Docstoc

Bab 3, 4 dan 5

Document Sample
Bab 3, 4 dan 5 Powered By Docstoc
					                                                                            1




                                  BAB III
                       STRATEGI PELAKSANAAN

      Orientasi    penanaman    dan   pelestarian   nilai   budaya     sebagai
pembentukan karakter bangsa menuntut peran serta seluruh komponen
bangsa, khususnya warga sekolah. Sekolah sebagai lembaga pendidikan
berperan strategis untuk mengembangkan kepribadian dan potensi anak
sesuai dengan kemampuan dan pengetahuannya untuk menyiapkan diri
hidup di masyarakat.
      Penanaman dan pelestarian nilai budaya akan efektif jika seluruh
warga sekolah mampu melakukan aktivitas-aktivitas yang berorientasi
kearah tersebut. Oleh karena itu       antara komponen sekolah (Kepala
sekolah, Guru Pembina Osis, guru mata pelajaran, Siswa, OSIS) menjalin
hubungan yang baik dalam rangka implementasi kegiatan tersebut
      Di bawah ini adalah peran serta komponen sekolah dalam upaya
pembinaan budaya dan karakter bangsa di sekolah

1. Kepala Sekolah
      Kepala Sekolah memiliki wewenang yang luas sesuai dengan
ketentuan yang ada. Melalui komunikasi yang dibangun secara harmonis
dengan guru, karyawan tata usaha dan siswa, Kepala sekolah dapat
mengembangkan kegiatan untuk meningkatkan kegiatan proses belajar
mengajar maupun kegiatan lainnya yang memungkinkan siswa akan lebih
banyak   menarik    manfaat    bagi   perkembangan       intelektual   maupun
emosionalnya.
      Kepala sekolah perlu mengetahui dengan pasti potensi kemampuan
yang tersembunyi yang dimiliki siswanya, khususnya terkait dengan
apresiasi budaya serta kondisi multikultural disekolah
      kepala sekolah dapat mengembangkan potensi tersebut melalui
kebijakannya yaitu mendukung upaya-upaya menumbuhkembangkan
                                                                         2




kesadaran akan pentingnya keberagaman dalam rangka identitas dan
karakter bangsa melalui kegiatan yang berorientasi pada pelestarian
budaya bangsa
      Pelestarian nilai budaya sebagai cermin karakter budaya bangsa
sangat tergantung pada dukungan dan sikap serta ketegasan pengelola
pendidikan dalam menjalankan kebijakan di sekolah. Banyak sekolah yang
berhasil dalam pelestarian budaya dan pembentukan karakter siswa yang
sebagai identitas nasional disebabkan karena kepala sekolahnya berpihak
melalui kebijakan yang kuat, sehingga segala sesuatunya berjalan sesuai
dengan rencana yang telah di susun.
      Kepala sekolah berkoordinasi dengan komite sekolah diharapkan
mampu menyediakan sarana-sarana yang manunjang kearah pelestarian
budaya dan memfasilitasi kegiatan-kegiatan yang berdampak pada
pembentukan karakter siswa sebagai jatidiri bangsa

2. Guru Pembina Osis
      Guru Pembina Osis merupakan pendidik, pengajar dan pembimbing
yang menyentuh kehidupan pribadi siswa. Oleh siswa sering dijadikan
sebagai tokoh teladan, dan oleh karena itu guru pembina osis sebaiknya
memiliki pengetahuan dan pemahaman yang memadai untuk dapat
mengembangkan minat, bakat dan potensi pada diri siswa secara utuh,
terutama dalam penanaman nilai budaya serta pembentukan karakter
siswa sebagai cermin jatidiri bangsa
      Dalam     melaksanakan    tugasnya,   guru     pembina   osis   perlu
memahami dan menghayati jati diri siswa sebagai manusia yang memilki
berbagai potensi dalam dirinya yang tersembunyi. Di sisi lain harus pula
memahami dan menghayati wujud anak sekolah sebagai gambaran hasil
didikan dan binaannya yang diharapkan oleh masyarakat sesuai dengan
perubahan dan tuntutan perkembangan zaman.
                                                                        3




          Perkembangan globalisasi memberikan dampak terhadap beberapa
aspek kehidupan, khususnya dampak negatif terhadap penanaman nilai
budaya dan pembentukan karakter bangsa, dimana nilai-nilai budaya dan
karakter bangsa mulai memudar, sehingga diperlukan reposisi terhadap
nilai – nilai budaya dan pembentukan karakter bangsa melalui kegiatan
efektif di sekolah. Oleh sebab itu, Guru Pembina Osis diharapkan memiliki
pengetahuan      dan    pemahaman    dalam   merancang    program   yang
berorientasi pada penanaman nilai budaya dan pembentukan karakter
bangsa sebagai bagian dari jenis kegiatan pembinaan disekolah. Peran
tersebut antara lain:
     1.     Melakukan pemantauan pada pelaksanaan kegiatan ekstra
            kurikuler yang berkaitan dengan seni dan budaya
     2.     Merancang program kegiatan kesiswaan yang berkaitan dengan
            kegiatan seni dan budaya serta pembentukan karakter siswa
     3.     Melakukan koordinasi pada bidang lain yang terkait dengan
            tugas dan tanggungjawabnya dalam upaya sukses program
            ekstrakurikuler seni dan budaya serta pembentukan karakter
            bangsa
     4.     Mampu dan memiliki kepekaan terhadap perubahan dan
            tantangan, terutama dampak globalisasi terhadap pembentukan
            karakter bangsa

3. Guru Mata Pelajaran
       Guru mata pelajaran, khususnya Guru PKn, Guru Bimbingan dan
Konseling serta Guru mulok (seni) perlu memiliki peran yang lebih besar
dalam upaya pembinaan penanaman nilai buda dan pembentukan
karakter siswa di sekolah. Kehadirannya memegang peranan yang sangat
penting dalam menumbuhkan kesadaran dalam melestarikan nilai budaya
dan pembentukan karakter bangsa dikalangan siswa. Peran yang dapat
dilakukan oleh guru mata pelajaran antara lain :
                                                                           4




   1. Berusaha membantu dan mengembangkan bakat, minat dan
      potensi siswa dalam bidang seni dan budaya
   2. Memberikan bimbingan tehnis terhadap siswa dalam melaksanakan
      kegiatan yang berorientasi pada penanaman dan pelestarian nilai
      budaya di lingkungan sekolah.
   3. Memberikan bimbingan berkaitan dengan pembentukan karakter
      siswa sebagai cermin karakteristik bangsa
   4. Koordinasi dengan instansi terkait dalam rangka pengembangan
      model-model kegiatan yang berorientasi penanaman nilai budaya
      dan pembentukan karakter bangsa di sekolahnya.


4. Siswa / Peserta didik
      Pembinanaan budaya dan karakter bangsa di lingkungan sekolah
sangat ditentukan oleh suasana yang diciptakan oleh komponen sekolah
terutama siswa. Untuk membangun suatu suasana yang mendukung
upaya penanaman dan plestarian nilai budaya serta pembentukan karakter
bangsa di sekolah maka perlu diperhatikan oleh para siswa beberapa hal
dibawah ini :
   1. Menumbuhkan motivasi siswa         untuk memberdayakan seluruh
      potensi budaya yang ada di sekolah
   2. Mengembangkan potensi siswa secara maksimal dan terpadu yang
      meliputi : bakat, minat, dan kreativitas di bidang seni dan budaya
   3. Meningkatkan kreatifitas siswa dalam berdaya cipta di bidangseni
      budaya serta mampu menghargai dan melestarikan nilai-nilai
      budaya
   4. Meningkatkan dan menumbuh kembangkan potensi kegiatan seni
      dan budaya bangsa dalam rangka pembentukan karakter siswa di
      sekolah
                                                                            5




       5. Menumbuhkan sikap kerja keras, mandiri dan bertanggungjawab
          dikalangan siswa di sekolah
       6. Melaksanakan hubungan sosial        yang harmonis antara guru,
          karyawan, dan siswa serta stakeholder pendidikan lainnya

5. Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS)
          Setiap sekolah memiliki organisasi kesiswaan, antara lain Organisasi
Siswa Intra Sekolah (OSIS), Organisasi Ekstra Kurikuler dan organisasi
yang lebih khusus untuk membina bakat, minat dan potensii siswa yaitu
meliputi kegiatan kreativitas seni dan budaya serta pembentukan karakter
bangsa.
          Organisasi kesiswaan merupakan wadah bagi siswa untuk melatih
diri    dalam    berorganisasi,   mengeluarkan   pendapat,    bekerja   sama,
meningkatkan kreatifitas seni dan budaya serta pembentukan karakter
siswa melalui berbagai kegiatan ekstra kurikuler. Karena itu diharapkan
pengurus OSIS dan pengurus organisasi ekstra kurikuler lainnya di sekolah
untuk :

       1. Meningkatkan kegiatan organisasi yang berhubungan dengan
          minat, bakat dan kreativitas seni dan budaya

       2. Mengadakan kegiatan studi lapangan untuk menginventarisir
          potensi budaya yang ada dalam rangka pelestarian nilai budaya

       3. Mengadakan kunjungan ketempat-tempat yang merupakan cagar
          budaya dalam rangka penanaman dan pelestarian nilai-nilai budaya

       4. Mengadakan diskusi dan forum ilmiah dalam rangka pembentukan
          karakter siswa sebagai bahagian pembentukan karakter bangsa
          dengan mengundang para ahli sebagai narasumber.

       5. Memasukan unsur materi etika dan moral sebagai bahagian dalam
          pembentukan karakter bangsa pada setiap kegiatan latihan dasar
                                                                    6




      kepemimpinan siswa, Pengurus OSIS dan Pengurus Organisasi
      Ekstra Kurikuler

      Beberapa kegiatan diatas hanyalah sebagi contoh yang dapat
dilakukan oleh organisasi kesiswaan. Kegiatan tersebut pada dasarnya
kerap dilakukan oleh sebagian organisasi sekolah. Mengingat banyaknya
aktivitas yang dapat dilakukan, maka sebaiknya pimpinan sekolah atau
pembina kesiswaan, serta guru dapat memfasilitasi kegiatan yang
berorientasi pada penanaman nilai dan pembentukan karakter bangsa baik
yang dilaksanakan di sekolah maupun diluar sekolah
                                                                           7




                                  BAB IV
              MONITORING, EVALUASI, PELAPORAN
                        DAN TINDAK LANJUT



A. Pelaksanaan Monitoring
      Pembinaan    budaya   dan    karakter   bangsa   di   setiap    satuan
pendidikan (sekolah) diharapkan dapat berjalan sesuai dengan yang
diharapkan. Dengan demikian perlu dilakukan monitoring dengan tujuan
untuk memantau dan memperoleh data awal tentang apa dan bagaimana
pelaksanaan Pembinaan Budaya dan karakter bangsa di sekolah.
      Pelaksanaan monitoring dapat dilakukan oleh unsur pembina dari
tingkat Kecamatan, Kabupaten/Kota Provinsi dan Direktorat Pembinaan
SMA, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional. Kegiatan monitoring dapat dilakukan
secara bersama-sama maupun sendiri-sendiri dan dilakukan secara
berkala.
      Dalam melaksanakan kegiatan monitoring, Dinas Pendidikan dan
Direktorat Pembinaan SMA dapat bekerja sama dengan instansi terkait
dengan tujuan :
   1. Mengetahui    perkembangan      kemajuan    pelaksanaan        program
      pembinaan Pembinaan Budaya dan karakter bangsa secara
      keseluruhan di tingkat Sekolah, Kecamatan, Kabupaten/Kota,
      Provinsi dan Pusat sebagai acuan untuk program perbaikan dan
      peningkatan kualitas dan kuantitas kegiatan selanjutnya

   2. Memastikan bahwa program pembinaan Pembinaan Budaya dan
      karakter bangsa yang telah dirancang dilaksanakan sesuai dengan
      apa yang telah diprogramkan dan untuk mengetahui kendala-
      kendala selama proses pelaksanaan
                                                                               8




   3. Mengetahui        dengan     benar    kegiatan    maupun    permasalahan
      Pembinaan Budaya dan karakter bangsa yang dihadapi oleh
      sekolah.

   4. Memberikan informasi dan data yang diperlukan pada instansi
      terkait dalam rangka membuat kebijakan lebih lanjut.

B. Pelaksanaan Evaluasi
      Pembinaan        Budaya     dan     karakter    bangsa   selain   dilakukan
monitoring, perlu juga dilakukan evaluasi. Kegiatan evaluasi dimaksudkan
untuk mengetahui perkembangan kegiatan Pembinaan Budaya dan
karakter bangsa di sekolah yang harus dilaporkan oleh penanggung jawab
kepada pimpinan diatasnya pada setiap akhir semester. Pelaksanaan
evaluasi kegiatan dilakukan untuk mengetahui :
    1. Hasil akhir yang diperoleh dalam kegiatan Pembinaan Budaya dan
           karakter bangsa, apakah telah sesuai dengan target yang telah
           direncanakan.
    2. Dalam mencapai hasil akhir, apakah sumber daya manusia yang
           ada, teknis pelaksanaan, dana, waktu dan sarana telah berfungsi
           baik dan efektif.
    3. Kendala-kendala apa saja yang ada di sekolah sehingga terjadi
           kesenjangan atau       jurang pemisah antara yang seharusnya
           dengan kenyataan yang terjadi.
    4. Dari segi penampilan siswa, adakah perubahan yang terjadi baik
           dari sikap, perilaku, kepribadian, dan lain sebagainya baik di
           lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat.

      Monitoring dan evaluasi dilakukan oleh pelaksana kegiatan tentang
keterlaksanaan kegiatan dengan perangkat pelaksanaan monitoring dan
evaluasi     yang     sesuai     dengan     petugas     yang    kompeten     dan
bertanggungjawab.
                                                                        9




C. Pelaporan

         Dalam rangka tertib administrasi, kegiatan Pembinaan Budaya dan
karakter bangsa perlu dibuat laporan secara tertulis dari kepala sekolah
selaku    pembina   dan   penanggung   jawab   yang   selanjutnya   untuk
disampaikan kepada pembina baik di tingkat Kecamatan, Kabupaten/Kota
maupun Provinsi yang dilengkapi dengan dokumentasi.
         Laporan kegiatan dalam satu semester agar berisikan gambaran
secara menyeluruh terhadap program yang terlaksana dan belum
terlaksana pada masing-masing materi Pembinaan Budaya dan karakter
bangsa


C. Tindak lanjut

         Dalam pembinaan budaya dan karakter bangsa di sekolah, setelah
dilaksanakan monitoring, evaluasi dan pelaporan, perlu dilakukan langkah-
langkah tindak lanjut untuk memperbaiki ke arah yang lebih baik. Oleh
sebab itu, agar dilakukan analisis terhadap setiap komponen kegiatan dan
hubungan timbal balik dengan komponen lainnya, sehingga dapat
ditemukan gagasan-gagasan atau pemikiran yang progresif dalam
pelaksanaan kegiatan di masa-masa yang akan datang.
                                                                    10




                                 BAB V
                                PENUTUP

      Penulisan panduan ini dimaksudkan sebagai panduan bagi setiap
komponen sekolah dengan harapan dapat membantu dan mendukung
upaya memupuk pelestarian nilai-nilai budaya dan pembentukan karakter
bangsa bagii siswa di sekolah
      Buku panduan ini diharapkan bermanfaat bagi stakehokders
opendidikan yaitu Kepala Sekolah, Guru Pembina Osis, Guru mata
Pelajaran, siswa dan OSIS, dalam rangka menjalankan tugas dan
fungsinya masing-masing dalam upaya membangkitkan potensi siswa
dalam memupuk dan melestarikan nilai-nilai budaya dan pembentukan
karakter siswa di lingkungan sekolah.
      Kegiatan penanaman nilai budaya dan pembentukan karakter
bangsa di lingkungan sekolah tidak cukup hanya dengan menyusun
program kegiatan saja, melainkan harus didukung oleh kegiatan nyata dan
pembimbingan serta pengawasan baik didalam maupun diluar lingkungan
sekolah. Oleh karena itu dihimbau kepada setiap warga sekolah untuk
membantu dan memperlancar        kegiatan dalam upaya penanaman nilai
budaya dan pembentukan karakter bangsa di lingkungan sekolah.
      Titik berat pembinaan budaya dan karakter bangsa dilaksanakan
dalam rangka penanaman dan pelestarian nilai budaya serta pembentukan
karakter bangsa dikalangan siswa yang merupakan bagian yang integral
dalam proses pendidikan
      Peran Stakeholders Pendidikan yang terkait dengan kegiatan
penanaman dan pelestarian nilai budaya serta pembentukan karakter
bangsa dapat dilakulkan sebagai berikut :
   1. Kepala Sekolah untuk memberikan dukungan kebijakan dalan
      penanaman dan pelestarian         nilai budaya dan pembentukan
      karakter bangsa bagi siswa di sekolah.
                                                                      11




   2. Guru Pembina Osis untuk mendukung kegiatan disekolah melalui
      penyusunan rancangan program yang dapat dilakukan .
   3. Guru mata pelajaran, dapat memberikan bimbingan tehnis terhadap
      siswa terkait dengan penanaman dan pelestarian nilai budaya dan
      pembentukan karakter bangsa bagi siswa di lingkungan sekolah.
   4. Siswa untuk meningkatkan kreatifitas seni dan budaya dalam
      rangka pembentukan karakter dan jati diri bangsa bagi siswa
      lingkungan sekolah
   5. OSIS   dalam   upaya   meningkatkan   kegiatan   organisasi   yang
      berhubungan dengan kegiatan ekstrakurikuler seni dan budaya dan
      kreativitas siswa lainnya yang mampu menumbuhkan penanaman
      dan pelestarian nilai budaya serta pembentukan karakter siswa
      sebagai cerminan jati diri bangsa
      Akhirnya panduan ini diharapkan mampu menjadi pedoman bagi
aktivitas siswa di sekolah, khususnya dapat meningkatkan pemahaman
siswa akan pentingnya pelestarian nilai budaya dan pembentukan karakter
bangsa, sehingga dampak negatif globalisasi dapat diminimalisir dan
pembinaan kesiswaan mampu melahirkan peserta didik yang dapat
menghargai keberagaman dan mampu melestarikan nilai-nilai budaya
bangsa
                                                                           12




Glosirium:

       Pengertian Budaya: Secara harfiah kata budaya berasal dari
bahasa Sabsekerta buddhayah, yaitu bentuk jamak dari buddhi yang
berarti budi atau akal. Budaya dapat diartikan sebagai hal-hal yang
bersangkutan dengan akal. Ada juga ahli yang menyatakan bahwa budaya
berasal dari kata budi-daya yang berasal dari daya dari budi: jadi, kata
budaya atau daya dari budi itu berarti cipta, karsa dan rasa.
       Budaya sebagai kata benda sebenarnya merupakan terjemahan
dari culture (Inggris) atau cultuur (Belanda). Kata kata asing tersebut
berasal dari Bahasa Latin cultura yang berarti pemeliharaan, pengolahan,
dan penggarapan tanah. Menurut kaidah bahasa Indonesia, kata budaya
dapat menjadi kebudayaan sebagai kata sifat.
       Menurut Koentjaraningrat mendefinisikan budaya sebagai seluruh
sistem gagasan dan rasa, tindakan, serta karya yang dihasilkan manusia
dalam kehidupan bermasyarakat yang dijadikan miliknya dengan cara
belajar.
       Sedangkan William A. Haviland, seorang ahli antropologi Amerika,
memandang budaya sebagai seperangkat peraturan yang standar, yang
apabila dipenuhi atau dilaksanakan oleh anggota masyarakatnya akan
menghasilkan perilaku yang dianggap layak dan dapat diterima oleh
anggota masyarakat.
       Dengan     demikian    Kebudayaan    dapat    didefinisikan   sebagai
keseluruhan     pengetahuan    manusia   sebagai    makhluk     sosial   yang
digunakannya untuk memahami dan menginterprestasikan lingkungan dan
pengalamanya, serta menjadi landasan bagi tingkah-lakunya.
       Sebagai pengetahuan, kebudayaan adalah suatu satuan ide yang
ada dalam kepala manusia dan bukan suatu gejala (yang terdiri atas
kelakuan dan hasil kelakuan manusia). Sebagai satuan ide, kebudayaan
terdiri atas serangkaian nilai-nilai, norma-norma yang berisikan larangan-
                                                                           13




larangan untuk melakukan suatu tindakan dalam menghadapi suatu
lingkungan sosial, kebudayaan, dan alam, serta berisi serangkaian konsep-
konsep dan model-model pengetahuan mengenai berbagai tindakan dan
tingkah laku yang seharusnya diwujudkan oleh pendukungnya dalam
menghadapi suatu lingkungan sosial, kebudayaan, dan alam. Jadi nilai-
nilai tersebut dalam penggunaannya adalah selektif sesuai dengan
lingkungan yang dihadapi oleh pendukungnya.
Wujud     Kebudayaan:     Koentjaraningrat,     perwujudan    budaya    dapat
dikelompokan ke dalam 3 (tiga) bentuk sebagai berikut.

1). Sistem Pengetahuan
        Salah   satu    upaya   manusia       untuk    mempertahankan    dan
mengembangkan           budayanya     adalah          kemampuannya      untuk
mengembangkan sistem pengetahuan.

2). Sistem Tindakan
Budaya dalam wujud ini bersifat konkret, dapat dilihat dan difoto.
Mislanya, petani bekerja disawah, karyawan bekerja di pabrik, atau siswa
belajar di sekolah. Untuk kegiatan tertentu, warga pendukung budaya
tertentu melakukan serangkaian tingkah laku berdasarkan pola atau
sistem tertentu pula.

3). Hasil Karya Manusia
   Wujud budaya dalam kategori ini konkret, dapat dilihat, diraba, dan
   difoto. Sebagai contohnya, dapat kita lihat hasil karya manusia mulai
   dari proyek-proyek raksasa seperti waduk pembangkit tenaga listrik,
   industri – industri besar, bangunan-bangunan megah, sampai pada
   karya dalam bentuk benda-benda kecil seperti jarum dan kancing baju.
                                                                       14




DAFTAR PUSTAKA

       Alisjahbana, S. Takdir. 1988. Revolusi            Masyarakat   dan
kebudayaan Indonesia. Jakarta. Dian rakyat.
        Bacthiar Alam, “Globalisasi dan Perubahan Budaya: Prespektif
Teori Kebudayaan” dalam Jurnal Antropologi Indonesia No. 54 Th XXI,
Desember 1997- April 1998.
         Danusiri, Aryo & Wasmi Alhaziri, ed. (2002). Pendidikan Memang
Multikultural: Beberapa Gagasan. Jakarta: SET.
       Forum Rektor Indonesia Simpul Jawa Timur (2003). Hidup
Berbangsa dan Etika Multikultural. Surabaya: Penerbit Forum Rektor
Simpul Jawa Timur Universitas Surabaya.
         Ihromi, TO (editor). 2006. Antropologi Budaya. Jakarta: Yayasan
Obor.
       Koentjaraningrat, Kebudayaan , Mentalitet, dan Pembangunan,
Gramedia, Jakarta, 1982.
         “Menuju Indonesia Baru”. Perhimpunan Indonesia Baru –
Asosiasi Antropologi Indonesia. Yogyakarta, 16 Agustus 2001.
        Undang-Undang      Nomor    20    Tahun   2003   tentang   Sistem
Pendidikan Nasional.
         Ranjabar, Jacobus. 2006. Sistem Sosial Budaya Indonesia.
Jakarta. Ghalia Indonesia.
       Salim, Hairus, dan Suhadi, Membangun Pluralisme dari Bawah,
Modul belajar bersama, Yogyakarta: LKIS, Januari 2007
        Syarbaini, Syahrial. 2009. Implementasi Pancasila          melalui
Pendidikan Kewarganegaraan. Jokyakarta. Ghraha Ilmu.
        Soedarsono, Soemarno. 2009. Karakter mengantar Bangsa dari
gelap Menjadi Terang. Jakarta. Gramedia.
        Susanto, Dody. 2009. Permata Bangsa: Indonesiaku – kujaga dan
kubela. Jakarta. Penerbit Karang Taruna Nasional.
         Sedyawati, Edi.2007. Budaya Indonesia. Jakarta. Rajawali Press.
         Prasetyo, Joko Tri. 2009. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta. Reneka
Cipta.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:70
posted:4/7/2012
language:
pages:14
mr doen mr doen mr http://bineh.com
About just a nice girl