Docstoc

Pengaruh Komunikasi Interpersonal Antar Pegawai Terhadap Kinerja Pegawai Dinas Pariwisata dan Kebudayaan

Document Sample
Pengaruh Komunikasi Interpersonal Antar Pegawai Terhadap Kinerja Pegawai Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Powered By Docstoc
					                                                                            1




                                  BAB I

                              PENDAHULUAN




1.1 Latar Belakang


            Manusia di dalam kehidupannya harus berkomunikasi, artinya

   memerlukan orang lain dan membutuhkan kelompok atau masyarakat

   untuk saling berinteraksi. Hal ini merupakan suatu hakekat bahwa

   sebagian besar pribadi manusia terbentuk dari hasil integrasi sosial

   dengan sesamanya. Dalam kehidupannya manusia sering dipertemukan

   satu sama lainnya dalam suatu wadah baik formal maupun informal.


                 Organisasi    adalah     sebuah      sistem    sosial   yang

   kompleksitasnya jelas terlihat melalui jenis, peringkat, bentuk dan

   jumlah interaksi yang berlaku. Proses dalam organisasi adalah salah satu

   faktor penentu dalam mencapai organisasi yang efektif. Salah satu

   proses yang akan selalu terjadi dalam organisasi apapun adalah proses

   komunikasi. Melalui organisasi terjadi pertukaran informasi, gagasan,

   dan pengalaman. Mengingat perannya yang penting dalam menunjang

   kelancaran berorganisasi, maka perhatian yang cukup perlu dicurahkan

   untuk mengelola komunikasi dalam organisasi. Proses komunikasi yang

   begitu    dinamik   dapat    menimbulkan        berbagai    masalah   yang
                                                                       2




mempengaruhi     pencapaian   sebuah    organisasi   terutama     dengan

timbulnya salah faham dan konflik


       Komunikasi     memelihara     motivasi   dengan    memberikan

penjelasan kepada para pegawai tentang apa yang harus dilakukan,

seberapa baik mereka mengerjakannya dan apa yang dapat dilakukan

untuk meningkatkan kinerja jika sedang berada di bawah standar.

       Aktivitas komunikasi di perkantoran senantiasa disertai dengan

tujuan yang ingin dicapai. sesama dalam kelompok dan masyarakat.

Budaya komunikasi dalam konteks komunikasi organisasi harus dilihat

dari berbagai sisi. Sisi pertama adalah komunikasi antara atasan kepada

bawahan. Sisi kedua antara pegawai yang satu dengan pegawai yang

lain. Sisi ketiga adalah antara pegawai kepada atasan. Masing-masing

komunikasi tersebut mempunyai polanya masing-masing.


        Di antara kedua belah pihak harus ada two-way-communications

atau komunikasi dua arah atau komunikasi timbal balik, untuk itu

diperlukan adanya kerja sama yang diharapkan untuk mencapai cita-cita,

baik cita-cita pribadi, maupun kelompok, untuk mencapai tujuan suatu

organisasi.


       Komunikasi merupakan sarana untuk mengadakan koordinasi

antara berbagai subsistem dalam perkantoran. Menurut Kohler ada dua

model komunikasi dalam rangka meningkatkan kinerja dan mencapai
                                                                       3




tujuan perkantoran ini. Pertama, komunikasi koordinatif, yaitu proses

komunikasi    yang    berfungsi    untuk     menyatukan   bagian-bagian

(subsistem) perkantoran. Kedua, komunikasi interaktif, ialah proses

pertukaran   informasi    yang    berjalan   secara   berkesinambungan,

pertukaran pendapat dan sikap yang dipakai sebagai dasar penyesuaian

di antara sub-sub sistem dalam perkantoran, maupun antara perkantoran

dengan mitra kerja. Frekuensi dan intensitas komunikasi yang dilakukan

juga turut mempengaruhi hasil dari suatu proses komunikasi tersebut.

       Dalam hal komunikasi yang terjadi antar pegawai, kompetensi

komunikasi yang baik akan mampu memperoleh dan mengembangkan

tugas yang diembannya, sehingga tingkat kinerja suatu organisasi

(perkantoran) menjadi semakin baik. Dan sebaliknya, apabila terjadi

komunikasi yang buruk akibat tidak terjalinnya hubungan yang baik,

sikap yang otoriter atau acuh, perbedaan pendapat atau konflik yang

berkepanjangan, dan sebagainya, dapat berdampak pada hasil kerja yang

tidak maksimal.

       Peningkatan kinerja pegawai secara perorangan akan mendorong

kinerja sumber daya manusia secara keseluruhan dan memberikan feed

back yang tepat terhadap perubahan perilaku, yang direkflesikan dalam

kenaikan produktifitas.

       Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Palembang merupakan

salah satu organisasi formal di lingkungan aparatur pemerintah yang
                                                                       4




   memberikan kontribusi yang cukup besar dalam pembangunan

   khususnya kota Palembang. Program-program kerja yang dirancang

   bertujuan       untuk   menmpromosikan     dan    melindungi   bidang

   kepariwisataan yang merupakan aset negara yang sangat penting

   sehingga sangat diharapkan kinerja yang optimal yang dapat diwujudkan

   melalui peranan komunikasi yang efektif supaya dapat memenuhi peran

   dan fungsinya sebagai aparat pemerintah yang mengabdikan dirinya

   pada bangsa dan negara ini.

           Melihat pengaruh yang sangat penting antara proses komunikasi

   yang terjadi dalam suatu organisasi khususnya komunikasi interpersonal

   antar pegawai dengan tingkat kinerja pegawai maka penulis tertarik

   mengambil judul “Pengaruh Komunikasi Interpersonal Antar Pegawai

   Terhadap Kinerja Pegawai Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota

   Palembang.”



1.2 Identifikasi dan Perumusan Masalah

         Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka

   dapat diidentifikasi permasalahan-permasalahan berikut :

   1.   Masih kurangnya komunikasi interpersonal yang terjadi antar

        pegawai.

   2. Masih banyak ditemukan kendala atau hambatan-hambatan dalam

        melakukan komunikasi interpersonal.
                                                                         5




   3. Kurang optimalnya kinerja pegawai akibat buruknya proses

      komunikasi interpersonal yang terjadi.



   Berdasarkan identifikasi masalah tersebut di atas dapat dirumuskan

   permasalahan sebagai berikut : “Bagaimana pengaruh komunikasi

   interpersonal   terhadap   kinerja   pegawai   Dinas   Pariwisata   dan

   Kebudayaan Kota Palembang ?”.



1.3 Pembatasan Masalah

   1. Penelitian dibatasi pada permasalahan komunikasi interpersonal

       yang terjadi pada pegawai Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota

       Palembang.

   2. Hanya terbatas pada pegawai di lingkungan Dinas Pariwisata dan

       Kebudayaan Kota Palembang.



1.4 Maksud dan Tujuan Penelitian

      Adapun maksud dan tujuan dilakukannya penelitian ini adalah :

    1. Untuk mengetahui proses komunikasi interpersonal antar pegawai.

    2. Untuk mengetahui hambatan-hambatan apa saja yang terjadi

       selama proses komunikasi interpersonal.

    3. Untuk mengetahui tingkat kinerja pegawai akibat pengaruh proses

       komunikasi interpersonal.
                                                                         6




1.5 Kegunaan Penelitian

   1. Sebagai masukan atau sumbangan pemikiran dan sumber informasi

       bagi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Palembang dalam hal

       peningkatan kinerja pegawai.

   2. Dapat    menjadi    bahan   bagi   peneliti   selanjutnya   mengenai

       komunikasi interpersonal dalam sebuah organisasi.

   3. Sebagai salah satu syarat guna meraih gelar Sarjana Negara Strata

       Satu (S1) Jurusan Ilmu Komunikasi Stisipol Candradimuka

       Palembang.



1.6 Kerangka Pemikiran

      Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, komunikasi

   mempunyai pengaruh yang sangat penting terhadap kinerja pegawai.

   Menurut defenisi Carl I. Hovland “Komunikasi adalah proses yang

   memungkinkan seseorang (komunikator)        menyampaikan rangsangan

   (biasanya lambang-lambang verbal) untuk mengubah perilaku orang lain

   (komunikan)”.

          Salah satu jenis komunikasi yang sangat penting adalah

   komunikasi interpersonal atau komunikasi yang terjadi secara tatap

   muka antara beberapa pribadi yang memungkinkan respon verbal

   maupun nonverbal berlangsung secara langsung. Dalam operasionalnya,

   komunikasi berlangsung secara timbal balik dan menghasilkan feed back
                                                                      7




secara langsung dalam menanggapi suatu pesan. Komunikasi yang

dilakukan dengan dua arah dan feed back secara langsung akan sangat

memungkinkan untuk terjadinya komunikasi yang efektif. Hal ini sesuai

dengan pendapat Onong U. Effendy yang mengatakan bahwa,

“Efektifitas komunikasi antar pribadi itu ialah karena adanya arus balik

langsung”.

   Di    dalam   suatu   organisasi   khususnya   perkantoran,   proses

komunikasi adalah proses yang pasti dan selalu terjadi. Komunikasi

adalah sarana untuk mengadakan koordinasi antara berbagai subsistem

dalam perkantoran. Perkantoran yang berfungsi baik, ditandai oleh

adanya kerjasama secara sinergis dan harmonis dari berbagai komponen.

Suatu perkantoran dikonstruksi dan dipelihara dengan komunikasi.

Artinya, ketika proses komunikasi antar komponen tersebut dapat

diselenggarakan secara harmonis, maka perkantoran tersebut semakin

kokoh dan kinerja perkantoran akan meningkat.

        Peningkatan kinerja pegawai secara perorangan akan mendorong

kinerja sumber daya manusia secara keseluruhan dan memberikan feed

back yang tepat terhadap perubahan perilaku, yang direkflesikan dalam

kenaikan produktifitas. Jadi dapat dikatakan bahwa keberhasilan suatu

organisasi sangat didukung dari tingkat kinerja pegawai yang sangat

dipengaruhi oleh proses komunikasi yang terjadi antar pegawai.
                                                                        8




1.7 Hipotesis

       Berdasarkan dari kerangka teori penelitian maka dapat ditarik suatu

   hipotesis sebagai suatu kesimpulan sementara yaitu sebagai berikut :

   “Terdapat pengaruh yang positif antara proses komunikasi interpersonal

   antar pegawai terhadap kinerja pegawai.”
                                                                                     9




                                       BAB II

                             TINJAUAN PUSTAKA



2.1 Dasar-Dasar Komunikasi

    2.1.1 Pengertian Komunikasi

            Kata komunikasi atau communication berasal dari kata Latin

    communis yang berarti ”sama”, communico, communicatio, atau

    communicare yang berarti “membuat sama” (to make common).

    Komunikasi merujuk pada suatu pikiran, suatu makna, atau suatu pesan

    yang dianut secara sama.


    Beberapa definisi komunikasi : 1

    Theodore M. Newcomb:

    “Setiap tindakan komunikasi dipandang sebagai suatu transmisi

    informasi,terdiri dari rangsangan yang diskriminatif, dari sumber kepada

    penerima”

    Carl I. Hovland:

    “Komunikasi        adalah     proses     yang     memungkinkan          seseorang

    (komunikator) menyampaikan rangsangan (biasanya lambang-lambang

    verbal) untuk mengubah perilaku orang lain (komunikan)”


1
 Emilia, dr. Ova, M.Med.Ed, Ph.D., SpOG. Dkk, 2006, Modul Pelatihan Keterampilan
Presentasi, Yogyakarta:UGM
(http://ppkb.ugm.ac.id/pdf/Guidelines/modulbassindonesia.pdf, diakses 20 Desember 2006)
                                                                10




Everett M. Rogers:

“Komunikasi adalah proses dimana suatu ide dialihkan dari sumber

kepada suatu penerima atau lebih, dengan maksud untuk mengubah

tingkah laku mereka”

Harold Lasswell:

Who Says What In Which Channel to Whom With What Effect? Atau

Siapa Mengatakan Apa Dengan Saluran Apa Kepada Siapa Dengan

Pengaruh Bagaimana?



2.1.2 Konsep dasar komunikasi

      Menurut John R. Wenburg dan William W. Wilmot juga Kenneth

K. Sereno dan Edward M. Bodaken setidaknya ada tiga kerangka

pemahaman komunikasi, yaitu:

1. Komunikasi sebagai tindakan satu arah

  Komunikasi dipahami sebagai proses penyampaian pesan searah dari

 seseorang/ lembaga kepada seseorang/kelompok lainnya, baik secara

 langsung maupun tidak langsung. Pemahaman komunikasi sebagai

 suatu proses satu arah ini oleh Michael Burgoon disebut sebagai

 “definisi berorientasi sumber” (source-oriented definition).
                                                                                    11




    2. Komunikasi sebagai interaksi

      Komunikasi dipahami sebagai proses aksi-reaksi, sebab-akibat, yang

      arahnya bergantian. Komunikasi interaksi dipandang lebih dinamis

      daripada komunikasi satu arah. Unsur penting dalam komunikasi

      interaksi adalah feedback (umpan balik).

    3. Komunikasi sebagai transaksi

       Komunikasi dipahami sebagai kegiatan menafsirkan perilaku orang

      lain. Ada proses encoding dan decoding pesan verbal maupun

      nonverbal. Semakin banyak peserta komunikasi maka transaksi yang

      terjadi akan semakin rumit. Kelebihan konsep ini adalah komunikasi

      dipahami sebagai konsep yang tidak membatasi pada komunikasi yang

      disengaja saja. Pemahaman ini mirip dengan “definisi berorientasi

      penerima” (receiver-oriented definition), yaitu menekankan pada

      variabel-variabel yang berbeda yaitu penerima dan makna pesan bagi

      penerima. Penerimaan pesan disini bersifat dua arah.

      2.1.3 Elemen-Elemen Komunikasi : 2

         1. Source (sumber)

                 Source atau sumber adalah seseorang yang membuat

            keputusan untuk berkomunikasi. Sering disebut juga pengirim

            (sender), penyandi (encoder), komunikator, pembicara (speaker).


2
 Emilia, dr. Ova, M.Med.Ed, Ph.D., SpOG. Dkk, 2006, Modul Pelatihan Keterampilan
Presentasi, Yogyakarta:UGM
(http://ppkb.ugm.ac.id/pdf/Guidelines/modulbassindonesia.pdf, diakses 20 Desember 2006)
                                                             12




2. The message (pesan)

   Pesan adalah apa yang dikomunikasikan oleh sumber kepada

   penerima. Pesan merupakan seperangkat simbol verbal maupun

   nonverbal yang berisi ide, sikap dan nilai komunikator. Pesan

   mempunyai tiga komponen yaitu 1) makna, 2) simbol yang

   digunakan untuk menyampaikan makna, dan 3) bentuk atau

   organisasi pesan.

 3. The channel (saluran)

   Saluran adalah alat atau wahana yang digunakan sumber untuk

       menyampaikan pesannya kepada penerima

4. The receiver (penerima)

         The receiver atau penerima adalah orang yang menerima

 pesan. Penerima       sering   juga   disebut    sasaran/tujuan

 (destination),    komunikate   (communicatee),   penyandi-balik

 (decoder) atau khalayak (audience), pendengar (listener), atau

 penafsir (interpreter).

5. Barriers (hambatan)

       Hambatan adalah faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya

 kesalahan    pemaknaan pesan yang komunikator sampaikan

 kepada penerima. Hambatan ini bisa berasal dari pesan, saluran,

 dan pendengar. Beberapa buku menggunakan istilah noise untuk

 menyebut elemen pengganggu, yang diartikan sebagai gangguan
                                                                                 13




         (disturbance/ interference) dalam proses komunikasi. External

         noise meliputi latar belakang pembicaraan, lingkungan, dan teknis

         saluran. Sedangkan internal noise meliputi aspek psikologi peserta

         komunikasi maupun aspek semantik. Misalnya sebuah kata yang

         mengandung arti ambiguitas.

         Hambatan komunikasi :3

         • Perbedaan Persepsi

         • Permasalahan Bahasa

         • Kurang mendengarkan

         • Perbedaan Emosional

         • Perbedaan latar belakang

       6. Feedback

                   Feedback adalah reaksi dan respons pendengar atas

           komunikasi yang komunikator lakukan. Feedback bisa dalam

           bentuk komentar langsung atau tertulis, surat, atau public opinin

           polling. Feedback juga berperan sebagai pengatur (regulator).

           Feedback mengontrol atau mengatur aksi komunikasi kita.

           Feedback negatif misalnya berupa kritikan, atau penolakan.

           Contohnya, ”Bisakah Anda diam?”. Feedback positif misalnya

           berupa pujian.



3
  _____________ Proses Komunikasi, 2006,
(http://www.dim.esdm.go.id/makalah/PrOsesKomNew.pdf, diakses 20 Desember 2006)
                                                                            14




           7.The situation (situasi)

                   Situasi adalah salah satu elemen paling penting dalam proses

             komunikasi pidato (speech communication). Situasi atau keadaan

             selama komunikasi berlangsung berpengaruh terhadap mood

             pembicara maupun pendengar, saluran/ media yang dipakai, dan

             feedback audience.


                 Di antara model awal yang telah dibentuk untuk menerangkan

        maksud komunikasi. Laswell menggambarkan komunikasi sebagai

        suatu proses input / linear yaitu Siapa, Berkata apa, Dalam saluran

        apa, Kepada siapa, Dengan kesan apa. Di dalam model ini unsur-

        unsur komunikasi yang ditekankan adalah sumber, pesan, saluran,

        penerima, kesan dan bagaimana proses maklumat disampaikan antara

        satu sama lain. Selain itu Model Matematik atau Model Shannon dan

        Weaver pula melihat komunikasi sebagai proses pemancaran pesan.

        Model ini juga menjadi asas Teori Komunikasi. Shannon dalam

        terjemahan Othman Sharif dan Siti Zaleha Hashim menggambarkan

        tindakan komunikasi ini mendatangkan umpan balik. 4




4
    Griffin, E. (1997) A First Look at Communication Theory. 3rd.Ed.
                                                                  15




               Model Komunikasi Shannon dan Weaver

      Dalam proses komunikasi terdapat empat elemen yang utama dalam

proses komunikasi yaitu sumber, pesan, saluran dan penerima. Model

Berlo, kesemua elemen ini penting dalam menyampaikan pesan dalam

memastikan                                                efektivitas

komunikasi.
                                                                      16




2.1.4 Jenis komunikasi

1. Komunikasi intrapribadi

   Komunikasi intrapribadi (intrapersonal communication) adalah

   komunikasi dengan diri sendiri, baik kita sadari atau tidak. Misalnya

   berpikir.

2. Komunikasi antarpribadi

   Komunikasi antarpribadi (interpersonal communication) adalah

   komunikasi    antara   orang-orang    secara    tatap   muka,    yang

   memungkinkan respon verbal maupun nonverbal berlangsung secara

   langsung. Bentuk khusus komunikasi antarpribadi ini adalah

   komunikasi diadik (dyadic communication) yang hanya melibatkan

   dua individu, misalnya suami-istri, dua sejawat, guru-murid. Ciri-ciri

   komunikasi diadik adalah pihak-pihak yang berkomunikasi berada

   dalam jarak yang dekat; pihak-pihak yang berkomunikasi mengirim

   dan menerima pesan secara langsung dan simultan.

3. Komunikasi kelompok (kecil)

   Komunikasi kelompok merujuk pada komunikasi yang dilakukan

   sekelompok kecil orang (small-group communication). Kelompok

   sendiri merupakan sekumpulan orang yang mempunyai tujuan

   bersama, yang berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan

   bersama, saling mengenal satu sama lain, dan memandang mereka
                                                                             17




   sebagai bagian dari kelompok tersebut. Komunikasi antarpribadi

   berlaku dalam komunikasi kelompok.

4. Komunikasi publik

   Komunikasi publik adalah komunikasi antara seorang pembicara

   dengan sejumlah orang (khalayak), yang tidak bisa dikenali satu

   persatu. Komunikasi publik meliputi ceramah, pidato, kuliah, tabligh

   akbar, dan lain-lain. Ciri-ciri komunikasi publik adalah: berlangsung

   lebih formal; menuntut persiapan pesan yang cermat, menuntut

   kemampuan menghadapi            sejumlah besar orang;           komunikasi

   cenderung pasif; terjadi di tempat umum yang dihadiri sejumlah

   orang; merupakan peristiwa yang direncanakan; dan ada orang-orang

   yang ditunjuk secara khusus melakukan fungsi-fungsi tertentu.

5. Komunikasi organisasi

   Komunikasi organisasi (organizational communication) terjadi dalam suatu

   organisasi, bersifat formal dan informal, dan berlangsung dalam jaringan yang

   lebih besar dari komunikasi kelompok. Komunikasi organisasi juga

   melibatkan komunikasi diadik, komunikasi antarpribadi, dan komunikasi

   publik tergantung kebutuhan.

6. Komunikasi massa

   Komunikasi massa (mass communication) adalah komunikasi yang

   menggunakan media massa cetak maupun elektronik yang dikelola

   sebuah lembaga atau orang yang dilembagakan yang ditujukan

   kepada sejumlah besar orang yang tersebar, anonim, dan heterogen.
                                                                      18




      Pesan-pesannya bersifat umum, disampaikan secara serentak, cepat

      dan selintas.



2.2 Komunikasi Interpersonal Dalam Perkantoran

         Komunikasi merupakan bagian yang penting dalam kehidupan

   kerja suatu organisasi. Hal ini dapat dipahami sebab komunikasi yang

   tidak baik mempunyai dampak yang luas terhadap kehidupan organisasi,

   misalnya konflik antar pegawai, dan sebaliknya komunikasi yang baik

   dapat meningkatkan saling pengertian, kerja sama dan kepuasan kerja.

   Oleh karena itu hubungan komunikasi yang terbuka harus diciptakan

   dalam organisasi. Pada dasarnya komunikasi di dalam organisasi,

   terbagi kepada tiga bentuk:

   1. Komunikasi vertikal

              Bentuk komunikasi ini merupakan bentuk komunikasi yang

      terjadi dari atas ke bawah dan sebaliknya. Artinya komunikasi yang

      disampaikan pimpinan kepada bawahan, dan dari bawahan kepada

      pimpinan secara timbal balik.

      Fungsi komunikasi ke bawah digunakan pimpinan untuk:

       Melaksanakan kebijaksanaan, prosedur kerja, peraturan, instruksi,

        mengenai pelaksanaan kerja bawahan.

       Menyampaikan pengarahan doktrinasi, evaluasi, teguran.
                                                                   19




    Memberikan informasi mengenai tujuan organisasi, kebijaksanaan-

     kebijaksaan organisasi, insentif.

            Seorang pimpinan harus lebih memperhatikan komunikasi

   dengan     bawahannya,    dan     memahami   cara-cara   mengambil

   kebijaksanaan, terhadap bawahannya.

            Keberhasilan organisasi dilandasi oleh perencanaan yang

   tepat, dan seorang pimpinan organisasi yang memiliki jiwa

   kepemimpinan. Kedua hal terseut merupakan modal utama untuk

   kemajuan organisasi yang dipimpinnya.

   Fungsi komunikasi ke atas digunakan untuk:

   a. Memberikan pengertian mengenai laporan prestasi kerja, saran,

      usulan, opini, permohonan bantuan, dan keluhan.

   b. Memperoleh informasi dari bawahan mengenai kegiatan dan

      pelaksanaan pekerjaan bawahan dari tingkat yang lebih rendah.

            Bawahan tentulah berharap agar ide, saran, pendapat,

   tanggapan maupun kritikannya dapat diterima dengan lapang dada,

   dan hati terbuka oleh pimpinan.

2. Komunikasi horizontal

            Bentuk komunikasi secara mendatar, diantara sesama

   pegawai dsbnya. Komunikasi horizontal sering kali berlangsung

   tidak formal.
                                                                   20




         Fungsi komunikasi horizontal/ke samping digunakan oleh

  dua pihak yang mempunyai level yang sama. Komunikasi ini

  berlangsung dengan cara tatap muka, melalui media elektronik

  seperti telepon, atau melalui pesan tertulis.

3. Komunikasi diagonal

         Bentuk komunikasi ini sering disebut juga komunikasi

  silang. Berlangsung dari seseorang kepada orang lain dalam posisi

  yang berbeda. Dalam arti pihak yang satu tidak berada pada jalur

  struktur yang lain.

         Fungsi komunikasi diagonal digunakan oleh dua pihak yang

  mempunyai level berbeda tetapi tidak mempunyai wewenang

  langsung kepada pihak lain. Melalui jalur hierarkhi/tingkatan

  seorang pimpinan harus lebih memperhatikan komunikasi dengan

  bawahannya secara baik, sehingga dapat membangkitkan minat dan

  gairah kerja disertai komunikasi yang baik untuk mencapai tujuan

  yang diharapkan.

         Dalam penerapannya komunikasi dapat dilakukan secara

  formal dan informal. Umumnya komunikasi formal ada dalam setiap

  organisasi dan dapat terjadi antar personal dalam organisasi melalui

  jalur hirarkhi dengan prinsip pembagian tugas untuk mencapai

  tujuan yang diharapkan. Komunikasi formal merupakan suatu sistem

  dimana para anggotanya bekerjasama secara tepat untuk mencapai
                                                                21




tujuan yang diinginkan. Komunikasi formal pada dasarnya

berhubungan dengan masalah kedinasan.

       Komunikasi informal adalah kebalikan dari komunikasi

formal biasanya terjadi dengan spontan sebagai akibat dari adanya

persamaan perasaan, kebutuhan, persamaan tugas dan tanggung

jawab. Komunikasi informal pada pelaksanaannya tidak terikat oleh

waktu, ruang dan tempat, kadang-kadang komunikasi informal lebih

berhasil, dan peranannya tidak kalah penting, karena dapat

disampaikan setiap saat, asalkan bermanfaat untuk kemajuan

organisasi. Namun penyampaiannya kurang sistematis, karena

pertumbuhan dan penyebarannya tidak teratur. Kadang-kadang

seorang pimpinan selalu beranggapan bahwa keberadaan organisasi

informal merupakan suatu hal yang janggal, yang merupakan akibat

gagalnya komunikasi formal yang memunculkan ketidakstabilan

organisasi formal.

       Bentuk komunikasi informal dapat berupa pertemuan yang

tidak direncanakan, seperti: bertemu dan ngobrol di kantin pada jam

makan siang, di resepsi, atau pertemuan lainnya. Komunikasi

informal ini mempunyai hal-hal yang positif, seperti:

   Bila jalan yang ditempuh melalui komunikasi formal melewati

    hambatan, dengan terpaksa digunakan komunikasi informal.

   Dalam suasana konflik dan penuh ketegangan.
                                                                     22




         Sebagai sarana komunikasi.

             Dari kedua bentuk komunikasi tersebut di atas, setiap

      pimpinan harus dapat menempatkan diri agar tidak timbul perasaan

      suka atau tidak tidak suka. Pimpinan harus mencari dan

      melaksanakan nilai-nilai positif dari hubungan-hubungan tersebut.

      Ukuran sukses tidaknya seorang pimpinan terletak pada bagaimana

      pimpinan memadukan nilai positif yang dihasilkan dari komunikasi

      formal dan informal.

             Agar komunikasi interpersonal yang dilakukan menghasilkan

      hubungan interpersonal     yang efektif dan kerja sama bisa

      ditingkatkan, kita perlu bersikap terbuka dan menggantikan sikap

      dogmatis. Kita perlu juga memiliki sikap percaya, sikap mendukung,

      dan terbuka yang mendorong timbulnya sikap saling memahami,

      menghargai dan saling mengembangkan kualitas. Hubungan

      interpersonal   perlu   ditumbuhkan    dan   ditingkatkan   dengan

      memperbaiki hubungan dan kerjasama antara berbagai pihak, tidak

      terkecuali dalam lembaga pendidikan.



2.3 Komunikasi Efektif Dalam Perkantoran

           Di dalam kehidupan perkantoran, komunikasi efektif ini

    menjadi sebuah kebutuhan. Banyak aturan yang harus dilengkapi

    penjelasan, dimaksudkan agar kesalahpahaman interpretasi dapat
                                                                          23




     dihindarkan. Apabila salah seorang pegawai kantor merasa belum jelas

     dengan informasi yang diterimanya, maka lebih baik meminta

     penjelasan. Hal ini disebabkan, komunikasi yang tidak efektif di

     kantor bisa jadi mengakibatkan dampak negatif dan kerugian yang

     serius. Komunikasi efektif di perkantoran akan sangat membantu

     peningkatan kinerja dan ketepatan dalam penyelesaian suatu urusan.

     Ada beberapa indikator komunikasi efektif, ialah:5

     - Pemahaman, ialah kemampuan memahami pesan secara cermat

       sebagaimana dimaksudkan oleh komunikator.

     - Kesenangan, yakni apabila proses komunikasi itu selain berhasil

       menyampaikan informasi, juga dapat berlangsung dalam suasana

       yang menyenangkan kedua belah pihak. Sebenarnya tujuan

       berkomunikasi tidaklah sekedar transaksi pesan, akan tetapi

       dimaksudkan pula untuk saling interaksi secara menyenangkan

       untuk memupuk hubungan insani.

     - Pengaruh pada sikap, apabila seorang komunikan setelah menerima

       pesan kemudian sikapnya berubah sesuai dengan makna pesan itu.

       Tindakan mempengaruhi orang lain merupakan bagian dari

       kehidupan sehari-hari di perkantoran. Dalam berbagai situasi kita




5
   Suranto AW, 2006, Komunikasi Efektif Untuk Mendukung Kinerja Perkantoran
(http://www.google.com/komunikasi/2006)
                                                                                  24




        berusaha mempengaruhi sikap orang lain dan be-rusaha agar orang

        lain bersikap positif sesuai keinginan kita.

      - Hubungan yang makin baik, bahwa dalam proses komunikasi yang

        efektif secara tidak sengaja meningkatkan kadar hubungan

        interpersonal.    Di   perkantoran,     seringkali    terjadi   komunikasi

        dilakukan bukan untuk menyampaikan informasi atau mempe-

        ngaruhi sikap semata, tetapi kadang-kadang terdapat maksud implisit

        di sebaliknya, yakni untuk membina hubungan baik.

      - Tindakan, kedua belak pihak yang berkomunikasi melakukan

        tindakan sesuai dengan pesan yang dikomunikasikan.

      Faktor Pendukung Komunikasi Efektif :

              Secara umum ada beberapa karakteristik yang diduga dapat

      mendukung tercapainya komunikasi yang efektif.

      1. Komunikator

              Dalam proses komunikasi, komunikator memegang peran yang

      sangat penting untuk tercapainya komunikasi efektif. Komunikator se-

      bagai personal mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap ko-

      munikan, bukan saja dilihat dari kemampuan dia menyampaikan

      pesan, namun juga menyangkut berbagai aspek karakteristik

      komunikator. 6




6
 Rakhmat, Jalaluddin. 1993. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, hal
289
                                                                                25




            Beberapa karakteristik komunikator yang efektif, dapat di

      sebutkan sebagai berikut:

    - Kredibilitas

     Ialah kewibawaan seorang komunikator di hadapan komunikan.

    - Daya tarik

        Hal ini berkenaan dengan keadaan yang menunjukkan penerima

      melihat komunikator sebagai seorang yang disenangi dalam bentuk

      peranan yang memuaskan.

              Alexis Tan mengemukakan bahwa dimensi daya tarik diukur

      dengan similarity (kesamaan), familiarity (keakraban) dan proximity

      (kesukaan). 7

              Satu lagi daya tarik komunikator, yaitu daya tarik fisik

      (physical attarctiviness). Artinya, bahwa daya tarik fisik seorang

      komunikator, memudahkan tercapainya simpati dan perhatian dari

      komunikan.

      - Kekuasaan

            Artinya seorang komunikator yang memiliki kekuasaan relatif

      lebih mudah mempengaruhi bawahannya. Ada rasa sungkan di

      kalangan bawahan terhadap komunikator yang memiliki wewenang

      atau kekuasaan.

      - Kemampuan intelektual

7
 Tan, Alexis. 1981. Mass Communication Theories and Research. Ohio Columbus: Grid
Publishing Inc, hal 105
                                                                     26




 Ialah     tingkat   kecakapan,   kecerdasan,   dan   keahlian   seorang

 komunikator.

- Integritas atau keterpaduan sikap dan perilaku dalam aktivitas

 perkantoran sehari-hari. Komunikator yang memiliki keterpaduan,

 kesesuaian antara ucapan dan tindakannya akan lebih disegani oleh

 komunikan.

- Kepercayaan, kalau komunikator dipercaya oleh komunikan maka

 akan lebih mudah menyampaikan pesan dan mempengaruhi sikap

 orang lain.

- Kepekaan sosial, yaitu suatu kemampuan komunikator untuk

 memahami situasi di lingkungan perkantoran.

 - Kematangan tingkat emosional

 Ialah kemampuan komunikator untuk mengendalikan emosinya,

 sehingga tetap dapat melaksanakan komunikasi dalam suasana yang

 menyenangkan di kedua belah pihak.

- Berorientasi kepada kondisi psikologis komunikan, artinya seorang

 komunikator perlu memahami kondisi psikologis orang yang diajak

 bicara.

- Memiliki lingkup pandangan (frame of reference) dan lingkup

 pengalaman (field of experience) tentang diri komunikan. Misalnya

 bagaimana watak atau kebiasaan, bagaimana tingkat pendidikannya,

 apa makanan kesukaannya, kapan ulang tahunnya, dan sebagainya.
                                                                                  27




      Pengetahuan dan pengalaman tentang hal-hal tersebut dapat dijadikan

      sebagai acuan untuk berkomunikasi secara bijak.

      2. Pesan

             Agar supaya komunikasi efektif, maka cara penyampaian pesan

      atau informasi perlu dirancang secara cermat sesuai dengan

      karakteristik komunikan maupun keadaan di lingkungan sosial yang

      bersangkutan. Jalaluddin Rakhmat mengatakan bahwa keberhasilan

      komunikasi sebagian ditentukan oleh kekuatan pesan. Dengan pesan,

      seseorang dapat mengendalikan sikap dan perilaku komunikan. Agar

      proses     komunikasi      terlaksana    secara     efektif,   maka      perlu

      dipertimbangkan berbagai teknik sebagaimana diuraikan berikut ini. 8

               Pesan satu sisi (one sided) ataukah dua sisi (two sided). Hal ini

      berkaitan dengan cara mengorganisasikan pesan. Organisasi pesan satu

      sisi, ialah suatu cara berkomunikasi dimana komunikator hanya

      menyampaikan pesan-pesan yang mendukung tujuan komunikasi saja.

      Sedangkan pesan dua sisi, berarti selain pesan yang bersifat

      mendukung, disampaikan pula counter argument, sehingga komunikan

      diharapkan menganalisis sendiri atas pesan tersebut. Apakah dalam

      menyampaikan pesan itu diorganisasikan secara satu sisi atau dua sisi,

      tentulah harus disesuaikan dengan karakteristik




8
 Rakhmat, Jalaluddin. 1993. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, hal
268
                                                                             28




               Sedangkan pesan dua sisi, secara teoritis lebih efektif

         dikarenakan pada karakteristik pola komunikasi sebagai berikut:

    a.    Pada awalnya komunikan tidak sepakat dengan komunikator.

    b.    Komunikan     menyadari    argument    yang    berlawanan   sebelum

           penyajian pesan, atau sewaktu pesan akan disampaikan.

    c.    Komunikan memiliki latar pendidikan yang baik (tinggi)

    d.    Komunikator menginginkan kejujuran, keterbukaan, serta objektif

         dalam pesannya dan tidak terlalu menghiraukan hasil komunikasi

               Dalam menyampaikan pesan, seorang komunikator tidak perlu

         terlalu   ambisi   untuk   mencapai    hasil   segera.   Untuk    dapat

         mempengaruhi komunikan secara efektif, penyampaian pesan perlu

         memperhatikan langkah-langkah:9

    1. Attention (perhatian) Artinya bahwa pesannya harus dirancang dan

         disampaikan sedemikian rupa sehingga dapat menumbuhkan perhatian

         dari komunikan.

    2. Need (kebutuhan) Artinya bahwa komunikator kemudian berusaha

         meyakinkan komunikan bahwa pesan yang disampaikan itu penting

         bagi komunikan.

    3. Satisfaction (pemuasan), dalam hal ini komunikator memberikan

         bukti bahwa yang disampaikan adalah benar.




9
   Suranto AW, 2006, Komunikasi Efektif Untuk Mendukung Kinerja Perkantoran
(http://www.google.com/komunikasi/2006)
                                                                              29




     4.   Visualization (visualisasi) komunikator memberikan bukti-bukti lebih

          konkret sehingga komunikan bisa turut menyaksikan.

     5.   Action (tindakan), komunikator mendorong agar komunikan bertindak

          positif yaitu melak-sanakan pesan dari komunikator tersebut.

              Cara   penyampaian    pesan    memang     berpengaruh      terhadap

       keefektifan proses komunikasi. Cara penyampaian yang baik, akan

       memudahkan komunikan dalam menerima dan memahaminya.




2.4 Hambatan Komunikasi Efektif Dalam Perkantoran


                 Roger Neugebauer dalam artikelnya ”Communication: A two-

          way Street” mengungkapkan beberapa kendala yang sering dialami

          oleh sebuah organisasi dalam berkomunikasi dua arah, yaitu:10

          -   Protectiveness   (Perlindungan).   Pimpinan     seringkali    tidak

          memberitahukan informasi tertentu pada pegawainya atau timnya

          karena takut akan menyakiti hati pegawai. Alasan lain adalah bahwa

          pimpinan menganggap bahwa informasi tersebut harus dilindungi, dan

          bukan untuk konsumsi pegawai karena pegawai tidak akan mungkin

          mengerti apa yang akan disampaikan. Demikian pula dengan pegawai,

          mereka sering tidak menyampaikan informasi tertentu kepada


10
     Sembel, Roy PhD, 2005, Bagaimana Membangun Komunikasi Dua Arah,
(http://www.wordpress.com, diakses 20 Januari 2007)
                                                                   30




pimpinan untuk melindungi dirinya dari tindakan pemecatan atau

peringatan. Mereka takut jika informasi disampaikan maka pimpinan

akan marah, lalu mendiskreditkan mereka, memberikan penilaian yang

negatif terhadap mereka (sehingga berdampak pada kenaikan gaji yang

kecil), atau bahkan yang paling ekstrem adalah memecat mereka.

- Defensiveness (Pertahanan).


           Selain menahan informasi, seseorang juga bisa saja tidak

   mau menerima informasi (menolak untuk mendengar informasi

   yang disampaikan). Hal ini terjadi jika mereka sudah membentuk

   emosi negatif terhadap orang yang memberi informasi, mungkin

   karena orang tersebut telah merendahkan dengan kata-kata yang

   menyakitkan.


   - Tendency to evaluate (Kecenderungan untuk menghakimi).

           Jika mendapat        informasi   dari seseorang mengenai

   keburukan orang lain, komunikator cenderung mengambil sikap

   yang mengevaluasi tanpa mengumpulkan data yang lengkap

   sebelum berkomunikasi dengan orang yang dibicarakan tersebut.


 - Narrow perspectives (Perspektif yang sempit).

           Karena jarang meninjau pekerjaan orang lain, atau keluar

   dari lingkungan pekerjaan sendiri, seseorang seringkali dibatasi

   pada cara pandangnya sendiri. Ia tidak mencoba melihat dari sudut
                                                                31




pandang orang lain. Para pegawai, seringkali hanya melihat suatu

masalah dari sudut pandangnya sendiri (kepentingan individunya

semata, tanpa mencoba memahami sebuah situasi dari sudut

pandang yang berbeda). Sempitnya perspektif inilah yang sering

menyebabkan konflik (tiap orang hanya melihat dari sudut

pandang sendiri, dan tidak mencoba memahami orang lain).


- Mismatched expectations.

          Peter Drucker mengatakan bahwa pikiran manusia

seringkali hanya membatasi informasi yang cocok dengan

ekspektasinya. Jika ternyata informasi yang disampaikan tidak

sesuai dengan apa yang diharapkan, maka orang tersebut

cenderung tidak termotivasi untuk mendengarkan informasi yang

disampaikan. Misalnya: jika dalam rapat-rapat ternyata seringkali

tanggapannya tidak diperhatikan, maka pegawai cenderung enggan

menyatakan pendapat, karena ia beranggapan percuma saja

menyampaikan pendapat, karena biasanya juga tidak ada follow-

up-nya.


- Insufficient time.

            Alasan     lain   adalah   keterbatasan   waktu   untuk

menyampaikan informasi secara menyeluruh. Karena kegiatan

rutin yang harus diselesaikan dengan segera, seringkali waktu
                                                                        32




        berkomunikasi dilupakan, atau komunikasi dilakukan dengan

        tergesa. Akibatnya, informasi yang disampaikan kepada orang lain

        pun tidak lengkap sehingga ada kemungkinan informasi tersebut

        salah dipahami.




2.5 Pengertian Kinerja

        Menurut Prawirosentono, kinerja adalah hasil kerja yang dapat

   dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang dalam suatu organisasi

   sesuai dengan wewenang dan tangungjawab masing-masing, dalam

   rangka upaya mencapai tujuan organisasi bersangkutan sacara legal,

   tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral dan etika.

        Kinerja pegawai lebih mengarah pada tingkatan prestasi kerja

   pegawai. Kinerja pegawai merefleksikan bagaimana pegawai memenuhi

   keperluan pekerjaan dengan baik. Mathis dan Jackson mendefinisikan

   bahwa kinerja pada dasarnya adalah apa yang dilakukan dan tidak

   dilakukan pegawai.

        Kinerja   pegawai     mempengaruhi   seberapa   banyak    mereka

   memberikan kontribusi kepada organisasi yang antara lain termasuk:

   1. Kuantitas keluaran

   2. Kualitas keluaran

   3. Jangka waktu keluaran

   4. Kehadiran di tempat kerja
                                                                      33




5. Sikap kooperatif

    Sumber daya manusia sebagai aktor yang berperan aktif dalam

menggerakkan perusahaan /organisasi dalam mencapai tujuannya.

Tercapainya tujuan perusahaan hanya dimungkinkan karena upaya para

pelaku yang terdapat dalam perusahaan, untuk berkinerja dengan baik.

Kinerja perorangan (individual performance) dengan kinerja lembaga

(institutional   performance)   atau   kinerja   perusahaan   (corporate

performance) terdapat hubungan yang erat. Dengan perkataan lain bila

kinerja pegawai (individual performance) baik maka kemungkinan besar

kinerja perusahaan (corporate performance) juga baik. Kinerja seorang

pegawai akan baik bila ia mempunyai keahlian (skill) yang tinggi,

bersedia bekerja karena gaji atau diberi upah sesuai dengan perjanjian

dan mempunyai harapan (expectation) masa depan lebih baik

    Pekerjaan hampir selalu memiliki lebih dari satu kriteria pekerjaan

atau dimensi. Menurut Mathis dan Jackson, kriteria pekerjan adalah

faktor yang terpenting dari apa yang dilakukan orang di pekerjaannya.

Dalam artian, kriteria pekerjaan menjelaskan apa yang dilakukan orang

di pekerjaannya. Oleh karena itu kriteria-kriteria ini penting, kinerja

individual dalam pekerjaan haruslah diukur, dibandingkan dengan

standar yang ada, dan hasilnya dikomunikasikan pada setiap pegawai.

        Kinerja perkantoran ialah gambaran mengenai bagaimana

seseorang (baik pimpinan maupun anggota) melakukan segala sesuatu
                                                                               34




     yang berhubungan dengan suatu pekerjaan, jabatan, atau peranan dalam

     perkantoran. Dengan demikian ukuran kinerja antara satu orang dengan

     yang lainnya bisa jadi saling berbeda, oleh karena tugas dan

     kewenangan jabatannya juga tidak sama.

             Namun secara mudah dapat dikatakan bahwa indikator kinerja

     yang positif adalah sikap, perilaku dan aktivitas yang secara nyata

     mendukung pelaksanaan program kerja dan pencapaian tujuan

     perkantoran.

             Pada hakikatnya standar kinerja seseorang dalam perkantoran

     dapat dilihat dari tiga indikator: 11

        Tugas fungsional, seberapa baik seseorang menyelesaikan aspek-

         aspek pekerjaan yang menjadi tanggungjawabnya

        Tugas perilaku, seberapa baik seseorang melakukan komunikasi dan

         interaksi antarpersona dengan orang lain dalam perkantoran: ba-

         gaimana dia mampu menyelesaikan konflik secara sehat dan adil,

         bagai-mana ia memberdayakan orang lain, dan bagaimana ia mampu

         bekerja sama dalam sebuah tim untuk men-capai tujuan perkantoran.

        Tugas etika, ialah seberapa baik seseorang mampu bekerja se-cara

         profesional sambil menjunjung tinggi norma etika, kode etik profesi,

         serta peraturan dan tata tertib yang dianut oleh suatu perkantoran.




11
    Suranto AW, 2006, Komunikasi Efektif Untuk Mendukung Kinerja Perkantoran
(http://www.google.com/komunikasi/2006)
                                                                        35




          Indikator lain yang sangat penting untuk melihat kinerja suatu

   organisasi yaitu keberhasilan pencapaian target kerja yang telah

   diprogramkan sebelumnya, apakah semuanya berjalan sesuai dengan

   prosedur yang telah dirancang dan apakah telah memenuhi harapan dan

   target yang ingin dicapai.



2.6 Penilaian Kinerja

      Penilaian kinerja (performance appraisal, PA) adalah proses

   evaluasi seberapa baik pegawai mengerjakan, ketika dibandingkan

   dengan satu set standar dan kemudian mengkomunikasikannya dengan

   para pegawai. Penilaian kinerja disebut juga sebagai penilaian pegawai,

   evaluasi pegawai, tinjauan kinerja, evaluasi kinerja dan penilaian hasil

   pedoman. Rahmanto mengemukakan bahwa system penilaian kinerja

   mempunyai dua elemen pokok, yakni :

   1. Spesifikasi pekerjaan yaang harus dikerjakan oleh bawahan dan

      criteria yang memberikan penjelasan bagaimana kinerja yang baik

      (good performance) dapat dicapai, sebagai contoh : anggaran

      operasi, target produksi tertentu dan sebagainya.

   2. Adanya mekanisme untuk pengumpulan informasi dan pelaporan

      mengenai cukup tidaknya perilaku yang terjadi dalam kenyataan

      dibandingkan dengan kriteria yang berlaku sebagai contoh laporan

      bulanan manager dibandingkan dengan anggaran dan realisasi
                                                                         36




      kinerja (budgeted and actual performance) atau tingkat produksi

      dibandingkan dengan angka penunjuk atau meteran suatu mesin.

      Penilaian kinerja dapat terjadi dalam dua cara, secara informal dan

   secara sistimatis. Penilaian informal dapat dilaksanakan setiap waktu

   dimana pihak atasan merasa perlu. Hubungan sehari-hari antara manajer

   dan pegawai memberikan kesempatan bagi kinerja pegawai untuk

   dinilai. Penilaian sistimatis digunakan ketika kontak antara manajer dan

   pegawai bersifat formal,dan sistemnya digunakan secara benar dengan

   melaporkan kesan dan observasi manajerial terhadap kinerja pegawai.

      Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penilaian kinerja

   merupakan bagian integral dari proses penilaian yang meliputi :

   penerapan sasaran kinerja yang spesifik, terukur, memiliki tingkat

   perubahan, terbatas waktu, adanya pengarahan dan dukungan atasan.

   Pegawai bersama atasan masing-masing dapat menetapkan sasaran dan

   standar kinerja yang harus dicapai dalam kurun waktu tertentu.

   Peningkatan kinerja pegawai perseorangan pada gilirannya akan

   mendorong kinerja sumber daya manusia secara keseluruhan.



2.7 Hubungan Antara Proses Komunikasi dan Kinerja Perkantoran

          Banyak ahli komunikasi yang memiliki kesamaan pandangan

   mengenai hubungan antara proses komunikasi dan kinerja perkantoran.

   Mereka bersepakat bahwa komunikasi efektif dan tingkat kinerja
                                                                     37




perkantoran berhubungan secara signifikan. Memperbaiki komunikasi

perkantoran berarti memperbaiki kinerja perkantoran. Pandangan

tersebut mengisyaratkan diterimanya konsep-konsep sebagai berikut:

- Komunikasi merupakan salah satu unsur penting yang menandai

 kehidupan di dalam suatu perkantoran. Ketika perkantoran itu

 berharap dapat bekerja dalam sebuah manajemen yang efisien, maka

 di dalamnya mesti dilakukan langkah-langkah komunikasi internal

 secara terencana.

- Komunikasi dapat digunakan untuk mengubah, mempertahankan, dan

 meningkatkan kemajuan sebuah perkantoran.

       Perkantoran yang berfungsi baik, ditandai oleh adanya kerjasama

secara sinergis dan harmonis dari berbagai komponen. Senantiasa terjadi

komunikasi, kerjasama, saling koreksi, dan terdapat sistem pembagian

tugas antarkomponen tersebut.

       Suatu   perkantoran      dikonstruksi   dan   dipelihara   dengan

komunikasi. Artinya, ketika proses komunikasi antar komponen tersebut

dapat diselenggarakan secara harmonis, maka perkantoran tersebut

semakin kokoh dan kinerja perkantoran akan meningkat.
                                                                         38




                                    BAB III

                       METODOLOGI PENELITIAN



3.1 Desain Penelitian

                  Dalam penelitian ini penulis menggunakan desain penelitian

      metode deskriptif analitik korelasional untuk melukiskan secara

      sistematis, faktual, dan cermat dan berusaha memberikan gambaran

      tentang apa saja yang ada hubungannya dengan penelitian kemudian

      menganalisanya untuk menemukan pemecahan masalah yang dihadapi.12



3.2 Operasional Variabel

        Variabel yang dianalisis dalam penelitian ini dibedakan menjadi

        variabel independen dan variabel dependen.

        1. Variabel independen (X) merupakan variabel bebas yang nantinya

           akan    mempengaruhi     variabel   dependen   yaitu   komunikasi

           interpersonal, dengan indikator :

           1. Frekuensi tatap muka

           2. Kualitas hubungan

           3. Tingkat pemahaman pesan

           4. Perubahan sikap dan tindakan




12
     Effendy, O U. 1981. Dimensi-Dimensi Komunikasi, Bandung, hak
                                                                                           39




         2. Variabel       dependen      (Y) adalah variabel           tergantung         yang

             keberadaannya dipengaruhi variabel lainnya. Dalam penelitian ini

             variabel dependen adalah kinerja. Indikator yang dinilai ada empat

             kelompok yaitu :

             1. Hasil kerja atau target kerja

             2. Motivasi Kerja

             3. Efektivitas kerja

             4. Kerja sama




3.3 Populasi dan Sampel

       3.3.1 Populasi

             Pengertian populasi menurut Jalaluddin Rakhmat yaitu kumpulan

             objek penelitian.13 Dalam hal ini yang menjadi populasinya adalah

             jumlah seluruh pegawai Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota

             Palembang yang berjumlah 142 orang.

       3.3.2 Sampel

                    Sampel adalah sebagian dari populasi yang akan diteliti,

             untuk menentukan sampel maka menurut Suharsimi Arikunto

             menyatakan bahwa “Apabila populasi lebih dari 100 orang maka

             dapat diambil sampel sebanyak 10%, 15%, 20%, dan 25%, dan

             apabila kurang dari 100 maka sebaiknya seluruh populasi diambil

             semua untuk dijadikan sampel. Dikarenakan populasi dalam
13
     Suharsimi, Arikunto. 1998, Prosedur Penelitian, Jakarta:PT. Rineka Cipta, hal 120.
                                                                      40




       penelitian ini berjumlah lebih dari 100 orang yaitu 142 orang maka

       berdasarkan pedoman tersebut, penulis mengambil sampel 15%

       dari jumlah total populasi menjadi sebanyak 21 orang.

             Pengambilan sampel dilakukan secara simple random

       sampling dari seluruh populasi, dengan demikian maka peneliti

       memberi hak yang sama kepada setiap subjek penelitian untuk

       memperoleh kesempatan dipilih menjadi sampel atau responden

       dalam penelitian.



3.4 Teknik dan Alat Pengumpulan Data

   3.4.1 Teknik Pengumpulan Data

         Teknik yang dipakai untuk pengambilan data adalah :

       1. Kepustakaan

           Teknik yang digunakan penulis dengan pemanfaatan literatur /

           buku-buku, penelitian-penelitian sebelumnya, dan telaah

           dokumen yang terkait dengan permasalahan yang diteliti

           sebagai suatu acuan atau pedoman antara hasil yang diperoleh

           dari lapangan dengan teori disiplin ilmu yang ada.

       2. Kuesioner

           Yaitu dengan cara penyebaran kuesioner atau angket yang

           berisi daftar pertanyaan terperinci tentang hal-hal yang ingin
                                                                                     41




              diteliti penulis untuk mendapatkan data kuantitatif tentang

              variabel-variabel penelitian.

          3. Observasi langsung

              Yaitu suatu teknik pengumpulan data berdasar pengamatan dan

              memahami berbagai gejala yang berkaitan dengan objek

              penelitian.



      3.4.2 Alat Pengumpulan Data

                      Data dari responden dikumpulkan dengan memberikan

              skor untuk alternatif jawaban. Penilaian seluruh variabel akan

              menggunakan skala Likert yaitu banyaknya alternatif jawaban

              biasanya 3,5,7,9, dan 11. 14 Apabila item positif, angka terbesar

              diberikan jawaban Iya, sebaliknya bila item negatif, angka

              terbesar diberikan pada jawaban Tidak.

                    Untuk itu penulis memberi 3 buah alternatif jawaban

              dengan skor sebagai berikut :

              A =3

              B =2

              C =1




14
  Sedarmayanti, Syarofuddin Hidayat. 2002, Metodologi Penelitian, Bandung : Mandar
maju, hal 96
                                                                     42




3.5 Teknik Analisa Data

   Cara pengukuran validitas angket kompetensi menggunakan teknik

   korelasi dengan r pearson atau koefisien korelasi product momen

   pearson dengan taraf signifikan 5% yaitu dengan rumus :

                                 n ( xy )  ( x) ( y )
                  rxy 
                          n ( x )  ( x) n ( y )  ( y) 
                                2          2         2       2



   Dimana :

   n adalah banyaknya pasangan pengamatan

   x adalah jumlah pengamatan variabel x

   y adalah jumlah pengamatan variabel y

   (x2) adalah jumlah kuadrat pengamatan variabel x

   xy adalah jumlah hasil kali variabel x dan y



3.6 Rancangan Uji Hipotesis

      Untuk melihat apakah Ha ataupun Ho yang dapat dilihat dengan

   perbandingan antara besarnya “r” observasi (ro) dengan besarnya nilai

   “r” product moment. Hipotesis diterima jika nilai r tabel < r product

   moment.

      Sementara itu, Jalaludin Rakhmat dalam bukunya metode penelitian

   komunikasi mengemukakan bahwa tingkat hubungan dapat dinilai dari

   hasil sebagai berikut :

   Kurang dari 0,20           : hubungan rendah sekali
                                                                          43




   0,20 - 0,40                : hubungan rendah tetapi pasti

   0,40 - 0,70                : hubungan yang cukup berarti

   0,70 - 0,90                : hubungan tinggi, kuat

   > 0,90                     : hubungan sangat tinggi



3.7 Lokasi dan Jadwal Penelitian

   3.7.1 Lokasi Penelitian

        Lokasi   penelitian    dilakukan   pada    Dinas     Pariwisata   dan

        Kebudayaan Kota Palembang.

   3.7.2 Jadwal Penelitian

                  Bulan           Januari Februari Maret April Mei
                                   2007    2007    2007 2007 2007
        Kegiatan
        Pengajuan Judul              X
        Membuat Desain                         X
        Seminar Desain                                   X
        Usulan Skripsi                                   X
        Pengumpulan Data                                 X       X        X
        Bimbingan                                                         X
        Pengelolaan Data                                                  X
        Ujian Skripsi                                                     X
                                                                     44




                                   BAB IV

                  HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN




4.1 Hasil Penelitian

    4.1.1 Deskripsi Data

              Pada bab ini penulis akan membahas data yang telah

       diperoleh melalui penyebaran angket yang ditujukan kepada pegawai

       Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Palembang guna mengetahui

       pengaruh komunikasi interpersonal antar pegawai terhadap kinerja

       pegawai. Seperti penjelasan sebelumnya, populasi dalam penelitian

       ini adalah pegawai Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota

       Palembang, sedangkan sampel yang diambil adalah 15% dari total

       populasi yaitu sebanyak 21 orang. Dari jumlah responden tersebut,

       semuanya telah mengembalikan angketnya dengan data-data yang

       cukup sesuai dengan harapan penulis. Untuk memudahkan analisa

       data, penulis menjabarkan data-data tersebut dalam bentuk tabel-

       tabel yang akan memberikan gambaran terhadap masalah yang

       diteliti dan dalam penyajiannya penulis membaginya sebagai

       berikut:
                                                                               45




Analisa Data Pribadi Responden


             Untuk    mengetahui    data     pribadi       responden,    penulis

mengajukan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan salah satu

aspek kehidupan pribadi responden antara lain : jenis kelamin, usia,

pendidikan, status pegawai, tingkat dan golongan pegawai. Untuk

lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :


                                   Tabel 1

                               Jenis Kelamin

        No.       Jenis Kelamin       Jumlah (orang)           Persentase (%)
        1.     Laki-laki                      14                    66,67
        2.     Perempuan                       7                    33,33
                      Jumlah                  21                    100

  Sumber : Hasil Penyebaran Angket, April 2007

             Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa sebagian besar

responden adalah laki-laki yaitu sebanyak 14 orang (66,67%) dari

total     jumlah     responden.    Sedangkan       yang      berjenis   kelamin

perempuan sebanyak 7 orang (33,33%).


                                        Tabel 2
                                   Usia Responden
        No.      Usia Responden (Tahun)            Jumlah          Persentase
                                                   (orang)              (%)
         1.                20-25                       8                38,1
                                                                  46




      2.             26-30                     7          33,33
      3.             31-35                     4          19,05
      4.             36-40                     1           4,76
      5.              >40                      1           4,76
                  Jumlah                       21          100
   Sumber : Hasil Penyebaran Angket, April 2007

       Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa responden yang

berusia 20-25 tahun sebanyak 8 orang (38,1%), usia 26-30 tahun

sebanyak 7 orang (33,33%), usia 31-35 sebanyak 4 orang (19,05%),

usia 36-40 tahun dan usia > 40 tahun sebanyak 1 orang (4,76%).


                               Tabel 3
                  Tingkat Pendidikan Responden
      No.     Tingkat Pendidikan         Jumlah     Persentase (%)
      1.    SMP                            1            4,76
      2.    SMA                            8            38,10
      3.    S1                            12            57,14
                  Jumlah                  21             100
    Sumber : Hasil Penyebaran Angket, April 2007

              Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat responden yang

berpendidikan SMP hanya sebanyak 1 orang (4,76%), SMA

sebanyak 8 orang (38,10%), dan sarjana (S1) sebanyak 12 orang

(57,14%).
                                                                47




Analisa Data Tentang Komunikasi Interpersonal Pegawai

                           Tabel 4
         Jawaban responden tentang konsultasi pekerjaan
                  secara tatap muka antar pegawai
 No.         Jawaban Responden         Jumlah       Persentase (%)
 1.     Ya                              16              76,19
 2.     Kadang-kadang                      5            23,80
 3.     Tidak                              -              -
                 Jumlah                 21               100
Sumber : Hasil Penyebaran Angket, April 2007

        Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa responden

yang memberikan alternatif jawaban Ya sebanyak 16 orang

(76,19%), jawaban Kadang-kadang sebanyak 5 orang (23,80 %), dan

tidak ada responden yang menjawab Tidak.



                             Tabel 5

       Jawaban responden tentang keakraban antar pegawai

 No.         Jawaban Responden         Jumlah       Persentase (%)
 1.     Baik                               7            33,33
 2.     Cukup                           11              52,38
 3.     Kurang                             3            14,29
                 Jumlah                 21               100
Sumber : Hasil Penyebaran Angket, April 2007

        Berdasarkan data dari tabel menunjukkan bahwa responden

yang menjawab Baik sebanyak 7 orang (33,33 %), jawaban Cukup
                                                                  48




sebanyak 11 orang (52,38%), dan yang menjawab Kurang sebanyak

3 orang (14,29 %).



                               Tabel 6

  Jawaban responden tentang kelancaran proses komunikasi
       tanpa hambatan latar belakang, suku, dan budaya
 No.        Jawaban Responden            Jumlah     Persentase (%)
 1.    Ya                                 13              61,9
 2.    Kadang-kadang                       8              38,1
 3.    Tidak                               -                -
                Jumlah                    21              100
Sumber : Hasil Penyebaran Angket, April 2007

       Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa responden yang

menyatakan jawaban Ya sebanyak 13 orang (61,9%), jawaban

Kadan-kadang sebanyak 8 orang (38,1 %), dan tidak ada responden

yang memberikan jawaban Tidak.



                               Tabel 7

  Jawaban responden tentang perubahan sikap dan tindakan
               setelah terjadi komunikasi interpersonal
 No.        Jawaban Responden            Jumlah     Persentase (%)
 1.    Ya                                  8              38,1
 2.    Kadang-kadang                      10              47,62
 3.    Tidak                               3              14,29
                Jumlah                    21              100
Sumber : Hasil Penyebaran Angket, April 2007
                                                                 49




       Berdasarkan data dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa

responden yang memberikan jawaban Ya sebanyak 8 orang (38,1

%), jawaban Kadang-kadang sebanyak 10 orang (47,62 %), dan

jawaban Tidak sebanyak 3 orang (14,29 %).



                             Tabel 8

            Jawaban responden tentang kesesuaian pekerjaan
                    dengan tujuan organisasi
 No.        Jawaban Responden          Jumlah       Persentase (%)
 1.    Ya                                10             47,62
 2.    Kadang-kadang                     10             47,62
 3.    Tidak                               1             4,76
               Jumlah                    21              100
Sumber : Hasil Penyebaran Angket, April 2007

       Menurut data dari tabel di atas dapat dilihat bahwa responden

yang memberikan jawaban Ya sebanyak 10 orang (47,62%),

Kadang-kadang sebanyak 10 orang (47,62%), dan yang memberikan

jawaban Tidak sebanyak 1 orang (4,76 %).



                             Tabel 9

Jawaban responden tentang adanya harapan dari pekerjaannya

 No.        Jawaban Responden          Jumlah       Persentase (%)
 1.    Ya                                14             66,67
 2.    Kadang-kadang                       7            33,33
                                                                 50




 3.    Tidak                              -               -
               Jumlah                    21              100
Sumber : Hasil Penyebaran Angket, April 2007

       Menurut data dari tabel di atas dapat dilihat bahwa responden

yang memberikan jawaban Ya sebanyak 14 orang (66,67%),

jawaban Kadang-kadang sebanyak 7 orang (33,33 %), dan tidak ada

responden yang memberikan jawaban Tidak.



                             Tabel 10

Jawaban responden tentang pelaksanaan dan penyelesaian tugas
                        dengan tepat waktu
 No.        Jawaban Responden           Jumlah      Persentase (%)
 1.    Ya                                 7             33,33
 2.    Kadang-kadang                     14             66,67
 3.    Tidak                              -               -
               Jumlah                    21              100
Sumber : Hasil Penyebaran Angket, April 2007

       Menurut data dari tabel di atas dapat dilihat bahwa responden

yang memberikan jawaban Ya sebanyak 7 orang (33,33 %), Kadang-

kadang sebanyak 14 orang (66,67 %), dan tidak ada responden yang

memberikan jawaban Tidak.
                                                                            51




                                       Tabel 11

               Jawaban responden tentang kemampuan bekerja secara
                               individu dan kelompok
         No.          Jawaban Responden           Jumlah      Persentase (%)
          1.     Ya                                  7             33,33
          2.     Kadang-kadang                      11             52,38
          3.     Tidak                               3             14,29
                         Jumlah                     21              100
        Sumber : Hasil Penyebaran Angket, April 2007

                 Menurut data dari tabel di atas dapat dilihat bahwa responden

        yang memberikan jawaban Ya sebanyak 7 orang (33,33 %), Kadang-

        kadang sebanyak 11 orang (52,38 %), dan yang memberikan

        jawaban Tidak sebanyak 3orang (14,29 %).



4.1.2    Pengujian Persyaratan Analisis

                 Berikut ini tabel nilai tabulasi dari data angket dan tabulasi

        jawaban responden serta nilai variabel bebas (x) dan nilai variabel

        terikat (y) yang disebarkan kepada 21 responden sebagai berikut :
                                                             52




                          Tabel 12

                  Tabulasi Data Dari Angket

Responden       Variabel Bebas             Variabel Terikat
                     (X)                         (Y)
            4     5       6      7     8      9      10     11
    1       3     3       3      2     2      3       3      3
    2       2     3       2      2     3      2       2      1
    3       3     2       3      2     2      3       3      2
    4       3     2       3      2     3      2       2      2
    5       2     3       3      1     2      3       2      2
    6       3     3       3      1     2      3       3      3
    7       3     2       2      3     2      3       2      1
    8       3     3       2      2     2      3       2      3
    9       3     2       2      3     2      3       2      2
   10       3     2       3      3     3      3       3      2
   11       3     1       2      3     2      3       2      2
   12       3     2       3      3     3      2       3      1
   13       3     2       3      3     3      2       2      2
   14       3     2       2      2     2      2       2      2
   15       3     2       3      2     3      3       2      3
   16       2     1       3      3     3      2       2      2
   17       2     3       3      2     3      3       2      3
   18       3     1       3      1     1      3       3      3
   19       3     3       2      2     3      3       3      2
   20       2     2       2      2     2      2       2      2
   21       3     2       3      3     3      3       2      3
                                                             53




                                Tabel 13

                     Tabulasi Jawaban Responden

Responden    Variabel Bebas    Variabel Terikat   Jumlah Jumlah
                   (X)                (Y)           (X)    (Y)
            4    5     6   7   8    9 10 11
    1       3    3     3   2   2    3     3   3     11     11
    2       2    3     2   2   3    2     2   1      9      8
    3       3    2     3   2   2    3     3   2     10     10
    4       3    2     3   2   3    2     2   2     10      9
    5       2    3     3   1   2    3     2   2      9      9
    6       3    3     3   1   2    3     3   3     10     11
    7       3    2     2   3   2    3     2   1     10      8
    8       3    3     2   2   2    3     2   3     10     10
    9       3    2     2   3   2    3     2   2     10      9
   10       3    2     3   3   3    3     3   2     11     11
   11       3    1     2   3   2    3     2   2      9      9
   12       3    2     3   3   3    2     3   1     11      9
   13       3    2     3   3   3    2     2   2     11      9
   14       3    2     2   2   2    2     2   2      9      8
   15       3    2     3   2   3    3     2   3     10     11
   16       2    1     3   3   3    2     2   2      9      9
   17       2    3     3   2   3    3     2   3     10     11
   18       3    1     3   1   1    3     3   3      8     10
   19       3    3     2   2   3    3     3   2     10     11
   20       2    2     2   2   2    2     2   2      8      8
   21       3    2     3   3   3    3     2   3     11     11
                J U M L A H                        206    202
                                                                          54




                                       Tabel 14

                Nilai Variabel Bebas (X) dan Nilai Variabel Terikat (Y)

     Nomor          X          Y          X2          Y2          XY
        1           11         11         121         121         121
        2            9          8          81          64          72
        3           10         10         100         100         100
        4           10          9         100          81          90
        5            9          9          81          81          81
        6           10         11         100         121         110
        7           10          8         100          64          80
        8           10         10         100         100         100
        9           10          9         100          81          90
       10           11         11         121         121         121
       11            9          9          81          81          81
       12           11          9         121          81          99
       13           11          9         121          81          99
       14            9          8          81          64          72
       15           10         11         100         121         110
       16            9          9          81          81          81
       17           10         11         100         121         110
       18            8         10          64         100          80
       19           10         11         100         121         110
       20            8          8          64          64          64
       21           11         11         121         121         121
     Jumlah        206        202        2.038       1.970       1.992

Berarti nilai variabel :

X       = 206

Y       = 202

X2      = 2.038

Y2      = 1.970

XY      = 1.992
                                                                  55




4.1.3 Pengujian Hipotesis

        Untuk menguji hipotesis, penulis menggunakan korelasi product

   moment sebagai berikut :


                         n ( xy)  ( x) ( y)
      rxy =
                n ( x )  ( x)  n ( y )  ( y) 
                         2          2          2        2




                         211992   206 202 
            =
                212038  206 211970  202 
                                    2               2



                               41832  41612
            =
                42798  4243641370  40804
                   220
            =
                362 566 

               220
            = 452,65


      rxy   = 0,486
                                                                                      56




        Berdasarkan hitungan di atas pada akhirnya diketahui rxy = 0,486.

Untuk indeks korelasi sebesar 0,486 dan apabila diinterpretasikan dengan

tabel interpretasi nilai r, maka indeks korelasi yang didapat dari hasil

perhitungan tersebut di atas menunjukkan adanya korelasi yang kuat (tinggi)

antara variabel X yaitu komunikasi interpersonal pegawai dengan variabel Y

yaitu tingkat kinerja pegawai.12


                                       Tabel 15

                             Tabel interpretasi nilai r

                   Besarnya nilai r                   Interpretasi
                0,800 – 1, 00                Tinggi
                0,600 – 0,800                Cukup
                0,400 – 0,600                Agak rendah
                0,200 – 0,400                Rendah
                0,000 – 0,200                Sangat rendah


        Apabila indeks korelasi tersebut diinterpretasikan dengan melihat

pada tabel nilai “r” product moment, maka hubungan (korelasi) antara kedua

variabel tersebut adalah sebagai berikut :


-    Hipotesis alternatif (Ha) : Terdapat korelasi positif yang meyakinkan

     antara pengaruh komunikasi interpersonal pegawai (variabel X) degan

     tingkat kinerja pegawai (variabel Y)



12
  Arikunto, Suharsimi, Prosuder Suatu Penelitian Suatu Pendekaatan Prakti, Rineka Cipta,
Jakarta, 1991, hal.209
                                                                          57




-   Hipotesis Nol (Ho)       :   Tidak   terdapat   korelasi   positif   yang

    meyakinkan antara pengaruh komunikasi interpersonal pegawai

    (variabel X) degan tingkat kinerja pegawai (variabel Y)


    Untuk melihat apakah Ha ataupun Ho yang dapat dilihat dengan

    perbandingan antara besarnya “r” observasi (ro) dengan besarnya nilai

    “r” product moment, dengan terlebih dahulu mengetahui derajat

    kebebasan (db) dengan rumus sebagai berikut :


    db = N – nr

    db = derajat kebebasan

    N   = jumlah sampel

    nr = banyaknya variabel yang dikorelasikan

        Dengan demikian dapat diketahui bahwa derajat kebebasannya

    adalah 21–2 = 19. Pada derajat kebebasan 19 dengan taraf signifikan

    95% = 0,456. Sehingga dapat ditafsirkan : 0,456 < 0,486 sehingga

    hipotesis Ha diterima. Selanjutnya dibuktikan melalui koefisien

    determinant yaitu rxy2 = 0,4862 x 100% = 65,12 %. Persentase pengaruh

    variabel X terhadap variabel Y adalah sebesar 65,12 % dan sisanya

    sesesar 34,88 % dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak termasuk

    dalam penelitian ini.
                                                                    58




                                 BAB V

                    KESIMPULAN DAN SARAN




5.1 Kesimpulan

   1. Terdapat hubungan positif antara komunikasi interpersonal pegawai

      dengan tingkat kinerja pegawai namun agak rendah yaitu dengan

      indeks koefisien korelasi sebesar rxy =0,486


   2. Kualitas hubungan atau keakraban masih kurang terjalin dengan

      baik karena menurut perhitungan sebanyak 52,38 % responden

      menyatakan keakraban dalam taraf cukup dan masih terdapat

      responden yang menyatakan kurang baik.


   3. Efisiensi kerja pegawai masih kurang maksimal yaitu sebanyak

      66,67 % dari total responden hanya kadang-kadang saja

      menyelesaikan tugas secara tepat waktu.


   4. Kerja sama antar pegawai masih belum maksimal karena masih

      terdapat responden yang belum bisa bekerja secara tim yaitu

      sebesar 52,38 % responden menjawab hanya kadang-kadang saja

      dapat bekerja secara individu dan kelompok.
                                                                        59




5.2 Saran


   1. Kegiatan-kegiatan yang melibatkan semua karyawan seperti acara

      arisan darma wanita karyawan dan koperasi perlu dimaksimalkan

      lagi fungsinya sehingga kualitas hubungan antar pegawai dalam

      mendukung kinerja karyawan.


   2. Perlu diberikan pembinaan dan pelatihan terhadap karyawan

      misalnya mengadakan diklat-diklat dan pemberian sanksi yang tegas

      seperti teguran lisan dan tertulis bagi karyawan yang kurang disiplin

      dalam bekerja guna meningkatkan efisiensi kerja masing-masing

      karyawan.


   3. Perlu ditingkatkan hubungan kerja sama antar karyawan secara

      keseluruhan sehingga tidak terbatas atau terkotak-kotak pada

      masing-masing fungsi, misalnya membuat program kerja yang

      melibatkan keaktifan dari semua fungsi unit kerja.

				
DOCUMENT INFO
Description: pembinaan dan pelatihan terhadap karyawan, kualitas hubungan antar pegawai, Efisiensi kerja pegawai, Kerja sama antar pegawai, Pengaruh Komunikasi Interpersonal, Kinerja Pegawai Dinas Pariwisata