Bab IV - Bab V

Document Sample
Bab IV - Bab V Powered By Docstoc
					                                                                           1




                                   BAB I
                          PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
      Arus globalisasi yang begitu deras dapat memperlemah kebangsaan
diperlukan usaha untuk menata dan membenahi kembali berbagai pranata
sosial kemasyarakatan dan kenegaraan. Pembenahan struktur dan pranata
budaya merupakan keniscayaan untuk merespon tantangan global
sekaligus usaha untuk mengejar ketinggalan.
      Dengan demikian, diperlukan upaya untuk melakukan transformasi
budaya sehingga mampu merespon berbagai tantangan dengan tetap
mengacu pada kepribadian bangsa sebagaimana diamanatkan oleh dasar
negara dan konstitusi negara. Upaya untuk melakukan transformasi
budaya, diantaranya dapat dilakukan melalui pendidikan
      Pembangunan pendidikan di Indonesia mengacu pada sistem
pendidikan nasional yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam Undang-Undang ini
dinyatakan   fungsi   pendidikan       nasional     adalah   mengembangkan
kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang
bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.
      Pendidikan nasional ini berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan
nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan jaman,
sehingga Pendidikan Indonesia diselenggarakan secara demokratis dan
berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi
manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa.
      Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan
dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Di
dalam Undang-Undang Dasar 1945              pasal    31   tentang pendidikan
menyebutkan antara lain pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan


                                   1
                                                                   2




teknologi dengan menjunjung tinggi nilai nilai agama dan persatuan
bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.
Hal ini menunjukkan pendidikan berorientasi ke masa depan dengan
bertumpu pada potensi sumber daya manusia dan kekuatan budaya
masyarakat, sehingga akan berdampak pada peningkatkan mutu manusia
dan masyarakat Indonesia
      Berdasarkan kondisi diatas dalam rangka penanaman nilai-nilai
budaya dan penunjukan jati diri dan karakter bangsa diperlukan suatu
Panduan Pembinaan Budaya dan Karakter Bangsa bagi siswa dikalangan
sekolah menengah atas (SMA)


B. Dasar Hukum
   1. Undang- Undang Dasar 1945, Pasal 1 ayat 1, tentang Bentuk
      Negara, Pasal 18 tentang ........, Pasal 32 tentang Kebudayaan
      Nasional, dan pasal 36 tentang Bahasa Indonesia
   2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang
      Sistem Pendidikan Nasional.
   3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang
      Guru dan Dosen.
   4. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005
      tentang Standar Nasional Pendidikan.
   5. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor
      22 Tahun 2006 tentang Standar Isi.
   6. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor
      23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Kelulusan.
   7. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor
      19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan oleh
      Satuan Pendidikan Dasar Dan Menengah.
                                                                        3




   8. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor
      34 Tahun 2006 Tentang Peraturan Pembinaan Prestasi Siswa yang
      Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa.
   9. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor
      39 Tahun 2008 tentang Pembinaan Kesiswaan.
   10. Rencana Strategis Depertemen Pendidikan Nasional Tahun 2005-
      2009.
   11. Peraturan-Peraturan Daerah yang terkait dengan pembinaan
      kesiswaan.
   12. Buku Pedoman Pembinaan OSIS Sekolah Menengah Atas Tahun
      2008.


C. Maksud dan Tujuan
      Maksud dari Pedoman Pembinaan Budaya dan Karakter Bangsa ini
adalah sebagi pedoman bagi guru dalam rangka pembinaan budaya dan
karakter bangsa di sekolah dan sebagai acuan bagi siswa dalam
melaksanakan kegiatan-kegiatan yang terkait dengan Pelestarian Budaya
dan Pembentukan karakter siswa sebagai jati diri bangsa di sekolah
      Sedangkan tujuan dari Pembinaan Budaya dan Karakter Bangsa
adalah :
   1. Meningkatkan pemahaman siswa tentang keanekaragaman budaya
      bangsa
   2. Meningkatkan kreativitas siswa dalam mengapresiasikan keragaman
      budaya di sekolah
   3. Menanamkan       nilai-nilai   budaya   yang   berdampak       pada
      pembentukan karakter siswa di sekolah
   4. Membangun karakter siswa yang memiliki identitas nasional
                                                                        4




D. Hasil Yang Ingin Dicapai

  Hasil yang dicapai dari adanya Pembinaan Budaya dan Karakter
  Bangsa bagi siswa dikalangan sekolah menengah atas diantaranya
  adalah :
    1.   Peningkatan pemahaman siswa tentang kearifan budaya lokal
         dalam rangka penguatan budaya nasional
    2.   Siswa mampu melestarikan nilai-nilai budaya nasional dalam
         rangka integrasi nasional
    3.   Siswa mampu mengimplementasikan nilai-nilai postif budaya
         bangsa    dalam    harmonisasi   dan   dinamisasi      kehidupan
         bermasyarakat, berbangsa dan bernegara
    4.   Upaya peningkatan dan penguatan jatidiri dan karakter bangsa
         yang belakangan sudah mulai memudar
    5.   Upaya memperteguh jatidiri dan karakteristik bangsa dalam
         rangka penguatan identitas nasional dikalangan siswa
                                                                          5




                                   BAB II
                 BUDAYA DAN KARAKTER BANGSA


A.   BUDAYA BANGSA
       Perkembangan masyarakat yang sangat dinamis sebagai akibat dari
globalisasi dan pesatnya kemajuan teknologi komunikasi dan informasi
membutuhkan penyesuaian tata nilai dan perilaku.
       Pengembangan kebudayaan diharapkan dapat memberikan arah
bagi perwujudan identitas nasional yang sesuai dengan nilai-nilai luhur
budaya bangsa. Di samping itu, pengembangan kebudayaan dimaksudkan
untuk menciptakan iklim kondusif dan harmonis sehingga nilai-nilai
kearifan lokal akan mampu merespon modernisasi dengan positif dan
produktif sejalan dengan nilai-nilai kebangsaan
       Dengan demikian Budaya pada hakikatnya adalah ciri khas sebuah
bangsa. Jika sebuah bangsa tidak memiliki budaya, maka bangsa tersebut
bisa dikatakan tidak memiliki jati diri
       "Kebudayaan bangsa ialah kebudayaan yang timbul sebagai buah
usaha budinya rakyat Indonesia seluruhnya."
Dengan demikian maka seluruh budaya suku bangsa (daerah) di seluruh
Indonesia, pada hakikatnya adalah kebudayaan bangsa atau kebudayaan
nasional Indonesia. Pernyataan ini mengandung arti bahwa dalam
kehidupan berbangsa dan bermasyarakat, kita tidak mengenal istilah
budaya 'mayoritas' dan 'minoritas', 'maju' atau 'terbelakang', 'tinggi' atau
'rendah.' Seluruh budaya suku bangsa dalam posisi sama, setara, dan
dari pengakuan seperti itu akan tercipta iklim kehidupan              saling
menghargai dan saling menghormati.
Upaya memajukan budaya bangsa dalam rangka memajukan peradaban
bangsa Indonesia di tengah-tengah peradaban dunia, serta dalam rangka
memajukan persatuan bangsa yang multietnik dan multikultur.

                                      5
                                                                            6




1. Pengertian Budaya
       Secara harfiah kata budaya berasal dari bahasa Sabsekerta
buddhayah, yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal.
Budaya dapat diartikan sebagai hal-hal yang bersangkutan dengan akal.
Ada juga ahli yang menyatakan bahwa budaya berasal dari kata budi-daya
yang berasal dari daya dari budi: jadi, kata budaya atau daya dari budi itu
berarti cipta, karsa dan rasa.
       Budaya sebagai kata benda sebenarnya merupakan terjemahan
dari culture (Inggris) atau cultuur (Belanda). Kata kata asing tersebut
berasal dari Bahasa Latin cultura yang berarti pemeliharaan, pengolahan,
dan penggarapan tanah. Menurut kaidah bahasa Indonesia, kata budaya
dapat menjadi kebudayaan sebagai kata sifat.
       Menurut Koentjaraningrat mendefinisikan budaya sebagai seluruh
sistem gagasan dan rasa, tindakan, serta karya yang dihasilkan manusia
dalam kehidupan bermasyarakat yang dijadikan miliknya dengan cara
belajar.
       Sedangkan William A. Haviland, seorang ahli antropologi Amerika,
memandang budaya sebagai seperangkat peraturan yang standar, yang
apabila dipenuhi atau dilaksanakan oleh anggota masyarakatnya akan
menghasilkan perilaku yang dianggap layak dan dapat diterima oleh
anggota masyarakat.
       Dengan     demikian       Kebudayaan   dapat   didefinisikan   sebagai
keseluruhan     pengetahuan       manusia   sebagai   makhluk   sosial   yang
digunakannya untuk memahami dan menginterprestasikan lingkungan dan
pengalamanya, serta menjadi landasan bagi tingkah-lakunya.
       Sebagai pengetahuan, kebudayaan adalah suatu satuan ide yang
ada dalam kepala manusia dan bukan suatu gejala (yang terdiri atas
kelakuan dan hasil kelakuan manusia). Sebagai satuan ide, kebudayaan
terdiri atas serangkaian nilai-nilai, norma-norma yang berisikan larangan-
                                                                       7




larangan untuk melakukan suatu tindakan dalam menghadapi suatu
lingkungan sosial, kebudayaan, dan alam, serta berisi serangkaian konsep-
konsep dan model-model pengetahuan mengenai berbagai tindakan dan
tingkah laku yang seharusnya diwujudkan oleh pendukungnya dalam
menghadapi suatu lingkungan sosial, kebudayaan, dan alam. Jadi nilai-
nilai tersebut dalam penggunaannya adalah selektif sesuai dengan
lingkungan yang dihadapi oleh pendukungnya.
      Pada dasarnya kebudayaan memiliki wujud, A.L. Kroeber dan T.
Parsons membedakan wujud budaya sebagai suatu sistem dari gagasan-
gagasan serta konsep-konsep dan wujud budaya sebagai rangkaian
tindakan serta aktivitas manusia yang berpola.
      Menurut Koentjaraningrat, perwujudan budaya dapat dikelompokan
ke dalam 3 (tiga) bentuk sebagai berikut.
1). Sistem Gagasan
   Budaya dalam wujud ini bersifat abstrak, tidak dapat diraba atau
   difoto, hanya ada dalam alam pikiran tiap warga pendukung budaya
   yang bersangkutan. Sistem gagasan yang telah dipelajari oles setiap
   warga pendukung budaya semenjak dini sangat menentukan sifat dan
   cara berpikir serta tingkah laku warga pendukung budaya tersebut.
   Itulah sebabnya wujud budaya dalam bentuk system gagasan ini biasa
   juga disebut system nilai budaya. Gagasan-gagasan inilah yang
   akhirnya menghasilkan berbagai hasil karya manusia berdasarkan nilai
   – nilai berpikir, dan pola tingkah laku.

2). Sistem Tindakan
   Budaya dalam wujud ini bersifat konkret, dapat dilihat dan difoto.
   Mislanya, petani bekerja disawah, karyawan bekerja di pabrik, atau
   siswa belajar di sekolah. Untuk kegiatan tertentu, warga pendukung
   budaya tertentu melakukan serangkaian tingkah laku berdasarkan pola
   atau sistem tertentu pula. Dengan memperhatikan contoh di atas, kita
                                                                               8




   dapat melihat petani bekerja di sawah, karyawan bekerja di pabrik,
   dan siswa belajar di sekolah. Masing-masing aktivitas tersebut berada
   dalam satu sistem tindakan dan tingkah laku yang berbeda.

3). Hasil Karya Manusia
   Wujud budaya dalam kategori ini konkret, dapat dilihat, diraba, dan
   difoto. Sebagai contohnya, dapat kita lihat hasil karya manusia mulai
   dari proyek-proyek raksasa seperti waduk pembangkit tenaga listrik,
   industri – industri besar, bangunan-bangunan megah, sampai pada
   karya dalam bentuk benda-benda kecil seperti jarum dan kancing baju.


2. Substansi Utama Budaya
        Menurut Koentjaraningrat Terdapat lima isi atau substansi utama
budaya, yakni sebagai berikut :

1). Sistem Pengetahuan
        Salah   satu     upaya     manusia   untuk     mempertahankan       dan
mengembangkan           budayanya       adalah       kemampuannya         untuk
mengembangkan sistem pengetahuan. Melalui sistem pengetahuan,
manusia mampu beradaptasi untuk menyesuaikan hidupnya dengan alam
sekitarnya. Disamping itu, melalui sistem pengetahuan, manusia juga
mampu meningkatkan produktivitas kebutuhan hidupnya.
        Pengetahuan manusia tentang flora dan fauna dapat membantu
upaya    manusia       untuk     mengembangkan       produktivitas   di   bidang
perburuan., penangkapan ikan, peternakan, dan pertanian. Pengetahuan
manusia tentang pengobatan tradisional melalui dukun atau tabib
membentu upaya manusia mengobati dan menyembuhkan berbagai
penyakit atau luka akibat kecelakaan dan peperangan misalnya.
        Sejarah persebaran nenek moyang, bangsa Indonesia yang disebut
rumpun bangsa Austronesia telah membuktikan bahwa mereka menguasai
                                                                      9




teknologi transportasi yang ditunjang oleh pengetahuan tentang arah
angin, arus laut, bahkan mungkin ilmu pengetahuan.


2). Sistem Nilai Budaya
      Sistem nilai budaya pada hakikatnya terdiri atas konsep-konsep
yang hidup dalam pikiran sebagian besar warga masyarakat. Konsep-
konsep tersebut berkenaan dengan hal-hal yang harus mereka anggap
amat bernilai dalam hidup. Oleh karena itu, suatu sistem nilai budaya
biasanya berfungsi sebagai pedoman tertinggi bagi kelakuan manusia.
      Haryati Soedibyo, seorang ahli kebudayaan, memberikan deskripsi
kerja tentang sistem nilai budaya sebagai nilai gagasan utama (vital).
Lebih lanjut haryati Soebadio mengatakan bahwa sistem nilai dan gagasan
itu dihayati benar-benaroleh pendukung budayayang bersangkutan dalam
kurun waktu tertentu. Akibatnya, sistem nilai dan gagasan itu dapat
mendominasi keseluruhan kehidupan para pendukungnya, dalam arti
mengarahkan tingkah laku mereka di dalam masyarakatnya.          Dalam
kehidupan sehari-hari, sistem nilai budaya merupakan suatu pedoman
hidup ideal, yang dicitakan.


3). Persepsi
      Persepsi biasanya disebut juga sudut pandang dari seseorang
individu atau kelompok masyarakat mengenai suatu hal atau suatu
masalah. Dalam hal-hal tertentu, sering terjadi persepsi yang satu
berbeda dengan persepsi yang lain. Akibatnya, akan terjadi konflik atau
ketegangan, mulai dari hal yang sederhana sampai yang serius. Konflik
yang sederhana mungkin hanya sekadar menimbulkan kesalahpahaman
diantara pihak-pihak yang berbeda persepsi tersebut.
                                                                             10




        Melalui suatu konsensus atau penyesuaian persepsi bisa aja diambil
semacam kesepakatan untuk mempersamakan persepsi sehingga konflik
itu akan mereda, bahkan hilang sama sekali.
        Ada beberapa contoh persepsi dalam kehidupan masyarakat.
Misalnya, seseorang menganggap bahwa keberhasilan pembangunan
suatu    negara   ditentukan   oleh   stabilitas   politik   di   negara   yang
bersangkutan. Sementara orang lain menganggap atau memandang
bahwa     keberhasilan   pembangunan      suatu    negara     ditentukan   oleh
kemampuannya mengelola SDM di negara yang bersangkutan.


4). Pandangan Hidup
        Dalam kamus besar Bahasa Indonesia (Edisi Kedua) dijelaskan
bahwa pandangan hidup adalah konsep yang dimiliki seseorang atau
golongan masyarakat yang bermaksud menanggapi atau menerangkan
suatu masalah tertentu. Misalnya, pandangan hidup seorang petani Jawa
yang memandang bahwa tanah atau lingkungan alam sekitarnya sebagai
bagian yang tak terpisahkan dari diri dan keluarganya. Itulah sebabnya
mereka sulit untk beralih mata pencaharian hidup atau dipindahkan ke
tempat lain. Mereka memandang bahwa selama ini tanah dan alam
sekitarnya telah memberikan keberkahan hidup secara turun-temurun.
        Pandangan hidup biasanya mengandung sebagian nilai-nilai yang
dianut oleh suatu masyarakat. Nilai-nilai itu dipilih secara selektif oleh
individu-individu dan golongan-golongan dalam masyarakat. Sebagai
contoh, orang Minangkabau memberikan nilai tinggi pada tradisi
merantau. Pepatahnya mengatakan ,” kalau ingin menjadi orang, harus
merantau dulu.” Artinya, keberhasilan penghidupan orang Minangkabau
umumnya diperoleh melalui tradisi merantau.
        Secara khusus Koentjaraningrat menjelaskan pandangan hidup
dalam pengertian iideologi, misalnya ideologi yang dianut partai-partai
                                                                      11




politik atau ideologi negara. Contoh konkret, Pancasila merupakan
pandangan hidup dan ideologi negara bagi seluruh bangsa Indonesia.
      Menurut M.Habib Mustofa pandangan hidup merupakan nilai-nilai
luhur yang menjadi acuan dan cita-cita baik bagi perorangan, kelompok
masyarakat, maupun bangsa. Habib Mustofa mengkategorikan pandangan
hidup dalam tiga kategori sebagai berikut :
(1). Pandangan hidup yang berasal dari norma-norma agama. Pandangan
     hidup semacam ini dinyatakan sebagai dogma, berisi perintah atau
     keharusan dan larangan bagi segenap penganut agama yang
     bersangkutan.
(2) Pandangan hidup yang bersumber dari ideologi negara. Misalnya,
     Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia.
(3) Pandangan hidup yang berasal dari renungan atau falsafah hidup
     seorang individu. Kebenaran pandangan hidup ini bersifat relatif,
     karena hanya sesuai dengan pribadi individu yang bersangkutan.
     Mungkin orang lain belum dapat menerima pandangan tersebut atau
     mempunyai pandangan lain yang berbeda. Serbagai contoh, ada
     orang yang berpandangan bahwa hidup berserah kepada nasib atau
     takdir. Sementara itu, orang lain memandang bahwa hidup
     merupakan       tantangan   dan    perjuangan   agar   memperoleh
     kebahagiaan rohani dan jasmani.


5). Etos Budaya
      Pada dasarnya Etos adalah watak khas dari suatu kebudayaan yang
tampak (dari luar). Contoh etos antara lain gaya tingkah laku, kegemaran,
atau benda-benda hasil budaya yang khas.
      Clifford Geertz menyatakan bahwa etos budaya adalah sifat, watak,
dan kualitas kehidupan sekelompok masyarakat atau bangsa. Termasuk
                                                                          12




ke dalam cakupan etos adalah moral, sikap perilaku, dan gaya estetika
atau kepekaan seseorang terhadap seni dan keindahan.
    Contoh berikut ini adalah etos budaya orang Jawa. Watak khas orang
Jawa penuh ketenangan dan kepasrahan diri. Di samping itu, pada pribadi
orang Jawa terpancar adanya keselarasan, moral yang tinggi, kejujuran,
dan dapat menerima keadaan sebagaimana adanya. Di balik sikapnya
yang serba sederhana itu, orang Jawa terkenal ulet, rajin bekerja, dan
tahan menderita. Mereka juga pecinta seni karawitan atau gamelan, seni
tari, dan seni pewayangan.


3. Multikultur Bangsa Indonesia
      Bangsa    Indonesia    pada     hakikatnya     adalah   bangsa    yang
multikultural sehingga menciptakan beranekaragam kebudayaan yang unik
dan memiliki cirikhas tersendiri sesuai dengan daerah dan etnis masing-
masing sehingga negara indonesia kaya akan kebudayaan di bandingkan
dengan negara lain,
      Keberagaman     budaya    itu    adalah      ciri   bangsa   Indonesia.
Keberagaman budaya yang ada tidak akan dilebur menjadi satu karakter
tunggal yang baru sebagaimana konsep melting pot. Konsep kebudayaan
Indonesia adalah konsep cultural pluralisme. Dalam konsep ini kelompok-
kelompok yang berbeda bahkan harus didorong untuk menumbuh-
kembangkan sistem budayanya masing-masing dalam kebersamaan, agar
dengan demikian dapat memperkaya kehidupan masyarakat majemuk
yang bersangkutan. Oleh karenanya, adalah wajar bila satu kelompok,
etnik, agama, atau ras mempunyai kebanggaan dan solidaritas.
      kebudayaan nasional yang beranekaragam dan membanggakan
selain dapat memberikan citra yang baik dari bangsa lain karena
kebudayaan yang kita miliki padahal bukanlah semata-mata warna-warni
dan simbol perbedaan yang eksotik, melainkan juga kekayaan sekaligus
                                                                          13




modal sosio-kultural (socio-cultural capital) bangsa kita untuk menjadi
bangsa besar.
        Beberapa waktu yang lalu, situasi di negeri ini sempat dihebohkan
oleh pengibaran bendera RMS (Republik Maluku Selatan) di depan mata
Presiden. Memalukan sekaligus memprihatinkan.
        Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah Indonesia belum berhasil
memanage keberagaman yang ada. Keberagaman yang ada dibiarkan
tumbuh liar tanpa adanya perhatian yang diberikan. Maka, kemudian yang
muncul adalah kasus-kasus semacam, kasus Poso, RMS, bintang kejora di
Papua, dan lain-lain. Ini sudah menjadi bukti konkrit, bahwa kesadaran
akan    keberagaman      di   Indonesia    masihlah     sangat   minim—baik
pemerintahnya maupun rakyatnya.
        Kesadaran di sini tak hanya sadar bahwa sejatinya bangsa ini
memang berbeda, tapi kesadaran di sini menekankan pengakuan akan
keberadaan yang satu dengan yang lainnya. Penyadaran keberagaman
adalah kunci yang sesuai untuk menghandle keberbedaan di Indonesia.
        Ketika penyadaran ini sudah dilakukan maka terserah keberagaman
itu    mau   diarahkan   ke    mana.      Ke   konsep   multikultur   dengan
multikulturismenya atau menjadikan bangsa ini sesuai dengan konsep
mozaik yang ditawarkan Radhar. Konsep multikultur menekannkan bahwa
semua budaya-budaya yang ada harus diakui sebagai budaya bangsa
dengan hak dan kewajiban yang sama, namun independensi diri dalam
budaya-budaya itu tetap ada. Sedangkan Radhar menekankan pada
pembentukan budaya baru yang diakui bersama. Untuk mengelola
keberagaman di dalamnya, bangsa ini dapat memilih salah satu dari dua
konsep ini. Atau bahkan dapat mengkombinasikannya.
        Dengan melihat bahwa multikultur dapat dijadikan jembatan bagi
konsep pembentukan budaya baru, yang baru bisa membentuk dirinya
dalam waktu yang lama. Jadi konsep pertama dapat dikatakan sebagai
                                                                           14




awal dimulainya upaya pembentukan budaya baru Indonesia. Bangsa ini
belum selesai membentuk dirinya, bangsa ini masih berproses, dan
mungkin akan terus berproses mencari bentuknya yang paling ideal. Save
our culture, save our nation.
        Kelangsungan dan berkembangnya kebudayaan lokal perlu dijaga
dan     dihindarkan   dari   hambatan.   Unsur-unsur    budaya   lokal   yang
bermanfaat bagi diri sendiri bahkan perlu dikembangkan lebih lanjut agar
dapat menjadi bagian dari kebudayaan bangsa, memperkaya unsur-unsur
kebudayaan nasional.         Meskipun demikian, sebagai    kaum profesional
Indonesia, misi utama kita adalah mentransformasikan kenyataan
multikultural sebagai aset dan sumber kekuatan bangsa, menjadikannya
suatu      sinergi    nasional,     memperkukuh        gerak     konvergensi,
keanekaragaman.
        Oleh karena itu, walaupun masyarakat multikultural harus dihargai
potensi dan haknya untuk mengembangkan diri sebagai pendukung
kebudayaannya di atas tanah kelahiran leluhurnya, namun pada saat yang
sama, mereka juga harus tetap diberi ruang         dan kesempatan untuk
mampu melihat dirinya, serta dilihat oleh masyarakat lainnya yang sama-
sama merupakan warganegara Indonesia, sebagai bagian dari bangsa
Indonesia, dan tanah leluhurnya termasuk sebagai bagian dari tanah air
Indonesia. Dengan demikian, membangun dirinya, membangun tanah
leluhurnya, berarti juga membangun bangsa dan tanah air tanpa
merasakannya sebagai beban, namun karena ikatan kebersamaan dan
saling bekerjasama.


4. Keragaman Budaya Bangsa
        Keragaman budaya atau “cultural diversity” adalah keniscayaan
yang ada di bumi Indonesia. Keragaman budaya di Indonesia adalah
sesuatu yang tidak dapat dipungkiri keberadaannya. Dalam konteks
                                                                       15




pemahaman      masyarakat    majemuk,    selain   kebudayaan    kelompok
sukubangsa, masyarakat Indonesia juga terdiri dari berbagai kebudayaan
daerah bersifat kewilayahan yang merupakan pertemuan dari berbagai
kebudayaan kelompok sukubangsa yang ada didaerah tersebut.
      Dengan jumlah penduduk 200 juta orang dimana mereka tinggal
tersebar dipulau- pulau di Indonesia. Mereka juga mendiami dalam
wilayah dengan kondisi geografis yang bervariasi. Mulai dari pegunungan,
tepian hutan, pesisir, dataran rendah, pedesaan, hingga perkotaan. Hal ini
juga berkaitan dengan tingkat peradaban kelompok-kelompok sukubangsa
dan masyarakat di Indonesia yang berbeda. Pertemuan-pertemuan
dengan kebudayaan luar juga mempengaruhi proses asimilasi kebudayaan
yang ada di Indonesia sehingga menambah ragamnya jenis kebudayaan
yang ada di Indonesia.
      Dengan     keanekaragaman      kebudayaannya     Indonesia    dapat
dikatakan mempunyai keunggulan dibandingkan dengan negara lainnya.
Indonesia mempunyai potret kebudayaan yang lengkap dan bervariasi.
Dan tak kalah pentingnya, secara sosial budaya dan politik masyarakat
Indonesia mempunyai jalinan sejarah dinamika interaksi antar kebudayaan
yang dirangkai sejak dulu. Interaksi antar kebudayaan dijalin tidak hanya
meliputi antar kelompok sukubangsa yang berbeda, namun juga meliputi
antar peradaban yang ada di dunia.


5. Menjaga keanekaragaman budaya
      Dalam konteks masa kini, kekayaan kebudayaan akan banyak
berkaitan dengan produk-produk kebudayaan yang berkaitan 3 wujud
kebudayaan yaitu pengetahuan budaya, perilaku budaya atau praktek-
praktek budaya yang masih berlaku, dan produk fisik kebudayaan yang
berwujud artefak atau banguna.
                                                                          16




      Beberapa hal yang berkaitan dengan 3 wujud kebudayaan tersebut
yang dapat dilihat adalah antara lain adalah produk kesenian dan sastra,
tradisi, gaya hidup, sistem nilai, dan sistem kepercayaan.
      Dalam     konteks    masyarakat    yang      multikultur,   keberadaan
keragaman kebudayaan adalah suatu yang harus dijaga dan dihormati
keberadaannya. Keragaman budaya adalah memotong perbedaan budaya
dari kelompok-kelompok masyarakat yang hidup di Indonesia.
      Jika kita merujuk pada konvensi UNESCO 2005 (Convention on The
Protection and Promotion of The Diversity of Cultural Expressions) tentang
keragaman budaya atau “cultural diversity”, cultural diversity diartikan
sebagai kekayaan budaya yang dilihat sebagai cara yang ada dalam
kebudayaan     kelompok     atau   masyarakat      untuk     mengungkapkan
ekspresinya.


6. Pengembangan dan Pelestarian Nilai Budaya
      Perkembangan masyarakat yang sangat dinamis sebagai akibat dari
globalisasi dan pesatnya kemajuan teknologi komunikasi dan informasi
membutuhkan penyesuaian tata nilai dan perilaku.
      Pengembangan kebudayaan diharapkan dapat memberikan arah
bagi perwujudan identitas nasional yang sesuai dengan nilai-nilai luhur
budaya bangsa. Di samping itu, pengembangan kebudayaan dimaksudkan
untuk menciptakan iklim kondusif dan harmonis sehingga nilai-nilai
kearifan lokal akan mampu merespon modernisasi dengan positif dan
produktif sejalan dengan nilai-nilai kebangsaan.
      Dalam      perjalanannya     pengembangan        kebudayaan      kerap
dihadapkan pada berbagai kondisi yang justru dapat menghambat dan
menjadi permasalahan mendasar dalam pengembangan kebudayaan
nasional, diantaranya :
                                                                              17




   1. lemahnya kemampuan bangsa dalam mengelola keragaman. Gejala
      tersebut dapat dilihat dari menguatnya orientasi kelompok, tnik,
      dan agama yang berpotensi menimbulkan konflik sosial dan bahkan
      disintegrasi bangsa.
   2. Terjadinya krisis jati diri ( identitas ) nasional. Nilai-nilai solidaritas
      sosial, kekeluargaan, dan keramahtamahan sosial yang pernah
      dianggap sebagai kekuatan pemersatu dan ciri khas bangsa
      indonesia, makin pudar bersamaan dengan menguatnya nilai-nilai
      materialisme.
   3. Kurangnya kemampuan bangsa dalam mengelola kekayaan budaya
      yang kasat mata (tangible) dan yang tidak kasat mata (intangible).
      Dalam era otonomi daerah, pengelola kekayaan budaya menjadi
      tanggung jawab pemerintah daerah, yang disebabkan                     oleh
      kapasitas fiskal, namun juga pemahaman, apresiasi, kesadaran,
      komitmen pemerintah daerah terhadap kekayaan budaya.
      Untuk    itu   peranan    budaya    lokal   diperlukan    dalam    rangka
meningkatkan kesejahteraan rakyat. Pembangunan budaya nasional
diarahkan pada upaya untuk mengembangkan minat baca masyarakat dn
mempercepat tumbuhnya budaya kewirausahaan yang bersifat progresif
dan berorientasi pada ilmu pengetahuan dan teknologi, dan upaya untuk
mempercepat sosialisasi dan kulturisasi Etika Kehidupan Berbangsa.
      Pembangunan budaya bangsa diarahkan untuk mencapaii sasaran
sebagai berikut:
   1. Terwujudnya struktur sosial, kreativitas budaya dan daya dukung
      lingkungan yang kondusif bagi pembentukan jati diri bangsa.
   2. Terwujud dan tersebarnya pola pengembangan modal budaya dan
      modal sosial sebagai kekuatan sejarah untuk meningkatkan
      martabat manusia.
                                                                          18




   3. Terwujudnya       kebijakan   pengelola   keragaman    budaya    yang
       kompherensif, sistematis dan berkelanjutan untuk memperkokoh
       integrasi bangsa.
   4. Meningkatkan budaya pembelajar yang berorientasi iptek dan
       kesenian sehingga mampu mendukung upaya untuk peningkatan
       peradaban manusia.
   5. Terwujudnya pengelola aset budaya yag dapat dijangkau scara adil
       bagi masyarakat luas sehingga dapat berfungsi sebagai sarana
       edukasi, rekreasi, dan pengembangan kebudayaan secara optimal
       dan berkelanjutan


6.1.   Pengembangan Nilai Budaya
       Pengembangan nilai budaya ditujukan dalam rangka memperkokoh
jatidiri dan ketahanan budaya nasional sehingga mampu berperan sebagai
filter terhadap penetrasi budaya global, dalam arti mampu menangkal
penetrasi budaya asing yang bernilai negatif dan mampu memfasilitasi
teradopsinya budaya asing yang bernilai positif dan produktif.
       Sasaran yang hendak dicapai dalam pengembangan nilai budaya
adalah terwujudnya proses sosialisasi dan kulturisasi nilai-nilai luhur yang
diperlukan dalam mewujudkan jatidiri bangsa yang tangguh dan
kompetitif.
       Dalam rangka pengembangan nilai budaya, beberapa bentuk
kegiatan yang dapat dilakukan, diantaranya adalah :
   1. Pelaksanaan revitalisasi dan reaktualisasi nilai-nilai tradisional yang
       bernilai luhur
   2. Penyelenggaraan sosialisasi dan reaktualisasi Etika Kehidupan
       Berbangsa
   3. Pengembangan kegiatan budaya kritis dan kewirausahaan yang
       progresif dan berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi
                                                                     19




   4. Pengembangan industri budaya dengan merevitalisasi modal
      budaya untuk perkembangan ekonomi
   5. Pengembangan minat dan budaya baca masyarakat.
   6. Pembinaan dan sosialisasi untuk meningkatkan apresiasi dan
      komitmen pada pelestarian aset budaya
   7. Pengembangan       peranserta   masyarakat   dan   swasta   dalam
      operasionalisasi dan pemeliharaan aset budaya
   8. Pengembangan sistem informasi dan database bidang kebudayaan
      dan perpustakaan
   9. Peningkatan kapasitas kelembagaan melalui pembenahan sistem
      manajerial lembaga-lembaga yang menangani pengelolaan aset
      budaya
   10. Pelaksanaan sikap toleransi dan kooperasi
   11. Pengembangan interaksi yang harmonis antarunit budaya untuk
      memperkuat semangat keIndonesiaan
   12. Pengembangan berbagai wujud ikatan kebangsaan (keterikatan
      rasional dan emosional).


6.2. Pelestarian Nilai Budaya
      Pelestarian dan pengembangan budaya daerah sebagai satu asset
bangsa, perlu dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan. Hal
ini bertujuan untuk meningkatkan ketahanan budaya masyarakat,
sehingga budaya bangsa tidak terlindas oleh derasnya arus globalisasi
yang membawa berbagai macam pengaruh dan dampak bagi kehidupan
masyarakat. Disamping itu pelestarian dan pengembangan budaya bangsa
dilaksanakan untuk kepentingan pariwisata, yang dapat meningkatkan
citra daerah maupun tarat hidup masyarakatnya. Untuk itu perlu adanya
kesadaran dan komitmen bersama dari seluruh komponen bangsa untuk
                                                                    20




tetap melaksanakan       pembangunan kebudayaan ini dalam rangka
memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa.

      Pelestarian Nilai-Nilai Budaya Bangsa dapat dilakukan melalui
beberapa program, sebagai berikut :
   1. Program wisata pendidikan cinta Indonesia yang dikhususkan bagi
      pelajar sekolah
   2. Program studi banding siswa ke berbagai daerah dalam rangka
      pembangunan pariwisata nasional.
   3. Program kunjungan wisata yang dikemas dalam paket wisata studi
      tur sekolah
   4. Program Peningkatan kecintaan masyarakat terhadap budaya dan
      produk-produk dalam negeri
   5. Program       Pengembangan   modal   sosial   dengan   mendorong
      terciptanya wadah yang terbuka dan demokratis bagi dialog
      kebudayaan
   6. Program pengelolaan keragaman budaya
   7. Program pengembangan kekayaan budaya
      Dengan kegiatan pelestarian nilai-nilai budaya bangsa akan
berdampak pada jati diri atau ciri berbangsa yang kuat. Sehingga akan
tumbuh percaya diri akan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia yang
tidak mudah tergilas pengaruh budaya asing.
                                                                        21




B. KARAKTER BANGSA

1. Pengertian Karakter Bangsa
       Istilah “Karakter” relatif agak sulit   didefinisikan, namun dapat
dimengerti bila diuraikan. Menurut Sigmund Freud karakter adalah
sekumpulan tata nilai yang mewujud dalam suatu sistem dayajuang yang
melandasi pemikiran, sikap dan perilaku.
       Situasi dan kondisi masyarakat kita dewasa ini menghadapkan kita
pada suatu keprihatinan dan sekaligus juga mengundang kita untuk ikut
bertanggung jawab. Perbaikan karakter bangsa merupakan satu kunci
terpenting agar bangsa yang besar jumlah penduduknya ini bisa keluar
dari krisis dan menyongsong nasibnya yang baru.
       Selain itu Bangsa Indonesia yang dahulu dikenal sebagai “het
zachste volk ter aarde” dalam pergaulan antar bangsa, kini sedang
mengalami tidak saja krisis identitas melainkan juga krisis dalam berbagai
dimensi kehidupan yang melahirkan instabilitas yang berkepanjangan
semenjak reformasi digulirkan pada tahun 1998.
       Krisis moneter yang kemudian disusul krisis ekonomi dan politik
yang akar-akarnya tertanam dalam krisis moral dan menjalar ke dalam
krisis budaya, menjadikan masyarakat kita kehilangan orientasi nilai,
hancur dan kasar, gersang dalam kemiskinan budaya dan kekeringan
spritual.
       Kehalusan budi, sopan santun dalam sikap dan perbuatan,
kerukunan, toleransi dan solidaritas sosial, idealisme dan sebagainya telah
hilang hanyut dilanda oleh derasnya arus modernisasi dan globalisasi yang
penuh paradoks.
       Krisis multidimensi dapat saja setiap saat melanda masyarakat kita
menyadarkan kita semua bahwa pelestarian budaya sebagai upaya untuk
mengembangkan Identitas Nasional
                                                                        22




2. Identitas Nasional

      Secara harfiah identitas berasal dari bahasa Inggris Identity yang
memiliki pengertian ciri-ciri, tanda-tanda atau jati diri yang melekat pada
seseorang atau sesuatu yang membedakannya dengan yang lain.
      Identitas adalah sifat khas yang menerangkan dan sesuai dengan
kesadaran diri pribadi sendiri, golongan sendiri, kelompok sendiri,
komunitas sendiri, atau negara sendiri. Mengacu pada pengertian ini
identitas tidak terbatas pada individu semata tetapi berlaku pula pada
suatu kelompok.
      Sedangkan kata nasional merupakan identitas yang melekat pada
kelompok-kelompok yang lebih besar yang diikat oleh kesamaan-
kesamaan, baik fisik seperti budaya, agama, dan bahasa maupun non fisik
seperti keinginan, cita-cita dan tujuan. Istilah identitas bangsa atau
identitas nasional yang pada akhirnya melahirkan tindakan kelompok
(colective action) yang diwujudkan dalam bentuk organisasi atau
pergerakan-pergerakan yang diberi atribut-atribut nasional. Kata nasional
sendiri tidak bisa dipisahkan dari kemunculan konsep nasionalisme.
      Identitas nasional orang Indonesia telah terbentuk sekian lama,
secara simbolis dan substantif dapat ditemukan dalam bahasa Indonesia,
sedangkan secara simbolis terdapat pada simbol burung garuda yang
menjadi lambang negara. Lambang Burung Garuda itu mengandung
makna historis karena mengandung angka-angka sejarah berdirinya
negara kesatuan republik Indonesia, yaitu bulu sayap Garuda berjumlah
17 helai, bulu ekor berjumlah 8 helai, bulu leher berjumlah 45 helai ini
menunjukkan angka kelahiran negara bangsa Indonesia yang merujuk
pada momen proklamasi 17 Agustus 1945.
      Pada dasarnya identitas nasional muncul disebabkan karena
kesadaran nasional yang kemudian mendorong gerakan-gerakan kecil
pahlawan terhadap penjajah yang menuju kearah kemerdekaan.
                                                                        23




        Manifesatsi Identitas Nasional mengandung makna bahwa apa yang
telah disepakati sebagai cara dan pandangan hidup berbangsa, yaitu
Pancasila harus kita eksplorasikan dimensi-dimensi yang melekat padanya,
yang meliputi:
a. Realitas: dalam arti bahwa nilai-nilai yang terkandung di dalamnya
     harus kita wujudkan sebagai cermin kondisi objektif yang tumbuh dan
     berkembang dalam masyarakat sekolah.
b. Idealitas: dalam arti bahwa idealisme yang terkandung di dalam
     Pancasila bukanlah sekedar utopi tanpa makna, melainkan di
     objektivasikan sebagai “kata kerja” untuk membangkitkan gairah dan
     optimisme para siswa guna melihat hari depan secara prospektif,
     menuju hari esok yang lebih baik,
c. Fleksibilitas: dalam arti bahwa Pancasila bukanlah barang jadi yang
     sudah selesai dan “tertutup”menjadi sesuatu yang sakral, melainkan
     terbuka bagi tafsir-tafsir baru untuk memenuhi kebutuhan jaman yang
     terus-menerus berkembang. Dengan demikian tanpa kehilangan nilai
     hakikinya Pancasila menjadi tetap aktual, relevan serta fungsional
     sebagai tiang-tiang penyangga bagi kehidupan bangsa dan negara
     dengan jiwa dan semangat “Bhinneka Tunggal Ika”,


2.1. Unsur Pembentuk Identitas Nasional
        Identitas Nasional Indonesia pada dasarnya merujuk pada suatu
bangsa yang majemuk. Kemajemukan itu merupakan gabungan dari
unsur-unsur pembentuk identitas yaitu :
1)      Suku Bangsa: adalah golongan sosial yang khusus yang
     keberadaannya ada sejak lahir (bersifat askriptif), yang sama coraknya
     dengan golongan umur dan jenis kelamin. Di Indonesia terdapat
     banyak sekali suku bangsa atau kelompok etnis dengan tidak kurang
     300 dialek bahasa.
                                                                     24




2) Agama: bangsa Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang agamis.
   Agama-agama yang tumbuh dan berkembang di nusantara adalah
   agama Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha dan Kong Hu Cu. Agama
   Kong Hu Cu pada masa Orde Baru tidak diakui sebagai agama resmi
   negara namun sejak pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid,
   istilah agama resmi negara dihapuskan.
3) Kebudayaan, adalah pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial
   yang    isinya   adalah   perangkat-perangkat     atau   model-model
   pengetahuan yang secara kolektif digunakan oleh pendukung-
   pendukungnya untuk menafsirkan dan memahami lingkungan yang
   dihadapi dan digunakan sebagai rujukan atau pedoman untuk
   bertindak (dalam bentuk kelakuan dan benda-benda kebudayaan)
   sesuai dengan lingkungan yang dihadapi.
4) Bahasa: merupakan unsur pendukung identitas nasional yang lain.
   Bahasa dipahami sebagai sistem perlambang yang secara arbiter
   dibentuk atas unsur-unsur bunyi ucapan manusia dan yang digunakan
   sebagai sarana berinteraksi antar manusia.


2.2. Penanaman Nilai Identitas Nasional
      Penanaman nilai-nilai identitas nasional   sebagai karakter bangsa
harus diimplementasikan dalam berbagai kehidupan, diantaranya:
   1) Pada diri sendiri
      Membangun karakter adalah proses yang tidak mengenal akhir
      (never ending process) yang dapat dimulai dalam usia kapan pun.
      Semakin usia dini membangun karakter semakin hasilnya lebih
      baik. Jika kita ingin menjadi orang memiliki karakter baik maka
      tentulah kita berupaya membangunnya.
      Membangun jati diri sebagai suatu karakter harus diawali dengan
      usha menjadi orang yang jujur, terbuka, berani mengambil resiko
                                                                      25




  dan bertanggung jawab, memegang komitmen dan mampu berbagi
  (sharing). Kelima sikap itu adalah nilai universal yang diakui
  kebenarannya serta diterima oleh semua pihak dan agama.
  Walaupun melaksanakannya tidak mudah, namun harus kita mulai
  secara bersungguh-sungguh. Menjadi manusia yang berkarakter
  kita didorong berbuat kebajikan yang sekaligus kita berada di jalan
  Tuhan.
2) Membangun Ketahanan Keluarga
  Membangun karakter dalam keluarga diawali dengan komunikasi
  yang baik dalam berbagai kesempatan, seperti pertemuan harian
  dalam keluarga yang meliputi makan bersama, berdoa/sembahyang
  bersama dan rekreasi bersama sehingga terjalinnya hubungan
  batiniah sesama anggota keluarga. Pada kesempatan itu bapak /
  ibu   dapat   memberikan       nasehat-nasehat      kepada     anggota
  keluarganya. Mengugah kesadaran kaum ibu khususnya untuk
  kembali menangani pembangunan karakter anak-anaknya sejak
  usia dini, mengingat semakin banyak kaum ibu-ibu bekerja di luar
  rumah sehingga pendidikan karakter anak diserahkan kepada
  pengasuh atau pembantu rumah tangga.
  Apabila ketahanan keluarga telah tercapai melalui sosialisasi
  karakter tentu akan membawa pengaruh positif kepada kehidupan
  lingkungan dan juga kepada masyarakat sekolah.
3) Pembangunan Karakter dalam Masyarakat
  Sebagian   waktu   kehidupan     anak-anak   atau    pelajar   banyak
  dihabiskan dalam masyarakat, maka peranan institusi masyarakat,
  seperti Rukun Tetangga/ Rukun Warga sangat penting, disamping
  itu tempat-tempat bermainnya anak-anak atau remaja perlu juga
  dikontrol oleh pejabat yang berwenang agar dapat ikut serta
  menanamkan nilai-nilai positif kepada remaja, seperti pengelola
                                                                       26




      warnet, tempat olah raga dan tempat hiburan yang selalu
      dikunjungi anak-anak remaja.
   4) Dalam Dunia Pendidikan
      Pendidikan mempunyai tugas utama membina watak atau karakter,
      sebagaimana dinyatakan oleh filsuf Herbert Spencer dari Inggris,
      bahwa sasaran pendidikan adalah membangun karakter. Apabila
      kita melihat tujuan pendidikan sebagai dinyatakan oleh UU No. 20
      tahun 2003, menyatakan bahwa tujuan pendidikan adalah:
      a) Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
      b) Berbudi pekerti luhur (akhlak mulia)
      c) Memiliki pengetahuan dan keterampilan, sehat jasmani dan
          rohani
      d) Memiliki kepribadian yang mantap dan mandiri
      e) Memiliki tanggung jawab dalam bermasyarakat, beragama,
          berbangsa dan bernegara.


3. Nasionalisme sebagai Identitas Nasional

      Bangsa atau nation merupakan suatu wadah yang di dalamnya
terhimpun orang-orang yang mempunyai persamaan keyakinan dan
persamaan lain yang mereka miliki seperti ras, etnis, agama, bahasa, dan
budaya.
      Unsur persamaan tersebut pada akhirnya dapat dijadikan sebagai
iidentitas politik bersama atau untuk menentukan tujuan organisasi politik
yang dibangun berdasarkan geopolitik yang terdiri atas populasi, geografis
dan pemerintahan yang permanen yang disebut negara atau state.
      Nation-state atau negara-bangsa merupakan sebuah bangsa yang
memiliki bangunan politik (political building) seperti ketentuan-ketentuan
perbatasan teritorial, pemerintahan yang sah, pengakuan luar negeri dan
sebagainya.
                                                                                     27




      Munculnya paham nasionalisme atau paham kebangsaan Indonesia
tidak bisa dilepaskan dari situasi sosial politik dekade pertama abad ke-20.
Pada waktu itu semangat menentang kolonialisme Belanda mulai
bermunculan di kalangan pribumi. Cita-cita bersama untuk merebut
kemerdekaan     menjadi     semangat      umum      di     kalangan       tokoh-tokoh
pergerakan nasional untuk memformulasikan bentuk nasionalisme yang
sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia.
      Paham Nasionalisme di Indonesia yang disampaikan oleh Soekarno
yang disuarakan adalah bukan nasionalisme yang berwatak sempit, tiruan
dari Barat, atau berwatak chauvinism. Nasionalisme yang dikembangkan
Soekarno bersifat toleran, bercorak          ketimuran, dan             tidak    agresif
sebagaimana nasionalisme yang dikembangkan di Eropa.
      Selain mengungkapkan keyakinan watak nasionalisme                            yang
dikembangkan      Soekarno       penuh     dengan        nilai-nilai    kemanusiaan,
disamping meyakinkan pihak-pihak yang berseberangan pandangan
bahwa kelompok nasional dapat bekerja sama dengan kelompok manapun
baik golongan Islam maupun Marxis.
      Sekalipun       Soekarno   seorang     muslim        tetapi      tidak    sekedar
mendasarkan     pada     perjuangan      Islam,   menurutnya           kebijakan     ini
merupakan pilihan terbaik bagi kemerdekaan maupun bagi masa depan
seluruh bangsa Indonesia. Semangat nasionalisme Soekarno tersebut
mendapat respon dan dukungan luas dari kalangan intelektual muda
didikan barat, seperti Syahrir dan Mohammad Hatta yang kemudian
semakin berkembang paradigmanya sampai sekarang dengan munculnya
konsep Identitas Nasional, sehingga bisa dikatakan bahwa Paham
Nasionalisme atau Kebangsaan disini adalah merupakan refleksi dari
Identitas Nasional.
      Era Globalisasi dapat berpengaruh terhadap nilai-nilai budaya
bangsa Indonesia. Era Globalisasi tersebut mau tidak mau, suka atau tidak
                                                                               28




suka        telah datang dan menggeser nilai-nilai yang telah ada. Nilai-nilai
tersebut baik yang bersifat positif maupun yang bersifat negatif. Ini semua
merupakan ancaman,           tantangan     dan sekaligus sebagai peluang bagi
bangsa Indonesia untuk berkreasi, dan berinovasi di segala aspek
kehidupan.
        Di Era Globalisasi, pergaulan dan persaingan antar bangsa semakin
ketat. Batas antar negara hampir tidak ada artinya, batas wilayah tidak
lagi menjadi penghalang. Di dalam pergaulan antar bangsa yang semakin
kental itu akan terjadi proses alkulturasi, saling meniru dan saling
mempengaruhi antara budaya masing-masing. Dan yang perlu kita
cermati dari proses akulturasi tersebut apakah pengaruh global tersebut
dapat melunturkan tata nilai yang merupakan jati diri bangsa Indoensia
atau sebaliknya. Lunturnya tata nilai tersebut pada dasarnya ditandai oleh
2 (dua) faktor yaitu :
       1)     Semakin menonjolnya sikap individualistis yaitu mengutamakan
              kepentingan    pribadi    diatas   kepentingan   umum,     hal   ini
              bertentangan dengan azas gotong-royong.
       2)     Semakin menonjolnya sikap materialistis yang berarti harkat dan
              martabat kemanusiaan hanya diukur dari hasil atau keberhasilan
              seseorang dalam memperoleh kekayaan. Hal ini bisa berakibat
              bagaimana cara memperolehnya menjadi tidak dipersoalkan
              lagi. Bila hal ini terjadi berarti etika dan moral telah
              dikesampingkan.

        Arus     informasi   yang      semakin   pesat   mengakibatkan     akses
masyarakat terhadap nilai-nilai asing yang negatif semakin besar. Apabila
proses ini tidak segera dibendung akan berakibat lebih serius dimana pada
puncaknya mereka tidak bangga kepada bangsa dan negaranya.
        Pengaruh negatif tersebut pada akhirnya dapat merongrong nilai-
nilai yang telah ada di dalam masyarakat kita. Jika semua ini tidak dapat
                                                                        29




dibendung maka akan mengganggu ketahanan di segala aspek bahkan
mengarah kepada kreditabilitas sebuah ideologi.



4. Iman dan Takwa terhadap Tuhan YME sebagai Karakter
   Bangsa

        Negara kesatuan yang berbentuk republik ini telah cukup dikenal
sebagai masyarakat religius dan seiring dengan itu perlu pembangunan
moral bagi warga negara yang kelak kan melahirkan indivisu sebagai
makhluk beragama (human religius).
        Hubungan manusia dengan Tuhan, sebagaimana tersirat dalam Sila
Ketuhanan Yang Maha Esa mengambarkan suatu karakter bangsa
Indonesia adalah bangsa yang religius baik dalam konteks hubungan
Khalik (pencipta hidup) dan makhluk (penikmat hidup).
        Sila Ketuhanan Yang Maha Esa mengandung arti bahwa manusia
itu pasti beragama yang sekaligus      berkarater religius sesuai dengan
agama     masing-masing    yang   dianutnya.   Manusia   Indonesia   selalu
memposisikan agama/Tuhan sebagai pendamping dalam pengabdiannya.
Kesadaran untuk selalu ingat dalam pengawasan Tuhan, bimbingan Tuhan
sehingga melahirkan sikap rendah hati, jujur, bertakwa, taat pada prinsip-
prinsip yang benar.


5. Gotong Royong sebagai Karakter Bangsa

        Gotong royong adalah sikap kebersamaan dalam berbuat dan
berkarya, sikap kebersamaan ini merupakan cerminan dari rasa senasib
dan sepenanggungan. Manakala bangsa dan negeri ini dirundung masalah
maka sikap sediaan berkorban dan bergotong royong terpanggil untuk
menanggung       masalah     bangsa     dengan     bersama-sama        dan
menyelesaikannya secara bersama-sama pula.
                                                                      30




      Gotong royong sebagai karakter bangsa secara nasional yang
tumbuh dari bawah karena masyarkat desa di berbagai daerah di
Indonesia yang menyokong tumbuh kembangnya karakter ini. Oleh sebab
itu, siswa sebagai generasi penerus dapat memperluas implementasinya
dalam bentuk pelibatan dalam perikehidupan bermasyarakat, berbangsa
dan bernegara



6. Bhinneka Tunggal Ika dan Merah Putih sebagai Karakter
   Bangsa

      Nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika dan identitas merah putih sudah
menjadi kultur bangsa yang sekaligus sebagai identitas nasional. Bhinneka
tunggal Ika menyatukan gugusan keberagaman dan tanah air yang kaya
kedalam suatu wadah kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Identitas Merah Putih pada bendera nasional adalah cerminan persatuan
yang digariskan secara tegas oleh bahasa persatuan Indonesia.
      Beragam adat istiadat, bahasa, suku dan warna kulit menjalin
kebersamaan hidup berbangsa. Penetapan bahasa Indonesia sebagai
bahasa persatuan memberikan kelebihan dalam menyatukan kesadaran
persatuan sendiri yang berbenih dalam rasa kebangsaan, terutama ketika
teks Sumpah Pemuda yang berbunyi “menjunjung bahasa persatuan,
bahasa Indonesia”


7. Kebangsaan Indonesia sebagai Karakter Bangsa
      Pertama kali munculnya pada tiga hal pokok, yaitu identitas
kebangsaan atau ke-Indonesiaan, identitas primordial atas tanah dan air,
dan identitas primordian atas bahasa persatauan (bahasa Indoensia).
      Identitas nasional pada awalnya merupakan ide dan semangat
gerakan   pemuda-pemuda yang berhasil        mendeklerasikan    Soempah
Pemoeda 28 Oktober 1928. Saat itulah pertama kali identitas nasional
                                                                         31




muncul secara tegas. Sejak itu kesadaran nasional semakin meluas,
kemudian identitas itu kemudian mengkrital menjadi satu asas dari
falsafah negara, yaitu Pancasila, khususnya Sila “Persatuan Indonesia”
      Identitas Nasional pada hakikatnya merupakan manifestasi nilai-
nilai budaya yang tumbuh dan berkembang           dalam berbagai aspek
kehidupan dari ratusan suku bangsa yang “dihimpun” dalam satu
kesatuan Indonesia yang kemudian menjadi kebudayaan nasional dengan
acuan Pancasila dan rohnya adalah        “Bhinneka Tunggal Ika”      yang
menjadi dasar dan arah pengembangannya.
      Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa hakikat Identitas Nasional
kita sebagai bangsa di dalam hidup dan kehidupan berbangsa dan
bernegara adalah Pancasila yang aktualisasinya tercermin dalam
penataan kehidupan dalam arti luas, misalnya dalam aturan perundang-
undangan, sistem pemerintahan yang diharapkan, nilai-nilai etik dan moral
yang secara normatif diterapkan di dalam pergaulan baik dalam tataran
nasional maupun internasional dan lain sebagainya.
      Nilai-nilai budaya yang tercermin di dalam Identitas Nasional
tersebut bukanlah barang jadi yang sudah selesai dalam kebekuan
normatif dan dogmatis, melainkan sesuatu yang “terbuka”              yang
cenderung terus-menerus bersemi karena hasrat menuju kemajuan yang
dimilki oleh masyarakat pendukungnya. Konsekuensi dan implikasinya
adalah bahwa Identitas Nasional adalah sesuatu yang terbuka untuk
ditafsir dengan diberi makna baru agar tetap relevan dan fungsional dalam
kondisi aktual yang berkembang dalam masyarakat.


8. Membangun karakter bangsa
      Karakter adalah hasil dari kebiasaan yang ditumbuh kembangkan.
Untuk membangun karakter adalah dengan membentuk kebiasaan (habits
forming) yang berarti harus menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik.
                                                                          32




      Karakter perlu dengan sengaja dibangun, dibentuk, ditempa dan
dikembangkan     serta   dimantapkan.      Pembangunan     karakter    sangat
dipengaruhi oleh lingkungan, mulai dari lingkungan keluarga, sekolah dan
masyarakat yang     kemudian meluas dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara.
      Pembangun karakter bangsa harus mendapat perioritas utama
dalam pembangunan bangsa, karena bangsa terhindar dari berbagai
krisis. Seorang yang berkarakter akan selalu tampil sebagai seorang yang
mewujudkan kebajikan dan orang yang berkarakter terbuka bagi dirinya
mendapat kebajikan dari Tuhannya.
      Karakter merupakan nilai-nilai yang terpatri dalam diri melalui
pendidikan, pengalaman, pengorbanan dan pengaruh lingkungan yang
dipadukan dengan nilai-nilai dari dalam diri manusia sendiri kemudian
terwujud dalam pemikiran, sikap dan perilakunya. Oleh sebab itu karakter
tidak datang dengan sendiri, tetapi dibentuk dan dibangun secara sadar
dan sengaja.
      Pembangunan karakter dalam kehidupan dapat dilakukan dalam
beberapa dimensi, yaiitu:
 1.   Kepedulian sosial (social sensivity), yaitu orang yang berkarakter
      tidak hanya sekedar peduli, tetapi juga mengulurkan tangan dan
      memiliki   sensitivitas   sosial.   Orang   yang   berkarakter   selalu
      mengembangkan simpati dan empati.
 2.   Pelindung dan jaga hubungan baik (naturance and care) adalah
      orang yang sosok emlindungi, menjaga, memberikan perlindungan
      dan menjaga hubungan dengan orang lain.
 3.   Selalu mengembangkan sifat berbagi, bekerja sama dan adil
      (sharing, cooperation and fairness)
 4.   Seorang individu yang jujur (honesty)
 5.   Mengedepankan moral dan ethika (moral choice)
                                                                              33




 6.       Selalu mengontrol dan instrospeksi diri (self control andself
          monitoring)
 7.       Pribadi yang suka menolong dan dan membantu ornag lain (helping
          other)
 8.       Mampu menyelesaikan masalah dan konflik sosial (social problem
          solving and conflict resolution)

          Dengan demikian manusia yang berkerakter adalah menusia yang
memiliki sifat-sifat manusiawi, sebaliknya, manusia yang tidak berkarakter
adalah yang manusia yang memiliki sifat kurang manusiawi, seperti
senang berkonflik (tawuran antar pelajar), pemarah, tidak peduli kepada
orang lain, dalam menghalalkan segala macam cara demi mendapat
keuntungan pribadinya.
          Membangun karakter tidak bisa dilakukan dengan mudah dan
santai, menurut         Hellen Keller (1880-1968) membangun karakter dapat
dilakukan melalui pengalaman menghadapi percobaan dan pengorbanan.
Membangunan karakter dapat menghasilkan, yaitu:
 a)       Jiwa yang kuat
 b)       Visi yang jauh ke depan dan jernih,
 c)       Mendapat inspirasi dalam ambisi atau segenab usaha dan upaya
          kita sehingga sukses sejati bisa diraih.


9. Pelestarian Nilai-nilai luhur Perjuangan bangsa
          Agar Identitas Nasional dapat difahami oleh siswa sebagai penerus
tradisi    dengan       nilai-nilai   diwariskan   oleh   nenek   moyang,   maka
pemberdayaan nilai-nilai ajarannya harus bermakna dalam arti relevan,
dan fungsional bagi kondisi aktual yang sedang berkembang dalam
masyarakat.
          Dengan kemampuan refleksinya manusia menjadikan rasio sebagai
mitos, sebagai sarana yang handal dalam bersikap dan bertindak dalam
                                                                                 34




memecahkan         masalah-masalah      yang     dihadapi     dalam     kehidupan.
Kesahihan tradisi, juga nilai-nilai spiritual yang dianggap sakral kini dikritisi
dan dipertanyakan berdasarkan visi dan harapan tentang masa depan
yang lebih baik.
       Nilai-nilai budaya yang diajarkan oleh nenek moyang tidak hanya
sebagai barang sudah “jadi” yang berhenti dalam kebekuan normatif dan
nostalgia, melainkan harus diperjuangkan dan terus menerus harus
ditumbuhkan dalam dimensi ruang dan waktu yang terus berkembang dan
berubah.
       Berikut ini nilai-nilai luhur yang harus kita perjuangkan dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
a). Nilai ketakwaan
   Manusia yang bertakwa adalah manusia yang melaksanakan perintah-
   perintah    Tuhan      serta    menjauhi    semua      larangan-Nya.    Ia   taat
   melaksanakan       ibadah, selalu     berbuat    amal     kebaikan, menjaga
   hubungan baik dengan tetangga, gemar bersedekah dan jujur. Selain
   itu selalu menjauhkan diri dari perbuatan dosa dan tercela, misalnya
   berjudi, memfitnah, mencuri dan minum minuman keras.
b). Nilai Toleransi
   Bhinneka tunggal ika adalah semboyan negara Indonesia, sehingga
   muncul sikap menghargai dan menghormati atas perbedaan yang ada
   dalam masyarakat. Dalam kehidupan beragama, bangsa Indonesia
   menganut        agama     dan     keyakinan     yang     berbeda-beda,       agar
   terpeliharanya hidup rukun dan damai dalam pergaulan hidup
   bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, maka perlu dikembangan
   nilai toleransi, yaitu suatu sikap menahan diri, sabar, lapang dada
   diatas terhadap orang lain dalam menjalankan ajaran agamanya dan
   kepercayaannya. Hal ini sudah menjadi suatu nilai yang diterapkan
   dalam      pergaulan    bermasyarakat       diberbagai     wilayah     nusantara
                                                                        35




   semenjak    dahulu,   sehingga   sudah   menjadi   karakter.   Toleransi
   diwujudkan dalam masyarakat demi terciptanya kerukunan , yaitu
   suatu kemauan hidup bersama dengan berdampingan secara damai,
   tertib dalam masyarakat, bangsa dan negara.
c). Nilai Ramah Tamah
   Bangsa Indonesia terkenal dengan bangsa yang ramah tamah, yang
   diartikan sebagai sifat baik hati dan menarik budi bahasanya atau
   manis tutur katanya, suka bergaul dan menyenangkan dalam
   pergaulan. Nilai ramah ramah tamah akan menimbulkan suatu niali
   saling menghagai, yaitu nilai menghormati dan mengindahkan hak-
   hak pribadi orang lain
d). Nilai Persatuan
   Penempatan persatuan , kesatuan dan kepentingan serta keselamatan
   bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan golongan.
   Persatuan dan kesatuan dikembangkan dengan memajukan pergaulan
   atas dasar Bhinneka Tungga Ika. Persatuan Indonesia sering disebut
   dengan rasa kebangsaan atau nasionalisme Indonesia berdasarkan
   pada nilai-nilai Pancasila, khususnya sila ketiga Persatuan Indonesia.
   Berdasarkan nilai persatuan melahirkan nilai cinta    tanah air, yaitu
   kerelaan berkorban demi bangsa dan negara. Nilai ini sudah menjadi
   karakter bangsa Indonesia dalam memperjuangan kemerdekaan
   bangsa
e). Nilai Keikhlasan dan Kejujuran
   Keikhlasan dan kejujuran menumbuhkan sikap dan tindakan setia
   secara sadar dipaksa berbuat sesuai dengan hati nuraninya tanpa
   pamrih.    Keikhlasan dan kejujuran menurut ajaran agama adalah
   bersedia secara sadar mematuhi dan melaksanakan ajaran atau
   perintah Tuhan serta menjauhi larangan-larangan-Nya. Bila dikaitan
   dengan hukum, keikhlasan dan kejujuran akan menimbulkan sikap dan
                                                                             36




   perbuatan memetuhi perintah dan menghidari larangan-larangan
   hukum. Berbuat ikhlas dan jujur dapat untuk peribadi, untuk
   masyarakat atau semua manusia dan juga bangsa dan negara.
f). Kedisiplinan
   Disiplin mempunyi arti ketaatan atau kepatuhan pada peraturan.
   Kedisiplinan     merupakan      kepatuhan    seseorang     pada    peraturan
   perundang-undangan, kaidah-kaidah, norma-norma dan hukum yang
   berlaku. Dengan demikian masyarakat Indonesia sudah memiliki
   kebiasaan untuk menaati berbagai peraturan yang berlaku, apakah
   peraturan itu dibuat oleh pemerintah atau negara maupun peraturan
   adat istiadat yang sudah berkembang dalam kehidupan masyarakat.
g). Nilai Saling Menghormati
   Sikap   saling   menghormati       sudah    mengakar     dalam    masyarakat
   Indonesia,     sikap   ini    sebagai   perekat   terhadap   budaya     atau
   kepercayaan serta tradisi yang berbeda-beda antar berbagai daerah.
   Lebih khusus lagi dalam kehidupan beragama dapat melahirkan sikap
   saling menghormati antara umat beragama dan intra umat beragama
   atau sesama penganut agama yang sama.
h). Nilai keserasian
   Pada dasarnya kesejahteraan dan kebahagiaan hidup manusia akan
   dapat dicapai apabila terdapat keserasian hubungan antara dirinya
   dengan Tuhan Yang Maha Esa, hubungan dirinya dengan orang lain
   serta hubunagn dirinya dengan lingkungan alam sekitarnya. Keserasian
   hubungan antara hak dan kewajiban dalam berbagai kehidupan.
i). Nilai Kesetiaan
   Nilai kesetiaan adalah suatu sikap mental yang dilandasi oleh rasa cinta
   sehingga siap membela dan rela berkorban. Dalam perjuangan bangsa
   untuk   memperoleh           kemerdekaan    dan   perjuangan      menentang
   penjajahan para pahlawan kita diliputi dengan semangat kesetiaan
                                                                    37




   yang sangat tinggi sehingga berhasil mewujudkan cita-cita, khususnya
   cita-cita menjadi suatu negara yang merdeka. Seperti rela berkorban
   atas jiwa dan raga serta hartanya.
j). Nilai Tanggung Jawab
   Dalam setiap tugas dan kewajiban selalu diikuti oleh adanya tanggung
   jawab, baik tanggung jawab itu melekat pada diri pribadi maupun
   tanggung jawab terhadap masyarakat, bangsa dan negara. Nilai
   tanggung jawab juga telah menjadi perilaku bagi bangsa Indonesia,
   khususnya oleh pejuang bangsa dan mewujudkan cita-cita bangsa dan
   negara. Tanggung jawab adalah kesediaan untuk menanggung akibat
   yang ditimbulkan oleh suatu perbuatan atau peristiwa. Tanggung
   jawab dapat dilakukan secara formal ataupun secara yuridis.
k). Nilai Kesederhanaan
   Hidup sederhana adalah hidup yang bersahaja, secara material
   digunakan seperlunya dan tidak berlebihan. Kesederhanaan adalah
   sikap mental yang rendah hati dan bersifat sosial, tingkah laku atau
   penampilan serta tutur kata selalu bersahaja. Sikap sederhana ini
   merupakan karakter dari para pejuang bangsa untuk mewujudkan
   kemerdekaan, serta mengisi kemerdekaan itu sendiri.
l). Nilai Kerja sama
   Kerja sama sudah mejadi ciri khas dari masyarakat Indonesia yang
   ditampilkan dalam berbagai kehidupan di daerah-daerah, dimulai dari
   lingkungan keluarga, masyarakat dan bangsa serta negara. Kerja sama
   dalam berbagai kehidupan bagi manusia adalah mutlak, karena
   manusia secara kodrati adalah makhluk sosial.
m). Nilai Martabat dan Harga Diri
   Martabat adalah tingkatan harkat kemanusiaan, kedudukan yang
   terhormat. Harga diri afdalah nilai diri, nilai kemanusiaan. Dengan
   harkat , martabat serta harga diri itulah bangsa Indonesia mempu
                                                                       38




   menjadi suatu negara yang berdaulat dan merdeka dari penjajahan
   negara atau bangsa lain.
n). Nilai Musyawarah
   Dalam mengambil keputusan mengangkut kepentingan umum rakyat
   Indonesia di berbagai daerah, terlebih dahulu melakukan musyawarah.
   Menjalan musyawarah dalam menyelesaikan masalah bersama telah
   menjadi bagian dari hidupan masyarakat Indonesia, setelah keputusan
   disepakati secara bersama-sama barulah dilaksanakan denngan penuh
   rasa tanggung jawab. Nilai musyawarah inilah yang menjadi akar
   demokrasi Indonesia yang membedakan antara demokrasi di berbagai
   negara lain.
o). Nilai Gotong Royong
   Gotong royong adalah bekrja tampa pamrih untuk menyelsaikan suatu
   kegiatan yang hasilnya dapat bermanfaat bagi semua orang. Sikap
   gotong rpyong dilandasi pula dengan rasa kekeluargaan. Gotong
   royong    sudah   biasa dan telah menjadi tradisi dalam kehidupan
   pedesaan, seperti dalam kegiatan memperbaiki dan membersihkan
   jalan, turun ke sawah serta memperbaiki rumah. Gotong royong akan
   lebih menonjol lagi apabila terjadi musibah, seperti gempa bumi,
   kebanjiran atau kebakaran.



C. Sikap dan Perbuatan yang perlu dikembangkan Siswa di
   sekolah dalam Rangka Pelestarian    Nilai Budaya dan
   Pembentukan karakter Bangsa

      Keberagaman pada hakikatnya merupakan kondisi dinamis yang
mampu mencerminkan karalteristik bangsa yang multi kultural yang dapat
membawa     bangsa   kerah    yang   lebih   baik,   walaupun   sebaliknya
keberagaman yang tidak menedepankan prinsif kebersamaan dan
keBhinekaan dapat melahirkan potensi konflik yang mengarah pada
perpecahan bangsa
                                                                    39




      Demikian pula halnya disekolah kondisi siswa yang beragam di
sekolah baik dari sisi budaya, suku, agama dan sebagainya, jika tidak
dikedepankan prinsif kekeluargaan dan kebersamaan maka kerap kan
menimbulkan perpecahan dan konflik siantara siswa untuk itu dalam
menyikapi keberagaman yang terdapat disekolah dan dalam rangka
pembentukan karakter bangsa, maka perlu dikembangkan sikap dan
perbuatan sebagai berikut :
   1. Mengembangkan sikap saling memahami dan saling menghargai
      antar sesama siswa yang beranekaragam dengan mengedepankan
      kebersamaan dan kekeluargaan
   2. Menghargaai perbedaan budaya dan latar belakang siswa dengan
      mengedepankan prinsif Bhineka Tunggal Ika
   3. Mengembangkan sikap toleransi dan empati sosial antar sesama
      warga sekolah
   4. Bertutur kata sopan dan berperilaku santun dalam pergaulan di
      sekolah
   5. Mengedepankan etika pergaulan yang berlandaskan nilai-nilai
      agama dan budaya dalam pergaulan di sekolah
   6. Menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran sebagai bekal pembentukan
      karakter siswa
   7. Berdisiplin tinggi dan berdedikasi untuk kemajuan sekolah
   8. Mengedepankan prinsif musyawarah dalam menghadapi dan
      memecahkan permasalahan yang terjadi di sekolah
   9. Rajin dan tekun belajar serta bekerja keras dalam rangka meraih
      cita-cita
   10. Selalu berupaya untuk menjadi warga sekolah yang baik dan
      bertanggung jawab
   11. Mengembangkan budaya tolong-menolong dan saling bekerjasama
      antar warga sekolah
                                                                         40




D. Bentuk Kegiatan yang dapat Mengembangkan Pelestarian
   Nilai Budaya dan Pembentukan Karakter Bangsa di Sekolah

       Kegiatan-kegiatan yang dapat mengembangkan pelestarian nilai
budaya dan pembentukan karakter bangsa oleh siswa di lingkungan
sekolah antara lain :
   1. Mengedepankan      kegiatan-kegiatan     yang    berorientasi    pada
       pemahaman dan penanaman nilai-nilai agama, seperti Rohani
       Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha, dan Konghucu
   2. Mengembangkan       kegiatan-kegiatan     yang    mengarah       pada
       pembentukan perilaku dan karakter siswa, seperti latihan dasar
       kepemimpinan, diskusi dan forum ilmiah dan sebagainya




   3. Menciptakan lingkungan sekolah yang mendukung dan dapat
       menumbuhkan       budaya    keberagamaan.       Sekolah        mampu
       menanamkan sosialisasi dan nilai yang dapat menciptakan siswa-
       siswa yang berkualitas dan berkarakter kuat, sehingga menjadi
       pelaku utama dalam kehidupan di masyarakat. Suasana lingkungan
       sekolah ini dapat membimbing siswa agar memiliki akhlak mulia,
       perilaku jujur, disiplin dan kerja keras sehingga akhirnya menjadi
       dasar untuk meningkatkan kualitas dirinya. Kegiatan tersebut
       seperti   membiasakan    Salam   Sapa   Senyum     Santun,     Kantin
       Kejujuran, kompetisi antar siswa dalam Perayaan Ulang tahun
       Sekolah dan sebagainya
                                                                     41




4. Menyelenggarakan berbagai macam perlombaan seperti cerdas
   cermat dan lomba tata upacara bendera dan sebagainya dalam
   rangka melatih keberanian, kecepatan, dan ketepatan siswa dalam
   menyampaikan pengetahuan dan aspek praktis ilmu pengetahuan




5. diselenggarakannya aktivitas dan kreativitas seni dan budaya,
   seperti seni suara, seni musik, seni tari, dan seni budaya lainnya
   dalam rangka pewarisan dan plestarian nilai-nilai budaya bangsa
   dikalangan siswa
6. Mengembangkan       Ekstra   Kurikuler   yang    berorientasi   pada
   pelestarian nilai biudaya, seperti Ekskul Tradisional Tari Saman atau
   Tari Tradisional lainnya, ekskul Baron, Ekskul Rohani




              Ekskul Tari Tradisional “Saman”
                                                                          42




7. Mengembangkan Kegiatan Berpikir Kritis Siswa dalam pelestarian
   nilai budaya dan pembentukan karakter bangsa, seperti Studi
   lapangan masyarakat tradisionbal suku terasing di Indonesia



                                                        Studi
                                                      Lapangan
                                                        Suku
                                                        Badui




8. Terintegrasi dengan mata pelajaran seni atau mulok dan mata
   pelajaran lainnya berupaya mengembangn dan melestarikan nilai-
   nilai   budaya    nasional   melalui    kegiatan    pentas   seni   siswa,
   memasukan materi ketrampilan bermain angklung, karawitan dan
   sebagainya
9. Mendukung        kegiatan-kegiatan     siswa   yang    mengarah      pada
   pembentukan kreativitas, seperti Karya Cipta Seni Siswa
10. Lain-lain kegiatan siswa atau sekolah yang berupaya melestarikan
   nilai-nilai budaya dalam rangka pembentukan karakter siswa seperti
   disiplin, tekun, giat belajar, kerja keras
                                                                           43




                                 BAB III
                       STRATEGI PELAKSANAAN

      Orientasi    penanaman    dan   pelestarian   nilai   budaya     sebagai
pembentukan karakter bangsa menuntut peran serta seluruh komponen
bangsa, khususnya warga sekolah. Sekolah sebagai lembaga pendidikan
berperan strategis untuk mengembangkan kepribadian dan potensi anak
sesuai dengan kemampuan dan pengetahuannya untuk menyiapkan diri
hidup di masyarakat.
      Penanaman dan pelestarian nilai budaya akan efektif jika seluruh
warga sekolah mampu melakukan aktivitas-aktivitas yang berorientasi
kearah tersebut. Oleh karena itu       antara komponen sekolah (Kepala
sekolah, Guru Pembina Osis, guru mata pelajaran, Siswa, OSIS) menjalin
hubungan yang baik dalam rangka implementasi kegiatan tersebut
      Di bawah ini adalah peran serta komponen sekolah dalam upaya
pembinaan budaya dan karakter bangsa di sekolah

1. Kepala Sekolah
      Kepala Sekolah memiliki wewenang yang luas sesuai dengan
ketentuan yang ada. Melalui komunikasi yang dibangun secara harmonis
dengan guru, karyawan tata usaha dan siswa, Kepala sekolah dapat
mengembangkan kegiatan untuk meningkatkan kegiatan proses belajar
mengajar maupun kegiatan lainnya yang memungkinkan siswa akan lebih
banyak   menarik    manfaat    bagi   perkembangan       intelektual   maupun
emosionalnya.
      Kepala sekolah perlu mengetahui dengan pasti potensi kemampuan
yang tersembunyi yang dimiliki siswanya, khususnya terkait dengan
apresiasi budaya serta kondisi multikultural disekolah
      kepala sekolah dapat mengembangkan potensi tersebut melalui
kebijakannya yaitu mendukung upaya-upaya menumbuhkankembangkan
                                                                         44




kesadaran akan pentingnya keberagaman dalam rangka identitas dan
karakter bangsa melalui kegiatan yang berorientasi pada pelestarian
budaya bangsa
      Pelestarian nilai budaya sebagai cermin karakter budaya bangsa
sangat tergantung pada dukungan dan sikap serta ketegasan pengelola
pendidikan dalam menjalankan kebijakan di sekolah. Banyak sekolah yang
berhasil dalam pelestarian budaya dan pembentukan karakter siswa yang
sebagai identitas nasional disebabkan karena kepala sekolahnya berpihak
melalui kebijakan yang kuat, sehingga segala sesuatunya berjalan sesuai
dengan rencana yang telah di susun.
      Kepala sekolah berkoordinasi dengan komite sekolah diharapkan
mampu menyediakan sarana-sarana yang manunjang kearah pelestarian
budaya dan memfasilitasi kegiatan-kegiatan yang berdampak pada
pembentukan karakter siswa sebagai jatidiri bangsa

2. Guru Pembina Osis
      Guru Pembina Osis merupakan pendidik, pengajar dan pembimbing
yang menyentuh kehidupan pribadi siswa. Oleh siswa sering dijadikan
tokoh teladan, Oleh karena itu guru pembina osis sebaiknya memiliki
pengetahuan     dan    pemahaman       yang     memadai    untuk      dapat
mengembangkan minat, bakat dan potensi pada diri siswa secara utuh,
terutama dalam penanaman nilai budaya serta pembentukan karakter
siswa sebagai cermin jatidiri bangsa
      Dalam     melaksanakan    tugasnya,     guru   pembina   osis   perlu
memahami dan menghayati jati diri siswa sebagai manusia yang memilki
berbagai potensi dalam dirinya yang tersembunyi. Di sisi lain harus pula
memahami dan menghayati wujud anak lulusan sekolah sebagai
gambaran hasil didik dan binaannya yang diharapkan oleh masyarakat
sesuai dengan perubahan dan tuntutan perkembangan zaman.
                                                                        45




          Perkembangan globalisasi memberikan dampak terhadap beberapa
aspek kehidupan, khususnya dampak negatif terhadap penanaman nilai
budaya dan pembentukan karakter bangsa, dsimana nilai-nilai budaya dan
karakter bangsa mulai memudar, sehingga diperlukan revosisi terhadap
nilai – nilai budaya dan pembentukan karakter bangsa melalui kegiatan
efektif di sekolah. Oleh sebab itu, Guru Pembina Osis diharapkan memiliki
pengetahuan      dan     pemahaman   dalam    merancang   program   yang
berorientasi pada penanaman nilai budaya dan pembentukan karakter
bangsa sebagai bagian dari jenis kegiatan pembinaan disekolah. Peran
tersebut antara lain:
     1.     Melakukan pemantauan pada pelaksanaan kegiatan ekstra
            kurikuler yang berkaitan dengan seni dan budaya
     2.     Merancang program kegiatan kesiswaan yang berkaitan dengan
            kegiatan seni dan budaya serta pembentukan karakter siswa
     3.     Melakukan koordinasi pada bidang lain yang terkait dengan
            tugas dan tanggungjawabnya dalam upaya sukses program
            ekstrakuler seni dan budaya serta pembentukan karakter
            bangsa
     4.     Mampu dan memiliki kepekaan terhadap perubahan dan
            tantangan,    terutama   dampak        globalisasi   terhadap
            pembentukan karakter bangsa

3. Guru Mata Pelajaran
       Guru mata pelajaran, khususnya Guru PKn, Guru Bimbingan dan
Konseling serta Guru mulok (seni) perlu memiliki peran yang lebih besar
dalam upaya pembinaan penanaman nilai buda dan pembentukan
karakter siswa di sekolah. Kehadirannya memegang peranan yang sangat
penting dalam menumbuhkan kesadaran dalam melestarikan nilai budaya
dan pembentukan karakter bangsa dikalangan siswa. Peran yang dapat
dilakukan oleh guru mata pelajaran antara lain :
                                                                           46




   1. Berusaha membantu dan mengembangkan bakat, minat dan
      potensi siswa dalam bidang seni dan budaya
   2. Memberikan bimbingan tehnis terhadap siswa dalam melaksanakan
      kegiatan yang berorientasi pada penanaman dan pelestarian nilai
      budaya di lingkungan sekolah.
   3. Memberikan bimbingan berkaitan dengan pembentukan karakter
      siswa sebagai cermin karakteristik bangsa
   4. Koordinasi dengan instansi terkait dalam rangka pengembangan
      model-model kegiatan yang berorientasi penanaman nilai budaya
      dan pembentukan karakter bangsa di sekolahnya.


4. Siswa / Peserta didik
      Pembinanaan budaya dan karakter bangsa di lingkungan sekolah
sangat ditentukan oleh suasana yang diciptakan oleh komponen sekolah
terutama siswa. Untuk membangun suatu suasana yang mendukung
upaya penanaman dan plestarian nilai budaya serta pembentukan karakter
bangsa di sekolah maka perlu diperhatikan oleh para siswa beberapa hal
dibawah ini :
   1. Menumbuhkan motivasi siswa         untuk memberdayakan seluruh
      potensi budaya yang ada di sekolah
   2. Mengembangkan potensi siswa secara maksimal dan terpadu yang
      meliputi : bakat, minat, dan kreativitas di bidang seni dan budaya
   3. Meningkatkan kreatifitas siswa dalam berdaya cipta di bidangseni
      budaya serta mampu menghargai dan melestarikan nilai-nilai
      budaya
   4. Meningkatkan dan menumbuh kembangkan potensi kegiatan seni
      dan budaya bangsa dalam rangka pembentukan karakter siswa di
      sekolah
                                                                           47




       5. Menumbuhkan sikap kerja keras, mandiri dan bertanggungjawab
          dikalangan siswa di sekolah
       6. Melaksanakan hubungan sosial        yang harmonis antara guru,
          karyawan, dan siswa serta stakeholder pendidikan lainnya

5. Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS)
          Setiap sekolah memiliki organisasi kesiswaan, antara lain Organisasi
Siswa Intra Sekolah (OSIS), Organisasi Ekstra Kurikuler dan organisasi
yang lebih khusus untuk membina bakat, minat dan potensii siswa yaitu
meliputi kegiatan kreativitas seni dan budaya serta pembentukan karakter
bangsa.
          Organisasi kesiswaan merupakan wadah bagi siswa untuk melatih
diri    dalam    berorganisasi,   mengeluarkan   pendapat,    bekerja   sama,
meningkatkan kreatifitas seni dan budaya serta pembentukan karakter
siswa melalui berbagai kegiatan ekstra kurikuler. Karena itu diharapkan
pengurus OSIS dan pengurus organisasi ekstra kurikuler lainnya di sekolah
untuk :

       1. Meningkatkan kegiatan organisasi yang berhubungan dengan
          minat, bakat dan kreativitas seni dan budaya

       2. Mengadakan kegiatan studi lapangan untuk menginventarisir
          potensi budaya yang ada dalam rangka pelestarian nilai budaya

       3. Mengadakan kunjungan ketempat-tempat yang merupakan cagar
          budaya dalam rangka penanaman dan pelestarian nilai-nilai budaya

       4. Mengadakan diskusi dan forum ilmiah dalam rangka pembentukan
          karakter siswa sebagai bahagian pembentukan karakter bangsa
          dengan mengundang para ahli sebagai narasumber.

       5. Memasukan unsur materi etika dan moral sebagai bahagian dalam
          pembentukan karakter bangsa pada setiap kegiatan latihan dasar
                                                                   48




      kepemimpinan siswa, Pengurus OSIS dan Pengurus Organisasi
      Ekstra Kurikuler

      Beberapa kegiatan diatas hanyalah sebagi contoh yang dapat
dilakukan oleh organisasi kesiswaan. Kegiatan tersebut pada dasarnya
kerap dilakukan oleh sebagian organisasi sekolah. Mengingat banyaknya
aktivitas yang dapat dilakukan, maka sebaiknya pimpinan sekolah atau
pembina kesiswaan, serta guru dapat memfasilitasi kegiatan yang
berorientasi pada penanaman nilai dan pembentukan karakter bangsa baik
yang dilaksanakan di sekolah maupun diluar sekolah
                                                                          49




                                  BAB IV
              MONITORING, EVALUASI, PELAPORAN
                        DAN TINDAK LANJUT



A. Pelaksanaan Monitoring
      Pembinaan    budaya   dan    karakter   bangsa   di   setiap    satuan
pendidikan (sekolah) diharapkan dapat berjalan sesuai dengan yang
diharapkan. Dengan demikian perlu dilakukan monitoring dengan tujuan
untuk memantau dan memperoleh data awal tentang apa dan bagaimana
pelaksanaan Pembinaan Budaya dan karakter bangsa di sekolah.
      Pelaksanaan monitoring dapat dilakukan oleh unsur pembina dari
tingkat Kecamatan, Kabupaten/Kota Provinsi dan Direktorat Pembinaan
SMA, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional. Kegiatan monitoring dapat dilakukan
secara bersama-sama maupun sendiri-sendiri dan dilakukan secara
berkala.
      Dalam melaksanakan kegiatan monitoring, Dinas Pendidikan dan
Direktorat Pembinaan SMA dapat bekerja sama dengan instansi terkait
dengan tujuan :
   1. Mengetahui    perkembangan      kemajuan    pelaksanaan        program
      pembinaan Pembinaan Budaya dan karakter bangsa secara
      keseluruhan di tingkat Sekolah, Kecamatan, Kabupaten/Kota,
      Provinsi dan Pusat sebagai acuan untuk program perbaikan dan
      peningkatan kualitas dan kuantitas kegiatan selanjutnya

   2. Memastikan bahwa program pembinaan Pembinaan Budaya dan
      karakter bangsa yang telah dirancang dilaksanakan sesuai dengan
      apa yang telah diprogramkan dan untuk mengetahui kendala-
      kendala selama proses pelaksanaan
                                                                              50




   3. Mengetahui        dengan     benar    kegiatan    maupun    permasalahan
      Pembinaan Budaya dan karakter bangsa yang dihadapi oleh
      sekolah.

   4. Memberikan informasi dan data yang diperlukan pada instansi
      terkait dalam rangka membuat kebijakan lebih lanjut.

B. Pelaksanaan Evaluasi
      Pembinaan        Budaya     dan     karakter    bangsa   selain   dilakukan
monitoring, perlu juga dilakukan evaluasi. Kegiatan evaluasi dimaksudkan
untuk mengetahui perkembangan kegiatan Pembinaan Budaya dan
karakter bangsa di sekolah yang harus dilaporkan oleh penanggung jawab
kepada pimpinan diatasnya pada setiap akhir semester. Pelaksanaan
evaluasi kegiatan dilakukan untuk mengetahui :
    1. Hasil akhir yang diperoleh dalam kegiatan Pembinaan Budaya dan
           karakter bangsa, apakah telah sesuai dengan target yang telah
           direncanakan.
    2. Dalam mencapai hasil akhir, apakah sumber daya manusia yang
           ada, teknis pelaksanaan, dana, waktu dan sarana telah berfungsi
           baik dan efektif.
    3. Kendala-kendala apa saja yang ada di sekolah sehingga terjadi
           kesenjangan atau       jurang pemisah antara yang seharusnya
           dengan kenyataan yang terjadi.
    4. Dari segi penampilan siswa, adakah perubahan yang terjadi baik
           dari sikap, perilaku, kepribadian, dan lain sebagainya baik di
           lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat.

      Monitoring dan evaluasi dilakukan oleh pelaksana kegiatan tentang
keterlaksanaan kegiatan dengan perangkat pelaksanaan monitoring dan
evaluasi     yang     sesuai     dengan     petugas     yang    kompeten     dan
bertanggungjawab.
                                                                       51




C. Pelaporan

         Dalam rangka tertib administrasi, kegiatan Pembinaan Budaya dan
karakter bangsa perlu dibuat laporan secara tertulis dari kepala sekolah
selaku    pembina   dan   penanggung   jawab   yang   selanjutnya   untuk
disampaikan kepada pembina baik di tingkat Kecamatan, Kabupaten/Kota
maupun Provinsi yang dilengkapi dengan dokumentasi.
         Laporan kegiatan dalam satu semester agar berisikan gambaran
secara menyeluruh terhadap program yang terlaksana dan belum
terlaksana pada masing-masing materi Pembinaan Budaya dan karakter
bangsa


C. Tindak lanjut

         Dalam pembinaan budaya dan karakter bangsa di sekolah, setelah
dilaksanakan monitoring, evaluasi dan pelaporan, perlu dilakukan langkah-
langkah tindak lanjut untuk memperbaiki ke arah yang lebih baik. Oleh
sebab itu, agar dilakukan analisis terhadap setiap komponen kegiatan dan
hubungan timbal balik dengan komponen lainnya, sehingga dapat
ditemukan gagasan-gagasan atau pemikiran yang progresif dalam
pelaksanaan kegiatan di masa-masa yang akan datang.
                                                                    52




                                 BAB V
                                PENUTUP

      Penulisan panduan ini dimaksudkan sebagai panduan bagi setiap
komponen sekolah dengan harapan dapat membantu dan mendukung
upaya memupuk pelestarian nilai-nilai budaya dan pembentukan karakter
bangsa bagii siswa di sekolah
      Buku panduan ini diharapkan bermanfaat bagi stakehokders
opendidikan yaitu Kepala Sekolah, Guru Pembina Osis, Guru mata
Pelajaran, siswa dan OSIS, dalam rangka menjalankan tugas dan
fungsinya masing-masing dalam upaya membangkitkan potensi siswa
dalam memupuk dan melestarikan nilai-nilai budaya dan pembentukan
karakter siswa di lingkungan sekolah.
      Kegiatan penanaman nilai budaya dan pembentukan karakter
bangsa di lingkungan sekolah tidak cukup hanya dengan menyusun
program kegiatan saja, melainkan harus didukung oleh kegiatan nyata dan
pembimbingan serta pengawasan baik didalam maupun diluar lingkungan
sekolah. Oleh karena itu dihimbau kepada setiap warga sekolah untuk
membantu dan memperlancar        kegiatan dalam upaya penanaman nilai
budaya dan pembentukan karakter bangsa di lingkungan sekolah.
      Titik berat pembinaan budaya dan karakter bangsa dilaksanakan
dalam rangka penanaman dan pelestarian nilai budaya serta pembentukan
karakter bangsa dikalangan siswa yang merupakan bagian yang integral
dalam proses pendidikan
      Peran Stakeholders Pendidikan yang terkait dengan kegiatan
penanaman dan pelestarian nilai budaya serta pembentukan karakter
bangsa dapat dilakulkan sebagai berikut :
   1. Kepala Sekolah untuk memberikan dukungan kebijakan dalan
      penanaman dan pelestarian         nilai budaya dan pembentukan
      karakter bangsa bagi siswa di sekolah.
                                                                      53




   2. Guru Pembina Osis untuk mendukung kegiatan disekolah melalui
      penyusunan rancangan program yang dapat dilakukan .
   3. Guru mata pelajaran, dapat memberikan bimbingan tehnis terhadap
      siswa terkait dengan penanaman dan pelestarian nilai budaya dan
      pembentukan karakter bangsa bagi siswa di lingkungan sekolah.
   4. Siswa untuk meningkatkan kreatifitas seni dan budaya dalam
      rangka pembentukan karakter dan jati diri bangsa bagi siswa
      lingkungan sekolah
   5. OSIS   dalam   upaya   meningkatkan   kegiatan   organisasi   yang
      berhubungan dengan kegiatan ekstrakurikuler seni dan budaya dan
      kreativitas siswa lainnya yang mampu menumbuhkan penanaman
      dan pelestarian nilai budaya serta pembentukan karakter siswa
      sebagai cerminan jati diri bangsa
      Akhirnya panduan ini diharapkan mampu menjadi pedoman bagi
aktivitas siswa di sekolah, khususnya dapat meningkatkan pemahaman
siswa akan pentingnya pelestarian nilai budaya dan pembentukan karakter
bangsa, sehingga dampak negatif globalisasi dapat diminimalisir dan
pembinaan kesiswaan mampu melahirkan peserta didik yang dapat
menghargai keberagaman dan mampu melestarikan nilai-nilai budaya
bangsa
                                                                       54




                           DAFTAR PUSTAKA

       Alisjahbana, S. Takdir. 1988. Revolusi           Masyarakat   dan
kebudayaan Indonesia. Jakarta. Dian rakyat.
        Bacthiar Alam, “Globalisasi dan Perubahan Budaya: Prespektif
Teori Kebudayaan” dalam Jurnal Antropologi Indonesia No. 54 Th XXI,
Desember 1997- April 1998.
         Danusiri, Aryo & Wasmi Alhaziri, ed. (2002). Pendidikan Memang
Multikultural: Beberapa Gagasan. Jakarta: SET.
        Forum Rektor Indonesia Simpul Jawa Timur (2003). Hidup
Berbangsa dan Etika Multikultural. Surabaya: Penerbit Forum Rektor
Simpul Jawa Timur Universitas Surabaya.
         Ihromi, TO (editor). 2006. Antropologi Budaya. Jakarta: Yayasan
Obor.
       Koentjaraningrat, Kebudayaan , Mentalitet, dan Pembangunan,
Gramedia, Jakarta, 1982.
         “Menuju Indonesia Baru”. Perhimpunan Indonesia Baru –
Asosiasi Antropologi Indonesia. Yogyakarta, 16 Agustus 2001.
        Undang-Undang      Nomor    20   Tahun   2003   tentang   Sistem
Pendidikan Nasional.
         Ranjabar, Jacobus. 2006. Sistem Sosial Budaya Indonesia.
Jakarta. Ghalia Indonesia.
       Salim, Hairus, dan Suhadi, Membangun Pluralisme dari Bawah,
Modul belajar bersama, Yogyakarta: LKIS, Januari 2007
        Syarbaini, Syahrial. 2009. Implementasi Pancasila         melalui
Pendidikan Kewarganegaraan. Jokyakarta. Ghraha Ilmu.
        Soedarsono, Soemarno. 2009. Karakter mengantar Bangsa dari
gelap Menjadi Terang. Jakarta. Gramedia.
        Susanto, Dody. 2009. Permata Bangsa: Indonesiaku – kujaga dan
kubela. Jakarta. Penerbit Karang Taruna Nasional.
         Sedyawati, Edi.2007. Budaya Indonesia. Jakarta. Rajawali Press.
         Prasetyo, Joko Tri. 2009. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta. Reneka
Cipta.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:243
posted:4/7/2012
language:Indonesian
pages:54
mr doen mr doen mr http://bineh.com
About just a nice girl