Docstoc

Komunikasi - DOC

Document Sample
Komunikasi - DOC Powered By Docstoc
					A. KOMUNIKASI

    I.   Pengertian Komunikasi

     Komunikasi adalah suatu proses interaksi dan pertukaran informasi
dari satu individu dengan individu lainnya dimana melalui proses tsb,
individu yang satu dapat mempengaruhi individu lainnya serta dapat
diperoleh suatu pemahaman bersama.

Definisi komunikasi menurut para ahli & praktisi komunikasi :

1. Dalam perkembangan praktik komunikasi manusia, etimologi kata
   “komunikasi” mengalami peralihan makna dari bahasa Latin ke bahasa
   Inggris yaitu “Common” (dalam bahasa Latin “communis”), yang berarti
   “bersama dengan” dan “bersatu dengan”.
2. Komunikasi adalah segala aktivitas interaksi manusia yang bersifadt
   human relationships disertai dengan pengalihan sebuah fakta. (Azriel
   Winnett, 2004)
3. Komunikasi merupakan interaksi antarpribadi yang menggunakan
   system symbol linguistic, seperti system symbol verbal (kata-kata),
   verbal, non verbal. System ini dapat diasosiasikan secara langsung
   atau tatap muka atau melalui media lain (tulisan, oral, dan visual).
   (Karfried Knapp, 2003)
4. Komunikasi merupakan setiap proses pertukaran informasi, gagasan
   dan perasaan. Proses ini meliputi informasi yang disampaikan baik
   secara lisan maupun tertulis dengan kata-kata, atau yang disampaikan
   dengan bahasa tubuh, gaya maupun penampilan diri, menggunakan
   alat bantu di sekeliling kita sehingga sebuah pesan menjadi lebih kaya.
   (Hybels dan Weafer II 1992; Liliweri, 2003)
5. Komunikasi (Walhstrom, 1992; Liliweri, 2003) :
    Penyataan diri yang efektif;
    Pertukaran pesan-pesan yang tertulis, pesan-pesan dalam
     percakapan, bahkan melalui imajinasi;
    Pertukaran informasi atau hiburan dengan kata-kata melalui
     percakapan atau dengan metode lain;
    Pengalihan informasi dari seseorang kepada orang lain;
    Pertukaran makna antarpribadi dengan system symbol;
    Proses pengalihan pesan melalui saluran tertentu kepada orang lain
     dengan efek tertentu.


   II.   Unsur – Unsur Komunikasi

1. Komunikator
   Komunikator adalah orang yang mau berkomunikasi dengan orang lain,
   disebut juga pembawa berita / pengirim pesan / sumber berita.
   Komunikator bisa individu, kelompok, keluarga atau organisasi yang
   mengambil inisiatif penyelenggaraan komunikasi dengan individu atau
   kelompok lain dan berperan untuk mengalihkan (transferring) pesan.

2. Pesan
   Unsure kedua yang tak kalah penting adalah pesan. Pesan atau amanat
   adalah berita yang disampaikan oleh komunikator melalui lambing atau
   gerakan atau gagasan yang dinyatakan oleh pengirim kepada orang
   lain. Sedangkan berita adalah cerita atau keterangan mengenai kejadian
   atau peristiwa yang hangat dan akurat. Kedua sarana, yaitu komunikator
   dan pesan, lazim digunakan bersama dalam komunikasi. Artinya,
   komunikasi akan berlangsung jika ada komunikator dan pesan.
   Sedangkan unsur lain seperti saluran komunikasi, metode komunikasi,
   lingkungan dan umpan balik merupakan factor pendukung.

3. Saluran Komunikasi atau Media
   Saluran komunikasi adalah sarana untuk menangkap lambang yang
   kemudian diterjemahkan dalam bentuk persepsi yang memberi makna
   terhadap suatu stimulus atau rangsangan. Persepsi adalah tanggapan
   atau penerimaan langsung dari satu proses seseorang mengetahui
   beberapa hal melalui panca indra. Saluran komunikasi meliputi
   pendengaran (lambang berupa suara), penglihatan (lambang berupa
   sinar, pantulah sinar atau gambara), penciuman (lambang yang berupa
   bau-bauan), dan rabaan (lambang berupa rangsangan perabaan).
4. Komunikan
   Dalam proses komunikasi, selain unsur mewujudkan kegiatan
   komunikasi perlu dilengkapi dengan keberadaan komunikan.
   Komunikan adalah pihak lain yang diajak berkomunikasi, yang
   merupakan sasaran dalam kegiatan komunikasi atau orang yang
   menerima berita atau lambang. Komunikan adalah individu, sekelompok
   orang, komunitas, organisasi, public, masyarakat yang menjadi sasaran
   komunikasi.

5. Umpan Balik
   Komunikasi dinyatakan berhasil apabila komunikan mampu memberikan
   umpan balik yang berbentuk tanggapan atau respon. Umpan balik
   adalah arus umpan balik dalam rangka proses berlangsungnya
   komunikasi. Umpan balik merupakan hasil atau akibat yang berbalik,
   guna bagi rangsangan atau dorongan untuk bertindak lebih lanjut atau
   merupakan tanggapan langsung dari pengamatan sebagai hasil dari
   kelakuan individu terhadap individu lain.


  III.   Komponen Komunikasi

     Mendengarkan sangat penting peranannya dalam berkomunikasi,
dan hal ini diantara lain terlihat pada komponen komunikasi, sbb :
 Mendengarkan            ( 45 % )
 Berbicara               ( 30 % )
 Membaca                 ( 15 % )
 Menulis                 ( 10 % )

     Dari profil komponen tsb, terlihat bahwa kegiatan mendengarkan
merupakan komponen tsb (45%) dari komunikasi.


    IV. Proses Komunikasi
      Proses komunikasi sebagai suatu proses interaksi, maka komunikasi
sebaiknya dilakukan melalui proses dua arah, serta melibatkan adanya
umpan balik. Karna umpan balik memainkan peranan penting, karena
umpan balik memungkinkan bagi pengirim pesan merubah atau
memperbaiki isi pesan, khususnya apabila pengirim pesan tak tercapai,
atau pesan yang diterima meskipun dimengerti dan dilaksanakan oleh
penerima berita, tetapi hal tsb ternyata tidak sesuai dengan apa yang
dimaksud oleh pengirim berita.



Bagan Proses Komunikasi


             U              Sumber Berita
             M               (MESSAGE)
             P
             A
             N             Pengiriman Berita               NOISE
                            (ENCODER)                     Gangguan
             B
             A
             L
             I              Penerima Berita
             K               (DECODER)


                                        Dimengerti
                                        Dilaksanakan
    V. Faktor yang Mempengaruhi Komunikasi

       Proses komunikasi dipengaruhi oleh beberapa factor antara lain :
   Perkembangan
   Persepsi
   Nilai
   Latar belakang sosial budaya
   Emosi
   Jenis kelamin
    Pengetahuan
    Peran dan hubungan
    Lingkungan
    Jarak
    Citra diri
    Kondisi fisik


     VI. Bentuk Komunikasi

       Ada beberapa bentuk komunikasi :
a)   Komunikasi massa
b)   Komunikasi intrapersonal (dalam diri sendiri)
c)   Komunikasi interpersonal, termasuk didalam komunikasi :
      Antara 2 orang
      Antara 3 orang atau lebih
d)   Komunikasi kelompok (group kecil maksimal 10 orang)

 Komunikasi Massa
  Penyampaian pesan dari seseorang kepada sekelompok orang /
  biasanya sebagian besar masyarakat.
   Misalnya pidato kampanya / khotbah.
 Komunikasi Intrapersonal
  Penyampaian pesan seseorang kepada diri sendiri.
  Misalnya : berbicara dalam hati.
 Komunikasi Interpersonal
  Penyampaian pesan dari seseorang kepada orang lain, bersifat 2 arah,
  secara verbal / non verbal.
  Misalnya : antara bidan dank lien.
 Komunikasi kelompok (bagian KIP)
  Merupakan salah satu bentuk komunikasi interpersonal menyangkut
  komunikasi seseorang dengan beberapa orang lainnya. Anggota
  kelompok masing-masing menyadari keberadaan anggota lainnya,
  mereka memiliki minat yang sama, dan bekerja sama untuk suatu
   tujuan. Misalnya : antara bidan dengan kelompok dukun bayi /
   kelompok ibu hamil.



   Contoh ;
   Cerita “kelahiran bayi sehat” mengandung beberapa jenis komunikasi.
    Komunikasi Interpersonal : Antara pak Ahmad dgn istrinya
    Komunikasi Intrapersonal : Ketika pak Ahmad bagaimana “sya kok
     lupa….”
    Komunikasi Massa            : Pak Ahmad menyiarkan melalui radio
    Komunikasi Kelompok         : Pak Ahmad memberitahukakn kepada
     rekan kerjanya.


B. KOMUNIKASI EFEKTIF

   I.    Pengertian Komunikasi efektif

     Komunikasi efektif adalah tersampaikannya gagasan, pesan dan
perasaan dengan cara yang baik dalam kontak sosial yang baik pulal.
Komunikasi dapat efektif apabila pesan diterima dan dimengerti
sebagaimana dimaksud oleh pengirim pesan, pesan ditindaklanjuti dengan
sebuah perbuatan oleh penerima pesan dan tidak ada hambatan untuk hal
itu.
     Komunikasi efektif terjadi apabila sesuatu (pesan) yang diberitahukan
komunikator dapat diterima dengan baik atau sama oleh komunikan,
sehingga tidak terjadi salah persepsi.


   II.    Proses Komunikasi Efektif

     Bagaimana efek suatu proses komunikasi pada seseorang terhadap
pesan yang dikomunikasikan, bagaimana efeknya dapat diramalkan
bagaimana timbul pada komunikan. Upaya untuk hal tsb dengan
menciptakan “the condition of success in communication”, yang
diperkenalkan oleh Wilbur Scramm, yakni kondisi yang harus dipenuhi kita
menginginkan suatu pesan dapat membangkitkan tanggapan yang kita
kehendaki. Kondisi tersebut adalah :
1) Pesan harus dirancang dan disampaikan sedemikian rupa, sehingga
   dapat menarik perhatian komunikan.
2) Pesan harus menggunakan lambang-lambang tertuju pada pengalaman
   yang sama antara komunikator dan komunikan, sehingga sama-sama
   mengerti.
3) Pesan harus membangkitkan kebutuhan pribadi komunikan dan
   menyarankan beberapa cara untuk memperoleh kebutuhan tsb.
4) Pesan harus menyarankan suatu jalan untuk memperoleh kebutuhan
   komunikan yang layak bagi situasi kelompok dimana komunikan berada
   pada saat digerakkan untuk memberikan tanggapan yang dikehendaki.
5) Selanjutnya seorang komunikator harus meneliti sedalam-dalamnya
   tujuan komunikan (know your audience) meliputi hal-hal :
    Waktu yang tepat untuk suatu pesan
    Bahasa yang harus dipergunakan agar pesan dapat dimengerti
    Sikap dan nilai yang harus ditampilkan agar efektif
    Jenis kelompok di mana komunikasi akan dilaksanakan
6) Perlu juga diperhatikan bahwa komunikan dapat dan akan menerima
   sebuah pesan jika terdapat kondisi berikut secara simultan : komunikan
   dapat dan benar-benar mengerti pesan komunikasi. Pada saat
   komunikan mengambil keputusan, komunikan sadar bahwa
   keputusannya itu sesuai dengan tujuannya. Pada saat komunikan
   mengambil keputusan, komunikan sadar bahwa keputusan itu
   bersangkutan dengan kepentingan pribadinya. Komunikan mampu
   untuk menepati baik secara mental maupun secara fisik. Selanjutnya
   fakta fundamental yang harus diperhatikan oleh komunikator, bahwa :
    Komunikan terdiri dari berbagai orang yang saling berinteraksi satu
       sama lain dalam suatu jaringan pranata sosial, maka setiap orang
       merupakan subjek bagi berbagai pengaruh diantaranya adalah
       pengaruh dari komunikator.
    Komunikan membaca, mendengarkan, menonton komunikasi yang
       menyajikan pandangan hubungan pribadi yang mendalam.
          Tanggapan yang diinginkan komunikator dari komunikan harus
          menguntungkan bagi komunikan, jika tidak komunikan tidak akan
          memberikan tanggapan.


   III.     Unsur – Unsur dalam Membangun Komunikasi Efektif

1) Mengembangkan komunikasi yang efektif adalah sikap menghargai
   setiap individu yang menjadi sasaran pesan yang kita sampaikan.
2) Empati adalah kemampuan kita untuk menempatkan diri kita pada
   situasi atau kondisi yang dihadapi oleh orang lain. Salah satu prasyarat
   utama dalam memiliki sifat empati adalah kemampuan kita untuk
   mendengarkan atau mengerti terlebih dulu sebelum di dengarkan atau
   dimengerti oleh orang lain.
3) Dapat didengarkan atau dimengerti dengan baik. Jika empati berarti
   kita harus mendengar terlebih dahulu atau pun mampu menerima
   umpan balik dengan baik, maka audible berarti pesan yang kita
   sampaikan dapat diterima oleh penerima pesan.
4) Kejelasan dari pesan itu sendiri sehingga tidak menimbulkan multi
   interpretasi atau berbagai penafsiran yang berlainan. Clarity dapat pula
   berarti keterbukaan dan transparansi.
5) Sikap renda hati merupakan unsur yang terkait dengan hokum pertama
   untuk membangun rasa menghargai orang lain, biasanya didasari oleh
   sikap rendah hati yang kita miliki.



C. HUBUNGAN ANTAR MANUSIA

   I.      Pengertian Hubungan Antar Manusia

   Munurut Hugo Cabot dan Joseph A Kahl (1967), hubungan antar
manusia adalah suatu sosiologi konkret karena meneliti situasi kehidupan,
khususnya masalah “interaksi” dengan pengaruh psikologisnya. Hubungan
antar manusia dalam arti luas adalah menemukan, mengidentifikasi
masalah, dan membahasnya untuk mencari pemecahan.
     II. Tujuan Hubungan Antar Manusia

   Tujuan penggunaan hubungan antar manusia adalah memanfaatkan
pengetahuan tentang factor sosial dan psikologis dalam penyesuaian diri
manusia sedemikian rupa sehingga penyesuaian diri ini terjadi dengan
serasi dan selaras, dengan ketegangan dan pertentangan sedikit mungkin.
Proses penyesuaian diri terjadi bukan pada satu pihak saja, melainkan
pada lebih dari dua pihak.


     III. Tekhnik – Tekhnik Hubungan Antar Pribadi

1. Trust (Percaya)
   Adalah mengandalkan perilaku orang untuk mencapai tujuan ydang
   dikehendaki, yang pencapaiannya tidak pasti dan dalam situasi yang
   penuh resiko (Giffin, 1967).

     a) Menerima
     Adalah kemampuan berhubungan dengan orang lain tanpa menilai
     dan tanpa berusaha mengendalikan.
     b) Empati
     Adalah memahami orang lain yang tidak mempunyai arti emosional
     bagi kita. Berempati artinya membayangkan diri kita pada kejadian
     yang menimpa orang lain.
     c) Kejujuran
     Kita akan menaruh percaya pada orang yang terbuka, atau tidak
     mempunyai pretensi yang dibuat-buat. Kejujuran menyebabkan prilaku
     kita dapat diduga (predictable). Ini mendorong orang lain untuk
     percaya kepada kita.

2.   Sikap Suportif
     Adalah sikap yang mengurangi sikap defensive dalam komunikasi.
     Orang yang bersikap defensive bila ia tidak menerima, tidak jujur dan
     tidak empatis. Dengan sikap defensive komunikasi interpersonal akan
     gagal, karena orang defensive akan lebih bangayk melindungi diri dari
     ancaman yang ditanggapinya dalam situasi komunikasi ketimbang
     memehami pesan orang lain. Gibb menyebutkan enam perilaku yang
     menimbulkan perilaku suportif, terdapat dalam daftar :

            Ikllim Defensif           Iklim klSuportif
     1.   Evaluasi             1.   Deskriptif
     2.   Kontrol              2.   Orientasi masalah
     3.   Strategi             3.   Spontanitas
     4.   Netralisasi          4.   Empati
     5.   Superioritas         5.   Persamaan
     6.   Kepastian            6.   Provisionalisme


3.   Open Mindedness (Sikap Terbuka)
     Lawan dari sifat terbuka adalah dogmatism. Sehingga untuk
     memahami sikap terbuka, terlebih dahulu mengidentifikasi karakteristik
     orang dogmatis.




     IV. Konsep Diri

1. Pengertian Konsep Diri

      Menurut William D. Brooks, konsep diri adalah pandangan dan
perasaan kita tentang diri kita. Konsep diri bukan hanya sekedar gambaran
deskriptif, tetapi juga penilaian anda tentang diri anda. Jadi konsep diri
meliputi apa yang anda pikirkan dan apa yang anda rasakan tentang diri
anda. Karena itu, Anita Taylor (1977) mendefinisikan konsep diri adalah “all
you think and feel about you, the entire complex of beliefs and attitudes you
hold about yourself’”.
      Dengan demikian, ada dua komponen konsep diri yaitu komponen
kognitif dan komponen efektif. Boleh jadi komponen kognitifnya berupa
“saya ini orang bodoh”, dan komponen efektifnya berupa “saya senang diri
saya bodoh, ini lebih baik bagi saya”, atau komponen kognitifnya sama,
tetapi komponen efektifnya adalah “saya malu sekali karena saya menjadi
orang bodoh”. Dalam psikologi sosial, komponen kognitif disebut citra diri (
self image), dan komponen efektif disebut harga diri (self esteem).
Keduanya menurut William D. Brooks dan Philip Emmert (1976)
berpengaruh besar pada pola komunikasi interpersonal.

2. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri

  Factor – factor yang mempengaruhi konsep diri antara lain :
 Orang lain
 Kelompok rujukan (Referensi Group)

3. Pengaruh Konsep Diri pada Komunikasi Interpersonal

     Sukse komunikasi interpersonal banyak tergantung dari kualitas konsep
diri anda : positif atau negative. Menurut William D. Brooks dan Philip
Emmert (1976), ada 5 tanda orang yang memiliki konsep diri negative,
yaitu :
 Peka pada kritik
 Responsif terhadap pujian
 Hiperkritis
 Merasa tidak disenangi orang lain
 Pesimis terhadap kompetisi

    Konsep diri yang positif ditandai dengan :
   Merasa setara atau sama dengan orang lain, sebagai manusia tidak
    tinggi dan tidak rendah, walaupun terdapat perbedaan dalam
    kemampuannya tertentu, latar belakang keluarga, dan sikap orang lain
    terhadapnya.
   Menerima pujian tanpa rasa malu, atau berpura-pura rendah hati, dan
    menerima penghargaan tanpa merasa bersalah.
   Menyadari bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan,
    keinginan dan perilaku yang tidak seluruhnya disetujui masyarakat.
   Mampu memperbaiki dirinnya karena sanggup mengungkapkan aspek-
    aspek kepribadian yang tidak disenanginya dan berusaha
    mengubahnya.
 Meyakini nilai-nilai dan prinsip-prinsip tertentu serta bersedia
  mempertahankannya, walaupun menghadapi kelompok yang kuat.
  Tetapi ia juga merasa dirinya cukup tangguh untuk memgubah prinsip-
  prinsip itu bila pengalaman dan bukti-bukti baru menunjukkan ia salah.
 Mampu bertindak berdasarkakn penilaian yang baik tanpa merasa
  bersalah yang berlebihan atau menyesali tindakannya jika orang lain
  tidak menyetujui tindakannya.
 Tidak menghabiskan waktu yang tidak perlu untuk mencemaskan apa
  yang terjadi besok, apa yang telah terjadi waktu yang lalu, dan apa
  yang terjadi pada waktu sekarang.
 Memiliki keyakinan pada kemampuan mengatasi persoalan, bahkan
  ketika ia menghadapi kegagalan atau kemunduran.
 Sanggup menerima dirinya sebagai orang yang penting dan bernilai
  bagi orang lain.
 Cenderung menolak orang lain untuk memdominasi.
 Sanggup mengaku kepada orang lain, bahwa ia mampu merasakan
  berbagai dorongan dan keinginan, dari perasaan marah sampai cinta,
  dari sedih sampai bahagia, dari kecewa yang mendalam sampai
  kepuasan yang mendalam pula.
 Mampu menikmati dirinya secara utuh dalam berbagai kegiatan
  meliputi perkerjaan, permainan, ungkapan diri yang kreatif,
  persahabatan atau sekedar mengisi waktu.
 Peka terhadap kebutuhan orang lain, pada kebiasaan social yang telah
  diterima, terutama pada gagasan bahwa ia tidak bisa bersenang-
  senang dengan mengorbankan orang lain.


   V. Teory Johary Windows

      Komunikasi yang dilakukan tanpa mengenal sasaran, maka yang
disalahkan adalah komunikatornya. Komunikator adalah pengambil inisiatif
terjadinya suatu proses komunikasi. Dia harus mengenal dirinya, sebab
dengan mengenal diri kita dapat mengetahui kelebihan dan kelemahan
yang ada pada diri kita. Untuk memahami diri sendiri Joseph Luft dan
Harrington Ingham mengembangkan konsep Johari Window sebagai
perwujudan bagaimana seseorang berhubungan dengan orang lain yang
digambarkan sebagai sebuah jendela. ‘Jendela’ tsb terdiri dari matrik 4 sel,
masing-masing sel menunjukkan daerah self (diri) baik yang terbuka
maupun yang di sembunyikan. Keempat sel tsb adalah gelap tidak
disadari. Berikut ini disajikan gambar ke 4 sel tsb.

      JOHARI WINDOW ( Jendela Johari )

        DIRI TERBUKA                              DIRI BUTA
(Diketahui diri sendiri & orang lain)   (Tidak diketahui diri sendiri tetapi
                                        diketahui orang lain.
    Diri Tersembunyi / Rahasia                    Diri Gelap
 (Diketahui diri sendiri, tapi tidak    (Tidak diketahui diri sendiri maupun
diketahui orang lain)                   orang lain)




D. KOMUNIKASI INTERPERSONAL / KONSELING (KIP / K)

    I. Pengertian KIP / K

       Komunikasi interpersonal adalah pertukaran informasi, perasaan
atau pemikiran antar manusia (individu) secara tatap muka, verbal dan non
verbal. Karena sifat dari interaksi ini adalah langsung dan segera,
komunikasi interpersonal merupakan inti dari semua hubungan antar
manusia, sedangkan proses komunikasi interpersonal adalah suatu proses
dua arah lingkaran interaktif dimana pihak-pihak yang berkomunikasi saling
bertukar pesan secara verbal dan non verbal (arus pesan). Kedua pihak
menjadi pengirim maupun penerima pesan. Dalam proses ini si penerima
menafsirkkan pesan si pengirim sebelumnya dan memberikan tanggapan
dengan pesan yang baru, dengan kata lain komunikasi interpersonal
adalah proses tatap muka penyampaian informasi dan saling pengertian
antara dua atau lebih individu.
       Konseling adalah proses pemberian informasi objektif dan lengkap,
dilakukan secara sistematik dengan paduan keterampilan komunikasi
interpersonal, teknik bimbingan dan penguasaan pengetahuan klinik,
bertujuan untuk membantu seseorang mengenali kondisinya saat ini,
masalah yang sedang dihadapi dan menentukan jalan keluar atau upaya
untuk mengatasi masalah tsb.
       Proses konseling menggambarkan adanya kerjasama antara bidan
selaku konselor dengan klien dalam mencari tahu tentang masalah yang
dihadapi klien. Proses ini memerlukan keterbukaan dari klien dan bidan
agar mencapai jalan keluar pemecahan masalah klien.
       Manfaat konseling adalah meningkatkan kemampuan klien dalam
mengenal masalah, merumuskkan alternative, memecahkan masalah dan
memiliki pengalaman dalam pemecahan masalah secara mandiri.

     II. Factor – Faktor Penghambat KIP / K

     Faktor-faktor penghambat KIP / K antara lain :
a)   Faktor Individual
      Faktor fisik
      Sudut pandang
      Faktor sosial
      Bahasa
b)   Faktor-faktor yang berhubungan dengan interaksi
      Tujuan dan harapan terhadap komunikasi
      Sikap terhadap interaksi
      Pembawaan diri seorang terhadap orang lain (seperti kehangatan,
        perhatian, dukungan)
      Sejarah hubungan
c)   Faktor Situasional
     Percakapan diperngaruhi oleh kondisi lingkungan, situasi percakapan
     kesehatan antara bidan dan klien akan berbeda dengan situasi
     percakapan antara polisi dengan pelanggar lalu lintas.
d)   Kompetensi dalam melakukan percakapan
     Agar efektif, suatu interaksi harus menunjukkan perilaku kompeten dari
     kedua pihak. Keadaan yang dapat menyebabkan putusnya komunikasi
     adalah :
    Kegagalan menyampaikan informasi penting
    Perpindahan topic bicara yang tidak lancer
    Salah pengertian

Hal – hal penting dalam hubungan interpersonal
 Ada berbagai sisi dalam suatu interaksi individu, verbal atau non verbal.
   Bidan hendaknya menaruh perhatian betul tidak saja terhadap tanda-
   tanda verbal, tetapi juga terhadap perilaku non verbal.
 Tanda-tanda verbal dan non verbal yang bidan tunjukan kepada klien
   dapat mempunyai efek panjang terhadap apa yang kita ingin capai.
 Jika kita mengharapkan klien kembali untuk melakukan pemeriksaan,
   melahirkan dan mendapat asuhan kesehatan lainnya, kita pertama-
   pertama harus mendapat kepercayaan klien dan menunjukkan
   perhatian terhadapat klien.
 Bidan perlu introspeksi terhadapat perilaku sendiri maupun terhadap
   perilaku klien.

Indikator hubungan interpersonal yang positif
 Menyambut klien dengan cara yang dapat diterima mereka
 Ramah dan terbuka
 Menyediakan waktu untuk mendengarkan mereka
 Menjawab semua pertanyaan dengan benar / memuaskan
 Tetap sabar meskipun klien menanyakan hal yang sama berulang-
    ulang
 Sikap lain-lain yang memungkinkan untuk lebih berpartisipasi dalam
    asuhannya, adalah : percaya, memperhatikan, pengertian, saling
    menghormati, dan kesediaan untuk membantu.

   III. Pengaruh Pemahaman Diri Terhadap KIP / K

1) Memahami diri sendiri
   Pemahaman diri bertujuan untuk mengetahui dan mengenal siapakah
   diri kita, apakah persepsi anda dengan orang lain terhadap diri sendiri
   sama. Misalnya mungkin anda sudah merasa ramah, namun menurut
   orang lain belum, anda masih judes, galak dan lain-lain. Pemahaman
   diri meliputi pengetahuan tentang siapa aku, apa kelemahanku,
   bagaimana perasaanku, apa keinginanku, dan sebagainya.
   Pemahaman diri penting karena pekerjaan bidan berhadapan dengan
   berbagai pengalaman dan kondisi biologis, psikologis, sosiologis dari
   kliennya.

2) Pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dimiliki konselor
   Perilaku bidan dalam melaksanakan tugas sebagai komunikator
   maupun konselor dipengaruhi 3 hal, yaitu : Aspek Kognitif, Psikomotrik,
   dan Afektif (perasaan, sifat, dan sikap). Pengetahuan menunjukkan
   aspek kognitif, keterampilan mencerminkan aspek psikomotor, dan
   sikap mencerminkan aspek afektif. Bidan dalam melaksanakakn
   tugasnya sebagai komunikator dan konselor, dipengaruhi 3 aspek tsb.
   Keberhasilannya tergantung dari pengetahuan, dan sikap yang dimiliki.
   Ketiga aspek tsb saling terintegrasi.

   Pengetahuan dan sikap yang harus dimiliki seorang bidan sebagai
   konselor antara lain :

   a) Pengetahuan (Kognitif)
      Meliputi pengetahuan tentang :
       Kesehatan
       Ilmu kebidanan dan kandungan
       Masalah yang berhubungan dengan kehamilan, persalinan dan
         pasca persalinan dan upaya pencegahan serta
         penatalaksanaanya.
       Keyakinan akan adat istiadat dan normal tertentu
       Alat / metode kontrasepsi
       Hubungan antar manusia
       Komunikasi interpersonal dan konseling
       Psikologi
   b) Keterampilan (Psikomotorik)
      Harus terampil dalam :
       Membantu proses persalinan dan berbagai masalah kesehatan
       Menggunakan alat-alat pemeriksaan tubuh klien
       Melakukan komunikasi interpersonal dan konseling
       Menggunakan alat bantu visual untuk membantu pemberian
        informasi kepada klien
       Mengatasi situasi genting yang dihadapi klien
       Membantu klien dalam membuat keputusan

Selain pengetahuan dan keterampilan tsb di atas, bahwa bidan harus
memiliki dan menguasai kompetensi yang meliputi :
 Bidan mempunyai persyaratan pengetahuan dan keterampilan dari
   ilmu-ilmu social, kesehatan masyarakat dan etika yang membentuk
   dasar dari asuhan yang bermutu tinggi sesuai dengan budaya, untuk
   wanita, bayi baru lahir dan keluarganya.
 Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi, pendidikan kesehatan
   yang tanggap terhadap budaya dan pelayanan menyeluruh di
   masyarakat dalam rangka untuk meningkatkan kehidupan keluarga
   yang sehat, perencanaan kehamilan dan kesiapan menjadi orang tua.
 Bidan memberikan asuhan antenatal bermutu tinggi untuk
   mengoptimalkan kesehatan selama kehamilan yang meliputi : deteksi
   dini, pengotan atau rujukan.
 Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi, tanggap terhadap
   kebudayaan setempat selama persalinan, memimpin suatu persalinan
   yang bersih dan aman, menangani situasi kegawatdaruratan tertentu
   untuk mengoptimalkan kesehatan wanita dan bayinya yang baru lahir.
 Bidan memberikan asuhan pada ibu nifas dan menyusui yang bermutu
   tinggi dan tanggap terhadap budaya setempat.
 Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi, komprehensif pada
   bayi baru lahir sehat sampai dengan 1 bulan.
 Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi, komprehensif pada
   bayi dan balita sehat (1 bulan – 5 tahun).
 Bidan merupakan asuhan yang bermutu tinggi dan komprehensif pada
   keluarga, kelompok dan masyarakat sesuai dengan budaya setempat.
 Melaksanakan asuhan kebidanan pada wanita / ibu dengan gangguan
   system reproduksi.

  c) Sikap (Afektif)
 Mempunyai motivasi tinggi untuk menolong orang lain
 Bersikap ramah, sopan dan santun
 Menerima klien apa adanya
 Empati terhadap klien
 Membantu dengan tulus
 Terbuka terhadap pendapat orang lain

Menurut Carl Rogers agar konseling efektif, ada 3 kualitas diri (sikap) yang
perlu dimiliki oleh seorang konselor :
 E (Empathy) / empati : memandang dengan kerangka berpikir klien,
    berusaha memahami dan berpikir bersama klien.
 A (Authenticity) / otentik atau congruence / kongktruen atau
    genuineness : konselor tahu perasaannya sendiri, memahami diri
    sendiri, yang dialami dan dirasakan tidak selaras, tidak berpura-pura .
 R (Unconditional Positif regard) atau acceptance. Menerima klien apa
    adanya, tanpa syarat, menghormati dan menghargai.

3) Pengaruh pemahaman diri terhadap KIP / K
   Bidan perlu memahami bagaimana menghadapi kecemasan,
   kemarahan, kesedihan, dan kegembiraan klien. Bidan harus tahu
   bagaimana dirinya sendiri bersikap, apakah mudah cemas, mudah
   tersinggung, dan sebagainya, sehingga ia tahu keterbatasan diri
   sewaktu melayani klien. Bidan yang tidak memahami dirinya sendiri,
   kemungkinan akan mengalami kesulitan memahami apa yang dialami
   klien. Misalnya tidak sesuai dengan nilai-nilai yang dianut bidan, bidan
   tidak akan dapat berkomunikasi dengan baik, karena kurang dapat
   menerima klien apa adanya.


E. KETERAMPILAN OBSERVASI

   I. Tingkah Laku Verbal dan Non Verbal

a. Tingkah laku / komunikasi verbal
   Mempunyai karakteristik :

   Jelas dan ringkas
    Komunikasi berlangsung efektif, sederhana, pendek dan langsung.
    Makin sedikit kata-kata yang digunakan, makin kecil kemungkinan
    terjadi kerancuan. Kejelasan dapat dicapai dengan bicara secara
    lambat dan mengucapkannya dengan jelas. Penggunaan contoh
    bisa membuat penjelasan lebih mudah dipahami. Ulang bagian yang
    penting dari pesan yang disampaikan. Penerima pesan perlu
   mengetahui apa, mengapa, bagaimana, kapan, siapa dan dimana.
   Ringkas dengan menggunakan kata-kata yang mengekspresikan ide
   secara sederhana.

 Perbendaharaan kata
  Penggunaan kata-kata yang mudah dimengerti oleh klien.
  Komunikasi tidak akan berhasil jika pengirim pesan tidak mampu
  menerjemahkan kata dan ucapan. Banyak istilah teknis yang
  digunakan oleh bidan, klien menjadi bingung dan tidak mampu
  mengikuti petunjuk atau mempelajari informasi penting. Ucapkan
  pesan istilah yang dimengerti oleh klien.

 Arti denotative dan konotatif
  Dalam berkomunikasi dengan klien dan keluarganya, bidan harus
  mampu memilih kata-kata yang tidak banyak disalahtafsirkan,
  terutama sangat penting ketika menjelaskan tujuan terapi, terapi dan
  kondisi klien. Arti denotative memberikan pengertian yang sama
  terhadap kata yang digunakan, sedangkan arti konotatif merupakan
  pikiran, perasaan atau ide yang terdapat dalam suatu kata. Kata
  “serius” dipahami oleh klien sebagai suatu kondisi mendekati
  kematian, tetapi bidan akan menggunakan kata “krisis” untuk
  menjelaskan keadaan yang mendekati kematian.

 Intonasi
  Suara komunikator mampu mempengaruhi arti pesan. Nada suara
  pembicaraan mempunyai dampak yang besar terhadap arti pesan
  yang dikirimkan karena emosi seseorang dapat secara langsung
  mempengaruhi nada suaranya. Bidan harus menyadari emosinya
  ketika sedang berinteraksi dengan klien karena maksud untuk
  menyampaikan rasa tertarik yang tulus terhadap klien dapat
  terhalang oleh intonasi nada suara bidan.

 Kecepatan berbicara
  Keberhasilan komunikasi verbal dipengaruhi oleh kecepatan bicara
  dan tempo bicara yang tepat. Selaan yang lama dan pengalihan
  yang cepat pada pokok pembicaraan lain mungkin akan
  menimbulkan kesan bidan sedang menyembunikan sesuatu
  terhadap klien. Bidan sebaiknya tidak berbicara dengan cepat
  sehingga kata-kata tidak jelas. Selaan perlu digunakan untuk
      menekankan pada hal tertentu, member waktu kepada pendengar
      untuk mendengarkan dan memahami arti kata.
      Selaan yang tepat dapat dilakukan dengan memikirkan apa yang
      akan dikatakan sebelum mengucapkannya, menyimak isyarat
      nonverbal dari pendengar yang mungkin menunjukkan
      ketidakmengertian. Bidan juga bisa menanyakan kepada pendengar
      apakah ia berbicara terlalu lambat atau cepat dan perlu untuk
      diulang.

   Humor
    Humor meningkatkan keberhasilah bidan dalam memberikan
    dukungan emosional terhadap klien. Dugan (1988) menyatakan
    bahwa tertawa membantu mengurangi ketegangan dan rasa sakit
    yang disebabkan oleh stres sehingga meningkatkan keberhasilan
    perawat dalam memberikan dukungan emosional terhadap klien.
    Namun bidan perlu berhati-hati jangan menggunakan humor untuk
    menutupi rasa takut dan tidak enak atau menutupi ketidak
    mampuannya untuk berkomunikasi dengan klien.

b. Tingkah laku / komunikasi non verbal

   Pengertian
    Perilaku non verbal adalah mencakup segala ungkapan dalam
    bentuk cara menatap mata, bahasa tubuh, kualitas suara,
    merupakan indicator penting yang mengungkapkan apa yang
    sedang terjadi dalam diri klien. DR Hess (1970) mengartikan bahasa
    tubuh sebagai gerakan refleksif dan non refleksif. Sebagian atau
    seluruh badan digunakan seseorang untuk mengkomunikasikan
    pesan emosional kedunia luar. Dia menekankan bahwa bahasa
    tubuh yang tidak bicara ini amat tergantung kepada perbedaan
    budayan dan lingkungan.

   Tujuan melakukan observasi perilaku nonverbal
     Perilaku nonverbal amat diperlukakn untuk konselor memahami
       atau memperjelas makna bahasa klien yang diucapkan seorang
       klien.
     Dengan membaca bahasa tubuh klien akan timbul sikap empati,
       memahami dan menghargai klien (peka terhadap klien)
       Memahami klien dan memperoleh informasi yang sesuai dan
       lengkap tentang perasaan, kebutuhan dan harapannya.
c. Tingkah laku / komunikasi non verbal

   Penampilan fisik
    Penampilan fisik bidan mempengaruhi persepsi klien terhadap
    pelayanan kebidanan yang diterima. Penampilan merupakan salah
    satu hal pertama yang diperhatikan selama komunikasi
    interpersonal. kesan pertama timbul 20 detik sampai empat menit
    pertama. 84% dari kesan terhadap seseorang berdasarkan
    penampilannya.
    Bentuk fisik, cara berpakaian dan berhias menunjukkan kepribadian,
    status sosial, pekerjaan, agama, budaya dan konsep diri. Bidan yang
    memperhatikan penampilan dirinya dapat menimbulkan citra diri dan
    profesional yang positif.

   Sikap tubuh dan cara berjalan
    Sikap tubuh dan cara berjalan mencerminkan konsep diri, alam
    perasaan dan kesehatan. Bidan dapat menyimpulkan informasi yang
    bermanfaat dengan mengamati sikap tubuh dan langkah klien.
    Langkah dapat dipengaruhi oleh factor fisik seperti rasa sakit, obat
    atau fraktur.

   Ekspresi wajah
    Wajah merupakan bagian tubuh yang paling ekspresif. Hasil
    penelitian menunjukkan enam keadaan emosi utama yang tampak
    melalui ekspresi wajah, yaitu terkejut, takut, marah, jijik, bahagia dan
    sedih. Ekspresi wajah sering digunakan sebagai dasar penting
    dalam menentukan pendapat interpersonal. Orang yang
    mempertahankan kontak mata selama pembicaraan dipersepsikan
    sebagai orang yang dapat dipercaya dan memungkinkan untuk
    menjad pengamat yang baik. Bidan sebaiknya tidak memandang ke
    bawah ketika sedang berbicara dengan klien. Oleh Karena itu, ketika
    berbicara, bidan sebaiknya duduk sehingga tidak tampak dominan
    jika kontak mata dengan klien dilakukan dalam keadaan sejajar.

   Sentuhan
    Kasih sayang, dukungan emosional dan perhatian diberikan melalui
    sentuhan. Sentuhan merupakan bagian penting dalam hubungan
    bidan-klien, namun harus memperhatikan norma sosial. Ketika
    memberikan asuhan kebidanan, bidan menyentuh klien, seperti
      ketika memandikan, melakukan pemeriksaan fisik, atau membantu
      berpakaian. Perlu disadari bahwa keadaan sakit membuat klien
      tertanggung pada bidan untuk melakukan kontak interpersonal
      sehingga sulit untuk menghindari sentuhan.
      Bradley & Edinburg (1982) dan Wilson & Kneisl (1992) menyatakan
      bahwa perlu diperhatikan apakah penggunaan sentuhan dapat
      dimengerti dan diterima oleh klien sehingga harus dilakukan dengan
      kepekaan dan hati-hati.

d. Klasifikasi perilaku non verbal
   Berdasarkan penelitian, tingkah laku nonverbal dapad dikelompokkan
   menjadi :
    Body motion atau kinesics behavior. Termasuk didalamnya :
      gestures (gerak isyarat), gerakan tubuh, peryataan air muka,
      perilaku / gerakan mata.
    Physical characteristic (karakteristik fisik) : yang termasuk tanda-
      tanda fisik yang tak bergerak seperti bau badan / mulut, berat, tinggi,
      dan sebagainya.
    Touching behavior, yaitu perilaku-perilaku dalam kokntak dengan
      orang lain seperti usapan, salaman, ucapan selamat tinggadl,
      memukul, dan memegang.
    Paralanguage, yaitu hal-hal yang berhubungan dengan lisan /
      bahasa / suara, termasuk kualitas bahasa seperti tekanan suara,
      ritma / irama, tempo, artikulasi, resonansi, dan karakteristik vocal.
    Proxemics. Penggunaan jarak atau kedekatan.
    Artifac : penggunaan lipstick, parfum, kacamata, wig, dan lain-lain.
    Environmental factors : penggunaan perabotan, dekorasi interior,
      lampu-lampu, harum-harum, warna, temperature, music, suara.


   II. Pengamatan dan penafsiran / interpretasi

       Pengamatan obyektif adalah berbagai tingakah laku yang kita lihat
dan dengar.
Misalnya : jalan mondar mandir, tangan dikepala, dan sebagainya.
Bidan perlu mengamati tingkah laku klien secara verbal dan non verbal
untuk mengidentifikasi pesan-pesan yang tidak sejalan (sinkron dan
campur aduk). Hal-hal apa saja yang telah dilihat, didengar dan dirasakan
dari sisi klien. Bidan menggabungkan informasi ke dalam tiga kategori, hal-
hal yang diamati / diobservasi yaitu :
a) Tingkah laku non verbal klien
    Penampilan umum : keterampilan
    Cara menatap
      Menatap mata / tidak : melihat ke bawah / kea rah sudut ruang
    Bahasa tubuh
      Postur kaku / terlalu banyak bergerak / ada gerakan tertentu / tidak
      bertenaga, tegang, dan sebagainya
    Kualitas suara dan gaya bicara
      Suara keras / lemah, intonasi jelas / datar, gagap / tegas, dan
      sebagainya.
      Merupakan indicator penting yang mengungkapkan apa yang
      sedang terjadi pada klien.

b) Tingkah laku verbal kllien
    Kapan klien beralih topic
    Apa saja kata-kata kunci
    Penjelasan-penjelasan yang disampaikan dan pertanyaan-
      pertanyaan yang diajukan.

c) Kesenjangan tingkah laku verbal dan non verbal klien
    Kesesuaian antara tingkah laku verbal dan non verbal
    Kesesuaian antara dua buah pertanyaan
    Kesesuaian antara apa yang diucapkan dan apa yang dikerjakan.

      Seorang bidan yang tajam pengamatannya akan memperhatikan
bahwa ada beberapa konflik / ketidaksesuaian antara tingkah laku verbal
dan non verbal, antara 2 buah pertanyaan antara apa yang diucapkan dan
apa yang dikerjakan.
Penafsiran adalah kesan yang kita berikan terhadap apa yang kita lihat
(amati) dan kita dengar :
Misalnya :
 Kesal karena terlalu lama menunggu
 Marah karena tidak diperhatikan oleh bidan
 Sedih karena abortus
 Dan lain-lain

Pengamatan tingkah laku non verbal menunjuk kita untuk melakukan suatu
penafsiran. Kemungkinan penafsiran bisa saja salah. Perlu dilakukan
penelaahan lebih lanjut dengan bertanya atau mendengarkan secara aktif.
   III. Tujuan keterampilan observasi

    Menjelaskan tingkah laku verbal dan non verbal sebagai obyek
     observasi
    Menjelaskan perbedaan antara pengamatan obyektif dan
     penafsiran
    Menerapkan keterampilan observasi


 KETERAMPILAN MEMBINA HUBUNGAN BAIK

    Membina hubungan baik adalah dasar dari pemberian konseling pada
klien. Dengan adanya hubungan yang baik akan menciptakan keterbukaan
dari klien terhadap bidan.
    Ada 3 cara yang membantu klien merasa aman setelah membuka
informasi pribadinya, yakni :

1) Mengakhiri pembicaraan secara halus
   Konselor perlu mengetahui proses mengakhiri pembicaraan yang
   biasanya berlangsung. Ketika mendekati akhir sebuah pembicaraan
   konseling, sebaiknya konselor :
    Memberi tanda bahwa pembicaraan akan berakhir
    Membuat rangkuman
    Mengatakan bahwa hasil pembicaraan tidak harus dipraktikkan
    Memberikan penegasan
    Mengajak untuk melanjutkan pembicaraan di waktu lain
    Memberikan pernyataan tertutup
    Mengubah topic pembicaraan
2) Memperhatikan kelangsungan hubungan dimasa mendatang
   Ketika mengetahui bahwa anda adalah seorang pendengar yang baik,
   klien mungkin akan berbicara lagi dengan anda di waktu lain. Pada
   umumnya keinginan itu tidak akan menimbulkan masalah bagi anda
   jika klien tidak terlalu sering melakukannya.
3) Menunjuk konselor yang lebih kompeten
   Ketika klien datang kepada konselor berulangkali dan menceritakan hal
   yang sama, maka konselor harus menyadari bahwa klien
   membutuhkan bantuan khusus dari konselor yang lebih kompeten.
    Hubungan bersifat tidak pasti atau permanen. Hubungan memiliki
factor-faktor yang membantu untuk menentukan batas teritori percakapan
kita.

1. Factor-faktor yang membantu untuk menentukan batas teritori
   percakapan :

   a) Status
      Status adalah kedudukan yang anda akui pada orang lain dikaitkan
      dengan anda. Anda melihat diri anda sendiri tinggi atau rendah
      dalam status hubungan anda dengan orang lain. Orang memberi
      status pada orang lain. Status adalah bukti derajat penghargaan,
      keakraban atau penolakan terhadap orang lain.

   b) Kekuatan
      Kekuatan adalah kendali manusia untuk mendesak satu sama lain.
      Jika anda dapat mempengaruhi atau mengendalikan sikap
      seseorang dengan segala cara maka anda mempunyai kekuatan
      atas mereka.

   c) Peran
      Peran adalah perilaku yang diharapkan seseorang terhadap orang
      lainnya. Orang cenderung bercakap-cakap dengan orang lain sesuai
      perannya. Misalnya jika anda seorang Bidan maka orang akan
      cenderung bercakap-cakap dengan anda sesuai peran anda sebagai
      seorang bidan.

   d) Kegemaran
      Percakapan dapat berhasil pada orang yang walau tidak saling
      mengenal tetapi memiliki kegemaran yang sama, sehingga dapat
      terjalin suatu hubungan.

2. Sikap dan perilaku dasar yang dibutuhkan
   Dalam membina hubungan baik terdapat sikap dann perilaku dasar
yang dibutuhkan seorang bidan yaitu dapat menerapkan SOLER dalam
melakukan komunikasi dengan klien. SOLER merupakan akronim dari :

SOLER
S   : Face your clients Squarely (menghadap ke klien) dan smile / nod at
      client (senyum / mengangguk ke klien)

O   : Open and non-judgemental facial expressions (ekspresi muka
      menunjukkan sikap terbuka dan tidak menilai)

L   : Lean towards client (tubuh condong ke klien)

E   : eye contact in a culturally-acceptable manner (kontak mata atau
      tatap mata sesuai cara dan budaya setempat)

R   : Relaxed and friendly manner (santai dan sikap bersahabat)

Intonasi dan volume suara dapat mencerminkan sikap hangat / tidaknya
seseorang. Suara yang keras, mengebu-gebu, kurang menunjukkan
kehangatan dibandingkan dengan volume dan intonasi suara yang lembut,
tidak terlalu keras.

Tiga hal penting lain yang perlu diperhatikan pada waktu melakukan
konseling agar hubungan baik lebih mantap, yaitu :

 Menunjukkan tanda perhatian verbal, yang dimaksud adalah kata-kata
  pendek seperti : hemm…, ya, lalu, oh ya, terus, begitu, ya, dan
  pengulangan kata-kata penting yang diucapkan oleh klien.

 Menjalin kerjasama, dalam koseling, bidan yang baik adalah bidan
  yang mementingkan hubungan baik dengan klien. Hal ini akan terwujud
  apabila selama proses konseling bidan selalu berusaha bekerjasama
  dengan klien.

 Memberi respon yang positif, pujian dan dukungan. Memberi pujian
  maksudnya mengungkapkan persetujuan atau kekaguman sehingga
  mendorong tingkah laku yang baik, penghargaan terhadap usasha
  yang dilakukan klien dengan baik. Member dukungan maksudnya
  member dorongan, kepercayaan dan harapan pada klien, agar klien
  tahu bahwa bidan percaya klien dapat mengatasi masalah dan
  membantu klien mengatasi masalahnya.
    Contoh perilaku respon positif yang mendukung terciptanya hubungan
baik :
 Bersalaman dengan ramah
 Mempersilahkan duduk
 Bersabar
 Tidak menginterupsi / memotong pembicaraan klien
 Menjaga rahasia klien
 Tidak melakukan penilaian (misal : menyalahkan klien)
 Mendengarkan dengan penuh perhatian
 Menanyakan alasan kedatangan klien
 Menghargai apapun pertanyaan maupun pendapat klien.


 MENDENGAR AKTIF

   1. Keterampilan Mendengar

   Dalam komunikasi interpersonal dan konseling (KIP / K) terdapat 4
bentuk mendengarkan yang bisa kita gunakan sesuai dengan situasi yang
dihadapi, yaitu :

a) Mendengar pasif (diam)
   Dilakukan antara lain bila klien sedang menceritakan masalahnya :
   berbicara tanpa henti, menggebu-gebu dengan ekspresi perasaan
   kesal atau sedih. Selain itu bila berhenti sejenak, konselor dapat
   mendengar pasif untuk memberikan kesempatan menenangkan diri.

b) Memberi tanda perhatian verbal dan non verbal
   Dilakukan antara lain sewaktu klien berbicara panjang tentang peristiwa
   yang terjadi pada dirinya. Selain diam, konselor mendengarkan dengan
   memberikan ungkapan kata verbal untuk menyemangati klien
   berbicara. Seperti : Hmm…, yaa…, lalu…, oh... begitu, terus…, atau
   sesekali mengangguk.

c) Mengajukan pertanyaan untuk mendalami dan klarifikasi
   Dilakukan bila konselor ingin mendalami apa yang diucapkan /
   diceritakan klien.
   Misalnya :
   “Bagaimana hubungan ibu dengan saudara-saudara suami?”
   “Apakah maksud ibu dengan perbuatan yang tidak layak itu?”
d) Mendengar aktif
   Yaitu dengan memberikan umpan balik / merefleksikan isi ucapan dan
   persaan klien.
   Melakukan refleksi yang tepat dan menghargai perasaan klien
   merupakan hal yang perlu dan penting dalam proses konseling.
   Sebelum klien siap dan mau mengatakan situasinya, mendengarkan
   pilihan-pilihan, dan mengambil keputusan yang tepat berdasarkan
   informasi, klien terlebih dahulu harus percaya bahwa konselor
   mendengarkan dan mengerti akan persaannya, kepentingan klien dan
   keprihatinannya.

   Manfaat fefleksi adalah :
    Mendorong seseorang menyadari bahwa anda telah dan sedang
      mendengarakannya dan memahami apa yang dikatakannya.
    Memungkinkan seseorang lebih memahami perasaan emosional
      dan isi pembicaraannya.
    Mendorong seseorang melanjutkan pembicaraannya

   1)   Refleksi isi atau paraphrasing
        Adalah menyatakan kembali ucapan klien dengan kata-kata lain,
        memberikan masukan kepada klien tentang inti ucapan yang baru
        dikatakan klien dengan cara meringkas dan memperjelas ucapan
        klien.
        Contoh :
        Klien : “Tiap saya selalu disibukkan dengan perkerjaan rumah,
                  mengurus anak, dalam keadaan hamil seperti ini saya
                  ingin meminta bantuan suami untuk mengerjakan
                  pekerjaan rumah, tetapi apakah suami saya mau. Karena
                  suami saya sering mengatakan bahwa pekerjaan rumah
                  adalah pekerjaan perempuan, padahal semestinya tidak
                  kan, Bu?”

        Bidan :   “Ibu minta bantuan suami mengerjakan pekerjaan rumah
                  tangga yang terasa berat dalam keadaan hamil seperti
                  sekarang ini, tapi tidak yakin suami mau?”

   2)   Refleksi perasaan
       Adalah mengungkapkan perasaan klien yang teramati oleh
       konselor dari intonasi suara, raut wajah dan bahasa tubuh klien
       walaupun dari hal-hal yang bersirat dari kata-kata verbal klien.
       Contoh :
       Klien : “Tiap hari saya selalu disibukkan dengan pekerjaan
                rumah, mengurus anak, dalam keadaan hamil seperti ini
                saya ingin minta bantuan suami untuk mengerjakan
                pekerjaan rumah, tetapi apakah suami saya mau. Karena
                suami saya sering mengatakan bahwa pekerjaan rumah
                adalah pekerjaan perempuan, padahal semestinya tidak
                begitu kan, Bu? Namanya berrumah tanggakan harus
                sama-sama, apalagi saya sedang hamil begini, iya kan
                Bu?”
       Bidan : “Ibu merasa kesal dengan sikap suami yang tidak
                membantu ibu mengerjakan pekerjaan rumah tangga
                dalam keadaan hamil seperti sekarang ini!”

       Refleksi perasaan mencakup 3 tujuan :
        Klien berpikir mengenai bagaimana perasaannya
        Konselor mengetahui apakah klien mengalami kebingungan
        Jika mengalami kebingungan, klien dan konselor akan
           meluruskannya melalui diskusi

Persamaan dan perbedaan merangkum dengan refleksi isi :
Merangkum hampir sama dengan fefleksi isi, namun berbeda.
Perbedaannya adalah
 Merangkum dilakukan setelah beberapa waktu yang lebih lama dan
    mencakup beberapa informasi yang diucapkan klien
 Merangkum digunakan di awal dan akhir dari percakapan
 Untuk transisi (peralihan) antar topik
 Memberikan penjelasan panjang terhadap masalah klien yang rumit

Hal-hal yang perlu diperhatikan atau tips dalam mendengar aktif meliputi :
 Terima klien apa adanya. Hargai klien sebagai individu yang berbeda
    dari individu lainnya.
 Dengarkan apa yang dikatakan klien dan bagaiman ia mengatakan hal
    itu. Perhatikan intonasi suara, pemilihan kata, ekspresi wajah, dan
    gerakan-gerakan tubuh.
 Tempat diri pada posisi klien selama mendengarkan
   Kadang-kadang lakukan mendengar aktif (diam). Beri waktu pada klien
    untuk berpikir, bertanya dan berbicara. Sesuaikan dengan kecepatan
    klien.
   Dengarkan klien dengan seksama, jangan berpikir apa yang anda
    katakana selanjutnya.
   Lakukan pengulangan (refleksi) apa yang anda dengar, sehingga anda
    dan klien tahu bahwa anda telah paham.
   Duduk menghadap klien dengan nyaman, hindari gerakan yang
    mengganggu, tatap dan perhatikan klien ketika berbicara.
   Tunjukkan tanda perhatian verbal (Hmmm, yaaa, lalu, terus, oh begitu)
    dan verbal (sesekali mengangguk).


    2. Keterampilan bertanya

a) Tujuan mendengarkan dan bertanya adalah :
    Mendorong klien untuk berbicara
    Menunjukkan minat dan perhatian kita terhadap klien
    Meningkatkan kesadaran kita terhadap perasaan klien
    Memperoleh informasi
    Memberikan suatu arahan percakapan terhadap klien

b) Jenis pertanyaan
   Semua jenis pertanyaan dapat dikelompokkan menjadi pertanyaan
   tertutup dan terbuka
    Pertanyaan tertutup
       Menghasilkan jawaban “ya” atau “tidak” yang berguna untuk
          mengumpulkan informasi yang factual (biasanya dilakukkan
          pada awal-awal percakapan).
       Bila menginginkan jawaban yang pendek dan khusus
       Kegunaan untuk menanyakan riwayat kesehatan, data diri.

      Contoh : “Apakah ibu senang dengan kehamilan anak ketiga ini?”
               “Apakah suami ibu menerima kehamilan ibu yang ketiga
               ini?”
               “Berapa jumlah anak Ibu?”
               “Apakah Ibu pernah mengalami keguguran sebelumnya?”

      Kelemahannya pertanyaan tertutup :
      a) Tidak menciptakan suasana yang nyaman dalam berkomunikasi
         dan proses pengambilan keputusan
      b) Bidan mengontrol jalannya percakapan, klien hanya memberikan
         informasi yang bersangkutan dengan pertanyaan saja
      c) Tidak mendorong seseorang untuk berbicara bebas
      d) Mengatasi pilihan-pilihan jawaban seseorang dan
         mengekangnya untuk memperluas jawabannya dan berbicara
         jauh

    Pertanyaan terbuka
      Jenis pertanyaan biasanya memakai kata tanya “bagaimana”
        atau “apa”
      Kegunaan untuk mempelajari perasaan, kepercayaan, dan
        pengetahuan klien
      Member kebebasan atau kesempatan kepada klien dalam
        menjawab yang memungkinkan partisipasi aktif dalam
        percakapan
      Merupakan cara yang efektif untuk menggali informasi
        menggunakan intonasi suara yang menunjukkan minat dan
        perhatian
      Mendorong untuk mengembangkan jawaban, melanjutkan
        pembicaraan, dan mengarahkan pada masalah terpenting,
        sehingga dapat muncul informasi-informasi yang tidak diduga
        dari jawaban klien.

      Contoh : “Bagaimana perasaan ibu dengan kehamilan anak ketiga
               ini?”
               “Bagaimana perasaan dan pendapat suami dengan
               kehamilan ibu yang ketiga ini?”

c) Bertanya efektif
   Bertanya yang efektif kepada klien penting, karena:
    Dapat menilai kebutuhan klien
     Contoh pertanyaan :
     “Apa yang dapat saya bantu?”
     “Apa masalah ibu sehingga ibu datang ke klinik?”

    Dapat menilai pemahaman dan pengalaman klien berkaitan dengan
     kehamilan dan persalinan
     Contoh pertanyaan :
        “Menurut ibu, apa yang menyebabkan terjadinya masalah tsb?”
        “Apa yang ibu lakukan ketika melihat tanda-tanda perdarahan?”
        “Apakah ada perbedaan yang ibu rasakan antara kehamilan anak
        yang pertama dan kedua?”

    Dapat menghemat waktu bidan dan klien dengan tidak mengulang
     informasi yang sudah diketahui klien

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam bertanya efektif :
a) Gunakan intonasi suara yang menunjukkan perhatian, minat dan
   keakraban
b) Gunakan kata-kata yang dipahami klien
c) Ajukan pertanyaan satu-persatu. Tunggu jawaban dengan penuh minat,
   jangan memotong
d) Gunakan kata-kata yang mendorong klien untuk tetap berbicara seperti
   : “Dan”, “Bagaiman?”, “Lalu?”, “Maksudnya?”
e) Bila menanyakan hal-hal yang sifatnya pribadi, jelaskan mengapa hal
   tsb ditanyakan
f) Hindari penggunaan kata tanya “Mengapa”. Karena kemungkinan klien
   dapat merasa “disalahkan”
g) Ajukan pertanyaan yang sama dengan berbagai cara bila klien belum
   paham
h) Hindari pertanyaan yang mengarahkan
i) Gunakan “pertanyaan terbuka” karena lebih efektif dari pada
   “pertanyaan tertutup”.



F. MACAM-MACAM KLIEN DALAM ASUHAN KEBIDANAN

   I.   Konseling pada Anak-Anak

        Seorang anak membutuhkan bimbingan dan dukungan moral dan
fisik dari keluarga yang juga akan mengatur cara pandang mereka.
Karenanya hubungan anak dengan baik lainnya didasarkan pada
keyakinan, perspektif, aturan dan nilai keluarga. Memehami kebutuhan
anak, sangat diperlukan dalam membantu menyikapi perilaku emosional
mereka. Anak-anak perlu merasa dihargai dan bangga terhadap diri
sendiri. Ketika ada masalah, dan ada seuatu yang salah, anak-anak sering
percaya bahwa itu sebagai kesalahan mereka. Satu hal penting yang perlu
diingat berkenaan dengan anak-anak adalah bahwa mereka, mekipun
sebenarnya mereka berkemampuan untuk membuat pilihan dan
mengambil keputusan yang sesuai dengan diri mereka. Misalnya, merekak
dapat memilih cara untuk merespons situasi-situasi sosial yang berlainan.
Akan tetapi, kenyataannya banyak keputusan yang mempengaruhi
keseharian mereka, secara signifikan atau ala kadarnya, dibuat oleh orang
tua mereka. Membantu anak-anak menghadapi masalah-masalah serius,
yang menyebabkan mereka sepenuhnya tidak berdaya dan putus asa
karena masalah-masalah tsb terjadi di luar kendali mereka, melibatkan
banyak keterampilan-keterampilan dan menyita waktu.

   II. Konseling pada Remaja

        Masa remaja adalah fase kehidupan yang menandai transisi dari
anak-anak ke dewasa. Seorang remaja diharapkan berubah dari
ketergantungan menjadi independen, mendiri dan dewasa. Remaja
mempunyai kebutuhan untuk mengembangkan identitas mereka sendiri,
sehingga fase remaja adalah masa eksperimentasi dan masa untuk
mencoba-coba mengambil resiko.
        Konseling pada masa remaja bertujuan memberikan pemahaman
dan upaya penyesuaian diri terhadap perubahan fisik dan emosi yang
terjadi pada usia remaja. Sehingga cara yang terbaik untuk membantu
remaja mengubah keyakinan, sikap, dan idenya adalah membantu
bereksplorasi, bukan menentang mereka secara langsung. Membangun
hubungan saling percaya, bersikap tidak menghakimi, memvalidasi sudut
pandang remaja, melakukan refleksi, dan mengajukan pertanyaan-
pertanyaan terbuka akan membantu para remaja merasa dihargai dan
terdorong mengeksplorasikan alternative-alternatifnya menyangkut masa
depan mereka. Pelaksanaan konseling pada remaja menggunakan
pendekatan kelompok. Pertama, bidan perlu menjalin hubungan
komunikasi secara terbuka, menerima remaja secara utuh sehingga remaja
bisa secara terbuka mengungkapkan hal-hal yang belum diketahui. Untuk
memperjelas arah dan tujuan proses konseling yang akan dilaksanakan,
bidan memberikan masukan berupa pengetahuan tentang :
1. Perubahan fisik atau biologis sesuai dengan usia perkembangan
    remaja putra dan putri.
2. Perubahan emosi dan perilaku pada usia remaja
3. Proses kehamilan yang mungkin dapat terjadi pada usia remaja dan
    dampaknya
4. Penyalagunaan obat dan bahan yang berbahaya, termasuk dalam
   kelompok narkoba
5. Kenakalan remaja

    Bidan membentuk kelompok remaja untuk melaksanakan diskusi yang
berkaitan dengan kesehatan reproduksi remaja. Dalam kegiatan konseling,
bidan harus dapat menjalani dan memahaimi emosi remaja yang
diekspresikan dalam komunikasi.

   Misalnya :      Proses konseling pada remaja dengan kasus kehamilan
                   yang tidak diinginkan.
   Bidan       :   “Assalamu’alaikum, mari silakan duduk (bidan sambil
                   menjabat tangan)”
   Klien       :   Wa’alaikumsalam….
   Bidan       :   “Perkenalkan saya bidan Galih, ada yang bisa saya
                   bantu”

    Proses konseling pada dasarnya tidak cukup dengan satu kali
pertemuan, kemungkinan akan berlanjut pada pertemuan berikutnya.
Setiap akhir pertemuan hendaknya diupayakan untuk dapat membuat
kesepakatan pertemuan berikutnya, yang berfungsi untuk mengetahui
perkembangan pelaksanaan pilihan jalan keluar klien. Masalah lain yang
sering dialami oleh remaja adalah kehamilan tanpa ikatan pernikahan,
yang dapat menimbulkan masalah bagi remaja itu sendiri, keluarga,
apapun masalah yang berkaitan dengan kesehatan reproduksinya.
    Bidan sebagai konselor melaksanakan konseling terhadap remaja yang
bermasalah juga kepada keluarga sebagai orang tua, bertujuan antara lain:
    1. Mencegah upaya abortusprovokatusnya
    2. Mendorong ibu (remaja yang hamil) untuk mencari pelayanan
       kesehatan
    3. Mempersiapkan kelahiran bayi secara normal
    4. Mempersiapkan ibu dan keluarga agar menerima kelahiran bayi
    5. Pada orang tua remaja, mendorong untuk diresmikannya pernikahan
       putra putrinya.


   III.   Konseling pada Calon Ibu atau Calon Orang Tua

      Konseling pada calon ibu atau calon orang tua membantu
pemahaman diri menjadi orang tua, baik sebagai ayah maupun sebagai
ibu. Perubahan status kehidupan sesuai dengan perkembangan terjadi
secara alami. Tetapi ketika masuk masa transisi, terjadi gejolak yang alami
oleh individu walaupun sifatnya hanya sementara. Salah satu peran ketika
menghadapi klien adalah melaksanakan kegiatan bimbingan dan konseling
kebidanan berkaitan dengan masalah yang dihadapi keluarga.

         Masalah yang dihadapi keluarga meliputi :
         1. Kesehatan anggota keluarga
            Meliputi kondisi kesehatan ayah / suami, ibu / istri, dan anak
         2. Pendidikan
            Pendidikan formal dan non formal bagi anggota keluarga. Latar
            belakang pendidikan ayah dan ibu sangat berpengaruh
            terhadap pola piker keluarga dalam penentuan pendidikan
            pada anaknya.
         3. Hubungan antar dan inter-keluarga
            Sangat berpengaruh terhadap kehidupan keluarga, terutama
            hubungan ibu dan ayah yang biasanya menjadi model bagi
            anak-anaknya. Hal ini menjadi pola perilaku anak di
            masyarakat di luar keluarga. Hubungan keluarga menjadi
            kurang harmonis karena ketidaksamaan pandangan.
         4. Psikososial
            Masalah psikososial biasanya terjadi akibat belum terciptanya
            adaptasi di masyarakat, terutama terhadap norma dan tata nilai
            yang berlaku dalam masyarakat.


   IV.   Konseling Masa Antenatal atau Konseling pada Ibu Hamil

         Konseling yang diberikan oleh bidan pada trimester pertama dan
kedua adalah pemberian informasi tentang perubahan yang terjadi pada
perkembangan janin sesuai usia kehamilan, serta perubahan yang terjadi
pada ibu sendiri dan pencegahannya. Konseling pada trimester ketiga
berfokus pada intervensi yang diberikan pada klien adalah keadaan janin
dalam rahim, posisi janin yang berkaitan dengan letak janin. Persiapan
persalinan baik yang letak normal ataupun yang tidak normal didahului
dengan penjelasan tanda persalinan normal dan resiko tinggi. Bidan juga
memberikan informasi tentang tempat bersalin sesuai dengan kondisi
normal dan patologis. Bidan juga memberi informasi tentang hal-hal yang
berkaitan dengan laktasi dan pemberian ASI.
       Konseling pada masa antenatal pertama ditujukan pada ibu
dengan kehamilan pertama, dalam hal ini bidan perlu menginformasikan
beberapa hal :

        1. Trimester I

           Perubahan fisik
            Perubahan fisik yang dialami pada masa antenatal trimester
            pertama adalah :
             Mual yang dapat disertai muntah umumnya terjadi pada
                awal kehamilan dan reda pada kehamilan empat bulan.
                Keadaan ini paling mungkin merupakan reaksi sistemik
                terhadap peningkatan estrogen dan atau penurunan
                glukosa dalam darah.
                Konseling :
                 Menganjurkan pada ibu untuk makan 6 x sehari
                    dalam jumlah sedikit setiap hari.
                 Menganjurkan ibu untuk makan beberapa keeping
                    biscuit sebelum bangun tidur.
                 Menganjurkan pada ibu untuk menghindari makanan
                    atau situasi yang memperburuk rasa mual.

        2. Trimester II

           Perubahan fisik
             Nyeri epigastrium yang disebabkan oleh regurgitasi isi
               lambung yang bersifat asam kedalam esophagus, bisa
               disebabkan ketegangan dan muntah pada trimester
               ketiga.
               Konselingnya :
                Menganjurkan pada ibu untuk makan sedikit tapi
                   sering
                Menganjurkan pada ibu untuk menghindari makanan
                   secara berlebihan dan makanan yang pedas,
                   berlemak dan gorengan.

        3. Trimester III

          Perubahan psikologis
      Kebanyakan ibu juga akan bersikap melindungi bayinya dan
      akan menghindari orang atau benda apa saja yang
      dianggapnya membahayakan bayinya. Seorang ibu mungkin
      mulai merasa takut akan rasa sakit dan bahaya fisik yang akan
      timbul pada waktu melahirkan dan merasa khawatir akan
      keselamatannya. Rasa tidak nyaman akibat kehamilan timbul
      kembali pada trimester ketiga dan banyak ibu yang merasa
      dirinya aneh dan jelek, sehingga memerlukan perhatian lebih
      besar dari pasangannya. Disamping itu ibu mulai merasa sedih
      karena akan terpisah dari bayinya dan kehilangan perhatian
      khusus yang diterima selama hamil, terdapat perasaan mudah
      terluka (sensitive). Hasrat seksual tidak setinggi pada trimester
      kedua karena abdomen merupakan sebuah penghalang. Posisi
      alternative untuk hubungan seksual dan metode alternative
      yang memberikan kepuasan seksual mungkin membantu atau
      malah menimbulkan perasaan bersalah jika ada
      ketidaknyamanan dalam berhubungan seksual. Bersikap
      terbuka dengan pasangan atau konsultasi dengan bidan atau
      tenaga kesehatan lain adalah hal yang penting.

      Peran bidan dalam membantu ibu menghadapi perubahan
      psikologis pada masa kehamilan :
      a) Menjelaskan bahwa apa yang dirasakan ibu adalah sesuatu
         yang normal.
      b) Mengungkapkan bahwa setiap pengalaman kehamilan
         adalah unik.
      c) Menjelaskan tentang kebutuhan nutrisi, pertumbuhan bayi,
         tanda-tanda kelahiran, tanda-tanda bahaya kehamilan.
      d) Mendiskusikan tentang ketidaknyamanan yang dialami oleh
         ibu dan cara mengatasinya.
      e) Mendiskusikan tentang rencana persalinan.


V. Konseling pada Ibu Melahirkan

  Perubahan psikologis ibu melahirkan
   Fase Laten : pada fase ini ibu biasanya merasa lega dan bahagia
   karena masa kehamilannya akan segera berakhir. Namun, pada
   awal persalinan wanita biasanya gelisah, gugup, cemas dan
   khawatir sehubungan dengan rasa tidak nyaman karena kontraksi.
Biasanya dia ingin berbicara, perlu ditemani, tidak tidur, ingin
berjalan-jalan dan menciptakan kontak mata. Pada wanita yang
dapat menyadari bahwa proses ini wajar dan alami akan mudah
beradaptasi dengan keadaan tsb.
Fase aktif : saat kemajuan persalinan sampai pada fase
kecepatan maksimum rasa khawatir wanita menjadi meningkat.
Kontraksi menjadi semakin kuat dan frekuensinya lebih sering
sehingga wanita tidk dapat mengontrolnya. Dalam keadaan ini
wanita akan menjadi lebih serius. Wanita tsb menginginkan
seseorang untuk mendampinginya karena dia merasa takut tidak
mampu beradaptasi dengan kontraksinya.
Kegiatan konseling pada ibu melahirkan merupakan pemberian
bantuan pada ibu yang akan melahirkan dengan konseling
mengatasi ketidaknyamanan berkaitan dengan perubahan
fisiologis dan psikologis selama persalinan, dan kegiatan
bimbingan proses melahirkan. Tujuan aktifitas ini untuk
kesejahteraan ibu dan proses kelahirannya dapat berjalan dengan
semestinya.

Langkah dalam konseling kebidanan pada ibu melahirkan :
 Menjalin hubungan yang mengenakkan (rapport) dengan klien
   Bidan menerima klien apa adanya dan memberikan dorongan
   verbal yang positif.
 Kehadiran
   Merupakan bentuk tindakan aktif keterampilan yang meliputi
   mengatasi semua kekacauan / kebingungan, memberikan
   perhatian total pada klien. Bidan dalam memberikan
   pendamping klien yang bersalin difokuskan secara fisik dan
   psikologis.
 Mendengarkan
   Bidan selalu mendengarkan dan memperhatikan keluhan klien.
 Sentuhan dalam pendampingan klien yang bersalin
   Sentuhan bidan terhadap klien akan memberikan rasa nyaman
   dan dapat membantu relaksasi.
 Memberikan informasi tentang kemajuan persalinan
   Merupakan upaya untuk memberikan rasa percaya diri pada
   klien, bahwa klien dapat menyelesaikan persalinannya.
 Memandu persalinan dengan memandu
   Misalnya : Bidan menganjurkan kepada klien untuk meneran
   pada saat his berlangsung.
         Mengadakan kontak fisik dengan klien
          Misalnya : mengelap keringat, mengipasi, memeluk pasien,
          menggosok punggung klien.
         Memberikan pujian kepada klien atas usaha yang telah
          dilakukannya
          Misalnya : Bidan mengatakan : “Bagus ibu, pintar sekali
          menerannya.”
         Memberikan ucapan selamat kepada klien atas kelahiran
          putranya dan mengatakan ikut berbahagia.


   VI. Konseling pada Ibu Nifas

         Bantuan konseling pada ibu nifas, meliputi : adaptasi pada masa
nifas, teknik menyesui dan perawatan payudara atau manajemen laktasi.
Pemahaman klien terhadapat keadaan dirinya perlu memperoleh bantuan,
ha tsb karena klien masih dalam keadaan lelah akibat persalinan, adanya
persaan nyeri setelah bersalinan, engorgement, proses involusi, proses
lokhea, laktasi. Pelaksanaan asuhan kebidanan dengan rawat gabung
(rooming in) yang artinya pelaksanaan rawat gabung ibu dan bayinya.
Dalam keadaan tsb, ibu diajak untuk mulai memperhatikan bayinya dan
mulai melakukakn kedekatan antar ibu dan bayinya. Dalam proses
konseling, bidan sebagai konselor harus mampu mendengarkan klien dan
melaksanakan bimbingan dan pelatihan kepada ibu dalam rangka
memandirikan ibu dalam rangka merawat dan memenuhi kebutuhan
bayinya. Bidan memeriksa keadaan fundus uteri dengan penuh
kelembutan perabaan serta melakukan komunikasi dengan klien dan
menerima segala keluhan klien. Bidan membimbing klien dalam
melaksanakan proses menyusui yang baik pada proses rawat gabung.
Bidan mencontohkan cara memegang bayi dengan kasih sayang penuh.



   VII. Konseling Keluarga Berencana (KB)

        Konseling merupakan aspek yang sangat penting dalam
pelayananan KB. Dengan melakukan konseling, berarti petugas membantu
klien dalam memilih dan memutuskan jenis kontrasepsi yang akan
digunakan sesuai dengan pilihannya. Disamping itu dapat membuat klien
merasa lebih puas.
   Baik terutama bagi Calon Klien KB baru :

    a. Perlakuan klien yang baik
       Petugas bersikap sabar, memperlihatkan sikap menghargai
       setiap klien, dan menciptakan suasana rasa percaya diri
       sehingga klien dapat berbicara secara terbuka dalam segala hal
       termasuk masalah-masalah pribadi sekalipun. Petugas
       meyakinkan klien bahwa petugas (bidan) tidak akan
       menceritakan rahasia klien dengan orang lain dan akan
       menjaga kepercayaan.

    b. Interaksi antara petugas dank lien
       Petugas mendengarkan, mempelajari dan menanggapi keadaan
       klien karena setiap klien mempunyai kebutuhan dan tujuan
       reproduksi yang berbeda. Bantuan terbaik seorang petugas
       adalah dengan cara memahami bahwa klien adalah klien yang
       membutuhkan perhatian dan bantuan. Oleh karena itu, petugas
       harus mendorong agar klien berani berbicara dan bertanya.

    c. Memberikan informai yang baik terhadap klien
       Dengan mendengarkan apa yang disampaikan klien berarti
       petugas rela mendengarkan informasi apa saja yang dibutuhkan
       oleh setiap klien. Contoh : pasangan muda yang menikah
       mungkin lebih banyak informasi mengenai masalah untuk
       menjarangkan kehamilan. Bagi wanita dengan usia dan jumlah
       anak cukup mungkin lebih membutuhkan informasi mengenai
       metode operasi (tubektomi dan vasektomi).

    d. Hindari pemberian informasi yang berlebihan

      Klien membutuhkan penjelasan untuk menentukan pilihan
      (informed choice). Namun tidak semua klien dapat menangkap
      semua informasi tentang berbagai jenis kontrasepsi. Terlalu
      banyak informasi yang diberikan akan menyebabkan kesulitan
      bagi klien dalam mengingat informasi yang penting. Hal ini
      disebut kelebihan informasi. Pada waktu memberikan informasi
      petugas harus memberikan waktu bagi klien untuk berdiskusi,
      bertanya dan mengajukan pendapat.
       e. Tersedianya metode yang diinginkan klien
          Petugas membantu klien untuk membuat keputusan sesuai
          dengan pilihannya, dan harus tanggap terhadap pilihan klien
          meskipun klien menolak memutuskan atau menagguhkan
          penggunaan kontrasepsi. Di dalam melakukan konseling
          petugas mengkaji apakah klien sudah mengerti mengenai jenis
          kontrasepsi, termasuk keuntungan dan kerugian serta
          bagaimana cara penggunaannya. Konseling mengenai
          kontrasepsi yang dipilih dimulai dengan mengenal berbagai
          jenis kontrasepsi tsb. Dengan demikian petugas membantu klien
          untuk membuat suatu keputusan (informed choice). Bila klien
          memperoleh pelayanan kontrasepsi sesuai dengan pilihannya,
          klien akan menggunakan kontrasepsi tsb lebih lama dan lebih
          efektif.

       f. Membantu klien untuk mengerti dan mengingat
          Petugas memperlihatkan contoh alat kontrasepsi dan
          mendorong klien untuk memahami dan memperlihatkan
          bagaimana cara-cara penggunaannya. Petugas juga
          memperlihatkan dan menjelaskan menggunakan flip charts,
          poster, pamphlet, atau halaman bergambar. Petugas juga perlu
          melakukan penilaian bahwa klien telah mengerti. Jika
          memungkinkan, klien dapat membawa bahan-bahan tsb ke
          rumah. Hal ini akan membantu klien mengingat apa yang harus
          dilakukan juga dapat member tahu kepada orang lain.


G. PENGAMBILAN KEPUTUSAN

   1. Strategi Membantu Klien dalam Pengambilan Keputusan

       Melakukan strategi membantu klien dalam pengambilan keputusan :
Setiap keputusan yang bersifat kompleks, terdapat banyak factor dan
perasaan tercakup di dalamnya.

a) Ada 4 strategi yang dapat membantu klien membuat keputusan :
    Membantu klien meninjau kemungkinan pilihannya.
    Membantu klien dalam mempertimbangkan keputusan pilihan.
    Membantu klien mengevaluasi pilihan.
    Membantu klien menyusun rencana kerja.

b) 3 K dalam pembuatan keputusan yang baik
    Langkah pertama
      Identifikasi kondisi yang dihadapi oleh klien
    Langkah kedua
      Susunlah daftar kehendak atau pilihan keputusan
    Langkah ketiga
      Untuk setiap pilihan, buatlah daftar konsekuensinya baik yang
      positif maupun yang negative.
      Pengambilan keputusan, pemecahan masalah, perencanaan
      Sesuai dengan masalah dan kondisi klien, konselor membantu klien
      memecahkan masalah yang dihadapi atau membantu perencanaan
      untuk mengatasi.


c) Tahapan ini merupakan inti dari proses konseling :

    Konselor membantu klien memahami permasalahannya
    Konselor membantu memberikan alternative pemecahan masalah

    Konselor membantu klien memilih alternative pemecahan masalah
     dengan segala konsekuensinya.


   2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi

    Fisik
     Didasarkan pada rasa yang dialami tubuh, sepeti ; rasa sakit, tidak
     nyaman, atau nikmat. Ada kecenderungan menghindarkan tingkah
     laku yang menimbulkan rasa tidak senang; atau sebaliknya memilih
     tingkah laku yang memberikan kesenangan.

    Emosional
     Didasarkan pada perasaan atau sikap. Orang akan bereaksi pada
     situasi secara subjektif.

    Rasioanal
      Didasarkan pada pengetahuan. Orang-orang mendapatkan
      informasi, memahami situasi dan berbagai konskuensinya.

    Praktikal
     Didasarkan pada keterampilan individual dan kemampuan
     melaksanakannya. Seseorang akan menilai potensi dir dan
     kepercayaan dirinya melalui kemampuan dalam bertindak.

    Interpersonal
     Didasarkan pada pengaruh jaringan-jaringan sosial yang ada.
     Hubungan antar satu orang ke orang lainnya dapat mempengaruhi
     tingakan individual.

    Structural
     Didasarkan pada lingkup sosial, ekonomi dan politik, lingkungan
     mungkin memberikan hasil yang mendukung atau mengkritik suatu
     tingkah laku tertentu.

3. Tipe Pengambilan Keputusan

   a) Pengambilan keputusan untuk tidak berbuat apa-apa karena
      ketidaksanggupan atau merasa tidak sanggup.
   b) Pengambilan keputusan intuitif, sifatnya segera; langsung
      diputuskan, karena keputusan tsb dirasakan paling tepat.
   c) Pengambilan keputusan yang terpaksa, karena segera
      dilaksanakan.
   d) Pengambilan keputusan yang reaktif. Sering kali dilakukan dalam
      situasi marah dan tergesa-gesa.
   e) Pengambilan keputusan yang ditangguhkan, dialihkan pada orang
      lain yang bertanggung jawab.
   f) Pengambilan keputusan secara berhati-hati : dipikirkan baik-baik,
      mempertimbangkan berbagai pilihan.

        Tegaskan bahwa bidan bertujuan membantu klien dengan berhati-
hati, bijaksana serta mengambil keputusan yang didasarkan pada
pengetahuan, fakta dan juga mempertimbangkan semua pilihan.

4. Pemberian Informasi Efektif
    Pemberian informasi ini dilakukan setelah mendengarkan dengan aktif
masalah klien dan pertanyaan klien tentang informasi.
    Konseling bukan proses pemberian informasi, tetapi dalam proses
konseling mengandung unsur pemberian informasi setelah konselor
memperoleh data atau informasi tentang keadaan dan kebutuhan klien dan
informasi yang diberikan sesuai kondisi dan kebutuhan klien.
    Pemberian informasi efektif, bila :
    a) Informasi yang diberikan spesifik, dapat membantu klien dalam
       membuat keputusan.
    b) Informasi disesuaikan dengan situasi klien, dan mudah dimengerti.
    c) Diberikan dengan memperhatikan hal-hal tsb :
        Singkat, dan tepat (pilih hal-hal penting yang perlu diingat klien).
        Menggunakan bahasa sederhana.
        Gunakan alat bantu visual sewaktu menjelaskan.
        Beri kesempatan klien bertanya dan minta klien mengulang hal-
           hal penting yang perlu diingat.

5. Saat-Saat Sulit Dalam Penerapan KIP / K

   Upaya mengatasi Saat - Saat “Sulit” dalam KIP / K
    Diam
    Klien menangis
    Konselor meyakinkan bahwa tidak ada pemecahan bagi masalah
     klien
    Konselor melakukan kesalahan
    Konselor tidak tahu jawaban dari pertanyaan klien
    Klien menolak bantuan konselor
    Klien merasa tidak nyaman dengan jenis kelamin konselor
    Waktu yang dimiliki konselor terbatas
    Konselor tidak dapat menciptakan rapport (hubungan) yang baik
    Konselor dan klien sudah saling kenal
    Klien berbicara terus dan yang tidak dibicarakan tidak sesuai dengan
     materi pembicaraan
    Klien bertanya tentang hal – hal pribadi konselor
    Konselor merasa dipermalukan dengan suatu topic pembicaraan
    Keadaan “kritis”
H. PROSES DAN PRAKTEK KIP / K DALAM PELAYANAN
   KEBIDANAN

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:1927
posted:4/10/2012
language:Indonesian
pages:46