06110150-ruliana by anamaulida

VIEWS: 20 PAGES: 165

									MOTIVASI SISWA MEMAKAI JILBAB DI SEKOLAH
(STUDI KASUS DI SMA ISLAM KEPANJEN MALANG)


                 SKRIPSI


                Diajukan oleh:
                   Ruliana
                  06110150




 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
     JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
           FAKULTAS TARBIYAH
    UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA
         MALIK IBRAHIM MALANG
                    2010




                      i
    MOTIVASI SISWA MEMAKAI JILBAB DI SEKOLAH
    (STUDI KASUS DI SMA ISLAM KEPANJEN MALANG)


  Diajukan Kepada Fakultas Tarbiyah Untuk Menyusun Skripsi Pada Program
 Strata Satu (S-1) Program Studi Pendidikan Agama Islam Jurusan Pendidikan
Agama Islam Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Malang (UIN) Malang.




                                  Oleh:
                                 Ruliana
                                06110150




      PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
            JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
                      FAKULTAS TARBIYAH
          UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA
                   MALIK IBRAHIM MALANG


                                   2010
            LEMBAR PERSETUJUAN

MOTIVASI SISWA MEMAKAI JILBAB DI SEKOLAH
(STUDI KASUS DI SMA ISLAM KEPANJEN MALANG)



                       SKRIPSI



                         Oleh:
                        Ruliana
                     NIM. 06110150


       Telah disetujui Pada Tanggal: 24 April 2010

                         Oleh
                   Dosen pembimbing




                Triyo Supriyatno, M.Ag
               NIP. 197004272000031001



                       Mengetahui,
      Ketua Jurusan Tarbiyah/Pendidikan Agama Islam




                 Drs. HM. Padil, M.Pdi
                  19651205199403100
                     HALAMAN PENGESAHAN

     MOTIVASI SISWA MEMAKAI JILBAB DI SEKOLAH
    (STUDI KASUS DI SMA ISLAM KEPANJEN MALANG)


                                SKRIPSI
                      dipersiapkan dan disusun oleh
                           Ruliana (06110150)
        telah dipertahankan di depan dewan Penguji pada tanggal
                      20 April 2010 dengan nilai B
   dan telah dinyatakan diterima sebagai salah satu persyaratan untuk
 memperoleh gelar strata satu Sarjana Jurusan Pendidikan Islam (S. Pd.I)
                       pada tanggal: 20 April 2010

Panitia Ujian                              Tanda Tangan

Ketua Sidang
Drs. H. M. Padil, M.Pd                     :__________________________
NIP. 196512051994031003

Sekretaris Sidang
Triyo Supriyatno, M.Ag                     :______________________
NIP. 197004272000031001

Pembimbing
Triyo Supriyatno, M.Ag                     :______________________
NIP. 197004272000031001
Penguji Utama
Drs. H. A. Fatah Yasin, M. Ag              :__________________________
NIP. 196712201998031002

                                  Mengesahkan,
                Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang




                            Dr. H. M Zainuddin, M.A
                           NIP. 196205071995031001
Triyo Supriyatno, M. Ag
Dosen Fakultas Tarbiyah
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

NOTA DINAS PEMBIMBING

Hal      : Skripsi Ruliana               Malang, 8 April 2010
Lampiran : 4 (Empat) Eksemplar


Kepada Yth.
Dekan Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim
Malang
Di
      Malang


Assalamua’liakum W.r. Wb.

       Sesudah melakukan beberapa kali bimbingan dan setelah membaca skripsi
mahasiswa tersebut dibawah ini:
Nama              : Ruliana
NIM               : 06110150
Jurusan           : Pendidikan Agama Islam (PAI)
Judul Skripsi      :MOTIVASI SISWA MEMAKAI JILBAB DI SEKOLAH
                   (STUDI KASUS DI SMA ISLAM KEPANJEN MALANG)
       Maka selaku pembimbing, kami berpendapat bahwa skripsi tersebut sudah
layak diajukan untuk diujikan.
Demikian, mohon dimaklumi adanya.
Wassalamua’laikum Wr. Wb.


                                                   Pembimbing,




                                          Triyo Supriyatno, M.Ag.
                                         NIP. 197004272000031001
                           SURAT PERNYATAAN

       Dengan ini saya menyatakan, bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya

yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan pada suatu perguruan

tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya, juga tidak terdapat karya atau pendapat

yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis

diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.




                                                           Malang, 6 April 2010



                                                           Ruliana
                                PERSEMBAHAN


Saya persembahkan skripsi ini untuk:
    Yang tercinta Ayah saya Bapak Atim dan Ibu Giyah yang telah mengasuh
       dan menyayangiku, sumber cinta yang tak pernah kering, dengan do‟anya
       menjadikan hidupku lebih bermakna
    Guruku Bu Diana yang telah mengarahkanku
       Sampai dapat kutulis beberapa rangkaian kata dalam skripsi ini, serta
       setiap jiwa yang dengan ilmunya membuat aku menjadi tahu.
    Kakak-kakakku yang kusayangi Mbak Parmi, Mas Abdul, Mas Parlan,
       Mas Darni, Mas Suraji, Mbak Rumini, Mbak Nurmah, Mbak Lis, Mas
       Adi, Mas Din, Mbak Indi. Kekuatan cinta dan kasih sayang diantara kita
       memberi kekuatan bagiku dalam mengarungi samudra kehidupan ini.
    Mbak Parmi sekeluarga
       Bimbingan, perhatian dan kasih sayang yang telah mereka berikan
       kepadaku, membuatku lebih tegar dalam mengahadapi berbagai rintangan
       yang menghalangiku dalam menggapai cita-cita.
     Keponakan ku yang paling pintar dan cantik Si Kembar Hana dan Hani,
       Mas Ahmad Dubidu, Paula, Dek Kenza, Riska, Puput, &Dion Spisano..
    Lutfi Nur Afida yang menyayangiku
       Dengan kasih sayangnya telah memberikan rasa percaya diri serta
       motivasi yang sangat berarti dalam hidupku.
    Sahabatku “Helen, Hidayatul Mukhlis, Raisa Nursaida,Nurul Hidayati”,
       yang selalu menemaniku dan mempercayaiku dalam setiap langkahku
       serta mengajarkan kepadaku arti persahabatan yang sesungguhnya.
    Teman-temanku di “Kos Arafah” Mbak Nita, Novi, Cibon, Uma, Mbak
       Santi, Yuyun, Annisa, Fina, Rina, Mimin”, terima kasih atas kebersamaan
       kita selama ini.
                                               MOTTO

         


                                                        


           Artinya:”Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka

menahan          pandangannya,              dan       kemaluannya,             dan        janganlah          mereka

Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan

hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya”.


           


                                      


          Artinya Artinya: “Hai nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak

perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan

jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". yang demikian itu supaya mereka lebih

mudah untuk dikenal, Karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha

Pengampun lagi Maha Penyayang.

           (Sumber: Tafsir Al-Ahkam. 2006. Syekh H. Abdul Halim Hasan. Jakarta :

                            Kencana Prenada Media Group. Hal: 538)
                           KATA PENGANTAR




        Segala puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, yang telah

memberikan rahmat, nikmat, taufik serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat

menyelesaikan skripsi ini, yang merupakan salah satu syarat guna memperoleh

gelar Sarjana Pendidikan Islam pada Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan

Agama Islam Universitas Islam Negeri Malang.

        Shalawat serta salam semoga senantiasa terlimpahkan kehadirat

junjungan kita Nabi Muhammad SAW, para sahabatnya serta seluruh

pengikutnya.

        Bukanlah suatu hal yang mudah bagi penulis untuk menyelesaikan

skripsi ini, karena terbatasnya pengetahuan dan sedikitnya ilmu yang dimiliki

penulis. Akan tetapi berkan rahmat Allah SWT dan dukungan serta bantuan dari

berbagai pihak, maka skripsi ini dapat diselesaikan. Oleh karena itu dalam itu

penulis dengan tulus menyampaikan rasa terimakasih kepada:

1. Prof.DR.H. Imam Suprayogo, selaku Rektor Universitas Islam Negeri

   Maulana Malik Ibrahim Malang.

2. Dr.H.M. Zainuddin, M.A, selaku Dekan Fakultas Tarbiyah Universitas Islam

   Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.

3. Drs.H.M. Padil, M.Pd.I Selaku Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam

   Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.
4. Ayahanda Atim dan Ibunda Giyah yang telah rela berkorban menguras tenaga

   dan keringat serta Do‟a yang tak henti-hentinya demi tercapainya pendidikan

   di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

5. Triyo Supriyatno, M.Ag. Selaku dosen pembimbing, atas segala nasehat,

   petunjuk serta kesabaran selama membimbing penulis, sehingga penulis dapat

   menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

6. Segenap keluarga besar ku Mbak Parmi, Mas Abdul, Mas Parlan, Mas Darni,

   Mas Suraji, Mbak Rumini, Mbak Nurmah, Mbak Lis, Mas Adi, Mas Din,

   Mbak Indi, yang telah memberikan do‟a restu dan dukungan baik materiil

   maupun spiritual.

7. Keponakan ku yang paling pintar dan cantik Si Kembar Hana dan Hani, Mas

   Ahmad Dubidu, Paula, Dek Kenza, Riska, Puput, &Dion Spisano..

8. Segenap Bapak dan Ibu Dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang terima

   kasih atas segala bimbingan dan bantuan.

9. Drs. H. Musoli Haris selaku Kepala Sekolah SMA Islam Kepanjen yang telah

   memberikan izin kepada penulis untuk mengadakan penelitian.

10. Yusrotul Diana, S.Ag Selaku guru pendidikan agama Islam di SMA Islam

   Kepanjen Malang terimakasih atas waktu dan kesediaan Ibu dalam

   memberikan informasi dan masukan yang baik.

11. Muhamad Rosuli, SPd selaku guru Penjaskes di SMA Islam Kepanjen

   Malang. Terimakasih atas waktu serta informasi yang telah diberikan kepada

   penulis.
12. Drs. Sulkanaji dan Ibu Dra. Fatimah selaku guru PPKN & Kimia SMA Islam

   Kepanjen terimakasih telah memberi informasi yang dibutuhkan, serta

   masukan-masukan penting yang sangat membantu penulis dalam ini.

   Segenap bapak, ibu guru dan Staf Karyawan khususnya bapak Nyoto AS di

   SMA Islam Kepanjen yang telah membantu kelancaran pelaksanaan

   penelitian.

13. Teman-teman Fakultas Tarbiyah dan semua pihak yang telah membantu dan

   turut serta penulis dalam menyelesaikan skripsi.

   My Best Friend “Kos Wisma Arofah yang terletak di Jl. Joyosuko Timur No.

   10. “The Genk 4 Sekawan” Dabol Mukhlis, Dek Sya, Mpok Helen, & tak

   lupa Jenk Ruly.

14. Dan tak lupa semasa hidup ku yang telah membantu ku selama ni “ Lutfi dan

   Adek Rina tercinta dan tersayang.

      Semoga amal kebaikan mereka dapat diterima serta mendapat balasan dari

Allah SWT. Semoga dicatat sebagai amal yang shaleh dan bermanfaat. Amin.

Besar harapan penulis, semoga skripsi ini bermanfaat bagi masyarakat pada

umumnya dan bagi penulis pada khususnya.

      Walaupun dalam penulisan skripsi ini penulis telah mencurahkan segala

kemampuan, namun penulis mengakui masih banyak kekurangan dan kekhilafan

didalam penyusunan skripsi ini. Kepada semua pihak yang mendapati

ketidaksempurnaan dalam penyusunan skripsi ini, dengan rendah hati penulis

mohon bimbingan untuk kemajuan dimasa mendatang.
      Akhirnya hanya kepada Allah SWT. Penulis senantiasa memohon

maghfiroh dan ridho-Nya atas penyusunan dan penulisan skripsi ini, Amin Ya

Robbal Alamin.




                                               Malang, 6 April 2010




                                                     Penulis
                         DAFTAR TABEL


TABEL I     : TUJUAN SEKOLAH SMA ISLAM KEPANJEN

TABEL II    : DATA SISWA DALA 4 TAHUN TERAKHIR

TABEL III   : SARANA PRASARANA

TABEL IV    : KETENAGAAN

TABEL V     : PENDIDIK


TABEL VI    : PESERTA DIDIK

TABEL VII : SUSUNAN WALI KELAS


                DAFTAR LAMPIRAN – LAMPIRAN


LAMPIRAN I       : HASIL PENELITIAN DI SMA ISLAM KEPANJEN

LAMPIRAN II      : STRUKTUR ORGANISASI SEKOLAH

LAMPIRAN II      : PEDOMAN INTERVIEW

LAMPIRAN III     : DAFTAR NAMA GURU

LAMPIRAN IV      : DAFTAR NAMA WALI KELAS
                                                 DAFTAR ISI



HALAMAN SAMPUL ...................................................................................                 i

HALAMAN JUDUL ......................................................................................              ii

HALAMAN PERSETUJUAN.......................................................................                       iii

HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................                      vi

HALAMAN NOTA DINAS ...........................................................................                    v

HALAMAN PERNYATAAN ........................................................................                      vi

HALAMAN PERSEMBAHAN.....................................................................                         vii

HALAMAN MOTTO .................................................................................... viii

KATA PENGANTAR ....................................................................................              ix

DAFTAR TABEL .......................................................................................... xvi

DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. xiii

DAFTAR ISI ................................................................................................... xiv

ABSTRAK ......................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN .............................................................................                   1

        A. Latar Belakang Masalah ...................................................................             1

        B. Rumusan Masalah.............................................................................           9

        C. Tujuan Penelitian ..............................................................................       9

        D. Kegunaan Penelitian .........................................................................          9

        E. Ruang Lingkup Penelitian ................................................................             10

        F. Sistematika Pembahasan...................................................................             10
BAB II KAJIAN PUSTAKA ........................................................................                  10

       A. Definisi Jilbab ...................................................................................   12

       B. Pandangan Tentang Jilbab ................................................................             17

       C. Motivasi Memakai Jilbab .................................................................             23

       D. Tujuan dan Fungsi Jilbab .................................................................            29

       E. Kriteria Jilbab Menurut Al-Qur‟an dan As-Sunnah .........................                             37

       F. Manfaat Memakai Jilbab ..................................................................             45

       G. Konsep Islam Tentang Jilbab ...........................................................               51

       H. Pengaruh Berbusana Muslimah Terhadap Perilaku Beragama .......                                        65



BAB III. METODE PENELITIAN ..............................................................                       77

       A. Pendekatan dan Jenis Penelitian .......................................................               77

       B. Kehadiran Peneliti ............................................................................       78

       C. Lokasi Penelitian ..............................................................................      79

       D. Sumber data ......................................................................................    79

       E. Teknik Pengumpulan Data ...............................................................               80

       F. Analisis Data.....................................................................................    81

       G. Pengecekan Keabsahan Data ...........................................................                 83

       H. Tahap-tahap penelitian......................................................................          84



BAB IV. HASIL PENELITIAN .................................................................... 87

       A. Paparan Data Dan Hasil Penelitian .................................................... 87

       1. Sejarah SMA ISLAM Kepanjen ....................................................... 87
       2. Visi Sekolah SMAI Kepanjen .......................................................... 91

       3. Tujuan Sekolah SMAI Kepanjen ...................................................... 92

       4. Sarana Prasarana SMA ISLAM Kepanjen ....................................... 94



       B. Penyajian Dan Analisis Data.............................................................. 99

       1. Pengetahuan SMA ISLAM Kepanjen tentang jilbab........................ 99

       2. Motivasi Siswi SMA ISLAM Kepanjen ........................................... 103

       3. Manfaat memakai jilbab bagi SMA ISLAM Kepanjen .................... 107

BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN ......................................... 109

       1. Pengetahuan SMA ISLAM Kepanjen tentang jilbab......................... 109

       2. Motivasi Siswi SMA ISLAM Kepanjen ............................................ 115

       3. Manfaat memakai jilbab bagi SMA ISLAM Kepanjen ..................... 120

BAB VI PENUTUP ........................................................................................ 125

       1. Kesimpulan ......................................................................................... 125

       2. Saran .................................................................................................. 125

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN
                                 ABSTRAK
Ruliana.2010. Motivasi Siswa Memakai Jilbab di Sekolah (Studi Kasus di SMA
ISLAM Kepanjen). Skripsi. Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah,
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Dosen pembimbing:
Triyo Supriyatno, M.Ag.

        Jilbab merupakan kain yang digunakan untuk menutupi badan (kepala,
leher, dan dada) seorang muslimah. Seseorang dengan berjilbab yang mereka
pakai berarti telah menjalankan syari‟at Islam. Pendidikan Agama Islam
mempunyai peranan yang sangat penting dalam pembentukan akhlaqul karimah
seorang siswi. Oleh karena itu perlu adanya penerapan nilai-nilai agama sebagai
benteng dari adanya perilaku yang bersifat negatif. Ada tiga faktor yang dapat
mempengaruhi diri seseorang memakai jilbab antara lain:( (a) Keluarga, (b)
Sekolah, (c)Masyarakat.
        Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana
pengetahuan Siswi SMA Islam Kepanjen tentang jilbab? (2) Bagaimana motivasi
siswi SMA Islam Kepanjen memakai jilbab? (3) Bagaimana manfaat memakai
jilbab bagi siswi SMA Islam Kepanjen?
    Tujuan dilakukannnya penelitian ini adalah untuk mengetahui motivasi siswa
memakai jilbab di sekolah yang sangat diharapkan dari pihak sekolah dalam
rangka pembelajaran dan kedisiplinan seorang perempuan yang sudah baligh
harus menutupi auratnya. Berjilbab tidak boleh menjadi sekedar tren sesaat
sehingga apabila tren tersebut berubah, tetapi seorang wanita muslimah wajib
berjilbab, tidak pernah boleh berubah. Sebab, hukum dalam kitab suci Al-Qur‟an.
        Dan mengapa SMA Islam Kepanjen memakai jilbab hanya hari Rabu dan
Kamis, Karena Kepala Sekolah dan para Guru SMA Islam Kepanjen tidak mau
menekan terlalu keras kepada siswi SMA Islam Kepanjen dan Kepala Sekolah
serta guru-guru pun merasa khawatir apabila ada pendaftaran siswa baru mereka
akan berbondong-bondong memilih sekolah lain yang tidak memakai jilbab. Jadi
dengan tidak adanya peraturan yang terlalu menekan terhadap siswi SMA Islam
Kepanjen maka mereka akan semakin menyukai peraturan itu. Karena tidak ada
unsur paksaan dari pihak sekolah. Apalagi pada saat itu ada salah satu guru yang
belum siap memakai jilbab. Karena sebelumnya guru tersebut mengajar di sekolah
lain yang tidak ada aturan untuk memakai jilbab.
        Akan tetapi para siswi tidak mau menerima alasan itu sehingga pada
Tahun 1996 ada demonstrasi seluruh siswa kepada kepala sekolah bahwa semua
guru perempuan harus memakai jilbab tanpa terkecualian. Akhirnya Kepala
Sekolah dan para guru mendiskusikan keinginan para murid tersebut.
        Dan Alhamdulilah dengan kebiasaan setiap hari Rabu dan Kamis guru
tersebut mengajar siswi yang selalu memakai jilbab sehingga beliau pun sadar
untuk menyesuaikan diri. Menurut penuturan beliau pada semua guru beliau
meminta ijin kepada suaminya untuk selalu memakai jilbab pada saat mengajar di
SMA Islam Kepanjen, dan suami beliaupun menyetujuinya
        Jenis penelitian ini menggunakan kualitatif berupa kata-kata tertulis atau
lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati sehari-hari, untuk
pengumpulan data digunakan dengan metode observasi, wawancara, dan
dokumentasi. Sedangkan analisis datanya menggunakan deskripsi kualitatif yaitu
melalui penjelasan-penjelasan deskriptif sebagai kesimpulan mengenai motivasi
siswa memakai jilbab disekolah (studi kasus di SMA Islam Kepanjen.
        Dari hasil penelitian kami dapat memperoleh kesimpulan bahwa siswi
SMA Islam kepanjen memakai jilbab karena untuk mentaati peraturan sekolah,
terutama kewajiban berjilbab pada hari Rabu dan Kamis. Dan pihak sekolah
sengaja tidak memaksa terhadap setiap siswi karena sekolah juga selalu berharap
mendapatkan murid yang maksimal untuk masa yang akan datang. Saya
menghimbau siswi SMA Islam Kepanjen selalu mentaati peraturan sekolah untuk
berjilbab mengingat kita sebagai seorang muslim menutup aurat adalah wajib.
Karena memakai jilbab dapat menghindarkan diri dari kejahatan.



Kata kunci: Motivasi, Jilbab
                                        BAB I

                                PENDAHULUAN



A. Latar Belakang Masalah

    Salah satu masalah zaman kini ialah soal pakaian wanita. Banyak kita lihat

wanita berpakaian menampakkan aurat, bahkan setengah telanjang. Akibatnya,

tentu saja buruk. Wanita-wanita seperti itu harus dinasihati dengan cara yang

bijaksana, jiwa, dan nafsunya. Ditanamkan rasa Iman ke dalam jiwanya. Setelah

kuat imannya, dia sendiri akan mencari perlindungan dari godaan setan.

    Jadi, ciptakan dulu ketenangan dalam batinnya, setelah itu akan lahir iman dari

dalam jiwanya dalam wujud penampilan lahiriahnya. Keimanan batin harus lebih

diprioritaskan dari keimanan lahiriah. Dari situ akan tampak segala yang baik,

berupa akhlak, budi pekerti, dan tingkah lakunya.

    Tuntunan syariat agama bagi kaum wanita akan lebih memelihara

ketenteraman rumah tangga serta menjaga ketenangan dan keselamatan

masyarakat. Pria dan wanita sama-sama mempunyai nafsu dan daya tarik.

Karenanya, berbusana sebagaimana ketentuan seorang muslimah, berkerudung,

berjilbab, dan menutup bagian tubuh yang bisa menimbulkan rangsangan bagi pria

akan dapat mencegah dari pandangan bebas dan daya tarik laki-laki.1

    Hasrat dan keinginan wanita untuk memiliki pria tidak bisa diatasi. Bila

wanita melihat pemuda gagah, ganteng, bertubuh indah, hormon wanitanya


1
 Syarawi, Muhammad Mutawalli. Anda Bertanya Islam Menjawab. Jakarta: Gema Insan Press,
2007, Hal: 191
menggugah dan timbul hasrat serta syahwatnya. Tetapi pendidikan dan jiwa

agamanya memaksa menahan nafsunya sehingga menekan dan menahan daya

tarik itu. Kalau tidak punya penahan itu, mudah saja hasrat dan keinginan laki-laki

akan tertarik bergabung bersama nafsu wanita, kemudian timbul hubungan bebas.

       Diantara penghormatan Allah, serta penghargaan dan penjagaan martabat

kepada kaum perempuan adalah kewajiban untuk menggunakan pakaian tertutup

(Jilbab) dan menutupi rahasia dan kecantikannya dari mata manusia. Allah juga

mengharamkan perempuan untuk membuka kerudung dan bersolek untuk

menghindarkannya            dari    pandangan      mata     laki-laki,    nafsu    birahi,    serta

kecenderungan yang hina dan sesat sekaligus untuk menjaga martabatnya.2

       Jilbab bukanlah ikatan bagi perempuan, bukan pula tradisi kuno atau bukti

dari keterbelakangan. Kaum perempuan saat ini, harus menyadari kedudukannya

dan membangun sisi                 kemanusiaan dalam          dirinya, sebagai        bukti   dari

penentangannya melawan pakaian yang seronok dan tabiat persolek yang telah

menghancurkan kemanusiaan

       Hikmah dibalik pemakaian jilbab telah melekat dan memberikan hasil yang

baik pada jiwa manusia dalam sebuah masyarakat muslim. Hal tersebut karena

masyarakat muslim telah beriman kepada Allah sebagai Tuhan mereka, Islam

sebagai agama mereka, dan Nabi Muhammad sebagai Nabi sekaligus Rasul bagi

mereka, Sehingga ruh Islam, tujuan, dan nilai-nilainya telah merasuk ke dalam

kehidupan mereka bahkan cara pandang mereka dalam menilai dan menimbang

segala sesuatu pasti dilandaskan pada nilai-nilai keislaman sejati.


2
    Abdullah Al- Taliyadi, Astaghfirullah aurat, Jakarta, 2008, Diva Press,Hal: 107-113
    Maka apa yang dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya, segala sesuatu yang

Allah berikan kepada manusia dan pertimbangan baik dan buruk menurut-Nya

bagi kehidupan mereka di dunia adalah sebuah nilai kebaikan abadi yang tidak

dapat diragukan lagi. Manusia harus memegang dan mempertahankan semuanya

itu dengan sekuat tenaga. Di samping itu, mereka juga harus melaksanakannya

dengan baik. Sekalipun, banyak orang dan berbagai tradisi yang tidak menyetujui,

menghalangi, mengikat, dan menyesatkannya.

    Seharusnya seorang muslim hanya akan mengerjakan segala sesuatu yang

diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Ia tidak akan peduli dan berlalu begitu

saja tanpa harus memperhatikan berbagai godaan dan ajakan manusia yang

menyesatkan mereka dari jalan yang benar. Mereka akan keluar dari hal buruk

yang mungkin terjadi menuju sebuah nilai kebenaran. Inilah nilai keimanan yang

sebenarnya. Sebuah nilai keimanan yang dimiliki oleh kaum mukminin di masa

lalu. Mereka memerintahkan istri-istri mereka yang berasal dari golongan Anshar

untuk bangkit dan melaksanakan perintah Allah.

    Perintah Allah mengenai Berjilbab yang terkandung di dalam Al-Qur‟an

seperti dalam Q.S An-Nur Ayat :313


         

             

         



3
 Syekh. H. Abdul Halim, Tafsir Al-Ahkam, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2006, hal :
539
            

           

              

                                      
     Artinya:”Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka
menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan
perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka
menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya
kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau
putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau Saudara-saudara
laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera
saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang
mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan
(terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.
dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang
mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-
orang yang beriman supaya kamu beruntung. (Q.S An-Nur Ayat :31)

     Jika kita berusaha untuk menelusuri makna kedua ayat di atas, niscaya kita

akan mendapatkan sebuah perintah dan larangan yang datang dari Allah yang

mengharamkan terjadinya pandangan antara laki-laki dan kaum perempuan

apabila       tidak      ada      hubungan           mahram          di    antara       keduanya.          Penyebab

pengharamannya adalah setiap pandangan pasti berakhir dengan tumbuhnya

sebuah keinginan di antara sepasang anak manusia. Setelah kedua pandangan

beradu, keduanya tidak akan mengetahui dan dapat menahan apa yang akan

terjadi setelahnya.

     Jadi pandangan adalah perbuatan yang akan membawa manusia pada pintu

maksiat. Maka, hal tersebut merupakan unsur utama yang mendorong manusia

untuk melakukan zina.
    Oleh karena itu, Rasulullah saw bersabda:” Pandangan merupakan anak

panah yang dilemparkan oleh iblis (Kepada Manusia).” Kemudian Rasulullah

saw. Meneruskan perkataannya: ” Zina mata adalah pandangan.”4

    Kita dapat menyimpulkan bahwa menjaga pandangan memiliki hikmah yang

sangat besar. Dan di dalamnya memiliki faedah untuk menjaga kaum perempuan

dan laki-laki juga dari kerusakan moral.

    Mereka juga tidak mengeluh karena harus menggunakan pakaian tertutup pada

musim panas. Padahal, mereka tinggal di sebuah wilayah yang sangat panas. Akan

tetapi, tidak ada satu pun dari mereka yang mengeluarkan kata-kata yang tidak

enak didengar. Begitulah nenek moyang kita telah melakukan semuanya dengan

ikhlas.   Sayangnya,      perempuan      zaman     sekarang     banyak     yang    berkata,

”Beritahukan kepadaku, apa yang menyebabkan kaum perempuan harus

mempergunakan jilbab. Padahal perempuan-perempuan itu belum merasa cukup

mendapatkan kebebasan dan kemerdekaan.

    Rasanya, agama telah memberitahukan kepada wahai kaum perempuan bahwa

ayat perintah mempergunakan jilbab datang dari Allah. Dan diturunkan melalui

tujuh lapis langit untuk menggerakkan masyarakat yang telah Allah berikan restu

untuk mendapatkan rida-Nya dan Allah memberikan murka kepada orang-orang

yang melawannya.

    Kita harus mengetahui jalan benar yang dapat menjembatani kita ke arah

tersebut sehingga kita dapat menangkap isyarat dan petunjuk tersebut dengan

baik.

4
 Syaikh Mutawalli As- Sya‟rawi, Fiqih Perempuan Muslimah, Jakarta :Sinar Grafindo Offset,
2005, Hal : 154- 156
   Oleh karena itu, kaum perempuan harus melaksanakan hukum dan ajaran yang

telah Allah perintahkan kepada mereka dengan penuh keimanan dengan tujuan

untuk mendapatkan keutamaan yang telah diraih oleh kaum muslimah. Akan

tetapi, karena kadar keimanan berbeda, maka hasil yang didapatkan pun akan

berbeda.

   Diantara mereka ada yang tunduk patuh kepada perintah Tuhannya secara

sempurna. Mereka selalu mengikuti seluruh ajarannya sesuai dengan kehendak-

Nya. Orang-orang seperti itu akan Allah tempatkan di dalam lingkungan surga

yang di sekelilingnya dialiri oleh sungai-sungai yang beragam dan telah

dipersiapkan oleh Allah Yang Maha Kuasa.

   Semua hukum yang telah Allah rancang dan terapkan tersebut bertujuan untuk

menjauhkan manusia dari berbagai kerusakan. Allah berencana untuk membuat

sebuah masyarakat yang damai dan menyebarkan rasa aman dan kedamaian di

seluruh pelosok negeri ini.

   Seperti dijelaskan dalam Q.S An-Nur Ayat 31 kita dapat memahami

bahwasannya Allah telah meletakkan hukum dan batasan tertentu yang dapat

mencegah timbulnya fitnah, sehingga kehidupan bahtera rumah tangga tetap

dalam keadaan aman dan damai. Oleh karena itu, Islam telah melarang kaum

perempuan untuk melakukan segala sesuatu yang dapat memancing fitnah dan

ketertarikan laki-laki lain. Seandainya perempuan mengetahui dan menyadari

bahwa jilbab memiliki hikmah yang sangat mendalam sehingga seandainya Allah

tidak memerintahkannya, maka kaum perempuan akan tetap ramai-ramai

memakai jilbab. Jilbab merupakan jaminan keamanan dan keselamatan hidup.
Seharusnya, setiap perempuan menyadari bahwa kecantikan mereka tidak akan

berlangsung lama. Kecantikan tersebut akan memudar seiring dengan berlalunya

waktu.

   Dan mengapa SMA Islam Kepanjen memakai jilbab hanya hari Rabu dan

Kamis, Karena Kepala Sekolah dan para Guru SMA Islam Kepanjen tidak mau

menekan terlalu keras kepada siswi SMA Islam Kepanjen dan Kepala Sekolah

serta Guru-guru pun merasa khawatir apabila ada pendaftaran siswa baru mereka

akan berbondong-bondong memilih sekolah lain yang tidak memakai jilbab. Jadi

dengan tidak adanya peraturan yang terlalu menekan terhadap siswi SMA Islam

Kepanjen maka mereka akan semakin menyukai peraturan itu. Karena tidak ada

unsur paksaan dari pihak sekolah. Apalagi pada saat itu ada salah satu guru yang

belum siap memakai jilbab. Karena sebelumnya guru tersebut mengajar di sekolah

lain yang tidak ada aturan untuk memakai jilbab.

   Akan tetapi para siswi tidak mau menerima alasan itu sehingga pada Tahun

1996 ada demonstrasi seluruh siswa kepada kepala sekolah bahwa semua guru

perempuan harus memakai jilbab tanpa terkecualian. Akhirnya Kepala Sekolah

dan para guru mendiskusikan keinginan para murid tersebut.

   Dan Alhamdulilah dengan kebiasaan setiap hari Rabu dan Kamis guru tersebut

mengajar siswi yang selalu memakai jilbab sehingga beliau pun sadar untuk

menyesuaikan diri. Menurut penuturan beliau pada semua guru beliau meminta

ijin kepada suaminya untuk selalu memakai jilbab pada saat mengajar di SMA

Islam Kepanjen, dan suami beliaupun menyetujuinya
     Hingga kini sesuai dengan apa yang saya amati ketika mengajar di SMA Islam

Kepanjen semua guru perempuan selalu memakai jilbab.

     Apalagi dengan adanya pendidikan yang sesuai dengan ajaran Islam semakin

banyak siswi yang mau menerima dengan ikhlas memakai jilbab pada waktu hari

Rabu dan Kamis.

     Itulah sebabnya SMA Islam Kepanjen hanya diwajibkan memakai jilbab setiap

hari Rabu dan Kamis. Dan Kepala Sekolah mengharapkan kesadaran yang

setulus-tulusnya tanpa dipaksa.

     Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian

yang berjudul: “ MOTIVASI SISWA MEMAKAI JILBAB DI SEKOLAH

(Studi Kasus Di SMA Islam Kepanjen Malang)



B. Rumusan Masalah

     Berdasarkan latar belakang di atas pembahasan ini akan peneliti fokuskan

pada perumusan tentang Motivasi siswa memakai jilbab di sekolah

1. Bagaimana pengetahuan Siswi SMA Islam Kepanjen tentang jilbab?

2. Bagaimana motivasi Siswi SMA Islam Kepanjen memakai jilbab?

3. Bagaimana manfaat memakai jilbab bagi Siswi SMA Islam Kepanjen?



C. Tujuan Penelitian

     Dengan berpijak pada permasalahan di atas, maka tujuan yang hendak dicapai

dalam penelitian nanti adalah:

1.   Untuk mengetahui pengetahuan Siswi SMA Islam Kepanjen tentang jilbab.
2.   Untuk mengetahui motivasi Siswi SMA Islam Kepanjen memakai jilbab.

3.   Untuk mengetahui manfaat memakai jilbab bagi Siswi SMA Islam Kepanjen.



D. Kegunaan Penelitian

1.   Bagi lembaga

     Memberikan kontribusi dalam meningkatkan motivasi siswa memakai jilbab

di sekolah.

2. Bagi Guru

     Sebagai motivasi guru dalam meningkatkan kepribadian siswa dalam

kehudupan sehari-hari.

3. Bagi Peneliti

     Untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan tentang jilbab sebagai kajian

hukum Islam dan sebagai sumbangsih dari peneliti yang merupakan wujud

aktualisasi peran mahasiswa dalam pengabdiannya terhadap lembaga pendidikan.

4. Bagi Umum

     Mampu menunjukkan kepada masyarakat sekitar bahwa pendidikan agama

diluar sekolah penting dalam pembentukan kepribadian anak dan sebagai

tambahan wacana dalam bidang pendidikan bagi kalangan akademisi terutama

dalam peningkatan mutu pendidikan baik yang formal maupun non formal.



E. Ruang Lingkup Penelitian

     Dalam usaha untuk menghindari terjadinya persepsi mengenai masalah yang

akan peneliti bahas diperlukan adanya pembahasan masalah dalam mengarahkan
penelitian ini. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui proses motivasi siswa

memakai jilbab, akan tetapi ruang lingkup motivasi sangat luas, sehingga

penelitiannya mengambil ketika siswa memakai jilbab di lingkungan sekolah.



F. Sistematika Pembahasan

    Agar pemahaman proposal skripsi ini mudah difahami dan dimengerti, maka

diperlukan pola pembahasan yang sistematis. Pembahasan proposal skripsi ini

terdiri dari beberapa bab dan diantara bab ini terdiri dari sub bab.



BAB I PENDAHULUAN

   Bab pertama adalah pendahuluan yang berisi latar belakang masalah, rumusan

masalah, tujuan penelitian, manfaat         penelitian, ruang lingkup penelitian,

sistematika pembahasan.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

   Bab Kedua dibagian pertama dijelaskan definisi jilbab, kedua Pengetahuan

tentang jilbab, ketiga Motivasi memakai jilbab, Keempat Manfaat memakai jilbab,

Kelima Konsep Islam tentang jilbab.

BAB III METODE PENELITIAN

   Dalam Bab Metode Penelitian ini akan diuraikan mengenai Pendekatan dan

Jenis Penelitian, Kehadiran Peneliti, Lokasi Penelitian, Sumber Data, Metode dan

Pendekatan yang digunakan, Teknik Pengumpulan Data, Metode analisa data,

Pengecekan keabsahan data.
BAB IV HASIL PENELITIAN

   Yaitu menguraikan tentang Pertama deskripsi data yang meliputi Sejarah

SMA Islam Kepanjen, visi, misi, struktur lembaga, sarana dan prasarana, data

guru, dan jadwal kegiatan pelajaran. Kedua Deskripsi hasil penelitian yang

meliputi Bagaimana pandangan Siswi SMA Islam Kepanjen Tentang Jilbab

Ketiga Bagaimana Motivasi Siswi SMA Islam Kepanjen memakai jilbab.

Keempat Bagaimana manfaat memakai jilbab bagi SMA Islam Kepanjen.

BAB V PENUTUP

   Dalam Bab ini dipaparkan Kesimpulan dan Saran-saran sebagai penutup

penulisan penelitian.
                                             BAB II

                                   KAJIAN PUSTAKA



A. Definisi Jilbab

      Secara etimologi kata ‫جهثاب‬            berasal dari bahasa Arab dan bentuk

jamaknya jalabib kata ini juga tercantum dalam Al-Qur’an Surat Al-Ahzab:

59. Berbagai Ahli (baik itu ahli bahasa , hadis maupun Al-Qur’an) juga turut

menyumbangkan              pikirannya       dalam     menerjemahkan           makna      jilbab.

Diantaranya adalah:5

1. Imam Raghib, ahli kamus Al-Qur‟an yang terkenal, mengartikan jilbab

      sebagai pakaian yang longgar yang terdiri atas baju panjang dan kerudung

      yang menutup badan kecuali muka dan telapak tangan.

2. Imam Al-Fayumi, salah satu penyusun kamus Arab mengatakan, bahwa jilbab

      adalah pakaian yang lebih longgar dari kerudung, tetapi tidak seperti

      selendang.

3. Ibnu Mansur juga mengatakan, jilbab adalah selendang atau pakaian lebar

      yang dipakai perempuan untuk menutupi kepala, punggung, dan dada.

4. A. Hassan ahli tafsir mengatakan, bahwa jilbab adalah pakaian yang menutup

      segenap badan atau sebagian dari badan sebelah atas.

5. H.B Jassin salah satu tokoh intelektual menuturkan, jilbab adalah baju kurung

      yang menutup kepala, muka, dan dada.

6. Prof. Quraish Shihab mengartikan sebagai, baju kurung yang longgar


5
    Deni Sutan Bahtiar, Berjilbab dan Tren Buka Aurat, Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2009, Hal. 85
      dilengkapi dengan kerudung penutup kepala.

7. Ibnu Manzhur mendefinisikan jilbab sebagai selendang atau pakaian lebar

      yang dipakai perempuan untuk menutupi kepala, punggung, dan dada.

8. J.S Badudu mengartikan jilbab sebagai sejenis pakaian perempuan yang

      hampir menutupi seluruh tubuhnya, yang terbuka hanya wajah dan tangan.

9. Tim penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa

      mengartikan jilbab sebagai baju kurung yang longgar, dilengkapi dengan

      kerudung, yang menutupi seluruh tubuhnya, yang terbuka hanya wajah dan

      tangan.

10. Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam mendefinisikan jilbab sebagai sejenis baju

      kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, muka, dan dada.

      Sedangkan Ibnu Abbas dan Qatadat mengartikan jilbab sebagai, pakaian yang

menutup pelipis dan hidung meskipun kedua mata pemakainya terlihat, namun

tetap menutup dada dan bagian mukanya. Meskipun jilbab menuai banyak

pendapat akan tetapi kesemua pendapat tersebut mengacu pada satu bentuk

pakaian yang menutup kepala hingga ke dada.

      Kalimat kain kerudung yang dalam bahasa Arab disebut dengan kalimat ‫الخمر‬

adalah bentuk jamak dari kalimat ‫ خمار‬yang memiliki makna penutup kepala.

Adapun kalimat ‫ جيٕب‬yang memiliki bentuk singular ‫ جيب‬mempunyai arti bagian

atas dada atau depan tepatnya kerongkongan.6 Jadi yang diminta untuk ditutupi

adalah dari kepala sampai bagian atas dada.




6
    Syaikh Mutawalli As- Sya‟rawi, op,cit, ha160
    Memakai jilbab adalah kewajiban bagi para muslimah. Oleh karena itu suatu

kewajiban haruslah dilaksanakan, hal ini (memakai jilbab) dapat diqiyaskan

dengan hukum melaksanakan shalat, puasa pada bulan Ramadhan dan hal-hal

yang lainnya. Hal yang harus diluruskan adalah bahwa itu merupakan kewajiban

tetapi masih ada saja yang menganggapnya sepele. Sedangkan yang sudah

memakai seharusnya cara memakainya disesuaikan dengan tuntunan ajaran-ajaran

Islam.

    Jilbab merupakan sesuatu (kain) yang menutupi kepala dan badan, di atas

pakaian luar, yang menutup seluruh kepala, badan dan wajah wanita. Sementara

yang hanya menutupi kepala di sebut Khimar. Maka hendaknya wanita memakai

jilbab yang menutupi kepala, wajah dan seluruh badannya, diatas pakaian luarnya,

sebagaimana telah disebutkan di atas.7 Menurut bahasa jilbab berasal dari bahasa

Arab, yaitu dari kata Jalaba yang berarti menghimpun dan membawa, sedangkan

menurut istilah jilbab adalah sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup

kepala, muka dan dada.

    Dalam tafsir Al-Qur‟an disebutkan tentang maksud jilbab yaitu sejenis baju

kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, muka dan dada.

    Dan dijelaskan pula dalam Al-Qur‟an Surat (Al-Ahzab :59)8


         

                      



7
  Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Asy- Syaikh, Syaikh Abdullah bin Humaid, dkk. Fatwa-
fatwa tentang wanita, Jakarta : Darul Haq, 2006, Hal: 4-15
8
  Al- Jazairi, Syaikh Abu Bakar Jabir, Tafsir Al-Qur’an Al-Aisar jilid 5, 2008, Hal: 856-861
     Artinya: “Hai nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak
perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan
jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". yang demikian itu supaya mereka lebih
mudah untuk dikenal, Karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.
    Dengan demikian dari berbagai pendapat di atas setidaknya kita dapat

menyimpulkan makna jilbab tersebut. Jilbab berarti kain panjang, longgar, dan

tidak tipis yang digunakan untuk menutupi dada dan kepala.

   Keimanan anggota tubuh pasti akan mendahului anggota luar manusia. Oleh

karena itu, kita harus mengisi berbagai kekosongan jiwa yang tidak dapat terlihat

dan tersentuh oleh mata kasat dengan menghidupkan dan membangkitkan sisi

akidah kita. Dari sana, kita akan berjalan secara perlahan untuk menumbuhkan sisi

moralitas menjadi bentuk yang paling indah dan paling ideal. Tentunya, dengan

diiringi oleh keimanan yang sempurna dan kesadaran dalam mempergunakan

busana yang sesuai dengan ajaran semacam ini merupakan unsur utama yang

harus ada di tengah-tengah keluarga muslim. Di samping ini juga merupakan

unsur terpenting pembentuk masyarakat muslim yang ideal.

   Meskipun demikian, dari berbagai terjemahan yang diungkapkan di atas dapat

ditarik benang merah kesimpulan, bahwa yang dimaksud dengan jilbab tersebut

adalah busana muslimah, yaitu suatu pakaian yang tidak ketat atau longgar dengan

ukuran yang lebih besar yang menutup seluruh tubuh perempuan, kecuali muka

dan telapak tangan sampai pergelangan.

    Pakaian tersebut dapat merupakan baju luar semacam mantel yang dipakai

untuk menutupi pakaian dalam, tetapi juga dapat digunakan langsung tanpa

menggunakan pakaian dalam asalkan kainnya tidak tipis atau jarang. Sedangkan

tentang bentuk atau modenya, tidak mempunyai aturan khusus (karena tidak
dirinci oleh Al-Qur‟an maupun hadits). Jadi tergantung kepada kehendak dan

selera masing-masing, asalkan tetap memenuhi syarat dalam hal menutup aurat.9

      Di kalangan bangsa Arab sebelum Islam, maksud pemakaian jilbab berbeda-

beda. Tetapi pada umumnya perempuan yang berjilbab dipandang sebagai

perempuan yang merdeka sehingga mereka tidak akan di ganggu atau diikuti oleh

laki-laki yang mempunyai keinginan jahat, walaupun jilbab pada masa itu hanya

menutupi kepala dengan rambut yang masih tetap terlihat. Pada masa itu, bangsa

Arab menganggap bahwa perempuan yang tidak mengenakan jilbab adalah

perempuan budak atau perempuan bermartabat rendah, sehingga mudah di hina

atau diperlakukan tidak senonoh oleh kaum laki-laki. Dengan mengenakan jilbab,

orang menjadi tahu bahwa perempuan itu adalah perempuan suci dan sopan, yang

tidak dapat diperlakukan semena-mena. Selain itu, pemakaian jilbab juga

dimaksudkan untuk melindungi badan dari suhu udara yang terik maupun debu

padang pasir.

      Bahan yang dipergunakan untuk membuat jilbab biasanya disesuaikan dengan

iklim daerah, status sosial, dan tingkat kemampuan si pemakai. Jilbab ketika itu

biasanya dibuat dari bahan tenunan bulu domba (wol), kain katun, dan sutera.

      Ada yang tebal menutupi badan, dan ada pula yang tipis tembus pandang.

Tetapi setelah kedatangan Islam, sesuai Syariat, jilbab untuk perempuan dibuat

dari bahan yang dapat menutupi aurat.

      Dewasa ini persepsi dan apresiasi mode busana di kalangan perempuan Islam

terbagi dua kelompok. Kelompok pertama adalah kelompok perempuan yang


9
    Nina Surtiretna, Anggun Berjilbab, Bandung, Mizan Media Utama, 2001, Hal: 59
selalu mengikuti derap mode busana tanpa menghiraukan norma Islam dalam hal

menutup aurat. Kelompok kedua adalah kelompok yang kurang begitu peduli

dengan perkembangan mode busana, karena ingin tetap menutup aurat dan

berpendapat bahwa mode memiliki konotasi jahili sehingga bertentangan dengan

norma agama. Yang pertama, karena yang dijadikan standar mode busana

muslimah itu adalah baju kurung, kain sarung, dan kerudung seperti pakaian

pelajar-pelajar pesantren tradisional, lantas mereka beranggapan bahwa busana

muslimah itu out of date, kampungan, ketinggalan zaman, serta tidak praktis.

Sebaliknya, karena mode busana yang berkembang selama ini senantiasa tidak

mengindahkan norma-norma agama, maka kelompok ketiga yang menghapus

garis pemisah ini, agar kedua kelompok tersebut bergabung menjadi kelompok

yang dinamis dalam mengembangkan mode, namun senantiasa memperhatikan

kaidah-kaidah Islamiyah dalam hal menutup aurat.



B. Pandangan Tentang Jilbab

   Islam mengidentifikasikan jilbab bagi kaum wanita sebagai pelindung. Yaitu

melindungi mereka dari berbagai bahaya yang muncul dari pihak laki-laki( Q.S

Al-Ahzab: 59) Sebaliknya, Barat yang nota bene Yahudi dan Nasrani

mengidentifikasikan pakaian sebagai metode atau trend yang justru harus

merangsang laki-laki sehingga mereka bisa menikmati keindahan tubuhnya lewat

mode pakaian yang di kenakannya. Jika kedua pandangan ini digabungkan jelas

sangat kontras dan tidak akan ada kesesuaian. Maka jika ditelusuri lebih jauh,
munculnya kudung gaul ini sebagai akibat infiltrasi budaya pakaian Barat

terhadap generasi muda Islam.

   Pertama, maraknya tayangan televisi atau bacaan yang terlalu berkiblat ke

mode Barat. Faktor ini adalah yang paling dominan. Betapa tidak, semenjak

menjamurnya televisi dengan persaingan merebut pemirsa dan dibukanya

kebebasan pers sehingga menjamurnya berbagai tabloid yang mengumbar mode

buka-bukaan ala Barat menyebabkan munculnya peniruan di kalangan generasi

muda Islam. Akibat lebih jauh, muncullah gaya berjilbab yang sesungguhnya

telanjang yaitu kudung gaul. Hal ini lebih diperparah lagi dengan menjamurnya

rental-rental VCD yang semakin membawa generasi muda memasuki dunia mode

ala Barat.

   Kedua, minimnya pengetahuan anak terhadap nilai-nilai Islam sebagai akibat

dikuranginya jam pendidikan agama di sekolah-sekolah umum. Faktor ini

merupakan realitas yang menyakitkan. Betapa di negara mayoritas Islam yang

seharusnya syari‟at Islam dijunjung tinggi, tapi kenyataannya justru dipinggirkan.

Akibatnya, generasi muda Islam semakin jauh dari Islam dan kehilangan arah

dalam menentukan sikap termasuk cara berpakaian. Tujuan utama dikurangi jam

pelajaran agama agar anak lebih menguasai bidang Iptek untuk mengejar

ketertinggalan dengan dunia Barat.

   Namun pada kenyataannya justru lebih hancur karena mental anak didiknya

kosong dari nilai-nilai agama. Di sisi lain, pendidikan agama di madrasah-

madrasah sepulang sekolah formal saat ini tidak efektif karena perhatian anak

lebih terfokus pada tayangan televisi.
   Ketiga, kegagalan fungsi keluarga. Munculnya fenomena kudung gaul ini

secara tidak langsung menggambarkan kegagalan fungsi keluarga sebagai kontrol

terhadap gerak langkah anak-anak muda. Para orang tua telah gagal memberikan

pendidikan agama yang benar. Parahnya, orang tua sendiri cenderung terbawa

arus modern, terbukti kudung gaul ini telah merambah juga para orang tua dengan

dalih yang sama dengan para remaja mengikuti mode.

   Saat ini, rumah kaum muslimin telah bergeser fungsi dari lembaga pendidikan

informal, tempat mendidik putra-putrinya menjadi anak shaleh, menjadi bioskop,

sekedar tempat nonton, orang tua dan anak sama-sama keranjingan siaran televisi.

Rumah tak juga ubahnya sebagai hotel, hanya sekedar tempat makan. Sementara

itu ruh dari rumah itu sendiri yaitu pendidikan akhlak dan aqidah sudah sangat

jarang diberikan di rumah. Akibatnya, ketika anak keluar rumah, tak ubahnya

sosok kuda yang kehilangan kendali.

    Keempat, peran para perancang yang tidak memahami dengan benar prinsip

pakaian Islam. Sebagaimana kita maklumi, gairah generasi muda Islam setelah

runtuhnya orde baru cukup signifikan. Untuk merespon kecenderungan ini,

banyak para perancang yang sesungguhnya tidak mengerti aturan pakaian Islam,

mencoba merancang pakaian Islam dengan polesan mode yang lagi trend.

Kemudian diadakan fashion show, ditayangkan di televise dan dimuat di tabloid-

tabloid dan berbagai surat kabar.

   Kelima, munculnya para mu‟allaf dikalangan artis atau artis yang baru

mengenakan kerudung. Artis di era modern tak ubahnya seorang Nabi yang segala

tingkah dan ucapannya menjadi “ teladan” bagi fansnya. Ketika sang artis itu
masuk Islam (Mu’allaf) dengan mengenakan kerudung apa adanya, banyak fans

atau penggemarnya yang ikut-ikutan meniru gaya artis tersebut. Atau di era

reformasi ini banyak artis ternama yang mengenakan jilbab, namun tetap

berpakaian ketat. Banyak para penggemarnya yang ikut-ikutan meniru gaya

berjilbabnya. Mereka yang berpakaian ala artis itu dianggapnya remaja gaul.

       Dari lima sebab di atas dapat disimpulkan bahwa dunia Islam, khususnya di

Indonesia tengah dilanda degradasi moral yang terjadi secara berkesinambungan.

Generasi muda dicekoki tontonan instan( Seks, kekerasan dan horror). Akibatnya

berbagai kekerasan dan seks bebas pun melanda Indonesia.10

       Berdasarkan beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa jilbab

adalah pakaian wanita yang longgar yang dapat menutup kepala, muka, dan dada.

Akan tetapi jika makna kata jilbab itu kita tarik dalam konteks ke Indonesiaan,

maka pemahaman terhadap jilbab adalah sebagian dari unsur busana seorang

wanita yang biasa dikenakan untuk menutupi bagian kepala dengan bentuk dan

pola tertentu.

       Kaum wanita memiliki daya tarik atau pesona yang sangat kuat, setiap jengkal

dari organ tubuhnya dari rambut sampai ujung kaki memiliki daya tarik yang amat

kuat terhadap kaum pria. Itulah sebabnya kaum wanita diperintahkan menutupi

seluruh tubuhnya, kecuali wajah dan kedua belah telapak tangannya.

       Wanita     adalah    simbol    keindahan.     Kaum      wanita     cenderung     untuk

mempertunjukkan kecantikannya dan lebih tak acuh dalam memandang tubuh

lawan jenisnya. Kaum wanita suka berhias dan mematut diri untuk menunjukkan


10
     Abu Al-Ghifari, Kudung Gaul Berjilbab Tapi Telanjang, Bandung: Mujahid, 2002, Hal: 17-20
kecantikannya. Jilbab akan membuat kaum wanita lebih terhormat dan

terpandang. Mereka akan terjaga dari gangguan orang-orang usil dan amoral.

Jilbab tidak melarang dan membatasi aktivitas-aktivitas sosial wanita. Bahkan

Islam mewajibkan setiap muslim baik pria maupun wanita untuk menuntut ilmu

dan tidak berpangku tangan serta berdiam diri di rumah saja.

       Di dalam disiplin ilmu fikih, lafal aurat yang mempunyai arti dalam surat An-

Nuur ayat 31 berarti “sebagian anggota tubuh manusia yang dalam pandangan

umum buruk atau malu untuk diperlihatkan dan bila dibiarkan terbuka mungkin

bisa menimbulkan fitnah seksual. Ulama fikih sepakat menyatakan bahwa “aurat

harus ditutup dari pandangan orang dengan pakaian yang tidak tembus pandang

dan tidak membentuk lekukan tubuh. 11

       Dalam konteks pembicaraan tentang aurat wanita, ada dua kelompok besar

ulama masa lampau. Yang pertama menyatakan bahwa seluruh tubuh wanita

adalah aurat, tanpa kecuali. Dan kelompok kedua mengecualikan wajah dan

telapak tangan.

      Indonesia merupakan Negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.

Apabila masyarakat memang memandang jilbab sebagai suatu kewajiban, akan

banyak kita temukan di negara ini yang mengenakan jilbab dalam kehidupan

sehari-hari. Akan tetapi, fakta yang terjadi adalah lebih banyak wanita yang tidak

mengenakan jilbab bila dibandingkan dengan wanita yang mengenakan jilbab. Di

antara wanita yang berjilbab pun masih ada yang mengenakan pakaian yang

tembus pandang atau masih memperlihatkan lekukan tubuh. Mayoritas wanita

11
     Muhammad, Fiqh. Wanita, Jakarta : Pustaka- Al-Kautsar. 1998. Hal : 5 2
berjilbab hanya ada di lingkungan Lembaga Pendidikan Islam. Seperti di sekolah-

sekolah Islam, Perguruan Tinggi Islam dan sebagainya. Di antara masyarakat juga

ada yang memakai jilbab hanya ketika menghadiri acara pernikahan, mengikuti

pengajian di majlis ta‟lim, ketika mengunjungi sanak famili dan lain-lain. Ini

sebagai bukti bahwa ada di antara mereka yang tidak memandang perintah

berjilbab sebagai suatu kewajiban agama.

     Menurut Quraish Shihab dalam bukunya “ Jilbab Pakaian Wanita Muslimah „”

bahwa busana muslimah (Jilbab) mulai dikenal oleh pemeluk agama terutama

Islam pada abab XX, tetapi jilbab kala itu masih belum menjadi trend sehubungan

umat kala itu masih terperangkap dengan kebodohan sekaligus menilai bahwa

jilbab adalah sebuah pakaian yang lucu dan membosankan bahkan dianggap salah

satu busana yang membatasi gerak langkah pergaulan sehari-hari.12

     Walaupun jilbab sudah diterima di dunia namun secara rasional tidaklah

semua negara menerima akan aplikasi dari jilbab tersebut, masih terdapat negara

yang mencoba menghalangi kesucian jilbab itu sendiri. Terdapat banyak negara

yang begitu bencinya terhadap Islam mencoba mengeluarkan tata norma yang

berorentasi pada Islam dan pelarangan untuk mematuhi ajarannya.

     Dari sini kita bisa memperoleh kesimpulan bahwa pemakaian jilbab :

a. Wajib bagi perempuan menutup seluruh tubuhnya, kecuali matanya.

b. Wajib bagi perempuan untuk menutup seluruh tubuhnya, kecuali wajah.




12
  Quraish Shihab, Jilbab Pakaian Wanita Muslimah, , Bandung : PT. Mizan Pustaka, 2007, Hal :
125
c. Wajib bagi perempuan untuk menutup seluruh tubuhnya kecuali wajah, dan

     telapak tangan.13

d. Wajib bagi perempuan muslimah untuk menutup seluruh tubuhnya kecuali

     wajah, telapak kaki, dan telapak tangan.



C. Motivasi memakai jilbab

     Motif adalah daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan

sesuatu. motivasi adalah kondisi-kondisi atau keadaan yang mengaktifkan atau

memberi dorongan kepada manusia bertingkah laku untuk mencapai tujuan.

Berawal dari kata motif itu, maka motivasi dapat diartikan sebagai daya

penggerak yang telah menjadi aktif. 14

     Pengertian motivasi tersebut apabila dikaitkan dengan pemakaian Jilbab

berarti hal-Chal yang mendorong seorang wanita untuk memakai jilbab.

Sehubungan dengan hal tersebut maka hal-hal yang mendorong memakai jilbab

dapat dibagi menjadi dua, yaitu intern dan ekstern, yakni faktor yang berasal dari

dalam diri manusia dan faktor yang berasal dari luar diri manusia.

     Beberapa pengertian dan pendapat berbagai ahli dapat di simpulkan bahwa

motivasi memakai jilbab di sini adalah keseluruhan dorongan, keinginan,

kebutuhan, dan daya yang sejenis yang mengarahkan perilaku yang baik di dalam

memotivasi remaja untuk memakai jilbab di sekolah. Pada kenyataannya akan

membangun tingkah laku dan menjadikan moral yang baik. Dapat pula menjaga

kehormatan dan harga diri seorang wanita.
13
 Muhammad Muhyidin, Membelah Lautan Jilbab, Jogyakarta : Diva Press, 2007, Hal : 22-25
14
  Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007,
Hal : 73
     Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam pemakaian jilbab:

1. Faktor Intern

     Yaitu faktor yang tumbuh dari individu itu sendiri. Karena dalam diri setiap

individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Oleh karena itu memakai

jilbab pun tergantung kepada pendirian masing-masing orang.

2. Faktor Ekstern15

     Yang   dimaksud      dengan    faktor    ekstern    adalah       faktor-faktor   yang

mempengaruhi kepribadian seseorang yang berasal dari luar diri seseorang itu

sendiri.

     Ada tiga faktor yang dapat mempengaruhi diri seseorang memakai jilbab16

a) Keluarga

     Keluarga merupakan tempat anak didik pertama-tama menerima pendidikan

dan bimbingan dari orang tuanya atau anggota keluarga lainnya. Di dalam

keluarga inilah tempat meletakkan dasar-dasar kepribadian pada usia yang masih

muda, karena pada usia ini anak lebih banyak hidup dan berinteraksi dengan

keluarganya. Sehingga keluargalah yang menjadi pendidik dalam membentuk

tingkah laku sehari-hari.

b) Sekolah

     Sekolah merupakan tempat pendidikan formal yang mempunyai peranan

untuk mengembangkan kepribadian anak. Sekolah berfungsi membantu orang tua

untuk membimbing dan mendidik anak. Mereka akan memilihkan sekolah bagi



15
  Op.cit. Hal: 85-90
16
  Bambang Mulyono, Pendekatan Analisis Kenakalan Remaja dan Cara
Penanggulangan,Yogyakarta : PT. BPK Gunung Mulia, 1993, Hal : 26-31
anaknya. Mereka akan memilihkan sekolah yang mengajarkan pendidikan Islam,

baik itu sekolah-sekolah agama atau sekolah umum yang ada pelajaran agama

Islam. Dari sekolah itulah ia akan dididik akan dibimbing oleh guru-gurunya,

dengan demikian anak diharapkan akan memiliki kepribadian yang sesuai dengan

ajaran Islam.

c) Masyarakat

     Masyarakat merupakan pembimbing dan pendidik kepribadian seseorang.

Karena di dalam masyarakatlah kita belajar secara langsung dan tidak langsung.

Secara langsung artinya sesuai dengan apa yang kita lihat pada saat itu. Secara

tidak langsung artinya dengan tidak sengaja kita mendengar ceramah/ pengajian

tentang memakai jilbab.

     Oleh karena itu tujuan memakai jilbab antara lain

a) Melaksanakan ajaran agama secara kaffah (utuh)17

     Setiap muslim wajib melaksanakan ajaran agamanya secara kaffah,

sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur‟an surat Al-Baqarah ayat 208


           

                                                                             
   Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam
keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya
syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”.

     Berdasarkan ayat tersebut di atas disimpulkan bahwa orang yang beriman

wajib mengislamkan hatinya, mengIslamkan ucapannya, mengIslamkan tingkah


17
  Khaulah Binti Abdul Kadir Darwis terjemahan Kathur Suhardi. Bagaimana Muslim Bergaul,
Jakarta, Pustaka Al-Kautsar, 2001, Hal :102
lakunya. Islam kaffah ini sesuai dengan kandungan iman yaitu keyakinan dalam

hati, diucapkan lisan dan dibuktikan dengan amal ibadah yakni melaksanakan

seluruh perintah Allah termasuk memakai jilbab sesuai kesempurnaan wanita

muslimah. Jadi memakai jilbab termasuk bukti mengamalkan ajaran Islam.

b) Berpegang teguh kepada perintah Allah

   Sesuai dengan perkembangan zaman seperti sekarang ini yang semuanya serba

modern berpegang teguh kepada ajaran Islam, seperti perintah untuk memakai

jilbab merupakan suatu perjuangan yang amat berat. Jadi bagi wanita Islam yang

mau memakai jilbab itu sudah berusaha untuk berpegang teguh kepada perintah

agama. Gambaran diatas sedikit banyak sudah melanda pada diri umat Islam yang

tetap berpegang teguh terhadap ajaran agama secara kaffah mulai berkurang sebab

mereka tidak kuat dengan tantangan zaman yang ada contohnya betapa banyaknya

wanita muslim yang rela melepas jilbabnya karena tuntutan pekerjaan malu

dengan teman dan sebagainya. Dengan melihat fenomena tersebut maka wanita

muslim yang berjilbab di tengah-tengah masyarakat yang modern ini adalah

wanita yang berusaha berpegang teguh kepada perintah agama.

Oleh karena itu motivasi memakai jilbab

1. Ingin Mempercantik Diri

   Wanita biasanya akan senang apabila ia dikatakan cantik, meski mungkin hal

ini tidak diucapkannya di bibir bahwa ia suka dikatakan cantik. Hal ini adalah

sunnatullah, karena Allah menciptakan wanita dengan kecenderungan "menarik

hati" laki-laki dengan kecantikannya. Rasulullah pernah memerintahkan seorang

sahabat untuk melihat mata seorang wanita anshar sebelum ia meminangya karena
kata Rasulullah di dalam mata seorang wanita anshar itu terdapat sesuatu yang

membuat seorang laki-laki mempunyai kecenderungan untuk membulatkan tekad

meminangnya.18

      Banyak diantara muslimah yang mengenakan jilbab karena ia merasa cantik

kalau mengenakan jilbab. Keindahan dan kecantikan adalah sunnatullah, Allah

menciptakan sekuntum bunga dengan keindahan, Allah menciptakan hamparan

gunung dengan keindahan, Allah menciptakan dunia dan isinya dengan penuh

keindahan, begitu pula Allah menciptakan wanita dengan penuh keindahan.

      Alasan mengenakan jilbab di kalangan muslimah karena ia merasa cantik

apabila mengenakan jilbab adalah alasan yang wajar. Apalagi sekarang ini banyak

sekali jilbab yang cantik dengan mode yang masih dianggap syar'i. Dari kacamata

laki-laki, memang apabila seorang wanita mengenakan jilbab ia akan terlihat

lebih anggun, cantik dan yang lebih penting lagi ia terlihat lebih berwibawa dan

menyejukkan di matanya dari pandangan syetan.

2. Kebutuhan Aktualisasi Diri

      Alasan kedua kenapa seorang wanita berjilbab adalah menjaga diri dari

pandangan yang dapat menimbulkan syahwat. Sebagai contoh, orang yang bekerja

di lingkungan berjilbab, maka ia akan "memaksakan" dirinya untuk ikut berjilbab.

Dan dengan berjilbab identitas keislaman seorang muslimah dapat diketahui.

      Alasan yang kedua ini tidaklah disalahkan, tetapi dalam suatu skala kadar

"kepatutan" alasan yang masih rendah. Namun demikian dengan seiring

berjalannya waktu ia akan menyesuaikan dengan sendirinya. Sebagaimana dulu


18
     Shodiq Burhan, Engkau lebih cantik Dengan jilbab, Jakarta: Darul- Haq, 2008, Hal :45-49
ketika Rasulullah dari Madinah kembali ke Mekkah dimana ketika itu kekuatan

pasukan Rasulullah tidak mungkin tertandingi oleh pasukan Quraisy Mekkah.

Maka dengan "terpaksa" Abu Sofyan dan penduduk Mekkah lainnya berbondong-

bondong memeluk Islam. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu penduduk

Mekkah menjadi sadar bahwa Islam adalah ajaran yang benar.19

3. Kebutuhan Menjaga Diri

     Sebagaimana Allah wahyukan di Surat Al Ahzab, bahwa jilbab dikenakan

adalah untuk penjagaan diri. Fakta membuktikan, bahwa dengan perempuan

memakai jilbab, tangan-tangan jahil laki-laki atau niat jahat laki-laki yang lain

dapat diminimalisir dengan mengenakan jilbab. Banyak laki-laki jahil yang

mengurungkan niat jahatnya jika "calon korbannya" adalah seorang perempuan

berjilbab. Dan laki-laki lebih terjaga pandangannya dengan wanita yang

mengenakan jilbab.20

4. Menerima dan Melaksanakan Perintah Allah

     Alasan yang keempat adalah seorang muslimah mengenakan jilbab karena ia

melihat bahwa apa yang diperintahkan oleh Allah adalah harus dilaksanakan tanpa

kecuali. Alasan ini timbul karena semata-mata muslimah lebih melihat bukan

suatu kepatutan apabila apa yang diperintahkan oleh Allah di dalam al Quran

tidak dilaksanakannya.21




19
   Murtadha, Muthahhari. Wanita dan Hijab. Jakart. Lentera. 2000. Hal 431-433
20
   Surtiretna, Nina, Anggun berjilbab, Bandung : Mizan, 2001, Hal: 75-78
21
   Deni Sutan Bahtiar, Berjilbab dan Tren Buka Aurat. Yogyakarta : Mitra Pustaka. 2009. Hal :58-
65
D. Tujuan Dan Fungsi Bejilbab

   Seperti diketahui bahwa pamer aurat atau keterbukaan fisik adalah perkara

yang timbul di awal-awal penciptaan manusia sekaligus menjadi ciri manusia

purbakala.   Jilbab   sendiri   timbul    setelah   melewati    beberapa    fase

perkembangannya, baik dari segi keagamaan maupun adab, sebagai pemisah

antara laki-laki dan wanita dan berorientasi pada pembentukan masyarakat mulia

yang bersih dan jauh dari segala keburukan.

   Pamer aurat dan menebarkan keburukan termasuk perbuatan hina yang

menjadi ciri khas iblis, musuh Allah dan musuh manusia seluruhnya. Iblis sendiri

selalu berusaha untuk menjerumuskan manusia ke dalamnya dengan berbagai cara

yang menghanyutkan. Sehingga manusia menjadi mangsa yang mudah

ditaklukkan jika tidak memiliki pertahanan iman yang kuat. Diantara hal-hal yang

membedakan manusia dari binatang adalah bahwa manusia dari binatang adalah

bahwa manusia berpakaian dan suka mengenakan perhiasan.

   Pakaian dan perhiasan termasuk ciri dari kebudayaan dan masyarakat madani.

Sedangkan melepaskan diri dari keduanya adalah perilaku binatang yang menjadi

ciri manusia purbakala.

   Penggunaan jilbab dikhususkan untuk wanita dan tidak untuk laki-laki, karena

wanita pada umumnya menjadi pusat perhatian dan target laki-laki. Karena itu

untuk menjadi kehormatan dan kemuliaannya, wanita tidak boleh keluar rumah

dengan memakai pakaian terbuka, atau berjalan dengan langkah yang genit.

   Wanita akan dihormati dan disegani jika tingkah lakunya sopan dan santun

serta tidak menunjukkan sikap manja. Perintah Islam kepada wanita untuk
mengenakan jilbab dan menghiasi diri dengan akhlak mulia sedikit pun tidak

mengurangi kehormatan dan harga dirinya. Akan tetapi ketentuan ini sangat sesuai

dan selaras dengan falsafah Islam tentang wanita. Menghormati wanita hanya bisa

dilakukan dengan memberi hak-haknya yang sesuai dengan tabiat dan fitrahnya

dan menjaga nama baiknya. Islam selalu berusaha menjauhkan wanita, yang

paling mulia sekalipun, dari hal-hal yang menyebabkan kehinaannya atau merusak

nama baiknya. Karena pengaruh daya tarik seksual pada laki-laki dan wanita akan

semakin menguat seiring dengan semakin seringnya mereka berbaur dan beradu

pandang.

       Semakin banyak faktor yang mendukung timbulnya daya tarik tersebut,

semakin besar pula kemungkinan timbulnya nafsu binatang yang ada pada

keduanya. Seperti keluarnya wanita ke jalan raya dengan memakai pakaian yang

ketat, tipis, dan memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh, serta dengan wajah yang

dihiasi dengan hiasan yang menarik perhatian. Kemudian dia berbaur dengan laki-

laki di pasar-pasar dan tempat-tempat perbelanjaan, perkantoran dan perusahaan

dengan suaranya yang manja dan menimbulkan fitnah. Akhirnya banyak orang di

sekitarnya mabuk kepayang, terjerumus ke dalam lembah kehinaan, dan tunduk

pada bisikan hawa nafsu tanpa peduli lagi pada ketentuan agama atau norma-

norma masyarakat.22

       Hal-hal seperti itulah yang sebenarnya menjatuhkan harga diri dan kehormatan

wanita, dan menjadikannya pusat lingkaran setan yang akan membawa dampak

buruk bagi dirinya dan bagi orang-orang yang ada di sekitarnya.


22
     Fada Abdul Razzak, Bangga Menjadi Muslimah, Jogyakarta, Think, 2005, Hal: 215
      Karena itulah Islam menyuruh wanita untuk menggunakan jilbab di manapun

mereka berada agar harga dirinya terjaga dan tidak menjadi sumber fitnah dan

keburukan bagi orang lain.

      Tujuan berbusana dalam Islam ada dua: pertama untuk menutup aurat, dan

kedua untuk berhias. Karena itulah Allah SWT memberi anugerah kepada

manusia pakaian dan perhiasan yang telah disediakan dengan pengelolaannya.

Dengan demikian, maka pakaian itu memiliki empat fungsi, yaitu:23

1) Melindungi Aurat

2) Melindungi tubuh dari panas dan dingin

3) Menjaga dan melindungi kesucian, kehormatan, dan kemuliaan sebagai

      seorang perempuan

4) Untuk menjaga identitas sebagai perempuan muslimah yang membedakan

      dengan perempuan lain.

      Faktor-faktor yang menyebabkan diantara mereka berjilbab/ kerudung dan

sebagian lagi tidak belum memakai jilbab. Sebenarnya pokok yang menyebabkan

keduanya itu adalah faktor” keimanan”. Iman/ aqidah mereka satu sama lain

saling berbeda sehingga menimbulkan perbedaan dalam bersikap dan bertingkah

laku.

1. Faktor-faktor yang menyebabkan berjilbab/ berkerudung:

a. Karena didasari oleh ilmu, iman, dan takwanya.

b. Karena hendak menonjolkan eksistensi dan perbedaan dirinya dengan maksud

      riya.


23
     Muhammad Muhyidin,op,cit, Hal: 259
c. Karena ditimpa suatu peristiwa yang menyentuh hati.

d. Karena faktor lingkungan, kebudayaan, dan pendidikan yang diterimanya.

e. Karena pengaruh tekanan dari pihak tertentu.

2. Faktor-faktor yang menyebabkan tidak/ belum berjilbab/ berkerudung24

a. Karena kemunafikannya.

b. Karena kebodohannya.

c. Karena penuh dosa dan maksiat yang telah mendarah daging, baik hal itu

     disadari maupun tidak disadarinya.

d. Karena faktor lingkungan, kebudayaan, pendidikan yang mempengaruhinya.

e. Karena pengaruh tekanan dari pihak tertentu.

     Dengan demikian jilbab yang merupakan bagian dari busana muslimah secara

garis besar juga berfungsi sebagai:

1. Pembeda

     Jilbab akan membedakan seorang wanita yang memiliki kehormatan dari yang

lainnya.25Wanita berjilbab harus menjadi contoh kepada setiap wanita baik yang

berjilbab atau tidak. Setiap gaya jalinan jilbab yang dicirikan harus sesuai, cantik,

dan memenuhi tuntutan baik untuk pertemuan atau kerja, jalan-jalan, atau

bersantai. Apabila wanita berjilbab mengenakan jilbab dengan betul dan sesuai

dengan tempatnya, hal itu sangat diharapkan menjadi tindakan dakwah untuk

mengajak wanita lain agar berjilbab sepertinya.26




24
   Mulhandy, Kusumayadi, Enam Pulu Satu Tanya Jawab Tentang Jilbab,Yogyakarta, Semesta,
2006, Hal: 27
25
   Amani Zakariya Ar- Ramadi, Alhamdulilah Putriku Berjilbab, Solo, Zam-zam, 2010, Hal: 21
26
   Yasmin Siddik, Tampil Gaya Dengan Jilbab, Jakarta: PT Agro Media Pustaka, 2007, hal: 12
     Dengan demikian, setiap yang ditampilkan wanita berjilbab umumnya menjadi

contoh segelintir wanita mungkin kurang pengetahuan tentang keterampilan

berjilbab, termasuk pengetahuan dan keterampilan cara menjalin dan modifikasi

gaya jilbab. Mereka belajar dari apa yang mereka lihat.

     Jika setiap wanita berjilbab bersikap prihatin tentang pemakaian jilbab dan

tahu peran dakwah yang dijalankan melalui tampil berjilbab, sudah pasti lebih

banyak lagi wanita yang belum berjilbab timbul keinginannya untuk berjilbab.

Mereka merasa bukan saja dapat memenuhi kewajiban agama, melainkan juga

bangga karena digolongkan dalam kumpulan wanita yang menampilkan imej

wanita berjilbab yang sopan dan anggun.

2. Pembentuk Perilaku

     Fungsi jilbab sebagai pembentuk perilaku, jilbab bisa mengarahkan tingkah

laku orang yang memakainya. Jilbab yang dikenakan karena kesadaran iman, akan

mampu mengontrol setiap sikap dan tindakan yang menjurus kepada maksiat.

Dan karena tingkah laku maksiat ini, maka akan terbentuk tingkah laku yang

penuh ketaatan terhadap nilai-nilai Islam. Dalam berkerudung harus benar-benar

rapat, jangan sampai terjulur meskipun hanya sehelai rambut, baik di depan, di

dekat telinga, maupun di belakang. Kita benar-benar memperhatikan kepada

siapakah perhiasan boleh diperlihatkan.27

     Wanita muslimah yang benar-benar dituntut oleh keimanannya dan menerima

pendidikan Islam yang logis tidak mengenakan jilbab hanya sebagai suatu

kebiasaan atau tradisi yang diwariskan dari ibu atau nenek mereka, seperti pria

27
 Wan Muhammad bin Muhammad Ali, Hijab Pakaian Penutup Aurat Istri Nabi saw,
Yogyakarta, Citra Risalah,
dan wanita yang berusaha menjelaskan tanpa bukti-bukti yang logis. Wanita

muslimah mengenakan jilbab berdasarkan keyakinannya bahwa ini perintah dari

Allah,      yang menunjukkan          perlindungan     bagi    wanita    muslimah,        untuk

menjadikannya memiliki ciri yang berbeda dan menjauhkannya dari imoralitas

dan dosa. Karena itu ia menerimanya dengan sukarela dan dengan kepatuhan yang

kuat.28

3. Pembentuk Emosi

       Dalam aspek emosional, jilbab bisa menumbuhkan rasa cinta dan benci, marah

atau sayang, suka ataupun tidak suka. Dia akan lebih mudah menumbuhkan

perasaan yang positif terhadap sesamanya bila dibandingkan dengan yang tidak

memakai jilbab.

       Dengan demikian seorang muslimah yang mengenakan jilbab akan merasakan

ketenangan di dalam hatinya. Karena pertama, dia sudah menjalankan syari‟ah

Islam yang telah dibebankan kepadanya. Kedua, merasa aman dan tentram dari

gangguan orang-orang jahil dan orang-orang yang suka memfitnah. Ketiga, dia

akan bisa menjaga emosinya apabila akan melakukan perbuatan keji, seperti:

mencuri, berbicara kotor, berbohong dan lain sebagainya.

       Dari ketiga fungsi jilbab diatas (pembeda, perilaku, dan emosi) itu semuanya

saling berhubungan dan saling melengkapi satu sama lain. Jilbab sebagai fungsi

yang pertama agar menjaga kehormatan seorang muslimah dalam arti tidak

melanggar perintah Allah SWT. Bagaimanapun terhormatnya dan sopan tingkah

laku seorang muslimah kalau tidak mampu mengontrol emosinya, maka semua itu


28
     Muhammad Ali Al- Hasyimi, Muslimah Ideal, Yogyakarta, Mitra Pustaka, 2000, Hal: 65
tidak berarti. Menutup aurat dan sopan diperlukan agar identitas sebagai

perempuan baik-baik menjadi jelas bahwa jilbab menjaga kehormatan, tingkah

laku yang sopan dan iman yang kuat, serta mampu mengontrol emosi, sekaligus

perlu dimiliki oleh perempuan muslimah.

   Jilbab dalam ajaran Islam menanamkan suatu tradisi yang universal dan

fundamental untuk mencabut akar-akar kemerosotan moral, dengan menutup pintu

pergaulan bebas. Sungguh, sangat berbeda dengan peradaban Barat yang

mengutamakan kelezatan dan kesenangan pada masa lajang, dan memandang

pernikahan sebagai penjara dan ketertarikan.

   Jilbab sesuai makna harfiahnya, adalah pemisah, dalam pergaulan antara laki-

laki dan wanita. Tanpa adanya pemisah ini, akan sukarlah mengendalikan luapan

nafsu syahwat yang merupakan naluri yang sangat kuat dan dominan. Jiwa

manusia ini betul-betul mudah goyah dan berubah. Sebagaimana manusia tidak

pernah puas dengan kelezatan pemuasan hawa nafsu. Laki-laki tidak pernah puas

memandang paras muka yang cantik dan molek. Wanita juga tidak pernah puas

memamerkan kecantikannya untuk menarik perhatian laki-laki. Tak heran apabila

pergaulan bebas dan seksual di Barat banyak melahirkan penderita-penderita

penyakit jiwa.

   Berkenaan dengan ini, ada satu pertanyaan yang perlu dijawab. Dikatakan

bahwa ajaran-ajaran Islam tidak dibangun berdasarkan perbedaan antara laki-laki

dan perempuan. Tetapi, mengapa kewajiban memakai jilbab ini hanya dibebankan

kepada kaum wanita. Jawabnya adalah wanita yang merupakan simbol keindahan.

Sudah sepatutnya perintah ini ditujukan kepada wanita, bukan kepada laki-laki.
Lagi pula, perintah ini bukan tertuju untuk laki-laki, kenyataannya mereka lebih

lengkap berpakaian daripada wanita. Hal ini tak aneh, mengingat kecenderungan

laki-laki bukanlah pamer tubuh, melainkan memandang (tubuh) lawan jenisnya

     Sebaliknya, kaum wanita cenderung untuk mempertunjukkan kecantikannya

dan lebih tak acuh dalam memandang tubuh lawan jenisnya. Akibatnya, kaum

wanita cenderung berlomba-lomba memamerkan dirinya, sebaliknya kebanyakan

laki-laki tak begitu suka mematut diri. Berhias adalah salah satu keistimewaan

kaum wanita. Dengan catatan, kalaupun sampai ada sementara laki-laki yang juga

memiliki kecenderungan pamer tubuh sedemikian, dan dapat menjadi sumber

fitnah-fitnah seksual.

     Dengan pakaian Islami, kaum wanita akan lebih terhormat dan terpandang.

Mereka akan terjaga dari gangguan orang-orang usil. Bukankah pakaian lengkap,

selalu mengesankan wanita yang mulia dan terhormat, sebaliknya wanita yang

berpakaian terbuka, mengesankan panggilan kepada lawan jenisnya. Namun

dengan memakai jilbab tidak berarti wanita dilarang dan dibatasi aktivitas-

aktivitas sosialnya.

     Bahkan Islam mewajibkan setiap muslim baik pria maupun wanita, untuk

menuntut ilmu, dan tidak berpangku tangan. Sudah jelas bahwa jilbab sama sekali

bukan penyebab kebobrokan masyarakat. Yang benar adalah yang sebaliknya,

kebobrokan masyarakat berakar dan tumbuh di dalam lingkungan pergaulan tanpa

jilbab.29




29
 Husein Shahab, Jilbab Menurut Al-Qur’an Dan As- Sunnah, Bandung, PT Mizan Pustaka, 2008,
Hal: 29
E. Kriteria Jilbab Menurut Al-Qur’an Dan As- Sunnah

1. Menutup seluruh badan30

       Hal diatas dimaksudkan agar pakaian yang dipakai dapat menutupi seluruh

badan kecuali telapak tangan dan wajah. Hal ini karena Islam lebih menitik

beratkan busana sebagai penutup, bukan sebagai perhiasan. Bila menampakkan

perhiasan merupakan larangan, maka dalam hal ini menampakkan letak-letaknya

lebih dilarang, dan seandainya tidak dikenakan busana tentu tampaklah letak-letak

perhiasan, berupa dada, kedua telapak kaki dan betis. Oleh karena itu seharusnya

seorang wanita mengenakan celana yang menutupi betisnya.

       Di jelaskan dalam Al‟Qur‟an surat Al-Ahzab ayat 59 menyatakan bahwa

jilbab itu harus menutupi seluruh anggota badan kecuali yang biasa yang nampak

yaitu muka dan telapak tangan.Adapun yang dimaksud ziinah (perhiasan) yaitu

sesuatu yang diperlihatkan dari seorang wanita, baik itu pakaian, perhiasan seperti

cincin, dan sebagainya yang dikenal sebagai alat kecantikan/ make-up (H. Subhan

Nurdin: 1998)

       Menurut Imam Al-Qurthuby, ziinah, yaitu perhiasan yang sudah melekat pada

irinya seperti raut wajah, kulit, bibir dan sebagainya.Pertama Ziinah Muktasabah

yaitu perhiasan yang dipakai wanita untuk memperindah atau menutupi

jasmaninya, seperti busana, cincin, celak mata, pewarna dan sejenisnya. Maksud

dari perhiasan yang biasa tampak dan boleh diperlihatkan itu, karena tidak

mungkin untuk menyembunyikan atau menutupnya. Seperti wajah pakaian luar

dan telapak tangan.


30
     Abu Al-Ghifari, op,cit, Hal: 53
       Menurut Ibnu Mas‟ud, perhiasan itu ada dua bagian:

a      Perhiasan yang tidak boleh diperlihatkan kecuali kepada suami, yaitu cincin

       (jari-jari tangan) dan wajah.

b      Perhiasan yang boleh ditampakkan pada orang asing yaitu busana bagian

       luarnya.(Mukhtashar Ibnu Katsir 11: 600)

2. Bukan Berfungsi sebagai perhiasan

       Syarat ini berdasarkan firman Allah SWT

ّ ُ َ ُ‫َال ُثْ ِي َ ِي‬
ٍ
َ ٓ‫ٔ ي د ٍ ش َر‬
      Artinya: “Dan janganlah kaum wanita itu menampakkan perhiasan mereka

(Q.S An-Nur:31)

      Berawal dari desakan untuk pamer diri, kaum wanita berlomba-lomba

menampakkan kecantikannya. Minat dan keinginan ini tidak begitu jelas dan

tampak. Ia terpendam di sela-sela hati. Barulah tampak dengan nyata ketika ia

berhias, mengenakan pakaian tipis, dan sebagainya.

Setiap perhiasan yang dikenakan wanita dengan niat menarik perhatian laki-laki.

Bahkan kerudung sekalipun, jika berwarna menyala dan menarik, dengan bentuk

yang indah sehingga menyebabkan setiap laki-laki terpesona memandangnya.

      Dalam hal ini tidak ada batasan khusus yang menetapkan mana yang terlarang

dan mana yang tidak. Perkaranya bergantung pada iman wanita itu sendiri. Ialah

yang harus bertanggung jawab atas dirinya sendiri31. Islam hanya membolehkan

mengenakan perhiasan yang bersih dari niat dan maksud buruk. Pakaian jilbab

sebagaimana disebutkan dalam Surat Al-Ahzab ayat 59 berfungsi sebagai

pelindung wanita dari godaan laki-laki. Hal ini berarti pakaian muslimah (jilbab)

31
     Husein Shahab, op, cit,Hal: 40
tidak boleh berlebihan atau mengikuti trend mode tertentu karena memandang

jilbab bukan perhiasan.

3. Kainnya harus tebal, tidak tipis

    Sebagai pelindung wanita, secara otomatis jilbab harus tebal atau tidak

transparan atau membayang (tipis) karena jika demikian akan semakin

memancing fitnah godaan dari pihak laki-laki.

Rasulullah saw bersabda:

          َ ً ٌ‫ِ ٔ ه ثي ب ق ق ا ض ع ٓ ق ل ي َ ً إ‬                                            ُ َ ‫ٌ َ ً ء تْ ا ت س د َ ه‬
  ‫ِ ّ اسْ َا َ ُِدِ َتِي َكْ ٍ َخَهدْ عََٗ زسْٕلِ اهلل َعََيَْٓا ِ َا ٌ زِ َا ٌ فََعْسَ َ َُْ َا َٔ َا َ َااسْ َاءَ ِ َ انْ َسْأجَ اِذَا‬
                                                     ّ ‫ن ٔ ٓ ِ ٔكّف‬               َ       ‫يصّح ا ي ي ٓ إال‬                ‫ه َد ًح‬
                                  )‫تََغ ِ انْ َ ِيْطَ نَىْ َ ِ َ ٌَْ ُسَٖ ُِْ َا ِ َ ْرَا َٔاشَازَ إَِٗ َجْ ِّ َ َ َيْ ِ (زٔاِ اتٕدأد‬


   Artinya:“Bahkan Asma bin Abi Bakar masuk ke rumah Rasul dengan
mengenakan pakaian yang tipis, maka Rasulullah berkata “Wahai Asma”
sesungguhnya wanita yang telah haid (baligh) tidak diperkenankan untuk dilihat
daripadanya kecuali ini dan ini dengan mengisyaratkan wajah dan tepak
tangan.”( H.R Abu Daud)

   Adapun fenomena kudung gaul yang kini sedang trend di kalangan anak-anak

muda dengan pakaian yang tipis dan serba ketat, hal ini jelas merupakan

pelanggaran berat terhadap syarat jilbab yang diharuskan.

4. Harus longgar, tidak ketat sehingga tidak menggambarkan sesuatu dari

    tubuhnya.

    Pakaian yang ketat akan membentuk postur tubuh wanita ataupun sebagainya.

Wanita yang mengenakan pakaian ketat sehingga dapat membentuk potongan-

potongan postur tubuhnya dan keluar pada perkumpulan-perkumpulan kaum laki-

laki, maka busana itu dikhawatirkan termasuk kategori diantara pakaian-pakaian

telanjang. Termasuk dalam pengertian telanjang adalah seorang wanita yang

mengenakan pakaian yang ketat yang tampak jelas lekuk-lekuk dan bentuk
aslinya. Tidak diragukan lagi bahwa busana tersebut termasuk dalam kategori

pakaian telanjang yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.

   Diantara maksud diwajibkannya jilbab adalah agar tidak timbul fitnah

(godaan) dari pihak laki-laki. Dan itu tidak mungkin terwujud jika pakaian yang

dikenakan tidak ketat dan tidak membentuk lekuk-lekuk tubuhnya. Untuk itu

jilbab harus longgar atau tidak ketat.

5. Tidak diberi wewangian atau parfum

   Wangi-wangian merupakan diantara dua hati yang kotor, yang bertentangan

dengan etika Islam. Islam berdasarkan kehalusan rasa (sensualitas) yang

terpendam di balik wewangian itu menganggapnya sebagai salah satu pintu fitnah.

Islam tidak mengizinkan wanita muslimah berlalu di jalanan menyebarkan aroma

minyak wangi, saat itu menutupi kecantikannya dan perhiasannya, semata-mata

untuk mencegah tergeraknya rangsangan birahi lelaki.

   Syarat ini berdasarkan larangan terhadap kaum wanita untuk memakai

wewangian bila mereka keluar rumah. Rasulullah saw bersabda:

                 ‫ِ ر ْ َ ثى س َ ف َ ه َ ني ُ ز ح ف شْي ٌ ٔكم ع ٍ َيح‬                                                      ً‫اي‬
    ‫َ ُ َا ايْسَاجِ اسْ َعطَسخْ ُ َ خَ َخدْ ًََسخْ عََٗ قْٕوٍ ِ َجِدْٔا ِيْ ََّ َِٓيَ َ ِ َح َ ُ َ َيْ ٍ شَا ِ َ ٌ (زٔاِ اتٕدٔد‬
                                                                                                                    )‫ٔانرٕيد‬
   “ Siapa pun perempuan yang memakai wewangian. Lalu ia melewati kaum

laki-laki agar ia menghirup wanginya, maka ia sudah berzina” (H.R An-Nasa’i)

   Alasan pelarangan ini jelas, yaitu bahwa hal itu akan membangkitkan nafsu

birahi. Para ulama mengikutkan sesuatu yang semakna dengannya seperti pakaian

indah, perhiasan yang tampak dan hiasan (asesoris) yang megah.
6. Tidak menyerupai laki-laki

       Syarat keenam ini didasarkan pada hadits Rasulullah SAW yang melaknat

wanita menyerupai laki-laki, baik dalam bertingkah laku atau berpakaian. Sabda

Rasulullah saw:

                                                ‫َج َس ن ْس سجم‬                     ‫سخم َس ن ْسح‬                  ‫نع َ ُ ل‬
                                  )‫َ ٍََ زسْٕ ُ اهللِ ان َ ُ َ يَهْث ُ ُث َ َ انًَْسْا ِ ذَهْث ُ ُث َحَ ان َ ُ ِ(زٔاِ اتٕدأد‬
      “Rasulullah melaknat pria yang menyerupai pakaian wanita dan wanita yang

menyerupai pakaian laki-laki” (H.R. Abu Dawud)

      Tidak diragukan lagi bahwa salah seorang diantara dua jenis menyerupai pada

jenis lainnya adalah menyimpang dari fisik, serta sebagai bukti bahwa secara

Islam tidak normal lagi. Penyerupaan adalah penyakit yang tidak bisa diobati yang

tertransfer ke dalam budaya kita sebagai konsekuensi dari ikut-ikutan gaya Barat.

Hal ini merupakan hal yang dilarang agama.

      Hal tersebut berdasarkan sebuah Hadits Rasulullah saw yang berbunyi:”

Bukan termasuk golongan kita, perempuan yang menyerupai laki-laki dan laki-

laki yang menyerupai perempuan.”32

7. Tidak menyerupai pakaian wanita kafir

       Syarat ini didasarkan pada haramnya kaum muslimin termasuk wanita

menyerupai orang-orang kafir baik dalam berpakaian yang khas pakaian mereka,

ibadah, makanan, perhiasan, adat istiadat, maupun dalam berkata atau memuji

seseorang yang berlebihan.

                                                                 ٓ ‫ي َسثّ ت َ ف ُٕ ي‬
                                                  )‫ٍَْ ذ ََ َ ِقْٕوٍ َٓ َ ُِْ ًَُا (زٔاِ احًد‬
    Artinya: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk kaum
itu” (HR. Ahmad)



32
     Syaikh Mutawalli As- Sya‟rawi, op,cit, hal: 163
   Sekarang ini banyak wanita muslimah yang merancang busananya dengan

pola yang bertentangan dengan ketentuan syara dan norma-normanya di bidang

busana. Berdasarkan realita yang muncul dewasa ini yang populer di sebut

dengan” mode” dimana ia mengalami perkembangan dan perubahan setiap hari

dari yang buruk hingga yang lebih buruk. Bentuk-bentuk busana wanita dewasa

ini sudah tidak

   Sesuai lagi dengan ajaran-ajaran Islam dan sama sekali tidak pernah dikenal

dikalangan wanita-wanita muslimah. Hal ini terbukti dengan banyaknya pakaian-

pakaian yang apabila dipakai wanita, maka aurat wanita si pemakai akan terlihat

dengan jelas. Tujuan wanita dilarang menyerupai dengan orang-orang kafir,

diantaranya adalah penyerupaan dengan mereka dalam berbusana.

   Syarat ini didasarkan pada haramnya kaum muslimin termasuk wanita

menyerupai orang-orang (wanita) kafir baik dalam berpakaian yang khas pakaian

mereka, ibadah, makanan, perhiasan, adat istiadat, maupun dalam berkata atau

memuji seseorang yang berlebihan.

8. Bukan libas syuhrah (pakaian untuk mencari popularitas)

   Pakaian populer adalah pakaian dimana orang yang memakainya berbeda

dengan pakaian orang lain dari sisi warna, corak atau bentuk dimana ia dapat

menarik perhatian dan pandangan orang lain kepadanya.

   Oleh karena itu sesungguhnya keanehan di dalam pakaian karena keindahan,

keburukan, keabadian atau karena keanehannya. Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyah

berkata “ pakaian kemasyhuran adalah pakaian yang bertujuan menampilkan

ketinggian diri atau merendah diri. Sesungguhnya para salaf yang shalih tidak
menyukai kedua hal tersebut, yaitu meninggikan dan merendahkan harga diri yang

berlebihan.33

       Berdasarkan hadits Ibnu Umar yang berkata: Rasulullah SAW bersabda:

                             ُ ّ ‫د َسّ هلل َ ْب ي نح َ و ق يح ثى ِ ف‬                                            َ ‫ي ن ِس َ ْ َ ش‬
         )‫ٍَْ َث َ ثٕب َْٓسجٍ فِي انْ َُْيَا انْث َ ُ ا ُ ثٕ َ ُرِِ ٍ يْٕ َ ان ِيَا َ ِ ُ َ انْٓةَ ِيْ ِ انْ َازا (زٔاِ اتٕدادأد‬
   Artinya: “ Barangsiapa mengenakan pakaian (untuk mencari popularitas) di
dunia, niscaya Allah mengenakan pakaian kehinaan pada hari kiamat, kemudian
membakarnya dengan api neraka” (H.R Abu Dawud dan Ibnu Majah)

      Libas Syuhrah adalah setiap pakaian yang dipakai dengan tujuan meraih

popularitas (gengsi) ditengah-tengah orang banyak, baik pakaian tersebut mahal

yang dipakaian oleh seseorang untuk berbangga dengan dandan dan perhiasannya,

maupun pakaian yang bernilai rendah dipakai oleh seseorang untuk menampakkan

keudzuhudannya dan dengan tujuan ria.

      Asy- Syaukani berkata dalam “Nailul Authar” (II:94): “Ibnu Atsir berkata :

Syuhrah artinya terlihatnya sesuatu. Maksud dari Libas Syuhrah adalah

pakaiannya terkenal (bermerk) dikalangan orang-orang yang mengangkat

pandangan kepadanya. Ia berbangga terhadap orang lain dengan sikap angkuh dan

sombong.

      Itulah delapan syarat pakaian muslimah, Selanjutnya Syeikh Nashiruddin Al-

Albani menyimpulkan bahwa pakaian muslimah hendaklah menutup seluruh

anggota badannya kecuali wajah dan telapak tangan dengan rincian sebagaimana

dikemukakan di atas, ia sendiri bukan merupakan perhiasan, tidak tipis, tidak

sempit sehingga menumbuhkan bentuk tubuh, tidak disemprot parfum. Tidak

menyerupai pakaian pria atau pakaian wanita-wanita kafir dan bukan merupakan

pakaian popularitas.

33
     Abu Abdullah, Aku Takut Tak Berjilbab, Jakarta: Mirqat, 2010, Hal: 91
      Dengan demikian bahwa perempuan muslimah seyogyanya memakai jilbab

dalam batasan-batasan sebagai berikut:34

1. Bisa menutup rambutnya secara keseluruhan. Sehingga tidak boleh bagi

      perempuan muslimah yang memakai jilbab tetapi masih terlihat ada

      rambutnya yang kelihatan di dahi seperti yang populer kita lihat sekarang ini.

2. Juga bisa menutup leher keseluruhan sehingga menghindarkan diri dari

      tatapan mata laki-laki yang akan membawa gairah seksual ketika melihat leher

      tersebut.

3. Juga bisa menutup dadanya secara mutlak sebab terkadang kita menemukan

      ada anak gadis yang memakai jilbab sedemikian sehingga lehernya masih

      kelihatan, lalu berlanjut pula kelihatan dadanya.

4. Hal ini terjadi sebab ia mengikatkan dua ujung jilbabnya ke belakang

      lehernya. Ini juga perilaku yang tidak Islami dari etika Islam.

5. Juga mengenakan pakaian yang longgar agar terhindar dari tampaknya lekuk-

      lekuk tubuhnya.

      Empat hal tersebut adalah batas-batas pemakaian jilbab bagi perempuan

muslimah. Perempuan muslimah harus memperhatikan dan menerapkan empat hal

tersebut, di saat yang sama ia juga harus memperhatikan sikap, ucapan, dan

perbuatan yang negatif dan dosa.




34
     Muhammad Muhyidin op,cit, Hal: 285
F. Manfaat memakai jilbab

     Secara umum fungsi mengapa manusia menggunakan jilbab adalah35

Memenuhi syarat peradaban sehingga tidak menyinggung rasa kesusilaan

memenuhi syarat kesehatan, yaitu melindungi badan dari gangguan luar, seperti

panas, hujan, angin dan lain-lain.

     Dari sudut sosiologis, jilbab berfungsi sebagai:

1. Menjauhkan wanita dari pergaulan laki-laki

2. Membedakan wanita yang berakhlak mulia dengan wanita berakhlak hina

3. Mencegah timbulnya fitnah dari laki-laki

4. Memelihara kesucian agama wanita yang bersangkutan

     Dalam Al-Qur‟an, Allah SWT menyebutkan beberapa fungsi yaitu :

1. Sebagai penutup aurat

     Sebagai perlindungan diri dari gangguan luar, seperti panas terik matahari,

     udara dingin dan sebagainya.

2. Memenuhi syarat – syarat kesehatan.

     Artinya busana digunakan untuk melindungi tubuh dari gangguan luar karena

     panas matahari, hujan, hawa dingin dan gigitan serangga.

3. Memenuhi syarat – syarat peradapan dan kesusilaan.36

     Artinya busana yang dikenakan sesuai dengan peradapan dimana bertempat

     tinggal sehingga dapat hidup tenang dan nyaman.




35
 Labib Mz, Wanita dan Jilbab, Gresik: CV. Bulan Bintang, 1999, Cet. Ke 1, Hal: 115
36
 Fachruddin, Fuad Mohd, Aurat dan Jilbab dalam Pandangan Mata Islam, Jakarta,
CV. Pedoman Ilmu Jaya,1991, Cet. Ke-2
4. Memenuhi rasa keindahan.

       Artinya busana yang dikenakan untuk memperindah penampilan sehingga

       menarik perhatian orang lain.

5. Menutupi cacat pada tubuh.

       Busana yang dikenakan dapat menutupi cacat atau kekurangan yang ada pada

       tubuh.

6. Menjaga iffah (kesucian diri)

       Jilbab berfungsi untuk menutupi aurat dan menjadikan mereka wanita-wanita

       yang terpelihara karena itu mereka tidak diganggu” dengan berjilbab, niscaya

       orang-orang fasiq tidak lagi mengganggu mereka. bahwa kebaikan seorang

       wanita ketika itu ia tidak lagi mendapat gangguan dengan jilbab tersebut, dan

       aman dari fitnah dan kejahatan.

7. Jilbab adalah bagian dari sifat malu

       Seperti yang dikatakan tentang definisi aurat, yaitu sesuatu yang menimbulkan

       birahi/syahwat,      membangkitkan   nafsu   angkara   murka   sedangkan   ia

       mempunyai kehormatan dibawa oleh rasa malu supaya ditutup rapi dan

       dipelihara.37

8. Jilbab membangkitkan Girrah (rasa cemburu)

       Jilbab juga sesuai dengan rasa cemburu yang telah menjadi kodrat bagi

       seorang laki-laki normal. Yang merasa tidak senang dari tatapan liar kepada

       isteri dan anak-anaknya.




37
     Abu Abdullah, op,cit, Hal: 91
9. Terhindar dari pelecehan

     Banyaknya pelecehan seksual terhadap kaum wanita adalah akibat tingkah

     laku mereka sendiri. Karena wanita merupakan fitnah (godaan) terbesar.

     Sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw,

     “Sepeninggalku tak ada fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada

     wanita.” (HR. Bukhari)

10. Memelihara Kecemburuan laki-laki

     Sifat cemburu adalah sifat yang telah Allah SWT tanamkan kepada hati laki-

     laki agar lebih menjaga harga diri wanita yang menjadi mahramnya. Cemburu

     merupakan sifat terpuji dalam Islam.

11. Akan seperti bidadari surga38

     Dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang menundukkan pandangannya,

     mereka tak pernah disentuh seorang manusia atau jin pun sebelumnya dengan

     berjilbab, wanita akan memiliki sifat seperti bidadari surga. Yaitu

     menundukkan pandangan, tak pernah disentuh oleh yang bukan mahramnya,

     yang senantiasa dirumah untuk menjaga kehormatan diri. Wanita inilah

     merupakan perhiasan yang amatlah berharga.

12. Agar perempuan tetap berwibawa

     Bahwa seorang perempuan yang mengenakan jilbab tersebut adalah menjaga

     kewibawaannya, kehormatannya, dan menghindarkan diri dari gangguan laki-

     laki yang akan berbuat jahat. Walaupun tidak menutup kemungkinan seorang

     perempuan yang tidak menutup auratnya dengan benar dapat memiliki

38
 Fachruddin, Fuad Mohd, Aurat dan Jilbab dalam Pandangan Mata Islam, Jakarta,
CV. Pedoman Ilmu Jaya,1991, Cet. Ke-2
      kewibawaannya, namun dibandingkan dengan perempuan yang tetap menjaga

      aurat kewibawaannya lebih tinggi. Terkadang seorang perempuan ingin

      dihargai orang laki-laki, namun dia sendiri tidak dapat menghargai diri sendiri

      dengan menutup auratnya dengan baik.

13. Agar Tidak mengundang Maksiat

      Kemaksiatan bukan hanya lahir dari pribadi, namun juga ada berbagai hal

      yang menjadikan dari berbuat kemaksiatan. Tindakan kemaksiatan sebenarnya

      tidak hanya sebatas mengumbar nafsu, memamerkan aurat namun

      kemaksiatan banyak macamnya, seperti mabuk, judi, zina, korupsi, dan

      tindakan keji lainnya merupakan kemaksiatan. 39

14. Bahagia dengan janji Allah Azza wa Jalla sebagai sosok yang taat

      Hal yang paling besar yang di capai oleh seorang hamba di dalam hidup ini

      adalah berpredikat sebagai penghuni surga. Seseorang akan menang

      mendapatkannya ridha dan kecintaan kepada Allah Azza wa jalla. Di antara

      sebab seseorang mendapatkan hal tersebut adalah karena Allah dan Rasulnya.

15. Melindungi keluarga dari kehancuran

      Ketiadaan jilbab, tersebarnya perilaku pembauran dengan laki-laki dan duduk

      berduaan merupakan unsur-unsur yang paling berbahaya. Karena seorang

      wanita apabila tidak menutupi perhiasan dan tubuhnya, maka laki-laki pasti

      condong padanya. Banyak sekali terjadi pada para istri dan anak-anak, lalu

      terjadi perceraian antara suami istri, atau kasih sayang yang ada di dalam hati



39
     Deni Sutan Bahtiar, Berjilbab dan Tren buka aurat.Yogyakarta : Mitra Pustaka, 2009, Hal : 54-
58
   suami pada istrinya menjadi lemah. Sebagaimana perhatian seorang ayah juga

   menjadi kendur dengan anak-anaknya dan mereka sibuk dengan kepentingan

   mereka sendiri. Keluarga apabila telah hancur, maka ia berbalik menjadi

   negatif pada masyarakat secara keseluruhan, karena keluarga adalah pondasi

   dan dasar pertama. Apabila seorang wanita menutupi tubuhnya dan berjilbab,

   maka ia telah memiliki kontribusi dalam melindungi keluarga, demikian pula

   dengan masyarakatnya dari keburukan tersebut.

16. Melindungi masyarakat dari penyakit yang mematikan dan bahaya yang

   membinasakan

   Hal tersebut adalah faktor-faktor laki-laki dan perempuan dalam naungan yang

   tidak legal. Dunia berbahaya dan hal tersebut banyak sekali, di antaranya yang

   cukup populer, yaitu hilangnya kekebalan tubuh (AIDS). Penyakit ini dapat

   berpindah dari orang yang mengidapnya kepada orang lain melalui luka atau

   yang lainnya. Penyakit ini juga terkadang berpindah dari seorang ibu kepada

   janinnya. Ini adalah hal-hal yang bahaya yang mengancam masyarakat secara

   keseluruhan.

17. Penyakit-penyakit yang disebutkan adalah bukan satu-satunya penyakit yang

   diakibatkan dari hubungan tersebut.

   Sesungguhnya hal yang terakhir ini merupakan penyebab banyaknya anak-

   anak jalanan di dalam masyarakat. Mereka membawa nilai-nilai kejiwaan

   yang menjadikan mereka di berbagai kesempatan membahayakan masyarakat

   dalam sisi keamanan dan stabilitas. Hubungan tersebut juga sebagai penyebab

   meningkatnya prosentase aborsi, prosentasi perawan tua, rusaknya harga diri,
   percampuran keturunan dan aksi tidak kawin, serta hal-hal lainnya yang

   merusak, dimana masyarakat tidak dapat menghindarinya.

18. Jilbab adalah bukti adanya kekuatan wanita atas kemuliaan dan harga dirinya.

   Kekuatan jiwa seorang laki-laki atas keluarga dan saudara semahramnya yang

   dapat melindungi kehormatan, kemuliaan, dan kesopanan dari setiap pelaku

   kejahatan dan pengkhianatan.

   Dengan demikian jilbab merupakan faktor yang dapat melindungi masyarakat,

karena ia merupakan risalah yang menyerukan pembatasan hubungan laki-laki dan

wanita, sebagaimana yang baru saja di sebutkan.

   Dengan demikian anjuran mengenakan pakaian menutup aurat sangat

memberikan manfaat yang besar bagi pemakainya bahkan masyarakat sekitarnya.

   Terkadang kita hanya memandang sebelah mata terhadap jilbab dan tidak

menilai dari sisi lain mengenai jilbab itu. Menutup kepala hingga dada dan

menggunakan pakaian yang semestinya merupakan salah satu cara untuk

menghindarkan diri dari perbuatan maksiat.

   Islam mewajibkan kaum perempuan muslimah berjilbab:

1. Dengan jilbab, aurat akan tertutupi, terlindungi, dan terjaga dari hal-hal yang

   tidak diinginkan

2. Dengan jilbab pula, perempuan muslimah akan terjaga dan terpelihara

   kesucian, kehormatan, dan kemuliaannya sebagai manusia.

3. Dengan jilbab pula, perempuan muslimah akan lebih bisa berucap, bersikap,

   dan bertindak secara terhormat, berwibawa, tenang, dan anggun.
4. Dengan jilbab pula, identitas perempuan muslimah terbedakan.40



G. Konsep Islam tentang Jilbab

       Wanita muslimah yang senantiasa sadar akan selalu memakai jilbab yang

sesuai dengan ajaran agama. Menurut ketentuan syariat pada diri wanita itu adalah

merupaka aurat kecuali muka dan kedua telapak tangan, maka untuk memenuhi

ketentuan itu bagi wanita diperlukan memakai jilbab.

       Wanita muslimah memakai jilbab yang sesuai dengan ketentuan syariat saat

keluar dari rumah, yaitu mengenakan pakaian yang dapat menutupi aurat, yang

batasannya sudah ditentukan oleh agama berdasarkan pada Al-Qur‟an atau sunnah

Rasulullah saw. Seorang wanita yang juga tidak boleh keluar dari rumah atau

menampakkan diri dihadapan laki-laki yang bukan mahramnya dalam keadaan

bersolek atau memakai wewangian. Dia tidak melakukan hal ini karena

mengetahui bahwa semua itu haram berdasarkan nash Al-Qur‟an yang sudah tidak

dapat diragukan lagi maknanya.

       Wanita muslimah yang memiliki kesadaran dan keteguhan hati seperti inilah

yang bisa meramaikan rumah tangga muslim, mendidik generasi yang utama,

mengisi masyarakat dengan patriot-patriot yang handal dan profesional serta

penuh keimanan dan ketaqwaan.41

       Jilbab bagi wanita ini sebenarnya bukan merupakan masalah baru dalam

syariat Islam. Dalam syariat-syariat Allah sebelum Islam juga sudah ada

ketetapannya. Buktinya adalah ketetapan yang masih tertulis dalam kitab-kitab

40
     Muhammad Muhyidin,op,cit, Hal: 288
41
     Aqis Bil Qishi, Wanita Calon Penghuni Surga, Surabaya: Tiga Dua, 2002, Hal: 187
suci yang lain, sekalipun isinya banyak yang diselewengkan. Kita lihat pakaian

para biarawati dikalangan Nasrani dinegara manapun, termasuk pula dibarat yang

mirip-mirip dengan jilbab dengan Islam.

   Dalam era globalisasi atau era milenium ini antara satu negara dengan negara

yang lain bagaikan tidak ada jarak hingga mengakibatkan berbaurnya atau

bercampurnya antara kebudayaan dalam negeri dengan kebudayaan luar negeri

(asing). Kita lihat saja dinegara kita ini banyak laki-laki maupun wanita yang

meniru gaya-gaya orang asing dari segi berpakaian maupun dalam hal makanan.

Kebiasaan masyarakat modern yang membiarkan para wanitanya berpakaian

secara bebas dan buka-bukaan, merupakan bukti penyimpangan mereka dari

petunjuk Allah SWT, bukan saja di negara Islam tapi juga di negara manapun di

dunia ini. Kita tidak perlu terlalu heran jika orang-orang Barat tidak peduli

terhadap penyimpangan ini, tak ambil pusing dengan munculnya berbagai model

pakaian yang memamerkan aurat wanita, karena mereka memang tidak

mendapatkan tatanan yang pasti dalam kitab mereka yang sudah diselewengkan.

Akan tetapi orang-orang muslim yang senantiasa membaca kitab Allah SWT (Al-

Qur‟an) yang masih asli tidak ada penyelewengan atau perubahan di dalamnya,

tidak boleh ada kelalaian, kelemahan dan meremehkan agama mereka. Sebab

berbagai nash yang kongkrit maknanya di dalam kitab Allah dan sunnah

Rasulnya, yang senantiasa menyentuh jiwa mereka yang menyalahi perintah Allah

dan Rasulnya, bahwasannya di hari akhir nanti pasti ada balasan atau siksaan yang

sangat pedih.
   Akan tetapi tugas yang paling utama bagi wanita adalah mengurus rumah

tangganya. Yaitu melayani suaminya dengan baik serta mendidik anak-anaknya

dengan akhlakul karimah. Wanita yang senantiasa sadar akan selalu menciptakan

rasa ketentraman, kedamaian dan kebahagiaan serta menjadikan bahwa rumah itu

seolah-olah surga bagi seluruh keluarganya.

   Bagi wanita muslimah yang benar-benar beriman akan senantiasa memelihara

dan menjaga kehormatan serta harkat dan martabatnya sebagai seorang wanita

muslimah. Wanita muslimah yang sadar juga akan selalu memperhatikan teman

yang mana dari sekelilingnya yang pantas untuk dijadikan teman, agar tidak salah

dalam memilih teman dalam pergaulan karena dalam jaman-jaman ini banyak

teman yang kelihatannya baik tapi di dalam hatinya menyimpang sejuta kejelekan.

Maka dari itu wanita muslimah yang lurus tidak mau bercampur dengan kaum

laki-laki dan juga tidak terdorong orang lain untuk melakukannya. Tentunya dia

sadar bahwa pergaulan bebas membawa dampak yang kurang baik terhadap kedua

belah pihak. Pada akhir-akhir ini telah nampak kepermukaan bumi dari dampak

yang ditimbulkan oleh adanya pergaulannya secara bebas, misalnya yang

sekarang ini banyak dibicarakan orang-orang di penjuru dunia yaitu penyakit yang

sangat menakutkan dan mengerikan, juga sangat berbahaya yang sampai sekarang

belum diketemukan penawarnya (obatnya). Akan tetapi kuncinya adalah

hindarilah pergaulan secara bebas.

   Dampak dari pergaulan secara bebas ini juga dirasakan oleh orang-orang yang

berkecimpungan dalam dunia pendidikan, misalnya terjadinya kemerosotan atau

menurunnya prestasi belajar.
   Orang-orang barat yang begitu mapan segi ekonominya maupun di dunia

pendidikannya juga merasakan dampak dari adanya pergaulan bebas. Karena itu

mereka sengaja hendak memisahkan anak-anak putri dari anak laki-laki di

berbagai jenjang pendidikan dan lembaga-lembaga sekolah. Akibat adanya

pergaulan bebas ini di berbagai penjuru dunia fakta sudah menunjukkan, yang

kesemuanya itu menyodorkan bukti akurat tentang hikmah ajaran agama Islam

yang membatasi pergaulan ini masyarakat muslim yang tetap berpegang pada

ajaran-ajaran Allah dan Rasul-Nya. Karena dengan cara inilah mereka bisa

menghindari sekaligus menyingkirkan bahaya pada ajaran-ajaran Allah dan Rasul-

Nya agar mencapai keselamatan di dunia dan di akherat.

   Selanjutnya dapat dilihat bagaimana analisa jilbab dalam persfektif islam

bahwa betapa dimuliakannya kaum wanita, islam senantiasa membentuk dan

menjaga nilai-nilai etik pergaulan. Islam tidak membenarkan kaum wanita harus

dipingit dalam rumah seperti tahan, akan tetapi dengan jilbab justru untuk

melindungi mereka dari bahaya dan kekacauan serta untuk memberantas tingkah

laku dalam artian tingkah laku yang tidak pantas.

   Satu hal yang paling fatal adalah dengan tiadanya jilbab dalam artian batasan

pergaulan dan berkembangnya hubungan bebas justru telah menyebabkan

beruntungnya kekuatan masyarakat.

   Jilbab dalam pandangan islam bukanlah berarti mencabut kepercayaan

terhadap mereka akan tetapi suatu upaya dan usaha pemeliharaan kehormatan

mereka agar tidak terjatuh dalam jurang kehinaan. Kedudukan kaum wanita dalam
islam itu betul-betul terhormat yang patut bagi insan yang berakal serta

mengagumi keindahan dan keistimewaan aturan islam ini.

   Keindahan seseorang tidak hanya        bisa dilihat dari lahiriahnya saja atau

sebaliknya, namun kebaikan dari dua sisi tersebut sangatlah dibutuhkan. Apalah

artinya keindahan lahiriah jika tanpa keindahan batiniah, memang kebanyakan

orang yang dinilai pertama adalah lahiriahnya namun lambat laun keindahan

batiniah akan menjadikan orang lain menjauh. Meski dua sisi tersebut saling

melengkapi dan memperindah namun yang lebih berhak untuk disempurnakan

adalah keindahan batiniahnya. Keindahan batiniah secara tidak langsung akan

memberikan pengaruh pada lahiriahnya. Jilbab akan menjadi pelindung diri dari

keburukan luar maupun dalam. Sikap merupakan cerminan hati, dimana hati yang

baik akan melakukan sesuatu yang baik pula, namun sikap yang baik belum tentu

mencerminkan hati yang biak. Misalnya seseorang melakukan kebaikan tetapi

terkadang hatinya terpaksa, tidak ikhlas, pamer, dan mencari popularitas. Maka

dari itu, kesempurnaan yang seimbang (jilbab dan hati) akan menimbulkan

keindahan tersendiri bagi pemakainya dan merasakan keindahan bagi yang

memandang karena adanya perpaduan antara keindahan lahiriah. (menutup aurat)

dan batiniah yang diisyaratkan oleh Allah dengan pakaian takwa. Pakaian lahiriah

ini akan menjadikan pemakaiannya menjadi perempuan yang bertakwa manakala

dalam mengenakannya didasari dengan rasa cinta, taat kepada Allah SWT. Bukan

didasari dengan sifat gengsi, mode, dan seterusnya.

   Perempuan yang mengerti akan hakikat berjilbab tentunya akan menunjukkan

sikap yang lebih penting dari jilbab itu sendiri adalah sikap dan budi pekerti yang
luhur. Apalah artinya jilbab jika sikap sama sekali tidak mencerminkan sikap yang

baik, apalah artinya menutup aurat jika kepribadian tidak pernah ditutupi dengan

kebaikan-kebaikan. Antara jilbab dan sikap luhur merupakan satu paket yang

tidak dapat dipisahkan, karena dua hal tersebut saling melengkapi dan saling

menghiasi. Kita senang sekali meniru sesuatu yang kita lihat.

   Pesan    terdalam   dari   berjilbab   itu   adalah   bagaimana   kita   mampu

menyeimbangkan antara sikap dan jilbab. Ingatlah bahwa peran jilbab tidak hanya

berbatas pada mode-mode, tren, penutup aurat belaka, akan tetapi keluhuran

akhlak tersebut justru akan memperindah perempuan yang memakainya.

Ketahuilah bahwa dalam kehidupan masyarakat kita, nantinya tidak hanya melihat

jilbab kita , akan tetapi justru masyarakat akan menilai keluhuran di balik jilbab

itu. Jika di dalam kehidupan masyarakat ditemukan dua identitas antara

perempuan yang berjilbab tetapi memiliki keluhuran sikap. Maka masyarakat

secara otomatis akan memiliki keluhuran akhlak.

   Dengan kata lain, bahwa keluhuran akhlak jauh lebih penting daripada jilbab

itu sendiri, bagi perempuan-perempuan yang telah terbiasa oleh jilbab. Jilbab

tidak akan berarti apa-apa jika keburukan malah mendominasi sikap, hal yang

demikian justru memperburuk citra perempuan yang menggunakannya. Sesuatu

yang dikatakan indah itu tidak selamanya ditentukan oleh penampilan lahiriahnya

saja, justru yang tidak tampak itulah yang mestinya berdominan. Maka dari itulah

Allah tidak memandang penampilan lahiriah belaka. Nabi bersabda:

   “Sesungguhnya Allah tidak memandang bentuk dan rupamu, dan tidak pula

memandang kekayaanmu, namun Allah memandang hatimu” (H.R Muslim)
   Dengan hadis di atas setidaknya kita dapat mengambil pemahaman, bahwa

keindahan-keindahan lahiriah, sebab terkadang seseorang tidak akan bernilai di

mata Allah jika hati memiliki niat selain kepada-Nya. Allah                  akan

memprioritaskan hati daripada lahiriah, sebab terkadang seseorang yang

melakukan sesuatu hanya didasarkan pada harapan disanjung oleh orang lain.

   Terkadang memang sulit untuk melihat kebaikan batiniah seseorang sebab

sikap ini berada di dalam hati, namun setidaknya kita mampu sedikit melihat

sikap batiniah tersebut lewat kehidupan sehari-hari sebab hati yang baik akan

melakukan sesuatu yang baik. Memang mengenakan pakaian muslimah tidak

hanya sebatas lahiriah belaka namun harus lahir dan batin.

   Kita sering melihat orang-orang yang selalu mengikuti arus hingga terbawa

arus   tidak   akan   mempedulikan     keindahan    batiniahnya,   mereka    lebih

mementingkan penampilan lahir belaka. Tidak mudah memang untuk menjadikan

indah lahir dan batin, ini memerlukan kesadaran, keyakinan, dan pelatihan secara

khusus.

   Kalau kita dipersilakan untuk memilih tentunya kita akan memilih seorang

perempuan yang punya wajah dan kepribadian yang cantik, boleh juga dikatakan

sebagai perempuan yang sempurna, namun teramat sulitlah kita mendapatkan

seseorang yang demikian ini. Oleh karena Allah menciptakan seseorang selalu ada

kekurangan dan kelebihan agar satu sama lain dapat saling melengkapi dan

membutuhkan. Tidak sedikit pula seorang perempuan yang menggunakan jilbab

disebabkan karena tekanan peraturan, mengikuti teman, saudara, menggunakan
tanpa kesadaran. Hal ini pulalah yang mungkin menyebabkan seorang perempuan

tidak benar-benar menjaga auratnya dengan menggunakan jilbab itu.

       Sempurna hati sempurna lahir merupakan sebuah keindahan tersendiri bagi

seorang perempuan, jika seseorang telah melakukan hal yang demikian ini maka

ia sudah berjalan menuju kesempurnaan manusia dan menjadi pembeda antara

keburukan dan kebaikan. Sehingga seseorang yang telah melakukan hal yang

demikian ini maka siapa pun akan menyukainya.42

       Memakai jilbab adalah suatu kewajiban yang apabila dilaksanakan maka akan

berpahala, dan jika ditinggalkannya bukan berarti tidak apa-apa, melainkan

berdosa. Satu kewajiban tidak dapat ditutup oleh kewajiban yang lain, misalnya ia

meninggalkan kewajiban shalat, kewajibannya yang ditinggalkannya itu tidak

dapat diganti dengan kewajiban shaum(puasa) atau zakat atau ibadah apa saja,

tetapi ia akan dikenakan sanksi khusus atas perbuatannya , ia tetap berdosa.

       Ukuran baik atau tidaknya seseorang itu bukanlah diukur dari nasab

keturunannya, tetapi dari ilmu serta iman dan takwanya kepada Allah SWT.

Bukan berarti kalau sudah anak Pak Kyai, Pak Haji, Pak Ustadz, dan lain-lain lalu

dikatakan baik. Tidak! Bukan pula baik itu kalau, sudah sering mengaji, rajin

mendatangkan majlis ta‟lim, khatam Qur‟an dan lain-lain. Tidak! Semua itu tidak

menjadi ukuran baik atau tidaknya seseorang, karena hal tersebut masih bisa

terdapat pada orang-orang munafik.

       Ibadah seseorang dapat diterima menurut prosedur Allah SWT. Maka kita

harus sudah tahu bahwa yang keluar rumah tanpa mengenakan jilbabnya berarti


42
     Deni Sutan Bahtiar, op,cit, Hal: 161
bukan wanita yang bertakwa dan tidak dapat mencegah perbuatan keji dan munkar

(lepas jilbab/buka aurat itu perbuatan keji, dan pengingkaran terhadap ayat-ayat

Allah adalah perbuatan munkar.

       Karena wanita yang tidak berjilbab itu perbuatannya sudah menunjukkan

bahwa shalatnya tidak dapat mencegah dari perbuatan keji dan munkar, shaumnya

tidak dapat mencegah takwa, zakat dan qurbannya tidak dapat mencapai keridhaan

Allah, maka ibadah lainnya pun akan sama halnya seperti itu pula. Meskipun amal

baik dan buruk itu walau sebesar zarrah akan diperhitungkan pula, namun amal

baiknya itu akan terbenam dengan tidak memfaedahkan sedikit pun akan amalan

lain yang ditegakkan bukan atas dasar iman dan takwa.

       Walaupun ia beramal apa saja karena dasarnya bukan karena keimanan dan

ketakwaan kepada Allah maka hasilnya akan menunjukkan gejala antara lain:43

1) Memilih-milih kewajiban yang sesuai dengan kemauannya.

2) Tidak mantap dalam melaksanakan kewajibannya, atau sangat labil.

3) Cepat berkhianat/murtad atau mudah meninggalkan kewajibannya.

4) Malas atau tidak sungguh-sungguh memenuhi kewajibannya.

5) Meringan-ringankan/ menganggap remeh kewajibannya serta tidak memenuhi

       syarat.

6) Terkadang rajin benar melaksanakan kewajibannya serta tidak memenuhi

       syarat.

7) Diingatkan dengan suatu ayat atau hadits yang mengingatkan kewajibannya

       maka ia pun tidak segera beristighfar/bertaubat dan mengubahnya, tetapi


43
     Mulhandy, Kusumayadi,op,cit, Hal: 96
   malah diam atau berusaha untuk menghilangkan tugas kewajibannya dengan

   mendebat atau mengemukakan seribu alasan karena kemunafikannya.



   Orang-orang    yang melaksanakan perintah         Allah SWT tetapi       tidak

melaksanakan sepenuhnya atau hanya sebagian saja sedangkan sebagian yang lain

ia ingkari, misalnya ia hanya mengerjakan kewajiban shalat, zakat dan shaum

saja, sedangkan kewajiban berjilbab tidak ia laksanakan, maka orang itu hanyalah

beriman kepada sebagian yang lain. Orang yang semacam itu di dunia saja sudah

tidak dihargai oleh Allah dan manusia sedangkan di akhirat ia hanya menerima

siksaan berat, walaupun ia mengaku-ngaku dirinya penganut ajaran islam dan

banyak melakukan ibadah-ibadah lainnya.

   Cukup banyak ayat Al-qur‟an yang memerintahkan wanita agar senantiasa

menjaga kesopanan dalam bertutur cara berpakaian dan tingkah laku.

   Semua hukum yang telah Allah rancang dan terapkan tersebut bertujuan untuk

menjauhkan manusia dari berbagai kerusakan. Allah berencana untuk membuat

sebuah masyarakat yang damai dan menyebarkan rasa aman dan kedamaian di

seluruh pelosok negeri ini. Seperti dijelaskan dalam Q.S An-Nur Ayat 31 dari ayat

tersebut kita dapat memahami bahwasannya Allah telah meletakkan hukum dan

batasan-batasan tertentu yang dapat mencegah timbulnya fitnah, sehingga

kehidupan bahtera rumah tangga tetap dalam keadaan aman dan damai. Oleh

karena itu, Islam melarang kaum perempuan untuk melakukan segala sesuatu

yang dapat memancing fitnah dan ketertarikan laki-laki lain.
       Ini merupakan hukum yang sengaja Allah perintahkan kepada kaum

perempuan agar mereka menutupi perhiasan dalam tubuhnya yang dapat membuat

mata laki-laki berpaling kepadanya.



       Semua hukum yang penuh dengan kasih sayang dan rahmat, tentu saja

semuanya akan menunjuk kepada kebaikan. Allah telah membatasi gerak langkah

dan kebebasan kita dalam melakukan berbagai hal, untuk memberikan kita hal-hal

yang baik dan mencegah kita dari hal-hal yang mana yang membahayakannya.

Semua hukum yang telah Allah rancang dan terapkan tersebut bertujuan untuk

menjauhkan manusia dari berbagai kerusakan.

       Allah berencana untuk membuat sebuah masyarakat yang damai dan

menyebarkan rasa aman dan kedamaian di seluruh pelosok negeri ini.

       Islam merupakan agama yang paling sempurna. Islam menekankan agar

menuntut ilmu sehingga dengan adanya ilmu-ilmu agama yang ia dapat, pada

khususnya merupakan sarana untuk memotivasi dalam melaksanakan ajaran-

ajaran Islam yang ia dapatkan baik dari segi pendidikan formal, non formal dan

informal.

       Banyak ahli yang mengemukakan pengertian motivasi dengan berbagai sudut

pandang mereka masing-masing namun intinya sama yakni suatu pendorong yang

mengubah energi dalam diri seseorang ke dalam bentuk aktivitas nyata untuk
                                   44
mencapai tujuan tertentu,               yaitu memakai jilbab sebagai seorang siswi yang


44
     Syaiful Bari Djamarah,. Psikologi Belajar Jakarta: Rineka Cipta, 2002), Hal: 114.
mana sudah mendapatkan pelajaran Pendidikan Agama yang dapat menimbulkan

motivasi sehingga ajaran Islam merupakan sarana untuk memotivasi siswi

memakai jilbab.

   Ajaran Islam berperan penting untuk menimbulkan motivasi kepada para

wanita pada umumnya dan siswi secara khusus. Kandungan ajaran Islam

merupakan langkah awal sebagai pemotivasi karena di dalamnya dijelaskan

bahwa memakai jilbab adalah kewajiban yang kedudukannya sama dengan

perintah-perintah Allah SWT. Selain itu hal yang perlu diluruskan adalah adanya

perbedaan persepsi tentang jilbab itu sendiri. Namun, hal ini bukanlah merupakan

suatu kendala bahwa dapat mengurangi motivasi para wanita muslimah untuk

memakai jilbab.

   Berjilbab merupakan sebuah keindahan, akan tetapi keindahan itu akan hilang

dengan sendirinya jika seseorang menggunakan jilbab namun aurat yang lain tidak

diperhatikan. Menggunakan jilbab dan menutup aurat yang lain. Persoalan

perempuan tidak berhenti pada menggunakan jilbab, akan tetapi wilayah tubuh

yang lain juga perlu diperhatikan. Tidak ada keindahan sama sekali jika seorang

perempuan menggunakan jilbab namun bagian tubuh yang lain masih terlihat oleh

orang lain, menggunakan pakaian yang transparan ataupun ketat. Yang demikian

ini sepertinya sederhana akan tetapi bukanlah persoalan yang sederhana, sebab

dengan sikap itu seseorang dapat dikatakan sebagai orang yang melecehkan

agama, dan memancing orang lain (laki-laki) untuk berbuat asusila.

   Perempuan-perempuan yang terbiasa tidak ada tanggung jawab moral sama

sekali, karena yang ada di dalam pikirannya hanyalah berpikir yang telah
dilakukan. Sementara apa yang telah dilakukan dapat menimbulkan berbagai

persoalan masyarakat, dari mulai zina mata, menggoda, merayu, keinginan

berzina sampai pada keinginan untuk tindak pemerkosaan, dan memilikinya atau

menguasainya.



       Menurut Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, seorang perempuan yang sukar

mengumbar aurat maka akan mendapatkan beberapa keburukan, diantaranya

adalah:45

a      Fitnah (godaan), karena perempuan suka menciptakan fitnah pada dirinya

       dengan mempercantik dan memperindah wajah serta menampakkannya

       dengan penampilan yang membuat fitnah (menggoda ataupun merangsang)

       kaum laki-laki. Hal ini merupakan pemicu kejahatan dan kerusakan.

b. Rasa malu hilang dari perempuan yang menjadi bagian dari iman dan tuntutan

       fitrahnya. Perempuan telah menjadi figur ideal yang terfokus dalam rasa malu.

       Rasa malu yang hilang dari seorang perempuan merupakan indikasi kekerdilan

       imannya dan terlepasnya dari fitrah yang menjadi pembawaan sejak ia

       diciptakan. Jika seorang perempuan telah kehilangan rasa malunya, maka ia

       sudah tidak mau lagi berfikir tentang keburukan dan kebaikan, ia akan

       melakukan apa saja yang menurutnya benar, walaupun sebenarnya benar,

       walaupun sebenarnya menurut pandangan masyarakat salah. Rasa malu

       merupakan salah satu sikap yang dapat menjadi benteng untuk tidak berbuat

       keburukan.


45
     Deni Sutan Bahtiar, op,cit,hal: 90
c. Kaum laki-laki yang terfitnah (tergoda) karenanya seorang perempuan yang

   tidak menutup auratnya akan lebih mudah mengundang ketertarikan laki-laki

   untuk tergoda. Jika demikian, maka laki-laki akan menggodanya, merayu lalu

   setan pun ikut menggodanya. Hingga rasa suka menciptakan keterpautan hati

   perempuan terhadap laki-laki perempuan dan juga keterpautan hati perempuan

   terhadap laki-laki. Kita juga tentunya ingat sebuah ungkapan yang

   mengatakan :” Semua berawal dari pandangan, kemudian salam, lalu bincang-

   bincang, lalu mengikat janji, dan kemudian kencan”. Melalui proses-proses

   inilah antara laki-laki dan perempuan dapat terpancing untuk melakukan

   sesuatu yang hina.

d. Campur baur antara laki-laki dan perempuan. Jika seorang perempuan telah

   memandang dirinya sama wilayah hukumnya dengan laki-laki yang berkaitan

   dengan aurat, maka ia sudah tidak lagi memiliki rasa malu untuk bergaul

   bebas dengan laki-laki. Jika hal yang demikian ini telah menjadi kebiasaan

   bagi kebanyakan orang, maka akan mengundang fitnah dan kerusakan yang

   besar. Pada suatu hari Nabi pernah keluar dari masjid beliau melihat kaum

   perempuan sedang berbaur dengan laki-laki di jalanan, lalu beliau bersabda:

   ” Berjalanlah di belakang, karena kamu (perempuan) tidak berhak memenuhi

   jalan, hendaklah kalian berjalan di pinggir”.



H. Pengaruh Berbusana Muslimah Terhadap Perilaku Beragama

a. Pengaruh Psikologis
    Pengaruh psikologis dalam kaitannya dengan pemakaian busana muslimah

adalah pengaruh yang bersifat kejiwaan bagi pemakaian busana itu sendiri.

    Sebagaimana ditegaskan dalam surat Al-Ahzab ayat 26 bahwa salah satu

fungsi busana muslimah adalah untuk keindahan, oleh karena itu wanita yang

memakai busana muslimah secara psikologis mempunyai rasa percaya diri dalam

hubungannya dengan sesama manusia. Di samping itu kenyataan membuktikan

bahwa busana muslimah secara psikologis mempunyai rasa percaya diri dalam

hubungannya dengan sesama manusia. Di samping itu kenyataan membuktikan

bahwa busana muslimah tetap sesuai dengan perkembangan zaman dan sesuai

dengan perkembangan mode pakaian.

    Islam adalah agama yang sempurna yang mengantarkan pemeluknya menuju

kebahagiaan dunia dan akhirat selama pemeluknya tersebut dapat memeluk Islam

secara kaffah. Memeluk Islam secara kaffah yang dimaksud adalah mengamalkan

ajaran Islam secara sempurna, termasuk memakai busana muslimah. Wanita yang

menggunakan busana muslimah berarti berusaha mengamalkan ajaran Islam

secara kaffah tersebut maka secara psikologis mereka memperoleh ketenangan

batin.

b. Pengaruh Sosiologis

    Pengaruh sosiologis dalam kaitannya dengan pemakaian busana muslimah

maksudnya adalah pengaruh yang bersifat sosial kemasyarakatan bagi pemakai

busana muslimah itu sendiri.

    Sebagaimana ditegaskan dalm surat Al-Ahzab ayat 59 bahwa salah satu fungsi

busana muslimah adalah mempertahankan dan menampakkan identitas sebagai
wanita   muslimah.    Dengan    memakai     busana   muslimah,    wanita   dalam

pergaulannya dengan orang lain di tengah-tengah masyarakat akan dihargai dan

dihormati.

   Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat besar pengaruhnya

terhadap perubahan sikap hidup manusia. Manusia hidup di zaman harus pandai-

pandai mengantisipasi atau mengatasi tantangan tersebut.

   Dalam kaitannya dengan pergaulan sesama manusia harus pandai-pandai

membentengi diri agar tidak tergoda atau digoda oleh laki-laki jahat. Bagi wanita,

salah satu benteng yang dapat dipakai dalam menghadapi godaan adalah

menghiasi diri dengan perilaku baik dan menutupi diri dengan pakaian Islami

yaitu berbusana muslimah. Dengan memakai busana muslimah seorang wanita

muslimah terjaga dari godaan laki-laki.

c. Pengaruh Religius

   Pengaruh religius dalam kaitannya dengan pemakaian busana muslimah

maksudnya adalah pengaruh yang bersifat pengalaman keagamaan bagi pemakai

busana muslimah itu sendiri.

   Salah satu fungsi busana muslimah adalah pengantar tingkah laku manusia

dan mengontrol agama manusia. Setiap orang mempunyai pandangan dan

anggapan bahwa wanita yang berbusana muslimah kualitas ibadahnya lebih tinggi

daripada wanita yang tidak berbusana muslimah. Pandangan dan anggapan

tersebut merupakan hal yang wajar sebab pemakaian busana muslimah merupakan

bagian dari tolak ukur penentu kualitas keislaman seseorang.
     Secara teoritis, wanita berbusana muslimah apabila tidak mempunyai kualitas

ibadah melebihi mereka yang tidak berbusana muslimah tentunya akan merasa

malu, demikian juga wanita yang memakai busana muslimah apabila tidak dapat

menjaga diri dari perbuatan-perbuatan yang dilarang maka berarti sama dengan

membunuh agamanya yang Islam. Dengan demikian secara psikologis, wanita

yang memakai busana muslimah mempunyai beban moral yang tinggi dalam

upaya meningkatkan kualitas keimanan dan keislamannya.

d. Pengaruh Keamanan

     Belakangan ini beberapa media massa ada yang semakin gencar memberitakan

kasus pemerkosaan dan kejahatan seksual lainnya. Dan itu terjadi karena rok mini

anda yang semakin tinggi baju (busana) ketat yang menggambarkan lekuk tubuh

mengundang kemaksiatan kaum adam.

     Berbusana muslimah memelihara kehormatan dan harga diri wanita muslimah

itu sendiri. Dengan demikian agar laki-laki yang bukan mahromnya tidak

sembarangan memandang, memegang apalagi melakukan perbuatan tang tidak

sepantasnya. Berbusana muslimah memberi kenyamanan, keamanan dan terhindar

dari perbuatan-perbuatan maksiat.

     Jilbab ditinjau dari segi Psikologis dan Pendidikan46

a. Tinjauan Psikologis

     Ditinjau secara psikologis, jilbab adalah simbol tentang seperangkat nilai.

Jilbab bukanlah sekedar untaian benang yang membentuk kain, kemudian dipakai

sedemikian rupa untuk menutup aurat wanita. Wanita berjilbab yang ikhlas dalam

46
  H. Ray Sitoresmi Prabuningrat, Sosok Wanita Muslimah, Yogyakarta: PT. Tiara Wacana Yogya,
1997, Hal: 38
berjilbab, akan menemui ketentraman dan kesejukan hati karena tidak lagi merasa

dikejar dosa. Sebagai sebuah simbol, jilbab dapat menjadi self control bagi

perilakunya sendiri. Bila ada dorongan berbuat munkar, maka dengan segera

jilbab yang dikenakannya seakan bicara “Bukankah kau berjilbab?” dan tiba-tiba

saja kita dapat menangis sendiri menyesali niat yang mungkin sedikit

menyimpang.



   Dalam kehidupan modern ini kita tidak dapat hidup menyendiri. Kita hidup

saling bergantung, dan kaum wanita pun dituntut aktif berkiprah diluar rumah.

Wanita harus bekerja pula seperti pria, bahkan kadang-kadang di malam hari.

Ketika hati wanita bertanya-tanya, “siapa lagi pelindungku di luar kamar?” Maka

Allah Yang Maha Melindungi dan Maha Kuasa akan datang menghampirinya.

   Jilbab sebagai lambang ketaatan dan kesalihan, dapat mencegah hati orang

yang ingin berbuat “sembrono” kepada kita.

   Tetapi jilbab bukanlah jimat. Jilbab memang dapat mempunyai pengaruh

kejiwaan bagi manusia baik yang memakainya maupun yang memandangnya,

namun keampuhan jilbab tergantung dari pribadi masing-masing orang. Nasib

jilbab di masa depan tergantung dari pribadinya. Kalau pribadi muslimah

memakai jilbab tetap terjaga, maka citra jilbab akan tetap suci.

b. Tinjauan Aspek Pendidikan

   Mendidik adalah tugas semua manusia. Dalam arti formal pendidikan berujud

pertemuan antara si terdidik dengan pendidik dalam ruang tertentu dengan
menggunakan kurikulum tertentu, dalam rangka mematangkan kecerdasan,

mengembangkan potensi kejiwaan serta mendewasakan dalam bertingkah laku.

   Jilbab dilihat dari segi pendidikan harus diletakkan dalam konteks yang luas.

Sesuai dengan syarat pakaian Islami. Maka jilbab dapat dikatakan sebagai sarana

mendidik, dalam arti jilbab adalah lambang /simbol sikap keteguhan seorang

muslimah dalam memegang keyakinan agamanya. Jilbab hanya akan bermakna

manakala ia dilekatkan pada tubuh seorang wanita yang menghargai nilai dirinya

yang sesuai dengan ajaran Islam.

   Wanita berjilbab seyogyanya secara psikologis mampu menanamkan pada

dirinya sikap taat, jujur, adil, terus terang dan kokoh memegang prinsip sehingga

akan menimbulkan rasa segan bagi siapa saja yang berinteraksi dan bergaul

dengannya. Sehingga dengan berjilbab seorang wanita bisa membangun citra

dirinya sebagai wanita muslimah.

   Hal ini sangat tergantung pada sikap dan perilaku pemakai jilbab dalam

pergaulan hidup sehari-hari. Karena itu berjilbab seyogyanya disertai dengan niat

untuk beribadah kepada Allah, sebagai ketundukan diri kepada Sang Maha

Pencipta. Jika prinsip ini dijalankan saya yakin jilbab dapat bermakna ganda

sebagai memenuhi kewajiban agama dan sebagai upaya mendidik diri untuk selalu

berbuat baik, menghindari tindakan tercela dan yang dapat merusak nama baik

wanita, sesuai ajaran Islam.

   Kalau kita kembalikan kepada ajaran islam tentang berpakaian segera

diketahui bahwa jilbab merupakan salah satu bentuk pakaian, yang di negara kita

dianggap sebagai pakaian wanita Islam atau biasa disebut” busana muslimah”.
Namun demikian kita masih bisa mempersoalkan apakah jilbab memang

merupakan yang paling baik.

   Menurut saya jilbab lebih merupakan produk kebudayaan, karena ajaran Islam

sendiri tidak menentukan corak atau model pakaian secara rinci. Karena ia lebih

merupakan “mode” maka bisa berbeda antara daerah yang satu dengan daerah

yang lain, antara masyarakat “A” dengan masyarakat “B”, tergantung pada selera

masyarakat yang bersangkutan.



   Disamping itu mode pakaian bisa berubah dari waktu ke waktu. Dari ajaran

Islam yang terkandung dalam Al-Qur‟an surat Al-A‟raf ayat 26, Al-Ahzab ayat 59

dan surat An-Nur ayat 31, kita ketahui bahwa pakaian yang bernafaskan taqwa

bagi muslimah mengandung unsur sebagai berikut:

1) Menjauhkan wanita dari gangguan laki-laki jahil (nakal).

2) Membedakan antara wanita yang berakhlak terpuji dengan wanita yang

   berkepribadian tercela.

3) Menghindari timbulnya fitnah seksual bagi kaum pria.

4) Memelihara kesucian agama wanita yang bersangkutan.

   Pakaian yang memenuhi empat prinsip di atas seharusnya memiliki syarat-

syarat menutup seluruh badan (kecuali muka dan telapak tangan), bahan yang

digunakan tidak terlalu tipis sehingga tembus pandang atau transparant, dan

potongannya tidak ketat sehingga menimbulkan semangat erotis bagi yang

memandangnya.
   Jilbab diwajibkan bagi wanita muslim. Hal ini sudah begitu jelas ditulis dalam

kitab suci, dan tidak perlu lagi diperdebatkan. Oleh karena itu, setiap manusia

muslim merasa sedang melakukan ibadah, manakala ia mengenakan pakaian

jilbab. Dalam beribadah, kita sebenarnya berhadapan dengan Tuhan, bukan

dengan lainnya. Maka keikhlasan, ketabahan, kesabaran, dan niat yang teguh

untuk melaksanakan perintah Tuhan itulah yang menjadi pertimbangan utama.

   Munculnya budaya berjilbab di kalangan wanita muda Muslim              karena

pengaruh dan perkembangan diluar negeri. Jilbab bukan sekedar mode

sebagaimana dipersangkakan sementara orang dulu karena ternyata sekarang

busana muslimah semakin digemari, bahkan sebagai pakaian resmi juga telah

biasa. Maka menurut saya, jilbab harus dipandang sebagai aset pembangunan

nasional, karena pengaruh-pengaruhnya yang positif.

   Agar orang tidak beranggapan bahwa busana muslimah itu kuno, maka umat

Islam dituntut untuk menunjukkan kemampuan intelektual, keterampilan, dan

keahliannya di bidang busana, supaya pakaian muslimah senantiasa enak

disandang dan nyaman dipandang, sehingga kita memakainya dengan penuh

keimanan dan ketakwaan.

   Oleh karena itu, beberapa kriteria yang dapat dijadikan standart mode busana

muslimah sebagai berikut:

a. Bagian tubuh yang boleh kelihatan hanya wajah dan telapak tangan (sampai

   pergelangan).

b. Tekstil yang dijadikan bahan busana tidak tipis atau transparan(tembus

   pandang), karena kain yang demikian akan memperlihatkan bayangan kulit
       secara remang-remang.

c. Modelnya tidak ketat, karena model yang ketat akan menampakkan bentuk

       tubuh terutama payudara, pinggang, dan pinggul. Pergunakanlah potongan

       yang longgar agar lebih sehat, dan memberi keleluasaan bagi otot untuk

       bergerak.

d. Tidak menyerupai pakaian laki-laki.

       Dengan hanya ditentukan batas-batas aurat yang harus ditutupi (dan tidak

dengan modelnya), maka busana muslimah memiliki kemungkinan munculnya

rekayasa-rekayasa baru setiap saat, disesuaikan dengan selera dan tempat. Begitu

juga dengan adanya kebebasan kreasi dan ketentuan moral seperti kriteria di atas,

maka seorang muslimah dapat memilih berbagai mode yang cocok dan layak,

yang asri dan serasi, dan anggun penuh santun. Dengan demikian busana

muslimah itu sebenarnya tidak kaku, tetapi cukup fleksibel, bisa disesuaikan

dengan berbagai macam suasana dan tempat.

       Menurut Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah ada beberapa manfaat menahan

pandangan adalah sebagai berikut:47

a. Membersihkan hati dari jeritan penyesalan

       Siapa yang sukar mengumbar pandangan matanya, maka penyesalan yang dia

rasakan tiada henti-hentinya. Pandangan akan menyusup ke dalam hati seperti

anak panah yang meluncur saat dibidikkan. Jika tidak membunuh. Tentu anak

panah akan membuat luka. Atau pandangan itu seperti bara api yang dilemparkan




47
     Abu Al-Ghifari, op,cit, Hal: 91
ke dahan-dahan kering. Jika tidak membakar semuanya tentu ia akan membakar

sebagian diantaranya.

   Ada pula sebuah hadis yang serupa dengan ini, dan bahkan merupakan bagian

darinya, “ Pandangan mata itu (laksana) anak panah beracun dari berbagai macam

anak panah Iblis. Barangsiapa menahan pandangannya dari keindahan-keindahan

wanita, maka Allah mewariskan kelezatan di dalam hatinya, yang akan dia

dapatkan hingga dari dia bertemu dengan-Nya.

b. Mendatangkan kekuatan firasat yang benar

   Menahan pandangan bisa mendatangkan kekuatan firasat, karena firasat itu

termasuk cahaya dan buah dari cahaya. Jika hati bercahaya, maka firasat juga

tidak akan meleset. Sebab hati itu kedudukannya seperti cermin yang

memperlihatkan      seluruh   data   seperti   apa   adanya.   Sedangkan    orang

menghembuskan nafas di cermin hatinya, sehingga cahayanya menjadi pudar.

c. Membuka pintu dan jalan ilmu serta memudahkan untuk mendapatkan sebab-

   sebab ilmu

   Hal ini terjadi karena adanya hati. Jika hati bersinar terang, maka akan muncul

hakikat-hakikat pengetahuan di dalamnya dan mudah dikuak, sehingga sebagian

demi sebagian ilmu itu bisa diserap. Namun siapa yang mengumbar pandangan

matanya, maka hatinya akan menjadi kelam dan gelap. Jalan dan pintu ilmu

menjadi tertutup.

d. Mendatangkan kekuatan hati, keteguhan dan keberanian

   Dengan begitu seseorang yang menahan pandangan matanya bisa menguasai

pandangan itu yang disertai penguasaan. Oleh karena itu, diantara orang yang
mengikuti hawa nafsunya ada yang hatinya menjadi hina dan lemah, jiwanya

kerdil dan tak ada harganya, karena Allah juga menjadikannya orang yang lebih

mementingkan hawa nafsunya daripada keridhaan-Nya.

e. Mendatangkan kegembiraan, kesenangan dan kenikmatan

   Tidak dapat diragukan, jika seseorang menentang hawa nafsunya, tentu

kesudahannya adalah kegembiraan. Kesenangan dan kenikmatan yang jauh lebih

besar dari kenikmatan mengikuti hawa nafsu. Oleh karena itulah akal lebih

menonjol daripada hawa nafsu.

f. Membebaskan hati dari tawanan syahwat

   Sesungguhnya orang yang layak disebut tawanan adalah orang yang bisa

ditawan syahwat dan hawa nafsunya, seperti yang dikatakan dalam sebuah

pepatah “Orang yang mengumbar pandangan matanya adalah seorang tawanan.”

Jika syahwat dan nafsu sudah menawan hati manusia, maka memungkinkan bagi

musuh untuk melancarkan siksaan kepadanya, sehingga dia seperti anak burung di

tangan anak kecil yang memainkan sesuka hati.

g. Menutup pintu neraka Jahannam

   Pandangan mata adalah pintu syahwat yang menuntut pelaksanaannya. Jiwa

manusia tidak menentang tujuan yang sudah diperoleh, lalu dia ingin

mendapatkan kesenangan dalam hal yang baru lagi. Orang yang sudah terbiasa

dengan sesuatu yang pernah ada, tidak menolak untuk menerima sesuatu yang

baru, apalagi jika sesuatu yang baru itu tampak lebih indah.

h. Menguatkan dan mengokohkan akal
     Mengumbar pandangan mata tidak dilakukan kecuali oleh orang yang lemah

akalnya, gegabah dan tidak mempedulikan akibat di kemudian hari. Orang yang

cemerlang akalnya adalah yang bisa mempertimbangkan akibat. Andaikata orang

yang mengumbar pandangan mengetahui akibat perbuatannya, tentu dia tidak

akan berani mengumbar pandangan.

i. Membebaskan hati dari syahwat yang memabukkan

     Mengumbar pandangan mata pasti akan membuat pelakunya lalai terhadap

Allah dan memikirkan hari akhirat serta membuatnya mabuk kepayang dalam

tawanan cinta

     Pandangan mata adalah segelas arak dan cinta yang dapat mabuk bila

meminumnya. Mabuk cinta jauh lebih parah daripada mabuk karena arak. Orang

yang mabuk karena arak bisa segera sadar kembali. Tetapi orang yang mabuk

cinta jarang yang bisa sadar kembali, kecuali jika dia sudah berada di ambang

kematian.

     Faedah menahan pandangan mata dan bencana mengumbarnya jauh lebih

banyak dari apa yang kami sebutkan di sini. Ini hanya dimaksudkan untuk

memberi peringatan, terutama pandangan yang tertuju kepada sesuatu yang tidak

dibutuhkan menurut ketentuan syariat.

     Dari segi etika pemakaiannya sendiri, Islam menetapkan hal-hal yang ringan

sebagai berikut:

1. Perempuan muslimah hanya dituntut untuk menutup rambutnya, leher, dan

     dadanya.

2.   Perempuan muslimah tidak perlu menutup wajah dan telapak tangannya.
3. Perempuan muslimah dituntut untuk mengenakan pakaian secara longgar

      sehingga menghindarkan diri dari tatapan liar, buas, dan ganas dari laki-laki

      yang bukan muhrim.

4. Perempuan tetap bisa menampakkan perhiasannya yang biasa tampak (cincin,

      gelang, kutek, lipstick, dan make-up) 48




48
     Muhammad Muhyidin,op,cit, Hal: 289
                                         BAB III

                             METODE PENELITIAN



A. Pendekatan Dan Jenis Penelitian

1. Pendekatan Penelitian

     Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Menurut Bogdan dan

Taylor mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang

menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang

dan perilaku yang dapat diamati.

     Menurut Denzin dan Linclon 1987 menyatakan bahwa penelitian kualitatif

adalah penelitian yang menggunakan latar alamiah. Dengan maksud menafsirkan

fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan jalan melibatkan berbagai metode

yang    ada.49    Penelitian    kualitatif   menggunakan        metode      kualitatif   yaitu

pengamatan, wawancara, atau penelaah dokumen. Metode kualitatif ini digunakan

karena beberapa pertimbangan: Pertama menyesuaikan metode kualitatif lebih

mudah apabila berhadapan dengan kenyataan.

     Kedua Metode ini menyajikan secara langsung hakikat hubungan antara

peneliti dan responden. Ketiga metode ini lebih peka dan lebih dapat

menyesuaikan diri dengan banyak pengaruh bersama terhadap pola-pola yang

dihadapi.50




49
   Lexi J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung : PT. Remaja Rosda Karya, 2006),
Hal.5-6
50
   Ibid, Hal. 9-10
2. Jenis Penelitian

     Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus (case

study). Nana Syaodih S Menjelaskan bahwa studi kasus merupakan suatu

penelitian yang dilakukan terhadap suatu kesatuan sistem. Kesatuan ini dapat

berupa program, kegiatan, peristiwa, atau sekelompok individu yang terikat oleh

tempat, waktu atau ikatan tertentu.51

     Secara singkatnya studi kasus adalah suatu penelitian yang diarahkan untuk

menghimpun data, mengambil makna, memperoleh pemahaman dari kasus

tersebut.

     Dalam hal ini kami ingin sekali meneliti tentang pemakaian jilbab oleh para

siswi di SMA ISLAM Kepanjen.



B. Kehadiran Peneliti

     Dalam penelitian kualitatif, peneliti sendiri atau dengan bantuan orang lain

merupakan alat pengumpul data utama. Kedudukan peneliti dalam penelitian

kualitatif   cukup    rumit,    ia   sekaligus    merupakan      perencana,     pelaksana,

pengumpulan data, análisis, penafsir data, dan pada akhirnya ia menjadi pelapor

hasil penelitiannya.52

     Kehadiran peneliti di lapangan merupakan hal yang sangat penting, sebab

penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang pada prinsipnya

pendekatan kualitatif sangat diperlukan kehadiran peneliti untuk melihat dan

mengamati SMA ISLAM Kepanjen.
51
   Nana Syaodih S, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung : PT Remaja Rosda Karya Offset,
2007), Hal. 64
52
   Moleong, op cit, Hal. 168
C. Lokasi Penelitian

     Lokasi penelitian ini tepatnya berada di SMA ISLAM Kepanjen Jl.

Diponegoro 152 Ardirejo Kepanjen – Malang. Kami tertarik sekali untuk

melakukan penelitian di sekolah tersebut untuk mengetahui tentang Motivasi

Siswa memakai jilbab di sekolah. Karena meskipun sekolah ini merupakan

sekolah umum akan tetapi banyak sekali para siswinya yang memakai jilbab.



D. Sumber Data

     Sumber data adalah subjek dari mana data dapat diperoleh. 53Jadi sumber data

itu menunjukkan asal informasi. Data itu harus diperoleh dari sumber data yang

tepat. Jika sumber data itu tidak tepat, maka mengakibatkan data yang terkumpul

menjadi tidak relevan dengan masalah yang di teliti. Adapun sumber data yang

dimanfaatkan dalam penelitian ini ada dua yaitu:

1. Sumber data primer

     Sumber data primer adalah sumber data yang diperoleh secara langsung dari

lapangan.54 Data primer merupakan sumber-sumber dasar yang merupakan buku

atau saksi utama dari kejadian yang lain. Jadi data primer ini diperoleh secara

langsung melalui pengamatan di lapangan.

     Dalam hal ini yang menjadi sumber data primer adalah:

a    Kepala Sekolah

b    Waka Kesiswaan

c    Guru Agama, dan
53
   Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta : Rineka Cipta,
2002), Hal. 107
54
   Moh. Nazir, Metode Penelitian, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2005), Hal, 50
d      Beberapa siswi yang berjilbab.

2. Sumber data Sekunder

       Sumber data sekunder adalah sumber dari bahan bacaan.55Maksudnya data

yang digunakan untuk melengkapi data primer yang tidak diperoleh secara

langsung dari kegiatan lapangan. Data ini berupa gambaran umum tentang obyek

penelitian yakni tentang latar belakang obyek penelitian, visi dan misi, struktur

organisiasi dan lain-lain.



E. Tehnik Pengumpulan Data

1. Metode Observasi

       Di dalam psikologik, observasi atau yang di sebut pula dengan pengamatan,

meliputi       kegiatan     pemuatan      perhatian    terhadap     sesuatu       objek      dengan

menggunakan seluruh alat indra. Jadi mengobservasi dapat dilakukan melalui
                                                                                 56
penglihatan, penciuman, pendengaran, peraba, dan pengecap.                            Jadi observasi

merupakan metode pengumpulan data yang menggunakan panca indera disertai

dengan pencatatan secara terperinci terhadap obyek penelitian. Metode ini penulis

gunakan untuk mengamati dan memperoleh data tentang motivasi siswa memakai

jilbab di sekolah (studi kasus di SMA ISLAM Kepanjen).

2. Metode Interview

       Metode interview merupakan metode pengumpulan data dengan wawancara

atau tanya jawab yang di lakukan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi

dari terwawancara.

55
     S. Nasution, Metode Research, (Jakarta : Bumi Aksara, 2006), Hal. 143-145
56
     Suharsimi, op.cit, Hal. 197
     Interview digunakan oleh peneliti untuk menilai keadaan seseorang, misalnya

untuk mencari data tentang latar belakang murid, orang tua, pendidikan, perhatian,
                             57
sikap terhadap sesuatu.           Metode ini digunakan untuk pengumpulan data tentang

motivasi siswa memakai jilbab di sekolah (studi kasus di SMA ISLAM

Kepanjen). Serta data-data lain yang berhubungan dengan judul penelitian ini,

melalui wawancara langsung kepada pihak yang bersangkutan.

3. Metode Dokumentasi

     Metode dokumentasi adalah metode mencari data yang berupa catatan,

transkrip, buku, surat kabar, majalah, notulen, rapat, agenda.58

     Jadi penelitian ini dilakukan dengan cara mencari dokumen-dokumen yang

ada ditempat penelitian dan dokumen- dokumen tersebut berhubungan dengan

penelitian ini. Dalam proses dokumenter juga dilakukan dengan cara pengambilan

foto-foto.



F. Analisis Data

     Menurut Bodgan dan Biklen (1982) analisis data kualitatif merupakan upaya

yang di lakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasi data, memilah-

milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensistensinya, mencari dan

menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari dan memutuskan apa yang

dapat diceritakan kepada orang lain.59

     Proses pengumpulan data dan analisis data pada praktiknya tidak mutlak

dipisahkan. Kegiatan itu kadang-kadang berjalan secara serempak, artinya hasil
57
   Ibid, Hal. 200
58
   Ibid, Hal. 231
59
   Lexi J Moleong, op.cit,. Hal.248
pengumpulan data kemudian ditindak lanjuti dengan menganalisis data, kemudian

analisis data pada penelitian ini dilakukan sejak dan setelah proses pengumpulan

data.

     Proses analisis data dalam penelitian ini mengandung tiga komponen utama

yaitu: reduksi data, penyajian data, verivikasi (menarik kesimpulan)

1) Reduksi Data

     Menurut Matthew B.M dan A.M Huberman, reduksi data merupakan suatu

bentuk analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang

yang tidak perlu dan mengorganisasikan data dengan cara sedemikian rupa
                                                                                        60
sehingga kesimpulan-kesimpulan finalnya dapat ditarik dan diverifikasi.                      Maka

dalam penelitian ini data yang diperolah dari informan kunci yakni, kepala

sekolah, waka kesiswaan, guru agama, dan beberapa siswi yang berjilbab, disusun

secara sistematis agar memperoleh gambaran yang sesuai dengan tujuan

penelitian.

2) Penyajian Data

     Dalam hal ini Matthew B.M dan A.M Huberman 61membatasi suatu penyajian

sebagai sekumpulan informan tersusun yang memberi kemungkinan adanya

penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Jadi data yang sudah direduksi

dan diklasifikasikan berdasarkan kelompok masalah yang diteliti, sehingga

memungkinkan adanya penarikan kesimpulan atau verifikasi. Data yang sudah

disusun secara sistematis pada tahapan reduksi data, kemudian dikelompokkan

berdasarkan pokok permasalahannya hingga peneliti dapat mengambil kesimpulan
60
   Matthew B. Miles dan A. Michael Huberman, Analisis Data Kualitatif, (Jakarta : Penerbit
Universitas Indonesia, 1992), Hal. 16
61
   Ibid, Hal. 17
terhadap motivasi siswa memakai jilbab di sekolah (studi kasus di SMA ISLAM

Kepanjen).

3) Verifikasi (menarik kesimpulan)

       Menurut Matthew B.M dan A.M Huberman, 62Verifikasi adalah suatu tinjauan

ulang pada catatan-catatan lapangan atau peninjauan kembali atau juga upaya-

upaya luas untuk menempatkan salinan suatu temuan dalam seperangkat data

yang lain. Jadi, makna-makna yang muncul dari data harus diuji kebenarannya,

kekokohannya, dan kecocokannya yakni yang merupakan validitasnya. Peneliti

pada tahap ini mencoba menarik kesimpulan berdasarkan tema untuk menemukan

makna dari data yang dikumpulkan. Kesimpulan terus diverifikasi selama

penelitian berlangsung hingga mencapai kesimpulan yang lebih mendalam.

       Ketiga komponen analisa tersebut terlibat dalam proses saling berkaitan

sehingga menentukan hasil akhir dari penelitian data yang disajikan secara

sistematis berdasarkan tema-tema yang dirumuskan. Kesimpulan yang ditarik

melalui wawancara, pengamatan, dan observasi.

G. Pengecekan Keabsahan Data

       Pengecekan keabsahan data sangat di perlukan untuk dilakukan agar data yang

dihasilkan dapat dipercaya dan dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

Pengecekan keabsahan data merupakan suatu langkah untuk              akan berimbas

terhadap hasil akhir dari suatu penelitian. Pemeriksaan keabsahan data didasarkan

atas kriteria tertentu. Kriteria itu terdiri atas derajat kepercayaan (kredibilitas),

keteralihan, kebergantungan, dan kepastian. Masing-masing kriteria tersebut


62
     Ibid, Hal. 19
menggunakan tehnik pemeriksaan sendiri-sendiri. Kriteria derajat kepercayaan

pemeriksaan sendiri-sendiri. Kriteria derajat kepercayaan pemeriksaan datanya

menggunakan tehnik perpanjangan keikutsertaan, ketekunan pengamatan, dan

triangulasi.

1. Perpanjangan keikutsertaan

     Perpanjangan keikutsertaan berarti peneliti tinggal di lapangan penelitian

sampai kejenuhan pengumpulan data tercapai. Perpanjangan keikutsertaan juga

menuntut peneliti agar terjun ke lokasi dalam waktu yang cukup panjang.

2.   Ketekunan pengamatan

     Ketekunan pengamatan bermaksud menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur

dalam situasi yang sangat relevan dengan persoalan atau isu yang sedang dicari

dan kemudian memusatkan diri pada hal-hal tersebut secara rinci.

3. Triangulasi

     Triangulasi adalah tehnik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu

yang lain. Di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap

data itu atau dengan jalan membandingkan dengan berbagai sumber, metode, atau teori.

H. Tahap-tahap Penelitian

     Tahap-tahap penelitian tentang motivasi siswa memakai jilbab di sekolah

(studi kasus di SMA ISLAM Kepanjen) dibagi menjadi tiga bagian. Tahap-tahap

tersebut adalah tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan yang terakhir tahap

penyelesaian.
a. Tahap Persiapan


    Peneliti melakukan observasi pendahuluan untuk memperoleh gambaran

umum tentang motivasi siswa memakai jilbab di sekolah untuk dijadikan rumusan

permasalahan yang akan diteliti. Observasi tersebut berguna sebagai bahan acuan

dalam pembuatan proposal skripsi. Sebelum melakukan penelitian maka terlebih

dahulu peneliti membuat rancangan atau desain penelitian agar penelitian yang

dilakukan lebih terarah, selain itu peneliti juga membuat pertanyaan-pertanyaan

sebagai pedoman wawancara yang berkaitan dengan permasalahan yang akan

diteliti dan dicari jawabannya atau pemecahannya sehingga data yang diperoleh

lebih sistematis dan mendalam.

    Untuk memperlancar pada waktu penelitian maka peneliti mengurus surat ijin

penelitian dari Dekan Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana

Malik Ibrahim Malang.

b. Tahap Pelaksanaan

   Tahap pelaksanaan merupakan kegiatan inti dari suatu penelitian, karena pada

tahap pelaksanaan ini peneliti mencari dan mengumpulkan data yang diperlukan.

Tahap pelaksanaan penelitian ini dapat dibagi menjadi beberapa bagian sebagai

berikut:

a) Peneliti melakukan observasi kembali sebagai tindak lanjut dari observasi

   terdahulu, dan mencari data-data yang diperlukan dari data dokumen yang

   terdapat di SMA ISLAM Kepanjen.

b) Peneliti melakukan wawancara kepada Kepala Sekolah, Waka Kesiswaan,

   Guru Pendidikan Agama Islam, dan beberapa siswi SMA ISLAM Kepanjen
   untuk mendapatkan data informasi tentang motivasi siswa memakai jilbab di

   sekolah.

c) Peneliti melakukan pengecekan kembali terhadap data yang sudah diperoleh

   agar dapat diketahui hal-hal yang masih belum terungkap atau terloncati.

d) Peneliti melakukan perpanjangan penelitian guna melengkapi data yang

   kurang hingga memenuhi target, sehingga data yang diperoleh lebih valid.

c. Tahap penyelesaian

   Tahap penyelesaian merupakan tahap yang paling akhir dari sebuah penelitian. Pada

tahap ini, peneliti menyusun data dan menganalisis kemudian disimpulkan sehingga

mendapatkan laporan penelitian yang berbentuk karya ilmiah dengan mengacu pada

peraturan penulisan karya ilmiah yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN)

Maulana Malik Ibrahim Malang.
                                   BAB 1V

                            HASIL PENELITIAN



A. Profil Objek Penelitian

   Penelitian ini dilakukan di SMAI Kepanjen. Tempat peneliti melaksanakan

tugas akhir Skripsi. Sekolah SMAI Kepanjen adalah sebuah sekolah swasta

dibawah Yayasan NU al-Ma‟arif Kepanjen, yang mana secara geografis sekolah

ini memiliki tempat yang cukup strategis. Bertempat di jalan raya no Kepanjen,

tepat diseberang jalan. Tepat dibelakang dan samping sekolah ada pabrik Rokok

yang cukup besar, dan disamping selatan sekolah ini ada lapangan Kepanjen.

   Sekolah ini semi sekolah terpadu yang mana Yayasan Pendidikan Islam

Hasyim Asy‟Ary membuka instansi pendidikan di tingkat Sekolah Menengah

Atas (SMA).Selanjutnya untuk menambah kejelasan data, maka akan peneliti

paparkan sejarah, visi, misi, dan tujuan sekolah. Serta seluruh aspek manajerial

yang terdapat di sekolah.

   Sekolah ini didirikan pada tahun 1963, dan umurnya hingga sekarang sama

seperti umur Kepala Sekolah yang memimpin sekolah tersebut saat ini, Bapak

Drs. H. Musoli Haris namanya. Umur sekolah tersebut adalah 24 tahun. Sejak

mulai berdiri sekolah ini telah mengalami beberapa kali akreditasi, dan akreditasi

terakhir yang dilaksanakan disekolah adalah pada tanggal 12 Ramadhan/12

September 2008 kemarin, yang menurut informasi sementara, nilai dari akreditasi

tersebut adalah A. Karena tim assersor yang memiliki tugas menilai sekolah ini

menyampaikan diakhir pertemuan, bahwa nilai awal adalah 85,8.
   Dari mulai berdiri sampai saat ini, sekolah SMAI telah mengalami banyak

kemajuan, yang paling nampak adalah dari segi berbaikan fisik sekolah. Saat

inipun perbaikan fisik sekolah masih dalam tahap penyelesaian.

Pada tahun 1987 Bapak Drs. MUSOLI HARIS resmi menjadi Kepala Sekolah

menggantikan Bapak Ir. Lalu Abdul Manan mendapatkan tugas          baru     di

Proyek   Brantas Tengah     Wilayah   Kediri.

   Pada Periode ini merupakan periode yang sangat sulit karena sekolah

menggunakan dua tempat belajar SD NU dan SMP Islam Kepanjen (1988-1989)

Sejalan dengan itu pula sekolah memperoleh jenjang akreditasi yang lebih baik,

yaitu : DIAKUI dengan SK. 009/ C/ Kep./ I/ 1990.

Tahun 1990 - 1995.

   Pada tahun 1991 Berdirilah sebuah lembaga kursus yang diberi nama : “HACE

COURSE” ( Hasyim Asy‟ari Computer and English Course ). Dengan tujuan

tidak hanya membekali siswanya dengan Ilmu Pengetahuan saja tetapi juga

ketrampilan, agar setelah lulus dan memasuki dunia kerja mereka telah memiliki

ketrampilan khusus.

   Sejalan dengan itu pula SMA Islam mulai berpikir untuk membangun Gedung

sendiri, maka mulailah membeli sebidang tanah di Jalan Diponegoro 152 dengan

Luas Tanah 7.668 m2

   Bulan Desember 1994 mulailah membangun Gedung SMA Islam yang

ditandai dengan peletakan Batu Pertama Oleh ROMO KH. MAHFUDZ

MUCHTAR (Alm.) Dengan dana awal adalah murni bantuan masyarakat dan

sumbangan dari Bapak Ibu Guru.
   Gedung tahap I terdiri dari 8 ruang teori, 5 kamar mandi, 1 ruang

Perpustakaan, 1 ruang BP/ BK, dan selesai tanggal 15 Juli 1995, diresmikan

dilakukan Oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Timur: Bapak BASOFI

SUDIRMAN pada tanggal 24 Oktober 1995.

Tahun Pelajaran 1995/1996 secara resmi SMU Islam Kepanjen pindah ke Jl.

Diponegoro 152 Kelurahan Ardirejo Kecamatan Kepanjen. Pada tahun ini pula

terealisasinya Lapangan Olahraga.

Periode 1996 - 2000.

   Tahun Pelajaran 1996/1997 terealisasi 2 lokal yang terletak di sebelah utara

Mushola menghadap ke timur.

Tahun 1997 s.d 1998 terealisasinya pembangunan Mushola dengan kapasitas 

500 Jama‟ah. Mushola ini merupakan harapan warga sekolah yang sangat

diinginkan, karena sebelumnya warga sekolah jika akan shalat banyak

menggunakan tempat-tempat seadanya, bahkan di rumah-rumah tetangga.

   Tahun Pelajaran 1998/1999 terealisasi 2 lokal bangunan kelas dengan posisi di

sebelah selatan Mushola menghadap ke timur.

   Pada Periode ini sekolah mendapatkan penghargaan sebagai sekolah

berprestasi Akademis Juara II untuk sekolah swasta se Kabupaten Malang.

Tahun Pelajaran 1999/ 2000 terealisasi 3 lokal bangunan kelas dengan posisi

paling selatan menghadap ke utara.
Periode 2000 – Sekarang.

   Mulai tahun pelajaran 2000/ 2001, semua kelas rombongan belajar bisa masuk

pagi, karena jumlah lokal sudah terpenuhi dari realisasi pembangunan pada tahun

pelajaran sebelumnya.

   Tahun pelajaran 2001/ 2002, Sekolah sebagai suatu lembaga pendidikan

formal memiliki tujuan strategis dalam menyiapkan generasi muda penerus

kepemimpinan bangsa.

   Bidang pembinaannya mencakup akhlaq, Akademis dan Ketrampilan.

Dalam rangka pembinaan akhlaq tersebut lembaga berusaha mengendalikan

segala bentuk penyimpangan-penyimpangan yang terjadi sesuai dengan situasi

dan kondisi sekolah.

   Memperhatikan saat itu kondisi sekolah yang belum terpagar sehingga pada

waktu istirahat siswa masih keluar lingkungan sekolah untuk memenuhi

kebutuhannya.

   Untuk itulah sekolah membangun pagar belakang dan Center Food (pusat

jajan) siswa dan dananya dari (Guru, OSIS, dan Siswa).

Tahun pelajaran 2002/ 2003, Pada tahun Pelajaran ini tepatnya tanggal 1 Oktober

2002, SMA Islam Kepanjen mencanangkan Visi dan Misi sebagai berikut :

   BERIMAN,       BERTAQWA,         BERBUDI       PEKERTI,      BERBUDAYA,

BERPENGETAHUAN, BERKETRAMPILAN DAN BERKEPEDULIAN.

   Tahun pelajaran 2003/ 2004, karena jumlah ruang kelas tidak memenuhi,

maka dengan segala upaya sekolah berusaha menyelesaikan Gedung Perkantoran

Lantai 3 dan Alhamdulillah pada akhir bulan Agustus 2003 sudah dapat ditempati
dan diselesaikan 2 lantai dengan peruntukan : Lantai I untuk perkantoran, Lantai

II untuk Laboratorium IPA dan Komputer.

   Tahun pelajaran 2004/ 2005, terealisasi Laboratorium Bahasa dengan posisi

paling timur menghadap selatan. Dan secara berturut-turut tahun 2004 dan 2005.

Duta pertukaran pelajar ke Jerman ( Siswa Jurusan BAHASA )

   Tahun pelajaran 2005 – 2006, tidak banyak masalah, karena jumlah lokal

sudah terpenuhi dari realisasi pembangunan pada tahun pelajaran sebelumnya.

Yaitu Ruang belajar berlantai 2 yang berada di sebelah selatan menghadap utara

dan ditempati untuk ruang belajar kelas X ( Sepuluh ). Dan perluasan ruang

perpustakaan sehingga lebih representatif.

   Tahun pelajaran 2008 – 2009, penambahan sarana prasarana difokuskan pada

paving lapangan volly, tempat parkir siswa, pengecatan ruang belajar dan

penyelesaian gedung perkantoran pada lantai 3 digunakan untuk AULA



B. Visi Sekolah SMAI Kepanjen

   Bisa menjadi penyelenggara pendidikan yang profesional dalam bidang

akademik, sosioreligi, dan meningkatkan kedisiplinan siswa. Adapun indikatornya

adalah: (1) Meningkatkan perolehan nilai pada setiap semester, (2)Meningkatkan

perolehan nilai Ujian Nasional (UN) dibandingkan dengan nilai siswa pada waktu

masuk di SMP NU Bululawang Kabupaten Malang, (3)Meningkatkan kesadaran

beragama     dengan    menjalankan      kewajiban   agama    yang    dianutnya,

(4)Meningkatkan kesadaran terhadap lingkungan masyarakat luas sehingga mau

dan mampu bertindak sesuai kemapuannya, (5) Meningkatkan kesadaran
berperilaku disiplin dan berbagai kepentingan sehingga akan terus dibawa sampai

hidup di masyarakat.

Tabel I

C. Tujuan Sekolah SMAI Kepanjen

                                        TUJUAN
               JANGKA PENDEK                JANGKA              JANGKA
     NO.
                 (2007 – 2008)           MENENGAH              PANJANG
                                          (2008 – 2012)       (2008 – 2016)
           Terpenuhinya          sarana
      1.                                      90 %                95 %
           pendidikan 80 %
           Terlaksananya pembiasaan
      2.   pelaksanaan ajaran agama           85 %                90 %
           Islam mencapai 80 %
           Tercapainya KKM 75 %
      3.   pada       seluruh      mata       77 %                80 %
           pelajaran
           Tercapainya        kelulusan
      4.                                      97 %               100 %
           Ujian 95 %
      5.   Diterima seleksi SPMB/             30 %                40 %
           PMDK 25 %
      6.   Olympiade science masuk          5 Besar              3 Besar
           10      Besar     Kabupaten
           Malang
      7.   Memiliki Club Ekstra yang         2 Club               3 Club
           berprestasi di Kabupaten      Kabupaten, 1         Kabupaten, 1
           Malang                             Jatim                Jatim
      8.   Peningkatan        Workshop 3 x dalam 1 tahun    4 x dalam 1 tahun
           guru Internal 2 x dalam
           setahun dan Eksternal
           sesuai dengan kebutuhan
           sekolah
      9.    Pemberdayaan            Guru  Seluruh mata        Seluruh mata
            melalui MGMP UNAS               pelajaran           pelajaran
            inter maupun antar sekolah
            Tercapai               index       0,7                 1,0
     10.    produktivitas     Pengajaran
            sebesar 0,5
     11.    Rata-rata UNAS 5,5                 6,0                 6,5
            Peserta     didik    mampu
     12.    mengoperasikan MS Word,           80 %                90 %
            Ecxel,Internet 70 %
                     Peserta     didik    mampu
              13.    berbicara bahasa inggris             30 %                50 %
                     aktif 25 %
                     Peserta     didik    mampu
                     mengapresiasi            dan
              14.                                         60 %                75 %
                     menghasilkan karya seni 50
                     %
                     60 %Peserta didik mampu
              15.    menghafal         surat-surat        75 %                90 %
                     dalam Juz Amma
                     Terlaksananya       kegiatan
                     bakti sosial 2 x dalam 1
                     tahun dilingkungan Internal
                                                        2 x Internal        2 x Internal
              16.
                                                       1 x Eksternal       1 x Eksternal



        (Sumber Data: diperoleh dari Waka Kurikulum)

        Tabel II

        Data siswa dalam 4 ( empat ) tahun terakhir

            Jml                                                                   Jumlah
                        Kelas I             Kelas II           Kelas III
            Pendaftar                                                             ( Kls. I + II + III )
Th.Ajaran
            (ClnSiswa   Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah
                                                                     Siswa                      Rombel
            Baru)       Siswa   Rombel Siswa   Rombel Siswa   Rombel
Tahun       163 org     163 org 4 Rbl  117 org 3 Rbl  167 org 4 Rbl  447 org                    11 Rbl
2005/2006
Tahun      165 org       165 org 4 Rbl    163 org 4 Rbl       117 org 3 Rbl       445 org       11 Rbl
2006/2007
Tahun      165 org       145 org 4 Rbl    158 org 4 Rbl       147 org 4 Rbl       450 org       12 Rbl
2007/2008
Tahun      165 org       145 org 4 Rbl    136 org 4 Rbl       154 org 4 Rbl       435 org       12 Rbl
2008/2009
        Table 2 (Data siswa dalam 4 ( empat ) tahun terakhir.

        (Sumber Data: diperoleh dari buku induk sekolah)
Tabel III

Sarana prasarana

a) Data Ruang Kelas            b) Data Ruang Penunjang Lain(RPL )

                                                        Jml. Ruang Yg     Jml. Ruang Yg
               Jumlah                          Jumlah                                   Kategori
                                                        Kondisinya        Kondisinya
               Ruang                           Ruang                                    Kerusakan
                                                        Baik              Rusak
Ruang Kelas 17
                                Ruang Kelas    17       17                0
(asli) (a)
Ruanglainnya
yang
                                Perpustakaan   1        -                 0
Digunakan
untuk/sbg
Ruang Kelas
                                R.Lab. IPA     1        -                 -
(b)
Yaitu ruang :
1. R.
Perpustakaan                    Ketrampilan             1                 -             -
                                               1
2. R. Lab
IPA           2
Jml. Ruang
Kelas                           Lab. Bahasa    1        -                 -
Seluruhnya    17
Table 3 (Data Sarana prasarana)

(Sumber Data: SMA Islam Kepanjen Tahun Ajaran 2009/2010)

Tabel IV

Ketenagaan

              SMP Jumlah Guru/Staf             SMP Swasta    Keterangan
 Jumlah       Negeri
 Guru/Staf


 Guru Tetap   Org    Guru Tetap Yayasan+PNS    35 Org
 (PNS)               (DPK)
 Guru         Org    Guru kontrak              0 Org
 kontrak
 Guru Honor Org      Guru PNS Dipekerjakan     0 Org
 Sekolah             (DPK)
 Staf Tata      Org   Staf Tata Usaha             9 Org
 Usaha

Table 4 (Data ketenagaan

(Sumber Data:diperoleh dari Tata Usaha)

Tabel V

Pendidik

    Jumlah seluruh personil sekolah sebanyak 68 orang, terdiri dari guru 56 orang,

pembina ekstra kurikuler 4 orang, karyawan tata usaha 6 orang, pesuruh 2 orang

   No.              Nama Guru               Mata Pelajaran           Status
   1.        Drs. MUSOLI HARIS          Kepala Sekolah                DPK
   2.        K A R N O T O , BA         Ibadah / Syari'ah             GT
   3.        Drs. EDI KUNCORO           Kesenian                      GTT
   4.        Drs. HERIYANTOYO           Kewarganegaraan               DPK
   5.        Dra. ANIK AMAH             Bahasa Inggris                DPK
   6.        Dra. FATIMAH               Kimia                         GTT
   7.        BAMBANG
                                        Ekonomi                      GTT
             PRAYITNO,SPd
   8.        Drs. MOHAMMAD YASIN        Sosiologi, Geografi          DPK
   9.        Dra. DYAH SAWITRI          Fisika                       DPK
   10        Drs. SULKANAJI             PKN, Antropologi             GTT
   11        Drs. KUSNAN                Matematika                   DPK
   12        Drs. SUPRIANTO             Ekonomi                      GTT
   13        DYAH LUSSI
                                        Biologi                      DPK
             PRAHARINI, SPd
   14        KARSIYAM, S.Pd.            Kewarganegaraan              DPK
   15        Drs. ALI AFAN              Kewarganegaraan              GTT
   16        Drs. AGUS TOMI             PORKES                       GTT
   17        Dra. ALLIES KHOLIFAH       Bahasa Indonesia             GTT
   18        IMADUDDIN, SPd             Kimia                        DPK
   19        MUHAMAD ROSULI,
                                        PORKES                       GTT
             SPd.
   20        Dra. MAFTUKHAH             Bahasa Indonesia             GTT
   21        Drs. SURIANTO              Matematika                   GTT
   22        Dra. DEWI KARTIKA
                                        Bahasa Jerman                GTT
             ARDIYANI
   23        Drs. DWI PURWAHADI         Matematika                   GTT
   24        Drs. YUDO SETIONO          BP/ BK                       GTT
   25        PUSPO ANDOKO, S.Pd.        Bahasa Inggris               GB
   26        KHOIROTIN NISA', S.Pd.     Fisika                       GTT
   27        JUJUK NARNI, SPd.          Sejarah                      GTT
   28        ZUBAIDAH NUR AINI,         Geografi                     GTT
     S.Pd.
29   Drs. ASNAWI NUR          Bahasa Arab                 GTT
30   PUDYA OKTIANA RULLI
                              Bahasa Inggris              GTT
     A, SPd
31   DEWI MASRUROH            Aswaja                      GTT
32   SITI MURSIDAH, S.Pd.     Biologi                     GTT
33   SITI MURSIDAH, S.Pd.     Biologi                     GTT
34   Drs. MOH. MUNIR          Aqidah / Akhlaq             GTT
35   Drs. JAKFAR SHODIQ       Bahasa Arab                 GTT
36   YUSROTUL DIANA, S.Ag.    Fiqih, Aswaja               GTT
37   SUJOKO PURNOMO,
                              Matematika                  GTT
     S.Pd.
38   ENDAH
                              Bahasa Inggris              GTT
     SETYOWATI,S.Pd.
39   MOHAMAD SAFII, S.Pd.     PORKES                      GTT
40   THORIQUL HUDA            Baca Al-Qur'an              GTT
41   Drs. ENDIK SUJATMIKO     Bahasa Indonesia            GTT
42   NGIMADATUL
                              Aqidah / Akhlaq             GTT
     ISLAMIYAH,S.Ag
43   IRWAN FARUDY, S.Pd       Sosiologi, Sejarah          GTT
44   PUJIANAH, S.Pd           Bahasa Inggris              GTT
45   MUHAMMAD
                              Fisika                      GTT
     ASROFI,SPd
46   MOHAMAD SYAH
                              Bahasa Inggris              GTT
     RIZAL,SS
47
     FIBRI LUCKMARINDA,
                              Akuntansi, Ekonomi          GTT
     S.Pd
48
     FIRMAN PRAYOGA           Teknologi Informasi         GTT
49
     SUHARDJITO, S.Pd.        Bahasa Inggris              DPK
50   ENDIK KUSWANTO,
                              Bahasa Jerman               GTT
     S.Pd.
51
     VISI TRIASTUTIK, S.Pd.   BP /BK                      GTT
52   DIDIK SUNARIYANTO,
                              Komputer Akuntansi          GTT
     S.Pd.
53
     MOCH. YUSUF. S.K         Teknologi Informasi         GTT
54   WAKIDATUL ROMLAH,
                              Bahasa Indonesia            GTT
     S.Pd.
55   ERKI WAHYU
                              Kesenian              GTT
     SWASONO,S.Pd
56
     DIAH PINILIH, S.Pd.      BP / BK                     GTT
  57
         SUNARYO, S.Pd.              PORKES                      GTT
(Sumber Data: diperoleh dari buku induk sekolah)

Tabel VI

Peserta Didik

   Jumlah peserta didik pada tahun pelajaran 2009/ 2010 seluruhnya berjumlah

632 orang. Persebarannya sebagai berikut :

                                             JUMLAH          JUMLAH
                    KELAS /
       No.
                   PROGRAM
                                        L       P     JML    ROMBEL
        1.   X                          95     141     236      6

        2.   XI – IPA                   10      25     35       1

        3.   XI – IPS                   74      75    149       4

        4.   XI – BHS                    7      28     35       1

        5.   XII – IPA                  12      28     40       1

        6.   XII – IPS                  57      56    113       3

        7.   XII – BHS                  13      21     34       1

                   Jumlah              258     374    632       17

(Sumber Data: Buku induk SMA Islam Kepanjen Tahun Ajaran 2009/2010)



Tabel VII

SUSUNAN WALI KELAS

No.    KELAS                   NAMA WALI KELAS               KETERANGAN
1. Kelas X-1                Drs. SURIANTO
                            ZUBAIDAH NUR
 2.    Kelas X-2
                            AINI.S.Pd.
 3.    Kelas X-3            Dra. ALLIES KHOLIFAH
 4.    Kelas X-4            THORIQUL HUDA
                            ENDAH SETYOWATI,
 5.    Kelas X-5
                            S.Pd.
       Kelas XI-
 6.                         YUSROTUL DIANA, S.Ag.
       BAHASA
 7.    Kelas XI-IPA.1       Drs. DWI PURWAHADI

 8.    Kelas XI-IPA.2       MOH. ASROFI, S.Pd.

                            FIBRI LUCKMARINDA,
 9.    Kelas XI-IPS.1
                            S.Pd

 10.   Kelas XI-IPS.2       Dra. MAFTUHAH

 11.   Kelas XI-IPS.3       Drs. MOH. YASIN
       Kelas XII-
 12.                        SUHARDJITO, S.Pd.
       BAHASA
 13.   Kelas XII-IPA        SUJOKO PURNOMO, S.Pd.

 14.   Kelas XII-IPS.1      IRWAN FARUDY, S.Pd.

 15.   Kelas XII-IPS.2      Drs. SUPRIANTO

                            WAKIDATUL ROMLAH,
 16.   Kelas XII-IPS.3
                            S.Pd.

 17    Kelas XII-IPS.4      JUJUK NARNI, S.Pd.
(Sumber Data: Buku induk SMA Islam Kepanjen Tahun Ajaran 2009/2010)




B. Penyajian Data dan Analisis Data

1. Pengetahuan Siswi SMA ISLAM Kepanjen tentang Jilbab

   Dari hasil pengamatan dan penelitian yang saya lakukan pada tanggal 19

Februari 2010 di SMA ISLAM Kepanjen bahwa pengetahuan dan pemaknaan

tentang jilbab untuk siswi di sekolah tersebut setiap satu siswi dengan siswi yang
lain berbeda-beda. ” Drs. Musoli Haris selaku Kepala Sekolah memaparkan

bahwa pengkhususan dalam pemakaian jilbab di hari Rabu dan Kamis merupakan

seragam khusus yang juga dijadikan sebagai satu ciri khas yang menonjol dan bisa

di kenal masyarakat umumnya. Sedangkan menurut pemahaman dari masyarakat

sekitar sekolah bahwa siswi SMA ISLAM Kepanjen belum sepenuhnya memakai

jilbab yang didasari dengan kemauan dan keikhlasan diri siswi, akan tetapi

mereka memakai jilbab hanya karena tuntutan aturan dan tata tertib sekolah yang

wajib dipatuhi. Pemakaian jilbab pada siswi SMA ISLAM Kepanjen merupakan

suatu kewajiban yang harus dijalankan dan tidak boleh ditinggalkan, karena jika

tidak memakai jilbab akan mendapatkan sanksi. 63

     Kepala sekolah berharap kepada para siswi memiliki keikhlasan dan niat

yang betul-betul murni dari diri siswa untuk memakai jilbab tanpa paksaan dari

pihak manapun. Sehingga pihak sekolah tidak berani memaksa para siswinya

untuk memakai jilbab. Jika pihak sekolah memberi tekanan dan paksaan maka

ditakutkan nantinya akan memberikan dampak negatif pada generasi baru dan

juga penilaian masyarakat yang awalnya berminat belajar dan menyekolahkan

anaknya di SMA ISLAM Kepanjen, namun dengan diberlakukannya tekanan dan

paksaan tersebut generasi baru dan masyarakat menjadi tidak berminat belajar

dan menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut. Maka dengan diberlakukannya

peraturan untuk memakai jilbab pada hari Rabu dan Kamis merupakan suatu

usaha pihak sekolah dalam melatih siswi untuk berdisiplin dalam mematuhi tata

tertib dan membudayakan cara berpakaian yang sopan dan rapi. Dengan ciri khas

63
  Sumber data: Hasil Wawancara Bapak Drs. Musoli Haris selaku Kepala Sekolah SMA
ISLAM Kepanjen pada tanggal 20 Februari pukul 10.30
yang dimiliki SMA ISLAM Kepanjen dan ciri khas tersebut belum tentu dimiliki

oleh sekolah   SMA yang lain, maka SMA ISLAM Kepanjen akan mampu

bersaing dengan SMA yang lain. Mengingat semakin banyak persaingan sekolah

untuk menjadi sekolah unggulan sekarang ini. Akan tetapi jika dilihat dari

faktanya meskipun siswi di sekolah memakai jilbab, tapi belum tentu di luar nanti

akan tetap memakai jilbab. Karena beliau Bapak Kepala Sekolah menganggap

bahwa sebagus apapun pakaian yang dipakai tapi belum tentu dan belum bisa

mencerminkan Akhlak pribadi masing-masing orang. Sehingga pakaian tidak bisa

dijadikan sebagai cerminan perilaku dan akhlak bagi para pemakainya. Begitu

juga sama halnya dengan tujuan dari aturan memakai jilbab pada siswi SMA

ISLAM Kepanjen yang didasari niat tulus dan keikhlasan para siswi akan

memberikan dampak positif dan hasil yang optimal, bukan hanya pakaian yang

bagus akan tetapi akhlak dan perilaku siswi juga ikut mencerminkan kemuliaan

akhlak.

   Sedangkan menurut pendapat Pak Rusli selaku Waka Kesiswaan bahwa

pengetahuan dan pemaknaan tentang memakai jilbab pada siswi SMA ISLAM

Kepanjen belum maksimal, karena mereka masih dalam tahap pembelajaran. Jadi

mereka belum menyadari sepenuhnya, dapat di lihat dari sikap setiap siswi pada

saat melakukan olah raga. Mereka masih mempunyai perasaan terganggu dengan

memakai jilbab. Mungkin mereka belum begitu menyadarinya. Jadi mereka

kadang-kadang melepas jilbab. Karena mereka merasa panas dan kurang nyaman

dengan jilbab yang dipakai. Para siswi belum bisa menempatkan dirinya kapan

mereka harus memakai dan melepas jilbab dan juga tidak menyadari keadaan
sekitarnya apakah ada orang laki-laki non muhrim yang dengan sengaja

memperhatikannya atau tidak. Dan mereka belum menyadari bahwa melepas

jilbab itu membuka aurat dan hukumnya adalah dosa.64

     Dari pemaparan Kepala Sekolah mengenai pemakaian jilbab pada siswi SMA

ISLAM Kepanjen berbeda dengan pemaparan Pak Rusli selaku Waka Kesiswaan.

Menurut Waka Kesiswaan pengetahuan dan pemaknaan siswa tentang memakai

jilbab belum maksimal, karena selain bermula dari aturan yang ditetapkan oleh

pihak sekolah, siswi juga masih dalam tahap pembelajaran yang mana awalnya

hanya di latih untuk memakai jilbab dan di kenalkan dengan makna jilbab yang

hakiki. Tahap pembelajaran ini melalui proses yang sangat lama sehingga

nantinya siswi akan menyadari sepenuhnya tentang pengetahuan dan makna

memakai jilbab. Jika siswi sudah menyadari dengan sepenuhnya tentang

pengetahuan dan pemaknaan memakai jilbab, maka siswi tidak akan melakukan

hal-hal yang menyimpang seperti pada waktu berlangsungnya mata pelajaran

Penjaskes siswi merasa terganggu dan kurang nyaman dengan pemakaian jilbab.

Dengan pemakaian jilbab mereka merasa panas dan tidak bebas mengembangkan

potensi diri. Sehingga dengan keadaan tersebut para siswi belum bisa

menempatkan dirinya kapan mereka harus memakai dan melepas jilbab dan juga

tidak menyadari keadaan sekitarnya apakah ada orang laki-laki non muhrim yang

dengan sengaja memperhatikannya atau tidak.

     Begitu juga mereka belum bisa   memahami      bahwa   melepas jilbab itu

membuka aurat dan hukumnya adalah dosa. Dari penjelasan diatas dapat dipahami

64
 Sumber data: Hasil Wawancara Bapak Muhamad Rosuli selaku Waka Kesiswaan
SMA ISLAM Kepanjen pada tanggal 21 Februari pukul 13.30
bahwa para siswi belum memiliki kesadaran dari diri masing-masing untuk

memakai jilbab secara sepenuhnya, sehingga mereka melakukan tindakan-

tindakan yang menyimpang seperti, melepas jilbab kapan pun jika mereka merasa

terganggu dan tidak nyaman dengan jilbab yang mereka pakai, tanpa menyadari

keadaan sekitarnya.

     Menurut pemaparan dari Bu Diana bahwa siswi SMA ISLAM Kepanjen

kadang-kadang ada yang belum bisa atau belum tahu cara memakai jilbab.

Dengan begitu bagi yang belum siap untuk memakai jilbab kadang-kadang suka

dilepas dengan berbagai alasan.65

     Mengenai pemaparan dari Bu Diana bahwa tidak semua siswi tahu dan paham

cara memakai jilbab, hanya beberapa siswa saja yang bisa dan tahu cara memakai

jilbab, sehingga bagi siswi yang merasa dirinya belum siap untuk memakai jilbab

maka, kadang-kadang mereka melepas jilbab yang dipakainya dengan berbagai

alasan. Beberapa hal yang mereka jadikan alasan untuk melepas jilbab

diantaranya: Model jilbab yang kurang praktis, bahan jilbab yang tidak

memberikan kenyamanan kepada pemakainya, mereka kurang terbiasa memakai

jilbab di rumah. Oleh karena itu usaha pihak sekolah untuk mempermudah dalam

memberikan ketentuan jilbab yang     tidak membebani bagi siswinya. Dengan

begitu nantinya siswi akan merasa nyaman dan senang memakai jilbab.




65
 Sumber data: Hasil Wawancara Ibu Diana selaku Guru Pendidikan Agama Islam
SMA ISLAM Kepanjen pada tanggal 25 Februari pukul 08.50
     Menurut siswi bahwa memakai jilbab merupakan salah satu unsur yang

terpenting bagi orang tua untuk mempercayai setiap tingkah laku anak-anaknya.

Karena anaknya kelihatan sopan.66

     Pendapat para siswi memakai jilbab merupakan hal yang terpenting dan yang

diinginkan oleh orang tua/ wali murid. Karena bagi mereka dengan memakai

jilbab akan bisa mengontrol tingkah laku anak-anaknya, sehingga tidak akan

melakukan tindakan yang menyimpang dari aturan. Selain itu orang tua/ wali

murid merasa senang dan bangga jika anaknya memakai jilbab, karena terlihat

rapi dan sopan..Tapi pada kenyataannya masih banyak siswi yang belum

mengetahui tentang jilbab, Dari pendapat siswi pun pengetahuan mengenai jilbab

sangat minim, karena mereka belum terbiasa untuk memakai jilbab. Bahkan bahan

jilbab yang diberikan dari sekolah sangat sulit untuk di pakai. Siswi berharap

kepada pihak sekolah untuk memberikan jilbab yang tidak menyulitkan siswinya.

Karena kebanyakan siswi SMA Islam Kepanjen Belum tahu dan terbiasa dengan

memakai jilbab. Tapi meskipun begitu peraturan ini harus dijalanlkan. Karena

tujuan dari awal sekolah di dalam penerapan pemakaian jilbab guna melatih dan

mendisiplinkan siswinya agar kelihtan rapi dan sopan.




2. Motivasi Siswi SMA ISLAM Kepanjen memakai jilbai




66
  Sumber data: Hasil Wawancara Dengan Putri Ani selaku siswi SMA ISLAM Kepanjen
kelas X-2 pada tanggal 22 Februari pukul 07.10
     Menurut penjelasan kepala sekolah bahwa memakai jilbab bagi Siswi SMA

ISLAM Kepanjen adalah diberlakukannya pada hari-hari tertentu dan pada suatu

acara atau tempat yang mewajibkan siswi untuk memakai jilbab, seperti hari-hari

besar yaitu hari raya Idul Fitri dan hari raya Idul Adha atau pada waktu berada

disuatu tempat yang mewajibkan memakai jilbab. Seperti forum-forum BDI, pada

anak-anak mengajak untuk memakai jilbab. Namun ada juga yang menafsirkan

bahwa memakai jilbab itu hanya sebatas untuk mentaati tata tertib sekolah, karena

mungkin diluar lingkungan sekolah mereka ada yang belum memakai jilbab.67

     Bisa dipaparkan dari penjelasan kepala sekolah bahwa siswi SMA ISLAM

Kepanjen mengartikan makna memakai jilbab hanya diperuntukkan di hari-hari

tertentu atau peringatan dan di suatu acara yang mana didalamnya diharuskan

untuk memakai jilbab, misalnya hari-hari besar seperti Hari Raya Idul Adha dan

Hari Raya Idul Fitri. Sedangkan acara seperti acara BDI (Badan Dawah

Islamiyah). Disisi lain siswi juga mengartikan makna memakai jilbab hanya untuk

mematuhi aturan dan tata tertib yang telah ditentukan oleh pihak sekolah,

sehingga mereka menganggap memakai jilbab sebagai tuntutan bukan sebagai

kemauan diri pribadi. Maka siswi memakai jilbab jika berada di lingkungan

sekolah saja dan belum tentu di luar lingkungan sekolah dia memakai jilbab.




67
  Sumber data: Hasil Wawancara Bapak Drs. Musoli Haris selaku Kepala Sekolah SMA
ISLAM Kepanjen pada tanggal 20 Februari pukul 10.30
     Menurut pendapat Pak Sulkan bahwa terdapat beberapa motivasi memakai

jilbab diantaranya: 68

1. Untuk melindungi kehormatan/ harga diri siswa dalam pergaulan khususnya di

     luar sekolah.

2. Sebagai tanda bahwa siswi tersebut mayoritas bernuansa Islam.

3. Suatu trend

4. Untuk mengendalikan tingkah laku dalam pergaulan.

     Ada beberapa motivasi memakai jilbab yang dipaparkan menurut pendapat

Pak Sulkan seperti yang pertama manfaat dan kegunaan jilbab yang digunakan

sebagai pelindung diri, kehormatan dan hargai diri siswa dalam pergaulan di luar

sekolah, supaya siswi tidak terpengaruh oleh pergaulan bebas dan Westernisasi.

Mengingat semakin bebasnya pergaulan para remaja kini yang mengakibatkan

kerusakan moral dan akhlak para pelajar. Sehingga dengan adanya jilbab

diharapkan bisa mengontrol pergaulan di lingkungan sekolah maupun luar

sekolah. Kedua Dengan memakai jilbab kita sudah menunjukkan sebagai seorang

muslimah sejati. Begitu juga pada siswi SMA ISLAM Kepanjen yang bercirikhas

dengan memakai jilbab, maka sekolah tersebut bernuansakan Islami. Ketiga Siswi

yang memakai jilbab bukan berarti tidak mengikuti perkembangan zaman, akan

tetapi dengan memakai jilbab justru mengikuti tren masa kini.

     Menurut Pak Sulkan dengan melihat realita yang ada banyak sekali

perempuan yang memakai jilbab. Dengan pemakaian jilbab yang diaplikasikan

68
 Sumber data: Hasil Wawancara Bapak Drs. Sulkanaji selaku guru SMA ISLAM
Kepanjen pada tanggal 25 Februari pukul 08.50
pada siswa dapat memberikan motivasi untuk menggunakan jilbab. Bahkan dalam

agama Islam jilbab wajib digunakan untuk menutup aurat. Bahkan di dalam surat

An-Nuur ayat 31 dan Al-Ahzab Ayat 59 ditegaskan bahwa wanita wajib untuk

memakai jilbab. Oleh karena itu di SMA ISLAM Kepanjen diwajibkan untuk

memakai jilbab pada hari Rabu dan Kamis sebagai pembiasaan siswa dalam

memakai jilbab, karena memakai jilbab harus dengan kesadaran dan keikhlasan

serta kebiasaan secara terus menerus. Keempat Dengan memakai jilbab dapat

menghindarkan siswi dari perilaku yang tidak senonoh sehingga dapat

membentengi diri dari hal-hal negatif yang dilakukan orang lain. Dengan

pemakaian jilbab siswi akan merasa aman dan terlindungi.

     Menurut murid bahwa motivasi memakai jilbab adalah untuk mendapatkan

kepercayaan dari orang tua. Misalnya keluar rumah sewaktu-waktu selalu

mendapatkan sorotan positif dari orang tua. Untuk melatih diri supaya terbiasa

memakai jilbab. Sebagaimana yang telah dilakukan orang lain sebagai seorang

muslim.69

     Pendapat murid alasan dalam memakai jilbab adalah memperoleh kepercayaan

dari orang tua. Kita sebagai murid dengan mendapatkan kepercayaan tersebut

dapat memanfaatkannya sebaik mungkin, misalnya kita izin keluar rumah untuk

belajar kelompok kepada orang tua, kita harus bersikap jujur atas tujuan tersebut.

Dari segi pemakaian jilbab diharapkan dapat melatih kerapian dan kesopanan

dalam berpakaian yang sesuai dengan syar‟i. Orang tua akan memberikan

69
  Sumber data: Hasil Wawancara Dengan Mirda Fahira Halim selaku siswi SMA
ISLAM Kepanjen pada tanggal 22 Februari pukul 07.10
kepercayaan kepada anaknya dan tidak merasa was-was bila anaknya keluar

rumah dan bergaul dengan teman-temannya maka kebebasan           akan diberikan

kepada seorang anak.

     Menurut Bu Fatimah motivasi memakai jilbab

1. Untuk menutupi kekurangan pada diri seseorang misalnya ada yang cacat

     orang tidak menjadi tahu secara langsung.

2. Untuk memenuhi kewajiban sebagai seorang muslim.

3. Status sekolah mengikuti kaidah agama. Dengan memakai jilbab bisa

     meredakan keinginan seseorang.70

     Dari hasil interview dengan Bu Fatimah penulis dapat menyimpulkan pertama

bahwa siswi apabila ada kecacatan dalam fisiknya bisa tertutupi dengan jilbabnya

berbeda dengan siswi yang tidak berjilbab apabila ada kecacatan dalam dirinya,

misalnya rambut keriting maka akan lebih cantik dengan memakai jilbab. Dan

mereka tidak perlu kesalon untuk mempercantik dirinya karena malu pada orang

yang melihatnya. Kedua Sebagai tanda atau simbol bahwa dia beragama Islam

karena, di dalam Islam sendiri wanita diwajibkan memakai jilbab. Ketiga jika

para siswi dalam lingkungan sekolah membiasakan memakai jilbab, maka hal ini

merupakan nilai tambahan bagi SMA Islam dimana SMA Islam mendapatkan

respon yang baik bagi masyarakat khususnya bagi calon siswi baru. Selain itu

SMA Islam juga tidak kalah dengan pesantren maupun Madrasah Aliyah yang ada

dimalang dan sekitarnya. Disisi lain dengan memakai jilbab bisa meredakan


70
  Sumber data: Hasil Wawancara Ibu Fatimah selaku Guru SMA ISLAM Kepanjen pada
tanggal 26 Februari pukul 10.30
seseorang karena manusia makhluk yang merasa kurang dan ingin sesuatu yang

lebih sehingga dengan memakai jilbab bisa mengendalikan segala keinginan untuk

mendapatkan sesuatu yang belum tentu itu bermanfaat menurut dirinya.



3. Manfaat memakai jilbab bagi Siswi SMA ISLAM Kepanjen

     Menurut siswi Yuli Ayu dan Sri Susanti selaku murid SMA ISLAM Kepanjen

manfaat memakai jilbab adalah

1. Untuk melestarikan salah satu budaya Islam yang sudah memasyarakat.

2. Mendidik masing-masing siswi untuk hidup berdisiplin.

3. Memberi contoh yang baik pada lingkungan dan memberi contoh pada anak

     cucu kita kelak.

4. Untuk mencegah perbuatan zina.71

     Ada beberapa manfaat memakai jilbab bagi siswi SMA ISLAM Kepanjen.

Pertama Berjilbab merupakan budaya Islam yang sudah diterapkan dari zaman

Rasulullah SAW sampai kehidupan sekarang ini sehingga kita selaku umat Islam

yang mentaati perintah Allah dan Rasulnya, memiliki kewajiban untuk

melestarikan salah satu budaya Islam tersebut. Begitu juga para siswi SMA

ISLAM Kepanjen yang memakai jilbab, mereka sudah mentaati dan

melaksanakan perintah Allah dan Rasulnya. Kedua dengan adanya peraturan yang

disusun oleh pihak sekolah secara tidak langsung bisa melatih siswi untuk hidup

disiplin. Selain disiplin dalam mematuhi peraturan pihak sekolah yang telah

71
  Sumber data: Hasil Wawancara Dengan Yuli Ayu dan Sri Susanti selaku siswi SMA
ISLAM Kepanjen kelas X-2 pada tanggal 22 Februari pukul 07.10
ditentukan dan juga disiplin dalam menjaga dan melaksanakan syari‟at Allah dan

Rasul. Ketiga berawal dari mendidik generasi muda untuk memakai jilbab maka

akan memberikan titik cerah dalam kehidupan nantinya.

   Begitu juga dalam mendidik siswi SMA ISLAM Kepanjen untuk memakai

jilbab akan memberikan contoh yang baik kepada masyarakat. Jika generasi yang

dilahirkan oleh SMA ISLAM Kepanjen memiliki keagungan akhlak dan pribadi

yang mulia maka, akan melahirkan generasi baru yang lebih baik yang juga

memiliki keagungan akhlak dan pribadi yang mulia seperti generasi sebelumnya.

Keempat dengan perkembangan zaman yang semakin maju dan pesat menjadikan

pergaulan bebas merajalela dikalangan remaja dan pelajar. Berdasarkan realita

yang ada kebanyakan para remaja dan pelajar terperangkap dalam pergaulan

bebas. Sehingga upaya SMA ISLAM Kepanjen dalam membentengi para

siswinya yaitu dengan melatih dalam pemakaian jilbab. Dengan adanya upaya

tersebut diharapkan para siswi yang belum memakai jilbab bisa mencontoh para

siswi yang berjilbab.
                                    BAB V

                  PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN



1. Bagaimana Pandangan Siswi SMA Islam Kepanjen Tentang Jilbab

    Dengan kehidupan yang sudah modern seperti sekarang ini tentunya banyak

hal-hal yang membuat diri kita untuk lebih waspada terhadap apa yang terjadi di

sekeliling kita. Karena pada kenyataannya sudah banyak sekali anak-anak yang

terperangkap ke dalam perbuatan zina. Kadang-kadang masih duduk di bangku

SMP sudah berhenti sekolah karena suatu hal yang tidak direncanakan telah

terjadi.

    Untuk menyikapi hal seperti itu sangatlah bagus apabila mulai dini sudah di

terapkan suatu ajaran atau kebiasaan untuk memakai jilbab. Alhamdulilah pada

zaman yang sudah modern ini, mulai dari anak-anak sudah diharuskan memakai

jilbab. Khususnya pada anak-anak yang di sekolahkan di TK Al-Qur‟an dan di

sekolah- sekolah yang memfokuskan pelajarannya tentang agama. Pada umumnya

yang orang tuanya kuat dalam beragama, anak-anaknya pasti di latih memakai

jilbab sejak dini. Di samping terlihat indah memakai jilbab akan membuat

seseorang lebih percaya diri, sehingga kita bisa merasa lebih nyaman dan lebih

tenang. Memakai jilbab juga kelihatan sangat praktis.

    Yang mana, dilihat dari segi penampilan seseorang. Walaupun orang itu dalam

kehidupan sehari-hari sangat rajin beribadah, namun tidak mau memakai jilbab,

akan mengakibatkan pandangan dan penilaian yang berbeda dengan orang yang

memakai jilbab.
   Sebaliknya, bagi orang yang memakai jilbab sudah bisa dipastikan bahwa dia

adalah seorang muslim. Kita sebagai orang yang beragama Islam sudah

seharusnya mentaati peraturan yang diajarkannya. Contoh dalam sehari-hari, pada

saat kita menjalankan sholat 5 waktu. Sudah diharuskan, bahwa bagi orang

perempuan harus menutup aurat.Terkecuali muka dan telapak tangan.Dari

pengamatan itu, kita bisa menyimpulkan bahwa memakai jilbab itu, adalah suatu

hal yang sangat penting yang harus kita terapkan setiap hari.

   Apalagi kalau kita melihat langsung suatu negara yang penduduknya mutlak

beragama Islam seperti Di Saudi Arabia. Masya Allah!!!... kelihatan sangat bagus

walaupun hanya di pandang negaranya pun aman dan kaya raya akan penghasilan

buminya. Dengan penduduknya yang sangat padat, namun tiada satu pun yang

tidak mengenakan jilbab. Bahkan tidak kekurangan suatu apapun. Dan Allah

sangat menyayangi orang-orang yang bertaqwa kepadanya.Amin. Dan Allah mau

melimpahkan semua kenikmatan kepada Hamba-Nya yang selalu mau

menjalankan perintahnya serta menjauhi larangannya.

   Sebetulnya memakai jilbab bisa mencegah perbuatan orang-orang yang suka

usil atau orang-orang yang tak bermoral. Misalnya kita jalan sendirian. Dengan

memakai jilbab, orang yang biasanya suka menggoda orang lain, akan merasa

sungkan dan takut akan menggoda kita.

   Dia akan merasa malu dengan sendirinya. Itulah kekuasaan Allah bagi orang-

orang yang memakai jilbab, orang itu akan kelihatan berbeda.

   Jilbab bisa melambangkan kesucian pada diri seseorang, seolah-olah bisa

menyinari suatu malam yang gelap gulita. Kita yang selalu membiasakan
memakai jilbab, bisa mendidik generasi untuk masa yang akan datang. Yaitu

anak-anak kita kelak, karena peran seorang ibu akan selalu di tiru oleh anak-

anaknya.Dengan melihat ibunya yang selalu memakai jilbab otomatis sianak mau

menirunya. Jadi anak-anak Insya Allah akan mempunyai masa depan yang cerah.

   Dengan tidak sengaja kita sudah mendidik anak-anak sudah tertanamkan rasa

Iman yang kuat yang mana kelak dia akan selalu tampil sesuai dengan apa yang

sering di lihatnya pada waktu masih kecil. Betapa mulianya hati seorang ibu yang

mampu menanamkan perasaan semacam itu kepada anak-anaknya sesuai dengan

ajaran agama Islam satu-satunya.

   Kita sebagai siswi SMA Islam Kepanjen sangat bersyukur kepada Allah

S.W.T. Yang mana dengan rahmatnya telah menanamkan kepada kita jiwa yang

besar, yang selalu dengan ikhlas tanpa paksaan dari siapapun, mau memakai jilbab

setiap hari. Bahkan kita telah mendapatkan kepercayaan khusus dari para orang

tua. Kadang-kadang kita mendapatkan tugas belajar kelompok, dengan kita

memakai jilbab orang tua yang anak-anaknya tidak memakai jilbab. Dengan

anaknya yang sexi. Pasti orang tuanya sangat mengkhawatirkan anaknya.

Kemanakah anakku pergi? Jangan-jangan terjadi hal-hal yang tak di inginkan.

   Mengingat kenakalan remaja sudah merajalela di mana- mana. Bagi siapa

yang tidak mamakai jilbab orang lain akan bebas menggoda, tanpa ada rasa malu-

malu. Itulah sebabnya kita sebagai Siswi SMA Islam Kepanjen selalu

mengharapkan bahwa generasi yang akan datang selalu memakai jilbab.
    Sehingga punya masa depan yang cerah sesuai dengan cita-cita para orang tua.

Dan sesuai dengan ajaran agama Islam yang selalu mengajarkan kita untuk

menutupi aurat.Lagi pula memakai jilbab akan terlihat lebih anggun dan indah.

    Jika kita membiarkan anak kita berpakaian sesuka hati mereka sejak kecil

mengikuti gaya para wanita yang tidak taat agama tanpa adanya penekanan atau

arahan, niscaya akan menjadi kebiasaan. Kemudian, ketika dia telah berusia

baligh, maka dia akan kaget dengan orang yang memerintahnya dan tidak adanya

kekuatan mereka untuk melaksanakan perintah itu. Lain halnya kalau kita

mengajarinya cinta dan menerima jilbab sejak kecil, tentu mereka akan

mengenakannya dengan senang hati sebelum diperintah mengenakannya.

    Jika mereka tidak mencintai dan menerima jilbab sejak kecil, terkadang

mereka mengenakannya secara terpaksa karena takut kepada orang tua. Ini akan

menyebabkan mereka membuat tipu daya bila jauh dari pantauan orang tua lewat

berbagai macam cara dengan mengeluarkan jilbab dari fungsi utama (sebagai

penutup) atau bahkan akan melepasnya.

    Kebanyakan dari kita selalu membangga-banggakan sesuatu yang kebenaran

itu hanya diyakini oleh diri sendiri pada hal-hal tersebut buruk adanya. Begitu

sebaliknya, kita membenci sesuatu pada hakikatnya itu baik adanya. Kebanyakan

dari kita selalu menyukai sesuatu yang sebenarnya tidak akan membawa kebaikan.

Budaya-budaya berjilbab yang selalu menampakkan aksesori dan memperlihatkan

aurta yang lain telah diyakini sebagai sebuah kebenaran dan kebaikan, padahal

sama sekali tidak akan memberikan kebaikan sedikit pun. Keindahan-keindahan

itu tidak bersifat hakiki.
   Berjilbab yang hanya dijadikan sebagai sebuah aksesori, tentunya tidak akan

membawa kebaikan bagi pemakainya. Aksesori sendiri berfungsi sebagai sebuah

pelengkap belaka, sementara fungsi jilbab itu tidak hanya sebagai sebuah

pelengkap, akan tetapi sebagai sebuah penutup aurat. Kini fungsi jilbab telah

banyak disalahgunakan oleh perempuan-perempuan. Lalu, bagaimana kita dapat

melihat seorang perempuan yang memakai jilbab hanya sekedar sebagai aksesori,

jika kita melihat seorang perempuan yang menggunakan jilbab sementara jilbab

itu tidak menutupi auratnya yang lain, seperti berpakaian ketat hingga tampak

lekuk-lekuk tubuhnya. Hal inilah yang saya namakan jilbab hanya sekedar

aksesori.

   Tidak akan mendapatkan manfaat sedikit pun bagi perempuan-perempuan

yang melakukan hal yang demikian ini, malah justru akan menghasilkan

keburukan pada dirinya sendiri. Akan menuai berbagai fitnah dari orang lain.

Jilbab itu sendiri teramat mulia bagi yang menjalankannya, dimana orang yang

berjilbab dianjurkan untuk selalu menjaga keindahan jilbab itu dengan

menyesuaikan sikap yang luhur.

   Jilbab dijadikan sebagai sebuah pelindung dari tindakan yang tidak

menyenangkan dari laki-laki, dan juga pelindung bagi kehormatan seorang

perempuan. Sungguhlah jilbab diperuntukkan tidak hanya sebagai sebuah hiasan

kepala belaka, namun jilbab diperuntukkan bagi perempuan benar-benar untuk

menutup auratnya. Janganlah Anda menyalahgunakan jilbab yang hanya dijadikan

sebagai sebuah aksesori belaka.    Sekali-kali janganlah memakai jilbab hanya

diniatkan pada pencarian popularitas, tren, mode belaka akan tetapi kesadaran dan
keikhlasan untuk menjalankan apa yang telah dianjurkan oleh Allah maka

rusaklah apa yang dilakukan itu. Niat yang baik akan menyertai perilaku yang

baik, setiap tindakan yang baik diniatkan hanya karena Allah akan mendapatkan

nilai plus dari Allah, berbeda dengan ketika kita melakukan sesuatu hanya

mengharapkan satu hal maka itu sajalah yang akan kita dapat. Niatkanlah

berjilbab untuk menutup aurat semata-mata karena Allah. Kebaikan apa pun yang

dilakukan tidak dengan didasarkan atas nama Allah maka tidaklah mendapatkan

apa-apa.

     Pemakaian jilbab adalah suatu kewajiban yang harus dilaksanakan dan

dipikirkan pelaksanaannya oleh wanita beriman khususnya dan oleh kaum

muslimin seluruhnya.Maka pemakaian jilbab yang seharusnya lebih diperhatikan

dan dipelajari oleh para wanita yang mengaku dirinya ber-Dien Islam, nyatanya

banyak diantara mereka yang tidak tahu. 72

     Masalah jilbab adalah masalah yang tidak dapat dianggap sepele. Sebab

masalahnya menyangkut persoalan aqidah atau tidak terlepas dari keimanan.

Apabila aqidah atau iman seseorang sudah kuat maka akan mudahlah baginya

untuk menjalankan semua syariat Islam yang telah diwajibkan atasnya.

Mengenakan busana jilbab di samping mendapatkan pahala ibadah juga banyak

mengandung hikmah atau nilai-nilai positif, baik yang tidak/ belum diketahui

manusia maupun yang telah diketahui oleh para             ilmuwan atau kaum

cendekiawan. Busana jilbab bukanlah sekadar menutup aurat saja tetapi ia


72
  Mulhandy, Kusumayadi, Enam Pulu Satu Tanya Jawab Tentang Jilbab,Yogyakarta,
Semesta, 2006, Hal: 213
mempunyai dampak yang lebih luas dan citra tersendiri sebagai ciri khas busana

wanita muslimat. Pemakaian busana jilbab cenderung menunjukkan kepada

tegaknya syariat Islam dan syiar Islam walaupun tampaknya hanya terbatas pada

wanita saja Merubah penampilan dari busana wanita biasa menjadi busana muslim

adalah suatu perubahan besar baik secara fisik maupun secara ruhani.



2. Bagaimana Motivasi Siswi SMA Islam Kepanjen tentang memakai jilbab

   Kita sebagai Siswi SMA Islam Kepanjen yang telah menerima pendidikan

khusus tentang agama Islam, yang mengajarkan berbagai tatacara dalam hidup

bermasyarakat, sangat setuju dengan memakai jilbab mengingat kehidupan yang

semakin bebas seperti sekarang ini. Bahkan banyak anak-anak walaupun remaja

yang terlena oleh godaan-godaan yang menyimpang dari ajaran agama Islam.

Oleh karena itu, kita sebagai siswi SMA Islam Kepanjen telah menyadari dengan

setulus- tulusnya untuk selalu memakai jilbab. Dari pengamatan dan suatu

kejadian-kejadian yang tidak kita inginkan, hati kita sudah terdorong untuk selalu

memkai jilbab.

   Dengan memakai jilbab kita sudah merasa aman dan terlindungi dari

kenakalan-kenakalan remaja yang sering terjadi. Dan kebanyakan yang sering

terjadi pada pergaulan bebas, adalah anak-anak yang tidak memakai jilbab. Jadi

hal-hal seperti itulah yang mendorong kita untuk selalu memakai jilbab. Bagi

Siswi yang selalu memakai jilbab akan berpengaruh besar sekali terhadap

lingkungan.Dan biasanya Siswi SMA Islam Kepanjen selalu menjadi contoh

siswi yang lain. Berkaitan dengan tata cara berpakaiannya Siswi SMA Islam
Kepanjen selalu bisa menghormati orang lain. Dengan rasa hormat pada orang

lain itulah yang membuat orang lain tidak bisa berbuat seenaknya terhadap siswi

SMA Islam Kepanjen. Karena didalam ajaran agama Islam itu sendiri selalu

mengajarkan untuk berlaku hormat terhadap orang lain, terutama kepada orang

yang lebih tua.

   Ciri-ciri dari siswi SMA Islam Kepanjen selalu memakai jilbab dan menutup

aurat. Sesuai dengan ajaran yang terkandung dalam agama Islam. Jadi, apabila

dipandang dari luar siswi SMA Islam Kepanjen kelihatan sama tidak ada

perbedaan antara yang satu dengan yang lain. Itu memiliki kekompakan dan

keseragaman tersendiri. Yang bisa menimbulkan suatu kesan persatuan dan

kesatuan antar sesama. Lain dari pada itu, juga bisa menimbulkan kesan saling

menyayangi sesuai dengan hadits nabi Muhammad SAW “Apabila diantara kamu

ingin disayangi maka sebarkanlah salam.

   Dengan begitu apabila seseorang ingin menyapa orang lain dan orang itu

memakai jilbab paling tidak kata-kata yang diucapkan adalah salam. Berbeda

dengan seseorang yang ingin menyapa orang yang tidak memakai jilbab. Mungkin

kata-kata yang terucap bisa bermacam-macam mungkin bisa berupa siulan atau

kedipan mata dan sebagainya. Walaupun dilihat dari segi rambutpun bahkan orang

lain tidak bisa menebaknya. Apakah kita berambut lurus atau keriting.

   Itu berarti, memakai jilbab sama halnya sebagai ungkapan bahwa makhluk

Allah itu sama. Tidak ada perbedaan antara yang kaya dan yang miskin. Karena

dimata Allah perbedaan seseorang hanya ada pada banyak atau besar kecilnya

mereka beribadah. Dan semoga kita termasuk orang-orang yang beriman.
Amin……..Kalau dipandang dari segi umum bahwa jilbab adalah salah satu

perlengkapan busana yang sangat digemari oleh setiap orang muslim. Karena

jilbab bisa memperindah pakaian yang di pakainya.

   Itupun juga termasuk dari salah satu motivasi bagi Siswi SMA Islam Kepanjen

pada khususnya. Coba! Marilah kita amati para jama‟ah haji yang mau

menunaikan ibadah haji ketanah suci, tiada orang satupun yang tidak memakai

jilbab, mereka kelihatan begitu indah dan sangat mempesona. Busana berwarna

putih di lengkapi jilbab yang putih pula. Yang melambangkan kesucian hatinya.

Seolah-olah mereka sudah pasrah pada Yang Maha Kuasa. Tanpa memikirkan

kehidupan dunia.

   Disana tidak ada perbedaan si kaya dan si miskin. Semua berkedudukan sama.

Yaitu makhluk Allah yang tak luput dari dosa. Siswi SMA Islam Kepanjen, tiada

perbedaan antara yang satu dengan yang lain. Semua sama dan sederajat. Dari

contoh-contoh serta penglihatan yang nyata itulah, dengan ikhlas Siswi SMA

Islam Kepanjen dengan sadar dan ikhlas selalu memakai jilbab. Walaupun

kenyataan itu sudah merupakan peraturan sekolah yang harus di jalankan.

   Tujuan yang ingin dicapai Islam melalui jilbab adalah untuk mengendalikan

dengan kendali moral yang akan memberikan kontribusi positif dalam

membangun masyarakat, bukan malah mengabaikannya dengan cara hubungan

bebas. Sementara orang-orang Barat membangun kebudayaan mereka di atas

kebersamaan laki-laki dan wanita dalam mengurus semua urusan hidup. Masing-

masing mengemban tanggung jawabnya dengan menjadikan insting seksual dalam
berbagai lapangan pekerjaan sebagai alat untuk mengubah keruwetan hidup

menjadi kesenangan dan kegembiraan.

      Masalah lain yang tidak kalah hebatnya adalah menyebarnya berbagai

penyakit kelamin yang mengancam jiwa jutaan manusia. Dari berbagai penyakit

kelamin yang ada AIDS adalah penyakit yang paling ditakuti dan paling

mematikan. AIDS adalah penyakit yang menggerogoti system kekebalan tubuh

terhadap penyakit. Jumlah korban penyakit ini dari hari ke hari semakin banyak.

Sementara obat yang bisa menyembuhkannya sampai detik ini belum juga

diketemukan. Menurut penelitian yang dilakukan oleh badan penanggulangan

penyakit menular di seluruh dunia diperkirakan bahwa tahun 1992 sekitar separuh

dari penduduk dunia terancam tertular penyakit ini. Jumlah tersebut meliputi

orang-orang yang tertular dan yang sudah mati menjadi korbannya.73

      Akibat buruk di atas sungguh sangat tidak diharapkan oleh siapapun yang

berakal sehat. Akan tetapi kita pasti akan mengalami hal sama jika kita masih

terlepas dari nilai-nilai agama dan moral.Kerusakan-kerusakan seperti itu telah

menimpa umat-umat manusia yang sudah mencapai puncak peradaban dan

kejayaan. Bagaiamana mungkin hal itu tidak menimpa umat seperti kita,

sedangkan       kita   berada   dalam    kondisi   keterbelakangan     yang   sangat

memprihatinkan seperti ini. Karena itu kita tidak boleh tertipu dengan kebudayaan

mereka yang palsu dan didasarkan kepada kesenangan semu.

      Kita harus pandai mengambil hikmah dan pelajaran dari peristiwa-peristiwa

yang menimpa umat manusia pada masa yang lampau. Akibat buruk yang


73
     Fada Abdul Razzak, Bangga Menjadi Muslimah, Jogyakarta, Think, 2005, Hal: 270
menimpa umat manusia tersebut tidak membuat orang-orang Barat sadar kecuali

setelah semuanya terlambat dan setelah generasi mudah rusak akibat berbagai

penyakit. Mereka berusaha berhenti di tengah jalan yang sudah dipenuhi dengan

kobaran hawa nafsu dan syahwat.

   Merubah penampilan dari busana wanita biasa menjadi busana muslim adalah

suatu perubahan besar baik secara fisik maupun secara ruhani. Perubahan ini

sudah dilakukan oleh wanita solehah di zaman Rasulullah sampai ke zaman ini.

Ada baiknya kita mengetahui apa yang menjadi alasan dan motivasi seseorang

memakai busana muslimah khususnya di zaman Rasulullah. Wanita solehah

berbusana muslim untuk:

1. Menunjukkan identitas dirinya sebagai muslimah. Salah satu identitas wanita

   solehah adalah memiliki rasa malu.

   Rasa malu yang disebutkan di sini adalah rasa malu kepada Tuhan, antara lain

dengan merasa selalu diawasi oleh Tuhan rasa berhamba dan rasa tidak layak

mendapatkan nikmat dan karunia yang banyak dari Tuhan. Karena memiliki rasa

malu tersebut wanita solehah sangat menjaga apa yang diucapkannya, dan juga

apa yang diperlihatkannya. Rasa malu ini membuat wanita solehah tidak ingin

menjadi pusat perhatian orang banyak untuk menonjolkan dirinya melalui busana

yang dikenakannya.

2. Meraih cinta dan ampunan dari Allah karena ketaatannya.

   Dalam hal ketaatan, Rasulullah sangat senang dengan apa yang dilakukan oleh

wanita wanita Anshor ketika perintah berkerudung disampaikan. Wanita Anshor

langsung memotong kain kain yang dimilikinya untuk digunakan sebagai
kerudung.



3. Melindungi dirinya.

   Busana muslimah memiliki banyak manfaat bagi seorang muslimah. Busana

ini melindungi muslimah seperti sebuah permata yang dibungkus dalam kemasan

yang cantik, rapih dan terlindung



3. Bagaimana Manfaat Memakai Jilbab Bagi Siswi SMA Islam Kepanjen

   Jilbab adalah suatu perlengkapan busana muslim yang selalu di pakai oleh

orang-orang muslim pada umumnya. Dan juga siswi SMA Islam Kepanjen pada

khususnya. Yang mana jilbab itu sudah dipakai sejak zaman Rosulullah SAW.

Jadi sudah bukan suatu hal yang baru lagi bagi umat Islam. Memakai jilbab adalah

suatu keharusan bagi umat Islam kita harus menutup aurot. Dan memakai jilbab

itu adalah salah satu budaya umat Islam yang sudah memasyarakat. Yang harus

kita lestarikan, sampai pada kehidupan anak cucu kita yang akan datang. Dengan

kebiasaan memakai jilbab bagi Siswi SMA Islam Kepanjen jadi telah mendidik

masing-masing siswi untuk hidup berdisiplin. Karena memakai jilbab adalah

peraturan sekolah yang harus ditaati.

   Dengan demikian, walaupun itu adalah suatu peraturan lama-kelamaan siswi

SMA Islam Kepanjen akan terbiasa memakai jilbab. Karena memakai jilbab

sangat di anjurkan dalam ajaran Islam. Bahkan bagi siapa yang sudah terbiasa

memakai jilbab, seterusnya kalau tidak berjilbab akan merasa malu. Dalam Islam

juga ditegaskan siapa yang tak punya rasa malu berarti tidak punya malu.
   Bagi Siswi SMA Islam Kepanjen, memakai jilbab dapat mencegah perbuatan

zina. Suatu contoh: Kita mau berangkat kesekolah sudah berpakaian rapi. Semua

aurot sudah tertutup. Pasti orang-orang yang mau main-main pada kita merasa

malu. Jadi kemungkinan untuk bersiul-siul, diurungkan. Kemungkinan berkedip-

kedip mata juga diurungkan. Insya Allah kita terbebas dari perbuatan zina. Baik

itu zina mata, zina telinga, dan zina hati.

   Dengan memakai jilbab bisa menumbuhkan rasa saling menyayangi antar

sesama paling tidak sapaan yang terlontar untuk siswi yang memakai jilbab

adalah Assalamu‟ Alaikum, itu bagi mereka yang tidak kenal. Dan kita akan

memberi jawaban Wa‟alaikum Salam. Dengan senyuman yang tulus. Artinya

kitapun tidak menyadari bisa menghibur orang lain, dengan senyum yang tulus

tadi. Sesuai dengan hadits Nabi Muhammad SAW “ Apabila diantara kamu tidak

bisa bersodakoh berupa harta benda, maka tersenyumlah”. Akan tetapi lain

dengan sapaan bagi siswi yang tidak memakai jilbab. Mungkin dengan sapaan

yang agak jorok, atau siulan, akan membuat hati jadi tersinggung. Dan akan

keluar jawaban yang kasar.

   Sehingga menimbulkan permusuhan atau kemarahan. Itu sangat dilarang

dalam ajaran Islam. Ya kalau ada kesempatan berbaikan kalau tidak? Yang ada

tinggallah permusuhan. Oleh sebab itu, sangatlah bagus bagi Siswi SMA Islam

Kepanjen yang selalu memakai jilbab. Dan manfaatnya sangat banyak dapat kita

rasakan dalam kehidupan sehari-hari. Baik itu untuk lingkungan dan untuk diri

pribadi para siswi.
   Manfaat yang terakhir adalah dengan memakai jilbab, bisa menanamkan rasa

percaya diri. Artinya, kalau kita sudah berpakaian rapi lengkap dengan jilbabnya,

kita akan lebih percaya diri. Aurot sudah tertutup, kemungkinan orang-orang

iseng pada kita sudah tidak ada lagi. Kita sudah mantap keluar rumah niat

beribadah yaitu menuntut ilmu.

   Jadi Rasulullah mewajibkan seorang muslimah untuk mengenakan jilbabnya

dalam keadaan apapun, begitu pentingnya hal ini sehingga apabila seorang

muslimah     tidak   mempunyai   jilbab   beliau   menyuruh    temannya    untuk

meminjaminya.

   Berikut ini beberapa manfaat dari diwajibkannya jilbab bagi seorang

muslimah :

1) Sebagai identitas seorang muslimah

   Allah memberikan kewajiban untuk berjilbab agar para wanita mukmin

mempunyai ciri khas dan identitas tersendiri yang membedakannya dengan orang-

orang non muslim.

   Dalam sebuah hadits dikatakan :

   "Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka"

(HR. Abu Dawud)

2) Meninggikan derajat wanita muslim (muslimah)

   Dengan mengenakan jilbab yang menutup seluruh auratnya dan tidak

membuka auratnya di sembarang tempat, maka seorang muslimah itu bagaikan

sebuah batu permata yang terpajang di etalase yang tidak sembarang orang dapat

mengambil dan memilikinya. Dan bukan seperti batu yang berserakan di jalan
dimana      setiap    orang     dapat     dengan         mudah        mengambilnya,             kemudian

menikmatinya, lalu membuangnya kembali.

Allah berfirman :


            

                                        


    Artinya: "Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun
perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan
kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan
kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka
kerjakan."(QS. An Nahl (16) : 97)


3) Mencegah dari gangguan laki-laki tak bertanggung jawab

         Hal ini mudah dipahami karena dengan seluruh tubuh tertutup kecuali

muka dan telapak tangan, maka tidak akan mungkin ada laki-laki iseng yang

tertarik untuk menggoda dan mencelakakannya selama ia tidak berperilaku yang

berlebih-lebihan. Sehingga kejadian-kejadian seperti perkosaan, perzinaan, dsb

dapat dihindarkan


                                             
        Artinya:"Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu
adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk." (QS. Al Israa'
(17) : 32)
d) Memperkuat kontrol sosial

   Seorang yang ikhlas dalam menjalankan perintahNya dan menjauhi

laranganNya khususnya dalam mengenakan busana muslimah, Insya Allah ia akan

selalu menyadari bahwa dia selalu membawa nama dan identitas Islam dalam

kehidupannya sehari-hari, sehingga apabila suatu saat dia melakukan kekhilafan

maka ia akan lebih mudah ingat kepada Allah dan kembali ke jalan yang

diridhoiNya
                                    BAB VI

                                  PENUTUP



   Berdasarkan hasil analisa data, maka kesimpulan yang diperoleh dalam

penelitian ini adalah

1. Kesimpulan

1. Bahwa siswi SMA Islam Kepanjen memakai jilbab karena untuk mentaati

   peraturan sekolah terutama kewajiban berjilbab pada hari Rabu dan Kamis.

   Dan pihak sekolah sengaja tidak memaksa terhadap siswi karena sekolah juga

   selalu berharap mendapatkan murid yang maksimal untuk masa yang akan

   dating.

2. Sekolah SMA Islam Kepanjen ingin mendidik para siswi untuk memakai

   jilbab secara ikhlas karena menutup aurat adalah suatu kewajiban bagi orang

   Islam sesuai dengan kitab suci Al-Qur‟an Surat An-Nuur Ayat 31



2. Saran

1. Bagi Pihak Sekolah

   Sekolah sebagai salah satu media dalam membentuk kepribadian seorang

siswa, hendaknya mengoptimalkan nilai-nilai Pendidikan Agama Islam dengan

mengadakan evaluasi agar lebih efektif dan efisien, sehingga para siswi dengan

ikhlas memakai jilbab agar siswi kelihatan rapid an sopan.
2. Bagi Para Pendidik

   Guru sebagai media penyampai ilmu pengetahuan kepada siswa, hendaknya

juga memberikan pengertian tentang pentingnya nilai-nilai Pendidikan Agama

Islam terutama tentang berjilbab bagi para siswi putri, sehingga tugas ini tidak

hanya menjadi tugas guru agama saja. Dan sebaiknya para guru wanita juga harus

memakai jilbab setiap hari, karena dengan demikian secara langsung guru tersebut

memberikan contoh kepada para siswi.

3. Bagi Siswa dan siswi

   Siswa sebagai peserta didik diharapkan dapat menerima semua pelajaran

dengan baik terutama tentang nilai Pendidikan Islam supaya bisa memilih dan

memilih mana yang baik dan buruk untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari,

terutama bagi siswi-siswi yang sudah berjilbab dengan tekun supaya tetap

dipertahankan, sedangkan bagi mereka yang masih kadang-kadang berjilbab,

supaya ditingkatkan kemantapannya untuk berjilbab dengan tekun. Saya

menghimbau siswi SMA Islam Kepanjen selalu mentaati peraturan sekolah untuk

berjilbab mengingat kita sebagai seorang muslim. Dengan menutup aurat kita bias

terhindar dari kejahatan. Seorang yang memakai jilbab akan terkesan lebih cantik,

rapi dan sopan.
                           DAFTAR PUSTAKA


Abdullah , Abu. 2010. Aku Takut Tak Berjilbab. Jakarta: Mirqat


Abdul Mun‟im, Amru. 2002. Bid’ah Wanita. Jakarta: Al-Kautsar



Abdul Kadir Darwis, Khaulah Binti terjemahan Kathur Suhardi. 2001. Bagaimana
       Muslim Bergaul. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar

Al-Fauzan, Syaik Abdullah Shalih. 1995. Kriteria Busana Muslimah. Jakarta:
        Khazana Shun, Cet ke-1

Al-Ghifari, Abu.   2002 . Kudung Gaul Berjilbab Tapi Telanjang. Bandung:
        Mujahid

Ali , Muhammad Al- Hasyimi. 2000. Muslimah Ideal. Yogyakarta: Mitra Pustaka


Al- Jazairi, Syaikh Abu Bakar Jabir. 2008. Tafsir Al-Qur’an Al-Aisar jilid 5.
        Jakarta: Al-Kautsar

Al-Taliyadi, Abdullah. 2008. Astaghfirullah Aurat. Jogyakarta : Diva Press


Ar- Ramadi, Zakariya Amani. 2010. Alhamdulilah Putriku Berjilbab. Solo:
Zam-zam

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.
        Jakarta : Rineka Cipta

Bahtiar, Deni Sutan. 2009.Berjilbab dan Tren buka aurat. Yogyakarta: Mitra
         Pustaka

Bari , Syaiful Djamarah. 2002. Psikologi Belajar . Jakarta: Rineka Cipta


Baswedan, Sufyan Bin Fuad.2007. Lautan Mukjizat di Balik Balutan Jilbab.
       Jogyakarta: Wafa Press


Bil , Aqis Qishi. 2002. Wanita Calon Penghuni Surga. Surabaya: Tiga Dua
B. Miles, Matthew dan A. Michael Huberman. 1992. Analisis Data Kualitatif.
        Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia

Burhan, Shodiq. 2008. Engkau lebih cantik Dengan jilbab. Jakarta: Darul- Haq


Fachruddin, DR. Fuad Mohd. 1984. Aurat dan Jilbab dalam Pandangan Mata
        Islam. Jakarta: CV. Pedoman Ilmu Jaya

Fachruddin, Fuad Mohd. 1991 Aurat dan Jilbab dalam Pandangan Mata Islam.
        Jakarta: CV. Pedoman Ilmu Jaya. Cet. Ke-2

Hadi, Sutrisno. 1987. Metodologi Riserch JIlid III, Yogyakarta: Andi Ofset


Kamil Muhammad, Syaikh. 1998. Fiqih Wanita. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar


Kusumayadi , Mulhandy. 2006. Enam Pulu Satu Tanya Jawab Tentang Jilbab.
      Yogyakarta: Semesta

J. Moleong, Lexy. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja
        Rosdakarya

Labib, Mz. 1999. Wanita dan Jilbab. Gresik: CV. Bulan Bintang, Cet. Ke-1


Muhammad Bin Ibrahim, Syaikh, Abdullah Bin Humaid, Syaikh, dkk. 2006.
      Fatwa-fatwa Wanita. Jakarta: Darul Haq

Muhammad bin Muhammad, Wan Ali. Hijab Pakaian Penutup Aurat Istri Nabi
      saw. Yogyakarta: Citra Risalah

Muhammad Mutawalli, Syarawi. 2007. Anda Bertanya Islam Menjawab. Jakarta:
      Gema Insani Press

Muhyidin, Muhammad. 2007. Membelah lautan Jilbab. Yogyakarta: Diva Press


Mulyono, Bambang. 1993. Pendekatan Analisis Kenakalan Remaja dan Cara
       Penanggulangan. Yogyakarta : PT. BPK Gunung Mulia

Mun‟in Amru Abdul. 2000. Etika Berhias Wanita Muslimah. Solo: At-Tibyan
Muthahhari, Murtadha. 2000 . Wanita dan Hijab. Jakarta: Lentera


Nasution, S. 2006 . Metode Research. Jakarta : Bumi Aksara


Nazir, Moh. 2005. Metode Penelitian. Bogor: Ghalia Indonesia


Purwanto, Ngalim. 2007. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja
       Rosdakarya

Razzak, Abdul Fada. 2005. Bangga Menjadi Muslimah. Jogyakarta: Think

Sardiman. 2007. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Raja
       Grafindo Persada

Shahab, Husein. 1986. Jilbab Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah. Bandung:
        Mizan

Shihab, Quraish. 2007. Jilbab Pakaian Wanita Muslimah. Bandung : PT. Mizan
        Pustaka

Siddik, Yasmin. 2007. Tampil Gaya Dengan Jilbab. Jakarta: PT Agro Media
        Pustaka

Prabuningrat, Ray Sitoresmi. 1997. Sosok Wanita Muslimah. Yogyakarta: PT.
        Tiara Wacana Yogya

Soemanto, Wasty. 2006. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT. Rineka Cipta


Sukandarrumidi. 2006. Metodologi Penelitian Petunjuk Praktis Untuk Peneliti
       Pemula.Yogyakarta: Gadjah Mada University Press


Surtiretna, Nina, dkk. 2001. Anggun Berjilbab. Bandung: Mizan Media Utama


Sukmadinata, Nana Syaodih. 2007. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT.
        Remaja Rosdakarya
                        PEDOMAN INTERVIEW

   Responden : Kepala Sekolah

1. Mengapa Bapak hanya mewajibkan siswi SMA                ISLAM Kepanjen

   memkai jilbab hari Rabu dan Kamis ?

2. Apakah selama ini ada komplain dari siswa yang tidak setuju memakai

   jilbab ?

3. Apakah ada program dari sekolah untuk berjilbab selama I minggu ?

4. Apakah selama ini ada hambatan-hambatan dalam penerapan pemakaian

   jilbab ?

5. Apa ada motivasi khusus dari Kepala Sekolah/ Guru dan karyawan SMA

   Islam/ Masyarakat sekitar dalam memotivasi pemakaian jilbab di sekolah ?



   Responden: Waka Kesiswaan

1. Bolehkah siswa memakai jilbab yang tidak sesuai dengan ketentuan

   sekolah ?

2. Apakah ada peraturan tertulis tentang peraturan memakai jilbab ?

   Responden: Guru Agama

1. Bagaimana perbedaan antara siswi yang memakai jilbab dengan yang tidak

   berjilbab pada saat pelajaran di kelas ?

2. Bagaimana Bu Diana menyikapi siswi SMA Islam Kepanjen dengan

   memakai jilbab ?

3. Pada saat guru diharuskan memakai jilbab bagaimana perasaan Bu Diana

   apakah tertekan atau merupakan suatu hal yang biasa ?
4. Bagaimana Bu Diana memberikan motivasi terhadap siswi yang memakai

   jilbab ?



   Responden : Siswi-siswi

1. Bagaimana menurut pendapatmu tentang pengertian jilbab?

2. Bagaimana menurut pendapatmu ketika diwajibkan memakai jilbab pada

   hari Rabu dan Kamis ?

3. Setelah masuk di SMA Islam Kepanjen kamu memakai jilbab, Bagaimana

   sikap orang tuamu ?

4. Sejak kapan anda berjilbab ?

5. Dimana saja anda berjilbab ?

6. Apa manfaat/ keuntungan bagi anda untuk memakai jilbab ?

7. Apakah kamu memakai jilbab sudah merasa terlindungi, maksudnya ada

   keusilan/ teman yang ingin menggoda ?

8. Apa dampak yang anda rasakan dengan memakai jilbab dilingkungan

   SMA Islam Kepanjen ?

9. Faktor Faktor apa saja yang mendukung anda untuk berjilbab ?
                         PEDOMAN OBSERVASI



1. Gambaran umun lokasi penelitian.

2. Keadaan guru, karyawan, dan siswa

3. Keadaan sarana prasarana.



                         PEDOMAN DOKUMENTASI



1. Data tentang letak geografis obyek penelitian.

2. Data tentang sejarah singkat objek penelitian.

3. Data tentang visi, misi, dan tujuan objek penelitian.

4. Data tentang sarana prasarana objek penelitian.

5. Data tentang struktur organisasi.

6. Data tentang guru, karyawan, dan murid obyek penelitian.
                          Data Dokumentasi Interview

     Tgl               Responden                             Substansi


20     Februari Drs.    Musoli     Haris Drs. Musoli Haris selaku Kepala Sekolah

2010            selaku Kepala Sekolah memaparkan bahwa pengkhususan dalam

                SMA ISLAM Kepanjen       pemakaian jilbab di hari Rabu dan Kamis

                                         merupakan seragam khusus yang juga

                                         dijadikan sebagai satu ciri khas yang

                                         menonjol dan bisa dikenal masyarakat

                                         umumnya. Sedangkan menurut pemahaman

                                         dari masyarakat sekitar sekolah bahwa siswi

                                         SMA ISLAM Kepanjen belum sepenuhnya

                                         memakai    jilbab     yang   didasari     dengan

                                         kemauan dan keikhlasan diri siswi, akan

                                         tetapi mereka memakai jilbab hanya karena

                                         tuntutan aturan dan tata tertib sekolah yang

                                         wajib dipatuhi. Pemakaian jilbab pada siswi

                                         SMA ISLAM Kepanjen           merupakan suatu

                                         kewajiban yang harus dijalankan dan tidak

                                         boleh   ditinggalkan,    karena    jika     tidak

                                         memakai jilbab akan mendapatkan sanksi



21     Februari Muhamad Rosuli selaku Pak Rusli selaku Waka Kesiswaan bahwa

2010            Waka Kesiswaan SMA pengetahuan          dan      pemaknaan         tentang

                ISLAM Kepanjen           memakai jilbab pada       siswi SMA ISLAM
                                        Kepanjen belum maksimal, karena mereka

                                        masih dalam tahap pembelajaran. Jadi

                                        mereka belum menyadari sepenuhnya, dapat

                                        di lihat dari sikap setiap siswi pada saat

                                        melakukan     olah   raga.   Mereka    masih

                                        mempunyai     perasaan   terganggu    dengan

                                        memakai jilbab. Mungkin mereka belum

                                        begitu menyadarinya. Jadi mereka kadang-

                                        kadang melepas jilbab. Karena mereka

                                        merasa panas dan kurang nyaman dengan

                                        jilbab yang dipakai. Para siswi belum bisa

                                        menempatkan dirinya kapan mereka harus

                                        memakai dan melepas jilbab dan juga tidak

                                        menyadari keadaan sekitarnya apakah ada

                                        orang laki-laki non muhrim yang dengan

                                        sengaja memperhatikannya atau tidak. Dan

                                        mereka belum menyadari bahwa          melepas

                                        jilbab itu membuka aurat dan hukumnya

                                        adalah dosa

25     Februari Ibu Diana selaku Guru Menurut pemaparan dari Bu Diana bahwa

2010           Pendidikan       Agama siswi SMA ISLAM Kepanjen kadang-

               Islam      SMA ISLAM kadang ada yang belum bisa atau belum tahu

               Kepanjen                 cara memakai jilbab. Dengan begitu bagi

                                        yang belum siap untuk memakai jilbab

                                        kadang-kadang suka dilepas dengan berbagai
                                       alasan

22     Februari Putri Ani selaku siswi Menurut     siswi   bahwa    memakai    jilbab

2010            SMA ISLAM Kepanjen     merupakan salah satu unsur yang terpenting

                                       bagi orang tua untuk mempercayai setiap

                                       tingkah laku anak-anaknya. Karena anaknya

                                       kelihatan sopan

25     Februari Bapak Drs. Sulkanaji Menurut       pendapat   Pak     Sulkan   bahwa

2010            selaku   guru    SMA terdapat beberapa motivasi memakai jilbab

                ISLAM Kepanjen         diantaranya:

                                         5. Untuk        melindungi     kehormatan/

                                            harga diri siswa dalam pergaulan

                                            khususnya di luar sekolah.

                                         6. Sebagai tanda bahwa siswi tersebut

                                            mayoritas bernuansa Islam.

                                         7. Suatu trend

                                         8. Untuk mengendalikan tingkah laku

                                            dalam pergaulan.




26     Februari Ibu Fatimah selaku Guru Menurut Bu Fatimah motivasi memakai

2010            SMA ISLAM Kepanjen     jilbab

                                          4. Untuk menutupi kekurangan pada

                                                diri seseorang misalnya ada yang
   cacat orang tidak menjadi tahu

   secara langsung.

5. Untuk     memenuhi     kewajiban

   sebagai   seorang   muslim.Status

   sekolah mengikuti kaidah agama.

   Dengan    memakai    jilbab   bisa

   meredakan keinginan seseorang
                              DEPARTEMEN AGAMA
                 UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)MALANG
                          FAKULTAS TARBIYAH

Jl. Gajayana 50 Malang Telp. (0341) 572533 Fax. (0341) 572533



                                  BUKTI KONSULTASI


      Nama                  : Ruliana
      NIM/Jurusan           : 06110150/ Pendidikan Agama Islam
      Dosen Pembimbing      : Triyo Supriyatno, M.Ag
      Judul Skripsi : MOTIVASI SISWA MEMAKAI JILBAB DI SEKOLAH
                        (STUDI KASUS DI SMA ISLAM KEPANJEN MALANG)


       N                                                            Tanda
              Tanggal              Hal Yang dikonsultasikan
 o                                                               Tangan

       1     18 Februari
                                 Konsultasi Hasil Proposal         1.
  .   2010

       2     19 Februari
                                 Revisi Hasil Proposal                  2.
  .   2010

       3     06 Maret
                                 Konsultasi BAB I, II, III         3.
  .   2010

       4     07 Maret
                                 Revisi BAB I, II, III                  4.
  .   2010

       5     18 Maret
                                 Konsultasi BAB IV, V, VI          5.
  .   2010

       6     19 Maret
                                 Revisi BAB V, VI                       6.
  .   2010

       7     22 Maret            Konsultasi Keseluruhan            7.
.   2010

     8     26 Maret
                      Revisi Keseluruhan                        8.
.   2010

     9     08 April
                      ACC Keseluruhan                      9.
.   2010




                                           Malang, 08 April 2010


                                           Mengetahui,
                                           Dekan




                              Dr. H. M. Zainuddin, M.A
                              NIP.196205071995031001
 Lokasi

Penelitian

                         di SMA ISLAM Kepanjen




Lokasi


             Penelitian di SMA ISLAM Kepanjen tampak dari atas
Wawancara denganmAni salah satu Siswi SMA ISLAM Kepanjen Pada Tanggal

                   22 Februari 2010 pada pukul 07.10




Wawancara dengan Fahira satu Siswi SMA ISLAM Kepanjen Pada Tanggal 22

                    Februari 2010 pada pukul 07.10
Wawancara dengan Gaby salah satu Siswi SMA ISLAM Kepanjen Pada Tanggal
                   25 Februari 2010 pada pukul 11.26




 Wawancara dengan Ayu dan Sri salah satu Siswi SMA ISLAM Kepanjen Pada

                Tanggal 27 Februari 2010 pada pukul 11.26
Wawancara dengan Nisa salah satu Siswi SMA ISLAM Kepanjen Pada Tanggal

                   25 Februari 2010 pada pukul 11.22




Wawancara dengan Nur salah satu Siswi SMA ISLAM Kepanjen Pada Tanggal

                   27 Februari 2010 pada pukul 07.30
Wawancara dengan Intan salah satu Siswi SMA ISLAM Kepanjen Pada Tanggal

                     1 Maret 2010 pada pukul 08.00




Wawancara dengan Yuli salah satu Siswi SMA ISLAM Kepanjen Pada Tanggal

                     1 Maret 2010 pada pukul 08.20

								
To top