"

Ketiga: Tidak bersikap sombong (meremehkan) terhadap ilmu, hendaklah bersifat

tawadhu terhadap ilmu dan guru, dan carilah pahala dengan bakti kepadanya.

Rasulullah Saw bersabda: "Sanjungan bukanlah termasuk akhlak seorang

mukmin, kecuali dalam mencari ilmu," maka hendaklah seorang pelajar tidak

bersikap sombong terhadap gurunya.

        Ilmu tidak akan tercapai kecuali dengan sifat tawadhu, dan mendengarkan

dengan baik, Allah Swt berfirman: "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-

benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang

menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya." (QS Qaf : 37).

        Maksud mempunyai akal adalah kemampuan untuk memahami, dan itu

tidak akan tercapai kecuali ia mau mendengarkan dan memperhatikan dengan

baik.

Keempat: Orang yang terjun di dunia ilmu, hendaklah di awal pembelajarannya,

menjauhkan diri dari perbedaan pendapat. Baik ia mempelajari ilmu dunia ataupun

ilmu akhirat (agama). Sebab akan membuatnya kaget dan bingung, bahkan putus




                                      70
asa. Akan tetapi hendaklah menguasai terlebih dahulu satu pendapat yang baik

dari gurunya, baru setelah itu ia mempelajari pendapat lain.

Kelima: Seorang pencari ilmu, hendaklah tidak mengabaikan satu bidang ilmu

yang terpuji kecuali setelah terlebih dahulu mengetahui maksud dan tujuan dari

ilmu tersebut. Kalaulah dikemudian hari ia mempunyai kesempatan, ia bisa

mendalami ilmu tersebut, kalaupun tidak, maka ia membuat skala prioritas

terhadap ilmu yang hendak ia dalami. Karena semua bidang ilmu itu satu sama

lainnya berkaitan, maka kalaupun tidak mendalami ilmu tersebut, janganlah

bersikap apriori, sebab akan menjadi musuh kebodohannya.

Keenam: Tidak mendalami suatu bidang ilmu secara sekaligus, akan tetapi secara

berjenjang, dan dimulai dari yang paling penting. Karena umur manusia tidak

akan cukup untuk menguasai seluruh ilmu.

Ketujuh: Tidak berpindah ke bidang ilmu lain, sebelum benar-benar menguasai

ilmu yang sedang ia pelajari. Karena ilmu berjenjang dan tersusun, suatu ilmu bisa

jadi merupakan jalan untuk mengetahui ilmu yang lainnya. Maka untuk

menggapai kesuksesan, penting sekali memperhatikan tahapan-tahapan tersebut.

Allah berfirman: "Orang-orang yang telah Kami berikan Al Kitab kepadanya,

mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya…" (QS. Al-Baqarah: 121)

Kedelapan: Mengetahui sebab tercapainya kemuliaan ilmu dari dua hal: (1)

kemuliaan hasil dan (2) kekuatan argumen. Seperti ilmu agama dan ilmu

kedokteran, hasil dari salah satunya adalah kehidupan akhirat yang abadi, dan dari

yang satu lagi kehidupan dunia yang fana, maka berarti ilmu agama lebih mulia.



                                        71
Seperti juga ilmu hisab dan ilmu nujum, ilmu hisab lebih mulia karena lebih kuat

argumennya.

Kesembilan: Hendaklah tujuan utama seorang pencari ilmu itu adalah untuk

menghiasi batinnya dengan kemuliaan akhlak dan mendekatkan diri kepada Allah,

bukan untuk menggapai kekuasaan, harta, kedudukan, dan tujuan-tujuan rendah

lainnya.

Kesepuluh: Mengetahui sejauhmana suatu bidang ilmu memberi pengaruh untuk

mencapai tujuan utamanya. Sehingga bisa membuat skala prioritas tentang ilmu

mana yang harus dikuasai terlebih dahulu. Dan jika tidak mungkin untuk

menguasai seluruhnya, ia bisa memilih mana yang harus dikuasai.



4. Materi

       Istilah materi pendidikan menurut Abdullah, A (2007: 159) berarti

mengorganisir bidang ilmu pengetahuan yang membentuk basis aktifitas lembaga

pendidikan, bidang-bidang ilmu pengetahuan ini satu dengan yang lainnya

terpisah namun pada dasarnya merupakan suatu kesatuan.

       Materi pendidikan harus mengacu kepada tujuan, bukan sebaliknya tujuan

mengarah kepada suatu materi, oleh karenanya materi pendidikan tidak boleh

berdiri sendiri terlepas dari kontrol tujuannya.

       Adapun, lingkup materi pendidikan yang harus ditanamkan pada anak

(dalam hal ini pendidikan Islam), secara lengkap dikemukakan oleh Ulwan, A




                                          72
(2007: 164) yang menyatakan bahwa pendidikan Islam itu mencakup aspek-aspek

sebagai berikut:


4.1 Pendidikan Keimanan

       Yang dimaksud dengan pendidikan keimanan ialah menanamkan tentang

dasar-dasar keimanan kepada anak sejak dini, membiasakannya dengan rukun

Islam, dan mengajarkan kepadanya tentang dasar-dasar syari’at.

       Dasar-dasar keimanan yang dimaksud berupa hakikat keimanan dan

perkara gaib, seperti keimanan kepada Allah Swt, para Malaikat, Kitab-kitab

samawi, dan para Rasul, keimanan bahwa kelak segala amal manusia akan

dipertanggungjawabkan di akherat, keimanan akan siksa kubur, hari kebangkitan,

surga dan neraka serta perkara gaib lainnya.

       Yang dimaksud dengan rukun Islam adalah semua jenis ibadah baik yang

berupa badani maupun materi, seperti; shalat, puasa, zakat, dan haji bagi yang

mampu melaksanakannya.

       Adapun yang dimaksud dengan dasar-dasar syari’at ialah segala yang

berhubungan dengan sistem atau aturan ilahi dan ajaran-ajaran Islam, berupa

akidah, ibadah, akhlak, perundang-undangan, peraturan, dan hukum (Ulwan, A.

2007: 165).



4.2 Pendidikan Moral/Akhlak

       Yang dimaksud dengan pendidikan moral adalah serangkaian prinsip dasar

moral dan keutamaan sikap serta watak (tabi’at) yang harus dimiliki dan




                                        73
diijadikan kebiasaan oleh anak sejak ia kecil hingga dewasa sebagai perwujudan

dari keimanan yang kuat dan sikap keagamaan yang benar (Ulwan, A. 2007: 193).



4.3 Pendidikan Jasmani

       Allah Swt berfirman:“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan

apa saja yang kamu sanggupi...” (QS. Al-Anfal: 60). Dikuatkan dengan sabda

Rasulullah Saw:“Orang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih disukai oleh

Allah daripada orang mukmin yang lemah…” (HR. Muslim)

       Maka sebagai realisasi dari perintah Allah dan Rasul-Nya tersebut, Islam

menyerukan untuk belajar berenang, memanah, dan berkuda (Ulwan, A. 2007:

253). Sebagaimana diriwayatkan dari Ath-Thabrani bahwa Rasulullah Saw

bersabda:

   Segala sesuatu yang tidak berkaitan dengan dzikir (menyebut nama Allah),
  maka itu adalah senda gurau belaka, kecuali empat perkara: berjalannya
  seseorang antara dua tujuan (untuk memnah), berlatih menunggang kuda,
  bermain dengan keluarganya dan belajar berenang.

       Pendidikan ini dimaksudkan agar anak-anak tumbuh dewasa dengan

kondisi fisik yang kuat dan sehat serta memiki keterampilan dasar seperti berlari,

melompat dan berenang (Muchtar, H. 2008: 16).



4.4 Pendidikan Rasio

       Yang dimaksud dengan pendidikan rasio (akal) adalah membentuk pola

pikir anak dengan segala sesuatu yang bermanfaat, seperti ilmu-ilmu agama,

kebudayaan, dan peradaban (Ulwan, A. 2007: 301)




                                       74
4.5 Pendidikan Kejiwaan

       Pendidikan kejiwaan dimaksudkan untuk mendidik anak agar jiwanya

senang akan akhlak mulia dan dapat mengendalikan diri dari kebiasaan yang

tercela. Tujuan dari pendidikan ini adalah membentuk, membina, dan

menyeimbangkan kepribadian anak (Ulwan, A. 2007: 363).



4.6 Pendidikan Sosial/Kemasyarakatan

       Yang dimaksud dengan pendidikan sosial, adalah mendidik anak agar

terbiasa menjalankan perilaku sosial yang utama, dasar-dasar kejiwaan yang mulia

yang bersumber pada akidah islamiyah yang kekal dan kesadaran iman yang

mendalam, agar ditengah-tengah masyarakat nanti ia dapat bergaul dan

berperilaku sosial dengan baik, memiliki keseimbangan akal yang matang dan

tindakan yang bijaksana (Ulwan,A. 2007: 435).



4.7 Pendidikan Seksual

       Yang dimaksud dengan pendidikan seksual adalah upaya pengajaran,

penyadaran dan penerangan tentang masalah-masalah seksual kepada anak,

dimulai sejak ia mengenal masalah-masalah yang berkenaan dengan naluri seks

dan perkawinan. Tujuan dari pendidikan ini agar ketika anak tumbuh dewasa dia

mengetahui mana yang dihalalkan dan mana diharamkan, dan mampu menerapkan

tingkah laku islami sebagai akhlak dan kebiasaan hidup, serta tidak diperbudak

syahwat dan tenggelam dalam gaya hidup hedonis.




                                      75
5. Metode

       Metode dapat berarti cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai

suatu tujuan. Adapun jika dikaitkan dengan kata Al-Qur’an dan As-Sunnah

sebagai landasan pokok dalam pendidikan Islam, maka yang dimaksud adalah

suatu cara atau tindakan-tindakan pendidik dalam lingkup peristiwa pendidikan

yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Dalam konsep ini, segala bentuk

upaya pendidikan didasarkan kepada nilai-nilai yang terdapat dalam Al-Qur’an

dan Sunnah.

       Di antara karakteristik pokok metode Qur’ani terletak pada keutuhannya

sebagaimana karakteristik manusia sebagai makhluk Tuhan yang utuh. Sebagai

ciri khusus dalam metode Qur’ani adalah penyajiannya dapat menyentuh berbagai

aspek kepribadian murid, dimana pesan nilai disajikan melalui beberapa bentuk

penyajian yang dapat menyentuh berbagai ranah (domain) peserta didik (Syahidin,

2009: 44).

       Terdapat beberapa metode yang dapat digali dan dikembangkan dari ayat-

ayat Al-Qur’an, diantara metode yang paling penting sebagaimana yang dijelaskan

An-Nahlawi, A (2004: 204) adalah:



5.1 Metode Hiwar Qur’ani dan Nabawi

       Secara etimologis, hiwar (dialog) secara berasal dari bahasa Arab yang

mengandung pengertian al-rad (jawaban), al-huwar (anak unta yang masih

menyusui), dan al-muhawarah (tanya jawab, bercakap-cakap atau dialog). Dalam

Al-Qur’an terdapat tiga ayat yang menggunakan kata “muhawarah” dan kata


                                      76
jadiannya, yaitu surah Al-Kahfi ayat 34 dan 37, dan surah Al-Mujadalah ayat 1

(Syahidin, 2009: 162).

       Adapun secara terminologis, dialog dapat diartikan sebagai pembicaraan

antara dua pihak atau lebih yang dilakukan melalui tanya jawab dan didalamnya

terdapat kesatuan topik atau tujuan pembicaraan (An-Nahlawi, A. 2004: 205). Jika

dikaitkan dengan kata Qur’ani dan Nabawi, maka dialog-dialog yang dimaksud

tersebut terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.

        Dialog dalam Al-Qur’an bentuknya sangat beragam, diantaranya; dialog

khithabi, dan ta’abbudi, dialog deskriptif, dialog naratif, dialog argumentatif, serta

dialog nabawiah.


Dialog Khithabi, dan Ta’abbudi

       Hiwar khithabi dan ta’abbudi merupakan dialog yang terjadi antara Allah

Swt dan hamba-Nya. Dalam Al-Qur’an, Allah Swt banyak menyeru hamba-Nya

dengan seruan ya ayyuhal-ladzina amanu, dan hamba-Nya yang beriman akan

menjawab: “Aku akan memenuhi seruan-Mu, ya Rabbi.” Hubungan antara seruan

Allah dengan jawaban hamba-Nya inilah yang akan melahirkan sebuah dialog.

Atau sebaliknya, dialog pun dapat terjadi atas permintaaan hamba-Nya melalui

do’a, lalu Allah yang Tinggi akan menjawab sesuai permintaan hamba-Nya (An-

Nahlawi, A. 2004: 206).


Dialog Deskriptif

       Dialog deskriptif disajikan dengan mendeskripsikan atau menggambarkan

orang-orang yang tengah berdialog. Pendeskripsian itu meliputi gambaran kondisi

                                         77
hidup dan psikologis orang-orang yang berdialog sehingga kita dapat memahami

kebaikan dan keburukannya. Selain itu, pendeskripsian itu juga berpengaruh pada

mentalitas seseorang sehingga perasaan ketuhanan dan perilaku positif manusia

akan berkembang. Seperti dialog yang terjadi antara Allah Swt dengan para

Malaikat-Nya dalam Al-Qur’an surah Ash-Shaff ayat 20-23. Ayat ini

menggambarkan keadaan orang-orang dzalim ketika menyadari datangnya hari

kebangkitan (yang senantiasa mereka dustakan), lalu, datang seruan Allah kepada

para Malaikat penjaga neraka agar mereka menggiring orang-orang dzalim ke

neraka. Kemudian muncullah suatu dialog pada ayat 24 untuk menjelaskan bahwa

ketika itu, manusia sangat lemah dan harus menerima hisab yang sesuai dengan

perbuatannya di dunia (An-Nahlawi, A. 2004: 220-221).

       Adapun muatan-muatan edukatif yang dapat kita ambil dari dialog

deskriptif, antara lain; dialog deskriptif menggambarkan kehidupan psikologis

penghuni neraka dan penyesalan mereka atas perbuatannya di dunia. Deskripsi

secara rinci akan berpengaruh kepada kejiwaan para penyimak dialog tersebut.

Gambaran dalam dialog tersebut menjadi demikian hidup karena merupakan

pengakuan langsung mereka yang merasakan penyesalan dan kepedihan.

       Seperti halnya dialog yang berupa sindiran, dialog deskriptif bertumpu

pada pemberian sugesti. Ayat-ayat yang terdapat dalam surah As-Shaff ayat 20-23

memberikan peringatan kepada kita melalui deskripsi tempat kembalinya orang-

orang zhalim.




                                      78
Dialog Naratif

        Dialog naratif tampil dalam episode kisah yang bentuk dan alur ceritanya

jelas sehingga menjadi bagian dari cara atau unsur cerita dalam Al-Qur’an.

Namun, walaupun Al-Qur’an mengandung kisah-kisah yang disajikan dalam

bentuk dialog, kita tidak bisa mengidentikan dengan keberadaan drama yang

sekarang muncul sebagai sebuah karya sastra. Sebagaimana dalam surah Hud ayat

84-95 yang mengisahkan dialog antara Syu’aib dan kaumnya. Sepuluh ayat

pertama dari kisah Syu’aib disajikan dalam bentuk dialog yang kemudian diakhiri

dengan ayat yang menjelaskan kebinasaan kaum tersebut (An-Nahlawi, A. 2004:

223).

        Dialog naratif dapat memberikan dampak edukatif yang sangat

menakjupkan, karena dialog naratif memiliki unsur-unsur berikut:

1. Dampak yang terbias dari dialog naratif bertitik tolak dari pemberian sugesti.

  Pemaparan persoalan umat masa lalu pun, secara tidak langsung telah mengajak

  pembaca untuk membenci sepak terjang kaum kafir.

2. Seperti dialog-dialog lainnya, dialog naratif dapat membina dan menumbuhkan

  perasaan ketuhanan, seperti rasa cinta karena Allah, gemar berdakwah, dan

  berani membela kehormatan Nabi-nabi Allah.

3. Dibandingkan dengan dialog-dialog lainnya, dialog naratif dapat menyajikan

  hujjah para Nabi secara langsung lewat kisah-kisah yang mencerminkan

  penalaran ketuhanan dan melumpuhkan hujjah orang-orang zhalim. Dalam

  kisah Nabi Syu’aib, penduduk Madyan tidak akan membiarkan Syu’aib tetap



                                       79
  hidup bila mereka tidak takut oleh keluarga Syu’aib. Sebaliknya Syu’aib pun

  tidak akan mengingatkan penduduk Madyan jika bukan karena perintah Allah.

4. Dialog naratif memiliki kesimpulan yang jelas sehingga mencontohkan atau

  menggambarkan bagaimana kesudahan orang-orang kafir dan orang-orang

  beriman. Hal ini akan memotivasi para pembaca untuk menyimak kisah

  tersebut dan merenungkan makna-makna yang terkandung di dalamnya.



Dialog Argumentatif

       Dialog argumentatif tampil dalam bentuk diskusi dan perdebatan yang

diarahkan pada pengokohan hujjah atas kaum musyrikin agar mereka mengakui

pentingnya keimanan kepada Allah, mengakui kerasulan akhir Muhammad Saw,

mengakui kebatilan tuhan-tuhan mereka dan mengakui kebenaran seruan

Rasulullah Saw. Kadang pula disajikan Al-Qur’an dalam bentuk pertanyaan-

pertanyaan yang mengingkari sesembahan kaum musyrikin (An-Nahlawi, 2004:

226-227).

       Dialog argumentatif secara dominan menyentuh kekuatan logika dan

bertujuan untuk mematahkan argumentasi lawan bicara. Dialog seperti ini tidak

saja menyentuh akal seseorang akan tetapi dapat menyentuh pula perasaannya

(Syahidin, 2009: 172).


Dialog Nabawi

       Dialog Nabawi merupakan jenis dan bentuk dialog Qur’ani yang

Rasulullah Saw jadikan pedoman dan aplikasikan dalam metode pendidikan dan

pengajaran beliau (An-Nahlawi, 2004: 231).

                                      80
5.2 Metode Kisah Qur’ani

       Secara etimologis kata qishah berasal dari kata al-qashshu,yang artinya

mencari jejak, seperti terungkap dalam kalimat qashashtu atsarahu yang artinya

saya mencari jejaknya.

       Sedang secara terminologis kata qishash Al-Qur’an mengandung dua

makna yaitu, pertama: “Al-Qashash fi al-Qur’an” yang artinya pemberitaan Al-

Qur’an tentang hal ihwal umat terdahulu, baik informasi tentang kenabian maupun

tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi pada umat terdahulu. Kedua; “Qashash

al-Qur’an” yang artinya karakteristik kisah-kisah yang terdapat dalam Al-Qur’an.

Pengertian yang kedua inilah yang dimaksud kisah sebagai metode pendidikan

(Syahidin, 2009: 94).

       Kisah dalam Al-Qur’an merupakan peristiwa yang benar-benar terjadi

pada manusia-manusia terdahulu dan merupakan peristiwa-peristiwa sejarah yang

dapat dibuktikan kebenarannya secara filosofis dan secara ilmiah melalui

peninggalan-peninggalan orang-orang terdahulu. Sebagaimana dinyatakan dalam

firman Allah:

   Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-
  orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat,
  akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan
  segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.”
  (QS. Yusuf: 111)

       Dalam pendidikan Islam, kisah-kisah dalam Al-Qur’an mempunyai fungsi

edukatif yang sangat berharga dalam suatu proses penanaman nilai-nilai ajaran

Islam. Penyampaiannya tidak dapat diganti dengan bentuk lain, kecuali dengan




                                      81
bahasa lisan. Dalam perspektif pendidikan, kisah Qur’ani dapat dijadikan sebagai

materi pelajaran sekaligus metode pengajaran.



5.3 Metode Amtsal (Perumpamaan)

       Ada beberapa ayat Al-Qur’an yang menjadi dasar dalam mempelajari

metode amtsal, yaitu:

“Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka

berfikir.” (QS. Al-Hasyr: 21)

“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang

memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” (QS. Al-Ankabut: 43)

“Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam Al Quran ini setiap

macam perumpamaan supaya mereka dapat pelajaran.” (QS. Az-Zumar: 27)

       Dalam Al-Qur’an terdapat 165 tempat yang memakai kata dasar (membuat

permisalan/perupamaan) sebagai adat tasybih (alat untuk mengumpamakan), dan

masih lebih banyak adat tasbih lain yang menunjukan perupamaan, seperti banyak

uslub dalam Al-Qur’an yang tidak memakai adat tasybih tetapi maknanya

menunjukan perumpamaan. (Syahidin, 2009: 78)

       Amtsal merupakan bentuk jamak dari matsala. Kata matsala sama dengan

syabaha, baik secara lapad maupun maknanya. Jadi, menurut bahasa amtsal

berarti membuat permisalan, perumpamaan dan bandingan.

       Dalam tafsir Al-Manar, Ridha menjelaskan ayat: “Perumpamaan mereka

adalah seperti orang yang menyalakan api ….” (QS. Al-Baqarah: 17) dengan

mengatakan: Al-matsal, al-mitsil, dan al-matsil sama dengan kata asy-syabah, asy-

syibih, dan asy-syabih. Al-matsal diambil dari ungkapan matsula asy-syai

                                       82
matsulan artinya jika sesuatu itu berdiri dengan jelas, maka sesuatu itu disebut

matsil; matsalus syai bittharik artinya sifat sesuatu yang menjelaskan dan

menyingkapkan hakikat sesuatu itu atau sifat dan keadaan sesuatu yang tidak

dijelaskan.   Kadang-kadang   ada   juga   ungkapan    tamtsilus   syai   artinya

menyerupakan hakikat sesuatu melalui metafora. Penyingkapan yang paling dalam

ialah pendiskripsian makna-makna logis melalui gambar yang konkret atau

sebaliknya. Dari akar kata diatas, muncul pula ungkapan al-amtsal al madhrubah

yang artinya contoh-contoh yang diberikan (An-Nahlawi, A. 2004: 251).

       Perumpamaan-perumpaan dalam Al-Qur’an tidak hanya menunjukan

ketinggian karya seni dan keindahan balaghah saja. Lebih dari itu perumpamaan-

perumpamaan tersebut memiliki tujuan psikologis-edukatif, yakni memudahkan

pemahaman mengenai suatu konsep yang abstrak; seperti dijelaskan dalam sebuah

hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, bahwasannya ketika Rasulullah Saw

melewati sebuah pasar, Ia menyimak bisikan-bisikan orang tentang kekayaan

dunia. Maka pada kesempatan itu, Ia mengumpamakan kehinaan dunia ini dengan

bangkai anak kambing yang bertelinga kecil. Dari Jabir bahwasannya Rasulullah

Saw melewati pasar, sementara manusia hilir-mudik disekitarnya. Ketika itu,

beliau melihat bangkai anak kambing yang bertelinga kecil, kemudian beliau

mengangkatnya seraya berkata: “Siapa diantara kalian yang ingin membeli

bangkai anak kambing ini dengan harga satu dirham?” Mereka menjawab: “Kami

tidak mau. Uang itu dapat kami belikan sesuatu yang lebih baik. Mau kami apakan

bangkai itu?” Beliau bersabda: “Kalau begitu, maukah jika anak kambing ini aku

berikan kepada kalian?” Mereka berkata: “Demi Allah, kalaupun kambing itu



                                      83
hidup, kami tidak akan mau menerimanya karena cacat, maka bagaimana kami

mau menerimanya setelah menjadi bangkai?” Rasulullah Saw menjawab: “Demi

Allah, sesungguhnya dunia ini lebih hina bagi Allah daripada hinanya anak

kambing ini bagimu.”

      Perumpamaan juga dapat mempengaruhi emosi yang sejalan dengan

konsep yang diumpamakan dan untuk mengembangkan aneka perasaan

ketuhanan.   Dalam hal ini Abduh (An-Nahlawi, A. 2004: 257) menyatakan:

‘Dipilihnya kata adh-dharb untuk mengumpamakan sesuatu karena kata tersebut

mampu mempengaruhi dan mengobarkan emosi sehingga dapat bertindak sebagai

ketukan yang menembus kalbu dan bermuara di kedalaman jiwa.” Melalui

perumpamaan, akal manusia akan terbiasa berfikir secara valid dan analogis

melalui penyebutan premis-premisnya. Juga, akan mampu menciptakan motivasi

yang mengerakkan aspek emosi dan mental manusia, yang kemudian akan

mengerakkan dan mendorong hati untuk berbuat kebaikan dan menjauhi berbagai

kemungkaran.



5.4 Metode Keteladanan

      Salah satu metode pendidikan yang dianggap paling besar pengaruhnya

terhadap keberhasilan proses belajar mengajar adalah metode pendidikan dengan

keteladanan. Yang dimaksud metode keteladanan di sini yaitu suatu metode

pendidikan dengan cara memberikan contoh yang baik kepada para peserta didik,

baik dalam ucapan maupun dalam perbuatan (Syahidin, 2009: 150)




                                     84
       Manusia telah diberi kemampuan untuk meneladani para Rasul Allah

dalam menjalankan kehidupannya. Salah satu Rasul Allah yang harus kita contoh

adalah Nabi Muhammad Saw, karena dia telah menunjukan bahwa pada dirinya

terdapat suatu keteladanan yang mencerminkan kandungan Al-Qur’an secara utuh.

       Allah Swt berfirman:“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu

suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah

dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab:

21)

       Ada dua bentuk metode pendidikan keteladanan, yaitu yang disengaja dan

dipolakan sehingga sasaran dan perubahan perilaku dan pemikiran anak sudah

direncanakan dan ditargetkan, dan ada bentuk yang tidak disengaja dan tidak

dipolakan. Kedua bentuk ini ada yang berpengaruh secara langsung pada perilaku

anak dan ada pula yang memerlukan proses lebih jauh.

       Dalam bentuk keteladan yang disengaja dan dipolakan, pendidik dengan

sengaja memberikan contoh yang baik kepada para peserta didiknya supaya dapat

menirunya. Umpamanya, seorang guru memberikan contoh membaca yang baik

agar para siswa dapat menirunya, seorang imam membaikkan shalatnya dalam

mengajarkan shalat yang sempurna kepada makmumnya, atau komandan maju ke

depan barisan dalam jihad untuk menanamkan keberanian, pengorbanan, dan

kegigihan dalam jiwa pasukannya.

       Sebagai contoh, Rasulullah bersabda kepada para sahabatnya:“Shalatlah

kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat”




                                      85
       Berkenaan dengan perintah meniru shalatnya, ada sebuah hadits yang

menjelaskan bahwa Rasulullah pernah shalat di atas mimbar yang mempunyai tiga

tingkatan. Beliau berdiri diatas mimbar itu, lalu bertakbir, dan orang-orang

bertakbir pula di belakangnya. Saat beliau berada di atas mimbar, lalu rukuk, dan

beliau pun tetap berada di atas mimbar itu. Kemudian bangkit, lalu turun mundur

ke belakang hingga beliau sujud pada mimbar itu, kemudian beliau kembali. Di

dalam rakaatnya, melakukan seperti yang dilakukan pada rakaat pertama hingga

selesai shalatnya, terus beliau menghadap kepada orang-orang, seraya bersabda:

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku melakukan hal ini agar kalian

mengikuti aku dan agar kalian mempelajari shalatku ini.” (HR. Bukhari dan

Muslim)

       Adapun dalam bentuk keteladanan yang tidak disengaja, pendidik tampil

sebagai figur yang dapat memberikan contoh-contoh yang baik dalam

kehidupannya sehari-hari. Bentuk pendidikan semacam ini keberhasilannya

banyak bergantung pada kualitas kesungguhan realisasi karakteristik pendidik

yang diteladani, seperti kualitas keilmuannya, kepemimpinannya, keikhlasannya,

dan lain sebagainya. Dalam kondisi pendidikan seperti ini, pengaruh teladan

berjalan secara langsung tanpa sengaja.

       Oleh karena itu, Rasulullah memperingatkan kepada seluruh manusia,

bahwa setiap orang yang mempengaruhi perilaku orang lain akan menanggung

akibatnya manakala mereka menirunya, baik kebaikan ataupun keburukan yang

mereka tiru darinya.

       Dalam haditsnya Rasulullah bersabda:

                                          86
   Barangsiapa membuat sunnah (tradisi) yang baik dalam Islam, maka ia akan
  menerima pahalanya dan pahala orang yang mengerjakan sunnah itu hingga
  hari kiamat, tanpa mengurangi sedikit pun pahala mereka itu. Dan barang
  siapa membuat sunnah yang buruk dalam Islam, maka ia akan menerima
  dosanya dan dosa orang yang mengerjakannya hingga hari kiamat, tanpa
  mengurangi sedikit pun dosa mereka itu” (H.R Muslim)

       Sebagai contoh, ketika Rasulullah Saw memimpin perang Khandaq, beliau

langsung turun tangan ikut mengangkat batu dan menggali parit bersama sahabat.

Dengan tindakannya itu, maka terdapat suatu teladan yang patut ditiru para

pendidik untuk langsung turun tangan bersama anak didiknya. Dengan demikian,

maka para peserta didik akan mengagumi tindakan pendidiknya dan akan

meneladani perbuatannya.

       Selain itu, banyak sekali contoh di mana Rasulullah senantiasa tampil

sebagai seorang pendidik, da’i, pejuang, kepala rumah tangga dan seorang

manusia yang memberikan petunjuk kepada manusia dengan tingkah lakunya

sendiri sebelum dengan kata-kata yang baik.

       Jadi, keteladanan merupakan salah satu metode pendidikan yang

diterapkan Rasulullah Saw dan dianggap paling banyak memberikan pengaruh

terhadap keberhasilan misi dakwahnya.



5.5 Metode Praktik dan Perbuatan

       Al-Qur’an menempatkan ilmu pengetahuan pada tempat yang tinggi,

bahkan orang yang memiliki ilmu pengetahuan ditempatkan pada derajat yang

mulia. Karena itu, Islam mendorong umatnya untuk menimba ilmu pengetahuan

sebanyak-banyaknya, sejak lahir ke dunia sampai meninggal dunia.


                                        87
       Nilai ilmu di dalam ajaran Islam terletak pada aspek pengamalannya. Ilmu

yang digali tidak berhenti pada konsep semata, melainkan dilanjutkan pada praktik

dan perbuatannya. Allah tidak menyukai seseorang yang hanya dapat membuat

konsep tetapi tidak dapat melaksanakannya dalam kehidupan nyata (Syahidin,

2009: 137)

        Allah Swt berfirman: “Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu

mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Shaff: 3)

       Sebagian ulama salaf menuturkan bahwa ilmu itu dapat bertambah dan

semakin kuat jika diamalkan dan akan berkurang jika tidak diamalkan.

Bertambahnya kekuatan ilmu itulah yang merupakan hakikat pendidikan Islam

dan perkembangan psikologis manusia yang telah dibuktikan melalui berbagai

eksperimen (An-Nahlawi, A. 2004: 270)

       Khusus dalam pendidikan yang dikaitkan langsung dengan praktik

langsung di lapangan, yaitu dengan pengamalan, merupakan pendekatan yang

efektif untuk melahirkan suatu bentuk keterampilan tertentu bahkan lebih jauh lagi

menimbulkan penghayatan, karena pengalaman dapat memberi kesan yang dalam

kepada jiwa, mengokohkan keberadaan ilmu pengetahuan di dalam kalbu dan

meneguhkannya dalam ingatan (Syahidin, 2009: 137).



5.6 Metode Ibrah dan Mau’idzah

       Salah satu ajaran Al-Qur’an yang berkenaan dengan cara mendidik adalah

mengambil pelajaran dari peristiwa-peristiwa atau pengalaman-pengalaman orang

lain yang disebut “ibrah”, atau melalui nasihat-nasihat yang baik yang dapat


                                       88
menyentuh perasaan murid yang disebut “mauizhah”. Oleh karena itu, ibrah dan

mau’izhah dalam Al-Qur’an dapat diangkat menjadi sebuah metode pendidikan

(Syahidin, 2009: 107)

       Allah Ta’ala berfirman:“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu

terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal…” (QS. Yusuf:

111).“…Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang

yang mempunyai pandangan.” (QS. Al-Hasyr: 2)

       Ayat-ayat tersebut mengingatkan manusia agar senantiasa mengambil

i’tibar (pelajaran). Dilihat dari sudut paedagogis, ayat pertama menunjukan

“tujuan”. Sedangkan dalam ayat yang kedua menunjukan “metodologis” bahwa

kita dianjurkan untuk mengambil ibrah dengan jalan beri’itibar baik dari kisah,

fenomena alam, maupun peristiwa sejarah. Sebagaimana yang diungkapkan Qutub

(Syahidin, 2009: 108) bahwa melalui peristiwa fenomena alam dan peristiwa

sejarah jiwa manusia dibawa pada situasi yang khas dalam perasaan.

       Selain metode ibrah, ada juga metode yang dapat menyentuh hati yang

mengarahkan manusia kepada ide yang dikehendaki yaitu melalui nasihat-nasihat

yang senantiasa dibarengi dengan keteladanan atau panutan, dalam hal ini

Rasulullah Saw. Sebagai salah satu contoh bagaimana Al-Qur’an mendidik

manusia melalui nasihat dapat diperhatikan dalam beberapa ayat dari salah satu

surah Luqman ayat 12-19.

       Kata “ibrah” berasal dari kata “’abara”. “’Abara al-ra’yu” berarti

menafsirkan mimpi dan mengetahui apa yang akan terjadi pada orang yang

bermimpi. Sedangkan “’abara al-wadiya” atau “’abara al-nahr” berarti



                                      89
menyebrangi lembah atau sungai dari tepi ketepi lain yang berlawanan. “Al-Ibr”

berarti juga melampoui dari suatu keadaan pada keadaan yang lain. Kata “‘ibrah”

juga berarti “al-‘ujbu” yakni kekaguman, “i’tabaru minhu” sama dengan kata

“ta’ajjaba” yakni kagum (Syahidin, 2009: 109).

       Ibrah dan i’tibar menurut An-Nahlawi, A (2004: 279) merupakan kondisi

psikologis yang mengantarkan manusia menuju pengetahuan yang dimaksud dan

dirujuk oleh suatu perkara yang dilihat, diselidiki, ditimbang-timbang, diukur dan

ditetapkan oleh manusia menurut pertimbangan akalnya sehingga ia sampai pada

suatu kesimpulan yang dapat mengkhusyukan kalbunya sehingga kekhusuan itu

mendorongnya untuk berperilaku logis dan sesuai dengan kondisi masyarakat.

       Ibrah yang terdapat dalam Al-Qur’an mengandung dampak edukatif yang

sangat besar, yaitu mengantarkan penyimak pada kepuasan berfikir mengenai

persoalan akidah. Kepuasaan edukatif tersebut dapat menggerakkan kalbu,

mengembangkan perasaan ketuhanan, serta menanamkan, mengokohkan, dan

mengembangkan akidah tauhid, ketundukan kepada syari’at Allah, atau

ketundukan pada berbagai perintah-Nya.

       Pendidikan melalui ibrah harus mencakup seluruh kondisi kehidupan,

aneka peristiwa alam semesta, dan gejala-gejala kekuasaan dan karunia Allah,

yang jelas segala sesuatu memiliki tanda dan menunjukan bahwa Dia satu.

       Sedangkan kata mau’idzah di dalam kamus Al-Muhith berasal dari kata

wa’azhahu,    ya’izhhu,   wa’zhan,    wa’izhah,    wamau’izhah     yang    berarti

mengingatkannya terhadap sesuatu yang dapat meluluhkan hatinya dan sesuatu itu

dapat berupa pahala maupun siksa, sehingga dia menjadi ingat. Dalam tafsir Al-



                                       90
Manar, Ridha mengatakan bahwa al-wa’zhu berarti nasihat dan peringatan dengan

kebaikan dan dapat melembutkan hati serta mendorong untuk beramal (An-

Nahlawi, A. 2004: 289).



5.7 Metode Targhib dan Tarhib

        Istilah“targhib” diambil dari kata kerja “raghaba” yang berarti

menyenangi, menyukai, dan mencintai. Kemudian kata itu dirubah menjadi kata

benda “targhib” yang mengandung makna suatu harapan untuk memperoleh

kesenangan, kecintaan, dan kebahagiaan. Sedangkan istilah “tarhib” berasal dari

kata “rahhaba” yang berarti     menakut-nakuti atau mengancam. Lalu diubah

menjadi kata benda “tarhib” yang berarti ancaman dan hukuman (Syahidin, 2009:

124).

        An-Nahlawi, A (2004: 296) mendefinisikan targhib sebagai janji yang

disertai bujukan dan rayuan untuk menunda kemaslahatan, kelezatan, dan

kenikmatan. Namun, penundaan itu bersifat pasti, baik dan murni serta dilakukan

melalui amal saleh atau pencegahan diri dari kelezatan yang membahayakan

(pekerjaan buruk).

        Sedangkan tarhib adalah ancaman atau intimidasi melalui hukuman yang

disebabkan oleh terlaksananya sebuah dosa, kesalahan, atau perbuatan yang telah

dilarang Allah. Tarhib juga dapat diartikan sebagai ancaman dari Allah untuk

menakut-nakuti hamba-hamba-Nya melalui penonjolan kesalahan atau penonjolan

salah satu sifat keagungan dan kekuatan ilahiah agar mereka teringatkan untuk

tidak melakukan kesalahan dan kemaksiatan.


                                      91
       Manusia memiliki kecenderungan yang saling berlawanan dalam dirinya,

diantaranya adalah perasaan raja’ (optimis) dan khauf (pesimis). Dalam Islam,

sikap optimis yang berlebihan tidaklah dibenarkan karena dapat menimbulkan

sikap angkuh dan sombong, demikian pula sebaliknya sikap pesimis yang

melampaui batas juga dilarang karena dapat mengakibatkan orang menjadi rendah

diri dan putus.

       Keistimewaan dari metode ini ialah untuk menyeimbangkan dua

kecenderungan tersebut, yang kemudian keduanya dipadukan melalui targhib dan

tarhib. Targhib lebih diarahkan pada upaya memupuk rasa optimis dan berusaha

meyakinkan        kebenaran   melalui   janji   dan   bujukan.   Sedangkan   tarhib

memfokuskan pada penanaman rasa kehati-hatian dalam melakukan kewajiban

kepada Allah (Syahidin, 2009: 126).



6. Media

       Kata “media” berasal dari bahasa latin medius yang secara bahasa berarti

tengah, perantara, atau pengantar. Dalam bahasa arab, media disebut wasaa’il

yang berarti perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan

(Arsyad, A. 2007: 3).

       Gerlach & Ely (1971) mengatakan bahwa media apabila dipahami secara

garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang

membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap.

Dalam pengertian ini, guru, buku teks, dan lingkungan sekolah merupakan media.

Secara khusus, pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung


                                          92
diartikan sebagai alat-alat grafis, photografis, atau elektronis untuk menangkap,

memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal (Arsyad, A.

2007: 3)

       Hasbullah (2009: 26) menjelaskan bahwa yang dimaksud alat pendidikan

adalah suatu tindakan atau situasi yang sengaja diadakan untuk tercapainya suatu

tujuan pendidikan yang tertentu. Alat pendidikan merupakan faktor pendidikan

yang sengaja dibuat dan digunakan demi pencapaian tujuan pendidikan yang

diinginkan.

       Alat-alat pendidikan itu sendiri terdiri dari bermacam-macam, dapat

berwujud sebagai perbuatan pendidik, seperti: hukuman dan ganjaran, perintah

dan larangan, celaan dan pujian, contoh serta kebiasaan. Juga, dapat berupa benda-

benda sebagai alat bantu pendidikan, diantaranya: keadaan sekolah, keadaan

perlengkapan sekolah, keadaan alat-alat pelajaran, dan fasilitas-fasilitas lainnya

(Hasbullah. 2009: 27)

       Dalam penggunaan alat bantu tersebut, ada beberapa hal yang harus

diperhatikan, yaitu: (1) Tujuan yang ingin dicapai, (2) orang yang menggunakan

alat, (3) untuk siapa alat itu digunakan, (4) efektivitas penggunaan alat tersebut

dengan tidak melahirkan efek tambahan yang merugikan. (Hasbullah. 2009: 28)

       Kadang kala, kata media pendidikan digunakan secara bergantian dengan

istilah alat bantu atau media komunikasi seperti yang dikemukakan oleh Hamalik

(Arsyad, A. 2007: 4) dimana ia melihat bahwa hubungan komunikasi akan

berjalan lancar apabila mengggunakan alat bantu yang disebut media komunikasi.



                                       93
        Gadne dan Briggs (Arsyad, A. 2007: 4) secara implisit mengatakan bahwa

media pembelajaran meliputi alat        yang secara fisik digunakan       untuk

menyampaikan isi materi pelajaran, yang terdiri antara lain buku, tape recorder,

kaset, video kamera, film, slide, foto, gambar, grafik, televisi, dan komputer.

Dengan kata lain, media adalah komponen sumber belajar atau wahana fisik yang

mengandung materi instruksional di lingkungan siswa yang dapat merangsang

siswa untuk belajar.

       Sementara, National Educational Association memberikan definisi media

sebagai bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak maupun audio visual dan

peralatannya; dengan demikian, media dapat dimanipulasi, dilihat, didengar, atau

dibaca (Arsyad, A. 2007: 5).

       Istilah “media” bahkan sering dikaitkan atau dipergantikan dengan kata

“teknologi” yang berasal dari kata latin tekne (bahasa inggris art) dan logos

(bahasa Indonesia “ilmu”).

       Menurut Webster (Arsyad, A. 2007: 5) “art” adalah keterampilan (skill)

yang diperoleh lewat pengalaman, studi dan observasi. Dengan demikian,

teknologi tidak lebih dari suatu ilmu yang membahas tentang keterampilan yang

diperoleh lewat pengalaman, studi dan observasi. Bila dihubungkan dengan

pendidikan dan pembelajaran, maka teknologi mempunyai pengertian sebagai:

“Perluasan konsep tentang media, dimana teknologi bukan sekedar benda, alat,

bahan atau perkakas, tetapi tersimpul pula sikap, perbuatan, organisasi dan

manajemen yang berhubungan dengan penerapan ilmu”




                                      94
7. Evaluasi

       Cross mendefinisikan evaluasi sebagai: ‘Evaluation is a process which

determines the extent to which objectives have been achieved.’ Evaluasi

merupakan proses yang menentukan kondisi, dimana suatu tujuan telah dicapai

(Sukardi, 2010: 1)

       Definisi ini menerangkan secara langsung hubungan evaluasi dengan

tujuan suatu kegiatan yang mengukur derajat, dimana suatu tujuan telah dapat

dicapai. Sebenarnya evaluasi juga merupakan proses memahami, memberi arti,

mendapatkan,    dan   mengomunikasikan     suatu   informasi   bagi   keperluan

pengambilan keputusan.

       Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003

tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 57 ayat (1), evaluasi dilakukan dalam

rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional sebagai bentuk akunbilitas

penyelenggara pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan, diantaranya

terhadap peserta didik, lembaga, dan program pendidikan.

       Evaluasi sebaiknya dikerjakan setiap hari dengan skedul yang sistematis

dan terencana. Ini dapat dilakukan oleh seorang guru dengan menempatkan secara

integral evaluasi dalam perencanaan dan implementasi satuan pelajaran materi

pembelajaran. Bagian penting lainnya yang perlu diperhatikan bagi seorang

pendidik adalah perlunya melibatkan siswa dalam evaluasi sehingga mereka

secara sadar dapat mengenali perkembangan pencapaian hasil pembelajaran

mereka (Sukardi, 2010: 2)



                                      95
          Definisi lain yang berkaitan dengan proses pengukuran hasil belajar siswa,

yaitu evaluation is a process of making an assessment of a student’s growth.

Evaluasi merupakan proses penilaian pertumbuhan siswa dalam proses belajar

mengajar.

          Pencapaian perkembangan siswa perlu diukur, baik posisi siswa sebagai

individu maupun posisinya di dalam kegiatan kelompok. Karena pada umumnya,

siswa masuk kelas dengan kemampuan yang bervariasi. Ada siswa yang cepat

menangkap materi pelajaran, tetapi ada pula yang tergolong memiliki kecepatan

biasa dan ada pula yang tergolong lambat. Guru dapat mengevaluasi pertumbuhan

kemampuan siswa tersebut dengan mengetahui apa yang mereka kerjakan pada

awal sampai akhir (measurement). Pencapaian belajar siswa dapat diukur dengan

dua cara: 1) Diukur dengan mengetahui tingkat ketercapaian standar yang

ditentukan, dan 2) melalui tugas-tugas yang dapat diselesaikan siswa secara

tuntas.



7.1 Karateristik dan Fungsi Evaluasi

          Kegiatan evaluasi dalam proses belajar mengajar mempunyai beberapa

karakteristik penting (Sukardi. 2010: 3), diantaranya sebagai berikut:

1. Memiliki implikasi tidak langsung terhadap siswa yang dievaluasi. Hal ini

  terjadi misalnya seorang guru melakukan penilaian terhadap kemampuan yang

  tampak dari siswa. Apa yang dilakukan adalah ia lebih banyak menafsir melalui

  beberapa aspek penting          yang diizinkan seperti melalui penampilan,




                                          96
  keterampilan, atau reaksi mereka terhadap suatu stimulus yang diberikan secara

  terencana.

2. Lebih bersifat tidak lengkap. Dikarenakan evaluasi tidak dilakukan secara

  kontinu maka hanya merupakan sebagian fenomena saja. Atau dengan kata

  lain, apa yang dievaluasi hanya sesuai dengan pertanyaan item yang

  direncanakan oleh seorang guru.

3. Mempunyai sifat kebermaknaan relatif. Ini berarti, hasil penilaian tergantung

  pada tolok ukur yang digunakan oleh guru. Disamping itu, evaluasi pun

  tergantung dengan tingkat ketelitian alat ukur yang digunakan. Sebagai contoh,

  jika kita mengukur objek dengan penggaris yang mempunyai ketelitian

  setengah millimeter akan memperoleh hasil pengukuran yang kasar.

  Sebaliknya, jika seorang guru mengukur dengan menggunakan alat micrometer

  yang biasanya mempunyai ketelitian 0,2 milimeter maka hasil pengukuran yang

  dilakukan akan memperoleh hasil ukur yang lebih teliti.

       Disamping karakteristik, evaluasi juga mempunyai fungsi yang bervariasi

di dalam proses belajar mengajar, yaitu sebagai berikut:

1) Sebagai alat guna mengetahui apakah peserta didik telah menguasai

  pengetahuan, nilai-nilai, dan keterampilan yang telah diberikan oleh seorang

  guru.

2) Untuk mengetahui aspek-aspek kelemahan peserta didik dalam melakukan

  kegiaran belajar.

3) Mengetahui tingkat ketercapaian siswa dalam kegiatan belajar.


                                        97
4) Sebagai sarana umpan balik bagi seorang guru, yang bersumber dari siswa.

5) Sebagai materi utama laporan hasil belajar kepada orang tua siswa.



7.2 Prinsip-Prinsip Evaluasi

        Prinsip adalah pernyataan yang mengandung kebenaran hampir sebagian

besar, jika tidak dikatakan benar untuk semua kasus. Hal ini sesuai dengan

pendapat Cross yang mengatakan bahwa: “a principle is a statement that holds in

most, if not all cases.” Keberadaan prinsip bagi seorang guru mempunyai arti

penting, karena dengan memahami prinsip evaluasi dapat menjadi petunjuk atau

keyakinan bagi dirinya atau guru lain guna merealisasi evaluasi dengan cara benar

(Sukardi, 2010: 4).

        Dalam bidang pendidikan beberapa prinsip evaluasi dapat dilihat seperti

berikut ini:

1) Evaluasi harus masih dalam kisi-kisi kerja tujuan yang telah ditentukan.

2) Evaluasi sebaiknya dilaksanakan secara komprehensif.

3) Evaluasi diselenggarakan dalam proses yang kooperatif antara guru dan peserta

   didik.

4) Evaluasi dilaksanakan dalam proses kontinu.

5) Evaluasi harus peduli dan mempertimbangkan nilai-nilai yang berlaku.

        Sedang menurut Slameto (Sukardi, 2010: 5) evaluasi harus mempunyai

minimal tujuh prinsip berikut: 1) Terpadu, 2) menganut cara belajar siswa aktif,



                                        98
3) kontinuitas, 4) koherensi dengan tujuan, 5) menyeluruh, 6) membedakan

(diskriminasi), dan 7) paedagogis.




                                     99

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:14
posted:4/11/2012
language:Indonesian
pages:77
mr doen mr doen mr http://bineh.com
About just a nice girl